ABSTRAK A. PENDAHULUAN. Haryo Gondomono, Dodi Irawanto, Ananda Sabil Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ABSTRAK A. PENDAHULUAN. Haryo Gondomono, Dodi Irawanto, Ananda Sabil Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya"

Transkripsi

1 1 Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Perusahaan dengan Pemoderasi Tata Kelola Perusahaan dan Integrasi IT-Strategi Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Haryo Gondomono, Dodi Irawanto, Ananda Sabil Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bahwa Integrasi IT-Strategi dan tata kelola perusahaan dapat mempengaruhi hubungan antara modal intelektual terhadap kinerja perusahaan pada sektor perbankan di Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada tingkat persaingan yang semakin ketat pada perbankan terutama terhadap bidang teknologi informasi serta dukungan yang diberikan oleh manajemen puncak. Penelitian ini menggunakan data dari 33 perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada periode Pengujian dilakukan pada elemen VAIC TM (VACA, VAHU, STVA) yang di moderasi oleh integrasi dari IT-strategi (ITS) dan tata kelola perusahaan (DK) dengan menggunakan ukuran kinerja keuangan (ROA). Hasil yang didapatkan menjelaskan bahwa VAHU memberikan pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Dan jika elemen VAIC TM dilakukan interaksi moderasi oleh ITS, maka IT-strategi yang terintegasi dengan baik akan memperlemah hubungan antara VACA terhadap kinerja perbankan. Keterbatasan yang pada penelitian ini adalah periode data yang digunakan hanya pada periode dan komponen yang digunakan untuk pengujian dilakukan secara terpisah. Keywords: Intellectual capital, VAIC TM, IT-Strategy, Good corporate governance, Banking A. PENDAHULUAN Industri perbankan dihadapkan pada penekanan untuk menentukan strategi bersaing mana yang akan dijalankan dalam rangka prioritas pemenuhuan tujuan para stkeholders (Li dan Ye, 1998). Kinerja Perusahaan yang multidimensi dibutuhkan dalam rangka pemenuhan keinginan dari semua stakeholders yang semakin kompleks dan seringkali berseberangan. Oleh karena itu, ukuran kinerja pun harus disinergikan antara pertumbuhan, pendapatan dan ukuran keberhasilan yang sedang berjalan. Hasil Indonesian Banking Survey 2015 memperlihatkan people development dan automation initiatives sebagai intangible assets (Harrison dan Sullivan, 2000) yang harus ditingkatkan untuk mencapai tujuan perusahaan (profit). Profit dari tujuan perusahaan dalam keuangan dapat ditunjukan dengan dua kondisi sales dan investasi, dimana perusahaan harus mampu menghasilkan profit dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki setelah memperhitungkan cost of capital (Soedaryono, et al., 2012), yang dikenal dengan Return on Asset (ROA). Kondisi ini memberikan implikasi adanya persaingan pada industri perbankan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kondisi tersebut memicu indutri perbankan menghadapi resiko operasional yang tinggi dalam menghadapi persaingan untuk mendapatkan kelebihan dan keunggulan dari para pesaingnya sebagai upaya pencapaian kinerja perusahaan. Untuk dapat mencapai ROA yang diinginkan, dibutuhkan physical capital dan sumber daya manusia serta teknologi informasi sebagai aset tak berwujud (intellectual potential) (Pulic, 1998). Kombinasi antara physical capital dan intellectual potential

2 2 dikenal dengan intellectual capital (IC). Penggunaan IC sebagai suatu strategi aset agar perusahan dapat bertahan dalam persaingan yang kompetitif dan persaingan sumber daya lainnya yang sangat terbatas (Kehelwalatenna and Premaratne, 2012). Beberapa penelitian mengenai IC, menggunakan metode VAIC TM dengan mengklasifikasikan IC ke dalam tiga komponen utama, yaitu human capital (HC), structural capital (SC) dan customer capital (CC) (Bontis, 2001; Pulic, 1998; Stewart, 1997; Edvindson dan Malone, 1997). Peran intellectual capital dalam meningkatkan kinerja perusahaan di tengah persaingan perbankan yang ketat akan berbeda sesuai dengan keunggulan teknologi yang dimiliki oleh tiap perusahaan (Becalli, 2006; Chen, et al., 2005; Li and Ye, 1998; Powel, et al., 1997). Penerapan teknologi informasi yang unggul dapat terlaksana apabila terdapat dukungan dari top management (Jhonson and Lederer, 2006; Ross and Weill, 2002; Raghunathan, et al., 1999). Untuk memastikan bahwa peran intellectual capital terhadap kinerja laba perbankan sesuai dengan tujuan yang multidimensi tersebut, diperlukan sebuah kerangka baru dalam strategi manajemen, dimana investasi terhadap IT merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam strategi sebuah perusahaan (Li dan Ye, 1998) dan mendapatkan dukungan dari CEO/CIO dalam mencapai tujuan perusahaan (Johnson dan Lederer, 2006), serta dibutuhkannya peran tata kelola perusahaan yang mengeliminasi resiko dan kesalahan pengambilan keputusan (McGee, 2009; Macey dan O hara, 2003) ditengah persaingan bisnis (Lawson dan Samson, 2001). Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk mengembangkan apa yang telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya yang hanya mengkaji pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (Ulum, 2013; Kamath, 2007; Mavridis, 2004; Firer dan William, 2003) dengan menambahkan variabel integrasi strategi IT yang terintegrasi dan tata kelola perusahaan sebagai variabel moderasi. Pengujian pada penelitian ini akan melihat bagaimana pengaruh strategi IT terintegrasi dan tata kelola perusahaan dapat memperkuat atau memperlemah hubungan IC terhadap kinerja perusahaan pada industri perbankan. Pengukuran kinerja keuangan pada penelitian ini akan menggunakan indikator profitabilitas ROA. Dengan merujuk pada laporan yang dikeluarkan oleh lembaga penjamin simpanan (LPS), penelitian ini akan melakukan investigasi pada industri perbankan pada tahun 2013 dan Hal tersebut dikarenakan net interest margin (NIM) pada tahun 2013 sebesar 4.9% menjadi 4.2% pada tahun Penurunan NIM ini menyebabkan tekanan terhadap profitabilitas perbankan. Penelitian ini membantu industri perbankan yang menghadapi persaingan dalam mencapai tujuan perusahaan yang lebih berfokus pada pemberdayaan aset tak berwujud seperti: value added capital employed, value added human capital, dan structural capital value added, serta IT-strategy integration yang selama ini masih belum dirasakan manfaatnya, sehingga diperlukan adanya upaya-upaya untuk meningkatkan IC dan dukungan top management atas pemilihan strategi informasi. Begitu pun bagi regulator, dalam hal ini bank sentral. Apabila terdapat kebijakan yang berkaitan dengan perubahan pengikinian teknologi informasi perbankan, maka bank sentral memotivasi industri perbankan untuk dapat menyelaraskan kebutuhan teknologi informasi perbankan dengan memberlakukan kebijakan bertahap atas penyesuaian kesiapan sumber daya manusia dan komitmen dukungan top management. Sehingga, bagi penelitian selanjutnya untuk dapat mengembangkan model penelitian dengan mempertimbangkan IT-investment dan inkremental dari IT-investment. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang terkait perkembangan dan persaingan pada industri perbankan di Indonesia, maka pada penelitian ini akan merumuskan beberapa permasalahan yang akan diteliti, (1) Apakah IC yang diukur melalui 3 komponen, VACA, VAHU, dan STVA berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA?, (2) Apakah IT-strategy integration memoderasi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan

3 3 yang diukur dengan ROA?, (3) Apakah tata kelola perusahaan (corporate governance) memoderasi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA? Tujuan Penelitian Penelitian ini berutjuan untuk memberikan bukti empiris atas IC berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA, IT-strategy integration memoderasi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA dan Tata kelola perusahaan (corporate governance) memoderasi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA. B. TINJAUAN PUSTAKA Teori Stewardship Teori stewardship terbentuk dari asumsi filosofi terkait sifat manusia, dimana pada setiap manusia memiliki sifat yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, serta mempunyai integritas dan kejujuran. Berdasarkan teori diyakini bahwa manajemen memiliki sifat yang dapat dipercaya dalam keputusannya terkait kepentingan publik dan kepentingan para pemegang saham guna perkembangan perusahaan itu sendiri (Tim Studi OECD, 2006). Asumsi lain yang membangun teori ini adalah hasil dari hubungan timbal balik relasional, dimana hubungan kontraktual jangka panjang yang dikembangkan selaras berdasarkan kepercayaan, reputasi dan tujuan kolektif (Van Slyke, 2006). Perilaku tersebut merupakan hasil dari bagaimana hubungan antara manager, pemilik perusahaan, lingkungan kerja dan tujuan yang dimiliki oleh organisasi pada perusahaan (Madison, 2014; Corbetta and Salvato, 2004). Oleh karena itu pada teori ini pemilik perusahaan akan membuat atau membentuk struktur organisasi dalam perusahaan agar perilaku para manager dapat terus berkembang. Hal tersebut didasarkan atas asumsi bahwa setiap individu akan termotivasi untuk terus memenuhi kebutuhannya kearah yang lebih tinggi (Madison, 2014). Teori Keagenan Teori keagenan dapat juga dikatakan sebagai hubungan dari pihak yang ditunjuk untuk mengelola perusahaan (agen) dengan pihak yang yang mempekerjakannya (principal). Pada teori ini pemilik perusahaan memilih untuk memberikan kontrak kepada para manajernya agennya dikarenakan alasan biaya dan keahlian yang dimiliki manajer untuk diberikan dan diaplikasikan untuk perusahaan (Van Slyke, 2006). Kunci utama pada teori keagenan adalah pemisahan antara kepemilikan dan manajemen. Pemilik memberikan kewenangan kepada agen dalam pekerjaan agar agen dapat bertindak sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh pemilik perusahaan. Kompensasi dan sanksi pun akan diberikan oleh pemilik perusahaan, kompensasi diberikan apabila manajer berhasil melakukan tugas mewakili pemilik perusahaan untuk pemenuhan tujuan perusahaan dan sanksi diberikan apabila manajer lebih mendahulukan untuk memenuhi tujuan dirinya dibandingkan tujuan perusahaan. Resource Based View (RBV) Sistem informasi Pengembangan RBV perusahaan menitikberatkan pada bidang manajemen strategis yang menjelaskan tentang sifat dasar dari perusahaan bukan bagaimana perusahaanperusahaan dapat bertahan dalam persaingan (Lockett, et al., 2009). Sumber daya yang dimiliki perusahaan akan memiliki nilai dalam persaingan jika sumber daya yang dimilikinya bersifat langka, seperti tidak dapat di gantikan, tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat ditiru oleh perusahaan lainnya. Asumsi yang digunakan pada pendekatan sumber daya yang langka dapat disebut sebagai sumber daya heterogen, dimana perusahaan akan mendistribusikan sumber daya yang heterogen agar dapat bertahan lama, hal ini yang menjadi dasar asumsi yang akan digunakan pada RBV.

4 4 Terdapat empat atribut yang melekat pada sumber daya heterogen dalam mempertahankan keunggulan pada persaingan, antara lain sumber daya yang memiliki nilai; sumber daya yang langka; sumber daya yang tidak dapat ditiru dan sumber daya yang tidak dapat digantikan. Berdasarkan definisi terkait RBV, ilmu pengetahuan merupakan hal yang dicerminkan sebagai hal utama RBV pada perusahaan (Barney, 1991; Grant, 1991). Dan berdasarkan literatur, manajemen ilmu pengetahuan menitikberatkan pada penggunaan dan pengelolaan aset yang berbasis ilmu, pengetahuan perusahaan, penilaian dan studi peran manajemen tehadap penciptaan nilai dapat disebut juga sebagai Intellectual Capital (IC) (Sonnier, 2008; McEleya, 2002; Petty dan Guthrie, 2000). Model RBV berkaitan langsung dengan IC memiliki dua faktor pembentuk dari sumber daya, yaitu sumber daya internal dan eksternal serta faktor kemampuan. Internal sumber daya terhadap IC mencakup modal manusia dan kekayaan intelektual. Sedangkan eksternal mencakup modal pelanggan dan pemasok. Penyajian RBV IC perusahaan yang lengkap juga harus mencakup aset berwujud yang dimiliki perusahaan, yaitu aset keuangan dan modal fisik (Sonnier, 2008) disamping modal manusia dan modal struktural (modal organisasi). Intellectual Capital (IC) Modal intelektual disebut juga sebagai hasil dari penggunaan dan pengelolaan aset yang berlandaskan ilmu, pengetahuan, penilaian dan peran manajemennya terhadap terciptanya suatu nilai (Sonnier, 2008; McEleya, 2002; Petty dan Guthrie, 2000). Terciptanya inovasi, strategi, individual capability, individual motivation, leadership, the organizational climate, dan workgroup effectiveness, serta proses proses lainnya yang dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan (Wijaya, 2012; Ulum, 2007; Bontis, 2000) merupakan modal manusia, memiliki peranan untuk dapat menentukan nilai perusahaan yang menjadi komponen dari IC. Nilai ekonomi yang merupakan ukuran kinerja perusahaan dapat dilihat dari 2 kategori aset yang tak berwujud, yaitu modal sumber daya manusia dan modal organisasi (Ulum, 2007; OECD, 1999). Dimana, modal organisasi yang menjadi komponen IC adalah structural capital (SC); dan customer capital (CC) (Ulum, 2007; Bontis, 2000). Value Added Intellectual Capital (VAIC) VAIC merupakan sebuah metode yang unik dari hasil pengembangan metode Skandia Navigator yang bertujuan untuk mencari keefisiensian sumber daya dari sebuah perusahaan yang dilihat dari laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan setiap tahunnya (Nazari, 2010; Pulic, 2004, 2000, 1998). Selain itu, VAIC dapat dikatakan sebgai sebuah indikator untuk pengukuran kemampuan sumber daya secara intelektual (Wijaya, 2012). Pengukuran VAIC menggunakan penjumlahan antara Value Added Capital employed (VACA) + Value Added Human capital (VAHU) + Value Added Structural capital (STVA), dan dijabarkan lebih lanjut seperti, Untuk melakukan penilaian terhadap keberhasilan suatu bisnis dan mampu untuk menunjukan kemampuan perusahaan dalam penciptaan suatu nilai dibutuhkan suatu indikator yaitu value added. Perhitungan yang digunakan oleh VA dilihat dari selisih yang didapatkan antara output dan input perusahaan OUT (output) merupakan pendapatan yang dihasilkan dari semua produk atau jasa yang dijual oleh perusahaan di pasar. Sedangkan IN (input) adalah semua beban yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam upaya menghasilkan pendapatan perusahaan. Satu hal yang terutama dengan menggunakan metode ini adalah proses perhitungan IN tidak mengikut sertakan beban karyawan. Hal tersebut dikarenakan faktor tenaga kerja ditempatkan sebagai satu entitas tersendiri dalam fungsinya dalam penciptaan nilai (Tan, et al., 2007).

5 5 Modal Fisik (VACA value added capital employed) Physical capital (modal fisik) adalah suatu indikator dari value added yang tercipta dari modal yang telah diberikan oleh perusahaan secara efisien (Soedaryono, et al. 2012). Physical capital atau disebut juga sebagai modal usaha memiliki definisi sebagai akumulasi modal yang dimanfaatkan dari aset tetap dan aset lancar. Modal usaha dikenal juga sebagai aset opersasional, atau dapat diartikan sebagai nilai dari aset yang memiliki kontribusi terhadap bagaimana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Modal Manusia (VAHU value added human capital) Modal manusia merupakan unsur yang digunakan oleh perusahaan dalam penciptaan nilai. Modal manusia merupakan unsur terpenting dan sebagai ujung tombak bagi perusahaan dalam penciptaan nilai tambah yang dapat hilang apabila mereka tidak bekerja pada perusahaan tersebut (Soedaryono, et al. 2012; Bontis. 1998). Perusahaan harus dapat membedakan apakah pengembangan terhadap modal manusia yang dimiliki termasuk dari biaya yang harus dikeluarkan atau bagian dari penerapan investasi perusahaan (Stewart, 1997). Pengembangan terhadap karyawan termasuk ke dalam bagian investasi jika hasil dari pengembangan modal manusia memiliki dampak positif terhadap peningkatan nilai perusahaan. Modal Struktural (STVA value added structural capital) Modal struktural adalah sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dan tidak berhubungan dengan manusia, melainkan hasil yang diciptakannya seperti struktur organisasi, strategi perusahaan, basis data. Semakin kuat modal struktural maka hal-hal baru yang dapat dipelajari oleh setiap individu dalam perusahaan semakin banyak (Soedaryono, et al. 2012). Jika dilihat dari sisi lainnya, modal struktural dapat mewakili kemampuan inteljensi yang bersaing, sistem informasi, kebijakan yang telah terbentuk dari sistem perusahaan atau produk perusahaan dari waktu ke waktu. Semua hasil yang telah tercipta dari modal struktural memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada nilai materialnya (Bontis, 2000). Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Tata kelola perusahaan (corporate governance) merupakan suatu sistem yang membantu dalam pengaturan dan pengendalian suatu perusahaan. Dengan menggunakan pengertian dasar dari Cadbury Committee, dimana pengaturan dari hubungan yang dimiliki oleh para pemegang kepentingan (stakeholder) akan menciptakan suatu peraturan yang mencakup setiap hal yang berhubungan dengan hak dan kewajiban dari stakeholder. Dengan melihat pedoman tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) di Indonesia, terdapat lima prinsip dasar, antara lain keterbukaan, akuntabilitas, pertanggung jawaban, kewajaran, independensi (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006). Dewan komisaris adalah salah satu mekanisme yang digunakan suatu perusahaan perseroan yang memiliki fungsi sebagi pemberi petunjuk dan arahan untuk mengelola perusahaan. Dewan komisaris tidak mempunyai otoritas untuk mengelola perusahaan, tetapi ia memiliki tanggung jawab untuk pengawasan terhadap manajemen perusahaan, memberikan nasihat terkait terhadap dewan direksi dari hasil pengawasannya tersebut sesuai dengan UU No. 40 tahun Integrasi Strategi Teknologi Informasi Teknologi informasi diperuntukan untuk menyimpan, mengolah, memanipulasi dan menggunakan informasi. IT berperan sebagai media yang memberikan kemudahan pencapaian informasi serta sebagai prasarana untuk pengetahuan dengan keunggulannya dalam memfasilitasi penyimpanan dan alat komunikasi yang handal (Josefa Ruiz- Mercader, et al, 2006).

6 6 Pembentukan strategi untuk IT oleh CIO menitikberatkan pada bagaimana semua karyawan IT mengetahui tujuan dari visi dan misinya dan cara pencapaiannya, serta mengatur dan menjaga hubungan dengan bisnis yang merupakan salah satu kunci untuk pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan (Mckeen dan Smith, CIO Brief vol 16). Informasi keterkaitan antara CEO dan CIO, dalam hal menciptakan strategi IT yang terintegrasi, CEO harus menjelaskan kepada CIO tentang bagaimana strategi bisnis perusahaan dan begitu pula sebaliknya, CIO pun harus menjelaskan kepada CEO bagaimana kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh IT yang sekarang dimiliki dalam menunjang strategi bisnis perusahaan (Lederer dan Johnson, 2006). Oleh karena itu, CEO dituntut untuk memiliki kemampuan terkait pemerataan IT agar dapat berperan aktif sebagai katalis untuk pembentukan strategi bisnis yang baru bagi perusahaan dan juga dapat menjadi dasar pada strategi bisnis yang sedang berlangsung (lederer dan Johnson, 2006; Henderson dan Venkatraman, 1993). Penelitian Terdahulu Penelitian yang menggunakan metode VAIC TM sebagai suatu alat ukur terhadap intellectual capital di Indonesia telah digunakan untuk pembahasan penelitian terhadap kinerja perusahaan perbankan, terutama jika penelitian terhadap komponen utama dari metode VAIC yaitu VACA, VAHU, dan STVA. Beberapa penelitian yang dilakukan terkait IC umumnya hanya meneliti hubungan langsung terhadap kinerja perusahaan. Pada beberapa penelitian hanya melakukan pengujian langsung antara IC dan kinerja keungan perusahaan. Chen, et al. (2005) mencoba menambahkan beberapa variabel terhadap pengujian IC terkait kinerja keuangan perusahaan, antara lain variabel research and development (R&D) dan advertising expenditure. C. METODE PENELITIAN Kerangka Penelitian Pada penelitian sebelumnya IT-strategy integration (Becalli, 2006; Jhonson and Lederer, 2006; Chen, et al., 2005; Ross and Weill, 2002; Raghunathan, et al., 1999; Li and Ye, 1998; dan Powel, et al., 1997) dan tata kelola perusahaan (Kutum, 2015; McGee, 2009; Garenggo, 2005; dan Macey dan Ohara, 2003) hanya dilihat pengaruhnya secara langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Padahal, risiko operasional perbankan yang terbesar adalah people development (PWC, 2015) yang dapat mempengaruhi tercapainya kinerja perusahaan sesuai dengan target tujuan perusahaan. Oleh sebab itu, penelitian ini mencoba untuk melihat apakah pengaruh IC terhadap kinerja akan berbeda bila terdapat mekanisme pengawasan dari dewan komisaris dan bila terdapat dukungan top management atas IT-strategy yang dipilih. Gambar 3.1

7 7 Kerangka tersebut coba dikembangkan seperti pada gambar 3.1 yang memperlihatkan moderasi dari tata kelola perusahaan dan IT-strategy integration pada pengaruh IC terhadap kinerja keuangan. Penggunaan variable moderasi tersebut didasari pada (Baron dan Kenny, 1986), dimana pengaruh hasil temuan penelitian sebelumnya telah banyak membuktikan bahwa IC berpengaruh terhadap kinerja. Oleh karenanya, tata kelola perusahaan dan dukungan top management terhadap IT-strategy yang dipilih akan diujikan untuk melihat seberapa besar pengaruhnya, apakah memperlemah atau memperkuat pengaruh IC terhadap kinerja. Hipotesis Penelitan IC pada penelitian ini didasarkan pada nilai tambah yang diciptakan oleh physical capital (VACA), human capital (VAHU), dan structural capital (STVA). Ketiga kombinasi VACA, VAHU, dan STVA yang dikembangkan oleh Pulic (2000) menjadi VAIC TM. Meskipun pada penelitian sebelumnya (Ulum, 2012; Tan et al., 2007; Chen et al., 2005; dan Firer dan William, 2003) telah membuktikan bahwa IC yang diukur dengan VAIC TM memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan, penelitian ini juga akan mencoba untuk melihat pengaruh dari tiap komponen VAIC TM terhadap kinerja keuangan perbankan di tengah persaingan yang ketat. Modal fisik merupakan salah satu indikator yang dapat menciptakan nilai tambah bagi modal intelektual Hipothesis 1a: VACA berpengaruh terhadap return on aset (ROA), modal manusia yang mencakup inovasi, starategi, individual capability, individual motivation, leadership serta proses-proses lainnya dapat mendukung untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan (Wijaya, 2012; Ulum, 2007; Bontis, 2000). Hipothesis 1b: VAHU berpengaruh terhadap return on asset (ROA). Penggunaan modal struktural dengan baik maka penggunaan aset perushaan akan efisien yang berdampak pada keuntungan perushaan yang meningkat, Hipothesis 1c: STVA berpengaruh terhadap return on asset (ROA). Dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu target atas tingkat keuntungan atas utilisasi aset perusahaan secara efisien, perusahaan perbankan menghadapi persaingan yang cukup ketat sehubungan dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin canggih. Manajemen puncak mampu memahami potensi yang dimiliki oleh teknologi informasi yang sekarang dimiliki dalam menunjang strategi bisnis perusahaan (Lederer dan Johnson, 2006). Oleh karena itu, manajemen puncak dituntut untuk memiliki kemampuan modal intelektual terkait pemerataan teknologi informasi agar dapat berperan aktif sebagai katalis untuk pembentukan strategi bisnis yang baru bagi perusahaan dan juga dapat menjadi dasar pada strategi bisnis yang sedang berlangsung (lederer dan Johnson, 2006; Henderson dan Venkatraman, 1993). Semakin baiknya integarasi strategi IT yang diciptakan dan diterapkan maka kebutuhan akan investasi perusahaan secara fisik seperti investasi terhadap bangunan untuk cabang berserta peralatan pendukungnya akan berkurang, selain itu dampaknya juga perusahaan akan lebih selektif terhadap karyawannya. Hipothesis 2a: IT-strategy integration akan memperlemah pengaruh VACA terhadap return on aset (ROA). Hipothesis 2b: IT-strategy integration akan memperlemah pengaruh VAHU terhadap return on asset (ROA). Hipothesis 2c: IT-strategy integration akan memperlemah pengaruh STVA terhadap return on asset (ROA). Pada UU No. 40 tahun 2007 mengenai mekanisme tata kelola perusahaan, pengawasan menjadi tanggung jawab Dewan Komisaris. Dewan komisari memiliki tanggung jawab untuk pengawasan terhadap manajemen perusahaan, memberikan nasihat terkait terhadap dewan direksi. Oleh karena itu, diperlukan adanya media komunikasi yang komprehensif dengan manajemen (Dewan Direksi), dalam bentuk pertemuan rutin yang akan membahas berbagai permasalahan dan pengembangan perusahaan. Semakin sering pertemuan rutin diadakan, maka akan semakin baik kinerja perusahaan (Ronen dan Yaari, 2008; dan Conger, et al., 2008).

8 8 Dengan demikian, tambahan nilai dari modal intelektual yang handal akan lebih dapat memberikan hasil kinerja yang lebih baik bila terdapat dukungan pengawasan yang memadai melalui frekuensi pertemuan rutin yang dihadiri oleh dewan komisaris. Hipothesis 3a: Rata-rata kehadiran pertemuan rutin Dewan Komisaris akan memperkuat pengaruh VACA terhadap return on aset (ROA). Hipothesis 3b: Rata-rata kehadiran pertemuan rutin Dewan Komisaris akan memperkuat pengaruh VAHU terhadap return on aset (ROA). Hipothesis 3c: Rata-rata kehadiran pertemuan rutin Dewan Komisaris akan memperkuat pengaruh STVA terhadap return on aset (ROA). Model Penelitian R O A = β 0 + β 1 VACA + β 2 VAHU + β 3 STVA + β 4 GCG + β 5 TS + ε..model utama Model ini pergunakan untuk menguji uji asumsi klasik (Uji Normalitas, Uji Heteroskedastisitas, Uji Multikolinieritas, Uji Autokorelasi) Hipothesis 1 β 1 > 0; β 2 > 0; β 3 > 0; R O A = β 0 + β 1 VACA + β 2 VAHU + β 3 STVA + β 4 GCG + β 5 ITS + β 6 GCG VACA + β 7 GCG VAHU + β 8 GCG STVA + β 9 ITS VACA + β 10 ITS VAHU + β 11 ITS STVA + ε... model interaksi Pada model interaksi moderasi di atas, akan dipergunakan untuk melakukan uji terhadap Hipothesis 2 β 6 > 0; β 7 > 0; β 8 > 0; Hipothesis 3 β 9 > 0; β 10 > 0; β 11 > 0; D. Hasil dan Pembahasan Gambaran Umum Objek Penelitian Dengan menggunakan data laporan keuangan dari 33 perusahaan perbankan yang telah terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2013 dan 2014, maka total data yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 66 data. Dimana terdapat 3 data yang menjadi pencilan dan tidak diikut sertakan pada proses pengujian, maka hanya 61 data yang digunakan pada penelitian ini. Periode 2013 dan 2014 adalah periode dimana ratarata net profit margin perusahaan perbankan menurun sekitar 0,7% berdasarkan survei dari Indonesian banking survey. Industri perbankan adalah industri yang paling intensif IC-nya (Firer dan William, 2003). Analisis Statistik Deskriptif Penelitian ini menggunakan 61 data dengan 33 perusahan bank sebagai sample penelitian yang akan menguji tiga variabel independen yaitu VACA, VAHU dan STVA dengan dua variabel moderasi (GCG dan ITS) terhadap variabel dependen ROA. Variabel ROA memiliki rerata 2,080 dengan nilai tertinggi 7,58 dan nilai terendah -0,93. Namun, median berada pada 1,710 dengan standar deviasi 1,501. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pada rentang sebaran yang sangat -panjang, yaitu 8,51, data ke-31 (median) masih berada pada nilai 1,710 sementara rerata 2,080. ROA memiliki nilai di bawah median memiliki rentang yang lebih pendek (2,64) sedangkan ROA yang diatas nilai median memiliki rentang yang lebih panjang (5,87). Nilai rerata tersebut menjelaskan bahwa perusahaan dapat menghasilkan keuntungan sebesar 2,080 pada setiap satu aset yang dimilikinya. Nilai ROA yang tinggi ini memperlihatkan bahwa perusahaan perbankan mampu menghasilkan laba yang tinggi dengan menggunakan seluruh asetnya.

9 9 Variabel VACA yang merupakan salah satu dari komponen dalam melakukan penilaian terhadap modal intelektual, memiliki rerata 0,579 dengan nilai tertinggi 2,655 dan nilai terendah 0,013. Nilai rerata tersebut sedikit lebih tinggi dari nilai median yang berada di angka 0,467 dengan standar deviasinya 0,506. Kondisi tersebut terjadi karena VACA memiliki rentang yang cukup lebar yaitu sebesar 2,642 dan ada beberapa perusahaan yang memiliki nilai VACA yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan perbankan memiliki penambahan setiap capital employed yang sangat rendah, yaitu kurang dari 1 dan hanya 4 perusahaan yang memiliki nilai lebih dari 1. Dengan kata lain dapat diartikan bahwa kontribusi yang dimiliki oleh capital employed pada perusahaan perbankan terhadap value added organisasi perbankan sangat rendah. Komponen lain untuk perhitungan intellectual capital adalah VAHU yang memiliki rerata 3,498 dengan nilai tertinggi 7,702 dan nilai terendah 1,001. Nilai rerata tersebut sedikit lebih rendah dari nilai median yang berada di angka 3,594 dengan standar deviasinya 0,944. Hal tersebut menunjukan bahwa rerata value added yang dihasilkan perusahaan perbankan 3,498 kali dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Nilai tersebut menjelaskan adanya kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang ditanamkan dalam human capital terhadap value added yang diihasilkan oleh perusahaan perbankan cukup tinggi. Komponen intellectual capital terakhir yang akan dibahas pada penelitian ini adalah STVA yang memiliki rerata 0,683 dengan nilai tertinggi 0,870 dan nilai terendah 0,001. Nilai rerata tersebut sedikit lebih rendah dari nilai median yang berada di angka 0,722 dengan standar deviasinya 0,143. Angka-angka tersebut menunjukan bahwa rerata modal struktural (structural capital) yang menghasilkan 1 rupiah dari nilai tambah (value added) perusahaan perbankan sebesar 0,683 dan hanya terdapat 2 perusahaan yang memiliki nilai STVA yang sangat rendah. Hal ini mengindikasikan keberhasilan structural capital perusahaan perbankan dalam penciptaan nilai. Variabel DK merupakan variabel yang digunakan untuk pengukuran tata kelola perusahaan (GCG) yang memiliki rerata 11,219 dengan nilai tertinggi 44,2 dan nilai terendah 1,5. Nilai rerata tersebut sedikit lebih tinggi dari nilai median yang berada di angka 7 dengan standar deviasinya 10,587. Hasil perhitungan variabel DK menunjukan bahwa rerata pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris terhadap operasional perusahaan perbankan hampir dilakukan setiap bulan. Hal ini ditunjukan dari angka rerata kedatangan rapat dewan komisaris sebanyak 11,219. Padahal nilai tengahnya hanya 7 kali dalam 1 tahun. Variabel ITS merupakan variabel kategorik yang menunjukan dukungan CEO terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk teknologi perusahaan. Data yang dimiliki oleh variabel ITS memperlihatkan terdapat 27 perusahaan sampel yang tidak memiliki CIO. Jadi para kepala divisi atau kepala group IT bertanggung jawab langsung atas kinerjanya kepada CEO. Sementara terdapat 31 perusahaan sampel yang memiliki CIO, yang terdiri dari 6 perusahaan yang memiliki CIO namun tidak langsung bertanggung jawab terhadap CEO dan 25 perusahaan sampel yang langsung bertanggung jawab terhadap CEO. Dan ada 3 perusahaan sampel yang CIO merangkap sebagai CEO atau kepala divisi atau group IT bertanggung jawab langsung terhadap CEO. Analisis Hasil Uji Hubungan Berdasarkan atas pengujian korelasi antar variable memperlihatkan ada beberapa variabel yang memiliki signifikan pada alpha 1%. Hubungan signifikansi yang terbentuk pada alpha 1%, antara lain hubungan pada variable ROA dengan variabel VAHU yang memiliki hubungan positif secara signifikan dengan nilai kekuatan hubungannya sebesar 57,2%. Begitu juga dengan hubungan variabel ROA terhadap STVA yang memiliki hubungan positif secara signifikan dengan nilai prosentase signifikansi sebesar 38%. Hubungan yang terbentuk antara variabel VAHU dan STVA bersifat positif signifikan dengan prosentase kekuatan hubungan 80,6%.

10 10 Hubungan variabel pada tingkat alpha 5% antara lain hubungan yang terbentuk antara variabel ROA dan variabel GCG dengan nilai kekuatan hubungan positif secara signifikan sebesar 29,3%. Hubungan yang bersifat positif secara signifikan juga ditunjukan dengan variabel VAHU dan GCG dengan nilai sebesar 26%. Sementara itu nilai 27,1% dihasilkan dari hubungan antara variabel STVA dan GCG yang juga memiliki kekuatan positif secara signifikan. Dan terdapat satu hubungan yang marjinal signifikan yaitu hubungan antara variabel VACA dan ITS sebesar 24,8% (dengan tingkat signifikansi 0,054). Analisis Hasil Pengujian Model dengan Variabel Utama Pengujian ini dilakukan untuk melihat bagaimana variabel utama (VACA, VAHU, STVA, GCG, ITS) dalam mempengaruhi ROA. Berdasarkan tabel 4.2, memperlihatkan bahwa model untuk pengujian variabel utama ini telah memiliki model yang baik. Hal ini ditunjukan dari nilai F-sig sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai α. Tabel 4.2 Hasil pengujian model dengan variabel utama ANOVA b Model Sum of Squares Df Mean Square Sig. Regression 51, ,234 6, a Residual 83, ,526 Total 135, a. Predictors: (Constant), ITS, GCG, VACA, VAHU, STVA b. Dependent Variable: ROA Sumber : data olahan Lebih lanjut, besarnya kontribusi VACA, VAHU, STVA, GCG, ITS secara bersama-sama dalam mempengaruhi ROA adalah sebesar 37,9% (berdasarkan R-square pada lampiran 7) dan 62,1% sisanya ditangkap oleh variabel lain yang tidak diujikan dalam model ini. Tabel 4.3 Uji-t Model Utama Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model B Std. Error Beta T Sig. 1 (Constant) -,168,943 -,178,859 VACA,179,331,060,540,591 STVA -2,963 1,917 -,283-1,545,128 GCG,025,016,173 1,565,123 ITS -,087,161 -,060 -,538,593 VAHU 1,186,287,746 4,137,000 a. Dependent Variable: ROA Sumber : data olahan Sementara itu untuk pengujian setiap variabel independen terhadap variabel dependen (ROA), berdasarkan tabel 4.3, menunjukan hanya variabel VAHU yang memiliki pengaruh positif signifikan terhadap ROA sebesar 1,186. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mendapatkan keunggulan human capital akan memberikan tingkat keuntungan atas operasionalisasi aset (ROA) sebesar 1,186%. Hasil ini konsisten dengan (Wijaya, 2012; Ulum, 2007; Bontis, 2000). Dimana keunggulan human capital

11 11 dalam bentuk inovasi, strategi, individual capability, individual motivation, leadership dapat mendorong perusahaan untuk menggunakan asetnya secara optimal dalam rangka menghasilkan keuntungan. Analisis Hasil Pengujian Model dengan Interaksi Moderasi Pengujian yang dilakukan terhadap model dengan interaksi moderasi (VACA, VAHU, STVA, GCG, ITS, VACAG, VAHUG, STVAG, VACAI, VAHUI, dan STVAI) dalam hubungannya terkait pengaruh terhadap ROA. Hasil uji model ini memperlihatkan nilai F-sig sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil daripada nilai α (5%), yang dapat diartikan bahwa model interaksi moderasi merupakan model yang baik (lampiran 9). Kontribusi yang diberikan oleh setiap variabel dalam model interaksi moderasi terhadap pengaruhnya pada variabel ROA sebesar 51,6% (hasil dari R-square pada tabel 4.4). Tabel 4.4 R-square Model Interaksi Moderasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1,684 a,468,349 1,21076 a. Predictors: (Constant), STVAI, GCG, VACA, VAHU, STVA, VACAG, ITS, VACAI, VAHUG, VAHUI, STVAG Sumber : data olahan Pada model yang menggunakan interaksi moderasi, hasil uji memperlihatkan bahwa variabel VACA dan VAHU mempunyai hasil yang bertolak belakang dengan hasil uji model utama. Variabel VACA mempunyai hasil uji t-sig yang lebih kecil dari nilai α yaitu sebesar 0,017. Sedangkan variabel VAHU memiliki nilai uji t-sig sebesar 0,608. Artinya variabel VACA memiliki kontribusi terciptanya suatu nilai terhadap profit perusahan sebesar 8,524 setiap penambahan 1 physical capital. Dan ditemukan juga bukti bahwa dengan dukungan yang di berikan CEO terhadap strategi IT akan memperlemah penciptaan nilai dari modal fisik yang di miliki oleh perusahaan terhadap kinerja. Artinya, bila VACA memiliki pengaruh positif terhadap kinerja sebesar 8,524 namun dengan mempertimbangkan adanya dukungan CEO terhadap strategi IT membuat pengaruh positif tersebut semakin kecil (8,524 2,092). Kondisi tersebut diduga bahwa adanya dukungan CEO terhadap strategi IT memberikan insentif kepada perusahaan perbankan untuk tidak lagi dibutuhkannya adanya modal fisik yang terlalu besar. Misalnya perusahaan perbankan tidak perlu melakukan perluasan dengan membuka kantor cabang/ kantor cabang pembantu/kantor kas/kantor unit yang banyak, namun hanya dengan kehadiran beberapa titik anjungan tunai mandiri (ATM) cash deposit machine (CDM), sudah dapat melayani kebutuhan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan. Belum lagi ditambah dengan adanya fasilitas mobile banking, internet banking yang juga merupakan salah satu strategi IT untuk melayani kemudahan bertransaksi nasabah melalui perbankan, yang didukung oleh manajemen puncak (CEO) menyebabkan perusahaan perbankan tidak lagi memperlukan modal fisik dalam bentuk infrastruktur fisik. Pembahasan hasil penelitian Berdasarkan hasil pengujian model tanpa menggunakan moderasi tabel 4.3 memperlihatkan bahwa hasil penelitian ini konsisten dengan resource based view yang menyatakan bahwa perusahaan dapat memiliki keunggulan bersaing yang unik melalui sumber daya yang potensial, bernilai, langka, tidak dapat ditiru dan tidak ada penggantinya (Barney, 1991); yaitu modal manusia (human capital). Modal manusia merupakan unsur terpenting dalam penciptaan nilai (Bontis, 1998) oleh karenanya, pengembangan karyawan adalah suatu investasi dari pengembangan modal manusia dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Kondisi ini sesuai dengan

12 12 asumsi yang melekat pada RBV yaitu resource heterogeneity dan resource immobility (Nothnagel, 2008). Sumber daya manusia adalah sumber daya yang unik, sulit untuk ditiru, sehingga merupakan keunggulan bersaing (resource heterogenety). Meski dapat ditiru sekalipun, perusahaan pesaing membutuhkan dana yang sangat besar (resource immobility). Keunikan karakter sumber daya manusia tersebut akan dikelola dengan baik, sehingga menjadi keunggulan bersaing yang sulit ditiru oleh para pesaingnya (Barney, 1991). Program-program yang dibuat dalam rangka membuat karakteristik tersebut akan menciptakan strategi-strategi yang unik berdasarkan kompetensi karyawan (Lippman dan Rumelt, 1982; Barney, 1986) dan bakat manajerial yang dimiliki oleh karyawan (Hambrick, 1987). Dengan kompetensi dan bakat manajerial karyawan tersebut akan membuat sumber daya manusia suatu perusahaan perbankan semakin unggul dalam persaingan karena dapat menciptakan nilai perusahaan secara lebih baik (Absah, 2008). Hasil ini juga senada dengan teori stewardship dimana setiap manusia memiliki sifat integritas (yang merupakan bakat manajerial) yang dapat dipercaya dalam pengambilan keputusan perusahaan. Dengan melihat hasil yang diberikan pada pengujian terhadap model dengan menggunakan interaksi moderasi, menunjukan bahwa modal fisik atau modal usaha yang dikeluarkan untuk investasi oleh perusahaan perbankan dalam terciptanya nilai tambah bagi perusahaan telah berjalan secara efisien yang konsisten dengan teori tentang physical capital (Soedaryono, et al. 2012). Tabel 4.5 UJI-t Model dengan Interaksi Moderasi Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) 1,001 9,024,111,912 VACA 8,524 3,444 2,871 2,475,017 VAHU,958 1,855,602,516,608 STVA -9,377 20,050 -,895 -,468,642 GCG,193,838 1,365,231,818 ITS -,457 1,892 -,314 -,242,810 VACAG -,038,065 -,183 -,589,559 VAHUG -,033,125 -,952 -,265,792 STVAG -,017 1,716 -,089 -,010,992 VACAI -2,092,860-2,950-2,433,019 VAHUI,012,545,034,022,983 STVAI 1,928 4,591 1,078,420,676 a. Dependent Variable: ROA Sumber: Data olahan Modal fisik merupakan faktor yang dasar yang penting dalam terciptanya nilai baru atau nilai tambah bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan hubungannya dengan penambahan nilai persuahaan yang diciptakan oleh sumber daya manusianya. Kondisi ini sesuai dalam membangun indeks kinerja modal intelektual (El-Bannany, 2008).

13 13 Interaksi moderasi strategi informasi yang terintegrasi terhadap VACA konsisten dengan kondisi terkait peranan strategi informasi perusahaan perbankan sebagai media yang dapat memberikan kemudahan dalam pencapaian informasi yang dimiliki oleh perusahaan perbankan itu sendiri. Dan juga dapat menjadi prasarana untuk pengetahuan dengan keunggulannya dalam memfasilitasi penyimpanan informasi yang handal (Josefa Ruiz-Mercader, et al, 2006). Pembentukan strategi IT harus diketahui oleh para sumberdaya IT yang terlibat agar mereka dapat mengetahui visi dan misi serta bagaimana cara pencapaiannya dengan menggunakan semua aset yang dimiliki oleh perusahaan (Mckeen dan Smith, CIO Brief vol 16). Hal ini senada dengan penelitian terkait investasi terhadap teknologi informasi pada perusahaan di industri perbankan (El-Bannany, 2008). Dimana investasi fisik terkait IT dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan (pendapatan perusahaan). Investasi secara fisik meliputi pengadaan PC, laptop/notebook, ATM, CDM, EDC dan lainnya. Strategi IT yang berdasarkan terhadap investasi secara fisik bertujuan agar perusahaan perbankan dapat mengakomodasi semua kebutuhan perusahaan dan nasabahnya dalam persaingan yang ada pada industri perbankan itu sendiri (Fredric and Pritam, 2003). Karena IT dipergunakan sebagai alat bantu operasi perbankan dengan fungsinya sebagai alat penyimpanan dan penyediaan data untuk diproses sebagai informasi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pembuatan strategi IT yang terintegrasi terhadap operasional perusahaan perbankan dapat memberikan keuntungan kepada perusahaan (Fredric and Pritam, 2003). Kondisi tersebut dapat berjalan dengan efisien selama mendapat persetujuan dan dukungan dari CEO/CIO perusahaan (Johnson dan Lederer, 2006). Dukungan top management diperlukan untuk mengeliminasi resiko dan kesalahan yang dapat terjadi terkait proses pembuatan strategi IT (McGee, 2009; Macey dan Ohara, 2003). Nilai Lebih dan Keterbatasan Penelitian Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, penelitian memperlihatkan IT-strategy integration dan corporate governance sebagai variabel pemoderasi pada pengaruh IC terhadap ROA. Bahwa penelitian ini memperlihatkan variabel corporate governance bukan merupakan variabel pemoderasi yang baik antara IC terhadap ROA. Hal ini dikarenakan rata-rata tingkat kehadiran rapat yang rendah, sehingga seyogyanya para dewan komisaris menghadiri setiap pertemuan yang berkaitan dengan tata kelola perusahaan. Demikian pula dengan variabel pemoderasi IT-strategy integration. Dimana variabel ini menunjukan hasil hanya pada interaksinya terhadap VACA dan belum berhasil memoderasi pengaruh IC lainnya terhadap ROA. Beberapa komponen penggunaan data pada penelitian ini dapat dikembangkan, seperti periode waktu yang digunakan hanya 2 tahun. Selain itu komponen yang digunakan untuk pengujian IC dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu, untuk mencapai kesempurnaan pada penelitian selanjutnya, peneliti berikutnya diharapkan untuk melakukan penambahan terkait penggunaan periode waktu penelitian. Selain itu, pengukuran terhadap kinerja perusahaan tidak hanya terbatas dengan faktor profitabilitasnya, melainkan bisa menggunakan faktor lain seperti produktifitas, investor respon, dan lainnya. E. Kesimpulan Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian atas hipotesis penelitian, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa, VAHU atau nilai tambah dari modal manusia terbukti memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan (ROA). Hasil ini mengindikasikan kemampuan human capital pada industri perbankan yang terdaftar pada di BEI telah dapat

14 menciptakan nilai perusahaan. Sehingga, dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja pada industri perbankan memberikan nilai tambah yang merupakan indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan sekaligus menunjukan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai. IT-strategy integration terbukti secara signifikan memperlemah pengaruh VACA terhadap ROA (hipotesis 2A terbukti). Hal ini menunjukan bahwa physical capital yang dimiliki oleh perusahaan perbankan dinilai memiliki value added yang semakin kecil justru pada saat top management memberikan komitmen penuh pada penetapan strategi IT. Dimana semakin bagus dan terintegrasinya strategi IT yang dimiliki maka perusahaan perbankan akan mulai melakukan investasi secara IT dan mengurangi jumlah investasi terkait infrastruktur fisik dan kebutuhan terkait peralatan penunjang yang secara tidak langsung akan berdampak terhadap jumlah karyawan yang akan dipekerjakannya. Pilihan investasi tersebut dikarenakan dengan investasi secara IT, perusahaan perbankan dapat menjangkau nasabahnya diseluruh wilayah dan tidak terbatas hanya pada wilayah Indonesia saja. 14

15 F. DAFTAR PUSTAKA Acharya, Viral V., Stewart Myers, and Raghuram Rajan, The internal governance of firms. Working paper, London Business School. Perusahaan: Suatu Analisis dengan Pendekatan Partial Least Square. Simponsium Nasional Akuntansi 12. Barney, Jay B Organizational CultureL Can It Be a Source of Sustained Competitive Advantage? Acadey of Management Review 11 (3) : Barney, Jay B Firm Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management 17 (1): Becalli, Elena. (2006). Does IT Investment Improve Bank Performance? Evidence from Europe. Journal of Banking and Finance 31 (2007) Bontis, N Assessing knowledge assets: a review of the models used to measure intellectual capital. International Journal of Technology Management. Vol. 3 No. 1. pp Chen, M.C., S.J. Cheng, Y. Hwang An empirical investigation of the relationship between intellectual capital and firms market value and financial performance. Journal of Intellectual Capital. Vol. 6 N0. 2. pp Conger, J. A.; Finegold, D. & Lawler, E. (1998). Appraising boardroom performance. Harvard Business Review, 76, El-Bannany, Magdi. (2008). A Study of Determinants of Intellectual Capital Performance in Banks: The UK Case. Firer, S., and S.M. Williams Intellectual capital and traditional measures of corporate performance. Journal of Intellectual Capital. Vol. 4 No. 3. pp Garengo, P.; Biazzo, S. & Bititci, U.S. (2005). Performance measurement systems in SMEs: A review for a research agenda. International Journal of Management Reviews. 7(1), pp Gujarati, Damodar N. (2004). Fourth Edition, Basic Econometrics. McGraw-Hill. New York. Guthrie, J. T., et al Influences of stimulating task on reading motivation and comprehension. The Journal of Educational Research, 99(4): Harrison, S., and P.H. Sullivan. (2000). Profitting form intellectual capital; Learning from leading companies. Journal of Intellectual Capital. Vol. 1 No. 1. pp Henderson, J. C. dan Venkatraman, N. (1993). Strategic Alignment: Leveraging Information Technology for Transforming Organization. IBM Journal 32:1 (1993) Johnson, Alice M. dan Lederer, Albert M. (2006). The Impact of CEO/CIO Convergence on IT Strategic Alignment. Emerging Trends and Challenges in Information Technology Management volume 1, 2. Kamath, G.B The intellectual capital performance of Indian banking sector. Journal of Intellectual Capital. Vol. 8 No. 1. pp Kehelwalatenna, Sampath. dan Premaratne, Gamini An Empirical Investigation on Intellectual Capital Performance: Evidence from Banking Sector. University Brunei Darussalam, Brunei. 15

16 Komite Nasional Kebijakan Governance Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. Kutum, Imad Board characteristics and Firm Performance: Evidence From PALESTINE. European Journal of Accounting Auditing and Finance Research Vol.3, No.3, pp.32-47, March 2015 Lawson, B. & Samson, D Developing innovation capability in organisations: dynamic capabilities approach. International journal of innovation management, 5(03), Li, Mingfang. dan Ye, Richard, Information Technology and Firm Performance: Linking with environmental, Strategic and Managerial Contexts. Information and Management 35 (1999) Lippman, Steven A. and Rumelt, Richard P Uncertain imitability: an analysis of inter firm deficiency under competition. The Bell Journal of Economics 13: Lockett, A., Thompson, S. And Morgenstern, U The development of resource-based view of the firm: A critical appraisal. International Journal of Management Reviews, 11, LPS Perekonomian dan Perbankan Jakarta. Indonesia. Macey, J. R. & O'hara, M The corporate governance of banks. Economic Policy Review, 9(1). Mavridis, D.G The intellectual capital performance of the Japanese banking sector. Journal of Intellectual Capital. Vol. 5 No. 3. pp McGee, R. W Corporate Governance in Transition Economies (pp. 3-20). Springer US. Nazari, Jamal A An Investigation of The Relationship Between The Intellectual Capital Components and Firm Performance. University of Calgary, Canada. Powell, Thomas C and Anne Dent-Micallef Information Technology as Competitive advantage: The Role of Human, Business, and Technology Resources. Strategic Management Journal, Vol. 18, No. 5 (May, 1997), Pulic, A Measuring the Performance of Intellectual Potential in Knowledge Economy. Paper presented at the 2nd World Congress on Measurring and Managing Intellectual Capital, McMaster University, Hamilton. Pulic, A VAIC TM an Accounting Tool for IC Management. International Journal of Technology Management 20 (5/6/7/8) Pulic, A Intellectual Capital - Does it Create or Destroy Value?. Measurring Business Excellence 8(1) PwC Indonesia Banking Survey Indonesia. Raghunathan, B., Raghunathan, T. S., and Qiang, T Dimensionality of the Strategic Grid Framework: The Construct and its Measurement, Information Systems Research (10:4), Dec 1999, Ronen, J. & Yaari, V Earnings management: emerging insights in theory, practice, and research (Vol. 3). New York: Springer Verlag. 16

17 Ross, J.W and Weill, P Six IT Decisions Your IT People Shouldn t Make. Harvard Business Review(80:11), pp Ruiz-Mercader, J., et al Information technology and learning: Their relationship and impact on organisational performance in small businesses. International Journal of Information Management (26): Sekaran, Uma. dan Bougie, R Research Methods for Business: A Skill Building Approach. UK: Hohn Wiley & Sons. Soedaryono, Bambang; Murtanto dan Ari Prihartini Effect Intellectual Capital (Value Added Intellectual Capital) to Market Value and Financial Performance of Banking Sector Companies Listed in Indonesia Stock Exchange. The 2012 International Conference on Business and Management. Phuket. Thailand. Stewart, T A Intellectual Capital: The New Wealth of Organizations. New York: Doubleday. Swierczek, Fredric W. dan Shrestha, Pritam K Information Technology and Productivity: A Comparison of Japanese and Asia-Pasific Banks. Journal of High Technology Management Research 14 (2003) Tim Studi OECD Studi Penerapan Prinsip prinsip OECD 2004 Dalam Peraturan Bapepam Mengenai Corporate Governance. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Ulum, Ihyaul Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan di Indonesia. Universitas Diponegoro, Semarang Ulum, Ihyaul. Imam Ghozali dan Anis Chariri Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan Ulum, Ihyaul ib-vaic: Model Pengukuran Kinerja Intellectual Capital Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Inferensi vol 7, no 1, hlm ISSN: Van Slyke, David M Agents or Stewards : Using Theory to Understand the Government- Nonprofit Social Service Contracting Relationship.Oxford University Press. Wijaya, Novia Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai Pasar Perusahaan Perbankan dengan Metode Value Added Intellectual Coefficient. Jurnal Bisnis dan Akuntansi 14 (2012)