Menjawab Tantangan Penyediaan Air Bersih Jakarta

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Menjawab Tantangan Penyediaan Air Bersih Jakarta"

Transkripsi

1 Menjawab Tantangan Penyediaan Air Bersih Jakarta 1. Latar Belakang Akses universal terhadap air minum yang aman adalah hak asasi manusia yang diakui oleh PBB melalui resolusi 64/292. Air adalah kebutuhan vital manusia dan setiap orang harus memiliki akses terhadap air minum yang aman. Air minum yang aman berarti air yang diperlukan untuk setiap penggunaan pribadi atau rumah tangga harus aman, yang bebas dari mikro-organisme, bahan kimia, dan bahaya radiologis yang merupakan ancaman bagi kesehatan seseorang. 1 Penyediaan air minum yang paling mudah dijangkau adalah dengan melalui layanan air perpipaan yang disalurkan ke rumah warga. Namun, di kota padat penduduk seperti Jakarta, menyediakan air minum yang aman melalui layanan air pipa adalah pekerjaan yang tidak mudah. Populasi DKI Jakarta mencapai 9,6 juta jiwa. 2 Artinya, dengan menggunakan asumsi bahwa setiap individu membutuhkan 175 liter/hari, kebutuhan air Jakarta bisa mencapai lebih dari 900 juta m3/tahun, 3 dan akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang cepat. Menyediakan air minum yang aman untuk permintaan sebesar ini adalah tantangan nyata yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Untuk memenuhi kebutuhan air, penduduk Jakarta umumnya bergantung pada dua sumber utama, yaitu melalui layanan air perpipaan dan air tanah. Air tanah menjadi sumber utama karena layanan air perpipaan baru bisa menyediakan 297 juta m3 setiap tahun. Sisanya, sekitar 600 juta m3/tahun, kemungkinan besar dipenuhi dengan air tanah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena penggunaan air tanah memiliki risiko serius. Eksploitasi air tanah yang berlebihan menyebabkan masalah lingkungan seperti penurunan tanah dan intrusi air laut. Selain itu, air tanah Jakarta rentan terhadap masalah kesehatan, seperti adanya kontaminasi E coli yang tinggi yang ditengarai mencapai 90%. 4 Oleh karena itu, ketersediaan layanan air pipa di lingkungan perkotaan seperti Jakarta merupakan hal yang penting. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa peningkatan akses air perpipaan di daerah perkotaan dapat secara drastis mengurangi kematian akibat infeksi. Kurangnya akses terhadap air minum yang aman, di sisi lain, telah menyebabkan Hampir setengah dari penduduk kota di Afrika, Asia, dan Amerika Latin menderita setidaknya satu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan air bersih dan sanitasi. 5 Di Jakarta, layanan air perpipaan adalah tanggung jawab PAM Jaya, sebuah perusahaan daerah milik DKI yang bekerja sama dengan dua operator swasta, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra Air Jakarta (Aetra), untuk memberikan layanan kepada pelanggan. Kerjasama antara PAM Jaya dan operator swasta menggunakan model Built, Operate, and Transfer (BOT). 6 PAM Jaya menyerahkan usahanya (atau sebagian dari usahanya) melalui konsesi, untuk dikembangkan dan akan dikembalikan lagi oleh mitra swasta pada tahun Palyja memberikan layanan untuk bagian barat kota, sedangkan Aetra bagian timur.

2 Lebih dari separuh perjalanannya, privatisasi diwarnai dengan hasil kinerja yang tidak memuaskan. Jangkauan layanan masih rendah, pelanggan sering mendapati sambungan air mereka mati, tingkat kebocoran yang tinggi, dan tarif air yang melambung. Penduduk yang menggunakan air perpipaan untuk air minum juga masih rendah. Menurut studi Universitas Indonesia, penduduk yang menggunakan air perpipaan untuk minum hanya 24,4% (melalui penjual), dan 11,3% (melalui langganan pipa). 8 Masih jauh bagi Jakarta untuk bisa menyediakan layanan air siap minum. Masyarakat masih akan tergantung pada air kemasan, yang bisa menimbulkan masalah lain seperti keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, limbah, risiko kesehatan, dan sebagainya. Peningkatan layanan air minum di Jakarta adalah agenda yang mendesak. Dengan asumsi bahwa batas aman penggunaan air tanah adalah 212 juta m3/tahun, 9 layanan air pipa perlu menutup defisit pasokan air sebanyak 411 juta m3/tahun. Layanan juga harus mampu mengantisipasi populasi yang tumbuh 2% per tahun. Untuk mendorong masyarakat beralih ke air pipa, Pemprov DKI melalui PAM Jaya juga perlu membuat kebijakan tarif yang terjangkau. Tarif air di Jakarta saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tarif air di kota-kota besar lain di Indonesia. Layanan air yang masih buruk tersebut telah menimbulkan ketidakpuasan baik masyarakat maupun pemerintah. Pemerintah telah berusaha untuk mengambil alih layanan air dari operator swasta melalui pembelian saham. Dengan beralasan bahwa denda penalti akan lebih sedikit, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk membeli saham operator swasta melalui Jakarta Propertindo (Jakpro), sebuah perusahaan daerah milik DKI yang bergerak di bidang real estate. Jakpro akan melanjutkan sistem yang sama yang digunakan oleh operator swasta, salah satu alasan mengapa rencana pemerintah ini dianggap sebagai akal-akalan bisnis belaka. Sementara itu, masyarakat menginginkan privatisasi layanan air benar-benar berakhir. Melalui gugatan warga negara terhadap privatisasi air, mereka ingin perjanjian kerjasama yang memberikan hak penuh untuk operator swasta untuk memberikan layanan air dinyatakan batal demi hukum. Pengelolaan air harus menjadi tanggung jawab PAM Jaya lagi, sesuai dengan amanat hukum, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah 13/1992, UUNo. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan interpretasi Mahkamah Konstitusi atas Pasal 5 UU No. 7 Tahun 2004 Sumber Daya Air. Di samping peningkatan layanan air pipa, Jakarta memiliki pekerjaan rumah yang lebih besar lagi untuk meningkatkan sistem sanitasi, yang saat ini praktis terabaikan. Layanan sanitasi dikelola terpisah dari layanan air pipa oleh PAL Jaya, juga sebuah perusahaan daerah milik DKI. Saat ini, cakupan layanan PAL Jaya masih kurang dari 5 persen; 70 persen penduduk menggunakan septic tank dan 11 persen lainnya membuang limbah domestik secara langsung ke lingkungan. 10 Sistem sanitasi diperlukan untuk mengurangi kontaminasi terhadap sumber daya air. Untuk meningkatkan pelayanan air, PDAM perlu langkah besar untuk meningkatkan air curah dan air olahan, meningkatkan produksi air, dan mengurangi kebocoran. Selain itu, PDAM perlu membangun instalasi pengolahan air baru, memelihara dan mengoptimalkan instalasi pengolahan air yang ada, memperbaiki jaringan air, dan mengintegrasikan pengelolaan air dengan sanitasi. Meskipun demikian, sebelum mengambil langkah-langkah tersebut, Jakarta harus terlebih dahulu bersikap tegas dalam memutuskan siapa yang akan mengelola layanan air.

3 2. Layanan Air di Jakarta 2.1. Pengelolaan Layanan Air Keterlibatan sektor swasta dalam pelayanan air Jakarta mulai dirintis pada bulan Juni 1991 melalui pinjaman Bank Dunia untuk perbaikan infrastruktur sanitasi senilai USD 92 juta yang juga didukung oleh Dana Kerjasama Ekonomi Jepang, kepada PAM Jaya. Kedua lembaga inilah yang mempromosikan privatisasi layanan air di Jakarta, sampai dua perusahaan air asing masuk. Sektor swasta secara resmi terlibat dalam layanan air Jakarta pada tahun 1997, ketika kekuasaan Soeharto masih solid. Thames Water Overseas Ltd berhasil mengambil bagian dalam bisnis air ini melalui Sigit Harjojudanto, putra Soeharto, sementara GDF Suez menjalin kerjasama dengan Anthony Salim. Dua perusahaan tersebut kemudian membentuk dua operator air, yaitu Palyja dan Aetra, yang diberikan hak untuk memberikan layanan air masing-masing separuh wilayah Jakarta. Saham mayoritas Palyja, sebanyak 51%, dimiliki oleh Suez Environment, sebuah perusahaan utilitas Perancis, dan sisanya sebaganyak 49% saham dimiliki oleh Astratel Nusantara, perusahaan infrastruktur yang berbasis di Indonesia. Saham mayoritas Aetra (95%) dimiliki oleh Acuatico PTE. LTD., sebuah perusahaan investasi yang berbasis di Singapura, yang pada tahun 2007 mengakuisisi saham dari Thames Water Overseas Limited, dan 5% saham sisanya dimiliki oleh PT Alberta Utilities, sebuah perusahaan yang berbasis di Indonesia. Setelah penandatanganan pada 1997, perjanjian kerja sama antara PAM Jaya dan dua operator swasta mengalami amandemen, pernyataan kembali, serta proses renegosiasi kontrak yang rumit dan berkepanjangan. Perjanjian kerjasama diubah pada tahun 2001 untuk menyesuaikan dengan situasi ekonomi dan politik setelah krisis Perjanjian kerja sama tersebut dinyatakan kembali pada tanggal 22 Oktober Perjanjian kerja sama versi tahun 2001 ini diikuti oleh rebasing, yaitu perubahan target lima tahunan yang harus dipenuhi oleh operator swasta. Rebasing sejauh ini telah dilakukan untuk periode dan Dalam proses rebasing inilah yang oleh sejumlah pihak diyakini rentan terhadap korupsi karena PAM Jaya sering dengan mudah menyutujui untuk menurunkan target kinerja operator swasta. Pergantian pucuk pimpinan pada tahun 2010 membuat PAM Jaya untuk pertama kalinya mulai menyuarakan ketidakpuasan terhadap perjanjian kerja sama dengan mitra swasta. Perjanjian dianggap menimbulkan kerugian keuangan yang besar bagi PAM Jaya, dan pada saat yang sama kinerja operator swasta tidak membaik. Pada akhir 2011 PAM Jaya mengusulkan renegosiasi kontrak. Saat itu direktur PAM Jaya Maurits Napitupulu menyuarakan dengan keras dampak buruk yang ditimbulkan privatisasi terhadap PAM Jaya. Jika privatisasi diteruskan hingga masa berlakunya habis pada tahun 2022, PAM Jaya bisa menanggung kerugian hingga Rp18,2 triliun. Tidak mengherankan jika Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyebut perjanjian kerjasama tersebut gila. Proses renegosiasi tidak berjalan mulus. Aetra adalah yang pertama berkompromi untuk menerima renegosiasi kontrak. Beberapa item yang dinegosiasikan diterima sebagai addendum perjanjian kerja sama pada bulan Desember Item yang disetujui adalah permintaan PAM Jaya untuk menurunkan Internal Rate of Return (IRR), yang dinilai terlalu tinggi, dari 22% menjadi 15,8%; menghapus Rp330 miliar utang akibat shortfall; dan menurunkan tingkat kebocoran dari 29%

4 menjadi 25%. Sementara Palyja, hingga laporan ini ditulis, masih menolak melakukan renegosiasi kontrak. Akhirnya pada Maret 2013 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan bahwa privatisasi layanan air akan diakhiri. Jakarta telah jemu dengan masalah yang disebabkan oleh privatisasi layanan air. Koalisi masyarakat dan Serikat Pekerja PDAM (SP-PDAM) Jakarta telah jauh lebih awal menentang privatisasi. Telah banyak unjuk rasa dan diskusi publik diselenggarakan untuk mendorong kembalinya layanan air ke tangan publik. Resistensi terus meningkat sampai Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ), yang merupakan koalisi LSM, pelanggan, dan warga Jakarta, melaporkan kasus korupsi yang diduga melibatkan PAM Jaya dan kedua operator swasta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Januari 2012, serta mengajukan gugatan warga negara menentang privatisasi layanan air ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada April Meskipun pemerintah dan masyarakat sipil sepakat bahwa privatisasi harus berakhir, kedua pihak memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapa yang semestinya mengelola layanan air. Sebagian LSM dan warga, melalui gugatan warga negara, menuntut agar pengelolaan air dikembalikan pada PAM Jaya. Pemerintah, di sisi lain, berencana untuk mengambil alih layanan air melalui PT Jakarta Propertindo. Untuk menjalankan rencana itu pemerintah bahkan mendesak masyarakat sipil untuk menarik gugatan warga negara Privatisasi Bermasalah Privatisasi layanan air di Jakarta sudah bermasalah mulai dari perjanjian kerja sama antara PAM Jaya dengan dan dua operator swasta. Sejumlah masalah yang terjadi saat ini, seperti menumpuknya utang PAM Jaya, layanan air yang buruk, dan tarif air yang tinggi, pada dasarnya disebabkan oleh perjanjian kerja sama tersebut. Sementara perjanjian kerja sama menjamin keuntungan bisnis pihak swasta, PAM Jaya dan pelanggan harus menanggung kerugian dan biaya tinggi yang ditimbulkan oleh pengelolaan keuangan operator swasta. Masalah yang menonjol dari perjanjian kerja sama ini adalah penekanan pada keuntungan bisnis operator swasta. Mekanisme Pembayaran dari PAM Jaya kepada operator swasta yang diterapkan dalam perjanjian kerja sama disebut water charge, atau imbalan air. Uniknya, penetapan imbalan air tidak berkaitan dengan penetapan water tariff, atau tarif air. Pasal 28.1 poin e menyatakan bahwa imbalan air pada awalnya, yaitu 1 April 2001, adalah Rp2.400, dan akan disesuaikan setiap enam bulan. Imbalan air yang dapat bebas dinaikkan terlepas dari kebijakan tarif air ini menjamin operator swasta untuk mendapatkan jaminan pendapatan yang tinggi. Sementara bagi PAM Jaya, jika kenaikan imbalan air tidak diikuti dengan kenaikan tarif air, maka akan terjadi shortfall. Pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan tarif air untuk naik secara otomatis setiap enam bulan, mulai 23 Juli 2004 sampai dengan 2007, untuk menghindarkan PAM Jaya dari kerugian finansial. Tidak mengherankan jika kemudian tarif air di Jakarta menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.

5 Pendapatan dari tarif air dibagi sesuai dengan Pasal 28. Bagian PAM Jaya meliputi biaya bulanan, pembayaran utang kepada Kementerian Keuangan, biaya Badan Regulator, dan porsi pendapatan untuk pemerintah provinsi Jakarta. Namun, ketentuan ini tidak dengan sendirinya memberikan keuntungan bagi PAM Jaya karena jika seluruh pendapatan tidak dapat menutupi imbalan air yang harus dibayar ke operator swasta, PAM Jaya harus menanggung kekurangan dari selisih antara tarif air dan imbalan air Perjanjian Kerja Sama dan Kinerja Operator Swasta Tujuan pelibatan sektor swasta dalam layanan air salah satunya disebutkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri No 21 Tahun 1996 yang kurang lebih untuk meningkatkan layanan air. Perjanjian kerja sama juga menyebutkan tujuan serupa, seperti tercantum dalam poin 2.2, di antaranya adalah pengembangan prasarana air, peningkatan distribusi layanan air, menjamin kuantitas, kualitas, dan kontinuitas layanan air, dan mengurangi tingkat kehilangan air. Akan tetapi, selanjutnya kontrak kerja sama justru memberi kelonggaran target kinerja pada pihak swasta. Ini tercantum dalam klausula 20 untuk Target Teknis dan klausula 21 untuk Standar Pelayanan. Aturan tentang target kinerja yang penting bagi publik ini dibuat sedemikian rupa agar bisa dihindari oleh swasta. Klausula 20 poin a, misalnya, menyatakan bahwa target teknis dapat diubah dari waktu ke waktu sejalan dengan Proyeksi Keuangan. Sebagaimana klausula ini, standar pelayanan juga bisa diubah dari waktu ke waktu. Kualitas layanan air yang sangat tergantung dari target teknis dan standar pelayanan semakin sulit untuk ditingkatkan karena kontrak kerja sama memberikan keleluasaan untuk mengubah target. Swasta bisa mengajukan penyesuaian target jika ada muncul masalah mengenai air baku (Klausula 11 hal. 64 kontrak kerja sama dengan Palyja). Target teknis dan standar pelayanan juga bisa diturunkan Jika PAM Jaya gagal dalam usaha menutup sumur dalam milik warga di daerah yang telah terjangkau jasa layanan mitra swasta (Klausula 12 poin c), serta sejumah situasi lain yang membuat target kinerja diturunkan. Kelonggaran kontrak kerja sama terhadap pencapaian target kinerja mitra swasta ini membuat layanan air tak kunjung membaik, dan pada gilirannya menjadikan pelanggan sebagai korban. Mitra swasta bahkan terus gagal mencapai target sekalipun target tersebut telah diturunkan dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dilihat dari evaluasi kinerja layanan air oleh Badan Regulator PAM Jaya (BR PAM Jaya). BR PAM Jaya adalah sebuah lembaga yang didirikan untuk memfasilitasi perjanjian kerjasama antara PAM Jaya dengan operator swasta. Salah satu tugas utamanya adalah untuk mengevaluasi kinerja pelayanan air perpipaan di Jakarta. Pada tahun 2008, BR PAM Jaya menerbitkan evaluasi kinerja selama sepuluh tahun privatisasi yang dapat diakses oleh publik. Setelah evaluasi ini hampir tidak ada lagi pengungkapan kinerja operator swasta secara lengkap ke publik. Menurut BR PAM Jaya (Lanti et al 2008), operator swasta gagal untuk memenuhi beberapa target. Operator swasta gagal secara signifikan dalam rasio cakupan pelayanan, yang merupakan rasio layanan terhadap populasi. Dua operator hanya mampu meningkatkan rasio cakupan layanan sebesar 62,21% dari target 74,55% sebagaimana diamanatkan perjanjian kerjasama. Tidak hanya

6 gagal memenuhi target, operator swasta juga dianggap menggunakan parameter yang tidak realistis karena. Menurut BR PAM Jaya, rasio cakupan yang lebih realistis adalah 42,92% (Lanti dkk, 2008: 126). Ini berarti lebih dari setengah penduduk Jakarta tidak memiliki akses terhadap layanan air perpipaan. Data terbaru rasio cakupan layanan disediakan oleh Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia (Perpamsi), sementara operator swasta tidak menampilkan rasio cakupan layanan mereka di situs resmi. Menurut Perpamsi, rasio cakupan pelayanan kedua operator pada tahun 2010 masih di level 63,93% untuk Palyja dan 65% untuk Aetra. Tingkat kebocoran, atau Non Revenue Water (NRW), setinggi 41,8%, 12 jauh dari target yang disebutkan dalam perjanjian kerjasama, yaitu 30%. Menurut peraturan Menteri Dalam Negeri No. 47 tahun 1999, maksimal tingkat NRW adalah 20% Kepentingan Bisnis Swasta Ketentuan dalam kontrak kerja sama yang sangat melindungi kepentingan bisnis mitra swasta adalah Proyeksi Keuangan dalam Klausula 27. Proyeksi keuangan inilah yang menentukan besaran imbalan air. Mitra swasta sangat terjamin mendapatkan keuntungan bisnis karena segala faktor yang tidak terkontrol dimasukkan dalam penghitungan imbalan air, seperti inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan suku bunga. Lazimnya dalam bisnis, perusahaan harus membayar sejumlah uang tertentu untuk melakukan hedging untuk menghilangkan resiko nilai tukar. Lain halnya dalam kasus ini, mitra swasta bukan hanya terbebas dari risiko tapi juga bisa memperoleh keuntungan lebih dari fluktuasi nilai tukar. Demikian juga halnya jika ada perubahan dalam hal tarif pajak, maka imbalan air disesuaikan dengan memperhatikan setiap kerugian yang diderita atau keuntungan yang didapatkan oleh mitra swasta (Klausula 38.5). Selain itu, jika terjadi keadaan darurat yang memerlukan rencana tindakan (misalnya terjadi kekeringan dan warga memerlukan pasokan air), maka seluruh biaya dan pengeluaran yang dikeluarkan oleh mitra swasta diakui sebagai jumlah terhutang PAM Jaya kepada mitra swasta (Klausula 36.2). Kontrak kerja sama bahkan lebih jauh lagi memberikan jaminan pada mitra swasta untuk memperoleh keuntungan sebesar 22% melalui persyaratan Internal Rate of Return dalam Klausula Pengembalian keuntungan ini terlalu tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bahwa tingkat keuntungan untuk layanan air Jakarta yang wajar adalah 14,68%. Meskipun kontrak kerja sama menimbulkan setumpuk persoalan, pengakhiran atau terminasi kontrak sebelum habis masa kerja sama bisa membuat pihak I (PAM Jaya) harus membayar dalam jumlah besar (Klausula 41, 42, dan 43). Baik karena keadaan kahar, pengakhiran dengan sendirinya, pengakhiran sepihak oleh pihak I, pengakhiran sepihak oleh pihak II, maupun melalui pengambilalihan saham, pada akhirnya PAM Jaya-lah yang harus menanggung biayanya.

7 Inilah kontrak kerja sama yang memberikan pihak swasta jaminan keuntungan yang sebesarbesarnya dengan risiko bisnis yang sekecil-kecilnya. Di sisi lain, PAM Jaya, dan pada gilirannya publik, harus menanggung kerugian yang besar sementara mendapatkan layanan air yang buruk Dampak Privatisasi Air keran yang mati adalah persoalan yang sangat sering dialami penduduk Jakarta. Sepanjang 2013 saja, perusahaan air minum Jakarta PAM Jaya mencatat bahwa ada hampir 40 ribu keluhan air mati. 13 Di kota dengan penduduk yang padat dan terbatasnya sumber air bersih, air keran yang mati tentu menjadi persoalan yang serius. Tingginya kasus mati air ini terjadi setelah lima belas tahun layanan air Jakarta diprivatisasi, dan hanya satu dari setumpuk persoalan lain. Pada 1998 PAM Jaya memulai kerja sama konsesi dengan dua operator swasta yang saat ini dijalankan oleh Palyja dan Aetra. Alasan privatisasi, yang kemudian menjadi ironi, adalah untuk meningkatkan layanan air. Pada praktiknya, privatisasi layanan air memang banyak mengalami kegagalan. Beberapa sebabnya adalah karena tingginya tarif; tidak ada keberpihakan terhadap kelompok miskin untuk mendapatkan akses terhadap air bersih; orientasi keuntungan; rendahnya akuntabilitas yang mendorong praktik korupsi; swasta yang malas menambah jaringan perpipaan yang membutuhkan biaya besar; pembiayaan membengkak; pengurangan tenaga kerja untuk efisiensi yang justru berisiko terhadap kualitas layanan; tekanan utang luar negeri bagi negara miskin; serta sulitnya pemerintah untuk lepas dari kerja sama privatisasi Tarif Meroket Selama privatisasi, tarif layanan air telah dinaikkan hingga sepuluh kali. Pada awal konsesi, tarif ratarata air di Jakarta adalah Rp /m3, kemudian dinaikkan terus dengan empat di antaranya terjadi hanya pada rentang waktu antara 2004 hingga 2007 melalui kebijakan Penyesuaian Tarif Otomatis (PTO I). Kebijakan yang terpaksa diambil pemerintah karena swasta terus meningkatkan imbalan air. Penyesuaian tarif otomatis kemudian tidak dilanjutkan lagi karena pemerintah menganggap tarif sudah terlalu tinggi dan kinerja swasta banyak yang di bawah target. Saat ini, rata-rata tarif air di Jakarta Rp 7.020/m3, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kotakota besar lain di Indonesia. Table 1: Perbandingan tarif rata-rata air sejumlah kota besar di Indonesia (2012) Kota Tarif (per m3) 1 Jakarta Rp Surabaya Rp Medan Rp Bekasi Rp Makassar Rp 2.000

8 6 Semarang Rp Sumber: (1), (2), (4) TribunNews (31/01/2012); (3) Bisnis Indonesia (24/09/2012); (5) Department of Public Works; (6) Okezone (10/05/2012) Tarif yang tinggi disebabkan karena swasta terus menuntut peningkatan biaya yang dibebankan dalam imbalan air. Pada 2009, audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan bahwa swasta ternyata sangat tidak efisien dalam menyusun biaya tersebut. Di Palyja, sebagai contoh, terdapat komponen biaya sekolah anak, biaya perjalanan pribadi, biaya rumah sewa, dan sejumlah biaya lain untuk personel ekspatriat, yang tidak terkait dengan investasi layanan air, yang jumlahnya mencapai Rp. 3,9 miliar. 15 Biaya seperti ini yang kemudian harus ditanggung PAM Jaya, dan pada gilirannya pelanggan, yang di saat bersamaan menerima layanan air yang buruk dari operator swasta Kinerja Buruk Pelanggan yang sering mengeluhkan air mati adalah dampak dari kinerja operator swasta yang terus gagal mencapai target. Salah satu targetnya adalah jangkauan layanan sebesar 66,37%, tetapi operator swasta hanya mampu mencapai 59,01%. 16 Dengan kata lain, sekitar separuh dari warga Jakarta tidak mendapat akses terhadap layanan air bersih. Tingkat kebocoran mencapai 44 persen, lebih tinggi dari rata-rata tingkat kebocoran secara nasional, yaitu 31 persen. 17 Semakin tinggi tingkat kebocoran, semakin tidak efisien kinerja layanan air. Pelanggan menerima layanan air yang buruk. Kasus yang paling banyak ditemui adalah air mati hingga berjam-jam dan bahkan berhari-hari. Terutama di daerah dengan mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah di Jakarta Utara, penduduk harus membeli air jirigen dengan harga yang jauh lebih tinggi dari tarif air. Untuk menggunakan air jirigen tersebut, warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp /hari, jumlah yang sangat mahal bagi warga yang memiliki pendapatan harian kurang dari Rp Buruknya kinerja disebabkan karena swasta hanya berusaha mengejar keuntungan tanpa mau menginvestasikan keuntungan tersebut untuk peningkatan layanan air Kerugian Negara Privatisasi membuat PAM Jaya mengalami kerugian keuangan yang besar. Pada 2011, ketika Presiden Direktur PAM Jaya mengajukan renegosiasi kontrak, kerugian PAM Jaya dirinci mencakup akumulasi kerugian shortfall sebesar Rp 610 miliar, tunggakan Rp 530 miliar, ekuitas perusahaan minus Rp 985,7 miliar, serta aset yang turun dari sebelum kerja sama senilai Rp 1,49 triliun menjadi hanya Rp 204,46 miliar. 19 Melalui support letter yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi DKI, utang PAM Jaya ini pada gilirannya menjadi tanggungan negara. Padahal, menurut estimasi Presdir PAM Jaya, apabila kontrak kerja sama diteruskan PAM Jaya akan menderita akumulasi kerugian mencapai Rp 18,2 triliun.

9 Kerugian ini menunjukkan bahwa sistem privatisasi memang didesain untuk menjamin keuntungan bisnis bagi operator swasta, sementara biaya yang tinggi harus ditanggung oleh negara, PAM Jaya, dan pelanggan Rawan Korupsi Salah satu karakter privatisasi adalah minimnya transparansi dan akuntabilitas. Hal yang paling mendasar saja, yaitu kontrak kerja sama antara PAM Jaya dan operator swasta, tidak pernah dibuka bagi publik sampai tahun 2013 ketika pemprov DKI mulai mempertimbangkan mengakhiri kerja sama dengan operator swasta. Padahal kontrak ini mempengaruhi pemenuhan kebutuhan air jutaan warga Jakarta. Tidak mengherankan jika kasus korupsi juga muncul. Pada Januari 2012 Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Layanan Air Jakarta (KMMSAJ) melaporkan dugaan kasus korupsi yang melibatkan PAM Jaya dan dua operator swasta ke KPK. Kasus korupsi yang saat ini tengah disidik oleh KPK ini nilai kerugiannya diperkirakan sebesar Rp 561 miliar. 20 Majalah Tempo, yang melakukan investigasi kasus ini, menemukan adanya kaitan antara kasus korupsi ini dengan pemilihan kepala daerah tahun 2012 di DKI Jakarta. 21 Privatisasi layanan air Jakarta diawali dengan proses yang sarat nuansa Korupsi Kolusi dan Nepotisme era Orde Baru. Hingga saat ini, nuansa KKN tersebut masih bertahan. 3. Langkah untuk Mengatasi Persoalan Sebagaimana telah dipaparkan, privatisasi yang diharapkan meningkatkan kinerja layanan air Jakarta pada kenyataannya mengalami banyak kegagalan. Bertolak belakang dengan pengalaman Jakarta, sejumlah PDAM di Indonesia yang masih dikelola oleh publik, dalam artian masih menjadi milik pemerintah dan tidak melakukan konsesi dengan swasta, justru mencatatkan kinerja yang sangat baik, jauh melampaui layanan air di Jakarta. Ini menunjukkan bahwa dalam hal layanan air, pengelolaan oleh publik terbukti lebih baik dan efisien, serta tarif terjangkau, dibandingkan swasta. Tabel 2. Perbandingan kinerja PDAM Indonesia PDAM Tarif Rata-rata Tingkat kebocoran (%) 1 Surabaya Palembang Jangkauan layanan (%) 3 Banjarmasin Nearly Medan Malang Jakarta Perbandingan yang paling dekat dengan Jakarta adalah Surabaya. Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia, dengan karakteristik yang hampir serupa dengan Jakarta: jumlah penduduk yang

10 besar, aktivitas ekonomi yang tinggi, dan wilayah layanan yang luas, yang berarti permintaan terhadap air bersih juga tinggi. Akan tetapi berbeda dengan Jakarta, yang jangkauan layanannya hanya 46%, jangkauan layanan PDAM surabaya mencapai dua kali lipatnya, yaitu 87 persen. Jangkauan layanan, atau service coverage ratio, adalah perbandingan jumlah sambungan dengan jumlah populasi. Ini adalah salah satu indikator penting yang menunjukkan seberapa luas sebuah PDAM bisa melebarkan jangkauan layanan dalam sebuah kota/kabupaten. Dengan jangkauan layanan 46%, artinya layanan air perpipaan di Jakarta hanya menjangkau kurang dari separuh populasi. Pada 2013 PDAM Surabaya meraih penghargaan sebagai PDAM terbaik dari Perpamsi 22 dengan kategori sambungan di atas , yang semestinya juga menjadi kategori operator swasta di Jakarta. Pada 2013 jangkauan layanan PDAM Surabaya juga meningkat lagi menjadi 90 persen. 23 Dengan kinerja yang baik, tarif rata-rata di Surabaya hanya Rp /m3, sangat jauh dibandingkan dengan Jakarta yang sampai Rp /m3. Dengan perbedaan biaya hidup di Surabaya dan Jakarta yang hanya 20%, 24 perbedaan tarif air sebesar 65% menunjukkan bahwa tarif air di Jakarta terlalu mahal atau overpriced. Dengan tarif air setinggi itu pun, perusahaan air minum Jakarta PAM Jaya masih menderita kerugian shortfall yang jumlahnya pada 2011 saja mencapai Rp. 610 miliar, dan akan terus bertambah karena swasta terus menuntut imbalan air yang lebih tinggi. Dalam hal jangkauan layanan, PDAM Banjarmasin jauh lebih unggul dibandingkan dengan PDAM lain karena mencapai hampir mencapai seratus persen. Bukan hanya pada jangkauan layanan, tetapi juga pada tingkat kebocoran yang hanya 26 persen. Tingkat kehilangan air ini bukan hanya mempengaruhi kuantitas air yang diterima pelanggan, tetapi juga inefisiensi akibat banyaknya air yang diproduksi yang terbuang. Semakin rendah tingkat kebocoroan, semakin efisien produksi air PDAM, dan berarti semakin baik kinerjanya. Di Jakarta, operator air swasta terus mengajukan penurunan target kebocoran (yang berarti dengan meningkatkan jumlah prosentase), yang pada 2013 menjadi setinggi 38,68 persen, yang itu pun gagal dipenuhi. 25 Secara keseluruhan, tabel di atas menunjukkan bahwa dibandingkan dengan lima PDAM lain, yang masih dikelola oleh publik, kinerja PDAM Jakarta adalah yang paling buruk. PDAM Jakarta memiliki jangkauan layanan paling rendah dan tingkat kebocoran paling tinggi. Dengan kinerja yang buruk tersebut, PDAM Jakarta menetapkan tarif yang paling tinggi. Ini adalah bukti konkret bahwa pengelolaan layanan air oleh publik lebih unggul. Kinerja yang buruk dan tarif yang tinggi adalah karakteristik layanan yang dijalankan operator swasta. Operator swasta memang pada dasarnya adalah profit-oriented, sehingga tidak mengherankan jika mereka lebih menekankan pada kepentingan bisnis (dapat dilihat dari tarif air yang sangat mahal) dan tidak memiliki komitmen yang cukup untuk memberi layanan yang baik kepada publik. Data dalam tabel di atas adalah fakta sederhana: privatisasi telah gagal, dan layanan air publik lebih unggul. Tidak ada alasan bagi Jakarta untuk mempertahankan privatisasi layanan air.

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS Oleh: Ginandjar Kartasasmita Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Bogor, 29 Agustus 1998 I. SITUASI

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

HUTANG LUAR NEGERI : MANFAAT DAN MUDARATNYA BAGI PDAM 1. Oleh: Wijanto Hadipuro 2

HUTANG LUAR NEGERI : MANFAAT DAN MUDARATNYA BAGI PDAM 1. Oleh: Wijanto Hadipuro 2 HUTANG LUAR NEGERI : MANFAAT DAN MUDARATNYA BAGI PDAM 1 Oleh: Wijanto Hadipuro 2 Lilitan hutang baik dalam negeri maupun luar negeri pada PDAM di seluruh Indonesia baik dari sisi jumlah PDAM maupun nilai

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - 61 - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Dasar yuridis pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah yang tercantum

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-104/BL/2006 TENTANG PRODUK UNIT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 5.1. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya untuk peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

PENURUNAN AIR TAK BEREKENING (Non Revenue Water) Ir. BUDI SUTJAHJO MT Anggota BPP SPAM

PENURUNAN AIR TAK BEREKENING (Non Revenue Water) Ir. BUDI SUTJAHJO MT Anggota BPP SPAM AIR TAK BEREKENING / NON REVENUE WATER 1 D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M BADAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM Jl. Wijaya I No. 68 Kebayoran Baru Jakarta, Telp. (021) 72789126,

Lebih terperinci

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto KONSEP DASAR ORGANISASI NIRLABA Oleh: Tri Purwanto Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Sekretariat

Lebih terperinci

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)*

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* 1. Pendahuluan Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Kajian

Lebih terperinci

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT PROSPEK USAHA Potensi pertumbuhan usaha memiliki potensi pertumbuhan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP-614/BL/2011 TENTANG TRANSAKSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi September 2010 Dasar-Dasar Pasar obligasi dikenal juga sebagai pasar surat utang dan merupakan bagian dari pasar efek yang memungkinkan pemerintah dan perusahaan meningkatkan modalnya. Sama seperti orang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 343/KMK.017/1998 TENTANG IURAN DAN MANFAAT PENSIUN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 343/KMK.017/1998 TENTANG IURAN DAN MANFAAT PENSIUN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 343/KMK.017/1998 TENTANG IURAN DAN MANFAAT PENSIUN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menumbuhkembangkan penyelenggaraan

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK

PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK I. KETENTUAN UMUM II. 1. Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, . PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat,

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1997-2 1999 2. Arah Kebijakan 1997-1999 3 3. Langkah-Langkah Strategis 1997-1999

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

Biaya di triwulan pertama tahun 2015 tetap kompetitif; Memberikan dukungan di tengah penurunan harga

Biaya di triwulan pertama tahun 2015 tetap kompetitif; Memberikan dukungan di tengah penurunan harga Biaya di triwulan pertama tahun 2015 tetap kompetitif; Memberikan dukungan di tengah penurunan harga Jakarta, 30 April, 2015 Hari ini ( PT Vale atau Perseroan, IDX Ticker: INCO) mengumumkan pencapaian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2006 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kelangsungan

Lebih terperinci

DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN. Tetap. Tetap.

DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN. Tetap. Tetap. DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN Anggaran Dasar Lama NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Perseroan terbatas ini

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Pengalaman dari

Lebih terperinci

POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016

POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016 POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016 LATAR BELAKANG : Menegaskan kembali terhadap arah kebijakan pembangunan jangka panjang yang akan diwujudkan pada

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Diversifikasi Usaha Diversifikasi usaha merupakan memperluas pasar dengan mengembangkan produk baru yang sesuai dengan pasar agar memiliki keunggulan

Lebih terperinci

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASI Per (Tidak Diaudit) ASET 31 Desember 2010 ASET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Pihak Ketiga Piutang Lainlain Pihak Ketiga Persediaan Bersih Biaya Dibayar di

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA - - 1 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING

BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING Dalam kegiatan operasional usaha khususnya perusahaan internasional termasuk juga Multinational Enterprise (MNE) akan menghadapi risiko baik risiko premium maupun

Lebih terperinci

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan?

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Oleh: Tarkosunaryo Paper ini bermaksud untuk menyajikan analisis penggunaan mata uang yang seharusnya digunakan oleh perusahaan dalam menyusun

Lebih terperinci

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Leasing Pendahuluan Salah satu cara untuk mengelola kepemilikan aktiva tetap dalam suatu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dikatakan memiliki tujuan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada pencapaian keuntungan atau laba maksimal atau laba yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 2009 TENTANG POS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 2009 TENTANG POS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 2009 TENTANG POS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng.

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng. KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI http://www.antarajateng.com I. PENDAHULUAN Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP- 179/BL/2008 TENTANG POKOK-POKOK

Lebih terperinci

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI KETUA BADAN

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN Menimbang Mengingat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Jakarta, Mei 2015 Agenda 1 Profil Indonesia Eximbank 2 Kinerja Keuangan 3 Lesson Learned Bab 1 Profil Indonesia Eximbank (LPEI)

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH

DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH Oleh: Dr. Ir. Nandang Najmulmunir, MS. 1 KRISIS EKONOMI GLOBAL Negara Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997. Namun krisis itu sendiri ada banyak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Rupiah Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia (kodenya adalah IDR). Nama ini diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut Indonesia menggunakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi;

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi; GARANSI TERBATAS Hak-hak Tambahan Di Bawah Undang-undang Konsumen. Jika ANDA seorang konsumen, ANDA mungkin memiliki hak hukum (menurut undang-undang), selain hak yang ditetapkan dalam Garansi Terbatas

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN Oleh : Slamet Luwihono U ERGULIRNYA arus reformasi di Indonesia telah menghadirkan harapan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci