Daftar Bahan Tambahan Pangan dan Status Kehalalannya Dr. Ir. Anton Apriyantono

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Daftar Bahan Tambahan Pangan dan Status Kehalalannya Dr. Ir. Anton Apriyantono"

Transkripsi

1 Daftar Bahan Tambahan Pangan dan Status Kehalalannya Dr. Ir. Anton Apriyantono Pengantar Kami sudah berusaha memeriksa secara hati-hati ingredien-ingredien ini berdasarkan pengetahuan kami yang diperoleh dari literatur, akan tetapi disadari bahwa ada banyak jalan dalam pembuatan suatu ingredien. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa status kehalalan suatu ingredien yang kami cantumkan disini keliru, sehingga status kehalalan yang dicantumkan tersebut harus dipandang sebagai status sementara (yang didasarkan pada pengetahuan yang ada sampai saat daftar ini ditulis) sampai adanya informasi baru mengenai ingredien ybs. Disamping itu, perlu diketahui pula bahwa seringkali ada bahan bahan tambahan atau matriks yang ditambahkan kedalam suatu ingredien untuk tujuan tujuan tertentu seperti untuk mencegah oksidasi atau agar mudah larut, terlindung dari pengaruh luar, dll, sehingga status kehalalan ingredien tersebut tergantung juga kepada status kehalalan bahan tambahan yang ditambahkan kedalam ingredien dan matriks yang digunakan ingredien ybs. Masalah, kehalalan suatu ingredien juga tergantung kepada media (pelarut dan aditif yang digunakan) dimana ingredien tersebut dilarutkan, hal ini khususnya bagi ingredien dalam bentuk cair atau emulsi karena dalam bentuk cair dan emulsi ingredien kebanyakan tidak dalam bentuk murninya. Daftar bahan tambahan pangan yang memiliki kode Nomor 100 Curcumin (C ) jika dalam bentuk murninya 101 Riboflavin (Lactofavin, Vitamin B ) Tartrazine Quinoline Yellow (C.I ) Sunset Yellow FCF/Orange Yellow S - 1/13 - jika diperleh melalui sintetis kimia, syubhat jika diperoleh dari hasil karena tergantung kepada status kehalalan media yang digunakan 120 Cochineal/Carminic acid jika dalam bentuk powder, jika dalam bentuk cair tergantung kepada pelarut yang digunakan. Hal ini berlaku bagi semua jenis pewarna dalam bentuk cair. 122 Carmoisine/Azorubine (C.I ) 123 Amaranth (C.I ;FD and C Red 2) 124 Ponceau 4R/Cochineal Red A (C.I ) 127 rythrosine BS (C.I ; FD and C Red 3) 128 Red 2G (C.I ) Status kehalalannya tergantung kepada status keamanannya karena di Amerika bahan ini dilarang digunakan. Jika membahayakan kesehatan manusia maka haram digunakan 129 Allura Red AC (C.I ; Food Red 17; FD and C Red 40) 131 Patent Blue V (C.I ) 132 Indigo Carmine/ Indigotine (C ; FD and C Blue 2) 133 Brilliant Blue FCF (C.I ; FD & C Blue 1) 140 Chlorophyll (C.I ) jika solven yang ada dalam ekstrak klorofil berada pada konsentrasi dibawah batas yang diizinkan. Jika dalam bentuk kering, kehalalannya tergantung kepada adanya bahan tambahan lain

2 didalam bubuk klorofil Copper Complex of Chlorophyll Green S/ Acid Brilliant Green BS (Food green S: Lissamine green; C.I 44090) Caramel 150a Plain caramel 150b Caustic sulphite caramel 150c Ammonia caramel 150d Sulphite ammonia caramel Black PN/Brilliant Black BN (C.I ) Carbon Black/ Vegetable Carbon (Charcoal) dengan catatan seperti pada Brown FK 155 Brown HT 160a 160b Alpha, Beta, Gamma- Carotene (C ) Annatto, Bixin, Norbixin (C ; Orlean; Rocou) 160c Capsanthin/Capsorubin sda (Paprika extract;oleoresin) 160d Lycopene sda 160e Beta-apo-8-carotenal (C30; sda β-8 -apocarotenal) 160f thyl ester of Beta-apo-8- sda carotenoic acid (C30) 161a Flavoxanthin (C.I ) sda 161b Lutein (C.I ) sda jika seluruhnya berasal dari tanaman, syubhat jika berasal dari tulang hewan, tergantung jenis hewan dan cara penyembelihannya dalam bentuk murninya, akan tetapi secara komersial karoten berstatus syubhat karena kebanyakan karoten berada dalam suatu matriks karena karoten sendiri mudah rusak karena oksidasi. Oleh karena itu kehalalan karoten juga ditentukan oleh kehalalan matriks yang digunakan, salah satu matriks yang dapat digunakan adalah gelatin. dalam bentuk murninya, akan tetapi secara komersial berstatus syubhat karena kehalalannya tergantung kepada bahan yang ditambahkan, jika dalam bentuk emulsi tergantung kepada emulsifier yang digunakan, jika dalam bentuk terenkapsulasi tergantung kepada enkapsulan yang digunakan 161c Cryptoxanthin (C.I ) sda 161d Rubixanthin (C.I ) sda 161e Violaxanthin (C.I ) sda 161f Rhodoxanthin (C.I ) sda 161g Canthaxanthin (C.I ) sda 162 Beetroot Red/ Betanin, Betanidin 163 Anthocyanins dalam bentuk murninya, akan tetapi secara komersial biasanya dalam bentuk terenkapsulasi. nkapsulan yang digunakan masih perlu dicek kehalalannya walaupun kecil kemungkinan menggunakan gelatin, kecuali jika pembuatannya melibatkan proses koaservasi dimana gelatin biasa digunakan dalam enkapsulasi dengan cara - 2/13 -

3 koaservasi. 170 Calcium Carbonate (Chalk) - Inorganik 171 Titanium Dioxide (C.1. anorganik 77891) 172 Iron Oxides, iron anorganik hydroxides yellow/brown- C ; red: 7491; brown: 77499) 173 Aluminium (C ) anorganik 174 Silver (C ) anorganik 175 Gold anorganik 180 Pigment Rubine/ Lithol anorganik Rubine BK (C ) - 3/13 - jika berasal dari karang, syubhat jika berasal dari tulang binatang 200 Sorbic Acid Pengawet 201 Sodium Sorbate Pengawet 202 Potassium Sorbate Pengawet 203 Calcium Sorbate Pengawet 210 Benzoic Acid Pengawet 211 Sodium Benzoate Pengawet 212 Potassium Benzoate Pengawet 213 Calcium Benzoate Pengawet 214 thyl 4-hydroxybenzoate Pengawet 215 thyl 4-hydroxybenzoate, Pengawet halal Sodium Salt 216 Propyl 4-hydroxybenzoate Pengawet 217 Propyl 4-hydroxybenzoate, Pengawet Sodium Salt 218 Methyl 4-hydroxybenzoate Pengawet 219 Methyl 4-hydroxybenzoate, Pengawet Sodium Salt 220 Sulphur Dioxide Pengawet 221 Sodium Sulphite Pengawet 222 Sodium Hydrogen Sulphite Pengawet 223 Sodium Metabisulphite Pengawet 224 Potassium Metabisulphite Pengawet 226 Calcium Sulphite Pengawet 227 Calcium Hydrogen Sulphite Pengawet 230 Biphenyl/Diphenyl Pengawet Hydroxybiphenyl Pengawet 232 Sodium Biphenyl-2-yl- Pengawet Oxide (thiazol-4-yl) Pengawet Benzimidazole 234 Nisin Pengawet Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan nisin secara 239 Hexamine Pengawet 249 Potassium Nitrate Pengawet 250 Sodium Nitrite Pengawet 251 Sodium Nitrate Pengawet 252 Potassium Nitrate (Saltpetre) Pengawet Syubhat. jika berasal dari karang mineral, haram jika berasal dari limbah hewan haram atau

4 260 Acetic Acid Miscellaneous- 261 Potassium Acetate Miscellaneous- 262 Potassium Hydrogen Miscellaneous- Diacetate 263 Calcium Acetate Miscellaneous- 270 Lactic Acid Miscellaneous- - 4/13 - hewan yang tidak disembelih secara. asalkan bukan berasal dari vinegar yang dibuat dari minuman beralkohol Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam laktat secara 280 Propionic Acid Pengawet- Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam propionat secara 281 Sodium Propionate Pengawet- Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam propionat secara 282 Calcium Propionate Pengawet- Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam propionat secara 283 Potassium Propionate Pengawet- Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam propionat secara 290 Carbon Dioxide Miscellaneous 296 Malic acid (DL- or L-) Pengasam 297 Fumaric acid Pengasam Syubhat, tergantung kehalalan media yang digunakan dalam produksi asam fumarat secara 300 L-Ascorbic Acid (Vitamin C) Antioksidan- Vitamin C 301 Sodium-L-Ascorbate Antioksidan- Vitamin C dan 302 Calcium-L-Ascorbate Antioksidan- Vitamin C dan 304 Ascorbyl Palmitate Antioksidan- Vitamin C dan 306 Natural xtracts rich in Tocopherols Antioksidan- Vitamin 307 Synthetic Alpha-Tocopherol Antioksidan- Vitamin 308 Synthetic Gamma- Antioksidan- Tocopherol Vitamin 309 Synthetic Delta-Tocopherol Antioksidan- Vitamin 310 Propyl Gallate Antioksidan 311 Octyl Gallate Antioksidan 312 Dodecyl Gallate Antioksidan 320 Butylated Hydroxyanisole Antioksidan (BHA), akan tetapi jika diperoleh melalui maka kehalalannya tergantung kepada kehalalan media yang digunakan Syubhat, tergantung kepada asal asam palmitat, bisa berasal dari minyak nabati (halal) atau lemak hewani (kebanyakan secara komersial haram karena bisa lemak babi atau lemak hewan yang tidak disembelih secara ) dalam bentuk murninya, akan tetapi secara komersial biasanya berada dalam suatu carrier yang

5 321 Butylated Hydroxytoluene (BHT) Antioksidan 322 Lecithins 325 Sodium Lactate Miscellaneous- Garam dari Laktat 326 Potassium Lactate Miscellaneous- Garam dari Laktat 327 Calcium Lactate Miscellaneous- Garam dari Laktat bisa halal jika minyak nabati sebagai carriernya dan haram jika lemak hewani atau mengandung lemak hewani sebagai carriernya dalam bentuk murninya, akan tetapi secara komersial biasanya berada dalam suatu carrier yang bisa halal jika minyak nabati sebagai carriernya dan haram jika lemak hewani atau mengandung lemak hewani sebagai carriernya Syubhat. Secara komersial lesitin yang digunakan dalam pengolahan berasal dari kedele, akan tetapi jenis lesitin ini banyak, ada yang dalam bentuk lesitin yang belum dimodifikasi, ada yang sudah dimodifikasi. Ada lesitin yang diperoleh melalui fraksinasi menggunakan etanol dan etanolnya tersisa cukup banyak pada hasil akhir. Ada jenis lesitin yang dalam pembuatannya melibatkan enzim fosfolipase A yang berasal dari pankreas babi. Sayang sekali secara komersial semua jenis lesitin disebut lesitin saja, tidak mencirikan apakah lesitin asli yang belum dimodifikasi atau yang sudah dimodifikasi. Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam laktat Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam laktat Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam laktat 330 Citric Acid Miscellaneous Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam sitrat secara 331 Sodium Citrates Miscellaneous Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam sitrat 332 Potassium Citrates Miscellaneous Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam sitrat 333 Calcium Citrates Miscellaneous Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam sitrat 334 Tartaric Acid Miscellaneous Syubhat, kebanyakan asam tartarat berasal dari hasil samping industri wine sehingga yang diperoleh dari industri wine ini statusnya haram. Ada kemungkinan asam tartarat diperoleh dari asam jawa (tamarind), jika berasal dari asam jawa statusnya halal. Tidak tertutup kemungkinan merupakan hasil sintesis. 335 Sodium Tartrate Miscellaneous Syubhat, tergantung kehalalan asam tartarat yang digunakan dalam pembuatannnya 336 Potassium Tartrate (Cream of Tartar) Miscellaneous Haram jika diperoleh dari hasil samping industri wine dan kebanyakan berasal dari hasil samping industri wine ini. Syubhat jika hasil reaksi dengan bahan dasar asam tartarat, tergantung kehalalan asam tartarat yang digunakan dalam pembuatannnya. 337 Potassium Sodium Tartrate Miscellaneous Syubhat, tergantung kehalalan asam tartarat yang a Orthophosphoric Acid ( fosfat) Sodium dihydrogen orthophosphate Miscellaneous Miscellaneous digunakan dalam pembuatannnya. - 5/13 -

6 339b Disodium hydrogen Miscellaneous orthophosphate 339c Trisodium hydrogen Miscellaneous orthophate 340(a) Potassium dihydrogen mulsifying salt, orthophosphate (monopotassium phosphate;mkp) miscellaneous 340(b) dipotassium hydrogen mulsifying salt, orthophosphate (dipotassium phosphate; DKP; Potassium phosphate dibasic) miscellaneous 340(c) tripotassium orthophosphate mulsifying salt, (dipotassium phosphate; DKP; Potassium phosphate tribasic; tripotassium monophosphate) miscellaneous 341 Calcium Phosphates Miscellaneous 350 Sodium malate Sodium hydrogen malate Buffer, seasoning agent Buffer 351 Potassium malate Buffer 352 Calcium malate Calcium hydrogen malate Buffer, firming agent, seasoning agent Firming agent 353 Metatartaric acid Sequestrant (pengkelat) 355 Adipic acid (Hexanedioic Miscellaneous acid) 363 Succinic acid Pengasam, buffer, senyawa penetral Syubhat karena dibuat dari asam tartarat dimana status asam tartarat adalah syubhat 370 1,4-Heptanolactone Pengasam, pengekelat 375 Nicotinic acid Vitamin, Pelindung warna 380 Triammonium citrate (Citric acid triammonium salt; Ammonium citrate tribasic) Ammonium ferric citrate (Ferric ammonium citrate) Ammonium ferric citrate, green Miscellaneous - 6/13 - Syubhat, tergantung pada kehalalan asam sitrat yang digunakan dalam pembuatannya 381 Suplemen besi Syubhat, tergantung pada kehalalan asam sitrat yang digunakan dalam pembuatannya 381 Suplement besi Syubhat, tergantung pada kehalalan asam sitrat yang digunakan dalam pembuatannya 385 Calsium disodium DTA Pengkelat 400 Alginic Acid 401 Sodium Alginate 402 Potassium Alginate 403 Ammonium Alginate 404 Calcium Alginate 405 Propane-1,2-Diol Alginate

7 (Propylene glycol alginate; alginate ester) 406 Agar -gum tumbuhan 407 Carrageenan -gum tumbuhan 410 Locust Bean Gum (Carob Gum) -gum tumbuhan 412 Guar Gum -gum tumbuhan 413 Tragacanth -gum tumbuhan 414 Gum Acacia (Gum Arabic) -gum tumbuhan 415 Xanthan Gum -gum tumbuhan - 7/13 - Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatannya secara 416 Karaya gum (Sterculia gum, Indian tragacanth) penstabil 420 Sorbitol Gula Alkohol Syubhat, tergantung kehalalan glukosa yang digunakan dalam pembuatannya. Pembuatan sorbitol melibatkan reaksi hidrogenasi glukosa, sedangkan glukosa sendiri dapat diperoleh dari hasil hidrolisis pati dengan menggunakan enzim dimana salah satu enzim yang biasa digunakan yaitu alfaamilase dapat berasal dari pankreas babi atau sapi. Akan tetapi, alfa-amilase dapat pula berasal dari mikroorganisme. 421 Mannitol Gula Alkohol 422 Glycerol Gula Alkohol Syubhat, haram jika dibuat dari hasil samping industri lemak hewan, halal jika berasal dari hidrolisis minyak nabati atau hasil sintesis dengan bahan dasar propilen yang berasal dari minyak bumi. Gliserol juga dapat diperoleh melalui dengan menggunakan gula sebagai bahan baku, kehalalannya tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam tersebut 430 Polyoxyethylene (8) stearate (polyoxyl 8 stearate) Pengemulsi Syubhat, tergantung kepada status kehalalan asam stearat dalam pembuatannya, bisa berasal dari tanaman (halal) atau hewan (haram jika berasal dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara ) 431 Polyoxyethylene (40) stearate (Polyoxyl 40 stearate) 432 Polyoxyethylene (20) sorbitan monolaurate (Polysorbate 20,Tween 20) 433 Polyoxyethylene (20) sorbitan mono-oleate (Polysorbate 80,Tween 80) Pengemulsi Pengemulsi Pengemulsi Syubhat, tergantung kepada status kehalalan asam stearat dalam pembuatannya, bisa berasal dari tanaman (halal) atau hewan (haram jika berasal dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara ) Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam laurat, akan tetapi kebanyakan asam laurat diperoleh dari minyak kelapa Syubhat, tergantung kepada kehalalan ester oleat, ester oleat bisa berasal dari tanaman, bisa berasal dari hewan

8 434 Polyoxyethylene (20) sorbitan monopalmitate (polysorbate 40: Tween 40) Pengemulsi Syubhat, tergantung kepada kehalalan ester palmitat, ester palmitat bisa berasal dari tanaman, bisa berasal dari hewan 435 Polyoxyethylene (20) sorbitan monostearate (Polysorbate 60;Tween 60) Pengemulsi 436 Polyoxyethylene (20) Pengemulsi sorbitan tristearate (Polysorbate 65; Tween 65) 440a Pectin -Pektin dan 440b Amidated Pectin -Pektin dan 442 Ammonium phosphatides (mulsifier YN) Pengemulsi, penstabil 450a,b Sodium and Potassium Miscellaneous,c Phosphates and Polyphosphates 460 Microcrystalline/Powdered Cellulose 461 Methylcellulose - Selulosa dan 463 Hydroxypropylcellulose - Selulosa dan 464 Hydroxypropyl- Methylcellulose Selulosa dan thylmethylcellulose - Selulosa dan Carboxymethylcellulose, Sodium Salt Sodium, potassium and Calcium Salts of Fatty Acids Mono-and Diglycerides of Fatty Acids Various sters of Mono and Diglycerides of Fatty Acids - Selulosa dan Syubhat, tergantung kepada kehalalan ester stearat, ester stearat bisa berasal dari tanaman, bisa berasal dari hewan Syubhat, tergantung kepada kehalalan ester stearat, ester stearat bisa berasal dari tanaman, bisa berasal dari hewan - 8/13 -

9 473 Sucrose sters of Fatty Acids 474 Sucroglycerides Polyglycerol sters of Fatty Acids Polyglycerol esters of polycendensed fatty acids of castor oil (Polyglycerol of polyricinoleate) Propane-1,2-Diol sters of Fatty Acids Sodium Stearoyl-2- Lactylate Calcium Stearoyl-2- Lactylate Pengemulsi, penstabil 483 Stearyl Tartrate 491 Sorbitan Monostearate 492 Sorbitan Tristearate 493 Sorbitan Monolaurate 494 Sorbitan Monooleate - 9/13 - Syubhat, tergantung kehalalan gliserol yang digunakan dalam pembuatannya Syubhat, tergantung kehalalan asam stearat yang digunakan dalam pembuatannya, halal jika asam stearat berasal dari minyak nabati dan haram jika asam stearat berasal dari lemak babi atau lemak hewan yang tidak disembelih secara ; juga tergantung pada kehalalan sorbitol yang digunakan dalam pembuatannya Syubhat, tergantung kehalalan asam stearat yang digunakan dalam pembuatannya, halal jika asam stearat berasal dari minyak nabati dan haram jika asam stearat berasal dari lemak babi atau lemak hewan yang tidak disembelih secara ; juga tergantung kepada kehalalan sorbitol yang digunakan dalam pembuatannya Syubhat, tergantung kepada kehalalan sorbitol yang digunakan dalam pembuatannya Syubhat, tergantung kehalalan asam oleat yang digunakan dalam pembuatannya, halal jika asam oleat berasal dari minyak nabati dan haram jika asam oleat berasal dari lemak babi atau lemak

10 495 Sorbitan Monopalmitate 500 Sodium Carbonate/Sodium Bicarbonate 501 Potassium Carbonate/Potassium Bicarbonate Miscellaneous- Carbonat Miscellaneous- Carbonat 503 Ammonium Carbonate Miscellaneous- Carbonat 504 Magnesium Carbonate Miscellaneous- Carbonat 507 Hydrochloric Acid Miscellaneous- Hidroklorida dan 508 Potassium Chloride Miscellaneous- Hidroklorida dan 509 Calcium Chloride Miscellaneous- Hidroklorida dan 510 Ammonium Chloride Miscellaneous- Hidroklorida dan 513 Sulphuric Acid Miscellaneous- Sulfat dan 514 Sodium Sulphate Miscellaneous- Sulfat dan 515 Potassium Sulphate Miscellaneous- Sulfat dan 516 Calcium Sulphate Miscellaneous- Sulfat dan hewan yang tidak disembelih secara ; juga tergantung pada kehalalan sorbitol yang digunakan dalam pembuatannya Syubhat, tergantung kehalalan asam palmitat yang digunakan dalam pembuatannya, halal jika asam palmitat berasal dari minyak nabati dan haram jika asam palmitat berasal dari lemak babi atau lemak hewan yang tidak disembelih secara ; juga tergantung pada kehalalan sorbitol yang digunakan dalam pembuatannya - 10/13 -

11 518 Magnesium Sulphate Miscellaneous- Sulfat dan 524 Sodium Hydroxide Miscellaneous- Sulfat dan 525 Potassium Hydroxide Miscellaneous- Alkali 526 Calcium Hydroxide Miscellaneous- Alkali 527 Ammonium Hydroxide Miscellaneous- Alkali 528 Magnesium Hydroxide Miscellaneous- Alkali 529 Calcium Oxide Miscellaneous- Alkali 530 Magnesium Oxide Alkali Miscellaneous- 535 Sodium Ferrocyanide Miscellaneous- Garam 536 Potassium Ferrocyanide Miscellaneous- Garam 540 Dicalcium Ferrocyanide Miscellaneous- Garam 541 Sodium Aluminium Miscellaneous- Phosphate Garam 542 dible Bone Phosphate Miscellaneous - (Bone Meal) Anti-Caking Agents 544 Calcium Polyphosphates Miscellaneous - Anti-Caking Agents 545 Ammonium Polyphosphates Miscellaneous - Anti-Caking Agents 551 Silicon Dioxide (Silica Salt) Miscellaneous- Garam Silica 552 Calcium Silicate Miscellaneous- 553 Magnesium Silicate/Magnesium Trisilicate (Talc) Garam Silica Miscellaneous- Garam Silica 554 Aluminium Sodium Silicate Miscellaneous- Garam Silica 556 Aluminium Calcium Silicate Miscellaneous- Garam Silica Syubhat, haram jika berasal dari tulang babi atau tulang hewan yang disembelih tidak secara ; halal jika berasal dari tulang hewan halal dan disembelih secara ; akan tetapi kebanyakan berasal dari impor jadi kemungkinan berasal dari tulang babi dan hewan yang disembelih tidak secara (haram) Syubhat, tergantung pada sumbernya, apakah berasal dari bahan mineral atau dari tulang hewan - 11/13 -

12 558 Bentonite Miscellaneouskomponen 559 Kaolin (Aluminium Silicate) Miscellaneouskomponen 570 Stearic Acid Miscellaneouskomponen Syubhat, tergantung apakah asam stearat berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Haram jika berasal dari lemak babi atau lemak hewan yang 572 Magnesium Stearate Miscellaneouskomponen 575 Glucono Delta-Lactone Miscellaneouskomponen 576 Sodium Gluconate Miscellaneouskomponen 577 Potassium Gluconate Miscellaneouskomponen 578 Calcium Gluconate Miscellaneouskomponen 620 L-Glutamic Acid Miscellaneous- 621 Monosodium Glutamate (MSG) Miscellaneous- 622 Manopotassium Glutamate Miscellaneous- 623 Calcium Glutamate Miscellaneous- 627 Sodium Guanylate Miscellaneous- 631 Sodium Inosinate Miscellaneous- 635 Sodium 5-Ribonucleotide Miscellaneous- 636 Maltol Miscellaneous- 637 thyl Maltol Miscellaneous- 900 Dimethylpolysiloxane Miscellaneous- 901 Beeswax Miscellaneous- Glazing Agents 903 Carnauba Wax Miscellaneous- Glazing Agents tidak disembelih secara Syubhat, tergantung kepada kehalalan asam stearat Syubhat, tergantung kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam glutamat secara Syubhat, tergantung kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam glutamat secara Syubhat, tergantung kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam glutamat secara Syubhat, tergantung kehalalan media yang digunakan dalam pembuatan asam glutamat secara jika diperoleh melalui sintesis kimia, syubhat jika diperoleh melalui karena tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam tersebut Syubhat, tergantung kepada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatannya secara, kecuali dibuat dengan cara sintesis kimia bisa menjadi halal Syubhat, tergantung pada kehalalan media yang digunakan dalam pembuatannya secara dalam bentuk aslinya, jika sudah diputihkan maka kehalalannya tergantung kepada bahan pemutih yang digunakan - 12/13 -

13 904 Shellac Miscellaneous- Glazing Agents 905 Mineral Hydrocarbons Miscellaneous- Glazing Agents 907 Refined mycrocrystalline Wax Miscellaneous- Glazing Agents 920 L-Cysteine hydrochloride Miscellaneous- Komponenkomponen dalam pembuatan tepung 924 Potassium Bromate Miscellaneous- Komponenkomponen dalam pembuatan tepung 925 Chlorine Miscellaneous- Komponenkomponen dalam pembuatan tepung 926 Chlorine Dioxide Miscellaneous- Komponenkomponen dalam pembuatan tepung 927 Azodicarbonamide Miscellaneous- Komponenkomponen dalam pembuatan tepung Syubhat; haram jika berasal dari manusia atau hewan unggas yang tidak disembelih secara ; jika dibuat dengan cara maka kehalalannya tergantung kepada media yang digunakan dalam tsb aab baa (Versi 1.0, tanggal publikasi Nopember 2003) Disusun oleh: Dr. Ir. Anton Apriyantono Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB Kampus IPB Darmaga, PO Box 220 Bogor mail: - 13/13 -

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan I. PENDAHULUAN Emulsifier merupakan bahan tambahan pada produk farmasi dan makanan yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan sebagai bahan tambahan untuk mempertahankan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENGEMULSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENGAWET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Lebih terperinci

Implementasi NSW Tahap 5 Program 100 Hari Pemerintahan Kabinet Reformasi Jilid II

Implementasi NSW Tahap 5 Program 100 Hari Pemerintahan Kabinet Reformasi Jilid II Implementasi NSW Tahap 5 Program 100 Hari Pemerintahan Kabinet Reformasi Jilid II BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN Badan Pengawas Obat dan Makanan Jl. Percetakan Negara No. 23 Gedung B http://www.pom.go.id

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENGENTAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENINGKAT VOLUME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN MUTU OBAT TRADISIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN MUTU OBAT TRADISIONAL PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN MUTU OBAT TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENGUAT RASA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN

Lebih terperinci

SABUN MANDI. Disusun Oleh : Nosafarma Muda (M0310033)

SABUN MANDI. Disusun Oleh : Nosafarma Muda (M0310033) SABUN MANDI Disusun Oleh : Winda Puspita S (M0307070) Arista Margiana (M0310009) Fadilah Marsuki (M0310018) Hartini (M0310022) Ika Lusiana (M0310024) Isnaeni Nur (M0310026) Isya Fitri A (M0310027) Nosafarma

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 722/MENKES/PER/IX/88 TENTANG BAHAN TAMBAHAN MAKANAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 722/MENKES/PER/IX/88 TENTANG BAHAN TAMBAHAN MAKANAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 722/MENKES/PER/IX/88 TENTANG BAHAN TAMBAHAN MAKANAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa makanan yang menggunakan bahan tambahan

Lebih terperinci

Diskusi Panel EOR BKKPII IATMI 2014 13 Februari 2014 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA

Diskusi Panel EOR BKKPII IATMI 2014 13 Februari 2014 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA Diskusi Panel EOR BKKPII IATMI 2014 13 Februari 2014 Yan Irawan Peneliti Bidang Teknologi Proses dan Katalisis Pusat Penelitian Kimia LIPI yanirawan@yahoo.com LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA Pusat Penelitian

Lebih terperinci

1. KOMPONEN AIR LAUT

1. KOMPONEN AIR LAUT 1. KOMPONEN AIR LAUT anna.ida3@gmail.com/2013 Salinitas Salinitas menunjukkan banyaknya (gram) zat-zat terlarut dalam (satu) kilogram air laut, dimana dianggap semua karbonat telah diubah menjadi oksida

Lebih terperinci

PEMANFAATAN STEARIN DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT. Vonny Indah Sari* Program Studi Teknik Pengolahan Sawit, Politeknik Kampar

PEMANFAATAN STEARIN DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT. Vonny Indah Sari* Program Studi Teknik Pengolahan Sawit, Politeknik Kampar PEMANFAATAN STEARIN DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT Vonny Indah Sari* Program Studi Teknik Pengolahan Sawit, Politeknik Kampar ABSTRACT In the crystallization process for manufacturing of cooking

Lebih terperinci

ASAM, BASA DAN GARAM

ASAM, BASA DAN GARAM ASAM, BASA DAN GARAM Larutan terdiri dari zat terlarut (solute) dan pelarut (solvent). Dalam suatu larutan, jumlah pelarut lebih banyak dibandingkan jumlah zat terlarut. Penggolongan larutan dapat juga

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN ANTIBUIH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Lebih terperinci

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive)

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) M.K. Teknik Formulasi Ransum dan Sistem Informasi Pakan Jenis Bahan Pakan Konsentrat (Concentrate) Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) 1 Bahan-bahan Konsentrat

Lebih terperinci

APLIKASI DIETANOLAMIDA DARI ASAM LAURAT MINYAK INTI SAWIT PADA PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN ABSTRACT

APLIKASI DIETANOLAMIDA DARI ASAM LAURAT MINYAK INTI SAWIT PADA PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN ABSTRACT E. Hambali, T. K. Bunasor, A. Suryani dan G. A. Kusumah APLIKASI DIETANOLAMIDA DARI ASAM LAURAT MINYAK INTI SAWIT PADA PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN Erliza Hambali, Tatit K Bunasor, Ani Suryani dan Giri Angga

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN SEKUESTRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN

Lebih terperinci

KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN

KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN Oleh Drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang Sebelum abad ke dua puluh, karbohidrat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK. 03.1.23.06.10.5166 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI ASAL BAHAN TERTENTU, KANDUNGAN

Lebih terperinci

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Nur Hidayat Pengantar Teknologi Pertanian Minggu 9 Teori Produk hasil pertanian merupakan bahan komplek campuran dari berbagai komponen. Pemisahan atau ekstraksi diperlukan

Lebih terperinci

PEMURNIAN GLISEROL DARI PROSES TRANSESTERIFIKASI MINYAK JARAK DENGAN KATALIS SODIUM HIDROKSIDA

PEMURNIAN GLISEROL DARI PROSES TRANSESTERIFIKASI MINYAK JARAK DENGAN KATALIS SODIUM HIDROKSIDA PEMURNIAN GLISEROL DARI PROSES TRANSESTERIFIKASI MINYAK JARAK DENGAN KATALIS SODIUM HIDROKSIDA Yustia Wulandari Mirzayanti yustiawulandari@yahoo.com Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penduduk dengan taraf ekonomi rendah masih menempati angka yang cukup tinggi di negara ini. Jumlah keluarga miskin pada tahun 2003 pada Pendataan Keluarga BKKBN mencapai

Lebih terperinci

PRODUK KESEHATAN TIENS

PRODUK KESEHATAN TIENS PRODUK KESEHATAN TIENS KONSEP KESEHATAN TIENS Detoksifikasi Pelengkap Penyeimbang Pencegahan DETOKSIFIKASI Langkah pertama untuk menjaga kesehatan adalah dengan pembersihan. Membersihkan racun di dalam

Lebih terperinci

PENGAWETAN DAN BAHAN KIMIA

PENGAWETAN DAN BAHAN KIMIA PENGAWETAN DAN BAHAN KIMIA Secara garis besar pengawetan dapat dibagi dalam 3 golongan yaitu : 1) Cara alami 2) Cara biologis 3) Cara kimiawi 1) PENGAWETAN SECARA ALAMI Proses pengawetan secara alami meliputi

Lebih terperinci

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA. Pembuatan Produk

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA. Pembuatan Produk Pembuatan Produk I. Pendahuluan Sabun merupakan produk kimia yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatan sabun telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Metode pembuatan sabun pada

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT DIIT GARAM RENDAH Garam yang dimaksud dalam Diit Garam Rendah adalah Garam Natrium yang terdapat dalam garam dapur (NaCl) Soda Kue (NaHCO3), Baking Powder, Natrium Benzoat dan Vetsin (Mono Sodium Glutamat).

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1815,2014 KEMEN LH. Baku Mutu Air Limbah. Pencabutan PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

SUPLEMENTASI STEROL LEMBAGA GANDUM (Triticum sp.) PADA MARGARIN

SUPLEMENTASI STEROL LEMBAGA GANDUM (Triticum sp.) PADA MARGARIN SUPLEMENTASI STEROL LEMBAGA GANDUM (Triticum sp.) PADA MARGARIN (Supplementation of e with Wheat Germ Sterol) Sri Anna Marliyati 1)*, Hidayat Syarief 1), Deddy Muchtadi 2 ), Latifah K. Darusman 3), dan

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN GAS UNTUK KEMASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT

Lebih terperinci

PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS

PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.05.1.52.3920 TENTANG PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana. Biasanya banyak tumbuh di pinggir jalan, retakan dinding, halaman rumah, bahkan di kebun-kebun.

Lebih terperinci

Efek Pelembab Minyak Biji Bunga Matahari Dalam Sediaan Krim Tangan. The Moisturizer Effect of Sunflower Seed Oil In Hand Cream Preparation

Efek Pelembab Minyak Biji Bunga Matahari Dalam Sediaan Krim Tangan. The Moisturizer Effect of Sunflower Seed Oil In Hand Cream Preparation Efek Pelembab Minyak Biji Bunga Matahari Dalam Sediaan Krim Tangan The Moisturizer Effect of Sunflower Seed Oil In Hand Cream Preparation Nurul Husna, Suryanto* dan Djendakita Purba Departemen Teknologi

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu :

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : TEKNOLOGI TELUR STRUKTUR UMUM TELUR Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : Kulit Telur Mengandung Ca = 98.2 % Mg = 0.9 % ( menentukan kekerasan cangkang/kulit); P = 0.9%. Ketebalan yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC PENGARUH KOMPOSISI FASA GERAK PADA PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT DAN KAFEIN DALAM KOPI KEMASAN MENGGUNAKAN METODE KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI) Auliya Puspitaningtyas, Surjani Wonorahardjo, Neena

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi UJI TOTAL ASAM DAN ORGANOLEPTIK DALAM PEMBUATAN YOGHURT SUSU KACANG HIJAU ( Phaseolus radiatus ) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

SIFAT ORGANOLEPTIK, SIFAT FISIK, SERTA KADAR β-karoten DAN α-tokoferol EMULSI BUAH MERAH (Pandanus conoideus)

SIFAT ORGANOLEPTIK, SIFAT FISIK, SERTA KADAR β-karoten DAN α-tokoferol EMULSI BUAH MERAH (Pandanus conoideus) SIFAT ORGANOLEPTIK, SIFAT FISIK, SERTA KADAR β-karoten DAN α-tokoferol EMULSI BUAH MERAH (Pandanus conoideus) The Organoleptic Properties, Physical Properties, and the Level of β-carotene and α-tocopherol

Lebih terperinci

VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH?

VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH? VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH? Sebagai seorang atlet, Anda terbiasa mendengar tentang karbohidrat yang berguna sebagai sumber energi bagi otot Anda serta asam amino dan protein yang berguna

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Prinsip Dasar Pengolahan Pangan Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Mengapa Makanan Penting? Untuk Hidup Untuk Kesehatan Untuk

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

Kata kunci : in-situ esterifikasi, minyak mentah dedak padi, asam lemak bebas/ffa

Kata kunci : in-situ esterifikasi, minyak mentah dedak padi, asam lemak bebas/ffa Pengaruh Jenis Alkohol terhadap Komponen-Komponen Terekstrak pada In-Situ Ekstraksi Dedak Padi Budiono S., Faisal Resa, Orchidea R., dan M. Rachimoellah Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN GLISERIN DAN SUKROSA TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN. Oleh CHAIRUL FACHMI F03498068

PENGARUH PENAMBAHAN GLISERIN DAN SUKROSA TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN. Oleh CHAIRUL FACHMI F03498068 PENGARUH PENAMBAHAN GLISERIN DAN SUKROSA TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN Oleh CHAIRUL FACHMI F03498068 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR PENGARUH PENAMBAHAN GLISERIN DAN SUKROSA

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI BIODIESEL

TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI BIODIESEL TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI BIODIESEL Martini Rahayu ABSTRACT Biodiesel is a clean burning alternative fuel, produced from renewable resources. Biodiesel contains no petroleum, but it can be blended at any

Lebih terperinci

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA KAJIAN PROPORSI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG UBI JALAR KUNING SERTA KONSENTRASI GLISERIL MONOSTEARAT (GMS) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MUFFIN SKRIPSI OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA (6103006001)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika merupakan suatu reaksi hipersensitivitas, yang disebut juga sebagai dermatitis atopik. Penderita dermatitis atopik dan atau keluarganya biasanya

Lebih terperinci

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp)

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) Kelarutan (s) Kelarutan (solubilit) adalah suatu zat dalam suatu pelarut menatakan jumlah maksimum suatu zat ang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.23.11.11.09909 TAHUN 2011 TENTANG PENGAWASAN KLAIM DALAM LABEL DAN IKLAN PANGAN OLAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

Memastikan APAR dalam kondisi siap-siaga untuk penanganan awal terjadinya kebakaran.

Memastikan APAR dalam kondisi siap-siaga untuk penanganan awal terjadinya kebakaran. 1/9 1. Tujuan Memastikan PR dalam kondisi siap-siaga untuk penanganan awal terjadinya kebakaran. 2. lat dan Bahan 1. Sesuai kebutuhan 2. - 3. Kualifikasi Pelaksana 1. Memahami Instruksi Kerja PR 2. - 4.

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA

Lebih terperinci

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout PENENTUAN KADALUWARSA

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya mengandalkan hijauan. Karena disebabkan peningkatan bahan pakan yang terus menerus, dan juga

Lebih terperinci

PROTEIN. Rizqie Auliana

PROTEIN. Rizqie Auliana PROTEIN Rizqie Auliana rizqie_auliana@uny.ac.id Sejarah Ditemukan pertama kali tahun 1838 oleh Jons Jakob Berzelius Diberi nama RNA dan DNA Berasal dari kata protos atau proteos: pertama atau utama Komponen

Lebih terperinci

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna make up yang tidak alami untuk menutupi kulit Anda. Rona

Lebih terperinci

Konservasi Keramik Bawah Air

Konservasi Keramik Bawah Air Konservasi Keramik Bawah Air Leliek Agung Haldoko, Yudi Suhartono, Arif Gunawan Balai Konservasi Borobudur Email : leliek_agung@yahoo.co.id Abstrak : Keramik sebagai salah satu jenis tinggalan bawah air

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III Olimpiade Kimia Indonesia Kimia UJIAN PRAKTEK Petunjuk : 1. Isilah Lembar isian data pribadi anda dengan lengkap (jangan disingkat) 2. Soal Praktikum terdiri dari 2 Bagian:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB PENDAHULUAN.7. Latar Belakang Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudi dayakan di Indonesia. Ikan Nila menduduki urutan kedua setelah ikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Definisi Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan haid. Menopause

Lebih terperinci

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? JAWAB (J-01) : RUST COMBAT bekerja melalui khelasi (chelating) secara selektif. Yaitu proses di mana molekul sintetik yang

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II. 1 Bahan Bakar Diesel Bahan bakar diesel adalah bahan bakar hasil dari destilasi bertingkat dari minyak bumi, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memilih bahan makanan maka kita perlu memperhatikan kebersihan dan mutunya

BAB I PENDAHULUAN. memilih bahan makanan maka kita perlu memperhatikan kebersihan dan mutunya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahan pangan adalah bahan yang dibutuhkan oleh manusia untuk tumbuh dan berkembang serta mampu beraktifitas dan memelihara kondisi tubuh. Dalam memilih bahan

Lebih terperinci

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan minyak kelapa dan lemak sapi dalam pembuatan sabun

Lebih terperinci

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (1) 2014 Indonesian Food Technologists

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (1) 2014 Indonesian Food Technologists 21 Artikel Penelitian Produksi dan Aplikasi Senyawa Antimikroba Asal Saccharomycopsis fibuligera Strain R64 sebagai Biopreservasi Ramah Lingkungan Roostita Lobo Balia, Wendry Setyadi Putranto, Eka Wulandari,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 208/MENKES/PER/IV/r985

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 208/MENKES/PER/IV/r985 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 208/MENKES/PER/IV/r985 TENTANG PEMANIS BUATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. \Ienimbang : a. bahwa pada akhir-akhir ini terjadi peningkatan

Lebih terperinci

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari. BAB I PENDAHULUAN Saat ini banyak sekali penyakit yang muncul di sekitar lingkungan kita terutama pada orang-orang yang kurang menjaga pola makan mereka, salah satu contohnya penyakit kencing manis atau

Lebih terperinci

PEMBUATAN VCO DENGAN METODE ENZIMATIS DAN KONVERSINYA MENJADI SABUN PADAT TRANSPARAN

PEMBUATAN VCO DENGAN METODE ENZIMATIS DAN KONVERSINYA MENJADI SABUN PADAT TRANSPARAN PEMBUATAN VCO DENGAN METODE ENZIMATIS DAN KONVERSINYA MENJADI SABUN PADAT TRANSPARAN Tuti Indah Sari, Evy Herdiana, Triana Amelia Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya ABSTRAK Buah

Lebih terperinci

DIREKTORAT PAKAN TERNAK. www. pakan.ditjennak.deptan.go.id

DIREKTORAT PAKAN TERNAK. www. pakan.ditjennak.deptan.go.id Kebijakan dan SNI Pakan serta Pengawasan Penggunaan FA dan FS Pakan Ayam Petelur Dr. Ir. Mursyid Ma sum, M.Agr. Direktur Pakan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian

Lebih terperinci

REAKSI DEKARBOKSILASI MINYAK JARAK PAGAR UNTUK PEMBUATAN HIDROKARBON SETARA FRAKSI DIESEL DENGAN PENAMBAHAN Ca(OH) 2

REAKSI DEKARBOKSILASI MINYAK JARAK PAGAR UNTUK PEMBUATAN HIDROKARBON SETARA FRAKSI DIESEL DENGAN PENAMBAHAN Ca(OH) 2 REAKSI DEKARBOKSILASI MINYAK JARAK PAGAR UNTUK PEMBUATAN HIDROKARBON SETARA FRAKSI DIESEL DENGAN PENAMBAHAN Ca(OH) 2 Setiadi Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UI Kampus Baru UI Depok Andres Suranto

Lebih terperinci

Pabrik Sabun Transparan Beraroma Terapi dari Minyak Jarak dengan Proses Saponifikasi Trigliserida Secara Kontinyu

Pabrik Sabun Transparan Beraroma Terapi dari Minyak Jarak dengan Proses Saponifikasi Trigliserida Secara Kontinyu Pabrik Sabun Transparan Beraroma Terapi dari Minyak Jarak dengan Proses Saponifikasi Trigliserida Secara Kontinyu Nama 1. Rahadiana Pratiwi (2310030010) 2. Luviana Sri A. (2310030059) Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Sabun Tidak ada catatan pasti kapan sejarah pembuatan sabun dimulai. Pada waktu dahulu kala di tahun 600 SM masyarakat Funisia di mulut Sungai Rhone sudah membuat sabun

Lebih terperinci

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C)

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) : NMR Merk : JEOL JNMECA 500 Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) Attached Proton Test (APT) Correlation Spectroscopy (COSY, NOESY) Distortionless Enhancement by Polarization Transfer 9DEPT) 45 o Distortionless

Lebih terperinci

Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis

Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis Jurnal Kompetensi Teknik Vol.1, No. 2, Mei 2010 43 Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis Astrilia Damayanti dan Wara Dyah Pita

Lebih terperinci

IV BAHAN PAKAN TERNAK UNGGAS

IV BAHAN PAKAN TERNAK UNGGAS IV BAHAN PAKAN TERNAK UNGGAS Penyediaan pakan yang berkualitas baik untuk ayam kampung masih mempunyai kendala yaitu kesulitan dalam mendapatkan bahan pakan yang tidak bersaing dengan kebutuhan manusia,

Lebih terperinci

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK Kadar kurkumin dan potensi antioksidan ekstrak etanol rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Berg) Roscoe.), temu magga (Curcuma mangga Val et Zyp.) dan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Ros Sumarny,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN Riza Rahman Hakim, S.Pi Penggolongan hasil perikanan laut berdasarkan jenis dan tempat kehidupannya Golongan demersal: ikan yg dapat diperoleh dari lautan yang dalam. Mis.

Lebih terperinci

Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart

Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart a. AK + BK ph = 7 B. AK + BL ph < 7 C. AL + BK ph >

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan kecuali telah mengalami perlakuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan kecuali telah mengalami perlakuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Susu 1.1.1 Pengertian Susu Susu merupakan minuman bergizi tinggi yang dihasilkan ternak perah menyusui, seperti sapi perah, kambing perah, atau bahkan kerbau perah. Susu sangat

Lebih terperinci

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK Senyawa Fenolik pada Sayuran Indigenous III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK A. Kerangka Fenolik Senyawa fenolik, seperti telah dijelaskan pada Bab I, memiliki sekurang kurangnya satu gugus fenol. Gugus fenol

Lebih terperinci

KATALOG PRODUK. 1st Indonesian Refined Salt. www.refina.co.id marketinggaram@unichem.co.id marketing.refina@gmail.com

KATALOG PRODUK. 1st Indonesian Refined Salt. www.refina.co.id marketinggaram@unichem.co.id marketing.refina@gmail.com KATALOG PRODUK 2015 1st Indonesian Refined Salt www.refina.co.id marketinggaram@unichem.co.id marketing.refina@gmail.com 2 Katalog REFINA SERVICE & QUALITY SINCE 1990 1 st Indonesian Refined Salt adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

BAB V KERAMIK (CERAMIC) BAB V KERAMIK (CERAMIC) Keramik adalah material non organik dan non logam. Mereka adalah campuran antara elemen logam dan non logam yang tersusun oleh ikatan ikatan ion. Istilah keramik berasal dari bahasa

Lebih terperinci

ILMU GIZI. Idam Ragil Widianto Atmojo

ILMU GIZI. Idam Ragil Widianto Atmojo ILMU GIZI Idam Ragil Widianto Atmojo Ilmu gizi merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan, dikaitkan dengan kesehatan tubuh. Gizi didefinisikan sebagai makanan atau zat makanan Sejumlah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI KANDUNGAN GULA, GARAM, DAN LEMAK SERTA PESAN KESEHATAN UNTUK PANGAN OLAHAN DAN PANGAN SIAP SAJI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH BIDANG KEGIATAN : BIDANG PKMP Diusulkan oleh : Suhardi 2010430068 (2010)

Lebih terperinci

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI Ketika kita membahas pola makan sehat, sebenarnya petunjuknya sederhana, langsung dan tidak rumit. Makanan diperlukan untuk membina kesehatan. Kita membutuhkan makanan

Lebih terperinci

OPTIMASI FORMULA SABUN TRANSPARAN DENGAN HUMECTANT GLISERIN DAN SURFAKTAN COCOAMIDOPROPYL SKRIPSI

OPTIMASI FORMULA SABUN TRANSPARAN DENGAN HUMECTANT GLISERIN DAN SURFAKTAN COCOAMIDOPROPYL SKRIPSI OPTIMASI FORMULA SABUN TRANSPARAN DENGAN HUMECTANT GLISERIN DAN SURFAKTAN COCOAMIDOPROPYL BETAINE: APLIKASI DESAIN FAKTORIAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM DISUSUN OLEH FITRI RAMADHIANI KELOMPOK 4 1. DITA KHOERUNNISA 2. DINI WULANDARI 3. AISAH 4. AHMAD YANDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Lebih terperinci

tanpa tenaga ahli, lebih mudah dibawa, tanpa takut pecah (Lecithia et al, 2007). Sediaan transdermal lebih baik digunakan untuk terapi penyakit

tanpa tenaga ahli, lebih mudah dibawa, tanpa takut pecah (Lecithia et al, 2007). Sediaan transdermal lebih baik digunakan untuk terapi penyakit BAB 1 PENDAHULUAN Dalam dekade terakhir, bentuk sediaan transdermal telah diperkenalkan untuk menyediakan pengiriman obat yang dikontrol melalui kulit ke dalam sirkulasi sistemik (Tymes et al., 1990).

Lebih terperinci

BUKU AJAR TEKNOLOGI OLEOKIMIA (TKK - 322)

BUKU AJAR TEKNOLOGI OLEOKIMIA (TKK - 322) PROPOSAL PEMBUATAN DATA BASE ALUMNI HIBAH KOMPETISI KONTEN MATAKULIAH E-LEARNING USU-INHERENT 2006 BUKU AJAR TEKNOLOGI OLEOKIMIA (TKK - 322) Oleh : RONDANG TAMBUN, ST, MT NIP : 132282133 file:///d /E-Learning/Teknologi%20Oleokimia/Textbook/COVER.htm

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : a. bahwa masyarakat

Lebih terperinci