Yusak Maryunianta dan Terip Karo-Karo

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Yusak Maryunianta dan Terip Karo-Karo"

Transkripsi

1 BUSINESS PLAN DAN STUDI KELAYAKAN PENGOLAHAN JERUK MENJADI PRODUK POWDER DI PROPINSI SUMATERA UTARA Business Plan and Feasibility Study of Powder Orange Processing in North Sumatera Yusak Maryunianta dan Terip Karo-Karo Abstrak: Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyusun studi kelayakan pengolahan jeruk menjadi produk powder dan menyusun business plan pengolahan jeruk menjadi produk powder. Daerah studi dalam pengkajian ini adalah dua kabupaten sentra produksi utama jeruk di Sumatera Utara yaitu Karo dan Dairi. Untuk mengkaji kinerja eksisting agribisnis jeruk di daerah studi digunakan metode deskriptif. Sementara itu, untuk mengkaji kelayakan pengembangan pengolahan jeruk menjadi produk powder digunakan kriteria investasi menggunakan perhitungan Benefit Cost Ration, Net Present Value and Internal Rate of Return. Analisis Sensitivitas juga digunakan untuk mengkaji ketidakpastian perekonomian terhadap pengembangan kegiatan. Hasil survey kajian menyatakan bahwa pengembangan pengolahan jeruk menjadi produk powder layak dilaksanakan, baik dalam kondisi perekonomian normalmaupun perekonomian mengalami ketidakpastian. Agar kegiatan pengembangan berjalan optimal maka perlu dilakukan pengembangan kemitraan yang didukung oleh perkuatan kelembagaan petani dan pengembangan pasar. Kata kunci: pengolahan jeruk powder, studi kelayakan, business plan. Abstract: The objectives of the study were to determine the feasibility of powder orange processing in North Sumatera and to arrange the business plan of the processing. The study was conducted in Karo Regency and Dairi Regency as the most important orange production centres in North Sumatera. The analysis methods that was used to study the existing condition of performance of orange agribusiness in study are was descriptive analysis. The feasibility of the powder orange processing was determined by using investment criteria i.e. Benefit Cost Ration, Net Present Value and Internal Rate of Return. Sensitivity Analysis also was used to analyse the effect of uncertain condition on the plant. The results of this study indicated that the powder orange processing development is feasible to be development in the study area in the normal or uncertain condition. The implementation of the activity can be conducted optimally by developing partnership that is based on farmer institution empowerment and market development. Key words: powder orange, feasibility study, business plan. PENDAHULUAN Kegiatan agroindustri memiliki potensi dalam peningkatan nilai tambah produk hasil-hasil pertanian, bukan hanya terbatas pada tingkat petani tetapi sampai pada tingkat pengusaha yang bergerak dalam perdagangan baik lokal, nasional maupun internasional. Agroindustri juga berpotensi menciptakan kesempatan kerja yang semakin besar di pedesaan dan juga peningkatan ekspor non migas (Rahardjo, 1984). Peluang pengembangan agroindustri dapat dibagi dalam 2 kategori yakni pertama agroindustri berskala besar dengan basis perkebunan (PTP dan Swasta), perikanan laut, peternakan dan kategori kedua agroindustri pedesaan dengan basis pertanian rakyat meliputi pengolahan palawija, hortikultura maupun hasil perikanan rakyat. Nilai tambah yang dihasilkan dari kegiatan agroindustri mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan di Sumatera Utara, mengingat Sumatera Utara mempunyai potensi besar dalam hal penyediaan bahan baku, baik untuk agroindustri berskala besar maupun skala kecil. Selain itu, posisi Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dengan negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura memberikan peluang pasar yang semakin terbuka lebar bagi produk agroindustri. Salah satu jenis komoditas hortikultura unggulan yang berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi produk agroindustri di Sumatera Utara adalah jeruk. Sumatera Utara merupakan produsen utama jeruk di Indonesia selain Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Jeruk asal Sumatera Utara yang dikenal sebagai jeruk Meran dan jeruk Berastagi merupakan salah satu jenis buah unggulan yang sangat digemari oleh konsumen baik konsumen local maupun konsumen manca negara. Keunggulan jeruk ini antara lain terletak pada rasanya yang manis sedikit asam, kulit buah agak tebal dan mempunyai ketahanan terhadap hama penyakit. Disamping itu, jeruk ini mudah 57

2 Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005 dibudidayakan dengan biaya produksi relative renda. Jeruk jenis ini terutama dihasilkan di Kabupaten Karo. Dengan karakteristik yang sedemikian maka jeruk Berastagi memiliki hamper semua ciri yang dibutuhkan dalam pengembangan agroindustri yang menghasilkan produk bahan minuman baik dalam bentuk segar (sari dan juice) maupun powder. Produk powder memiliki beberapa kelebihan yaitu lebih tahan lama disimpan, kemasan lebih praktis dan memiliki nilai tambah yang tinggi. Meskipun produk powder tersebut memiliki berbagai kelebihan yang di dukung oleh ketersediaan bahanbaku relative besar dan konsumen yang relative luas, namun pengolahan jeruk menjadi produk powder belum pernah dilakukan di Sumatera Utara. Oleh karena itu, studi kelayakan dan business plan tentang pengolahan jeruk menjadi produk powder di Sumatera Utara perlu segera dilakukan. Adapun tujuan Studi Kelayakan dan Business Plan tentang Pengolahan Jeruk Menjadi Produk Powder di Sumatera Utara ini adalah untuk : 1. Menyusun studi kelayakan pengolahan jeruk menjadi produk powder. 2. Menyusun business plan pengolahan jeruk menjadi produk powder. METODE ANALISIS Lokasi survey atau sasaran pengumpulan data ditentukan secara purposive yaitu dengan daerah kabupaten yang menjadi sentra produksi atau penghasil jeruk segar sebagai bahan baku untuk pengolahan produk jeruk powder terbesar di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Karo dan Dairi. Pada tahun 2003, kedua kabupaten tersebut memiliki kontribusi sekitar 60% dari total produksi jeruk segar di Sumatera Utara. Data yang dibutuhkan dalam survey ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yang dibutuhkan antara lain tentang kondisi dan permasalahan pengembangan jeruk secara umum, kegiatan usaha tani jeruk, kegiatan kelompok tani, kegiatanpemasaran transportasi. Data diperoleh melalui pejabat pemerintah daerah. Rincian jumlah responden dalam survey ini terdiri atas petani 10 KK, kelompok tani jeruk 3 kelompok, pengurus masyarakat jeruk Indonesia (MJI) 1 orang. Pedagang pengumpul 3 orang, pengusaha tranpsortasi (ekspedisi) 1 perusahaan dan pengusaha pengolahan 2 perusahaan. Data sekunder yang diperlukan terdiri atas data tentang kebijakan pengembangan hortikultura buahbuahan, data agroklimat, hasil studi tentang jeruk sebelumnya, data tentang luas lahan pengembangan, produktivitas dan produksi jeruk serta jumlah kelompok tani diperoleh oleh beberapa instansi. Instansi sasaran survey atau sumber data sekunder adalah Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Inkubator, Bappeda Kabupaten serta Kantor Statistik. Analisis terhadap potensi bahan baku, peran stakeholders dan lembaga terkait, proses pengolahan jeruk menjadi produk powder, kebutuhan sumberdaya (peralatan, lahan, bangunan, bahan penunjang dan lain sebagainya) yang diperlukan dalam pengolahan jeruk menjadi produk powder serta penyusunan business plan dilakukan menggunakan metode deskriptif. Sementara itu, khusus untuk analisis proses pengolahan dibantu dengan metode bagan air. Analisis kelayakan dilakukan melalui tahapan perkiraan biaya pengembangan, perkiraan manfaat pengembangan dan penentuan kelayakan pengembangan. Biaya pengembangan yang dimaksud dalam hal ini adalah biaya produksi yang terdiri ats biaya investasi maupun biaya operasi (Gittinger, 1986). Biaya investasi diperkirakan dari pembelian tapak, pembelian alat sortir, alat pemotong, alat pengerukan, alat pemisah biji, vacuum dryer, mixer /blender, ayakan, alat pengemas. Biaya operasi diperkirakan dari pembelian bahan baku, pembelian bahan tambahan (penunjang) untuk memproduksi powder seperti gula, mineral, bahan baku, flavor, pewarna dan kemasan, penyediaan energi (bahan baker), biaya perawatan, pajak, upah tenaga kerja dan penyusutan alat. Manfaat dalam proyek-proyek pertanian yang paling umum diperoleh dari peningkatan produksi fisik (Gittinger, 1986). Dalam pengembangan pengolahan jeruk menjadi produk powder ini, manfaat yang dimaksud adalah nilai produksi pengolahan jeruk powder selama umur ekonomis rangkaian peralatan 10 tahun. Kelayakan dalam proyek-proyek pertanian yang paling umum diperoleh dari peningkatan produksi fisik Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) (Bachrawi, 2000 : Choliq, 1993; Kadariah dkk, 1978). Dalam hal ini tingkat bunga yang berlaku dan digunakan dalam kajian adalah sebesar 15% tahun. Mengingat keadaan perekonomian sering diwarnai ketidakpastian maka dilakukan analisis sensitivitas dengan asumsi bahwa biaya pengembangan (biaya produksi) meningkat sebesar 30%, pengembangan terlambat 2 tahun, kombinasi antara biaya pengembangan meningkat 30% dan pengembangan terlambat 2 tahun. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PRODUK JERUK POWDER Pengembangan produk jeruk powder ke depan memiliki prospek yang relative cerah dan kesinambungan yang menjanjikan mengingat bahan baku bagi industri jeruk powder tersedia secara kontinyu dengan adanya dukungan kesesuaian agroklimat dan ketersediaan lahan, gaya hidup 58

3 masyarakat cenderung lebih praktis, teknologi penanganan pasca panen telah tersedia, persoalan pemasaran jeruk dalam bentuk segar relative kompleks, semakin nyatanya dukungan kebijaksanaan pengembangan agroindusri. Kabupaten Karo dan Dairi merupakan bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara yang memiliki potensi cukup besar sebagai daerah pengembangan jeruk. Daerah ini terletak di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan yang berada pada ketinggian m di atas permukaan laut. Tanah di daerah studi pada umumnya termasuk kedalam sub ordo udults, udands dan tropepts dengan kondisi drainase baik. Kedalaman efektif tanah pada umumnya adalahpada rentang antara cm dan rentang cm. Suhu udara berkisar antara 14 0 C 27 0 C dengan kelembaban udara ratarata 75 88% curah hujan rata-rata berkisar antara mm per tahun dengan hari hujan ratarata 145 hari per tahun dengan rata-rata penyinaran matahari 55-66%. Di wilayah Kabupaten Karo terdpat seluas ha lahan yang berpotensi bagi pengembangan pertanian dan 14.5% diantaranya belum dimanfaatkan secara efektif. Sedangkan di Kabupaten Dairi terdapat lahan potensial seluas ha dan 35% diantaranya belum dimanfaatkan secara efektif (termasuk ha dianaranya berupa lahan tidur). Lahan yang belum termanfaatkan tersebut berpotensi besar bagi pengembangan jeruk di masa yang akan datang. Berdsarkan uraian tersebut maka dapat disarikan bahwa potensi agroklimat dan ketersediaan lahan bagi pengembangan jeruk di Sumatera Utara khususnya di dua kabupaten sentra produksi jeruk (Karo dan Dairi), relative besar. Ini berarti potensi bahan baku produk jeruk powder di Sumatera Utara relative besar dan prospek kesinambungan ketersediaan bahan baku tersebut dimasa yang akan datang relative terjamin. Varietas jeruk yang ditanam di Kabupaten Karo sekarang ini adalah jenis Siam, Washington, Sunkist, Padang dan Siam Madu, sedangkan di Kabupaten Dairi terutama adalah Siam Madu. Jenis yang disukai oleh konsumen local adalah varietas Siam Madu sehingga varietas jeruk ini mendominasi penanaman jeruk di Kabupaten Karo. Jeruk ini memiliki kekhasan seperit kadar airnya yang banyak aromanya yang harum, rasanya manis dan sedikit asam, warna cerah, bentuk bulat atau oval, tebal kulit 2-4 mm, warna lapisan dlaam kuning, diameter jeruk 5-7 cm, dan beratnya gram, ketahanan 8-10 hari setelah masa panen, umur tanaman berproduksi 4-10 tahun. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa jeruk Karo dan Dairi memiliki karakteristik atau kualitas yang memenuhi persyaratan sebagai bahan olah produk jeruk powder. Pertanaman jeruk di Kabupaten Karo dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan jumlah penduduk dan adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi (vitamin). Luas pertanaman jeruk meningkat dari 6.651,00 ha pada tahun 2000 menjadi ha pada pertengahan tahun 2004, atau terjadi peningkatan pesat luas pertanaman sebesar 63,90% pertahun. Penyebaran pertanaman jeruk terdapat di Kecamatan Barusjahe, Tigapanah, Juhar, Simpang Empat, Merek, Munthe, Kutabuluh dan Kabanjahe. Sejak tahun 2002, Kecamatan Mardinding menjadi lokasi baru sasaran pengembangan jeruk Siam. Untuk Kabupaten Dairi, luas pertanaman jeruk masih relative terbatas namun terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Total luas pertanaman jeruk 192 ha pada tahun 2000, meningkat menjadi 410 Ha pada pertengahan tahun 2003, atau meningkat rata-rata 53,4% per tahun. Penyebaran peranaman jeruk terdapat di Kecamatan Pegagan Hilir, Sumbul, Parbuluan, Sidikalang dan Siempat Nempu. Produksi jeruk Kabupaten Kaor dari tahun ke tahun mengalami peningkatan luas pertanaman dan juga teknologi budidaya yang terus berkembang. Dari luas pertanaman ha, baru ha yang telah berproduksi dengan produktivitas rata-rata 78,03 ton/ha pada pertengahan tahun produksi total telah berkembang 46,5% per tahun dari 350,154,75 ton pada tahun 2000 menjadi ton pada tahun Produksi jeruk Kabupaten Dairi juga mengalami peningkatan 63,7% per tahun dari 1.046,4 ton pada tahun 2000 menjadi ton pada tahun Berdasarkan uraian tentang kondisi luas pertanaman dan produksi tersebut maka dapat dikatakan bahwa jeruk segar sebagai bahan baku dalam pengolahan produk powder tersedia dengan cukup melimpah di dua kabupaten sentra produksi jeruk tersebut. Dengan asumsi bahwa sekitar 30% produksi jeruk Karo dan Dairi diolah menjadi produk powder dan rendeman pengolahan adalah 2,5% maka kedua kabupaten sentra produksi tersebut berpotensi menghasilkan jeruk powder sekitar ton dalam setahun. Di wilayah kabupaten Karo terdapat beberapa lokasi gudang yang berfungsi sebagai tempat penampungan, penyortiran, grading dan pengemasan buah jeruk. Pada gudang tersebut buah jeruk dikelompokkan atas beberapa kelas yaitu kelas A (sekitar 6 buah per kg), kelas B (sekitar 8 buah per kg), kelas C (sekitar 10 buah per kg) dan kelas D (sekitar buah per kg). Pada prinsipnya bahan baku produk powder dapat berasal dari kesemua grade tersebut. Penanganan pasca panen jeruk oleh para petani di Kabupaten Karo yang mencakup penampungan, penyortiran, grading dan pengemasan buah jeruk segar (meskipun umumnya masih bersifat tradisional dan perlu disempurnakan), telah memberikan tambahan jaminan kualitas jeruk sebagai bahan baku bagi pembuatan produk powder. Permasalahan pasca panen yang cukup menonjol dalam agribisnis jeruk Karo dan Dairi 59

4 Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005 adalah bahwa sampai saat ini di wilayah kajian belum terdapat satu perusahaan pun yang bergerak dalam pengiolahan buah jeruk (misalnya menjadi juice, mainisan, permen atau powder). Permintaan akan buah jeruk masih merupakan yang terbesar disbanding permintaan terhadpa jenis buah lainnya.menggunakan besarn konsumsi per kapita sebesar 0,05 kg per minggu pada tahun 1996 tahun 1996 menjadi 0,09 kg per minggu pada tahun 2003, maka konsumsi jeruk penduduk Indensia naik 9,917 ton pada tahun 1996 menjadi 19,356 ton per minggu pada tahun Dengan perkiraan tingkat konsumsi per kapita sebesar 0,2 kg per minggu, maka proyeksi kebutuhan jeruk untuk konsumsi nasional pada tahun 2010 diperkirakan akan menjadi sekitar ton per minggu atau sekitar ton per tahun. Peluang pasar luas negeri juga semakin terbuka dengan terus meningkatnya permintaan negaranegara ASEAN, Asia lainnya maupun Eropa terhadap jeruk dari Indonesia. Dalam pemanfaatan peluang ini Indonesia harus bersaing keras dengan negara-negara penghasil jeruk lainnya seperti Thailand dan China. Dengan asumsi bahwa permintaan dari luar negeri terhdap jeruk Indonesia adalah sebesar 20% dari permintaan domestik maka diperkirakan pada tahun 2010 total permintaan jeruk dari luar negeri adalah sebesar ton. Dengan semakin berkembangnya budaya modern yang menuntut segala sesuatu berlangsung cepat dan praktis maka untuk masa yang akan dating diperkirakan masyarakat akan semakin banyak mengkonsumsi buah-buahan instant namun dengan ciri tetap memiliki rasa dan aroma yang tidak berbeda jauh dengan bentuk segarnya, seperti dalam bentuk powder (Sato, 2004). Sistem pemasaran jeruk Karo dan Dairi sampai saat ini umumnya melibatkan pedagang pengumpul, pedagang local, pedagang antara pulau dan eksportir. Biaya handling dan pengangkutan buah jeruk dari Berastagi ke Jakarta rata-rata adalah Rp Rp per kg. mahalnya ongkos angkut ini disbabkan oleh banyaknya pungutan resmi maupun tak resmi di sepanjang jalan antara Medan Jakarta. Ongkos ini jauh lebih mahal disbanding dengan biaya handling dan transportasi jeruk China dari Negeri China ke Jakarta (yang rata-rata hanya Rp. 500 per kg). Tingginya biaya transport tersebut masih ditambah dengan resiko kerusakan barang selama perjalanan. Kerusakan buah yang timbul karena transportasi biasanya berkisar antara 3 sampai 7%. Cara pemasaran dengan bantuan ekspedisi membutuhkan skala pengiriman barang yang lebih besar agar efisien dalam biaya pengiriman. Tentu saja hal tersebut sulit dijangkau oleh petani yang produksinya terbatas tanpa mereka membentuk kelompok pemasaran bersama atau tanpa adanya fasilitas pasar induk yang memadai di wilayah kajian (Takdir, 2004). Saluran distribusi produk jeruk segar asal Karo adalah dari produsen ke pedagang pengumpul, kemudian ke agen besar di Pulau Jawa ke pedagang pengecer lalu ke konsumen. Untuk jeruk yang dipasarkan ke Jakarta melalui jasa ekspedisi, pihak pengecer menjual kepada konsumen dengan harga Rp Rp untuk kelas super, Rp Rp untuk kelas A & B Rp Rp untuk kelas C. bila dihitung marjinnya maka petani akan menerima Rp per kg. Setelah dikurangi dengan biaya transport (Rp per kg) maka pedagang pengumpul memperoleh keuntungan sekitar Rp per kg dan agen Rp sedangkan pihak pengecer memperoleh keuntungan rata-rata R per kg. Dari perhitungan ini terlihat bahwa marjin pemasaran tertinggi diterima oleh pihak pengecer. Petani hanya menerima marjin sekitar 26,1 dari total harga yang dibayarkan oleh konsumen di Jakarta. Hal yang hamper selalu terjadi pada tiap musim panen raya adalah turunnya harga jeruk pada saat panen raya (biasa hanya Rp Rp per kg). ironisnya adalah bulan-bulan panen raya jeruk Karo hampir berimpit dengan bulan-bulan panen raya sentra-sentra produksi jeruk lainnya di Indonesia (seperti Pasaman dan Sambas). Selain itu, bulanbulan panen raya jeruk juga merupakan bulan-bulan panen raya komoditas buah-buahan jenis lain seperti mangga, durian dan rambutan. Jatuhnya harga jeruk juga dipicu oleh terhambatnya penyaluran hasil jeruk ke Nangroe Aceh Darussalam yang selama ini menjadi salah satu pasar utama produk jeruk asak Karo dan Dairi. Berdasarkan uraian tentang kinerja pemasaran jeruk domestik ini dapat diproyeksikan bahwa melalui pengembangan kegiatan pengolahan produk jeruk powder di Sumatera Utara maka akan berdampak mempersingkat jalur pemasaran produk jeruk segar, mengurangi resiko tingginya biaya transportasi, mengurangi resiko kerusakan dan kehilangan produk, meningkatkan daya saing produk Karo disbanding jeruk dari daerah lain, memberikan alternative pasar dan menghindari kejatuhan harga jeruk dalam kondisi over produksi, serta meningkatkan margin pemasaran yang diterima oleh petani (Maryunianta, 2004). Program Pemerintah Kabupaten Karo dan Dairi ke depan adalah mengimplementasikan pengembangan pusat Kawasan Agropolitan. Program tersebut didukung sepenuhnya oleh pemerintah pusat. Terbukti pemerintah pusat menentapkan program tersebut sebagai proyek percontohan nasional di Indonesia. Dalam konsep tersebut, Kabupaten Karo menjadi pusat kawasan agropolitan yang mengcover 5 kabupaten yaitu Karo, Dairi, Simalungun, Tobasa dan Tapanuli Utara sesuai dengan nota kesepakatan (MoU) kelima kabupaten tersebut. Pada kawasan agropolitan tersebut akan dibangun sarana dan prasana yang mendukung sektor pertanian antara lain industri pengolahan 60

5 benih, cold storage, indusri pengerigan, industri pengalengan, terminal agribisnis, industri sirup, industri pengemasan, bank, industri alat pertanian, pemasaran dan penjualan produk-produk pertanian dan pembangunan lapangan terbang khusus kargo. Dengan dukungan kebijakan sedemikian maka pengembangan agroindustri alat pertanian, pemasaran dan penjualan produk-produk pertanian dan pembangunan lapangan terbang khusus kargo. Dengan dukungan kebijakan sedemikian maka pengembangan agroindustri jeruk menjadi produk powder di wilayah kajian memiliki peluang yang semakin besar untuk direalisasikan (Anonim, 2003). 2. STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK JERUK POWDER Berdasarkan paparan tentang prospek sekaligus permasalahan pengembangan jeruk segar di atas maka strategi pengembangan teknologi pengolahan jeruk menjadi produk di wilayah kajian adalah : 1. Mengembangkan teknologi pengolahan produk jeruk powder di wilayah kajian dengan sarana : a. Meningkatkan nilai tambah jeruk segar asal Karo dan Dairi dan meningkatkan pendapatan petani. b. Mengoptimalkan pemanfaatan prospek dan peluang pasar jeruk domestic maupun luar negeri melalui diversifikasi produk jeruk. c. Memangkas panjangnya jalur tata niaga produk jeruk dan mengurangi resiko tingginya biaya transportasi dalam pemasaran jeruk segar. d. Mengurangi resiko jatuhnya harga produk jeruk segar saat panen raya sebagai akibat persamaan waktu panen di antara sentrasentra produk jeruk yang ada. e. Memberikan alternative pemanfaatan bagi produk jeruk segar pada saat over produksi (panen raya) atau produk yang tidak terserap oleh pasar. f. Meningkatkan marjin pemasaran yang diterima oleh petani jeruk. 2. Mengembangkan teknologi pengolahan produk jeruk powder di wilayah kajian yang didukung oleh : a. Pemanfaatan daya dukung lahan dan kesesuaian agroklimat secara optimal untuk pengembangan jeruk sebagai bahan baku pembuatan produk powder. b. Pemanfaatan potensi luas lahan pengembangan dan produksi jeruk untuk menjamin kontinuitas ketersediaan bahan baku bagi pengolahan jeruk menjadi produk powder. c. Penanganan kualitas dan karakteristik jeruk di wilayah kajian sebagai bahan baku produk jeruk powder melalui perbaikan penanganan pasca panen (penggudangan, penyortiran, grading, pengemasan) jeruk segar. d. Efisiensi proses produksi bahan baku sehingga cost price jeruk segar sebagai bahan baku produk powder masih dapat ditekan. e. Perbaikan prasarana transportasi (seperti jalan) yang mengalami kerusakan di wilayah sentra produksi. f. Pejabaran kebijakan agroindustri menjadi rencana aksi yang lebih bersifat operasional. g. Menarik investor untuk menginvestasikan modalnya dalam pengembangan jeruk produk powder melalui pola kemitraan. h. Penggalakan kegiatan promosi produk jeruk powder dan pengembangan outlet-outlet jeruk powder. i. Peningkatan kesadaran petani di wilayah kajian dalam membentuk kelembagaan secara berkelompok. 3. TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUKSI JERUK POWDER Proses pengolahan buah jeruk menjadi produk powder dilakukan melalu tahapan sortasi, pencucian, pemotongan, ekstraksi, pengadukan, penyaringan, penambahan zat aditif, penguapan, penepungan dan pengayakan, dan pengemasan. Bahan baku yang dibutuhkan dalam pengolahan ini sebanyak 3 ton jeruk segar. Masing-masing tahapan dijelaskan sebagai berikut : a. Sortasi Setelah panen, buah jeruk segar dikumpulkan oleh para petani di pondok yang umumnya tersedia di setiap lahan tanaman jeruk. Di tempat tersebut dilakukan penyortiran berdasarkan besar kecilnya buah jeruk secara manual atau menggunakan alat sortir menurut criteria sortasi yang sudah dikenal. Alat sortasi yang digunakan berkapasitas 3 ton per hari. b. Pencucian / pengupasan Sebelum diambil sari buahnya, buah jeruk dicuci bersih, dikupas atau dipotong menggunakan alat pemotong. Buah jeruk yang telah masak pohon harus segera diambil sari buahnya dan jangan terlalu lama disimpan di gudang, karena akan mudah terserang jasad renik. Alat pemotong yang digunakan berkapasitas 3 ton per hari. c. Ekstraksi/Pengadukan/Penyaringan Setelah dikupas, kemudian buah jeruk diambil sarinya dengan cara diperas, disaring (yang dibantu dengan alat pemisah biji) serta diaduk. Sebelum dilakukan pengadukan dan penyaringan, bahan dicampur dengan air secukupnya. Alat pemisah biji yang digunakan berkapasitas 1 ton per hari. Menurut Toller and Timberlake (1971), sari buah jeruk manis biasanya mempunyai susunan sebagai berikut : 61

6 Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005 Berat jenis : 1,037 1,049 ph : 2,26 5,57 Brix : 9, ,00 0 Total gula : 6,00 11,00 % berat Gula sakarosa (cane sugar) : 1,46 3,30 Gula invert : 6,70 8,30 Asam sitrat : 0,95 3,41 Perbandingan brix dan asam : 3,54 12,24 Pectin : 0,08 0,21 Carotenoids : 0,68 3,37 mg/ltr Nanthophyll : 0,16 3,37 mg/ltr Vitamin C : 28,00 92,20 mg % Minyak esensial : 2,60-44,00 mg % Abu : 0,30 0,41 % Sari buah yang digunakan sebagai bahan pembuatan powder tidak boleh mengandung minyak esensial melebihi 0,03 %. Bilmana perlu, sari buah dapat diawetkan dengan bermacam-macam cara, diantaranya yaitu melalui pasteurisasi dan pembotolan (pengalengan). d. Penguapan Sebelum dilakukan penguapan, ditambahkan natrium benzoate dan gula kedalam sari buah. Penguapan dilakukan menggunakan vakum dryer. Vakum dryer yang digunakan berkapasitas 1 ton per hari. e. Penepungan / Pencampuran Setelah bahan diuapkan, kemudian dilakukan penepungan. Ke dalam bahan kemudian ditambahkan vitamin, mineral, flavor dan pewarna yang dicampur menggunakan mixer. Mixer yang digunakan berkapasitas 1 ton per hari. f. Pengayakan Setelah menjadi tepung dan diberi bahan campuran, selanjutnya bahan diayak. Ayakan yang digunakan berkapasitas 1 ton per hari. g. Pengemasan Setelah diayak, selanjutnya produk jeruk powder (semacam nutrisari) dikemas dalam kemasan berukuran 10 mg. Alat pengemas yang digunakan berkapasitas 1 ton per hari. h. Pemanfaatan Pabrik sari buah, selain menghasilkan sari buah juga masih ada sisa kulit jeruk, daging buah, dan biji. Sisa tersebut bila hanya sedikit dapat dibuang untuk kompos atau dipendam dalam tanah. Bila volumenya relatif banyak maka bahan tersebut dapat menjadi bahan lain yang sangat berguna, misalnya untuk makanan ternak, melase (sirup manis kental yang warnanya cokelat tua), pectin (dapat dipakai untuk jeli), minyak kulit jeruk, minyak biji, dan lain-lain (Hulme, 1971). 4. PENETAPAN LOKASI DAN ARAHAN DESAIN PABRIK a. Kriteria Penetapan Lokasi Pabrik Jeruk segar sebaiknya sampai di pabrik pengolahan tepat pada waktunya (dalam rentang waktu kurang dari 24 jam). Mempertimbangkan hal tersebut maka sebaiknya letak pabrik berada tidak jauh dari areal pertanaman (sentra produksi) jeruk. Pengertian berada di dekat areal pertanaman yang dimaksud dalam hal ini mengandung implikasi luas dan fleksibel. Bukan semata-mata hanya ditentukan oleh jarak, namun juga perlu diperhitungkan waktu tempuh yang sangat dipengaruhi oleh kondisi jalan dan moda transportasi yang ada. Hal ini penting diperhatikan untuk tujuan mendapatkan kualitas powder yang baik (mengantisipasi pembentukan asam berlebihan) serta efisiensi biaya transportasi bahan baku. Faktor lain yang juga perlu diperhitungkan dalam penempatan pabrik adalah aksesibilitas dengan jaringan jalan utama, supaya hasil olahan pabrik (powder) mudah didistribusikan atau ditransportir ke konsumen. Dari sisi ekologis, perlu diperkirakan aspek penanganan limbah, sehingga hasil buangan limbah mudah ditangani dan tidak memberikan dampak negatif yang berarti bagi lingkungan di sekitar pabrik. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pabrik pengolahan jeruk segar menjadi produk powder adalah : Dalam konteks kajian mekanika tanah, lokasi pabrik perlu dibangun di tempat yang datar dan daya dukung lahan cukup kuat. Tapak tidak terletak di lokasi banjir. Perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan perluasan pabrik di masa yang akan datang. b. Arahan Rancangan Pabrik Kapasitas Pabrik Sebelum mendirikan sebuah pabrik, perlu disusun data luas areal dan produksi jeruk di wilayah tersebut. Dalam hal ini skala pabrik pengolahan yang akan kita kembangkan adalah berskala kecil sampai menengah. Penentuan kapasitas dapat dilakukan melalui perhitungan sederhana sebagai berikut : PM KP = 300 Dimana : x 15% x PR KP : Kapasitas Pabrik PM : Produksi Maksimum/ tahun (merupakan perkalian antara produksitivitas dengan luas areal pertanaman) 300 : Hari Kerja/tahun PR : Persentase produksi jeruk segar yang diolah (%) 62

7 Apabila luas pertanaman jeruk untuk satu kelompok tani adalah 50 ha, produkvitas tanaman umur 8 tahun adalah 40 ton/ha/tahun dan persentase produksi jeruk segar yang diolah 30%, maka kapasitas pabrik yang diperlukan : 50 x 40 = 300 x x 100 = 3 ton/hari kerja Dukungan Luas Areal dan Produksi Pertanaman Jeruk Yang Diperlukan Bila pabrik pengolahan berkapasitas 3 ton jeruk segar/hari atau 900 ton/tahun, maka untuk mendukung kelangsungan operasi pabrik diperlukan areal pertanaman jeruk seluas = (900/40) ha = 22,5 ha. Dengan kata lain yang perlu diperhatikan sebelum membangun pabrik pengolahan jeruk segar menjadi produk powder adalah ketersediaan areal pertanaman jeruk yang telah menghasilkan TM) di kawasan tersebut minimal seluas 22,5 ha. Mengingat pertanaman jeruk di wilayah kajian tidak berada dalam satu hamparan atau terpencar maka untuk memenuhi kebutuhan bahan baku 1 (satu) unit pabrik pengolahan, dapat diperoleh dari beberapa kecamatan atau desa yang saling berdekatan. Prasyarat Utilitas dan Fasilitas Tapak yang dibutuhkan untuk pengembangan pabrik pengolahan jeruk segar menjadi produk powder adalah seluas kurang lebih 500 m 2. Daya listrik yang dibutuhkan berkisar KVA dan air bersih berkisar 0 30 m 3 /hari. Dengan rendahnya kebutuhan utilitas sedemikian maka pengolahan jeruk segar menjadi produk powder dapat dilakukan di daerah-daerah yang belum tersedia jaringan listrik atau dapat menggunakan listrik yang bersumber dari genset. Demikian halnya kebutuhan air untuk pengolahan dapat menggunakan air sumur (baik sumur dangkal maupun sumur dalam). Dalam kondisi tersebut maka buangan limbah cair dapat ditampung pada kolom-kolom limbah berukuran kecil, sehingga dapat meresap tuntas pada beberapa kolom. Arahan Lay Out Pabrik Tata letak peralatan (layout) pabrik pengolahan jeruk segar menjadi produk powder sebaiknya di desain untuk tapak yang datar. Adapun gambaran tentang tata letak peralatan pabrik pengolahan jeruk segar menjadi produk jeruk powder sesuai proses perjalanan bahan. Proses pengalokasian tapak perlu dilakukan melalui penyelaraan antara keterkaitan kegiatan dan kebutuhan ruangan. Tujuan pemaduan ini adalah untuk merancang pengaturan ruangan yang efisien yang dibutuhkan oleh tiap kegiatan, dalam satu kesatuan yang terintegrasi. Susunan yang dihasilkan harus sedapat mungkin mewadahi keterkaitan kegiatan yang telah ditentukan dan tetap dipertahankan kebutuhan luas dari tiap kegiatan. 5. PERHITUNGAN KELAYAKAN PENGEMBANGAN a. Perhitungan Biaya Pengembangan Komponen biaya proyek dalam hal ini meliputi biaya pembelian lahan, pemagaran lahan, pembuatan saluran drainase, pembuatan kolom limbah, pembelian mesin, pembuatan bangunan/gudang, bahan, upah tenaga kerja, sewa tanah, pajak, overhead cost (biaya tambahan) dan biaya tak terduga (Choliq, 1993 ; Gittinger, 1978). Tahun ke-0 diasumsikan sebagai tahun investasi yang dimanfaatkan sebagai saat pengembangan fisik pabrik dan tahun ke-1 diasumsikan sebagai tahun awal operasionalisasi pabrik dalam kapasitas penuh. Total biaya investasi pada tahun ke-0 adalah sebesar Rp dan biaya operasional tahun 1 adalah Rp b. Perhitungan Manfaat Pengembangan Produksi yang diperkirakan diperoleh dari proses pengolahan adalah jeruk powder per hari. Satu bungkus jeruk powder dijual dengan harga Rp. 300,-. Pada tahun operasi, diperkirakan rangkaian peralatan pengolahan langsung berfungsi selama 12 bulan atua 300 hari kerja. Selanjutnya mulai tahun ke-1 sampai tahun ke-6, rangkaian peralatan pengolahan diasumsikan berfungsi penuh dan berproduksi selama 12 bulan atau 300 hari kerja. Selanjutnya mulai tahun ke-1 sampai tahun ke-6, rangkaian peralatan pengolahan diasumsikan berfungsi penuh dan berproduksi optimal. Sementara itu mulai tahun ke 7 sampai ke 10 terjadi penurunan produksi rata-rata 10% per tahun. Sebagai patokan dalam pembuatan cash flow maka nilai produksi kotor pada tahun ke-1 adalah Rp ,- tahun ke-7 Rp ,- tahun ke-8 Rp ,- tahun ke-9 Rp ,- dan tahun ke-10 sebesar Rp c. Kelayakan Pada Kondisi Normal Sesuai dengan hasil perhitungan biaya dan manfaat yang disajikan pada bab sebelumnya maka selanjutnya dapat disusun cash flow dalam rangka penentuan kelayakan financial pengembangan kegiatan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder. Dalam analisis ini diasumsikan bahwa selama tahun perencanaan kondisi eko perekonomian relative normal, biaya-biaya yang telah dikeluarkan sebelum proyek pengembangan (seperit penyusunan business plan dan studi kelayakan) tidak dimasukkan dalam perhitungan, discount rate diperkitakan 15% dan harga jeruk powder per bungkus Rp. 300,- Hasil perhitungan kelayakan menunjukan bahwa pada discount rate level 15% ternyata NPV = Rp , BCR = 21,79 dan IRR 49,16%. Karena NPV positif, BCR lebih besar dari 1 dan IRR lebih besar dari interest rate yang berlaku maka dapat disarikan bahwa pengembangan kegiatan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder sangat layak dilaksanakan. 63

8 Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005 Table 1. Perhitungan Kelayakan Usaha Pengolahan Jeruk Segar menjadi Produk Powder Tabel 2. Resume Hasil Analisis Sensitivitas Asumsi Sensitivitas NPV (Rp) BCR IRR (%) 1. Biaya produksi meningkat 30% 2. Pengembangan terlambat 2 tahun 3. Kombinasi antara asumsi 1 dan 2 d. Analisis Sensitivitas Namun demikian, mengingat keadaan perekonomian sering diwarnai ketidakpastian maka dilakukan analisis sensitivitas dengan asumsi bahwa biaya pengembangan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder (biaya produksi) meningkat sebesar 30%, pengembangan terlambat 2 tahun, kombinasi antara biaya pengembangan meningkat 30% dan pengembangan terlambat 2 tahun. Pengembangan terlambat 2 tahun diartikan sebagai investasi yang dilakukan secara bertahap akibat keterbatasan dana dan diatur melalui urutan pembelian dan pemagaran lahan pada lahan pada tahun 10, pembangunan gudang pada tahun ke 1 dan pembangunan saluran drainase, kolam limbah dan pembelian mesin atau peralatan pada tahun ke 2. Hasil analisis sensitivitas pada discount rate level 15% memberikan nilai NPV, BCR dan IRR seperti disajikan pada table 2. meningkatnya biaya produksi sebesar 30%, keterlambatan pengembangan 2 tahun dan kombinasi antara keduanya, masih memberikan nilai NPV positif, BCR lebih besar dari 1 dan IRR lebih besar dari interest rate yang berlaku. Dengan demikian dapat disarikan bahwa meskipun dalam kondisi ketidakpastian perekonomian namun pengembangan kegiatan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder masih sangat layak dilaksanakan. 6. BUSINESS PLAN PENGEMBANGAN a. Rencana Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan Pengembangan teknologi pengolahan jeruk menjadi produk powder dalam skala kecil atau menengah dapat dilakukan melalui pola kemitraan. Hal ini perlu dilakukan karena petani lemah dalam hal pendanaan dan teknologi. Kemitraan dibentuk berdasarkan prinsip saling menguntungkan antara petani/kelompok tani dengan pihak lain. Sebelum kemitraan terbentuk petani perlu mengembangkan kelompok baik dalam bentuk kelompok tani jeruk atau usaha bersama petani jeruk. Setelah kelompok tani atau usaha bersama tersebut terbentuk maka selanjutnya terdapat beberapa alternative kemitraan yang dapat dikembangkan, yaitu: a. Kemitraan antara Kelompok Tani/Usaha Bersama Petani Markisa dengan Bank/Lembaga Modal Ventura. b. Kemitraan antara Kelompok Tani/Usaha Bersama Petani Markisa dengan Pengusaha (Eksportir dan Pengusaha Pengelolaan). c. Kemitraan antara Kelompok Tani/Usaha Bersama Petani Markisa dengan Lembaga Inkubator. d. Kemitraan Terpadu yang melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan 64

9 bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. b. Rencana Lokasi Pengembangan Sesuai dengan persyaratan teknis maupun makro seperti aksesibilitas dengan pasar, akses ke sumber bahan baku, akses ke pusat jasa informasi, komunikasi dan promosi maka lokasi yang disarankan bagi pengembangan pabrik pengolahan jeruk menjadi produk powder adalah Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Berastagi dan Kecamatan Tiga Panah (Kabupaten Karo), Kecamatan Tanjung Beringin (Kabupaten Dairi) dan Kecamatan Sibolangit dan Kecamatan Pancur Batu (Kabupaten Deli Serdang). c. Tahapan Pengembangan Teknologi Pengolahan Pengembangan teknologi pengolahan jeruk powder dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : (1) Survey (pasar, lahan, bahan baku) dan Detail Desain, (2) Pembebasan Lahan dan Pengurusan Izin Kegiatan, (3) Pengurusan Kontrak Kemitraan, (4) Pengurusan Administrasi Pembiayaan, (5) Pelaksanaan Pembangunan dan (6) Operasi dan Maintenance. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tahapan-tahapan tersebut adalah berkisar antara 6 bulan sampai 1 tahun. d. Rencana Pengembangan Pasar Pengembangan pasar jeruk powder dapat dilakukan pada lingkup domestic maupun pasar ekspor. Untuk lingkup domestic dapat memanfaatkan wilayah-wilayah sasaran pemasaran jeruk segar yang sudah ada selama ini (seperti Jakarta, Bandung, Batam, Pekan Baru, dsb) atau memanfaatkan wilayah-wilayah sasaran pasar produk jeruk powder yang sudah ada (seperti daerah pengembangan pemukiman di perkotaan di Indonesia). Untuk menembus pasar-pasar yang telah ditambah oleh para pengusaha pengolahan jeruk powder sebelumnya dapat dilakukan melalui strategi pengembangan produk (misalnya melalui pengembangan kombinasi powder jeruk dengan powder buah jenis lainnya. Untuk lingkup pasar ekspor, sasaran pemasaran dapat diarahkan ke negara-negara di wilayah Asia Tenggara atau wilayah Asia lainnya. Pemasaran ke negara-negara barat dapat dilakukan melalui pencantuman label bahan baku yang diproduksi melalui sistem pertanian organik. KESIMPULAN DAN DAN SARAN 1. Kesimpulan 1. Hasil perhitungan kelayakan menunjukkan bahwa dalam kondisi perekonomian normal, pengembangan kegiatan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder layak dilaksanakan. Dalam kondisi biaya produksi meningkat sebesar 30% pengembangan terlambat 2 tahun, kombinasi antara biaya pengembangan meningkat 30% dan pengembangan terlambat 2 tahun, biaya pengembangan pengolahan jeruk segar menjadi jeruk powder tetap layak dilaksanakan. 2. Basis utama business plan pengembangan pengolahan jeruk powder terletak pada pengembangan kemitraan yang berintikan pada perkuatan kelembagan petani dan pengembangan pasar. 2. Saran Sebelum business plan diimplementasikan, perlu dilakukan pengkajian terhadap kesiapan kelembagaan petani serta perilaku pasar dan responn konsumen produk jeruk secara cermat. DAFTAR PUSTAKA Anonym, Master Plan Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. Tim Teknis Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Agropolitan, Medan. Choliq, A. Rivai, W Dan Ofan, S Evaluasi Proyek Suatu Penganta. Penerbit Pionir Jaya, Bandung. Gittinger, J.P Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Diterjemahkan : Slamet Sutomo Dan Komet Mangiri. UI-Press, Jakarta. Hulme, A. C The Biochemistry of Fruit and Their Product Volume 1. Academic Press, London New York. Kadariah, Lien, K. Clive, G Penganta Evaluasi Proyek. Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta. Maryunianta, Yusak, The Mini Study On Orange Development And Promotion In Karo And Dairi Regency. JICA RDPLG LPPM USU, Medan. Mutty, Luthfi, 2004, Kebijakan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara Dalam Pengembangan Jeruk Malangke. Malakah Disampaikan Lokakarya Promosi Manajemen Pembangunan Daerah Melalui Kerjasama Antar Propinsi Dengan Menitikberatkan pada Komoditas Jeruk di Masamba, 7-8 Oktober Rahardjo, M. D Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. UI-Press, Jakarta. Sato, Masahito, 2004, Orange Mikan In Japan. Makalah Disampaikan Pada Pertemuan Persiapan Lokakarya Promosi Manajemen Pembangunan Daerah Melalui Kerjasama Antar Propinsi Dengan Menitikberatkan Pada Komoditas Jeruk Di Jakarta, 4 Oktober Takdir Djufri, Pengalaman Dan Permasalahan Petani Dalam Pengembangan Jeruk Malangke. Makalah Disampaikan Pada Lokakarya Promosi Manajemen Pembangunan Daerah Melalui Kerjasama Antara Propinsi Dengan Menitikberatkan Pada Komoditas Jeruk di Masamba, 7-8 Oktober