ANALISIS MAKNA KOTOWAZA YANG TERKAIT DENGAN KANJI MUSIM DAN RELEVANSINYA DENGAN KEBUDAYAAN JEPANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS MAKNA KOTOWAZA YANG TERKAIT DENGAN KANJI MUSIM DAN RELEVANSINYA DENGAN KEBUDAYAAN JEPANG"

Transkripsi

1 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning ANALISIS MAKNA KOTOWAZA YANG TERKAIT DENGAN KANJI MUSIM DAN RELEVANSINYA DENGAN KEBUDAYAAN JEPANG Mia Kharina Drs. H. Sudjianto, M.Hum. 1, Dra. Neneng Sutjiati, M.Hum. 2 Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Evolusi kebudayaan berhubungan erat dengan kondisi lingkungan. Maka dari itu, budaya di setiap negara berbeda-beda berdasarkan lingkungannya. Salah satu faktor yang terlihat jelas adalah iklim atau musim di sebuah negara. Adanya perubahan musim mempengaruhi kebudayaan yang berkembang di masyarakatnya. Kemudian, salah satu unsur dari kebudayaan terdapat bahasa. Bahasa tidak terbatas dengan interaksi sehari-hari, tetapi banyak sarana sastra yang dapat dijadikan objek pembelajaran. salah satunya, peribahasa yang merupakan ajaran berdasarkan pola pikir orang Jepang dari zaman dahulu. Orang Jepang sering menggunakan peribahasa dalam mengungkapkan atau menggambarkan suatu keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya sebagian pembelajar bahasa Jepang tidak memahami makna dari peribahasa bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu makna peribahasa dan relevansinya terhadap kebudayaan Jepang. Penulis membatasi peribahasa yang digunakan hanya peribahasa yang berkaitan dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu). Oleh karena itu penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1) apa sajakah peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu), 2) apa makna peribahasa tersebut dalam bahasa Indonesia, 3) adakah relevansi kebudayaan yang tersirat dalam peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini, ditemukan 20 peribahasa yang berkaitan dengan kanji musim dan 12 diantaranya memiliki relevansi dengan kebudayaan Jepang berdasarkan musim. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan adanya keterkaitan antara keadaan lingkungan atau kebudayaan yang berdasarkan musim mempengaruhi pembentukan peribahasa di sebuah negara. Kata kunci: peribahasa, makna, kebudayaan, musim 1 Penanggung Jawab 1 2 Penanggun gjawab 2

2 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 Analysis The Meaning of Kotowaza Associated with Kanji Season and Its Relevance to Japanese Culture Mia Kharina Drs. H. Sudjianto, M.Hum. 1, Dra. Neneng Sutjiati, M.Hum. 2 Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia Abstracts Culture is the way of life that developed and shared by a community that are passed from generation to generation. Cultural evolution is closely related with enviromental conditions. Therefore, the culture in each country is different based on environment. One of the obious factor is the climate or season in a country. The changing seasons affect the cultures that developed in the society. Then, one of the elements of culture are language. Language is not the daily interactions only, but many literary device that can be used as learning objects. One of them is proverb that teaching based on the mindset of Japanese people from ancient times. Japanese people often use proverbs to express or describe a situation in daily life. However, in fact most of Japanese language learners didn t understand the meaning of Japanese proverbs. This research aims to find out the meaning of proverbs and relevance to the Japanese culture. Authors restrict to use proverbs which is related to kanji season (haru, natsu, aki, fuyu). Therefore, authors formulate the research problems as follow : 1) what are the Japanese proverbs which is associated with kanji season (haru, natsu, aki, fuyu), 2) what are the meaning of these proverbs in Indonesian, 3) is there any relevance of culture implicit in Japanese proverbs related kanji season (haru, natsu, aki, fuyu). The method used in this research is descriptive and qualitative research method. The result of this research, it was found 20 proverbs related to kanji season (haru, natsu, aki, fuyu) and 12 of them have relevance to the Japanese culture based on season. thus, it can be concluded there is a correlation between the state of environment or culture that is based on the proverbs season affect formation in a country. Keywords : proverb, meaning, culture, season 1 Supervisor 1 2 Supervisor 2

3 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning A. PENDAHULUAN Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Cateora (dalam Sulasman 2013, hlm. 38) menyatakan berdasarkan wujudnya tersebut budaya memiliki beberapa elemen atau komponen sebagai berikut : kebudayaan materiil, kebudayaan nonmateriil, lembaga sosial, sistem kepercayaan, estetika, dan bahasa. Sulasman (2013, hlm. 39) menyatakan isi unsur kebudayaan akan berbeda antara kebudayaan satu dan kebudayaan lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor geografis khususnya iklim atau musim di sebuah negara. Adanya perubahan musim mempengaruhi kebudayaan yang berkembang di masyarakatnya. Tumanggor (2014, hlm. 20) menyatakan antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, karena menjadi manusia tidak lain adalah merupakan bagian dari hasil kebudayaan itu sendiri. Hampir semua tindakan manusia merupakan produk kebudayaan. Budaya bukanlah suatu yang statis dan kaku, tetapi senantiasa berubah sesuai perubahan sosial yang ada sebab kebudayaan berfungsi mempermudah kehidupan manusia.. Kemudian salah satu unsur kebudayaan itu salah satunya adalah bahasa. Cateora (dalam Sulasman 2013, hlm 39) menyatakan bahasa merupakan alat pengantar dalam berkomunikasi. Setiap wilayah, bagian, dan negara memiliki perbedaan bahasa yang sangat kompleks. Dalam ilmu komunikasi, bahasa merupakan komponen yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sifat unik dan kompleks yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebut. Sudjianto (2007, hlm. 5) menyatakan pembelajaran bahasa asing tidak hanya mencakup bahasa yang digunakan sehari-hari. Ruang lingkup dalam pembelajaran bahasa bisa bermacam-macam, misalnya sastra, ekonomi, budaya, sosial, dan sebagainya. Misalnya, peribahasa yang merupakan ajaran berdasarkan pola pikir orang Jepang dari zaman dahulu. Orang Jepang sering menggunakan peribahasa dalam mengungkapkan atau menggambarkan suatu keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Peribahasa dalam Kamus Besar Bahasa Jepang (1986, hlm. 960) diartikan sebagai rangkaian kata atau ungkapan pendek yang berisikan sarkasme, sindiran, ucapan tidak langsung, nasihat, peringatan, dan sebagainya yang disampaikan dari zaman dahulu. Dilihat dari makna peribahasa Jepang yang terdapat pada Kamus Besar Bahasa Jepang, sedikitnya terlihat hubungan antara peribahasa Jepang dengan kebudayaan Jepang. Penelitian ini bemaksud untuk mencari tahu makna dan hubungan yang ada antara peribahasa Jepang dan kebudayaan Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu makna yang terkandung dalam sebuah peribahasa Jepang yang terkait kanji musim. Tujuan detailnya seperti yang disebutkan dibawah ini : 1. Untuk mengetahui apa saja peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim 春 夏 秋 冬 (Haru, Natsu, Aki, Fuyu). 2. Mengetahui makna yang dimiliki oleh peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim 春 夏 秋 冬 ( Haru, Natsu, Aki, Fuyu).

4 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni Mengetahui relevansi budaya yang tersirat dalam peribahasa jepang yang terkait dengan kanji musim 春 夏 秋 冬 (Haru, Natsu, Aki, Fuyu). B. METODE PENELITIAN Sutedi, (2011, hlm. 58) mengemukakan penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan, menjabarkan suatu fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual. Kemudian Newton Bogdan dan Taylor (dalam Moleong 2007, hlm. 4) penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sesuai dengan sifat dari metode deskriptif dan metode kualitatif, metode ini dipilih untuk memecahkan masalah terhadap suatu objek dengan cara mengumpulkan data, menyusun, dan mengkasifikasikannya serta menganalisis data yang ada kemudian diuraikan secara apa adanya dalam penelitian ini. Tahaptahap analisis data yang akan dilakukan yaitu sebagai berikut: 1. Mengumpulkan peribahasa bahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim. 2. Mengidentifikasi, mengkaji serta mengartikan setiap peribahasa bahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim yang telah dikumpulkan. 3. Menghubungkan adanya keterkaitan anatar peribahasa bahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim dengan kebudayaan yang ada di masyarakat Jepang. 4. Membuat kesimpulan dari hasil yang diperoleh setelah semua proses pengolahan data selesai dilakukan. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari penelitian yang telah dilakukan didapat peribahasa yang terkait dengan kanji musim adalah sebagai berikut : 1. 秋 茄 子 嫁 に 食 わすな (aki nasubi yome ni kuwasu na) memiliki makna merupakan sebuah ucapan seorang ibu mertua yang tidak ingin membagi menantu perempuannya makan terong musim gugur. Kemudian di satu sisi juga memiliki makna yang berarti sebuah saran seorang ibu mertua yang tidak ingin menantu permpuannya tidak memiliki anak. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan kegiatan atau festival Minori no Aki 実 りの 秋 yang artinya adalah panen musim gugur. Pada musim ini banyak sekali sayur-mayur dan buahbuahan yang dipanen. Karena musim gugur merupakan musim dimana buah-buahan dan sayur mayur terasa nikmat. Tetapi sebenarnya makna peribahasa ini lebih kepada asal-usul yang berada di Jepang. Pemikiran orang Jepang yang didasari oleh jenis terong musim gugur yang jumlah rumpun yang sedikit niscaya jika seorang menantu perempuan diberi makan terong musim gugur maka tidak dapat memiliki anak. 2. 秋 の 雨 が 降 れば 猫 の 顔 が 三 尺 になる (aki no ame ga fureba neko no kao ga sanjaku ni naru) memiliki makna dimana menggambarkan seekor kucing yang peka terhadap dingin merasakan perasaan bahagia ketika hujan turun pada musim gugur. Peribahasa ini memiliki

5 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning relevansi yang lebih condong kepada pola pikir masyarakat orang Jepang yang menyayangi binatang terutama kucing. Hujan pada musim gugur membawa tekanan udara rendah dari selatan sehingga membuat hari menjadi hangat. Kucing yang dianggap peka terhadap dingin akan merasa senang jika hujan turun di musim gugur. 3. 秋 の 扇 (aki no ougi) memiliki makna dimana seorang perempuan yang kehilangan cinta seorang laki-laki. Disatu sisi bisa diartikan melupakan kebaikan yang telah dilakukan sang kipas selama musim panas. Hal ini sama dengan sifat manusia yang bisa melupakan kebaikan seseorang. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan kebiasaan ochuugen お 中 元 yang artinya hadiah pertengahan tahun yang biasanya dilakukan pada pertengahan tahun (tepatnya bulan Juli, musim panas). Hal ini dilakukan agar tidak melupakan kebaikan yang pernah orang lain berikan pada kita. 4. 秋 の 日 と 娘 の 子 はくれぬようでくれる (aki no hi to musume no ko ha kurenu youni kureru) memiliki makna perumpamaan antara matahari di musim gugur dan anak perempuan. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan shuubun no hi yang artinya adalah hari ekuinoks atau puncak musim gugur. Dimana panjang waktu siang dan malam sama tidak ada bedanya. Jika sudah melewati puncak musim gugur, waktu pada siang hari akan menjadi lebih pendek. Pemikiran orang Jepang yang menggantungkan pada pengucapan kata kureru pun berdasarkan dari puncak musim gugur tersebut. 5. 秋 の 日 は 釣 瓶 落 とし (aki no hi ha tsurube otoshi) memiliki makna dimana hari musim gugur bagaikan menjatuhkan timba air pada sumur. Peribahasa ini memiliki relvansi dengan shuubun no hi yang artinya hari ekuinoks atau puncak musim gugur. Dimana panjang waktu siang dan malam sama tidak ada bedanya. Jika sudah melewati puncak musim gugur, waktu pada siang hari akan menjadi lebih pendek. Orang Jepang selalu memperhatikan sesuatu sangat mendetail, dengan adanya pemikiran dimana menyamakan matahari pada musim gugur dan timba air artinya ada pengaruh lingkungan dan juga tanggapan manusia terhadap perubahan alam sekitar, yang dimana keduanya merupakan faktor pembentuk kebudayaan. 6. いただくものは 夏 も 小 袖 貰 う 物 は 夏 も 小 袖 (itadaku mono ha natsu no kosode morau mono ha natsu no kosode) memiliki makna dimana seseorang yang tamak akan menerima apapun yang diberikan orang lain. Meskipun ia mendapatkan benda yang tidak ada gunanya sama sekali. Peribahasa ini memiliki relevansi yang lebih condong kepada pola pikir dimana yang telah di paparkan pada bab sebelumnya, kebudayaan adalah cara berpikir, cara merasa, cara meyakini, dan menganggap. 7. 一 葉 落 ちて 天 下 の 秋 を 知 る(ichyou ochite tenka no aki wo shiru) memiliki makna seseorang yang dapat memprediksi datangnya sebuah pertiwa dari pertanda yang kecil. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan pola pikir manusia Jepang. Peribahasa ini menggambarkan sebuah peristiwa yang terlintas pada musim gugur yang dijadikan

6 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 sebuah perumpamaan untuk memprediksi sebuah peristiwa. Pola pikir orang Jepang yang cepat tanggap terhadap suatu peristiwa bisa dianggap sebagai pengetahuan yang dimiliki oleh orang Jepang. 8. 男 心 と 秋 の 空 女 心 と 秋 の 空 (otoko gokoro to aki no sora onna gokoro to aki no sora) memiliki makna perasaan seseorang yang tidak bisa ditebak dan mudah berubah-ubah bagaikan langit musim gugur. Baik perempuan atau laki-laki dapat digambarkan dengan peribahasa ini. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan pola pikir manusia Jepang. Peribahasa ini merupakan sebuah penggambaran bahwa hari seseorang tidak mudah ditebak dan gampang berubah-ubah bagaikan langit pada musim gugur. 9. 夏 炉 冬 扇 (karou tousen) memiliki makna benda yang tidak memiliki fungsi atau sama sekali tidak berguna. Peribahasa ini memiliki relevansi yang lebih condong kepada pola pikir orang Jepang yang melihat fungsi benda tersebut. Lingkungan terutama musim dan manusia dalam sebuah negara tertentu merupakan faktor terbesar teciptanya sebuah kebudayaan. 10. 春 宵 一 刻 値 千 金 (shunshou ikkoku atai senkin) memiliki makna dimana malam hari yang terasa sangat nyaman pada musim semi. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan hanami atau melihat bunga sakura pada musim semi. Karena malam pada musim semi sangatlah nyaman dan cantik maka lahirlah kebudayaan yozakura 夜 桜 yang artinya sakura malam hari. Ini merupakan perkembangan dari hanami 花 見 yang biasa dilakukan oleh orang Jepang hanya saja melihat bunga sakura ini dilaksanakan pada malam hari dimana sinar terang rembulan menyinari dan bunga sakura yang berguguran membuat malam semakin nyaman dan cantik. Peribahasa ini sampai sekarang pun masih digunakan untuk menggambarkan musim semi yang tidak ternilai cantiknya. 11. 春 眠 暁 覚 えず (shunmin akatsuki oboezu) memiliki makna seseorang yang tertidur lelap sehingga tidak menyadari bahwa matahari telah terbit dikarenakan malam hari pada musim semi yang pendek dan nyaman. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan shunbun no hi yang artinya hari ekuinoks atau puncak musim semi. Merupakan salah satu penggambaran puncak musim semi atau hari ekuinoks musim semi yaitu hari dimana panjang waktu siang dan malam sama tidak ada bedanya. Jika sudah melewati puncak musim semi, waktu pada siang hari akan menjadi panjang. Sehingga orang Jepang merasa waktu istirahat mereka pada musim semi semakin berkurang. 12. 冬 至 十 日 経 てば 阿 呆 でも 知 る (touji tooka tateba ahou demo shiru) memiliki makna dimana orang bodoh sekali pun memahami bila matahari semakin lama tampak setelah melewati 10 hari setelah puncak musim dingin. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan touji atau puncak musim dingin. Adanya isyarat pada peribahasa ini merupakan sebuah peringatan berdasarkan pengalaman orang Jepang terhadap musim dingin. Peribahasa ini menyatakan hal yang jelas akan terjadi setelah melewati puncak musim dingin.

7 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning 13. 冬 至 冬 中 冬 始 め (touji fuyu naka fuyu hajime) memiliki makna puncak musim dingin merupakan musim dingin yang sebenarnya. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan touji atau puncak musim dingin. Puncak musim dingin bertepatan dengan pertengahan musim dingin yang dimana setelah melewati puncak musim dingin malam hari semakin lama dan angin malam akan menjadi lebih dingin daripada biasanya. Peribahasa ini pun berasal dari pemikiran dan pengalaman orang Jepang setelah melewati puncak musim dingin. 14. 飛 んで 火 に 入 る 夏 の 虫 (tonde hi ni iru natsu no mushi) memiliki makna seseorang yang membawa dirinya sendiri jatuh kedalam kemalangan atau bencana. Peribahasa ini memiliki relevansi yang lebih condong ke pola pikir manusia Jepang. Peribahasa ini menggambarkan keadaan lingkungan pada musim panas yang melihat serangga musim panas yang mendekati api atau lampu di musim panas akan membuatnya mati terbakar. 15. 夏 の 風 は 犬 も 食 わぬ (natsu no kaze ha inu mo kuwanu) memiliki makna melakukan hal yang sangat bodoh. Peribahasa ini memiliki relevansi yang lebih condong ke pola pikir manusia Jepang. Ada pepatah orang Jepang yang mengatakan baka ha kaze hikanu yang artinya orang bodoh pun tidak akan sakit flu (masuk angin). Peribahasa ini menggambarkan kebodohan yang fatal jika melewatkan musim panas dengan sakit flu. 16. 夏 の 虫 氷 を 笑 う (natsu no mushi koori wo warau) memiliki makna seseorang yang hanya memiliki pengetahuan serta pengalaman yang sedikit. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan dokusho shuukan yang artinya pekan membaca. Ini merupakan kebiasaan yang dibiasakan oleh orang Jepang untuk banyak membaca buku dan menambah wawasan. 17. 春 の 晩 飯 後 三 里 (haru no banmeshi ato sanri) memiliki makna dimana hari pada musim semi terasa sangat lama. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan shunbun no hi yang artinya hari ekuinoks atau puncak musim semi. Hari dimana panjang waktu siang dan malam sama tidak ada bedanya. Jika sudah melewati puncak musim semi, waktu pada siang hari akan menjadi panjang. 18. 一 人 娘 と 春 の 日 はくれそうでくれぬ (hitori musume to haru no hi ha kuresou de kurenu) memiliki makna perumpamaan antara matahari di musim semi dan anak perempuan. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan shunbun no hi yang artinya hari ekuinoks atau puncak musim semi. Hari dimana panjang waktu siang dan malam sama tidak ada bedanya. Pemikiran peribahasa ini menuju kepada kebudayaan pada musim semi dimana setelah hari ekuinoks, siang hari akan menjadi lebih panjang di banding malam hari. 19. 冬 来 たりなば 春 遠 からじ (fuyu kitarinaba haru tookaraji) memiliki makna walaupun sekarang, terasa pahit dan penuh ketidakbahagiaan, jika dapat bertahan melewati semuanya, maka disitulah akan menunggu prospek harapan yang cerah. Peribahasa ini memiliki relevansi dengan touji (puncak musim dingin) dan risshun (awal

8 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 musim semi) dimana kedua hal ini terjadi pada musim dingin. Setelah melewati puncak musim dingin maka akan datang awal musim semi yang hangat menyambut. 20. 物 言 えば 唇 寒 し 秋 の 風 (mono ieba kuchibiru samushi aki no kaze) memiliki makna seseorang yang merasa bahagia setelah mengumpat orang lain. Peribahas ini memiliki relevansi dengan pola pikir manusia Jepang. Peribahasa ini merupakan perumpamaan yang menggunakan kiasan kata angin musim gugur dimana suhu hembusan angin pada musim gugur akan semakin merendah dan menjadi dingin seperti saat kita mengumpat orang lain. D. KESIMPULAN Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan beberapa hal seperti berikut : 1. Peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim terdapat 20 peribahasa. 2. Dari 20 peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim terdapat 12 peribahasa yang terdapat relevansinya dengan kebudayaan yang berdasarkan musim. 3. Peribahasa Jepang yang tekait dengan musim tidak terbatas hanya untuk mengiaskan keadaan alam saja tetapi juga mengiaskan suatu kejadian atau sebuah nasehat yang tersirat di dalamnya. 4. Adanya keterkaitan antara keadaan lingkungan atau kebudayaan yang berdasarkan musim mempengaruhi pembentukan peribahasa. E. REFERENSI Johannes Moleong, L. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Sudjianto. (2007) Bahasa Jepang dalam Konteks Sosial dan Kebudayaannya. Bandung: UPI PRESS diambil dari : NG/ SUDJIANTO/7._Buku_Sosiolinguistik.pdf. (diakses tanggal 14 September 2014). Sugiyono. (2012) Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sulasman., & Gumilar, S. (2013) Teori-teori Kebudayaan dari Teori hingga Aplikasi. Bandung : Pustaka Setia. Sutedi, D. (2011b) Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung : Humaniora. Tumanggor, R., dkk. (2014) Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.

9 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning 日 本 文 化 と 関 係 がある 季 節 を 表 すことわざの 意 味 の 分 析 Mia Kharina Drs. H. Sudjianto, M.Hum. 1, Dra. Neneng Sutjiati, M.Hum. 2 インドネシア 教 育 大 学 言 語 文 芸 教 育 学 部 日 本 語 教 育 学 科 要 旨 文 化 というのは 生 活 の 中 に 発 展 し 社 会 も 強 調 し 合 い 世 代 に 残 された 物 である 文 化 の 進 化 と 環 境 は 強 く 関 係 があった 従 って 夫 々の 国 の 文 化 は 環 境 によって 異 なることが 多 い 気 候 あるいは 季 節 はその 一 つの 明 らかの 要 素 である 季 節 の 移 ろいは 国 に 発 展 した 文 化 を 影 響 した さらに 言 語 は 文 化 の 要 素 の 一 つである 言 語 と 言 うのは 日 常 会 話 だけでなく 文 学 や 諺 なども 勉 強 に 成 れる と 思 われる 例 えば ことわざというのは 日 本 人 の 知 恵 や 日 本 人 の 生 活 経 験 から 作 られた 物 である 日 本 人 は 日 常 生 活 を 表 現 する 時 に 時 々ことわざを 利 用 した 従 来 諺 の 意 味 は 日 本 語 学 習 者 には あまり 知 られてない 本 研 究 の 狙 いは 季 節 を 表 すことわざの 意 味 を 探 り 日 本 の 文 化 にどんな 関 係 があるかを 探 りたい 本 研 究 に 使 われたことわざは 季 節 を 表 すことわざ ( 春 夏 秋 冬 )に 限 られた 従 って 本 研 究 の 疑 問 は 以 下 のようである 1) 季 節 を 表 す 諺 から 形 成 された 日 本 の 諺 は 何 か 2) 季 節 を 表 す 諺 意 味 は 何 か 3) 季 節 を 表 す 諺 と 日 本 文 化 はどんな 関 係 があるか 研 究 問 題 を 解 決 するために 本 研 究 で 記 述 法 と 定 性 分 析 を 使 用 する 結 果 から 季 節 を 表 すことわざは20つがありその 中 に12つのことわざが 日 本 文 化 に 関 係 があった そのため 本 研 究 の 結 論 は ことわざはその 国 の 文 化 と 気 候 に 関 して 強 く 影 響 されたということが 分 かってきた キーワード:ことわざ 意 味 文 化 季 節 1 責 任 者 1 2 責 任 者 2

10 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 A. はじめに 文 化 というのは 生 活 の 中 に 発 展 し 社 会 も 強 調 し 合 い 世 代 に 残 された 物 である Cateora (dalam Sulasman 2013, hlm. 38) は 文 化 は 形 によって 文 化 の 物 質 文 化 の 非 物 質 社 会 の 組 織 信 仰 芸 術 言 語 の 6 つの 要 素 があった と 述 べている Sulasman (2013, hlm. 39) によると 文 化 の 要 素 は 国 々に 発 展 した 文 化 が 異 なった この 事 項 は 様 々な 要 因 に 影 響 され 地 形 の 要 因 はその 一 つ 特 に 国 の 気 候 あるいは 季 節 である と 述 べている 季 節 の 移 ろいは 国 に 発 展 した 文 化 を 影 響 した Tumanggor (2014, hlm. 20) は 人 間 と 文 化 は 強 く 関 係 があり そのため 人 間 はすでにその 文 化 自 身 であろう と 説 明 した 文 化 は 大 体 人 間 の 行 動 から 出 来 ていた 文 化 は 静 的 と 窮 屈 ではないが 社 交 に 流 されていき 文 化 は 人 間 の 生 活 を 易 しく する 役 目 がある 訳 であった そして 言 語 は 文 化 の 要 素 の 一 つである Cateora (dalam Sulasman 2013, hlm. 39) によると 言 語 は コミュニケーションの 媒 介 語 である と 述 べている 地 方 や 部 分 など 及 び 国 は 複 雑 な 言 語 の 違 いがあった 通 信 学 科 の 中 に 言 語 は 一 番 分 かりにくい 部 分 と 思 われる 言 語 の 特 質 は 特 異 と 複 雑 でその 言 語 を 利 用 する 人 だけが 分 かっていると 考 えられる Sudjianto (2007, hlm. 5) は 外 国 語 の 学 習 と 言 うのは 日 常 会 話 だけではない と 説 明 した 言 語 学 習 の 範 囲 は 様 々であり 例 えば 文 学 や 文 化 などである 言 語 は 日 常 会 話 だけでなく 多 数 文 学 手 段 が 学 習 対 象 に 成 れると 考 えられる 例 えば ことわざである ことわざというのは 日 本 人 の 知 恵 や 日 本 人 の 生 活 経 験 から 作 られた 物 である 日 本 人 は 日 常 生 活 を 表 現 する 時 に 時 々ことわざを 利 用 した 国 語 辞 典 (1986, hlm. 960) に よると ことわざは 昔 から 世 間 に 広 く 言 い 習 わされてきた 教 順 や 風 刺 など 含 んだ 短 句 と 説 明 した 国 語 辞 典 にことわざの 意 味 から 見 ると ことわざと 日 本 文 化 は 少 し 関 係 があった ことわざも 日 本 人

11 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning の 知 恵 や 季 節 の 変 化 などがあり 季 節 を 表 す 諺 はどんな 意 味 と 日 本 文 化 とどんな 関 係 があるかを 探 りたい 本 研 究 の 主 な 目 的 は 季 節 を 表 す 諺 の 意 味 はどんな 意 味 を 持 ってるかを 探 っていく ということで ある より 細 かい 目 標 としては 以 下 のようである 1. 季 節 を 表 す 諺 から 形 成 された 日 本 の 諺 を 探 る 2. 季 節 を 表 す 諺 意 味 を 探 っていく 3. 季 節 を 表 す 諺 と 日 本 文 化 はどんな 関 係 があるかを 探 る B. 研 究 の 方 法 本 研 究 では 記 述 法 を 用 いる Sutedi (2011, hlm. 20) によると 記 述 研 究 は 本 格 的 である 現 象 と 状 態 を 写 す 研 究 である と 述 べて いる Newton Bogdan と Taylor (dalam Moelong 2007, hlm. 4) 質 的 は デスクリプトのデータ 本 文 と 口 宣 や 観 察 された 行 儀 などを 到 達 した 方 法 である と 説 明 した 記 述 法 と 質 的 の 性 質 が 説 明 したとおり 本 研 究 に 使 われた 方 法 であり 本 研 究 のデータを 集 める 類 別 し 調 査 し そしてそのまま 説 明 した 研 究 の 手 順 としては 以 下 のようで ある 1. 季 節 を 表 すことわざを 集 めている 2. 集 めた 季 節 を 表 すことわざを 見 分 けり 調 査 し 解 釈 する 3. 集 めた 季 節 を 表 すことわざと 季 節 による 日 本 文 化 の 関 係 を 明 らか にする 4. 本 研 究 のデータ 集 めた 季 節 を 表 すことわざ を 加 工 し 結 論 を 作 る C. 分 析 の 結 果 本 研 究 に 基 づき 季 節 を 表 すことわざは 以 下 のようである 1. 秋 茄 子 嫁 に 食 わすな というのは 秋 口 のなすは 味 がいいから 嫁 には 食 わせたくない という 姑 の 意 地 悪 である 一 方 秋 のなす は 体 を 冷 やして 毒 になるから 大 事 な 嫁 には 食 わせないほうがいい と 嫁 を 案 じる 言 葉 と 思 われる このことわざは 実 りの 秋 と 関 係 が あり 実 りの 秋 というのは 秋 の 収 穫 ということである この 季 節

12 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 に 多 数 野 菜 や 果 物 などを 収 穫 された したがって 秋 の 野 菜 や 果 物 などが 美 味 しくなる 季 節 と 言 われる 実 際 このことわざの 意 味 は 日 本 にある 伝 説 を 指 す 秋 の 茄 子 は 種 類 が 少 ないので 嫁 に 食 わせたら 子 供 が 出 来 ないと 言 われた 2. 秋 の 雨 が 降 れば 猫 の 顔 が 三 尺 になる というのは 秋 になると 肌 寒 い 日 が 続 くが 雨 が 降 ると 南 方 からの 低 気 圧 のせいで 暖 かい そこで 寒 がりの 猫 が 三 尺 ( 役 九 十 センチメートル)も 顔 を 長 く して 喜 ぶということである 日 本 人 が 猫 が 大 好 き で こ の ことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があった 秋 の 雨 が 降 ると 南 方 からの 低 気 圧 のせいで 暖 かくなる 寒 がりの 猫 が 秋 の 雨 が 降 れば 喜 ぶということである 3. 秋 の 扇 というのは 不 要 のなった 秋 の 扇 に 託 して 男 性 の 愛 が 失 った 女 性 のたとえていうことである 一 方 夏 の 間 大 事 に 使 われた 扇 も 秋 が 来 ると 顧 みられなくなるという 意 味 を 持 って いる これも 人 間 と 同 じような 他 人 の 良 さが 忘 れるという 意 味 である このことわざはお 中 元 と 関 係 があり お 中 元 というのは 年 の 間 中 にある 文 化 で 親 戚 や 友 達 にプレゼントをあげるという ことである 他 人 の 良 さを 忘 れずにお 中 元 の 文 化 が 生 まれてきた 4. 秋 の 日 と 娘 の 子 はくれぬようでくれると いうのは 秋 の 日 と 娘 の 子 のたとえていうものである このことわざは 秋 分 の 日 と 関 係 があった 秋 分 の 日 は 昼 と 夜 の 時 間 が 大 体 同 じになる 日 である 秋 分 の 日 の 数 日 後 に 昼 の 時 間 が 短 くなった 日 本 人 の 考 え 方 暮 れる と くれる を 与 えたものである 5. 秋 の 日 は 釣 瓶 落 とし というのは 井 戸 の 中 へ 釣 瓶 が 垂 直 に 速 く 落 ちるように 秋 の 日 は 急 に 暮 れるということである この ことわざは 秋 分 の 日 に 関 係 があった 秋 分 の 日 は 昼 と 夜 の 時 間 が 大 体 同 じになる 日 である 秋 分 の 日 の 数 日 に 昼 の 時 間 が 短 く なった 日 本 人 は 精 密 な 人 と 言 われており 秋 の 日 と 井 戸 の 釣 瓶

13 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning のことを 例 えて 言 うものである そのため 文 化 の 要 素 を 作 るの は 自 然 の 変 わりと 人 の 意 見 も 含 めているということである 6. いただくものは 夏 も 小 袖 貰 う 物 は 夏 も 小 袖 というのは どんなものでももらうということで ひどく 欲 の 深 いことの たとえである 例 え 不 要 な 物 が もらうものなら 何 でも 構 わない という 意 味 にもいう このことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 が あった 文 化 というのは 考 え 方 や 進 行 仕 方 などを 表 すことである 7. 一 葉 落 ちて 天 下 の 秋 を 知 る というのは 小 さな 兆 しを 見 て やがってやってくる 出 来 事 を 察 知 することである このことわざ は 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があった このことわざは 秋 のにある 出 来 事 を 察 知 したもので やってくることを 例 えていうもので ある 日 本 人 はとある 出 来 事 に 反 応 が 早 く 日 本 の 知 恵 でもある と 思 われる 8. 男 心 と 秋 の 空 女 心 と 秋 の 空 というのは 秋 の 天 候 は 変 わり やすいものだが 人 の 心 も 同 じように 変 わりやすく 移 り 気 だと いうことである このことわざは 場 合 によって 男 と 女 も 使 えられるこのことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があった この ことわざは 秋 の 空 と 同 じようで 人 に 心 は 変 わりやすく 簡 単 に 当 たれらないと 表 している 9. 夏 炉 冬 扇 というのは 時 期 外 れで 何 の 役 にも 立 たないものの たとえである このことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があり 物 の 機 能 あるいは 役 目 のことを 考 え 日 本 人 の 知 恵 である 文 化 の 要 素 は 大 体 自 然 特 に 季 節 とその 国 に 暮 らした 人 間 である 10. 春 宵 一 刻 値 千 金 というのは 春 の 夜 の 気 持 ちよさをいう 言 葉 ことである このことわざは 花 見 と 関 係 があった 春 の 夜 は 非 常 に 機 構 で 気 持 ちい 夜 ですから 夜 桜 の 文 化 が 生 まれてきた 花 見 と 同 じようなことが 夜 桜 というのは 夜 の 眺 めで 桜 を 見 に 行 くということである このことわざも 春 のよさを 表 すときに いまだに 使 われている

14 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 春 眠 暁 覚 えず というのは 春 の 夜 は 短 いうえに 気 候 が 快 適 で 夜 明 けも 知 らずに 気 持 ちよく 眠 り 込 んでしまうことである この ことわざは 春 分 の 日 と 関 係 があった 春 分 の 日 は 昼 と 夜 の 時 間 が 大 体 同 じになる 日 である 春 分 の 日 の 数 日 後 には 昼 の 時 間 が 長 くなった 従 って 日 本 人 は 夜 に 休 みの 時 間 が 少 なくなったと 思 わられる 12. 冬 至 十 日 経 てば 阿 呆 でも 知 る というのは 冬 至 から 十 日 も たてば めっきりと 日 が 長 くなるので どんな 愚 か 者 でも 気 がつくということである このことわざは 冬 至 と 関 係 があった このことわざに 冬 に 対 しての 経 験 によって 警 告 が 隠 されている このことわざは 冬 至 を 通 過 し 矢 賀 ってやってくる 出 来 事 を 警 告 したことである 13. 冬 至 冬 中 冬 始 め というのは 冬 至 のころは 実 際 の 冬 の 寒 さは それ 以 後 に 始 まるものだということである このことわざは 冬 至 と 関 係 があった 冬 至 は 冬 の 中 にあり 冬 至 から 数 日 を 通 れば 冬 の 本 当 に 寒 さを 知 るということである このことわざも 日 本 人 が 冬 に 経 験 した 出 来 事 から 作 られたものである 14. 飛 んで 火 に 入 る 夏 の 虫 というのは 自 ら 進 んで 災 いの 中 に 身 を 投 じるたとえである このことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 が あった このことわざ 夏 の 間 に 生 きる 夏 の 虫 は 火 や 囲 炉 裏 に 寄 って 火 に 飛 び 込 んで 死 んでしまうことである 15. 夏 の 風 は 犬 も 食 わぬ というのはまったく 馬 鹿 らしいことだと いうことである このことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があった 馬 鹿 は 風 引 かぬという 格 言 があった このことわざは 夏 に 風 が 引 いたら 馬 鹿 なことをしたとあらわしたことである 16. 夏 の 虫 氷 を 笑 う というのは 自 分 の 狭 い 見 聞 だけで 世 間 を 判 断 するたとえである このことわざは 秋 にある 読 書 週 間 と 関 係 が あった 日 本 人 は 知 識 を 増 えるためにこの 習 慣 を 作 って この ようなことわざが 生 まれてきた

15 Kharina, Sudjianto, Sutjiati, Analysis the Meaning 17. 春 の 晩 飯 後 三 里 というのは 春 の 日 が 長 いということである このことわざは 春 分 の 日 と 関 係 があった 春 分 の 日 は 昼 と 夜 の 時 間 が 大 体 同 じになる 日 である 春 分 の 日 の 数 日 後 には 昼 の 時 間 が 長 くなった 18. 一 人 娘 と 春 の 日 はくれそうでくれぬ というのは 一 人 娘 と 春 の 日 のたとえていうものである このことわざは 春 分 の 日 と 関 係 が あった 春 分 の 日 は 昼 と 夜 の 時 間 が 大 体 同 じになる 日 である 春 分 の 日 の 数 日 後 に 昼 の 時 間 が 夜 の 時 間 より 長 くなった 日 本 人 の 考 え 方 暮 れる と くれる を 与 えたものである 19. 冬 来 たりなば 春 遠 からじ というのはつらく 厳 しい 境 遇 を 堪 え 抜 けば 必 ず 幸 せな 繁 栄 のときが 来 るというたとえである このことわざは 冬 にある 文 化 の 冬 至 と 立 春 と 関 係 があった 冬 の 辛 さに 与 えれば 暖 かい 春 が 待 っていることを 表 している 20. 物 言 えば 唇 寒 し 秋 の 風 というのは 人 の 悪 口 を 言 うと 後 で 自 分 自 身 愉 快 な 思 いをする このことわざは 日 本 人 の 考 え 方 と 関 係 があった このことわざは 秋 の 風 と 同 じようなことで 人 の 悪 口 を 言 うと 寒 気 が 寄 ってくる D. 結 論 本 研 究 の 結 論 は 以 下 のようである 1. ことわざ 辞 典 から 季 節 を 表 すことわざは 20 つ 発 見 された 2. 発 見 された 20 つのことわざから 12 つのことわざが 日 本 文 化 に 関 係 があった 3. 季 節 を 表 すことわざは 自 然 を 表 すだけでなく とある 出 来 事 や 忠 告 などを 表 している 4. ことわざは 自 然 あるいは 季 節 に 影 響 される 文 化 が 裏 付 けている E. 参 考 文 献 Moleong, L.J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

16 JAPANEDU, Vol. 1, No. 1, Juni 2016 Sudjianto. (2007) Bahasa Jepang dalam Konteks Sosial dan Kebudayaannya. Bandung: UPI PRESS diambil dari : NG/ SUDJIANTO/7._Buku_Sosiolinguistik.pdf. (diakses tanggal 14 September 2014). Sugiyono. (2012) Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sulasman., & Gumilar, S. (2013) Teori-teori Kebudayaan dari Teori hingga Aplikasi. Bandung : Pustaka Setia. Sutedi, D. (2011b) Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung : Humaniora. Tumanggor, R., dkk. (2014) Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.

映画 野ブタをプロデュース における社会的 現象 苛め の分析

映画 野ブタをプロデュース における社会的 現象 苛め の分析 映画 野ブタをプロデュース における社会的 現象 苛め の分析 ノフィセチアワチ 0142012 マラナターキリスト教大学文学部日本語学科バンドン 2007 序論 苛めとは 弱い者を痛めつけることである 痛めつける方法は肉体的にも非肉体的つまり精神的によって為すことが出来る それにより 苛めを受ける人間は苦悩を味わうのである よく言われるように 日本の社会では集団が大きな役割を果しているのである 中根

Lebih terperinci

DEIKSIS WAKTU DALAM DRAMA CLEOPATRA NA ONNATACHI KARYA OOISHI SHIZUKA SKRIPSI OLEH DEASSA CHINTIA SERA NIM

DEIKSIS WAKTU DALAM DRAMA CLEOPATRA NA ONNATACHI KARYA OOISHI SHIZUKA SKRIPSI OLEH DEASSA CHINTIA SERA NIM DEIKSIS WAKTU DALAM DRAMA CLEOPATRA NA ONNATACHI KARYA OOISHI SHIZUKA SKRIPSI OLEH DEASSA CHINTIA SERA NIM 0911120086 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sutedi (2003:2) mengatakan, Bahasa digunakan sebagai alat untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Sutedi (2003:2) mengatakan, Bahasa digunakan sebagai alat untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prawiroatmodjo & Hoed (1997:115) dalam Dasar Dasar Linguistik Umum, menyatakan peranan bahasa sebagai berikut: Peranan bahasa dalam kehidupan manusia besar sekali.

Lebih terperinci

CARA EFEKTIF DALAM PEMEROLEHAN DAN PENGUASAAN GOI DALAM MATA KULIAH KAIWA ABSTRAK

CARA EFEKTIF DALAM PEMEROLEHAN DAN PENGUASAAN GOI DALAM MATA KULIAH KAIWA ABSTRAK CARA EFEKTIF DALAM PEMEROLEHAN DAN PENGUASAAN GOI DALAM MATA KULIAH KAIWA Aji Setyanto Universitas Brawijaya adjie_brawijaya@yahoo.co.jp ABSTRAK Dalam pembelajaran bahasa asing, goi (kosa kata), adalah

Lebih terperinci

membahas dari penggunaan dan arti tiga kata kerja tersebut,...ok,...he,.,he,.,he,.,.

membahas dari penggunaan dan arti tiga kata kerja tersebut,...ok,...he,.,he,.,he,.,. 1.Dasar nya :Unkapan Pemberian dan Penerimaan Di bagian ini saya akan membahas lebih dalam mengenai pola kalimat sopan,.yang inti dari pelajaran bahasa jepang level 3 yaitu pola kalimat sopan,bentuk sopan

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini akan menjelaskan teori-teori yang akan digunakan. Teori yang akan

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini akan menjelaskan teori-teori yang akan digunakan. Teori yang akan Bab 2 Landasan Teori Pada bab ini akan menjelaskan teori-teori yang akan digunakan. Teori yang akan digunakan adalah konsep dalam bahasa Jepang, konsep kanji, teori pembentukkan kanji (rikusho) dan nikuzuki

Lebih terperinci

DEIKSIS DALAM ANIME TONARI NO KAIBUTSUKUN KARYA ROBICO SKRIPSI OLEH ELFIRA HABSARI NIM 105110200111079

DEIKSIS DALAM ANIME TONARI NO KAIBUTSUKUN KARYA ROBICO SKRIPSI OLEH ELFIRA HABSARI NIM 105110200111079 DEIKSIS DALAM ANIME TONARI NO KAIBUTSUKUN KARYA ROBICO SKRIPSI OLEH ELFIRA HABSARI NIM 105110200111079 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Sintaksis merupakan salah satu bidang kajian dalam linguistik.sintaksis berasal

Bab 2. Landasan Teori. Sintaksis merupakan salah satu bidang kajian dalam linguistik.sintaksis berasal Bab 2 Landasan Teori 2.1. Teori Sintaksis Sintaksis merupakan salah satu bidang kajian dalam linguistik.sintaksis berasal dari bahasa Yunani sun yang berarti dengan dan kata tattein yang berarti menempatkan.

Lebih terperinci

SISTEM PENDIDIKAN PADA ZAMAN SHOUWA DI JEPANG DALAM NOVEL NIJUSHI NO HITOMI KARYA SAKAE TSUBOI

SISTEM PENDIDIKAN PADA ZAMAN SHOUWA DI JEPANG DALAM NOVEL NIJUSHI NO HITOMI KARYA SAKAE TSUBOI SKRIPSI SISTEM PENDIDIKAN PADA ZAMAN SHOUWA DI JEPANG DALAM NOVEL NIJUSHI NO HITOMI KARYA SAKAE TSUBOI AGUSTINE CINDY AMELIA MEDA 1101705035 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PELANGGARAN TERHADAP MAKSIM PRINSIP SOPAN SANTUN DALAM KOMIK CRAYON SHINCHAN VOLUME 1 SKRIPSI OLEH PUTRI SATYA PRATIWI NIM

PELANGGARAN TERHADAP MAKSIM PRINSIP SOPAN SANTUN DALAM KOMIK CRAYON SHINCHAN VOLUME 1 SKRIPSI OLEH PUTRI SATYA PRATIWI NIM PELANGGARAN TERHADAP MAKSIM PRINSIP SOPAN SANTUN DALAM KOMIK CRAYON SHINCHAN VOLUME 1 SKRIPSI OLEH PUTRI SATYA PRATIWI NIM 105110201111022 PROGRAM S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS ILMU

Lebih terperinci

METODE PENGAJARAN MENULIS Sudjianto (Universitas Pendidikan Indonesia)

METODE PENGAJARAN MENULIS Sudjianto (Universitas Pendidikan Indonesia) METODE PENGAJARAN MENULIS Sudjianto (Universitas Pendidikan Indonesia) A. Pengantar Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang sifatnya produktif, menghasilkan, memberi, atau menyampaikan.

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN PENULISAN KALIMAT PADU PADA KARANGAN MAHASISWA TINGKAT III PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

ANALISIS KESALAHAN PENULISAN KALIMAT PADU PADA KARANGAN MAHASISWA TINGKAT III PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG ANALISIS KESALAHAN PENULISAN KALIMAT PADU PADA KARANGAN MAHASISWA TINGKAT III PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Ari

Lebih terperinci

MAKNA IMPERATIF YANG TERKANDUNG DALAM TULISAN IKLAN KOSMETIK BERBAHASA JEPANG Tinjauan Sosiopragmatik. Oleh:

MAKNA IMPERATIF YANG TERKANDUNG DALAM TULISAN IKLAN KOSMETIK BERBAHASA JEPANG Tinjauan Sosiopragmatik. Oleh: SKRIPSI MAKNA IMPERATIF YANG TERKANDUNG DALAM TULISAN IKLAN KOSMETIK BERBAHASA JEPANG Tinjauan Sosiopragmatik Oleh: DWI FIRMA SARI BP. 07 187 011 JURUSAN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Kalimat majemuk dalam bahasa Jepang disebut dengan Fukubun( 複文 ). Dalam

Bab 2. Landasan Teori. Kalimat majemuk dalam bahasa Jepang disebut dengan Fukubun( 複文 ). Dalam Bab 2 Landasan Teori Kalimat majemuk dalam bahasa Jepang disebut dengan Fukubun( 複文 ). Dalam kalimat majemuk antara kalimat bagian depan dan bagian belakang saling berkaitan satu dengan lain. Salah satu

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 PANDUAN MATERI SMA DAN MA BAHASA JEPANG PROGRAM STUDI BAHASA PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BEKI DAN HOU GA II SEBAGAI MODALITAS TOUI (DEONTIK) DALAM DRAMA HANZAWA NAOKI EPISODE 1-10 KARYA KATSUO FUKUZAWA SKRIPSI

PENGGUNAAN BEKI DAN HOU GA II SEBAGAI MODALITAS TOUI (DEONTIK) DALAM DRAMA HANZAWA NAOKI EPISODE 1-10 KARYA KATSUO FUKUZAWA SKRIPSI PENGGUNAAN BEKI DAN HOU GA II SEBAGAI MODALITAS TOUI (DEONTIK) DALAM DRAMA HANZAWA NAOKI EPISODE 1-10 KARYA KATSUO FUKUZAWA SKRIPSI OLEH SITI ZULAIKAH NIM 105110201111076 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG JURUSAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan manusia dari jaman primitif hingga masa modern. Komunikasi berperan sangat penting dalam menjalin

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam Bab 2 Landasan Teori Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini. Teori tersebut antara lain, Teori Keigo yang berupa sonkeigo ( 尊敬語 ) dan kenjoogo

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. berarti. Istilah semantik berpadanan dengan kata semantique dalam bahasa Perancis

Bab 2. Landasan Teori. berarti. Istilah semantik berpadanan dengan kata semantique dalam bahasa Perancis Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Semantik Kata semantik berasal dari kata Yunani, semainen yang artinya bermakna atau berarti. Istilah semantik berpadanan dengan kata semantique dalam bahasa Perancis yang

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Setiap cerita pasti memiliki tokoh karena tokoh merupakan bagian penting dalam

Bab 2. Landasan Teori. Setiap cerita pasti memiliki tokoh karena tokoh merupakan bagian penting dalam Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Penokohan Setiap cerita pasti memiliki tokoh karena tokoh merupakan bagian penting dalam suatu cerita. Menurut Nurgiyantoro (2012), penokohan adalah pelukisan gambaran yang

Lebih terperinci

KESULITAN LULUSAN PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG YANG BEKERJA DI PERUSAHAAN JEPANG

KESULITAN LULUSAN PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG YANG BEKERJA DI PERUSAHAAN JEPANG KESULITAN LULUSAN PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG YANG BEKERJA DI PERUSAHAAN JEPANG Skripsi untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Diyah Fitri Rakhmawati NIM :

Lebih terperinci

家族構成 Susunan Keluarga 続柄 氏 名 生年月日 性別 国籍 地域 ( 又は常居所を Hubungan Nama Tanggal Lahir きょうだい ( 計 人 ) ( 注 )6 人以上は別紙を提出してください Saudara (Jumlah ) (Catatan) Jika

家族構成 Susunan Keluarga 続柄 氏 名 生年月日 性別 国籍 地域 ( 又は常居所を Hubungan Nama Tanggal Lahir きょうだい ( 計 人 ) ( 注 )6 人以上は別紙を提出してください Saudara (Jumlah ) (Catatan) Jika 別記第七十四号様式 ( 第五十五条関係 ) Formulir lampiran nomor 74 (Berhubungan dengan Pasal 55) 日本国政府法務省 Kementerian Kehakiman Jepang 法務大臣殿 Kepada: Bapak/Ibu Menteri Kehakiman 氏 Nama 名 生年月日 Tanggal Lahir 国籍 地域 ( 又は常居所を有していた国名

Lebih terperinci

資料 1 以下のアンケートは 松尾慎( 東海大學 : 台湾 台中市 ) が実際に行ったアンケートから冒頭の挨拶部分を抜いて編集したものです したがいまして アンケート内容の著作権は松尾慎に属していますので流用はご遠慮ください ( 松尾慎 )

資料 1 以下のアンケートは 松尾慎( 東海大學 : 台湾 台中市 ) が実際に行ったアンケートから冒頭の挨拶部分を抜いて編集したものです したがいまして アンケート内容の著作権は松尾慎に属していますので流用はご遠慮ください ( 松尾慎 ) 資料 1 以下のアンケートは 松尾慎( 東海大學 : 台湾 台中市 ) が実際に行ったアンケートから冒頭の挨拶部分を抜いて編集したものです したがいまして アンケート内容の著作権は松尾慎に属していますので流用はご遠慮ください ( 松尾慎 ) Saya Matsuo Shin, mahasiswa Program Doktoral Universitas Osaka, di Jepang. Saat,

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh : 歩く 倒れる 話す.

Bab 2. Landasan Teori. perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh : 歩く 倒れる 話す. Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Hinshi Masuoka dan Takubo (1992:8) membagi hinshi 品詞 atau kelas kata ke dalam beberapa jenis, yaitu : 1. Doushi 動詞 (verba), yaitu salah satu jenis kelas kata yang dapat mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa di dunia memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa di dunia memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Untuk berkomunikasi antar sesama, manusia menggunakan bahasa. Menurut Sutedi, bahasa digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penutur dan petutur dipengaruhi oleh budaya. Sebagian besar kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. penutur dan petutur dipengaruhi oleh budaya. Sebagian besar kebudayaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa dan budaya sangat berkaitan satu sama lain. Sikap berbicara penutur dan petutur dipengaruhi oleh budaya. Sebagian besar kebudayaan membiasakan penutur

Lebih terperinci

PERJUANGAN TOKOH AOYAGI KOHARU SEBAGAI SINGLE MOTHER DI JEPANG DALAM DRAMA WOMAN KARYA SUTRADARA NOBUO MIZUTA SKRIPSI

PERJUANGAN TOKOH AOYAGI KOHARU SEBAGAI SINGLE MOTHER DI JEPANG DALAM DRAMA WOMAN KARYA SUTRADARA NOBUO MIZUTA SKRIPSI PERJUANGAN TOKOH AOYAGI KOHARU SEBAGAI SINGLE MOTHER DI JEPANG DALAM DRAMA WOMAN KARYA SUTRADARA NOBUO MIZUTA SKRIPSI OLEH BUANA MARCHEL ANGELINA 0911123024 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA

Lebih terperinci

BAB 2. Landasan Teori. Verba bantu (jodoushi) merupakan unsur kalimat yang masuk ke dalam jenis kata

BAB 2. Landasan Teori. Verba bantu (jodoushi) merupakan unsur kalimat yang masuk ke dalam jenis kata BAB 2 Landasan Teori 2.1 Teori Sintaksis Verba bantu (jodoushi) merupakan unsur kalimat yang masuk ke dalam jenis kata (hinshi) dalam bidang garapan sintaksis (Nita dalam Sutedi, 2003, hal.70). Berikut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bantu, atau postposisi termasuk dalam kelompok fuzokugo. Menurut Sudjianto

BAB I PENDAHULUAN. bantu, atau postposisi termasuk dalam kelompok fuzokugo. Menurut Sudjianto BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Joshi dalam bahasa Jepang yang dikenal dengan istilah partikel, kata bantu, atau postposisi termasuk dalam kelompok fuzokugo. Menurut Sudjianto dan Dahidi (2007:181),

Lebih terperinci

ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU Skripsi diajukan dalam rangka penyelesaian studi strata 1 untuk memeroleh gelar Sarjana Pendidikan

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DATA. mencoba untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang telah saya temukan

BAB 3 ANALISIS DATA. mencoba untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang telah saya temukan BAB 3 ANALISIS DATA Berdasarkan pada teori-teori yang ada pada bab dua, pada bab tiga ini, saya akan mencoba untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang telah saya temukan dalam komik yang menjadi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Ilmu bahasa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna dari sebuah komunikasi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Ilmu bahasa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna dari sebuah komunikasi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Pragmatik Ilmu bahasa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna dari sebuah komunikasi seperti apa yang ingin disampaikan oleh penutur (penulis) dan diterjemahkan oleh

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Setiawati (2005, hal.114), menerangkan bahwa semantik merupakan bidang linguistik

Bab 2. Landasan Teori. Setiawati (2005, hal.114), menerangkan bahwa semantik merupakan bidang linguistik Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Semantik Setiawati (2005, hal.114), menerangkan bahwa semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari makna tanda bahasa. Menurut Ogden dan Richards dalam Setiawati

Lebih terperinci

GAMBARAN IJIME DALAM MANGA NINJA HATTORI-KUN VOLUME 1, 3, DAN 4 KARYA FUJIKO FUJIO A. SKRIPSI OLEH: TIO PRAKOSO DARMAWAN NIM 0911120186

GAMBARAN IJIME DALAM MANGA NINJA HATTORI-KUN VOLUME 1, 3, DAN 4 KARYA FUJIKO FUJIO A. SKRIPSI OLEH: TIO PRAKOSO DARMAWAN NIM 0911120186 GAMBARAN IJIME DALAM MANGA NINJA HATTORI-KUN VOLUME 1, 3, DAN 4 KARYA FUJIKO FUJIO A. SKRIPSI OLEH: TIO PRAKOSO DARMAWAN NIM 0911120186 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS

Lebih terperinci

PENGGUNAAN WAKAMONO KOTOBA YABAI BERDASAR GENDER DI KALANGAN ANAK MUDA JEPANG (STUDI KASUS MAHASISWA UNIVERSITAS KANAZAWA) SKRIPSI

PENGGUNAAN WAKAMONO KOTOBA YABAI BERDASAR GENDER DI KALANGAN ANAK MUDA JEPANG (STUDI KASUS MAHASISWA UNIVERSITAS KANAZAWA) SKRIPSI PENGGUNAAN WAKAMONO KOTOBA YABAI BERDASAR GENDER DI KALANGAN ANAK MUDA JEPANG (STUDI KASUS MAHASISWA UNIVERSITAS KANAZAWA) SKRIPSI OLEH: LADY YURIKA RIZKY NIM 0911120125 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG JURUSAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antara lain dengan berkomunikasi. Mengenai komunikasi ini, Kamus Besar

BAB I PENDAHULUAN. antara lain dengan berkomunikasi. Mengenai komunikasi ini, Kamus Besar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan harus berinteraksi dengan sesamanya. Salah satu cara berinteraksi antara lain

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KATA BENDA FORMALITAS TOKORO DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語文における 形式名詞ところ の意味使用 JURNAL

PENGGUNAAN KATA BENDA FORMALITAS TOKORO DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語文における 形式名詞ところ の意味使用 JURNAL PENGGUNAAN KATA BENDA FORMALITAS TOKORO DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語文における 形式名詞ところ の意味使用 JURNAL Oleh Stenlly O. G Arobaya 090915003 Bahasa Jepang UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS ILMU BUDAYA MANADO

Lebih terperinci

国家試験に合格した EPA 看護師 介護福祉士候補者が EPA 看護師 介護福祉士として就労する際の手続きについて

国家試験に合格した EPA 看護師 介護福祉士候補者が EPA 看護師 介護福祉士として就労する際の手続きについて 国家試験に合格した EPA 看護師 介護福祉士候補者が EPA 看護師 介護福祉士として就労する際の手続きについて 平成 28 年 2 月 26 日 公益社団法人国際厚生事業団 受入支援部 1. はじめに 経済連携協定 (EPA) に基づき入国をした EPA 候補者が 看護師国家試験または介護福祉士国家試験に 合格し 引き続き EPA 看護師 介護福祉士として就労を希望する場合には 以下の手続きが必要となります

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. antaranya adalah partikel atau kata bantu yang disebut joshi ( 助詞 ). Joshi dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. antaranya adalah partikel atau kata bantu yang disebut joshi ( 助詞 ). Joshi dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada gramatika bahasa Jepang banyak terdapat keistimewaan. Salah satu di antaranya adalah partikel atau kata bantu yang disebut joshi ( 助詞 ). Joshi dalam kalimat

Lebih terperinci

ANALISIS KESIAPAN GURU BAHASA JEPANG DALAM MENERAPKAN KURIKULUM 2013

ANALISIS KESIAPAN GURU BAHASA JEPANG DALAM MENERAPKAN KURIKULUM 2013 ANALISIS KESIAPAN GURU BAHASA JEPANG DALAM MENERAPKAN KURIKULUM 2013 Skripsi diajukan dalam rangka penyelesaian studi strata 1 untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Oleh Nur Hidayanti NIM 2302410023

Lebih terperinci

KESANTUNAN UNGKAPAN PERMINTAAN MAAF BAHASA JEPANG (Studi Kasus Mahasiswa Jepang Peserta Tabunka Kouryuu in Malang) SKRIPSI

KESANTUNAN UNGKAPAN PERMINTAAN MAAF BAHASA JEPANG (Studi Kasus Mahasiswa Jepang Peserta Tabunka Kouryuu in Malang) SKRIPSI KESANTUNAN UNGKAPAN PERMINTAAN MAAF BAHASA JEPANG (Studi Kasus Mahasiswa Jepang Peserta Tabunka Kouryuu in Malang) SKRIPSI OLEH: IRLYANA SEFTYA LINDIASARI NIM 105110201111038 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan mendekripsikan hasil analisis data mengenai kesalahan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan mendekripsikan hasil analisis data mengenai kesalahan BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tes Pada bab ini penulis akan mendekripsikan hasil analisis data mengenai kesalahan responden dalam menggunakan keigo. Instrumen berupa tes dan non tes disebarkan

Lebih terperinci

MAKNA MUSIM DALAM SURAT MENYURAT BAHASA JEPANG

MAKNA MUSIM DALAM SURAT MENYURAT BAHASA JEPANG MAKNA MUSIM DALAM SURAT MENYURAT BAHASA JEPANG Sherly Ferro Lensun Abstrak Dalam berkomunikasi, orang Jepang seringkali menggunakan surat, hal ini dilakukan karena dengan surat orang dapat menjelaskan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG BERASAL DARI JAWA DAN LUAR JAWA DI SMK BAGIMU NEGERIKU SEMARANG

PERBANDINGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG BERASAL DARI JAWA DAN LUAR JAWA DI SMK BAGIMU NEGERIKU SEMARANG PERBANDINGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG BERASAL DARI JAWA DAN LUAR JAWA DI SMK BAGIMU NEGERIKU SEMARANG SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Mega Silvia Jelita NIM : 2302411004

Lebih terperinci

Bab 2 Landasan Teori. memiliki arti ksatria yang bertarung. Mereka adalah kelas yang memiliki hak-hak

Bab 2 Landasan Teori. memiliki arti ksatria yang bertarung. Mereka adalah kelas yang memiliki hak-hak Bab 2 Landasan Teori 2.1 Konsep Bushi Bushi( 武士 )atau yang disebut juga dengan buke( 武家 )secara harafiah memiliki arti ksatria yang bertarung. Mereka adalah kelas yang memiliki hak-hak istimewa yang masih

Lebih terperinci

PENGGUNAAN PARTIKEL で DAN に OLEH MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

PENGGUNAAN PARTIKEL で DAN に OLEH MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR PENGGUNAAN PARTIKEL DAN OLEH MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR Imelda Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Jln. Perintis Kemerdekaan KM.10,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki bahasa yang berbeda-beda, serta memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki bahasa yang berbeda-beda, serta memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara memiliki bahasa yang berbeda-beda, serta memiliki keunikan tersendiri. Salah satu bahasa yang memiliki keunikan dan karakteristik yaitu bahasa

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori Bab 2 Landasan Teori Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan menggunakan beberapa landasan teori untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Teori-teori yang digunakan tersebut antara lain: 2.1 Tinjauan

Lebih terperinci

Untuk Menjamin Keselamatan dan Kesehatan Peserta Praktik Kerja Orang Asing yang Bekerja di Bidang Industri Pertanian

Untuk Menjamin Keselamatan dan Kesehatan Peserta Praktik Kerja Orang Asing yang Bekerja di Bidang Industri Pertanian Untuk Peserta Praktik Kerja Untuk Menjamin Keselamatan dan Kesehatan Peserta Praktik Kerja Orang Asing yang Bekerja di Bidang Industri Pertanian Marilah semua pihak yang berkepentingan bekerja-sama berusaha

Lebih terperinci

ELIPSIS SUBJEK DAN OBJEK DALAM FILM SPIRITED AWAY KARYA HAYAO MIYAZAKI SKRIPSI OLEH DYAH LOVITA MAHARANI NIM

ELIPSIS SUBJEK DAN OBJEK DALAM FILM SPIRITED AWAY KARYA HAYAO MIYAZAKI SKRIPSI OLEH DYAH LOVITA MAHARANI NIM ELIPSIS SUBJEK DAN OBJEK DALAM FILM SPIRITED AWAY KARYA HAYAO MIYAZAKI SKRIPSI OLEH DYAH LOVITA MAHARANI NIM. 0911120017 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PARTIKEL NI DAN DE

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PARTIKEL NI DAN DE ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PARTIKEL NI DAN DE Elisa Carolina Marion Japanese Department, Faculty of Literature, Bina Nusantara University, Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45, Kemanggisan/Palmerah, Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bahasa Jepang dikenal tiga jenis huruf, yaitu huruf kana, yang terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bahasa Jepang dikenal tiga jenis huruf, yaitu huruf kana, yang terdiri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam bahasa Jepang dikenal tiga jenis huruf, yaitu huruf kana, yang terdiri dari huruf katakana dan hiragana; huruf romaji atau huruf latin, serta huruf kanji. Ketiga

Lebih terperinci

KISI KISI SOAL POSTTEST. Kompetensi Dasar 毎日の生活

KISI KISI SOAL POSTTEST. Kompetensi Dasar 毎日の生活 KISI KISI SOAL POSTTEST Satuan Pendidikan : SMA Mata Pelajaran : Bahasa Jepang Kelas / Semester : XII / 2 Alokasi Waktu : 10 Menit Jumlah Soal : 20 butir Penulis : Azka D. Nurilmatin N o Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi, untuk

BAB I PENDAHULUAN. Manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi, untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi, untuk menyampaikan ide, gagasan perasaan maupun sikap. Komunikasi terjadi dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis.

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Indonesia maupun bahasa Jepang dengan menggunakan beberapa teori beserta Definisi Modalitas Dalam Bahasa Indonesia

Bab 2. Landasan Teori. Indonesia maupun bahasa Jepang dengan menggunakan beberapa teori beserta Definisi Modalitas Dalam Bahasa Indonesia Bab 2 Landasan Teori 2.1 Definisi Modalitas Dalam bab ini saya akan menjelaskan definisi modalitas baik dari segi bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang dengan menggunakan beberapa teori beserta pembagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa dari berbagai negara memiliki ciri universal dan ciri khusus.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa dari berbagai negara memiliki ciri universal dan ciri khusus. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa dari berbagai negara memiliki ciri universal dan ciri khusus. Begitu pula dalam bahasa Jepang yang memiliki ciri khusus. Salah satu ciri khusus tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Definisi bahasa menurut Kridalaksana (2001 : 27) adalah sistem lambang

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Definisi bahasa menurut Kridalaksana (2001 : 27) adalah sistem lambang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi makhluk hidup di seluruh dunia. Bahasa adalah sarana pokok yang digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi untuk menyampaikan

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Jepang adalah salah satu negara yang sangat berhasil dalam menerapkan manajemen

Bab 2. Landasan Teori. Jepang adalah salah satu negara yang sangat berhasil dalam menerapkan manajemen Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Manajemen Kualitas Jepang adalah salah satu negara yang sangat berhasil dalam menerapkan manajemen kualitas yang berorientasi pada kemanusiaan. Pola manajemen kualitas yang

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Tanda Baca Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat atau yang menyatakan sesuatu: dari kejauhan terdengar sirene -- bahaya; 2 gejala: sudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa memiliki nuansa makna yang berbeda pada setiap struktur

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa memiliki nuansa makna yang berbeda pada setiap struktur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap bahasa memiliki nuansa makna yang berbeda pada setiap struktur kalimatnya. Makna kalimat tersebut ditandai dengan hadirnya tanda baca, atau kata-kata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh para anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan

BAB I PENDAHULUAN. oleh para anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan interaksi dengan sesama manusia lain dalam kehidupannya. Manusia berinteraksi tidak hanya dengan menggunakan

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. aspek belajar mengajar. Dalam setiap proses pembelajaran dan pengajaran komponen

Bab 2. Landasan Teori. aspek belajar mengajar. Dalam setiap proses pembelajaran dan pengajaran komponen Bab 2 Landasan Teori 2.1 Evaluasi Evaluasi pendidikan adalah salah satu tugas penting yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan. Porsi terbesar dari evaluasi pendidikan adalah pada aspek belajar

Lebih terperinci

FPBS AWARD 2008 INOVASI PEMBELAJARAN KANJI DENGAN MULTIMEDIA DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FPBS UPI. Oleh : Dra Renariah. M. Hum.

FPBS AWARD 2008 INOVASI PEMBELAJARAN KANJI DENGAN MULTIMEDIA DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FPBS UPI. Oleh : Dra Renariah. M. Hum. FPBS AWARD 2008 INOVASI PEMBELAJARAN KANJI DENGAN MULTIMEDIA DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FPBS UPI Oleh : Dra Renariah. M. Hum. (131476592) Herniwati, S.Pd, M.Hum (132149371) JURUSAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan salah satu unsur yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan salah satu unsur yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan salah satu unsur yang menarik untuk dipelajari karena bahasa sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahasa adalah alat

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Teori Penokohan Menurut Burhan Nurgiyantoro

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Teori Penokohan Menurut Burhan Nurgiyantoro Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Penokohan Menurut Burhan Nurgiyantoro Definisi tokoh cerita menurut Abrams dalam Nurgiyantoro adalah sebagai berikut, Tokoh cerita (character) adalah orang (-orang) yang

Lebih terperinci

DAMPAK PSIKOLOGIS TERHADAP TOKOH SUMIDA YUICHI DAN MA-KUN PASCA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI SENDAI 2011 DALAM FILM HIMIZU KARYA SUTRADARA SONO SION SKRIPSI

DAMPAK PSIKOLOGIS TERHADAP TOKOH SUMIDA YUICHI DAN MA-KUN PASCA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI SENDAI 2011 DALAM FILM HIMIZU KARYA SUTRADARA SONO SION SKRIPSI DAMPAK PSIKOLOGIS TERHADAP TOKOH SUMIDA YUICHI DAN MA-KUN PASCA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI SENDAI 2011 DALAM FILM HIMIZU KARYA SUTRADARA SONO SION SKRIPSI OLEH UNSHA SYIFA LABISTA 105110201111006 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. semua yang kita lakukan dalam kehidupan kita berkaitan dengan orang lain (Jones,

Bab 2. Landasan Teori. semua yang kita lakukan dalam kehidupan kita berkaitan dengan orang lain (Jones, Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Kesejahteraan Sosial Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial, baik kita suka atau tidak, hampir semua yang kita lakukan dalam kehidupan kita berkaitan dengan orang lain

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PERMAINAN KATA BERKAIT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGINGAT KOSAKATA SISWA MAN 1 MAGELANG. Skripsi

EFEKTIVITAS PERMAINAN KATA BERKAIT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGINGAT KOSAKATA SISWA MAN 1 MAGELANG. Skripsi EFEKTIVITAS PERMAINAN KATA BERKAIT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGINGAT KOSAKATA SISWA MAN 1 MAGELANG Skripsi Diajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

FAKULTAS SASTRA.

FAKULTAS SASTRA. sastra jepang uai @sasjepuai FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG www.uai.ac.id SASTRA JEPANG UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA 1 PROFIL PROGAM STUDI Program Studi Sastra Jepang Universitas Al Azhar

Lebih terperinci

FREKUENSI PENGGUNAAN BAHASA JEPANG MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES. Skripsi

FREKUENSI PENGGUNAAN BAHASA JEPANG MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES. Skripsi FREKUENSI PENGGUNAAN BAHASA JEPANG MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES Skripsi Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Yosephin Desy Mersili NIM 2302410030

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. percakapan, atau tuturan, sering dijumpai istilah wacana. Wacana terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. percakapan, atau tuturan, sering dijumpai istilah wacana. Wacana terdiri dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam berbagai media massa yang mengacu pada bahan bacaan, percakapan, atau tuturan, sering dijumpai istilah wacana. Wacana terdiri dari rangkaian kalimat yang membahas

Lebih terperinci

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL ANAK DALAM NOVEL TOTTO-CHAN KARYA TETSUKO KUROYANAGI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL ANAK DALAM NOVEL TOTTO-CHAN KARYA TETSUKO KUROYANAGI NILAI-NILAI PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL ANAK DALAM NOVEL TOTTO-CHAN KARYA TETSUKO KUROYANAGI Nur Hastuti Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Email: nuha_chan@yahoo.com Abstract

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Untuk dapat menemukan makna dari suatu haiku, maka kita harus memahami

Bab 2. Landasan Teori. Untuk dapat menemukan makna dari suatu haiku, maka kita harus memahami Bab 2 Landasan Teori 2.1. Teori Semantik Tentang Makna Untuk dapat menemukan makna dari suatu haiku, maka kita harus memahami pangertian makna itu sendiri sebagai dasar dari analisis. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam komunikasi diperlukan bahasa untuk menyampaikan hal yang ingin

BAB I PENDAHULUAN. Dalam komunikasi diperlukan bahasa untuk menyampaikan hal yang ingin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam komunikasi diperlukan bahasa untuk menyampaikan hal yang ingin disampaikan. Menurut Kridalaksana (2008:24) bahasa adalah sistem lambang bunyi, yang dipergunakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. (lebih lanjut akan saya sebut dengan kata kerja) dan jenis-jenis kata kerja dalam Bahasa

BAB 2 LANDASAN TEORI. (lebih lanjut akan saya sebut dengan kata kerja) dan jenis-jenis kata kerja dalam Bahasa BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam landasan teori ini, mula-mula akan dijelaskan mengenai pengertian doushi (lebih lanjut akan saya sebut dengan kata kerja) dan jenis-jenis kata kerja dalam Bahasa Jepang. Kemudian

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik, karena kedua unsur inilah yang sering banyak

Bab 2. Landasan Teori. yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik, karena kedua unsur inilah yang sering banyak Bab 2 Landasan Teori Dalam rangka mengkaji suatu karya sastra biasanya ada dua unsur yang digunakan, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik, karena kedua unsur inilah yang sering banyak disebut para

Lebih terperinci

6 月号 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友. 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 技能実習生 研修生のみなさんへ 2013 年

6 月号 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友. 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 技能実習生 研修生のみなさんへ 2013 年 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友 2013 年 6 月号 ぎ 技能実習生 こん のう じっ しゅう げついちの一 今月 せい まい 枚 JITCO Days http://www.jitco.or.jp/ 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 ベトナム語版 Ba n tiếng Việt 11 タイ語版 ฉบ บภาษาไทย 21 ひらがな 英語版

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Melalui bahasa, seseorang dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan atau apa yang

BAB I PENDAHULUAN. Melalui bahasa, seseorang dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan atau apa yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran maupun perasaan (Sutedi: 2003:2). Melalui bahasa, seseorang dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan atau apa

Lebih terperinci

BAB 2. Landasan Teori. Teori yang akan digunakan yaitu teori sintaksis dan penjelasan dari fungsi-fungsi

BAB 2. Landasan Teori. Teori yang akan digunakan yaitu teori sintaksis dan penjelasan dari fungsi-fungsi BAB 2 Landasan Teori Pada bab ini, akan dijelaskan mengenai teori-teori yang akan digunakan. Teori yang akan digunakan yaitu teori sintaksis dan penjelasan dari fungsi-fungsi penggunaan bentuk te ita.

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori dari para ahli yang akan

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori dari para ahli yang akan Bab 2 Landasan Teori Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori dari para ahli yang akan menjadi landasan dasar teori yang mendukung analisis pada bab 3. 2.1 Teori Semantik Semantik merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. (method =

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. (method = BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. (method = tatacara). Eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen

Lebih terperinci

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO Timur Sri Astami Japanese Department, Faculty of Humanities, BINUS University Jln. Kemanggisan Ilir III, No. 45, Kemanggisan Palmerah, Jakarta

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. semangat atau motivasi bagi seseorang untuk berusaha dengan keras, penuh ketekunan,

Bab 2. Landasan Teori. semangat atau motivasi bagi seseorang untuk berusaha dengan keras, penuh ketekunan, Bab 2 Landasan Teori 2.1. Makna Gambare Bagi Masyarakat Jepang Gambare adalah sebuah kata yang digunakan oleh masyarakat Jepang dalam berbagai bidang kehidupan. Gambare merupakan sebuah kata yang dapat

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. teori Needs Analysis, dan teori Relativitas dalam penerjemahan.

Bab 2. Landasan Teori. teori Needs Analysis, dan teori Relativitas dalam penerjemahan. Bab 2 Landasan Teori Pada bab ini, penulis akan mengemukakan teori mengenai penerjemahan, teori kalimat, dan teori paragraf. Teori penerjemahan yang akan dikemukakan pada bab ini meliputi teori terjemahan

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. dapat diartikan begitu saja. Inoue (1989 : 70) menyatakan bahwa:

Bab 2. Landasan Teori. dapat diartikan begitu saja. Inoue (1989 : 70) menyatakan bahwa: Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Kanyouku 慣用句 Dalam bahasa Jepang, penggunaan kanyouku 慣用句 dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Kanyouku 慣用句 sendiri sering disalah artikan. Pada umumnya, petutur

Lebih terperinci

Strategi Pembelajaran Kanji : Studi Kasus pada Pembelajar Bahasa Jepang Tingkat Pemula dan Menengah di Universitas Al Azhar Indonesia

Strategi Pembelajaran Kanji : Studi Kasus pada Pembelajar Bahasa Jepang Tingkat Pemula dan Menengah di Universitas Al Azhar Indonesia 46 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA, Vol. 2, No. 1, Maret 2013 Strategi Pembelajaran Kanji : Studi Kasus pada Pembelajar Bahasa Jepang Tingkat Pemula dan Menengah di Universitas Al Azhar Indonesia

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS ILMU BUDAYA MANADO

UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS ILMU BUDAYA MANADO ANALISIS MAKNA DAN PEMBAGIAN PENGGUNAAN ADVERBIA TAIHEN DAN TOTEMO DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語文における副詞 大変 および とても の意味使い分けの解析 LAPORAN AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya

Lebih terperinci

Responden No Klausa yang Dibaca Kesalahan Penjelasan Kesalahan yang Melakukan Kesalahan 2 orang 1. 線の特急電車 1. ぜん /sen/ dibaca /zen/ (B,H)

Responden No Klausa yang Dibaca Kesalahan Penjelasan Kesalahan yang Melakukan Kesalahan 2 orang 1. 線の特急電車 1. ぜん /sen/ dibaca /zen/ (B,H) 16 BAB III ANALISIS KESALAHAN PEMELAJAR BAHASA JEPANG IV DALAM PEMBACAAN TEKS JEPANG 3.1 Analisis Data Sumber data pada penelitian ini adalah rekaman hasil pembacaan teks oleh 26 mahasiswa bahasa Jepang

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PENDEKATAN KOMUNIKATIF PADA MATA KULIAH MENYIMAK DAN BERBICARA II

EFEKTIVITAS PENDEKATAN KOMUNIKATIF PADA MATA KULIAH MENYIMAK DAN BERBICARA II EFEKTIVITAS PENDEKATAN KOMUNIKATIF PADA MATA KULIAH MENYIMAK DAN BERBICARA II Timur Sri Astami; Rosita Ningrum; Felicia Budihardja Japanese Department, Faculty of Humanities, Bina Nusantara University

Lebih terperinci

oleh: Tetriana Sawitri

oleh: Tetriana Sawitri oleh: Tetriana Sawitri Penerjemahan (Nida & Taber: 1974): Upaya pengungkapan kembali suatu pesan dari Bahasa Sumber (BSu) ke Bahasa Sasaran (BSa). Pesan yang disampaikan dalam BSu haruslah dalam padanan

Lebih terperinci

Tata Cara Penerimaan Siswa

Tata Cara Penerimaan Siswa Tata Cara Penerimaan Siswa Yayasan Sekolah OKA- GAKUEN Osaka Bunka Kokusai Gakkou (OBKG) Sekolah Internasional Osaka Kebudayaan dan Bahasa Jepang 2-11-12 Doshin, Kita-ku, OSAKA,JEPANG 530-0035 :81-6-6882-1435

Lebih terperinci

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF DALAM DRAMA Q10

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF DALAM DRAMA Q10 ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF DALAM DRAMA Q10 Skripsi diajukan dalam rangka penyelesaian studi strata 1 untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Imas Setianingrum NIM 2302409042 PRODI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

12 月号 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友. 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 技能実習生 研修生のみなさんへ 2013 年

12 月号 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友. 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 技能実習生 研修生のみなさんへ 2013 年 技能実習生 研修生向け母国語情報誌技能実習生の友 2013 年 12 月号 ぎ 技能実習生 こん のう 今月 じっ しゅう げついちの一 せい まい 枚 JITCO Days http://www.jitco.or.jp/ 2013 4 JITCO JITCO 目次インドネシア語版 Edisi Bahasa Indonesia 1 ベトナム語版 Ba n tiếng Việt 11 タイ語版 ฉบ

Lebih terperinci

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran NAMA SEKOLAH : SMA NEGERI 1 KRIAN MATA PELAJARAN : BAHASA JEPANG MATERI POKOK : SALAM, UNGKAPAN dan HURUF KELAS / SEMESTER : X / I ALOKASI WAKTU : 6 Jam Pelajaran ( 6 x

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UKEMI, SHIEKI, DAN SHIEKI UKEMI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UKEMI, SHIEKI, DAN SHIEKI UKEMI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UKEMI, SHIEKI, DAN SHIEKI UKEMI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Jepang oleh Nama : Lailatun Nurul Hidayah NIM : 2302411038

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa たび tabi beberapa

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa たび tabi beberapa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah たび (bisa juga dibaca 度 ど jika menempel dengan morfem lain) merupakan salah satu kata dalam bahasa Jepang yang bisa masuk ke dalam beberapa kategori. Dalam Daijiten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan jenis huruf.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan jenis huruf. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan jenis huruf. Huruf-huruf dalam bahasa Jepang terdiri dari empat jenis, yaitu: romaji, hiragana yang digunakan

Lebih terperinci

Tata Bahasa Jepang Dasar - Panduan Lengkap Belajar Bahasa Jepang

Tata Bahasa Jepang Dasar - Panduan Lengkap Belajar Bahasa Jepang Panduan belajar tata bahasa jepang tingkat dasar ini mencakup sistem penulisan dan tata bahasa jepang dasar. Daftar Materi Belajar Tata Bahasa Jepang Dasar 1. Pengenalan Belajar Bahasa Jepang 2. Sistem

Lebih terperinci

ANALISIS METODE BELAJAR KOSA KATA

ANALISIS METODE BELAJAR KOSA KATA ANALISIS METODE BELAJAR KOSA KATA Robihim Japanese Department, Faculty of Language and Culture, Sekolah Tinggi Bahasa Asing JIA, Jl. Cut Muthia Raya No.30 Bekasi, robi_donald@yahoo.com ABSTRACT Many jobs

Lebih terperinci

ANALISIS MAKNA IIWAKE SURU DAN BENKAI SURU DALAM WEBSITE SURAT KABAR BAHASA JEPANG ASAHI.COM

ANALISIS MAKNA IIWAKE SURU DAN BENKAI SURU DALAM WEBSITE SURAT KABAR BAHASA JEPANG ASAHI.COM ANALISIS MAKNA IIWAKE SURU DAN BENKAI SURU DALAM WEBSITE SURAT KABAR BAHASA JEPANG ASAHI.COM Felicia Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Humaniora, BINUS University Jln. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta

Lebih terperinci