DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN"

Transkripsi

1

2 DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN PUSAT DATA DAN INFORMASI DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA 2009

3 KATA PENGANTAR Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah belum ada kesepakatan dalam penentuan jumlah penduduk sasaran program. Data penduduk sasaran program selalu diperlukan mulai dari saat penyusunan rencana kegiatan tahunan hingga evaluasi hasil kegiatan. Kami berharap agar penentuan target sasaran program ini dapat disepakati bersama oleh para pengelola program melalui satu pintu, dalam hal ini disepakati bersama dan diputuskan oleh manager tertinggi di dalam wilayah itu. Di samping itu melalui buku ini diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan khususnya dalam menghitung target sasaran program. Kami sadari bahwa buku Data Penduduk Sasaran Program Kesehatan Tahun ini belum sempurna. Dengan tangan terbuka kami mohon tanggapan dan kritik untuk penyempurnaan buku ini. Akhir kata, mudah-mudahan buku ini bermanfaat dalam mengisi kebutuhan data dan informasi kesehatan yang terkini sesuai dengan harapan kita semua. Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat Data dan Informasi DR. Bambang Hartono, SKM, MSc NIP i

4 ii

5 DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Lampiran i iii v Bab I Pendahuluan 1 Bab II Pengertian dan Kegunaan Data Penduduk Sasaran Program 3 A. Pengertian 3 B. Kegunaan Data Penduduk Sasaran Program 6 Bab III Perhitungan Penduduk Sasaran Program 11 A. Data Dasar Kependudukan 11 B. Perhitungan Penduduk Sasaran Program 13 Bab IV Penutup 24 Daftar Pustaka 25 Lampiran 26 *** iii

6 iv

7 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Estimasi Penduduk Umur Tunggal Menurut Jenis Kelamin Tahun Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Indonesia Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua v

8 Lampiran 2 Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan Tahun Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Indonesia Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua vi

9 Lampiran 3 Angka Kelahiran Kasar (CBR) di Indonesia Menurut Provinsi Tahun *** vii

10 BAB I. PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pencapaian derajat kesehatan yang optimal bukan hanya menjadi tanggung jawab dari sektor kesehatan saja, namun sektor terkait lainnya seperti sektor ekonomi, sektor sosial dan pemerintahan juga memiliki peranan yang cukup besar. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam program kesehatan melalui kegiatan-kegiatan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang sasaran utamanya adalah penduduk. Penduduk sasaran program kesehatan sangatlah beragam sesuai dengan karakteristik kelompok umur tertentu atau didasarkan pada kondisi siklus kehidupan yang terjadi. Beberapa upaya program kesehatan memiliki sasaran ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas atau ibu menyusui, sedangkan beberapa program lainnya dengan penduduk sasaran terfokus pada bayi, anak batita, anak balita, anak usia sekolah, wanita usia subur, usia lanjut dan lain-lain. Bagi petugas kesehatan, data sasaran program tersebut diperlukan untuk menyusun rencana kegiatan tahunan atau menghitung pencapaian indikator dalam rangka evaluasi keberhasilan upaya kesehatan. Walaupun sasaran program kesehatan memiliki arti penting bagi pengelola di semua jenjang manajemen, namun dalam 1

11 kenyataannya seringkali mengalami kesulitan untuk mendapatkan besaran angka sasaran tersebut. Dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai institusi yang berwenang dalam penyediaan data kependudukan, biasanya BPS hanya dapat menyediakan data kependudukan yang bersifat umum dan sangat terbatas, sesuai dengan hasil dari Sensus, Survei Penduduk Antara Sensus (Supas) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Untuk mendapatkan data penduduk sasaran program kesehatan, pengelola program akhirnya menggunakan perkiraan dengan angka proporsi masing-masing yang menghasilkan besaran angka sasaran yang berbeda-beda dan kurang dapat dipertanggung jawabkan walaupun sasarannya sama. Dalam upaya meningkatkan kualitas indikator kesehatan, Pusat Data dan Informasi membantu memfasilitasi pengelola program kesehatan untuk menghitung perkiraan penduduk sasaran program berdasarkan data Sensus, Supas, Registrasi, dan Susenas. Pemanfaatan data penduduk yang berasal dari berbagai sumber tersebut harus disertai dengan kehati-hatian, karena masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagi petugas kesehatan yang tidak memiliki keterampilan dalam bidang demografi, biasanya kurang memahami akan kelemahan dan kelebihan dari setiap sumber data penduduk tersebut. 2

12 BAB II PENGERTIAN DAN KEGUNAAN DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM A. Pengertian Penduduk sasaran program kesehatan adalah jumlah penduduk menurut karakteristik kelompok umur tertentu atau didasarkan pada kondisi siklus kehidupan yang terjadi dan merupakan target sasaran program pembangunan kesehatan. Kelompok sasaran program menurut karakteristik tertentu meliputi ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui. sedangkan sasaran program menurut kelompok umur, meliputi usia bayi, batita, balita, usia sekolah, usia remaja, wanita usia subur, usia produktif, usia lanjut dan lain-lain. Untuk mendapatkan pemahaman yang sama, dalam buku ini dilengkapi dengan beberapa pengertian tentang penduduk sasaran program serta istilah-istilah demografi yang terkait dengan cara-cara perhitungannya. 1. Sensus Sensus adalah keseluruhan proses pengumpulan (collecting), menghimpun dan menyusun (compiling), dan menerbitkan data-data demografi, ekonomi, dan sosial yang menyangkut semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau suatu wilayah tertentu. Konsep yang dipakai di negara kita adalah 3

13 kombinasi dari konsep de jure (mencatat orang-orang yang berada di tempat pada saat pencacahan) dan de facto (mencatat semua orang berdasarkan tempat tinggal). Tahun sensus biasanya dilakukan pada tahun yang berakhiran 0, seperti tahun 1990, 2000, Penduduk Penduduk adalah orang yang berdomisili di wilayah Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan mereka yang berdomisili kurang 6 bulan tetapi bertujuan menetap. 3. Laju Pertumbuhan Penduduk Laju pertumbuhan penduduk adalah angka yang menunjukkan perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. 4. Proyeksi Penduduk Proyeksi adalah perhitungan jumlah penduduk pada tahun yang akan datang atau tahun yang lalu berdasarkan perkiraan perubahan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. 5. Estimasi Estimasi adalah perkiraan ukuran fertilitas dan mortalitas dengan perhitungan secara tidak langsung berdasarkan data sensus atau survei pada tahun yang sama. 6. Data Sensus Penduduk Data sensus penduduk adalah data yang diperoleh dengan cara sensus yang merujuk pada keadaan penduduk pada tanggal 31 Oktober pada tahun sensus tersebut. 4

14 7. Data Proyeksi Penduduk Data proyeksi penduduk adalah data yang didapatkan dengan cara proyeksi yang merujuk keadaan penduduk pada tanggal 31 Desember pada tahun proyeksi tersebut. 8. Kelompok Penduduk Sasaran Program Ibu hamil adalah ibu yang mengandung sampai usia kehamilan 42 minggu. Ibu melahirkan adalah semua wanita yang mengalami proses kelahiran bayi yang dikandung dengan usia kehamilan cukup bulan tanpa memperhitungkan cara kelahirannya. Ibu nifas adalah ibu yang telah melahirkan 6 jam pasca persalinan sampai dengan 42 hari. Ibu menyusui adalah semua wanita yang baru melahirkan bayinya dalam keadaan hidup. Wanita Usia Subur adalah semua wanita yang telah memasuki usia antara tahun tanpa memperhitungkan status perkawinannya. Sasaran menurut kelompok umur adalah sekelompok penduduk yang telah memasuki umur tertentu (tahun atau bulan) dan menjadi sasaran pelayanan program kesehatan: o Bayi adalah sekelompok penduduk berusia <1 tahun atau penduduk yang belum merayakan ulang tahunnya yang pertama. o Batita adalah sekelompok penduduk berusia <3 tahun atau penduduk yang belum merayakan ulang tahunnya yang ketiga. 5

15 o Balita adalah sekelompok penduduk berusia <5 tahun atau penduduk yang belum merayakan ulang tahunnya yang kelima. o Penduduk usia muda adalah sekelompok penduduk yang berumur 0-14 tahun. o Penduduk usia produktif adalah penduduk berumur tahun. o Penduduk usia lanjut adalah sekelompok penduduk yang telah berusia >60 tahun (kesepakatan Depsos yang dirujuk lintas sektor). Sedangkan menurut Depkes penduduk usia lanjut dikelompokkan menjadi sebagai berikut: o Kelompok usia prasenilis tahun. o Kelompok usia lanjut 60 tahun ke atas. o Kelompok usia risiko tinggi 70 tahun ke atas, atau usia 60 tahun ke atas dengan masalah kesehatan. B. Data Penduduk Sasaran Program Data penduduk sasaran program sangat diperlukan bagi pengelola program terutama untuk menyusun perencanaan (tahunan, lima tahunan) serta evaluasi hasil pencapaian upaya kesehatan yang telah dilaksanakan. Dalam perencanaan biasanya diperlukan untuk menghitung sasaran, menyusun rencana kegiatan serta kebutuhan sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan. Sedangkan untuk evaluasi program diperlukan sebagai denominator dalam menghitung keberhasilan pencapaian indikator pembangunan kesehatan atau untuk keperluan lainnya. 6

16 Upaya pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui berbagai program kegiatan yang biasanya memiliki karakteristik sasaran program yang sangat spesifik dan terkait erat dengan siklus kehidupan manusia. Secara umum penduduk sasaran program kesehatan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu: (1) Kelompok sasaran menurut umur dan jenis kelamin. Sasaran menurut umur biasanya dikelompokkan sesuai dengan faktor risiko kehidupannya. (2) Kelompok sasaran menurut kondisi ibu dikaitkan dengan siklus kehidupan wanita. Sasaran menurut siklus kehidupan wanita meliputi kehamilan, kelahiran dan masa nifas. Untuk lebih jelasnya, pengelompokan penduduk sasaran program kesehatan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. 7

17 Tabel 1 Pengelompokkan Penduduk Sasaran Program dan Sumber Datanya No Sasaran Program Kelompok Umur/ Perhitungan Sumber Data 1. Perinatal 0 7 hari Registrasi/Proyeksi 2. Neonatal 0 28 hari Registrasi/Proyeksi 3. Bayi 0 6 bulan 0 6 bulan Registrasi/Proyeksi 4. Bayi <1 tahun < 1 th (0 11 bln) Registrasi/Proyeksi 5. Batita (Bawah Tiga Tahun) < 3 th (0 2 th) Registrasi/Proyeksi 6. Balita (Bawah Lima Tahun) < 5 th (0 4 th) Registrasi/Proyeksi 7. Anak Balita 1 4 th Registrasi/Proyeksi 8. Anak Pra Sekolah 5 6 th Registrasi/Proyeksi 9. Usia Sekolah 7-12 th Registrasi/Proyeksi 10. Usia Remaja th Registrasi/Proyeksi 11. Wanita Usia Subur th Registrasi/Proyeksi (WUS) 12. Usia Produktif th Registrasi/Proyeksi 13. Prasenilis th Registrasi/Proyeksi (Pra Usia Lanjut) 14. Usia Lanjut > 60 th Registrasi/Proyeksi 15. Usia Lanjut Risiko Tinggi > 70 th Registrasi/Proyeksi 16. Ibu Hamil Jumlah kelahiran Registrasi/Proyeksi hidup x 1,1 17. Ibu Bersalin Jumlah kelahiran Registrasi/Proyeksi hidup x 1, Ibu Nifas Jumlah bayi lahir Registrasi/Proyeksi hidup 19. Ibu Menyusui Jumlah bayi lahir Registrasi/Proyeksi hidup 20. Jumlah Penduduk Registrasi/Proyeksi 8

18 Penduduk sasaran program biasanya memiliki karakteristik tertentu, namun adakalanya beberapa program memiliki penduduk sasaran yang sama sebagaimana terlihat dalam Tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Pemanfaatan Kelompok Sasaran Program Kesehatan No Kelompok Sasaran Program Program 1. Perinatal Kunjungan 2. Neonatal Kunjungan 3. Bayi Asi Esklusif 4. Bayi Imunisasi, Kes. Anak, Gizi, 5. Batita Imunisasi, Kes. Anak, Gizi 6. Balita Imunisasi, Kes. Anak, Gizi 7. Anak Balita Imunisasi, Kes. Anak, Gizi 8. Anak Pra Sekolah Imunisasi, Kes. Anak, Gizi 9. Usia Sekolah Imunisasi, UKS, Gizi 10. Usia Remaja Kes. Reproduksi, Gizi 11. Wanita Usia Subur (WUS) Kes Ibu, Imunisasi, Gizi, KB 12. Usia Produktif Kes. Reproduksi, Kes. Kerja, KB 13. Prasenilis (Pra Usila) Kes. Reproduksi, Kes. Jiwa, dll. 14. Usia Lanjut Kesehatan Usila 15. Usia Lanjut Risiko Tinggi Kesehatan Usila 16. Ibu Hamil Kes Keluarga, Imunisasi 17. Ibu Bersalin Kesehatan Keluarga 18. Ibu Nifas Kesehatan Keluarga 19. Ibu Meneteki Kesehatan Keluarga 20. Jumlah Penduduk Semua program/unit Data penduduk sasaran program selalu diperlukan mulai dari saat penyusunan rencana kegiatan tahunan hingga evaluasi 9

19 hasil kegiatan. Sebenarnya data penduduk sasaran program kesehatan merupakan bagian dari data kependudukan (demografi) yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik atau unit lain, namun ketersediaan datanya biasanya sangat terbatas dan kurang sesuai dengan penduduk sasaran program kesehatan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut maka pada akhirnya masing-masing pengelola program hanya bisa menghitung penduduk sasaran programnya secara estimasi yaitu dengan menggunakan angka proporsi (nasional) yang berbeda-beda walaupun karakteristik penduduk sasarannya sama. Kondisi demikian seringkali tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, karena angka proporsi nasional yang digunakan tidak selalu sesuai dengan struktur kependudukan di semua wilayah. Hal ini terbukti dengan hasil cakupan program yang kadang-kadang sangat kontroversial atau bisa mengecoh kita. Sebagai contoh hasil cakupan program kesehatan di beberapa daerah mendapatkan hasil sangat tinggi (>100 %) namun di daerah lainya memiliki hasil yang terlalu rendah atau selalu di bawah target. Sebenarnya tuntutan untuk mendapatkan data penduduk sasaran program secara akurat tidak mungkin dapat terpenuhi oleh karena perubahan penduduk sangatlah dinamis. Hal ini disebabkan karena tersedianya fasilitas transportasi yang dapat memberikan kemudahan bagi penduduk untuk melakukan mobilisasi antar wilayah. Oleh karena itu diharapkan setidaknya tersedia suatu metoda yang dapat digunakan untuk menghitung penduduk sasaran program kesehatan yang mendekati keadaan di lapangan dan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. 10

20 BAB III PERHITUNGAN PENDUDUK SASARAN PROGRAM A. Data Dasar Kependudukan Untuk menghitung jumlah penduduk sasaran program kesehatan disamping menggunakan data dasar yang telah ada di BPS seperti hasil Sensus, Supas, Susenas atau Registrasi yang dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah, dapat juga menggunakan angka indeks tertentu yang didasarkan atas asumsi hasil penelitian. Cara memperoleh data dasar kependudukan tersebut sangat berbeda, menurut aspek waktu Sensus dan Supas dilaksanakan melalui survei dengan periode sepuluh tahunan. Sensus dilaksanakan pada tahun berakhiran 0 sedangkan Supas berakhiran 5. Susenas dilaksanakan setiap tahun, sedangkan registrasi dilaksanakan setiap ada perubahan variabel kependudukan dan dilaporkan secara bulanan. Menurut aspek cakupan wilayah, Sensus dan registrasi mencakup keseluruhan penduduk hingga di pelosok, sedangkan Supas dan Susenas dilaksanakan hanya pada sebagian penduduk dengan menggunakan sampel. 11

21 Dari keempat sumber data dasar kependudukan tersebut, Sensus merupakan sumber data utama yang paling lengkap dalam bentuk umur tunggal dan terinci menurut jenis kelamin, kondisi wilayah hingga tingkat administrasi yang paling kecil. Sensus dapat diolah untuk menyediakan data penduduk sesuai sasaran program dengan penjumlahan secara langsung, tanpa harus dikonversikan terlebih dahulu. Adapun data kependudukan hasil Supas dan Susenas dapat menyediakan data penduduk menurut kelompok umur dan biasanya harus melalui konversi terhadap populasinya. Dari besaran sampel yang diambil, Supas memiliki jumlah sampel yang lebih besar sehingga dapat lebih dipercaya dibanding Susenas. Kelebihan data Susenas karena dilaksanakan setiap tahun sehingga dapat menyediakan data sasaran program secara teratur setiap tahun (berkesinambungan). Kelemahannya karena sumber datanya adalah sampel dengan jumlah relatif kecil dibandingkan sampel pada Supas, maka dalam penghitungan sasaran program kesehatan membutuhkan ketelitian terutama dalam mengkonversi-kan ke populasinya. Biasanya hasil yang diperoleh juga memiliki keterbatasan hingga pada tingkat administrasi Kab/Kota. Registrasi juga merupakan sumber data untuk menghitung penduduk sasaran program, meskipun sulit untuk dipakai pada tingkat wilayah administrasi yang lebih tinggi. Pada tingkat kecamatan data hasil registrasi sangat diperlukan, karena akan langsung berhubungan dengan data individu sasaran program. 12

22 Pada perencanaan tingkat kabupaten/kota dan provinsi penggunaan data registrasi kurang tepat dipakai karena faktor kecepatan pendataan dan kompilasinya atau pengolahannya di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Hal ini sering terjadi saat pendataan sasaran program berjenjang, karena faktor waktu pelaporan dari kecamatan ke kabupaten dan propinsi maka umur individu sasaran program sudah berubah. Maka untuk mengatasinya, perlu kombinasi antara registrasi dan proyeksi berdasarkan hasil Sensus, Supas, Susenas, dan Registrasi itu sendiri. Dari studi kasus di Kabupaten Kebumen dan pengalaman lapangan lainnya, data registrasi berguna untuk menghitung penduduk sasaran program meskipun belum sepenuhnya diakui keakuratannya. Pada tingkat kecamatan data tersebut sangat diperlukan karena langsung berhubungan dengan individu sasaran program di perdesaan wilayah tersebut. B. Perhitungan Penduduk Sasaran Program Berdasarkan sumber data dasar kependudukan, dapat dipastikan bahwa untuk menyediakan kebutuhan data penduduk sasaran program setiap tahun sangat sulit dipenuhi, padahal data dimaksud sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan. Dalam hal ini diperlukan suatu upaya terobosan untuk dapat memenuhi kebutuhan program dengan menggunakan formulasi penghitungan penduduk. B.1. Penduduk Sasaran Program Umur Satuan Tahun Penghitungan penduduk sasaran program dalam umur satuan tahun sangat bergantung pada data dasar kependudukan yang akan digunakan. Bila data dasar kependudukan sudah 13

23 tersaji dalam umur tunggal (biasanya hasil Sensus dan Registrasi), maka langkah penghitungan penduduk sasaran program akan berbeda bila data dasar yang tersedia dalam kelompok umur lima tahunan seperti hasil Supas dan Susenas. Secara umum tahapan penghitungan penduduk sasaran program adalah sebagai berikut: 1. Penghitungan penduduk sasaran program pada kurun waktu sesuai data dasar. a. Data dasar yang bersumber dari Sensus dan Registrasi. Data kependudukan hasil suatu kegiatan Sensus dan Registrasi, biasanya sudah tersaji dalam bentuk umur tunggal. Penghitungan penduduk sasaran program untuk tahun pelaksanaan kegiatan Sensus/Registrasi dapat dilakukan secara langsung dengan menjumlahkan penduduk umur tunggal kedalam kelompok umur sasaran program yang dikehendaki. b. Data dasar bersumber Supas dan Susenas. Data kependudukan yang berasal dari kegiatan Supas dan Susenas, biasanya tersaji dalam bentuk kelompok umur lima tahunan. Oleh karena itu untuk dapat menghitung kelompok penduduk sasaran program dilakukan dalam dua tahapan, yaitu: 1). Memecah kelompok umur menjadi umur tunggal Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memecah kelompok umur lima tahunan menjadi umur tunggal, salah satu diantaranya adalah metode Beers (ordinary). 14

24 Formula perhitungan ini dipergunakan untuk memecah penduduk kelompok umur 5 tahunan menjadi umur tunggal atau tahunan. Perhitungannya menggunakan angka koefisien atau bilangan konstanta (G1-G5) sebagai mana terlihat dalam Tabel 3 berikut: Tabel 3 Koefisien untuk Pemecahan Umur dengan Metode Beers (ordinary) Interpolated Coefficient (first panel = 0-4 tahun) G1 G2 G3 G4 G5 (1) (2) (3) (4) (5) (6) First five of G1 (0 tahun) 0,3333-0,1636-0,0210 0,0796-0,0283 Second five of G1 (1 tahun) 0,2595-0,0780 0,0130 0,0100-0,0045 Third five of G1 (2 tahun) 0,1924 0,0064 0,0184-0,0256 0,0084 Fourth five of G1 (3 tahun) 0,1329 0,0844 0,0054-0,0356 0,0129 Fifth five of G1 (4 tahun) 0,0819 0,1508-0,0158-0,0284 0,0115 Next to first panel (5-9 tahun) First five of G2 (5 tahun) 0,0404 0,2000-0,0344-0,0128 0,0068 Second five of G2 (6 tahun) 0,0093 0,2268-0,0402 0,0028 0,0013 Third five of G2 (7 tahun) -0,0108 0,2272-0,0248 0,0112-0,0028 Fourth five of G2 (8 tahun) -0,0198 0,1992 0,0172 0,0072-0,0038 Fifth five of G2 (9 tahun) -0,0191 0,1468 0,0822-0,0084-0,0015 Middle panel First five of G3-0,0117 0,0804 0,1570-0,0284 0,0027 Second five of G3-0,0020 0,0160 0,2200-0,0400 0,0060 Third five of G3 0,0050-0,0280 0,2460-0,0280 0,0050 Fourth five of G3 0,0060-0,0400 0,2200 0,0160-0,0020 Fifth five of G3 0,0027-0,0284 0,1570 0,0804-0,0117 Next to last panel First five of G4-0,0015-0,0084 0,0822 0,1468-0,0191 Second five of G4-0,0038 0,0072 0,0172 0,1992-0,0198 Third five of G4-0,0028 0,0112-0,0248 0,2272-0,0108 Fourth five of G4 0,0013 0,0028-0,0402 0,2268 0,0093 Fifth five of G4 0,0068-0,0128-0,0344 0,2000 0,0404 Last panel First five of G5 0,0115-0,0284-0,0158 0,1508 0,0819 Second five of G5 0,0129-0,0356 0,0054 0,0844 0,1329 Third five of G5 0,0084-0,0256 0,0184 0,0064 0,1924 Fourth five of G5-0,0045 0,0100 0,0130-0,0780 0,2595 Fifth five of G5-0,0283 0,0796-0,0210-0,1636 0,

25 Misalnya kita ingin memecah kelompok umur hasil estimasi penduduk Indonesia menurut kelompok umur (interval lima tahunan) dan jenis kelamin tahun 2008 seperti pada Tabel 4 di bawah ini: Tabel 4 Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 KELOMPOK L P L + P (1) (2) (3) (4) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,700 Jumlah , , ,300 Sumber : Badan Pusat Statistik 16

26 Untuk memecah kelompok umur di atas menjadi umur tunggal dapat menggunakan angka koefisien atau bilangan konstanta dengan menggunakan panel yang sesuai untuk kelompok umurnya. Contoh perhitungan : - Pemecahan kelompok penduduk laki-laki 0-4 tahun tahun 2008 Untuk pemecahan kelompok umur 0-4 tahun kita menggunakan angka koefisien first panel dan penduduk dasar kelompok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun dan tahun, tahun, dan tahun dengan perhitungan sebagai berikut : Umur 0 tahun = 0,3333(10.823,000) 0,1636(10.312,100) 0,0210(10.596,700) + 0,0796(10.835,000) 0,0283(10.645,500) = 2.258,914 Umur 1 tahun = 0,2595(10.823,000) 0,0780(10.312,100) + 0,0130(10.596,700) + 0,0100(10.835,000) 0,0045(10.645,500) = 2.202,427 Umur 2 tahun = 0,1924(10.823,000) + 0,0064(10.312,100) + 0,0184(10.596,700) - 0,0256(10.835,000) + 0,0084(10.645,500) = 2.117,541 Umur 3 tahun = 0,1329(10.823,000) + 0,0844(10.312,100) + 0,0054(10.596,700) - 0,0356(10.835,000) + 0,0129(10.645,500) = 2.088,750 17

27 Umur 4 tahun = 0,0819(10.823,000) - 0,1508(10.312,100) - 0,0158(10.596,700) - 0,0284(10.835,000) + 0,0115(10.645,500) = 2.068,844 - Pemecahan kelompok penduduk laki-laki 5-9 tahun tahun 2008 Untuk pemecahan kelompok umur 5-9 tahun kita menggunakan angka koefisien Next to first panel dan penduduk dasar kelompok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun, tahun, tahun, dan tahun dengan perhitungan sebagai berikut : Umur 5 tahun = (10.823,000) (10.312,100) 0,0344(10.596,700) - 0,0128(10.835,000) + 0,0068(10.645,500) = 2.068,844 Umur 6 tahun = 0,0093(10.823,000) + 0,2268(10.312,100) - 0,0402(10.596,700) + 0,0028(10.835,000) + 0,0013(10.645,500) = 2.057,628 Umur 7 tahun = -0,0108(10.823,000) + 0,2272(10.312,100) - 0,0248(10.596,700) + 0,0112(10.835,000) - 0,0028(10.645,500) = 2.054,767 Umur 8 tahun = -0,0198(10.823,000) + 0,01992(10.312,100) + 0,0172(10.596,700) - 0,0072(10.835,000) - 0,0038(10.645,500) = 2.059,697 18

28 Umur 9 tahun = -0,0191(10.823,000) - 0,1468(10.312,100) + 0,0822(10.596,700) - 0,0084(10.835,000) - 0,0015(10.645,500) = 2.071,163 Langkah selanjutnya untuk mendapatkan data penduduk sasaran pogram tinggal menjumlahkan angka umur tunggal kedalam kelompok penduduk sasaran program yang dikehendaki, misalnya: - Bayi (umur < 1 tahun) = 2.258,914 - Batita (umur 0-2 tahun) = 2.258, , ,541 = 6.578,882 - dan seterusnya. Untuk pemecahan kelompok umur 5 tahunan menjadi umur tunggal per provinsi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 dapat dilihat pada Lampiran 1 sedangkan penduduk sasaran program per provinsi dari tahun dapat dilihat pada Lampiran 2. 2) Menjumlahkan umur tunggal menjadi sasaran program Setelah penduduk dipecah menjadi umur tunggal, maka untuk menghitung penduduk sasaran program tinggal menjumlahkan angka-angka penduduk umur tunggal kedalam kelompok umur sasaran program yang dikehendaki. Sebagai contoh kelompok umur 0-4 dipecah menjadi umur tunggal (0,1,2,3,4 tahun) kemudian 19

29 dikelompokkan kembali menjadi sasaran program dalam tahun berjalan sebagai berikut: - Bayi, umur 0 tahun, - Batita, umur 0 2 tahun, - Balita, umur 0 4 tahun - Anak balita, umur 1-4 tahun. Untuk mengetahui ketepatan rumus dalam menghitung penduduk sasaran program tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan data riil di lapangan atau hasil Sensus Penduduk. 2. Perkiraan penduduk sasaran program untuk tahun mendatang Untuk memperkirakan penduduk sasaran program pada tahun berikutnya dilakukan dengan cara proyeksi dengan menggunakan rumus geometrik dengan penduduk dasar adalah hasil pengelompokan penduduk sasaran program dan angka pertumbuhan pada dua periode sebelumnya. B.2. Penduduk Sasaran Program Umur Satuan Bulan Untuk menghitung penduduk sasaran program umur satuan bulan diperlukan data dasar jumlah kelahiran hidup. Jumlah bayi yang lahir hidup secara teoritis dapat diperkirakan melalui angka kelahiran kasar (CBR = Crude Birth Rate), atau jumlah penduduk umur 0 tahun. Dari angka CBR dikalikan jumlah penduduk, maka akan diperoleh jumlah bayi lahir hidup pada tahun yang sama. 20

30 CBR x jumlah penduduk = jumlah bayi lahir hidup Apabila tidak tersedia data CBR, maka dapat diperkirakan melalui jumlah penduduk umur 0 tahun serta angka kematian bayi tahun yang sama. Pengertian penduduk umur 0 tahun ini artinya jumlah penduduk yang baru lahir sampai satu hari sebelum ulang tahun pertamanya. Angka kematian bayi (IMR = Infant Mortality Rate) dapat diperoleh dengan menggunakan publikasi dari BPS atau hasil survey dan apabila data IMR tidak tersedia maka dapat menggunakan angka standarisasi IMR Provinsi. Sedangkan untuk menghitung penduduk umur satuan bulan menggunakan dasar kelahiran hidup selama satu tahun adalah dengan mempergunakan asumsi bahwa jumlah kelahiran dan kematian terjadi merata sepanjang tahun, maka jumlah bayi menurut umur bulan dapat dihitung. Apabila jumlah penduduk umur 0 tahun dan IMR diketahui, maka dapat diperkirakan jumlah bayi lahir hidup pada tahun yang bersangkutan. Estimasi Angka Kematian Bayi (IMR) menurut Provinsi , dapat dilihat di dalam buku Proyeksi Penduduk Indonesia terbitan Bappenas BPS dan UNFPA tahun 2005 dapat dilihat yang dapat dijadikan sebagai salah satu referensi. 21

31 B.3. Penduduk Sasaran Program dalam Kondisi Tertentu Penduduk sasaran program kesehatan dalam kondisi tertentu meliputi ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui. Perkiraan jumlah untuk sasaran program tersebut pada saat ini masih menggunakan koefisien tertentu yang sumbernya dari WHO dan dipergunakan secara umum untuk seluruh wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Hasil dari penghitungan dengan menggunakan koefisien ini dirasakan tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi lapangan. Hal ini tentunya dapat dimaklumi oleh karena adanya perbedaan situasi antar wilayah. 1. Ibu Hamil Tidak semua kehamilan yang terjadi berakhir dengan kelahiran hidup sehingga jumlah ibu melahirkan lebih kecil dari pada jumlah ibu hamil. Demikian juga tidak semua peristiwa persalinan berhasil melahirkan bayi (lahir hidup) Formula untuk memperkirakan jumlah ibu hamil dalam suatu wilayah belum ada yang pasti, namun karena untuk kebutuhan proram, maka dapat dilakukan penghitungan secara tidak langsung dengan estimasi CBR menggunakan teori penduduk stabil dan life table, apabila data level of mortality-nya tersedia. Perkiraan jumlah ibu hamil adalah sebesar 1,1 X jumlah kelahiran hidup (angka 1,1 adalah koefisien dari WHO). Sedangkan jumlah kelahiran hidup dapat dihitung dari angka CBR x jumlah penduduk. Contoh perhitungan: Jumlah penduduk = CBR = 2,5% 22

32 - Jumlah Bayi Lahir Hidup = 2,5 % X = Jumlah perkiraan ibu hamil = 1,1 x = orang 2. Ibu Melahirkan Untuk memperkirakan jumlah ibu melahirkan menggunakan angka koefisien dari WHO sebesar 1,05 dari kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kelahiran hidup dapat dihitung dari angka CBR x jumlah penduduk. Contoh perhitungan: Jumlah penduduk = CBR = 2,5% - Jumlah Bayi Lahir Hidup = 2,5 % X = Jumlah perkiraan ibu melahirkan = 1,05 x = orang 3. Ibu Nifas, Ibu Menyusui Untuk memperkirakan jumlah ibu menyusui digunakan asumsi bahwa semua bayi lahir hidup akan disusui, sehingga jumlah ibu menyusui dianggap sama dengan jumlah bayi lahir hidup. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah ibu nifas, digunakan asumsi bahwa semua proses kelahiran (lahir mati dan lahir hidup) akan melewati masa nifas, namun demikian oleh karena angka kelahiran mati belum diketahui dengan jelas maka jumlah ibu nifas dianggap sama dengan jumlah bayi lahir hidup. 23

33 BAB IV P E N U T U P Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah belum ada kesepakatan dalam penentuan jumlah penduduk sasaran program. Kita berharap agar penentuan target sasaran program ini dapat disepakati bersama oleh para pengelola program melalui satu pintu, dalam hal ini disepakati bersama dan diputuskan oleh manager tertinggi di dalam wilayah itu. Melalui buku ini diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan khususnya untuk menghitung target sasaran program. 24

34 DAFTAR PUSTAKA Bappenas BPS dan UNFPA. Proyeksi Penduduk Indonesia Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS). Proyeksi Penduduk Tahun Jakarta, Drs. Mudjihardjo, MKes. Evaluasi Registrasi Penduduk untuk Mendukung Program Program Kesehatan Tingkat Kabupaten: Contoh Kasus Kabupaten Kebumen Tahun Jakarta, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI. Dasar Dasar Demografi, Edisi Jakarta,

35 LAMPIRAN 1 ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN

36 TABEL ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2007 INDONESIA L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

37 TABEL ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2008 INDONESIA L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

38 TABEL ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2009 INDONESIA L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) 0 2, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

39 TABEL ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2010 INDONESIA L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

40 TABEL ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2011 INDONESIA L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) 0 2, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

41 ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2007 PROVINSI: NAD L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

42 ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2008 PROVINSI: NAD L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

43 ESTIMASI PENDUDUK TUNGGAL MENURUT TAHUN 2009 PROVINSI: NAD L P L + P L P L + P (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) TOTAL Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN 2011-2014 PUSAT DATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI JAKARTA 2011 KATA PENGANTAR Dalam rangka pemantauan rencana aksi percepatan pelaksanaan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG DATA SASARAN PROGRAM KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SEKRETARIS

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Padahal sumber data penduduk yang tersedia hanya secara periodik, yaitu Sensus Penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Padahal sumber data penduduk yang tersedia hanya secara periodik, yaitu Sensus Penduduk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Para pemakai data kependudukan, khususnya para perencana, pengambil kebijaksanaan, dan peneliti sangat membutuhkan data penduduk yang berkesinambungan dari tahun ke

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI BANTEN TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Banten

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP 27 November 2014 KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, November 2008 Kepala Pusat Data dan Informasi. DR. Bambang Hartono, SKM, MSc. NIP

KATA PENGANTAR. Jakarta, November 2008 Kepala Pusat Data dan Informasi. DR. Bambang Hartono, SKM, MSc. NIP KATA PENGANTAR Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2007 ini disusun untuk menyediakan beberapa data/informasi kesehatan secara garis besar pencapaian program-program kesehatan di Indonesia. Pada edisi ini selain

Lebih terperinci

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA Drs. Razali Ritonga, MA (Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS RI) Disampaikan di Lokakarya Perkawinan Anak, Moralitas Seksual, dan Politik

Lebih terperinci

PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN Status Gizi Provinsi

PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN Status Gizi Provinsi LAMPIRAN 1 PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 Status Gizi No Provinsi Gizi Buruk (%) Gizi Kurang (%) 1 Aceh 7,9 18,4

Lebih terperinci

SOSIOSFIR. Sosiosfir. Sosiosfir dan Kesehatan. Lingkungan yang tercipta akibat interaksi antar manusia secara menalar.

SOSIOSFIR. Sosiosfir. Sosiosfir dan Kesehatan. Lingkungan yang tercipta akibat interaksi antar manusia secara menalar. SOSIOSFIR Sosiosfir Lingkungan yang tercipta akibat interaksi antar manusia secara menalar. Pola pikir seseorang: Sikap, pengetahuan, kepercayaan dan norma. Pola pikir menentukan perilaku 1 2 Perilaku

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI GORONTALO TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Gorontalo

Lebih terperinci

ii Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup Penduduk Indonesia Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup Penduduk Indonesia HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 ISBN : No. Publikasi: 04000.1 Katalog BPS: Ukuran Buku: B5

Lebih terperinci

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan. S ensus Penduduk, merupakan bagian terpadu dari upaya kita bersama untuk mewujudkan visi besar pembangunan 2010-2014 yakni, Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan. Keberhasilan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA POLICY UPDATE Arah dan Strategi Kebijakan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia WIKO SAPUTRA Peneliti Kebijakan Ekonomi dan Publik

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI KALIMANTAN UTARA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk

Lebih terperinci

w tp :// w ht.b p w.id s. go ii Umur dan Jenis Kelamin Penduduk Indonesia Umur dan Jenis Kelamin Penduduk Indonesia HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 ISBN : 978-979-064-314-7 No. Publikasi: 04000.1109 Katalog

Lebih terperinci

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor), Babi Aceh 0.20 0.20 0.10 0.10 - - - - 0.30 0.30 0.30 3.30 4.19 4.07 4.14 Sumatera Utara 787.20 807.40 828.00 849.20 871.00 809.70 822.80 758.50 733.90 734.00 660.70 749.40 866.21 978.72 989.12 Sumatera

Lebih terperinci

ANALISA POTENSI LAYANAN KESEHATAN INDONESIA

ANALISA POTENSI LAYANAN KESEHATAN INDONESIA ANALISA POTENSI LAYANAN KESEHATAN INDONESIA Biro Riset BUMN Center LM FEUI Industri layanan kesehatan sedikitnya memiliki lima jenis entitas bisnis yang terkait, yaitu rumah sakit yang dapat dibagi lagi

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara. LAMPIRAN I ZONA DAN KOEFISIEN MASING-MASING ZONA Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 Zona 5 Zona 6 Koefisien = 5 Koefisien = 4 Koefisien = 3 Koefisien = 2 Koefisien = 1 Koefisien = 0,5 DKI Jakarta Jawa Barat Kalimantan

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Indikasi adanya ledakan penduduk di Indonesia yang ditunjukkan beberapa indikator demografi menjadikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antara pemerintah dan pihak swasta (masyarakat) sehingga sumber daya yang ada

BAB I PENDAHULUAN. antara pemerintah dan pihak swasta (masyarakat) sehingga sumber daya yang ada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah adalah sebuah proses terciptanya kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta (masyarakat) sehingga sumber daya yang ada dapat dikelola untuk

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017 MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016

Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016 Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016 Lampiran Perjanjian Kinerja Direktur Kesehatan Keluarga dengan Dirjen Kesehatan Masyarakat. Lampiran, Cakupan Indikator Kesehatan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

JUMLAH PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA ASAL PROVINSI BERDASARKAN JENIS KELAMIN PERIODE 1 JANUARI S.D 31 OKTOBER 2015

JUMLAH PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA ASAL PROVINSI BERDASARKAN JENIS KELAMIN PERIODE 1 JANUARI S.D 31 OKTOBER 2015 JUMLAH PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA ASAL PROVINSI BERDASARKAN JENIS KELAMIN NO PROVINSI LAKI-LAKI PEREMPUAN Total 1 ACEH 197 435 632 2 SUMATERA UTARA 1,257 8,378 9,635 3 SUMATERA BARAT 116 476 592

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Semoga Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini bermanfaat. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Informasi

KATA PENGANTAR. Semoga Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini bermanfaat. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Informasi KATA PENGANTAR Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini disusun untuk menyediakan beberapa data/informasi kesehatan secara garis besar pencapaian program-program kesehatan di Indonesia. Pada edisi ini selain

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi,

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi, yang Tersedia pada Menurut, 2000-2015 2015 yang Tersedia pada ACEH 17 1278 2137 SUMATERA UTARA 111 9988 15448 SUMATERA BARAT 60 3611 5924 RIAU 55 4912 7481 JAMBI 29 1973 2727 SUMATERA SELATAN 61 4506 6443

Lebih terperinci

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011 TABEL 1 GAMBARAN UMUM No. Provinsi Lembaga Pengelola Pengunjung Judul Buku 1 DKI Jakarta 75 83 7.119 17.178 2 Jawa Barat 1.157 1.281 72.477 160.544 3 Banten 96 88 7.039 14.925 4 Jawa Tengah 927 438 28.529

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

w tp :// w ht.b p w.id s. go FERTILITAS PENDUDUK INDONESIA HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 ISBN: 978-979-064-312-3 No. Publikasi: 04000.1107 Katalog BPS: 2102025 Ukuran Buku: 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman:

Lebih terperinci

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN Pembangunan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Tahun 2016 PERUMAHAN PERBATASAN LAIN2 00 NASIONAL 685.00 1,859,311.06 46,053.20 4,077,857.49 4,523.00 359,620.52 5,293.00 714,712.50 62,538.00 1,344,725.22

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014

PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014 PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014 1 Jumlah kabupaten/kota 8 Tenaga Kesehatan di fasyankes Kabupaten 9 Dokter spesialis 134 Kota 2 Dokter umum 318 Jumlah 11 Dokter gigi 97 Perawat 2.645 2 Jumlah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

4203002 2 Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2012 PROFIL KESEHATAN ffiu DAN ANAK 2012 Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2012 ISSN: 2087-4480 No. Publikasi: 04230.1202 Katalog BPS: 4203002 Ukuran Buku: 18,2 cm x

Lebih terperinci

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN BADAN PUSAT STATISTIK BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No.53/09/16 Th. XVIII, 01 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA SELATAN MARET 2016 GINI RATIO SUMSEL PADA MARET 2016 SEBESAR

Lebih terperinci

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi,

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi, Menurut, 2000-2016 2015 ACEH 17 1.278 2.137 20 1.503 2.579 SUMATERA UTARA 111 9.988 15.448 116 10.732 16.418 SUMATERA BARAT 60 3.611 5.924 61 3.653 6.015 RIAU 55 4.912 7.481 58 5.206 7.832 JAMBI 29 1.973

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA PER PROPINSI

PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA PER PROPINSI PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA PER PROPINSI MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN 2005 2015 Badan Pusat Statistik, Jakarta - Indonesia PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA 2005 2015 PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA PER

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU dr. Budihardja, DTM&H, MPH Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Disampaikan pada Pertemuan Teknis Program Kesehatan Ibu Bandung,

Lebih terperinci

Studi Kependudukan - 1. Demografi formal. Konsep Dasar. Studi Kependudukan - 2. Pertumbuhan Penduduk. Demographic Balancing Equation

Studi Kependudukan - 1. Demografi formal. Konsep Dasar. Studi Kependudukan - 2. Pertumbuhan Penduduk. Demographic Balancing Equation Demografi formal Pengumpulan dan analisis statistik atas data demografi Dilakukan ahli matematika dan statistika Contoh : jika jumlah perempuan usia subur (15-49) berubah, apa pengaruhnya pada tingkat

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

STATISTIK PENDUDUK PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014

STATISTIK PENDUDUK PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 STATISTIK PENDUDUK 1971-2015 PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Statistik Penduduk 1971-2015 Ukuran Buku : 27 Cm x 19 Cm (A4) Jumlah Halaman : 257 halaman Naskah : Pusat

Lebih terperinci

Keynote Speech. Nila Farid Moeloek. Disampaikan pada Mukernas IAKMI XIV Manado, 18 Oktober 2017

Keynote Speech. Nila Farid Moeloek. Disampaikan pada Mukernas IAKMI XIV Manado, 18 Oktober 2017 www.iakmi.or.id Keynote Speech Nila Farid Moeloek Disampaikan pada Mukernas IAKMI XIV Manado, 18 Oktober 2017 SISTEMATIKA PENYAJIAN ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN PENDEKATAN KELUARGA GERAKAN MASYARAKAT HIDUP

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK No. 58/11/Th. XI, 6 November 2017 BERITA RESMI STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA BARAT Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Provinsi Papua Barat Triwulan III 2017 ITK Papua Barat Triwulan III 2017

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Historical cakupan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan

Historical cakupan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan Historical cakupan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan A. Tahun 2006 Pada tahun 2006 merupakan lokasi P2KP yang terdiri dari lokasi P2KP-I, P2KP-II DAN P2KP-III. Adapun pembagian lokasi sasaran adalah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013

ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013 ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA i NASIONAL DIREKTORAT PELAPORAN DAN STATISTIK

Lebih terperinci

Analisis Proyeksi Penduduk Jambi Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia

Analisis Proyeksi Penduduk Jambi Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia Analisis Proyeksi Penduduk Jambi 2010-2035 Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi 2015 Analisis Proyeksi Penduduk Jambi 2010-2035 (Berdasarkan Proyeksi Penduduk

Lebih terperinci

tp :// w ht.g o ps.b w w.id PERTUMBUHAN DAN PERSEBARAN Penduduk Indonesia HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 ISBN: 978-979-064-313-0 No. Publikasi: 04000.1108 Katalog BPS: 2102024 Ukuran Buku: B5 (18,2 cm x 25,7

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Mengurangi Kemiskinan Melalui Keterbukaan dan Kerjasama Penyediaan Data

Mengurangi Kemiskinan Melalui Keterbukaan dan Kerjasama Penyediaan Data Mengurangi Kemiskinan Melalui Keterbukaan dan Kerjasama Penyediaan Data Disampaikan oleh: DeputiMenteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan pada Peluncuran Peta Kemiskinan dan Penghidupan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

INDEKS KEBAHAGIAAN INDONESIA TAHUN 2017

INDEKS KEBAHAGIAAN INDONESIA TAHUN 2017 BADAN PUSAT STATISTIK INDEKS KEBAHAGIAAN INDONESIA TAHUN 2017 No. 79/08/Th. XX, 15 Agustus 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN INDONESIA TAHUN 2017 SEBESAR 70,69 PADA SKALA 0 100 Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 berdasarkan

Lebih terperinci

Pertumbuhan Simpanan BPR Dan BPRS

Pertumbuhan Simpanan BPR Dan BPRS Pertumbuhan Simpanan BPR Dan BPRS Semester I Tahun 2014 Divisi Statistik, Kepesertaan, dan Premi Penjaminan Direktorat Penjaminan dan Manajemen Risiko DAFTAR ISI Jumlah BPR/BPRS Peserta Penjaminan Grafik

Lebih terperinci

BioStatistik. Amiyella Endista Website :

BioStatistik. Amiyella Endista   Website : Amiyella Endista E-mail : amiyella.endista@yahoo.com Website : www.berandakami.wordpress.com 1. Statistik Kelahiran 2. Statistik Kematian 3. Statistik Kesakitan Konsep Angka Kelahiran Tahunan Indikator

Lebih terperinci

INDEKS KEBAHAGIAAN SULAWESI BARAT TAHUN 2017

INDEKS KEBAHAGIAAN SULAWESI BARAT TAHUN 2017 BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 79/08/Th. XX, 15 Agustus 2017 No. 51/08/76/Th.XI, 15 Agustus 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN SULAWESI BARAT TAHUN 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN SULAWESI BARAT TAHUN 2017 SEBESAR 70,02

Lebih terperinci

ii DATA DAN INDIKATOR GENDER di INDONESIA

ii DATA DAN INDIKATOR GENDER di INDONESIA ii Kata Pengantar i DAFTAR ISI Kata Pengantar...i Daftar Isi... iii Daftar Tabel...v Daftar Gambar...xi Bab I KEPENDUDUKAN... 1 Bab II INDIKATOR GENDER... 9 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER Provinsi DKI Jakarta TAHUN 2011

INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER Provinsi DKI Jakarta TAHUN 2011 No. 07/01/31/Th. XV, 2 Januari 2013 INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER Provinsi DKI Jakarta TAHUN 2011 1. Indeks Pembangunan Gender (IPG) DKI Jakarta Tahun 2011 A. Penjelasan Umum

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN MANUSIA BERBASIS GENDER TAHUN 2015

PEMBANGUNAN MANUSIA BERBASIS GENDER TAHUN 2015 BPS PROVINSI MALUKU No. 05/010/81/Th. I, 3 Oktober 2016 PEMBANGUNAN MANUSIA BERBASIS GENDER TAHUN 2015 Untuk melngkapi penghitungan IPM, UNDP memasukan aspek gender ke dalam konsep pembangunan manusia.

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN BADAN PUSAT STATISTIK No.06/02/81/Th.2017, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO MALUKU PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,344 Pada September 2016,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan manusia merupakan salah satu syarat mutlak bagi kelangsungan hidup bangsa dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menciptakan pembangunan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 13/02/12/Th. XX, 06 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,312 Pada ember

Lebih terperinci

Jumlah Ternak yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) menurut Provinsi dan Jenis Ternak (ekor),

Jumlah Ternak yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) menurut Provinsi dan Jenis Ternak (ekor), Sapi ACEH 25055 25902 18002 23456 22172 19693 9931 27698 26239 35601 36014 36287 30145 11316 10986 13231 SUMATERA UTARA 22557 22578 17050 21686 20380 19275 20816 24077 19676 28901 31926 32163 21761 24434

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/9/13/Th. XIX, 1 ember 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,331 Pada 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk

Lebih terperinci

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT No. 42 / IX / 14 Agustus 2006 PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005 Dari hasil Susenas 2005, sebanyak 7,7 juta dari 58,8 juta rumahtangga

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No.39/07/Th.XX, 17 Juli 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 GINI RATIO PADA MARET 2017 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN II-2016 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum No. 44/08/94/Th. VI, 5 Agustus 2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. 47/08/16/Th. XIX, 15 Agustus 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN SUMSEL TAHUN 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN SUMSEL TAHUN 2017 SEBESAR 71,98 PADA SKALA 0-100 Kebahagiaan

Lebih terperinci

- 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018

- 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018 - 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018 MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

2

2 2 3 c. Pejabat Eselon III kebawah (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN HALFDAY FULLDAY FULLBOARD (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH

Lebih terperinci

Pertumbuhan Simpanan BPR/BPRS. Semester I Tahun 2013

Pertumbuhan Simpanan BPR/BPRS. Semester I Tahun 2013 Pertumbuhan Simpanan BPR/BPRS Semester I Tahun 2013 DAFTAR ISI Pertumbuhan Simpanan pada BPR/BPRS Grafik 1 10 Dsitribusi Simpanan pada BPR/BPRS Tabel 9 11 Pertumbuhan Simpanan Berdasarkan Kategori Grafik

Lebih terperinci