Kinerja Penelitian dan Pengembangan Menuju Kemandirian Pangan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kinerja Penelitian dan Pengembangan Menuju Kemandirian Pangan"

Transkripsi

1 Kinerja Penelitian dan Pengembangan Menuju Kemandirian Pangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian

2 Laporan Tahunan 2017 Kinerja Penelitian dan Pengembangan Menuju Kemandirian Pangan Penyusun A.M. Adnan Agus W. Anggara Narta Sunihardi Asrul Koes Ronald T.P. Hutapea Haryo Radianto Eman Paturohman Happy Three Agustiwi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

3 Kinerja Puslitbang Tanaman Pangan 2017 Menuju Kedaulatan Pangan dan Lumbung Pangan Dunia 11 Varietas Unggul Baru: Padi 5, Kedelai 1, Kacang tanah 2, Jagung 2, Gandum Teknologi Budi Daya: Padi 6, Akabi 2, Serealia ,6 ton Benih Sumber Padi 120,5 ton, Akabi 45,5 ton, Aksesi plasma nutfah: Padi 485 aksesi, Akabi aksesi, Serealia aksesi. 6 Rekomendasi Kebijakan Tanaman Pangan. Taman Sains Pertanian: BBPadi dan Balitsereal. Serealia 22,6 ton. 15 Propinsi Sekolah Lapang Mandiri Benih.

4 Pengantar Program Badan Litbang Pertanian pada periode diarahkan untuk menghasilkan teknologi dan inovasi pertanian bioindustri berkelanjutan. Selaras dengan program tersebut, Puslitbang Tanaman Pangan, melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) tanaman pangan untuk menghasilkan inovasi teknologi perbaikan kuantitas dan kualitas produksi bahan baku bioindustri berbasis tanaman pangan yang ramah lingkungan dan minimum input eskternal. Laporan kegiatan 2017 merupakan tahun ketiga pelaksanaan Renstra Teknologi yang telah dihasilkan antara lain varietas unggul baru, teknologi produksi guna mendukung produksi nasional dan bioindustri, rekomendasi kebijakan, serta kegiatan penunjang lain seperti, diseminasi, produksi benih sumber, serta pembangunan dan pemanfaatan sarana penelitian. Kinerja Puslitbang Tanaman Pangan berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang telah ditetapkan melalui Perjanjian Kinerja 2017 keseluruhan telah tercapai, bahkan ada yang melebihi dari target. Semoga laporan ini dapat dimanfaatkan dan memenuhi harapan masyarakat dalam rangka membangun kinerja khususnya dalam penelitian dan pengembangan tanaman pangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta pengembangan IPTEK tanaman pangan. Bogor, Januari 2018 Kepala Pusat, Dr. Andriko Noto Susanto Laporan Tahunan 2017 iii

5 iv Laporan Tahunan 2017

6 Daftar Isi Pengantar... iii Tantangan Swasembada Pangan... 1 Program: Target dan Capaian... 3 Kebijakan... 3 Strategi... 4 Program... 4 Kegiatan dan Output... 4 Kinerja Penelitian dan Pengembangan... 8 Sumber Daya Genetik Tanaman Pangan... 8 Varietas Unggul Baru Tanaman Pangan Teknologi Budi Daya, Panen, dan Pascapanen Primer Tanaman Pangan Produksi Benih Sumber Tanaman Pangan Rekomendasi Pengembangan Antisipasi ledakan Hama Wereng Coklat dan Penyakit Virus yang Ditularkannya Akibat Percepatan Tanam dan Peningkatan Indeks Pertanaman Padi Pengembangan Jarwo Super untuk Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Padi Budi Daya Kedelai Produktivitas Tinggi pada Lahan Sawah Tadah Hujan Pupuk Hayati Agrisoy untuk Mendukung Peningkatan Produksi Kedelai Nasional Kebijakan Lisensi Varietas Unggul Jagung Hibrida Rakitan Balitbangtan Perlu Diperbaiki. 27 Kebijakan Bantuan Benih Jagung dan Kedelai Perlu Diperbaiki Pengembangan Desa Mandiri Benih Berbasis Rencana Bisnis Diseminasi dan Kerja Sama Penelitian Seminar Penelitian Publikasi Ekspose dan Pameran Perpustakaan Pengelolaan Website Media Sosial Kerja Sama Penelitian Sumber Daya Penelitian Sumber Daya Manusia Penganggaran Aset Perkantoran Aset Penting Lainnya Laporan Tahunan 2017 v

7 vi Laporan Tahunan 2017

8 Tantangan Swasembada Pangan Pemerintah telah menyusun 9 Agenda Prioritas (Nawa Cita) sebagai agenda prioritas kabinet kerja oleh Presiden Republik Indonesia. Pembangunan pertanian lima tahun ke depan telah diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Selain kedaulatan pangan, salah satu butir dari Nawa Cita tersebut adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Kinerja pembangunan pertanian selama periode 2017 relatif berhasil, produksi pertanian 2017 secara umum meningkat dibandingkan tahun 2016, bahkan mencapai swasembada beras. Pencapaian peningkatan produksi jagung di Indonesia pada 2017 telah melampaui produksi jagung pada enam negara anggota ASEAN, seperti dilansir oleh Asean Food Security Information System (AFSIS). Produksi jagung di Filipina diperkirakan 8,04 juta ton, Vietnam 5,23 juta ton, Thailand 4,77 juta ton, Myanmar 1,86 juta ton, Laos 1,11 juta ton, dan Kamboja 0,56 juta ton. Produktivitas jagung di Indonesia cukup baik sekitar 5,07 ton/ha pada tahun ini dari rata-rata di kawasan ASEAN yang hanya 4,29 ton/ha. Produktivitas di Laos mencapai 5,30 ton/ha, di Kamboja 4,08 ton/ ha, dan di Myanmar 3,86 ton/ha. Kementerian Pertanian telah melaksanakan Program Seribu Desa Mandiri Benih dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan. Salah satu permasalahan utama bidang pertanian, yakni kurangnya ketersediaan dan rendahnya kualitas benih padi yang menyebabkan produksi padi petani mengalami stagnan bahkan menurun. Program Seribu Desa Mandiri Benih tersebar di 32 propinsi, agar kebutuhan benih petani dapat dipenuhi dari produksi petani sendiri sehingga petani mandiri memenuhi kebutuhan benihnya. Program ini merupakan langkah konkrit pemerintah dalam rangka menjaga kestabilan pasokan benih dalam Jagung hibrida tongkol dua varietas Nasa 29 berkontribusi meningkatkan produktivitas jagung di Indonesia sekitar 5,07 t/ha pada tahun ini dari rata-rata di kawasan ASEAN yang hanya 4,29 t/ha. Laporan Tahunan

9 negeri, dan merupakan yang pertama kali dalam sejarah, begitu pentingnya benih untuk menaikkan produksi padi. Sebagai contoh benih baru Inpari 13 produksinya 7,1 ton/ha dari benih sebelumnya yang hanya mampu berproduksi 4 ton/ha. Selain langkah penyediaan benih mandiri ini, pemerintah juga tengah membangun kelembagaan penangkar benih yang mandiri, dengan kapasitas produksi yang lebih tinggi. Kinerja Kementerian Pertanian mendapat apresiasi dari Presiden RI. Kinerja sektor pertanian mampu menorehkan prestasi dalam meningkatkan produksi dan menekan impor, seperti disampaikan Presiden RI saat membuka Rakernas Pembangunan Pertanian di Jakarta. Dalam Rakernas yang mengangkat tema Bangun Lahan Tidur untuk Meningkatkan Ekspor dengan Pembangunan Infrastruktur Pertanian. Presiden mengingatkan kembali bahwa sektor pertanian harus terus digerakkan demi kesejahteraan rakyat. Sektor pertanian harus dikembangkan menjadi alat rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama. Prestasi kinerja Kementerian Pertanian dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, dimana PDB Pertanian triwulan II 2017 naik 12,04% dibandingkan dengan triwulan I tahun Puslitbang Tanaman Pangan sebagai salah satu unit kerja di bawah Badan Litbang Kementerian Pertanian, mempunyai peranan sangat strategis. Berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) tanaman pangan telah dilakukan guna menunjang upaya keberlanjutan swasembada dan kemandirian pangan. Hal ini merupakan suatu tantangan yang tidak ringan, mengingat kendala yang dihadapi seperti alih fungsi lahan pertanian, perubahan iklim yang berdampak terhadap munculnya serangan organisme pengganggu tanaman dan dapat mempengaruhi produksi tanaman pangan, serta kendala abiotik lainnya. Berbagai varietas unggul padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya terus dirakit untuk menjawab kendala biotik dan abiotik, serta sesuai dengan kondisi sosial ekonomi petani. Didukung pula dengan teknologi produksi dan ketersediaan benih sumber agar mampu meningkatkan produksi serta kesejahteraan petani. 2 Laporan Tahunan 2017

10 Program: Target dan Capaian Kebijakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) merupakan salah satu unit eselon dua dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), karena itu arah kebijakan yang akan diambil terkait erat dengan arah kebijakan pembangunan pertanian. Sesuai dengan kondisi saat ini, arah kebijakan pembangunan pertanian mengacu pada dua dokumen penting yaitu sasaran utama pembangunan nasional RPJMN dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian arah penelitian dan pengembangan pertanian mengacu pada Renstra Balitbangtan Pembangunan pertanian dalam lima tahun sesuai dengan kondisi saat ini berlandaskan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) , dimana RPJMN tersebut sebagai penjabaran dari Visi, Program Aksi Presiden/Wakil Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla serta berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Visi pembangunan dalam RPJM adalah Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Visi tersebut dijabarkan menjadi Tujuh Misi serta Sembilan Agenda Prioritas (NAWA CITA). Kesembilan Agenda Prioritas (NAWA CITA) lima tahun ke depan adalah (1) Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara, (2) Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, (3) Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, (4) Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, (5) Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, (6) Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, (7) Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, (8) Melakukan revolusi karakter bangsa, dan (9) Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Berdasarkan rincian dari Sembilan Agenda Prioritas (Nawa Cita) tersebut, maka agenda prioritas dibidang pertanian terdiri dari Peningkatan Agroindustri, dan Peningkatan Kedaulatan Pangan. Sejalan dengan Nawa Cita pemerintahan Jokowi-JK, maka Kebijakan Puslitbang Tanaman Pangan dalam penelitian dan pengembangan tanaman pangan merupakan bagian integral dari kebijakan Badan Litbang Pertanian. Kebijakan dibangun dengan menerapkan prosedur standar seperti analisis SWOT dan logical framework. Pola pikir kemudian dielaborasi dari lintas jalan (pathway) penelitian, adopsi, dampak litbang pertanian, dan evaluasi umpan balik. Kebijakan penelitian dan pengembangan tanaman pangan dalam lima tahun ke depan adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan kegiatan penelitian yang menunjang peningkatan produksi pertanian melalui peningkatan produktivitas, perluasan area pertanian, terutama pada optimalisasi pemanfaatan lahan suboptimal, serta mendukung penyediaan sumber bahan pangan yang beragam dengan pola konsumsi yang berbeda. 2. Mendorong pengembangan dan penerapan advance technology untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya pertanian. 3. Mendorong terciptanya suasana keilmuan dan kehidupan ilmiah yang kondusif untuk mengoptimalkan sumber daya manusia dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan serta diseminasi hasil penelitian. 4. Meningkatkan kerja sama dan sinergi yang saling menguatkan antara UK/UPT di lingkup Balitbangtan dan antara Balitbangtan dengan berbagai lembaga terkait di dalam dan luar negeri. Laporan Tahunan

11 Strategi 1. Memfokuskan penciptaan inovasi teknologi benih/bibit unggul dan rumusan kebijakan guna pemantapan swasembada beras dan jagung serta pencapaian swasembada kedelai untuk meningkatkan produksi komoditas pangan substitusi impor, diversifikasi pangan, bioenergi, dan bahan baku industri. 2. Memperluas jejaring kerja sama penelitian, promosi dan diseminasi hasil penelitian kepada stakeholders nasional maupun internasional untuk mempercepat proses pencapaian sasaran pembangunan pertanian (impact recognition), pengakuan ilmiah internasional (scientific recognition), dan perolehan sumber-sumber pendanaan penelitian lainnya di luar APBN. 3. Meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kapabilitas sumber daya penelitian melalui perbaikan sistem rekruitmen dan pelatihan SDM, penambahan sarana dan prasarana, dan struktur penganggaran yang sesuai dengan kebutuhan institusi. 4. Mendorong inovasi teknologi yang mengarah pada pengakuan dan perlindungan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) secara nasional dan internasional. 5. Meningkatkan penerapan manajemen penelitian dan pengembangan yang akuntabel dan good government Program Sesuai dengan pokok-pokok Reformasi Perencanaan dan Penganggaran (SEB Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS dan Menkeu, No M.PPN/ 06/ 2009, tanggal 19 Juni 2009), program hanya ada di eselon I, sedangkan kegiatan di eselon II. Program Balitbangtan (Eseleon I) pada periode adalah program penciptaan teknologi dan inovasi pertanian bioindustri berkelanjutan. Program penelitian dan pengembangan tanaman pangan merupakan bagian integral dari program Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Arah kebijakan dan strategi litbang tanaman pangan merupakan bagian dari arah kebijakan dan strategi litbang pertanian pada Renstra Balitbangtan khususnya yang terkait langsung dengan program Balitbangtan. Sejalan dengan program tersebut, Puslitbangtan menetapkan kebijakan alokasi sumber daya litbang menurut komoditas strategis sebagai prioritas utama yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, yaitu padi, jagung, kedelai, serta serealia lain (sorgum dan gandum) dan aneka kacang dan lainnya (kacang tanah dan ubi kayu) yang termasuk dalam 30 komoditas penting. Kegiatan dan Output Sesuai dengan organisasi Balitbangtan, maka di Puslitbangtan (eselon II) terdapat satu kegiatan, yaitu penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Sejalan dengan kegiatan litbang tanaman pangan maka ditetapkan output yang menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) pada periode adalah (1) varietas unggul baru, (2) teknologi budi daya dan pascapanen primer, (3) produksi benih sumber, (4) rekomendasi kebijakan, (5) Taman Sains Pertanian (TSP), dan (6) sekolah lapang kedaulatan pangan mendukung swasembada pangan terintegrasi Desa Mandiri Benih. Seiring dengan restrukturisasi kegiatan dalam kerangka penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) yang dilengkapi dengan arsitektur dan informasi kinerja (ADIK), dan mulai 2017 terintegrasi dengan sistem aplikasi dari BAPPENAS yaitu Kolaborasi Perencanaan dan Informasi Kinerja Anggaran (KRISNA), maka kegiatan litbang tanaman pangan pada periode yang dilaksanakan oleh lima satker (Puslitbangtan, BB Padi, Balitsereal, Balitkabi, dan Lolit Tungro) (capaian output disajikan pada Tabel 2, 3, 4, 5, dan 6) akan lebih diarahkan dan difokuskan untuk menghasilkan inovasi teknologi perbaikan kualitas dan kuantitas produksi bahan baku bioindustri berbasis tanaman pangan dengan proses ramah lingkungan dan minimum input eksternal yang dapat dimanfaatkan. Kegiatan lebih difokuskan pada perakitan varietas unggul tanaman pangan, terutama padi, jagung, dan kedelai, dengan keunggulan salah satu atau lebih seperti potensi hasil (produktivitas) tinggi, umur sangat pendek (sangat genjah), dan toleran terhadap cekaman biotik/abiotik, adaptif dikembangkan pada lahan-lahan suboptimal dan lahan terdampak perubahan iklim akibat fenomena pemanasan global. Perakitan 4 Laporan Tahunan 2017

12 Tabel 1. Indikator Kinerja Utama (IKU) Kegiatan Litbang Tanaman Pangan. No Sasaran kegiatan Indikator kinerja utama 1. Terciptanya varietas unggul baru tanaman pangan Jumlah varietas unggul baru tanaman pangan 2. Tersedianya teknologi budi daya, panen, dan Jumlah teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan pascapanen primer tanaman pangan 3. Tersedianya benih sumber varietas unggul baru Jumlah produksi benih sumber varietas unggul padi, jagung, kedelai, serealia lain, aneka kacang baru padi, jagung, kedelai, serealia lain, aneka dan ubi untuk penyebaran varietas berdasarkan kacang dan ubi SMM-ISO Tersedianya rekomendasi kebijakan Jumlah rekomendasi kebijakan pengembangan pengembangan tanaman pangan tanaman pangan 5. Terbangunnya Taman Sains Pertanian (TSP) di Jumlah Taman Sains Pertanian (TSP) BBPadi Jawa Barat dan Balitsereal Maros. 6. Terselenggaranya Sekolah Lapang Kedaulatan Jumlah provinsi yang dilatih untuk menjadi Pangan (SL-KP) yang terintegrasi dengan pendamping melalui Training of Trainers (TOT) Desa Mandiri Benih mendukung Swasembada pada Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Pangan mendukung Swasembada Pangan terintegrasi Desa Mandiri Benih varietas unggul dirancang sejak awal dengan melibatkan konsumen dan stakeholder agar sesuai preferensi. Sumber daya genetik untuk perakitan varietas antisipatif dampak perubahan iklim tidak selalu tersedia dari jenis tanaman pangan, maka perakitan varietas unggul tidak hanya menggunakan pendekatan pemuliaan konvensional, tetapi juga perlu pendekatan biologi molekuler atau genomik untuk gen discovery dan pemanfaatan teknologi informasi. Identifikasi sumber-sumber gen peningkatan produktivitas, ketahanan/ toleransi terhadap cekaman biotik/abiotik menjadi sangat penting untuk dilakukan bersama-sama oleh litbang tanaman pangan bersama dengan litbang bioteknologi. Penelitian dalam bentuk konsorsium ke depan akan dijadikan model atau wadah kegiatan perakitan varietas unggul dimulai dari merancang target pemuliaan. Mendukung kegiatan tersebut, peran plasma nutfah (sumber daya genetik) tanaman pangan menjadi vital karena keberhasilan identifikasi, karakterisasi morfologi dan genetik akan digunakan sebagai sumber tetua unggul dalam perakitan varietas unggul yang disesuaikan dengan tujuan perakitan. Diseminasi varietas unggul perlu dimassifkan untuk segera dimanfaatkan oleh petani dan stakeholder dengan sistem diseminasi multichannel di antaranya melalui Model Desa Mandiri Benih, Taman Sains Pertanian (TSP), Taman Tekno Pertanian (TTP), dan Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LL-IP). Ke depan, litbang tanaman pangan akan lebih fokus pada peningkatan peran dan fungsi UPBS tanaman padi, jagung, dan kedelai untuk dapat memenuhi kebutuhan benih sumber nasional mendukung penyebaran varietas spesifik lokasi. Tingkat adopsi varietas unggul oleh petani adalah dalam bentuk riil di lapangan, melalui kegiatan diseminasi varietas unggul yang baru dilepas. Kinerja UPBS dicirikan oleh kemampuannya dalam menjaga kemurnian genetik varietas yang telah diadopsi melalui penyediaan benih sumber (BS dan FS) inbrida dan F1 hibrida padi dan jagung yang dihasilkan dengan terus menerapkan sistem manajemen mutu (SMM) ISO Balit lingkup Puslitbangtan akan dikembangkan secara bertahap menjadi TSP dan bersama dengan BPTP mengembangkan TTP dan demarea skala luas. Sejalan dengan hal tersebut, untuk aktualisasi potensi hasil varietas unggul perlu disiapkan logistik benih sumber bermutu dan penelitian perakitan dan atau perbaikan teknologi budi daya ramah lingkungan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yang disiapkan secara paralel dengan proses perakitan varietas unggul. Perakitan dan atau perbaikan teknologi budi daya pendukung yang meliputi teknologi pemupukan, cara tanam, pengelolaan air, Laporan Tahunan

13 pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama, penyakit, dan gulma, panen dan pascapanen primer sejak awal lebih diarahkan untuk agroekosistem lahan suboptimal dengan mempertimbangkan kondisi spesifik lokasi dan antisipatif terhadap dinamika perubahan iklim. Integrasi teknologi budi daya pendukung dalam PTT diarahkan untuk mampu meningkatkan produktivitas aktual dan indeks panen, serta dapat menjadi bagian dari keseluruhan model pengembangan pertanian tanaman pangan bioindustri berkelanjutan, yakni kemandirian pangan dan kecukupan energi. Tabel 2. Target dan capaian satker Puslitbangtan dalam kegiatan litbang tanaman pangan Output Target Volume/satuan Capaian Biaya (Rp 000) Rekomendasi kebijakan komoditas strategis 6 rekomendasi 6 rekomendasi tanaman pangan Sekolah lapang kedaulatan pangan 15 propinsi 15 provinsi mendukung swasembada pangan terintegrasi Desa Mandiri Benih Diseminasi inovasi teknologi komoditas 2 teknologi 2 teknologi strategis tanaman pangan Layanan Internal (Overhead) 21 layanan 16 kegiatan Layanan perkantoran 12 bulan layanan 12 bulan layanan Jumlah Tabel 3. Target dan capaian satker BB Padi dalam kegiatan litbang tanaman pangan Output Target Volume/satuan Capaian Biaya (Rp 000) Varietas unggul padi 5 varietas 5 varietas Teknologi dan inovasi peningkatan produksi padi 4 teknologi 4 teknologi Produksi benih sumber 80 ton 89 ton Taman Sains Pertanian (TSP) 1 provinsi 1 provinsi Sekolah lapang kedaulatan pangan 11 Provinsi 13 Provinsi mendukung swasembada pangan terintegrasi Desa Mandiri Benih Diseminasi inovasi teknologi komoditas 2 teknologi 2 teknologi strategis tanaman padi Layanan internal (overhead) 46 layanan 46 layanan Layanan perkantoran 12 bulan layanan 12 bulan layanan Jumlah Laporan Tahunan 2017

14 Tabel 4. Target dan capaian satker Balitkabi dalam kegiatan litbang tanaman pangan Output Target Volume/satuan Capaian Biaya (Rp 000) Benih sumber tanaman kedelai 25 ton 29,5 ton Varietas unggul aneka kacang dan ubi 2 varietas 3 varietas Teknologi dan inovasi peningkatan produksi 3 teknologi 3 teknologi tanaman aneka kacang dan ubi Produksi benih sumber 16 ton 16 ton Sekolah lapang kedaulatan pangan h 8 provinsi 9 provinsi mendukung swasembada pangan terintegrasi Diseminasi inovasi teknologi komoditas akabi 1 teknologi 1 teknologi Desa Mandiri Benih Layanan Internal (overhead) 15 layanan 15 kegiatan Layanan perkantoran 12 bulan layanan 12 bulan layanan Jumlah Tabel 5. Target dan capaian satker Balitsereal dalam kegiatan litbang tanaman pangan Output Target Volume/satuan Capaian Biaya (Rp 000) Benih sumber tanaman jagung 20,9 ton 21,5 ton Varietas unggul jagung dan seealia lain 3 varietas 3 varietas Teknologi dan inovasi peningkatan produksi jagung 2 teknologi 2 teknologi Produksi benih sumber 1 ton 1 ton Sekolah lapang kedaulatan pangan 5 provinsi 6 provinsi mendukung swasembada pangan terintegrasi Desa Mandiri Benih Diseminasi inovasi teknologi komoditas 4 teknologi 4 teknologi strategis tanaman pangan Layanan internal (overhead) 13 layanan 13 layanan Layanan perkantoran 12 bulan layanan 12 bulan layanan Jumlah Tabel 6. Target dan capaian satker Lolit Tungro dalam kegiatan litbang tanaman pangan Output Target Volume/satuan Capaian Biaya (Rp 000) Benih sumber tanaman padi 30 ton 31,5 ton Teknologi dan inovasi peningkatan produksi padi 2 teknologi 2 teknologi Diseminasi inovasi teknologi komoditas 2 teknologi 2 teknologi strategis tanaman pangan Layanan internal (overhead) 5 layanan 5 layanan Layanan perkantoran 12 bulan layanan 12 bulan layanan Jumlah Laporan Tahunan

15 Kinerja Penelitian dan Pengembangan Padi Sumber Daya Genetik Tanaman Pangan Pengelolaan sumber daya genetik (SDG) padi dilakukan dengan pengkoleksian varietas lokal, varietas unggul baru atau galur dari dalam negeri dan luar negeri, identifikasi, serta rejuvenasi. Hasil eksplorasi varietas lokal dan seleksi plasma nutfah yang memiliki sifat kegenjahan, toleran kekeringan, toleran terhadap cekaman salinitas, sulfat masam, dan toleran rendaman, tahan penggerek batang padi, hawar daun bakteri (HDB), wereng batang coklat (WBC), Blas dan tungro. Informasi karakteristik SDG padi telah dimanfaatkan untuk bahan tetua perakitan calon varietas unggul baru padi, yang memiliki sifat ketahanan terhadap hama dan penyakit utama serta keunggulan spesifik lokasi dan kebutuhan konsumen. Peningkatan sumber daya genetik dapat diperoleh melalui eksplorasi, pengkoleksian varietas lokal, VUB atau galur dari lingkup dalam negeri maupun melalui upaya introduksi dari luar negeri. Hasil eksplorasi plasma nutfah padi di Provinsi Sumatera Utara telah diperoleh 133 aksesi. Telah diintroduksi 242 galur padi ditambah 497 galur dalam proses izin masuk Indonesia dan telah dikeluarkan galur asal Indonesia sebanyak 24 nomor galur ditambah 1 nomor galur dalam proses pengiriman. Rejuvenasi telah dilakukan terhadap 300 aksesi, 279 aksesi hidup dan 21 aksesi mati. Hasil rejuvenasi memperoleh benih antara gram. Karakterisasi Fenotipik Sumber Daya Genetik Padi Karakterisasi fenotipik sumber daya genetik padi. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi karakter morfologi dan agronomi yang unggul materi sumber daya genetik penerimaan baru BB Padi, serta meningkatkan informasi keunggulan materi genetik dalam mendukung program pemuliaan tanaman dan penelitian pertanian. Materi yang digunakan sebanyak 242 genotipe, berasal dari penerimaan baru berupa varietas lokal maupun introduksi. Materi ditanam di lapangan dengan tanpa ulangan, jarak tanam 25cm x 25cm, ukuran plot 1m x 5m atau disesuaikan dengan ketersediaan benih. Metode yang digunakan untuk karakterisasi mengacu pada Standar Evaluation System for Rice (IRRI, 2014). Hasil karakterisasi diperoleh 15 genotipe mempunyai panjang malai > 35 cm. Satu genotipe mempunyai jumlah gabah isi per malai > 200 butir yaitu Utri Deli (reg. 8100). Satu genotipe mempunyai bobot 1000 butir > 35 gram dengan k.a 14% yaitu Bangkouy (reg. 8042). Empat belas genotipe mempunyai warna beras pecah kulit merah dan 2 genotipe mempunyai warna beras pecah kulit ungu yaitu Pulu Lotong (reg. 8132) dan Si Puluk Arang (reg. 8143). Karakterisasi Genotipik (Marka Molekuler) Sumber Daya Genetik Padi dan Varietas Unggul Padi Tujuan dari penelitian ini adalah mengkarakterisasi sifat fisik dan kimia sumber daya genetik padi yang ada di koleksi plasma nutfah BB Padi. Kegiatan ini terdiri dari beberapa kegiatan utama antara lain: karakterisasi mutu fisik gabah, mutu fisik beras, karakterisasi mutu giling beras, dan karakterisasi mutu kimiafisikokimia. Berdasarkan hasil analisis, dari 60 aksesi terdapat 18 aksesi beras berpigmen. Berdasarkan persentase kehampaan gabahnya, secara umum sebagian besar aksesi merupakan gabah bermutu baik, namun ada 10 aksesi tergolong gabah bermutu rendah seperti aksesi nomor 10542, 10543, 10544, 10545, 10548, 10550, 10562, 10564, dan Densitas gabah berkisar antara 352,5-606,5 (g/l), dimana terdapat 2 aksesi memiliki densitas gabah yang cukup tinggi (>580 g/l), seperti aksesi (606,5 g/l), dan aksesi (587 g/l). Berdasarkan SNI Gabah No , dari 60 aksesi terdapat 7 aksesi yang masuk dalam kelas mutu 1, 31 aksesi masuk kelas mutu 2, 12 aksesi masuk kelas mutu 3 dan 10 aksesi tidak masuk dalam kelas mutu gabah. Terdapat 29 aksesi yang tergolong memiliki mutu giling yang sangat baik (memiliki 8 Laporan Tahunan 2017

16 rendemen beras giling melebihi 70% dan persentase beras kepala di atas 95%). Ukuran beras terpanjang terdapat pada aksesi dan ukuran beras terpendek pada aksesi Berdasarkan bentuknya, terdapat 13 aksesi yang memiliki bentuk slender (panjang dan ramping), 43 aksesi yang memiliki bentuk medium (sedang), dan 4 aksesi yang memiliki bentuk bold (pendek agak lonjong). Nilai derajat putih untuk 60 aksesi SDG yang diuji berkisar antara 12,40-59,50%, sedangkan nilai keterawangan berkisar antara 0-2,39%. Kandungan protein dari 60 aksesi cukup baik yaitu berkisar 8,62-12,32%. Kandungan protein terendah terdapat pada aksesi (8,62%) dan kandungan protein tertinggi terdapat pada aksesi (12,32%). Terdapat 2 aksesi yang merupakan beras beramilosa tinggi (>25%), 20 aksesi beras beramilosa sedang (20-25%), 34 aksesi merupakan beras beramilosa rendah (9-20%) dan 4 aksesi termasuk beras beramilosa sangat rendah atau beras ketan (2-9%). Terdapat 10 aksesi beras berpigmen yang memiliki tekstur pulen (amilosa rendah) yaitu 10472, 10473, 10478, 10484, 10488, 10536, 10538, 10563, 10566, dan Aksesi-aksesi tersebut dapat dijadikan alternatif untuk tetua dalam perakitan varietas beras merah dengan tekstur pulen. Sifat konsistensi gel dari 60 aksesi cukup beragam dimana 31 aksesi memiliki konsistensi gel yang lunak, 26 aksesi memiliki konsistensi gel yang sedang, dan 3 aksesi memiliki konsistensi gel yang keras dan cocok sebagai bahan pembuatan pangan yang dikonsumsi dalam bentuk kering dan renyah. Terdapat 41 aksesi dari 60 aksesi yang memiliki suhu gelatinisasi tinggi, 6 aksesi memiliki suhu gelatinisasi sedang, dan 13 aksesi memiliki suhu gelatinisasi rendah. Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan sumber daya genetik kacang dan ubi tahun 2017 telah dilaksanakan dengan hasil secara ringkas diuraikan sebagai berikut: 1. Benih terbarui dan tersimpan sebanyak 660 aksesi SDG kedelai. 2. Informasi ketahanan 400 aksesi SDG kedelai terhadap tanah salin. 3. Benih terbarui dan tersimpan sebanyak 785 aksesi SDG kacang tanah. 4. Informasi ketahanan 400 aksesi SDG kedelai terhadap tanah salin. 5. Benih terbarui dan terkonservasi sebanyak 300 aksesi SDG kacang hijau Benih terbarui dan terkonservasi aneka kacang potensial (kacang tunggak, kacang nasi, kacang gude, koro pedang, komak). 7. Informasi 29 aksesi SDG kacang nasi. 8. Dilestarikannya 325 aksesi SDG ubikayu. 9. Dikarakterisasinya mutu umbi 95 aksesi SDG ubikayu. 10. Dilestarikannya 331 aksesi SDG ubi jalar. 11. Dikarakterisasinya kadar pati 50 aksesi SDG ubi jalar. 12. Dilestarikannya sebanyak 282 aksesi SDG aneka ubi potensial. Jagung dan Serealia Lain Realisasi tingkat capaian indikator kinerja sumber daya genetik tanaman jagung dan serealia potensial yaitu diperoleh aksesi. untuk kegiatan koleksi, rejuvinasi, karakterisasi, dan evaluasi sumber daya genetik tanaman serealia diperoleh sebanyak 726 aksesi. kegiatan penelitian analisis genotipe berbasis marka molekuler (jagung, gandum, dan sorgum) menunjang perakitan varietas unggul diperoleh sebanyak 517 aksesi. Rincian kegiatan pengelolaan sumber daya genetik serealia antara lain: Kegiatan koleksi/eksplorasi tanaman jagung 52 aksesi, sorgum 5 aksesi, jewawut 2 aksesi, dan hermada 5 aksesi. Kegiatan karakterisasi jagung 31 aksesi, dan sorgum 39 aksesi. Kegiatan rejuvenasi jagung 264 aksesi, sorgum 90 aksesi dan jawawut 70 aksesi. Kegiatan cekaman biotik kumbang bubuk 33 aksesi, bulai 82 aksesi dan karat daun 92 aksesi. Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler jagung pulut anthosianin (ungu) 22 aksesi. Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler jagung tahan cekaman penyakit bulai untuk pemetaan QTL 180 aksesi. Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler sorgum manis 25 aksesi. Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler dan identifikasi gen terpaut gula brix tinggi 34 aksesi. Laporan Tahunan

17 Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler gandum toleran suhu tropis 37 aksesi Aksesi hasil penelitian berbasis marka molekuler gandum mengandung gen yang toleran terhadap suhu tinggi 31 aksesi Padi Varietas Unggul Baru Tanaman Pangan Tahun 2017 telah dilepas sebanyak 5 VUB padi yang sesuai untuk padi sawah dan padi gogo. Varietas unggul baru yang dihasilkan oleh BB Padi pada 2017 adalah 2 (dua) VUB padi gogo toleran naungan, 1 (satu) VUB padi tipe Japonica, dan 2 (dua) VUB padi perbaikan padi Kewal lebih genjah, dengan nama dan deskripsi VUB sebagai berikut: Rindang 1 Agritan Rindang 1 Agritan dapat dipanen pada umur 113 hari, potensi hasil 6,97 ton/ha, dan rasa nasi pera. Untuk mengoptimalkan lahan suboptimal karena ternaungi tanaman tahunan ataupun tanaman perkebunan, lahan tersebut dapat ditanami padi yang memiliki karakter toleran naungan sehingga mampu berproduksi. Salah satunya dengan menanam padi varietas Rindang 1 Agritan dengan karakteristik umur panen 113 hari, potensi hasil 6,97 ton/ha, dan rasa nasi pera. Varietas ini toleran naungan, toleran keracunan aluminium sampai kadar 40 ppm, dan berespon moderat terhadap kekeringan. Keunggulan lainnya tahan terhadap blas ras 001, 041, 033 dan agak tahan blas ras 173, namun agak peka terhadap wereng batang coklat 1, 2, dan 3. Saran pengembangan sebagai tanaman monokultur atau tumpang sari dengan naungan sampai 55% di lahan kering masam dan lahan kering subur dataran rendah. Rindang 2 Agritan Rindang 2 Agritan dapat dipanen pada umur 113 hari, potensi hasil 7,39 ton/ha, dan rasa nasi pulen. Varietas ini termasuk golongan Cere, hasil persilangan varietas Batutegi, CNA2903, IR , dan Cimelati memiliki karakteristik moderat terhadap naungan, sangat toleran keracunan aluminium 40 ppm, dan berespon moderat terhadap kekeringan. Varietas Rindang 2 Agritan dapat dipanen pada umur 113 hari, potensi hasil 7,39 ton/ha, dan rasa nasi pulen. Keunggulan lainnya tahan terhadap blas ras 001, 041, 033, agak tahan ras 073, 051, namun agak peka terhadap wereng batang coklat biotipe 1, 2 dan 3. Saran pengembangan sebagai tanaman monokultur atau tumpang sari dengan naungan sampai 55% di lahan kering masam dan lahan kering subur dataran rendah. 10 Laporan Tahunan 2017

18 Tarabas Varietas Tarabas merupakan hasil seleksi beberapa varietas dari golongan Japonica, di mana beras jenis Japonica banyak diimpor dari Jepang karena permintaan para expatriate di Indonesia cukup besar. Varietas yang pertama di Indonesia dari golongan Japonica untuk meraih peluang pasar dan substitusi impor. Varietas Tarabas dapat dikembangkan di lahan sawah dataran rendah sampai menengah dengan potensi hasil 5,38 ton/ha. Namun, lokasi tanam perlu memperhatikan kondisi daerahnya, karena varietas ini peka terhadap wereng coklat biotipe 1, agak tahan penyakit tungro inokulum Garut, rentan terhadap penyakit tungro inokulum Purwakarta, agak tahan blas ras 033 dan 073, tahan blas ras 133 dan 173. Rasa nasi sangat pulen sehingga diharapkan mampu bersaing dengan beras dari Jepang. Padi varietas Tarabas ini dapat dikembangkan di lahan sawah dataran rendah sampai menengah dengan potensi hasil 5,38 ton/ha dan rasa nasi sangat pulen. Mustaban Agritan Varietas ini juga merupakan hasil radiasi dengan sinar gamma dari varietas lokal Kewal yang sebelumnya berumur dalam menjadi berumur lebih genjah (118 hari) dan sangat disukai konsumen. Rasa nasi pulen dengan potensi hasil 10,86 ton/ha. Keunggulan lainnya agak tahan wereng batang coklat biotipe 3, tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan patotipe IV dan VIII, dan agak tahan penyakit blas Ras 033. Cocok ditanam pada agroekosistem sawah dataran rendah sampai 600 m dpl. Munawacita Agritan Varietas Munawacita Agritan merupakan perbaikan dari varietas lokal Kewal melalui radiasi sinar gamma yang sebelumya berumur dalam menjadi berumur lebih genjah (123 hari) dan sangat disukai konsumen. Karakteristik lainnya, rasa nasi agak pulen dengan potensi hasil 9,74 ton/ha. Keunggulan lainnya agak tahan wereng batang coklat biotipe 3, tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan patotipe IV dan VIII, dan agak tahan penyakit blas Ras 033. Varietas ini sesuai ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai 600 m dpl. Padi varietas Mustaban Agritan tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, dengan potensi hasil 10,86 ton/ha dan rasa nasi pulen. Padi varietas Munawacita Agritan tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, dengan potensi hasil 9,74 ton/ha dan rasa nasi agak pulen. Laporan Tahunan

19 Jagung Nakula Sadewa 29 Jagung varietas unggul Nakula Sadewa (Nasa 29), merupakan jagung hibrida hasil silang tunggal. Umur sedang 103 hari, tahan terhadap Bulai (Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis), hawar daun Helminthosporium maydis), dan karat daun. Beradaptasi luas dari dataran rendah sampai tinggi dan prolifik 30% pada lingkungan yang sesuai. Perakaran kuat dan tahan rebah, potensi hasil 13,7 ton/ha pada kadar air 15%. VUB jagung Nasa 29 diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani serta memasok kebutuhan jagung nasional. Srikandi Andi Depu 2 Calon varietas unggul baru jagung Srikandi Andi Depu 2 merupakan jagung khusus (specialty corn) karena bijinya berwarna unguhitam. Varietas ini kaya nutrisi antioksidan dan mengandung antosianin 60 mikrogram/g sampel. Umur tanaman 98 hari dengan potensi hasil 7,5 t/ha. Agak moderat terhadap penyakit bulai dan mampu beradaptasi pada dataran rendah daerah tropis. Jagung hibrida bertongkol 2 varietas Nasa 29 tahan terhadap bulai dengan potensi hasil 3,2 t/ha Calon varietas unggul jagung Srikandi Andi Depu 2 berbiji ungu hitam yang kaya antosianin. Kedelai Kedelai varietas Derap 1 berumur genjah (76 hari) dengan potensi hasil 3,2 t/ha Derap 1 Kedelai varietas Derap 1 merupakan hasil seleksi persilangan antara G511H dengan 12 Laporan Tahunan 2017

20 Anjasmoro, yang memiliki keunggulan: potensi hasil 3,2 t/ha dengan rata-rata hasil 2,8 t/ha, tahan terhadap hama pengisap polong hingga 80% dan agak tahan hama penggerek polong, berukuran biji besar (17,6 gr/100 biji), umur masak genjah (76 hari), tahan terhadap pecah polong serta memiliki kandungan protein 39,2%. Kacang Tanah Katana 1 dan Katana 2 Varietas Katana 1 merupakan hasil silang tunggal varietas Lokal Lamongan dengan ICGV87123, yang memiliki keunggulan potensi hasil 4,8 t/ha, tahan penyakit layu bakteri, agak tahan penyakit karat dan bercak daun, memiliki daya adaptasi di ragam agroekosistem sawah dan tegal cukup baik, dan berbiji 2. Kacang tanah varietas Katana 1 (kiri) berbiji 2 dan Katana 2 (kanan) berbiji 3 memiliki daya adaptasi di ragam agroekosistem sawah dan tegal cukup baik dengan potensi hasil 4,7 dan 4,8 t/ha. Varietas unggul katana 2 merupakan hasil silang tunggal varietas Bima dengan ICGV99029, yang memiliki keunggulan potensi hasil 4,7 t/ ha, tahan penyakit layu bakteri, agak tahan penyakit karat, bercak daun, dan berbiji 3. Gandum Guri 7 Agritan Calon varietas unggul baru gandum Guri 7 Agritan merupakan galur G7 dengan potensi hasil 3,93 t/ha dengan rata-rata hasil 3,11 t/ha. Dapat dipanen pada umur 99 HST dan umur berbunga 55 HST. Keunggulan lain varietas ini dapat beradaptasi pada dataran menengah 600 m dpl. Teknologi Budi Daya, Panen, dan Pascapanen Primer Tanaman Pangan Biopestisida Biopestisida (pestisida nabati) merupakan suatu alternatif pengendalian hama dan penyakit agar tidak bergantung pada pestisida sintetis serta lebih ramah lingkungan. Pada dasarnya, bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu a) bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat anti-fitopatogenik (antibiotik Calon varietas unggul gandum Guri 7 Agritan, potensi hasil 3,93 t/ha. pertanian), b) bersifat fitotoksik atau mengatur pertumbuhan tanaman (hormon tanaman), dan c) bersifat aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifeedant, repelen, atraktan, dan insektisida). Bahan baku yang digunakan antara lain serai wangi, bawang putih, dan cengkeh. Serai wangi mempunyai mekanisme pengendalian anti serangga, insektisida, antifeedan, repelen, antijamur, dan antibakteri. Daun dan batangnya mengandung saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Daun dan minyak atsirinya potensial mengendalikan hama. Serai Laporan Tahunan

21 wangi diketahui memiliki fungsi untuk membunuh, mengusir, dan menghambat makan hama. Senyawa aktif sitronella 35% pada minyak serai wangi dapat melumpuhkan dan membunuh serangga dengan cara memblokir saraf sensoris. Ekstrak bawang putih berfungsi sebagai penolak kehadiran serangga. Minyak atsiri dari bawang putih mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam. Selain itu, bawang putih mengandung allicin yang memiliki khasiat sebagai pembunuh kuman atau antibakteri. Komponen utama minyak cengkeh adalah eugenol sekitar % dan merupakan cairan tak berwarna atau kuning pucat, bila kena cahaya matahari berubah menjadi cokelat hitam yang berbau spesifik. Eugenol dalam minyak cengkeh telah lama dikenal sebagai insektisida. Hasil pengujian pengaruh pestisida nabati terhadap wereng coklat. Ekstrak cengkeh 5% dapat membunuh 98% wereng terutama pada hari ketiga mencapai 58%, sedangkan ekstrak cengkeh 1% dapat membunuh 88% wereng. Namun, ekstrak cengkeh yang terlalu tinggi menyebabkan fitotoksisitas pada tanaman padi, daun padi menguning. Oleh karena itu, untuk konsentrasi 5% tidak digunakan pada pengujian berikutnya. Serai wangi dengan konsentrasi 1% dan 5% masing-masing menyebabkan kematian sebesar 93% dan 95%, kematian tertinggi terjadi pada hari ke-3 atau 72 jam. Efek kontak pestisida nabati terhadap wereng coklat. Melalui penetesan bahan uji pada thorax wereng coklat, secara umum kombinasi bahan uji menyebabkan kematian wereng coklat diatas 60%. Tingkat kematian wereng coklat pada perlakuan serai wangi 1% + cengkeh 1% sebesar 74% dan kematian tertinggi pada hari ke-3 hingga 54%. Berdasarkan pengamatan di laboratorium selama 6 hari, kematian tertinggi terjadi setelah 24 jam aplikasi pestisida nabati. Aplikasi ekstrak bawang putih 5% + serai 1% + methanol dengan tingkat mortalitas wereng sebesar 66,67%. Pada hari ke 3 atau setelah 72 jam, perlakuan bahan pestisida nabati bawang putih 5% + serai 1% + methanol memiliki efikasi 80,7% namun pada hari ke-6 (144 jam) efikasi pestisida di laboratorium mencapai 92,3%. Ekstrak serai 1% + cengkeh 1% + methanol dan serai 1% + cengkeh 1% + solar juga berpotensi untuk dikembangkan dengan efikasi sebesar 89,3% dan 86,3% hingga hari ke-6. Anjuran aplikasi pestisida nabati ini, yaitu: Gunakan saat populasi wereng coklat rendah, sejak pesemaian dan stadia vegetatif, terutama untuk wereng coklat Generasi 0 (G 0 ) atau generasi pendatang dalam bentuk wereng coklat bersayap hingga Generasi 1 (G 1 ). Aplikasi dilakukan pada pagi hari atau sore hari, sebelumnya lahan dikeringkan. Aplikasi dapat dilakukan setiap 7-14 hari sekali, dengan melakukan pengamatan populasi wereng coklat terlebih dahulu pada pertanaman. Sistem Tanam Jajar Legowo Ganda Upaya peningkatan produksi padi sawah irigasi ditempuh dengan pendekatan sistem tanam (pengaturan populasi tinggi) dengan hasil 15 ton/ha. Syarat utama varietas yang ditanam mampu menghasilkan anakan produktif 15/ rumpun, 150 gabah/malai, 80% kemampuan pengisian gabah dengan bobot butir gabah rata-rata 26 g, maka minimal populasi yang diperlukan sekitar rumpun/ha. Pendekatan hasil merupakan perkalian antara kemampuan varietas potensi hasil tinggi menghasilkan malai produktif, jumlah gabah per malai, dan berat gabahnya. Salah satu upaya dengan mengembangkan Sistem Tanam Jajar Legowo Ganda (Jarwo Ganda) yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamandi dan lahan petani di Kabupaten Indramayu pada Musim Kemarau (MK) Penelitian dengan sistem tanam legowo 2:1 (50;25;12,5 cm = jumlah populasi rumpun/ha); jarwo ganda 1 (50;25;12,5;5 cm = jumlah populasi rumpun/ha); jarwo ganda 2 (40;20;10;5 cm = jumlah populasi rumpun/ha); modifikasi titik tanam legowo 2:1 (50;25;12,5 cm = jumlah populasi titik tanam/ha rumpun/ha, dimana pada satu titik tanam dimodifikasi menjadi 4 titik tanam yang berdekatan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil dengan penambahan populasi yang cukup tinggi melalui sistem tanam sangat spesifik dipengaruhi oleh tipe varietas yang sesuai. Respon yang cukup baik terlihat pada 14 Laporan Tahunan 2017

22 varietas Mekongga dan Inpari 32 HDB, dimana peningkatan populasi hingga rumpun per hektar pada sistem tanam jarwo ganda 2 masih mampu meningkatkan hasil sebesar 7,28 ton GKG/ha (16,31%) dengan menanam varietas Mekongga dan 8,44 ton GKG/ha (20,17%) menanam varietas Inpari 32 HDB dibanding dengan sistem tanam legowo 2:1 varietas Mekongga menghasilkan 6,26 ton/ha dan Inpari 32 HDB 7,03 ton/ha. Sistem Tanam Larikan Gogo (Larigo) Larigo adalah sistem tanam padi secara jajar legowo di lahan kering (gogo). Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan kombinasi pupuk organik dan anorganik serta hayati yang optimal untuk mencapai hasil optimum pada tanaman padi gogo. Penelitian ini dilakukan di Indramayu, Jawa Barat pada MT 1 dan MT 2 di Kebumen, Jawa Tengah tahun 2017/2018. Penelitian menggunakan rancangan split plot dengan 3 ulangan dan luas petak percobaan 6 x 5 m 2. Terdapat 14 plot percobaan sebagai main plot yaitu T0 (sistem larikan manual) dan T1 (sistem larikan alat pertanian), sedangkan Subplot P0 (kontrol), P1 (pemupukan cara petani), P2 (pupuk hayati + cara petani), P3 (pupuk organik + pupuk hayati + cara petani), P4 (pupuk anorganik lengkap), P5 (50% pupuk anorganik + organik + hayati), P6 (75% pupuk anorganik + organik + hayati). Pemberian pupuk anorganik tetap diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan hasil padi gogo. Kombinasi pupuk anorganik Sistem tanam jajar legowo ganda. Sistem tanam padi secara jajar legowo di lahan kering (gogo) pada MT-1 dan MT-2 di Kebumen, Jawa Tengah. Laporan Tahunan

23 dengan pupuk organik dan pupuk hayati selain untuk mendukung pertumbuhan dan produksi padi ada hal penting yaitu untuk konservasi tanah dan air di lahan gogo. Hasil padi gogo tertinggi dicapai pada perlakuan P5 sebesar 8,2 ton GKP/ha. Teknologi Beras Campuran Dilakukan karakterisasi mutu fisik, kimia/ fisikokimia, gizi dan organoleptik beberapa beras kombinasi (multigrain rice). Dirancang sepuluh beras kombinasi (Formula F1-F10) yang terdiri atas beras putih, beras merah, beras hitam, beras wangi, ketan, kacang tolo dan kacang hijau. Pada awal penelitian dilakukan Focus Grup Discussion (FGD) untuk memperoleh masukan untuk membuat beras kombinasi yang baik. Hasil FGD menyarankan untuk melakukan penentuan rasio beras, yaitu air yang tepat untuk tiap formula beras kombinasi, dan menentukan perlakuan awal untuk menghilangkan perendaman dalam tahap penyiapan (pemasakan). Semua sampel beras tersebut dianalisis proksimat (kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar serat dan kadar abu), total phenolic content, dan amilografi. Selain itu, dilakukan uji organoleptik (uji ranking dan uji hedonik) untuk seleksi produk beras yang disukai oleh panelis. Rasio beras kombinasi dengan air bervariasi, yaitu 1: 1,5-1: 1,9. Perlakuan perendaman selama 1-2 jam dilanjutkan dengan penyangraian sampai matang menghasilkan butir kacang tolo dan hijau yang matang. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu sampel beras tidak banyak berbeda kecuali pada kadar lemak, kadar protein dan kadar amilosa. Terpilih kombinasi F1, F6, dan F10 yang memiliki kandungan protein terbaik diantara 10 kombinasi yang diuji. Peningkatan Ketahanan Varietas Padi terhadap Varian Virus Tungro Spesifik Beras kombinasi (Formula F1-F10) yang terdiri atas beras putih, beras merah, beras hitam, beras wangi, ketan, kacang tolo dan kacang hijau. Teknologi yang dihasilkan berupa galur tahan tungro di lapangan melalui Uji Daya Hasil Lanjutan yang memperlihatkan hasil gabah konsisten lebih tinggi dari pembanding yaitu varietas Ciherang dan Inpari 7 Lanrang pada dua musim tanam berupa galur. Diperoleh 4 (empat) galur padi yang memiliki ketahanan terhadap varian virus tungro, yaitu 1) BP f-Kn-6-1-1*B-Lrg , 2) BP11592f-7-Kn- 1-1*B-Lrg , 3) BP f-5-Kn-1-1*B- Lrg-1-1-8, dan 4) BP11660f-3-Kn-3-1*B-Lrg Tabel 7. Kombinasi beras putih, merah, hitam, wangi, ketan, kacang tolo, dan kacang hijau. Bahan F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 F10 Inpari 30 50% 33% 25% 25% 25% 25% 20% 20% 20% 20% Inpari 24 25% 33% 50% 25% 25% 25% 25% 20% 20% 20% Beras hitam 25% 33% 25% 50% 25% 25% 25% 20% 20% 20% Sintanur 0% 0% 0% 0% 25% 0% 20% 10% 20% 10% Ketan 0% 0% 0% 0% 0% 25% 10% 20% 10% 10% Kacang tolo 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 5% 10% Kacang hijau 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 5% 10% 16 Laporan Tahunan 2017

24 Petunjuk Teknis Pemanfaatan Tanaman Berbunga dalam Pengendalian Tungro di Daerah Endemis Pemanfaatan tanaman berbuga merupakan upaya pengelolaan habitat tanaman dengan mengoptimalkan fungsi pematang sawah untuk pengendalian hama wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro terutama di daerah endemis. Tahapan-tahapannya sebagai berikut: Membersihkan pematang bersamaan olah tanah pertama, yakni menyiapkan bidang lahan pematang yang kemudian dioptimal untuk ditanami tanaman berbunga. Tanam benih tanaman berbunga, melalui penanaman biji tanaman berbunga yang dilakukan lebih awal sebelum semai benih padi, hal ini terkait dengan waktu masa berbunga tanaman, populasi wereng hijau, pola penyebaran, dan masa kritis penularan Pilihan varietas tahan tungro, yakni pilihan varietas yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit tungro. Semai benih padi setelah olah lahan pertama atau hari sebelum tanam, bertujuan menghindari peluang infeksi primer atau penularan virus tungro oleh wereng hijau selama di persemaian. Olah lahan kedua diikuti pengenangan air untuk menekan perkembangan populasi wereng hijau agar tetap rendah saat masa kritis penularan. Keuntungan cara ini akan meningkatkan ketersediaan nutrisi terutama nitrogen dan fosfor, dan mengkondisikan propagul (biji-biji gulma) tetap dorman. Tanam dengan sistem tanam jajar legowo (Jarwo). Sistem tanam Jarwo juga berpengaruh pada perilaku hama-hama padi, termasuk wereng hijau. Jumlah individu wereng hijau lebih rendah pada pertanaman yang ditanam mengunakan sistem tanam Jarwo 2:1, demikian juga persentase kejadian tungro berdampak lebih rendah dibandingkan pada pertanaman yang menggunakan sistem tanam tegel. Pemantauan populasi hama dan musuh alami dapat diterapkan untuk hama dan penyakit padi yang dilakukan secara rutin dan berkala. Khusus kejadian penyakit tungro, dikenal masa kritis penularan yaitu persemaian, 2, 4, 6, dan 8 MST. Aplikasi Andrometa. Andrometa adalah campuran antifidan nabati dari ekstrak sambiloto dengan agen hayati jamur entomopatogen Metharizium anisoplie. Ukuran aplikasi atau penyemprotan Andrometa menggunakan satuan konsentrasi. Larutan yang dibutuhkan dalam 1 tangki semprot (15-16 liter) terdiri dari 40mg/l ekstrak sambiloto dan agen hayati 2 x 106 spora jamur M. anisoplie. Eradikasi gulma pada pertanaman dan pematang pada 2 MST dan 4 MST 2 MST dan 4 MST dianjurkan dilakukan eradikasi gulma di pematang. Tujuan eradikasi gulma di pematang adalah upaya memusnahkan atau meminimalisir peluang gulma-gulma dapat menjadi sumber inokulum virus tungro. Sedikit berbeda penangganannya, mengingat pematang sedang tumbuh dan berkembang tanaman berbunga. Pengaturan ketersediaan air, yaitu air dipertahankan ketinggian 2-3 cm untuk mendukung pembentukan anakan dan menekan gulma, sifat intrinsik wereng hijau mudah berpencar intensitasnya dapat dikurangi. Aktivitas memencar wereng hijau membantu penyebaran virus semakin meluas. Pemanfaatan tanaman berbuga di pematang sawah merupakan upaya pengelolaan habitat tanaman untuk pengendalian hama wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro. Laporan Tahunan

25 Teknologi Budi Daya Jagung Hibrida Nasa 29 Jagung hibrida varietas Nakula Sadewa (Nasa 29) varietas unggul baru dengan potensi hasil ± 13 t/ha, rendemen >82%, bertongkol 2, ramping, dan warna kuning-oranye, mendapat respon baik dari petani. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, rendemen tinggi, dan persentase dominan tongkol 2, diperlukan teknologi budi daya yang sesuai agroekosistem. Teknologi budi daya jagung Nasa 29 di lahan kering berbeda dengan lahan sawah beririgasi sesudah padi. Di lahan kering peluang hasilnya t/ha, sedangkan di lahan sawah (air tidak jadi pembatas) peluang hasilnya t/ha. Teknologi budi daya untuk mencapai peluang hasil optimal dan persentase tongkol 2 yang tinggi, yaitu (1) Teknologi sistem tanam legowo dan (2) pemupukan berdasarkan agroekosistem lahan. Sistem tanam legowo dengan populasi saat panen optimal tanaman/ha untuk mencapai populasi panen optimal yaitu: (1) sistem legowo (90-50) cm x 20 cm, (2) sistem legowo (100-50) cm x 20 cm dengan 1 biji/lubang tanam. Takaran pupuk di lahan kering, peluang hasil t/ ha adalah 185 kg N/ha, kg P 2 O 5 dan kg K 2 O/ha, dan pupuk organik 1 t/ha. Takaran pupuk di lahan sawah irigasi, peluang hasil t/ha adalah 210 kg N/ha, kg P 2 O 5 dan K 2 O/ha, dan pupuk organik 1 t/ha. Pupuk organik diberikan saat tanam sebagai penutup lubang tanam, pupuk anorganik yaitu ½ dari dosis N dan seluruh takaran P dan K pada awal tanam (<10 hari sesudah tanam) dan sisa N diberikan pada umur HST. Teknologi Pengendalian Penyakit Bulai pada Jagung Berdasarkan Spesies Pathogen Penyebabnya Penyakit bulai adalah salah satu penyakit utama yang dapat menurunkan produktivitas jagung. Spesies patogen penyakit bulai yang utama di Indonesia P. maydis, P. philippinensis. Untuk pengendalian penyakit bulai secara efektif dan efisien diperlukan teknologi yang sesuai masing-masing spesies patogennya. Teknologi pengendalian bulai berdasarkan spesies penyebabnya adalah 1) pada wilayah endemik yang disebabkan oleh spesies P. maydis ditemukan di Kalimantan Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan, teknologinya dengan mengkombinasikan varietas tahan dengan pemberian bahan aktif Metalaksil 5-7 g/kg benih jagung, dan 2) pada wilayah endemik P. philippinensis ditemukan di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan sebagian besar Sulawesi Selatan, pengendalian yang efektif dengan mengkombinasikan varietas tahan dengan takaran dosis bahan aktif Metalaksil cukup 2 g/kg benih jagung pemberian metalaksis diatas dosis yang dianjurkan tidak efisien. Varietas tahan yang dianjurkan antara lain varietas hibrida Bima 3, Bima14, Bima 15, Bima 20, Nasa 29, dan varietas bersari bebas Lagaligo. Budi Daya Kedelai Tumpangsari dengan Jagung pada Lahan Kering Beriklim Kering Tanah Alfisol Budi daya kedelai tumpangsari dengan jagung yang perlu diperhatikan yaitu varietas kedelai yang akan ditanam memiliki satu atau lebih karakter, yaitu genjah (umur < 80 hari), toleran kekeringan, dan/atau toleran naungan. Kandungan bahan organik dalam tanah umumnya rendah. Ketersediaan hara makro N, P, K, dan S, umumnya beragam dari status sedang hingga rendah. Untuk menjamin pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang memadai, tanah masih membutuhkan tambahan hara N, P, K, dan S dari pupuk, baik pupuk anorganik maupun organik. Penggunaan pupuk organik pada lahan kering di wilayah beriklim kering merupakan hal yang strategis karena: (1) selain sebagai sumber hara, bahan organik juga dapat memperbaiki struktur tanah berikut kemampuan tanah untuk menyimpan dan menyediakan lengas, serta meningkatkan populasi dan aktifitas mikrobia dalam tanah yang sangat bermanfaat bagi penyediaan dan penyerapan hara oleh akar tanaman, dan (2) petani lahan kering iklim kering relatif kekurangan modal, sehingga pupuk kandang hasil samping ternak yang umumnya banyak dipelihara petani merupakan pupuk murah dan tersedia di lahan petani. Pada lahan kering beriklim kering tanah Alfisol di Probolinngo (Jawa Timur), dengan penerapan teknologi budi daya tersebut, pertanaman tumbuh cukup baik dan 18 Laporan Tahunan 2017

26 diperoleh hasil biji kering jagung (varietas Pertiwi 6) dan biji kering kedelai (Dena 1) berturut-turut 4,00 t/ha dan 1,29 t/ha. Selain hasil panen dalam bentuk biji jagung dan kedelai, juga diperoleh hasil panen dalam bentuk biomas kering sebagai hasil samping tanaman kedelai (brangkasan) dan jagung (brangkasan + klobot + janggel) sebanyak 2,56 ton dan 7,16 ton/ha, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, seperti sapi yang banyak dipelihara petani. Pengendalian Hama Lalat Batang Melanagromyza Sojae Pengendalian terhadap serangan lalat batang pada kedelai dapat dilakukan dengan seed treatment dan penggunaan varietas tahan. Terjadinya serangan M. sojae pada tanaman kedelai ditemukan pada umur 21 hari setelah tanam (HST). Hal ini berarti bahwa peletakan telur telah terjadi pada saat ± 2 minggu sebelum tanam. Berdasarkan hal tersebut, pengendalian M. sojae dilakukan dengan perlakuan benih (seed treatment) menggunakan insektisida sistemik. Insektisida berbahan aktif Tiamektosan 3-4 ml/kg dapat digunakan untuk perlakuan pada benih. Cara aplikasi perlakuan pada benih yaitu dengan memasukkan benih kedelai sejumlah berat tertentu (kg), kemudian ditambahkan insektsida dalam takaran 3-4 ml/kg benih. Untuk meratakan bahan insektisida dilakukan dengan mengocok berulang-ulang campuran benih dengan insektisida sebelum ditanam. Hasil maksimal yang diperoleh dari perlakuan benih diikuti dengan aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil 2 ml/l mulai 7 hingga 35 HST. Perlakuan benih yang diikuti aplikasi insektisida berdampak pada rendahnya intensitas serangan M. sojae pada batang dibandingkan tanpa perlakuan. Hasil pengujian beberapa varietas unggul baru kedelai terhadap serangan lalat batang pada tahun 2017 menunjukkan belum ditemukan varietas kedelai tahan terhadap M. sojae. Namun, dari 12 varietas yang diuji varietas Dena 1 menunjukkan intensitas serangan rendah dan menghasilkan biji kedelai Tumpangsari baris ganda jagung dengan Kedelai (Dena 1) di lahan kering iklim kering, Alfisol di Kab. Probolinggo (Jawa Timur), MH 2017 tinggi. Varietas Detam 4 intensitas serangan tinggi, meskipun tetap memberikan hasil tinggi, yang mengindikasikan varietas ini tergolong toleran. Penggunaan varietas toleran dapat dijadikan alternatif selama varietas tahan belum tersedia. Intensitas serangan M. sojae mulai terlihat pada pengamatan 2-7 MST. Tingkat serangan M. sojae lebih tinggi pada perlakuan pengendalian setengah intensif dibandingkan dengan tingkat serangan pada perlakuan pengendalian intensif. Intensitas serangan M. sojae hingga 7 MST pada perlakuan pengendalian intensif dan setengah intensif yang tertinggi ditemukan pada varietas Dena 2 yaitu berturut-turut sebesar 41,38% dan 53,21%. Sedangkan yang terendah ditemukan pada varietas Dena 1 yaitu berturut-turut 17,97% dan 29,77%. Intensitas serangan M. sojae tidak berpengaruh terhadap hasil biji pada saat panen. Bobot biji tertinggi terdapat pada varietas Detam 4 (2,44 t/ha), sedangkan hasil biji terendah terdapat pada varietas Gema 1,82 t/ ha. Varietas Dena 1 diketahui memiliki intensitas serangan yang rendah dan memberikan hasil biji yang tinggi. Hal yang sama juga ditemukan pada varietas Detam 4, walaupun intensitas serangannya fluktuatif namun hasil biji yang diperoleh tinggi (2,44 t/ha). Laporan Tahunan

27 BE-BAS: Biopestisida untuk Mengendalikan Hama Penggerek Ubijalar (Cylas formicarius) di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan Be-Bas merupakan biopestisida yang mengandung bahan aktif konidia cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang diformulasikan dalam bentuk tepung di dalam kemasan botol. Be-Bas efektif mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan. Isolat cendawan B. bassiana diperoleh dari isolasi pada serangga penggerek ubijalar (Cylas formicarius) pada tanaman ubijalar di Probolinggo (Jawa Timur) pada tahun Hasil uji postulat Koch untuk mengetahui virulensi cendawan menunjukkan bahwa isolat B. bassiana tersebut memiliki virulensi yang tinggi karena menyebabkan mortalitas serangga uji mencapai 99%. Koloni isolat B. bassiana berwarna putih pada media potato dextrose agar (PDA), bentuk konidia bulat dengan ukuran 2-2,5 x 2-2,2 mm, konidia berkecambah selama 6-9 jam setelah diinkubasi di dalam air. Produksi Benih Sumber Tanaman Pangan Ketersediaan benih sumber diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Secara umum, target produksi benih sumber tanaman pangan tercapai setiap tahunnya, keragaman jumlah produksi benih sangat bergantung pada permintaan dari BPTP, serta penugasan dari Kementerian Pertanian dalam mendukung 4 target sukses Kementerian Pertanian. Benih tersebut telah didistribusikan ke 34 propinsi selama tahun 2017, terdiri dari padi 96,21 ton, jagung 20,19 ton, dan kedelai 32,07 ton (Tabel 8). Perkembangan kinerja produksi benih sumber VUB padi, serealia, serta kacang dan ubi selama tahun 2017 lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan. Alokasi anggaran relatif meningkat disesuaikan dengan target yang ditetapkan. Realisasi anggaran relatif mendekati pagu anggaran. Biopestisida Be-Bas efektif mengendalikan hama penggerek ubijalar Puslitbang Tanaman Pangan telah mendistribusi benih sumber kepada pengguna (Tabel 9) dengan rincian sebagai berikut: Tabel 8. Perbandingan capaian kinerja produksi benih sumber tahun Indikator Kinerja Target/ Realisasi Benih padi (ton) Target 143,50 140, Realisasi 156,49 143,73 120,5 (109,05%) (102,66%) (109,50) Benih aneka kacang dan ubi (ton) Target 53,30 53,00 41 Realisasi 62,73 53,72 45,5 (117,69%) (101,36%) (111,00) Benih jagung dan serealia Target 35,00 35,00 22 lainnya (ton) Realisasi 35,63 35,02 22,6 (101,80%) (100,06%) 102,7%) 20 Laporan Tahunan 2017

28 Tabel 9. Distribusi benih sumber padi, jagung, dan kedelai tahun 2017 (kg). Propinsi Padi Jagung Kedelai BS FS SS BS FS BS FS Nanggroe Aceh D ,5 7 Bali , Banten Bengkulu ,5 Bangka Belitung Yogyakarta Jakarta Gorontalo Jambi Jawa Barat , , Jawa Tengah ,5 Jawa Timur , , ,5 Kalimantan Barat ,5 Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Utara Kepulauan Riau Lampung Maluku Maluku Utara NTB NTT ,5 Papua Papua Barat ,5 0 0 Riau Sulawesi Barat Sulawesi Selatan , , Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan , Sumatera Utara Total , , , ,5 Padi Telah dihasilkan sebanyak 110,5 ton benih sumber padi yang terdiri dari beberapa varietas unggul (VUB) dengan rincian benih kelas BS 19,5 ton, FS 24,5 ton, dan SS 76,5 ton. Beberapa diantaranya VUB yang tahan tungro, yaitu Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo, Inpari 36 Lanrang, dan Inpari 37 Lanrang. Jagung dan Serealia Telah dihasilkan benih sumber serealia dari UPBS Balitsereal, Maros sebanyak 22,63 ton terdiri dari berbagai varietas dan kelas benih, antara lain: Jagung kelas BS dan F1 sebanyak ton terdiri dari varietas jagung Pulut URI 875 kg, Srikandi Kuning 900 kg, Bisma kg, Lamuru kg, Sukmaraga kg, Anoman 725 kg, Provit A1 (1.010 kg), Arjuna 37 kg, Gumarang 29 kg, dan Bima 20 Uri 258 kg. Jagung kelas benih FS kg, varietas Bisma kg, Lamuru kg, Srikandi Kuning kg, Pulut URI kg, Sukmaraga kg, Provit A1 (477 kg), dan Arjuna 50 kg. Sorgum kelas benih FS sebanyak kg, yaitu varietas Kawali 344 kg, Numbu 96 kg, Super 1 (435 kg), dan Super 2 (137 kg). Gandum kelas BS sebanyak 112 kg, varietas Nias 50 kg dan Dewata 62 kg. Laporan Tahunan

29 Aneka Kacang dan Umbi Telah diproduksi benih sumber tanaman kedelai, aneka kacang dan ubi sebanyak 45,466 ton terdiri dari berbagai varietas dan kelas benih, antara lain: Benih sumber kelas BS sebanyak kg, terdiri dari kg kedelai, 797 kg kacang tanah, dan kg kacang hijau, dengan rincian: Kedelai varietas Kaba, Anjasmoro, Argomulyo, Tanggamus, Dering 1, Dena 1, Burangrang, Grobogan, Gepak Kuning, Detam 1, Detam 3, Detam 4, Demas 1, Devon 1, Devon 2, Dega 1, Deja 1, Deja 2, dan Detap 1. Kacang tanah varietas Bison, Hypoma 1, Hypoma 2, Hypoma 3, Kancil, Kelinci, Singa, Takar 1 & 2, Tala 1 & 2, Talam 1, 2, & 3, dan Tuban. Kacang hijau varietas Sampeong, Sriti, Vima 1, Murai, Perkutut, Kenari, Kutilang, Vima 2, dan Vima 3. Benih sumber kelas BS, terdiri dari kg kedelai, kg kacang tanah, dan kg kacang hijau, ubijalar dan ubikayu, dengan rincian: Kedelai varietas Anjasmoro, Argomulyo, Dega 1, Dena 1, Detam 1, 2, 3, 4, Devon 1, 2, Grobogan, Dering 1, Deja 1, 2, Burangrang, Demas1, Detap 1. Kacang tanah 10 varietas: Hypoma 1, Hypoma 2, Hypoma 3, Tuban, Talam 1, Talam 2, Bison, Takar 1, Takar 2 dan Tala 1. Kacang hijau 9 varietas: Kutilang, Vima 1, Vima 2, Vima 3, dan Sampeong. Ubijalar kelas BS stek 10 varietas, yaitu Beta 1, Beta 2, Beta 3, Kidal, Papua Solossa, Sawentar, Antin 1, Antin 2, Antin 3, dan Sari. Ubikayu kelas BS stek, 9 varietas Darul Hidayah, Adira 1, Agritan 2, Malang 1, Malang 4, Malang-6, Litbang UK2, UJ-3, dan UJ-5. Benih sumber kelas FS, terdiri dari kg kedelai, kg kacang tanah, dan kg kacang hijau, dengan rincian: Kedelai 12 varietas: Anjasmoro, Burangrang, Dega 1, Demas 1, Dena 1, Dering 1, Detam 1, Detam 3, Detam 4, Devon 1, Argomulyo, Grobogan. Kacang tanah 12 varietas: Hypoma 1, Hypoma 3, Kelinci, Talam 1, Talam 2, Takar 2, Tuban, Hypoma 2, Takar 1, Bison, Kancil, dan Tala 1. Kacang hijau 4 varietas: Vima 1, Vima 2, Vima 3, dan Kutilang 22 Laporan Tahunan 2017

30 Rekomendasi Pengembangan Antisipasi Ledakan Hama Wereng Batang Coklat dan Penyakit Virus yang Ditularkannya Akibat Percepatan Tanam dan Peningkatan Indeks Pertanaman Padi Padi merupakan komoditas pangan yang sangat strategis, sebagai sumber pangan utama masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan beras nasional dari produksi dalam negeri, peningkatan produksi padi melalui program intensifikasi sejak tahun 1960-an terus dilanjutkan oleh pemerintah sampai saat ini. Sejak tahun 2015, Kementerian Pertanian mencanangkan Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi diantaranya dengan perbaikan jaringan irigasi yang memungkinkan percepatan tanam dan peningkatan indeks pertanaman (IP), sehingga luas tambah tanam (LTT) padi meningkat pada bulan dan tahun kegiatan berjalan, dibandingkan tahun sebelumnya. Pemantauan secara ketat LTT berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi padi dari 75,4 juta ton tahun 2015 menjadi 79,1 juta ton tahun 2016, sehingga dilanjutkan untuk mancapai target produksi nasional 2017 sebesar 78,13 juta ton, tahun 2018 sebesar 80,08 juta ton dan tahun 2019 sebesar 82,0 juta ton. Keberhasilan peningkatan produksi padi pada tahun 2015 dan 2016 bertumpu pada peningkatan LTT, melalui percepatan tanam dan peningkatan IP, memberi ruang lingkungan hidup yang baik untuk berkembangnya hama dan penyakit. Salah satu akibat yang muncul pada tahun 2017, yakni terjadi ledakan Wereng Batang Coklat (WBC), disertai Penyakit Kerdil Hampa (PKH) dan Penyakit Kerdil Rumput (PKR). Hal ini disebabkan oleh virus yang ditularkan pada 30 kabupaten di Jawa, Bali, dan Lampung. Serangan WBC disertai PKH dan PKR terjadi di daerah yang melakukan tanam padi setahun. Uniknya ledakan WBC pada tahun 2017 hanya terjadi di Indonesia, namun tidak terjadi di Thailand dan Vietnam seperti ledakan tahun Keberadaan WBC, PKH maupun PKR dipengaruhi oleh WBC dan virus patogen PKH/ PKR, inang dan lingkungan, yang disebut segitiga hama/penyakit (pest or disease triangle), ditambah dengan praktek budi daya padi yang dilakukan. Perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas penyakit, demikian pula dengan keberadaan hama. Meningkatnya serangan WBC di Indonesia pada tahun 2017 yang tidak terjadi di Vietnam dan Thailand merupakan dampak percepatan tanam dan peningkatan IP sehingga inang tersedia sepanjang tahun, ditambah kondisi musim kemarau 2017 yang banyak hari hujannya (kemarau basah). Faktor lainnya yang turut memperparah serangan WBC dan penyakit diantaranya penanaman varietas padi peka WBC, penggunaan insektisida terlarang untuk padi dan aplikasi pestisida kimia tidak berdasarkan hasil pengamatan (rasional). Petani tidak mengetahui kaitan antara ledakan populasi WBC dengan penyakit virus. Sistem pengamatan hama dan penyakit yang belum mampu memberi informasi cepat, membuat petani merasa bahwa serangan WBC dan penyakit virus yang ditularkannya terjadi mendadak. Saat ini belum ada varietas padi tahan virus penyebab PKH maupun PKR, sehingga percepatan tanam dan peningkatan IP melestarikan inokulum virus dari musim ke musim dan tahun ke tahun. Kementerian Pertanian sampai dengan September 2017 melaporkan bahwa WBC telah menyerang pertanaman padi seluas ha di 17 provinsi. Meskipun luas serangan WBC hanya 0,47%, atau kurang 5% dari luas tanam saat itu 9 juta ha, secara makro memang tidak menjadi ancaman serius bagi produksi padi nasional. Namun, bagi keluarga petani/ buruh tani yang mengusahakan lahan sempit rata-rata 0,5 ha yang lahannya terserang, sangat mempengaruhi produksi dan penghasilannya. Rekomendasi tanggap darurat untuk mengatasi masalah saat ini, jangka pendek dan Laporan Tahunan

31 kebijakan jangka menengah-panjang untuk mencegah tidak terulang lagi dimasa yang akan datang sebagai berikut: (1) Dalam kondisi tanggap darurat, disarankan melakukan gerakan pengendalian (Gerdal) untuk memusnahkan virus, karena sampai saat ini belum ada varietas tahan virus penyebab PKH/ PKR, dengan delapan langkah untuk mengamankan tanaman padi MT 2017/ 2018 sebagai berikut: Langkah 1: Segera musnahkan; Kendalikan virus dengan memusnahkan tanaman padi terserang virus dan segera lakukan pengolahan lahan untuk membersihkan gulma, singgang sebagai inang alternatif virus dan WBC; Langkah 2: Buat pesemaian ditutup kain kasa: Pada lokasi yang cukup air, buat pesemaian setelah lahan diolah tanah untuk menghilangkan sumber virus, selanjutnya tutup pesemaian dengan kain kasa agar WBC tidak bisa menularkan virus pada bibit padi di pesemaian; Langkah 3: Pengolahan Tanah: Pada hamparan sawah yang sudah diberakan, dengan tunggul atau tanaman bergejala dan gulma telah kering, bila turun hujan segera olah tanah; Langkah 4: Tanam Serempak: Tanam serempak dalam satu hamparan minimal pada luasan 25 ha. Pada hamparan yang luasnya melebihi luasan 25 ha, upayakan sebagian besar tanam serempak; Langkah 5: Tanaman varietas tahan wereng coklat: Tanam varietas tahan WBC seperti Inpari 13, 33, 43 menggunakan cara budi daya Jajar Legowo Super, dengan jajar legowo 2:1 untuk menekan kepadatan populasi WBC sebagai penular virus penyebab penyakit PKH/PKR; Langkah 6: Minta bantuan pengamat hama: Apabila informasi dari pengamat hama atau hasil pengamatan sendiri populasi WBC tinggi (diatas ambang kendali), dapat menggunakan insektisida kimia untuk menurunkan populasi WBC secara cepat. Setelah populasi rendah, gunakan biopestisida untuk memberi kesempatan pada musuh alami berkembang; Langkah 7: Populasi WBC rendah gunakan biopestisida: Apabila populasi WBC tidak tinggi (dibawah ambang kendali) pada saat umur tanaman sebulan setelah tanam, jangan menggunakan insetisida kimia, gunakan biopestisida secara rutin, untuk memberi kesempatan pada musuh alami berkembang; Langkah 8: Amati hingga tanaman berbunga: Amati terus perkembangan populasi WBC, dan minta info pengamat hama tentang populasi WBC, hingga tanaman berbunga. Apabila populasinya tinggi, dapat menggunakan insektisida kimia untuk menurunkan kepadatan populasi WBC dengan cepat; (2) Jangka pendek dalam upaya menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan (supply-demand) beras, diversifikasi pangan perlu digalakkan untuk mengurangi konsumsi beras yang dapat mengurangi tekanan untuk terus meningkatkan produksi padi. Upaya khusus peningkatan produksi tidak hanya untuk padi, jagung, kedelai, tetapi juga komoditas pangan lainnya untuk diversifikasi pangan seperti ubikayu, ubijalar, sorgum. Tekanan peningkatan produksi beras yang berkurang memberikan kesempatan untuk menerapkan pola tanam yang membatasi tersedianya inang WBC dan konservasi musuh alami. Musuh alami WBC dari jenis laba-laba dapat hidup pada padi maupun palawija. Diversifikasi pangan yang berhasil akan membuat petani dapat menerapkan pola tanam memutus siklus hama/penyakit dengan menanam komoditas lain yang lebih bernilai ekonomi tinggi sehingga pendapatannya lebih baik dan kelestarian lingkungan terjaga. Berkurangnya konsumsi beras membuat menu makanan berimbang, sehingga kesehatan masyarakat lebih baik; (3) Pada jangka menengah-panjang, selaras dengan Undang Undang Budi daya Tanaman, pengendalian WBC dilakukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi penerapan PHT adalah: (a) membuat tanaman sehat dengan mengintegrasikan komponen pengendalian varietas tahan WBC dibudi dayakan dengan teknologi jajar legowo super untuk membuat kondisi lingkungan kurang kondusif bagi perkembangan WBC, serta mendorong perakitan varietas tahan virus PKH/ PKR; (b) pemanfaatan musuh alami dengan penggunaan biopestisida, pestisida nabati, rekayasa ekologi, dan menghindari aplikasi insektisida kimia sampai tanaman umur satu bulan setelah tanam untuk memberi kesempatan musuh alami berkembang; (c) pengamatan rutin dan monitoring untuk mengetahui keadaan darurat seperti imigran tinggi dan populasi melebihi ambang kendali agar penggunaan pestisida kimia secara rasional untuk menghindari ketergantungan, sehingga aman untuk lingkungan; (d) petani ahli dalam penerapan PHT melalui pendampingan dan pelatihan. 24 Laporan Tahunan 2017

32 Pengembangan Jarwo Super untuk Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan berbagai teknologi guna mewujudkan ketahanan pangan, khususnya yang berdampak pada peningkatan produksi padi nasional. Teknologi tersebut antara lain varietas unggul baru, sistem tanam jajar legowo (Jarwo), biodekomposer yang mampu mempercepat pengomposan jerami, pupuk hayati dan pemupukan berimbang, pestisida hayati serta alat mesin pertanian. Terkait dengan upaya peningkatan produksi padi nasional, Balitbangtan pada tahun 2008 telah menghasilkan inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah. Inovasi ini kemudian diadopsi dan dikembangkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan diimplementasikan dalam bentuk Sekolah Lapang PTT (SL-PTT). Komponen teknologi penyusun PTT terus disempurnakan dari waktu ke waktu. Berbagai komponen teknologi yang dihasilkan dirakit menjadi paket teknologi yang disebut teknologi padi Jajar Legowo Super. Keunggulan Jajar Legowo Super telah diuji melalui demarea seluas 50 ha pada lahan sawah irigasi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, musim tanam 2016, dengan melibatkan Gapoktan setempat. Berdasarkan panen ubinan Tim Terpadu BPS Indramayu, Peneliti Balitbangtan, Badan Ketahahan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Indramayu, UPTD Kecamatan Bangodua, dan Gapoktan peserta demarea, varietas Inpari-30 (Ciherang Sub-1) ternyata mempunyai potensi produksi 13,9 ton GKP/ha, varietas Inpari-32 HDB 14,4 ton GKP/ ha, dan varietas Inpari-33 12,4 ton GKP/ha, sementara produktivitas varietas Ciherang yang diusahakan petani di luar demarea hanya 7,0 ton GKP/ha. Penerapan teknologi Jajar Legowo Super secara utuh oleh petani diyakini mampu memberikan hasil 10 ton GKG/ha per musim, sementara hasil padi yang diusahakan dengan sistem jajar legowo hanya 6 ton GKG/ha. Jika Jarwo Super diterapkan oleh petani, maka akan diperoleh penambahan produktivitas padi sebesar 4 ton GKG/ha. Luas lahan sawah irigasi di Indonesia saat ini sekitar 4,8 juta ha. Petani terbaik (the best 10%) yang menerapkan paket teknologi Jarwo Super secara penuh dapat meraih produksi sekitar 9,4 ton GKG/ha. Dengan kata lain, terdapat senjang hasil sebesar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi petani non-jarwo Super. Produktivitas usahatani padi petani kooperator jarwo super meningkat 1,3 ton/ha di luar jawa dan hanya 0,3 ton/ha di Jawa. Ratarata produktivitas usahatani padi petani kooperator di Jawa dan luar Jawa adalah 6,49 ton/ha dan 6,19 ton/ha GKG. Efisiensi penggunaan pupuk Urea dan NPK majemuk oleh petani jarwo super mencapai 32 dan 27 kg GKG/kg pupuk, sedangkan efisiensi petani nonjarwo super sebesar 25 dan 22 kg GKG/kg pupuk atau terjadi peningkatan efisiensi penggunaan pupuk masing-masing 28% dan 23%. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan pada 20% dari total lahan pertanian irigasi, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 3,84 juta ton GKG per tahun. Dari sisi kelayakan usahatani, Teknologi Jajar Legowo Super memberikan nilai R/C rasio yang layak sebesar 3,29, lebih tinggi dibanding cara petani non-jarwo Super dengan R/C rasio 2,94. Sebagian besar petani pada tempat dilaksanakannya program bantuan Jarwo Super menyatakan tertarik untuk mengadopsi (willingness to accept) teknologi Jarwo Super. Sebagian besar petani (94,44%) yang memberikan penilaian positif dan hanya sebagian kecil petani (5,6%) menyatakan paket teknologi Jarwo Super memberikan hasil yang sama saja atau kurang baik. Petani yang menyatakan tertarik adalah petani yang mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani dan tamat pendidikan dasar. Rekomendasi untuk pengembangan Jarwo Super lebih lanjut adalah: (1) paket teknologi jarwo super (terutama varietas unggul baru) sebaiknya spesifik lokasi, (2) komponen teknologi pelapuk jerami, pupuk dan pestisida hayati sebaiknya bersifat generik, (3) pendampingan oleh penyuluh dan pengamat hama perlu lebih intensif, dan (4) pengembangan UPJA alat mesin tanam dan panen diarahkan ke daerah-daerah yang biasanya mengalami kelangkaan tenaga kerja. Laporan Tahunan

33 Budi Daya Kedelai Produktivitas Tinggi pada Lahan Sawah Tadah Hujan Pemerintah menargetkan swasembada kedelai pada tahun Untuk dapat mencapai swasembada tersebut strategi yang dilakukan pemerintah adalah dengan perluasan areal tanam (PAT) dan peningkatan produktivitas. Rata-rata produktivitas kedelai pada lahan sawah tadah hujan di tingkat petani saat ini baru mencapai 1,4 ton/ha, sedangkan rata-rata di tingkat penelitian dapat mencapai 2,45 ton/ha. Data tersebut menunjukkan bahwa produktivitas kedelai di lahan sawah tadah hujan masih bisa ditingkatkan melalui inovasi teknologi antara lain dengan teknologi pupuk hayati dan pupuk organik. Demfarm teknologi budi daya kedelai pada lahan sawah tadah hujan (MK-I) dengan menerapkan teknologi pupuk hayati ditambah dengan pupuk organik. Penelitian dilakukan di lahan petani seluas 2 ha. Lokasi penelitian di Kecamatan Pulo Kulon, Kabupaten Grobogan, MK Varietas yang digunakan yaitu varietas Grobogan berumur genjah (75 hari) dan sangat cocok untuk lahan sawah tadah hujan yang ketersediaan air pada musim kemarau sangat terbatas. Rancangan percobaan pair comparison, 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari : A = teknologi budi daya cara petani, B= teknologi pupuk hayati (Agrisoy dan Probio) + pupuk organik (kompos). Tahapan budi daya sebagai berikut: (1) Penyiapan lahan : lahan tidak diolah (TOT), setelah tunggul jerami dibabat lahan disemprot dengan Decomposer LBF untuk mempercepat pembusukan jerami. Dibuat bedengan lebar 10 m x panjang petakan, lebar parit antar-bedengan 40 cm; (2) Penanaman : sebelum tanam benih diberi seed treatment dengan pupuk hayati Agrisoy dengan dosis 10 g/1 kg biji. Tanam dengan cara ditugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm, 2 biji/ lubang. Setelah selesai tanam, setiap barisan lubang biji ditutup dengan pupuk kompos, dan selanjutnya lahan disemprot dengan herbisida Ally Plus (20 g/10 l air) untuk mengendalikan gulma; (3) Pemupukan: Perlakuan A = 50 kg urea kg Phonska/ha. B = 50 kg Phonska/ ha + pupuk hayati + pupuk kompos 1 ton/ha. Urea dan Phonska diberikan pada umur 10 HST dengan cara dilarik di samping barisan tanaman. Pupuk kompos diberikan pada saat tanam dengan cara disebar sepanjang barisan lubang biji. Pupuk hayati Agrisoy diberikan sebagai seed treatment, dengan dosis 10 g/1 kg biji. Pupuk hayati Probio diberikan sebagai Foliar Spray pada saat tanaman berumur 20, 35 dan 50 HST dengan dosis 15 ml/1 l air. Penggunaan pupuk hayati dan pupuk organik dapat memberikan hasil biji lebih tinggi daripada budi daya cara petani. Dengan pupuk hayati ditambah pupuk organik, produktivitas kedelai pada lahan sawah tadah hujan (MK-1) dapat mencapai 3,43 ton/ha biji kering, sedangkan dengan teknologi budi daya cara petani hanya mencapai 2,37 ton/ha. Dengan demikian teknologi pupuk hayati dan pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas kedelai pada lahan sawah tadah hujan sebanyak 1,06 ton/ha atau setara dengan 44,7% lebih tinggi daripada teknologi budi daya cara petani (existing). Rekomendasi budi daya kedelai untuk mencapai produktivitas tinggi pada lahan sawah tadah hujan sebagai berikut: (1) setelah padi dipanen segera dibuat bedengan pada setiap petakan sawah dengan ukuran lebar 10 m x panjang petakan. Lebar parit antarbedengan 40 cm; (2) lahan tidak perlu diolah (TOT). Setelah tunggul jerami dibabat, lahan disemprot dengan Decomposer LBF untuk mempercepat pembusukan jerami; (3) sebelum tanam benih kedelai diberi seed treatment dengan pupuk hayati Agrisoy dengan dosis 10 g/1 kg biji. Tanam dengan cara ditugal, dengan jarak tanam 40 x 15 cm, 2 biji/ lubang; (4) setelah selesai tanam, setiap barisan lubang biji diberi pupuk kompos dengan cara disebar sepanjang barisan lubang biji. Selanjutnya lahan disemprot dengan herbisida pratumbuh Ally Plus (20 g/10 liter air) untuk mengendalikan gulma. Pupuk NPK diberikan pada umur 10 HST dengan cara dilarik di samping barisan tanaman. Pupuk hayati Probio diberikan pada umur 20, 35, dan 50 hst dengan cara disemprotkan pada permukaan daun tanaman (foliar spray); (5) Pengairan dengan sumur pompa dan pengendalian hama/penyakit dilakukan sesuai dengan kebutuhan apabila diperlukan. 26 Laporan Tahunan 2017

34 Pupuk Hayati Agrisoy untuk Mendukung Peningkatan Produksi Kedelai Nasional Penggunaan pupuk anorganik secara massal dan terus-menerus pada lahan pertanian menyebabkan terjadinya proses degradasi kesuburan lahan pertanian terutama pada lahan sawah, di mana terjadi penurunan kualitas sifat fisik, anorganik, dan biologi tanah, yang berimbas pada penurunan kualitas tanah. Penggunaan pupuk anorganik secara cepat memang mampu meningkatkan produksi tanaman pangan, tetapi dengan usaha pertanian yang makin intensif dapat berdampak buruk pada lingkungan. Penggunaan pupuk anorganik yang tidak bijaksana serta telah diabaikannya pupuk organik selama beberapa dekade telah berdampak sistemik terhadap pertanian yang mengakibatkan penurunan kandungan C- organik drastis dan kesuburan tanah. Selain itu ketersediaan dan harga pupuk anorganik yang terus meningkat harus diantisipasi karena dapat meningkatkan biaya produksi. Pupuk organik dan pupuk hayati menjadi salah satu solusi alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah, melalui: inokulasi tanah dengan mikroba pupuk hayati, meningkatkan volume bahan organik tanah, mengurangi pupuk kimia, dan menghindari pembakaran sisa panen. Pupuk hayati merupakan pupuk yang diformulasi berisi mikroba baik tunggal maupun beberapa mikroba dalam satu bahan pembawa dengan fungsi untuk menyediakan unsur hara dan meningkatkan produksi tanaman. Mikroba yang diformulakan merupakan mikroba yang bermanfaat dan tidak bersifat sebagai patogen tanaman. Beberapa mikroba yang digunakan sebagai pupuk hayati adalah dari golongan bakteri penambat N 2 simbiotik (rhizobia), bakteri penambat N 2 non-simbiotik (antara lain Azotobacter dan Azospirillum), mikroba pelarut P (Bacillus sp., Pseudomonas sp., Streptomyces sp., dan jamur Trichoderma sp., Aspergillus sp., Penicillium sp.). Pupuk hayati dengan kandungan beberapa mikroba memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan dan semakin diminati oleh petani. Oleh karena itu, Komite Inovasi Nasional (KIN) menetapkan pupuk hayati sebagai salah satu dari 14 program unggulan inovasi nasional dan merekomendasikan untuk memproduksi dan menguji multilokasi pupuk hayati dalam skala besar. Diharapkan aplikasi pupuk hayati dalam jangka panjang dapat digunakan untuk pemulihan tanah kritis dan pencapaian swasembada pangan kususnya kedelai. Rekomendasi pengembangan pupuk hayati Agrisoy mendukung peningkatan produksi kedelai nasional adalah sebagai berikut: (1) penggunaan pupuk hayati Agrisoy sebagai seed treatment untuk mendukung usahatani kedelai dalam skala luas layak dikembangkan, karena di samping dapat meningkatkan produktivitas kedelai per satuan luas, juga dapat mengurangi biaya pemupukan kedelai; (2) Penggunaan pupuk hayati Agrisoy dalam jangka panjang akan memperbaiki degradasi lahan sawah yang makin parah dan mampu mengembalikan kesuburan tanah. Kebijakan Lisensi Varietas Unggul Jagung Hibrida Rakitan Balitbangtan Perlu Diperbaiki Kebutuhan jagung dalam negeri meningkat 3,77% setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya konsumsi daging unggas dan telur. Pada tahun 2016, kebutuhan jagung untuk pakan ternak mencapai 11,4 juta ton yaitu 68,5% dari kebutuhan jagung nasional sebesar 16,64 juta ton. Tahun 2016 produksi jagung nasional sebesar 23,58 juta ton. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan produksi jagung sebesar 33,13 juta ton atau meningkat 40,5% dibandingkan tahun Untuk mencapai target produksi jagung tersebut, maka secara bertahap diperlukan peningkatan luas tanam, luas panen, dan produktivitas. Target luas tanam jagung pada tahun 2025 sekitar 5,88 juta ha atau meningkat 1,44 juta ha (32,4%) dibandingkan dengan luas panen jagung tahun 2016 yang mencapai 4,44 juta ha. Saat ini, sebagian besar jagung ditanam di lahan suboptimal yaitu 79% di lahan kering, hanya 10% di lahan sawah tadah hujan dan 11% di lahan sawah irigasi. Hal ini menyebabkan luas pertanaman jagung lebih banyak terdapat pada musim hujan (Oktober- Maret) 69% dibandingkan musim kemarau Laporan Tahunan

35 (April-September) 31%. Hal ini menjadi salah satu penyebab produktivitas jagung di Indonesia masih rendah, tahun 2016 sebesar 5,30 ton/ha. Sedangkan target produktivitas jagung pada tahun 2025 sekitar 5,63 ton/ha atau meningkat 6,31% dibandingkan dengan tahun Faktor lain masih rendahnya produktivitas jagung di Indonesia adalah penggunaan benih jagung hibrida yang masih rendah 56% pada tahun Ini berarti masih terdapat 44% (1,95 juta ha) petani masih menggunakan benih jagung bersari bebas atau komposit dengan tingkat produktivitas rendah 3,32-5,31 ton/ha atau 30-70% lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas jagung hibrida yang dapat mencapai 8,02-10,31 ton/ha. Salah satu penyebab masih rendahnya penggunaan benih jagung hibrida yaitu harga benih jagung hibrida yang mahal, hingga 5 kali lipat dibandingkan dengan harga benih jagung komposit. Mahalnya harga benih jagung hibrida karena produktivitas benih jagung hibrida saat ini oleh sebagian besar produsen masih rendah yakni kurang dari 2 ton/ha benih F1. Apabila harga benih jagung hibrida dapat dikurangi hanya 3 kali lipat dibandingkan dengan jagung komposit, maka luas areal penggunaan benih jagung hibrida akan meningkat. Balitbangtan telah menghasilkan varietas unggul jagung hibrida dengan potensi hasil 13,6 ton/ha. Untuk mempercepat dan meningkatkan adopsi varietas jagung hibrida Balitbangtan, Kementerian Pertanian pada tahun 2017 memberikan porsi bantuan benih bersubsidi varietas jagung hibrida 40% ( ha) dari total 3 juta ha luas jagung yang mendapat bantuan pemerintah. Dari luasan ha tersebut dibutuhkan kg benih jagung dengan kebutuhan benih sebar 15 kg/ha. Benih tersebut berasal dari 13 varietas jagung hibrida Balitbangtan yang diproduksi benihnya oleh lebih dari 10 produsen/penyalur benih dengan target produksi benih ton. Jagung varietas Bima 19 dan Bima 20 merupakan hibrida Silang Tiga Jalur (STJ) dari 13 varietas jagung hibrida Balitbangtan yang diproduksi benihnya oleh produsen pada Sedangkan sisanya hibrida Silang Tunggal (ST). Kondisi kerja sama antara Balitbangtan dengan pelisensi/mitra produsen varietas jagung hibrida Balitbangtan pada tahun 2017 sebagai berikut: (1) Kurangnya pendampingan teknis oleh Balitbangtan kepada pelisensi/mitra produsen varietas jagung hibrida Balitbangtan dalam memproduksi benih hibrida di lapangan. Hal ini berhubungan dengan kualitas benih tetua baik mutu fisik, fisiologis, dan genetis yang masih perlu diperbaiki, termasuk daya tumbuh benih tetua di lapang; (2) Belum maksimalnya distribusi benih induk (tetua dari tiap varietas) kepada produsen untuk mencapai target luas areal produksi benih hibrida F1 baik volume maupun waktu distribusi. Hal ini akan berdampak pada keterlambatan batas waktu distribusi benih ke petani penerima bantuan; (3) Belum adanya penggolongan produsen berdasarkan output kinerjanya, baik itu kemampuan sarana prossesing benih, tingkat produktivitas benih, maupun mutu benih; (4) Beberapa produsen merasakan harga benih tetua masih mahal sekitar Rp /kg, belum termasuk ongkos kirim dan berharap harga benih dapat diturunkan sekitar Rp /kg. Rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan hubungan kerja sama antara Balitbangtan dengan pelisensi/mitra produsen varietas jagung hibrida Balitbangtan pada tahun 2018 adalah: (1) Balitbangtan agar meningkatkan pendampingan kepada para produsen terutama kesiapan dan ketepatan distribusi benih induk (tetua dari tiap varietas) kepada produsen. Hal ini dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen penyediaan benih tetua di UPBS Balitsereal dan Koperasi Balitsereal; (2) Balitbangtan agar meningkatkan peran BPTP yang telah dilatih memproduksi benih jagung hibrida di Balitsereal tahun BPTP perlu diberi tugas memproduksi benih tetua betina dengan supervisi dari Balitsereal. Volume kebutuhan benih tetua betina 4 kali lipat dibandingkan dengan volume tetua jantan (dengan asumsi jumlah baris tetua jantan : betina yaitu 4:1). Dengan demikian waktu yang dibutuhkan agar benih sampai di produsen lebih cepat dan ongkos kirim lebih murah, sehingga harga benih dapat lebih murah dibandingkan harga saat ini; (3) Perlu adanya klasifikasi produsen berdasarkan output kinerjanya, baik kemampuan tingkat produktivitas benih, maupun mutu benih. Produsen yang belum 28 Laporan Tahunan 2017

36 mampu mencapai tingkat produktivitas benih maupun mutu benih yang telah ditetapkan, perlu pendampingan lebih intensif. Berdasarkan target produktivitas benih oleh produsen pada tahun 2017, rata-rata untuk hibrida ST 1,45 ton/ ha dengan kisaran 1,02-2,93 ton/ha, sedangkan STJ Bima-19 dan Bima-20 dengan target hasil benih 4 ton/ha. Target ini masih dibawah potensi hasil galur tetua betina yang mencapai 3,0 ton/ ha. Galur CY 10 sebagai tetua betina varietas hibrida JH-234 memiliki potensi hasil 3,40 ton/ ha. Produktivitas Benih Sebar untuk hibrida Silang Tunggal minimum 2 ton/ha, sedangkan untuk hibrida Silang Tiga Jalur (seperti Bima 19 dan Bima 20) dapat mencapai 4 ton/ha; (4) Hibrida STJ dengan produktivitas benih yang lebih tinggi dan harga benih yang lebih murah, dapat dikembangkan di lahan suboptimal di luar Jawa dengan tujuan untuk menggantikan jagung komposit unggul, seperti varietas Arjuna, Bisma, Lamuru, dan Sukmaraga yang masih ditanam petani. Sedangkan komposit unggul Lamuru dan Sukmaraga untuk menggantikan jagung komposit lokal atau lahan bukaan baru. Apabila 1 juta ha dari 1,95 juta ha lahan jagung yang masih menggunakan jagung komposit ditanami jagung hibrida Silang Tiga Jalur (STJ) dengan produktivitas 1 ton di atas jagung komposit, maka akan diperoleh peningkatan produksi sebesar 1 juta ton; (5) Respon petani terhadap varietas jagung hibrida Balitbangtan melalui bantuan benih dari pemerintah pada tahun 2017 tersebut perlu dievaluasi pada tahun 2018 untuk perbaikan saran kebijakan lebih lanjut. Kebijakan Bantuan Benih Jagung dan Kedelai Perlu Diperbaiki Kebutuhan jagung dan kedelai di Indonesia meningkat setiap tahunnya seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan. Peningkatan kebutuhan jagung dan kedelai menyebabkan perlunya peningkatan produksi yang ditentukan oleh peningkatan luas panen dan produktivitas. Kebutuhan jagung domestik meningkat 3,77% setiap tahun dengan target kebutuhan jagung pada tahun 2017 sebanyak 17,28 juta ton, sedangkan target produksi 25,20 juta ton. Tahun 2045 target kebutuhan jagung mencapai 45,628 juta ton dengan sasaran produksi 63,16 juta ton. Konsumsi kedelai dalam negeri rata-rata 2,3 juta ton biji kering per tahun, sedangkan produksi rata-rata 5 tahun terakhir hanya mampu 0,98 juta ton biji kering atau 43% dari kebutuhan sehingga sisanya 57% dipenuhi dari impor. Untuk merealisasikan swasembada kedelai tahun 2020, maka pemerintah telah menyusun rencana pencapaian sasaran yang dituangkan dalam grand strategi percepatan peningkatan produksi kedelai Sasaran jangka pendek ( ) tercapainya peningkatan produksi kedelai ton dan berkurangnya impor (impor hanya ton) dan sasaran jangka panjang ( ) tercapainya produksi tahun 2045 sebesar ton, dengan surplus ton. Untuk mencapai sasaran produksi kedelai 1,2 juta ton tahun 2017, dibutuhkan luas tanam ha, meningkat ha (16%) dibandingkan tahun Kebutuhan lahan untuk kedelai akan terus meningkat karena tahun 2045 sasaran luas tanam kedelai 2 juta ha yaitu meningkat 1,32 juta ha (194%) dibandingkan tahun Pengembangan kedelai di luar Pulau Jawa masih lamban, tidak sebanding dengan potensi lahan yang ada dibandingkan di Jawa yang makin berkurang. Selama 20 tahun terakhir terjadi penurunan luas panen kedelai 61,62%, rata-rata 4,05%/tahun. Luas panen kedelai tertinggi 1,6 juta ha tahun 1992 dan berkurang luasnya hanya 614 ribu ha tahun Penurunan luas panen terbesar 85% terjadi di Sumatera (dari ha menjadi ha), Pulau Jawa 59% (dari ha menjadi ha), Sulawesi 48% (dari ha menjadi ha), dan Bali, NTB, NTT 31,98% (dari ha menjadi ha). Luas panen kedelai terbesar tahun 2015 di Pulau Jawa seluas ha atau 58,31% dari total luas panen, diikuti Nusa Tenggara 16,88%, Sumatera 11,17%, Sulawesi 10,52%, Kalimantan 2,25%, Maluku dan Papua 0,87%. Pengembangan kedelai terhambat terbatasnya lahan karena persaingan lahan dengan padi dan jagung. Di lahan sawah tadah hujan, jagung dan kedelai umumnya ditanam MK-II setelah tanaman padi MK-I, permasalahan pada MK II kedelai kalah bersaing karena keuntungan masih dibawah padi dan jagung, sehingga luas lahan kedelai makin berkurang. Harga kedelai cenderung fluktuatif, apabila dibandingkan dengan usaha tanaman pangan lain sebagai pesaingnya (jagung dan padi) Laporan Tahunan

37 pada saat musim yang sama keuntungannya dibawah tanaman pesaing tersebut. Berdasarkan data tahun 2014 (BPS 2016), nilai produksi (keuntungan) per hektar untuk kedelai yaitu Rp9 juta dibawah jagung Rp12 juta, padi ladang Rp10,3 juta, dan padi sawah Rp17,2 juta dengan biaya produksi per hektar untuk kedelai Rp9,1 juta, jagung Rp9,1 juta, padi ladang Rp7,8 juta, dan padi sawah Rp12,7 juta. Kebijakan bantuan benih jagung dan kedelai kepada petani oleh pemerintah melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian saat ini, untuk program penambahan luas areal panen sebagai berikut: (1) Program bantuan benih jagung berdiri sendiri oleh Direktorat Budi Daya Serealia, sedangkan kedelai oleh Direktorat Budi Daya Aneka Kacang dan Umbi, pada masing-masing sentra pengembangan jagung dan kedelai secara monokultur yang lokasinya berbeda; (2) Pengembangan jagung dan kedelai diarahkan pada lahan kehutanan khususnya di sela tegakan pohon jati muda; (3) Pengembangan kedelai secara monokultur pada lahan sawah tadah hujan pada MK II cenderung mengalami risiko anomali iklim. Pada saat terjadi La Nina (musim kemarau basah) seperti tahun 2016 di mana pada MK II masih terjadi hujan, sehingga petani memilih menanam padi atau jagung karena air mencukupi. Petani yang mendapat bantuan program benih kedelai mengembalikan benih tersebut sekitar ha kepada pemerintah, sehingga luas panen kedelai tidak mencapai target, walaupun luas panen padi dan jagung mengalami peningkatan. Rekomendasi kebijakan bantuan benih jagung dan kedelai kepada petani yang perlu dilakukan untuk meningkatkan luas tanam kedelai adalah: (1) Memberikan bantuan benih satu paket jagung dan kedelai pada program tumpangsari jagung-kedelai kepada petani yang biasa menanam jagung secara monokultur. Hasil penelitian tumpangsari jagung-kedelai pada tahun 2017 di dua lokasi di Jawa Timur sebagai berikut: (a) Hasil jagung pada tumpangsari menggunakan jarak tanam jajar legowo (Jarwo) 2:1 pada baris jagung yaitu 9,60-9,82 ton/ha (94,8%-108%) rata-rata 9,71 ton/ha (103%) dibandingkan hasil jagung monokultur dengan kisaran 8,90-10,13 ton/ha dan rata-rata 9,45 ton/ha. Hal ini berarti tidak terdapat penurunan hasil jagung pada tumpangsari dengan sistem jarak tanam jagung jajar legowo 2:1 dibandingkan dengan jarak tanam jagung sistem jajar legowo 2:1 monokultur dan jarak tanam jagung sistem tegel; (b) Populasi kedelai pada tumpangsari yaitu 43%-50% dibandingkan dengan populasi kedelai monokultur; (c) Hasil kedelai pada tumpangsari yaitu 0,43-0,46 ton/ha (rata-rata 0,44 ton/ha) atau 20,4%-21,8% (rata-rata 21%) dibandingkan dengan hasil kedelai monokultur sebesar 2,11 ton/ha; (2) Karena harga jagung relatif lebih baik dan keunggulan komparatif jagung relatif lebih tinggi dibanding kedelai, maka sistem tumpangsari jagungkedelai, produktivitas jagung minimal sama dengan jagung monokultur. Berdasarkan hasil penelitian pada poin 1, maka bila 1 juta ha luas tanam jagung di lahan sawah tadah hujan tumpangsari dengan kedelai (populasi kedelai tumpangsari 43-50% daripada populasi kedelai monokultur), diperoleh 0,43 juta-0,50 juta ha tambahan luas tanam kedelai tanpa mengurangi populasi jagung per hektar. Dengan hasil kedelai pada tumpangsari sebesar 21% dibandingkan monokultur, maka bila 1 juta ha luas tanam jagung ditumpangsarikan dengan kedelai, diperoleh tambahan produksi kedelai 0,44 juta ton tanpa mengurangi produksi jagung; (3) Balitbangtan perlu memberi tugas kepada BPTP sentra produksi jagung untuk melakukan kajian tumpangsari jagung-kedelai di lahan petani pada skala luasan minimal 1 ha dengan melibatkan Penyuluh dan Kelompok Tani, sehingga diperoleh informasi nilai usahatani tumpangsari jagung-kedelai secara lebih detail; (4) Perlu dibangun Laboratorium Lapang di Balitkabi, Malang untuk melakukan penelitian jangka panjang tentang dampak tumpangsari jagung-kedelai terhadap tanaman utama (jagung) terutama terhadap kebutuhan pupuk Nitrogen dan dinamika populasi hama dan penyakit komoditas jagung dan kedelai. Pengembangan Desa Mandiri Benih Berbasis Rencana Bisnis Sebagai impelemtasi salah satu butir Nawacita tentang berdaulat benih, yang dituangkan dalam RPJM , telah dilaksanakan pengembangan Desa Mandiri Benih Padi sejak tahun 2015 oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pada waktu yang bersamaan, Badan Litbang Pertanian 30 Laporan Tahunan 2017

38 ditugaskan membuat Model Desa Mandiri Benih (M-DMB) padi, jagung, dan kedelai. Sejak tahun 2016 Badan Litbang Pertanian mendapatkan tugas untuk melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih, disingkat dengan Sekolah Lapang Desa Mandiri Benih untuk mengimplementasikan Model Desa Mandiri Benih padi, jagung, dan kedelai. Model Desa Mandiri Benih dibangun menggunakan referensi Model Sistem Perbenihan Berbasis Masyarakat yang dikembangkan oleh Consortium Unfavourable Rice Environment (CURE), IRRI. Model melibatkan jaringan Balit komoditas, BPTP, dan Kelompok Tani (Keltan) Calon Penangkar berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis terkait di daerah. Dasar hukum produksi benih adalah Surat Tugas Mentan Nomor 86/HK.410/ M/4/2015 untuk produksi benih sumber dan Kepmentan Nomor 726 Tahun 2015 untuk produksi benih sebar dengan tujuan diseminasi, yang berlaku sampai dengan Desember Sekolah Lapang Desa Mandiri Benih (SL- DMB) adalah pelatihan produksi benih bermutu yang seluruh proses belajarmengajarnya dilakukan di lapangan. Hamparan sawah milik petani peserta disebut hamparan SL, sedangkan hamparan sawah tempat praktek produksi benih dan mengenalkan varietas unggul baru dan teknik produksi benih bermutu disebut laboratorium lapang (LL). Areal untuk produksi benih pada lahan masing-masing petani peserta disebut areal Sekolah Lapang (SL) dalam satu hamparan untuk memenuhi kebutuhan benih sesuai permintaan (rencana bisnis). Dipilih dari areal SL seluas minimal 1 ha sebagai lahan laboratorium lapang (LL), lahan percontohan (demplot) bagi petani peserta SL. Petak LL menjadi petak demonstrasi penerapan inovasi teknologi produksi benih dengan pendampingan oleh Pemandu. Melalui kegiatan SL dengan sistem belajar aktif dan praktek langsung produksi benih yang selanjutnya ditransfer ke sawah petani. Pembagian tugas dan tanggung jawab untuk pelaksanaan SL-Desa Mandiri Benih sebagai berikut: (1) Puslitbangtan merencanakan/ mengusulkan anggaran, menyusun pedum, koordinasi umum, monev dan pelaporan keseluruhan; (2) Balai Besar Pengkajian merencanakan dan mengusulkan anggaran dan koordinasi ke BPTP, menyusun panduan teknis pelaksanaan SL, monev, dan pelaporan pelaksanaan oleh BPTP; (3) Balit lingkup Puslitbangtan (BB Padi, Balitsereal, dan Balitkabi) menyediakan teknologi, benih sumber, panduan teknis produksi benih, peneliti sebagai narasumber (pemandu), menyediakan benih sumber, pendampingan, monev dan pelaporan pendampingan, penggunaan benih sumber; (4) BPTP melaksanakan sekolah lapang, monev internal, dan laporan pelaksanaan unit SL-DMB. Sekolah Lapang-DMB tahun 2017 telah dilaksanakan sesuai rencana di 13 provinsi penghasil padi utama, 6 provinsi penghasil jagung, dan 9 provinsi penghasil kedelai, kegiatan ini berjalan lancar dengan tingkat permasalahan yang variatif di tiap provinsi. Realisasi produksi benih pada program SL- DMB tahun 2017 sebagian besar sudah berdasarkan pada permintaan konsumen, tetapi sebagian lagi masih berdasarkan estimasi produksi berdasarkan luas lahan di suatu desa dengan rincian untuk padi, jagung, dan kedelai berturut-turut 3, 2, dan 2 unit (provinsi). Orientasi produksi benih padi pada tingkat penangkar di beberapa provinsi terutama di Jawa Timur dan DI Yogyakarta sudah mengarah pada produksi kelas benih pokok (SS) sehingga diperlukan benih sumber satu kelas diatasnya. Rekomendasi untuk membuat kegiatan produksi benih kelompok tani mandiri benih berkelanjutan: (1) target produksi benih harus berdasarkan pada permintaan pasar (business plan) bukan pada estimasi target luas lahan pengembang; (2) sinergi antar-para pihak terkait (stakeholder) dari petani penangkar, produsen, pendamping, hingga pemasaran masih perlu ditingkatkan baik antar instansi pusat (Ditjen Tanaman Pangan dan Balitbangtan) dan juga antar pusat-daerah dalam pelaksanaan program-program perbenihannya; (3) fokus kegiatan pendampingan dan pembinaan kelompok penangkar SL-DMB dapat dialihkan ke kelompok penangkar baru jika kelompok yang lama sudah dinyatakan mandiri memproduksi benih berdasarkan rencana bisnis. Namun, pembinaan terhadap kelompok penangkar lama yang sudah mandiri tetap dilakukan agar penangkaran benih dapat berkelanjutan; (4) Bantuan berupa sarana dan prasarana pengolahan benih, seperti lantai jemur, Laporan Tahunan

39 pengering (dryer), dll, masih diperlukan; (4) kerja sama kelompok tani mandiri benih dengan penangkar dan produsen benih masih perlu difasilitasi; (5) kelompok mandiri benih disarankan menerapkan manajemen korporasi dari anggota kelompok yang tertarik memproduksi benih dengan penyaluran benih untuk penggunaan sendiri, konsumen bermitra dengan koperasi tani, produsen benih atau pemda; (6) bisnis model setelah kebutuhan benih petani terpenuhi, perlu diidentifikasi agar produksi benih pajale dapat berkembang dan terjadi sinergi antara perbenihan komersial dan perbenihan berbasis masyarakat. 32 Laporan Tahunan 2017

40 Diseminasi dan Kerja Sama Penelitian Diseminasi adalah proses interaktif dalam mengkomunikasikan pengetahuan kepada pengguna, sehingga dapat digunakan untuk melakukan suatu perubahan. Tujuan diseminasi adalah untuk percepatan penerimaan dan pemahaman oleh pengguna terhadap suatu informasi atau inovasi baru. Hasil penelitian harus segera diinformasikan kepada pengguna dengan berbagai media komunikasi. Hasil penelitian sangat bermanfaat apabila dapat digunakan dalam kebijakan dan diaplikasikan oleh pengguna (pembuat kebijakan, agen pembangunan, petani dan masyarakat umum). Seminar Penelitian Selama tahun 2017 telah diselenggarakan 13 kali Seminar Rutin PuslitbangTanaman Pangan, yang membahas 26 makalah hasil penelitian. Pemrasaran berasal dari UK/UPT lingkup Puslitbang Tanaman Pangan, Kelti Analisis Kebijakan Puslitbang Tanaman Pangan, BB Padi, Balitsereal, Balitkabi, dan Lolit Tungro. Peserta seminar berasal dari berbagai instansi, baik dari lingkup Badan Litbang Pertanian, Pusat Penyuluhan Pertanian, Diklin Tanaman Pangan, Direktorat Perbenihan, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Sarana dan Prasarana Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat dan Banten, Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Bogor, BP4K Sukabumi, Perguruan Tinggi, Sekolah Penyuluh Pertanian, HKTI, Harian Kompas, Republika, Sinar Tani, swasta, media massa, dan institusi terkait lainnya. Adapun materi seminar dan para penyaji selama tahun 2017 antara lain: 1. Upaya Percepatan Adopsi Varietas Unggul Baru Padi Inpari (Dr. Made Jana Mejaya, Kelti Anjak Puslitbangtan) 2. Kelayakan dan Prospek Usahatani Padi Semi Mekanisasi (Ir. I. Putu Wardana, MSc, Kelti anjak Puslitbangtan) 3. Model Desa Mandiri Benih Padi, Jagung, dan Kedelai: Menuju Desa Mandiri Benih Berkelanjutan (Dr. I Nyoman Widiarta, Kelti Anjak Puslitbangtan) 4. Pengembangan Varietas Padi Karakteristik Khusus di Lahan Sawah Irigasi (Ir. Ikhwani, Kelti Anjak Puslitbangtan) 5. Varietas Unggul Baru Padi Gogo Toleran Naungan untuk Budi Daya Padi sebagai Tanaman Sela Perkebunan (Dr. Aris Hairmansis, BB Padi) 6. Peluang Pemanfaatan Lahan Suboptimal melalui Perakitan Padi Rawa (Dr. Indrastuti A. Rumanti, BB Padi) 7. Interaksi Genetik x Lingkungan dan Stabilitas Hasil Galur Gandum Tropis pada Dataran Menengah di Indonesia (Dr. Amin Nur, Balitsereal) 8. Inpari 38,39 dan 41: Varietas Unggul Baru untuk Lahan Padi Sawah Tadah Hujan (Trias Sitaresmi, MSi, BB Padi) 9. Peluang Pengembangan Jagung Biji Ungu Antioksidan sebagai Varietas Unggul Baru Nasional (Sintetik dan Hibrida) (Ir. M. Yasin HG., MS, Balitsereal) 10. Tantangan dan Peluang Pengembangan Varietas Kedelai Tahan Hama (Dr. Suharsono, Balitkabi) 11. Deja 1 dan Deja 2 Varietas Unggul Kedelai Toleran Jenuh Air (Ir. Suhartina, MP, Balitkabi) 12. Peningkatan Mutu Beras Merah dengan Penyosohan Satu Kali Proses dan Evaluasi terhadap Kandungan Fenolik dan Antosianinnya (Zahara Mardiah, M.Sc, BB Padi) 13. Teknologi Produksi Ubikayu di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan (Prof. Dr. Sudaryono, Balitkabi) 14. Pemanfaatan Galur Mandul Jantan dengan Tipe Sitoplasma Berbeda pada Perakitan Padi Hibrida (Yuni Widyastuti MSi, BB Padi) 15. Pemuliaan Ketahanan terhadap Penyakit Tungro pada Tanaman Padi (Dr. A. Muliadi, Lolit Tungro) 16. Penelitian dan Pengembangan Varietas Green Super Rice di Indonesia (Dr. Untung Susanto, BB Padi) Laporan Tahunan

41 17. Perkembanagan Ubi Kayu di Indonesia: Masalah dan Solusinya (Dr. Solihin, Balitkabi) 18. Padi Lokal Potensi Hasil Tinggi Tahan Penyakit Hawar Daun Bakteri Patotipe III dan IV (Wage Ratna Rohaeni MSi, BB Padi) 19. Budidaya Kacang Tanah di Lahan Salin (Ir. Abdul Taufiq. MP, Balitkabi) 20. Verifikasi Komponen Budi Daya Salibu sebagai Acuan Pengembangan Teknologi (Nurwulan A, M. Agr, BB Padi) 21. Menjawab Tantangan Efisiensi Pemupukan Melalui Penggunaan Varietas Padi Green Super Rice (Swisci Margaret, M.Si, BB Padi) 22. Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Salin (Dr. Runik Dyah Purwaningrahayu, Balitkabi) 23. Efektivitas Pupuk Hayati Pelarut P untuk Kedelai di Lahan Masam (Dra. Suryantini, Balitkabi) 24. Peningkatan Produktivitas Kedelai pada Lahan Sawah Tadah Hujan dengan Teknologi Pupuk Hayati dan Pupuk Organik (Drs. Lukman Hakim, Kelti Anjak Puslitbangtan) 25. Pengembangan Produksi Benih Kedelai Bermutu Mendukung Swasembada Benih di Sulawesi Selatan (Prof. Dr. Didiek Harnowo, Balitkabi) 26. Kajian Keberlanjutan Pengembangan Model Pertanian Bio Industri Lahan Sub Optimal (Dr. Nuning AS, Kelti Anjak Puslitbangtan) Publikasi Sampai akhir Desember 2017 Puslitbangtan telah meneritkan 15 judul publikasi hasil penelitian dan sebagian besar telah disebarluaskan ke berbagai institusi terkait. Publikasi hasil penelitian yang telah diterbitkan antara lain: 1. Jurnal PP Volume 1, Nomor 1, Jurnal PP Volume 1, Nomor 2, Jurnal PP Volume 1, Nomor 3, Buletin Iptek Tanaman Pangan Volume 12, Nomor 1, Buletin Iptek Tanaman Pangan Volume 12, Nomor 2, Berita Puslitbangtan No. 64, April Berita Puslitbangtan No. 65, September Berita Puslitbangtan No. 66, Desember Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super 10. Rencana Strategis Puslitbang Tanaman Pangan (Revisi) 11. Leaflet Juklak Budidaya Padi Jajar Legowo Super 12. Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu Tanaman Padi Berdasarkan Dinamika Populasi Vektor dan Epidemiologi Virus 13. Panduan Umum Sekolah Lapang Model Desa Mandiri Benih Padi, Jagung, dan Kedelai (Revisi) 14. Perakitan dan Teknologi Produksi Benih Varietas Unggul Jagung 15. Teknologi Padi Mendukung Lumbung Pangan Dunia 2045 Ekspose dan Pameran Agrinex Expo 2017 Materi pameran Puslitbangtan pada pameran AgrinexExpo ke-11, Agrinex Expo 2017 ke-11 th bertema Food for All Season yang diselengggarakan pada 31 Maret-2 April 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. Puslitbangtan menampilkan berbagai varietas unggul jagung dan kedelai. Selain itu, menampilkan publikasi terbaru padi, jagung, dan kedelai. Varietas unggul jagung yang ditampilkan Bima 19 Uri dan Lamuru. Sedangkan varietas unggul kedelai Dena 1, Dena 2, Dega 1, Devon 1, Detam 2, dan Dering 1. Varietas kedelai tersebut adalah 34 Laporan Tahunan 2017

42 varietas unggul kedelai toleran naungan (Dena), kedelai umur genjah dan berbiji besar (Dega), kedelai mengandung isoflavon (Devon), kedelai hitam (Detam), dan kedelai toleran kekeringan (Dering). Pameran dan Bazar Gelar Teknologi Dies Natalis ke-16 STTP Bogor Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor menyelenggarakan kegiatan Dies Natalis ke-16 yang dilaksanakan mulai April 2017 di Kampus Cibalagung Bogor. Acara ini mengangkat tema Memacu Regenersi Petani dan Tumbuhnya Wirausahawan Muda Pertanian yang Profesional. Tema tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap program Kementerian Pertanian yang mencanangkan program Regenerasi Petani dan Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP). PWMP mewujudkan regenerasi petani yang dirancang untuk penyadaran, penumbuhan, pengembangan, pemandirian minat, keterampilan dan jiwa kewirausahaan generasi muda di sektor pertanian. Pameran dalam Rangka Kunjungan APEKSI Taman Sains dan Teknologi Pertanian Nasional yang berada di Kawasan Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor mendapat kunjungan dari istri walikota dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang mengikuti ladies programme dari acara Koordinasi Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia (APEKSI), Kamis 27 April Pekan Nasional (PENAS) Petani- Nelayan ke XV Pekan Nasional (PENAS) Petani-Nelayan ke-xv dipusatkan di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh pada 6-11 Mei PENAS kali ini mengusung tema Memantapkan Kelembagaan Tani Nelayan sebagai Mitra Kerja Pemerintah dalam Rangka Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Menuju Kesejahteraan Petani Nelayan Indonesia. Kegiatan PENAS dihadiri oleh perwakilan petani-nelayan dari seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 35 ribu orang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan bersama jajarannya mengisi klaster tanaman pangan dan berperan besar dalam Gelaran Teknologi dengan berbagai inovasi teknologi terbaru. BB Padi menampilkan Gelar Teknologi (Geltek) padi gogo dalam bentuk demontrasi plot merupakan suatu model pengembangan padi gogo dengan optimasi sistem produksi padi di lahan kering. Varietas yang ditanam meliputi Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, dan Inpago 11 Agritan dengan sistem tanam larikan gogo. Sedangkan pada gelar teknologi padi sawah dengan sistem Jajar Legowo (Jarwo). Penataan lahan untuk mengurangi salinitas dengan cara mengatur sanitasi lingkungan/ caren dan tata air. Varietas padi sawah yang Laporan Tahunan

43 ditanam meliputi Inpari 30, Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB. Balitkabi menampilkan gelar teknologi terkininya dalam saung inovasi teknologi varietas unggul kedelai Dena 1, Dering 1, Demas 1, Devon 1, Deja 1, Deja 2 dan dua galur harapan kedelai yaitu galur toleran hama ulat grayak (Degra 5), dan galur toleran penyakit karat daun (Dekar 13). Juga diperagakan beberapa varietas kacang hijau di lapang yaitu Vima 1, Vima 2, Vima 3, Vima 4, Vima 5, Kutilang dan Sriti. Gelar Teknologi (Geltek) padi suatu model pengembangan padi toleran rendaman dan gogo dengan model optimasi sistem produksi padi di lahan tergenang dan lahan kering pada demontrasi plot. Balitsereal menampilkan gelar teknologi jagung tongkol dua varietas Nasa 29 yang memiliki potensi hasil 13,5 t/ha dan memiliki vigoritas tinggi dengan pertumbuhan yang cepat. Keistimewaan jagung ini juga memiliki penampilan tanaman yang tetap hijau (stay green) meski telah memasuki masa panen. Artinya bisa dimanfaatkan langsung untuk pakan ternak. Kelebihan jagung Nasa 29 adalah memiliki batang besar dengan perakaran yang kokoh sehingga tahan rebah, tahan penyakit bulai, karat, hawar dan tahan kekeringan. Ukuran biji Jagung Nasa 29 pun lebih besar dengan daya tancap yang dalam dan jenggel yang kecil dan keras, sehingga rendemennya tinggi dan mudah dipipil. Selain gelar teknologi tanaman jagung, Balitsereal juga menampilkan tanaman sorgum varietas Super 1 dan Numbu. Gelar Teknologi jagung tongkol dua varietas NASA 29 yang memiliki potensi hasil 13,5 t/ha dan memiliki vigoritas tinggi dengan pertumbuhan yang cepat demontrasi plot. Tarhib Ramadhan Badan Litbang Pertanian Tarhib (selamat datang) Ramadhan 1438 H/ 2017 lingkup Balitbangtan diselenggarakan untuk umum pada tanggal 17 hingga 19 Mei 2017 di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor. Terselenggaranya acara ini atas kerja sama Dharma Wanita Balitbangtan dengan KOPRI Badan Litbang Pertanian. Puslitbangtan ikut berpartisipasi dalam tarhib ini dengan menampilkan berbagai macam produk olahan dari ubi jalar. Pameran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-22 Beberapa varietas unggul kedelai seperti Dena 1 (tahan naungan), Degra 5 (tahan ulat grayak), Dekar 13 (tahan karat) dtampilkan pada demontrasi plot Sesuai dengan tema Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-22 Tahun 2017 yaitu Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan, puncak peringatan Hakteknas 36 Laporan Tahunan 2017

44 diselenggarakan di Center Point of Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 10 Agustus Puslitbangtan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan menampilkan display berbagai varietas jagung terbaru, antara lain contoh aneka jenis dan warna biji koleksi plasma nutfah jagung, koleksi plasma nutfah tanaman serealia, sorgum, gandum, jewawut, jagung ungu, varietas jagung hibrida, serta padi tahan tungro. Security and Rural Development. Puslitbang Tanaman Pangan bersama jajarannya menyajikan inovasi hasil penelitian dan pengembangan terbaru, antara lain: display berbagai varietas jagung, antara lain varietas jagung hibrida tongkol dua varietas NASA 29, Bima 19 URI, Bima 20 URI, HJ 21 Agritan, HJ 22 Agritan, JH 27 dan JH 45. Sedangkan jagung pulut yang ditampilkan Mini Expo Litbang Pertanian Menyemarakkan Pengukuhan Dewan Kepengurusan baru Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) periode dikukuhkan pada Senin, 21 Agustus 2017 di Auditorium Kementerian Pertanian, acara pengukuhan diselingi Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Perbenihan dan Pembibitan Nasional dan Mini Expo Litbang Pertanian. Pengukuhan DPP MPPI mengusung tema peran strategis MPPI dalam pengembangan teknologi perbenihan dan perbibitan nasional. Pada acara tersebut Menteri Pertanian meluncurkan dua varietas unggul padi hasil Balitbangtan yaitu Inpari 42 Agritan Green Super Rice (GSR) dan Inpari 43 Agritan GSR dengan potensi hasil sekitar 10 ton/hektar dan ramah lingkungan. Bibit jenis ini mampu mengurangi penggunaan input seperti pestisida, pupuk kimia, dan air. Selain itu varietas padi Agritan GSR juga mampu berproduksi tinggi dalam kondisi sub optimum, seperti kekeringan dan kebanjiran (amphibi). Begitu juga dengan ketahanannya dalam menghadapi terjangan hama wereng. Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Presiden RI ke-3, B.J. Habibie, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, Anggota DPR RI, Anggota DPD RI, dan Gubernur Sulawesi Selatan, Yasin Limpo menekan tombol sirine, tanda dimulainya Pameran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-22 di Makassar, Sulawesi Selatan, Agustus Pameran Hari Pangan Se-Dunia ke-37 Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-37 Tahun 2017 secara nasional dipusatkan di Markas Kodam VII Tanjungpura, Kubu Raya, Kalimantan Barat pada Oktober Tema HPS Menggerakkan Generasi Muda dalam Membangun Pertanian Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia. Hal ini sejalan dengan tema internasional HPS oleh FAO yakni Change the Future of Migration, Invest in Food Kepala Badan Litbang Pertanian, M. Syakir menerima plakat penghargaan sebagai penghasil varietas super yang mampu berproduksi tinggi dengan masukan rendah, Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR. Laporan Tahunan

45 yakni varietas Pulut URI 1, Pulut URI 2, Pulut URI 3 H, Pulut URI 4 dan varietas lokal pulut serta produk olahan dari bahan jagung berupa aneka santapan nusantara. Publikasi dan leaflet yang dibagikan ke pengunjung yaitu: Pedoman Umum PTT Padi Sawah, Pedoman Umum PTT Kedelai, Pedoman Umum PTT Jagung, Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Padi Sawah, Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Kedelai, Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Jagung, Deskripsi Varietas Unggul Tanaman Pangan , Padi, Jagung, dan Kedelai Unggul Baru Toleran Dampak Perubahan Iklim, leaflet Bima 20 URI, Bima 19 URI, Bima 16, Bima Provit A1, Bisma, Sukmaraga, Gumarang, Nasa 29 dll. Pameran Peringatan HPS Tingkat Provinsi Jawa Barat Memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 37 tingkat Provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang mengusung tema Generasi Muda sebagai Penggerak Ketahanan Pangan di Persedaan dan Bersama Generasi Muda Membangun Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan di Pedesaan diselenggarakan di Stadion Pakan Sari, Kabupaten Bogor, 9-11 November Puslitbangtan berpartisipasi dalam bentuk pameran inovasi Badan Litbang Pertanian yang Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Dr. Andriko Noto Susanto, beserta jajarannya melihat dan foto bersama di depan stand Puslitbang Tanaman Pangan. menampilkan inovasi teknologi varietasvarietas unggul tanaman pangan dalam bentuk benih dalam kemasan botol dan publikasi hasil penelitian yang berguna bagi masyarakat dan petani bagaimana teknis budi daya padi dan palawija, kebijakan pertanian serta program-program pertanian lainnya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media yang strategis untuk mengenalkan dan mensosialisasikan teknologi pertanian terkini dari Balitbangtan kepada masyarakat. Agro Inovasi Fair 2017 Balitbangtan Kementerian Pertanian, melalui Balai Pengelolaan Alih Teknologi Pertanian (BPATP) menyelenggarakan Agro Inovasi Fair 2017 di LG Atrium Botani Square Bogor, pada November Kegiatan yang ketiga kalinya bertujuan untuk mempromosikan teknologi pertanian terkini. Agro Inovasi Fair kali ini mengusung tema Bangkitkan Generasi Muda, Tingkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing. Tema ini untuk mengajak semua pemangku kepentingan dan masyarakat khususnya generasi muda agar berperan aktif membangun daya saing produk pertanian nasional, termasuk mendorong lahirnya wirausahawan muda di bidang pertanian. Pada acara ini Puslitbangtan berpartisipasi dengan menampilkan benih varietas unggul kedelai terbaru: kedelai hitam varietas Detam 1, Detam 2, Detam 3 Prida, Detam 4 Prida, kedelai tahan lahan masam (Demas 1), kedelai tahan jenuh air (varietas Deja-1 Deja-2), kedelai tahan ulat grayak (varietas Dega-1), kedelai tahan naungan (varietas Dena-1, Dena-2), kedelai kaya isoflavon (varietas Devon-1), kedelai umur genjah (varietas Gema), dan kedelai varietas Anjasmoro, Dering 1, Argomulyo, Gepak Kuning, Gepak Ijo, Grobogan, Ijen, dan Wilis dalam kemasan botol. Benih varietas kacang tanah, yaitu kacang tanah toleran lahan masam (Talam 1, Talam 2, Talam 3), kacang tanah tahan penyakit layu (Tala 1 dan Tala 2), dan varietas Hypoma 3. Benih kacang hijau yang ditampilkan varietas Vima 1 sampai Vima 5. Varietas jagung yang ditampilkan antara lain varietas unggul terbaru jagung hibrida, yaitu JH 27, JH 45, Bima 19 URI, Bima 20 URI dan jagung tongkol dua varietas Nasa 29 yang dikemas dalam botol dan dalam bentuk tanaman. 38 Laporan Tahunan 2017

46 Perpustakaan Perpustakaan Puslitbangtan memberikan layanan kepada pemustaka/ pengguna di lingkungan sendiri, namun dituntut pula memberikan layanan informasi kepada masyarakat luas. Perpustakaan Puslitbangtan memiliki tambahan bahan pustaka selama periode Januari sampai Desember 2017 yang terdiri atas 38 judul buku dan 146 judul majalah. Katalog digital yang dimiliki perpustakaan telah diupload dengan alamat deptan.go.id/puslitbangtan. Data SIMPERTAN sampai dengan Desember 2017 memiliki 460 record bahan pustaka dan 877 record artikel jurnal. Respositori khusus terbitan Puslitbangtan berjumlah 171 record dengan total entri sampai desember 2017 untuk bahan pustaka dan artikel jurnal adalah 1337 record. Pengguna Perpustakaan Puslitbangtan dalam periode Januari-Desember 2016 berjumlah 103 orang, 38% di antaranya peneliti, 34% mahasiswa, dan sisanya PNS, penyuluh pertanian, dosen, pengusaha, dan masyarakat umum. dikelola, yaitu Facebook/FansPage, Twitter dan Instagram. Ketiga media sosial tersebut dikelola setiap hari dengan memposting atau menshare berita-berita yang berkaitan dengan informasi teknologi tanaman pangan atau informasi tentang isu yang berkaitan dengan pertanian. Jumlah pengunjung website standar antara 200 sampai 400 ribu orang per bulan. Facebook/FansPage PuslitbangTanamanPangan147/ Twitter Instagram Pengelolaan Website Website Puslitbang Tanaman Pangan fokus terhadap informasi hasil penelitian tanaman pangan. Ragam materi yang disajikan terdiri dari informasi tentang liputan, juknis, informasi data dan informasi yang bersifat ilmiah seperti jurnal/iptek. Informasi liputan adalah informasi seputar kegiatan yang dilaksanakan di dalam atau luar kantor. Sedangkan informasi bersifat ilmiah adalah publikasi yang dihasilkan oleh para peneliti lingkup Puslitbangtan atau diluar lingkup Puslitbangtan. Salah satu efek dari update berita secara rutin adalah bertambahnya jumlah pengunjung website pada tahun Jumlah pengunjungnya meningkat dari pengunjung per tanggal 31 Desember 2017 (Gambar 1). Berdasarkan bulan pengunjung tertinggi yaitu di bulan Desember yang mencapai kunjungan. Sedangkan pada tahun 2016 jumlah pengunjung website hanya pengunjung (Gambar 2). Media Sosial Tugas tambahan pada tahun 2017 selain mengelola website ada 3 media sosial yang Gambar. (1) Data dan Grafik kunjungan Tahun 2017 dan (2) Data kunjungan tahun 2016 Laporan Tahunan

47 Kerja Sama Penelitian Sebagai institusi penghasil berbagai inovasi tanaman pangan yang menempati posisi penting dalam pembangunan pertanian, Puslitbangtan terus berupaya mengembangkan kerja sama dengan para pemangku kepentingan. Kerja sama dilakukan dalam mendukung pelaksanaan program Balitbangtan yang meliputi kerja sama dalam negeri, luar negeri, dan alih teknologi. Berbagai upaya kerja sama lingkup Puslitbangtan dilakukan untuk mewujudkan tercapainya: (1) pemanfaatan kekayaan intelektual dari inovasi pertanian yang dihasilkan; (2) mempercepat pematangan teknologi; (3) mempercepat diseminasi dan adopsi teknologi; (4) mempercepat pencapaian tujuan pembangunan pertanian; (5) capacity building bagi Unit Kerja/Unit Pelaksana Teknis (UK/UPT) lingkup Balitbangtan; (6) transfer teknologi; (7) mendapatkan umpan balik untuk penyempurnaan teknologi; (8) optimalisasi sumber daya; serta (9) menciptakan alternatif sumber pembiayaan. Kerja Sama Dalam Negeri Kerja sama dalam negeri merupakan suatu kesepakatan yang dicapai untuk melakukan penelitian dan pengembangan antara UK/UPT Balitbangtan dengan mitra dalam negeri. Tahun 2017, secara keseluruhan jalinan kerja sama yang dilakukan dengan mitra swasta berjumlah 48 judul kegiatan, dengan rincian Puslitbangtan memiliki 4 judul kegiatan, BB Padi memiliki 31 judul kegiatan sedangkan sebanyak 13 judul kegiatan dilakukan oleh Balitkabi. Secara umum, topik dan ruang lingkup kerja sama yang dijalin pada tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Kerjasama Dalam Negeri periode Januari-Desember No Judul Penelitian Nama Mitra Penanggungjawab Puslitbangtan 1. Implementasi Jarwo Super Direktorat Jenderal Dr. Andriko Noto Susanto Tanaman Pangan 2. Implementasi Jarwo Super pada wereng Badan Litbang Pertanian Dr. Andriko Noto Susanto batang coklat 3. Implementasi Larigo Badan Litbang Pertanian Dr. Andriko Noto Susanto 4. Bimtek dan workshop Badan Litbang Pertanian Dr. Ronald TP Hutapea implementasi jarwo super di lapang BB Padi 1. Monitoring Resistensi Insektisida Rynaxypyr PT DuPont Agricultural Dr. Usyati 50SC Terhadap Hama Penggerek Batang Padi Products Indonesia Kuning, Scirpophaga incertulas (Walker) (Lepidoptera: Pyralidae) 2. Uji ketahanan galur padi hibrida PT DuPont PT DuPont Dr. Suprihanto Indonesia terhadap wereng batang cokelat, hawar daun bakteri dan tungro 3. Pengujian ketahanan WBC dan HDB, blast, Bapeda Kabupaten Klaten Dr. Rahmini kandungan mutu fisik dan kimia gabah, organoleptik dan kandungan gizi beras varietas padi Bapeda Kabupaten Klaten 4. Uji ketahanan terhadap WBC, HDB, Blast, Pemkab Ketapang, KalBar Dr. Indrastuti Rumanti fisik dan organoleptik gabah/beras, molekuler kekerabatan padi lokal Ketapang 5. Karakterisasi dan Uji Adaptasi Varietas Impor PT Indo Hortikultura Sejahtera Zahara Mardiah, MSc PT. Indo Hortikultura Sejahtera dan Beberapa Varietas Unggul Baru Indeks Glikemik Rendah dari BB Padi di Beberapa Agroekosistem 40 Laporan Tahunan 2017

48 Tabel 10. Lanjutan. No Judul Penelitian Nama Mitra Penanggungjawab 6. Pengujian Ketahanan Galur-Galur Padi PT Syngenta Indonesia Ir. Sudir PT. Syngenta Indonesia terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) Patotipe III 7. Pengujian Lapang Efikasi Insektisida PT DuPont Agricultural Dr. Usyati Prevathon 50SC (b.a. : Clorantraniliprole) Products Indonesia Terhadap Penggerek Batang Padi Kuning, Scirpophaga incertulas (Walker) (Lepidoptera: Pyralidae) Pada Tanaman Padi 8. Uji Ketahanan Galur Padi Hibrida PT. Syngenta PT Syngenta Indonesia Dr. Suprihanto Indonesia Terhadap Penyakit Blas dan Tungro 9. Pelepasan Padi Hibrida PT Biogene Plantation Dr. Satoto 10. Uji Multilokasi Padi Hibrida PT Bayer Indonesia Dr. Satoto 11. Uji Skrining Ketahanan Galur Padi Lembaga Agriculture Entrepreneur Ir. Sudir Entrepreneur Clinics (AEC) terhadap Wereng Clinics Batang Coklat, Hawar Daun Bakteri, Tungro dan Blas 12. Uji Skrining Ketahanan Galur Padi PT Maxima PT Maxima Agro Ir. Sudir Agro Internasional terhadap Wereng Batang Internasional Coklat (WBC), Hawar Daun Bakteri (HDB) Tungro dan Blas 13. Product Certification Test Cooperation/ PT Carsurin Dr. Dodi Dwi Handoko Kerja Sama Pengujian Sertifikasi Produk 14. Pengujian Ketahanan Wereng Batang Coklat, BAPPEDA Klaten Dr. Rahmini Hawar Daun Bakteri, Blas, Kandungan Mutu Fisik dan Kimia Gabah, Organoleptik serta Kandungan Gizi Beras Varietas Padi BAPPEDA Kabupaten Klaten_ 15. Uji Ketahanan terhadap Wereng Coklat, Pemkab Ketapang Kalbar Dr. Indrastuti A. Rumanti Hawar Daun Bakteri, Blas, Fisik dan Organoleptik Gabah/Beras, Molekuler Kekerabatan Padi Lokal Ketapang 16. Uji Ketahanan Galur Padi Transgenik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Terhadap Penyakit Tungro LIPI Dr. Suprihanto 17. Kerja Sama Pendidikan dan Pemberdayaan Fakultas Teknik dan Ilmu Sumber Daya Komputer Universitas Bakrie 18. Kerja Sama Kegiatan Pembinaan Indonesia Bangun Desa Pendampingan Petani Padi Indonesia 19. Kerja Sama Pengujian Laboratorium Institut Pertanian Bogor 20 Pelepasan Varietas Padi dengan Potensi - Dr. Moh. Ismail Wahab Hasil Tinggi 21 Verifikasi Kesesuaian Varietas dan BPTP Sumatera Barat Lalu M. Zarwazi, MSi Pemupukan pada Teknologi Salibu 22 Peningkatan Produksi Benih F1 Hibrida Universitas Mulawarman Dr. Satoto (2 Ton Ha-1) dan bermutu tinggi Mendukung Pengembangan Padi Hibrida 23 Perakitan padi sawah toleran kekeringan IPB dan LIPI Dr. Indrastuti Rumanti pada fase generative menggunakan pendekatan marka molekluler 24 Seleksi, identifikasi dan pelepasan varietas AB2TI Dr. Rini Hermanasari padi unggul AB2TI spesifik lokasi dan berdaya hasil tinggi 25 Pengelolaan lahan salin melalui teknologi UNPAD Dr. Nafisah simbiose indofit dan varietas unggul padi Laporan Tahunan

49 Tabel 10. Lanjutan. No Judul Penelitian Nama Mitra Penanggungjawab 26 Perakitan varietas padi gogo dataran tinggi Universitas Sumatera Utara Dr. Aris Hairmansis dengan produktifitas minimal 5 ton GKG/ha dan BB Biogen berbasis sumber daya genetik lokal dengan bantuan marka molekuler 27 Perakitan varietas padi gogo tahan naungan LIPI Angelita Puji Lestari minimal 60%, intersepsi cahaya dengan produktifitas minimal 5 ton GKG/ha 28 Pelepasan varietas unggul turunan padi lokal - Dr. Untung Susanto Siam dan Adan melalui perbaikan umur dan potensi hasil 29 Percepatan pelepasan padi sawah padi tipe - Dr. Buang Abdullah beras basmati aromatik, beras merah romatik, beras hitam dan beras ketan 30 Penelitian pemanfaatan penerapan Rice PT Trimitra Sukses Bersama Dr. Ridwan Rachmat Milling Unit (RMU) 2 Pass untuk produksi benih berkualitas dengan susut mutu rendah 31 Produksi benih sumber padi untuk BPTP Dr. Yudhistira Nugraha mendukung tahun benih nasional 2018 Balitkabi 1. Meningkatkan dan mengembangkan ilmu Fakultas Farmasi Universitas Ir. Erliana Ginting, M.Sc. pengetahuan dan teknologi di bidang Gadjah Mada Yogyakarta pertanian, pangan fungsional, dan farmasi 2. Meningkatkan pengembangan pemanfaatan PT Amerta Indah Otsuka Ir. Abdullah Taufiq, M.P. kedelai dalam negeri 3. Kerja sama pengembangan kedelai tropis PT Mitratani Dua Tujuh Dr. Muchlish Adie 4. Kerja sama Tri Dharma Perguruan Tinggi Fakultas Pertanian Universitas Dr. Didik Harnowo Wijaya Kusuma Surabaya 5. Kerja sama Tri Dharma Perguruan Tinggi Fakultas Teknik Universitas Dr. Didik Harnowo Wijaya Kusuma Surabaya 6. Pelaksanaan insentif pembinaan Kementerian Riset, Dr. Moch. Muchlish Adie kelembagaan pusat unggulan Iptek Teknologi, dan Pendidikan tahun 2017 Tinggi 7. Pengembangan teknologi budi daya kedelai Satker Badan Penelitian dan Prof. Dr. Arief Harsono pada sawah tadah hujan Pengembangan Pertanian Kantor Pusat Jakarta 8. KEPAS (Kedelai Pasang Surut) Satker Badan Penelitian dan Prof. Dr. Subandi Pengembangan Pertanian Kantor Pusat Jakarta 9. Pengujian galur kedelai berpotensi Satker Badan Penelitian dan Dr. Gatut W.A. Susanto produktivitas >4 t/ha dan Pengembangan Pertanian Kantor Pusat Jakarta 10. Perakitan varietas kedelai adaptif dan Satker Badan Penelitian dan Dr. Moch. Muchlish Adie produktif pada lahan kering masam Pengembangan Pertanian (>3,0 t/ha) dan Tahan Pecah Polong Kantor Pusat Jakarta 11. Eksplorasi dan pencandraan karakter Kementerian Riset, Teknologi, Ayda Krisnawati, M.Sc. morfologi dan kimiawi dari bengkuang dan Pendidikan Tinggi (Pachyrhizus erosus) di Indonesia 12 Pembentukan varietas unggul kedelai Kementerian Riset, Teknologi, Dr. Heru Kuswantoro dengan kandungan protein dan methionine dan Pendidikan Tinggi tinggi berdasarkan marka molekuler 13 Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan Fakultas Pertanian Dr. Joko Susilo Utomo pengabdian kepada masyarakat Universitas Tidar 42 Laporan Tahunan 2017

50 Terkait kerja sama lisensi, sampai dengan Desember 2017, kerja sama yang tercatat di lingkup Puslitbangtan mencapai 63 kontrak. Mayoritas kerja sama lisensi merupakan kerja sama berstatus lanjutan. Berikut daftar kerja sama lisensi lingkup Puslitbangtan sampai dengan Desember 2017 (Tabel 11). Tabel 11. Kerja sama dengan Instansi Pemerintah Periode Januari-Desember No. Nama Invensi Nama Lisensor No. Perjanjian Jangka Waktu Balitsereal 1. Jagung Bima 12Q PT. Berdikari (Persero) 186/SM.340/I.2.3/10/ Tahun 2. Jagung Hibrida PT. Jafran Indonesia 1071.SR.340.H.23/7/ Tahun Bima 14 Batara 07/JFR/VII/ Jagung Hibrida PT Rahmat Rodel 1567A/HK.540/H2.3/10/ Tahun Varietas Bima /RR-PT/PLC/X/ Jagung Hibrida Varietas Bima 2 Bantimurung PT Saprotan Benih Utama 78/TP.143/J.2.3/06/ tahun 5. Jagung Hibrida PT. Bintang Makmur Pasifik 342/LB.220/I.1.1/03/ tahun Varietas Bima 4 6. Jagung Hibrida Varietas PT Sumber Alam Sutera 343/LB.220/I.1.1/03/ tahun Bima 5 7. Jagung Hibrida Varietas PT Makmur Sejahtera 344/LB.220/I.1.1/03/ tahun Bima 6 Utama 8. Jagung Hibrida Bima 9 PT. Tosa Agro 159/SR.340/I.2.3/11/ tahun 9. Jagung Hibrida Bima 10 PT. Tosa Agro 160/SR.340/I.2.3/11/ tahun 03/TAG/LEGAL/XI/ Jagung Hibrida Bima 11 PT. Tosa Agro 161/SR.340/I.2.3/11/ tahun 04/TAG/LEGAL/XI/ Jagung Hibrida Bima 7 PT. Biogene Plantataion 228/SR.340/I.2.3/ tahun 12. Jagung Hibrida Bima 3 PT. Golden Indonesia Seed 79/SR.120/I.2.3/12/ Tahun 0001/PHI-MLG/XII/ Jagung Hibrida Bima 16 PT. Pusri /Kpts/SR.120/ Tahun 452/SP/DIR/ Jagung Hibrida PT. Golden Indonesia Seed 728/SR.340/I.2.3/05/ Tahun HJ 21 Agritan 024/GIS-ADMINMLG/V/ Jagung Hibrida Bima 9 PT. Srijaya Internasional 729/SR.340/I.2.3/05/ Tahun 17/PT.SI/V/ Jagung Hibrida PT. Srijaya Internasional 730/SR.340/I.2.3/05/ Tahun HJ 22 Agritan 18/PT.SI/V/ Jagung Hibrida varietas PT. Jafran Indonesia 842a/SR.340/I.2.3/06/ tahun Bima 11 03/JFR/VI/ Jagung Hibrida Bima 10 PT. Sang Hyang Seri 1720/SR.340/I.2.3/10/ tahun SP.110/SHS.01/X/ Jagung Hibrida JH 234 PT. Green Grow Indonesia 406A/SR.120/I.2.3/03/ Tahun 015/GGI/III/ Jagung Hibrida PT. Pertani (Persero) 534//SR.120/I.2.3/04/ Tahun Varietas JH 27 24/PERT.D/HKP.30/ Jagung Hibrida Varietas PT Tunas Widji Inti Nayottama 1767/SR.340/H.2.3/11/ Tahun Bima 16 02/A.01/XI/ Jagung Hibrida PT Mulya Agro Sarana 52H/SR.340/H.2.3/01/ Tahun Bima 20 URI SP.004/C/MAS/I/ Jagung Hibrida Bima 15 PT Pertani (Persero) 52i/SR.340/H.2.3/01/ Tahun 9/Pert.D/HKP.30/ Jagung Hibrida PT Pertani (Persero) 52j/SR.340/H.2.3/01/ Tahun Bima 19 URI 8/Pert.D/HKP.30/ Jagung Hibrida PT Pertani (Persero) 52k/SR.340/H.2.3/01/ Tahun Bima 20 URI 7/Pert.D/HKP.30/ Jagung Hibrida Bima 14 PT Sang Hyang Seri (Persero) 64/SM.340/H.2.3/01/ tahun SP.33/SHS.01/I/ Jagung Hibrida Bima 15 PT Sang Hyang Seri (Persero) 65/SM.340/H.2.3/01/ tahun SP.34/SHS.01/I/ Jagung Hibrida PT Sang Hyang Seri (Persero) 66/SM.340/H.2.3/01/ tahun Bima 20 URI SP.35/SHS.01/I/ Jagung Hibrida Bima 10 PT Sang Hyang Seri (Persero) 86D/SM.340/H.2.3/01/ tahun SP.35/SHS.01/I/2017 Laporan Tahunan

51 Tabel 11. Lanjutan. No. Nama Invensi Nama Lisensor No. Perjanjian Jangka Waktu 30. Jagung Hibrida PT Tani Solusi 237A/SR.340/H.2.3/02/ tahun Bima 19 URI 2.28/Dir/TS/Lis/II/ Jagung Hibrida PT Tani Solusi 238A/SR.340/H.2.3/02/ tahun Bima 20 URI 2.29/Dir/TS/Lis/II/ Jagung Hibrida Bima 14 CV Agro Indo Seed 238A/SR.340/H.2.3/02/ tahun 05/AIS/II/ Jagung Hibrida Bima 14 UD Sari Bumi Indonesia 240A/SR.340/H.2.3/02/ tahun 007/SBI-MLG/2/ Jagung Hibrida JH 36 PT Agri Makmur Pertiwi 352/SR.340/H.2.3/03/ tahun 035/AMP/BD-Ext/III/ Jagung Hibrida JH 45 PT Agri Makmur Pertiwi 353/SR.340/H.2.3/03/ tahun 036/AMP/BD-Ext/III/ Jagung Hibrida PT Golden Indonesia Seed 1073/SR.340.H.2.3/7/ Tahun Bima 14 Batara 151/GIS-MLG/PL/VII/ Jagung Hibrida PT Golden Indonesia Seed 1074/SR.340.H.2.3/7/ Tahun Bima 20 URI 152/GIS-MLG/PL/VII/ Jagung Hibrida Bima 4 PT Esa Sarwaguna Adinata 1075/SR.340.H.2.3/7/ Tahun 001/ADI/VII/ Jagung Hibrida PT Esa Sarwaguna Adinata 1076/SR.340.H.2.3/7/ Tahun Bima 20 URI 002/ADI/VII/ Jagung Hibrida JH 27 PT Esa Sarwaguna Adinata 1077/SR.340.H.2.3/7/ Tahun 003/ADI/VII/ Jagung Hibrida PB Oryza Sativa 178/SR.340.H.2.3/7/ Tahun Bima 20 URI 060/SPK-OS/VII/ Jagung Hibrida PB Oryza Sativa 179/SR.340.H.2.3/7/ Tahun HJ 21 Agritan 061/SPK-OS/VII/ Jagung Hibrida PT. Jafran Indonesia 1072.SR.340.H.23/7/ Tahun Bima 19 URI 08/JFR/VII/ Jagung Hibrida Varietas PT Srijaya Internasional 1070/SR.340.H.2.3/7/ Tahun Bima 14 Batara 77/SP/PT-SI/VII/ Jagung Hibrida PT Rahmat Rodel 1568A/HK.540/H2.3/10/ Tahun Varietas Bima /RR-PT/PLC/X/ Jagung Hibrida PT Agro Indo Mandiri 1564A/HK.540/H.2.3/10/ Tahun Bima 20 URI 51/AIM-KL/X/ Jagung Hibrida Varietas PT. Benindo Perkasa Utama 1908.A/HK.540/H.2.3/11/ Tahun Bima 19 URI 041/BND/XI/ Jagung Hibrida Varietas PT. Benindo Perkasa Utama 1908.A/HK.540/H.2.3/11/ Tahun HJ 21 Agritan 041/BND/XI/2017 BB Padi 1. Padi Hibrida Varietas RokanPT. Sumber Alam Sutera 746/LB150/J.21/ Tahun 2. Padi Hibrida Varietas Maro PT Dupont Indonesia 62/LB.150/J.2.2/ tahun 3. Padi Hibrida Hipa 8 PT. Dupont Indonesia 1325/LB.150/I.2.1/ tahun 4. Padi Hibrida Hipa 9 PT. Metahelik Life Science 1326/LB.150/I.2.1/ tahun 5. Padi Hibrida Hipa 10 PT. Petrokimia Gresik 1327/LB.150/I.2.1/ tahun 6. Padi Hibrida Hipa 11 PT. Petrokimia Gresik 1328/LB.150/I.2.1/ tahun 7. Padi Hibrida HiPa 12 PT. Saprotan Benih Utama 1166/LB.150/I.2.1/ Tahun 117/SBU-ext/X/ Padi Hibrida HiPa 14 PT. Saprotan Benih Utama 1167/LB.150/I.2.1/ Tahun 119/SBU-ext/X/ Static Light Trap So-Cell PT. Sainindo Kurniasejati 585/LB.150/I.2.1/ Tahun 001/PL-SKW/VI/ Moving Light Trap So-Cell PT. Sainindo Kurniasejati 586/LB.150/I.2.1/ Tahun 002/PL-SKW/VI/ Padi Hibrida Hipa Jatim 1 Dinas Pertanian Provinsi 618/LB.210/I.2.1/ Tahun Jawa Timur 521.1/1661/113.24/ Padi Hibrida Hipa Jatim 2 Dinas Pertanian Provinsi 619/LB.210/I.2.1/ Tahun Jawa Timur 521.1/1662/113.24/ Padi Hibrida Hipa Jatim 3 Dinas Pertanian Provinsi 620/LB.210/I.2.1/ Tahun Jawa Timur 521.1/1663/113.24/ Padi Hibrida Varietas PT Agro Indo Mandiri B-915/HM.230/H.2.1/07/ Tahun HIPA 19 41/P-AGR/VII/ Padi Hibrida Varietas PT Petrokimia Gresik B-1071/HM.230/H.2.1/09/ Tahun HIPA /TU.04.06/27/SP/ Laporan Tahunan 2017

52 Kerja Sama Luar Negeri Kerja sama luar negeri merupakan suatu kesepakatan untuk melakukan kegiatan penelitian, perekayasaan, pengkajian, pengembangan dan alih teknologi dalam bidang pertanian antara UK/UPT Balitbangtan dengan mitra kerja sama luar negeri. Sejak Januari sampai dengan Desember 2017 terdapat 15 (lima belas) judul kegiatan kerja sama yang dilakukan oleh balai-balai di lingkup Puslitbangtan. Dari Puslitbangtan sendiri terdapat 1 judul kegiatan, BB Padi terdapat 13 (tiga belas) judul kegiatan dan Balitkabi 1 (satu) judul kegiatan. Adapun kegiatan yang dilakukan dengan mitra luar negeri tersebut disajikan pada Tabel 12. Tabel 12. Data kerja sama dengan pihak luar negeri periode Januari sampai Desember No. Judul Penelitian Mitra kerja sama Peneliti Periode Puslitbang Tanaman Pangan 1. Closing rice yield gaps in Asia IRRI/Dr. Hasil 2017 (CORIGAP) Sembiring BB Padi 1. Multi-location Hybrid Rice Yield IRRI Dr. Indrastuti 1 Mei Trial (MRYT) at Sukmandi, ICRR Rumanti 30 Des Farm, Indonesia DRPC Reducing Risk and Raising Rice IRRI Dr. Indrastuti 1 Mei Livelihoods in Southeast Asia Rumanti 30 April 2017 through the Consortium for Unfavorable Rice (CURE) Phase 2 (WG2) C Reducing Risk and Raising Rice IRRI Dr. Nafisah Livelihoods in Southeast Asia through the Consortium for Unfavorable Rice (CURE) Phase 2 (WG3) C Reducing Risk and Raising Rice IRRI Dr. Aris 1 Maret Livelihoods in Southeast Asia Hairmansis 31 Maret 2018 through the Consortium for Unfavorable Rice (CURE) Phase 2 (WG4) C Reducing Risk and Raising IRRI Dr. Untung Mei Rice Livelihoods in Southeast Susanto Maret 2018 Asia through the Consortium for Unfavorable Rice (CURE) Phase 2 (WG1) C Capacity Enhancement in Rice Japan-ASEAN Dr. Untung April Production in Southeast Asia Cooperation Susanto April 2017 under Organic Agriculture Farming System AGF/AGR/12/0017/REG 7. Climate Change Adaptation IRRI Nurwulan 1 Okt through Development of a Agustiani, M.Agr 30 Sept Decision Support Tool to Guide Rainfed Rice Production (CCADS-RR) A (DRPC ) 8. Expanded GxE Experiments in IRRI Dr. Untung Jan.- Different Agro-Ecologies in Susanto Des Support of Bangladesh and Eastern India High-Zinc Rice Profiles: Multi-Location (Indonesia) Evaluation of Recombinant Inbred Lines for Identifying Most Adapted Line for Varietal Promotion C Laporan Tahunan

53 Tabel 12. Lanjutan. No. Judul Penelitian Mitra kerja sama Peneliti Periode 9. Building Capacity for IRRI Dr. Indrastuti 1 Okt Sustainable Rice Intensification Rumanti/ Dr. 31 Juli 2017 in the Outer Island of Indonesia Yudhistira N. 10 An inspection system for grade SATAKE- Zahara 2017 of paddy rice in accordance Japan Mardiah, MSc with an Indonesian standard with equipment manufactured by SATAKE 11 Assessing toxicity of DR8 in Landcare Dr. Nur aini Maretkey rat species of Indonesia Research, Herawati Des New Zealand 12 Genetic improvement of rice JIRCAS Dr. Aris breeding material and Hairmansis technology in Indonesia 13 Studi genetic, fisiologi dan IRRI Dr. Aris 2017 molecular sifat-sifat penting Hairmansis tanaman padi untuk menghasilkan varietas yang adaptif perubahan iklim global 14 Modeling tanaman untuk IRRI Dr. Moh. Ismail 2017 pengembangan alat bantu Wahab pengambilan keputusan (WeRise) untuk peningkatan produktivitas padi di lahan sawah tadah hujan 15 Kajian small farmer large field IRRI Dr. Satoto Julipadi hibrida Indonesia Des mendukung ekspor beras ke pasar internasional Balitkabi 1. Kerja sama Riset Ma Chung Dr. Muchlish 5 tahun - Research Center Adie (11 Okt for Photosynthetic 11 Okt. 2021) Pigment, Universitas Ma Chung Governing Council CAPSA Meeting, Bogor 28 Februari 2017 Dalam pertemuan Governing Council the Centre of the Alleviation of Poverty through Sustainable Agriculture (CAPSA) ke-13 negaranegara anggota memastikan kembali bahwa peran CAPSA tetap relevan dengan Agenda 2030 untuk Pembangunan yang Berkelanjutan di Asia-Pasifik. Anggota Council memperbarui komitmen mereka untuk tetap mendukung CAPSA serta memastikan bahwa kegiatankegiatan CAPSA senantiasa bermanfaat bagi negara-negara anggota. Kaveh Zahedi, Deputy Executive Secretary, the Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) menekankan bahwa Agenda 2030 untuk Pembangunan yang Berkelanjutan memberikan peluang besar bagi CAPSA untuk ikut serta bersama negara anggota lain dalam menghadapi Agenda 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan secara terpadu. Permanent Secretary Kementrian Pertanian Fiji, Jitendra Singh, yang juga memimpin sidang Pertemuan GC ke-13 ini, menyoroti permintaan yang signifikan dari negara-negara berkembang di wilayah Asia- Pasifik terhadap CAPSA melalui fungsinya sebagai kantor regional untuk kegiatankegiatan yang mencakup penelitian kebijakan, 46 Laporan Tahunan 2017

54 pengembangan kapasitas, berbagi pengetahuan dan pengembangan jaringan (networking) di bidang pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan dan pembangunan perdesaan. Untuk mendukung hal ini, Pemerintah Fiji telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kontribusi finansial mereka bagi CAPSA. Sementara itu, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Dr Prama Yufdi dalam sambutannya mewakili Kementerian Pertanian, mengemukakan bahwa Indonesia berharap melalui pertemuan ini, kita bisa melihat kembali pentingnya CAPSA, Seiring dengan rencana kita semua mendiskusikan masa depan CAPSA, hanya dengan dukungan penuh dari negaranegara anggota dan Sekretariat ESCAP PBB, CAPSA baru akan mampu memenuhi tujuan di atas. Dengan demikian, kita harus meningkatkan kerja sama dan bekerja bergandengan tangan untuk mendukung CAPSA memenuhi mandat,. Beberapa Key Decision Points dalam sidang GC CAPSA Meeting ke-13 yang dilaksanakan pada 28 Februari 2017, di Puslitbangtan Bogor Indonesia: a) Negara anggota GC sepakat bahwa hasil kerja CAPSA tetap sangat relevan terutama mengingat implementasi regional Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. GC mengakui bahwa Agenda 2030 selaras dengan mandat inti CAPSA. b) GC mengidentifikasi area-area untuk memperkuat kinerja CAPSA mencakup: Fokus pada agenda terpadu menangani elemen sosial, lingkungan dan ekonomi pertanian seperti ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana alam; sinergi antara keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan; pertanian perkotaan, dan sebagainya. Fokus pada kebijakan penelitian yang relevan untuk membawa manfaat bagi pertanian untuk menjadi perhatian para pembuat kebijakan dalam konteks Sustainable Development Goals (SDG s). Research dan review status sustainable agriculture di wilayah Asia Pacific. Layanan konsultasi dapat disesuaikan dalam mendukung prioritas nasional pertanian yang berkelanjutan Pada pertemuan ke-13 ini, Governing Council juga merekomendasikan tolak ukur berikut guna memperkuat kinerja CAPSA: CAPSA agar terus memperkuat komunikasi dengan negara-negara anggota agar tetap relevan dan respons terhadap permintaan. Peserta Governing Council CAPSA Meeting, foto bersama di Puslitbang Tanaman Pangan,Bogor 28 Februari Laporan Tahunan

55 CAPSA agar terus memperkuat kemitraan dan kerja sama dengan organisasi-organisasi yang relevan dengan fokus taking full advantage of comparative advantage, dan menghindari berbagai duplikasi CAPSA agar berupaya membuktikan bahwa kegiatan-kegiatan CAPSA memberi keuntungan yang spesifik bagi masing-masing negara anggotanya. Governing Council me-review kegiatan-kegiatan dan capaian CAPSA mulai dari sesi ke-12, financial statement tahun 2016, dan work plan GC mengemukakan apresiasinya terhadap hasil kerja CAPSA serta fokus baru dalam mendukung implementasi regional Agenda Sustainable Development 2030 termasuk SDG s. Lebih jauh, Governing Council mencatat ada 3 opsi yang disampaikan oleh sekretariat yaitu: Opsi 1: CAPSA dapat terus melanjutkan operasinya dengan dukungan annual contributions dari negara-negara anggota terutama dari host government. Opsi 2: CAPSA dapat menjadi intergovernmental organization di luar sistem United Nations. Opsi 3: CAPSA menghentikan operasinya sebagai International Center. Governing Council (GC) Meeting CAPSA ke-14 Pertemuan 14 th Governing Council (GC) Meeting of Centre for Alleviation of Poverty through Sustainable Agriculture (CAPSA) telah dilaksanakan di Bangkok, Thailand pada tanggal 13 Desember Delegasi RI dipimpin oleh Dr. Sahat Pasaribu, Peneliti Utama, Pusat Sosial Ekonomi Kebijakan Pertanian, Kementerian Pertanian, dan terdiri dari unsurunsur Setditjen Kerja Sama Multilateral dan Direktorat PELH, Kementerian Luar Negeri; Biro KLN, Kementan; dan KBRI Bangkok. Pertemuan diikuti oleh negara anggota GC CAPSA (Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Srilanka, Thailand, Bangladesh, Kamboja, dan Fiji), negara anggota ESCAP lain yaitu Nepal, serta Deputy Executive Secretary of ESCAP dan Japan International Research Centre for Agricultural Sciences (JIRCAS). Pertemuan dibuka oleh Direktur CAPSA dan selanjutnya Deputy Executive Secretary of ESCAP menyampaikan welcoming remarks dengan menekankan pentingnya keberadaan CAPSA di Asia Pasifik yang mewakili semangat developing countries dalam pencapaian Agenda 2030, mengingat CAPSA didanai secara penuh oleh developing countries. Pertemuan dipimpin oleh Indonesia sebagai chair dan Malaysia serta Srilanka sebagai vice-chair, dengan agenda utama antara lain (i) laporan kegiatan CAPSA; (ii) laporan pertanggungjawaban finansial sekretariat CAPSA; dan (iii) keberlangsungan CAPSA dimasa datang. GC Meeting CAPSA ke-14 berhasil menyepakati beberapa hal sebagai berikut: a. Mengadopsi laporan kegiatan dan laporan finansial CAPSA b. Merekomendasikan CAPSA untuk bertransformasi sebagai Organisai Internasional di luar badan PBB terhitung mulai 1 Juli c. Merekomendasikan executive secretary ESCAP untuk mengambil langkah yang diperlukan baik dari segi administrasi maupun hukum untuk membantu transformasi CAPSA sebelum 30 Juni d. Sisa dana CAPSA yang ada (USD ) akan digunakan untuk kepentingan transisi organisasi dan diserahkan kepada CAPSA yang baru. e. Mencatat posisi Fiji saat ini untuk tidak mengambil bagian maupun ikut serta sebagai anggota pada pembentukan CAPSA yang baru. f. Menyambut baik kesediaan Indonesia untuk memimpin dan mendukung transisi CAPSA menjadi OI baru di luar PBB g. Negara GC yang ada (selain Fiji) bersedia untuk tetap menjadi anggota GC, memberikan kontribusi dan dapat mengirimkan personil profesionalnya (secondment) guna mendukung proses transformasi. h. Hasil keputusan tersebut akan diajukan untuk disahkan pada Sidang Komisi ESCAP ke-74 yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Mei 2018 di Bangkok. 48 Laporan Tahunan 2017

56 Sumber Daya Penelitian Sumber Daya Manusia Pembangunan pertanian yang modern, tangguh dan efisien dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia (SDM) serta sistem adminsitrasi dan manajemen pertanian yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, pembangunan SDM mutlak diperlukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi pembangunan itu sendiri. Aparatur pertanian yang andal akan mewujudkan suatu kelembagaan pertanian yang kokoh dan profesional, serta pelayanan administrasi kepegawaian yang efektif dan efisien. Jumlah pegawai lingkup Puslitbangtan per tanggal 31 Desember 2017 berjumlah 696 orang, dan berkurang 72 orang dibandingkan dengan tahun Jumlah pegawai tersebut terdiri dari 50 orang pegawai Golongan I (7,18%), 213 orang Golongan II (30,60%), 347 orang Golongan III (49,86%), dan 86 orang Golongan IV (12,36%) (Tabel 13). Ditinjau berdasarkan tingkat pendidikan setingkat SLTP/SD 94 orang, SLTA 249 orang, D3 39 orang, S1 159 orang, S2 101 orang, dan S3 59 orang, serta didukung oleh 8 orang profesor riset yang tersebar di 5 satuan kerja. Secara rinci sebaran distribusi pegawai lingkup Puslitbangtan, sebaran SDM jabatan fungsional peneliti, sebaran SDM jabatan fungsional non-peneliti dan fungsional umum disajikan pada Tabel 14 dan 15. Diklat fungsional peneliti selama tahun 2017 telah diikuti oleh 12 orang calon peneliti, yang terdiri atas Puslitbangtan 1 orang, BB Padi 4 orang, Balitkabi 2 orang, Balitsereal 3 orang dan Lolit Tungro 2 orang. Sebaran SDM penerima beasiswa tugas belajar lingkup Puslitbangtan on going per tanggal 31 Desember 2017, dari BB Padi sebanyak 7 orang, Balisereal 3 orang dan Balitkabi 1 orang. Tabel 13. Distribusi SDM di lingkup Puslitbangtan berdasarkan pendidikan, 31 Desember Satker SDM berdasarkan tingkat pendidikan S3 S2 S1 D3 SLTA SLTP/SD Total Puslitbangtan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Jumlah Tabel 14. Sebaran SDM Berdasarkan Jabatan Fungsional Peneliti per 31 Desember Unit Kerja Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Calon Jumlah Utama Madya Muda Pertama Peneliti Puslitbang Tanaman Pangan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Jumlah Laporan Tahunan

57 Tabel 15. Sebaran SDM Fungsional Non-Peneliti per 31 Desember Non Fungsional Puslitbangtan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Jumlah Litkayasa Pustakawan Analisis Kepegawaian Arsiparis Fungsional umum Jumlah Tabel 16. Pagu dan dan realisasi anggaran operasional penelitian dan pengembangan tanaman pangan Unit Kerja Pagu (Rp.) Realisasi (Rp.) Persentase Puslitbang Tanaman Pangan ,08 BB Padi ,62 Balitkabi ,70 Balitsereal ,23 Lolit Tungro ,16 Total ,51 Pelatihan analis kepegawaian lingkup Puslitbangtan tahun 2017 diikuti oleh 3 orang pegawai yang terdiri dari analis kepegawaian 2 orang dan pranata humas 1 orang seluruhnya dari Puslibangtan. Selain hal tersebut telah diikutsertakan 20 orang pegawai untuk mengikuti pelatihan fungsional litkayasa bagi para pegawai yang ditugaskan di Balai komoditas dengan perincian sebagai berikut : BB Padi 8 orang, Balitkabi 3 orang, Balitsereal 7 orang, dan Lolit Tungro 2 orang. Berdasarkan peta jabatan pegawai lingkup Puslitbangtan per 31 Desember 2016 sebanyak 768 orang, sedangkan per tanggal 31 Desember 2017 berkurang 72 orang pegawai karena pensiun, mutasi atau meninggal yang terdiri dari S3 5 orang, S1 14 orang, SLTA 23 orang dan SLTP/SD 25 orang atau berkurang 8,85%. Penganggaran Pada tahun 2017 Puslitbangtan beserta unit kerja penelitiannya mendapatkan anggaran operasional penelitian dan pengembangan sebesar Rp dengan realisasi penyerapan 94,51% hingga akhir tahun 2017 atau Rp (Tabel 16) dengan rincian: belanja pegawai Rp (93,47%), belanja barang Rp (99,36%), dan belanja modal Rp (83,31%). Rincian realisasi penggunaan anggaran di masing-masing unit kerja Puslitbangtan menurut pos pembelanjaan pada tahun 2017 adalah sebagai berikut: 1. Puslitbangtan realisasi anggaran Rp (95,08%) dari total anggaran sebesar Rp yang terdiri atas Belanja pegawai Rp (89,71%), belanja barang Rp (98,84%), dan belanja modal Rp (98,84%). 2. Realisasi anggaran BB Padi sebesar Rp (96,62%) dari total anggaran Rp yang terdiri dari belanja pegawai Rp (92,46%), belanja barang Rp (99,62%), dan belanja modal Rp (97,29%). 3. Realisasi anggaran Balitkabi sebesar Rp (97,70%) dari total anggaran Rp yang terdiri dari belanja pegawai Rp (96,42%), 50 Laporan Tahunan 2017

58 belanja barang Rp (99,38%) dan belanja modal Rp (98,78%). 4. Realisasi anggaran Balitsereal sebesar Rp (89,24%) dari total anggaran Rp yang terdiri dari belanja pegawai Rp (93,95%), belanja barang Rp (99,07%), dan belanja modal Rp (76,22%). 5. Realisasi anggaran Lolit Tungro sebesar Rp (94,16%) dari total anggaran Rp yang terdiri dari belanja pegawai Rp (87,69%), belanja barang Rp (98,71%), dan belanja modal Rp (97,47%). Sebagai institusi pengguna APBN, Puslitbangtan beserta unit kerja penelitian berkewajiban menyetorkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ke kas Negara. Target PNBP pada tahun anggaran 2017 di lingkup Puslitbang Tanaman Pangan ditetapkan Rp atau meningkat 117,21% dibandingkan dengan tahun 2016 (Rp ), sedangkan realisasi PNBP hingga 31 Desember 2017 mencapai Rp dari target yang ditetapkan. Rincian PNBP Puslitbangtan serta unit kerja penelitiannya pada tahun 2017 disajikan pada Tabel 17. Aset Perkantoran Perhitungan pada semester II tahun 2017 menunjukan nilai aset perkantoran lingkup Puslitbangtan per 31 Desember 2017 adalah Rp atau meningkat 400,57% dibanding tahun 2016 sebesar Rp (Tabel 18). Nilai aset Puslitbangtan beserta unit kerja penelitian hingga akhir Desember 2017 meningkat 79,89% dari tahun 2016 (Tabel 19). Aset tersebut terdiri dari tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan aset tetap lainnya, kontruksi, aset tak berwujud, dan aset lain-lain. Kebun Percobaan Kebun Percobaan (KP) mempunyai peran penting dalam penyelenggaraan kegiatan penelitian. Keberadaan KP merupakan ciri khas dari satu lembaga yang mempunyai mandat melaksanakan penelitian dan pengembangan pertanian. KP terdiri atas satu atau beberapa bidang tanah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung penelitian. Penggunaan dan pemanfaatan lahan KP secara umum mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini PP 6 tahun 2006 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96 tahun Namun demikian, pengelolaan KP perlu perlakuan tersendiri mengingat komposisi BMN di dalam KP yang spesifik untuk menunjang kegiatan penelitian dan pengkajian. Strategi optimalisasi pendayagunaan KP antara lain: 1) Aktualisasi pelaksanaan litbang melalui penggunaan kebun percobaan untuk melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan tanaman pangan dan koleksi plasma nutfah, 2) Aktualisasi keunggulan teknologi hasil penelitian dengan menggunakan kebun percobaan untuk diseminasi teknologi melalui show window teknologi, diversifikasi dan ketahanan pangan, dan agro widya wisata hasil Balitbangtan, 3) Pendukung pembiayaan litbang: pemanfaatan untuk peningkatan PNBP, dan pemanfaatan untuk kerja sama untuk mendapatkan hibah. Tabel 17. Target dan realisasi PNBP lingkup Puslitbang Tanaman Pangan, Target Realisasi Unit kerja Penerimaan Penerimaan Penerimaan Penerimaan umum fungsional umum fungsional Puslitbang Tanaman Pangan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Total Laporan Tahunan

59 Tabel 18. Posisi aset lingkup Puslitbangtan per 31 Desember Uraian 31 Desember Desember 2016 Kenaikan % ASET Aset Lancar Kas di Bendahara Pengeluaran Kas Lainnya dan Setara Kas Pendapatan yang Masih Harus Diterima ,51 Persediaan ,01 Jumlah Aset Lancar ,36 Aset Tetap Tanah ,42 Peralatan dan Mesin ,04 Gedung dan Bangunan ,11 Jalan, Irigasi dan Jaringan ,86 Aset Tetap Lainnya ,19 Konstruksi dalam Pengerjaan ,44 Akumulasi Penyusutan Peralatan dan Mesin ,88 Akumulasi Penyusutan Gedung dan Bangunan ,05 Akumulasi Penyusutan Jalan, Irigasi dan Jaringan ,21 Jumlah Aset Tetap ,89 Aset Lainnya Aset Tak Berwujud ,96 Aset Lain-lain ,80 Akumulasi Penyusutan Aset Lainnya ,99 Akumulasi Amortisasi Aset Lainnya Jumlah Aset Lainnya ,90 Jumlah Aset ,10 Kewajiban Kewajiban Jangka Pendek Utang Kepada Pihak Ketiga ,36 Uang Muka dari KPPN ,00 Jumlah Kewajiban Jangka Pendek ,36 Jumlah Kewajiban ,36 Ekuitas Ekuitas ,62 Jumlah Ekuitas ,62 Jumlah Kewajiban dan Ekuitas ,57 Secara fungsi, KP digunakan untuk kegiatan penelitian dan pengkajian (litkaji), konservasi ex-situ sumber daya genetik (SDG), produksi benih sumber, show window inovasi teknologi. Selebihnya, KP dapat dimanfaatkan untuk kebun produksi, pendukung ketahanan pangan, media pendidikan, dan sebagai wahana agrowidyawisata. Dengan demikian, KP berperan sangat strategis sebagai sarana pelaksanaan tugas dan fungsi UPT dan sebagai wahana untuk menghasilkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kebun Percobaan lingkup Puslitbangtan terbagi kedalam 5 (lima) peruntukan yaitu untuk bangunan kantor, sawah, sawah tadah hujan, lahan kering dan lahan rawa dengan luas total mencapai 903,18 ha, seperti terlihat pada Tabel Laporan Tahunan 2017

60 Tabel 19. Posisi aset tetap dan aset lainnya lingkup Puslitbangtan per 31 Desember 2017 dan 31 Desember Uraian 31 Desember Desember 2016 Kenaikan % ASET Aset Lancar Pendapatan Harus diterima Persediaan Jumlah Aset Lancar Aset Tetap Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan. Irigasi dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Peralatan dan Mesin Akumulasi Penyusutan Gedung dan Bangunan Akumulasi Penyusutan Jalan. Irigasi dan Jaringan Jumlah Aset Tetap Aset Lainnya Aset Tak Berwujud Aset Lain-lain Akumulasi Penyusutan Aset Lainnya Akumulasi Amortisasi Aset Lainnya Jumlah Aset Lainnya Jumlah Aset Tabel 20. Profil Kebun Percobaan lingkup Puslitbangtan TA Jenis lahan Status Satuan Kerja Luas irigasi hujan kering Sertifikat (ha) (ha) (ha) (ha) BB Padi 512,59 396,25-11,32 Hak Pakai Balitkabi 141,95 67,69 12,64 61,62 Hak Pakai Balitseeal 206,95 171,67 33,78 1,50 Hak Pakai Lolit Tungro 41,69-37,50 4,19 Hak Pakai Jumlah 903,18 635,61 83,92 78,63 Upaya perbaikan/renovasi bangunan kantor, laboratorium, rumah kaca, rumah kawat, gudang, lantai jemur dan sarpras lainnya terus dilaksanakan selama periode 5 tahun guna meningkatkan kinerja dan umur pakai sarpras. Aset Laboratorium lingkup Puslitbangtan periode mencapai 21 unit dan terjadi perubahan nilai aset akibat perbaikan/ renovasi gedung dan penambahan atau modernisasi peralatan laboratorium. Puslitbangtan terus berupaya melakukan dan meningkatkan akreditasi guna mendukung kinerja dan kompetensi UPT lingkup Puslitbangtan dari klasifikasi C menjadi klasifikasi A agar dapat Laporan Tahunan

61 Tabel 21. Jenis dan status laboratorium lingkup Puslitbangtan TA Unit Kerja Nama Laboratorium Status BB Padi 1 Laboratorium Proksimat Terakreditasi 2 Laboratorium Mutu Benih Terakreditasi 3 Laboratorium uji Fisik Gabah Beras Terakreditasi 4 Laboratorium Flavor Belum terakreditasi 5 Laboratorium Agronomi Belum terakreditasi 6 Laboratorium Hama dan Penyakit Belum terakreditasi 7 Laboratorium Pemuliaan dan Belum terakreditasi Plasma Nutfah Balitkabi 1 Laboratorium Kimia Tanah dan Terakreditasi Tanaman 2 Laboratorium Kimia Pangan Terakreditasi 3 Laboratorium Mutu Benih Terakreditasi 4 Laboratorium Hama Penyakit Belum terakreditasi 5 Laboratorium Mikrologi Belum terakreditasi 6 Laboratorium Biopestisida Belum terakreditasi 7 Laboratorium Pemuliaan Belum terakreditasi Balitsereal 1 Laboratorium Pengujian Benih Terakreditasi 2 Laboratorium Bio Molekuler Belum Terakreditasi 3 Laboratorium Service Kimia Tanah Belum Terakreditasi 4 Laboratorium Hama dan Penyakit Belum Terakreditasi 5 Laboratorium Pasca Panen Belum Terakreditasi 6 Laboratorium Ekofisiologi Belum Terakreditasi Lolit Tungro 1 Laboratorium Hama/parasitologi Belum Terakreditasi Tabel 22. Jumlah rumah jabatan, mess/guest house, dan rumah dinas lingkup Puslitbang Tanaman Pangan Tahun Unit kerja Rumah Mess/guest Rumah Jumlah jabatan house hunian/dinas Puslitbang Tanaman Pangan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Total Tabel 23. Jumlah kendaraan dinas lingkup Puslitbang Tanaman Pangan Tahun Unit Kerja Roda 2 Roda 3 Roda 4 Roda 6 Jumlah Puslitbang Tanaman Pangan BB Padi Balitkabi Balitsereal Lolit Tungro Total mengimbangi perkembangan dan kemajuan IPTEK dewasa ini. Selain itu, UK/ UPT lingkup Puslitbangtan terus berupaya mengamankan aset berupa tanah/lahan dan bangunan melalui sertifikasi lahan/ tanah. Beberapa upaya lainnya adalah penyusunan laporan SIMAKBMN tiap tahunnya sebagai kelengkapan dokumen laporan keuangan. BB Padi memiliki tujuh laboratorium yaitu Lab. Proksimat, Lab.Mutu Benih, Lab.Uji Fisik Gabah/Beras, Lab. Flavor, Lab. Agronomi, Lab. Hama dan Penyakit, Lab. Pemulian dan Plasma Nutfah Tiga laboratorium yang disebut pertama telah terakreditasi ISO 17025:2005. Nilai aset laboratorium mengalami perubahan akibat renovasi gedung dan penambahan atau modernisasi peralatan laboratorium. Balitkabi memiliki tujuh Laboratorium yaitu: Lab. Kimia Tanah dan Tanaman, Lab. Kimia, Lab. Mutu Benih, Lab. Hama dan Penyakit, Lab. Mikrologi, Lab. Biopestisida, Lab. Pemuliaan. Peralatan penelitian, sarana kerja, sarana pendukung dan prasarana penelitian dalam 10 tahun terakhir belum mendapatkan tambahan yang berarti. Hasil evaluasi diri (self assessment) menyimpulkan bahwa peralatan penelitian tergolong usang dan kurang mendukung program penelitian teknologi tinggi dan strategis. Laboratorium Tanah dan Pemuliaan diakreditasi dan peralatannya akan dilengkapi sesuai dengan yang disyaratkan. Balitsereal memiliki enam unit laboratorium, terdiri dari Lab. Pengujian Benih, Lab. Bio Molekuler, Lab. Service Kimia Tanah, Lab. Hama dan Penyakit, Lab. Pascapanen, dan Lab. Ekofisiologi. Lolit Tungro memiliki 1 unit laboratorium yaitu laboratorium Hama/ Parasitologi. Aset Penting Lainnya Puslitbangtan juga memiliki aset penting lainnya berupa rumah jabatan, mess guest house, dan rumah dinas lingkup Puslitbangtan tercatat 330 unit (Tabel 22) dan kendaraan operasional berjumlah 166 unit (Tabel 23). 54 Laporan Tahunan 2017

62 Alamat Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor Telp: , / Fax Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat Telp.: /Fax Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Jalan Raya Kendal Payak, Kotak 66, Malang, Jawa Timur Telp.: /Fax Balai Penelitian Tanaman Serealia Jalan Ratulangi No. 274 Maros, Sulawesi Selatan Telp.: /Fax Loka Penelitian Penyakit Tungro Jalan Bulo Lanrang Rappang Sidrap, Sulawesi Selatan Telp.: /Fax Laporan Tahunan

63 56 Laporan Tahunan 2017

64 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor Telp , , Faks http//pangan.litbang.pertanian.go.id