ANALISIS DAYA SAING EKSPOR TOMAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) PENDAHULUAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS DAYA SAING EKSPOR TOMAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) PENDAHULUAN"

Transkripsi

1 P R O S I D I N G 134 ANALISIS DAYA SAING EKSPOR TOMAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) Tartila Fitri 1) Suhartini 1) 1) Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang PENDAHULUAN ASEAN Economy Community (AEC) atau yang biasa disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ditetapkan sejak tanggal 1 januari Tujuan dari penetapan MEA adalah untuk meningkatkan daya saing dan perekonomian ASEAN agar dapat bersaing dengan negara negara di dunia, khusunya negara China dan India. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mengelompokkan beberapa sektor yang menjadi prioritas integrasi ekonomi ASEAN. Salah satu sektor yang menjadi prioritas yaitu sektor pertanian. Hal tersebut menjadi peluang bagi Indonesia, karena Indonesia mempunyai potensi yang tinggi dalam menghasilkan produk berbasis pertanian, sehingga Indonesia mempunyai peluang untuk bersaing di lingkup ASEAN (Winantyo,2008). Tomat adalah salah satu produk hasil pertanian Indonesia yang diekspor. Menurut data Food Agriculture Organization/FAO (2016) ekspor tomat Indonesia selama periode bergerak secara fluktuatif. Selama periode , ekspor tomat tertinggi mencapai 675 ton pada tahun Menurut Zikria (2014) Indonesia adalah negara yang memproduksi tomat paling tinggi di bandingkan negara lain di ASEAN. Setelah itu di posisi ke dua ada negara Filipina dan posisi ketiga terdapat Thailand sebagai negara produksi tomat terbesar di kawasan ASEAN. Dengan produksi tomat Indonesia yang tinggi, memungkinkan Indonesia untuk bersaing dengan negara lain khususnya ASEAN. Namun, sampai saat ini Indonesia masih mempunyai beberapa masalah dalam usahatani tomat sehingga berdampak pada kuantitas dan kualitas ekspor tomat Indonesia di ASEAN. Permasalahan pada komoditas tomat antara lain; permodalan, usahatani, kualitas, panen, pasca panen, dan pemasaran. Permasalahan tersebut dapat menghalangi negara Indonesia untuk bersaing di kawasan ASEAN. Karena untuk masuk dalam perdagangan internasiomal, khususnya perdagangan antara negara ASEAN, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya adalah kualitas dari komoditas yang akan diperdagangkan. Dalam catatan eksportir dan departemen pertanian, produk pertanian Indonesia terpaksa banyak yang dikembalikan karena tidak memenuhi syarat, salah satunya ambang batas residu pestisida. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis spesialisasi perdagangan tomat Indonesia dalam kawasan ASEAN pada periode (2) menganalisis daya saing komparatif perdagangan tomat Indonesia dalam kawasan ASEAN pada periode (3) menganalisis daya saing kompetitif perdagangan tomat Indonesia dalam kawasan ASEAN pada periode Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan data sekunder, berupa data time series selama 20 tahun ( ). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan), RCTA (Revealed Comparative Trade Advantage) dan XCI (Export Competitiveness Index).

2 P R O S I D I N G 135 METODE PENELITIAN Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu data sekunder berupa data berdasarkan waktu (time series) dalam periode 20 tahun dimulai dari tahun Data diperoleh lembaga-lembaga internasional dan nasional yaitu Food Agriculture Organization (FAO), dan Badan Pusat Statistik (BPS). Sumber-sumber informasi lainnya didapatkan melalui buku, artikel, jurnal, maupun sumber pendukung lain dan lembaga-lembaga terkait. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Indeks Spesialisasi perdagangan bertujuan untuk melihat apakah suatu negara cenderung sebagai eksportir atau importir untuk suatu produk. Adapun rumus matematis dari ISP adalah : ISP = ( / ( Analisis Daya Saing Kompetitif Export Competitiveness Index (Xci) untuk mengetahui komoditas tomat disuatu negara memiliki daya saing yang kuat dibandingkan negara lain yang merupakan negara pesaing. Indeks ini juga dapat melihat perkembangan di suatu negara untuk komoditas tertentu terhadap rata-rata perkembangan komoditas tersebut di pasar ASEAN. XCI dapat dirumuskan sebagai berikut : XCI = / Analisis Daya Saing Komparatif Dalam penelitian ini untuk melihat daya saing suatu komoditas dari segi keunggulan komparatif menggunakan metode Revealed Comparative Trade Advantage. Menurut tambunan (2004) rumus RCTA adalah: RCTA = RXA = [ / RMP = [ / HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perhitungan analisis ISP tomat negara pembanding (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) periode tahun 1994 hingga 2013 dapat dilihat pada Gambar 1. Dari hasil analisis ISP menunjukkan bahwa, negara Indonesia mempunyai nilai yang lebih unggul dari pada negara pembanding lainnya (Malaysia dan Thailand) di kawasan ASEAN. Maka negara Indonesia mempunyai keunggulan atau spesialisasi perdagangan tomat di kawasan ASEAN. Hal tersebut dapat ditunjukkan berdasarkan nilai ISP yang dimiliki oleh Indonesia dengan rata-rata nilai ISP 0,89. Sehingga negara Indonesia memiliki spesialisasi perdagangan yang lebih unggul dibandingkan negara pembanding lainnya, dan dapat disimpulkan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain dalam menghadapi MEA. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh negara Thailand, dengan rata-rata nilai ISP yaitu 0,87. Perbedaan rata-rata nilai ISP yang dimiliki oleh Indonesia dan Thailand

3 P R O S I D I N G 136 hanya berbeda 0,02. Dan untuk posisi ketiga ditempati oleh negara Malaysia dengan ratarata nilai ISP adalah 0,61. Hasil perhitungan ISP tomat tersebut menunjukkan bahwa penawaran domestik komoditas tomat di negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand lebih besar dibandingkan permintaan domestik di negara masing-masing. Gambar 1. Grafik Hasil Analisis ISP di Tiga Negara Pengekspor Tomat Di Kawasan ASEAN Tahun Negara dengan posisi nilai ISP tertinggi dalam perdagangan tomat adalah negara Indonesia, dengan rata-rata nilai ISP sebesar 0,89. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perdagangan tomat Indonesia masuk dalam tahap kematangan (net exporter). Pada gambar 1 posisi grafik nilai ISP Indonesia periode tahun 1994 sampai 2013 menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Sedangkan untuk nilai ISP tertinggi ada pada tahun 1994, 1995, 1998, 1999, 2011, 2012, dan 2013 dengan nilai ISP yang dimiliki pada tahun-tahun tersebut adalah 1. Menurut Ahira (2012) dalam Nugraha (2013) komoditas tomat Indonesia awalnya mempunyai ketahanan yang lemah. Namun, sejak Indonesia mengimpor tomat dari Taiwan, para petani lokal mulai beralih menanam tomat Taiwan. Dikarenakan tomat Taiwan memiliki penampilan dan ketahanan yang lebih kuat dibandingkkan tomat lokal Indonesia. Hasilnya, perkembangan ekspor tomat Indonesia pun berkembang. Nilai ISP terendah yang dimiliki oleh negara Indonesia pada tahun 2006 mencapai 0,05. Penurunan ini terjadi dikarenakan nilai impor tomat Indonesia yang meningkat cukup tajam, dan nilai impor tomat Indonesia meningkat sebesar 203%. Pada tahun 2006 nilai impor tomat Indonesia merupakan nilai impor tertinggi dalam periode 1994 sampai Sedangkan pada tahun 2006 nilai ekspor tomat Indonesia mengalami penurunan terbesar dalam periode 1994 hingga 2013 yaitu sebesar 78%. Nilai ekspor tomat Indonesia tahun 2006 mencapai US$ 9200, sedangkan pada tahun 2005 nilai ekspor tomat Indonesia mencapai US$ Menurut data FAO (2016) produksi tomat Indonesia pada tahun 2006 mengalami penurunan dari produksi tomat Indonesia pada tahun 2005 yaitu sebesar ton menjadi ton. Hal tersebut mengakibatkan menurunnya volume ekspor tomat Indonesia. Pada tahun 2006 volume ekspor tomat Indonesia adalah volume ekspor terendah dalam periode 1994 sampai Posisi nilai ISP tomat kedua adalah negara Thailand. Rata-rata nilai ISP yang dimiliki oleh Thailand tidak berbeda jauh dengan rata-rata nilai ISP negara Indonesia. Ratarata nilai ISP yang dimiliki oleh negara Thailand adalah 0,87. Dengan nilai tersebut, maka

4 P R O S I D I N G 137 bisa disebutkan bahwa negara Thailand termasuk negara pengekspor tomat di kawasan ASEAN dan juga penawaran tomat domestik di negara Thailand lebih besar dibandingkan permintaan tomat domestik di negara tersebut. Rata-rata nilai ISP Thailand termasuk pada rentang antara 0,81 1, sehingga perdagangan tomat di negara Thailand masuk dalam tahap kematangan (net exporter). Dari Gambar 1 bisa dilihat bahwa perkembangan nilai ISP tomat yang dimiliki oleh negara Thailand pada periode tahun 1994 sampai 2013 tidak jauh berbeda dengan perkembangan nilai ISP tomat negara Indonesia. Nilai ISP tomat tertinggi yang dimiliki negara Thailand dalam periode 1994 sampai 2013 adalah 1, hal tersebut terjadi pada tahun 1994 sampai 2002 dan terjadi lagi pada tahun Tingginya nilai ISP tomat yang dimiliki oleh negara Thailand disebabkan nilai impor tomat Thailand yang lebih kecil dibandingkan nilai ekspor tomat. Menurut data FAO (2016) nilai impor tomat negara Thailand dalam kawasan ASEAN pada tahun 1994 hingga 2002 dan pada tahun 2012 adalah US$ 0. Tidak adanya nilai impor tomat Thailand dalam pasar ASEAN, dikarenakan pada tahun tersebut, Thailand hanya mengimpor tomat dari pasar selain ASEAN. Tingginya nilai ISP tomat negara Thailand karena negara tersebut mempunyai luas panen dan produksi tomat yang cukup tinggi, diikuti juga dengan ekspor tomat yang cukup tinggi dan impor tomat yang cukup rendah. Dengan kontribusi tersebut Thailand termasuk negara dengan luas panen terbesar ketiga di ASEAN. Sedangkan untuk produksi tomat Thailand berkontribusi sebesar 10,54% dari total produksi tomat ASEAN. dan untuk ekspor dan impor tomat, negara Thailand termasuk negara ketiga dalam kontribusi total ekspor-impor di ASEAN. Untuk volume ekspor tomat berkontribusi sebesar 1,75% dan volume impor tomat berkontribusi sebesar 1,08%. Meskipun dalam peringkat yang sama yaitu peringkat ketiga, namun volume ekspor tomat Thailand berkontribusi lebih banyak dibandingkan volume impor tomat Thailand. Adapun nilai ISP tomat Thailand terendah pada tahun 2008 dengan nilai 0,54. Penurunan dari tahun 2007 dengan nilai ISP sebesar 0,57 menjadi 0,54 pada tahun 2008 tidak terlalu signifikan. Negara Malaysia menempati urutan ke terakhir dalam analisis ISP, dengan ratarata nilai ISP 0,61. Hal tersebut dikarenakan, selain sebagai eksportir tomat terbesar di ASEAN, Malaysia juga melakukan impor tomat yang cukup tinggi dibandingkan negara pembanding dalam periode tahun 1994 sampai Menurut Zikria (2014) pada periode 2007 sampai 2011 Malaysia adalah negara yang menempati posisi pertama sebagai negara eksportir tomat dengan kontribusi sebesar 94,54% terhadap total volume ekspor tomat di ASEAN. Sedangkan dari segi impor, Malaysia adalah negara yang menempati posisi kedua setelah Singapura sebagai negara importir tomat dengan kontribusi 9,42% terhadap total volume impor tomat ASEAN. Meskipun nilai ISP tomat Malaysia terendah diantara negara pembanding lainnya (Indonesia dan Thailand), negara Malaysia masih bisa disebut sebagai negara pengekspor tomat (eksportir). Rata-rata nilai ISP tomat Malaysia termasuk pada rentang antara 0,01 sampai 0,8. Maka perdagangan tomat Malaysia masuk pada tahap perkembangan. Nilai ISP tomat tertinggi yang dimiliki oleh negara Malaysia adalah 0,955 pada tahun Tingginya nilai ISP tomat pada tahun 2011 disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor tomat Malaysia pada tahun Nilai ekspor tomat pada tahun 2011 mencapai US$

5 P R O S I D I N G sedangkan pada tahun 2010 nilai ekspor tomat sebesar US$ Sedangkan nilai ISP tomat Malaysia terendah dalam periode yaitu pada tahun 1997 dengan nilai ISP 0. Rendahnya nilai ISP tomat Malaysia pada tahun tersebut dikarenakan Malaysia tidak melakukan ekspor-impor. Menurut data FAO (2016) pada tahun 1997 di negara Malaysia baik volume ekspor dan impor maupun nilai ekspor dan Impor angkanya adalah 0. Menurut Awang (2012) pada tahun 1997 Malaysia sedang mengalami krisis ekonomi, hal tersebut menyebabkan adanya penurunan nilai mata uang, nilai asset dan nilai saham. Sehingga pemerintah Malaysia membuat keputusan untuk memperketat dan membatasi pinjaman asing, membuat peraturan dan melakukan pengawalan yang ketat terhadap sektor perbankan. Perkembangan hasil analisis RCTA tomat pada negara pembanding (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) dalam periode tahun 1994 sampai 2013 dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2. Grafik Hasil Analisis RCTA Tomat di Tiga Negara Pengekspor di Kawasan ASEAN Tahun Berdasarkan Gambar 2 bisa diketahui bahwa grafik hasil analisis RCTA tomat Malaysia lebih unggul dibandingkan negara pembanding lainnya. Maka negara Malaysia memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dari pada negara pembanding lainnya. Rata-rata hasil analisis RCTA yang dimiliki oleh negara Malaysia adalah 37,84. Perkembangan hasil analisis RCTA tomat pada Malaysia mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat. Namun, pada kedua negara pembanding (Indonesia dan Thailand) memiliki pola yang cenderung menurun. Pola perkembangan yang dimiliki oleh negara Malaysia berfluktuasi, tetapi cenderung meningkat setiap tahunnya. Nilai RCTA tomat Malaysia tertinggi ada pada tahun 2013 dengan hasi RCTA tomat sebesar 88,95. Hal tersebut dikarenakan daya saing ekspor pada tahun 2013 adalah yang tertinggi yaitu mencapai 89,04. Sedangkan penetrasi impor tomat di Malaysia pada tahun tersebut hanya 0,09. Peningkatan tersebut juga dikarenakan adanya peningkatan luas panen dan produksi tomat yang cukup signifikan dalam periode 1994 sampai Dimana pada tahun 1994 luas panen dan produksi tomat Malaysia masing-masing mencapai 536 ha dan 8576 ton. Sedangkan pada tahun 2013 mencapai 1988 ha dan ton. Tingginya nilai RCTA tomat Malaysia juga disebabkan karena tingginya volume ekspor tomat di pasar ASEAN.

6 P R O S I D I N G 139 Posisi kedua dari hasil analisis RCTA tomat adalah negara Indonesia. perbedaan antara nilai RCTA tomat Malaysia dengan nilai RCTA tomat Indonesia cukup signifikan. Pada gambar 2 bisa dilihat bahwa nilai RCTA Indonesia berada jauh dibawah nilai RCTA Malaysia. Perkembangan pada nilai RCTA tomat Indonesia yaitu cenderung menurun. Ratarata nilai RCTA tomat yang dimiliki Indonesia adalah 0,75. Nilai tersebut masuk dalam angka positif atau lebih dari 0. Maka negara Indonesia juga memiliki daya saing dari segi keunggulan komparatif dalam perdagangan tomat. Namun, keuggulan komparatif yang dimiliki oleh negara Indonesia tidak sekuat daya saing yang dimiliki oleh negara Malaysia. Menurut Zikria (2014) dalam kawasan ASEAN, Indonesia termasuk negara eksportir kedua setelah Malaysia. Dengan kontribusi 3,05% selama periode tahun 2007 sampai Pola perkembangan nilai RCTA tomat Indonesia yang cenderung menurun dipengaruhi oleh volume ekspor dan nilai ekpor tomat Indonesia yang juga cenderung menurun. Perolehan hasil analisis RCTA tomat Indonesia tertinggi ada pada tahun 1994 dengan nilai RCTA yaitu 6,06. Hal tersebut disebabkan oleh penetrasi impor tomat pada tahun 2006 adalah 0. Menurut data FAO (2016) pada tahun 1994 volume dan nilai impor tomat Indonesia adalah 0. Sedangkan hasil analisis RCTA tomat Indonesia terendah dalam periode 1994 sampai 2013 adalah pada tahun 2006 yaitu dengan nilai RCTA mencapai - 0,013. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2006 mempunyai nilai terendah pada daya saing ekspor tomat (RXA) yaitu mencapai 0,02. Hasil analisis RCTA tomat terendah di antara tiga negara pembanding dalam periode 1994 sampai 2013 adalah negara Thailand. Dalam gambar 2, bisa dilihat bahwa pola perkembangan nilai RCTA tomat Thailand bisa disebutkan tetap. Rata-rata nilai RCTA yang dimiliki oleh Thailand dalam periode 1994 sampai 2013 adalah 0,087. Meskipun hasil analisis RCTA tomat Thailand terendah, namun nilai yang dimiliki negara tersebut berada diatas 0. Maka negara Thailand masih mempunyai daya saing dari segi keunggulan komparatif. Namun keunggulan komparatif yang dimiliki oleh negara Thailand sangat lemah dibandingkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh Malaysia dan Indonesia. Menurut Nugraha (2013) negara Singapura dan Thailand memiliki daya saing yang lemah di pasar ASEAN dibandingkan dengan negara Malaysia dan Indonesia. Perolehan hasil analisis RCTA tomat tertinggi di Thailand dalam periode 1994 sampai 2013 adalah pada tahun 1997 sebesar 0,47. Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan terhadap daya saing ekspor tomat (RXA) sedangkan penetrasi impor pada tahun tersebut sebesar 0. Adapun perolehan RCTA tomat terendah pada periode 1994 sampai 2013 ada pada tahun 2010 sebesar -0,004. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan terhadap daya saing ekspor tomat (RXA) menjadi 0,029, sedangkan pada tahun 2009 mencapai 0,036. Perkembangan hasil analisis Xci tomat pada negara pembanding (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) dalam periode tahun 1994 sampai 2013 dapat dilihat pada gambar 3. Berdasarkan gambar 3, bisa diketahui bahwa perkembangan nilai Xci yang dimiliki oleh ketiga negara pembanding memiliki perbedaan namun tidak signifikan. Rata-rata hasil analisis Xci tomat pada negara Indonesia, Malaysia dan Thailand masing-masing mencapai (1,216), (0,924), dan (1,217). Dapat diketahui bahwa negara Indonesia dan Thailand memiliki nilai Xci tomat lebih dari 1, maka kedua negara tersebut memiliki daya saing dari segi keunggulan kompetitif dan memiliki trend perkembangan pasar yang meningkat.

7 P R O S I D I N G 140 Sedangkan untuk negara Malaysia hasil analisis yang diperoleh kurang dari 1, maka bisa disebutkan bahwa negara tersebut tidak mempunyai daya saing dari segi keunggulan kompetitif dan memiliki trend perkembangan pasar yang menurun. Dari rata-rata nilai Xci setiap negara pembanding bisa dikethaui bahwa negara yang memiliki nilai Xci tertinggi adalah Thailand, kemudian posisi kedua adalah Indonesia, dan posisi ketiga negara Malaysia. Perkembangan hasil analisis Xci tomat negara pembanding pada periode 1994 sampai 2013 bisa dilihat pada gambar 3. Rata-rata nilai Xci tomat tertinggi dalam periode 1994 sampai 2013 adalah negara Thailand dengan nilai 1,217. Maka negara Thailand adalah negara yang memiliki daya saing dari segi keunggulan kompetitif yang cukup tinggi dan mempunyai trend perkembangan pasar yang meningkat dibandingkan negara pembanding lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh nilai ekspor tomat Thailand terhadap tomat ASEAN pada periode sekarang dibandingkan dengan nilai ekspor tomat Thailand terhadap ASEAN di periode sebelumnya. Gambar 3. Grafik Hasil Analisis Xci Tomat di Indonesia, Malaysia dan Thailand periode Perkembangan nilai Xci tomat Thailand periode 1994 hingga 2013 pada Gambar 3 menunjukkan pola perkembangan fluktuatif yang cenderung meningkat. Meningkatnya nilai Xci tomat Thailand periode 1994 hingga 2013 disebabkan nilai ekspor tomat yang mengalami peningkatan dalam periode 1994 hingga Pada tahun 1994 nilai ekspor tomat Thailand mencapai US$ , kemudian nilai ekspor Thailand mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga pada tahun 2013 nilai ekspor tomat Thailand mencapai US$ Pada tahun 1997 Thailand mencapai nilai Xci tomat tertinggi dalam periode 1994 hingga 2013, nilai Xci tersebut sebesar 3,822. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 1997 nilai ekspor tomat Thailand lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dan pada tahun 1997 nilai ekspor tomat ASEAN menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai Xci tomat Thailand dalam periode 1994 hingga 2013 yang terendah ada pada tahun 1998 sebesar 0,107. Rendahnya nilai XCI tomat Thailand pada tahun 1998 disebabkan adanya penurunan pada nilai ekspor tomat dari tahum 1997 ke 1998, dan adanya peningkatan dari nilai ekspor tomat ASEAN dari tahun sebelumnya. Indonesia adalah negara yang memiliki hasil analisis Xci tertinggi kedua setelah Thailand. Nilai rata-rata Xci tomat Indonesia dalam periode 1994 hingga 2013 tidak jauh

8 P R O S I D I N G 141 berbeda dengan nilai rata-rata Xci tomat Thailand. Rata-rata nilai Xci tomat Indonesia periode 1994 hingga 2013 sebesar 1,216. Rata-rata nilai Xci tomat Indonesia berada di atas nilai 1. Maka bisa disebutkan bahwa komoditas tomat Indonesia mempunyai daya saing dari segi keunggulan kompetitif dan mempunyai trend perkembangan perdagangan di pasar ASEAN yang meningkat. Dalam perkembangannya, nilai Xci tomat Indonesia mengalami fluktuasi. Pada gambar 3 bisa dilihat bahwa terdapat nilai Xci tomat Indonesia terendah dan tertinggi. Adapun nilai Xci terendah Indonesia terjadi pada tahun 1998 dengan nilai Xci sebesar 0,068. Rendahnya nilai Xci pada thun 1998 disebabkan adanya penurunan yang cukup signifikan dari tahun 1997, sedangkan nilai ekspor tomat ASEAN pada tahun tersebut mengalami peningkatan. Nilai Xci tomat tertinggi Indonesia dalam periode 1994 hingga 2013 yaitu pada tahun 2007 dengan nilai Xci sebesar 5,501. Hal tersebut disebabkan karena meningkatnya nilai ekspor tomat Indonesia pada tahun 2007, dimana peningkatan tersebut cukup signifikan. Selanjutnya adalah negara Malaysia yang menempati urutan ketiga dalam analisis Xci tomat periode 1994 hingga Rata-rata nilai Xci yang dimiliki oleh negara Malaysia adalah 0,924. Nilai rata-rata Xci yang dimiliki oleh negara Malaysia kurang dari 1, maka negara Malaysia memiliki daya saing dari keunggulan kompetitif yang lemah dan mengalami trend perkembangan perdagangan tomat di ASEAN yang menurun. Rendahnya nilai Xci tomat Malaysia pada periode tahun 1994 sampai 2013 disebabkan adanya krisis ekonomi di Malaysia pada tahun 1997 yang menyebabkan tidak adanya ekspor dan impor dari negara tersebut. Menurut data FAO (2016) pada tahun 1997 volume ekspor dan volume impor begitu juga nilai ekspor dan nilai impor yang dimiliki oleh negara Malaysia adalah 0. Menurut Awang (2012) pada tahun 1997 Malaysia sedang mengalami krisis ekonomi, yang mengakibatkan turunnya nilai mata uang, nilai asset dan juga nilai saham di Malaysia. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian analisis daya saing ekspor tomat Indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) adalah (1) Hasil analisis spesialisasi perdagangan pada komoditas tomat dalam periode 1994 sampai 2013 adalah nilai ISP tomat Indonesia (0,89) lebih tinggi dibandingkan nilai ISP tomat Thailand (0,87) dan Malaysia (0,61). Pada analisis ini dibuktikan bahwa perdagangan tomat Indonesia dan Thailand memasuki tahap kematangan di kawasan ASEAN. Sedangkan Malaysia memasuki tahap pertumbuhan. Hasil analisis ini di pengaruhi oleh nilai ekspor dan nilai impor dari suatu negara, (2) Hasil analisis daya saing dari segi keunggulan komparatif tomat pada periode 1994 sampai 2013 adalah komoditas tomat Indonesia mempunya daya saing dar segi keunggulan komparatif lebuh unggul (0,75) dibandingkan dengan komoditas tomat Thailand (0,08). Sedangkan daya saing dari segi keunggulan komparatif Indonesia (0,75) lebih rendah dibandingkan komoditas tomat Malaysia (37,84). Nilai RCTA Malaysia yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain disebabkan oleh sumberdaya yang dimiliki oleh Malaysia dikelola secara efisien, baik dalam perencanaan kuantitas komoditas tomat, dan fasilitasfasilitas yang memadai dalam usahatani tomat, (3) Hasil analisis daya saing dari segi keunggulan kompetitif tomat pada periode 1994 hingga 2013 adalah Indonesia memiliki

9 P R O S I D I N G 142 daya saing dari segi keunggulan kompetitif lebih tinggi (1,216) dibandingkan Malaysia (0,924), namun lebih rendah jika dibandingkan dengan Thailand (1,217). Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki trend perkembangan perdagangan tomat yang meningkat di pasar ASEAN dibandingkan Malaysia. REFERENSI Awang, Abdul Aziz Krisis Ekonomi Malaysia: Punca, Implikasi dan Penyelesaian. Departemen Pertanian Basis Data Ekspor-Impor Komoditi Pertanian. aplikasi.pertanian.go.id Nugraha, Fajar Cahya Daya Saing Ekspor Komoditi Hortikultura Indonesia di Pasar ASEAN. IPB. Bogor The likely impact of the asean plus china on intra-asean trade. Paper prepared for the conference on WTO, China, and the ASEAN Economies, IV. Beijing Winantyo, R., Sjamsul A., Rizal A.D., Aida S Budiman et al Masyarakat Ekonomi Asean (Mea) 2015 Memperkuat Sinergi Asean Ditengah Kompetesi Global. Jakarta : Elex Media Komputindo Wiryanto,B Bertanam Tomat. Agromedia pustaka : Jakarta selatan

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF LADA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF LADA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Analisis Keunggulan Kompetitif Lada Indonesia di Pasar Internasional ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF LADA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Agung Hardiansyah, Djaimi Bakce & Ermi Tety Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM. hanya merujuk pada ketidakmampuan individu dalam menghasilkan setiap barang

VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM. hanya merujuk pada ketidakmampuan individu dalam menghasilkan setiap barang VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM Dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi, penting artinya pembahasan mengenai perdagangan, mengingat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memerlukan orang lain untuk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu pendorong peningkatan perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional, melalui kegiatan ekspor impor memberikan keuntungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR KOMODITAS KAKAO INDONESIA ANDRI VENO UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR KOMODITAS KAKAO INDONESIA ANDRI VENO UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 74 ANALISIS DAYA SAING EKSPOR KOMODITAS KAKAO INDONESIA ANDRI VENO UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA ABSTRAK Komoditas kakao merupakan salah satu penyumbang devisa negara. Tanaman kakao sangat cocok dengan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia tiga tahun terakhir lebih rendah dibandingkan Laos dan Kamboja.

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia tiga tahun terakhir lebih rendah dibandingkan Laos dan Kamboja. BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di kawasan ASEAN, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sejak 1980 sampai dengan 2012 (dihitung dengan persentase

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua hambatanhambatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dari nilai devisa yang dihasilkan.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR UBIKAYU INDONESIA. Analysis of Competitiveness Rates of Indonesian Cassava Export

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR UBIKAYU INDONESIA. Analysis of Competitiveness Rates of Indonesian Cassava Export J. Agroland 18 (1) : 65-70, April 2011 ISSN : 0854 641 ANALISIS DAYA SAING EKSPOR UBIKAYU INDONESIA Analysis of Competitiveness Rates of Indonesian Cassava Export Putri Suci Asriani 1) 1) Jurusan Sosial

Lebih terperinci

DAYA SAING KARET ALAM INDONESIA DI PASAR DUNIA COMPETITIVENESS OF INDONESIAN NATURAL RUBBER AT WORLD MARKET

DAYA SAING KARET ALAM INDONESIA DI PASAR DUNIA COMPETITIVENESS OF INDONESIAN NATURAL RUBBER AT WORLD MARKET Habitat Volume XXV, No. 3, Bulan Desember 2014 ISSN: 0853-5167 DAYA SAING KARET ALAM INDONESIA DI PASAR DUNIA COMPETITIVENESS OF INDONESIAN NATURAL RUBBER AT WORLD MARKET Satriyo Ihsan Radityo 1), Rini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Kutznets dalam Todaro dan

Lebih terperinci

VII. STRUKTUR PASAR KARET ALAM DI PASAR INTERNASIONAL. besarnya penguasaan pasar oleh masing-masing negara eksportir. Penguasaan

VII. STRUKTUR PASAR KARET ALAM DI PASAR INTERNASIONAL. besarnya penguasaan pasar oleh masing-masing negara eksportir. Penguasaan VII. STRUKTUR PASAR KARET ALAM DI PASAR INTERNASIONAL 7.1. Pangsa Pasar Karet Alam Dalam rangka mengetahui struktur pasar karet alam yang terbentuk dalam perdagangan karet alam di pasar internasional,

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014 ANALISIS POSISI DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN IMPOR GULA KRISTAL PUTIH DAN GULA KRISTAL RAFINASI INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Analysis of the Position and Level of Dependency on Imported White Sugar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi berarti peluang pasar internasional bagi produk dalam negeri dan

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi berarti peluang pasar internasional bagi produk dalam negeri dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi membuat keterkaitan ekonomi nasional dengan perekonomian internasional menjadi makin erat. Dalam skala nasional, globalisasi berarti peluang pasar internasional

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Globalisasi ekonomi telah menambahkan banyak tantangan baru bagi agribisnis di seluruh dunia. Agribisnis tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga untuk bersaing

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pertanian, BPS, Gapkindo, ITS (International Trade Statistics), statistik FAO,

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pertanian, BPS, Gapkindo, ITS (International Trade Statistics), statistik FAO, IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari beberapa sumber seperti Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian,

Lebih terperinci

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA 6.1. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia Permintaan terhadap karet alam dari tahun ke tahun semakin mengalami peningkatan. Hal ini dapat

Lebih terperinci

KOMPARASI EKONOMI JAGUNG INDONESIA DENGAN NEGARA PRODUSEN UTAMA PENDAHULUAN

KOMPARASI EKONOMI JAGUNG INDONESIA DENGAN NEGARA PRODUSEN UTAMA PENDAHULUAN KOMPARASI EKONOMI JAGUNG INDONESIA DENGAN NEGARA PRODUSEN UTAMA P R O S I D I N G 95 Nuhfil Hanani Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang PENDAHULUAN Sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 38 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan definisi opresional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam hortikultura meliputi buah-buahan, sayur-sayuran,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. yang terdiri dari data time series tahunan ( ). Data sekunder diperoleh

III. METODE PENELITIAN. yang terdiri dari data time series tahunan ( ). Data sekunder diperoleh III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari data time series tahunan (2000-2010). Data sekunder diperoleh dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, Semester I 2014 Ekspor Impor Neraca

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, Semester I 2014 Ekspor Impor Neraca I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan beraneka ragam (mega biodiversity). Keanekaragaman tersebut tampak pada berbagai jenis komoditas tanaman

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi, BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti

Lebih terperinci

DAYA SAING KARET INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL. Nuhfil Hanani dan Fahriyah. Abstrak

DAYA SAING KARET INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL. Nuhfil Hanani dan Fahriyah. Abstrak 1 DAYA SAING KARET INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Nuhfil Hanani dan Fahriyah Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menganalisis kinerja ekonomi karet Indonesia dan menganalisis daya karet

Lebih terperinci

ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET

ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET Desi Ratna Sari 1, Ermi Tety 2, Eliza 2 Department of Agribussiness, Faculty of Agriculture,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. ekonomi internasional (ekspor dan impor) yang meliputi perdagangan dan

III. KERANGKA PEMIKIRAN. ekonomi internasional (ekspor dan impor) yang meliputi perdagangan dan III. KERANGKA PEMIKIRAN Ekonomi Internasional pada umumnya diartikan sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari dan menganalisis transaksi dan permasalahan ekonomi internasional (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No. 1 2011 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. L ATAR BELAKANG Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang wajib dimiliki dalam mewujudkan persaingan pasar bebas baik dalam kegiatan maupun

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING PRODUK EKSPOR PROVINSI SUMATERA UTARA. Budi Ramanda Bustami Paidi Hidayat, SE, M.Si

ANALISIS DAYA SAING PRODUK EKSPOR PROVINSI SUMATERA UTARA. Budi Ramanda Bustami Paidi Hidayat, SE, M.Si ANALISIS DAYA SAING PRODUK EKSPOR PROVINSI SUMATERA UTARA Budi Ramanda Bustami Paidi Hidayat, SE, M.Si ABSTRACT The purpose of this research are to determine the development of leading export products

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang memiliki peran penting bagi suatu negara. Perdagangan internasional memberikan manfaat berkaitan dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dan beraneka ragam. Hal ini tampak pada sektor pertanian yang meliputi komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula.

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula. V. EKONOMI GULA 5.1. Ekonomi Gula Dunia 5.1.1. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia Peningkatan jumlah penduduk dunia berimplikasi pada peningkatan kebutuhan terhadap bahan pokok. Salah satunya kebutuhan pangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007 (Business&Economic Review Advisor, 2007), saat ini sedang terjadi transisi dalam sistem perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang dicapai

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang dicapai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu tujuan pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara menandakan berhasilnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ASEAN terbentuk pada tahun 1967 melalui Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Wakil Perdana Menteri merangkap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dari kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dari kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini interaksi antar negara merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan hampir dilakukan oleh setiap negara di dunia, interaksi tersebut biasanya tercermin dari

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 4.1 Gambaran Umum Kesenjangan Tabungan dan Investasi Domestik Negara ASEAN 5+3 Hubungan antara tabungan dan investasi domestik merupakan indikator penting serta memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor strategis dalam pembangunan perekonomian nasional seperti dalam hal penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara emerging economy. berkembang pembangunan ekonomi dan penerapan demokrasi.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara emerging economy. berkembang pembangunan ekonomi dan penerapan demokrasi. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara emerging economy yang sedang berkembang pembangunan ekonomi dan penerapan demokrasi. Ekonomi Indonesia relatif cukup

Lebih terperinci

Keunggulan Komparatif Produk Alas Kaki Indonesia ke Negara ASEAN Tahun 2013

Keunggulan Komparatif Produk Alas Kaki Indonesia ke Negara ASEAN Tahun 2013 JEKT 8 [2] : 172-178 ISSN : 2301-8968 Keunggulan Komparatif Produk Alas Kaki Indonesia ke Negara ASEAN Tahun 2013 Kadek Mega Silvia Andriani *) Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya perdagangan antar negara. Sobri (2001) menyatakan bahwa perdagangan internasional adalah

Lebih terperinci

PENINGKATAN DAYA SAING EKSPOR PRODUK OLAHAN KAKAO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Studi pada Ekspor Produk Olahan Kakao Indonesia tahun )

PENINGKATAN DAYA SAING EKSPOR PRODUK OLAHAN KAKAO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Studi pada Ekspor Produk Olahan Kakao Indonesia tahun ) PENINGKATAN DAYA SAING EKSPOR PRODUK OLAHAN KAKAO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Studi pa Ekspor Produk Olahan Kakao Indonesia tahun 2009-2014) Della Andini Edy Yulianto Dahlan Fanani Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat dan berdampak luas bagi perekonomian di dalam negeri maupun di dunia internasional. Dampak yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem perekonomian ke arah yang lebih terbuka antar negara.perekonomian terbuka membawa suatu dampak ekonomis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan pesat globalisasi dalam beberapa dasawarsa terakhir mendorong terjadinya perdagangan internasional yang semakin aktif dan kompetitif. Perdagangan

Lebih terperinci

Jl. Prof. A. Sofyan No.3 Medan Hp ,

Jl. Prof. A. Sofyan No.3 Medan Hp , ANALISIS TINGKAT DAYA SAING KARET INDONESIA Riezki Rakhmadina 1), Tavi Supriana ), dan Satia Negara Lubis 3) 1) Alumni Fakultas Pertanian USU ) dan 3) Staf Pengajar Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan dalam perdagangan luar negeri (trade openness) maupun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah) 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Sektor pertanian adalah salah satu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat ditunjang oleh indikator tabungan dan investasi domestik yang digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan internasional. Dalam situasi globalisasi ekonomi, tidak ada satupun

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan internasional. Dalam situasi globalisasi ekonomi, tidak ada satupun 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu aspek penting dalam perekonomian suatu negara adalah perdagangan internasional. Dalam situasi globalisasi ekonomi, tidak ada satupun negara yang tidak

Lebih terperinci

POSISI DAYA SAING DAN SPESIALISASI PERDAGANGAN LADA INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI (Studi Pada Ekspor Lada Indonesia Tahun )

POSISI DAYA SAING DAN SPESIALISASI PERDAGANGAN LADA INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI (Studi Pada Ekspor Lada Indonesia Tahun ) POSISI DAYA SAING DAN SPESIALISASI PERDAGANGAN LADA INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI (Studi Pada Ekspor Lada Indonesia Tahun 2009-2013) Feira Aprilia R Zainul Arifin Sunarti Fakultas Ilmu Administrasi

Lebih terperinci

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 I. PENDAHULUAN Kegiatan Sosialisasi Hasil dan Proses Diplomasi Perdagangan Internasional telah diselenggarakan

Lebih terperinci

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 OUTLOOK TEH ISSN 1907-1507 2015 OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK TEH ii Pusat

Lebih terperinci

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA 81 BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN bersama dengan Cina, Jepang dan Rep. Korea telah sepakat akan membentuk suatu

Lebih terperinci

AGRITECH : Vol. XVI No. 1 Juni 2014 : ISSN :

AGRITECH : Vol. XVI No. 1 Juni 2014 : ISSN : AGRITECH : Vol. XVI No. 1 Juni 2014 : 60 66 ISSN : 1411-1063 STRUKTUR PASAR DAN KEDUDUKAN INDONESIA PADA PERDAGANGAN TUNA OLAHAN DI PASAR DUNIA, JEPANG DAN USA Sri Hidayati Akademi Pertanian HKTI Banyumas

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 4.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) Selama kurun waktu tahun 2001-2010, PDB negara-negara ASEAN+3 terus menunjukkan tren yang meningkat

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tekstil merupakan industri penting sebagai penyedia kebutuhan sandang manusia. Kebutuhan sandang di dunia akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertanian merupakan kegiatan pengelolaan sumber daya untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku untuk industri, obat ataupun menghasilkan sumber energi. Pertanian merupakan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA GLOBALISASI (Konsolidasi Agribisnis dalam Menghadapi Globalisasi)

BAB IV PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA GLOBALISASI (Konsolidasi Agribisnis dalam Menghadapi Globalisasi) BAB IV PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA GLOBALISASI (Konsolidasi Agribisnis dalam Menghadapi Globalisasi) Sebagai suatu negara yang aktif dalam pergaulan dunia, Indonesia senantiasa dituntut untuk cepat tanggap

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dampak globalisasi di bidang ekonomi memungkinkan adanya hubungan saling terkait dan saling memengaruhi antara pasar modal di dunia. Dampak globalisasi di bidang ekonomi diikuti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBERLAKUAN CEPT IMPLIKASINYA PADA DAERAH POTENSI EKSPOR

DAMPAK PEMBERLAKUAN CEPT IMPLIKASINYA PADA DAERAH POTENSI EKSPOR I DAMPAK PEMBERLAKUAN CEPT PADA PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR INDONESIA DAN IMPLIKASINYA PADA DAERAH POTENSI EKSPOR OLEH : RUSMAN HERIAWAN PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2002 ABSTRAK ItUSMAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima tahun ke depan (2010-2014), Kementerian Pertanian akan lebih fokus pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. banyak menghadapi tantangan dan peluang terutama dipacu oleh proses

I. PENDAHULUAN. banyak menghadapi tantangan dan peluang terutama dipacu oleh proses I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agribisnis buah-buahan Indonesia saat ini dan masa mendatang akan banyak menghadapi tantangan dan peluang terutama dipacu oleh proses globalisasi, proses yang ditandai

Lebih terperinci

Struktur Pasar Dan Peringkat Indonesia Pada Perdagangan Tuna Segar Dan Beku Di Pasar Dunia, Jepang, USA, Dan Korea Selatan

Struktur Pasar Dan Peringkat Indonesia Pada Perdagangan Tuna Segar Dan Beku Di Pasar Dunia, Jepang, USA, Dan Korea Selatan Struktur Pasar Dan Peringkat Indonesia Pada Perdagangan Tuna Segar Dan Beku Di Pasar Dunia, Jepang, USA, Dan Korea Selatan Sri Hidayati Akademi Pertanian HKTI Banyumas Email : hidayati_sree@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi di suatu negara (trade as engine of growth).

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi di suatu negara (trade as engine of growth). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu negara dalam membangun perekonomian negaranya adalah laju pertumbuhan ekonomi. Setiap

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING BIJI KAKAO INDONESIA DI PASAR DUNIA. Nurtamtomo Hadi Nugroho*) ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING BIJI KAKAO INDONESIA DI PASAR DUNIA. Nurtamtomo Hadi Nugroho*) ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING BIJI KAKAO INDONESIA DI PASAR DUNIA Nurtamtomo Hadi Nugroho*) *) Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian-Universitas Jember ABSTRACT is represents as the producing country of cocoa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan kondisi alam yang subur untuk pertanian. Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Dengan perdagangan internasional, perekonomian akan saling terjalin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian memegang peranan

I. PENDAHULUAN. pertanian. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian memegang peranan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian (agraris) yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani atau bergerak di bidang pertanian. Tidak dapat dipungkiri

Lebih terperinci

DAYA SAING EKSPOR KOPI ROBUSTA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

DAYA SAING EKSPOR KOPI ROBUSTA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL DAYA SAING EKSPOR KOPI ROBUSTA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Ariel Hidayat* dan Soetriono** *Alumnus PS Agribisnis Pasca Sarjana Universitas Jember **Dosen Fakultas Pertanian Uniersitas Jember ABSTRACT

Lebih terperinci

Lina Yanti *) dan Widyastutik *)1

Lina Yanti *) dan Widyastutik *)1 Daya Saing Produk Turunan Susu Indonesia di Pasar Dunia Lina Yanti *) dan Widyastutik *)1 *) Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Jl. Kamper Kampus IPB Darmaga,

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI PISANG

OUTLOOK KOMODITI PISANG ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI PISANG 2014 OUTLOOK KOMODITI PISANG Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS

ISSN OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS ISSN 1907-1507 OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK NENAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang penuh patriotisme, Indonesia berusaha membangun perekonomiannya. Sistem perekonomian Indonesia yang terbuka membuat kondisi

BAB I PENDAHULUAN. yang penuh patriotisme, Indonesia berusaha membangun perekonomiannya. Sistem perekonomian Indonesia yang terbuka membuat kondisi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dinamika perekonomian Indonesia telah melewati berbagai proses yang begitu kompleks. Semenjak Indonesia mengecap kemerdekaan melalui perjuangan yang penuh patriotisme,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan penting terhadap pembangunan perekonomian suatu negara. Struktur perekonomian suatu negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia ( ) terutama bagi

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia ( ) terutama bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia (1997-1998) terutama bagi Indonesia, memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa para pelaku ekonomi pada sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam perdagangan internasional. Dalam era perdagangan bebas saat ini, daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat kini lebih cenderung untuk menginvestasikan dana yang dimiliki

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat kini lebih cenderung untuk menginvestasikan dana yang dimiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat kini lebih cenderung untuk menginvestasikan dana yang dimiliki dengan tujuan untuk memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Salah satu sarana yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ANALISIS DAYA SAING CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL SEPA : Vol. 9 No.1 September 2012 : 125 133 ISSN : 1829-9946 ANALISIS DAYA SAING CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL RASHID ANGGIT Y.A.D 1, NI MADE SUYASTIRI Y.P 2, ANTIK SUPRIHANTI 2

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN TERDAHULU. Perdagangan luar negeri adalah perdagangan barang-barang suatu negara

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN TERDAHULU. Perdagangan luar negeri adalah perdagangan barang-barang suatu negara BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN TERDAHULU 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Teori perdagangan internasional Perdagangan luar negeri adalah perdagangan barang-barang suatu negara dengan negara lain

Lebih terperinci

DAYA SAING EKSPOR KOMODITI HORTIKULTURA INDONESIA DI PASAR ASEAN FAJAR CAHYA NUGRAHA

DAYA SAING EKSPOR KOMODITI HORTIKULTURA INDONESIA DI PASAR ASEAN FAJAR CAHYA NUGRAHA DAYA SAING EKSPOR KOMODITI HORTIKULTURA INDONESIA DI PASAR ASEAN FAJAR CAHYA NUGRAHA DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF EKSPOR PRODUK BERBASIS KELAPA SULAWESI UTARA

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF EKSPOR PRODUK BERBASIS KELAPA SULAWESI UTARA ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF EKSPOR PRODUK BERBASIS KELAPA SULAWESI UTARA Alan Kawa (1), Caroline B. D. Pakasi (2), Juliana R Mandei (2) 1 Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Industri pupuk urea termasuk dalam lapangan usaha sektor industri pengolahan non migas. Pada tahun 2014 industri pengolahan non migas memberikan kontribusi sebesar 21 % pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus tantangan baru yang harus dihadapi dalam pembangunan pertanian ke depan. Globalisasi dan liberasi

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Abdullah, P Daya Saing Daerah. BPFE. Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA. Abdullah, P Daya Saing Daerah. BPFE. Yogyakarta. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, P.2002. Daya Saing Daerah. BPFE. Yogyakarta. AEKI, 2010. Produktifitas Kopi Indonesia. Jakarta: Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia AEKI. 2012. Luas Areal dan Produksi Kopi Robusta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi sebuah negara, keberhasilan pembangunan ekonominya dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2007) menyatakan

Lebih terperinci