142 Profil Kromatogram..(Nuri)
|
|
|
- Herman Tedja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 142 Profil Kromatogram..(Nuri) Profil Kromatogram dan Spektrogram Isolat Antimalaria dari Ekstrak Diklorometana Kulit Batang Artocarpus champeden Spreng. (Chromatogram and Spectram Profiles Antimalarial Isolate from Dichloromethane Extract of Artocarpus champeden Spreng. Stem Bark) Nuri Staf Pengajar Program Studi Farmasi Universitas Jember ABSTRACT The isolate which possessed antimalarial activity had been isolated from dichloromethane extract of Artocarpus champeden Spreng. Stem bark. The isolate inhibited Plasmodium falciparum growth in vitro by IC ±0.011 μg/ml. Chromatogram and spectram of isolate analysis showed that it contained flavonol as a major compound. Keywords : Artocarpus champeden Spreng., antimalarial activity, flavonol PENDAHULUAN Penyebaran parasit malaria yang resisten, terutama Plasmodium falciparum terhadap antimalaria utama klorokuin yang begitu cepat dan luas hampir di seluruh daerah endemik malaria di dunia, telah mendorong para peneliti untuk menemukan antimalaria baru yang lebih poten. Berbagai pendekatan dilakukan dalam menemukan molekul baru antimalaria diantaranya melalui 1) modifikasi molekul yang terbukti mempunyai aktivitas antimalaria, 2) penelitian terhadap metabolit spesifik parasit untuk menemukan antimetabolit ataupun melalui 3) eksplorasi terhadap bahan alam terutama tanaman obat yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan malaria. Penelitian terhadap bahan alam dalam usaha menemukan senyawa baru antimalaria dilakukan secara intensif oleh beberapa peneliti di dunia pada beberapa dasawarsa terakhir ini. Hal ini didasarkan pada beberapa alasan yaitu alkaloid alami kuinin yang telah digunakan sebagai antimalaria sejak sekitar tahun 1630 sampai sekarang masih menunjukkan efektivitasnya dalam melawan P. falciparum yang resisten klorokuin. Sementara beberapa antimalaria baru seperti klorokuin, amodiakuin, proguanil, pirimetamin dan sulfadoksin telah dilaporkan terjadi resistensi hanya beberapa tahun setelah pemakaiannya di lapangan. Kedua, penemuan antimalaria baru artemisinin dan turunannya dari tanaman Artemisia annua yang secara tradisional telah digunakan beratus-ratus tahun di Cina membuktikan bahwa tanaman obat merupakan sumber prototipe antimalaria baru yang potensial untuk terus digali dan diteliti (Mustofa, 2003). Di Indonesia, salah satu tanaman yang digunakan secara tradisional sebagai obat antimalaria adalah Artocarpus champeden Spreng. (cempedak) dari suku Moraceae. Tanaman ini tumbuh terpusat di Asia Tenggara dan banyak ditemukan di Indonesia. Di Irian Jaya, secara empiris kulit batang tanaman ini telah digunakan untuk mengobati penyakit malaria disamping untuk obat disentri dan penyakit kulit. Kulit batang cempedak mengandung senyawa utama golongan flavonoid antara lain artokarpin, heteroflavanon-a, senyawa baru siklocampedol bersama dengan empat senyawa triterpen yaitu sikloeukalenol, glutinol, sikloartenon, dan 24- metilensikloartanon, serta suatu sterol, β- sitosterol. (Hakim et al., 1998). Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi kulit batang A. champeden dan dilanjutkan dengan isolasi yang dipandu aktivitas antimalaria. Isolat yang dihasilkan selanjutnya dianalisis secara kromatografi dan spektroskopi. METODE Bahan dan Alat Kulit batang A. champeden yang digunakan diambil dari desa Makbalim, kecamatan Salawati, kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat (Agustus 2004) dan diidentifikasi di Herbarium Bogoriense LIPI, Bogor. Proses ekstraksi dan isolasi menggunakan bahan n-heksana teknis, diklorometana teknis, etil asetat teknis (semua bahan teknis diredistilasi), kloroform p.a. (E Merck), lempeng silika GF 254 (E Merck), lempeng silika RP-8. Untuk uji aktivitas antimalaria digunakan air suling, RPMI 1640, HEPES buffer, natrium bikarbonat, gentamisin sulfat, serum manusia, eritrosit manusia,
2 Jurnal ILMU DASAR Vol. 8 No. 2, Juli 2007 : minyak imersi, pewarna giemsa, dan dapar fosfat. Alat yang digunakan adalah kolom kromatografi, mikropipet (socorex), bak kromatografi (camag), rotavapor (buchi R-114 dan buchi R-153), timbangan analitik (ohaus 2140), kromatografi cair kinerja tinggi (Hewlett Packard Agilent 1100), spektrometer FTIR (Perkin Elmer), spektrometer FT-NMR (Hitachi R-1900), pipet ukur dan pipet volume, laminar air flow, mikroskop (olympus CH 20), lempeng sumur mikro (24 well). Ekstraksi dan Isolasi Serbuk kulit batang A. champeden diekstraksi dengan n-heksana untuk menghilangkan lemak. Residu dikeringkan kemudian diekstraksi kembali dengan diklorometana menghasilkan ekstrak diklorometana. Ekstrak diklorometana dipisahkan secara kromatografi kolom vakum dengan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak berturut-turut n-heksana, diklorometana dan metanol (penurunan gradien konsentrasi 5%) menghasilkan fraski-fraksi. Berdasarkan hasil uji aktivitas antimalaria fraksi-fraksi, dipilih fraksi yang paling aktif untuk diisolasi lebih lanjut sehingga akhirnya dihasilkan isolat yang aktif sebagai antimalaria. Selanjutnya isolat dianalisis secara kromatografi dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi dan secara spektroskopi dengan spektrometer FTIR dan spektrometer FT-NMR. Uji Aktivitas Antimalaria Parasit malaria yang digunakan untuk uji, dibiakkan menggunakan metode Trager dan Jensen (1976). Pembiakan dilakukan pada cawan petri dan dikerjakan secara aseptik. Pada uji kali ini digunakan P. falciparum strain 3D7 yang sensitif terhadap kloroquin. Untuk pengujian antimalaria, digunakan cara tes mikro yang didasarkan pada teknik Reickmann dkk. yang kemudian disempurnakan oleh WHO (WHO,1985). Bahan uji dilarutkan dalam DMSO, diencerkan sampai kadar tertentu dalam medium RPMI 1640 yang mengandung 10% serum manusia, 25 mm HEPES dan 25 mm NaHCO 3. Larutan disterilkan dengan saringan berdiameter 0,45 μm dan diencerkan secara seri. Masing-masing lempeng sumur mikro diisi dengan larutan bahan uji dan ditambahkan suspensi 5% eritrosit dengan parasitemia 1% sehingga masing-masing sumur berisi 1000 μl medium yang mengandung bahan uji dengan konsentrasi 0,0001 ; 0,001 ; 0,01 ; 0,1 ; 1 ; dan 10 μg/ml. Kemudian diinkubasikan dalam inkubator CO 2 pada suhu 37 o C selama 48 jam, dan dilakukan evaluasi hasil. Uji ini dilakukan dua kali replikasi. Sebagai pembanding adalah kloroquin difosfat. Kontrol negatif adalah DMSO yang diencerkan dengan medium lengkap sedemikian rupa sehingga di dalam sumur mikro (1000 μl) diperoleh kadar dimetilsulfoksida 0,5%. Setelah diinkubasi selama 48 jam, lempeng sumur mikro dikeluarkan, sediaan uji dicampur sampai homogen dan disentrifus, filtratnya dibuang dan bagian yang pekat dibuat sediaan lapisan darah tipis. Sediaan dikeringkan pada suhu kamar, difiksasi dengan metanol, kemudian setelah kering diwarnai dengan larutan giemsa 20% dalam aqua selama 10 menit. Evaluasi dilakukan dengan cara menghitung jumlah eritrosit terinfeksi pada setiap eritrosit di bawah mikroskop (Noster, 1990). Kemudian dihitung persen hambatan terhadap pertumbuhan P. falciparum Hambatan pertumbuhan 50% (IC 50 ) ditentukan menggunakan analisis probit. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi, Isolasi dan Aktivitas Antimalaria Sebanyak 1350 gram serbuk kulit batang A. champeden diekstraksi dengan n-heksana untuk menghilangkan lemak. Residu dikeringkan kemudian diekstraksi kembali dengan diklorometana. Terhadap 12 gram ekstrak diklorometana dilakukan pemisahan secara kromatografi kolom vakum menghasilkan 15 fraksi. Berdasarkan hasil uji aktivitas antimalaria maka dipilih fraksi 14 (985 mg) untuk diisolasi lebih lanjut. Terhadap fraksi 14 dilakukan kolom terbuka menggunakan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak heksan-etilasetat menghasilkan 8 subfraksi. Terhadap subfraksi 6 dilakukan kromatografi lapis tipis preparatif dengan fase diam silika gel RP-8 dan fase gerak asetonitril : methanol : air (2 : 1 : 1) menghasilkan isolat seberat 4 mg. Pada analisis selanjutnya diketahui bahwa isolat tersebut mengandung senyawa dominan golongan flavonoid. Aktivitas antimalaria dinyatakan dengan nilai IC 50, semakin kecil nilai IC 50 semakin poten sebagai antimalaria. Pada uji aktivitas antimalaria ekstrak diklorometana, fraksi 14, isolat dan kloroquin difosfat diperoleh nilai IC 50 berturut-turut 0,974 ± 0,181; 0,189 ±
3 144 Profil Kromatogram..(Nuri) 0,016; 0,024 ± 0,011 dan ± 0,001 μg/ml. Fidock (2006), menyebutkan bahwa suatu senyawa dianggap memiliki aktivitas antimalaria jika memiliki IC 50 kurang dari 1 μm. Senyawa flavonoid memiliki berat molekul 232 maka 1 μm setara dengan 0,232 μg/ml. Pada penelitian ini isolat memiliki IC 50 0,024 μg/ml, yaitu kurang lebih 1/10 kali lebih rendah dari batasan tersebut, maka dapat dikatakan isolat aktif sebagai antimalaria. Meskipun isolat memiliki aktivitas antimalaria lebih rendah dibandingkan kloroquin difosfat, bukan berarti isolat tersebut tidak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi obat antimalaria. Seperti telah disebutkan di atas, pada analisis selanjutnya dapat diketahui bahwa isolat mengandung senyawa utama golongan flavonoid. Struktur kimia flavonoid berbeda dengan obat-obat antimalaria yang ada saat ini, seperti alkaloid, seskuiterpen lakton dan golongan sulfa. Obatobat dengan struktur kimia yang berbeda, sangat mungkin memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Dengan mekanisme kerja yang berbeda diharapkan tidak terjadi resistensi silang. Dari berbagai literatur, ada beberapa kemungkinan mekanisme kerja flavonoid terhadap parasit malaria. Kemungkinankemungkinan mekanisme kerja ini ada yang memiliki target di vakuola makanan, yang lainnya di luar vakuola makanan. Khalkon, suatu senyawa flavonoid minor telah diketahui memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan parasit melalui mekanisme penghambatan enzim sistein protease pada parasit. Hambatan terhadap sistein protease ini dapat menyebabkan terhambatnya proses hidrolisis hemoglobin menjadi asam amino yang dibutuhkan parasit. Dengan demikian sintesis protein parasit juga akan terhambat (Biagini et al,2003). Cyclochampedol, suatu senyawa flavonoid terisoprenilasi yang diperoleh dari Artocarpus champeden Spreng, dapat menghambat transportasi asam amino leusin melalui membran usus ulat sutera Bombyx mori (Parenti et al.,1998). Ada kemungkinan bahwa senyawa tersebut juga dapat menghambat transportasi asam-asam amino melewati membran vakuola makanan parasit.sebagian besar flavonoid memiliki gugus karbonil tak jenuh-α,β. Oleh sebab itu ada kemungkinan flavonoid juga memiliki mekanisme kerja yang sama. Dari beberapa kemungkinan mekanisme yang disebut di atas, semuanya berbeda dengan mekanisme kerja obat-obat antimalaria yang sudah ada saat ini. Oleh sebab itu isolat tersebut yang mengandung senyawa dominan flavonoid memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi obat antimalaria. Analisis dan Identifikasi Isolat Isolat yang dihasilkan dianalisis secara KLT dengan berbagai macam fase gerak menggunakan penampak noda uap amonia yang menampakkan noda tunggal berwarna kuning intensif. Ini menunjukkan bahwa isolat tersebut mengandung senyawa flavonoid. Tetapi dengan cara KLT saja belum menjamin bahwa isolat benar-benar murni senyawa flavonoid. Oleh sebab itu dilakukan analisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) yang daya pisahnya lebih baik dibandingkan KLT (Mulya dan Suharman, 1995). Pada kromatogram KCKT terdapat satu puncak dominan pada Rt 16 menit disamping puncak-puncak lainnya (Gambar 1). Adanya puncak-puncak ini menandakan bahwa masih ada senyawa lain disamping senyawa yang dimaksud, meskipun secara KLT hanya menunjukkan satu noda. KCKT yang dipergunakan memakai detektor Photo Diode Array yang memiliki rentang pengukuran nm. Detektor ini disamping bisa digunakan untuk melihat profil kromatogran juga bisa untuk melihat spektrum UV-Vis masing-masing puncak kromatogram. Spektrum UV-Vis puncak kromatogram pada Rt 16 menit menunjukkan adanya dua panjang gelombang maksimum (λ max ) yaitu pada 265 nm dan 387 nm (Gambar 2). Profil spektrum ini identik dengan profil spektrum UV-Vis flavonol. Menurut Markham (1985), flavonol memiliki dua λ max yaitu antara nm dan antara nm. λ 265 nm berkaitan dengan absorpsi oleh sistem cincin sinamoil, sedangkan λ 387 nm berkaitan dengan absorpsi oleh sistem cincin benzoil yang dimiliki oleh flavonol (Marby et al., 1970). Untuk lebih menguatkan dugaan bahwa isolat mengandung senyawa flavonol, dilakukan identifikasi dengan spektrometer inframerah. Dari spektrum inframerah dapat diamati adanya puncak yang kuat pada bilangan gelombang 3435 cm -1. Ini menunjukkan adanya vibrasi ikatan O-H. Vibrasi ikatan O-H terjadi pada rentang bilangan gelombang cm -1. Pada
4 Jurnal ILMU DASAR Vol. 8 No. 2, Juli 2007 : bilangan gelombang 1614 cm -1 juga muncul puncak yang menandakan adanya vibrasi ikatan C=O (Silverstein, 1998; Spectral Data Base System, 2005). Adanya ikatan O-H dan C=O semakin menguatkan dugaan bahwa isolat mengandung senyawa flavonol. Senyawa flavonol pada strukturnya terdapat gugus hidroksil (OH) dan karbonil (C=O). Spektrum inframerah isolat dapat dilihat pada Gambar 3. Waktu tambat (menit) Gambar 1. Profil kromatogram KCKT isolat menggunakan kolom silika gel RP-18 dan fase gerak asetonitril : metanol : air (3 : 3 : 4) dideteksi pada λ 365 nm. 387 A 265 λ (nm) Gambar 2. Spektrum UV-Vis puncak kromatogram KCKT pada Rt 16 menit. %T Bilangan Gelombang (cm -1 ) Gambar 3. Spektrum inframerah yang dibuat pelet KBr, menggunakan spektrometer FT-IR (Perkin Elmer)
5 146 Profil Kromatogram..(Nuri) I Geseran Kimia (ppm) Gambar 4. Spektrum RMI proton isolat dilarutkan dalam CDCl 3 menggunakan spektrometer FT-NMR (Hitachi R-1900). Selanjutnya isolat diidentifikasi dengan menggunakan spektrometer resonansi magnetik inti. Hasilnya menunjukkan adanya dua puncak singlet pada geseran kimia (δ) 6,346-6,451dan 6,805-6,871. Puncak-puncak ini menandakan adanya adanya proton aril Ar-H. Pada spektrum resonansi magnetik inti, puncak dengan δ 1,257 menunjukkan adanya proton R-CH 2, demikian juga puncak pada δ 3,485 (Gambar 4). Menurut Hakim (1998) puncak-puncak δ 1,38 ; 1,57 ; 3,09 dan 5,09 merupakan ciri khas untuk gugus prenil. Oleh sebab itu ada kemungkinan senyawa flavonol di sini juga memiliki gugus prenil. Berdasarkan hasil identifikasi KLT dengan penampak noda uap amonia, spektra UV-Vis, inframerah dan resonansi magnetik inti dapat disimpulkan bahwa isolat tersebut mengandung senyawa utama flavonoid jenis flavonol. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa isolat yang berasal dari ekstrak diklorometana kulit batang A. champeden Spreng. memiliki potensi sebagai antimalaria dengan nilai IC 50 0,024 ± 0,011 μg/ml dan mengandung senyawa utama flavonol. DAFTAR PUSTAKA Biagini G.A., O Neill, P.M., Nzila, A., Ward, S.A. and Bray A.W., Antimalarial chemoterapy: young guns or back to the future, Trend in Parasitology 19 (11) : Fidock D.A., Rosenthal, P.J., Croft, S.L., Brun, R. and Nwaka S. Antimalarial drug discovery: efficacy models for compound screening (supplentary document). [ EN_PDF.pdf] Hakim E.H., Artokarpin dan heteroflavanon-a, dua senyawa flavonoid bioaktif dari Artocarpus champeden, Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian ITB, Bandung. Integrated Spectral Data Base System for Organic Compounds, The National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, Japan. [ [diakses 6 Desember 2005] Marby T.J, Markham, K.R. and Thomas, M.B., The Systematic Identification of Flavonoids. Springer-Verlag. New York, Markham K.R., 1988 (Terjemahan Padmawinata). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Penerbit ITB, Bandung,
6 Jurnal ILMU DASAR Vol. 8 No. 2, Juli 2007 : Mulya M. dan Suharman, Analisis Instrumental. Airlangga University Press, 237. Mustofa, Molekul antimalaria alami: potensi dan tantangan pengembangnnya sebagai obat baru malaria. Majalah Obat Tradisional, 8 (26). Noster S. and Kraus, I.J., In vitro antimalarial activity of Cautarea latiflora and Exostema caribaeum extract on Plasmodium falciparum. Planta Medica, 56 (1) : Parenti P., Pizzigoni, A., Hanozet, G., Hakim, E.H., Makmur, L., Achmad, S.A. and Giordana, B., A new prenylated flavone from Artocarpus champeden Spreng inhibit the K + -dependent amino acid transport in Bombyx mori midgut. Biochem Biophys. Res. Commun., 244 (2) : Silverstein R.M. and Webster, F.X., Spectrometric Identification of Organic Compounds. John Wiley and Sons Inc., 87. Trager W. and Jensen, J.B., Human malaria parasites in continuous culture. Science, 19 : WHO Special programe for research and training in tropical disease research. TDR seventh program report malaria (2). WHO Spec. Programe for Trop. Disease, 2-13.
EFEK ISOLAT AKTIF ANTIMALARIA DARI ARTHOCARPUS CHAMPEDEN TERHADAP ERITOSIT TERINFEKSI PLASMODIUM FALCIPARUM
EFEK ISOLAT AKTIF ANTIMALARIA DARI ARTHOCARPUS CHAMPEDEN TERHADAP ERITOSIT TERINFEKSI PLASMODIUM FALCIPARUM THE EFFECT OF ANTIMALARIAL ACTIVE ISOLATE FROM ARTHOCARPUS CHAMPEDEN ON PLASMODIUM FALCIPARUM
ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris
BAB IV ASIL DAN PEMBAASAN 4.1. Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris Serbuk daun (10 g) diekstraksi dengan amonia pekat selama 2 jam pada suhu kamar kemudian dipartisi dengan diklorometan.
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat-alat 1. Alat Destilasi 2. Batang Pengaduk 3. Beaker Glass Pyrex 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Corong Kaca 7. Corong Pisah 500 ml Pyrex 8. Ekstraktor 5000 ml Schoot/ Duran
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari sampai Juni 2014. Lokasi penelitian dilakukan di berbagai tempat, antara lain: a. Determinasi sampel
BAB II METODE PENELITIAN
BAB II METODE PENELITIAN A. Kategori Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni untuk mengetahui aktivitas penangkap radikal dari isolat fraksi etil asetat ekstrak etanol herba
HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Sebanyak 5 kg buah segar tanaman andaliman asal Medan diperoleh dari Pasar Senen, Jakarta. Hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di
30 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 - Januari 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
Bahan bakar dan bahan baku kertas. Senyawa organik bahan alam
Bahan bakar dan bahan baku kertas Senyawa organik bahan alam pemikat (antractan) Metabolit primer Metabolit sekunder penolak(reppelant) H H pelindung (protectant) Garcinia (Sumaryono,1999) Antimalaria
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi Senyawa Fenolik Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar tumbuhan kenangkan yang diperoleh dari Desa Keputran Sukoharjo Kabupaten
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIMALARIA DAN INSEKTISIDA FRAKSI ETIL ASETAT DAN SENYAWA 5,7,2',5",7",4"-HEKSAHIDROKSIFLAVANON-[3,8"]- FLAVON DARI BATANG
PAkTI ITS PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIMALARIA DAN INSEKTISIDA FRAKSI ETIL ASETAT DAN SENYAWA 5,7,2',5",7",4"-HEKSAHIDROKSIFLAVANON-[3,8"]- FLAVON DARI BATANG Garcinia celebica Linn Disusun oleh : Mirna Saga
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada awal penelitian dilakukan determinasi tanaman yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tanaman yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan
Bab III Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian III.1 Pengumpulan dan Persiapan Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus champeden Spreng yang diperoleh dari Kp.Sawah, Depok, Jawa Barat,
Deskripsi METODE SEMISINTESIS TURUNAN EURIKUMANON MONOSUBSTITUSI (EURIKUMANON MONOVALERAT)SEBAGAI ANTIPLASMODIUM
1 Deskripsi 1 2 METODE SEMISINTESIS TURUNAN EURIKUMANON MONOSUBSTITUSI (EURIKUMANON MONOVALERAT)SEBAGAI ANTIPLASMODIUM Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan metode semisintesis satu senyawa
BAB III PERCOBAAN DAN HASIL
BAB III PERCOBAAN DAN HASIL III.1 Alat dan Bahan Isolasi senyawa metabolit sekunder dari serbuk kulit akar dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut MeOH pada suhu kamar (maserasi). Pemisahan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi
2 dikeringkan pada suhu 105 C. Setelah 6 jam, sampel diambil dan didinginkan dalam eksikator, lalu ditimbang. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai diperoleh bobot yang konstan (b). Kadar air sampel ditentukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Determinasi Tumbuhan Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Bandung untuk mengetahui dan memastikan famili dan spesies tumbuhan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyiapan Sampel Sampel daging buah sirsak (Anonna Muricata Linn) yang diambil didesa Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, terlebih
IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM SELADA AIR (Nasturtium officinale R.Br)
IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM SELADA AIR (Nasturtium officinale R.Br) Hindra Rahmawati 1*, dan Bustanussalam 2 1Fakultas Farmasi Universitas Pancasila 2 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan karakteristik dilakukan untuk mengetahui kebenaran identitas zat yang digunakan. Dari hasil pengujian, diperoleh karakteristik zat seperti yang tercantum
III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan
III. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan preparasi sampel, bahan, alat dan prosedur kerja yang dilakukan, yaitu : A. Sampel Uji Penelitian Tanaman Ara
III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.
16 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2012 sampai dengan bulan Maret 2013 di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung. 3.2 Alat
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014,
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas Matematika
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di Laboratorium Biomasa Terpadu Universitas Lampung. 3.2. Alat dan
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Fraksinasi Sampel buah mahkota dewa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari kebun percobaan Pusat Studi Biofarmaka, Institut Pertanian Bogor dalam bentuk
AKTIVITAS DAN POTENSI ANTIMALARIA SENYAWA SANTON TEROKSIGENASI DAN TERPRENILASI
Company Logo AKTIVITAS DAN PTENSI ANTIMALARIA SENYAWA SANTN TERKSIGENASI DAN TERPRENILASI DARI GARCINIA Disusun oleh: H H Wiwit Denny Fitriana 1407100061 (1) H H Me Dosen Pembimbing: H H Prof. Taslim Ersam
HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak
15 HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Penentuan kadar air berguna untuk mengidentifikasi kandungan air pada sampel sebagai persen bahan keringnya. Selain itu penentuan kadar air berfungsi untuk mengetahui
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2010 sampai dengan Mei 2011 di Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB),
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
3 Metodologi Penelitian
3 Metodologi Penelitian 3.1 Persiapan sampel Sampel kulit kayu Intsia bijuga Kuntze diperoleh dari desa Maribu, Irian Jaya. Sampel kulit kayu tersedia dalam bentuk potongan-potongan kasar. Selanjutnya,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Jawa Barat. Identifikasi dari sampel
Lampiran 1. Surat Identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor.
Lampiran 1. Surat Identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor. 60 Lampiran 2. Gambar tumbuhan buni dan daun buni Gambar A. Pohon buni Gambar B.
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus April 2013, bertempat di
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus 2012 -April 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa Roxb.) menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi, tabung maserasi, rotary vaccum evaporator Sibata Olibath B-485, termometer,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L etanol, diperoleh ekstrak
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Uji fitokimia kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) Pada uji fitokimia terhadap kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) memberikan hasil positif terhadap alkaloid,
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Desember di Laboratorium Biomasa Universitas Lampung.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Desember 2011 di Laboratorium Biomasa Universitas Lampung. B. Alat dan Bahan Alat-alat yang
III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret Juli 2014, bertempat di
19 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret 2014 - Juli 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur Penelitian
9 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan mulai bulan November 2010 sampai dengan bulan Juni 2011 di Laboratorium Kimia Analitik Departemen Kimia FMIPA dan Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka
Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.)
Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.) Gambar 1. Tumbuhan gambas (Luffa acutangula L. Roxb.) Gambar 2. Biji Tumbuhan Gambas (Luffa acutangula L. Roxb.) Lampiran 2. Gambar Mikroskopik
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Garut, Jawa Barat serta
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel Temulawak Terpilih Pada penelitian ini sampel yang digunakan terdiri atas empat jenis sampel, yang dibedakan berdasarkan lokasi tanam dan nomor harapan. Lokasi tanam terdiri
3 Percobaan dan Hasil
3 Percobaan dan Hasil 3.1 Pengumpulan dan Persiapan sampel Sampel daun Desmodium triquetrum diperoleh dari Solo, Jawa Tengah pada bulan Oktober 2008 (sampel D. triquetrum (I)) dan Januari 2009 (sampel
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil determinasi tumbuhan dilampirkan pada Lampiran 1) yang diperoleh dari perkebunan
4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol
4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol C 12 H 26 O (186.3) OH H 2 SO 4 konz. (98.1) + HBr (80.9) C 12 H 25 Br (249.2) Br + H 2 O (18.0) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Substitusi
BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Juni 2009. Tempat pelaksanaannya di Laboratorium Teknologi Kimia Kayu Departemen Hasil Hutan IPB, Herbarium Bogoriensis
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA DALAM FRAKSI NON-POLAR DARI TANAMAN PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk)
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN PAMERAN Tumbuhan obat indonesia xxviii ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA DALAM FRAKSI NON-POLAR DARI TANAMAN PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk) Diah Widowati dan Faridah
HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air
Pemilihan Eluen Terbaik Pelat Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang digunakan adalah pelat aluminium jenis silika gel G 60 F 4. Ekstrak pekat ditotolkan pada pelat KLT. Setelah kering, langsung dielusi dalam
BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai
40 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali menunjukkan bahwa sampel tumbuhan yang diambil di
Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya
Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: Jenny Virganita NIM. M 0405033 BAB III METODE
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan selama lima bulan dari bulan Mei hingga September 2011, bertempat di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Bengkel Teknologi Peningkatan
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Tanaman Uji Serangga Uji Uji Proksimat
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik, Departemen Kimia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen
3. Metodologi Penelitian
3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Peralatan gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, cawan petri, corong dan labu Buchner, corong
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di UPT Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di UPT Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi Universitas Lampung dari bulan Desember 2014 sampai Juni
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA KIMIA DARI EKSTRAK n-heksan KULIT BATANG Garcinia rigida
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA KIMIA DARI EKSTRAK n-heksan KULIT BATANG Garcinia rigida Berna Elya Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok 16424,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis
22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis Roem) yang diperoleh dari daerah Tegalpanjang, Garut dan digunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia) yang diperoleh dari Kampung Pamahan, Jati Asih, Bekasi Determinasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Sampel Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar Bringharjo Yogyakarta, dibersihkan dan dikeringkan untuk menghilangkan kandungan air yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek atau bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah tanaman AGF yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian
ISOLASI SENYAWA FLAVONOIDA DARI DAUN TUMBUHAN BANGUN-BANGUN (Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng.) SKRIPSI PUTRI N E NAIBORHU
ISOLASI SENYAWA FLAVONOIDA DARI DAUN TUMBUHAN BANGUN-BANGUN (Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng.) SKRIPSI PUTRI N E NAIBORHU 090802051 DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
III. BAHAN DAN METODA
III. BAHAN DAN METODA 3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat yang digunakan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :peralatan distilasi, neraca analitik, rotary evaporator (Rotavapor
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian
19 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bagian Kimia Hasil Hutan Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia Fakultas MIPA
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di
22 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah daun salam (Syzygium polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam yang didapatkan
4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat
NP 4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat CEt + FeCl 3 x 6 H 2 CEt C 8 H 12 3 C 4 H 6 C 12 H 18 4 (156.2) (70.2) (270.3) (226.3) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Adisi
Lampiran 1. Surat identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor.
Lampiran 1. Surat identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor. 44 Lampiran 2. Gambar tumbuhan buni (Antidesma bunius (L.) Spreng.) Tumbuhan pohon
HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K
7 Persentase inhibisi = K ( S1 S ) 1 K K : absorban kontrol negatif S 1 : absorban sampel dengan penambahan enzim S : absorban sampel tanpa penambahan enzim Isolasi Golongan Flavonoid (Sutradhar et al
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.)
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.) Diah Widowati, Yunahara Farida, Titiek Martati ABSTRAK Telah dilakukan penelitian kandungan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Dalam melakukan kegiatan penelitian diperlukan peralatan laboratorium, bahan serta prosedur penelitian yang akan dilakukan. Tiga hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
4001 Transesterifikasi minyak jarak menjadi metil risinoleat
4001 Transesterifikasi minyak jarak menjadi metil risinoleat castor oil + MeH Na-methylate H Me CH 4 (32.0) C 19 H 36 3 (312.5) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Reaksi pada gugus karbonil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang diperoleh dari perkebunan murbei di Kampung Cibeureum, Cisurupan
PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013
1 PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P00147 Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 13 2, bis(4 HIDROKSI KLORO 3 METOKSI BENZILIDIN)SIKLOPENTANON DAN 2, bis(4 HIDROKSI 3 KLOROBENZILIDIN)SIKLOPENTANON
Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan.
Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan. 43 Lampiran 2. Gambar tumbuhan eceng gondok, daun, dan serbuk simplisia Eichhornia crassipes (Mart.) Solms. Gambar tumbuhan eceng gondok segar Daun eceng gondok 44 Lampiran
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA dan Laboratorium Biomasa Terpadu Universitas Lampung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
25 HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Ekstraktif Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ekstrak aseton yang diperoleh dari 2000 gram kulit A. auriculiformis A. Cunn. ex Benth. (kadar air 13,94%)
UJI AKTIFITAS ANTIMALARIA EKSTRAK AIR DAUN JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA) PADA KULTUR PLASMODIUM FALCIPARUM IN VITRO
PKMI-5-9-1 UJI AKTIFITAS ANTIMALARIA EKSTRAK AIR DAUN JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA) PADA KULTUR PLASMODIUM FALCIPARUM IN VITRO Achmad Fachrizal, Ferry Efendi, Dhianita Binarwati, Rinnelya Agustien Fakultas
4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat
NP 4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat NaEt C 10 H 18 4 Na C 2 H 6 C 8 H 12 3 (202.2) (23.0) (46.1) (156.2) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Reaksi pada gugus
Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1 Lampiran 2 Gambar 6. Tumbuhan suruhan (Peperomia pellucida H.B.&K.) Lampiran 3 Gambar 7. Herba suruhan (peperomiae pellucidae herba) Lampiran 4 Gambar 8. Simplisia herba suruhan (Peperomiae
Wirasuta dkk. Jurnal Farmasi Udayana Vol 5, No 2, UJI KEMURNIAN ISOLAT ANDROGRAFOLID DENGAN HPLC FASE TERBALIK
UJI KEMURNIAN ISOLAT ANDROGRAFOLID DENGAN HPLC FASE TERBALIK UJI KEMURNIAN ISOLAT ANDROGRAFOLID DENGAN HPLC FASE TERBALIK Wirasuta, I.M.A.G. 1), Astuti, N.M.W. 1), Dharmapradnyawati, N.N.P. 1), Wiputri,
ISOLASI DAN KARAKTERISASI GOLONGAN SENYAWA FENOLIK DARI KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN
ISOLASI DAN KARAKTERISASI GOLONGAN SENYAWA FENOLIK DARI KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Novitaria 1*, Andi Hairil Alimuddin 1, Lia Destiarti 1 1 Progam Studi Kimia,
ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ALKALOID DARI DAUN PULE (Alstonia scholaris L.R.Br) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIPLASMODIAL SECARA IN VITRO TERHADAP Plasmodium falciparum SKRIPSI RATIH DEWI SAPUTRI DEPARTEMEN
DAFTAR ISI. ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR LAMPIRAN...
DAFTAR ISI ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah...
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia
BAB 3 PERCOBAAN Pada bab ini dibahas tentang langkah-langkah percobaan yang dilakukan dalam penelitian meliputi bahan, alat, pengumpulan dan determinasi simplisia, karakterisasi simplisia, penapisan fitokimia,
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Serbuk Simplisia Pengumpulan Bahan Determinasi Tanaman
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan Rambut jagung (Zea mays L.), n-heksana, etil asetat, etanol, metanol, gliserin, larutan kloral hidrat 70%, air, aqua destilata, asam hidroklorida, toluena, kloroform, amonia,
BAB IV PROSEDUR PENELITIAN
BAB IV PROSEDUR PENELITIAN 4.1. Pengumpulan Bahan Tumbuhan yang digunakan sebagai bahan penelitian ini adalah daun steril Stenochlaena palustris. Bahan penelitian dalam bentuk simplisia, diperoleh dari
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Dalam kegiatan penelitian ini yang diperlukan adalah peralatan laboratorium,
36 BAB III METODELOGI PENELITIAN Dalam kegiatan penelitian ini yang diperlukan adalah peralatan laboratorium, bahan, dan cara kerja penelitian. Dibawah ini adalah uraian mengenai tiga hal tersebut. 3.1
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
DAFTAR ISI... JUDUL.. LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR PUBLIKASI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...
DAFTAR ISI Hal JUDUL.. LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR PUBLIKASI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR SINGKATAN... ABSTRAK... ABSTRACT...
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Pelaksanaan Penelitian
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biofarmaka, Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong dari bulan April 2008
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini, pengambilan lima sampel yang dilakukan dengan cara memilih madu impor berasal Jerman, Austria, China, Australia, dan Swiss yang dijual
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1. Uji fitokimia daun tumbulian Tabernaenwntana sphaerocarpa Bl Berdasarkan hasil uji fitokimia, tumbuhan Tabemaemontana sphaerocarpa Bl mengandung senyawa dari
Isolasi dan Identifikasi Alkaloid Fraksi Kloroform Batang Tantaran Gayung Asal Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan
Isolasi dan Identifikasi Alkaloid Fraksi Kloroform Batang Tantaran Gayung Asal Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan (Isolation and Identification Alkaloid of Cloroform Fraction Tantaran Gayung Stem from
TELAAH KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK N-HEKSANA DAUN KINA (Cinchona ledgeriana L)
TELAAH KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK N-HEKSANA DAUN KINA (Cinchona ledgeriana L) Diana Sri Zustika STIKes BTH Tasikmalaya Program Studi Farmasi. Jl. Cilolohan No. 36 Tasikmalaya ABSTRAK Latar Belakang dan Tujuan
Noda tidak naik Minyak 35 - Noda tidak naik Minyak 39 - Noda tidak naik Minyak 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Hasil uji pendahuluan Setelah dilakukan uji kandungan kimia, diperoleh hasil bahwa tumbuhan Tabemaemontana sphaerocarpa positif mengandung senyawa alkaloid,
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Juli 2012. Pengambilan sampel dilakukan di Perairan Lampung Selatan, analisis aktivitas antioksidan dilakukan di
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keragaman hayati.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keragaman hayati. Letak Indonesia yang dilewati oleh garis katulistiwa berpengaruh langsung terhadap kekayaan
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan terhadap kayu akar dari Artocarpus elasticus telah berhasil mengisolasi dua senyawa flavon terprenilasi yaitu artokarpin (8) dan sikloartokarpin (13). Penentuan
