BAB 4 GAMBARAN UMUM DEWAN PENDIDIKAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 GAMBARAN UMUM DEWAN PENDIDIKAN"

Transkripsi

1 BAB 4 GAMBARAN UMUM DEWAN PENDIDIKAN Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan, diperlukan wadah yang dapat mengakomodasi pandangan, aspirasi, dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas. Salah satu wadah tersebut adalah Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sendiri merupakan amanat rakyat yang selaras dengan kebijakan otonomi daerah, dimana memposisikan kabupaten/kota sebagai pemegang kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Patut dicatat bahwasanya pelaksanaan pendidikan di daerah tidak hanya diserahkan kepada kabupaten/kota, melainkan juga dalam beberapa hal tertentu diberikan kepada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah propinsi, kabupaten/kota, dan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat atau stakeholder pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep partisipasi berbasis masyarakat (community-based participation) dan manajemen berbasis sekolah (school-based management), yang kini tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah mulai dilaksanakan di Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut diatas maka, pada tahun anggaran 2001 Pemerintah telah melaksanakan rintisan sosialisasi pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah di Propinsi Sumatera Barat, Bali, dan Jawa Timur masing-masing satu kabupaten/kota. Selain itu ada beberapa kabupaten/kota yang telah membentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah berdasarkan inisiatif sendiri. Berdasarkan hasil sosialisasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah memang dipandang sangat strategis sebagai wahana untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. 39

2 40 Beberapa kalangan masyarakat yang diundang untuk memberikan masukan tentang pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, pada umumnya sangat antusias dan mendukung sepenuhnya gagasan ini Pengertian dan Nama Pengertian Dengan mengacu pada prinsip desentralisasi pendidikan, maka sekolah memperoleh kewenangan dalam menyusun program yang akan dilaksanakan. Di samping, sekolah juga memperoleh kewenangan untuk mengelola segala sarana dan prasarana yang tersedia, mengelola SDM yang dimiliki, serta melibatkan kepedulian stakeholder dalam pelaksanaan pendidikan. Semua ini bertujuan untuk merealisasikan pasal 31 dalam Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran yang bermutu, disamping juga untuk mencapai tujuan diserahkannya pengelolaan pendidikan dasar dan menengah kepada pemerintah daerah seperti yang tertuang dalam konsideran Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, model pengelolaan sekolah yang bernuansa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) perlu diterapkan yaitu pengelolaan sekolah yang bertumpu pada kebutuhan, visi, harapan, dan kewajiban masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran yang pelaksanaannya diserahkan kepada sekolah. Namun peran serta masyarakat dalam mendukung serta memberikan pelayanan pendidikan yang relevan, bermutu, berwawasan keadilan dan pemerataan sangat diperlukan. Peran lebih aktif ini merupakan realisasi dari bentuk demokrasi berkeadilan yang memiliki pengertian bahwasanya masyarakat tidak hanya mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu namun juga berkewajiban untuk turut serta dalam mengadakannya baik dalam dana untuk pengadaan, pengembangan dan/atau pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan maupun kepakaran atau keahlian yang diperlukan dalam penyusunan program serta implementasi mulai dari yang berskala mikro hingga yang berskala makro.

3 41 Dan dalam menyalurkan aspirasi serta kontribusi masyarakat yang beragam melalui institusi yang demokratis sebagai mana yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) , maka di tingkat kabupaten/kota dibentuk wadah yang dinamakan Dewan Pendidikan dan di tingkat sekolah dinamakan Komite Sekolah. Dewan Pendidikan sendiri adalah badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di kabupaten/kota. Ada beberapa asumsi pentingnya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah. Pertama, menggunakan pengalaman sekolah swasta yang memiliki ketergantungan sangat rendah, sehingga sekolah cenderung lebih berorientasi kepada kemampuan yang memungkinkan keterlibatan orang tua/masyarakat secara lebih bermakna dalam penyelenggaraan pendidikan. Kedua, penyelenggaraan pendidikan di daerah akan lebih efektif bila didukung oleh sistem berbagi kekuasaan (power sharing), antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan pendidikan karena bagaimanpun juga yang mengetahui kondisi riil mengenai pendidikan di daerah itu adalah Pemerintah daerah itu sendiri Nama dan Ruang Lingkup Dewan Pendidikan adalah nama generik. Artinya, nama badan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing, seperti Dewan Pendidikan, Majelis Pendidikan, atau nama lain yang disepakati. Yang dimaksud dengan pendidikan di sini adalah pendidikan prasekolah, pendidikan sekolah, dan pendidikan luar sekolah.

4 Kedudukan dan Sifat Kedudukan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah diterbitkan dengan tujuan untuk memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggungjawab kepada Daerah dan masyarakat sehingga memberi peluang kepada Daerah dan masyarakat agar leluasa mengatur dan melaksanakan kewenangannya atas prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat dan potensi setiap daerah. Dalam penyelenggaraan pendidikan, tentunya dukungan masyarakat sangat dibutuhkan. Langkah yang dapat dilakukan dalam memperoleh dukungan masyarakat khususnya dalam sektor pendidikan ini adalah dengan menumbuhkan kepedulian dan keberpihakan konkret dari semua lapisan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, mulai dari pimpinan negara, sampai aparat yang paling rendah, termasuk masyarakat yang bergerak dalam sektor swasta dan industri diwujudkan dalam suatu gerakan bersama (collective action) yang diwadahi Dewan Pendidikan yang berkedudukan di kabupaten/kota Sifat Seperti telah disinggung pada bab terdahalu bahwasanya Dewan Pendidikan itu merupakan badan yang bersifat mandiri, yang tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan dinas pendidikan kabupaten/kota maupun dengan lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Posisi Dewan Pendidikan maupun dinas pendidikan kabupaten/kota maupun lembaga-lembaga pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan (otonomi) masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dibentuknya Dewan Pendidikan ini didasarkan pada kesepakatan yang tumbuh dari akar budaya, sosio demografis dan nilai-nilai daerah setempat, sehingga lembaga tersebut bersifat otonom yang menganut asas kebersamaan menuju ke arah peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan di daerah yang diatur oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Kondisi ini hendaknya

5 43 dijadikan dasar pertimbangan oleh masing-masing pihak atau stakeholder pendidikan di daerah agar tidak terjadi adanya pelanggaran hukum administrasi negara yang mengakibatkan adanya konsekuensi hukum baik perdata maupun pidana di kemudian hari Tujuan Dewan Pendidikan merupakan organisasi masyarakat pendidikan yang mempunyai komitmen dan loyalitas serta peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Dewan Pendidikan yang dibentuk dapat dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis, ekologis, nilai kesepakatan, serta kepercayaan yang dibangun sesuai potensi daerah setempat. Karenanya Dewan Pendidikan yang dibangun harus merupakan pengembangan kekayaan filosofis masyarakat di daerah secara kolektif, dengan kata lain Dewan Pendidikan mengembangkan konsep yang berorientasi kepada pengguna (client model), berbagai kewenangan (power sharing and advocacy model) dan kemitraan (partnership model) yang difokuskan pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan di daerah. Sebagai suatu organisasi masyarakat pendidikan maka tujuan dibentuknya Dewan Pendidikan adalah sebagai wadah dalam menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan, disamping juga untuk meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Semuanya itu dengan tujuan akhir untuk menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu Peran dan Fungsi Peran Berbicara mengenai peran maka dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di daerah, Dewan Pendidikan harus bertumpu pada

6 44 landasan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, pembentukannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan adalah sebagai berikut. Pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat Fungsi Dalam rangka menjalankan perannya agar dapat berhasil guna maka, Dewan Pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut. a. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. b. Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. c. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. d. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/dprd mengenai: 1) kebijakan dan program pendidikan; 2) kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan; 3) kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; 4) kriteria fasilitas pendidikan; dan

7 45 5) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. e. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan. f. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan Organisasi Keanggotaan Dewan Pendidikan Keanggotaan Dewan Pendidikan terdiri atas unsur masyarakat dan dapat ditambah dengan unsur birokrasi/legislatif. Unsur masyarakat dapat berasal dari komponen-komponen sebagai berikut: a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang pendidikan. b. Tokoh masyarakat (ulama, budayawan, pemuka adat, dll). c. Anggota masyarakat yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu pendidikan atau yang dijadikan figur di daerah. d. Tokoh dan pakar pendidikan yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu pendidikan. e. Yayasan penyelenggara pendidikan (sekolah, luar sekolah, madrasah,pesantren). f. Dunia usaha/industri/asosiasi profesi (pengusaha industri, jasa, asosiasi,dan lain-lain). g. Organisasi profesi tenaga kependidikan (PGRI, ISPI, dan lain-lain). h. Perwakilan dari Komite Sekolah yang disepakati. Unsur birokrasi, misalnya dari unsur dinas pendidikan setempat dan dari unsur legislatif yang membidangi pendidikan, dapat dilibatkan sebagai anggota Dewan Pendidikan maksimal 4-5 orang. Jumlah anggota Dewan Pendidikan sebanyak-banyaknya berjumlah 17 (tujuh belas) orang dan jumlahnya harus gasal. Syarat-syarat, hak, dan kewajiban, serta masa bakti keanggotaan Dewan Pendidikan ditetapkan di dalam AD/ART.

8 Kepengurusan Dewan Pendidikan Penetapan pengurus Dewan Pendidikan dilakukan berdasarkan AD/ART yang sekurang-kurangnya terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara. Apabila dipandang perlu, kepengurusan dapat dilengkapi dengan bidang-bidang tertentu sesuai kebutuhan. Selain itu dapat pula diangkat petugas khusus yang menangani urusan administrasi. Pengurus dewan dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis. Khusus jabatan ketua dewan bukan berasal dari unsur pemerintahan daerah dan DPRD. Syarat-syarat, hak, dan kewajiban, serta masa bakti kepengurusan Dewan Pendidikan ditetapkan di dalam AD/ART. Mekanisme kerja pengurus Dewan Pendidikan dapat diidentifikasi sebagai berikut: Pengurus Dewan Pendidikan terpilih bertanggungjawab kepada musyawarah anggota sebagai forum tertinggi sesuai AD dan ART. Pengurus Dewan Pendidikan menyusun program kerja yang disetujui melalui musyawarah anggota yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan di daerah. Apabila pengurus Dewan Pendidikan terpilih dinilai tidak produktif dalam masa jabatannya, maka musyawarah anggota dapat memberhentikan dan mengganti dengan kepengurusan baru. Pembiayaan kegiatan operasional Dewan Pendidikan ditetapkan melalui musyawarah anggota. Untuk melaksanakan kegiatan operasional, Dewan Pendidikan dapat menyelenggarakan rapat yang jenis dan mekanismenya ditetapkan di dalam AD/ART.

9 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Dewan Pendidikan wajib memiliki AD/ART. Anggaran Dasar sekurangkurangnya memuat: Dasar, tujuan, dan kegiatan. Keanggotaan dan kepengurusan. Hak dan kewajiban anggota dan pengurus. Keuangan. Mekanisme kerja dan rapat-rapat. Perubahan AD/ART dan pembubaran organisasi. Sementara Anggaran Rumah Tangga sekurang-kurangnya memuat: Mekanisme pemilihan dan penetapan anggota dan pengurus. Rincian tugas anggota dan pengurus. Masa bakti keanggotaan dan kepengurusan. Kerja sama dengan pihak lain. Pertanggungjawaban pelaksana program kerja Pembentukan Dewan Pendidikan Prinsip Pembentukan Pembentukan Dewan Pendidikan harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan demokratis. Yang dimaksud transparan dalam hal ini adalah bahwa Dewan Pendidikan harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Adapun akuntabel berarti bahwa panitia persiapan hendaknya menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dana kepanitiaan. Sedangkan demokratis mempunyai makna bahwa dalam proses

10 48 pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu pemilihan anggota dan pengurus dapat dilakukan melalui pemungutan suara Mekanisme Pembentukan Pembentukan Dewan Pendidikan diawali dengan pembentukan panitia persiapan yang dibentuk oleh bupati/walikota dan/atau masyarakat. Panitia persiapan berjumlah sekurang-kurangnya 5 (lima) orang yang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (seperti guru, kepala sekolah, penyelenggara pendidikan) dan pemerhati pendidikan (LSM peduli pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan industri). Panitia persiapan bertugas mempersiapkan pembentukan Dewan Pendidikan dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Mengadakan forum sosialisasi kepada masyarakat (termasuk Majelis Pendidikan Kejuruan Daerah, Komite Kabupaten, Komite Pendidikan Luar Sekolah) tentang Dewan Pendidikan menurut keputusan ini. 2. Menyusun kriteria dan mengidentifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat. 3. Menyeleksi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat. 4. Mengumumkan nama-nama calon anggota kepada masyarakat. 5. Menyusun nama-nama anggota terpilih. 6. Memfasilitasi pemilihan pengurus dan anggota Dewan Pendidikan. 7. Menyampaikan nama pengurus dan anggota kepada Bupati/Walikota. Panitia Persiapan dinyatakan bubar setelah bupati/walikota menetapkan Dewan Pendidikan.

11 Penetapan Pembentukan Dewan Pendidikan Calon anggota Dewan Pendidikan yang disepakati dalam musyawarah atau mendapat dukungan suara terbanyak melalui pemungutan suara secara langsung menjadi anggota Dewan Pendidikan sesuai dengan jumlah anggota yang disepakati dari masing-masing unsur. Dewan Pendidikan ditetapkan untuk pertama kali dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota, dan selanjutnya diatur dalam AD dan ART. Misalnya dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga disebutkan bahwa pemilihan anggota dan pengurus Dewan Pendidikan ditetapkan oleh musyawarah anggota Dewan Pendidikan. Pengurus dan anggota dewan terpilih dilaporkan kepada pemerintah daerah dan dinas pendidikan setempat. Untuk memperoleh kekuatan hukum, pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dapat dikukuhkan dengan Surat Keputusan bupati/walikota Tata Hubungan Antarorganisasi Pelimpahan wewenang pengelolaan pendidikan pada daerah otonom pada jalur sekolah maupun luar sekolah sesuai dengan jenjang dan jenis, baik negeri maupun swasta, telah diatur melalui perundang-undangan serta perangkat peraturan yang mengikutinya. Selain itu setiap penyelenggaraan pendidikan dibina oleh instansi yang berwenang. Dengan demikian, kondisi tersebut berimplikasi terhadap tatanan dan hubungan baik vertikal maupun horizontal yang baku antara Dewan Pendidikan dengan instansi lain. Hubungan-hubungan tersebut bisa berupa laporan, konsultasi, koordinasi, pelayanan, dan kemitraan. Tata hubungan antara Dewan Pendidikan dengan dinas pendidikan daerah otonom dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya yang bertanggungjawab dalam pengelolaan pendidikan, termasuk dengan Komite-komite Sekolah bersifat koordinatif.

12 Dewan Pendidikan di wilayah kota di DKI Jakarta Diwilayah DKI Jakarta terdapat 5 (lima) Dewan Pendidikan kotamadya. Kelima Dewan Pendidikan itu adalah Dewan Pendidikan Jakarta Pusat, Dewan Pendidikan Jakarta Barat, Dewan Pendidikan Jakarta Selatan, Dewan Pendidikan Jakarta Timur dan Dewan Pendidikan Jakarta Utara. Dari kelima Dewan Pendidikan kota tersebut hampir sebagian besar yaitu Dewan Pendidikan Jakarta Selatan, Dewan Pendidikan Jakarta Timur, dan Dewan Pendidikan Jakarta Utara masih bergabung di gedung walikota dalam melakukan tugasnya sebagai Dewan Pendidikan dan selebihnya menggunakan sekolah sebagai sekretariat mereka Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Pusat Dewan Pendidikan Jakarta Pusat ini berkedudukan di SMK. Negri 3 Jakarta, di Jalan Garuda No.63, Kemayoran, Jakarta Pusat, Telepon/Fax : Seperti halnya Dewan Pendidikan yang lain Dewan Pendidikan Jakarta Pusat merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan satuan pendidikan maupun lembaga pemerintah lainnya. Pembentukan Dewan Pendidikan Jakarta Pusat bertujuan untuk (a) Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan di Jakarta Pusat (b) Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Jakarta Pusat; (c) Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di Jakarta Pusat dan satuan pendidikan. Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan Jakarta Pusat adalah P3M (Pertimbangan, Pendukung, Pengontrol, Mediator) dengan perincian sebagai berikut: (a) Pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan (Advisory).(b) Pendukung baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan (Supporting).(c) Pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan (Controlling). (d) Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat (Mediator).

13 51 Secara umum Dewan Pendidikan Jakarta Pusat ini memiliki beberapa program seperti program meningkatkan kepedulian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Disamping itu badan itu juga melakukan kerja sama dengan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi, dunia usaha dan dunia industri, pemerintah, dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Fungsi lainnya adalah menampung dan menganalisis aspirasi, pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. Selain itu dibawah kepemimpinan Dr. R.A. Tity Koesoemo, MA, MBA, Dewan Pendidikan Jakarta Pusat ini juga seringkali memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/dprd dan kepada satuan pendidikan di Jakarta Pusat mengenai kebijakan dan program pendidikan di Jakarta Pusat; kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan di Jakarta Pusat; kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; kriteria fasilitas pendidikan; dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. Dewan Pendidikan Jakarta Pusat juga berfungsi dalam mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan di Jakarta Pusat Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Barat Sekretariat Dewan Pendidikan Jakarta berkantor di SMA Al-Huda di Jalan Utama Raya No.2 (Outer Ring Road) Cengkareng, Jakarta Barat, dengan no Telepon di Dewan Pendidikan Jakarta Barat dibentuk melalui dan disyahkan di Jakarta pada tanggal 29 Nopember 2009 melalui Keputusan Ketua Dewan Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Barat Nomor 071/DP-JB/XII/2008 tentang pengangkatan keanggotaan Dewan Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Barat Periode Dibawah kepemimpinan Drs. H. Nukman Muhasyim dan Drs. H. Sujono Kuslan, M.Pd, selaku Wakil Ketua merangkap sebagai Ketua Harian, Dewan Pendidikan Jakarta Barat memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah :

14 52 1. Memecahkan isu-isu pendidikan di wilayah Kotamadya Jakarta Barat dalam rangka memberikan masukan masukan untuk kebijakan kepada komite-komite sekolah; 2. Mengawasi kegiatan pendidikan pada tingkat kecamatan dan sekolah serta kegiatan Pendidikan di tingkat Kotamadya; 3. Mengadakan rapat koordinasi dengan komite kecamatan dan komite sekolah, mencari sumber dana dan memberikan masukan dalam rangka membangun kemitraan dengan dunia idustri di bidang pendidikan ; 4. merumuskan kebijakan dan mensosialisasikan ke Komite Kecamatan dan Komite Sekolah. Disamping itu visi Dewan Pendidikan Kotamdaya Jakarta Barat adalah terciptanya mutu kesetaraan, kebersamaan dan layanan prima dalam pendidikan sementara visinya dalah mengupayakan mutu yang selalu unggul, menciptakan adanya senasib sepenanggungan antara lembaga pendidikan instansi terkait dan masyrakat tentang visi dan misi wilayab, serta menumbuhkan adanya rasa saling asah, asuh dan asih. Adapun program kerja dan kegiatan dari Dewan Pendidikan Jakarta Barat Tahun 2009 ini adalah : 1. Peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan melalui ; a. Penggalangan potensi masyarakat/dunia usaha dan dunia industri b. Lokakarya peran serta masyarakat dalam peningkatan mutu sumber daya pendidikan c. Pembentukan Pokja Wilayah pemberdayaan komite 2. Pembinaan Komite Sekolah meliputi : a. Penyusunan data base komite sekolah b. Lokakarya peran komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan masyarakat c. Pengawasan komite sekolah

15 53 d. Lokakarya penyusunan Program Sekolah (MPMBS) e. Klinik Pendidikan 3. Peningkatan Manajemen dan Kinerja Dewan Pendidikan yang dilakukan dengan melaksanakan a. Rapat Kerja b. Rapat koordinasi c. Monitoring kegiatan komite d. Pengembangan wawasan e. Pengolahan data pendidikan f. Workshop strategi pembelajaran dan sajian kurikulum berbasis kompetensi g. Seminar 4. Action Research yang dilakukan melalui penelitian kemasyarakatan dan UPT untuk desisi yang dibutuhkan pasar ; 5. Monitoring Sekolah-sekolah dengan melakukan peninjauan kelapangan terhadap TK, S, SMP, SMA, M. Aliyah, SMK se Jakarta Barat ; 6. Audiensi ke instansi terkait seperti dengan Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur, DPR, DPRD dan Dikmenti; 7. Sosialisasi Dewan Pendidikan ke sekolah dan masyarakat melalui Camat, Lurah, Komite Sekolah, RT, RW dan Masyarakat 8. Sosialisasi kebijakan di bidang pendidikan untuk semua sekolah di Jakarta Barat dengan sistem priotitas; 9. Inventarisasi kondisi guru dan sekolah dengan mengaplikasikan dan memeratakan guru-guru sesuai dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku di Jakarta Barat 10. Menerima pengaduan dari sekolah dengan mengakses semua aduanaduan melalui posko

16 Monitoring sarana dan prasarana pendidikan dengan mengakses sarana dan prasarana sekolah untuk menuju ke layanan pendidikan minimal Melalui semua program diatas Dewan Pendidikan Kota Madya Jakarta Barat optimis dapat mempertahankan serta meningkatkan Jakarta Barat sebagai wilayah dengan peserta didik terbanyak yang menjuarai ajang olimpiade baik nasional maupun internasional, juga mengurangi kesenjangan yang terjadi khususnya dalam bidang pendidikan. Selain juga untuk semakin meningkatkan konsolidasi organisasi, dalam upaya melaksanakan visi, misi, dan program kerja, melaksanakan sosialisasi organisasi, personil, dan program kerja, melakukan kunjungan/konsultasi banding, mengembangkan gagasan untuk penyelenggaraan model sekolah unggulan, memantau kebijakan pendidikan serta memberdayakan komite sekolah agar semakin lebih proaktif dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan Dewan Pendidikan Jakarta Selatan ini berkantor di Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jalan Prapanca Raya No. 8, Lantai XIV dan no telepon yang dapat dihubungi di Alasan mengapa Dewan Pendidikan Jakarta Selatan berlokasi di kantor Walikota, yaitu agar terjalin kerjasama yang lebih efektif antara Dewan dengan Pemkodya Jakarta Selatan khususnya untuk mengatasi semua permasalahan yang kini dihadapi dalam bidang pendidikan sehingga beban pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan dapat lebih ringan. Disamping itu juga untuk memudahkan bagi masyarakat untuk menyampaikan apa yang dirasakan oleh masyarakat karena seperti termaktub dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 44 tahun 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, bahwa Dewan Pendidikan merupakan wadah penyaluran aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan.

17 55 Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan dibentuk melalui Surat Keputusan Walikotamadya Jakarta Selatan Nomor 399/2003 pada tanggal 24 Oktober 2003 tentang Susunan Pengurus Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan. Dan berdasarkan Surat Keputusan tersebut dinyatakan bahwasanya Dewan Pendidikan Kotamdaya Jakarta Selatan memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu terselenggaranya pendidikan yang bermutu di wilayah Kotamadya Jakarta Selatan. Adapun visi dari pembentukan Dewan Pendidikan Kotamdaya Jakarta Selatan ini adalah mewujudkan Kotamadya Jakarta Selatan menjadi Barometer Pendidikan. Sementara misi yang menjadi tugas dari Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan ini adalah : 1. Mendorong tumbuhnya peserta didik beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia; 2. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu; 3. Menjalin kerjasama dengan masyakarat, pengusaha peduli pendidikan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan DPRD. Dengan Prof. Dr. H. Qomari Anwar selaku ketua Dewan Pendidikan Jakarta Selatan, maka peningkatan tanggungjawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan serta menciptakan suasana dan kondisi yang transparan, akuntabel dan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu semakin digalakkan karena ini merupakan salah satu program yang diandalkan dan dalam melaksanakan peran dan fungsinya Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan memiliki programprogram diantaranya ; 1. Penggalian sumber daya masyarakat yang dilakukan dengan kunjungan ke masyarakat dan dunia usaha dalam rangka menumbuhkan kepedulian masyarakat dan dunia usahan dalam mendukung dunia pendidikan;

18 56 2. Pengelolaan sumber daya masyarakat melalui seminar pendidikan, dunia usaha untuk satu visi membangun dunia pendidikan; 3. Pengendalian kualitas pelayanan pendidikan dengan menyelenggarakan temu wicara/ lokakarya/ seminar tentang tupoksi; 4. Jaringan kerjasama dan system informasi, melalui ; a) Monitoring dan menyempurnakan data base untuk pembuatan launching situs (website) computer data base Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan; b) Sosialisasi Dewan Pendidikan dengan tokoh masyarakat seperti Dewan Kelurahan, lurah dan Camat 5. Sarana dan Prasarana dengan menginventarisir kebutuhab primer dan sekunder sekolah 6. Usaha melalui meningkatkan eksistensi Dewan Pendidikan Jakarta Selatan melalui, a) Menjalin kemitraan dengan Pemda dan Dunia Usaha b) Menjalin networking dengan lembaga dunia yang bergerak dibidang peduli pendidikan c) Profil Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Selatan Namun tugas dan peran yang utama dari dari Dewan Pendidikan itu sendiri antara lain sebagai pemberi pertimbangan (Advisory) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan; sebagai pendukung (Supporting) financial, pemikiran dan tenaga; sebagai pengontrol (Kontrolling) dan sebagai mediator (Links) antara eksekutif, legislatif dan masyarakat tetap diutamakan Dewan Pendidikan Kotamadya Jakarta Timur Bagi masyarakat diwilayah Jakarta Timur yang ingin menyuarakan aspirasi mereka untuk kemajuan pendidikan dapat menyampaikannya langsung ke Dewan Pendidikan Jakarta Timur yang beralamat di Walikota Jakarta Timur, Gedung B.2 Lantai IV, Jl. Dr. Sumarno, Sentra Primer Baru Timur, dengan nomor

19 57 telepon Dibentuk pada tanggal 12 November 2009 melalui Surat Keputusan Walikotamadya Jakarta Timur Nomor 106/2003 tanggal 12 November Berbekal visi bersama pemerintah Kota Jakarta Timur berdasarkan iman dan taqwa mengupayakan terwujudnya pendidikan yang bermutu dalam menghadapi persaingan global. Visi tersebut didukung oleh misi yang diemban oleh Dewan Pendidikan Kotamadaya Jakarta Timur ini yaitu : 1. Memberikan pertimbangan (advisory agency) kepada pemerintah dalam menentukan dan melaksanakan kebijakan pendidikan; 2. Mendukung (supporting agency) dalam bentul pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan; 3. Mengupayakan terwujudnya transparansi dan akuntabilitas (controlling agency) penyelenggaraan dan keluaran pendidikan; 4. Menjembatani (mediator) antara pemerintah, Dewan Perwakilan Rakayat Daerah (DPRD) dengan masyarakat. 5. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu; 6. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen dunia usaha dan industri terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu; 7. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu; 8. Menampung dan menganalisa aspirasi, ide tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan; 9. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan; 10. Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah dan DPRD.

20 58 Dewan Pendidikan Kotamdaya Jakarta Timur dipimpin oleh Drs. H. Sardiono Hadi, MM, yang menyadari sekali bahwa Dewan Pendidikan sangat penting karena berperan sebagai wadah dalam menyalurkan dan menampung peran aktif masyarakat dalam ikut meningkatkan mutu dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. Dan kesemuanya itu sudah pasti akan membawa implikasi terhadap meningkatnya peluang masyarakat untuk dapat memberikan peran serta dalam pengelolaan pendidikan Dewan Pendidikan di setiap satuan pendidikan juga telah menjalankan program komite sekolah yang merupakan wahana pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan konsep partisipasi berbasis masyarakat dan manajemen berbasis sekolah. Disamping juga perlu program lain untuk penguatan sekaligus untuk menujang keberhasilan institusi Dewan Pendidikan diantaranya dengan mengadakan workshop Dewan Pendidikan, rapat koordinasi dengan komite sekolah se-jakarta Timur, penyusunan data base komite sekolah, pemberdayaan komite sekolah dan monitoring kinerja komite sekolah dan semuanya ini direncanakan serta dilaksanakan untuk mewujudkan suatu sistem pendidikan yang unggul, baik serta berkualitas Dewan Pendidikan Jakarta Utara Selain keempat Dewan Pendidikan diatas masih ada satu lagi Dewan Pendidikan di Jakarta yang tidak bisa dipandang sebelah mata meskipun keberadaan cukup jauh di utara Jakarta yaitu Dewan Pendidikan Jakarta Utara. Dengan dipimpin oleh H Syamhudin, dan berlokasi di Kantor Walikota Jakarta Utara, Blok R Lantai II, Jl. Yos Sudarso Jakarta Utara, dengan telepon Dewan Pendidikan Jakarta Utara maju dengan program-program yang mereka sudah rancang dan modifikasi demi peningkatan kualitas dapat dikatakan Dewan Pendidikan di kotamadya ini cukup berani berinovatif diantaranya mengadakan kegiatan peningkatan manajemen dan bimbingan Teknis Pengelolaan Komite Sekolah, selain itu mereka juga kerap mengadakan konsultasi/audiensi dengan Eksekutif dan Legislatif demi keselarasan serta menjaga hubungan

21 59 silahturahmi. Mereka juga aktif dalam memberikan masukan dalam penyusunan regulasi bidang pendidikan, selain juga melakukan kegiatan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan pendidikan dengan tujuan perbaikan kedepannya yang lebih baik. Selain itu mereka bersama dengan Dinas Pendidikan juga turut melakukan pemetaan gedung sekolah yang rusak serta melakukan sosialisasi program pengembangan sekolah terpadu dengan tujuan agar proses pembelajaran semakin lebih baik lagi.

22 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bagian ini akan diuraikan tentang hasil penelitian peran dan fungsi Dewan Pendidikan. Juga dalam bagian ini akan berisi jawaban atas pertanyaanpertanyaan penelitian berdasarkan analisis terhadap kondisi riil Dewan Pendidikan yang didukung dengan data primer hasil wawancara dengan Dewan Pendidikan dan stakeholder kemudian dikaitkan dengan teori yang digunakan dalam menciptakan revitalisasi organisasi pada organisasi Dewan Pendidikan Hasil Penelitian Sebagaimana telah dinyatakan dalam bab terdahulu, bahwasanya tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran dan fungsi Dewan Pendidikan dalam peningkatn mutu pendidikan di DKI Jakarta, kendala-kendala apa yang dihadapi serta strategi untuk meningkatkan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan. Untuk itu peneliti telah melakukan wawancara mendalam dengan informan di lingkup Dewan Pendidikan Kota di wilayah DKI Jakarta, juga informan dari dinas pendidikan kota setempat dan komite sekolah. Sebagai suatu organisasi, Dewan Pendidikan adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri dan sebagai kesatuan yang memungkinkan masyarakat mencapai sutu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan (Gibson, 1996). Terlebih bila dikaitkan dengan peran dan fungsi mereka yang notabene sebenarnya untuk meningkatkan mutu pendidikan di DKI Jakarta, karena kewenangan yang mereka miliki untuk menjalin kerjasama dengan dinas Pendidikan setempat serta keberadaan mereka sebagai perwakilan dari masyarakat yang peduli akan pendidikan membuat mereka menjadi lebih fleksibel untuk masuk keberbagai lapisan masyarakat. Berhasil atau tidaknya program yang dirancang oleh Dewan Pendidikan tetaplah melibatkan masyarakat didalamnya. Sebagai suatu organisasi, Dewan Pendidikan dapat dikatakan tidak akan berfungsi dengan efektif apabila strukturnya tidak menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang cenderung 60

23 61 berubah dengan cepat dalam hal ini Dewan Pendidikan dimana harus terus memutakhirkan program-program yang ada demi kemajuan mutu pendidikan juga pada akhirnya. Dan agar tujuan itu terwujud maka Perrow (1979) mengklasifikasikan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh suatu organisasi untuk mencapai keberhasilan dalam empat kategori, yaitu : 1. Memperoleh masukan-masukan yang dibutuhkan bagi pembentukan, pengoperasian, pengembangan dan pengembangan pengoperasian; 2. Memperoleh pengakuan atau legitimasi bagi kegiatan-kegiatannya; 3. Meperoleh sumber daya manusia yang terampil sesuai dengan kebutuhan; 4. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan para anggota organisasi dalam hubungannya dengan organisasi lain, klien dan masyarakat pada umumnya. Sebenarnya bila ditilik lebih dalam, semua faktor-faktor diatas telah dimiliki oleh Dewan Pendidikan sebagai suatu organisasi. Kepmendiknas Nomor 44 tahun 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah pasti menjadi dasar yang kuat yang mensyahkan serta melegitimasi keberadaan daripada Dewan Pendidikan. Didukung oleh tenaga-tenaga ahli yang sangat berpengalaman di bidang pendidikan jelas menjadikan Dewan Pendidikan sebagai suatu lembaga independen yang tidak dapat diragukan kompetensinya. Ditambah dengan posisi Dewan Pendidikan yang sejajar dengan bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat sehingga memudahkan Dewan Pendidikan berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat. Namun tentu saja terkadang ada sedikit ketidak selarasan antara masingmasing pihak dalam hal ini antara kondisi riil Dewan Pendidikan di lapangan dengan apa yang diharapkan dalam Kepmendiknas Nomor 44 tahun 2002 yang mengatur tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, kemudian antara Dewan Pendidikan dengan dinas pendidikan setempat serta komite sekolah selaku stakeholder. Berdasarkan hal-hal tersebut peneliti melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui hal-hal apa saja kiranya yang menjadi ganjalan dalam

24 62 pelaksanaan peran dan fungsi Dewan Pendidikan ini sehingga tersirat ketidak selarasan antara berbagai pihak. Hal pertama yang ingin peneliti ketahui adalah mengenai peran dan fungsi daripada Dewan Pendidikan itu sendiri. Sebagaiman jelas termaktub dalam Kepmendiknas Nomor 44 Tahun 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah bahwasanya Dewan Pendidikan memilki 4 (empat) peran dan fungsi yaitu sebagai pemberi pertimbangan atau advisory, pendukung atau supporting, kemudian sebagai pengontrol atau controlling dan sebagai mediator. Berkenaan dengan peran yang pertama sebagai pemberi pertimbangan atau advisorry yang berfungsi dalam memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/dprd mengenai: (1) kebijakan dan program pendidikan; (2) kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan; (3) kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; (4) kriteria fasilitas pendidikan; dan (5) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. Didapatkan data bahwa sebagian besar Dewan Pendidikan telah melakukan itu seperti yang dinyatakan oleh Sujono Kuslan dari Dewan Pendidikan Jakarta Barat ; Dewan Pendidikan memiliki 4 (empat) peran diantaranya adalah sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency). Dan selama ini untuk melaksanakan peran tersebut kami sering memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan pendidikan di Jakarta barat ini,.. Dan untuk itu maka kami mengajukan saran agar para juara-juara ini diberikan kemudahan seperti beasiswa sampai S3 kalau perlu agar kita juga dapat menikmati hasilnya. Selain itu saat ini kami sedang menggodok masukan mengenai pelaksannan Ujian Nasional yang masih dalam dilema. Kami mengusulkan agar diberlakukan system SKS tujuannya agar lebih efektif (hasil wawancara pada tanggal 17 November 2009) Pernyataan ini juga didukung oleh Bulkini Subing selaku bendahara Dewan Pendidikan Jakarta Pusat yang menyatakan sebagai pemberi pertimbangan

25 63 mereka kerapkali mengadakan audiensi dengan walikota Jakarta pusat untuk bersama-sama merancang program ataupun kebijakan-kebijakan khususnya di bidang pendidikan. Selain itu Gubernur DKI Jakarta pun seringkali mengundang Dewan Pendidikan Jakarta Pusat untuk mendapatkan masukan tentang penyelesaian masalah ataupun hambatn yang timbul dimasyarakat terkait dengan pendidikan. Selain itu dikarenakan Dewan Pendidikan dianggap mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat maka seperti yang dinyatakan oleh Dewan Pendidikan Jakarta Selatan bahwasanya mereka kerap diikutkan dalam pembuatan suatu kebijakan oleh dinas pendidikan setempat, sehingga dalam mnyusun dan menerbitkan suatu dapat mengakomodir semua pihak dan tidak akan terjadi kesalahan persepsi dalam penerpannya di masyarakat. Tidak dipungkiri banyak kebijakan yang lahir karena ingin menunjukkan eksistensi dari suatu lembaga tanpa memikirkan akibat ataupun tanggapan dari masayarakat sehingga banyak kebijakan yang sebenarnya bagus namun sayang tidak akuntabel. Pendapat ini didukung oleh pernyataan Sardiono dari Dewan Pendidikan Jakarta Timur yang menyatakan bahwa : karena kita beranggotakan dari berbagai unsur masyarakat jadi yah paling tidak kita mengetahui apa yang menjadi permasalahan dibawah dan dari sana biasanya kemudian kami memberikan masukan ataupun pendapat mengenai pelaksanaan suatu kebiajakan, misalnya penggunaan dana BOS paling tidak kita memberikan sedikit gambaran mengenai pelaksanaan BOS di lapangan itu seprti apa sehingga Bapak Walikota dapat menyikapi dan mengeluarkan keputusan yang terbaik juga memberikan masukan tentang rekrutmen guru-guru karenakan harus sesuai syarat-syarat yang diminta pemerintah jadi kalau dari S1 Non Kependidikan harus mempunyai akta IV pendidik. (hasil wawancara pada tanggal 8 Desember 2009) Tergambarkan dari sini bahwa sebagai pemeberi pertimbangan Dewan Pendidikan sudah dapat dikatakan melakukan perannya dengan baik. Melalui

26 64 peranannya mereka memiliki kesempatan untuk memberikan masukan kepada pemerintah dan bahwasanya Dewan Pendidikan cukup diperhitungkan suaranya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar anggota Dewan Pendidikan terdiri dari orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan dan memiliki kepedulian yang amat besar terhadap pendidikan. Selain sebagai pemberi pertimbangan peranan dari Dewan Pendidikan yang lain adalah sebagai pendukung (supporting agency) dimana sebagai pendukung Dewan Pendidikan diharapkan mampu untuk mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu serta mendorong orangtua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwasanya mereka sering mengadakan kerjasama dengan pihak dunia usaha dunia indutri terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidikan sebagai contoh dengan mengajukan proposal kepada pihak dunia usaha dunia industri ataupun masyarakat kalangan menengah ke atas untuk turut berpartispasi dalam perbaikan gedung sekolah dan pemeliharaan sarana prasarana pendidikan. Karena sebenarnya yang diperlukan disini adalah kesamaan visi antara masing-masing pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Jakarta. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sardiono dari Dewan Pendidikan Jakarta Timur ;.Dalam kapasitas kami sebagai agen pendukung, kami kerap kali mengadakan rapat koordinasi dengan PGRI, kemudian dengan MKKS yang intinya membahas ataupun berdiskusi mengenai upaya-upaya apa saja yang perlu kita lakukan dalam kaitannya meningkatkan mutu pendidikan di DKI Jakarta khususnya Jakarta Timur ini sebatas memberikan dukungan moral saja tidak dalam bentuk financial (hasil wawancara pada tanggal 8 Desember 2009) Pernyataan diatas senada dengan apa yang diungkapkan oleh Mahali Harahap dari Dewan Pendidikan Jakarta Selatan :

27 65 sejauh ini kami sering mengadakan audiensi dengan berbagai pihak baik itu dunia industri dan dunia usaha serta yah juga dengan anggota-anggota masyarakat yang kami lihat memiliki potensi yang cukup besar dalam hal turut serta mendukung untuk meningkatkan mutu pendidikan. Biasanya dengan difasilitasi oleh walikota kami mengumpulkan mereka di sini kemudian kami sampaikan apa yang menjadi permasalahan di lapangan terutama berkaitan dengan sarana dan prasarana lalu kami lempar kepada mereka apa yang seharusnya dilakukan biasanya tidak terlalu lama menunggu respon dari mereka karena pada dasarnya mereka juga ingin yang terbaik bagi pendidikan karena sebagian mereka juga masih memiliki anak-anak yang masih bersekolah.kira-kira seperti itu (hasil wawancara pada tanggal 2 Desembedr 2009) Berdasarkan hal ini terlihat bahwa pengaruh daripada Dewan Pendidikan ini terhadap dunia usaha dan dunia industri cukup besar dan memang diperlukan kerendahan hati serta semangat yang tinggi dalam menjalin hubungan dengan dunia usaha dan indutri karena logikanya mereka tidak akan mau turut andil bila tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan namun dengan kemampuan yang dimiliki oleh Dewan Pendidikan maka hal tersebut dapat terjadi. Bila berbicara peran Dewan Pendidikan yang lain yaitu sebagai pengontrol jelas peranan yang satu ini sangat ditakuti banyak kalangan karena banyak yang menganggap layaknya inspektorat yang akan mengaudit atapun terkesan mencari kesalah-kesalahan. Padahal sebenarnya dalam kapasitas mereka sebagai pengontrol, kewenangan mereka adalah melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan, karenanya peneliti berusaha menggali lebih bagaimana Dewan Pendidikan ini melakukan peran mereka sebagai pengontrol ini agar dapat diterima oleh para stakeholder mereka. Berkaitan dengan dengan hal ini maka yang mereka telah mereka lakukan kaitannya sebagai pengontrol, adalah melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah

28 66 serta melakukan rapat koordinasi dengan komite-komite sekolah. Hal ini didukung oleh pernyataan Sardiono dari Dewan Pendidikan Jakarta Timur, yang menyatakan : Secara sampel kunjungan turun ke sekolah-sekolah dan itu saja baru pada sebatas sekolah negeri saja..karena sekolah di Jakarta Timur ini banyak sekali kami sering dilibatkan dalam pengawasan Ujian Nasional, sudah tiga tahun berturut-turut ini. Disamping juga kami secara teratur mengadakan semacam workshop sosialisasi dengan mengundang komite-komite sekolah se Jakarta Timur mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK untuk duduk bersama dan saling bertukar pikiran, sekaligus kami juga berikan pembekalan akan kegiatan-kegiatan kami (hasil wawancara 8 Desember 2009) Hal senada juga disampaikan oleh Mahali dari Dewan Pendidikan Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa : Yah paling kita mengadakan monev yang terjadwal setiap semester, tujuannya adalah untuk memantau sekaligus mendekatkan diri dengan pihak sekolah karena bagaiman pun juga sekolah adalah mitra Dewan Pendidikan juga dalam memperoleh masukan mengenai pelaksanaan pembelajaran. kami juga secara periodic mengadakan rapat kerja dengan komite-komite sekolah di wilayah Jakarta Selatan ini, biasanya kami dilibatkan dalam pengawasan ujian nasional (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Demikian pula halnya dengan Sujono Kuslan dari Dewan Pendidikan Jakarta Barat yang menyatakan bahwa kunjungan ke sekolah-sekolah untuk mengetahui kondisi sekolah-sekolah tersebut seringkali mereka lakukan. Disamping juga untuk mendapatkan masukan dari pihak sekolah untuk kemajuan pendidikan di Jakarta Barat ini sendiri, hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki atau diperbaharui. Disamping baru-baru ini mereka juga telah menyelenggarakan

29 67 workshop dengan mengundang komite-komite sekolah se Jakarta Barat untuk saling bertukar pikiran dan sebagai ajang silahturahmi juga diantara sekolah. Demikian halnya juga dengan Bapak Bulkini Subing dari Dewan Pendidikan Jakarta Pusat yang menyatakan bahwa secara rutin mereka kerap mengadakan semacam konsolidasi dengan komite-komite sekolah yang ada di Jakarta Pusat entah itu dalam bentuk workshop atau rapat kerja yang pasti kegiatan ini rutin diadakan. Tujuannya hanya satu yaitu mensinergikan semua pihak yang berkompeten dalam bidang pendidikan baik itu Dewan Pendidikan, komite sekolah maupun pihak sekolah untuk bersama membangun mutu pendidikan yang baik di Jakarta Pusat. Karena lagi menurut Bulkini Subing, Dewan Pendidikan di Jakarta Pusat ini kerap dijadikan role model bagi Dewan Pendidikan di tempat lain karena dipandang berhasil dan maju dalam mengoptimalkan peran Dewan Pendidikan itu sendiri. Menyangkut peranan Dewan Pendidikan sebagai mediator dan apa saja yang Dewan Pendidikan telah buat, banyak hal variatif yang menunjukkan bahwa masing-masing Dewan Pendidikan memiliki karakteristik sendiri dalam menjalankan peran yang satu ini, ambil contoh yang dilakukan oleh Bapak Sujono Kuslan dari Dewan Pendidikan Jakarta Barat dengan mengunjungi sekolahsekolah dan mengadakan workshop dengan komite-komite sekolah jelas sudah terkumpul apa yang menjadi masukan ataupun saran bagi perbaikan pendidikan khususnya di Jakarta Barat. Sebagai mediator memang Dewan Pendidikan itu harus dapat melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu serta menampung dan mengalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. Dan itu pula yang sudah dilakukan oleh Dewa Pendidikan Jakarta Barat, sebagai kawasan daerah indutri Dewan Jakarta Barat kerap melakukan pendekatan ke berbagai indsutri yang ada untuk menjalin kerjasama. Kerjasama disini tidak hanya berbentuk finasial namun juga mengenai

30 68 kesempatan yang dapat dunia industri disana berikan kepada siswa-siswa untuk melakukan praktik kerja lapanga khususnya bagi siswa kejuruan. Sedikit berbeda dengan pendapat dari Dewan Pendidikan yang lain, Dewan Pendidikan Jakarta Selatan menyatakan belum tertarik untuk turun kelapangan, Bapak Mahali berpendapat bahwa di Dewan Pendidikan pengurusnya sudah terdiri dari tokoh- tokoh yang seharusnya sudah dapat mewakili aspirasi masyrakat seperti yang yang dikatakan oleh beliau berikut;.pengurus dewan sendiri adalah tokoh-tokoh masyarakat jadi yah ngak perlu kami turun kelapangan mengumpulkan aspirasi masyarakat ada 17 orang itu tokoh-tokoh tinggal dia yang harus bawa aspirasi ketokohannya itu jadi yah kita belum interest sementara itu kita yang piker tapi yah itu untuk sementara mungkin saja kedepannya kami juga berbuat seperti itu (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Lain halnya dengan Dewan Pendidikan Jakarta Pusat, menurut Bapak Bulkini Subing, Ketua Dewan Pendidikan Jakarta Pusat yaitu Ibu Dr. R.A. Tity Koesoemo, MA, MBA, adalah orang dengan jangakuan pertemana yang luas, jadi menyikapi peranannya sebagai mediator banyak hal telah dilakukan terutama berkaitan dengan penjajagan beekerja sama dengan lembaga lain bahkan dari luar negeri sekalipun, seperti yang beliau katakan :...Ibu itu orang sibuk dan temannya banyak sekali...beliau sering pergi keluar negeri sebenarnya yah untuk mengadakan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak pendidikan disana, sudah ada beberapa lembaga pendidikan luar yang tertarik dengan apa yang Ibu sampaikan akhirnya yah...berhasil...saya sedikit lupa dari mana saja tapi sudah banyak yang mau bekerjasama... (hasil wawancara 26 November 2009) Dapat dikatakan bahwa sebagai suatu organisasi mandiri Dewan Pendidikan ternyata mampu untuk menjalin hubungan bahkan menjalin kerjasama dengan pihak luar demi kemajuan bidang pendidikan.

31 69 Disamping ingin mengetahui lebih jauh mengenai pelaksanaan peran dan fungsi, peneliti juga menggali informasi mengenai program atau kegiatan apa yang sudah dijalankan selama ini terkait dengan kontribusi mereka dalam hal pendidikan. Dari semua jawaban yang ada, jawaban dari Bapak Sujono Kuslan dari Dewan Pendidikan Jakarta Barat cukup menarik, beliau menyampikan sebagai berikut ;. Kami sering melakukan studi banding.tempo waktu kami ke Singapura, Malaysia, disana kami melihat system pembelajaran di sekolah-sekolah sana, kemudian coba diterapkan di Jakarta Barat ini. Selain itu juga, kita bekerja sama dengan dosen-dosen dari universitas trisakti, dan tarumanegara. Mereka kita jadikan dewan pakar dimana fungsi mereka adalah memberikan masukan terhadap materi pembelajaran yang dapat terintegrasi dengan materi kuliah kelak, Selain itu juga kami juga mengusulkan agar system pembelajaran menggunakan system SKS karena setiap anak memiliki potensial masing-masing sehingga dengan system SKS potensi anak akan semakin tergali dan berkembang. Tujuan kami menjadikan Jakarta Barat menjadi yang terbaik karena faktanya sebagian besar pemenang olimpiade sains berasal dari sini jadi kami beruasa untuk mempertahankan posisi tersebut (hasil wawancara pada tanggal 17 November 2009) Terlihat bahwa memang Dewan Pendidikan harus memiliki program yang cukup inovatif dan tidak hanya sekedar program saja namun harus menjadi suatu kenyataan. Karena semua ini nantinya akan berpulang pada meningkatnya kulaitas mutu pendidikan. Namun harus diakui belum semua Dewan Pendidikan memiliki program andalan masih banyak yang hanya terpaku pada buku panduan smeata seperti yang disinggung pula oleh Bapak Bulkini Subing dari Dewan Pendidikan Jakarta Pusat; masih banyak Dewan Pendidikan yang belum memiliki program yang inovatif sehingga pelaksanaan Dewan Pendidikan banyak yang belum optimal. Kita sendiri sering mengadakan kerjasama dengan Dunia Usaha

32 70 dan Industri dalam berbagai kesempatan, yah tujuannya satu untuk membangun Jakarta Pusat ini agar lebih baik kedepannya. Bukan mau berbangga hati tapi selama ini Dewan Pendidikan Jakarta pusat selalu dijadikan pilot project atau contoh bagi dewan-dewan Pendidikan lainnya. Banyak juga kami mendapatkan kunjungan dari Dewan Pendidikan Dewan Pendidikan di daerah yang ingin melihat keberhasilan kami dalam melaksanakan tugas fungsi sebagai Dewan Pendidikan kami ngak minta dikunjungi tapi mereka sendiri yang sering datang kesini (Hasil wawancara pada tanggal 26 November 2009) Tergambar memang dari apa yang didapat bahwasanya Dewan Pendidikan sudah berusaha memberikan yang terbaik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di DKi Jakarta. Namun tentu saja dalam pelaksanaannya itu ada banyak kendala dan terkadang hambatan yang membuat suatu hal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Berkenaan dengan hambatan-hambatan tersebut, ditemukan kenyataan bahwa terkadang Dewan Pendidikan terganjal masalah waktu dan biaya dalam pelaksanaan operasionalnya sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Sardiono dari Dewan Pendidikan Jakarta Timur yang menyatakan ;.kalau kendala yang kami hadapi yah..mungkin karena pengurus Dewan Pendidikan ini terdiri dari berbagai macam unsure masyarakat dan profesi yah paling salah satunya ialah kesulitan mengatur waktu untuk pertemuan juga terus terang masalah dana karena dana yang kita dapat selama ini paling hanya pengganti transport saja sementara untuk operasional kadang masih dibantu oleh dinas kami ingin Dewan Pendidikan juga diberikan mata anggaran baik dari Departemen Pendidikan Nasional atau dari Pemerintah Daerah, semua Dewan Pendidikan sebenarnya ingin itu, paling tidak mulai dari yang kecil nanti juga bisa jadi besar. (hasil wawancara tanggal 8 Desember 2009)

33 71 Pendapat senada juga disampaikan oleh Bapak Mahali Harahap dari Dewan Pendidikan Jakarta Selatan ; Tidak punya dana kan kalau mengundang orang itu kan harus ada dana memang ada subsidi dari Pemda 20 juta dan dari Diknas 30 juta jadi dapat 50 juta setahum tadinya kita berharap bisa bekerjasama dengan Kadin-Kadin itu tapi ternyata mereka bukan Kadin yang kuat malah minta dibantu saja untuk menjadi rekanan walikota. (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Hal ini juga didukung oleh Bapak Sujono Kuslan dan Bapak Bulkini Subing yang intinya adalah Dewan Pendidikan tidak memiliki dana operasional yang cukup namun dituntut untuk banyak berperan dalam peningkatan pendidikan di Jakarta namun itu tidak mereka menjadi patah semangat tapi malah menjadikan cambukan bagi mereka untuk berbuat lebih seperti halnya yang diungkapan oleh Bapak Bulkini Subing dari Dewan Pendidikan Jakarta pusat ; dana yang kita dapat memang kurang tapi dengan semangat kami tokh akhirnya bisa juga, biasanya kita dapat bantuan dari banyak pihak jadi semisal kita mau mengadakan workshop kita tidak perlu repot cari tempat di hotel karena sudah ada yang membantu memfasilitasinya, demikian juga dengan konsumsi dan sebagainya jadi selama ini bantuan yang kami dapat tidak hanya melulu berupa uang tapi lebih banyak kemudahankemudahan, dan itu kami sangat syukuri. (hasil wawancara pada tanggal 26 November 2009) Sebenarnya untuk masalah pendanaan Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah telah memberikan subsidi stimulant yang diberikan semenjak tahun anggaran 2003 sampai saat ini, dengan besaran subsidi yang amat tergantung pada kondisi keuangan Negara atau tinggi rendahnya perhatian Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah kepada Dewan Pendidikan.

34 72 Pada awalnya subsidi tersebut diberikan secara flate rate atau sama rata. Lalu timbul ide agar subsidi stimulant tersebut diberikan berdasarkan kinerja Dewan Pendidikan. Namun ketika anggaran dipotong oleh Departemen Keuangan, subsidi pun kembali diberikan secara sama rata. Pada tahun 2008/2009 ini, besarnya subsidi adalah Rp 25 juta bagi Dewan Pendidikan yang dinilai mempunyai kinerja baik, dan Rp 20 juta bagi Dewan Pendidikan lainnya. Sistem subsidi stimulant sesungguhnya bukan menjadi cara yang edukatif bagi Dewan Pendidikan. Cara yang dipandang lebih bagus adalah memasukkan masalah anggaran Dewan Pendidikan ke dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Jika cara yang legal seperti ini sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah, maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah diharapkan telah memperoleh sumber pendapatan yang jelas, meski besarnya akan amat tergantung kepada kemampuan daerahnya masingmasing. Dan selain dari sumber dana tersebut, secara lembaga sosial, seharusnya Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dapat secara mandiri untuk dapat melakukan upaya secara mandiri, misalnya dengan menjalin kerjasama dengan masyarakat, dalam hal ini termasuk Dunia usaha dan Dunia Industri seperti yang telah dilakukan oleh beberapa Dewan Pendidikan di Jakarta. Masih terkait dengan anggaran, agaknya independensi dari Dewan Pendidikan pun sedikit terusik karena salah satu sumber anggaran Dewan Pendidikan mungkin dapat dianggarkan dalam RAPBD. Dengan tersedianya anggaran dalam RAPBD tersebut, seakan-akan Dewan Pendidikan menjadi lembaga birokrasi di bawah bupati atau walikota, bahkan di bawah kepala dinas pendidikan. Padahal, penyediaan anggaran Dewan Pendidikan dalam RAPBD tidak berarti harus mengorbankan independensi dalam kedudukan dan peran Dewan Pendidikan, karena anggaran itu bukan dari bupati atau walikota, namun dari uang rakyat. Dan hal ini yang harus diluruskan. Selain masalah dana masalah lain yang cukup pelik adalah masalah koordinasi dengan dinas setempat tidak semua Dewan Pendidikan memiliki hubungan yang harmonis dengan Dinas Pendidikan, ada anggapan bahwa hal ini disebabkan adanya semacam dualisme dimana Dinas pendidikan dan Dewan

35 73 Pendidikan sama-sama mengurusi pendidikan. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Sujono Kuslan Dewan Pendidikan Jakarta Barat ; kadang seperti ada semacam dualisme kepemimpinan dalam satu kapal, terkait dengan hubungan antara dinas pendidikan dan kami sebagai Dewan Pendidikan, tapi yah mungkin ini hanya sekedar kurang komunikasi semata karena tujuan kami pada akhirnya sama yaitu untuk kemajuan Jakarta Barat ini juga (hasil wawancara pada tanggal 17 November 2009) Hal lain yang ingin diketahui oleh peneliti adalah upaya yang dilakukan Dewan Pendidikan dalam mendekatkan diri mereka kepada masyarakat terutama dalam membuka kemudahan akses bagi masyarakat dalam memahami dan mencaritahu tentang Dewan Pendidikan. Berawal dari keingintahuan itu ditemukan bahwa saat ini hanya Dewan Pendidikan Jakarta Pusat yang telah memiliki website yang dapat di akses oleh masyarakat disamping juga memilki nomor telepon yang dapat dihubungi, sementara Dewan Pendidikan yang lain belum memiliki fasilitas website hanya memiliki telepon. Sarana komunikasi mutlak sangat diperlukan apaun itu bentuknya karena dengan demikian akan meminimalisir jarak antara masyarakat dengan Dewan Pendidikan yang notabene adalah wadah bagi masyarakat untuk bersuara. Dalam penelitian ini selain menggali informasi dari pihak Dewan Pendidikan, peneliti juga mencoba mengenal lebih jauh Dewan Pendidikan dari sudut pandang informan pendukung yaitu stakeholder mereka yang terdiri dari Dinas Pendidikan dan Komite Sekolah. Keberadaan Dewan Pendidikan tidak mungkin dilepaskan dari para stakeholdernya, karena dari merekalah Dewan Pendidikan akan mendapat banyak masukan dan saran mengenai perbaikan mutu pendidikan. Patut disayangkan ternyata keberadaan dari Dewan Pendidikan itu sendiri masih kurang gaungnya dimasyarakat terbukti dari beberapa informan yang ditanyakan mengenai Dewan Pendidikan hampir separuh dari mereka menjawan kurang tahu, seperti yang dinyatakan oleh informan di SMPN 278 Kalideres ;

36 74 saya kurang paham pak tentang Dewan Pendidikan. (hasil wawancara pada tanggal 13 November 2009) Agak miris memang kelihatannya bagaimana seseorang yang tergabung dalam komite sekolah kurang paham mengenai Dewan Pendidikan tapi itulah hasil yang didapat dari penelitian ini. Setali tiga uang dengan informan dari SMPN 278 Kalideres, informan dari SMPN 8, Menteng pun menyatakan hal yang sama bahwasanya beliau pernah hanya sebatas mendengar tapi apa peranan dan fungsinya seperti apa beliau sama sekali tidak tahu. Hal serupa juga dinyatakan oleh informan dari SMPN 126 Kramat Jati, Jakarta Timur ;.saya tahu tapi kurang paham juga apa itu Dewan Pendidikan, kegiatannya apa, peraturan apa saja saya kurang tahu (hasil wawancara pada tanggal 25 November 2009) Sedikit berbeda dengan informan yang lain, informan dari Dinas Jakarta Barat yang cukup dekat dengan Dewan Pendidikan, menyatakan ; yah saya tahu Dewan Pendidikan, bahkan dulu saya pernah bantu - bantu disana jadi sedikit banyak saya paham Tidak terlalu banyak, kalau ingin lebih jelas mungkin ke Dewan Pendidikannya langsung saja Mengenai keanggotaannya hmm...saya sendiri kurang paham tapi kalo tidak salah ada yang dari sini, lalu dari unsur pendidikan ada dari kepala sekolah, dari guru, dinas, dan dari muspida...kalau disini muspikot...tapi untuk lebih jelasnya yah disana mas... (hasil wawancara pada tanggal 13 November 2009) Hal ini senada dengan jawaban yang diberikan oleh informan dari Dinas Jakarta Selatan, mungkin karena berada dalam gedung yang sama jadi beliau cukup tahu apa itu Dewan Pendidikan, seperti penggalan kalimat beliau ;

37 75 Dewan Pendidikan secara umum yah organisasi kemasyakaratan untuk menampung aspirasi masyarakat juga tentunya. Anggotanya banyak.yang pasti terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat kemudian dari kepala sekolah lalu dari orang dinas sendiri juga ada yah banyak juga kalau bisa dibilang pakar-pakar dalam bidang pendidikan (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Bagaimanapun juga hal ini tetaplah menunjukkan bahwa sepertinya Dewan Pendidikan kurang melakukan sosialisasi mengenai keberadaan mereka ini. Tidak perlu jauh-jauh sosialisasi mengenai program cukup untuk langkah awal memperkenalkan Dewan Pendidikan karena keberadaannya cukup penting. Berkenaan dengan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan maka kepada informan pendukung di gali informasi mengenai apakah selama ini Dewan Pendidikan pernah melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk melakukan monitoring atau supervise namun kembali informasi yang diterima hampir seraga. Dewan Pendidikan belum pernah mengunjungi sekolah mereka padahal kalau mau ditelaah banyak sekolah-sekolah yang dijadikan lokasi penelitian ini menyandang gelar Sekolah Standar Nasional, logikanya Dewan Pendidikan akan datang ke sekolah-sekolah semacam ini untuk melihat performa dari sekolah tersebut kemudian dibagikan kepada sekolah lain yang kurang. Namun ternyata seperti yang diungkapkan oleh informan dari SMP N 13 Kebayoran Baru dalam penggalan kalimat berikut : Dewan Pendidikan belum pernah datang berkunjung kesini, yah kecuali kalau mereka datang ketika saya sedang dinas saya tidak tahu..tapi kayanya belum pernah datang. (hasil wawancara pada tanggal 23 November 2009) Pernyataan ini juga didukung oleh hampir sebagian besar komite sekolah yang diwawancarai. Jadi agak sedikit kontardiksi dengan pernyataan dari Dewan Pendidikan sendiri seperti tersebut di atas bahwa mereka sering mengunjungi sekolah-sekolah salah satunya pendapat bapak Mahali Harahap, Dewan Pendidikan Jakarta Selatan ;

38 76 Yah paling kita mengadakan monev yang terjadwal setiap semester, tujuannya adalah untuk memantau sekaligus mendekatkan diri dengan pihak sekolah karena bagaiman pun juga sekolah adalah mitra Dewan Pendidikan juga dalam memperoleh masukan mengenai pelaksanaan pembelajaran. Biasanya kami pilih sekolahnya secara random atau acak kemudian kami datangi.. (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Selain itu ternyata komite-komite sekolah ini belum pernah diundang oleh Dewan Pendidikan untuk turut dalam workshop yang mereka sebutkan diatas tadi. Hal ini didukung oleh pernyataan informan dari SMP N 126 Jakarta Timur ; setahu saya belum pernah kita diundang Dewan Pendidikan, paling yang mengundang Dinas Pendidikan tapi kalau Dewan Pendidikan belum. (hasil wawancara pada tanggal 25 November 2009) Demikian juga yang diungkapkan oleh informan dari SMP N 8 Menteng, Jakarta Pusat, Undangan workshop hmm sepertinya belum pernah tapi kurang tahu juga kalau teman-teman saya yang lain kalau saya sendiri belum pernah menghadiri (hasil wawancara pada tanggal 19 November 2009) Selain itu ditemukan bukti bahwa seprtinya para stakeholder belum belum merasakan bahkan diantara mereka masih kurang paham apa saja peranan dari Dewan Pendidikan itu sendiri. Sedikit lain yang diungkapkan oleh informan dari Dinas Pendidikan Jakarta Barat, beliau menyatakan :..hmm kalau dikatakan menampung, rasanya kok belum yah, karena masih banyak yang tertinggal..mereka hanya sebatas hitam diatas putih memenuhi peraturan yang sudah ada Yah sebenarnya kan bersama Dinas seharusnya mereka bersinergi dalam mengembangkan pendidikan di Jakarta Barat ini namun yah sepertinya kurang Tapi yang pasti sampai sekarang saya belum pernah mendengar informasi apapun ke telinga saya

39 77 dari Dewan Pendidikan mas. (hasil wawancara pada tanggal 13 November 2009) Informan dari Dinas Jakarta Selatan juga merasa Dewan Pendidikan belum dapat bekerja secara optimal, seperti yang diungkapkan beliau ; Sementara ini kalau dari sudut pandang saya kurang banyak berperan, bisa dikatakan perhatiannya terhadap upaya pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan kurang. Fungsinya sepertinya belum dilakukan secara maksimal masih setengah-setengah yah patut disayangkan itu (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Pendapat ini juga didukung oleh informan dari SMP N 126 Kramat Jati, Jakarta Timur, beliau menyayangkan setelah diberi penjelasan sedikit oleh peneliti, beliau menyatakan sebagai berikut ; bagus sekali bila memang Dewan Pendidikan itu bisa menjalankan peranannyan dengan baik jadi paling tidak kita seperti punya wakil dan tahu kemana harus menyampaikan apa yang kita inginkan (hasil wawancara pada tanggal 25 November 2009) Ada anggapan bahwa kurang maksimalnya pelaksanaan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan yang belum optimal ini dikarenakan masalah dana, mengingat mereka tidak digaji dan anggaran yang mereka terima pun setiap tahunnya tidak begitu besar. informan dari SMP N 278, Kalideres mengemukakan pendapatnya bahwa bila masalahnya seperti itu besar kemungkinan memang mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Demikian juga halnya dengan yang dikatakan oleh informan dari Dinas Jakarta Barat, beliau menyatakan : Tapi yah mungkin kita juga tidak bisa menyalahkan mereka juga sih mas karena bagaimana yah mereka juga tidak digaji dalam melaksanakan tugasnya disana. Jadi yah gimana mas mungkin rasa memilikinya kurang..kalau tidak salah karena tidak mempunyai rekening maka anggaran mereka dititipka pada pos social di Dinas ini..yang saya

40 78 tahu bahkan di tahun 2008 kemarin mereka sampai tidak punya anggaran memang sih tahun lalu saya juga ikut studi banding ke balikpapan untuk meninjau mengenai Dewan Pendidikan disana tapi saya tidak tahu juga anggarannya dapat dari mana.. (hasil wawancara pada tanggal 13 November 2009) Pernyataan tersebut juga di dukung oleh informan, Dinas Pendidikan Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa ; kemudian masalah dana yah tahulah mereka dapatnya berapa dari anggaran yang didapat tapi biaya operasional mereka juga pasti banyak.jadinya yah masuk akal juga kalau keberadaan mereka seperti ada dan tiada karena bagaimana mau melaksanakan program mereka kalau uangnya tidak ada idealisnya memang katanya program bisa dilakukan meskipun tanpa biaya tapi yah tetep saja ngak masuk akal semua itu butuh ongkos, dana, biaya betul tidak. (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) Terkait dengan pelaksanaan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan ternyata banyak harapan yang dipercayakan kepada Dewan Pendidikan ini. Seperti yang dinyatakan oleh informan dari SMP 8 Menteng, Jakarta Pusat ; kalau ditanya harapan untuk Dewan Pendidikan, saya hanya berharap agar sosialisasi mengenai Dewan Pendidikan ini lebih ditingkatkan agar kita tahu dan menjadi paham (hasil wawancara pada tanggal 19 November) Senada dengan informan dari SMP 8 Menteng, Jakarta Pusat, informan dari SMPN 13 Kebayoran juga berharap agar keberdaan Dewan Pendidikan ini agar lebih disosilasikan agar masyarakat paham dan mengerti bahwa masyarakat mempunyai wadah untuk bertanya dan menyampaikan aspirasi mereka. Lain pula harapan informan dari Dinas Pendidikan Jakarta Barat, beliau menyatakan ;

41 79 Tapi saya akui mas keberadaan mereka sudah bagus namun yah cuman masih dalam proses dan untuk capai idealism yang kita mau masih lama.amerikan aja butuh beratus tahun untuk stabil menjadi Negara yang ideal kaya skarang. Yah pelan-pelan kali yah mas tapi paling ngak konsepnya sudah jelas (hasil wawancara pada tanggal 13 November 2009) Menurut pandangan informan dari Dinas Pendidikan Jakarta Selatan antara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, Korwas, Dinas Pendidikan dan Dewan Pendidikan perlu duduk besama untuk bicara dan bertukar pikiran apa yang harus dilakukan, bagaimana tindakan yang harus dibuat agar peran dan fungsi Dewan Pendidikan ini tidak menjadi pelan-pelan mati suri. Menurut beliau lagi seperti yang diungkapkan ; Karena bagaimana pun juga Dewan Pendidikan ini ada dan harusnya bisa lebih banyak berperan karena dengan wewenang yang mereka punya sebenarnya mereka bisa lebih luwes untuk masuk ke semua lini (hasil wawancara pada tanggal 2 Desember 2009) 5.2. Pembahasan hasil penelitian Berdasarkan hasil penelitian diatas sebenarnya pertanyaan pertama tesis ini pada perumusan masalah yang menanyakan bagaimana kesesuaian peran dan fungsi Dewan Pendidikan kota di DKI Jakarta dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam rangka revitalisasi peran Dewan Pendidikan dalam peningkatan mutu pendidikan di Jakarta, sudah bisa terjawab. Sesuai dengan peran dan fungsinya yaitu sebagai pemberi pertimbangan, kemudian sebagai pendukung, pengontrol dan mediator, maka Dewan Pendidikan di wilayah DKI Jakarta sudah melaksanakannya. Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 44 Tahun 2002 disana disebutkan terkait dengan peranannya sebagai pemberi pertimbangan maka fungsi dari Dewan Pendidikan adalah memberikan masukan, pertimbangan,

42 80 dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/dprd mengenai: (1) kebijakan dan program pendidikan; (2) kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan; (3) kriteria tenaga kepdndidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; (4) kriteria fasilitas pendidikan; dan (5) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. Disamping mereka juga diharapkan mampu untuk mengadakan pendataan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan sumber daya pendidikan dalam masyarakat, menganalisis hasil pendataan sebagai bahan pemberian masukan, pertimbangan, dan atau rekomendasi bupati/walikota dan atau dinas pendidikan kabupaten/kota, menyampaikan masukan, pertimbangan, dan atau rekomendasi secara tertulis bupati/walikota dengan tembusan kepada Dinas Pendidikan, memberikan pertimbangan kepada bupati/walikota dan atau dinas pendidikan dalam rangka pengembangan kurikulum muatan local. Selain juga memberikan pertimbangan kepada bupati/walikota dan atau dinas pendidikan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pengajaran yang menyenangkan (PAKEM), memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan visi, misi, tujuan, kebijakan, program dan kegiatan pendidikan di daerah kabupaten/kota,dan memberikan masukan dan pertimbangan kepada bupati/walikota dan atau dinas pendidikan tentang pelaksanaan manajemen pendidikan (ketenagaan, keuangan, fasilitas, dan data pendidikan) Dalam kacamata Dewan Pendidikan, mereka telah melaksanakanya. Penegasan ini didukung oleh hasil wawancara dimana sebagian besar Dewan Pendidikan menyatakan bahwa mereka kerapkali memberikan masukan, saran terhadap pemerintah dalam hal ini walikota terutama yang menyangkut kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah pusat. Sebagai anggota Dewan Pendidikan sudah pasti mereka diberikan wewenang untuk itu, disamping juga mereka kerap memeberikan rekomendasi untuk peenrbitan kebijakan diwilayan yang bersangkutan. Rekomendasi ini diberikan kepada pemerintah daerah dengan catatan bahwa apa yang mereka rekomendasikan merupakan hasil dari aspirasi masyarakat terhadap suatu masalah

43 81 sehingga pemerintah daerah dapata menerbitkan kebijakan yang dapat mengakomodir seluruh kepentingan. Audiensi dengan walikota juga sering mereka lakukan karena bagaimanapun juga sebagai instansi publik, pemerintah daerah sudah pasti memerlukan dukungan dan partispasi dari rakyatnya. Selain itu juga, pemerintah daerah, pemerintah daerah harus dapat menangkap aspirasi dan keinginan rakyat khususnya di daerah itu. Karena itulah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah disusun karena mereka adalah konstituen dari wakil-wakil rakyat. Bersama dengan bupati atau walikota, DPRD akan menetapkan Peraturan Daerah sebagai wujud pelaksanaan aspirasi dan keinginan rakyat tersebut. Dalam hal ini pelaksanaan Perda akan diawasi langsung oleh DPRD sekaligus oleh instansi pengawasan internal, dan bahkan oleh masayarakat sendiri. Dalam bidang pendidikanlah Dewan Pendidikan, sesuai dengan peran dan fungsinya,dapat memberikan masukan bahan pertimbangan baik itu kepada Bupati/walikota maupun kepada DPRD. Karena sebagai suatu organisasi yang bersifat mandiri, yang tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan dinas pendidikan kabupaten/kota maupun dengan lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Posisi Dewan Pendidikan maupun dinas pendidikan kabupaten/kota maupun lembaga-lembaga pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan (otonomi) masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dibentuknya Dewan Pendidikan ini didasarkan pada kesepakatan yang tumbuh dari akar budaya, sosio demografis dan nilai-nilai daerah setempat, sehingga lembaga tersebut bersifat otonom yang menganut asas kebersamaan menuju ke arah peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan. Dan karena beranggotakan dari banyak unsure dimasyarakat maka benar adanya bila mereka diturut sertakan dalam menyusun suatu peraturan atau kebijakan karena dianggap dekat dengan mayarakat sehingga mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Kemudian dalam peranannya sebagai pendukung atau supporting agency dimana mereka diharapkan untuk dapat mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu,

44 82 karena harus disadari bahwasanya partisipasi masayrakat dalm hal penyelenggaraan pendidikan mutlak sangat diperlukan. Melalui kewenangan yang dimilki oleh Dewan Pendidikan diharapkan mereka mampu untuk melaksanakannya salah satu contohnya dengan mendorong orangtua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan melalui penyelenggaraan rapat atau pertemuan secara berkala dan insidental dengan stakeholder pendidikan di kabupaten/kota dimana dalam kesempatan itu mereka dapat menyampiakan visi dan program mereka untuk kemajuan pendidikan. Dan hal ini sudah juga dilaksanakan oleh Dewan Pendidikan di wilayah DKI Jakarta. Mereka kerapkali mengadakan rapat koordinasi dengan berbagai pihak baik dari masyarakat maupun dari dunia usaha dan dunia industri, yang tujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di daerah kabupaten/kota Disamping itu kerap juga memotivasi masyarakat kalangan menengah ke atas untuk meningkatkan komitmennya bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Serta mendorong peran serta masyarakat dan dunia usaha dan dunia industri dalam penyediaan sarana dan prasasana serta biaya pendidikan untuk masyarakat yang tidak mampu Ikut memotivasi masyarakat dan semua stakeholder pendidikan untuk melaksanakan kebijakan pendidikan. Kalau bukan dari masyarakat siapa lagi yang akan peduli dengan peningkatan pendidikan dan biasanya seperti yang didapat dari salah satu dewan, bahwa respon masyarakat bila ditawarkan sutu program yang notabene untuk kepentingan pendidikan tidak perlu menunggu terlalu lama, mereka akan cepat mananggapinya karena semua ini juga untuk kebaikan putra-putri mereka yang masih mengenyam pendidikan. Kemudian terkait peranannya sebagai pengontrol, Dewan Pendidikan diharapkan mampu melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan karena bagaimanapun juga mereka terkadang turut andil dalam penyusunan dan penerbitan kebijakan itu sehingga paling tidak mereka sudah memiliki gambaran yang idelal mengenai keterlaksananya kebijakan dimaskud.

45 83 Pada buku acuan indikator kinerja Dewan Pendidikan disana dinyatakan bahwa sebagai pengontrol diharapkan Dewan Pendidikan untuk mengadakan rapat koordinasi dengan Komite Sekolah dan sering mengadakan kunjungan atau silaturahmi ke sekolah di daerah kabupaten/kota mungkin dengan tujuan agar Dewan Pendidikan mengetahui perkembangan serta kendala yang dihadapi oleh pihak sekolah dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Disamping juga diharapkan mereka dapat meminta penjelasan dinas pendidikan tentang hasil belajar siswa di daerah kabupatan/kota karena dengan demikian mereka dapat mengetahui sector mana yang perlu mendapat perhatian lebih untuk kemudian diperbaiki. Serta menjalin kerjasama dengan dinas pendidikan untuk mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan di daerah kabupaten/kota agar tidak berlarut dan menimbulkan polemic di kemudain hari. Pada prinsipnya dari semua indkator yang ada, semua sudah dijalankan oleh Dewan Pendidikan di wilayah Jakarta, kunjungan atau pun supervise ke sekolah-sekoilah kerap merka lakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pihak sekolah dalam perbaikan ataupun peningkatan pendidikan. Mengundang komite-komite sekolah untuk berkoordinasi juga merka kerap lakukan kurang lebih tujuannya sama yaitu untuk mengetahui perkembangan masing-masing sekolah, karena bagaimanpun juga komite sekolah adalah wakilwakil orangtua siswa yang notabene mengetahui kurang lebih apa yang terjadi di lingkungan sekolah mereka. Berkoordinasi dengan dinas pendidikan pun kerap dilakukan, mereka sering diturut sertakan dalam pengawasan ujian nasional. Dan tidak jarang dinas setempat memfasilitasi pertemuan yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan jadi sedikit banyak koordinasi antara kedua pihak terjalin. Meskipun terkadang ada sedikit salah pemahaman antara keduanya, terutama mengenai kewenangan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa dinas pendidikan merasa tersaingi dengan kehadiran Dewan Pendidikan ini, banyak alasan yang dikemukakan salah satunya adalah Dewan Pendidikan dianggap sering melampui batas yang ditetapkan dalam melaksanakan peran dan fungsinya. Jadi seolah-olah lahan yang seharusnya digarap oleh dinas pendidikan di ambil

46 84 oleh Dewan Pendidikan. Menyangkut hal ini memang diperlukan koordinasi yang baik serta penyelarasa visi antar keduanya. Menyangkut peran mereka sebagai mediator, jelas banyak hal yang harus mereka perbuat. Sebagai mediator mereka harus dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pihak pemerintah terutama dalam menyikapi pertentangan mengenai suatu kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah. Peran sebagai mediator untuk Dewan Pendidikan memang sebenarnya lebih kepada melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Dan ini dapat ditempuh dengan berbagai cara seperti Membina hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan seluruh stakeholder pendidikan, khusnya dengan DUDI di daerah kabupaten/kota serta Mengadakan penjajagan tentang kemungkinan untuk dapat mengadakan kerjasama atau MOU dengan lembaga lain untuk memajukan pendidikan di daerah kabupaten/kota. Dipandandang dari hal ini mereka patut diacungi jempol, karena mereka mampu membgun kerjasama dengan pihak dunia usaha dan industri untuk sedikit peduli dengan pendidikan dan tidak semata-mata saja mengejar keuntungan. Semua Dewan Pendidikan di wilayah Jakarta telah melakukannya, hal ini bisa terjadi karena memang banyak unsure masayrakat yang berada dalam Dewan Pendidikan sehingga sebagain dari mereka memiliki hubungan dengan dunia usaha atau industri. Mengadakan kerjasama dengan pihak luar pun telah dilakukan oleh Dewan Pendidikan di Jakarta, ambil contoh Dewan Pendidikan Jakarta pusat yang sudah beberapa kali menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan dari luar guna memfasilitasi ataupun transfer knowledge bagi peserta didik formal maupun non formal. Semua ini terjadi karena memang sebagai Dewan Pendidikan harus memiliki jaringan perkawanan yang luas. Disamping melakukan kerjasama atau penjajagan, salah satu fungsi yang penting dalam peranannya sebagai mediator adalah menampung dan mengalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat semisal dengan menyebarkan kuesioner untuk memperoleh masukan,

47 85 saran, dan ide kreatif dari stakeholder pendidikan di daerah kabupaten/kota serta menyampaikan laporan kepada masyarakat secara tertulis, tentang hasil pengamatannya terhadap perkembangan pendidikan di daerah kabupaten/kota. Dalam pelaksanaanya mereka, hampir sama dengan peran mereka sebagai pengontrol, cara efektif yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan di Jakarta adalah dengan melakukan temu wicara ataupun mengadakan forum silahturahmi dengan tokoh-tokoh masyakarat setempat maupun sekolah-sekolah dilingkungan Dewan Pendidikan masing-masing. Dengan demikian selain sebagai ajang silahturahmi Dewan Pendidikan juga bisa menggali informasi ataupun masukan akan suatu program yang sudah ataupun yang hendak dijalankan. Kemudian dari sini semua komentar ataupun masukan akan suatu kebijakan itu akan ditampung oleh Dewan Pendidikan, diramu dan kemudian disajikan kepada pemerintah daerah dalam hal ini walikota untuk kemudian menjadi bahan masukan bagi walikota dalam mengambil keputusan yang baik. Disamping menjalankan peran dan fungsinya yang tegas dinyatakan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 44 tahun 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dewan Pendidikan juga diharapkan mempunyai program-program inovatif dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan Jakarta Barat. Berdasarkan informasi yang didapat, Dewan Pendidikan Jakarta Barat ini kerap melakukan studi banding ke beberapa daerah dan negara tetangga, kesempata ini mereka tidak sia-siakan mereka mempelajari apa yang membuat Singapura dan Malaysia dapat lebih maju dibading dengan Indonesia menilik keberadaan mereka dahulu yang kerapkali belajar ke Indonesia namun kini jauh melejit meninggalkan Indonesia. Kemudian mereka mencoba mengadopsinya tentu saja disesuaikan dengan kurikulum yang ada di Indonesia. Selain itu juga mereka bekerjasama dengan beberapa universitas di daerah Jakarta Barat yaitu Trisakti dan Tarumanegara. Dimana mereka mengundang beberapa dosen dari sana dan dijadukan semcama konsultan atau yang mereka sebt dewan pakar. Tujuan perekrutan dewan pakar ini adalah untuk memberikan

48 86 masukan kepada sekolah-sekolah khususnya mengenai maeri-materi pembelajaran yang kemudia disinergikan dengan materi-materi yang ada di bangku perguruan tinggi. Dengan demikian para siswa dapat mengikuti materi di perguruan tinggi kelak karena sudah dipersiapkan semenjak sekarang. Disamping itu Dewan Pendidikan Jakarta Barat ini juga menjalin kerjasama dengan dunia industri yang tersebar di Jakarta Barat. Kerjasama ini bertujuan agar siswa-siswa kejuruan khususnya memiliki kesempatan untuk bekerja magang disana atau praktik kerja lapangan dan tanggapan dari dunia indutri akan bentuk kerjasam ini pun positif. Harus diakui memang sebagai wadah organisasi yang mempunyai tujuan (a) mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan di kabupaten/kota; (b) meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan; (c) menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di daerah kabupaten/kota dan satuan pendidikan. Dewan Pendidikan harus dapat menelurkan program-program yang inovatif dan maju agar tidak tergerus dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Bertolak dari semua hal diatas maka dapat dikatakan bahwa peranan dan fungsi Dewan Pendidikan kota di DKI Jakarta telah sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Namun seperti yang dinyatakan dalam kerangka berpikir pada bab 1 disana dinyatakan bahwa terkadang pelaksanaan suatu kebijakan memang sudah sesuai dengan peraturan yang ada namun tidak hanya berhenti disitu saja, karena kebijakan atau apapun itu namanya juga memiliki pihak lain yang juga turut serta merasakannya, dalam hal Dewan Pendidikan ada stakeholder atau pemangku kepentingan yang haknya juga harus diperhatikan. Walaupun pelaksanaan peran dan fungsi berdasarkan hasil yang didapat dari para anggota Dewan Pendidikan di Jakarta sudah terlaksana belum tentu para stakeholder yang dalam tesis ini adalah unsur dinas pendidikan setempat serta orangtua dalam komite sekolah juga sudah merasakannya. Hal ini terbukti dari

49 87 hasil yang diperoleh peneliti terhadap unsure dinas pendidikan dan komite sekolah didapat beberapa fakta yang cukup mencengangkan. Pertama sebagian besar dari stakeholder belum tahu mengenai keberaadan daripada Dewan Pendidikan. Sebagian dari mereka hanya sebatas pernah mendengar namun apa itu peran, fungsi serta peraturan yang menyangkut mengenai Dewan Pendidikan mereka kurang paham. Kalaupun ada yang paham itu disebabkan karena mereka adalah unsur Dinas Pendidikan yang suadh pasti mengetahui paling tidak apa itu Dewan Pendidikan sementara para anggota komite sekolah tidak paham apa itu Dewan Pendidikan. Setelah beri diberikan gambaran sedikit tetnag apa itu Dewan Pendidikan baik ditinjau dari sisi peran dan fungsinya, barulah mereka menyadari bahwa Dewan Pendidikan ini cukup penting. Cukup penting disini ialah karena dengan adanya Dewan Pendidikan paling tidak dibenak mereka mereka jadi tahu harus menyuarakan aapirasi maupun keluhan yang mereka hadai dalan kaitannya dengan masalah pendidikan. Ada sedikit penyesalan pada mereka karena informasi mengenai keberadaan Dewan Pendidikan seperti ini mereka belum dapatkan. Dari sini terlihat dan menunjukkan bahwa sosialisasi akan keberadaan Dewan Pendidikan sangatlah kurang. Kurangnya informasi baik dari Dinas Pendidikan maupun dari media membuat banyak kalangan kurang mengetahui apa itu Dewan Pendidikan. Dan hal ini sangat disayangkan karena sebagai wadah yang sebenarnya diperuntukan untuk menampung aspirasi masyatakat, Dewan Pendidikan ini kurang mendapat perhatian. Selain itu dari hasil sedikit ulasan mengenai Dewan Pendidikan diatas, para Dewan Pendidikan menyatakan bahwa merrka kerapkali mengadakan kunjungan kesekolah-sekolah dan juga mengundang komite-komite sekolah untuk hadir bersama dalam acara yang mereka selenggarakan entah itu workshop ataupun rapat kerja. Keterangan ini disanggah oleh para komite sekolah yang ada, menurut mereka selama ini belum pernah sekolah mereka dikunjungi oleh Dewan Pendidikan.

50 88 Selama ini yang sering berkunjung ke sekolah-sekolah itu adalah pengawas ataupun dari Dinas Pendidikan sementara Dewan Pendidikan belum pernah. Hal ini cukup memprihatinkan juga karena sebenarnya dengan berkunjung ke sekolahsekolah yang baik seperti SMP N 13 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, para Dewan Pendidikan dapat membandingkan kualitas sekolah ini dengan yang lainnya, tidak perlu sampai harus keluar negeri. melalui sekolah-sekolah yang baik, mereka dapat melihat proses perkembangan kurikulumnya seperti apa kemudian proses belajar mengajarnya seperti apa untuk kemudian diadopsi dan diterapkan pada sekolah-sekolah lain yang kurang baik mutu pendidikannya. Mengenai diajak untuk turut serta dalam workshop yang diadakan oleh Dewan Pendidikan, masing-masing komite sekolah yang menjadi informan dalam penelitian ini menyatakan belum pernah, namun kemudian dari mereka berdalih bahwa mungkin saja rekan komite sekolah mereka yang lain yang pernah hadir pada acara-acara yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan itu. Karena mereka mengaku tidak terlalu aktif dalam keanggotaan komite sekolah. Sederhana yang mereka pikirkan berdasarkan apa yang peneliti tangkap, yaitu dengan keberadaan Dewan Pendidikan semacam ini pasti akan sangat membantu mereka dalam menyikapi dan menghadapi masalah tentang pendidikan sehingga paling tidak sekarang menyadari bahwa mereka memiliki tempat untuk mengadu. Dari sisi ini terlihat betapa sebenarnya mereka sangat antusias dengan keberadaan Dewan Pendidikan ini dan memang sedikit banyak ada hal-hal yang kontradiksi antara keterangan yang diberikan Dewan Pendidikan dengan yang diberikan oleh komite sekolah dan dinas pendidikan setempat, Kembali lagi pada pokok awal, dimana memang benar para dewan telah melakukan peran dan fungsinya sesuai peraturan yang berlaku namum bagaimana dengan pelaksanaan peran dan fungsi mereka terhadap para stakeholder mereka yang ternyata belum berjalan sebagaimana mestinya. Sedikit banyak dari sini terlihat ada semacam kesenjangan antara apa yang Dewan Pendidikan telah lakukan untuk menyesuaikan dengan peraturan terkait dengan apa yang sebenarnya stakeholder rasakan. Dengan kata lain sungguh amat disayangkan

51 89 bahwasanya pelaksanaan peran dan fugsi Dewan Pendidikan ini dirasa belum maksimal karena banyak masyarakat belum merasakan peranan mereka Strategi Revitalisasi Dewan Pendidikan Dewan Pendidikan, sebagai suatu organisasi bersifat mandiri, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintahan lainnya, mempunyai komitmen dan loyalitas serta peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Dewan Pendidikan yang dibentuk dapat dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis, ekologis, nilai kesepakatan, serta kepercayaan yang dibangun sesuai potensi daerah setempat. Seturut apa yang dikatakan oleh Gibson (1996) bahwa Dewan Pendidikan sebagai organisasi menjadi wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri dan sebagai kesatuan yang memungkinkan masyarakat mencapai sutu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan. Sehingga melalui kebersamaan ini tujuan dari dibentuknya Dewan Pendidikan yaitu sebagai wadah dalam menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan, disamping juga untuk meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Hanya saja dalam perjalanan kedepannya dalam mengemban peran dan fungsi seperti yang dimandatkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 44 Tahun 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tidak selalu berjalan lancar kendala waktu dan anggaran yang kurang kerap menerpa, namun semuanya itu akan mengarah pada satu tujuan akhir yaitu untuk menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu. Sehingga tercapailah kondisi ideal yang diharapkan dapat terjadi. Akan tetapi seperti telah disinggung pada pembahasan sebelumnya bahwasanya terdapat sedikit kesenjangan antara

52 90 pelaksanaan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan bukan terhadap peraturan terkait melainkan terhadap para stakeholder. Kesenjangan yang dimasud disini adalah bahwasanya para stakeholder belum dapat merasakan peranan daripada Dewan Pendidikan itu sendiri dan harapan terhadap Dewan Pendidikan itu dalam menjalankan fungsinya agar bukan hanya sesuai apa yang menjadi impian stakeholder namun lebih kepada kemaksimalan mereka dalam mengemban kepercayaan yang sudah diberikan kepada mereka. Berangkat dari hal tersebut sebenarnya sebagai sebuah organisasi, Dewan Pendidikan sebagaimana dikatakan Perrow (1979) sudah mendapatkan apa itu yang disebut dengan ; 1. Memperoleh masukan-masukan yang dibutuhkan bagi pembentukan, pengoperasian, dan pengembangan organisasi; 2. Memperoleh pengakuan atau legitimasi bagi kegiatan-kegiatannya; 3. Memperoleh sumber daya manusia yang terampil sesuai dengan kebutuhan; 4. Mengkoordinir kegiatan-kegiatan para anggota organisasi dalam hubungannya dengan organisasi lain, klien dan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain apa yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan atas nama pendidikan sudah mendapat restu sehingga seharusnya mereka bisa lebih maskimal. Mengenai keanggotaan mereka atau sumber daya manusia yang handal mereka sudah memilikinya. Karena anggota Dewan Pendidikan sendiri terdiri dari: a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang pendidikan. b. Tokoh masyarakat (ulama, budayawan, pemuka adat, dll). c. Anggota masyarakat yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu d. pendidikan atau yang dijadikan figur di daerah. e. Tokoh dan pakar pendidikan yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu pendidikan.

53 91 f. Yayasan penyelenggara pendidikan (sekolah, luar sekolah, madrasah,pesantren). g. Dunia usaha/industri/asosiasi profesi (pengusaha industri, jasa, asosiasi,dan lain-lain). h. Organisasi profesi tenaga kependidikan (PGRI, ISPI, dan lain-lain). i. Perwakilan dari Komite Sekolah yang disepakati. Jadi sepertinya tidak ada alasan bagi Dewan Pendidikan apabila mereka belum terlalu maskimal dalam pelaksanaan peran dan fungsinya. Namun manusiawi bila mereka belum melaksanakan dengan maskimal karena sebagian besar anggota Dewan Pendidikan adalah orang-orang yang sibuk dan bekerja, jadi bisa kurang sedikit bisa dimaklumin. Hanya saja tetap disayangkan apabila masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai keberadaan Dewan Pendidikan. Dengan kata lain bisa dikatakan ada peran dan fungsi dalam Dewan Pendidikan yang kurang mendapat perhatian sehingga luput. Memandang ini semua memang ada baiknya orgnanisasi Dewan Pendidikan ini sedikit mengalami perubahan agar dapat lebih menjadi lebih optimal. Salah satu langkah yang dipandang baik adalah dengan melakukan apa yang disebut dengan revitalisasi. Revitalisasi disini tidak dalam arti kata bahwa semua yang sudah ada saat ini di dewan harus dirubah, namun yang dirubah hanyalah sedikit sentuhan pada pelaksanaan peran dan fungsinya agar menjadi lebih baik lagi. Dengan kata lain ini inti dari pada revitalisasi adalah menghidupkan atau menggiatkan kembali suatu tempat atau organisasi yang memiliki aset potensial. Keberadaan Dewan Pendidikan dengan segala akses dan wewenang yang dimilikinya jelas menjadikan Dewan Pendidikan sebagai suatu organisasi yang memiliki aset yang sangat potensial. Apalagi dengan mendasarkan pada semua peran dan fungsi yang dimiliki Dewan Pendidikan saat ini sebenarnya mereka dapat menjadi suatu organisasi yang unggul dan mumpuni khususnya dalam bidang pendidikan.

54 92 Revitalisasi organisasi sendiri sebenarnya mencakup perubahan substansial pada organisasi, tetapi masih selaras dengan struktur, sistem dan proses yang telah ada pada organisasi tersebut, sehingga tidak terlalu merubah tatanan awal dari pembentukan organisasi tersebut. Dengan kata lain meskipun pada proses revitalisasi organisasi, perubahan yang dicanangkan signifikan dan dilaksanakan dengan upaya yang besar, tetapi dengan resiko yang tidak terlalu besar bagi organisasi sehingga tidak menimbulkan hal yang buruk bagi keberlangsungan organisasi tersebut. Adapun konsekuensi yang timbul akibat perubahan itu tidak terjadi secara drastis, namun perubahan tersebut terjadi secara alami dan terseleksi Jadi dapat dikatakan bahwa revitalisasi organisasi adalah suatu tahapan perubahan terencana yang terjadi melalui suatu proses jangka panjang yang terbagi dalam tahap-tahap yang direncanakan secara sistematis dan terperinci. Dan hal tersebut tidak hanya sebatas pada menghidupkan kembali dari segi fisik seperti penyelesaian infrastruktur, dukungan utilitas ataupun pengembangan lainnya, namun juga perencanaan kegiatan baru yang kreatif dan inovatif yang telah disiapkan bersama dengan mekanisme pengelolaannya. Sebagai suatu organisasi yang menjadi wadah bagi masayarakat dalam menyampaikan suara masyarakat Dewan Pendidikan harus dapat menjadi learning organization, dimana Dewan Pendidikan harus selalu siap memperbaiki kinerja terutama berkaitan dengan pelaksanaan peran dan fungsinya, disamping juga melaksanakan perubahan yang diperlukan dan proses pembelajaran sehingga Dewan Pendidikan mampu beradaptasi dengan perkembangan yang dituntut atas peran dan fungsi Dewan Pendidikan dari lingkungan dan stakeholdersnya. Sebagai langkah awal untuk mencapai learning organization adalah dengan melakukan revitalisasi. Dalam mewujudkan revitalisasi organisasi, Dewan Pendidikan harus dapat melakukan benchmarking atas strategi dan program yang sudah dibuat, dan dijalankan apakah bersinergi dengan peraturan terkait. Dalam upaya melaksanakan revitalisasi, konsep yang matang juga tak lupa harus dipersiapkan, karena ada banyak contoh organisasi yang melakukan revitalisasi namun berakhir dengan devitalisasi dan itu semua terjadi karena dalam melaksanakan revitalisasi tidak mempersiapkan dengan matang dan terarah. Salah

55 93 satu konsep atau teori yang dapat digunakan dalam proses revitalisasi ini adalah yang dikemukakan oleh Gouillart dan Kelly (1995), senada dengan pernyataan diatas mereka berpendapat bahwa revitalisasi organisasi adalah perubahan organisasi yang ditujukan untuk memacu pertumbuhan organisasi dengan cara menselarasakan organisasi dengan lingkungannya yang dapat dicapai melalui 3 pendekatan yaitu : Pendekatan fokus pasar, Yang dimaksud dengan pendekatan focus pasar disini adalah dengan cara mengenal para pengguna jasa dengan baik dan memahami sepenuhnya kebutuhan mereka yang harus dapat dipenuhi oleh organisasi, serta memanfaatkan input dari para pengguna jasa untuk menyempurnakan strategi organisasi. Penciptaan bisnis baru Penciptaan bisnis baru disini, yaitu dengan menyelaraskan core competences atau fungsi utama organisasi agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan para pengguna jasa, seta menciptakan peluang untuk pertumbuhan dan perbaikan kinerja organisasi. Pemanfaatan teknologi informasi Pemanfaatan teknologi informasi dipelukan untuk perbaikan efisiensi dan integrasi system organisasi internal; melaksanakan reengineering atas system organisasi; serta membangun jaringan teknologi yang menghubungkan organisasi dengan para pengguna jasa dan stakeholders lainnya. Dari ketiga pendekatan itu masing masing akan dijabarkan dan dikaitkan dengan peran dan fungsi dari Dewan Pendidikan Pendekatan Fokus Pasar Pendekatan focus pasar tidak hanya melulu dilakukan pada sector perdagangan, dimana para produsen berusaha mencari tahu apa yang menjadi keinginan dari para pembeli untuk kemudian ditampung adan diolah kemudian

56 94 menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pembeli. Dengan cara ini perusahaan dapat meningkatkan kemampuannya untuk selalu lebih maju sehingga bisa tampil beda dan tidak aka nada bisnis yang dapat bertahan lama jika tidak memusatkan perhatiannya pada kepentingan pelanggan. Penggunaan istilah fokus pasar disini mengandung pengertian yang lebih dari hanya sekedar memberikan perhatian kepada pelanggan namun juga lebih kepada memberikan bukti secara nyata apa yang dibutuhkan pelanggan. Karena dengan cara demikian perusahaan dapat memeperoleh informasi yang dibutuhkan dari eksternal dan mengaiktan serta mengadaptasi lingkungan tersebut kedalam organisasi. Dalam suatu organisasi pendekatan semacam ini pun menjadi sangat penting. Penting disini memiliki makna karena suatu organisasi itu berdiri tidak hanya untuk keperluan internal saja namun juga ada pihak pengguna disana dengan berbagai ekspektasi terhadap pelayanan yang diberikan oleh organisai tersebut. Konsep awal dari pendekatan pasar disini adalah bahwasanya organisasi harus menghasilkan sebuah produk ataupun mengetahui layanan jasa apa yang diperlukan oleh para pelanggan mereka atau stakeholder mereka dengan cara mengenal para pengguna jasa dengan baik dan memahami sepenuhnya kebutuhan mereka yang harus dapat dipenuhi oleh organisasi, serta memanfaatkan input dari para pengguna jasa untuk menyempurnakan strategi organisasi Terkait dengan Dewan Pendidikan, dan masyarakat selaku stakeholdernya, terlebih dengan peran Dewan Pendidikan sebagai pemberi pertimbangan kepada pemerintah daerah, yang harus dapat menyampaikan apa yang disuarakan oleh masyarakat terlebih mengenai keberlangsungan peningkatan mutu pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian didapati selama ini untuk mendapatkan masukan, Dewan Pendidikan sebagai pengontrol dan mediator kerapkali mengunjungi sekolah-sekolah serta melakukan pertemuan formal dengan para stakeholder untuk mengetahui apa yang diingin kan oleh mereka (Champy:2005) dalam bentuk mengundang komite-komite sekolah untuk duduk bersama membicarakan langkah-langkah apa serta program apa yang sebaiknya dibuat dalam rangka meningkatan pelayanan pendidikan.

57 95 Dapat dikatakan langkah ini memang sudah terbilang tepat karena seperti konsep awal dari pendekatan fokus pasar mereka menjemput bola untuk mengenal baik sekolah dan mengetahui apa yang menjadi keinginan dari pihak sekolah dan masyarakat selaku stakeholder. Namun yang patut ditanyakan disini ialah sekolah mana yang mereka supervise karena dari semua informasi yang didapat dari stakeholder belum satupun dari pihak sekolah pernah mendapat kunjungan dari pihak Dewan Pendidikan. Mungkin untuk langkah awal yang baik mereka harus lebih giat melakukan sosialisasi mengenai apa itu Dewan Pendidikan, baik peranan dan fungsinya. Karenanya diperlukan sedikit usaha untuk melakukan perubahan atau penggiatan kembali terhadap peran mereka ini agar menjadi lebih optimal. Salah satu langkah dipandang akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan mereka hanya mengunjungi sekolah-sekolah tertentu namun melupakan masyarakat lain diluar sekolah yang mereka kunjungi atau hanya menyebarkan kuesioner untuk memperoleh masukan, saran, dan ide kreatif dari stakeholder pendidikan di daerah kabupaten/kota yang seakan membuat jarak diantara Dewan Pendidikan dan masyrakat adalah melakukan sosialisasi. Hal ini senada dengan harapan dari pada stakeholder jadi bagaimana Dewan Pendidikan mengetahui apa keinginan dari masyarakat sementara masayarakat sendiri tidak tahu dengan keberadaan Dewan Pendidikan. Sebaiknya Dewan Pendidikan melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dalam mensosialisasikan keberadaan Dewan Pendidikan karena Dinas Pendidikan lebih mengetahui wilayah-wilayah mana saja yang perlu mendapat perhatian lebih untuk mendapatkan informasi semacam ini, paling tidak untuk langkah awal mereka mengundang Camat, Lurah, RT dan RW di wilayah setempat. Koordinasi dengan dinas Pendidikan setempat juga dimaksudkan untuk mengantisipasi kendala dana operasional yang dihadapi oleh Dewan Pendidikan dibanding mereka harus melakukannya sendiri. Melalui langkah sosialisasi ini pastilah Dewan Pendidikan akan mendapat banyak masukan, saran, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan yang diajukan oleh masyarakat yang pastinya untuk perbaikan daripada pelaksanaan peran dan fungsi

58 96 Dewan Pendidikan terlebih masukan untuk kemajuan kualitas pendidikan. Sehingga sebagai pemberi pertimbangan fungsi Dewan Pendidikan akan menjadi lebih mengigit dalam menyampaikan masukan, pertimbangan, dan atau rekomendasi kepada bupati/walikota dan atau dinas pendidikan karena memiliki data yang akurat yang diperoleh dari masyakarat. Langkah selanjutnya untuk fokus pasar adalah dengan melakukan segmentasi pelanggan (Champy:2005). Terkait dengan Dewan Pendidikan seprti telah disinggung pada pembahsana sebelumnya bahwa stakeholder Dewan Pendidikan meliputi masyarakat dan pemerintah daerah, untuk itu langkah ini penting dilakukan oleh dewan Pendidikan agar Dewan Pendidikan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan proporsi kebutuhan dari masing-masing stakeholder Penciptaan bisnis baru Dalam pendekatan penciptaan bisnis baru, penyelarasan core competences atau fungsi utama organisasi lebih diutamakan agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan para pengguna jasa, serta menciptakan peluang untuk pertumbuhan dan perbaikan kinerja organisasi. Seturut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/ 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dinyatakan bahwa peran Dewan Pendidikan 4 (empat) yaitu: pertama, pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan, kedua, pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketiga, pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan dan keempat, sebagai mediator (mediating agency) antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) (legislatif) dengan masyarakat. Sementara fungsi dari Dewan Pendidikan itu sendiri meliputi: (1) Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap

59 97 penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, (2) Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah, dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, (3) Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. (4) Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/dprd mengenai a). kebijakan dan program pendidikan, b). kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan, c). kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan, d). kriteria fasilitas pendidikan, e). hal lain yang terkait dengan pendidikan. (5) Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan dan (6). Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan. Dari peranan dan fungsi diatas memang seharusnya Dewan Pendidikan terlebih bila dilihat dari perananya sebagai pendukung, sudah bisa lebih maksimal dalam melaksanakan perannya, namun terkadang dibutuhkan terobosan baru dalam menjalankan perananya tersebut dan terkait dengan penciptaan bisnis baru yang tujuan kedepannya untuk peningkatkan kinerja dari organisasi itu, Dewan Pendidikan harus sudah mulai kerjasama dengan pihak lain. Kerjasama disini bukanlah semata-mata untuk mencari keuntungan karena Dewan Pendidikan bukanlah organisasi komersil namun lebih kepada mencari straegi yang cocok dalam memenuhi keinginan daripada stakeholders. Harus diakui kadangkala organisasi tidak memiliki kompetensi internal untuk membangun suatu bisnis baru karenanya untuk melakukan suatu perubahan agar dapat lebih maksimal dalam menjalankan peranannya diperlukan pihak lain untuk membantunya. Saat ini selain Dinas Pendidikan, dunia usaha dan dunia industri dapat dikatakan sebagai pihak lain yang berkompeten dalam membantu Dewan Pendidikan menciptakan bisnis baru, dan selama ini juga hubungan diantara keduanya sudah mulai terjalin meskipun hubungan Dewan Pendidikan dengan DU/DI masih dalam batas penjajagan belum sampai pada taraf yang lebih dalam lagi.

60 98 Bersama Du/Di, Dewan Pendidikan pasti akan mendapatkan masukan tentang merancang program-program yang inovatif dan beragam yang dapat menarik minat asyarakat sehingga dapat meningkatkan komitmennya dalam membantu peningkatan mutu pendidikan terlebih dalam penyediaan sarana dan prasasana serta biaya pendidikan untuk masyarakat yang tidak mampu. Harus diakui saat ini masih banyak Dewan Pendidikan yang memfokuskan dirinya hanya dalam melaksanakan peranan dan fungsinya hanya sebatas mengacu pada peraturan yang ada dan dapat dikatakan tidak terlalu luar biasa. Meskipun ada juga Dewan Pendidikan yang sudah mulai membuka diri dengan pihak lain demi upaya meningkatkan kemajuan mutu pendidkan di wilayahnya seprti yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan Jakarta Barat yang menggandeng dosen dari Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara dan Universitas Bina Nusantara yang mereka sebut dengan Dewan Pakar untuk turut serta dalam mengintegrasikan materi yang ada dibangku kuliah dengan materi pada jenjang sekolah. Demikian juga halnya yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan Jakarta Pusat yang dengan sigap menggandeng mitra pendidikan dari luar negeri untuk memberikan pelatihan-pelatihan ataupun kerjasama dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk perbaikan kualitas pendidikan. Dan tak ketinggalan Dewan Pendidikan Jakarta Selatan yang membuka kerjasama dengan KADINDA untuk memberikan kesempatak kepada pelajar SMK untuk praktik kerja di lapangan di perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam KADINDA dan semua ini terjadi karena mereka sudah mulai menyadari bahwa diperlukan usaha yang proaktif dengan menggunakan wewenang yang mereka punyai untuk kemajuan anak didik. Menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat juga harus dilakukan karena dengan Dinas pendidikan yang sudah jelas sama-sama membidangi masalah pendidikan pasti akan juga timbul ide-ide segar yang berkualitas disamping karena Dinas Pendidikan dapat melakukan pendekatan khusus pada tiapa-tiap wilayah yang memiliki karakteristik yang tersendiri. Antara Dinas dan Dewan Pendidikan dapat saling melengkapi dari programprogram yang mereka buat masing-masing sehingga terwujud satu program

61 99 inovatif yang mensinergikan kedua belah pihak dengan tujuan untuk lebih dapat mendapatkan input guna meningkatkan kinerja dan kualitas mutu pendidikan. Dengan kata lain melalui pendekatan penciptaan bisnis baru ini, diharapkan Dewan Pendidikan menjadi lebih tahu mengenai gambaran diri mereka terkait dengan peranan dan fungsi mereka sebagai wadah yang menampung dan menyalurkan aspiriasi masyarakat dalam hal ini stakeholder, sehingga dapat lebih berintropeksi dan terus semangat dalam membuat programprogram baru yang lebih produktif dan inovatif. Karena kalau tidak maka Dewan Pendidikan akan perlahan-lahan mati suri Pemanfaatan teknologi informasi Pendekatan pemanfaatan teknologi informasi diperlukan untuk perbaikan efisiensi dan integrasi system organisasi internal; melaksanakan reengineering atas system organisasi; serta membangun jaringan teknologi yang menghubungkan organisasi dengan para pengguna jasa dan stakeholders lainnya.karena di era zaman yang semakin canggih ini teknologi memang sudah memegang peranan yang sangat penting baik untuk berkomunikasi maupun juga untuk mengembangkan organisasi. Sebagai suatu organisasi kemasyarakat Dewan Pedidikan memang dituntut untuk selalu up date dalam semua hal. Terutama kaitannya dengan pendidikan, karena perkembangan pendidikan dan sumber pengetahuan pun semakin hari semakin bertambah dan bila tidak diiringi dengan kemauan untuk maju maka niscaya akan tergusur. Terkait dengan peranan dan fungsi yang sedemikian penting terlebih sebagai mediator yang dituntut untuk mampu menampung dan mengalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat, sudah sewajarnya Dewan Pendidikan melakukan sedikit perubahan untuk kemajuan, yang mungkin selama ini hanya mengandalakan telepon sebagai sarana untuk saling berkomunikasi antara masyarakata kepada Dewan Pendidikan, kini dengan kemajuan teknologi yang sudah sedemikian canggih tidak ada salahnya apabila Dewan Pendidikan memiliki semacam website atau situs yang dapat dikunjungi oleh semua masyarakat disana dapat dicantumkan peran dan

62 100 fungsi dari Dewan Pendidikan sehingga masyarakat pun mengethaui apa iti Dewan Pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian didapati hanya Dewan Pendidikan Jakarta Pusat saja yang memiliki fasilitas website yaitu di dewanpendidikan.wordpress.com, pada halaman website ini berisi banyak informasi yang menarik serta profil dari Dewan Pendidikan Jakarta Pusat itu sendiri. Dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tampilan yang cukup menarik serta artikel-artikel yang membangun, dapat dikatakan bahwa Dewan Pendidikan Jakarta Pusat sudah mulai membuka diri lebih terhadap perkembangan teknologi masa kini. Adapun pembuatan website ini bkan dimaksudkan untuk gagahgagahan namun banyak manfaat yang dapat dinikmati melalui fasilitas ini. Sebagaimana peran Dewan Pendidikan sebagai penyambung suara masyarakat maka Dewan Pendidikan tidak perlu bersusah payah menjaring data cukup di cantumkan di website yang ada kemudian masyarakat pun akan serta merta mengumpulkan data ataupun masukan-masukan yang diperlukan terkait suatu kebijakan. Selain itu masyarakat pun mengetahui program-program apa saja yang di tawarkan oleh Dewan Pendidikan, disamping masayarakat dapat bertanya ataupun menyampaikan keluhan terhadap pelayan pendidikan misalnya sehingga Dewan Pendidikan pun dapat segera menindaklanjutinya. Selain itu melalui pemanfaatan teknologi maka jalan Dewan Pendidikan untuk tampil lebih baik dan berperan lebih maksimal pun dapat terbuka lebar sehingga tidak terbentang jarak antara Dewan Pendidikan dan masyarakat. Selain pemanfaatan website tidak ada salahnya juga apabila Dewan Pendidikan membuat account pada jejaring social yang sedang marak saat ini yaitu Facebook hal ini untuk lebih mendekatkan Dewan Pendidikan dengan para stakeholdernya sehingga tercipta rasa kebersamaan dan memiliki antar Dewan Pendidikan dan masyarakat. Disamping itu Dewan Pendidikan pun dapat lebih mudah dalam menjajagi ataupun manjalin hubungan kerjasama dengan pihak dunia usaha dan industri dalam upaya mendukung penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di daerah kabupaten/kota. Pemanfaatan tenologi memang harus disikapi dengan baik namun

63 101 terkadang harus diikuti akan tidak tertinggal zaman. Terlebih bila melihat Dewan Pendidikan selaku organisasi kemasyarakatan teknologi sudah barang tentu mutlak untuk dikuasai demi kemudahan masyarakat dalam memeperoleh informasi. Berdasarkan penjabaran diatas terihat bahwa prioritas utama dalam melakukan revitalisasi terhadap Dewan Pendidikan adalah ; 1. Pencapaian fokus pasar Ini berkaitan dengan peran mereka selaku pemberi pertimbangan kepada pemerintah daerah dimana masukan dari masyarakata merupakan hal yang penting, namun dengan keadaan saat ini dimana banyak masyarakat yang belum mengetahui akan keberdaan Dewan Pendidikan hal itu dapat menjadi kendala. Selama ini memang Dewan Pendidikan kerap memberikan saran dan masukan namun itu dirasa belum maskasimal karenanya perlu ada upaya penggiatan kembali peran Dewan Pendidikan sebagai pengontrol dan mediator untuk lebih proaktif, khususnya saat ini untuk melakukan sosialisasi. 2. Pemanfaatan teknologi informasi Sebagai mediator Dewan Pendidikan harus mampu menjangkau masyarakat karenanya perlu pemanfaatan teknologi yang ada untuk menjangkau lebih mendekat kepada mereka seperti pemanfaatan website sehingga tidak akan ada lagi masyarakat yang tidak tahu apa itu Dewan Pendidikan, disamping juga dengan pemanfaatn teknologi peluang untuk bekerjasama dengan dunia usaha dan indsutri lebih besar. 3. Penciptaan bisnis baru Apabila pencapaian focus pasar dan pemanfaatan teknologi sudah berjalan sebagaimana mestinya maka penciptaan bisnis baru akan mengikuti dengan sendirinya karena melalui pemanfaat teknologi khususnya dewan pendidika dapat mencari ide-ide segar dalam membuat program yang inovatif disamping juga terus menjalin

64 102 kerjasama dengan pihak Dunia usaha dunia industri dan dinas pendidikan setempat. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses revitalisasi itu sendiri memerlukan waktu dan sudah pasti akan ada perubahan besar karenanya diperlukan manajemen perubahan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan Manajemen perubahan Seperti telah sedikit disinggung diatas bahwasnya pada waktu organisasi melakukan revitalisasi, maka sudah dapat dipastikan disana akan timbul perubahan yang cukup besar yang memerlukan proses perubahan yang cukup panjang. Terkadang dalam pelaksanaan revitalisasi itu terjadi chaos dan ketidak pastian karenanya dalam rangka mempertahankan proses perubahan, mencegah chaos serta mensukseskan program-program perubahan yang telah ditetapkan dibutuhkan manajemen perubahan. Demikian juga halnya dengan proses revitalisasi Dewan Pendidikan, karena sebagai suatu organisasi Dewan Pendidikan ini dapat dikatakan sudah cukup lama, sehingga tidaklah mudah merubah sesuatu yang sudah terbangun dan sistematis selama bertahun-tahun kemudian dalam sekejap mata berharap langsung berubah. Diperlukan juga banyak pertimbangan dan pemikiran dari seluruh unsure anggota yang terlibat didalamnya. Penyatuan visi bahwa perubahan ini untuk menjadi yang lebih baik harus juga ditanamkan. Untuk menuju revitalisasi sendiri terlebih dahulu harus melalui proses perubahan yang menurut Lowenthal(1994) terdiri dari 4 tahap : 1. Tahap persiapan perubahan, dimulai saat pimpinan puncak organisasi mulai mempertimbangkan dan membahas rencana awal perubahan bersama manajemen tingkat atas dan membentuk tim change agents. 2. Tahap perencananan perubahan, dilaksanakan dengan mencanangkan visi, misi dan prinsip-prinsip utama organisasi;

65 Tahap rancangan perubahan, dilaksanakan dengan analisis atas kondisi proses internal organisasi untuk menentukan unit dan proses yang akan menjadi sasaran perubahan. Kemudian rencana perubahan dirancang secara terperinci mencakup stakeholders yang terkait, sasaran yang diinginkan, tim yang bertanggungjawab, dan rencana kerja tim. Dan tak lupa rancangan perubahan juga memerlukan pertimbangan akan hambatan yang mungkin terjadi pada rencana perubahan dan factor budaya yang mempengaruhi implementasi rencana perubahan. Penentuan sasaran perubahan setelah dilakukan ideal process untuk menetapkan benchmark dan gap analysis dilaksanakan dengan membandingkan ideal process dengan kondisi real proses internal organisasi. Kemudian sasaran perubahan diperinci kembali dengan standar ukuran keberhasilan dan analisis dampak perubahan. Penetapan sasaran yang baru harus mendapat persetujuan dari seluruh stakeholder yang terkait. Pada tahap ini diakhiri dengan implementasi rencana perubahan yang telah dirancang secara terperinci tersebut. 4. Tahap evaluasi perubahan, dilaksanakan setelah rencana perubahan diimplementasikan dan didasarkan atas standar ukuran keberhasilan yang telah ditetapkan. Dan evaluasi perubahan itu harus dilakukan oleh tim change agents dan seluruh manajemen organisasi. Hasilnya kemudian digunakan sebagai feedback untuk revisi dan penyusunan rencana strategis jangka panjang organisasi. Terlihat dari proses perubahan diatas bahwa memang dibutuhkan kerjasama seluruh anggota Dewan Pendidikan dan terlebih lagi kerendahan hati anggota untuk melakukan perubahan agar dapat terjadi. Seperti dinyatakan diatas bahwa proses perubahan itu dimulai dari tahap persiapan perubahan, dimulai saat pimpinan puncak organisasi mulai mempertimbangkan dan membahas rencana awal perubahan bersama manajemen tingkat atas dan membentuk tim change agents. Demikian juga yang terjadi pada organisasi Dewan Pendidikan, diharapkan setelah mendapatkan masukan dari masyarakat dan melakukan penilaian sendiri atas pelaksanaan peran dan fungsi

66 104 yang selama ini dilakukan dan dirasa kurang optimal maka ketua Dewan Pendidikan bersama dengan para anggota Dewan Pendidikan mulai memikirkan langkah terbaik untuk mengadakan perubahan. Perubahan disini bukanlah perubahan terhadap peran dan fungsi yang telah ditetapkan dalam Kepemendiknas terkait namun lebih pada strategi pelaksanaan peran dan fungsi tersebut agar lebih optimal. Setelah tahap persiapan perubahan dirasa sudah cukup maka tahap selanjutnya adalah tahap perencananan perubahan, pada tahap ini Dewan Pendidikan mulai melihat kembali visi misi serta tujuan dari Dewan Pendidikan yang telah ditetapkan selama ini apakah masih relevan atau tidak dengan perkembangan zaman saat ini. Apabila dirasa sudah tidak relevan dapat diubah dengan yang baru, namun untuk Dewan Pendidikan sepertinya pada tahap ini tidak terlalu banyak kendala karena tidak perlu ada perubahan terhadap tujuan dari Dewan Pendidikan karena masih relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Proses yang selanjutnya harus dilewati Dewan Pendidikan agar lebih maju dan optimal lagi bisa dikatakan proses yang cukup berat karena ada banyak tenaga, waktu dan pikiran yang harus disumbangkan pada proses ini agar dapat berjalan baik. Proses tersebut adalah tahap rancangan perubahan, sederhananya dalam proses ini Dewan Pendidikan harus dapat menentukan peran mana yang selama ini mereka lakukan sebagai Dewan Pendidikan yang dianggap kurang efektif dan akan dijadikan sasaran perubahan. Kemudian Dewan Pendidikan mempertimbangkan kendala di lapangan yang mungkin mempengaruhi implementasi rencana perubahan. Kemudian ditetapkan metode yang baru harus mendapat persetujuan dari seluruh stakeholder yang terkait. Pada tahap ini diakhiri dengan implementasi rencana perubahan yang telah dirancang secara terperinci tersebut. Tahap terakhir adalah tahap evaluasi perubahan, dilaksanakan setelah rencana perubahan diimplementasikan dan didasarkan atas standar ukuran keberhasilan yang telah ditetapkan. Dan evaluasi perubahan itu harus dilakukan oleh seluruh anggota Dewan Pendidikan. Hasilnya kemudian digunakan sebagai

67 105 feedback untuk revisi dan penyusunan rencana strategis jangka panjang organisasi. Melalui tahapan proses perubahan ini meskipun akan memakan waktu yang panjang namun proses revitalisasi, secara bertahap akan terwujud dan Dewan Pendidikan yang lebih profesional dan maksimal dalam menjalankan perannya pun dapat terlaksana. Namun terkait dengan keprofesionalan pelaksanaan peran dan fungsi Dewan Pendidikan selanjutnya, agaknya perlu sedikit mendapat perhatian terutama dari Departemen Pendidikan Nasional terhadap implikasi kebijakan pembentukan Dewan Pendidikan itu sendiri Implikasi Kebijakan Pembentukan Dewan Pendidikan Seperti yang dikemukakan oleh William N Dunn (1994) kebijakan publik merupakan rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintahan seperti pertahanan, keamanan, energi, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, kriminalitas, perkotaan dan lain-lain. Dengan kata lain kebijakan publik merupakan keputusan yang dilaksanakan oleh pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat. Demikian pula halnya dengan kebijakan pembentukan Dewan Pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional melalui Kepmendiknas Nomor 44 Tahun 2002 mengenai Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Sebagai kebijakan publik yang dibentuk dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di kabupaten/kota seperti yang termaktub dalam hal menimbang keputusan diatas, pada butir a dan b, yang dinyatakan sebagai berikut: a. bahwa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional melalui upaya peningkatan mutu, pemerataan, efisiensi penyelenggaraan pendidikan, dan tercapainya demokratisasi pendidikan, perlu adanya dukungan dan peranserta masyarakat yang lebih optimal;

68 106 b. bahwa dukungan dan peranserta masyarakat perlu didorong untuk bersinergi dalam suatu wadah Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang mandiri; Dewan Pendidikan sebagai organisasi mandiri berbasis kemasyarakatan (community organization) jelas memiliki porsi yang sangat baik dalam menunjang peningkatan mutu pendidikan khususnya di DKI Jakarta, yang merupakan barometer pendidikan. Ditambah kemudian diperkuat dengan terbitnya Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terkhusus pasal 56 ayat (1), (2) dan (3) yang membahas mengenai partispasi masyarakat dalam Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, yang seharusnya semakin memperkuat posisi Dewan Pendidikan. Dalam hal pengimplentasian kebijakan ini, berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan secara umum semua Dewan Pendidikan sudah melakukan peran dan fungsinya sesuai dengan keputusan yang terkait. Meskipun ditemukan juga ada sedikit kesenjangan dalam pengimplementasian kebijakan ini terutama dari pihak masyarakat selaku stakeholder. Semua responden hampir mengaku tidak begitu paham mengenai keberadaan Dewan Pendidikan maupun peran dan fungsinya. Hal ini tentu saja sangat disayangkan dan sedikit banyak berdampak pada keberadaan Dewan pendidikan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat. Kurangnya informasi dan sosialisasi mengenai Dewan Pendidikan seolah-olah membuat Dewan Pendidikan ada dan tiada disamping juga membuat masyarakat seakan-akan tidak memiliki wadah untuk menyampaikan aspirasinya dan ide-ide untuk perbaikan pendidikan padahal seharusnya mereka dapat menuangkannya melalui Dewan Pendidikan. Selain itu akibat kesenjangan ini juga membuat sedikit salah paham antara Dinas Pendidikan dengan Dewan Pendidikan itu sendiri terutama mengenai kewenangan dalam memberikan masukan ataupun langkah langkah pasti dalam meningkatkan dunia pendidikan, disini dapat dikatakan kurangnya koordinasi dan komunikasi menjadi salah satu faktor penyebabnya. Bagi Dewan Pendidikan kesenjangan ini terjadi bukan semata-mata karena mereka belum melaksanakan

69 107 peran dan fungsinya secara optimal namun hal ini juga dikarenakan mereka belum merasa kuat kedudukannya karena belum terbitnya dasar hukum yang lebih operasional yakni Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Pada PP tersebut khususnya pada Bab XIII memang dibahas secara rinci mengenai Peran Serta Masyarakat, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Terkhusus mengenai peran dan fungsi Dewan Pendidikan dinyatakan disana yaitu pada bagian keempat pasal 201 ayat (2), (3), (4) dan (5) ; (2) Dewan pendidikan berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. (3) Dewan pendidikan menjalankan fungsinya secara mandiri dan profesional. (4) Dewan pendidikan bertugas menghimpun, menganalisis, dan memberikan rekomondasi kepada Menteri, gubernur, bupati/walikota terhadap keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan. (5) Dewan pendidikan melaporkan pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kepada masyarakat melalui media cetak, elektronik, laman, pertemuan, dan/atau bentuk lain sejenis sebagai pertanggungjawaban publik. Dasar inilah yang sebenarnya ditunggu oleh Dewan Pendidikan sebagai salah satu amunisi dalam melakukan peran dan fungsinya. Seharusnya PP tersebut diatas itu sudah terbit 4 (empat) tahun yang lalu karena disebutkan dalam Pasal 75 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mana jelas dinyatakan disana bahwasanya PP tersebut diatas harus telah diterbitkan paling lambat 2 (dua) tahun, namun ternyata hingga UU itu tersebut kini sudah berumur lebih dari 6 (enam) tahun PP tersebut termasuk

70 108 penjabaran pasal 56 tersebut belum juga terbit. Hal ini sedikit banyak berdampak pada pelaksanaan peran dan fungsi Dewan Pendidikan yang terkesan kurang menggigit karena belum memiliki payung yang kuat dalam dalam melaksanakan peran yang diberikan kepadanya. Berangkat dari hal tersebut maka memang tidak berlebihan kiranya bila PP tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan untuk segera diterbitkan karena PP tersebut sangat dinantikan untuk lebih dapat menyempurnakan proses revitalisasi Dewan Pendidikan sehingga Dewan Pendidikan dapat benar-benar menjadi lebih powerfull dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan di DKI Jakarta khususnya.

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 044/U/2002 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 044/U/2002 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 044/U/2002 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Menimbang : 1. bahwa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 044/U/2002 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH NOMOR 044/U/2002 MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Menimbang : a. bahwa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : a. bahwa dalam upaya peningkatan

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN 2015-2020 ANGGARAN DASAR DEWAN PENDIDIKAN 1 BAB I NAMA, TEMPAT DAN KEDUDUKAN Pasal 1 NAMA Organisasi ini bernama Dewan

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 36 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH WALIKOTA YOGYAKARTA

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 36 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH WALIKOTA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 36 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH WALIKOTA YOGYAKARTA Menimbang : a. bahwa berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cukup mendasar, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Republik

BAB I PENDAHULUAN. cukup mendasar, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Republik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan nasional saat ini sedang mengalami berbagai perubahan yang cukup mendasar, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH

DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH KEPMENDIKNAS RI NO 044/U/2002 DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DEWAN PENDIDIKAN BADAN YANG MEWADAHI PERAN SERTA MASYARAKAT DLM MENINGKATKAN MUTU, PEMERATAAN,EFISIENSI

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG JL. KS TUBUN NO. 21 SUBANG JAWA BARAT

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG JL. KS TUBUN NO. 21 SUBANG JAWA BARAT ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG JL. KS TUBUN NO. 21 SUBANG 41213 JAWA BARAT ANGGARAN DASAR DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR62 TAHUN 2009 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH BUPATI PURWOREJO,

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR62 TAHUN 2009 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH BUPATI PURWOREJO, BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR62 TAHUN 2009 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH BUPATI PURWOREJO, Menimbang: a. bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan pendidikan di Kabupaten

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUMEDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUMEDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, SALINAN PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUMEDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa dalam upaya menciptakan suasana

Lebih terperinci

MANAJEMEN PARTISIPASI MASYARAKAT

MANAJEMEN PARTISIPASI MASYARAKAT MANAJEMEN PARTISIPASI MASYARAKAT TITIK TOLAK: MPMBS DIPERLUKAN KEMANDIRIAN DAN KREATIVITAS SEKOLAH DALAM MENGGALI SUMBER DAYA MASYARAKAT TENAGA, PIKIRAN, UANG, SARANA PRASARANA PENDIDIKAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus

BAB I PENDAHULUAN. mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan peningkatan kualitas

Lebih terperinci

Disampaikan oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok Oktober 2016

Disampaikan oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok Oktober 2016 Disampaikan oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok Oktober 2016 1. Kedudukan, Fungsi dan Tugas : Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan 2. Indkator Kerja Dewan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1. Peran dan fungsi komite sekolah dalam peningkatan mutu sekolah merupakan faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 736 TAHUN 2012 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 736 TAHUN 2012 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 736 TAHUN 2012 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 90 ayat (8) Peraturan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (PROPENAS) Tahun Dalam BAB VII PROPENAS. ini memuat tentang Pembangunan Pendidikan, dimana salah satu arah

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (PROPENAS) Tahun Dalam BAB VII PROPENAS. ini memuat tentang Pembangunan Pendidikan, dimana salah satu arah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hubungan kemitraan antara pihak Sekolah dengan Orang Tua peserta didik, mula-mula tergabung dalam wadah yang diberi nama Persatuan Orang Tua Murid dan Guru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keinginan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Paradigma baru manajemen

BAB I PENDAHULUAN. keinginan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Paradigma baru manajemen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses reformasi yang sedang bergulir, membawa perubahan yang sangat mendasar pada tatanan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dikeluarkannya UU No 22 tahun

Lebih terperinci

AD ART Komite Sekolah

AD ART Komite Sekolah AD ART Komite Sekolah Contoh ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA KOMITE... (NAMA SEKOLAH)... TAHUN... MUKADIMAH Dengan nama Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa Untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, sehat, jujur, berakhlak mulia, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial

Lebih terperinci

RANCANGAN QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR TAHUN 2013 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA MAJELIS PENDIDIKAN DAERAH KABUPATEN ACEH TIMUR

RANCANGAN QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR TAHUN 2013 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA MAJELIS PENDIDIKAN DAERAH KABUPATEN ACEH TIMUR RANCANGAN QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR TAHUN 2013 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA MAJELIS PENDIDIKAN DAERAH KABUPATEN ACEH TIMUR BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 10 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 10 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 10 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERAN MASYARAKAT DALAM BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan, salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mutu pendidikan berkaitan erat dengan proses pendidikan. Tanpa proses pelayanan pendidikan yang bermutu tidak mungkin diperoleh produk layanan yang bermutu. Banyak

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PROGRAM WAJIB SEKOLAH 12 TAHUN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PROGRAM WAJIB SEKOLAH 12 TAHUN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PROGRAM WAJIB SEKOLAH 12 TAHUN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI OGAN KOMERING

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KOTA MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KOTA MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA S A L I N A N Nomor 14/C, 2001 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KOTA MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, masyarakat, orang tua dan stake holder yang lain. Pemerintah telah memberikan otonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

I. PENDAHULUAN. dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sekolah, pembentukan komite sekolah, peran komite sekolah, fungsi komite

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sekolah, pembentukan komite sekolah, peran komite sekolah, fungsi komite BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini diuraikan beberapa konsep mengenai pengertian komite sekolah, pembentukan komite sekolah, peran komite sekolah, fungsi komite sekolah, dan landasan komite sekolah.

Lebih terperinci

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 LAMONGAN

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 LAMONGAN MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 LAMONGAN ANGGARAN DASAR (AD) DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART) KOMITE MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 LAMONGAN KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN PEMBUKAAN Dengan Rahmat Tuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan pemerintah. Dapat dikatakan pada saat ini tanggung jawab masing masing

BAB I PENDAHULUAN. dan pemerintah. Dapat dikatakan pada saat ini tanggung jawab masing masing 1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Dapat dikatakan pada saat ini tanggung jawab masing masing belum optimal,

Lebih terperinci

PERAN SERTA MASYARAKAT/ STAKE HOLDERS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

PERAN SERTA MASYARAKAT/ STAKE HOLDERS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF PERAN SERTA MASYARAKAT/ STAKE HOLDERS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF Oleh: Ahmad Nawawi JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FIP UPI BANDUNG 2010 Latar Belakang l Lahirnya pendidikan inklusif sejalan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Hasil penelitian tentang peran komite sekolah di SMA PGRI 1 Temanggung ini dibagi menjadi lima bagian. Lima bagian tersebut antara lain gambaran

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Dalam bab ini membahas hasil penelitian Peran dan Fungsi Komite Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Terbanggi Besar

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAERAH DAN KOMITE SEKOLAH/MADRASAH

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAERAH DAN KOMITE SEKOLAH/MADRASAH SALINAN BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAERAH DAN KOMITE SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang

Lebih terperinci

Kinerja Dewan Pendidikan di Kota Salatiga

Kinerja Dewan Pendidikan di Kota Salatiga Kinerja Dewan Pendidikan di Kota Salatiga Oleh : Nur Hasanah NIM : Q100030016 Program Studi : Magister Manajemen Pendidikan Konsentrasi : Manajemen Sekolah PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Lebih terperinci

No. Kategori Rincian Isi kategori. 1. Pemberi pertimbangan memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan pendidikan

No. Kategori Rincian Isi kategori. 1. Pemberi pertimbangan memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan pendidikan 118 Kategorisasi Data Informan Kunci No. Kategori Rincian Isi kategori 1. sebagai : 1. Pemberi pertimbangan memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan audiensi dengan walikota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Reformasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 berdampak ke hampir seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu dampak dari adanya reformasi adalah perubahan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PENGURUS KOMITE SLTP NEGERI 6 SRAGEN Nomer : 01 / Komite / SLTP N 6 / 2003 Tentang Anggaran Dasar Komite Sekolah SLTP Negeri 6 Sragen

KEPUTUSAN PENGURUS KOMITE SLTP NEGERI 6 SRAGEN Nomer : 01 / Komite / SLTP N 6 / 2003 Tentang Anggaran Dasar Komite Sekolah SLTP Negeri 6 Sragen PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN DINAS PENDIDIKAN SLTP NEGERI 6 SRAGEN Jl. Mayor Suharto No. 1 Telp. (0271) 891913 SRAGEN 57213 KEPUTUSAN PENGURUS KOMITE SLTP NEGERI 6 SRAGEN Nomer : 01 / Komite / SLTP N 6

Lebih terperinci

PEMBUKAAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

PEMBUKAAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan ANGGARAN DASAR KOMITE... PEMBUKAAN Dengan nama Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BIMA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA, RUKUN WARGA DAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PERATURAN DAERAH KOTA BIMA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA, RUKUN WARGA DAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERATURAN DAERAH KOTA BIMA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA, RUKUN WARGA DAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BIMA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR : TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JENEPONTO Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2002 NOMOR 13 SERI D PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA ( RT ), RUKUN WARGA ( RW ) DAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2007 NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR : 10 TAHUN 2007 T E N T A N G

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2007 NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR : 10 TAHUN 2007 T E N T A N G LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2007 NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR : 10 TAHUN 2007 T E N T A N G PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KAMPUNG DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN, RUKUN WARGA DAN RUKUN TETANGGA DENGAN

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN RUKUN TETANGGA DALAM DAERAH KOTA BONTANG

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN RUKUN TETANGGA DALAM DAERAH KOTA BONTANG PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN RUKUN TETANGGA DALAM DAERAH KOTA BONTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Komite Sekolah SD Mangunsari 01 Salatiga Komite Sekolah dibentuk melalui musyawarah yang terdiri dari : perwakilan orang tua murid tiap

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO

PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum Perkembangan Dana BOS di Bandar Lampung

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum Perkembangan Dana BOS di Bandar Lampung IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Perkembangan Dana BOS di Bandar Lampung tahun 2011-2012 BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi

Lebih terperinci

MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN. Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd

MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN. Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd Pendahuluan Govinda (2000) dalam laporan penelitiannya School Autonomy and Efficiency Some Critical

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA BADAN PERFILMAN INDONESIA BAB I UMUM. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA BADAN PERFILMAN INDONESIA BAB I UMUM. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA BADAN PERFILMAN INDONESIA BAB I UMUM Pasal 1 Anggaran Rumah Tangga ini disusun berdasarkan Pasal 28 Anggaran Dasar Badan Perfilman Indonesia, merupakan rincian atas hal-hal yang telah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 5 2015 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Kepmendiknas tersebut telah. operasional Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah..

BAB I PENDAHULUAN. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Kepmendiknas tersebut telah. operasional Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah lahir sebagai amanat Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000 2004. Amanat rakyat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 1. Tinjauan Tentang Kualitas Pendidikan Setiap negara diseluruh dunia begitu menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Salah satu langkah konkret untuk meningkatkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WONOSOBO, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Pentingnya peningkatan kualitas pendidikan sebagai prasyarat mempercepat terwujudnya suatu masyarakat yang demokratis, pendidikan yang berkualitas tidak hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan Undang- undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, telah membawa nuansa pembaharuan

Lebih terperinci

MENGENAL KOMITE SEKOLAH DAN PERANANNYA DALAM PENDIDIKAN

MENGENAL KOMITE SEKOLAH DAN PERANANNYA DALAM PENDIDIKAN Mengenal Komite Sekolah dan Peranannya dalam Pendidikan {133 MENGENAL KOMITE SEKOLAH DAN PERANANNYA DALAM PENDIDIKAN Rahmat Saputra Tenaga pengajar STAI Teungku Dirundeng Meulaboh Abstract The school committee

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 05 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 05 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 05 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAHAT, Menimbang

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republi

4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republi PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PERCEPATAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang : a. bahwa pendidikan Kota

Lebih terperinci

MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA Al Darmono Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ngawi Abstrak Menurut perundang-undangan, pendidikan dasar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manfaat penelitian secara teoritik dan praktis, serta penegasan istilah.

BAB I PENDAHULUAN. manfaat penelitian secara teoritik dan praktis, serta penegasan istilah. BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan secara detail latar belakang dan alasan pemilihan judul tesis, rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian secara teoritik

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subyek Penelitian Subyek penelitian terdiri dari 25 orang yang diambil dari pengurus komite sekolah dari 3 SMP Negeri yang ada di Kecamatan Musuk, Kabupaten

Lebih terperinci

Lembaran Negara Nomor 4548);

Lembaran Negara Nomor 4548); QANUN PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA MAJELIS PENDIDIKAN DAERAH PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH

Lebih terperinci

ACUAN OPERASIONAL DAN INDIKATOR KINERJA DEWAN PENDIDIKAN

ACUAN OPERASIONAL DAN INDIKATOR KINERJA DEWAN PENDIDIKAN ACUAN OPERASIONAL DAN INDIKATOR KINERJA DEWAN PENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TIM PENGEMBANGAN DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH JAKARTA, OKTOBER

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 10 2015 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 10 TAHUN 2015 2015 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bernama komite sekolah (SK Mendiknas Nomor 044/U/2002). karena pembentukan komite sekolah di berbagai satuan pendidikan atau

BAB I PENDAHULUAN. yang bernama komite sekolah (SK Mendiknas Nomor 044/U/2002). karena pembentukan komite sekolah di berbagai satuan pendidikan atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Komite sekolah adalah nama badan yang berkedudukan pada satu satuan pendidikan, baik jalur sekolah maupun di luar sekolah atau beberapa satuan pendididkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas SDM. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan telah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 15 2015 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 15 TAHUN 2015 2015 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN KESWADAYAAN MASYARAKAT KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon K I S A R A N

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon K I S A R A N PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon 41928 K I S A R A N 2 1 2 1 6 NOMOR 3 TAHUN 2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 10 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 10 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 10 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON,

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 59 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PROGRAM REHABILITASI SOSIAL DAERAH KUMUH KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), oleh karena itu

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), oleh karena itu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan faktor yang secara signifikan mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), oleh karena itu pembangunan pendidikan memerlukan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2007 NOMOR 3 LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2007 NOMOR 3 LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2007 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KERINCI NOMOR 3 TAHUN 2007 Menimbang : TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KERINCI,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dibidang peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan tertutama

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dibidang peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan tertutama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada umumnya dimulai dari tahapan perencanaan, proses pelaksanaan sampai dengan evaluasi pelaksanaan, partisipasi masyarakat

Lebih terperinci

ASOSIASI BADAN PENYELENGGARA PERGURUAN TINGGI SWASTA INDONESIA

ASOSIASI BADAN PENYELENGGARA PERGURUAN TINGGI SWASTA INDONESIA Lampiran Keputusan Munas IV Asosiasi BP PTSI Nomor: 07/MUNAS-IV/2017 ASOSIASI BADAN PENYELENGGARA PERGURUAN TINGGI SWASTA INDONESIA ANGGARAN DASAR ASOSIASI BP PTSI PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya tugas mendidik

Lebih terperinci

PEMERINTAHAN DAERAH. Harsanto Nursadi

PEMERINTAHAN DAERAH. Harsanto Nursadi PEMERINTAHAN DAERAH Harsanto Nursadi Beberapa Ketentuan Umum Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM

BAB I KETENTUAN UMUM UNDANG-UNDANG FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS ANDALAS NOMOR 01 TAHUN 2012 TENTANG BADAN-BADAN KHUSUS FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS ANDALAS DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA ESA Menimbang:

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG

WALIKOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG WALIKOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PERCEPATAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI

WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI SALINAN WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 46 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA DAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MELAWI NOMOR 12 TAHUN 2011 T E N T A N G KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATEN

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PELESTARIAN ADAT ISTIADAT DAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA ADAT MELAYU BELITONG KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Jurnal SAP Vol. 1 No. 2 Desember 2016 ISSN: X PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH: KAJIAN KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA

Jurnal SAP Vol. 1 No. 2 Desember 2016 ISSN: X PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH: KAJIAN KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH: KAJIAN KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA Yunita Endra Megiati Program Studi Teknik Informatika, Universitas Indraprasta PGRI Email: [email protected] Abstrak Dasar dibentuknya

Lebih terperinci

TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN ORGANISASI LEMBAGA KETAHANAN MASYARAKAT KELURAHAN,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 9/E, 2010 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa terwujudnya

Lebih terperinci

BUPATI FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA

BUPATI FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA SALINAN BUPATI FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI FLORES TIMUR,

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN NIAS UTARA

ANGGARAN DASAR DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN NIAS UTARA ANGGARAN DASAR DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN NIAS UTARA YA AHOWU Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan di dorong oleh keinginan luhur untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN GORONTALO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERENCANAAN, PELAKSANAAN PEMBANGUNAN, PEMANFAATAN, DAN PENDAYAGUNAAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : Mengingat : a. bahwa untuk meningkatkan

Lebih terperinci

KEPALA DESA BANJAR KECAMATAN LICIN KABUPATEN BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DESA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA DESA

KEPALA DESA BANJAR KECAMATAN LICIN KABUPATEN BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DESA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA DESA KEPALA DESA BANJAR KECAMATAN LICIN KABUPATEN BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DESA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA DESA BANJAR Menimbang : a. Pasal

Lebih terperinci