BAB II KAJIAN PUSTAKA. Psoriasis vulgaris adalah penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak eritema

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA. Psoriasis vulgaris adalah penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak eritema"

Transkripsi

1 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Psoriasis Definisi Psoriasis vulgaris adalah penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak eritema berbatas tegas ditutupi skuama putih tebal berlapis dengan predileksi terutama pada ekstremitas bagian ekstensor seperti siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral, bokong dan genitalia, terdapat tanda auspitz, koebner dan fenomena bercak lilin yang positif. (Gudjonsson dan Elder, 2012) Epidemiologi Psoriasis tersebar di seluruh dunia. Prevalensinya diberbagai populasi bervariasi dari 0,1% hingga 11,8%. Di Amerika Serikat prevalensi psoriasis berkisar 2,2% sampai 2,6% dengan perkiraan kasus baru didiagnosis tiap tahunnya. Prevalensi psoriasis di RSUP dr. Kariadi semarang pada tahun 2003 hingga 2007 terdapat 198 kasus yaitu sebesar 0,97%. Psoriasis dapat menyerang semua kelompok umur, baik anak-anak hingga dewasa (Parisi dkk., 2013). Pada sebagian besar kasus yaitu kurang lebih 75% psoriasis terjadi pada umur kurang dari 40 tahun dengan puncak awitan psoriasi adalah pada usia 20 hingga 30 tahun (Basko dkk., 2012).

2 Patogenesis Patogenesis psoriasis sampai saat ini masih sulit untuk dipahami sehingga menarik untuk diteliti. Psoriasis memiliki penyebab yang multifaktorial, antara lain: adanya faktor genetik, faktor lingkungan dan gangguan sistem imun (Darouti dan Hay, 2010; Mohamad, 2013; Barrea dkk., 2015). Beberapa penelitian menemukan adanya peran genetik seperti lokus psoriasis susceptibility 1 (PSORS 1) pada kromosom 6p21, lokus PSORS 2 pada kromosom 17 dan Human Leucocyte Antigen (HLA) seperti HLA-Cw6, HLA-B13, HLA-Bw57 dan HLA-DR7 pada psoriasis (Lestari, 2009). Pada lokus PSORS 2 terdapat gen ZNF750 berfungsi dalam proses diferensiasi keratinosit. Gen ini mengkode protein seng finger yang membutuhkan satu atau lebih ion Zn untuk menstabilkan strukturnya, sehingga mutasi pada gen ZNF750 dapat menyebabkan psoriasis (Birnbaum dkk. 2011; Cohen dkk., 2012). Faktor lingkungan yang berperan pada psoriasis adalah trauma, obesitas, merokok, stres, konsumsi alkohol, infeksi strepotococcal dan obat-obatan (Darouti dan Hay, 2010; Mohamad, 2013; Barrea dkk., 2015). Pada psoriasis terjadi hiperproliferasi dan diferensiasi abnormal keratinosit epidermis, inflamasi, perubahan vaskuler yang diperantarai oleh sistem imun (Lestari, 2009). Mekanisme sistem imun pada psoriasis melibatkan interaksi yang komplek antar sel imun dan sitokin-sitokin proinflamasi. Sel limfosit T merupakan sel utama yang berperan dalam patogenesis psoriasis. Sel imun lain yang juga berperan dalam patogenesis psoriasis adalah sel dendritik, sel natural killer (NK), sel mast, neutrophil, makrofag dan sel keratinosit. Pada lesi psoriasis sel T CD8+ terdapat di

3 9 epidermis sedangkan makrofag, sel dendritik dermal dan sel T CD4+ terdapat di dermis (Gudjonsson dan Elder, 2012). Sel dendritik yang matur akan menghasilkan berbagai macam sitokin yang memicu diferensiasi dan ekspansi sel Th1 (IL2), Th17 (IL-6, TGF-β1 dan IL23) dan Th22 (TNF-α dan IL-6). Sel-sel imun berkomunikasi melalui sitokin-sitokin yang dihasilkan akibat stimulasi dari bakteri, bahan kimia, sinar ultraviolet dan faktor iritatif yang lain (Chamian dan Krueger, 2004; Das dkk., 2009; Gudjonsson dan Elder, 2012; Coimbra dkk., 2012). Peran sitokin pada patogenesis psoriasis sudah banyak dibutikan. Psoriasis mengekspresikan berbagai macam sitokin proinflamasi seperti interleukin (IL), tumor necrosis factor (TNF), dan interferon-γ (IFN- γ). Tumor necrosis factor-α banyak diekspresikan pada lesi psoriasis, dihasilkan oleh sel makrofag, sel T, sel mast, sel NK dan keratinosit. Sitokin ini berfungsi untuk meningkatkan pelepasan sitokin oleh limfosit dan kemokin oleh sel makrofag, meningkatkan ekspresi molekul adesi yang menarik sel neutrophil dan makrofag ke lesi melalui aktivasi endotel vascular, menginduksi proliferasi sel keratinosit dan neovaskularisasi sel endotel yang menstimulasi proses inflamasi (Kruger dan Bowcock, 2005; Darouti dan Hay, 2010; Coimbra dkk., 2012; Ni dan Chiu, 2014). Interferon-γ sangat penting terutama pada fase awal psoriasis dihasilkan oleh sel Th1, meningkatkan migrasi sel radang dan meregulasi berbagai macam sitokin proinflmasi lain seperti IL-1, IL-6, IL-8, IL-12, IL-15, TNF, interferon-inducible protein-10 dan inos (Zhou dkk., 2009). Sitokin ini juga memiliki fungsi menghambat apoptosis dan meningkatkan proliferasi keratinosit (Coimbra dkk.,

4 ; Ni dan Chiu, 2014). Gambar 2.1 Sel-sel Imun dan Sitokin yang Berperan dalam Pembentukan Plak Psoriasis (Monteleone dkk., 2011; Yassky dan Krueger, 2007). Peran Sel T helper 17 (Th 17) pada patogenesis psoriasis sudah banyak dipaparkan. Sel Th17 berdiferensiasi dari sel T CD4+ akibat stimulasi dari IL-1, IL-6 dan transforming growth factor β (TGF- β) dan proliferasinya diatur oleh IL-23 yang dihasilkan oleh sel keratinosit, makrofag dan sel dendritik yang teraktivasi (Alobaidi dkk,2012; Coimbra dkk., 2012). Sel Th 17 memproduksi IL-17 dan IL-22 yang merupakan sitokin proinflamasi poten untuk mempertahankan proses inflamasi (Kruger dan Bowcock, 2005; Alobaidi dkk., 2012; Coimbra dkk., 2012). Interleukin- 17 akan mengaktivasi sel keratinosit untuk menghasilkan IL-8 sebagai kemoatraktan dari sel neutrophil. Interleukin-8 juga menginduksi aktivitas mitogen sel epidermis

5 11 termasuk proliferasi epidermis. Interleukin-22 berfungsi untuk menginduksi hiperplasia, diferensiasi serta proliferasi sel keratinosit (Coimbra dkk., 2012). Sel keratinosit menghasilkan sitokin inflamasi seperti IL-1β, IL-6 dan TNF-α yang akan meningkatkan aktivitas sel dendritik dan memperluas inflamasi lokal (Monteleone dkk., 2011; Yassky dan Krueger, 2007). Patogenesisi psoriasis dapat dijelaskan pada Gambar 2.1. Reactive oxygen species memicu terjadinya stres oksidatif yang menginduksi berbagai macam respon biologi menyebabkan modifikasi DNA, peroksidasi lipid dan produksi berbagai macam sitokin proinflamasi yang berkonstribusi dalam patogenesis psoriasis (Zhou dkk., 2009). Reactive oxygen species terbentuk melalui proses enzimatik yang tergantung seng. Reactive oxygen species bertindak sebagai second messengers mempengaruhi jalur tranduski sinyal seperti NF-κB dan STAT pada psoriasis. Faktor transkripsi NF-κB berperan penting dalam proses selular seperti proses inflamasi, imun, proliferasi sel dan apoptosis (Lowes dkk., 2007). Nuclear factor-κb sangat banyak diekspresikan pada lesi psoriasis. Reactive oxygen species seperti hydrogen peroksida (H 2 O 2 ), O2, HOCl, ONOO - yang memodulasi aktivasi dari NF-κB. Jalur sinyal ini secara klasik diinduksi oleh sitokinsitokin proinflamasi seperti TNF dan IL-1β yang menyebabkan terbentuknya jalur sitokin pada patogenesis psoriasis. Jalur ini dihambat oleh Zn sehingga sitokin-sitokin proinflamasi yang berperan dalam pathogenesis psoriasis tidak terbentuk (Lowes dkk., 2007).

6 12 Gambar 2.2 Aktivasi jalur sinyal STATs dan NF-κB oleh sitokin pada Psoriasis (Lowes dkk., 2007). Signal transducer and activator of transcription (STAT) merupakan jalur sinyal yang juga berperan dalam patogenesis psoriasis. Jalur STAT pada mamalia terdiri dari tujuh anggota yaitu STATs1, 2, 3, 4, 5a, 5b, dan 6. STAT1 diatur oleh IFN-γ dan IL-20 yang menginduksi terbentuknya mediator inflamasi dan secara parsial berkonstribusi pada pembentukan fenotip psoriasis. Pada sel keratinosit, STAT3 diaktifkan oleh IL-22 adalah sitokin yang berperan dalam meningkatkan pembentukan lesi psoriasis. ROS seperti H 2 O 2 juga mengaktifkan Jalur STAT3 (Lowes dkk., 2007; Zhou dkk., 2009). Aktivasi jalur sinyal STATs dan NF-κB pada patogenesis psoriasis ditunjukan pada Gambar Manifestasi Klinis

7 13 Perjalanan klinis psoriasis tidak dapat diprediksi, ditandai oleh remisi dan kambuh. Lesi klasik psoriasis memiliki ciri yang khas berupa papul hingga plak eritema batas tegas yang disertai dengan skuama (Gudjonsson dan Elder, 2012; Mohamad, 2013). Kulit dibawah skuama mengalami eritema dan bleeding points muncul jika skuama dihilangkan yang dikenala dengan Auspitz sign. Lesi psoriasis pada umumnya memiliki distribusi yang simetris (Gudjonsson dan Elder, 2012). Fenomena Koebner atau isomorphic response adalah trauma yang menginduksi lesi psoriasis pada kulit tanpa lesi. Fenomena ini tidak spesifik untuk psoriasis tetapi dapat membantu dalam diagnosis jika fenomena ini ada (Gudjonsson dan Elder, 2012). Keluahn gatal yang timbul pada psoriasis bervariasi dari ringan sampai berat. Rasa gatal yang terjadi pada psoriasis diduga disebabkan oleh peningkatan aktivitas sel mastosit, substansi P dan histamine (Walujo dkk., 2007). Psoriasis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa sub tipe seperti psoriasis vulgaris, psoriasis gutata, psoriasis inversa, psoriasis eritrodermi, psoriasis pustulosa generalisata (Von Zumbusch), psoriasis pustulosa lokalisata, sebopsoriasis (Traub dan Marshall, 2007; Gudjonsson dan Elder, 2012) Psoriasis vulgaris Psoriasis vulgaris adalah bentuk klinis psoriasis yang paling sering terjadi yaitu sekitar 90% pasien. Lesi kulit berupa plak eritema dengan skuama tebal, memiliki distribusi yang simetris pada bagian ekstensor ekstremitas seperti siku dan lutut, scalp, lumbosakral bagian bawah, bokong dan keterlibatan genital (Gudjonsson dan

8 14 Elder, 2012) Psoriasis gutata Psoriasis gutata (eruptive) sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang terjadi dua minggu setalah infeksi streptococcal β hemolytic atau virus (Traub dan Marshall, 2007). Psoriasis gutata ditandai dengan erupsi kulit berupa papul kecil berdiameter 0.5 sampai 1.5 cm pada badan bagian atas dan ekstremitas bagian proksimal, biasanya dapat menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu tiga sampai empat bulan (Traub dan Marshall, 2007; Gudjonsson dan Elder, 2012). Tipe psoriasis ini memiliki hubungan yang kuat dengan HLA-Cw6 dan infeksi streptococcal pada tenggorokan terjadi terlebih dahulu atau bersamaan dengan munculnya psoriasis gutata (Gudjonsson dan Elder, 2012) Psoriasis Inversa Psoriasis inversa terjadi terutama pada lipatan kulit, seperti aksila, region genitokruris dan leher. Skuama umumnya minimal atau tidak ada, dan lesi menunjukan plak eritema mengkilat dengan batas yang jelas (Gudjonsson dan Elder, 2012) Psoriasis eritrodermi Psoriasis eritrodermi merupakan bentuk generalisata dari penyakit mengenai semua bagian tubuh, seperti wajah, tangan, kaki, kuku, badan dan ekstremitas. Lesi kulit eritema merupakan gejala klinis yang paling menonjol, skuama yang terjadi berbeda dengan psoriasis bentuk kronis. Kulit psoriasis sering mengalami hipohidrotik

9 15 disebabkan karena oklusi dari duktus kelenjar keringat (Gudjonsson dan Elder, 2012) Psoriasis pustular generalisata (von Zumbusch) Psoriasis pustular generalisata adalah varian psoriasis yang akut, terbentuk dari tipe psoriasis yang lain. Serangan ditandai dengan demam dalam jangka waktu beberapa hari, erupsi pustul steril yang generalisata secara mendadak. Pustul tersebar pada badan dan ekstremitas, termasuk nail beds, telapak tangan dan kaki (Gudjonsson dan Elder, 2012) Psoriasis pustular lokalisata Psoriasis pustular lokalisata memiliki beberapa varian klinis seperti pustulosis palmaris et plantaris dan acrodermatitis continua (Hallopeau) (Gudjonsson dan Elder, 2012) Sebopsoriasi Sebopsoriasi ditandai dengan plak eritema dengan skuama yang berminyak pada area seborrheic seperti kepala, glabella, lipatan nasolabial, perioral, area presternal dan intertriginosa. Sebopsoriasis sebagai modifikasi dari dermatitis seboroik dengan latar belakang genetik psoriasis (Gudjonsson dan Elder, 2012) Diagnosis Diagnosis psoriasis umumnya ditegakkan berdasarkan gambaran klinis berupa makula eritema yang ditutupi skuama kasar berlapis-lapis, transparan pada tempat predileksi yang khas. Pada pemeriksaan fisik ditemukan fenomena bercak lilin,

10 16 Auspitz sign dan Koebner (isomorfik). Fenomena bercak lilin dan Auspitz sign merupakan tanda khas pada psoriasis, sedangkan fenomena Koebner merupakan tanda yang tidak khas didapatkan positif pada 47% kasus dan didapatkan juga pada penyakit yang lain seperti liken planus dan veruka plana juvenilis (James dkk., 2006; Gudjonsson dan Elder, 2012). Pada beberapa kasus yang secara anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis psoriasis tidak dapat ditegakkan, maka biopsi dibutuhkan untuk membantu dalam menegakkan diagnosis. Pada pemeriksaan histopatologi pada lesi psoriasis dijumpai gambaran hyperkeratosis, parakeratosis, akantosis dan hilangnya stratun granulosum. Aktibitas mitosis sel epidermis yang tinggi sehinga proses pematangannya yang cepat menyebabkan terjadi penebalan pada stratum korneum. Pada stratum korneum dijumpai kumpulan sel radang yang dikenal sebagi mikroabses Monroe (James dkk., 2006) Derajat Keparahan Penyakit Penilaian untuk luas dan derajat keparahan psoriasis digunkan sistem skor dengan PASI. Skor PASI pertama kali diperkenalkan pada tahun 1978 sebagai metode kuantitatif untuk menilai luas dan derajat keparahan penyakit psoriasis (Mohamad, 2013). Psoriasis area and severity index menggabungkan elemen pada presentasi klinis yang tampak pada kulit berupa eritema, indurasi (ketebalan lesi) dan skuama dari setiap lokasi di permukaan tubuh. Setiap elemen tersebut dinilai secara terpisah

11 17 menggunakan skor 0 hingga 4 untuk setiap bagian tubuh, seperti kepala, badan, ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Skor nol apabila tidak didapatkan lesi, satu jika presentasi klinis ringan, dua dengan presentasi klinis sedang, tiga jika presentasi klinis berat dan empat sangat berat. Penilaian dari masing-masing ketiga elemen yaitu eritema, indurasi dan skuama kemudian dijumlahkan. Hasil penjumlahan tersebut kemudian dikalikan dengan faktor koreksi yang terdapat pada tiap area tubuh (0,1 untuk kepala; 0,2 ekstremitas atas; 0,3 tubuh dan 0,4 ekstremitas bawah. Nilai yang didapatkan dikalikan dengan skor 0 sampai 6 yang menggambarkan luas area yang terlibat sehingga didapatkan nilai total keseluruhan PASI (Cindy, 2014). Nilai maksimal skor PASI adalah 72 dan terrendah adalah nol (Dadras dkk. 2012) Derajat keparahan psoriasis dibagi menjadi ringan dan berat (Mohamad, 2013). Psoriasis dengan derajat ringan jika didapatkan total skor PASI 3 sampai 12, derajat berat dengan skor PASI 13 sampai 18. Dadras dkk. (2012) membagi derajat keparahan psoriasis menjadi derajat ringan, sedang dan berat. Psoriasis derajat ringan jika skor PASI kurang dari 10, sedangkan derajat sedang hingga berat memiliki skor PASI lebih dari 10 (Dadras dkk., 2012). Budiastuti dan Sugianto (2009) serta penelitian oleh Sugianto dkk (2013), pada penelitiannya membagi derajat keparahan psoriasis menjadi tiga berdasarkan skor PASI yaitu: derajat ringan dengan PASI kurang dari 8, derajat sedang dengan PASI 8 hingga 12 dan derajat berat dengan PASI lebih dari 12. Psoriasis area and severity index merupakan sistem penilaian yang digunakan untuk tujuan penelitian dan memantau respon terapi psoriasis (Mohamad, 2013).

12 18 Tabel 2.1 Psoriasis Area and Severity Index Karakteristik Plak Skor Eritema Tidak ada = 0 Tebal lesi Minimal = 1 Skuama Sedang = 2 Berat = 3 Sangat berat = 4 Kepala Bagian tubuh dan Nilainya Ekstremitas Badan Ekstremitas atas bawah Total Faktor koreksi x 0.1 x 0.2 x 0.3 x 0.4 A. Total permukaan Area Persentase Tidak ada = 0 area tubuh <10% = 1 yang terlibat 10-29% = 2 (nilai antara % = 3 sampai 6) 50-69% = % = % = 6 B. Total Permukaan area dikalikan dengan area yang terlibat Nilai Total (Total A + Total B) Nilai PASI Terapi Penanganan psoriasis masih sangat sulit, pengobatan yang tersedia saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan karena belum ditemukan pengobatan yang efektif dan aman untuk mempertahankan remis lesi psoriasis (Walujo dkk., 2007). Tujuan terapi adalah untuk meningkatkan dan menekan derajat keparahan penyakit hingga ditingkatan yang tidak mempengaruhi kehidupan pribadi, sosial dan pekerjaan pasien. Tiga dasar modalitas terapi untuk penatalaksanaan psoriasis adalah agen topikal, sistemik dan fototerapi. Semua modalitas terapi ini dapat digunakan tunggal,

13 19 kombinasi satu dengan yang lain (Mikhail dan Scheinfeld, 2004). Terapi topikal lini pertama untuk psoriasis adalah emolien, kortikosteroid dan analog vitamin D, sedangkan untuk terapi lini kedua dapat dipilih asam salisilat dan retinoid topikal. Pilihan terapi sistemik lini pertama untuk psoriasis terdiri dari methotrexate, acitretin dan agen biologi, terapi lini kedua dapat dipilih cyclosporine A. Fototerapi untuk pasien psoriasis, antara lain: narrow band dan broad band ultraviolet B (UVB) yang merupakan terapi lini pertama dan PUVA dan excimer sebagai terapi lini kedua (Gudjonsson dan Elder, 2012). Setiap pasien psoriasis memiliki manifestasi dan kondisi klinis yang berbedabeda sehingga pemilihan terapi untuk psoriasis bersifat individual tergantung dampak terhadap kualitas hidup pasien, luas area tubuh yang terlibat, gaya hidup, masalah kesehatan yang mendasari dan harapan dari pasien (Mikhail dan Scheinfeld, 2004). Terapi untuk psoriasis plak kronis ringan hingga sedang dimulai dengan terapi topikal seperti emolien dan agen keratolitik, kortikosteroid topikal, analog vitamin D, tar, retinoid topikal dan antralin. Terapi topikal tunggal dapat diberikan jika area yang terlibat kurang dari lima persen. Pada psoriasis yang berat modalitas terapi yang dapat dipilih adalah sinar ultraviolet B, psoralen dan ultraviolet A, retinoid oral, methotrexate (terutama pada artritis), cyclosporine dan agen biologi (Mikhail dan Scheinfeld, 2004). Pemberian antioksidan dalam penatalaksanaan psoriasis saat ini terbukti bermanfaat (Zhou dkk., 2009). Pemberian suplemen antioksidan pada psoriasis

14 20 bertujuan untuk menghambat inflamasi dan stres oksidatif (Ala dkk., 2013). 2.2 Seng Biologi Seng Seng terdapat pada semua organ, jaringan dan cairan tubuh (Haghollahi dkk., 2008). Kulit dan jaringan adneksa banyak mengandung Zn, diperkirakan kurang lebih 20% dari kadar total seluruh tubuh. Kadar Zn di epidermi (50-70 µg/g) lebih banyak lima hingga enam kali lipat dibandingkan dermis yaitu sebesar 5-10 µg/g (Lansdown dkk., 2007; Rostan, dkk., 2002). Seng pada tubuh dalam bentuk Zn 2+, memiliki afinitas tinggi terhadap elektron yang memungkinkan untuk bereaksi dengan beberapa asam amino (Shankar, 2000). Seng berikatan dengan protein seperti albumin, mikroglobulin dan trasferin (Honscheid, 2009). Homeostasis Zn dalam tubuh tergantung pada absobsi Zn eksogenus, sekresi gastrointestinal dan eksresi Zn endogenus (Hidayat, 1999; Zaky dkk., 2013). Seng eksogenus terutama diabsobsi pada duodenum dan jejunum bagian proksimal, kemudian berikatan dengan membran apikal enterosit yang selanjutnya dibawa ke dalam sel, disekresikan ke darah atau kembali ke saluran cerna, disimpan dalam hati dan pancreas sebagai Zn endogen (Lansdown dkk., 2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi absobsi Zn, antara lain: jumlah Zn yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, diet yang meningkatkan dan menghambat absorbsi Zn. Makanan yang kaya protein umumnya banyak mengandung Zn (Lansdown dkk., 2007). Absorbsi Zn

15 21 dihambat oleh zat besi, copper dan phytates. Beberapa obat seperti ciprofloksasin, penisilin, tetrasiklin dan antagonis reseptor H2 juga menurunkan absobsi Zn. Kontrasepsi oral dan tetrasiklin menurunkan kadar Zn dalam plasma (Hidayat, 1999 dan Haghollahi dkk., 2008). Diet yang meningkatkan absobsi Zn adalah air susu ibu dan protein hewani (Hidayat, 1999). Eksresi Zn terjadi melalui saluran pencernaan yaitu feses sebesar 1 hingga 3 mg per hari, urin sebesar 0.1 hingga 0.9 mg per hari dan 0.5 hingga 1.5 mg perhari melalui keringat, kuku, kulit dan rambut (Hidayat, 1999 dan Haghollahi dkk., 2008). Homeostasis Zn intraseluler diatur oleh protein buffer dan protein transport. Protein buffer yang berperan dalam menjaga homeostasis Zn intraseluler adalah metallothioneins (MT) yang bertindak sebagai penyimpan. Protein transport diperankan oleh 14 ZnT (SLC 39A) dan 10 ZIP (SLC 30A), mengatur transport Zn di intraseluler (Gambar 2.3) (Prasad, 2014; Cebrera, 2015). Pelepasan ion Zn dihasilkan melalui proses reduksi thiol pada molekul MT. Protein transport ZIP terutama terlibat dalam uptake Zn, sedangkan Znt memediasi pengeluaran atau efflux Zn intraselular (Lansdown dkk., 2007; Cebrera, 2015 ).

16 22 Gambar 2.3 Homeostasis Seng Intraseluler (Cebrera, 2015). Seng terdapat pada matrik intraselular dan ekstraselular epidermis dan dermis dalam bentuk komplek protein yang berperan dalam menjaga stabilitas membran sel, maturasi, migrasi dan mitosis. Kadar seng yang lebih tinggi pada epidermis dibandingkan dermis menunjukkan aktivitas enzim DNA dan RNA polymerase membutuhkan Zn untuk proses mitosis pada sel basal (Lansdown dkk., 2007). Keseimbangan Zn dalam tubuh sangat penting untuk menjaga proses biologi tetap berjalan dengan baik. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi Zn dalam tubuh antara lain sickle cell anemia, gangguan ginjal, diabetes

17 23 mellitus, alcoholism, kehamilan, anorexia, bulimia, usia tua, infeksi HIV, pasien luka bakar dan pasien dengan penyakit gastrointestinal yang kronis. Parameter yang digunakan untuk mengetahui status Zn adalah kadar Zn serum atau plasma; konsentrasi Zn pada eritrosit, leukosit dan neutofil; Kadar Zn dalam rambut, urin dan air liur; uji ketajaman pengecapan; keseimbangan metabolism Zn; studi isotope; respon pertumbuhan dan perkembangan seksual terhadap suplemen Zn; enzim yang tergantung Zn. Konsentrasi Zn dalam serum atau plasma paling sering digunakan sebagai parameter untuk menetapkan status Zn seseorang karena mudah dilakukan dan cukup akurat. Pemeriksaaan ini memiliki keterbatasan yaitu hanya dapat digunakan bila serum tidak mengalami hemolisis atau terkontaminasi serta tidak adanya infeksi (Hidayat, 1999). Konsentrasi Zn dalam plasma cepat mengalami perubahan dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti stres, infeksi, hormonal dan asupan makanan (Feitosa dkk., 2013) Seng sebagai Antioksidan Antioksidan berperan dalam menjaga kesehatan kulit. Manfaat antioksidan seperti vitamin C dan E sudah banyak diketahui, namun manfaat Trace elements seperti Zn masih belum banyak ketahui (Rostan dkk., 2002). Banyak studi pada manusia menunjukan Zn memiliki efek proteksi terhadap radikal bebas dan stres oksidatif (Rostan dkk., 2002). Seng berfungsi menjaga kestabilan membran terhadap radikal bebas yang menginduksi kerusakan jaringan selama proses inflamasi (Prasad, 2008). Trace elements ini merupakan elemen yang penting pada lebih dari 300

18 24 metalloenzymes, yaitu sebagai kofaktor superoxide dismutase (SOD), mempengaruhi pembentukan, kestabilan dan aktivitas enzim tersebut (Rostan dkk., 2002). Superoxide dismutase merupakan enzim yang mengkatalisis superoksida menjadi H 2 O 2. Seng menghambat enzim NADPH oksidase sehingga mengurangi pembentukan ROS dan juga menginduksi pembentukan metallotionein yang kaya cysteine melindungi dari OH (Prasad, 2014). Seng juga menjaga penyimpanan vitamin E, menjaga kestabilan struktur membran dan mencegah oksidasi LDL serta VLDL. Mekanisme kerja Zn sebagai antioksidan masih belum diketahui. Dua teori yang diperkirakan sebagai mekanisme kerja Zn dalam perannya sebagai antioksidan, yaitu: reaksi redok oleh Zn menggantikan reaksi redok trace elements lain seperti Fe dan tembaga (Cu) di intra dan ekstraselular; Zn menginduksi sintesis metallothionein (MT), membentuk seng-thiolate yang berfungsi untuk melindungi kulit dan komponennya terhadap radikal bebas terutama dari ion. OH (Powell, 2000; Prasad, 2014). Seng berikatan dengan membran sel dan beberapa protein, bersaing dan menggantikan reaksi redok dari Fe dan Cu. Besi dan tembaga mampu untuk mentransfer elektron bebas sehingga menghasilkan ROS seperti HO. - Dan O 2. Seng memiliki reaksi redok yang stabil dan tingkatan ionsisasi yang tunggal pada ph fisiologi. Seng berkompetisi dengan Fe dan Cu untuk berikatan dengan ligan (DNA atau membran sel) yang akan menurunkan produksi radikal bebas (Prasad, 2014). Ion Fe akan berikatan dengan ligan pada DNA atau membran sel, ketika

19 25 terdapat H 2 O 2 oleh enzim SOD akan membentuk OH - dan HO. yang dapat menyebabkan kerusakan struktur dan mutasi DNA (Powell, 2000; Prasad, 2014). Fe ++ - ligan + H 2 O 2 Fe ligan + OH - + HO. Jika Seng menggantikan tempat Fe pada ligan, maka reaksi yang merusak akibat terbentuknya OH - dan HO. dapat dicegah. Ion Fe yang bebas akan berikatan dengan protein ferritin pada ruang intraseluler dan transferrin pada ruang ekstraseluler (Powell, 2000). Fe ++ - ligan + Zn ++ Zn ++ - ligan + Fe ++ Fe ++ + ferritin, transferrin Fe- ferritin,-transferrin Mekanisme lain yang menunjukkan Zn sebagai antioksidan adalah Zn akan berikatan dengan kelompok sulfhydryl (SH) pada molekul biologi yang akan melindunginya dari proses oksidasi, Zn meningkatkan aktivasi molekul, protein dan enzim antioksidan seperti glutathione, katalase, SOD dan menurunkan aktivitas enzim yang menginduksi pembentukan oksidan, seperti inos, NADPH oxidase dan menghambat proses peroksidase lipid (Mohamad, 2013; Prasad, 2014) Seng sebagai Antiinflamasi Defisiensi Zn selain menyebabkan kondisi stres oksidatif juga memicu inflamasi dengan meningkatkan produksi sitokin proinflamasi (Prasad, 2009). Ditingkat selular Zn berperan dalam proses tranduksi sinyal dengan menghambat aktivitas Nuclear factor к-b sehingga menurunkan ekspresi gen dan pembentukan TNF-α, IL-1β dan IL-8 (Prasad, 2008). Nuclear factor к-b diaktifkan oleh ROS yang memicu

20 26 pembentukan sitokin inflamasi, molekul anti-apoptotic, faktor pertumbuhan seperti vascular endothelial growth factor (VEGF), epidermal growth factor receptor (EGFR), molekul adesi seperti integrin, intercell adhesion molecule 1 (ICAM-1), vascular cell adhesion molecule 1 (VCAM-1) serta enzim inducible nitric oxide synthase (inos). Seng melalui protein A20 yang merupakan faktor transkripsi Zn atau seng finger protein menghambat aktivasi Nuclear factor к-b dengan menurunkan aktivasi enzim IkB kinase (IKK) sehingga menurunkan produksi sitokin proinflamasi dan molekul adhesi (Prasad, 2014; Cebrera, 2015). Penghambatan Aktivasi NF- к-b oleh Zn ditunjukan pada Gambar 2.4 (Cebrera, 2015). Seng meningkatkan ekspresi protein PPAR-α yang juga menghambat aktivitas Nuclear factor к-b dengan menurunkan produksi sirokin proinflamasi dan molekul adhesi (Prasad, 2014). Defisisensi Zn memicu kondisi stres oksidatif sehingga meningkatkan aktivitas makrofag untuk menghasilkan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, IL-6 dan IL-8. Kadar IL-10 juga meningkat pada kondisi dengan defisiensi Zn. Beberapa penelitian menunjukan sitokin inflamasi seperti TNF-α, IL- 1β yang dihasilkan monosit dan makrofag dapat meningkatkan produksi ROS. Meningkatnya kadar sitokin ini dikaitkan dengan penurunan kadar Zn (Prasad, 2008; Cabrera, 2014). Proses inflamasi meningkatkan produksi ROS, mengaktifkan jalur sinyal NF к-b yang selanjutnya meningkatkan regulasi gen target yang mengkode sitokin inflamasi, CRP, molekul adhsi, inducible nitric oxide synthase (inos), cyclooxygenase 2, fibrinogen dan faktor jaringan (Prasad, 2014).

21 27 Gambar 2.4 Seng melalui jalur A20 menghambat aktivasi Nuclear factor к-b (Cebrera, 2015). 2.3 Hubungan Seng dan Psoriasis Psoriasis merupakan penyakit inflamasi yang melibatkan faktor genetik, lingkungan dan sistem imun (Darouti dan Hay, 2010; Mohamad, 2013; Barrea dkk., 2015). Gen ZNF750 yang terletak pada kromosom 17, lokus PSORS 2 berfungsi dalam proses diferensiasi keratinosit. Gen ini mengkode protein seng finger yang membutuhkan satu atau lebih ion Zn untuk menstabilkan strukturnya. Beberapa studi menunjukan gen ZNF750 banyak diekspresikan pada pasien dengan riwayat keluarga psoriasis (Birnbaum dkk. 2011; Cohen dkk., 2012).

22 28 Stres oksidatif terjadi akibat ketidak seimbangan antara oksidan dan antioksidan berupa peningkatan produksi ROS dan menurunnya aktivitas antioksidan berperan pada patogenesis psoriasis (Nassiri dkk., 2009; Zhou dkk., 2009). Reactive oxygen species terbentuk selama proses inflamasi yang dihasilkan oleh neutrophil, sel keratinosit, dan fibroblast (Nassiri dkk., 2009; Kadam dkk., 2010; Al-Jebory, 2012; Sheikh dkk., 2015). Kondisi Stres oksidatif pada psoriasis memicu terjadinya hiperproliferasi epidermis, meningkatnya proses peroksidasi lipid sehingga terbentuk malondialdehyde (MDA) (Nassiri dkk., 2009). Hal ini dibuktikan oleh Nassiri dan kawan-kawan pada tahun 2009, pada penelitiannya terdapat peningkatan kadar MDA serum pada penderita psoriasis dibandingkan kontrol. Pada lesi psoriasis didapatkan peningkatan kadar asam arakidonat yang merupakan bahan alami untuk sintesis MDA sebagai produk akhir dari proses peroksidasi lemak (Kadam dkk., 2010). Penelitian oleh Kadam dkk (2010), menunjukan peningkatan kondisi stres oksidatif pada fibroblast kulit pasien psoriasis tanpa lesi, hal ini membuktikan adanya kondisi stres oksidatif bahkan sebelum lesi plak psoriasis terbentuk. Tubuh memiliki sistem antioksidan untuk proteksi terhadap efek ROS. Sistem antioksidan dibagi menjadi dua, yaitu: antioksidan enzimatik dan non enzimatik. Antioksidan enzimatik terdiri dari superoxide dismutase (SOD) merupakan enzim tergantung Zn yang berperan dalam melawan efek buruk ROS dilaporkan berperan dalam patogenesis psoriasis (Nassiri dkk., 2009; Zhou dkk., 2009; Sheikh dkk., 2015). Superoxide dismutase pada sel mamalia memiliki tiga bentuk, yaitu: mitokondria Mn-SOD, sitoplasam Cu, Zn-SOD dan ekstraselular Cu, Zn-SOD.

23 29 Antioksidan enzimatik yang lainnya adalah catalase (CAT), glutathione peroxidase (GPx) dan metallothioneins, sedangkan Antioksidan non enzimatik terdiri dari: glutathione, vitamin dan trace elements (Nassiri dkk., 2009; Zhou dkk., 2009). Peran trace elements pada patogenesis psoriasis masih belum banyak diketahui. Trace elements didapatkan dalam jumlah kecil pada jaringan, terdapat sepuluh jenis trace elements yang esensial, yaitu: Zn, tembaga, mangan, yodium, zat besi, cobalt, molybdenum, timah, selenium dan chromium. Jumlah normal trace elements dalam darah penting untuk menjaga kesehatan kulit, jumlah yang tidak normal dapat memicu berbagai macam penyakit kulit termasuk psoriasis (Dadras dkk., 2012; Mohamad, 2013). Seng merupakan co-factor dari enzim polymerase DNA dan RNA yang dibutuhkan dalam sintesis protein pada kulit. Seng berikatan dengan enzim SOD (Zn- SOD) di ruang intramembran mitokondria berfungsi untuk mengurangi produksi ROS yang dapat memicu proses inflamasi. Menurunnya kadar Zn menyebabkan menurunnya aktivitas enzim SOD menginduksi kerusakan sel (Mohamad, 2013). Seng pada psoriasis berfungsi menjaga keseimbangan peroksidan dan antioksidan menyebabkan perubahan kadar Zn dalam serum pada penderita psoriasis (Ala dkk., 2013). Nuclear factor κβ merupakan jalur transkripsi yang terlibat dalam patogenesis psoriasis. Nuclear factor кb terdapat pada sel keratinosit, limfosit dan endotel, diaktifkan oleh ROS dan sitokin seperti TNF, IL-1, TLR. Aktivasi NF-кB menghasilkan sitokin dan faktor pertumbuhan seperti TNF-α dan IL-1β, IL-6, IL-8,

24 30 IL-20, ECGF, VEGF, PDGF yang terbukti berperan dalam pembentukan lesi psoriasis (lowes dkk., 2007; Zhou dkk., 2009). Aktivasi tumor necrosis factor alpha merupakan faktor penting dalam menginduksi dan menjaga lesi psoriasis. Seng menghambat aktivasi NF-кB melalui Zinc finger protein A20. Zinc finger protein A20 disebut juga tumor necrosis factor (TNF) α induced protein 3 (TNFAIP3) merupakan protein yang memiliki sistem regulasi negative terhadap jalur sinyal NFкB dan menghambat aktivasi dari jalur transkripsi ini. Ekspresi TNFAIP3 terbukti berkorelasi negatif dengan derajat keparahan psoriasis (Tang dkk., 2014). Penelitian yang mencari korelasi antara kadar Zn dengan psoriasis menggunakan darah sebagai parameternya. Konsentrasi kadar Zn dalam darah paling sering digunakan sebagai parameter untuk menentapkan status Zn karena mudah dilakukan. Konsentrasi Zn dalam serum umumnya 5-15% lebih tinggi dari plasma karena adanya pelepasan Zn oleh trombosit dan eritrosit pada saat darah membeku. Pada penelitian oleh Chen dan kawan-kawan membuktikan bahwa konsentrasi Zn dalam plasma dan serum tidak menunjukan perbedaan secara bermakna (Hidayat, 1999). Peran seng dalam patogenesis psoriasis masih belum jelas, beberapa penelitian yang mencari hubungan seng dengan psoriasis memberikan hasil yang bervariasi. Beberapa penelitian melaporkan kadar Zn pada darah pasien psoriasis lebih rendah dibandingkan kontrol yang sehat. Penjelasan yang banyak dipaparkan mengenai penyebab rendahnya kadar Zn dalam darah pada psoriasis akiba hilangnya Zn secara sekunder melalui proses eksfoliasi (Ala, 2013; Payasvi, 2013). Penurunan

25 31 kadar Zn dalam darah juga dihubungkan dengan derajat keparahan psoriasis, penurunan kadar seng terutama terjadi pada psoriasis berat akibat regenerasi kulit yang cepat dan eksfoliasi kulit yang banyak mengandung Zn (Mohamad, 2013). Menurunnya kadar albumin menyebabkan penurunan kadar Zn yang berdampak terhadap penurunan aktivitas enzim SOD sehingga meningkatkan kondisi stres oksidatif yang berperan dalam perkembangan psoriasis (Gambar 2.5). Kadar protein dan albumin darah yang rendah pada psoriasis terjadi akibat meningkatnya turnover penglupasan kulit yang disertai dengan jumlah skuama berlebih dan rendahnya sintesis protein (Nigam, 2005; Mohamad, 2013). Hipoalbuminemia yang terjadi pada psoriasis akibat mengingkatnya katabolisme endogen tanpa disertai kehilangan albumin lewat urin, feses dan kulit yang signifikan. Beberapa penelitian menunjukan terjadi peningkatan kebutuhan pengambilan albumin oleh hati dan makrofag yang memperberat kondisi hipoalbuminemia (Sheikh dkk., 2015). Perubahan kadar Zn dalam plasma maupun serum mempengaruhi kondisi patologi pada psoriasis, hal ini dibuktikan pada beberapa studi yang menunjukan lesi psoriasiform dikaitkan dengan defisiensi Zn sistemik pada percobaan hewan maupun manusia (Ala dkk., 2013).

26 32 Gambar 2.5 Patogenesis Psoriasis Terkait dengan Seng (Sheikh dkk., 2014). Plak psoriasis juga diduga terjadi akibat defisiensi Zn secara sistemik (Mohamad, 2013). Fakta menunjukan defisiensi Zn yang didapat dan kongenital memberikan berbagai macam manifestasi kulit seperti psoriasis-like eruption, bula, rambut rontok dan onychopathy (Ala dkk., 2013). Manifestasi kulit psoriasis-like eruption pada defisiensi Zn berupa bercak atau plak eritema berbatas tegas dengan skuama yang simetris pada lutut, siku, tumit dan kepala bagian occipital merupakan lokasi yang sering mengalami trauma atau gesekan. Plak mengalami hiperkeratosis mirip dengan lesi psoriasis. Lesi vesikel maupun bula dapat terjadi pada ujung jari dan telapak tangan. Perubahan pada kuku berupa warna kuku kecoklatan, paronikia dan terdapat Beau s Line (Rostan dkk., 2002).

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat kronis dan kompleks. Penyakit ini dapat menyerang segala usia dan jenis kelamin. Lesi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dapat mengalami keluhan gatal, nyeri, dan atau penyakit kuku serta artritis

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dapat mengalami keluhan gatal, nyeri, dan atau penyakit kuku serta artritis 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kulit bersifat kronis residif dengan patogenesis yang masih belum dapat dijelaskan dengan pasti hingga saat ini. Pasien dapat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Psoriasis 2.1.1. Definisi Psoriasis adalah penyakit kulit kronik-residif yang ditandai adanya epidermis yang hiperproliferasi dan diferensiasi abnormal (Jean et al., 2011).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan proliferasi berlebihan di epidermis. Normalnya seseorang mengalami pergantian kulit setiap 3-4

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Makanan adalah sumber kehidupan. Di era modern ini, sangat banyak berkembang berbagai macam bentuk makanan untuk menunjang kelangsungan hidup setiap individu. Kebanyakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepsis merupakan kondisi yang masih menjadi masalah kesehatan dunia karena pengobatannya yang sulit sehingga angka kematiannya cukup tinggi. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas.

Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini studi tentang hubungan antara makanan dan kesehatan memerlukan metode yang mampu memperkirakan asupan makanan biasa. Pada penelitian terdahulu, berbagai upaya

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA mulut. 7 Gingiva pada umumnya berwarna merah muda dan diproduksi oleh pembuluh BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penyakit periodontal adalah inflamasi yang dapat merusak jaringan melalui interaksi antara bakteri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Artritis Reumatoid Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun dengan karakteristik adanya inflamasi kronik pada sendi disertai dengan manifestasi sistemik seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi yang kompleks terhadap agen penyebab jejas, seperti mikroba dan kerusakan sel. Respon inflamasi berhubungan erat dengan proses penyembuhan,

Lebih terperinci

IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER

IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER BAB 8 IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER 8.1. PENDAHULUAN Ada dua cabang imunitas perolehan (acquired immunity) yang mempunyai pendukung dan maksud yang berbeda, tetapi dengan tujuan umum yang sama, yaitu mengeliminasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin rhino yang berarti hidung dan itis yang berarti radang. Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus plasmodium yang dapat ditularkan melalui cucukan nyamuk anopheles betina. Penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia secara geografis merupakan negara tropis yang kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Seiring perkembangan dunia kesehatan, tumbuhan merupakan alternatif

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. orang pada tahun 2030 (Patel et al., 2012). World Health Organization (WHO)

BAB I. PENDAHULUAN. orang pada tahun 2030 (Patel et al., 2012). World Health Organization (WHO) BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit dengan insidensi yang cukup tinggi di masyarakat. Saat ini diperkirakan 170 juta orang di dunia menderita DM dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asam urat telah diidentifikasi lebih dari dua abad yang lalu akan tetapi beberapa aspek patofisiologi dari hiperurisemia tetap belum dipahami dengan baik. Asam urat

Lebih terperinci

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN Sel yang terlibat dalam sistem imun normalnya berupa sel yang bersirkulasi dalam darah juga pada cairan lymph. Sel-sel tersebut dapat dijumpai dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Prevalensi overweight dan obesitas meningkat baik pada dewasa dan anakanak

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Prevalensi overweight dan obesitas meningkat baik pada dewasa dan anakanak BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Prevalensi overweight dan obesitas meningkat baik pada dewasa dan anakanak di negara maju maupun negara berkembang selama periode tahun 1980-2013. Indonesia termasuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika adalah suatu peradangan pada kulit yang didasari oleh reaksi alergi/reaksi hipersensitivitas tipe I. Penyakit yang berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas

Lebih terperinci

SUHARTO WIJANARKO PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) KE-21 TAHUN 2016 PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA (IKABI) MEDAN, 12 AGUSTUS 2016

SUHARTO WIJANARKO PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) KE-21 TAHUN 2016 PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA (IKABI) MEDAN, 12 AGUSTUS 2016 SUHARTO WIJANARKO PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) KE-21 TAHUN 2016 PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA (IKABI) MEDAN, 12 AGUSTUS 2016 BSK sudah lama diketahui diderita manusia terbukti ditemukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tubuh manusia secara fisiologis memiliki sistim pertahanan utama untuk melawan radikal bebas, yaitu antioksidan yang berupa enzim dan nonenzim. Antioksidan enzimatik bekerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard akut (IMA) dan merupakan salah satu faktor risiko kematian dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat. Peningkatan ini terjadi salah satunya karena perubahan pola

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat. Peningkatan ini terjadi salah satunya karena perubahan pola 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akhir-akhir ini insiden kanker sebagai salah satu jenis penyakit tidak menular semakin meningkat. Peningkatan ini terjadi salah satunya karena perubahan pola hidup

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN BAB 4 HASIL PENELITIAN Pengukuran aktivitas spesifik katalase jaringan ginjal tikus percobaan pada keadaan hipoksia hipobarik akut berulang ini dilakukan berdasarkan metode Mates et al. (1999) yang dimodifikasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator dibanding respons imun yang didapat. Inflamasi dapat diartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya, populasi lanjut usia terus mengalami peningkatan, dan diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara berkembang. Pertambahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah infertilitas pria merupakan masalah yang menunjukkan peningkatan dalam dekade terakhir ini. Infertilitas yang disebabkan oleh pria sebesar 50 %, sehingga anggapan

Lebih terperinci

OBAT DAN NASIB OBAT DALAM TUBUH

OBAT DAN NASIB OBAT DALAM TUBUH OBAT DAN NASIB OBAT DALAM TUBUH OBAT : setiap molekul yang bisa merubah fungsi tubuh secara molekuler. NASIB OBAT DALAM TUBUH Obat Absorbsi (1) Distribusi (2) Respon farmakologis Interaksi dg reseptor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuak merupakan hasil sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren

BAB I PENDAHULUAN. Tuak merupakan hasil sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuak merupakan hasil sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren (Arenga pinnata) sejenis minuman yang merupakan hasil fermentasi dari bahan minuman/buah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolitis Ulserativa (ulcerative colitis / KU) merupakan suatu penyakit menahun, dimana kolon mengalami peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB III KERANGKA BERIKIR, KONSE AN HIOTESIS ENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Fakta menunjukkan bahwa proses penuaan terjadi kemunduran dan deplesi jumlah sel Langerhans di epidermis, yakni sel efektor imunogen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latihan fisik secara teratur mempunyai efek yang baik terutama mencegah obesitas, penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung koroner, dan osteoporosis (Thirumalai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga pada 1972, di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga pada 1972, di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga pada 1972, di Indonesia penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian ke-11. Pada 1986 kondisi naik menjadi peringkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pada zaman modern ini, seluruh dunia mengalami pengaruh globalisasi dan hal ini menyebabkan banyak perubahan dalam hidup manusia, salah satunya adalah perubahan gaya

Lebih terperinci

BAB 2 KALSIFIKASI ARTERI KAROTID. yang disebut arteri karotid kanan. Arteri karotid kanan merupakan cabang dari

BAB 2 KALSIFIKASI ARTERI KAROTID. yang disebut arteri karotid kanan. Arteri karotid kanan merupakan cabang dari BAB 2 KALSIFIKASI ARTERI KAROTID Arteri karotid merupakan bagian dari sistem sirkulasi darah yang terdapat pada ke dua sisi leher yaitu sisi kiri yang disebut arteri karotid kiri dan sisi kanan yang disebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan Per Mortality Rate (PMR) 13 %. Di negara-negara maju seperti

BAB I PENDAHULUAN. dengan Per Mortality Rate (PMR) 13 %. Di negara-negara maju seperti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan salah satu penyebab kematian dengan kontribusi sebesar 13 % kematian dari 22 % kematian akibat penyakit tidak menular utama di dunia. Insidensi penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit paru obstruksi kronik adalah salah satu penyebab kematian utama karena merokok (Barnes PJ., 2007). PPOK merupakan masalah kesehatan global yang menjadi penyebab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika merupakan suatu reaksi hipersensitivitas, yang disebut juga sebagai dermatitis atopik. Penderita dermatitis atopik dan atau keluarganya biasanya

Lebih terperinci

Sel melakukan kontak dengan lingkungannya menggunakan permukaan sel, meliputi: 1. Membran plasma, yakni protein dan lipid 2. Molekul-molekul membran

Sel melakukan kontak dengan lingkungannya menggunakan permukaan sel, meliputi: 1. Membran plasma, yakni protein dan lipid 2. Molekul-molekul membran Sel melakukan kontak dengan lingkungannya menggunakan permukaan sel, meliputi: 1. Membran plasma, yakni protein dan lipid 2. Molekul-molekul membran yang menonjol ke luar sel Melalui permukaan sel ini,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak seluruhnya dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker paru adalah kanker yang paling sering didiagnosis di dunia dan merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Data kasus baru kanker paru di Amerika Serikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika disebut juga dermatitis atopik yang terjadi pada orang dengan riwayat atopik. Atopik ditandai oleh adanya reaksi yang berlebih terhadap rangsangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan.

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. I. PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Luka jaringan lunak rongga mulut banyak dijumpai pada pasien di klinik gigi. Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia (Musher, 2014). Penumonia komunitas merupakan penyakit infeksi saluran

BAB I PENDAHULUAN. dunia (Musher, 2014). Penumonia komunitas merupakan penyakit infeksi saluran 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pneumonia kerap kali terlupakan sebagai salah satu penyebab kematian di dunia (Musher, 2014). Penumonia komunitas merupakan penyakit infeksi saluran napas bawah yang

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Kulit merupakan organ terluar pada tubuh manusia yang menutupi

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Kulit merupakan organ terluar pada tubuh manusia yang menutupi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kulit merupakan organ terluar pada tubuh manusia yang menutupi seluruh permukaan bagian tubuh. Fungsi utama kulit sebagai pelindung dari mikroorganisme,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas epitel nasofaring. Etiologi tumor ganas ini bersifat multifaktorial, faktor etnik dan geografi mempengaruhi risiko

Lebih terperinci

MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN

MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN BAB 2 MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN 2.1. Molekul Reseptor Antigen Sel T helper dan sitolitik, tidak seperti sel B, mengenal fragmen antigen protein asing yang secara fisik berikatan dengan molekul MHC pada

Lebih terperinci

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM), atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis,

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM), atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Diabetes Mellitus (DM), atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis, merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang

Lebih terperinci

Manfaat Terapi Ozon Manfaat Terapi Ozon Pengobatan / Terapi alternatif / komplementer diabetes, kanker, stroke, dll

Manfaat Terapi Ozon Manfaat Terapi Ozon Pengobatan / Terapi alternatif / komplementer diabetes, kanker, stroke, dll Manfaat Terapi Ozon Sebagai Pengobatan / Terapi alternatif / komplementer untuk berbagai penyakit. Penyakit yang banyak diderita seperti diabetes, kanker, stroke, dll. Keterangan Rinci tentang manfaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam kehidupan, manusia menghabiskan sebagian besar waktu sadar mereka (kurang lebih 85-90%) untuk beraktivitas (Gibney et al., 2009). Menurut World Health

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini masih terdapat di Indonesia yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering dijumpai pada wanita dan penyebab kematian terbanyak. Pengobatannya sangat tergantung dari stadium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

BAB III Efek Radiasi Terhadap Manusia

BAB III Efek Radiasi Terhadap Manusia BAB III Efek Radiasi Terhadap Manusia Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru, lambung dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun dari jaringan yang merupakan kumpulan dari sejumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mayarakat secara umum harus lebih memberi perhatian dalam pencegahan dan pengobatan berbagai jenis penyakit yang ditimbulkan oleh mikroorganisme patogen seperti

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit periodontal adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit periodontal adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penyakit periodontal adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif, anaerob dan mikroaerofilik yang berkolonisasi di area subgingiva. Jaringan periodontal yang

Lebih terperinci

MATURASI SEL LIMFOSIT

MATURASI SEL LIMFOSIT BAB 5 MATURASI SEL LIMFOSIT 5.1. PENDAHULUAN Sintesis antibodi atau imunoglobulin (Igs), dilakukan oleh sel B. Respon imun humoral terhadap antigen asing, digambarkan dengan tipe imunoglobulin yang diproduksi

Lebih terperinci

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM Pengertian Sistem Pertahanan Tubuh Pertahanan tubuh adalah seluruh sistem/ mekanisme untuk mencegah dan melawan gangguan tubuh (fisik, kimia, mikroorg) Imunitas Daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap perubahan status nutrisi telah diketahui sejak tahap awal epidemi. Penyebaran HIV di seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luka merupakan rusak atau hilangnya sebagian dari jaringan tubuh. Penyebab keadaan ini dapat terjadi karena adanya trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat

Lebih terperinci

leukemia Kanker darah

leukemia Kanker darah leukemia Kanker darah Pendahuluan leukemia,asal kata dari bahasa yunani leukos-putih,haima-darah. leukemia terjadi ketika sel darah bersifat kanker yakni membelah tak terkontrol dan menggangu pembelahan

Lebih terperinci

Pengertian Mitokondria

Pengertian Mitokondria Home» Pelajaran» Pengertian Mitokondria, Struktur, dan Fungsi Mitokondria Pengertian Mitokondria, Struktur, dan Fungsi Mitokondria Pengertian Mitokondria Mitokondria adalah salah satu organel sel dan berfungsi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan tubuh akibat kontraksi otot

BAB 1 PENDAHULUAN. Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan tubuh akibat kontraksi otot BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan tubuh akibat kontraksi otot rangka yang membutuhkan kalori lebih besar daripada pengeluaran energi saat istirahat. Aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh secara cepat dan tidak terkendali melebihi sel-sel yang normal (Winarti,

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh secara cepat dan tidak terkendali melebihi sel-sel yang normal (Winarti, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Kanker adalah pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak normal, yang tumbuh secara cepat dan tidak terkendali melebihi sel-sel yang normal (Winarti,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dewasa ini terjadi peningkatan angka harapan hidup. Di negara maju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dewasa ini terjadi peningkatan angka harapan hidup. Di negara maju 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini terjadi peningkatan angka harapan hidup. Di negara maju seperti Amerika Serikat, angka harapan hidup meningkat dari 70,2 tahun pada 1965, menjadi 77,8 tahun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Plumbum (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat. Logam berat

BAB 1 PENDAHULUAN. Plumbum (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat. Logam berat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plumbum (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat. Logam berat dibutuhkan makhluk hidup sebagai logam esensial dalam proses metabolisme dan juga sebagai co-faktor

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. periodontal dapat menjadi faktor risiko untuk terjadinya kelahiran bayi prematur

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. periodontal dapat menjadi faktor risiko untuk terjadinya kelahiran bayi prematur BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Kelahiran bayi prematur BBLR merupakan salah satu masalah kesehatan utama dalam masyarakat dan merupakan penyebab utama kematian neonatal serta gangguan perkembangan saraf dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Proses penuaan bukan suatu

BAB I PENDAHULUAN. maupun sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Proses penuaan bukan suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses penuaan adalah suatu hal yang pasti terjadi dalam kehidupan. Setiap manusia akan menjadi tua. Proses penuaan merupakan suatu proses alami yang ditandai dengan

Lebih terperinci

menyebabkan air dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel, sehingga tekanan osmotik dari cairan ekstraseluler meningkat. Volume cairan, termasuk

menyebabkan air dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel, sehingga tekanan osmotik dari cairan ekstraseluler meningkat. Volume cairan, termasuk MINERAL Sebagian besar bahan makanan, yaitu sekitar 96% terdiri dari bahan organik dan air. Sisanya terdiri dari unsur-unsur mineral. Unsur mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mellitus tipe 2 di dunia sekitar 171 juta jiwa dan diprediksi akan. mencapai 366 juta jiwa tahun Di Asia Tenggara terdapat 46

BAB I PENDAHULUAN. mellitus tipe 2 di dunia sekitar 171 juta jiwa dan diprediksi akan. mencapai 366 juta jiwa tahun Di Asia Tenggara terdapat 46 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan jumlah penderita yang semakin meningkat tiap tahun. Menurut WHO pada tahun 2000, jumlah penderita diabetes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bulimia nervosa didefinisikan sebagai kebiasaan makan di mana penderitanya mengkonsumsi sejumlah makanan dalam jumlah sangat besar, kemudian mengeluarkan kembali makanan

Lebih terperinci

DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI

DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI Daya Tahan tubuh Adalah Kemampuan tubuh untuk melawan bibit penyakit agar terhindar dari penyakit 2 Jenis Daya Tahan Tubuh : 1. Daya tahan tubuh spesifik atau Immunitas 2.

Lebih terperinci

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed 1 PENDAHULUAN Sistem imun melindungi tubuh dari sel asing & abnormal dan membersihkan debris sel. Bakteri dan virus patogenik adalah sasaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. warna kulit. Skin tag juga disebut achrochordon, softwart, soft fibroma, polip

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. warna kulit. Skin tag juga disebut achrochordon, softwart, soft fibroma, polip BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Skin Tag Skin tag merupakan suatu tumor jinak kulit yang umum dijumpai pada penderita obesitas. Tampilannya berupa tonjolan kecil, lunak dan berwarna seperti warna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak dan penyebab

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak dan penyebab 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak dan penyebab kematian ketiga yang disebabkan oleh kanker baik secara global maupun di Asia sendiri.

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, dengan berat 1.200-1.500 gram. Pada orang dewasa ± 1/50 dari berat badannya sedangkan pada bayi ± 1/18 dari berat

Lebih terperinci

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Dr. Nia Kurniati, SpA (K) Manusia mempunyai sistem pertahanan tubuh yang kompleks terhadap benda asing. Berbagai barrier diciptakan oleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di era modern ini, perubahan fungsi kognitif seseorang menjadi salah satu masalah sosial yang dihadapi oleh semua orang. Hal ini dikarenakan, perubahan fungsi kognitif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mengatur perbaikan Deoxyribonucleic Acid (DNA) sehingga

BAB I PENDAHULUAN. yang mengatur perbaikan Deoxyribonucleic Acid (DNA) sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker adalah penyakit multifaktorial yang timbul dari tidak seimbangnya protoonkogen, antionkogen, gen yang mengendalikan apoptosis, dan gen yang mengatur perbaikan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan

Lebih terperinci

Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322

Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322 Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322 Esensialitas Hara bagi Tanaman Hara Esensial: Tanpa kehadiran hara tersebut maka tanaman tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya. Fungsi hara tersebut tidak dapat digantikan

Lebih terperinci

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya SISTEM SIRKULASI Kompetensi Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya Suatu sistem yang memungkinkan pengangkutan berbagai bahan dari satu tempat ke tempat lain di dalam tubuh organisme Sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. 2 Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. 2 Indonesia merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi. 1 Penyakit ini banyak ditemukan di negara berkembang dan menular melalui makanan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ivo Hofia Nasren, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ivo Hofia Nasren, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini, penyebab kematian di Indonesia telah mengalami suatu pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, misalnya saja penyakit degeneratif. Penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Klasifikasi diabetes mellitus menurut ADA (2005) antara lain diabetes mellitus

BAB I PENDAHULUAN. Klasifikasi diabetes mellitus menurut ADA (2005) antara lain diabetes mellitus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu kelainan metabolisme pada tubuh yang dicirikan dengan kadar gula yang tinggi atau hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja

Lebih terperinci

Imunologi Transplantasi. Marianti Manggau

Imunologi Transplantasi. Marianti Manggau Imunologi Transplantasi Marianti Manggau Golongan darah ABO dan sistem HLA merupakan antigen transplantasi utama, sedang antibodi dan CMI (cell mediated immunity) berperan pada penolakan imun. Kemungkinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fibrinogen merupakan suatu glikoprotein yang sangat penting, disintesa dihati dan dikumpulkan didalam alfa granul trombosit.

BAB I PENDAHULUAN. Fibrinogen merupakan suatu glikoprotein yang sangat penting, disintesa dihati dan dikumpulkan didalam alfa granul trombosit. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENELITIAN Fibrinogen merupakan suatu glikoprotein yang sangat penting, disintesa dihati dan dikumpulkan didalam alfa granul trombosit. Kadar fibrinogen dalam plasma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. proses di berbagai Negara. Saat ini penggunaan terapi stem cell menjadi

BAB I PENDAHULUAN. proses di berbagai Negara. Saat ini penggunaan terapi stem cell menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penelitian mengenai Stem cell masih memasuki tahap proses di berbagai Negara. Saat ini penggunaan terapi stem cell menjadi terobosan baru dalam upaya pengobatan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari 5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Obat kemoterapi vinkristin Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari tanaman Vinca Rosea yang memiliki anti kanker yang diberikan secara intravena

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 28 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Kadar Enzim SGPT dan SGOT Pada Mencit Betina Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Rumput Teki Tabel 1. Kadar Enzim SGPT pada mencit betina setelah pemberian

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian. sebagai bahan dasar mini screw orthodontics terhadap reaksi jaringan dorsum

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian. sebagai bahan dasar mini screw orthodontics terhadap reaksi jaringan dorsum BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang pengaruh implantasi subkutan logam kobalt kromium sebagai bahan dasar mini screw orthodontics terhadap reaksi jaringan dorsum

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. ditandai dengan adanya hiperproliferasi epidermis, diferensiasi keratinosit

BAB II KAJIAN PUSTAKA. ditandai dengan adanya hiperproliferasi epidermis, diferensiasi keratinosit 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Psoriasis 2.1.1 Definisi Psoriasis adalah suatu penyakit kulit autoimun bersifat kronis yang ditandai dengan adanya hiperproliferasi epidermis, diferensiasi keratinosit epidermis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hematologi Hasil pemeriksaan hematologi disajikan dalam bentuk rataan±simpangan baku (Tabel 1). Hasil pemeriksaan hematologi individual (Tabel 5) dapat dilihat pada lampiran dan dibandingkan

Lebih terperinci

Secara sederhana, oksidasi berarti reaksi dari material dengan oksigen OKSIDASI BIOLOGI

Secara sederhana, oksidasi berarti reaksi dari material dengan oksigen OKSIDASI BIOLOGI Proses oksidasi Peranan enzim, koenzim dan logam dalam oksidasi biologi Transfer elektron dalam sel Hubungan rantai pernapasan dengan senyawa fosfat berenergi tinggi Oksidasi hidrogen (H) dalam mitokondria

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini ternyata semakin meningkat. Disektor pertanian, herbisida digunakan

BAB I PENDAHULUAN. ini ternyata semakin meningkat. Disektor pertanian, herbisida digunakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan herbisida di Indonesia terutama di sektor pertanian akhir akhir ini ternyata semakin meningkat. Disektor pertanian, herbisida digunakan secara intensif

Lebih terperinci