PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK"

Transkripsi

1 LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA SIMALUNGUN SKRIPSI SARJANA Dikerjakan O L E H Nama : HARIANDI SITANGGANG Nim : UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA DEPARTEMEN SASTRA DAERAH PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK MEDAN 2009

2 LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA SIMALUNGUN Skripsi Dikerjakan O L E H HARIANDI SITANGGANG NIM Pembimbing I, Pembimbing II Drs. Baharuddin, M.Hum Drs. Sumurung Simorangkir, SH, M. Pd NIP NIP Disetujui oleh: Departemen Bahasa Dan Sastra Daerah Ketua, Drs. Baharuddin Purba, M. Hum NIP

3 LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA SIMALUNGUN SKRIPSI SARJANA Dikerjakan O L E H HARIANDI SITANGGANG NIM Pembimbing I, Pembimbing II Drs. Baharuddin, M.Hum Drs. Sumurung Simorangkir, SH, M. Pd NIP NIP Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra USU Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian SARJANA SASTRA dalam bidang ilmu Bahasa dan Sastra Daerah. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA DEPARTEMEN SASTRA DAERAH PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK MEDAN

4 PENGESAHAN Diterima oleh: Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian SARJANA SASTRA dalam bidang Ilmu Bahasa dan Sastra Daerah pada Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan Pada : Tanggal : Hari : Fakultas Sastra USU Dekan Drs. Syaifuddin, M.A. Ph.D. NIP Panitia Ujian No. Nama Tanda Tangan ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) 3

5 DISETUJUI OLEH: FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN JURUSAN SASTRA DAERAH Ketua Pelaksana Drs. Baharuddin, M.Hum. NIP

6 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perlindungannya dan kasih Tuhan Yesus Kristus menyertai umat yang mengasihinya dan yang mengasihi sesama manusia. Terima kasih saya ucapakan atas sumbangsi pemikiran yang sangat berguna serta pengetahuan tentang penulisan skripsi ini. Skripsi ini dibuat untuk melengkapi syarat yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara dalam bidang ilmu bahasa daerah Batak pada Departemen Sastra Daerah Judul skripsi ini adalah Kajian Leksikostaistik Bahasa Batak Toba Dengan Bahasa Simalungun. Adapun yang menjadi alasan penulis memilih judul skripsi ini karena judul tersebut belum ada yang menelitinya. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan mengetahui tentang kajian yang akan segera diselesaikan oleh penulis. Untuk memudahkan pemahaman tentang apa saja yang akan dibahas dalam skripsi ini dimulai dari bab pertama pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan anggapan dasar. Bab kedua kajian pustaka yang terdiri atas kepustakaan yang relevan dan landasan teori. Bab ketiga metode penelitian yang terdiri atas metode dasar, lokasi sumber data penelitian, instrumen penelitian, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Bab keempat merupakan pembahasan tentang permasalahan yang ada pada rumusan masalah serta bab kelima merupakan kesimpulan dan saran. 5

7 Penulis menyadari skripsi ini masih kurang sempurna dan memiliki banyak kekurangan baik dari segi pemaparan serta penuliusannya oleh sebab itu penulis menampung kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Medan, 14 Februari 2009 Penulis Hariandi Sitanggang 6

8 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis tiada hentinya mengucapkan puji dan syukur serta terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kepada dosen, teman penulis atas selesainya skripsi ini. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis tujukan kepada orang-orang yang sudah banyak membantu penulis dan memberikan arahan, motivasi, bimbingan, dan semangat maupun saran yang penulis terima dari semua pihak, sehingga setiap kesulitan yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini dengan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada : 1. Bapak Drs. Syaifuddin, M.A. Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, Pudek I, Pudek II, Pudek III, dan seluruh pegawai di jajaran Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Drs. Baharuddin, M.Hum., selaku Ketua Departemen Sastra Daerah dan merangkap sebagai pembimbing I yang sudah memberikan arahan dan membantu penulis dalam mengerjakan skripsi ini. 3. Bapak Drs. Sumurung Simorangkir, SH, M. Pd selaku pembimbing II yang sudah memberikan arahan, motivasi, dan masukan kepada penulis. 4. Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., sebagai dosen wali dan selalu mengarahkan penulis dalam mengerjakan skripsi ini. 5. Dosen- dosen penulis yang dengan kasih sayang memberikan ilmu dengan ikhlas menyajikan pelajaran yang baik buat penulis yang tidak dapat disebut satu per satu. 7

9 6. Teristimewa kepada orang tua penulis yang sangat saya hormati dan sayangi yang telah bersusah payah membimbing penulis sejak kecil hingga dewasa, yang telah berkorban baik secara moril maupun material sehingga skripsi ini dapat selesai. 7. Teristimewa kepada Bapa Uda dan Inanguda penulis yang ada di Parapat terima kasih telah membantu penulis baik dalam bantuan moril maupun material serta dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 8. Kepada adikku Robert Sitanggang yang setia menemani penulis dan mendukung baik moril dan materi, terima kasih atas semua dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. 9. Kepada Amang Boru dan Namboru P Maya di Tanjung Sari, terima kasih atas bantuan dan motivasi yang sudah diberi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 10. Kepada Amang Boru dan Namboru P Ganda Manik di Sindar Raya, terima kasih atas bantuan dan motivasi yang sudah diberi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 11. Teristimewa buat Riama Padang yang sudah memberikan perhatian dan kasih sayang serta dukungan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini terima kasih atas semuanya. 12. Buat sobat sobatku di Kost Tio Guntar Malau, Arjuna, Ricky Sibarani, Erbin, Andi Boy Sirait, Diko, Lamhot yang selama ini menemani penulis nongkrong bareng di Warkop Eva, dan di Warkop Ibu Kost. 8

10 13. Buat Stambuk 05 yang seangkatan dengan penulis saya ucapkan terima kasih buat segala masukan dan saran teman teman sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi saya ini dengan baik 14. Buat stambuk' 06 selaku junior penulis saya ucapkan terima kasih atas dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 15. Buat stambuk'07 selaku junior penulis saya ucapkan terima kasih atas dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 16. Buat stambuk'08 selaku junior penulis saya ucapkan terima kasih atas dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 17. Kepada teman teman penulis semuanya yang telah mendukung penulis yang tidak dapt saya tuliskan saya ucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang membangun sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 9

11 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii DAFTAR ISI... vi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Anggapan Dasar Sejarah Singkat Kabupaten Samosir Sejarah Singkat Kabupaten Simalungun... 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan yang Relevan Teori yang Digunakan Asumsi Dasar Leksikostatistik Teknik Leksikostatistik BAB III METODE PENELITIAN Metode Dasar Lokasi Penelitian Metode Pengumpulan Data

12 3.4 Metode Analisis Data BAB IV PEMBAHASAN Menghitung Kata Kerabat Menghitung Waktu Pisah Menghitung Jangka Kesalahan Menghitung Prediksi Usia Kedua BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN: 1. Surat Ijin Penelitian 2. Surat Keterangan Penelitian 3. Daftar Kosakata 4. Daftar Informan 5. Peta 11

13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa adalah alat komunikasi yang memiliki peran penting dalam bersosialisasi dengan sesama manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain untuk menyampaikan maksud dsan tujuan masing-masing melalui bahasa. Tanpa bahasa di masyarakat tidak dapat terjadi interaksi ataupun hubungan timbal balik antara sesama manusia. Hampir semua ahli bahasa sepaham dengan definisi bahasa yang mengatakan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh seluruh masyarakat sebagai alat komunikasi(sibarani, 2004:35). Badudu mengatakan bahwa bahasa itu adalah alat penghubung, alat komunikasi anggota masyarakat yaitu individu-individu sebagai manusia yanng berfikir, merasa dan berkeinginan. Pikiran perasaan dan keinginan baru berwujud bila dinyatakan dan alat untuk menyatakan itu adalah bahasa. Kridalaksana mengatakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri(sibarani 2004:35). Sebagai alat komunikasi manusia bahasa adalah suatu sistem yang bersifat sistematis dan sekaligus sistemis. Yang dimaksud dengan sistemis adalah bahwa bahasa itu bukan suatu sistem tunggal, melainkan terdiri dari beberapa subsistem yaitu subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Dewasa ini penyelidikan tentang bahasa dengan berbagai aspeknya 12

14 dilakukan orang dengan sangat intensif, sehingga linguistik berkembang dengan sangat pesat, sangat luas dan mendalam. Namun bagi pemula kiranya cukup memadai untuk membatasi diri pada struktur yang intern bahasa itu saja. Atau pada kajian yang khusus disebut dengan mikrolinguistik. Bahasa adalah bahasa resmi yang dipakai oleh seluruh masyarakat Indonesia di segala tempat umum, seperti di sekolah, di kampus ataupun sebagai bahasa seharihari disamping bahasa daerah yang ada ditempatnya masing-masing. Sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia sangatlah mudah untuk dipelajari. Seluruh masyarakat Indonesia wajib harus bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar supaya semua masyarakat Indonesia bisa berkomunikasi dengan masyarakat yang berbeda bahasa dan kebudayaan masing-masing. Pembinaan bahasa daerah yang tumbuh berdampingan dengan bahasa Indonesia yang tertera dalam UUD 1945, pada Bab XV pasal 36 ayat 2, yang menyatakan bahwa disamping bahasa resmi Negara, bahasa daerah adalah sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional yang dillindungi dan di lestarikan oleh Negara. Setiap daerah yang ada di seluruh pelosok tanah air kita yang kita cintai ini memiliki banyak bahasa daerah yang berbeda-beda bentuk dan dialek bahasa yang beranekaragam dan seluruhnya ada di negara kita ini. Dari berbagai jenis bahasa daerah yang tumbuh subur di Indonesia kurang lebih ratusan jenis bahasa daerah yang ada diseluruh pelosok nusantara. Salah satu jenis bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara adalah bahasa Batak Toba, Bahasa Simalungun, bahasa Karo, bahasa Angkola Mandailling, bahasa Pakpak/Dairi. Kelima bahasa etnis tersebut merupakan bahasa sehari-hari masyarakat dan dipakai 13

15 pada upacara adat. Suku Batak merupakan suku yang terkenal dengan sebutan marga sebagai garis keturunan patrinial yang secara generasi ke generasi mempunyai garis keturunan marga yang berbeda-beda berdasarkan garis keturunannya. Bahasa Batak ini memiliki banyak persamaan dengan bahasa subetnis lainnya. Di dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia bahasa daerah berfungsi sebagai berikut: 1. Pendukung bahasa pengantar di sekolah dasar tingkat pemula. 2. Bahasa pengantar disekolah dasar untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan pada mata pelajaran yang lainnya. 3. Alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah. 4. Sebagai lambang indentitas suatu masyarakat. Berkenaan dengan hal tersebut saya sebagai penulis ingin mengkaji lebih dalam lagi untuk melihat hubungan kekerabatan, waktu pisah bahasa Batak tersebut dengan bahasa sub etnis Batak tersebut sekaligus mempredikisi usia bahasa antara kedua bahasa subetnis tersebut dengan mengkaji leksikostatistik dalam linguistik historis komparatif. Kajian leksikostatistik adalah teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik kemudian berusaha menetapkan pengelompokan berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa yang lain(keraf 1996:3 ). Leksikostatistik adalah metode pengelompokan bahasa yang dilakukan dengan cara menghitung persentase perangkat kognat(mahsun 1995:20 ). Teknik kajian leksikostatistik awal 14

16 kehadirannya sekitar tahun 1950 oleh Swadesh dan dibantu oleh Less (Ibrahim,1981:62). 1.2 Rumusan Masalah Rumusan pokok permasalahan sebenarnya merupakan batasan-batasan dari ruang lingkup topik yang akan diteliti pada uraian proposal skripsi ini. Dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah pada proposal skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat kekerabatan antar bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun dilihat dari kosa kata (leksikon). 2. Kapankah waktu pisah antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun. 3. Berapa tahun prediksi usia antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun. 15

17 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian merupakan suatu usaha untuk mengumpulkan data atau fakta serta pelaksanaan konsep untuk mencari dan memperoleh atau mendapatkan kebenaran yang sanggup mengamati lebih dalam kebenaran yang sudah ada. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui persentase kekerabatan antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun. 2. Untuk mengetahui waktu pisah antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun. 3. Untuk mengetahui prediksi usia bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Menambah khasanah pustaka bahasa dan sastra daerah sebagai kebudayaan Indonesia 2. Menambah wawasan dan informasi tentang bahasa daerah atau linguistik nusantara 3. Menambah wawasan tentang kajian leksikostatistik antara bahasa Batak Toba dengan Simalungun. 4. Untuk mempelajari fenomena linguistik atau bahasa daerah nusantara. 16

18 1.5 Anggapan Dasar Bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun merupakan bahasa yanng memiliki banyak persamaan. Kedua bahasa ini merupakan bahasa yang belum pernah dikaji sebelumnya secara leksikostatistik dan diyakini kesamaan kosa katanya sangat besar persentasenya. Kesamaan kosa kata tersebutlah yang nantinya dikaji secara leksikon berdasarkan kosa katanya secara leksikostatistik pada linguistik historis komparatif. 1.6 Sejarah Singkat Kabupaten Samosir Penerapan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, telah mendorong munculnya aspirasi masyarakat di daerah untuk membentuk Kabupaten/Kota baru yang bersifat otonom. Sebab dengan status daerah otonom baru, mereka berharap akan memperoleh peluang untuk mengurus daerahnya sendiri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu Kabupaten yang menjadi agenda pemekaran Kabupaten Toba Samosir adalah membentuk Kabupaten Samosir, yang berada di tengah-tengah Provinsi Sumatera Utara. Untuk itu kajian peningkatan pemekaran Kabupaten Toba Samosir dengan melahirkan calon Kabupaten Samosir perlu segera dilakukan, mengingat sudah waktunya pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun Oleh karena itu, kajian dan penelitian data perlu dilakukan untuk mendapatkan penilaian objektif dengan berdasar pada ketentuan yang berlaku mengingat bahwa pengelolaan potensi kekayaan yang ada di daerah memerlukan kajian dan pengaturan yang rasional, professional, dan 17

19 bertanggung jawab sesuai dengan kondisi dan potensi daerah masing-masing. Aspirasi masyarakat untuk memekarkan Kabupaten Samosir menjadi dua kabupaten, didasarkan pada desakan masyarakat wilayah Samosir dan DPRD Kabupaten Toba Samosir, maka Kabupaten Toba Samosir diusulkan dan direncanakan pemekarannya yaitu : 1. Kabupaten Toba Samosir terdiri atas 10 (sepuluh) kecamatan yaitu Kecamatan Balige, Laguboti, Silaen, Habinsaran, Porsea, Lumbanjulu, Uluan, Pintu Pohan Meranti, Ajibata, dan Kecamatan Borbor. 2. Kabupaten Samosir terdiri atas 9 (sembilan) kecamatan yaitu Kecamatan Pangururan, Sianjur, Mulamula, Simanindo, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, dan Sitio-tio. Sesuai dengan aspirasi dan argumentasi masyarakat yang disampaikan kepada DPRD Kabupaten Toba Samosir dan Pemkab Toba Samosir serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah ditindaklanjuti aspirasi masyarakat tersebut dengan : 1. Keputusan DPRD Kebupaten Toba Samosir Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir tanggal 20 Juni Surat Bupati Toba Samosir Nomor 1101/Pem/2002 tanggal 24 Juni 2002 yang ditujukan kepada Gubernur Sumatera Utara. 3. Surat Bupati Toba Samosir Nomor 135/1187/Pem/2002 tanggal 3 Juli 2002 perihal laporan tentang aspirasi masyarakat Samosir untuk membentuk Kabupaten Samosir, yang ditujukan kepada gubernur Sumatera Utara. 4. Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai tanggal 18 Desember

20 Terakhir, dari setiap argumentasi dan usulan DPRD dan Bupati Toba Samosir, usulan ini diakomodir dengan keluarnya terbentuknya Samosir sebagai kabupaten baru merupakan langkah awal untuk melalui percepatan pembangunan menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Tujuan pembentukannya adalah untuk menegakkan kedaulatan rakyat dalam rangka perwujudan sosial, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk merespon serta merestrukturisasi jajaran pemerintahan daerah dalam rangka mempercepat proses pembangunan sehingga dalam waktu yang cukup singkat dapat sejajar dengan kabupaten lainnya, sehingga secara langsung akan mengangkat harkat hidup masyarakat yang ada di kabupaten Samosir pada khususnya, Provinsi Sumatera Utara pada umumnya. Luas wilayah Kabupaten Samosir secara keseluruhan mencapai Ha, terdiri atas daratan seluas Ha dan perairan danau seluas Ha. Luas dan batas perairan di kawasan Danau Toba belum ada ketentuan yang pasti. Namun mengingat Pulau Samosir tepat berada dan dikelilingi oleh Danau Toba, secara proporsional luas perairan Danau Toba yang menjadi bahagian daerah Kabupaten Samosir sewajarnyalah merupakan bahagian yang terluas dibandingkan dengan enam kabupaten-kabupaten lainnya di sekeliling perairan Danau Toba. 19

21 1.7 Sejarah singkat Kabupaten Simalungun Adapun yang dapat diuraikan oleh penulis mengenai sejarah singkat kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut: I. Zaman Kerajaan Nagur ( ) Setelah berakhirnya kerajaan Majapahit oleh Raja-Raja Simalungun mengadakan pertemuan yang dinamakan Harungguan Bolon dengan para Partuanon termasuk bekas pasukan dari Singosari dan Majapahit yang melahirkan sistem raja Maroppat (Raja Nan Empat) yakni : 1) Kerajaan Nagur 2) Kerajaan Silau 3) Kerajaan Batangiou 4) Kerajaan Harau Nama kumpulan raja berempat tersebut diberi nama Batak Timur Raya yang dalam bahasa Simlaungunnya disebut Purba Desa Naualuh. Setelah Kerajaan Batak Timur Raya pecah dan berakhir akibat perang sisanya terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yaitu 1) Kerajaan Dolok Silau (Marga Purba Tambak) 2) Kerajaan Tanah Jawa (Marga Sinaga) 3) Kerajaan Siantar (Marga Damanik) 4) Kerajaan Pane (Marga Purba Dasuha) Sistem raja Maroppat tetap dihidupkan sampai tahun

22 II. Zaman Menentang Kolonial Belanda ( ) Kerajaan Raja Maroppat kembali pecah menjadi 7 kerajaan yaitu : 1. Kerajaan Dolok Silau 2. Kerajaan Tanah Jawa 3. Kerajaan Siantar 4. Kerajaan Pane 5. Kerajaan Raya 6. Kerajaan Purba 7. Kerajaan Silimakuta Sistem struktur pemerintahan merangkap pimpinan adat dari kerajaan tersebut terdiri atas : a. Raja b. Tungkat c. Perbapaan d. Partuanon e. Penghulu III. Masa Penjajahan Belanda ( ) Dengan Besluit (Surat Keputusan) Gubernement tanggal 12 Desember 1906 Nomor 22 (Staatblad Nomor 531) dibentuklah Afdeling Simalungun En De Karo Landen yang dikepalai oleh Asisten Ressiden yang pertama V. C. J. Westenberg yaitu bekas controleur tanah Karo yang berkedudukan di Seribu Dolok pada tahun 1912 pindah ke Pematangsiantar. 21

23 Pada tahun 1907 seluruh raja-raja Simalungun telah menanda tangani kontrak pendek dan dengan demikian sistem pemerintah di Simalungun beralih menjadi sistem Swap Raja, dimana peran Harajaan Sudah dibatasi. Wilayah administrasi pemerintah dibagi menjadi 7 landshappen 16 distrik dan huta (kampung). No. Kerajaan Distrik 1. Siantar 1. Siantar 2. Bandar 3. Sidamanik 2. Tanah Jawa 1. Tanah Jawa 2. Bosar maligas 3. Jorlang Hataran 4. Dolok Pangribuan 5 Girsang Sipangan Bolon 3. Pane 1. Pane 2. Dolok BatuNanggar 4. Raya 1. Raya 2. Raya Kahean 22

24 5. Dolok Silau 1. Dolok Silau 2. Silau Kahean 6. Purba Purba 7. Silimakuta Silimakuta IV. Masa Kemerdekaan RI. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1956 terbentuklah daerah otonom Kabupaten Simalungun. Sebanyak 16 Distrik menjadi Kecamatan yang kemudian berkembang menjadi 17 Kecamatan yaitu dengan tambahannya Kecamatan Dolok Pardamean. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 1991 dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1992 dilaksanakan pemekaran Kecamatan dari 17 menjadi 21 Kecamatan yaitu : 1. Kecamatan Pematang Bandar. 2. Kecamatan Huta Bayu Raja 3. Kecamatan Ujung Padang 4. Kecamatan Tapian Dolok 5. Kecamatan Siantar 6. Kecamatan Bandar 7. Kecamatan Sidamanik 23

25 8. Kecamatan Pamatang Sidamanik 9. Kecamatan Tanah Jawa 10. Kecamatan Bosar maligas 11. Kecamatan Jorlang Hataran 12. Kecamatan Dolok Pangribuan 13. Kecamatan Girsang Sipangan Bolon 14. Kecamatan Pane 15. Kecamatan Dolok BatuNanggar 16. Kecamatan Raya 17. Kecamatan Raya Kahean 18. Kecamatan Dolok Silau 19. Kecamatan Silau Kahean 20. Kecamatan Purba 21. Kecamatan Silimakuta Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 2008 dilaksanakan pemekaran Kecamatan dari 21 menjadi 31 Kecamatan yaitu : 24

26 1. Kecamatan Siantar 2. Kecamatan Dolok Pardamean 3. Kecamatan Panei 4. Kecamatan Tanah Jawa 5. Kecamatan Hutabayu Raja 6. Kecamatan Jorlang Hataran 7. Kecamatan Dolog Paribuan 8. Kecamatan Girsang Sipangan Bolon 9. Kecamatan Purba 10. Kecamatan Raya 11. Kecamatan Silima Kuta 12. Kecamatan Dolog Silau 13. Kecamatan Raya Kahean 14. Kecamatan Silau Kahean 15. Kecamatan Bandar 16. Kecamatan Pematang Bandar 17. Kecamtan Bosar Maligas 18. Kecamatan Ujung Padang 19. Kecamatan Pematang Silimakuta 20. Kecamatan Dolog Batu Nanggar 21. Kecamatan Tapian Dolog 22. Kecamatan Sidamanik 23. Kecamatan Gunung Malela 25

27 24. Kecamatan Gunung Malinggas 25. Kecamtan Bandar Masilam 26. Kecamtan Bandar Huluan 27. Kecamatan Jawa Karaja 28. Kecamatan Hatonduhon 29. Kecamatan Pematang Sidamanik 30. Kecamatan Panombean Panei 31. Kacamatan Haranggaol Horisan 26

28 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Untuk menulis suatu karya ilmiah, bukanlah pekerjaan yang mudah dan gampang. Seorang penulis harus mencari dan mengumpulkan data-data yang akurat serta buku-buku acuan yang relevan, atau yang ada hubungannya dengan objek yang diteliti.dalam penelitian ini penulis mengutip beberapa pendapat dari beberapa peneliti. Menurut Mahsun,(1995:115) Leksikostatistik adalah metode pengelompokan bahasa yang dilakukan dengan menghitung persentase perangkat kognat (kerabat). Menurut Keraf,(1984: 121) Leksikostatistik itu suatu tehnik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain.disamping istilah leksikostatistik dikenal juga istilah lain yaitu glotokronologi (glottochronology). Glotokronologi adalah suatu teknik dalam linguistik historis yang berusaha mengadakan pengelompokan dengan lebih mengutamakan perhitungan waktu ataun perhitungan usia bahasa-bahasa kerabat. Dalam kenyataan kedua bidang tersebut selau dipakai secara bergandengan, karena untuk menghitung usia bahasa dengan teknik glotokronologi harus digunakan oleh leksikostatistik. Sebaliknya untuk mengadakan pengelompokan bahasa dengan metode leksikostatistik tersirat juga masalah waktu, yang menjadikan lansdasan bagi pengelompokan itu. Dengan demikian leksikostatistik atau glotokronologi dapat dibatasi pengertiannya adalah sebagai suatu teknik yang berusaha menemukan keterangan-keterangan atau data-data untuk suatu tingkat waktu yang agak tua dalam bahasa guna menentukan usia bahasa dan pengelompokan bahasa bahasa yang berkerabat. Dalam penulisan skripsi ini diwajibkan untuk melakukan penelitian lapangan karena dalam bahasa ada dialek yang dapat dijumpai didaerah yang berbeda akibat percampauran bahasa bahasa tetangga daerah tersebut. Sehingga penulis dapat 27

29 menentukan dialek bahasa yang digunakan oleh penulis dan sekaligus mewakili bahasa tersebut termasuk dialek yang ada di daerah penelitian tersebut Penulis juga melakukan penelitian kepustakaan dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan judul skripsi penulis. Penulis sendiri meneliti di Desa Cinta Maju Tamba Nagodang Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir untuk bahasa Batak Toba, bahasa Simalungun di Desa Bangun Raya Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun. Dalam skripsi Verawati yang memakai 809 kosa kata yang dikutip dari buku Mahsun dan Swades dengan judul skripsinya Leksikostatistik Bahasa Batak Toba dengan Bahasa Karo, Ika Indriani memakai 809 kosa kata yang di kutip dari buku Mahsun dan Keraf pada skripsinya Leksikostatistik Bahasa Batak Toba, Fitriana Sinaga memakai 809 kata dari buku Keraf dan Mahsun dengan judul skripsinya Leksikostatistik Bahasa Batak Simalungun dengan Bahasa Karo, sedangkan peneliti memakai 809 kata dari buku Keraf dan Mahsun. Walaupun ketiga peneliti tersebut membahas tentang kajian leksikostatistik bahasa, namun banyak dijumpai perbedaan dan kesamaan diantara bahasa bahasa yang digunakan dalam keseharian masyarakat pada dearah pengamatan. 2.2 Teori yang Digunakan Teori merupakan suatu prinsip dasar yang terwujud di dalam bentuk dan berlaku secara umum yang akan mempermudah seorang penulis dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Teori yang digunakan untuk membimbing dan memberi arahan dapat menjadi penuntun kerja bagi penulis. 28

30 Adapun teori penulis gunakan adalah teori Linguistik Historis Komparatif yakni bidang linguistik yang menyelidiki perumpunan, penemuan, dan perekonstruksian bahasa purba yang menurunkan bahasa tersebut. Dalam pembahasan penulis menggunakan buku Keraf yang berjudul Linguistik Historis Bandingan dan daftar leksikon yang penulis gunakan adalah data dari dalam buku Mahsun yang diyakini dapat memecahkan pokok persoalan dan sudah terbukti yang akan dikaji oleh penulis. Sebagai dasar pembahasan penulis mencakup semua prosedur yang terdapat dalam buku tersebut. Dalam buku Mahsun daftar glos yang digunakan ada sebanyak 809 kata, namun setelah peneliti kembali daftar glos tersebut ada kesalahan penulisan dan pengeditan yang mengakibatkan kekeliruan dalam penulisan nomor yang berganda. Hasil akhir dari data buku Mahsun tersebut ada 809 kata. Teknik leksikostatistik yaitu: a. Mengumpulkan kosa kata b. Menghitung kata kerabat c. Menghitung waktu pisah d. Menghitung jangka kesalahan Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain (Keraf : 1984 : 121). 29

31 Dengan demikian, yang ingin dicapai dalam teknik ini adalah kepastian mengenai usia bahasa, yaitu mengenai kapan sebuah bahasa muncul dan bagaimana hubungannya dengan bahasa-bahasa kerabat lainnya. 2.3 Asumsi Dasar Leksikostatistik Ada empat macam asumsi dasar yang dapat dipergunakan sebagai titik tolak dalam usaha mencari jawaban mengenai usia bahasa, atau secara tepatnya dan bilamana terjadi diferensiasi antara dua bahasa atau lebih (Keraf: 1984: 123) Asumsi-asumsi dasar tersebut adalah : 1. Sebagian dari kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya. Kosa kata yang sukar berubah dalam asumsi dasar adalah kosa kata dasar yang merupakan kata-kata yang sangat intim dalam kehidupan bahasa sekaligus merupakan unsur-unsur yang menentukan mati hidupnya suatu bahasa. Kosa kata yang diambil dalam metode leksikostatistik dibatasi jumlahnya, setelah diadakan penilaian yang ketat dan pengujian-pengujian untuk menerapkan metode ini secara baik. Yang ingin dicapai dalam seleksi ini adalah dapat disusun sebuah daftar yang bersifat universal, artinya kosa kata yang dianggap harus ada pada semua bahasa sejak awal mula perkembangannya. Kosa kata dasar itu meliputi : a. Bagian tubuh b. Kata ganti, sapaan, dan acuan c. Sistem kekerabatan 30

32 d. Kehidupan desa dan masyarakat e. Rumah dan bagian-bagiannya f. Peralatan dan perlengkapan g. Makanan dan minuman h. Tumbuh-tumbuhaan, bagian, buah, dan hasil olahannya i. Binatang dan bagiannya j. Waktu, musim, keadaan alam, benda, alam dan arah k. Gerak dan kerja l. Perangai, sifat, dan warna m. Penyakit n. Pakaian dan perhiasan o. Bilangan dan ukuran Penulis mengusulkan sekitar 809 kosa kata dasar yang dianggap universal, artinya dianggap ada pada kedua bahasa tersebut. 2. Retensi (ketahanan ) kosa kata dasar adalah konstan sepanjang masa. Asumsi dasar yang kedua mengatakan bahwa dari kosa kata dasar yang ada dalam suatu bahasa, suatu persentase tertentu selalu akan bertahan dalam tahun. Kalau asumsi ini diterima, maka dari sebuah bahasa yang memiliki 809 kosa kata, sesudah tahun akan bertahan 80,5%, dan dari sisanya sesudah tahun kemudian akan bertahan lagi persentase yang sama. 31

33 3. Perubahan kosa kata dasar pada semua bahasa adalah sama Setelah menguji beberapa bahasa dengan asumsi dasar ketiga ini, hasilnya akan menunjukan bahwa dalam tiap 1000 tahun, kosa kata dasar suatu bahasa bertahan dengan angka-angka rata-rata 80,5%. Apabila kita ingin menghitung retensi ( ketahanan) kosa kata dasar kedua bahasa dengan mempergunakan asumsi dasar kedua, dapat dinyatakan dengan rumus : 80.5% x N. di mana N adalah jumlah kosa kata dasar yang ada pada awal kelipatan 1000 tahun kedua bahasa. Sehingga dari 809 kosakata dasar (N) suatu bahasa sesudah 1000 tahun pertama akan tinggal 80,5% x 809 kata = 651,245, dibulatkan menjadi 651 kata, sesudah 1000 tahun kedua akan tinggal 80,5% x 651 kata = 524,1 kata atau dibulatkan menjadi 524 kata. Selanjutnya sesudah 1000 tahun ketiga kosa kata dasar yang tinggal adalah 80,5% x 524 kata = 421,82 kata atau dibulatkan menjadi 422 kata.pada 1000 tahun keempat kosa kata dasar tinggal 80,5% x 422 kata = 339,71 kata atau dibulatkan menjadi 340 kata. Demikian selanjutnya sesudah 1000 tahun kelima maka kosa kata dasarnya tinggal 80,5% x 340 kata = 273,7 kata atau dibulatkan menjadi 274 kata dan seterusnya. 4. Bila persentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui, maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahasa tersebut. Berdasarkan asumsi dasar yang kedua, ketiga, dan keempat, kita dapat menghitung usia atau waktu pisah bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun kalau diketahiu persentase kata kerabat kedua bahasa itu. Dan karena dalam tiap 1000 tahun kedua bahasa kerabat itu masing masing akan kehilangan kosa kata dasarnya dalam persentase yang sama, maka waktu pisah dalam kedua bahasa itu harus dibagi dua. 32

34 Misalnya persentase kata kerabatnya adalah 80, 5%, maka waktu pisah kedua bahasa adalah 500 tahun yang lalu. Berdasarkan prinsip itu, waktu pisah kedua bahasa kerabat dengan persentase kata kerabat yang diketahui adalah seperti tertera dalam tabel berikut ini (Keraf: 1984: 125): Persentase Kata Kerabat Jumlah kata kerabat Persentase kata Usia (waktu pisah) antara bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun kerabat(n: 2 x 19%-N) antara bahasa Batak Toba dan bahasa (N x 19% - N) Simalungun sekian tahun yang lalu ( dibagi 2)

35 Persentase retensi kata kerabat setiap seribu tahun adalah 80,5 %. Usia pisah dalam ribuan tahun harus dibagi dua, karena masing-masing bahasa dalam seribu tahun akan kehilangan 19%. 34

36 2.4 Teknik Leksikostatistik Untuk menerapkan keempat asumsi dasar di atas, maka perlu mengambil langkah yang merupakan teknik metode leksikostatistik seperti : 1. Mengumpulkan Kosa Kata Dasar Unsur yang paling penting dalam membandingkan dua bahasa atau lebih adalah mengumpulkan daftar kosakata dasar dari bahasa-bahasa yang diteliti. Pada kesempatan ini penulis menggunakan daftar yang disusun oleh Mahsun yang berisi 809 kata. Sebenrnya daftar yang disusun oleh Morris Swadesh yang berisi 200 kata sudahlah yang merupakan daftar yang baik. Namun, kecenderungan dan kajian ini adalah semakin singkat suatu daftar semakin besar pula peluang untuk membuat kesalahan. Atau dengan kata lain, semakin banyak daftar yang kita susun maka semakin kecil peluang kesalahnya. Oleh karena itulah penulis menggunakan daftar Mahsun, selain daftarnya lebih banyak, kosa katanya juga terdiri atas kata-kata yang sesuai dengan keadaan kultural kedua bahasa yang dibandingkan. 2. Menghitung Kata Kerabat Setelah dilalui penelitian/analisis maka dapat diterapkan bahwa bahasa Batak Toba dan bahasa Bahasa Simalungun benar-benar berbeda seperti contoh berikut ini: a. Gloss yang tidak diperhitungkan Glos yang tidak diperhitungkan dalam penetapan kata kerabat maupun no kerabat. Glos yang tidak diperhitungkan itu adalah kata-kata yang kosong, yaitu gloss yang tidak ada katanya baik dalam satu bahasa maupun dalam dua bahasa. Semua kata pinjaman dari bahasa-bahasa kerabat maupun dalam bahasa non kerabat. Lebih mudah untuk menetapkan pinjaman dari bahasa non kerabat dari pada bahasa kerabat. 35

37 Pinjaman dari bahasa kerabat sejauh mungkin ditetapkan dengan membandingkannya dengan unsur-unsur lain, seperti pada contoh tabel berikut ini: No Glos Bahasa Batak Bahasa Bahasa Toba Simalungun 1 Surau Kasau Kelenteng Khitanan Dukun sunat Upacara turun kesungai anak yang telah dikitan 7 Pemukul beduk b. Pengisolasian morfem terikat Bila dalam data yang telah dikumpulkan itu terdapat morfem terikat maka sebelum mengadakan perbandingan untuk mendapatkan kata kerabat atau non kerabat semua morfem terikat itu harus diisolir terlebih dahulu. Dengan mengisolasi morfem terikat tersebut lebih mudah untuk menetapkan apakah satu pasangan kata menunjukkan kesamaan atau tidak seperti pada contoh tabel berikut: Gloss Bahasa Batak Toba Bahasa Simalungun Tangan Sipangido(pangido) Tangan Telapak kaki Jampal simanjojak(jojak) Jampal 36

38 Jadi kata yang diperhitungkan adalah kata dasar yang berarada di dalam kurung yang terdapat pada tabel diatas. c. Penetapan kata kerabat 1. Pasangan itu identik artinya kata-kata yang sama dengan sebuah kata atau gloss diantara kedua bahasa yang diperbandingkan, seperti contoh berikut ini: Gloss Bahasa BatakToba Bahasa Bahasa Simalungun Dagu Osang Osang Geraham Ngadol Ngadol Kita Hita Hita Lesung Losung Losung Jagung Jagul Jagul 2. Pasangan itu memiliki korespondensi fonemis artinya bila perubahan fonemis antara kedua bahasa itu terjadi secara timbal balik dan teratur serta tinggi frekwensinya maka bentuk yang berimbang antara kedua bahasa tersebut adalah berkerabat, seperti pada tabel contoh berikut: Gloss Bahasa Batak Toba Bahasa Bahasa Simalungun Jari Jari-jari Jajari Telunjuk Panuduh Tutuduh 37

39 Kandang Handang Harang Para Para-para Parapian Kacang Hassang Kasang 3. Kemiripan serta fonetis artinya bila tidak dapat dibuktikan bahwa sebuah kata tersebut mengandung korespondensi fonemis tetapi pasangan kata tersebut mengalami kemiripan secara fonetis dalam posisi artikulatoris yang sama maka pasangan kata tersebut adalah berkerabat, seperti pada contoh tabel berikut ini: Gloss Bahasa Batak Toba Bahasa Bahasa Simalungun Mencari lului Torihi Mendengar bege Tangar, bogei Memberi tahu Paboa Patugah Mengikat Sakkut Rahut Menginjak dengan satu kaki Dege Dogei 4. Satu fonem berbeda artinya bila dalam suatu pasangan itu terdapat perbedaan satu fonem tetapi dapat dijelaskan bahwa perbedaan itu terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasuki oleh bahasa tersebut, sedangkan dalam bahasa lain pengaruh lingkungan tersebut tidak pengaruh lingkungan itu tidak mengubah fonemnya maka pasangan kata 38

40 tersebut merupakan kata yang berkerabat, seperti pada contoh tabel berikut ini: Gloss Bahasa Toba Bahasa Simalungun Gigi seri Gugat Gugut Ompong Lobangon Lubangon Perut Butuha Bituha Kamar Bilut Biluk Sesudah menetapkan kata-kata kerabat dengan prosedur seperti yang dikemukakan di atas, maka dapat ditetapkan besarnya persentase kekerabatan antara kedua bahasa itu.persentase kata kerabat dihitung dari jumlah pasangan yang sisa, yaitu 809 kata dikurangi dengan kata atau gloss yang tidak dapat diperhitungkan karena kosong atau pinjaman. Dari 809 kata untuk bahasa Batak Toba dan bahasa Bahasa Simalungun hanya terdapat 802 pasangan kata yang lengkap, 7 gloss tidak diperhitungkan. Dari 809 pasangan yang ada terdapat 502 pasangan kata kerabat, atau hanya 62,05 % kata kerabat. Dengan selesainya menetapkan persentase kata kerabat, maka akan dapat dilakukan prosedur berikut, yaitu menghitung usia dan waktu pisah kedua bahasa tersebut. Untuk maksud tersebut hendaknya diperhatikan dua hal dari perhitungan kata kerabat yaitu : 62,05 % kata kerabat, dan 802 pasangan kata yang ada. 39

41 3. Menghitung Waktu Pisah Waktu pisah antar dua bahasa kerabat yang telah diketahui persentase kata kerabatnya,dapat di hitung dengan mempergunakan rumus berikut : W = Dimana : log. C 2log. r W : Waktu perpisahan bahasa dalam ribuan (milenium) tahun yang lalu. r : Retensi, atau persentase konstan dalam 1000 tahun, atau disebut juga indeks C : Persentase kerabat Log : logaritma dari 40

42 BAB III METODE PENELITAN 3.1 Metode Dasar Prosedur yang digunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawaban atas masalah adalah metode. Untuk menyelesaikan skripsi ini, penulis menggunakan metode leksikostatistik. Metode leksikostatistik adalah metode pengelompokan bahasa yang dilakukan dengan menghitung persentase perangkat kognat (Mahsun, 1995 : 115). Kosa kata yang menjadi dasar perhitungan adalah kosa kata dasar (basic vocabulary) yang meliputi kata-kata ganti, kata-kata bilangan, sistem kekerabatan, anggota badan, alam dan sekitarnya, serta alat perlengkapan sehari-hari yang sudah ada sejak permulaan. Penerapan metode leksikostatistik bertumpu pada asumsi dasar ( Keraf, 1984 : 123) yaitu : a. Sebagian dari kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya. b. Retensi (ketahanan) kosa kata dasar adalah konstan sepanjang masa. c. Perubahan kosa kata dasar pada semua bahasa adalah sama. d. Bila persentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui, maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahsa tersebut. Untuk menerapkan keempat asumsi dasar di atas, maka perlu diambil langkahlangkah tertentu. Langkah-langkah tersebut sekaligus merupakan teknik-teknik leksikostatistik. 41

43 Di antara langkah-langkah yang sangat diperlukan adalah : 1. Mengumpulkan kosa kata dasar kata kerabat. 2. Menetapkan pasangan-pasangan mana dari kedua bahasa yang berkerabat. 3. Menghitung usia atau waktu pisah kedua bahasa. 4. Menghitung jangka kesalahan untuk menetapkan kemungkinan waktu pisah yang lebih cepat. 3.3 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode-metode sebagai berikut : 1. Metode Kepustakaan yaitu penulis mencari buku-buku yang berhubungan dengan penulisan skripisi ini. 2. Metode observasi yaitu penulis langsung turun ke lokasi penelitian melakukan pengamatan tempat, jumlah, dan pemakai (penutur), bahasa serta prilaku selama pelaksaan penggunaan bahasa berlangsung. 3. Metode wawancara yaitu melakukan wawancara kepada informan yang dianggap memenuhi syarat-syarat sebagai informan untuk dapat mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan menggunakan teknik rekam dan catatan. 4. Metode Kuesioner yaitu melakukan penelitian dengan memberikan daftar pertanyaan yang diisi oleh masyarakat setempat dan hasil jawaban tersebut dikembalikan kepada penulis untuk dianalisis. 42

44 Adapun syarat-syarat sebagai informan menurut (Mahsun, 1995 :106) adalah: 1. Berjenis kelamin pria atau wanita 2. Berusia antara tahun (tidak pikun) 3. Orang tua, istri atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa itu serta jarang atau tidak pernah meninggalkan desa itu 4. Berstatus sosial menengah 5. Pekerjaannya bertani dan buruh 6. Dapat berbahasa Indonesia 7. Sehat jasmani dan rohani 8. Berpendidikan (minimal tamatan SD dan sederajat) 3.2 Lokasi Sumber Data dan Instrumen Penelitian Lokasi sumber data penelitian adalah Desa Cinta Maju Tamba Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir untuk bahasa Batak Toba. Adapun alasan yang melatarbelakangi penulis menentukan daerah penelitian tersebut karena masyarakat didaerah tersebut penutur bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun adalah di desa Bangun Raya Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun. Didaerah penelitian kedua di desa Bangun Raya, penulis memilih menjadi lokasi penelitian juga karena di daerah tersebut penutur bahasa Simalungun. Penulis melakukan penelitian diperlukan beberapa instrumen demi tercapainya data yang maksimal. Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk mendapatkan atau mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan alat rekam (tape recorder), daftar pertanyaan (kuesioner), pulpen (alat tulis), dan alat hitung. 43

45 3.4 Metode Analisis Data Tahap untuk menyelesaikan data yang terkumpul adalah menganalisisnya. Sehubungan dengan teknik yang penulis gunakan yakni teknik leksikostatistik, maka untuk menganalisis data dilakukan dengan menerapkan prosedur yang sudah ada. Adapun prosedur yang harus diikuti sebagai analisis data adalah sebagai berikut: 1. Menghitung Kata Kerabat, yakni dengan mengikuti prosedur yang sudah ditentukan seperti : a. Glos yang tidak diperhitungkan b. Pengisolasian morfem terikat c. Penetapan kata kerabat. Untuk menghitung persentase kata kerabat digunakan rumus (Keraf:1984: 127): K C = x100% G Di mana C = cognates atau kata kerabat K = jumlah kosa kata kerabat G = jumlah glos 2. Menghitung Waktu Pisah. Waktu pisah antara dua bahasa kerabat yang telah diketahui persentase kata kerabatnya, dapat dihitung dengan mempergunakan rumus berikut (Keraf: 1984: 130): 44

46 W = logc 2log r Di mana : W = waktu perpisahan dalam ribuan (melenium)tahun yang lalu r = retensi atau persentase konstan dalam 1000, atau disebut juga indeks C = persentase kerabat Log = logaritma dari 3. Menghitung jangka kesalahan Untuk menghitung jangka kesalahan biasanya digunakan kesalahan standar, yaitu 70% dari kebenaran yang diperkirakan. Kesalahan standar diperhitungkan dengan rumus berikut ini (Keraf: 1984:132): S = c ( 1 c) n Di mana: S = Kesalahan standar dalam persentase kata kerabat c = Persentase kata kerabat n = Jumlah kata yang diperbandingkan (baik kerabat maupun non kerabat) Hasil dari kesalahan ini jumlahkan dengan persentase kerabat untuk mendapatkan c baru. Dengan c yang baru ini sekali lagi dihitung waktu pisah dengan mempergunakan rumus waktu pisah pada teknik c. 45

47 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Menghitung Kata Kerabat Setelah dilalui penelitian/analisis maka dapat diterapkan bahwa bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun benar-benar berbeda seperti contoh berikut ini: 1. Gloss yang tidak diperhitungkan No Glos Bahasa Batak Bahasa Bahasa Toba Simalungun 1 Surau Kasau Kelenteng Khitanan Dukun sunat Upacara turun kesungai anak yang telah dikitan 7 Pemukul beduk

48 2. Penetapan kata kata kerabat No Glos Bahasa Batak Toba Bahasa Simalungun Ket 1. Alis Salibon Alis - 2. Bahu Abara Abara V 3. Betis Bitis, botohon Bitis V 4. Bibir Pamangan Bibir - 5. Bulu dada Imbulu Ambulu V 6. Bulu ketiak Imbulu Ambulu V 7. Bulu kuduk Imbulu Ambulu V 8. Bulu roma Marsisir Manorgi V 9. Dada Andora Tonton Daging Pamatang Akkula, daging V 11. Dagu Osang Osang V 12. Dahi Pardompahan Pardompakan V 13. Darah Mudar Daroh V 14. Geraham Ngadol Ngadol V 15. Gigi Ipon Ipon V 16. Gigi seri Panggugat Gugut V 17. Gigi yang Pinjilon Padehal - bertumpuk tumbuhnya 18. Gigi yang menonjol Tuja Dungil - keluar 19. Gusi Siratan Gusi Hati Ate ate Atei V 21. Hidung Igung Igung V 22. Ibu jari Ompu-ompu Ompu-ompu V 23. Isi tulang Umok Utok V 47

49 24. Jantung Pusu Pusu V 25. Janggut Janggut Janggut V 26. Jari Jari jari Jajari V 27. Jari manis Tonggi Amborita Jari tengah Tonga Tutu alang Kaki Jojak, pat Nahei Kelingking Dihil Didihil V 31. Kemaluan laki laki Tumorjok, Pidong Natu Kemaluan Tumeak, Pepet Tete - perempuan 33. Kepala Simanjujung Simanjujung V 34. Kerongkongan Aru aru Tolonan Ketiak Gitik Kihik V 36. Kuku Sisilon Sisilon V 37. Kulit Huling Hulit V 38. Kumis Mise Gumis V 39. Kutu Hutu Hutu V 40. Leher Rungkung Borgok Lemak Lambiak Lambuyak V 42. Lengan Golangan Batokan Lidah Dila Dila V 44. Ludah Ijur Tijur V 45. Lutut Dugul Tohod Mata Simalolong Pangidah Mata kaki Mata pat Mata nahei V 48. Mata susu Tarusan Tadah V 49. Muka Bohi Bohi V 50. Mulut Pamangan, papangan Babah - 48

50 51. Ompong Lobangon Lubangon V 52. Otak Utok Otak V 53. Paha Hae Hae V 54. Pantat Ihur Tombom Paru paru Andora Orak-orak Pelipis Imbulu mata, Ambulu mata V imbulu simalolong 57. Pelupuk mata Topi Tepih V 58. Pergelangan tangan Pargolangan Pargolangan V 59. Perut Siubeon Boltok Pinggang Gonting Binongei Pinggul Tambon Popat Pundak Abara Takkuhuk Punggung Tanggurung Gurung V 64. Pusar Pusok Pusok V 65. Rambut Jambulan, Obut Jambulan, V Ambulu 66. Rusuk Rusuk Kokak, rusuk V 67. Siku Sukki Attolis Susu Tarus Tadah, nunuk, V nenneh 69. Tangan Pangido, Panjalo Tangan, V Pangindo 70. Telapak kaki Jampal Jappal V 71. Telapak tangan Jampal Tapak Telinga Parange, pinggol Pinggol, V Panangar 73. Telunjuk Panudu Tutuduh V 49

51 74. Tembuni Tali Pusok, Tali Tali Pusar V Pusor 75. Tengkuk Rungkung Takkuhuk Tubuh Pamatang, Badan Akkula, badan V 77. Tulang kering Holi Holi V 78. Tulang rahang Osang Ungar Tumit Jingkat Tambihul Ubun ubun Sambubu Salimbubu V 81. Urat Urat urat Urat V 82. Usus Butuha Bituha V 83. Warna hitam pada Sihat Kamah, hamah - kulit sejak lahir 84. Dia Imana Ia Kami Hanami Hanami V 86. Kamu Hamu Ham, ho V 87. Kamu sekalian Sude Haganup Kita Hita Hita V 89. Laki laki Baoa Dalahi Nama Goar Goran V 91. Panggilan untuk Ucok Ussok V laki laki kecil 92. Panggilan untuk Butet Butet V gadis kecil 93. Panggilan untuk Namarbaju Marlajar - gadis remaja 94. Panggilan untuk Doli Garama - laki laki remaja 95. Panggilan untuk laki laki tua Ompung Ompung dalahi V 50

52 96. Panggilan untuk Ompung boru Ompung daboru V perempuan tua 97. Perempuan Borua Daboru V 98. Saya Au Ahu V 99. Orang Jolma, Halak Halak V 100. Adik Anggi Adek Adik dari isteri Anggi boru, Anggi, kian V pariban dalahi 102. Adik dari suami Anggi baoa, anggi Bapa tongah, - borua inang tongah 103. Adik laki ayah/ibu Bapa uda, inang Bapa tongah, V uda inang tongah 104. Adik perempuan Namboru, inang Amboru, inang V ayah/ibu baju anggi 105. Anak Gelleng Niombah Anak dari anak Pahompu Pahoppu V 107. Anak dari cucu Ondok-ondok Nono Anak dari saudara Gelleng Niombah Anak dari saudara Angkang, Anggi, Sanina - ayah ito 110. Anak dari saudara Angkang, Anggi, Lae, tondong - ibu ito 111. Anak kandung Gelleng Nasakkan Anak tiri Nadidapot Nidapot V 113. Anak yang tertua Siangkangan Sikahanan V 114. Anak yang termuda Siampudan Sianggian Ayah Bapa Bapa V 116. Ayah dari orang tua Ompung Ompung V 117. Ibu Inong, oma Inang V 51

53 118. Ibu dari orang tua Ompung boru Ompung daboru V 119. Isteri Pardijabu, Parinangonni - Parsonduk bolon 120. Isteri adik laki laki Inanguda Inang tongah V ayah 121. Isteri adik laki laki Nantulang Anturang V ibu 122. Isteri kakak laki laki Inangtua Inangtua, inong V ayah godang 123. Isteri kakak laki laki Nantulang Anturang V ibu 124. Isteri dari saudara Anggi boru Kaha, anggi Isteridari saudara Inanguda, Gawei - orang tua inangtua 126. Kakak Angkang, ito Kaka V 127. Kakak laki laki Hahadoli, abang Abang V 128. Kakak perempuan Angkang boru Kaka V 129. Kakak laki laki dari Bapatua Bapatua V ayah 130. Kakak laki laki dari Tulang Inangtua, inang - ibu godang 131. Kakak perempuan Namboru Amboru V dari ayah 132. Kakak perempuan Inang tua Inangtua, Inang V dari ibu godang 133. Kakak dari kakak Angkang Kakak V 134. Nenek moyang Sahala, Sijolo tubu Ompung na ilobei, ompung parlobei - 52

54 135. Orang tua dari Amang Simatua, Simatua dalahi V suami Inang simatua 136. Orang tua dari isteri Amang simatua, Simatua daboru v inang Simatua 137. Orangtua dari Simatua Simatua V suami/isteri 138. Pasangan suami Marhotripe Satangga, - isteri nasatangga 139. Saudara laki laki Anggi, abang Abang V 140. Saudara perempuan Anggi Botou Saudara dari isteri Lae Botou Saudara dari suami Eda Sanina Suami adik Amang boru Amangkela V perempuan ayah 144. Suami adik Tulang Panggis, bapa - perempuan ibu tongah 145. Suami dari saudara Lae,ito Lae V 146. Suami dari saudara Bapa tua Bapa godang V orang tua 147. Suami/isteri saudara Angkang, anggi Kaka, adek - isteri 148. Suami /isteri Abang, anggi Kaka, adek - saudara suami 149. Suami /isteri dari Hela, parumaen Hela, parmaen V anak 150. Suami kakak Amangboru Amangkela V perempuan dari ayah 151. Suami kakak Bapatua Tulang, - 53

55 perempuan dari ibu anturang 152. Hamil Denggan Boratan rumah - pamatang 153. Bekerja ditempat Marhobas Marhobas V orang yang mengadakan pesta/meninggal 154. Bertunangan Martumpol Martunangan V 155. Datang ketempat Olopi Roh - kenduri 156. Datang memberi Tumpak Manumpak V bantuan ketempat orang pesta/meninggal 157. Dukun Datu Panambar Dukun bayi Sibaso Sibasoh V 159. Juru tulis Panurat Panurat V 160. Kawin Mangoli, muli Marhajabuan Kawin lari Mangalua Jabu uhur Kenduri Ulaon Horja Kepala desa Hampung Pangulu Kepala kampung Hampung Gamot Kerja bakti Siurup Haroan Lahir Tubu Tubuh V 167. Melahirkan Tubuh, partus Hipas Mengandung Denggan Boratan rumah - pamatang 169. Menguburkan Tanom, Hutano Tanom V 170. Meninggal Monding Matei, - 54

56 marujung ngoluh 171. Penghulu Ulu punguan Ulu ni huta V 172. Upacara cuci perut Mambosuri Bere horashoras - wanita hamil tujuh bulanan 173. Upacara puput pusar Sangsang robu robu, mamipil pusok Pipil pusok V 174. Upacara turun tanah Maronan-onan Tigahon Atap Taup, tarup Tayup V 176. Atap dari bambu Butar, topas, Butar, atap V gedek butar 177. Bubungan Bubusan Bukkulan V 178. Dangau Sopo - sopo Sopou V 179. Dapur Dapur Dapur V 180. Dinding bambu Topas Topas V 181. Dinding tembok Dinding Dinding V 182. Genteng Getteng Genteng V 183. Halaman Pogu Alaman Jendela Laba-laba Tikkap Kamar Bilut Biluk V 186. Kandang Handang Harang, V kandang 187. Kandang ayam Handang manuk Harang dayok V 188. Kandang kambing Handang hambing Harang V hambing 189. Kandang kerbau Handang horbo Harang horbou V 190. Kandang kuda Handang hoda Harang huda V 55

57 191. Kandang merpati Huru-huruan Harang asas V 192. Langit langit Para-para Gijang Lumbung Paremean Hobon Pagar Handang Hondor V 195. Palang dada Ulur Ulur V 196. Para para Para-para Para V 197. Pelimbahan Lubang Ianan toppah Pintu Dorpi Labah Pusaka Arta Pusakka Ruang depan yang Jolo Emper - terbuka 201. Ruang rumah paling Pudi Dapur - belakang 202. Rumah Jabu Jabu, rumah V 203. Rumah kecil di Sopo, sopo-sopo Sopou V tengah sawah 204. Tangga Andar Andar V 205. Tempat tungku Tataring Dalihan Tiang Tiang Tiang V 207. Tungku Dalihan Dalihan V 208. Alat dari lontar Hurung Taduh - untuk menyimpan hasil tangkapan ikan 209. Alat penumbuk padi Losung Losung V mirip dengan perahu 210. Alat untuk membuat benang Tonunan Baliga - 56

58 tenun 211. Palu Tokkok Parpalu Bajak Lukku Bajak Bakul Batte Bahul Bakul kecil Bahul Bahul V 215. Balai balai Harungguan Pokkalan Bambu untuk Turak Turak V memasukkan benang tenun 217. Bantal Lakkian Bantal Cangkul Panggu Sangkul Cobek 220. Dayung Hole Dayung Dingklik Suhi Sudut V 222. Gabus/kayu pada Gambal Tilampung - tali pancing 223. Galah Alar Arjuk-arjuk Gayung Tahu-tahu Gayung Gelas Galas Golas V 226. Gergaji Gargaji Sihit Jala besar Doton Jala Jala kecil Durung Jala Jarum Jarum Jarum V 230. Kayu diatas pundak Auga Huga V kerbau 231. Kain panjang Parompa Parombah V 232. Tempat Hundali Dadali V memasukkan bajak 233. Kayu penggulung Hulhulan Gulungan - 57

59 benang tenun 234. Layar Labah Halikkip Lesung Losung Losung V 236. Nyiru Lambe Lambe V 237. Panah Hujur Panah Pancing Hail Hail V 239. Parang Piso Parang Parut kelapa Hurhuran Kukuran V 241. Penumbuk Andalu Andalu V 242. Perahu Solu Parau Periuk Hudon Hudon V 244. Pikulan Hallung Morsan Piring Pinggan Panganan V 246. Pisau Raut, balati Pisou Selimut Gobar Salimut Sendok Sonduk Sonduk V 249. Tali bajak Tali Tali V 250. Tempat beras Tandok, goni Parborasan Tempat nasi dari Bahul Tambahur - bambu 252. Tempayan Anduri Anduri V 253. Tikar Amak Apei Tongkat Tukkot Tukkot V 255. Wajan Balanga Balanga V 256. Bubur Hassang ijo Kasang ijo V 257. Cendol Sendor Sendol V 258. Dendeng Sale-sale Sale V 259. Gulai Gule Gulei V 260. Jagung Jagul Jagul V 58

60 261. Jeruk Utte Ettei V 262. Kacang Hassang Kasang V 263. Kerak Hukkus Korak Kerupuk Harupuk Karupuk V 265. Ketupat Katupat Kueh Kue Hue Kueh V 267. Kopi Hopi Kopi V 268. Labu Labu Hondi Lemang Lomang Lomang V 270. Madu Aek loba Manisan Makanan Siallangon Sipanganon V 272. Mangga Mangga Mangga V 273. Minuman Inumon Inumon V 274. Nangka Pinasa Nakka Nasi Indahan Indahan V 276. Nasi basi Indahan migar Indahan basi V 277. Nasi belum matang Ngaltep Lape masak Nenas Honas Anas V 279. Sagu Umok Tonga Sambal Hosea Sambal Sayur Lalap Lowoh Tapai ketan Tape pulut Tapei pulut V 283. Tapai singkong Tape gadong Tapei gadung V 284. Ubi Gadong Gadung V 285. Akar Urat Urat V 286. Alang alang Rih Rih V 287. Anak dahan Ranggas Tupang Aren, enau Tuak Tuak, bagot V 289. Asam Asom Asam V 59

61 290. Bambu Bulu Buluh V 291. Batang Bona Hayuni Bawang merah Bawang sigerger Bawang V sigerger 293. Bawang putih Bawang silopak Bawang silopak V 294. Benih Boni Bonih V 295. Beras Harbue Boras Beras kecil Monis Suyu Beringin Baringin Baringin V 298. Biji Batu Batu, biji V 299. Buah Boras, bue Buah V 300. Bunga Bunga Bunga V 301. Cabai Lasiak Lassina V 302. Cabang Ranting Ranting V 303. Cereme Eme Omei V 304. Dahan Dakka Hayu Daun Bulung Bulung V 306. Dedak Dodak Dodak V 307. Getah Gota Gotah V 308. Halia Pege Pogei V 309. Ijuk Aribut Aribut V 310. Jerami Durame Anggala Jambu batu Antajau Jambu Jambu mente Harimotting - X 313. Kayu Hau Hayu V 314. Kelapa Halambir Kalapa Ketan Pulut Pulut V 316. Ketimun Assimun Assimun V 317. Kulit kayu Lampak Hulit - 60

62 318. Kunyit Hunik Huning V 319. Lada Lada Lada V 320. Lengkuas Halaos Halawas V 321. Lontar Happidi Happidi V 322. Mandalika Hau mandalika Hayu V mandalika 323. Minyak kelapa Tanakan Minak kalapa Minyak tanah Miak tano Miak lampu V 325. Nasi yang tidak Rima rima Rimah V termakan yang menempel dibibir/jatuh di lantai 326. Padi Eme Omei V 327. Pandan Bayon Pandan Paria Paria Paria V 329. Papaya Botik Botik V 330. Pinang Pining Pining V 331. Pisang Gaol Galuh V 332. Pohon Hau Hayu V 333. Ranting Ratting Ratting V 334. Rebung Tubis Taruhup Rotan Hotang Hotang V 336. Ruas Bubu Sengawan Rumput Duhut Poyon Sabut Jabut Sabut V 339. Santan Sattan Sattan V 340. Setandan pisang Satturdun Satturdun V 341. Sisir pisang Sisir gaol Sassisir galuh V 61

63 342. Tebu Tobu Tobu V 343. Tempurung Seak seak Sarib-sarib Terung Terong Tuyung Tuba Ittir ittir Andaliman Ubi jalar Gadong julur Gadung julur V 347. Ubi kayu Gadong hau Gadung hayu V 348. Anjing Asu, biang Baliang V 349. Ayam Manuk Dayok Ayam betina remaja Ajar ajar Dayok Ayam betina yang Marpese Indung ni - telah beranak dayok 352. Ayam jantan Jambe Sabungan - dewasa 353. Babi Babi Babui V 354. Bangkai (binatang) Bakke Bangke V 355. Bangkai (manusia) Namate Mayat Belalang Balang Balang V 357. Binatang Piaraan Pinahan V 358. Buaya Banggik Buaya Bulu sayap Habong Habong V 360. Burung Pidong Manuk-manuk Cacing Gea Sasing Cecak Boras pati Boras pati V 363. Ekor Ihur Ihur V 364. Gagak Sombob Manuk gagak Ikan Ihan, dekke Ihan, dekke V 366. Insang Akkip akkip Saring-saring Jalu Pat ni manuk Nahei ni dayok Kambing Hambing Hambing V 62

64 369. Katak Sibagur Polang Kelelawar Arip arip, haluang Likkaboh Kerbau Horbo Horbou V 372. Kucing Huting Huting V 373. Kunang kunang Salimputput Salimpotpot V 374. Kupu kupu Ampul-ampul Ampul-ampul V 375. Kura kura Labi-labi Lebou V 376. Laba laba Sijombing Lawa-lawah Lalat Lanok Lanok V 378. Lebah Ranggiting, Huramah - harinuan 379. Lintah Littah Littah V 380. Monyet Herek Hereh V 381. Nyamuk Rongit Rongit V 382. Penyu Labi-labi Attipa Rayap Sarion Ngitngit Rusa Ursa Ursa V 385. Sayap Habong Habong V 386. Sapi Lombu Lombu V 387. Semut Porhis Porkis V 388. Sirip Saping Layar Sisik Sisik Sisik V 390. Tanduk Tanduk Tanduk V 391. Taring Sait Sait V 392. Telur Tolor, pira Tolur V 393. Tikus Bagudung, satua Bagudung V 394. Tokek Ilik Habindoran Tuma Tungo Hutuni dayok Udang Udang Payak - 63

65 397. Ular Gulok Kiok Ulat Gulok-gulok Kiok-kiok Air Mual Bah Air bah Sonak Bah nasumbang Air laut Aek laut Bah ni laut V 402. Air tawar Aek tio, mual tio Bah tawar V 403. Api Api Apuy V 404. Arang Agong Arang V 405. Arus Purpur Aras Asap Timus Timus V 407. Atas Ginjang Gijang V 408. Awan Ombun Hombun V 409. Bara Narnar Agong Barat Pastima Hasundutan Batu Batu Batu V 412. Batu api Batu mera Batu apui V 413. Bawah Toru Toruh V 414. Besi Bosi Bosi V 415. Besok Marsogot Patar Bintang seperti Botari Bulan sabit - bajak 417. Bintang tanda Manogot Poltak - keluar fajar 418. Bukit Dolok Dolok V 419. Bulan Bulan Bulan V 420. Bulan purnama Bulan tula, Rondang V Rondang bintang 421. Bulan terbit Poltak Hapoltakan V 422. Darat Darat Darat V 64

66 423. Datar Bidang, hornop Rata Debu Abu Abu V 425. Di atas Ginjang Atas Di samping Pingggir Samping Di sana Isan, Disan Jai Di sini Ion, dison Jon Dua hari mendatang Haduan Haduan V 430. Dua hari yang lalu Dua ari nalewat Nanjadihan Dusun Huta Salorong Emas Omas Omas V 433. Embun Ombun Hombun V 434. Empat hari Opat ari na lao ro Opat hari na V mendatang laho roh 435. Empat hari yang Opat ari na lewat Opat hari na V lalu dop salpu 436. Fajar Sogot Poltak ari Garam Sira Garam Gerhana Akkalau Tula Gunung Dolok Dolok V 440. Guntur Longgur, gojok Longgur V gojok 441. Hari Ari Ari V 442. Hujan Udan Udan V 443. Hutan Harangan Harangan V 444. Ini Nion Andon Itu Nian Andai Jalan(lebar) Dalan Dalan V 447. Jalan (sempit) Dalan Dalan V 448. Jurang Tungkis Lombang - 65

67 449. Kabut Ombun Hombun V 450. Kanan Siamun Siamun V 451. Kemarin Nantuari Nantuari V 452. Kilat Hilap Hilap V 453. Kiri Siambirang Sambilou V 454. Ladang Juma, hauma Juma V 455. Lahar Gambo Hubang Langit Langit Langit V 457. Laut Laut Laut V 458. Lereng Mereng Dolok dolok Lima hari Lima ari na lao ro Lima ari nalao V mendatang roh 460. Lima hari yang lalu Lima ari na salpu Lima ari na dop V salpu 461. Malam Borngin Borngin V 462. Mata air Mata mual Bah tubuh Matahari Mataniari Mataniari V 464. Mega (hitam) Ombun Borjog Mega (putih) Ombun Torang Muara sungai Binanga Bah Musim hujan Ari udan Musim udan, - Parudan 468. Musim kemarau Logo ni ari Logou ni ari V 469. Ombak Ombak, Gilumbang V galumbang 470. Padang Bidang Bolag Pagi Sogot Sogot V 472. Pagi sekali Manogot Girah sogot Pantai Topi tao Pinggir ni laut - 66

68 474. Pasir Rihit Horsik Langit Langit Langit V 476. Sawah Sabah Sabah V 477. Sebentar Satongkin Tokkin, V sattokkin 478. Selatan Dangsina Dangsina V 479. Senja Botari Samun Siang Arian Siang Sore Botari Botni ari V 482. Sungai Binanga Bah Tanah Tano Tanoh V 484. Tahun Taon Taun V 485. Tebing Tungkis Salahsah Tepian Topian Pinggir Tiga hari Tolu ari na lao ro Toluh ari na lao V mendatang roh 488. Tiga hari yang lalu Tolu ari na salpu Toluh ari na V dob salpu 489. Timur Purba Habissaran Utara Utara Utara V 491. Bangun dari duduk Jonjong Jongjong V 492. Bangun dari tidur Dungo, Hissat Puho Bekerja Karejo Horja Berak Tete Tois Berbaring Jorbing Tibal Berbicara Hata Sahap V 497. Berbisik Husip Husip V 498. Berenang Lange Langui V 499. Bergerak Husor Husor V 67

69 500. Berjalan Dalan Dalan V 501. Berjongkok Hundul Maminggung Berkelahi ( dengan Tumbuk Tenju - tangan ) 503. Berkelahi ( dengan Bada mussung Martinggil - kata-kata) 504. Berkembang ( Rerak Banggal - pohon ) 505. Berkembang ( Hopar Banggal - binatang ) 506. Berlari Ikkati Littun Berludah Tijur Tujur V 508. Bermain Meam Guro Bernafas Hosa Hosah V 510. Berobah Muba Rubah V 511. Berobat Ubat Tambar Bersiul Siul Sihul V 513. Bertanya Sungkun Sungkun V 514. bertemu Jumpang Juppah V 515. Bongkar Bukka Muat Cuci(pakaian ) Manussi Manussi V 517. Cuci ( tangan ) Basuh Burih V 518. Datang Ro Roh V 519. Duduk Hundul, Ianan Hundul V 520. Duduk kaki dilipat ( Sorpi Sorpei V pria) 521. Duduk kaki dilipat ( Sorpi Sorpei V wanita ) 522. Duduk kaki terjulur Tordang Gostong - 68

70 523. Gantung Gattung Gattung V 524. Ikut Dohot Dihut V 525. Ingat Ingot Dingat V 526. Jatuh ( daun,buah Madabu Modop - dll) 527. Jatuh ( orang ) Madabu Madabuh V 528. Kembali Mulak Mulak V 529. Kencing Tiak Konsing Kentut Muntut Muttut V 531. Lari-lari kecil Ikkat Littun Makan ( nasi) Mangan Mangan V 533. Makan ( selain nasi) Anlang, mangan Pangan V 534. Marah Muruk Gilah Melihat Bereng Tonggor Melirik Nerbeng Nerleng V 537. Melotot Bollang Boddil V 538. Memanah Hujur Sior Memasak( nasi) Lompa Dahan Memasak ( sayur) Sayur Sayur V 541. Membakar ( ikan ) Panggang Padar Membakar ( Tutung Tutung V sampah) 543. Membanting ( Paspas Paspas V cucian ) 544. Membawa Boan Boban V 545. Membawa dengan Hapit Kapit V ketiak 546. Membawa dengan punggung Pundak Ombah - 69

71 547. Membawa dengan Hintang Hatting V tangan ( jinjing) 548. Membawa dengan Jujung Boban - tangan diatas 549. Membawa di bahu Abarai Porsan Membawa di kepala Hunti Jujung Membawa di Ompa Ombah V punggung 552. Membawa di Tuak, Tuhuk Takkuhuk V pundak 553. Membersihkan Ias Borsih Memberi Lean Bere Memberi tahu Boa Tugah Membuat dendeng Baen Dear Memburu hewan ( Buru Manrigap - malam ) 558. Memburu hewan ( Buru Buru V siang ) 559. Membunuh Matehon Bunuhon Memegang Tiop Jolom, Jamah Memejamkan mata Pitpit Pitpit V 562. Memotong (ikan ) Ponggol Sayat Memotong ( kayu) Ponggol Obok Memperoleh ( Dapot Dapot V sesuatu hadiah dll) 565. Memutar( Mamiu Poroh meggunakan tali ) 566. Menakutkan Biar Biar V 567. Menarik Tarik Toguh - 70

72 568. Menarik ( benda Tarik Toguh - dengan hewan ) 569. Mencari Lului Torihi Mencium ( bau ) Anggo Anggoh V 571. Mencium ( cewek) Umma Ummah V 572. Mendengar Bege Tangar, Bogei V 573. Menebas pohon Taba Roboh Mengambil ( daging Sakkorot Gulai - sekerat) 575. Mengalir Dalan Dalan V 576. Menganyam Mambau Membayu V 577. Mengapung Mubbang Mumbang V 578. Menggali Okkal Kurak Menggaruk( Garut Garut V kepala,kulit) 580. Menggenggam Golom Golom V 581. Menggigit(manusia) Harat Harat V 582. Menggigit( Ngatngat Karat - serangga) 583. Menggosok (gigi) Sikat Sikat V 584. Menggosok (kulit) Mangusa Usah V 585. Menghitung Etong Etong, Kira V 586. Menghidupkan (api) Pangolu Marapui Mengikat Sakkut Rahut V 588. Mengikat(kayu) Tapol Rahut Mengikat ( kepala Sakkut Rahut V dengan kain) 590. Menginjak dengan dua kaki Dege Dogei V 71

73 591. Menginjak dengan Dege Dogei V satu kaki 592. Mengisap Ossop Ossop V 593. Mengotorkan Kotori Kotori V 594. Menguburkan Tanom Tanom V 595. Mengulangi Ulangi Ulaki V 596. Mengusap Usap Lap V 597. Menikam Tusuk Tobak Menikam dari atas Tusuk Tobak Menikam dari Tusuk Tobak - bawah 600. Menikam dari Tusuk Tobak - belakang 601. Menikam dari Tusuk Tobak - depan 602. Meniup Ombus Sompul Meniru Tiru Tiru V 604. Menjahit Jarum Jarum V 605. Menjemur Jomur Jomur V 606. Menyahut Alusi Balosi V 607. Menyuruh Suru Suruh V 608. Menyusui Manusu, tarus Painum Merebus Robus Bolgang Merumput i ( Duhut Duhut V tanaman ) 611. Mimpi Nipi Nipi V 612. Minum Minum Minum V 613. Muntah Muta Mutah V 614. Petik Putik Putik V 72

74 615. Pilih Pillit Pilihi V 616. Pintar Malo, pistar Pandei Putar Putar, husor Husor V 618. Raba Dadap Dadap V 619. Rangkul Dahop Rohop V 620. Selam Honong Honong V 621. Sentuh Dais Giut Simpan Buni Sippan Tabur Sampak Sabur Tambah Tambai Tambahi V 625. Tangis( men- ) Tangis Tariluh Telungkup Tungkap Takkop V 627. Terbang Habang Habang V 628. Tertawa Mengkel Tartawa Tidur Modom Modom V 630. Tukar(meN-kan) Ganti Gattih V 631. Tunjuk Patudu Tulduk, tuduh V 632. Turun Turun Turun V 633. Tusuk Jujak Tojok V 634. Urut Dampol Alut Usap Dais Dais V 636. Amis Sango Sahor V 637. Asam Asom Migar Angkuh Ginjang roha Gijang uhur V 639. Bagus Denggan, jago Dear, jenges Banyak Godang Bahat Baru Naimbaru Baruh V 642. Basah Maraek Bossot Benar Toho, sintong Tongon - 73

75 644. Bengkak Bongkak Butong Berani Barani Pakkar Berat Borat Borat, tondi V 647. Bersih Ias Borsih Besar Balga Banggal V 649. Biru Balau Balau V 650. Bodoh Oto, loak Bokkap Boros Derderan Loyar Botak Salapsap Gundul Bulat Gonong, leong Bokkou Buta Pitung Pitung V 655. Cantik Bagak Jenges Cerdas Malo Pandei Cokelat Soklat Sokalat V 658. Dekat Jonok Dohor Dingin(air) Risik Ngilu Dingin(cuaca) Ngali Borgoh Enak Tabo Mattin Gelap Golap Golap V 663. Gurih Tabo Molhut Gemuk Mokmok Mombur V 665. Halus Halus Lumat Harum Angur Marium, - morum 667. Haus Mauas Horahan Hijau Rata Ratah V 669. Cokelat Soklat Sokalat V 670. Dekat Jonok Dohor Dingin(air) Risik Ngilu - 74

76 672. Dingin(cuaca) Ngali Borgoh Enak Tabo Mattin Gelap Golap Golap V 675. Gurih Tabo Molhut Gemuk Mokmok Mombur V 677. Halus Halus Lumat Harum Angur Marium, - morum 679. Haus Mauas Horahan Hijau Rata Ratah V 681. Jauh Dao Daoh V 682. Cokelat Soklat Sokalat V 683. Dekat Jonok Dohor V 684. Dingin(air) Risik Ngilu Dingin(cuaca) Ngali Borgoh Enak Tabo Mattin Gelap Golap Golap V 688. Gurih Tabo Molhut Gemuk Mokmok Mombur V 690. Halus Halus Lumat Harum Angur Marium, - morum 692. Haus Mauas Horahan Hijau Rata Ratah V 694. Licin Landit Malandit V 695. Luas Bolak Bolak V 696. Lurus Pintor Gostong Malu Maila Maila V 698. Manis Manis Manis V 75

77 699. Manjur Pas Sosok, dear Marah Muruk, Amuk Gila Merah Gerger, rara Gerger V 702. Miskin Pogos Sombuh Muda Poso Posoh V 704. Pahit Paet Paet V 705. Panas Mohop Milas Panjang Ganjang Ganjang V 707. Pendek Jempek Pondok Pemarah Muruk Panggila Perajuk Hene Margolut Putih Bontar Lopak Rajin Sikkap Ringgas Rakus Gemor, mokkus Rakkah Rendah Toru Toruh V 714. Ringan Neang, hampung Happung V 715. Sabar Sabar Sabar V 716. Sakit Sahit Borit Sedikit Saotik Otik, bolon V 718. Sejuk Lambok Torsuk Sempit Soppit Soppit V 720. Tahu Iboto Botoh V 721. Tajam Tajom, marot Marot V 722. Takut Mabiar Mabiar V 723. Tampan Ganteng Ganteng V 724. Kebal Jogal, Tahan Hobal V 725. Tengah Tonga Tongah V 726. Terang Tiur Siang Terkejut Songgot Songgot V 76

78 728. Terkenal Tarbarita Tarsar Tinggi(gunung) Timbo Gijang Tinggi(orang) Timbo Ganjang Tipis Rampis Rappis V 732. Tua Matua Toras Tumpul Majol Majol V 734. Ujung Pussu Pussa, ujung V 735. Ungu Terong Terong V 736. Usang Kotor, dorun Maos Batuk Batuk Kuhkuh Bekas luka Bokkas, tihas Tikas V 739. Bisul Bisul, baro Bayoh V 740. Borok Hudis Rutu Buta Pitung Lang idah Congek Tukkikon Tukkihon V 743. Demam Mohop, Sahit Borgoh Gondok Barut Barut V 745. Luka Lukka Ugahan Nanah Nana Nanah V 747. Obat Ubat Tambar Panu Pano Panou V 749. Pingsan Gale Moppas Pusing Minggot Minggot V 751. Sembuh Malum Malum V 752. Tuli Nengel Lang Tangar Anting-anting Hurabu Kerabu, subang V 754. Baju Abit Pakean Celana Salawar Salana V 756. Celana dalam Sembat, kolor Sempak V 77

79 757. Celana panjang Salawar Salana V 758. Celana pendek Salana Salana V 759. Cincin Tintin Sinsin V 760. Gelang Golang Golang V 761. Kalung Horung Rantei Kebaya Kabaya Kobaya V 763. Kopiah Pessi Takkulup Kutang Kaus Kaus V 765. Sabuk Gondit, hohos Gondit V 766. Sarung Mandar Hiou Subang Pattang, tokka Robuh Delapan Walu Waluh V 769. Delapan belas Sampulu walu Sappulu waluh V 770. Dua Tuba, dua Dua V 771. Dua belas Sampulu dua Sappuluh dua V 772. Dua puluh Dua puluh Dua puluh V 773. Dua puluh lima Dua puluh lima Dua puluh lima V 774. Empat Opat Oppat V 775. Empat belas Sampulu opat Sappulu oppat V 776. Enam Onom Onom V 777. Enam belas Sampulu onom Sappulu onom V 778. Lima belas Sampulu lima Sappuluh lima V 779. Lima puluh Liam puluh Lima puluh V 780. Satu Lada, sada Sada V 781. Sebelas Sampulu sada Sappulu dua V 782. Sedepa Olat Sakolat V 783. Sehasta - Sangasta Sejengkal Sanjokkal Sanjokkal V 785. Sembilan Sia Siah V 78

80 786. Sembilan belas Sampulu sia Sappuluh siah V 787. Sepuluh Sampulu Sapuluh V 788. Seratus Saratus Saratus V 789. Seribu Saribu Saribu V 790. Tiga Tolu Tolu V 791. Tiga ratus Tolu ratus Tolu ratus V 792. Tiga puluh Tolu pulu Tolu puluh V 793. Tiga puluh dua Tolu pulu dua Tolu puluh dua V 794. Tiga puluh empat Tolu pulu opat Tolu puluh V oppat 795. Ukuran padi dalam Ikkat Ikat V ikat kecil 796. Ukuran padi dalam Dua ikkat Dua ikat V dua ikat kecil 797. Ukuran padi dua Dua pulu lima Dua puluh lima V puluh lima ikat ikkat ikat 798. Ukuran padi dua Dua ratus lima Dua ratus lima V ratus liam puluh ikat besar pulu ikkat puluh ikat 799. Ukuran padi empat Opat ikkat Oppat ikat V ikat kecil 800. Ukuran padi empat Saikkat Saikat V ikat kecil(dalam satu ikat) 801. Ukuran padi seratus Saratus ikkkat Seratus ikat V ikat besar 802. Ukuran padi seribu ikat besar Saribu ikkat Saribu ikat V 79

81 Keterangan ( - ) Tidak berkerabat ( V ) Kata yang berkerabat ( X ) Tidak mempunyai pasangan kata Sesudah menetapkan kata-kata kerabat dengan prosedur seperti yang dikemukakan di atas, maka dapat ditetapkan besarnya persentase kekerabatan antara kedua bahasa itu. Dari 809 kata untuk bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun hanya terdapat 802 pasangan kata yang lengkap, 7 gloss tidak diperhitungkan dan 502 kata yang berkerabat dan 300 kata yang tidak berkerabat. Untuk menghitung persentase kata kerabat digunakan rumus (Keraf:1984: 127): K C = x100% G Diketahui K = 502 kata G = 809 kata K Ditanya C = x100% G 502 C = 100 % 809 C = 62,05 % 80

82 4.2 Menghitung Waktu Pisah Waktu pisah antar dua bahasa kerabat yang telah diketahui persentase kata kerabatnya,dapat di hitung dengan mempergunakan rumus berikut : W = log. C 2log. r Dimana : W r : Waktu perpisahan bahasa dalam ribuan (milenium) tahun yang lalu. : Retensi, atau persentase konstan dalam 1000 tahun, atau disebut juga indeks C Log : Persentase kerabat : logaritma dari Rumus di atas dapat diselesaikan dengan mengikuti tahap-tahap berikut : 1. Mula-mula mengenai logaritma C dan R dalam daftar logaritma : TABEL LOGARITMA N 0,00 0,01 0, ,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9-2,303-1,609-1,204-0,916-0,693-0,511-0,357-0,223-0,105-2,207-1,561-1,171-0,892-0,673-0,494-0,342-0,211-0,094-2,120-1,514-1,139-0,868-0,654-0,478-0,329-0,198-0,083-2,040-1,470-1,109-0,844-0,635-0,462-0,315-0,186-0,073-1,966-1,427-1,079-0,821-0,616-0,446-0,301-0,174-0,062-1,897-1,386-1,050-0,799-0,598-0,432-0,288-0,163-0,051-1,833-1,347-1,022-0,777-0,580-0,416-0,274-0,151-0,041-1,772-1,309-0,994-0,755-0,562-0,400-0,261-0,139-0,030-1,715-1,272-0,968-0,734-0,545-0,368-0,248-0,128-0,020-1,661-1,238-0,942-0,713-0,528-0,371-0,236-0,117-0,010 81

83 Untuk mendapatkan log. C yakni log. 0,62 maka mula-mula harus di cari logaritma dari 0,62 dan 0,63 selisih logaritma kedua bilangan itu dibagi dua, dan hasilnya ditambahkan kepada log. 0,62 atau dikurangi dengan hasil log. 0,63 Jadi menurut tabel di atas log. 0,62 : Log. 0,62 = -0,478 Log. 0,63 = -0,462 Selisihnya = -0, 016: 2 = -0,008 Dengan demikian log. 0,62 adalah -0,502 yaitu : -0,462+ (-0,008) = -0,470-0,478 (-0,008) = -0,470 Demikian juga dilakukan hal yang sama untuk mencari log. r yakni 0,805 dibulatkan menjadi 0,80 Log. 80 = -0,223 Log. 81 = -0,211 Selisihnya = -0,012 : 2 = -0,006 Dengan demikian log. 0,80 adalah -0,217 yaitu : -0,211+ (-0,006 ) = -0,217-0,223- (-0,006) = -0, Kemudian logaritma r dikalikan dengan dua 3. Hasil logaritma C dibagi dengan hasil dari (2) 4. Hasil dari pembagian dalam no. (3) menunjukakan waktu pisah dalam suatu ribuan tahun. Hasil terakhir ini dapat diubah menjadi tahun biasa setelah 82

84 dikalikan dengan tetapi karena perpisahan itu tidak terjadi dalam satu tahun tertentu lebih baik dipertahankan dalam bentuk satuan ribuan tahun (millennium). Dengan mempergunakan data-data dari hasil perbandingan antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun sebagai sudah dikemukakan dalam langkahlangkah penetapan kata kerabat di atas, maka perhitungan waktu pisah menurut rumus di atas adalah sebagai berikut : log.0,62 0,470 0,470 W = = = = 1, 082 ribuan tahun 2.log.0,80 2( 0,217) 0,434 Jadi, perhitungan waktu pisah bahasa Batak Toba dengan bahasa Simalungun adalah 1,082 ribuan tahun yang lalu. Atau dengan kata lain perhitungan waktu pisah bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun dapat dinyatakan sebagai berikut : a. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun diperhitungkan merupakan satu bahasa tunggal sekitar 1,082 ribuan tahun yang lalu b. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun diperkirakan mulai berpisah dari suatu bahasa proto kira-kira abad IX masehi Karena mustahil bahwa perpisahan antara dua bahasa terjadi dalam satuan tahun tertentu yakni 1,082 ribuan tahun lalu, tetapi harus terjadi berangsur- angsur, maka harus ditetapkan suatu jangka waktu perpisahan itu terjadi. Untuk maksud tersebut harus diadakan perhitungan tertentu untuk menghindarkan kesalahan semacam itu. Sebab itu masih diperhitungkan teknik statistik berikut. 83

85 4.3 Menghitung jangka kesalahan Untuk menghitung jangka kesalahan biasanya dipergunakan kesalahan standar, yaitu 70% dari kebenaran yang diperkirakan. Kesalahan standar diperhitungkan dengan rumus berikut : S= c ( 1 c) n Dimana : S = Kesalahan standar dalam persentase kata kerabat c = Persentase kata kerabat n = Jumlah kata yang diperbandingkan (baik kerabat maupun Non-kerabat). Perhitungan dapat dilakukan dengan mengikuti urutan berikut : 1. 1 dikurangi c; 2. c dikalikan dengan hasil dari (1) 3. Hasil dari (2) dibagi dengan n ; 4. Menarik akar atas hasil dari (3) 5. Hasil dari (4) merupakan jangka kesalahan dari persentase kata kerabat atas dasar 0,70 perkiraan mengenai kebenaran yang sesungguhnya. Bila rumus di atas kita terapkan dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun, maka kesalahan standar bagi kedua bahasa itu adalah : S = 0,62(1 0,62) 802 = 0,62.0,38 = 802 0,2356 =0, S = 0,

86 Hasil dari kesalahan standar ini (0,0003) dijumlahkan dengan persentase kerabat untuk mendapatkan c baru: 0,62 + 0,0003 = 0,6203. dengan c yang baru ini sekali lagi dihitung waktu pisah dengan menggunakan rumus waktu pisah pada teknik no. c log.c log.0,62 0,478 0,478 Jadi: W = = = = = 1, 101 ribuan tahun 2.log. r 2.log.0,80 2( 0,217) 0,434 Seperti sudah dikemukakan di atas untuk memperoleh jangka kesalahan, maka waktu yang lama (1,082) dikurangi dengan waktu yang baru (1,101) = 19 tahun dengan catatan setelah waktu pisah bahasa tersebut sebelum dikurangkan terlebih dahulu dikali seribu, atau hasil akhir dikalikan seribu untuk menghubungkannya dengan tahun sekarang, angka inilah yang harus ditambah dan dikurangi dengan waktu yang lama untuk memperoleh usia atau waktu pisah kedua bahasa itu. 4.4 Menghitung prediksi usia kedua bahasa Jadi, dengan memperhitungkan angka dalam jangka kesalahan standar 70 % dari keadaan sebenarnya), maka prediksi umur atau usia bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun dapat dinyatakan sebagai berikut : 1. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun merupakan bahasa tunggal pada tahun yang lalu. 2. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun merupakan bahasa tunggal pada tahun yang lalu 3. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun diprediksikan usianya antara tahun (dihitung dari tahun 2009). 85

87 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan uraian teoritis yang dikemukakan pada kajian Leksikostatistik memberi perbandingan antara bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun yang diperoleh dari objek penelitian yaitu di desa Tamba Nagodang Kecamatan Sito-tio Kabupaten Samosir untuk bahasa Batak Toba dan Bahasa Simalungun di Desa Bangun Raya Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun serta buku-buku yang mendukung dan yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini, maka penulis dapat menarik kesimpulan setelah menganalisis dari bab pertama sampai pada bab keempat adalah sebagai berikut: 1. Bahasa merupakan salah satu unsur-unsur kebudayaan yang peranannya sangat penting sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan maksud dan pokok pikiran manusia serta mengekspresikan dirinya di dalam interaksi kemasyarakatan dan pergaulan hidupnya. 2. Bahasa selalu berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh yang di dapat dari lingkungan. 3. Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu 86

88 berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. 4. Sesudah menetapkan kata-kata kerabat dengan prosedur seperti yang dikemukakan di atas, maka dapat ditetapkan besarnya persentase kekerabatan antara kedua bahasa itu. Dari 809 kata untuk bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun hanya terdapat 802 pasangan kata yang lengkap, 7 kata yang tidak diperhitungkan dan 502 kata yang berkerabat. 5. Prediksi umur atau usia bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun dapat dinyatakan sebagai berikut : a. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun merupakan bahasa tunggal pada tahun yang lalu. b. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun merupakan bahasa tunggal pada tahun yang lalu c. Bahasa Batak Toba dan bahasa Simalungun diprediksikan usianya antara tahun (dihitung dari tahun 2009). 87

89 Saran Pada akhirnya setelah memperhatikan dan menganalisa mengenai Leksiokostatistik bahasa Batak Toba di Samosir dan bahasa Simalungun, penulis dapat memberi saran : 1. Pembinaan bahasa daerah yang tumbuh berdampingan dengan bahasa Indonesia yang tertera dalam UUD 1945, pada Bab XV pasal 36 ayat 2, yang menyatakan bahwa disamping bahasa resmi Negara, bahasa daerah adalah sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional yang dillindungi dan di lestarikan oleh Negara agar ditingkat dan bukan hanya simbol tertulis belaka karena setiap daerah yang ada di seluruh pelosok yang kita cintai ini memiliki banyak bahasa daerah yang berbeda-beda bentuk dan dialek bahasa yang beranekaragam dan seluruhnya ada di negara kita ini. 2. Di era globalisasi ini bahasa daerah sudah semakin terkikis oleh sebab itu kita sebagai bangsa Indonesia yang beragam suku harus melestarikan budaya dan bahasa ibu (basic vocabulary) agar terpelihara dengan baik. 3. Pembelajaran bahasa daerah dan aksara Batak supaya diberlakukan pada sekolah sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah lanjutan sebagai upaya yang nyata dan merupakan bukti yang sangat baik dalam pelestarian bahasa dan sastra etnik yang ada diseluruh pelosok tanah air ini. 4. Kiranya skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan penulis sendiri. 88

90 DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul, Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta. Ibrahim, Abd. Syukur, Linguistik Komparatif(Sajian Bunga Rampai). Surabaya: PT Usaha Nasional. Idrus, Fahmi,.. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.Surabaya: PT Greisinda Press. Indriani, Ika, Leksikostatistik Bahasa Batak Toba dengan Bahasa Pakpak Dairi. Fakultas Sastra USU. Medan. Keraf, Goris Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia. Mahsun Dialektologi Diakronis. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Metode Penelitian Bahasa. Jakarta. PT Grafindo Persada. Nababan, P. W. J Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia. Parera, Jos Daniel Studi Linguistik Umum dan Historis Bandingan. Jakarta: Nusa Indah. Ridwan, T. A Dasar-Dasar linguistik. Medan: STBA Harapan. Sibarani, Robert, Antropolinguistik.Medan: PT Poda Sibarani, Robert Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesusastraan Indonesia/ Daerah. Medan, USU. Warneck, J, Kamus Bahasa Batak Toba Bahasa Indonesia. Medan: Bina Media... Kamus Bahasa Batak Toba Bahasa Simalungun. Medan: Bina Media. 89

91 Lampiran 1 90

92 91

93 Lampiran 2 92

94 93

95 Lampiran 3 DAFTAR KOSAKATA No Glos Bahasa Batak Toba Bahasa Simalungun 1. Alis Salibon Alis 2. Bahu Abara Abara 3. Betis Bitis, botohon Bitis 4. Bibir Pamangan Bibir 5. Bulu dada Imbulu ni andora Ambulu ni tonton 6. Bulu ketiak Imbulu ni gedek gedek Ambulu ni kihik 7. Bulu kuduk Imbulu ni tariti Ambulu ni borgok 8. Bulu roma Marsisir imbulu Manorgi ambulu 9. Dada Andora Tonton 10. Daging Pamatang Akkula, daging 11. Dagu Osang Osang 12. Dahi Pardompahan Pardompakan 13. Darah Mudar Daroh 14. Geraham Ngadol Ngadol 15. Gigi Ipon Ipon 16. Gigi seri Panggugat Gugut 17. Gigi yang bertumpuk Pinjilon Padehal tumbuhnya 18. Gigi yang menonjol Tuja Dungil keluar 19. Gusi Siratan Gusi 20. Hati Ate ate Atei 21. Hidung Parnianggoan, Igung Igung 22. Ibu jari Inang ni tangan Ompu-ompu 94

96 23. Isi tulang Umok ni holi holi Utok-utok ni holi-holi 24. Jantung Pusu pusu Pusu-pusu 25. Janggut Janggut Janggut 26. Jari Jari jari Jajari 27. Jari manis Jari tonggi Amborita 28. Jari tengah Jari tonga Tutu alang 29. Kaki Simanjojak, pat Nahei 30. Kelingking Dihil Didihil 31. Kemaluan laki laki Situmorjok Natu 32. Kemaluan perempuan Situmeak Tete 33. Kepala Simanjujung Ulu 34. Kerongkongan Aru aru Tolonan 35. Ketiak Gitik gitik Kihik 36. Kuku Sisilon Sisilon 37. Kulit Huling kuling Hulit 38. Kumis Mise Gumis 39. Kutu Hutu Hutu 40. Leher Rungkung Borgok 41. Lemak Lambiak Lambuyak 42. Lengan Pargolangan Batokan 43. Lidah Dila Dila 44. Ludah Ijur Tijur 45. Lutut Dugul dugul Tohod 46. Mata Simalolong Mata 47. Mata kaki Mata pat Mata ari ni nahei 48. Mata susu Tarusan Tadah 49. Muka Bohi Bohi 50. Mulut Pamangan, papangan Babah 51. Ompong Lobangon Lubangon 95

97 52. Otak Utok utok Otak 53. Paha Hae hae Hae-hae 54. Pantat Ihur Tombom 55. Paru paru Andora Orak-orak 56. Pelipis Imbulu mata, imbulu Ambulu mata simalolong 57. Pelupuk mata Topi mata Tepih mata 58. Pergelangan tangan Pargolangan tangan Pargolangan ni tangan 59. Perut Siubeon Boltok 60. Pinggang Gonting Binongei 61. Pinggul Tambon Popat 62. Pundak Abara Takkuhuk 63. Punggung Tanggurung Gurung 64. Pusar Pusok Hapisoran 65. Rambut Jambulan, Obut Jambulan, Ambulu 66. Rusuk Rusuk Kokak, rusuk 67. Siku Sukki Attolis 68. Susu Tarus Tadah, nunuk, nenneh 69. Tangan Sipangido, sipanjalo Tangan 70. Telapak kaki Jampal ni simanjojak Jappal 71. Telapak tangan Jampal ni simanjalo Tapak ni tangan 72. Telinga Siparange, pinggol Pinggol, Panangar 73. Telunjuk Sipanudu Tutuduh 74. Tembuni Pusok, Pusor Pusar 75. Tengkuk Rungkung Takkuhuk 76. Tubuh Pamatang, Badan Akkula, badan 77. Tulang kering Holi ni pat Holi ni nahei 78. Tulang rahang Osang-osang Ungar-ungar 79. Tumit Ujung ni pat Tambihul 96

98 80. Ubun ubun Sambubu Salimbubu 81. Urat Urat urat Urat 82. Usus Butuha Bituha 83. Warna hitam pada kulit Landong Kamah, hamah sejak lahir Kata ganti, sapaan, dan acuan 84. Dia Imana Ia 85. Kami Hanami Hanami 86. Kamu Hamu Ham, ho 87. Kamu sekalian Hamu sude Nasiam haganup 88. Kita Hita Hita 89. Laki laki Baoa Dalahi 90. Nama Goar Goran 91. Panggilan untuk laki laki Ucok Ussok kecil 92. Panggilan untuk gadis Butet Butet kecil 93. Panggilan untuk gadis remaja Anak boru, namarbaju Anak boru sampean bunga, anak boru marlajar 94. Panggilan untuk laki laki Doli doli Marlajar garama remaja 95. Panggilan untuk laki laki Ompung Ompung dalahi tua 96. Panggilan untuk Ompung boru Ompung daboru perempuan tua 97. Perempuan Borua Daboru 98. Saya Au Ahu 97

99 99. Orang Jolma, Halak Halak Sistem kekerabatan 100. Adik Anggi Adek 101. Adik dari isteri Anggi boru, pariban Anggi, kian dalahi 102. Adik dari suami Anggi baoa, anggi borua Bapa tongah, inang tongah 103. Adik laki ayah/ibu Bapa uda, inang uda Bapa tongah, inang tongah 104. Adik perempuan Namboru, inang baju Amboru, inang anggi ayah/ibu 105. Anak Gelleng Niombah 106. Anak dari anak Pahompu Pahoppu 107. Anak dari cucu Ondok-ondok Nono 108. Anak dari saudara Gelleng ni abang, Niombah gelleng ni lae 109. Anak dari saudara ayah Angkang, Anggi, ito Sanina 110. Anak dari saudara ibu Angkang, Anggi, ito Lae, tondong 111. Anak kandung Gelleng tumatakkas Nasakkan 112. Anak tiri Anakni nadidapot Anak na ni dapot 113. Anak yang tertua Siangkangan Sikahanan 114. Anak yang termuda Siampudan Sianggian 115. Ayah Bapa Bapa 116. Ayah dari orang tua Ompung Ompung dalahi/ompung daboru 117. Ibu Inong, oma Inang 118. Ibu dari orang tua Ompung boru Ompung daboru 119. Isteri Pardijabu, Parsonduk Parinangonni bolon 120. Isteri adik laki laki ayah Inang uda Inang tongah 98

100 121. Isteri adik laki laki ibu Nantulang Anturang 122. Isteri kakak laki laki ayah Bapa tua Inang tua, inong godang 123. Isteri kakak laki laki ibu Bapa tua Anturang 124. Isteri dari saudara Anggi boru Kaha, anggi 125. Isteridari saudara orang Inang uda, inang tua Gawei tua 126. Kakak Angkang, ito Kaka 127. Kakak laki laki Haha doli, abang Abang 128. Kakak perempuan Angkang boru Kaka 129. Kakak laki laki dari ayah Bapa tua Bapa tua 130. Kakak laki laki dari ibu Tulang Inang tua, inang godang 131. Kakak perempuan dari Namboru Amboru ayah 132. Kakak perempuan dari Inang tua Inang tua, Inang godang ibu 133. Kakak dari kakak Angkang Kakak 134. Nenek moyang Sahala ni ompung, Sijolo tubu Ompung na ilobei hita, ompung parlobei 135. Orang tua dari suami Amang Simatua, Inang Simatua dalahi simatua 136. Orang tua dari isteri Amang simatua, inang Simatua daboru Simatua 137. Orangtua dari Simatua Orang tua suami/isteri 138. Pasangan suami isteri Marhotripe Satangga, nasatangga 139. Saudara laki laki Anggi, abang Abang 140. Saudara perempuan Anggi Botou 141. Saudara dari isteri Lae Botou 142. Saudara dari suami Eda Sanina 99

101 143. Suami adik perempuan Amang boru Amangkela ayah 144. Suami adik perempuan Tulang Panggis, bapa tongah ibu 145. Suami dari saudara Lae,ito lae 146. Suami dari saudara orang Amang simatua Ompung tua 147. Suami/isteri saudara Angkang, anggi Tulang, anturang isteri 148. Suami /isteri saudara Abang, anggi Amangkela, amboru suami 149. Suami /isteri dari anak Hela Parmaen 150. Suami kakak perempuan Amangboru Amangkela dari ayah 151. Suami kakak perempuan Bapa tua Tulang, anturang dari ibu Kehidupan desa dan masyarakat 152. Hamil Denggan pamatang Boratan rumah 153. Bekerja ditempat orang Marhobas Marhobas yang mengadakan pesta/meninggal 154. Bertunangan Martumpol Martunangan 155. Datang ketempat kenduri Mangolopi Roh hu pesta etek-etek 156. Datang memberi bantuan Mangalean tumpak Manumpak ketempat orang pesta/meninggal 157. Dukun Datu Panambari 158. Dukun sunat

102 159. Dukun bayi Sibaso Sibasoh 160. Juru tulis Panurat Panurat 161. Kawin Mangoli, muli Marhajabuan 162. Kawin lari Mangalua Marjabu uhur-uhur 163. Kawin dengan cara Pasu-pasu raja wanita datang ketempat penghulu 164. Kenduri Batang, ruma-ruma Pesta etek etek 165. Kepala desa Hampung Pangulu 166. Kepala kampung Hampung Gamot 167. Kerja bakti Marsiurupan Haroan bolon 168. Khatib Khitanan Lahir Tubu Tubuh 171. Melahirkan Manubuhon, partus Hipas 172. Mengandung Denggan pamatang Hamil 173. Menguburkan Mananom, Hutano Mananom 174. Meninggal Monding Matei, marujung ngoluh 175. Penghulu Ulu punguan Ului ni huta 176. Pemukul beduk Panggorsi Panggual 177. Upacara cuci perut Mambosuri Mambere horas-horas wanita hamil tujuh bulanan 178. Upacara puput pusar Sangsang robu robu, Pipil pusok mamipil pusok 179. Upacara turun tanah maronan-onan Patiga-tigahon 180. Upacara turun kesungai anak anak yang telah dikitan 101

103 Rumah dan bagianbagianya 181. Atap Taup, tarup Tayup 182. Atap dari bambu Butar, topas, gedek Butar, atap butar 183. Bubungan Bubusan Bukkulan 184. Dangau Sopo - sopo Sopou 185. Dapur Dapur Dapur 186. Dinding bambu Topas Dinding topas 187. Dinding tembok Dinding Dinding batu 188. Genteng Getteng Genteng 189. Halaman Pogu ni Alaman Alaman 190. Jendela Laba-laba Tikkap 191. Kamar Bilut Biluk 192. Kandang Handang Harang, kandang 193. Kandang ayam Handang ni manuk Harang ni dayok 194. Kandang kambing Handang ni hambing Harang ni hambing 195. Kandang kerbau Handang ni horbo Harang ni horbou 196. Kandang kuda Handang ni hoda Harang ni huda 197. Kandang merpati Huru-huruan Harang ni asas 198. Kasau Ulur Ulur 199. Kelenteng Langit langit Para-para Asbes 201. Lumbung Paremean Hobon 202. Pagar Handang Hondor 203. Palang dada Ulur Ulur 204. Para para Para-para Atas ni parapian 205. Pelimbahan Lubang-lubang Ianan ni toppah 206. Pintu Laba Labah 207. Pusaka Arta Pusakka 102

104 208. Ruang depan yang Alaman jabu Emper terbuka 209. Ruang rumah paling Pudi-pudi Dapur belakang 210. Rumah Jabu Jabu, rumah 211. Rumah kecil di tengah Sopo, sopo-sopo Sopou sawah 212. Surau Jabu Musolah 213. Tangga Andar Andar 214. Tempat tungku Tataring Dalihan 215. Tiang Tiang Tiang 216. Tungku Dalihan Dalihan Peralatan dan perlengkapan 217. Alat dari lontar untuk Hurungan Taduhan menyimpan hasil tangkapan ikan 218. Alat penumbuk padi Losung Losung mirip dengan perahu 219. Alat untuk membuat Tonunan Baliga benang tenun 220. Palu Tokkok Parpalu 221. Bajak Lukku 222. Bakul Batte Bahul-bahul 223. Bakul kecil Bahul bahul Bahul naetek 224. Balai balai Harungguan Pokkalan 225. Bambu untuk memasukkan benang tenun Turak - 103

105 226. Bant al Lakkian Battal 227. Cangkul Panggu Sangkul 228. Cobek Marigat Marigat 229. Dayung Hole hole Mandayung 230. Dingklik Suhi-suhi Sudut ni rumah 231. Gabus/kayu pada tali Gambal Tilampung pancing 232. Galah Alar Arjuk-arjuk 233. Gayung Tahu tahu Gayung 234. Gelas Galas Golas 235. Gergaji Gargaji Sihit 236. Jala besar Doton Jala na banggal 237. Jala kecil Durung Jala etek 238. Jarum Jarum Jarum 239. Kayu diatas pundak Auga Bengkok kerbau 240. Kain panjang Parompa Hio parombah 241. Tempat memasukkan Hundali - bajak 242. Kayu penggulung benang Hulhulan Gulungan tenun 243. Layar Labah Halikkip 244. Lesung Losung Losung 245. Nyiru Lambe Lambe gorsing 246. Panah Hujur Panah 247. Pancing Hail Hail 248. Parang Piso Parang ganjang 249. Parut kelapa Hurhuran Kukuran 250. Penumbuk Andalu Andalu 104

106 251. Perahu Solu Parau 252. Periuk Hudon Hudon 253. Pikulan Halung-kallung Mamorsan 254. Piring Pinggan Panganan 255. Pisau Raut, balati Pisou 256. Selimut Gobar Salimut 257. Sendok Sonduk Sonduk 258. Tali bajak Tali lukku Tempat beras Tandok, goni Parborasann 260. Tempat nasi dari bambu Bahul Tambahur 261. Tempayan Anduri Anduri 262. Tikar Amak Apei 263. Tongkat Tukkot Tukkot 264. Wajan Balanga Balanga Makanan dan minuman 265. Bubur Hassang ijo Bubur 266. Cendol Sendor Sendol 267. Dendeng Sale-sale Sale 268. Gulai Jagal na marhua Gulai 269. Jagung Jagul Jagul 270. Jeruk Utte Ettei 271. Kacang Hassang Kasang 272. Kerak Hukkus Korak 273. Kerupuk Harupuk Karupuk 274. Ketupat Lappet Kueh 275. Kue Hue Kueh 276. Kopi Hopi Kopi 277. Labu Labu Hondi 278. Lemang Lomang Lomang 105

107 279. Madu Aek ni loba Manisan 280. Makanan Siallangon Sipanganon 281. Mangga Mangga Mangga 282. Minuman Siinumon Siinumon 283. Nangka Pinasa Nakka 284. Nasi Indahan Indahan 285. Nasi basi Indahan na migar Indahan na basi 286. Nasi belum matang Indahan na ngaltep Indahan na lape masak 287. Nenas Honas Anas 288. Sagu Umok ni hau tuak Tuak, bagot 289. Sambal Hosea Sambal 290. Sayur Lalap Lowoh 291. Tapai ketan Tape pulut Tapei boras pulut 292. Tapai singkong Tape gadong Tapei gadung 293. Ubi Gadong Gadung Tumbu-tumbuhan, bagian, dan hasil olahannya 294. Akar Urat Urat 295. Alang alang Rih Rih 296. Anak dahan Ranggas Tupang 297. Aren, enau Tuak Tuak, bagot 298. Asam Asom Asam 299. Bambu Bulu Buluh 300. Batang Bona Hayuni 301. Bawang merah Bawang sigerger Bawang sigerger 302. Bawang putih Bawang silopak Bawang silopak 303. Benih Boni Bonih 304. Beras Harbue Boras 106

108 305. Beras kecil Monis Suyu 306. Beringin Baringin Baringin 307. Biji Batu Batuni, bijini 308. Buah Boras, parbue Buah 309. Bunga Bunga Bunga 310. Cabai Lasiak Lassina 311. Cabang Ranting Ranting 312. Cereme Eme na hatop marboras Omei podas marboras 313. Dahan Dakka Hayu 314. Daun Bulung Bulung 315. Dedak Dodak Dodak 316. Getah Gota Gotah 317. Halia Pege Pogei 318. Ijuk Aribut Aribut 319. Jerami Durame Anggala 320. Jambu batu Antajau Jambu kalutuk 321. Jambu mente Harimotting Kayu Hau Hayu 323. Kelapa Halambir Kalapa 324. Ketan Pulut Boras pulut 325. Ketimun Assimun Assimun 326. Kulit kayu Lampak ni hau Huli ni hayu 327. Kunyit Hunik Huning 328. Lada Lada Lada 329. Lengkuas Halaos Halawas 330. Lontar Happidi Happidi 331. Mandalika Hau mandalika Hayu mandalika 332. Minyak kelapa Minak tanakan Minak ni kalapa 333. Minyak tanah Miak tano, miak lappu Miak lampu 107

109 334. Nasi yang tidak termakan Rima rima Rimah yang menempel dibibir/jatuh di lantai 335. Padi Eme Omei 336. Pandan Bayon Pandan 337. Paria Paria Paria-paria 338. Papaya Botik Botik 339. Pinang Pining Pining 340. Pisang Gaol Galuh 341. Pohon Hau Hayu 342. Ranting Ratting Ratting 343. Rebung Tubis Taruhup 344. Rotan Hotang Hotang 345. Ruas Bubu Sengawan 346. Rumput Duhut Poyon 347. Sabut Kulit ni halambir, Sabut pining 348. Santan Sattan Sattan 349. Setandan pisang Satturdun Satturdun galuh 350. Sisir pisang Sassisir Sassisir galuh 351. Tebu Tobu Tobu 352. Tempurung Seak seak Sarib-sarib 353. Terung Terong Tuyung 354. Tuba Ittir ittir Andaliman 355. Ubi jalar Gadong julur Gadung julur 356. Ubi kayu Gadong hau Gadung hayu Binatang dan bagiannya 357. Anjing Asu, biang Baliang 108

110 358. Ayam Manuk Dayok 359. Ayam betina remaja Manuk ajar ajar Dayok 360. Ayam betina yang telah Manuk marpese Indung ni dayok beranak 361. Ayam jantan dewasa Jambe Sabungan 362. Babi Babi Babuin 363. Bangkai (binatang) Bakke Bangke 364. Bangkai (manusia) Namate Mayat 365. Belalang Balang Balang 366. Binatang Piaroon Pinahan 367. Buaya Banggik Buaya 368. Bulu sayap Habong Habong 369. Burung Pidong Manuk-manuk 370. Cacing Gea Sasing 371. Cecak boras pati Boras pati 372. Ekor Ihur Ihur 373. Gagak Sombob Manuk gagak 374. Ikan Ihan Ihan, dekke 375. Insang Akkip akkip Saring-saring 376. Jalu Sait pat ni manuk Nahei ni dayok 377. Kambing Hambing Hambing 378. Katak Sibagur Polang 379. Kelelawar Arip arip, haluang Likkaboh 380. Kerbau Horbo Horbou 381. Kucing Huting Huting 382. Kunang kunang Salimputput Salimpotpot 383. Kupu kupu Ampul-ampul Ampul-ampul 384. Kura kura Labi-labi Lebou 385. Laba laba Sijombing Lawa-lawah 109

111 386. Lalat Lanok Lanok 387. Lebah Ranggiting, harinuan Huramah 388. Lintah Littah Littah 389. Monyet Herek Hereh 390. Nyamuk Rongit Rongit 391. Penyu Labi-labi Attipa 392. Rayap Sarion Ngitngit 393. Rusa Ursa Ursa 394. Sayap Habong Habong 395. Sapi Lobbu Lombu 396. Semut Porhis Porkis 397. Sirip Saping Layar 398. Sisik Sisik Sisik ihan 399. Tanduk Tanduk Tanduk 400. Taring Sait Sait 401. Telur Tolor, pira Tolur 402. Tikus Bagudung, satua Bagudung 403. Tokek Ilik Habindoran 404. Tuma Tungo Hutuni dayok 405. Udang Udang Payak 406. Ular Gulok Kiok 407. Ulat Gulok-gulok Kiok-kiok Waktu, musim, keadaan alam, benda alam dan arah 408. Air Mual Bah 409. Air bah Sonak Bah nasumbang 410. Air laut Aek laut Bah ni laut 411. Air tawar Aek tio, mual tio Bah tawar 110

112 412. Api Api Apuy 413. Arang Agong Arang 414. Arus Purpur Aras 415. Asap Timus Timur 416. Atas Ginjang Gijang 417. Awan Ombun Hombun 418. Bara Narnar Agong 419. Barat Pastima Hasundutan 420. Batu Batu Batu 421. Batu api Batu mera Batu apui 422. Bawah Toru Toruh 423. Besi Bosi Bosi 424. Besok Marsogot Patar 425. Bintang seperti bajak Botari Bulan sabit 426. Bintang tanda keluar Manogot Poltak fajar 427. Bukit Dolok Dolok 428. Bulan Bulan Bulan 429. Bulan purnama Bulan tula Rondang bintang 430. Bulan terbit Poltak bulan Hapoltakan 431. Darat Darat Darat 432. Datar Bidang, hornop Rata 433. Debu Abu Abu 434. Di atas Di ginjang I atas 435. Di samping Di pingggir I samping 436. Di sana Isan, Disan I jai 437. Di sini Ion, dison I jon 438. Dua hari mendatang Dua ari na lao ro Haduan 439. Dua hari yang lalu Dua ari nalewat Nanjadihan 111

113 440. Dusun Huta Salorong 441. Emas Omas Omas 442. Embun Ombun Hombun 443. Empat hari mendatang Opat ari na lao ro Opat hari na laho roh 444. Empat hari yang lalu Opat ari na lewat Opat hari na dop salpu 445. Fajar Sogot Poltak mata ni ari 446. Garam Sira Garam 447. Gerhana Akkalau Tula 448. Gunung Dolok Dolok 449. Guntur Longgur, gojok gojok Longgur 450. Hari Ari Ari 451. Hujan Udan Udan 452. Hutan Harangan Harangan 453. Ini Nion Andon 454. Itu Nian Andai 455. Jalan(lebar) Dalan na bolak Dalan na bolak 456. Jalan (sempit) Dalan na sompit Dalan na eteki 457. Jurang Tungkis Lombang 458. Kabut Marombun Marhombun 459. Kanan Siamun Siamun 460. Kemarin Nantuari Nantuari 461. Kilat Hilap Hilap 462. Kiri Siambirang Sambilou 463. Ladang Juma, hauma Juma 464. Lahar Gambo na mohop Hubang na milas 465. Langit Langit Langit 466. Laut Laut Laut 467. Lereng Mereng Dolok dolok 468. Lima hari mendatang Lima ari na lao ro Lima ari nalao roh 112

114 469. Lima hari yang lalu Lima ari na salpu Lima ari na dop salpu 470. Malam Borngin Borngin 471. Mata air Mata mual Bah tubuh 472. Matahari Mataniari Mataniari 473. Mega (hitam) Ombun nabirong Borjog 474. Mega (putih) Ombun na lopak Torang 475. Muara sungai Bonani binanga Bona ni bah 476. Musim hujan Ari udan Musim udan, Parudan 477. Musim kemarau Logo ni ari Logou ni ari 478. Ombak Ombak, galumbang Gilumbang 479. Padang Bidang Bolag 480. Pagi Sogot Sogot 481. Pagi sekali Manogot Girah sogot 482. Pantai Topi tao Pinggir ni laut 483. Pasir Rihit Horsik 484. Langit Langit Langit 485. Sawah Sabah Sabah 486. Sebentar Satongkin Tokkin, sattokkin 487. Selatan Dangsina Dangsina 488. Senja Botari Samun 489. Siang Arian Siang 490. Sore Botari Botni ari 491. Sungai Binanga Bah mardalan 492. Tanah Tano Tanoh 493. Tahun Taon Taun 494. Tebing Tungkis Salahsah 495. Tepian Topian Pinggir 496. Tiga hari mendatang Tolu ari na lao ro Toluh ari na lao roh 497. Tiga hari yang lalu Tolu ari na salpu Toluh ari na dob salpu 113

115 498. Timur Purba Habissaran 499. Utara Utara Utara Bagian gerak dan kerja 500. Bangun dari duduk Jonjong Jongjong 501. Bangun dari tidur Dungo, Hissat Puho 502. Bekerja Karejo Marhorja 503. Berak Tete Martois 504. Berbaring Marjorbing Tibal-tibal 505. Berbicara Manghatai Marsahap 506. Berbisik Marhusip Marhusip 507. Berenang Marlange Marlangui 508. Bergerak Marhusor Marhusor 509. Berjalan Mardalan Mardalan 510. Berjongkok Hundul Maminggung 511. Berkelahi ( dengan Martumbuk Martenju tangan ) 512. Berkelahi ( dengan katakata) Marbadai mussung Martinggil 513. Berkembang ( pohon ) Mangarerak Marbanggal 514. Berkembang ( binatang ) Mamopar Marbanggal 515. Berlari Marikkati Marlittun 516. Berludah Marsitijur Martujur, martijur 517. Bermain Marmeam Marguro-guro 518. Bernafas Marhosa Marhosah 519. Berobah Muba Marubah 520. Berobat Marubat Martambar 521. Bersiul Marsiul Marsihul 522. Bertanya Manungkun Manungkun 523. bertemu Pajumpang Marjuppah 114

116 524. Bongkar Mambukka Marmuat 525. Cuci(pakaian ) Manussi abit Manussi pakean 526. Cuci ( tangan ) Parbasuhan Marburih 527. Datang Ro Roh 528. Duduk Hundul, marianan Hundul 529. Duduk kaki dilipat ( pria) Mangissorpi Mangussorpei 530. Duduk kaki dilipat ( Mangissorpi Mangussorpei wanita ) 531. Duduk kaki terjulur Mangintordang Pagostong nahei 532. Gantung Gattung Gattung 533. Ikut Dohot Dihut 534. Ingat Ingot Dingat 535. Jatuh ( daun,buah dll) Mardabuan Modopkon 536. Jatuh ( orang ) Madabu Madabuh 537. Kembali Mulak Mulak 538. Kencing Tiak Konsing 539. Kentut Muntut Muttut 540. Lari-lari kecil Marikat-ikat Marlittun nanget-naget 541. Makan ( nasi) Mangan Mangan 542. Makan ( selain nasi) Manganlangi Pangan-pangan 543. Marah Muruk, mangamuk Manggilah 544. Melihat Mamereng Manonggor 545. Melirik Manerbeng Manerleng 546. Melotot Mambollang Mamboddil 547. Memanah Manghujur Marsior 548. Memasak( nasi) Mangalompa Mardahan 549. Memasak ( sayur) Manayur Manayur 550. Membakar ( ikan ) Mamanggang Mamadar 551. Membakar ( sampah) Manutung Manutung toppoh 115

117 552. Membanting ( cucian ) Mamampas Mamaspas 553. Membawa Mamboan Mamboban 554. Membawa dengan ketiak Manghapit Mangkapit 555. Membawa dengan Mamundak Mangombah punggung 556. Membawa dengan tangan Manghintang Mangkatting ( jinjing) 557. Membawa dengan tangan Manjujung Mamboban diatas 558. Membawa di bahu Mangabarai Mamorsan 559. Membawa di kepala Manghunti Manjujung 560. Membawa di punggung Mangompa Mangombah 561. Membawa di pundak Manuak, manuhuk Mangakkat bai takkuhuk 562. Membersihkan Paiasson Paborsihkon 563. Memberi Mangalean Mambere 564. Memberi tahu Paboahon Patugahkon 565. Membuat dendeng Mambaen sale-sale Padearhon dendeng 566. Memburu hewan ( malam ) Marburu borngin Manrigap 567. Memburu hewan ( siang ) Marburu ditonga ni ari Marburu 568. Membunuh Pamatehon Mamunuh 569. Memegang Maniop Manjolom, manjamah 570. Memejamkan mata Papitpit mata Pitpit 571. Memotong (ikan ) Mamotong ihan Manayat ikan 572. Memotong ( kayu) Mamotong hau Mambolah 573. Memperoleh ( sesuatu Mandapot Mandapot siluah hadiah dll) 574. Memutar( meggunakan tali ) Mamiu Mamoroh 116

118 575. Menakutkan Mabiar Pabiarhon 576. Menarik Manarik Manoguh, toguh 577. Menarik ( benda dengan Manogu Manarik hewan ) 578. Mencari Mangalului Manorihi 579. Mencium ( bau ) Manganggo Manganggoh 580. Mencium ( cewek) Mangumma Mangummah 581. Mendengar Mambege Manangar, mambogei 582. Menebas pohon Manaba hau Manroboh 583. Mengambil ( daging Mambuat jagal Mambuat gulai otik sekerat) sakkorot 584. Mengalir Mardalan Mardalan 585. Menganyam Mambau Membayu 586. Mengapung Mubbang Mumbang 587. Menggali Mangokkal Mangkurak 588. Menggaruk( kepala,kulit) Manggarut ulu Manggarut ulu 589. Menggenggam Manggolom Manggolom 590. Menggigit(manusia) Mangharat Mangkarat 591. Menggigit( serangga) Mangngatngat Mangkarat 592. Menggosok (gigi) Manikat ipon Manikat ipon 593. Menggosok (kulit) Mangusa Mangusah 594. Menghitung Maretong Maretong, markira 595. Menghidupkan (api) Pangolu api, pagalak Marapui api 596. Mengikat Manakkut Manrahut 597. Mengikat(kayu) Manapol Manrahut 598. Mengikat ( kepala Marsangkut ulu Manrahut ulu dengan kain) 599. Menginjak dengan dua Mandege Mandogei dua nahei 117

119 kaki 600. Menginjak dengan satu Mandege Mandogei sada nahei kaki 601. Mengisap Mangossop Mangossop 602. Mengotorkan Mangkotori Mangkotori 603. Menguburkan Mananom Mananomkon 604. Mengulangi Mangulangi Mangulaki 605. Mengusap Mangusap Manlap, manasap 606. Menikam Manusuk Manobak 607. Menikam dari atas Manusuk sian ginjang Manobak han atas 608. Menikam dari bawah Manusuk sian toru Manobak han toru 609. Menikam dari belakang Manusuk sian pudi Manobak han pudi 610. Menikam dari depan Manusuk sian jolo Manobak han lobei 611. Meniup Mangombus Manompul 612. Meniru Maniru Maniru 613. Menjahit Manjarum Manjarum 614. Menjemur Manjomur Manjomur 615. Menyahut Mangalusi Mambalosi 616. Menyuruh Manuru Marsuruh, manuruh 617. Menyusui Manusui, manarus Painumhon 618. Merebus Mangarobus Mambolgang 619. Merumput i ( tanaman ) Manduhuti Manduhuti 620. Mimpi Marnipi Nipi 621. Minum Minum Minum 622. Muntah Muta Mutah 623. Petik Putik Putik 624. Pilih Pillit Pilihi 625. Pintar Malo, pistar Pandei 626. Putar Putar, husor Husor 118

120 627. Raba Dadap Dadap 628. Rangkul Dahop Rohop 629. Selam Marhonong Marhonong 630. Sentuh Dais Giut 631. Simpan Pabuni Sippan 632. Tabur Sampak Saburhon 633. Tambah Tambai Tambahi 634. Tangis( men- ) Tangis Tariluh 635. Telungkup Manungkap Takkop 636. Terbang Habang Habang 637. Tertawa Mengkel Tartawa 638. Tidur Modom Modom 639. Tukar(meN-kan) Mangganti Manggattih 640. Tunjuk Patudu Tulluk, tuduh 641. Turun Turun Turun 642. Tusuk Jujak Tojok 643. Urut Dampol Alut 644. Usap Dais Dais Perangai, sifat dan warna 645. Amis Sango Sahor 646. Asam Asom Migar 647. Angkuh Ginjang roha Gijang uhur 648. Bagus Denggan, jago Dear, jenges 649. Banyak Godang Bahat 650. Baru Naimbaru Baruh 651. Basah Maraek Bossot 652. Benar Toho, sintong Tongon 653. Bengkak Bongkak Butong 119

121 654. Berani Barani Pakkar, pag 655. Berat Borat Borat, tondi 656. Bersih Ias Borsih 657. Besar Balga Banggal 658. Biru Balau Balau 659. Bodoh Oto, loak Bokkap 660. Boros Derderan Loyar 661. Botak Salapsap Gundul 662. Bulat Gonong, leong Bokkou 663. Buta Pitung Pitung 664. Cantik Bagak Jenges 665. Cerdas Malo Pandei 666. Cokelat Soklat Sokalat 667. Dekat Jonok Dohor 668. Dingin(air) Manarisik Bah ngilu 669. Dingin(cuaca) Ngali Borgoh 670. Enak Tabo Mattin 671. Gelap Golap Golap 672. Gurih Tabo Molhut 673. Gemuk Mokmok Mombur 674. Halus Halus Lumat 675. Harum Angur Marium, morum 676. Haus Mauas Horahan 677. Hijau Rata Ratah 678. Cokelat Soklat Sokalat 679. Dekat Jonok Dohor 680. Dingin(air) Manarisik Bah ngilu 681. Dingin(cuaca) Ngali Borgoh 682. Enak Tabo Mattin 120

122 683. Gelap Golap Golap 684. Gurih Tabo Molhut 685. Gemuk Mokmok Mombur 686. Halus Halus Lumat 687. Harum Angur Marium, morum 688. Haus Mauas Horahan 689. Hijau Rata Ratah 690. Jauh Dao Daoh 691. Cokelat Soklat Sokalat 692. Dekat Jonok Dohor 693. Enak Tabo Mattin 694. Gelap Golap Golap 695. Gurih Tabo Molhut 696. Gemuk Mokmok Mombur 697. Halus Halus Lumat 698. Harum Angur Marium, morum 699. Haus Mauas Horahan 700. Hijau Rata Ratah 701. Licin Landit Malandit 702. Luas Bolak Bolak 703. Lurus Pintor Gostong 704. Malu Maila Maila 705. Manis Manis Manis 706. Manjur Pas Sosok, dearkossi 707. Marah Muruk, mangamuk Manggila 708. Merah Gerger, rara Sigerger 709. Miskin Pogos Sombuh 710. Muda Poso Posoh 711. Pahit Paet Paet 121

123 712. Panas Mohop Milas 713. Panjang Ganjang Ganjang 714. Pendek Jempek Pondok 715. Pemarah Parmuruk Panggila 716. Perajuk Pardandi, Parhene Margolut 717. Putih Bontar Lopak 718. Rajin Sikkap Ringgas 719. Rakus Gemor, mokkus Rakkah 720. Rendah Toru Toruh 721. Ringan Neang, hampung Happung 722. Sabar Sabar Sabar 723. Sakit Sahit Boritan 724. Sedikit Saotik Otik, bolon 725. Sejuk Lambok Torsuk 726. Sempit Sompit Soppit 727. Tahu Iboto Botoh 728. Tajam Tajom, marot Marot 729. Takut Mabiar Mabiar 730. Tampan Ganteng Ganteng 731. Kebal Jogal, Tahan Hobal 732. Tengah Tonga Tongah 733. Terang Tiur Siang 734. Terkejut Tarsonggot Tarsonggot 735. Terkenal Tarbarita Tarsar 736. Tinggi(gunung) Timbo ni dolok Dolok nagijang 737. Tinggi(orang) Timbo ni jolma Jolma na ganjang 738. Tipis Rampis Rappis 739. Tua Matua Toras 740. Tumpul Majol Majol 122

124 741. Ujung Pussu Pussa, ujung 742. Ungu Terong Terong 743. Usang Kotor, dorun Maos Penyakit 744. Batuk Batukon Kuhkuhan 745. Bekas luka Bokkas Tikas 746. Bisul Bisulon, baro Bayoh 747. Borok Hudis Rutu 748. Buta Pitung Lang Marpangidah 749. Congek Tukkikon Tukkihon 750. Demam Mohop, marsahit Milas borgohan 751. Gondok Barut Baruton 752. Luka Lukka Ugahan 753. Nanah Marnana Nanah 754. Obat Ubat Tambar 755. Panu Pano Panou 756. Pingsan Gale Moppas 757. Pusing Minggot Minggot 758. Sembuh Malum Malum 759. Tuli Nengel Lang marpanangar Pakaian dan perhiasan 760. Anting-anting Hurabu Kerabu, subang 761. Baju Abit Pakeans 762. Celana Salawar Salana 763. Celana dalam Sembat, kolor Sempak 764. Celana panjang Salawar ganjang Salana na ganjang 765. Celana pendek Salana jempek Salana na pondok 766. Cincin Tintin Sinsin 767. Gelang Golang Golang 123

125 768. Kalung Horung-korung Rantei 769. Kebaya Kabaya Kobaya 770. Kopiah Pessi Takkulup 771. Kutang Kaus Kaus 772. Sabuk Gondit, hohos Gondit 773. Sarung Mandar Hiou 774. Subang Pattang, tokka Atting-atting Bilangan dan ukuran 775. Delapan Walu Waluh 776. Delapan belas Sampulu walu Sappulu waluh 777. Dua Tuba Dua 778. Dua belas Sampulu dua Sappuluh dua 779. Dua puluh Dua puluh Dua puluh 780. Dua puluh lima Dua puluh lima Dua puluh lima 781. Empat Opat Oppat 782. Empat belas Sampuli opat Sappulu oppat 783. Enam Onom Onom 784. Enam belas Sampulu onom Sappulu onom 785. Lima belas Sampulu lima Sappuluh lima 786. Lima puluh Liam puluh Lima puluh 787. Satu Sada Sada 788. Sebelas Sampulu sada Sappulu dua 789. Sedepa Olat Sakkolat 790. Sehasta - Sangasta 791. Sejengkal Sanjokkal Sanjokkal 792. Sembilan Sia Siah 793. Sembilan belas Sampulu sia Sappuluh siah 794. Sepuluh Sampulu Sapuluh 795. Seratus Saratus Saratus 124

126 796. Seribu Saribu Saribu 797. Tiga Tolu Tolu 798. Tiga ratus Tolu ratus Tolu ratus 799. Tiga puluh Tolu pulu Tolu puluh 800. Tiga puluh dua Tolu pulu dua Tolu puluh dua 801. Tiga puluh empat Tolu pulu opat Tolu puluh oppat 802. Ukuran padi dalam ikat Saikkat Saikat kecil 803. Ukuran padi dalam dua Dua ikkat Dua ikat ikat kecil 804. Ukuran padi dua puluh Dua puluh lima ikkat Dua pulu ikat lima ikat besar na balga 805. Ukuran padi dua ratus Saluhutan Dua ratus lima puluh ikat lima puluh ikat besar 806. Ukuran padi empat ikat Opat ikkat Opat ikat kecil 807. Ukuran padi empat ikat Opat ikkat na gelleng Oppat ikat kecil ( = satu ikat besar) 808. Ukuran padi seratus ikat Saluhutan Saratus ikat besar 809. Ukuran padi seribu ikat besar Saluhutan Saribu ikat banggal; 125

127 Lampiran 4 DAFTAR INFORMAN a. Penutur Bahasa Batak Toba 1. a. Nama : Galugur Tamba b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Usia : 47 Tahun d. Tempat Lahir : Sipintor, e. Pendidikan : SMA f. Pekerjaan : Kepala Desa g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Tamba Pardomuan 2. a. Nama : Sahat Maruli Tamba b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Usia : 34 Tahun d.tempat/tgl lahir : Sosor Pasir, e. Pendidikan : SMA f. Pekerjaan : Sekretaris Desa g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Tamba Pardomuan 3. a. Nama : Jabangun Tamba b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Usia : 36 Tahun d. Tempat/Tgl lahir : Sosor Pasir, e. Pendidikan : SMA f. Pekerjaan : Petani g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir 126

128 h. Orang tua informan berasal dari: Tamba Pardomuan 4. a. Nama : Hiras Simarmata b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Usia : 30 Tahun d. Tempat/Tgl lahir : Sosor Pasir, e. Pendidikan : SMP f. Pekerjaan : Petani g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Tamba Pardomuan 5. a. Nama : Tarapul Tamba b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Usia : 34 Tahun d. Tempat/Tgl lahir : Sosor Pasir, e. Pendidikan : SMA f. Pekerjaan : Petani g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Tamba Pardomuan 127

129 b. Penutur Bahasa Simalungun 1. a. Nama : H br.sinaga b. Jenis Kelamin : Perempuan c. Usia : 58 tahun d. Tempat Lahir : Naga tongah. e. Pendidikan : SPG f. Pekerjaan : Guru g. Tinggal di tempat ini sejak: 1974 h. Orang tua informan berasal dari: Pematang raya 2. a. Nama : Ganda M. Manik,ST. b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Usia : 27 Tahun d. Tempat Lahir : Pematang Siantar e. Pendidikan : S 1 f. Pekerjaan : Guru Honor SMK g. Tinggal di tempat ini sejak: 1980 h. Orang tua informan berasal dari: Pematang Siantar 3. a. Nama : Jon Parlindungan Saragih b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Usia : 35 Tahun d. Tempat /Tgl Lahir : Bangun Raya, 27 April 1972 e. Pendidikan : S1 f. Pekerjaan : Kaur Pemerintahan Desa g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Bangun Raya 128

130 4. a. Nama : Aman Damanik b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Usia : 35 Tahun d. Tempat /Tgl Lahir : Sindar Raya, 27 Juli 1972 e. Pendidikan : S1 f. Pekerjaan : PNS g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Pematang Siantar 5. a. Nama : Kariando Saragih b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Usia : 30 Tahun d. Tempat /Tgl Lahir : Bangun Raya, 07 Desember 1977 e. Pendidikan : SMA f. Pekerjaan : Petani g. Tinggal di tempat ini sejak: Lahir h. Orang tua informan berasal dari: Bangun Raya 129

131 Lampiran 5 DAFTAR PETA Gambar Peta Kabupaten Simalungun 130

132 Gambar Peta Kabupaten Samosir 131

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Untuk menulis suatu karya ilmiah, bukanlah pekerjaan yang mudah dan gampang. Seorang penulis harus mencari dan mengumpulkan data-data yang akurat serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku (etnis) yang masing-masing

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku (etnis) yang masing-masing BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku (etnis) yang masing-masing suku tersebut memiliki nilai budaya yang dapat membedakan ciri satu dengan yang lainya.

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SIMALUNGUN. II.1. Letak Geografis dan Sejarah Kabupaten Simalungun

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SIMALUNGUN. II.1. Letak Geografis dan Sejarah Kabupaten Simalungun BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SIMALUNGUN II.1. Letak Geografis dan Sejarah Kabupaten Simalungun II.1.1. Geografis Secara geografis, Kabupaten Simalungun terletak di antara 36' 2-3 18 Lintang Utara dan

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SIMALUNGUN

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SIMALUNGUN HABONARON DO BONA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SIMALUNGUN Sekapur Sirih Sebagai pengemban amanat Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan sejalan dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pernah diteliti. Tetapi penelitian yang relevan sudah pernah ada, yakni sebagai

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pernah diteliti. Tetapi penelitian yang relevan sudah pernah ada, yakni sebagai BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian yang Relevan Sebelumnya Sepanjang pengetahuan peneliti permasalahan tentang Kajian Historis Komparatif pada Bahasa Banggai, Bahasa Saluan, dan Bahasa Balantak belum pernah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan dan peran serta petani dan

PENDAHULUAN. berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan dan peran serta petani dan PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pertanian menghendaki pertanian yang dinamis yaitu pertanian yang dicirikan antara lain oleh penggunaan tekhnologi baru yang berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses peningkatan kualitas

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses peningkatan kualitas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sehingga dinilai lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan pembangunan wilayah

Lebih terperinci

Mulai. Pengumpulan Data. Tidak. Cukup. Ya Formulasi Masalah. Evaluasi Aspek. Selesai

Mulai. Pengumpulan Data. Tidak. Cukup. Ya Formulasi Masalah. Evaluasi Aspek. Selesai Lampiran 1. Flowchart penelitian Mulai Pengumpulan Data Data primer Data Sekunder Tidak Cukup Ya Formulasi Masalah Evaluasi Aspek Selesai Lampiran 2. Kuisioner pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian PEMANFAATAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada pada sektor

PENDAHULUAN. banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada pada sektor PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia adalah merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk

Lebih terperinci

KLASIFIKASI LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MELAYU LANGKAT, BAHASA MELAYU DELI, DAN BAHASA DAIRI PAKPAK

KLASIFIKASI LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MELAYU LANGKAT, BAHASA MELAYU DELI, DAN BAHASA DAIRI PAKPAK KLASIFIKASI LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MELAYU LANGKAT, BAHASA MELAYU DELI, DAN BAHASA DAIRI PAKPAK Jurnal Skripsi Oleh : Nursirwan NIM A2A008038 FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012 Klasifikasi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. dengan sektor pertanian karena merupakan sumber pangan pokok.

PENDAHULUAN. dengan sektor pertanian karena merupakan sumber pangan pokok. PENDAHULUAN Latar belakang Masalah ketahanan pangan masih menjadi isu strategis yang perlu mendapat perhatian dan prioritas dari semua pihak. Ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan rumus-rumus perhitungan tingkat kekerabatan serta usia bahasa

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan rumus-rumus perhitungan tingkat kekerabatan serta usia bahasa BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Suatu penelitian akan dikatakan berhasil apabila menggunakan metode yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistika bahasa

Lebih terperinci

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP)

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP) BPS BADAN KABUPATEN PUSAT STATISTIK SIMALUNGUN No. 02/12/1209/Th. XVI, 2 Desember 2013 HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP) RUMAH TANGGA PETANI GUREM TAHUN 2013 SEBANYAK 62.188 RUMAH TANGGA, TURUN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu daerah di Indonesia dan suku Simalungun menjadikan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu daerah di Indonesia dan suku Simalungun menjadikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Batak Simalungun merupakan bahasa yang digunakan oleh suku Simalungun yang mendiami Kabupaten Simalungun. Bahasa Batak Simalungun merupakan salah satu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. daerah disekitarnya, sehingga kondisi suatu sungai sangat dipengaruhi oleh

PENDAHULUAN. daerah disekitarnya, sehingga kondisi suatu sungai sangat dipengaruhi oleh PENDAHULUAN Latar Belakang Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi daerah disekitarnya, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perasaan (Sumarsono, 2004: 21).Selanjutnya, dengan bahasa orang-orang dapat berinteraksi

BAB I PENDAHULUAN. perasaan (Sumarsono, 2004: 21).Selanjutnya, dengan bahasa orang-orang dapat berinteraksi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan buah pikiran dan perasaan (Sumarsono, 2004: 21).Selanjutnya, dengan bahasa orang-orang dapat berinteraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Utara.Sumatera Utara juga memiliki kebudayaan yang beragam.

BAB I PENDAHULUAN. Utara.Sumatera Utara juga memiliki kebudayaan yang beragam. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di pulau Sumatera, berbatasan dengan Aceh disebelah utara dan dengan Sumatera Barat serta Riau disebelah selatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mewujudkan pemekaran kabupaten Simalungun. Adanya pergantian anggota dewan untuk 5 tahun ke depan pasca

BAB I PENDAHULUAN. untuk mewujudkan pemekaran kabupaten Simalungun. Adanya pergantian anggota dewan untuk 5 tahun ke depan pasca 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemekaran kabupaten Simalungun seperti sebuah kemustahilan, hal ini jika dilihat dari pertama kali dilontarkan tanggal 22 Juni 2001 sampai sekarang belum terealisasi.

Lebih terperinci

KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK SIMALUNGUN KAJIAN : LEKSIKOSTATISTIK SKRIPSI DISUSUN OLEH: RETTA SILITONGA

KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK SIMALUNGUN KAJIAN : LEKSIKOSTATISTIK SKRIPSI DISUSUN OLEH: RETTA SILITONGA KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK SIMALUNGUN KAJIAN : LEKSIKOSTATISTIK SKRIPSI DISUSUN OLEH: RETTA SILITONGA 100701003 DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

Andiopenta Purba PBS FKIP dan FIB Universitas Jambi

Andiopenta Purba PBS FKIP dan FIB Universitas Jambi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Konteks Global SISTEM KEKERABATAN DAN SAPAAN BAHASA SIMALUNGUN PEMANFAATAN BUDAYA SEBAGAI MATERI AJAR BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF(COMUNICATIVE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.1.1 Latar Belakang Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pak-pak Dairi, dan Batak Angkola Mandailing.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1998 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TOBA SAMOSIR DAN KABUPATEN DAERAH TINGKAT II MANDAILING NATAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

maupun daerah untuk mempercepat tercapainya pembangunan ekonomi. lahirnya dua produk undang-undang, yaitu Undang-undang No.

maupun daerah untuk mempercepat tercapainya pembangunan ekonomi. lahirnya dua produk undang-undang, yaitu Undang-undang No. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap orang menginginkan pembangunan dan setiap negara bekerja keras untuk pembangunan. Memang kemajuan ekonomi adalah komponen utama pembangunan, tetapi bukan merupakan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK METAFORA DALAM BAHASA BATAK TOBA SKRIPSI SARJANA Dikerjakan O L E H NAMA : LENCI OMPUSUNGGU NIM : 040703010 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA DEPARTEMEN SASTRA DAERAH PROGRAM STUDI BAHASA DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hanya ditunjukkan kepada masyarakat Batak Toba saja. Batak Toba adalah sub atau bagian dari suku bangsa Batak yang

BAB I PENDAHULUAN. hanya ditunjukkan kepada masyarakat Batak Toba saja. Batak Toba adalah sub atau bagian dari suku bangsa Batak yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Batak terdiri dari beberapa etnik yaitu Toba, Simalungun, Karo, Angkola/Mandailing dan Pakpak Dairi. Namun sekarang ini sebutan Batak hanya ditunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat tersebut yang berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat tersebut yang berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia terhadap perbedaan suku bangsa dan budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Setiap daerah masing-masing

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SAMOSIR DAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SAMOSIR DAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI DI PROVINSI SUMATERA UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SAMOSIR DAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK MANDAILING

KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK MANDAILING KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DENGAN BAHASA BATAK MANDAILING Farida Meliana Hutabarat 1, Ermanto 2, Novia Juita 3 Program Studi Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Padang Email: [email protected]

Lebih terperinci

SKRIPSI SARJANA PEMEROLEHAN BAHASA MELAYU ANAK USIA 3-4 TAHUN PADA MASYARAKAT DESA PEKAN TANJUNG BERINGIN KECAMATAN

SKRIPSI SARJANA PEMEROLEHAN BAHASA MELAYU ANAK USIA 3-4 TAHUN PADA MASYARAKAT DESA PEKAN TANJUNG BERINGIN KECAMATAN SKRIPSI SARJANA PEMEROLEHAN BAHASA MELAYU ANAK USIA 3-4 TAHUN PADA MASYARAKAT DESA PEKAN TANJUNG BERINGIN KECAMATAN TANJUNG BERINGIN: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Dikerjakan NAMA O L E H : FITRI ARMAYA SARI

Lebih terperinci

RGS Mitra 1 of 14 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG

RGS Mitra 1 of 14 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG RGS Mitra 1 of 14 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SAMOSIR DAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis di Provinsi Sumatera Utara, suku Batak terdiri dari 5 sub etnis yaitu : Batak Toba (Tapanuli), Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau, beragam suku bangsa, kaya akan nilai budaya maupun kearifan lokal. Negara mengakui perbedaan

Lebih terperinci

BAB I PEDAHULUAN. tersebut telah menjadi tradisi tersendiri yang diturunkan secara turun-temurun

BAB I PEDAHULUAN. tersebut telah menjadi tradisi tersendiri yang diturunkan secara turun-temurun BAB I PEDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Semua etnis memiliki budaya yang

Lebih terperinci

FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR. Skripsi Sarjana O L E H : BILFERI HUTAPEA NIM :

FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR. Skripsi Sarjana O L E H : BILFERI HUTAPEA NIM : FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR Skripsi Sarjana O L E H NAMA : BILFERI HUTAPEA NIM : 070703004 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN SASTRA DAERAH

Lebih terperinci

b. Untuk memperkenalkan bahasa Batak Toba kepada masyarakat sebagai salah satu bahasa daerah yang turut memperkaya kebudayaan nasional.

b. Untuk memperkenalkan bahasa Batak Toba kepada masyarakat sebagai salah satu bahasa daerah yang turut memperkaya kebudayaan nasional. 1.4.2 Manfaat Penelitian a. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pemakaian kata sapaan dalam bahasa Batak Toba. b. Untuk memperkenalkan bahasa Batak Toba kepada masyarakat sebagai salah satu bahasa daerah

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN KAJIAN TERDAHULU. Konsep berkaitan dengan definisi-definisi atau pengertian-pengertian yang

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN KAJIAN TERDAHULU. Konsep berkaitan dengan definisi-definisi atau pengertian-pengertian yang BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN KAJIAN TERDAHULU 2.1 Konsep Konsep berkaitan dengan definisi-definisi atau pengertian-pengertian yang menyangkut objek, proses, yang berkaitan dengan penelitian. Dalam

Lebih terperinci

LEKSIKOSTATISTIK BAHASA ACEH, BAHASA ALAS, DAN BAHASA GAYO: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF

LEKSIKOSTATISTIK BAHASA ACEH, BAHASA ALAS, DAN BAHASA GAYO: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF LEKSIKOSTATISTIK BAHASA ACEH, BAHASA ALAS, DAN BAHASA GAYO: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Jurnal Skripsi Oleh: Kurnia Novita Sari NIM A2A008030 FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada bentuknya yang sekarang sudah pasti bahasa-bahasa itu mengalami

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada bentuknya yang sekarang sudah pasti bahasa-bahasa itu mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa-bahasa yang hidup dewasa ini tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai pada bentuknya yang sekarang sudah pasti bahasa-bahasa itu mengalami perjalanan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA LUMBAN SILINTONG KECAMATAN BALIGE ( )

PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA LUMBAN SILINTONG KECAMATAN BALIGE ( ) PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA LUMBAN SILINTONG KECAMATAN BALIGE (1990-2003) SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA : EKO RENOLD TAMBUNAN NIM : 080706018 DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU

Lebih terperinci

Bahasa sebagai realisasi budaya manusia mengalami perubahan dan. dan perkembangan pola kehidupan manusia sebagai pemilik dan pengguna

Bahasa sebagai realisasi budaya manusia mengalami perubahan dan. dan perkembangan pola kehidupan manusia sebagai pemilik dan pengguna BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sebagai realisasi budaya manusia mengalami perubahan dan perkembangan dalam perjalanan waktunya. Hal itu dimungkinkan oleh perubahan dan perkembangan pola kehidupan

Lebih terperinci

Dilakukan. Komponen STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI

Dilakukan. Komponen STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI Komponen Ya Dilakukan Tidak Pengertian Gerakan/sentuhan yang diberikan pada bayi setiap hari selama 15 menit, untuk memacu sistem sirkulasi bayi dan denyut

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013 GORGA SOPO GODANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA : KAJIAN SEMIOTIK SKRIPSI SARJANA Dikerjakan Oleh NAMA : RAYKING NIM : 090703005 PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FAKULTAS ILMU

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN AJIBATA KABUPATEN TOBA SAMOSIR ( )

BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN AJIBATA KABUPATEN TOBA SAMOSIR ( ) BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN AJIBATA KABUPATEN TOBA SAMOSIR (1998-2005) 2.1 Letak Geografis dan Keadaan Alam Kecamatan Ajibata merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Toba Samosir dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN OBJEK UMUM PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI. A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar

BAB II GAMBARAN OBJEK UMUM PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI. A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar 15 BAB II GAMBARAN OBJEK UMUM PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar berdiri sejak tanggal 19

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian sangat dibutuhkan karena bertujuan untuk memecahkan suatu masalah yang diteliti tersebut, agar apa yang diharapkan dapat tercapai. Metode yang digunakan dalam

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK FENOMENA PILIHAN HIDUP TIDAK MENIKAH (STUDI DESKRIPTIF PADA WANITA KARIR ETNIS BATAK TOBA DI KOTA MEDAN) SKRIPSI Diajukan Oleh PRIMA DAFRINA

Lebih terperinci

KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MUNA, BAHASA CIA-CIA DAN BAHASA WOLIO DI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MUNA, BAHASA CIA-CIA DAN BAHASA WOLIO DI SULAWESI TENGGARA 1 KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK BAHASA MUNA, BAHASA CIA-CIA DAN BAHASA WOLIO DI SULAWESI TENGGARA Oleh La Ode Rely (Ketua) Fatmah AR. Umar (Anggota 1) Salam (Anggota 2) Universitas Negeri Gorontalo Program Studi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penelitian dalam bidang struktur atau kaidah bahasa-bahasa di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Penelitian dalam bidang struktur atau kaidah bahasa-bahasa di Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian dalam bidang struktur atau kaidah bahasa-bahasa di Indonesia sudah banyak dilakukan. Namun tidak demikian penelitian mengenai ragamragam bahasa dan dialek.

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Simalungun Tahun 2013 sebanyak rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Simalungun Tahun 2013 sebanyak rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Simalungun Tahun 2013 sebanyak 126.332 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Simalungun Tahun 2013 sebanyak 33 Perusahaan

Lebih terperinci

RELASI MAKNA DALAM BAHASA MELAYU DESA PANTAI LABU BARU, KABUPATEN DELI SERDANG. Skripsi. Dikerjakan Oleh, NAMA : SATRIA SINAGA NIM :

RELASI MAKNA DALAM BAHASA MELAYU DESA PANTAI LABU BARU, KABUPATEN DELI SERDANG. Skripsi. Dikerjakan Oleh, NAMA : SATRIA SINAGA NIM : RELASI MAKNA DALAM BAHASA MELAYU DESA PANTAI LABU BARU, KABUPATEN DELI SERDANG Skripsi Dikerjakan Oleh, NAMA : SATRIA SINAGA NIM : 090702005 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN SASTRA

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN LOKASI PKLM. A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar. perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu :

BAB II GAMBARAN LOKASI PKLM. A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar. perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu : BAB II GAMBARAN LOKASI PKLM A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar berdiri sejak tanggal 19 September 2008. Organisasi Direktorat

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang Masalah

1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara multi kulturalisme yang di dalamnya terdapat beranekaragam suku. Batak merupakan sebuah suku di Sumatera Utara, adapun Suku batak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun terbagi atas beberapa bagian seperti upacara adat Marhajabuan

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun terbagi atas beberapa bagian seperti upacara adat Marhajabuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Etnis Simalungun memiliki kebudayaan yang banyak menghasilkan kesenian daerah dan upacara adat, dan hal tersebut masih dilakukan oleh masyarakat Simalungun sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara pertanian, artinya memegang peranan penting dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara pertanian, artinya memegang peranan penting dari BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian, artinya memegang peranan penting dari seluruh perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk dan tenaga

Lebih terperinci

KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas)

KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas) KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas) SKRIPSI Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam etnis dan setiap etnis

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam etnis dan setiap etnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam etnis dan setiap etnis mempunyai bahasa daerah masing-masing. Setiap etnis tersebut dalam percakapan sehari-hari tidak

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam waktu tersebut (Keraf

BAB II KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam waktu tersebut (Keraf BAB II KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Linguistik Historis Komparatif Linguistik historis komparatif adalah cabang ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia. Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan. Sebagai bagian dari

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia. Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan. Sebagai bagian dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan salah satu bagian dalam kebudayaan yang ada pada semua masyarakat di dunia. Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan. Sebagai bagian dari kebudayaan

Lebih terperinci

MAKNA NAMA ORANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN BALIGE SKRIPSI OLEH ENI EFRIDA SINAGA

MAKNA NAMA ORANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN BALIGE SKRIPSI OLEH ENI EFRIDA SINAGA MAKNA NAMA ORANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN BALIGE SKRIPSI OLEH ENI EFRIDA SINAGA 050701003 DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 1 PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

ANALISIS ADAPTASI UPACARA MINUM TEH ( CHANOYU ) DI INDONESIA INDONESIA NO CHANOYU NO TEKIOU NO BUNSEKI. Skripsi

ANALISIS ADAPTASI UPACARA MINUM TEH ( CHANOYU ) DI INDONESIA INDONESIA NO CHANOYU NO TEKIOU NO BUNSEKI. Skripsi ANALISIS ADAPTASI UPACARA MINUM TEH ( CHANOYU ) DI INDONESIA INDONESIA NO CHANOYU NO TEKIOU NO BUNSEKI Skripsi Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Medan Untuk Melengkapi Salah Satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah alat penghubung, alat komunikasi anggota masyarakat yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah alat penghubung, alat komunikasi anggota masyarakat yaitu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh manusia sangat penting peranannya dalam masyarakat, karena tanpa bahasa manusia akan sulit untuk menyampaikan ide

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Suku ini banyak mendiami wilayah Provinsi Sumatera Utara,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Suku ini banyak mendiami wilayah Provinsi Sumatera Utara, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia. Suku ini banyak mendiami wilayah Provinsi Sumatera Utara, khususnya daerah di sekitar Danau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hak dan kewajiban yang baru atau ketika individu telah menikah, status yang

BAB I PENDAHULUAN. hak dan kewajiban yang baru atau ketika individu telah menikah, status yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam masyarakat, perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan merupakan suatu pranata dalam

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 SKRIPSI ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA CERITA RAKYAT SI PISO SUMALIM DI KECAMATAN PALIPI KABUPATEN SAMOSIR DIKERJAKAN O L E H Nama : CHRISTANTO MICHAEL PANJAITAN Nim : 070703008 PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian mengenai isoglos dialek bahasa Jawa di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini termasuk dalam penelitian lapangan (field study) baik penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri dalam suatu masyarakat. Berbagai status sosial dan budaya dalam masyarakat sangat memengaruhi perkembangan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini akan dipaparkan metodologi penelitian yang mencakup desain penelitian, partisipasi dan tempat penelitian, pengumpulan data, dan analisis data. Adapun pemaparan

Lebih terperinci

PEDOMAN MEMIJAT PADA BAYI DAN ANAK. ppkc

PEDOMAN MEMIJAT PADA BAYI DAN ANAK. ppkc PEDOMAN MEMIJAT PADA BAYI DAN ANAK ppkc Terapi Sentuh (Touch Therapy) Metode sentuh untuk sehat adalah pendekatan atau terobosan baru dalam pemeliharaan kesehatan. Metode inipun bisa digabungkan dengan

Lebih terperinci

NILAI KERJA PERTANIAN PADA MAHASISWA BATAK TOBA (Kasus Pada Mahasiswa Batak Toba Angkatan Tahun 2005 Institut Pertanian Bogor)

NILAI KERJA PERTANIAN PADA MAHASISWA BATAK TOBA (Kasus Pada Mahasiswa Batak Toba Angkatan Tahun 2005 Institut Pertanian Bogor) NILAI KERJA PERTANIAN PADA MAHASISWA BATAK TOBA (Kasus Pada Mahasiswa Batak Toba Angkatan Tahun 2005 Institut Pertanian Bogor) Oleh: Rianti TM Marbun A14204006 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR. 2.1.Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir.

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR. 2.1.Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir. BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR 2.1.Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir. Kabupaten Samosir merupakan sebuah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Toba Samosir. Diawali

Lebih terperinci

GLOTOKRONOLOGI BAHASA MASSENREMPULU DAN BAHASA MANDAR

GLOTOKRONOLOGI BAHASA MASSENREMPULU DAN BAHASA MANDAR Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 GLOTOKRONOLOGI BAHASA MASSENREMPULU DAN BAHASA MANDAR Suparman 1, Charmilasari 2 Universitas Cokroaminoto Palopo 1 Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beragam ketentuan adat yang dimiliki. Kehidupan setiap etnis berbeda-beda. Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. beragam ketentuan adat yang dimiliki. Kehidupan setiap etnis berbeda-beda. Masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis dengan berbagai nilai budaya dan beragam ketentuan adat yang dimiliki. Kehidupan setiap etnis berbeda-beda.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki beranekaragam kebudayaan. Sebagaimana telah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki beranekaragam kebudayaan. Sebagaimana telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki beranekaragam kebudayaan. Sebagaimana telah diketahui bahwa penduduk Indonesia adalah multietnik (plural society). Indonesia merupakan negara

Lebih terperinci

BAB II LETAK DAN LOKASI PENELITIAN. dan kota terbesar kedua di provinsi tersebut setelah Medan. Karena letak

BAB II LETAK DAN LOKASI PENELITIAN. dan kota terbesar kedua di provinsi tersebut setelah Medan. Karena letak BAB II LETAK DAN LOKASI PENELITIAN 2.1 Kota Pematang Kota Pematang adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara, dan kota terbesar kedua di provinsi tersebut setelah Medan. Karena letak Pematang yang

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti (Bolinger

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti (Bolinger BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep 2.1.1 Makna Makna merupakan hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMOSIR 2.1. Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir Kabupaten Samosir merupakan sebuah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Toba Samosir. Diawali

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terdapat beranekaragam suku bangsa, yang memiliki adat-istiadat, tradisi dan

I. PENDAHULUAN. terdapat beranekaragam suku bangsa, yang memiliki adat-istiadat, tradisi dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang di dalamnya terdapat beranekaragam suku bangsa, yang memiliki adat-istiadat, tradisi dan kebiasaan yang

Lebih terperinci

MENERIMA DAN MEMROSES RESERVASI PADA HOTEL DANAU TOBA INTERNATIONAL MEDAN KERTAS KARYA DISUSUN : O L E H IRMA YULIDA PUTRI POHAN NIM :

MENERIMA DAN MEMROSES RESERVASI PADA HOTEL DANAU TOBA INTERNATIONAL MEDAN KERTAS KARYA DISUSUN : O L E H IRMA YULIDA PUTRI POHAN NIM : MENERIMA DAN MEMROSES RESERVASI PADA HOTEL DANAU TOBA INTERNATIONAL MEDAN KERTAS KARYA DISUSUN : O L E H IRMA YULIDA PUTRI POHAN NIM : 072204049 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA PROGRAM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa berperanan penting dalam kehidupan manusia dengan fungsinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa berperanan penting dalam kehidupan manusia dengan fungsinya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa berperanan penting dalam kehidupan manusia dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan ide-ide di dalam pikirannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Bungaran A. Simanjuntak, Konflik, status dan kekuasaan orang Batak Toba, Yogyakarta, Jendela, 2002, hal 10

BAB I PENDAHULUAN. 1 Bungaran A. Simanjuntak, Konflik, status dan kekuasaan orang Batak Toba, Yogyakarta, Jendela, 2002, hal 10 BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN A.1 LATAR BELAKANG MASALAH Orang Batak Toba sebagai salah satu sub suku Batak memiliki perangkat struktur dan sistem sosial yang merupakan warisan dari nenek moyang. Struktur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera merupakan pulau keenam terbesar

Lebih terperinci

CRITICAL REVIEW : DAMPAK RELOKASI PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN SIMALUNGUN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN RAYA

CRITICAL REVIEW : DAMPAK RELOKASI PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN SIMALUNGUN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN RAYA 2016 CRITICAL REVIEW : DAMPAK RELOKASI PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN SIMALUNGUN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN RAYA RETNO YUNIAR AZARINE 3614100027 MATA KULIAH : ANALISIS LOKASI DAN KERUANGAN JURUSAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bangsa yang multikultural terdiri dari ratusan suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bangsa yang multikultural terdiri dari ratusan suku BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan bangsa yang multikultural terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar di seluruh nusantara. Setiap daerah memiliki suku asli dengan adatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa dapat didefinisikan sebagai alat bantu antara anggota atau

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa dapat didefinisikan sebagai alat bantu antara anggota atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa dapat didefinisikan sebagai alat bantu antara anggota atau kelompok masyarakat untuk bekerja sama dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 1983: 17), dengan

Lebih terperinci

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP CERITA RAKYAT AEK

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP CERITA RAKYAT AEK ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP CERITA RAKYAT AEK SIPAULAK HOSA SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA : JAINAL. PURBA NIM : 090703008 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN SASTRA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. metode wawancara dengan teknik cakap, catat, dan rekam (Sudaryanto, 1988:7).

BAB III METODE PENELITIAN. metode wawancara dengan teknik cakap, catat, dan rekam (Sudaryanto, 1988:7). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dengan teknik cakap, catat, dan rekam (Sudaryanto, 1988:7). Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Indonesia merupakan sebuah negara yang terkenal akan keanearagaman budaya yang dimiliki setiap suku bangsa yang mendiami wilayahnya. Kemajemukan Indonesia tercermin

Lebih terperinci

DAFTAR LAMPIRAN. a. Opung : Orangtua Ayah atau Ibu, maupun saudara (kakak/adik) dari orangtua Ayah dan Ibu

DAFTAR LAMPIRAN. a. Opung : Orangtua Ayah atau Ibu, maupun saudara (kakak/adik) dari orangtua Ayah dan Ibu DAFTAR LAMPIRAN Data istilah sebutan sanak saudara a. Opung : Orangtua Ayah atau Ibu, maupun saudara (kakak/adik) dari orangtua Ayah dan Ibu b. Ayak : Ayah sebagian ada juga yang memanggil Bapak c. Mamak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku yang masing-masing suku

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku yang masing-masing suku BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku yang masing-masing suku memiliki bahasa daerah tersendiri yang membedakan bahasa suku yang satu dengan bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bila kita amati wilayah Negara Republik Indonesia ternyata telah banyak

BAB I PENDAHULUAN. Bila kita amati wilayah Negara Republik Indonesia ternyata telah banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Bila kita amati wilayah Negara Republik Indonesia ternyata telah banyak mengalami dan menyimpan berbagai peristiwa sejarah. Peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup

Lebih terperinci

Presiden Republik Indonesia,

Presiden Republik Indonesia, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 1991 TENTANG PEMBENTUKAN KECAMATAN BRASTAGI MARDINDING DI WILAYAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II KARO, KECAMATAN PEMATANG BANDAR, HUTABAYU RAJA DAN UJUNG

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Kabupaten Simalungun Kabupaten Simalungun terletak antara 98,320 99,350 BT dan 2,360 3,180 LU. Secara luas wilayah merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari yang terendah: Mate di Bortian (meninggal dalam kandungan), Mate Posoposo

BAB I PENDAHULUAN. Dari yang terendah: Mate di Bortian (meninggal dalam kandungan), Mate Posoposo BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang terletak di Sumatera Utara. Nama Batak merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa

Lebih terperinci

11. TINJAUAN PUSTAKA. berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi di masyarakat yang. bersangkutan. Koentjaranigrat (1984: )

11. TINJAUAN PUSTAKA. berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi di masyarakat yang. bersangkutan. Koentjaranigrat (1984: ) 11. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep Upacara Adat Upacara adalah sistem aktifitas atau rangkaian atau tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Wilayah tanah air Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dihuni oleh berbagai

I. PENDAHULUAN. Wilayah tanah air Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dihuni oleh berbagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Wilayah tanah air Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dihuni oleh berbagai suku bangsa, golongan, dan lapisan sosial. Sudah tentu dalam kondisi yang demikian

Lebih terperinci

P E N D A H U L U A N

P E N D A H U L U A N BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Sebagaimana telah kita ketahui, Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari berbagai-bagai pulau dari Sabang sampai Merauke, dan didiami oleh berbagai-bagai

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DESA SIGAOL MARBUN KECAMATAN PALIPI. pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara yang merupakan daerah pemekaran

BAB II GAMBARAN UMUM DESA SIGAOL MARBUN KECAMATAN PALIPI. pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara yang merupakan daerah pemekaran BAB II GAMBARAN UMUM DESA SIGAOL MARBUN KECAMATAN PALIPI 2.1. Letak Geografis Desa Sigaol Marbun merupakan salah satu desa di Kecamatan Palipi yang berada di Kabupaten Samosir. Kecamatan Palipi terletak

Lebih terperinci