JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H / 2011 M

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H / 2011 M"

Transkripsi

1 PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT DALAM MEMBACA BUKU TEKS BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VIII SMP TERPADU DARUL AMAL SUKABUMI DENGAN TEKNIK SKIMMING TAHUN AJARAN Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Nuryati JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H / 2011 M

2 Saya yang bertanda tangan di bawah ini : LEMBAR PERNYATAAN Nama : Nuryati Tempat/Tanggal Lahir : Cianjur, 14 Maret 1987 NIM : Jurusan/Prodi Judul Skripsi Dosen Pembimbing : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia : Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat dalam Membaca Buku Teks Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi dengan Teknik Skimming Tahun Ajaran : Drs. Cecep Suhendi, M.Pd Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis. Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah. Jakarta, Mahasiswa Ybs. Nuryati

3 ABSTRAK Nuryati , Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat dalam Membaca Buku Teks Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII D SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi dengan Teknik Skimming Tahun Ajaran Penelitian ini berawal dari rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan teknik skimming siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal; (2) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal dengan diadakan membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan teknik skimming. Oleh karena itu, melalui penelitian secara khusus ingin mencapai tujuan penelitian antara lain: (1) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal; (2) Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal dengan diadakan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yaitu suatu penelitian yang dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi permasalah yang ada di dalam kelas. Metode yang dilakukan peneliti terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian, terjadi peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi. Dan terjadi perubahan perilaku siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal dengan diadakan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

4 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah, Rabb semeta alam yang telah melimpahkan nikmatnya pada kita dengan mengutus Nabi Saw yang agung, dan memerintahkan kita mengikuti akhlak belau yang mulia agar kita menjadi orang-orang yang mulia dan beruntung memperoleh Ridho Allah dari hari pembalasan nanti. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kehariban sang penuntun yang mendidik dan membawa kita dari gelapannya kemusyrikan menuju cahaya tauhid yang demikian benderang. Dialah Nabi Muhammad Saw yang jujur lagi terpercaya. Meskipun melalui banyak hambatan yang dialami penulis dalam penyusunan skripsi ini, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan terutama dana yang tak mungkin dilukiskan dengan kata-kata. Namun dengan keuletan dan kesungguhan akhirnya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, meski tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik moril yang hikmahnya dapat penulis rasakan maupun materil yang penulis bergantung padanya. Untuk semua itu penulis dapat menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak, terutama penulis ingin menyampaikan kepada: 1. Nurlena Rifa i, M.A. Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA., M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Drs. Cecep Suhendi, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, petunjuk serta bimbingan dalam penulisan skripsi ini. 4. Seluruh dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan ilmunya selama masa perkuliahan.

5 5. Seluruh staf perpustakaan utama dan staf perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan staf perpustakaan Universitas Terbuka. Atas tersedianya buku-buku yang dapat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Keluarga Besar Pondok Pesantren Terpadu Darul Amal Sukabumi, khusunya Kepala Sekolah, bagian Kurikulum, guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, dan staf SMP-T yang telah memberikannya waktunya kepada penulis untuk melaksanakan penelitian demi terselesaikannya skripsi ini. 7. Bapak Efendi dan mamah Neneng tersayang, yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis untuk terus maju meraih kesuksesan, dan selalu memberikan kasih sayangnya kepada penulis sampai detik ini (mah, pak ini adalah persembahan atau hadiah berharga dari Eteh). Maafkan Ananda belum bisa membalas pengorbanan semuanya, semoga Allah Swt senantiasa memberikan curahan Rahmat dan Kasih sayang-nya kepada mereka. Amin. 8. Mamah H. Ai Nurani tercinta, yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan kepada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Apih Dudung sareng Mimih Nurhayati sakulawargi yang senantiasa dengan sabar mendidik, membesarkan, memotivasi dan memberikan dukungan dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga dan tak pernah putus. 9. Saudara-saudaraku tercinta, Bi Siti Rohmah sareng amang Firman yang selalu senantiasa penulis repotkan pada saat penulis kekurangan materi. 10. Beh Sayidah sareng mang Rusman, yang selalu memotivasi penulis untuk tetap semangat. 11. Wa Een sareng Wa Asep, Wa Eulis yang selalu memberikan motivasi dan kasih sayang yang hingga penulis untuk terus maju dan selalu semangat.

6 12. Buat Aa ku tercinta Neng ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, karena Aa tidak pernah berhenti memotivasi dan menyemangati Neng. Love You sayang. 13. Adik-adikku Sayang Siti Kodariah, Siti Jahrah, dan Deris, keluarga besar dari Mamah dan keluarga besar dari Bapak yang selalu mendoakan penulis siang dan malam sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 14. Sahabat-sahabatku Elis, Mbk Indah, Rasdi, Mas Kris, Eva, Maya, dan Leli yang tak henti-hentinya menemani, menghibur, memotivasi penulis ketika penulis dalam kesulitan, semoga persahabatan kita tidak pernah putus ditelan waktu. Teman-teman PBSI angkatan 2007 khususnya kelas A, dan Teman-teman ILMIDA. Juga buat teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca yang budiman sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Dengan demikian, besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta, September 2011 Penulis

7 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR BAGAN... vii DAFTAR GAMBAR... viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi Masalah... 5 C. Batasan Masalah... 6 D. Rumusan Masalah... 6 E. Tujuan Penelitian... 7 F. Manfaat Penelitian... 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS A. Landasan Teoretis... 9 B. Kajian Pustaka C. Kerangka Berpikir D. Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Subjek Penelitian B. Tempat Penelitian C. Desain Penelitian D. Instrumen Penelitian E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Sekolah B. Hasil Penelitian C. Pembahasan... 80

8 BAB V PENUTUP A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

9 DAFTAR TABEL Tabel 1. Daftar subjek penelitian Tabel 2. Kategori penilaian pemahaman membaca cepat Tabel 3. Pedoman penilaian kecepatan membaca Tabel 4. Hasil kecepatan membaca prasiklus Tabel 5. Hasil pemahaman kemampuan membaca cepat prasiklus Tabel 6. Hasil kecepatan membaca siklus I Tabel 7. Hasil pemahaman kemampuan membaca cepat siklus I Tabel 8. Hasil observasi aspek positif siklus I Tabel 9. Hasil observasi aspek negative siklus I Tabel 10. Hasil kecepatan membaca siklus II Tabel 11. Hasil pemahaman kemampuan membaca cepat siklus II Tabel 12. Hasil observasi aspek positif siklus II Tabel 13. Hasil observasi aspek negative siklus II Tabel 14. Peningkatan kecepatan membaca teks Tabel 15. Peningkatan pemahaman membaca teks... 83

10 DAFTAR BAGAN Bagan 1. Model tahapan-tahapan pelaksanaan PTK... 36

11 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Aktivitas siswa membaca cepat siklus I Gambar 2. Aktivitas siswa menghitung kecepatan membaca siklus I Gambar 3. Aktivitas siswa menjawab soal siklus I Gambar 4. Aktivitas siswa saat mengisi jurnal siklus I Gambar 5. Aktivitas siswa membaca cepat siklus II Gambar 6. Aktivitas siswa menghitung kecepatan membaca siklus II Gambar 7. Aktivitas siswa menjawab soal siklus II Gambar 8. Perbandingan aktivitas siswa membaca cepat Gambar 9. Perbandingan aktivitas siswa menghitung kecepata membaca 92 Gambar 10. Perbandingan aktivitas siswa menjawab soal... 99

12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesadaran tentang pentingnya pendidikan dapat memberikan harapan yang lebih baik di masa mendatang, telah mendorong berbagai upaya lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Berbagai cara yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia seperti adanya Kurikulum Tingkat Kesatuan Pendidikan (KTSP) yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pembelajaran membaca sebagai bagian dari pembelajaran bahasa yang mengalami perkembangan dari masa ke masa, seperti di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Pembelajaran membaca harus diperhatikan kebiasaan cara berpikir teratur dan baik. Hal ini disebabkan membaca sebagai suatu proses yang sangat kompleks, dengan melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa di samping keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis. Keterampilan membaca dapat dipelajari dengan berbagai cara. Cara yang akan ditempuh harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan membaca sesuai standar kempetensi dan kompetensi dasar.

13 Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan isi bacaan dari apa yang ditulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses mental dalam sistem kognisinya. Menurut Enderson dalam bukunya Cahyani, dkk dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (oral language meaning) yang mencakup perubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. 1 Membaca adalah suatu kegiatan berinteraksi dengan teks dan menerka isi teks yang dibaca. Untuk dapat melaksanakan proses berinteraksi dan menerka isi teks secara efektif dan efisien, diperlukan sejumlah pengetahuan. Membaca juga merupakan proses pemecahan masalah, yang aktif dan bukan keterampilan bahasa yang pasif, tetapi keterampilan yang aktif. Kemampuan membaca merupakan salah satu dari keempat keterampilan berbahasa yang diajarkan dan berkonsekuensi diteskan, kepada pembelajar bahasa. Bersama dengan kemampuan menyimak, kemampuan membaca tergolong kemampuan aktif reseptif, tetapi berbeda media penyampaiannya. Kemampuan menyimak dipergunakan untuk mengukur kemampuan memahami bahasa lisan, sedangkan kemampuan membaca untuk bahasa tulis. Banyak cara yang distandarkan 1 Isah Cahyani dan Hodijah, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, (Bandung: UPI Press, 2007), hlm. 9

14 untuk mengukur kemampuan membaca. Sejumlah teknik pengukur kemampuan membaca yang sering dipergunakan antara lain adalah dengan mempergunakan bentuk betul-salah, melengkapi kalimat, pilihan ganda, pembuatan ringkasan, dan lain-lain. 2 Membaca merupakan hal yang penting atau hal yang paling mendasar dalam dunia pendidikan. Karena membaca merupakan proses memperoleh informasi atau wawasan dari buku yang dibaca terutama buku mata pelajaran. Jadi, tanpa membaca tidak akan memperoleh informasi yang dapat menambah wawasan siswa. Membaca cepat merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Keberhasilan dalam menguasai dan mempraktikkan membaca cepat tergantung pada sikap, tingkat keseriusan, dan kesiapan untuk berlatih. Kecepatan membaca memiliki hubungan erat dengan pemahaman. Seseorang dapat menyelesaikan bacaannya dalam waktu yang cepat, tetapi sedikit memahami bacaan, maka tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat. Adapun seorang mempunyai kemampuan membaca yang sangat lambat, dan memiliki pemahaman yang rendah, mungkin saja orang tersebut dapat terganggu ingatannya, sehingga harus berjuang keras untuk mengingat paragraf, kalimat, dan kata-kata yang telah dibacanya. Teknik membaca yang dipilih sangat bergantung pada tujuan membaca. Baik skimming maupun scanning merupakan teknik membaca yang khusus diperlukan dalam membaca cepat dan efektif. Teknik membaca skimming merupakan kegiatan 2 Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. Ke-1, hlm

15 membaca yang lebih menyeluruh yang memerlukan penglihatan menyeluruh dan memerlukan kompetensi yang khusus. Sedangkan teknik membaca scanning merupakan kegiatan membaca yang terbatas, karena hanya pencari informasi yang spesifik. Walaupun demikian, kedua teknik ini bisa dipakai dalam waktu yang bersamaan, dan yang akan penulis bahas yaitu, teknik skimming. Dalam pembelajaran terutama mata pelajaran bahasa Indonesia, untuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) evaluasi siswa tidak berdasarkan satu aspek saja melainkan ada empat aspek berbahasa yaitu aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jadi, empat keterampilan berbahasa ini dievaluasikan kepada siswa. Pada hakikatnya, aktivitas membaca terdiri dari dua bagian yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca. 3 Oleh karena itu, para siswa perlu dilatih secara intensif, teratur, dan berkesinambungan dalam kegiatan membaca untuk melakukan kegiatan yang aktif dan dapat merangsang pola pikir mereka. Dari survei pendahuluan yang penulis laksanakan meliputi observasi dan wawancara dengan guru dan siswa di kelas VIII SMP-T Darul Amal untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi siswa, diperoleh data keadaan siswa dan kemampuan siswa, karateristik siswa, dan keinginan siswa sebagai berikut. 3 Novi Resmini, Yayah Churiyah, dan Nenden sundori, Membaca dan Menulis di SD Teori da Pengajarannya, (Bandung: UPI Press, 2008), hlm. 93

16 Pertama, berdasarkan wawancara dengan siswa menyatakan pernah belajar membaca cepat namun mereka belum pernah belajar membaca cepat dengan suatu teknik. Guru masih menerapkan proses pembelajaran konvensional yaitu guru berceramah dan siswa mengerjakan tugas. Guru hanya mengajarkan siswa untuk membaca tanpa disertai dengan teknik yang dapat memudahkan siswa untuk membaca dengan cepat serta dapat menemukan memahami bacaan dengan cepat pula. Kedua, berdasarkan keterangan guru dan hasil observasi, kemampuan membaca siswa masih dalam tahap per kata dan kalimat. Ketiga, berdasarkan keterangan guru, siswa jika diberi pelajaran membaca tampak kurang berminat dan kurang tertarik dengan bacaan yang disajikan. Keempat, berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, mereka ingin pembelajaran yang menyenangkan. Selama ini siswa menganggap pembelajaran membaca membosankan. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan-permasalahan yang timbul berkaitan dengan rendahnya kemampuan membaca cepat yang dapat diidentifikasi berikut ini. 1. Siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal dalam pembelajaran membaca cepat teks masih dikatakan rendah dan hal ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor guru dan faktor siswa. 2. Faktor dari guru, yaitu (a) Penjelasan materi yang disampaikan guru sulit dipahami oleh siswa; (b) Tidak pernah menggunakan teknik dalam pembelajaran membaca cepat sehingga kurang menarik dan membosankan.

17 3. Faktor dari siswa, yaitu (a) Kurang minat siswa untuk mengikuti pelajaran bahasa Indonesia; (b) Kurangnya pemahaman siswa tentang hakikat membaca cepat yang sebenarnya; (c) Kurangnya latihan membaca sehingga siswa belum bisa membaca cepat teks. Untuk mengatasi masalah pertama yang terdapat pada guru, sebaiknya metode atau teknik pembelajaran yang selama ini digunakannya diubah. Selain itu, guru lebih banyak berkomunikasi dengan siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami serta memberikan kesempatan untuk bertanya. Sedangkan, untuk mengatasi masalah faktor pada siswa yang kurang berminat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia, karena menganggap pelajaran tersebut membosankan dan banyak siswa yang meremehkan, karena tanpa belajar pun mereka sudah dapat berbahasa Indonesia. Untuk mengubah anggapan yang demikian, guru sebaiknya memberikan arahan dan pengertian kepada siswa bahwa pentingnya pelajaran bahasa Indonesia dalam kehidupan mereka. C. Batasan Masalah Dari berbagai masalah yang telah dikemukakan, permasalahan penelitian ini dibatasi pada kemampuan membaca cepat pada pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal perlu dikaji karena nilai akademis mereka masih di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan oleh cara mengajar guru. Guru selama ini hanya menggunakan metode ceramah yang membosankan sehingga tidak menggugah minat siswa untuk membaca sehingga siswa merasa jenuh belajar yang sifatnya monoton.

18 D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka timbul permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal Tahun ajaran ? 2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal dengan diadakan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming Tahun ajaran ? E. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal Tahun ajaran Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal dengan diadakan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming Tahun ajaran F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis setelah dilakukannya latihan membaca cepat melalui pembelajaran siklus adalah menambah khasanah pengembangan pengetahuan membaca cepat. Selain itu, mengembangan teori pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

19 Manfaat praktis, bagi guru hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan bagi guru dan calon guru khususnya dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam pemilihan teknik yang relevan dengan materi pelajaran. Bagi siswa, memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang bermakna dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Manfaat bagi pendidikan, melalui penelitian diharapkan dapat menjadi renungan bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan pelaksana, agar dapat menyuguhkan pendidikan yang lebih berkualitas.

20 BAB II LANDASAN TEORETIS DAN KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teoretis Teori-teori yang digunakan untuk membahas permasalahan penelitian ini, terdiri atas teori yang berkenaan dengan memabaca cepat untuk memperoleh inti atau gagasan dalam teks yang dibaca dan termasuk di dalamnya dengan menggunakan teknik skimming. Berikut ini, uraian masing-masing teori yang relevan dengan penelitian membaca cepat dalam membaca buku teks dengan teknik skimming. 1. Hakikat Membaca Menurut KBBI membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau atau hanya dalam hati). 4 Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar menghafal tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, prikolinguistik, dan meta kognitif. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. 5 Menurut Goodman dalam Alfin, membaca merupakan suatu proses dinamis untuk merekonstruksi suatu pesan yang secara grafis dikehendaki oleh penulis. 6 4 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), ed. Ke-4 hlm Prambudi Angga Tristono, Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia Siswa kelas V SD Negeri Siliwangi 01 Kecamatan Semarang Barat, Program D2 PGKSD, UNNES. 2006, hlm. 4 6 Jauharoti Alfin, dkk. Bahasa Indonesia 1, (Surabaya: Learning Assistance Program For Islamic Schools, 2008) ed. 1 paket 7, hlm. 7-10

21 Menurut Syafi ie dalam Alfin, membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan proses psikologis dimulai ketika indra visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melalui sistem saraf. 7 Jadi, membaca adalah suatu kegiatan yang berinteraksi dengan teks dan menerka isi teks yang dibaca. Melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pikiran, pemahaman, daya khayal, dan pemecahan masalah. 2. Proses Membaca Menurut Burns dalam Prambudi, proses membaca meliputi sembilan aspek, yaitu: a. Aspek sensori Pada tahap ini anak belajar membedakan secara visual simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk mempresentasikan bahasa lisan. b. Aspek perseptual Anak mengenali rangkaian simbol tertulis, baik berupa kata, frasa, atau kalimat kemudian memberi makna dengan menginterpretasikan teks yang dibacanya. c. Aspek urutan Kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umumnya tampil pada satu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. 7 Ibid. 7-12

22 d. Aspek pengalaman Anak yang mempunyai pengalaman yang banyak akan mempunyai kesempatan luas dalam mengembangkan pemahaman kosakata dan konsep yang dihadapi dalam membaca. e. Aspek berpikir Anak membuat simpulan berdasarkan isi bacaan untuk dapat memahami bacaan tersebut. f. Aspek pembelajaran Anak belajar membaca dalam kegiatan pembelajaran. g. Aspek asosiasi Anak mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna. h. Aspek afektif Kegiatan memusatkan perhatian anak, membuktikan kegemaran membaca dan menumbuhkan motivasi ketika sedang membaca. i. Aspek pemberian gagasan Anak memberikan gagasan atau pendapat tentang teks yang telah mereka baca Jenis-jenis Membaca Ditinjau dari terdengar atau tidaknya suara pembaca, membaca dapat dibagi dua yaitu: 8 Prambudi Angga Tristono, Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia Siswa kelas V SD Negeri Siliwangi 01 Kecamatan Semarang Barat, Program D2 PGKSD, UNNES. 2006, hlm. 5-6

23 a. Membaca nyaring, membaca bersuara, atau membaca lisan (oral reading). Cara ini dilakukan ketika belajar membaca sewaktu di sekolah dasar, deklamasi puisi, membaca naskah pidato, dan ikrar. b. Membaca dalam hati (silent reading). Cara ini dilakukan ketika membaca buku, surat kabar, atau majalah. Tujuan membaca dalam hati adalah agar si pembaca mampu memahami isi bacaan dengan baik dan cepat. Pada saat membaca dalam hati, yang kita gunakan adalah: 1. Mata digunakan untuk melihat dan menyapu halaman-halaman yang dibaca dengan cepat. 2. Ingatan berperan sebagai penyimpan dan penyaring isi bacaan yang ditangkap melalui mata. Jadi, dilihat dari terdengar atau tidaknya suara pembaca yang penulis bahas adalah jenis membaca dalam hati (silent reading). Ditinjau dari tujuannya, membaca terbagi atas dua jenis yaitu: 1. Membaca ekstensif adalah cara membaca yang dilakukan terhadap sebanyak-banyaknya teks dalam waktu sesingkat mungkin. Teknik ini lebih tepat dilakukan ketika menghadapi jumlah teks yang sangat banyak, sedangkan waktu yang dimiliki sangat sempit. Tujuan membaca ekstensif adalah (a) memperoleh pemahaman umum; (b) menemukan hal tertentu dalam teks. 2. Membaca intensif adalah membaca untuk memahami dan menganalisis bahan bacaan secara teliti dan mendalam.

24 Jadi, ditinjau dari tujuan membaca di atas yang penulis bahas adalah membaca ekstensif yaitu membaca dilakukan sebanyak-banyak teks dalam waktu yang singkat. Ditinjau dari kecepatannya, membaca terbagi atas jenis-jenis berikut. 1. Membaca reguler, yaitu cara membaca dengan kecepatan relatif lambat. Cara ini dilakukan dengan membaca baris demi baris, dengan tujuan memahami teks yang tingkat kesulitannya sangat tinggi, misalnya karyakarya ilmiah. 2. Membaca sekilas (scanning) adalah membaca dengan melihat sekilas bagian-bagian teks, terutama judul, daftar isi, kata pengantar, atau lainnya. Cara ini lebih tepat dilakukan ketika membaca koran atau bacaan-bacaan ringan lainnya. 3. Membaca cepat (skimming) adalah membaca dengan cara lebih cepat. Pandangan mata langsung meluncur, menyapu halaman-halaman teks. Cara ini lebih tepat dilakukan untuk mencari sesuatu kata dalam kamus atau nomor tertentu dalam buku telepon. 4. Membaca kecepatan tinggi (warp speed) adalah cara membaca suatu teks dengan kecepatan tinggi dengan disertai pemahaman yang tinggi pula. Jadi, ditinjau dari jenis kecepatan membaca di atas yang penulis bahasa adalah membaca cepat (skimming) yaitu membaca dengan cara yang lebih cepat. 4. Hakikat Membaca Cepat Membaca cepat merupakan salah satu kegiatan membaca yang menitikberatkan pada pemahaman isi bacaan secara tepat dengan waktu yang relatif

25 singkat. Jadi, ada dua faktor yang memang penting dalam membaca cepat yaitu kecepatan dan ketepatan. 9 Membaca cepat merupakan suatu keterampilan dan yakinlah bahwa keterampilan itu dapat dilatih. Keberhasilan Anda dalam menguasai dan mempraktikkan teknik membaca cepat akan sangat bergantung pada sikap, keseriusan, dan kesiapan untuk mencoba melatihkan teknik tersebut. Untuk itu, apabila Anda merasa belum dapat membaca cepat, Anda harus berkeinginan untuk memperbaiki dan merasa yakin bahwa Anda akan dapat melakukan hal itu. 10 Membaca cepat mempunyai beberapa keuntungan terutama dalam keadaan mendesak waktu. Dengan membaca cepat memberikan kesempatan untuk membaca secara luwes. 11 Metode membaca cepat tergantung pada beberapa tujuan atau pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, bukan bagian-bagian perinciannya yang detail-detail. Metode membaca cepat menuntut kecepatan yang paling tinggi. 12 Jadi, membaca cepat itu adalah kemampuan membaca dengan memperhatikan tujuan dari membaca dan merupakan sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. 9 Atikah Anindyarini dan sri Ningsih, Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas VII, (Jakarta: Depdiknas, 2008), hlm Kisyani Laksono, dkk, Membaca 2, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. 1, hlm Budinuryatna, Kasuriyanta, dan Imam Koermen, Pengajaran Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. I, hlm Saadie, Ma mur, dkk Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. 1, cet. ke-1, hlm. 10.5

26 Albert dalam Harras mengemukakan tujuan utama dalam membaca cepat, yaitu untuk: a. Memperoleh kesan umum dari suatu buku, artikel, atau tulisan singkat; b. Menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan; c. Menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan. Sedangkan manfaat membaca cepat adalah sebagai berikut: a. Untuk mencari informasi yang kita perlukan dari sebuah bacaan secara cepat dan efektif; b. Dalam waktu yang singkat dapat menelusuri banyak halaman buku atau bacaan; c. Tidak banyak waktu yang terbuang karena tidak perlu memperhatikan atau membaca bagian yang tidak kita perlukan Hambatan Membaca Cepat Membaca cepat bagi orang awam atau seseorang yang tidak mendapatkan latihan khusus membuat mereka merasa lelah dalam membaca karena lamban dalam membaca. Ada beberapa hal yang dapat menghambat proses membaca cepat yaitu: a. Sulitnya konsentrasi Ketika tidak konsentrasi dalam membaca, informasi yang diterima oleh mata kemudian diteruskan ke otak tidak mendapat perhatian cukup sehingga menyebabkan hilangnya pemahaman. Tidak jarang hal ini membuat seseorang harus mengulang bahan bacaan berkali-kali dalam proses membaca. Pengulangan ini 13 Mohamad Yunus, at. al., Bahasa Indonesia (Tim Penulis Bahas Indonesia UT-ASMI), (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. 2, cet. Ke-3, hlm. 2.20

27 disebut regresi dan merupakan salah satu kebiasaan yang perlu dihilangkan jika ingin memperbaiki kecepatan baca. 14 Kesulitan berkonsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor di antaranya: kelelahan fisik dan mental, bosan, atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan. Konsentrasi juga dapat terganggu karena adanya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti suara musik yang terlalu keras, TV yang menyala, orang lalu-lalang, dan lain-lain. Dalam membaca konsentrasi sangat penting karena menentukan kemampuan dalam menangkap dan memahami isi bacaan. Apalagi ketika kita membaca cepat, maka konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya. 15 Sebelum membaca, coba atasi faktor-faktor yang menyebabkan sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum mulai membaca. Setelah hal di atas dilakukan, selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan konsentrasi itu sendiri. Dalam membaca cepat konsentrasi yang dibutuhkan adalah kerjasama antara mata dan otak yang bekerja menangkap kata dengan cepat dan otak menerjemahkan, mengomentari, dan memahami kata demi kata yang ditangkap. b. Kurangnya motivasi Banyak orang membaca tetapi tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan yang dibaca. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat membaca dengan 14 Muhammad Nur, Speed Reading For Beginners, (Panduan Membaca lebih cepar, lebih cerdas, dan pemahaman yang lebih baik), ed. Bahasa Indonesia, hlm Ibid. 41

28 lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang dibaca. Salah satu penyebab rendahnya motivasi karena tidak tahu apa yang ingin diperoleh dari bahan bacaan. Seseorang yang memiliki motivasi rendah seperti seorang pengendara yang terus berjalan tetapi tidak tahu hendak kemana tujuan yang akan dicapai. 16 Motivasi menjadi pendukung konsentrasi dan saling membantu dalam menciptakan pemahaman yang utuh baik secara nalar maupun emosional. Jika memiliki otak yang cemerlang dan konsentrasi yang tinggi, dapat memahami materi dengan mudah. Akan tetapi, motivasi yang membantu untuk mempertahankan pemahaman tersebut dalam jangka panjang karena motivasi melibatkan emosi dan keinginan untuk menikmati suatu bahan bacaan. 17 c. Khawatir tidak memahami materi yang dibaca Ada orang yang minder duluan ketika baru melihat buku yang hendak dibaca. Khawatir bahwa buku tersebut terlalu berat dan nanti tidak bisa dipahami. Rasa khawatir ini ternyata akan menjadi kenyataan jika terus dibawa ketika membaca. Kekhawatiran bahwa tidak bisa atau sulit memahami isi bacaan akhirnya akan benar-benar menjadi kenyataan. Untuk itu singkirkan semua kekhawatiran tersebut. Yakinkan pada diri sendiri bahwa meskipun buku yang hendak dibaca mungkin cukup sulit, bukan berarti tidak 16 Ibid Ibid. 43

29 bisa memahaminya. Batu yang keras sekalipun akan berlubang oleh tetesan air yang terus-menerus. 18 d. Kebiasan buruk dalam membaca Hal terakhir yang kita bahas dalam hambatan membaca adalah kebiasaan buruk yang dimiliki seseorang. Kebiasaan buruk dalam membaca jika terus dipelihara akan membuat kecepatan membaca terganggu. 19 Banyak orang memiliki kebiasaan buruk dalam membaca sehingga memperlambat kecepatan termasuk membuat tingkat pemahaman lebih rendah. Hambatan tersebut diantaranya: 1) Vokalisasi : Hal ini dilakukan dengan cara melafalkan apa yang dibaca. Dengan demikian, kecepatan membaca akan sama dengan kecepatan berbicara. Tingkat vokalisasi ini berbeda pada tiap-tiap orang termasuk tinggi rendahnya bunyi yang yang dilafalkan. Kebiasaan vokaliasasi penulis duga muncul ketika pertama belajar membaca dan diminta melafalkannya. Untuk mengatasinya, tiuplah (bibir seperti bersiul) ketika membaca dan letakan tangan di leher untuk meyakinkan bahwa tidak ada getaran. 20 2) Subvokalisasi : Ada orang membaca tanpa suara di bibir, tetapi di hati. Dengan cara ini, dampaknya kurang lebih sama dengan vokalisasi yakni kecepatan baca sama dengan kecepatan berbicara. 18 Ibid Ibid Mohamad Yunus, at. al., Bahasa Indonesia (Tim Penulis Bahas Indonesia UT- ASMI), (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. 2, cet. Ke-3, hlm. 2.20

30 Untuk mengatasinya, usahakan melebarkan jangkauan mata sehingga fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada melafalkannya. 21 3) Gerakan bibir : Ada juga yang tidak bersuara, tetapi bibir seperti orang berbicara dan melafalkan sesuatu. Kebiasaan ini berakibat sama dengan dua kebiasaan buruk yang kita bahas. Untuk mengatasinya, yaitu: a) Rapatkan bibir kuat-kuat, tekankan lidah ke langit-langit mulut; b) Kunyahlah permen; c) Ucapkan berulang-ulang, satu, dua, tiga atau tu, wa, ga. 22 4) Gerakan kepala : Banyak orang ketika membaca kepalanya ikut bergerak mengikuti kata demi kata dalam bahan bacaan. Dengan demikian kepala bergerak secara teratur dari kiri ke kanan kembali lagi ke kiri dan seterusnya. Kebiasaan ini akan menghambat kecepatan baca karena pergerakan kepala sebenarnya kalah jauh dengan pergerakan mata. Untuk mengatasinya, yaitu: a) Letakan telunjuk jari ke pipi dan sandarkan siku tangan ke meja selama membaca; b) Peganglah dagu seperti memegang jenggot; c) Letakan ujung-ujung telunjuk jari di hidung, sehingga bila kepala bergerak akan segera menyadarinya dan dapat menghentikannya Ibid Ibid. 2.20

31 5) Regresi : Pernahkah membaca suatu kalimat atau paragraf kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian balik lagi dan mengulang kalimat atau paragraf tersebut. Bayangkan jika dalam satu halaman saja melakukannya kali, berapa banyak waktu yang telah terbuang. Untuk mengatasinya, yaitu: a) Tanamkan kepercayaan diri, jangan berusaha menghapal dan mengerti setiap kata atau kalimat pada paragraf itu jangan terpaku pada detail. Teruskan saja baca, jangan ikuti godaan untuk kembali ke belakang; b) Puasatkan perhatian pada bahan bacaan, bila ada yang tertinggal, tinggalkan saja! c) Bacalah terus sampai kalimat selesai. Apa yang tertinggal nanti akan muncul lagi dan akan Anda temui lagi. Tak ada alasan untuk mengecek ke belakang. 24 Setelah kita mengetahui hambatan membaca cepat yang telah dipaparkan di atas, mulailah kita menghilangkan hambatan tersebut satu per satu agar kita bisa menjadi pembaca yang cepat dan tepat. Kita harus sadari ketika kebiasaan itu masih terbawa, kita tidak akan dapat meningkatkan kemampuan membaca. 6. Manfaat Kemampuan Membaca Cepat a. Banyak informasi penting dapat diserap dalam waktu yang cepat; b. Membaca cepat memperluas wawasan; 23 Ibid Ibid. 2.21

32 c. Membaca cepat meningkatkan kemahiran berbahasa yang lain; d. Memabaca cepat membantu menghadapi ujian/tes; e. Membaca cepat meningkatkan pemahaman Cara Meningkatkan Kecepatan Membaca Soedarso dalam Uswatun Khasanah menguraikan cara meningkatkan kecepatan membaca antara lain (1) melihat dengan otak karena otak menyerap apa yang dilihat mata serta persepsi dan interpretasi otak terhadap tulisan yang dilihat oleh mata dapat mempengaruhi pemahaman terhadap bacaan; (2) menggerakkan mata terarah (fixed) pada suatu sasaran (kata) dan melompat ke sasaran berikutnya; (3) melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata yaitu satu fiksasi meliputi dua atau tiga kata; (4) membaca satu fiksasi untuk satu unit pengertian; dan (5) meningkatkan konsentrasi karena dengan konsentrasi, pembaca menjadi cepat mengerti dan memahami bacaan. Nurhadi dalan Uswatun Khasanah lebih detail menguraikan cara meningkatkan kecepatan membaca yaitu (1) menerapkan metode dan teknik membaca; (2) memilih aspek tertentu saja yang dibutuhkan dalam bacaan sesuai dengan tujuan membaca; (3) membiasakan untuk membaca pada kelompokkelompok kata; (4) jangan mengulang kalimat yang telah dibaca; (5) jangan selalu berhenti lama di awal baris atau kalimat; (6) cari kata-kata kunci yang menjadi tanda awal dari adanya gagasan utama sebuah kalimat; (7) abaikan kata-kata tugas yang 25 Kholid Harras, Endah Tri Priyanti, dan Titik Harsiati, Membaca 1, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), ed. 1, cet. Ke-2, hlm

33 berulangulang seperti yang, di, dari, pada dan sebagainya; (8) jika penulisan dalam bentuk kolom, arahkan gerak mata ke bawah lurus (vertikal). Wainwright dalam Uswatun Khasanah beberapa cara untuk meningkatkan kecepatan membaca antara lain (1) menghilangkan regresi karena regresi dapat memperlambat kecepatan membaca; (2) mengembangkan ritme, cara ini dilakukan untuk menghindari regresi; (3) meningkatkan daya jangkauan pandang mata dapat dilakukan dengan melihat kata-kata sekaligus, mengenali kumpulan kata, dan mengubah cara kerja otak dalam menerima informasi; (4) latihan tachistoscopic atau sering disebut flashing, latihan ini menggunakan perangkat antiregresi. 26 Secara teoretis, kecepatan membaca dapat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali lipat dari kecepatan semula. Dengan mengetahui metode dan teknik mengembangkan kecepatan membaca, diikuti latihan yang intensif, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk ketika membaca, dan membiasakan diri membaca dengan cepat maka dalam beberapa minggu kecepatan membaca dapat meningkat. 8. Mengukur Kecepatan Membaca Membaca merupakan keterampilan berbahasa, dan setiap orang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda-beda, namun kemampuan membaca dapat diukur. Rumus membaca cepat: x=y x 60 menit z 26 Uswatun Khasanah, Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat untuk Menemukan Ide Pokok dengan Teknik Ayunan Visual Siswa X-II SMA Negeri 2 Semarang Tahun ajaran 2008/2009. (Skripsi: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNNES 2009), hlm

34 Keterangan: x : kecepatan membaca y : jumlah kata teks yang telah berhasil dibaca z : lama membaca dalam detik Rumusan untuk mengetahui tingkat kemampuan pemahaman isi teks: Kemampuan pemahaman isi teks = Jumlah jawaban betul x 100% Jumlah soal Rumusan untuk mengetahui kemampuan membaca: Kemampuan membaca = kecepatan baca x kemampuan pemahaman isi teks Hakikat Buku Teks Istilah buku teks yang dipergunakan dalam modul ini adalah terjemahan atau padanan textbook dalam bahasa Inggris. Walaupun dalam kamus textbook diterjemahkan dengan buku pelajaran (Echols dan Shadily; 1983 : 1984) tetapi demi kepraktisan dan untuk menghindarkan kesalahpahaman maka istilah buku teks tetap diperguanakan dalam modul ini. 28 Buku teks adalah buku pelajaran dalam pelajaran tertentu yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu buat maksud-maksud dan tujuan instruksional, yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang suatu program pengajaran Atikah Anindyarini dan Sri Ningsih, Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas VII, (Jakarta: Depdiknas, 2008), hlm Dadang Sundawa, Yon Rizal, dan Rifai Asfari, Kurikulum dan Buku Teks Pendidikan Ekonomi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), cet. Ke- 4, hlm ), hlm Henry Guntur Tarigan dan. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung: Angkasa,

35 a. Fungsi buku teks Dalam Tarigan, Greene dan Patty merumuskan beberapa peran buku teks sebagai berikut: 1) Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran; 2) Menyajikan suatu sumber pokok masalah subject-matter yang kaya, mudah dibaca, dan bervariasi sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan ketika keterampilanketerampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya; 3) Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi; 4) Menyajikan bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya metode dan sarana pengajaran untuk memotivasi para siswa; 5) Menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam awal yang perlu dan sebagai penunjang bagi pelatihan dan tugas praktis; 6) Menyajikan bahan/sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tempat guna. 30 7) Menyediakan suatu sumber yang tersusun 30 Ibid. 17

36 b. Kualitas buku teks 1) Buku teks harus menarik minat siswa yang mempergunakannya; 2) Buku teks harus memberikan motivasi kepada siswa pemakainya; 3) Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik para siswa yang memanfaatkannya; 4) Buku teks seyogyanya memepertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya; 5) Buku teks isinya harus berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya; lebih baik kalau dapat menunjangnya dengan rencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu; 6) Buku teks harus dapat menstimulasi, merangsang aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya; 7) Buku teks harus dengan sadar dan tegas menghindari konsep yang samarsamar dan tidak biasa, agar tidak sempat membingungkan para siswa yang memakainya; 8) Buku teks harus mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga pada akhirnya menjadi sudut pandangan para pemakainya yang setia; 9) Buku teks harus mampu memberikan pemantapan, penekanan pada nilainilai anak dan orang dewasa;

37 10) Buku teks harus dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para siswa pemakainya Teknik Skimming Menurut Fry dalam Mikulecky skimming memiliki kesamaan dengan scanning, yaitu memerlukan kecepatan membaca yang sangat tinggi. Namun, skimming mempunyai perbedaan dengan scanning dalam hal berikut. Skimming adalah suatu teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk mencari hal-hal yang penting atau ide pokok dari suatu bacaan. Keterampilan membaca yang sangat berguna ialah skimming, yang melibatkan pembaca sepintas dan cepat untuk mendapatkan kesan keseluruhan dan umum. Skimming dilakukan dengan cara membaca judul, subbab, dan beberapa alinea pertama dalam setiap bab-nya. Jika buku tersebut memuat kesimpulan dalam setiap bab, maka Anda dapat pula membaca sekilas ringkasan tadi. Fungsi skimming adalah mendapatkan ide utama tentang topic bacaan, bukan detailnya. Jadi skimming dapat dikatakan berhasil jika Anda bisa mendapatkan ide pokok dan bisa membayangkan apa yang dibahas dalam keseluruhan isi buku secara umum Ibid kamis Pukul

38 skimming menuntut pembaca memiliki kemampuan memproses teks dengan cepat guna memperoleh gambaran umum mengenai teks tersebut. 33 Sedangkan Scanning merupakan jenis membaca cepat dengan bertujuan untuk menemukan informasi khusus dalam teks dengan cepat. 34 Keterampilan membaca scanning hanya dapat diperoleh dengan melakukan latihan-latihan. Harus berlatih memperluas jangkauan pandangan mata kita terhadap kelompok-kelompok kata dan berpindah dengan cepat. 35 Jadi, teknik skimming adalah suatu teknik membaca cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan yang menggunakan waktu yang relatif singkat. Langkah-langkah membaca skimming: 1. Membuat pertanyaan tentang apa yang akan kita cari dari suatu buku; 2. Telusuri daftar isi atau kata pengantar, apakah informasi yang kita butuhkan itu ada; 3. Dengan penuh perhatian, telusuri dengan cepat tinggi setiap paragraf atau subbab yang Anda hadapi; 4. Berhentilah ketika merasa menemukan apa yang Anda cari; 5. Bacalah dengan kecepatan normal, dan pahami dengan baik yang Anda cari tersebut. 33 Cahyani Isah dan Hodijah, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, (Bandung: UPI Press, 2007), hlm Ibid Ibid. 108

39 Tujuan Skimming dan Manfaat Skimming A. Tujuan Skimming 1. Untuk mengenali topic bacaan; 2. Untuk mengetahui pendapat orang; 3. Untuk mengetahui organisasi penulisan; 4. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita perlukan tanpa membaca keseluruhan; 5. Untuk penyegaran apa yang pernah kita baca. B. Manfaat Skimming 1. Dapat mencari suatu informasi khusus yang diperlukan dari sebuah teks bacaan atau buku secara cepat dan efesien; 2. Dapat menjelajahi banyak halaman buku dalam waktu yang singkat; 3. Tidak terlalu banyak membuang-buang waktu mencari sesuatu yang diinginkan dari buku, khususnya tindakan yang tidak menunjang terhadap pencarian informasi tersebut. 11. Penggunaan Teknik Skimming Penggunaan teknik skimming adalah suatu keterampilan membaca yang diatur secara sistematis untuk menemukan gagasan utama atau ide pokok dalam suatu hal/bacaan. Teknik skimming, dilaksanakan dengan melihat secara menyeluruh teks secara cepat dan memerlukan kompetensi yang khusus untuk memeroleh intinya, untuk mengetahui bagaimana teks itu disusun, atau untuk memeroleh gagasan mengenai maksud penulis.

40 Keterampilan membaca merupakan peran yang sangat penting dalam pembelajaran berbahasa. Membaca adalah modal utama keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Dengan memiliki kemampuan membaca yang baik, siswa bisa memperoleh informasi dan menambah pengetahuan yang ada. Kemampuan membaca harus diterapkan lebih dini kepada siswa untuk menunjang kegiatan pembelajaran, dapat diterapkan juga teknik yang baik untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa. Teknik skimming harus diberikan pada siswa dalam melatih kemampuan membaca. Dengan teknik skimming ini, siswa bisa mendapatkan manfaat membaca cepat serta memahaminya. Pemebelajaran membaca cepat dengan teknik skimming ini melibatkan semua siswa secara individual. Pembelajaran ini melibatkan siswa secara langsung untuk meningkatkan kemampuan membaca. Semua itu tidak terlepas dari pantauan guru walaupun siswa membaca cepat guru tetap memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan membacanya. B. Kajian Pustaka Penelitian tentang membaca cepat itu sangat menarik. Karena banyak sekali temuan peneliti terdahulu yang berkenaan dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat. Tujuannya untuk memberikan gambaran adanya perbedaan pelaksanan pembelajaran keterampilan membaca dengan teknik yang berbeda-beda. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan oleh Uswatun Khasanah (2009) dan Fatmawati (2005) Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Uswatun Khasanah (2009) dengan yang dilakukan oleh peneliti terletak pada masalah yang dikaji, tujuan penelitian,

41 tindakan yang dilakukan, variabel penelitian, dan subjek penelitian. Dalam penelitian Uswatun Khasanah (2009), masalah yang dikaji adalah adakah peningkatan keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok dengan teknik skipping ayunan visual. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok dan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok. Tindakan yang dilakukan Uswatun Khasanah (2009) dengan menggunakan teknik skipping ayunan visual. Variabel penelitian adalah keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok dan variabel teknik skipping ayunan visual. Subjek penelitian ini adalah keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok pada siswa X.11 SMA Negeri 2 Semarang. Persamaan penelitian ini dengan Uswatun Khasanah (2009) adalah jenis penelitian, instrumen penelitian yang digunakan, dan jenis data. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dan instrumen yang digunakan berupa instrumen tes dan nontes. Analisis data nontes melalui deskriptif kualitatif dan data tes berupa deskriptif presentase. Masalah yang dikaji peneliti adalah meningkatkan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal dengan teknik skimming Tahun ajaran Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks.

42 Tindakan yang dilakukan penelitian adalah dengan menggunakan teknik skimming. Subjek yang digunakan oleh penelitian adalah keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi. Skripsi dengan judul Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 kpm dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang Authentic Assessment pada Siswa Kelas VIIIA MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2004/2005 karya Fatmawati (2005) meneliti bagaimana meningkatkan keterampilan membaca cepat 250 kpm. Pembelajaran latihan berjenjang dan penilaian authentic assessment yang digunakan mampu meningkatkan keterampilan membaca. Pembelajaran ini mempunyai kelebihan yaitu siswa dapat menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati (2005) dengan yang dilakukan oleh peneliti adalah masalah yang dikaji, tujuan penelitian, tindakan yang dilakukan, variabel penelitian, dan subjek penelitian. Dalam penelitian Fatmawati (2005), masalah yang dikaji adalah apakah Pembelajaran latihan berjenjang dan penilaian authentic assessment dapat meningkatkan keterampilan membaca cepat VIII A dan apakah terdapat perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran latihan berjenjang dan penilaian authentic assessment. Tindakan yang dilakukan berupa tindakan di dalam kelas dan tindakan di luar kelas. Variabel penelitian adalah kemampuan membaca cepat dan variabel. Latihan berjenjang dan penilaian authentic assessment. Subjek penelitian ini adalah

43 keterampilan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2004/2005. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Fatmawati (2005) adalah pada jenis penelitian, instrumen penelitian yang digunakan, dan jenis data. Jenis penelitian yang dilakukan berupa penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes dan instrumen nontes. Analisis data nontes melalui deskriptif kualitatif dan data tes berupa deskriptif persentase. Masalah yang dikaji peneliti adalah meningkatkan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal dengan teknik skimming Tahun ajaran Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks. Tindakan yang dilakukan penelitian adalah dengan menggunakan teknik skimming. Subjek yang digunakan oleh penelitian adalah keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi dengan teknik skimming Tahun ajaran Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik skimming. Dengan demikian, diharapkan adanya hasil peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa SMP kelas VIII karena, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa diajarkan bagaimana bisa menemukan gagasan dan mendapatkan informasi secara cepat dan tepat untuk menghasilkan

44 kemampuan membaca dengan cepat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pelengkap dari penelitian-penelitian sebelumnya. C. Kerangka Berpikir Pada kegiatan membaca cepat, masalah yang biasa ditemukan dalam pembelajaran membaca cepat, kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca, siswa kesulitan memahami isi teks. Berdasarkan hal tersebut, seharusnya pelajaran membaca cepat dijadikan suatu kegiatan membaca yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. pembelajaran melalui teknik skimming dan scanning dapat dijadikan sebagai pilihan dalam pembelajaran membaca cepat, karena teknik skimming dan scanning melatih siswa dapat membaca secara cepat dan tepat. D. Hipotesis Berdasarkan uraian di atas, 1. Hipotesis yang diajukan adalah akan terjadi peningkatan kemampuan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia untuk memahami isi teks bacaan dan perubahan tingkah laku siswa kelas VIII SMP-T Darul Amal Sukabumi, pembelajarannya menggunakan teknik skimming. 2. Hipotesis yang diajukan adalah tidak akan terjadi peningkatan kemampuan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia untuk memahami isi teks bacaan dan perubahan tingkah laku siswa kelas VIII SMP-T Darul Amal Sukabumi, pembelajarannya menggunakan teknik skimming.

45 BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII D SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi, yang berjumlah 18 orang. Tabel 1 DAFTAR SUBJEK PENELITIAN No Nama No Nama 1 Ade Oktaviani Sutisna 10 Puspa Indah 2 Anisa Nur Syifa 11 Putri Mutia 3 Esa zilda Andriyanti 12 Rika 4 Fatma Hanifah 13 Rimba Dasela Tuga 5 Indah Nurul Arifah 14 Sarah Alfiah 6 Lala Melina 15 Siti Aulia Ekawati 7 Melia Anggraeni 16 Siti Jamilah 8 Nazla Tsani 17 Sumarni 9 Novi Nurjanah 18 Sutini B. Tempat Penelitian Sukabumi. Tempat penelitian ini adalah SMP Terpadu Darul Amal, Jampang Kulon

46 C. Desain Penelitian Desain penelitian dibuat untuk menjadikan peneliti mampu menjawab pertanyaan dengan valid, objektif, dan hemat. Desain penelitian disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat menghasilkan petunjuk empirik yang kuat relevansinya dengan masalah penelitian. 36 Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang berbasis kelas, maka masalah-masalah yang diteliti dalam PTK adalah masalah yang muncul dalam kelas. PTK adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut Classroom Action Research dalam bahasa Inggris, yaitu penelitan yang dilakukan guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran. 37 Menurut Suyanto ( 1997), PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. (1) masalah yang diteliti adalah riil yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewenangan peneliti (on the job problem oriented), (2) berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving oriented), (3) berorientasi pada peningkatan mutu (improvemen oriented), (4) urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical), (5) berorientasi tindakan (action oriented), (6) pengkajian terhadap dampak tindakan, (7) specifics contextual, (8) kolaboratif (collaborative), (9) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, (10) dilaksanakan berdasarkan siklus (perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi) dan selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus Fred N. kerlinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), hlm Susilo, Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm Rido Kurnianto, Penelitian Tindakan Kelas, (Surabaya: Aprinta, 2009), hlm. 3-11

47 Prinsip-prinsip PTK meliputi (1) tidak mengganggu KBM; (2) tidak menyita waktu; (3) metodologi andalan; (4) merupakan masalah guru; (5) konsistensi terhadap prosedur etika; (6) permasalah terkait dalam misi sekolah. 39 Ada empat jenis Penelitian Tindakan Kelas menurut Chein dalam M. Mega. N dan Kharina Islami Dewi di antaranya: 1. PTK Diagnostik Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dirancang untuk menuntun peneliti kearah suatu tindakan. Dalam hal ini, peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. 2. PTK Partisipan Penelitian Tindakan Kelas Partisispan suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan, apabila peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan pembuatan laporan. 3. PTK Empiris Dikatakan Penelitian Tindaka Kelas Empiris apabila peneliti berupaya melaksanakan suatu tindakan, kemudian membukukannya. Pada partisipasinya, proses penelitian ini berkenaan dengan penyimpanan catatan dengan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaanya sehari-hari. 4. PTK Eksperimental Disebut Penelitian Tindakan Kelas Eksperimental apabila PTK dilaksanakan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik dan strategi secara efektif dan efisien. 39 Ibid. 3-17

48 Dalam kegiatan belajar mengajar yang diterapkannya, PTK dapat menentukan cara yang paling efektif dalam rangkai mencapai tujuan pembelajaran. 40 Berdasarkan keempat jenis PTK di atas, model yang dipilih peneliti untuk penelitian adalah PTK partisipan. Model ini sesuai dengan model penelitian yang akan dilaksanakan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, di mana peneliti akan ikut serta secara langsung dalam proses tersebut hingga akhir penyusunan laporan. PTK mengupayakan perbaikan kondisi pembelajaran dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di dalam kelas. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian daur. Proses pengkajian terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat tahap atau dalam penelitian kelas dapat digambarakan sebagai berikut. 40 Dewi Yanti, Penerapan Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) dalam Pembelajaran Menulis Resensi Novel Tahun Ajaran , (Skripsi: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta, 2010), hlm.

49 Perencana an Refleksi SIKLUS I Pelaksanaa n Pengamata n Perencana an Refleksi SIKLUS II Pelaksanaa n Pengamata n? Bagan 1. Model Tahapan-Tahapan Pelaksanaan PTK 41 Tujuan Penelitian Tindakan Kelas menurut Kunandar 1. Untuk memecahkan permasalah nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik di kalangan para guru; 41 Suyandi, Penelitian Tindakan Kelas, (Jogjakarta: DIVA Press), cet. Ke- 1, hlm. 50

50 2. Peningkatan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara terus-menerus mengingat masyarakat berkembang secara cepat; 3. Peningkatan relevansi pendidikan, hal ini dicapai melalui peningkatan proses pembelajaran dll. 42 Manfaat Penelitian Tindakan Kelas menurut Kunandar dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek akademis dan praktis. 1. Manfaat aspek akademis adalah untuk membantu guru menghasilkan pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek; 2. Manfaat praktis dari hasil pelaksanaan PTK antara lain (a) merupakan pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode, maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas, (b) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya, dengan guru melakukan PTK, maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, sehingga kurikulum dapat berjalan dengan secara efektif Rido Kurnianto, et. al. Penelitian Tindakan Kelas, (Surabaya: Aprinta, 2009), Ed. 1 hlm. 4-

51 melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. 43 D. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini berupa instrumen tes dan instrumen nontes. Instrumen tes digunakan untuk mengetahui keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia. Instrumen nontes digunakan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku siswa setelah diadakan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. 1. Instrumen tes Bentuk instrumen yang berupa tes yaitu untuk mengukur pemahaman siswa terhadap kemampuan membaca cepat. Bentuk tes yang diberikan terhadap siswa adalah pilihan ganda. 43 Ibid. 4-13

52 Tabel 2 Kategori Penilaian Pemahaman Membaca Cepat No Kategori Rentang Nilai Frekuensi 1 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 0-24 Jumlah Siswa 18 Berdasarkan penghitungan kecepatan membaca yang dilakukan dapat digolongkan tingkat kecepatan membaca siswa. Penggolongan kecepatan membaca berdasarkan pada pedoman yang sudah dibuat yaitu: Tabel 3 Pedoman Penilaian Kecepatan Membaca No Kecepatan Membaca Kategori kpm (kata per menit) Sangat Cepat kpm (kata per menit) Cepat kpm (kata per menit) Sedang kpm (kata per menit) Lambat kpm (kata per menit) Sangat Lambat

53 Berdasarkan tabel di atas siswa mempunyai kecepatan membaca kpm tergolong membaca sangat cepat. Siswa mempunyai kecepatan membaca kpm tergolong cepat. Siswa yang kecepatan membaca kpm tergolong sedang. Siswa yang kecepatan membacanya kpm tergolong lambat. Dan siswa yang kecepatan membaca kpm tergolong sangat lambat. 2. Instrumen nontes Instrumen nontes terdiri dari observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto. a. Observasi Format observasi yang digunakan untuk mengamati tingkah laku siswa dalam pembelajaran pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran. b. Wawancara Bentuk wawancara siswa pada setiap akhir pembelajaran pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran. c. Jurnal Siswa dan Guru Bentuk jurnal siswa dan guru pada setiap akhir pembelajaran pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran. d. Dokumentasi Foto Dokumentasi foto selama pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada lampiran. E. Teknik Analisis Data Data tes dianalisis dengan teknik kuantitatif sedangkan data nontes dianalisis dengan teknik kualitatif.

54 1. Teknik kuantitatif Hasil analisis data tes diperoleh dari hasil siswa berupa angka. Nilai tiap-tiap tes dihitung jumlahnya dalam satu kelas ( N) kemudian dihitung dalam presentase dengan mengunakan rumus: Persentase kemampuan membaca siswa = ( N) x 100% nxs Keterangan: N : Jumlah nilai dalam satu kelas n : Nilai maksimal soal tes s : Banyaknya siswa dalam satu kelas Hasil persentase kemampuan siswa tiap-tiap tes kemudian dibandingkan anatara hasil tes siklus I dan siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming dan keberhasilan penelitian. 2. Teknik kualitatif Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data nontes. Data kualitatif ini diperoleh dari data observasi, wawancara, jurnal, dan dokumen foto. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan mengaalisis hasil observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan mengklarifikasikannya dengan teman peneliti yang membantu dalam penelitian; data wawancara dianalisis dengan cara membaca catatan atau mendengarkan rekaman hasil wawancara; data jurnal dianalisis dengan cara membahas seluruh jurnal siswa dan guru. Hasil analisis tersebut untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam latihan-latihan membaca cepat, untuk

55 mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa dalam membaca cepat dengan teknik skimming serta sebagai dasar untuk mengetahui adanya peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

56 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Sekolah SMP Terpadu Darul Amal berdiri di bawah Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam Darul Amal. Darul Amal terlahir dari seorang anak desa yang miskin dan yatim, yang se masa kanak-kanaknya selalu menggembala setiap sore dan malam hari mendapatkan bimbingan agama dari seorang Ustadz Abdullah Mubarok (alm), dengan berbagai keprihatin Sekolah Dasar Beliau tamatkan tahun Selepas SD, meski hasrat menggebu untuk melanjutkan ke SMP namun faktor ekonomi, menyeret Beliau hanya masuk Pondok Pesantren Mekar Sari yang Cinagen, dengan bimbingan Mu alim Ucep Suryadin. Pada tahun 1967 Beliau dapat masuk Sekolah PGA P (4 tahun) Al-Ma arief berkat bantuan Kepala Sekolahnya Didin Saefuddin yang membebaskannya dari semua bentuk biaya apapun, dan tamat tahun Dengan berbekal izin dan doa Ibu serta hasrat yang menggelora untuk meninggalkan kampong halaman dan merantau ke Kota Sukabumi, namun ketika di pertengahan jalan (Pasir Piring) Beliau diturunkan kondektur bis yang Beliau tumpangi karena ongkosnya kurang, namun kejadian itu tidak mengurungkan niatnya untuk terus berangkat menuju perantauan dan ditapakinya perjalanan yang sisa (kira-kira 80 km-an) lagi untuk sampai di Kota Sukabumi, melewati hutan dan kampung-kampung penduduk. Dengan bantuan tukang Beca, akhirnya sampai tujuan, yaitu di Pondok Pesantren Tipar, dan diterima oleh Pimpinan Pesantren K.H. E. Fachruddin Masthura,

57 dengan bebas bayaran, namun biaya pangan tidak ada yang menanggungnya, dan pernah selama 4 hari Beliau tidak makan. Pada akhir tahun 1974 tamat Madrasah Aliyah Al-Masthuriah dengan kegetiran yang luar biasa, Beliau hanya menggondol ijazah lokal, sementara ujian Negara tidak Beliau ikuti, karena tidak mampu membayar uang ujian. Beliau tatap teman-teman sekelasnya yang menuju ruang ujian Negara dengan tetesan air mata sambil menjemur padi milik pak Kiayi di halaman rumahnya. Meski hasrat melanjutkan kuliah begitu besar, lagi-lagi faktor ekonomi yang mengiring Beliau hanya masuk di Pondok Pesantren Siqaayaturrahmah, Selajambu, Jl. Selabintana, dengan bimbingan K.H. M. Mudrikah Hanafi, Beliau mendalami kitab-kitab pesantren sampai akhir tahun 1975, Beliau mengikuti ujian Negara SP. IAIN Pacet Cianjur, dan dengan berbekal ijazah SP. IAIN Cianjur itulah Beliau mengikuti testing masuk PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran) Jakarta. Pada tahun 1976 mulai menempuh kuliah di PTIQ dan mendapatkan orang tua asuh yaitu Kel. H. M. Djubaedi Soelaeman, anugrah Allah melalui bantuannya Beliau dapat menyelesaikan studinya tahun 1983, dan pada tahun akademik 1984 Beliau diangkat menjadi Dosen mata kuliah Tafsir dan Hadits Ahkam di Fakultas Syari ah alma mater. Pada tahun Akademik 1984, beliau mengikuti testing Doktoral Fakultas Syari ah IAIN dan diterima di Jurusan Peradilan Agama, dengan bantuan biaya dari Mayjen Pol. (Pur) Drs. H. Soedarto dan pada tahun 1987 Beliau menyelesaikan S-1 nya di IAIN. Sejak tahun Beliau memberikan kuliah di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), dengan mata kuliah Falsafah Kejuangan dan Islamologi,

58 sementara di sore harinya memberikan kursus Tafsir di PKK. BA (Pusat Kursuskursus Bimbingan Agama) Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru. Sejak tahun 1982 se masa beliau jadi mahasiswa beliau menancapkan tekadnya, membela kaum senasibnya yatim dan fakir miskin, serta membangun desanya. Dengan kemampua yang serba terbatas beliau mengambil anak tetangganya untuk menekuni ilmu agama di Pesantren, lalu tahap berikutnya menyekolahkan anak-anak lingkungan sekitar yang potensial tetapi tidak mampu dalam ekonomi, dan bersamaan dengan selesai kuliahnya tahun 1984 mendirikan Majis Ta lim dan Mudzakarah Alim Ulama Darul Amal yang Beliau bimbing sebulan sekali. Dan sejalan dengan perkembangan anak asuh dan santuna social, pada bulan Januari 1992 beliau membentuk Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (YAPSI) Darul Amal di desa kelahirannya yaitu, kp. Selajati, desa. Bojong Genteng, kec, Jampang Kulon, kab. Sukabumi. Dengan tekadnya yang kokoh bahwa anak Desa harus kembali membangun Desanya, agar kemajuan merata. Drs. H. Umay M Djafar Shiddieq, M.A., Visi Terwujudnya peningkatan prestasi baik dalam bidak akademik dan nonakademik, serta aktif membangun pribadi yang terdidik, kreatif, dan inovatif serta terampil tindakan. Misi 1. Mewujudkan tercapainya mutu dan efesiensi pendidikan;

59 2. Membina akhlak, budi pekerti yang luhur untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan; 3. Meningkatkan disiplin kerja seluruh personal sekolah dan menguasai ilmu pengetahuan serta keterampilan professional sebagai dasar terwujudnya layanan edukatif yang baik dan memuaskan peserta didik; 4. Menggalakan dan menegakan disiplin semua personal dengan menanamkan budaya bersih, tertib belajar, dan bekerja; 5. Meningkatkan kerjasama antar sekolah, orang tua, dan masyarakat. Keadaan Guru Guru merupakan salah satu faktor penting yang mendukung tercapainya citacita Bangsa Indonesia yang tercantum dalam batang tubuh UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu seorang guru dituntut untuk mengemban tugasnya dengan senaik mungkin. Setiap lembaga pendidikan berupaya memilih tenaga pengajar yang relevan dengan pengembangan mata pelajaran di sekolah. Sama halnya dengan SMP Darul Amal selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Hal ini dibuktikan dengan tenaga-tenaga pendidiknya yang profesional dengan latar belakang pendidikan S-1 yang sesuai dengan bidang dan keahlian disiplin ilmunya masing-masing. B. Hasil Penelitian Pada bab ini disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes terdiri dari prasiklus, siklus I, dan siklus II. Hasil prasiklus yaitu hasil tes keterampilan membaca cepat sebelum mendapatkan pembelajaran membaca

60 cepat dengan teknik skimming. Hasil tes siklus I dan siklus II yaitu hasil tes keterampilan membaca cepat setelah mendapatkan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming dan diuraikan dalam bentuk data kualitatif. Hasil nontes terdiri dari observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto dan diuraikan dalam bentuk deskripsi dan data kualitatif. 1. Prasiklus Hasil tes prasiklus diperoleh dari hasil kondisi awal siswa sebelum dilakukan penelitian. Kondisis awal merupakan kondisi siswa sebelum mendapatkan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Hasil tes prasiklus ini berfungsi untuk mengetahui seberapa besar kondisi awal siswa dalam membaca cepat. Hasil tes awal keterampilan membaca cepat dapat dilihat dati table di bawah ini. Tabel 4 Hasil kecepatan Membaca Prasiklus No Kategori Rentang Frekuensi Bobot % Skor Rata-rata Nilai Skor 1 Sangat Cepat X 100% 2 Cepat ,5 3 Sedang ,4 4 Lambat X 18 = 46,64 Kategori lambat 5 Sangat ,5 Lambat Jumlah %

61 Tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata skor kemampuan membaca cepat yang dicapai siswa pada prasiklus 46,64%. Belum ada siswa yang mencapai kategori sangat cepat dengan rentang nilai kecepatan kpm. Siswa yang mencapai kategori cepat hanya 1 siswa dengan rentang nilai kecepatan kpm. Siswa yang mencapai kategori sedang sebanyak 15 siswa dengan rentang nilai kecepatan kpm. Tidak ada siswa yang mencapai kategori sangat lambat dengan rentang nilai kecepatan kpm. Di bawah ini penjabaran hasil tes pemahaman membaca cepat siswa kelas VIII D SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi. Tabel 5 Hasil Pemahaman Kemampuan Membaca Cepat Prasiklus No Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor % 690 X 100% 100 X 18 1 Sangat Baik = 38,34 % Kategori Kurang 2 Baik ,5 3 Cukup ,3 4 Kurang Sangat ,3 Kurang Jumlah %

62 Berdasarkan tabel di atas, menunjukan bahwa rata-rata skor yang dicapai siswa 38,34% atau masuk kategori kurang. Belum ada siswa yang memperoleh kategori sangat baik dengan rentang nilai Hanya ada 1 siswa yang memperoleh kategori baik dengan rentang nilai Sebanyak 4 siswa yang memperoleh kategori cukup dengan rentang nilai Siswa yang memperoleh kategori kurang sebanyak 9 siswa dengan rentang nilai Sebanyak 4 siswa yang memperoleh kategori sangat kurang dengan rentang nilai Siklus I Pembelajaran membaca cepat pada siklus ini merupakan tindakan awal penelitian dengan menggunakan teknik skimming. Hasil pelaksanaan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming pada siklus I terdiri atas data tes dan nontes dengan hasil penelitian sebagai berikut. a. Hasil tes siklus I Hasil tes pada siklus I merupakan hasil tes keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Hasil tes pada siklus I dijabarkan di bawah ini.

63 Tabel 6 Hasil Kecepatan Membaca Siklus I No Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor % Skor Rata-rata 1 Sangat Cepat X 100% 2 Cepat ,3 3 Sedang ,2 4 Lambat X 18 = 59,56% Kategori Cukup 5 Sangat ,7 Lambat Jumlah % Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor kecepatan membaca yang dicapai siswa pada siklus I adalah 59,56%, belum ada siswa yang mencapai kategori sangat cepat dengan rentang nilai kecepatan kpm. Sebanyak 4 siswa atau 22,3% yang memperoleh kategori cepat dengan rentang nilai kecepatan kmp, adapun kategori sedang dicapai oleh 11 siswa atau 61,2% dengan rentang nilai kecepatan kmp, pada kategori lambat tidak ada siswa yang mencapainya dengan rentang nilai kecepatan dan kategori sangat lambat dicapai oleh 3 siswa atau 16,7% dengan rentang nilai kecepatan kpm.

64 Tabel 7 Hasil Pemahaman Kemampuan Membaca Teks Siklus I No Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Nilai % Skor Rata-Rata 1 Sangat Baik X 100% 2 Baik ,3 3 Cukup ,5 4 Kurang ,3 100 X 18 = 51,12% Kategori Cukup 5 Sangat ,2 Kurang Jumlah % Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa sebesar 51,12% atau termasuk kategori cukup. Pada kategori sangat baik, dengan rentang nilai belum ada siswa mencapainya. Rentang nilai atau kategori baik dicapai oleh siswa sebanyak 4 siswa. Pada kategori cukup dicapai oleh 8 siswa dengan rentang nilai Pada kategori kurang dicapai oleh 4 siswa dengan rentang nilai 25-44, dan pada kategori sangat kurang dicapai oleh 2 siswa dengan rentang nilai b. Hasil nontes siklus I Data nontes pada siklus I ini diperoleh melalui observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Berikut ini penjelasan mengenai hasil data nontes.

65 1) Observasi Kegiatan observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingakah laku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Kegiatn ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan aspek positif dan aspek negatif siswa. Aspek positif siswa antara lain (1) siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh; (2) siswa membaca cepat dengan penuh perhatian; (3) siswa mengerjakan soal dengan baik; (4) siswa aktif bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa tidak mengganggu teman. Sikap negatif siswa meliputi (1) siswa meremehkan penjelasan guru; (2) siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat; (3) siswa meremehkan tugas untuk mengerjakan soal; (4) siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa mengganggu teman. Hasil observasi siklus I terdapat beberapa siswa yang melakukan aspek positif maupun aspek negatif dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Hal ini dapat dipahami karena proses pembelajaran yang dilakukan peneliti merupakan sesuatu yang baru yang belum pernah diajarkan pada mereka sehingga diperlukan proses untuk menyesuaikan. Hasil observasi siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

66 Tabel 8 Hasil Observasi Aspek Positif Siklus I No Aspek Obsevasi Frekuensi Persentase Kategori 1 Siswa memperhatikan 16 88,9 SK pelajaran dengan sungguhsungguh 2 Siswa membaca cepat 12 66,7 B dengan penuh perhatian 3 Siswa mengerjakan soal 9 50 C dengan baik 4 Siswa aktif bertanya ketika 6 33,4 K kesulitan selama pembelajaran 5 Siswa tidak mengganggu 14 77,8 B teman Keterangan: SB : Sangat baik = 81% - 100% B : Baik = 61% - 80% C : Cukup = 41% - 60% K : Kurang = 21% - 40% SK : Sangat kurang= 0% - 20%

67 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada aspek siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh sebanyak 16 siswa atau masuk dalam kategori sangat baik. Pada aspek siswa membaca cepat dengan penuh perhatian masuk kategori baik karena ada 12 siswa yang melakukan kegiatan membaca cepat dengan penuh perhatian. Aspek ketiga yaitu siswa mengerjakan soal dengan baik masuk dalam kategori cukup. Sebanyak 9 siswa berusaha mengerjakan soal dengan baik. Pada waktu proses pembelajaran, siswa masih enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan. Hanya 6 orang yang aktif bertanya sehingga pada aspek ini masuk dalam kategori kurang. Siswa masih canggung untuk bertanya kepada peneliti. Aspek kelima yaitu siswa tidak menggangu teman. Pada aspek ini, sebanyak 14 siswa tidak mengganggu teman sehingga masuk dalam kategori baik. Berikut ini akan dijelaskan hasil observasi aspek negatif yang merupakan kebalikan dari aspek positif dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

68 Tabel 9 Observasi Aspek Negatif Siklus I N Aspek Frekuen Persenta Katego o Observasi si se ri 1 Siswa 2 11,2 SB meremehka n penjelasan guru 2 Siswa 6 33,4 B enggan melakukan kegiatan membaca cepat 3 Siswa 9 50 C meremehka n tugas untuk mengerjaka n soal

69 4 Siswa 12 66,7 K enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajar an 5 Siswa 4 22,3 B menggangg u teman Keterangan: SK : Sangat kurang= 81% - 100% K : Kurang = 61% - 80% C : Cukup = 41% - 60% B : Baik = 21% - 40% SB : Sangat baik = 0% - 20% Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada aspek siswa meremehkan penjelasan guru sebanyak 2 siswa atau masuk dalam kategori sangat baik. Pada aspek siswa enggan malakukan kegiatan membaca cepat

70 sebanyak 6 siswa atau masuk kategori baik. Aspek ketiga yaitu siswa meremehkan tugas untuk mengerjakan soal masuk dalam kategori cukup sebanyak 9 siswa. Pada waktu proses pembelajaran, siswa masih enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran sebanyak 12 siswa yang enggan bertanya, aspek ini masuk dalam kategori kurang. Siswa masih canggung untuk bertanya kepada peneliti. Aspek kelima yaitu siswa menggangu teman. Pada aspek ini, sebanyak 4 siswa yang mengganggu teman sehingga masuk dalam kategori baik. 2) Jurnal Jurnal yang digunakan dalam tindakan siklus I adalah jurnal siswa dan guru. Jurnal siswa berisi tentang pendapat dan tanggapan siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, sedangkan jurnal guru berisi hasil pengamatan peneliti tentang keaktifan siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. a) Jurnal Siswa Jurnal siswa yang diberikan terdiri atas enam pertanyaan yang diisi secara individu meliputi (1) minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat; (2) pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat; (3) ketertarikan siswa terhadap teknik skimming; (4) pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pemebelajaran membaca cepat

71 dengan teknik skimming; (5) pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Berdasarkan hasil jurnal siswa diketahui bahwa sebanyak 14 siswa yang merasa tertarik dan minat dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena mereka merasa mendapatkan suasana baru dan menambah pengalaman untuk meningkatkan keterapilan membaca cepat. Ada 4 siswa yang tidak merasa tertarik dengan pembelajaran membaca cepat karena teks yang dibaca tidak mengerti dan susah untuk memahami teks bacaan. Tanggapan siswa terhadap penjelasan peneliti mengenai pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming yaitu sebanyak 13 siswa yang merasa penjelasan peneliti mudah dimengeri dan siswa merasa tidak jenuh, karena peneleti penjelaskan secara detail dan langsung dipraktikkan. Ada 5 siswa yang merasa penjelasan peneliti masih sulit dipahami karena teknik yang dijelaskan peneliti masih asing bagi mereka. Ketertarikan siswa terhadap teknik skimming yaitu sebanyak 12 siswa karena merupakan teknik yang baru pertama kali dikenal dan digunakan dalam pembelajaran. Ada 6 siswa yang merasa tidak tertarik dengan teknik skimming karena terlalu rumit dan sulit untuk memahami isi bacaan. Dengan penggunaan teknik skimming ada 7 siswa yang merasa kesulitan karena mereka merasa kurangnya pengetahuan sehingga sulit untuk

72 memahami isi bacaan. Siswa yang merasa tidak kesulitan sebanyak 11 siswa karena, mereka merasa dengan teknik skimming mereka bisa lebih mudah meningkatkan keterampilan membaca cepat dan dapat memahami isi bacaan. Pesan, kesan dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming sangat baik, mereka merasa senang dengan pembelajaran yang telah berlangsung. Sebanyak 18 siswa memberikan saran yang mendukung terhadap pembelajaran yang akan datang. Siswa berharap pembelajaran lebih menarik dan lebih menyenangkan. Siswa menyarankan agar suara peneliti pada saat menyampaikan materi harus lebih keras. b) Jurnal Guru Jurnal guru merupakan hasil pengamatan peneliti tentang perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Aspek-aspek yang ada dalam jurnal guru yaitu (1) catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran; (2) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (3) catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming; (4) catatan mengenai tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (5) catatan mengenai kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Aspek pertama tentang kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, bisa dilihat pada saat peneliti masuk kelas, siswa telah duduk rapi di tempatnya msing-masing. Suasana kelas yang gaduh

73 menjadi tenang ketika peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Siswa dengan antusias menerima materi yang disampaiakan. Aspek kedua keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, ditunjukan melalui respon siswa dalam menjawab pertanyaan yang lontarkan peneliti selama pembelajaran berlangsung. Mereka sangat antusias mengkuti pembelajaran ini, sehingga mereka aktif bertanya tentang teknik skimming. Aspek ketiga, tanggapan siswa terhadap teknik skimming. Siswa mulai tertarik dengan pembelajaran ini sehingga mereka betul-betul membaca dan memahami isi teks, namun ada beberapa siswa yang masih kurang tertarik karena, mungkin bacaannya kurang menarik. Aspek keempat, tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca dengan teknik skimming. Tugas yang diberikan pada siswa berkaitan dengan membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan hasil yang bervariasi. Aspek kelima, kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan teknik skimming. kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat, setelah melihat dari siswa secara langsung, hasilnya memuaskan dari hasil tes pilihan ganda untuk siswa.

74 3) Wawancara Kegiatan wawancara dilakukan setelah selesai pembelajaran siklus I dan setelah memperoleh nilai hasil tes siklus I. Peneliti mewawancarai tiga siswa, dengan kriteria memperoleh kecepatan membacanya cepat, sedang, dan lambat. Kegiatan wawancara yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui tanggapan yang diberikan siswa dalam pembelajaran membaca cepat. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan siswa saat wawancara diantaranya (1) pendapat siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (2) pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming; (3) kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat; (4) perasaan siswa ketika dapat meningkatkan kecepatan membaca; (5) saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pendapat siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, untuk siswa yang mendapatkan kecepatan membacanya cepat merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena merupakan pembelajaran yang menarik dan menambah banyak pengetahuan. Siswa yang kecepatan membacanya sedang, merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, karena dengan pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan pada saat membaca. Siswa yang kecepatan membacanya lambat, merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, akan tetapi merasa dikejar waktu akhirnya tidak konsentrasi.

75 Pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming, siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat merasa penjelasan guru mudah dipahami karena runtut dan disertai contoh. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang juga berpendapat bahwa penjelasan guru mudah dipahami karena materi membaca cepat tidak begitu sulit dan mudah dimengerti. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat berpendapat bahwa penjelasan guru jelas dan bikin semangat. Kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat, bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat, mereka merasa belum menghadapi kesulitan. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang merasa agak kesulitan karena susah untuk mengetahui ide utamanya dari teks tersebut. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat merasa kesulitan untuk menemukan ide utama karena merasa kurang memiliki pengetahuan dan wawasan yang berhubungan dengan teks bacaan. Perasaan siswa ketika kecepatan membacanya meningkat, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat, merasa senang karena keterampilan membacanya lebih meningkat. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang, merasakan karena bisa menambah prestasi. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat, merasakan senang karena sudah mulai bisa memperbaiki keterampilan membacanya. Saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat memberikan saran agar keterampilan membaca ini tidak hanya mengetahui ide utamanya saja, tetapi

76 harus faham dengan bacaannya. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang memberikan saran kepada peneliti agar lebih ditingkatkan lagi. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat, memberikan saran agar dijelaskan kembali teknik skimming. 4) Dokumentasi Foto Dokumentasi pada penelitian ini berwujud foto kegiatan siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pengambilan dokumentasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus I berlangsung. Foto yang diambil terdiri atas (1) Aktivitas siswa saat kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (2) Aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca; (3) Aktivitas siswa saat menjawab soal tes; (4) Aktivitas siswa ketika mengisi jurnal siswa. Berikut ini adalah gambar dan penjelasan pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus I. Gambar 1. Aktivitas Siswa Membaca Cepat Gambar di atas menunjukkan siswa sedang melakukan kegiatan membaca cepat. Pada proses ini, siswa membaca teks bacaan dengan judul Populasi Orang Utan yang Semakin Terancam. Pada proses membaca,

77 masih ada siswa yang melakukan kesalahan seperti yang terlihat pada gambar di atas, ada siswa yang mengangkat teks bacaan ketika membaca. Kesalahan lain adalah vokalisasi, membaca sambil menunjuk pada teks, dan membaca sambil menyangga kepala. Keterampilan membaca cepat merupakan keterampilan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemahaman yang cepat terhadap isi bacaan, maka kesalahan-kesalahn tersebut harus diperbaiki pada siklus II. Gambar selanjutnya adalah, aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca. Gambar 2. Aktivitas Siswa Menghitung Kecepatan Membaca Gambar di atas adalah aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca. Siswa dengan bersungguh-sungguh menghitung kecepatan membacanya. Gambar selanjutnya, Aktivitas siswa saat menjawab soal.

78 Gambar 3. Aktivitas Siswa Menjawab Soal Tes Gambar di atas menunjukkan kegiatan siswa mengerjakan soal tes untuk melatih pemahaman siswa dari bacaan yang telah mereka baca. Siswa mengerjakan soal dengan serius, tetapi masih ada siswa yang mengganggu teman mereka. Peneliti melakukan pendekatan terhadap siswa yang masih mengganggu siswa lain, ketika proses pengerjaan soal. Setelah siswa mengerjakan soal tersebut nantinya akan diketahui nilai siswa dan akan terlihat kemampuan siswa dalam membaca cepat. Gambar selanjutnya adalah aktivitas siswa ketika mengisi jurnal siswa. Gambar 4. Aktivitas Siswa Saat Mengisi Jurnal

79 Gambar di atas adalah kegiatan siswa mengisi lembar jurnal siswa yang dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan teknik skimming. Jurnal diisi secara individu untuk mengetahui pendapat dan tanggapan siswa terhadap dengan menggunakan teknik skimming. Dengan jurnal siswa ini, nantinya akan diketahui sejauh mana tanggapan siswa tentang pembelajaran dengan teknik skimming. 5) Refleksi Siklus I Pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming pada siklus I dapat diketahui bahwa teknik yang digunakan guru cukup disukai siswa. Hal ini terlihat pada minat dan antusias siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Berdasarkan hasil tes di akhir pembelajaran siklus I membuktikan bahwa dengan teknik skimming yang diperoleh mengalami peningkatan dari prasiklus. Hasil tes keterampilan membaca cepat secara klasikal sudah menunjukkan ketegori cukup baik dari tiap aspeknya. Namun, keterampilan siswa dalam membaca cepat perlu diperbaiki. Hal itu terlihat ketika proses membaca cepat, siswa masih melakukan hal-hal yang harus dihindari dalam membaca seperti mengangkat teks bacaan, vokalisasi, membaca dengan menggerakkan kepala, dan kurang konsentrasi terhadap teks bacaan. Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca yang dilakukan siswa harus diperbaiki pada siklus II. Untuk mengatasi kebiasaan buruk dalam membaca, nantinya dapat dilakukan dengan cara memberikan penjelasan kepada siswa mengenai cara membaca yang benar.

80 Kriteria nilai ketuntasan pada siklus I sebesar 70 juga belum dicapai karena, secara keseluruhan nilai rata-rata kelas untuk kecepatan membaca yang dicapai baru sebesar 65,45 sedangkan untuk pemahaman membaca cepat baru mencapai 51,12. Untuk mencapai nilai ketuntasan sebesar 70, peneliti akan lebih memotivasi siswa dan membantu kesulitan-kesulitan yang masih dihadapi siswa pada pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus II. Peneliti juga akan menambah waktu untuk latihan menggunakan teknik skimming serta memberikan cara mudah untuk memahami bacaan. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, diperoleh hasil perubahan tingkah laku dalam pembelajaran membaca cepat masih tergolong cukup dan sudah mengalami sedikit perubahan. Beberapa siswa tertarik dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming tetapi ada pula siswa yang masih belum tertarik dengan pembelajaran tersebut, karena berbagai alasan seperti merasa kurang pengetahuan, sulitnya konsentrasi saat membaca, dan mengalami kesulitan tetapi masih malu untuk bertanya. Keaktifan siswa dalam bertanya nantinya harus ditingkatkan pada siklus II. Selain itu, masih ada beberapa siswa yang masih sulit berkonsentrasi pada waktu pembelajaran dan suka mengganggu siswa yang lain. Untuk memperbaiki perilaku siswa agar lebih baik ke arah positif maka pada pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus II nantinya akan direncanakan pembelajaran yang lebih matang. Pemberian reward bagi siswa yang mendapat nilai bagus. Penciptaan suasana yang lebih kondusif, proses pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.

81 3. Siklus II Siklus II ini merupakan perbaikan dari siklus I yang sebelumnnya telah dilaksanakan. Kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I diperbaiki pada siklus II ini. Siklus II ini dipersiapkan dan direncanakan lebih matang karena siklus ini merupakan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan mengubah perilaku siswa ke arah yang lebih positif daripada siklus I. Perencanaan pada siklus II ini dengan melihat refleksi siklus I sehingga diharapkan siklus II berjalan dengan lebih baik. Pelaksanaan siklus II masih merupakan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming dengan segala perbaikan untuk mengatasi masalah yang ada pada siklus I. Berikut hasil tes dan nontes siklus II. a. Hasil Tes Siklus II Hasil penelitian tes siklus II ini masih diperoleh dari data kecepatan membaca dan hasil pemahaman kemampuan membaca cepat.

82 Tabel 10 Hasil Kecepatan Membaca Cepat Siklus II No Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor % Skor Rata-rata 1 Sangat Cepat , X 100% 299 X 18 2 Cepat ,3 3 Sedang = 65,45% Kategori sedang 4 Kurang ,5 5 Sangat ,5 Kurang Jumlah % Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor kecepatan membaca yang dicapai siswa pada siklus I adalah 65,45%, sebanyak 3 siswa atau 16,7% yang memperoleh kategori sangat cepat dengan rentang nilai kecepatan kpm. Sebanyak 4 siswa atau 22,3% yang memperoleh kategori cepat dengan rentang nilai kecepatan kmp, adapun kategori sedang dicapai oleh 9 siswa atau 50% dengan rentang nilai kecepatan kmp, pada kategori lambat dicapai oleh 1 siswa dengan rentang nilai kecepatan dan kategori sangat lambat dicapai oleh 1 siswa dengan rentang nilai kecepatan kpm.

83 Tabel 11 Hasil Pemahaman Kemampuan Membaca Teks Siklus II No Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Nilai % Skor Rata-rata 1 Sangat Baik , X 100% 100 X18 2 Baik ,5 3 Cukup ,8 = 72,23 % Kategori Baik 4 Kurang Sangat Kurang Jumlah % Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan sebanyak 3 siswa mendapatkan kategori sangat baik, dengan rentang nilai Rentang nilai atau kategori baik dicapai oleh siswa sebanyak 10 siswa. Pada kategori cukup dicapai oleh 5 siswa dengan rentang nilai Adapun rata-rata nilai tes pemahaman kemampuan membaca siklus II yaitu 72,23%. b. Hasil Nontes Siklus II Hasil penelitian nontes siklus II ini, masih diperoleh dari data observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Berikut ini pemaparan hasil nontes siklus II.

84 1) Observasi Kegiatan observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingakah laku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Kegiatn ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pedoman observasi yang digunakan pada siklus ini sama dengan pedoman observasi pada siklus I. Pedoman tersebut meliputi aspek positif dan aspek negatif siswa dalam pembelajaran. Aspek positif siswa meliputi (1) siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh; (2) siswa membaca cepat dengan penuh perhatian; (3) siswa mengerjakan soal dengan baik; (4) siswa aktif bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa tidak mengganggu teman. Aspek negatif siswa meliputi (1) siswa meremehkan penjelasan guru; (2) siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat; (3) siswa meremehkan tugas untuk mengerjakan soal; (4) siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa mengganggu teman. Berikut ini penjabaran hasil observasi terhadap kebiasaan-kebiasan membaca siswa selama proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming pada siklus II.

85 Tabel 12 Hasil Observasi Aspek Positif Siklus II No Aspek Observasi Frekuensi Persentase Kategori 1 Siswa 14 77,8 B memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh 2 Siswa membaca cepat 16 88,9 SB dengan penuh perhatian 3 Siswa mengerjakan 12 66,7 B soal dengan baik 4 Siswa aktif bertanya 8 44,5 C ketika kesulitan selama pembelajaran 5 Siswa tidak 16 88,9 SB mengganggu teman Keterangan: SB : Sangat baik = 81% - 100% B : Baik = 61% - 80% C : Cukup = 41% - 60%

86 K : Kurang = 21% - 40% SK : Sangat kurang= 0% - 20% Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada aspek siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh sebanyak 14 siswa atau masuk dalam kategori baik. Pada aspek siswa membaca cepat dengan penuh perhatian masuk kategori sangat baik karena ada 16 siswa yang melakukan kegiatan membaca cepat dengan penuh perhatian. Aspek ketiga yaitu siswa mengerjakan soal dengan baik masuk dalam kategori baik. Sebanyak 12 siswa berusaha mengerjakan soal dengan baik. Pada waktu proses pembelajaran, siswa masih enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan. Hanya 8 orang yang aktif bertanya sehingga pada aspek ini masuk dalam kategori kurang. Siswa masih canggung untuk bertanya kepada peneliti. Aspek kelima yaitu siswa tidak menggangu teman. Pada aspek ini, sebanyak 16 siswa tidak mengganggu teman sehingga masuk dalam kategori sangat baik. Berikut ini akan dijelaskan hasil observasi aspek negatif siklus II yang merupakan kebalikan dari aspek positif dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

87 Tabel 13 Hasil Observasi Apek Negatif Siklus II No Aspek Observasi Frekuensi Presentase Kategori 1 Siswa meremehkan 4 22,3 B penjelasan guru 2 Siswa enggan 2 11,2 SB melakukan kegiatan membaca cepat 3 Siswa meremehkan 6 33,4 B tugas untuk mengerjakan soal 4 Siswa enggan 10 55,6 C bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran 5 Siswa mengganggu 2 11,2 SB teman Keterangan: SK : Sangat kurang= 81% - 100% K : Kurang = 61% - 80% C : Cukup = 41% - 60%

88 B : Baik = 21% - 40% SB : Sangat baik = 0% - 20% Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada aspek siswa meremehkan penjelasan guru sebanyak 4 siswa atau masuk dalam kategori baik. Pada aspek siswa enggan malakukan kegiatan membaca cepat sebanyak 2 siswa atau masuk kategori sangat baik. Aspek ketiga yaitu siswa meremehkan tugas untuk mengerjakan soal masuk dalam kategori baik sebanyak 6 siswa. Pada waktu proses pembelajaran, siswa masih enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran sebanyak 10 siswa yang enggan bertanya, aspek ini masuk dalam kategori kurang. Siswa masih canggung untuk bertanya kepada peneliti. Aspek kelima yaitu siswa menggangu teman. Pada aspek ini, sebanyak 2 siswa yang mengganggu teman sehingga masuk dalam kategori sangat baik. 2) Jurnal Jurnal yang digunakan dalam tindakan siklus I adalah jurnal siswa dan guru. Jurnal siswa berisi tentang pendapat dan tanggapan siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, sedangkan jurnal guru berisi hasil pengamatan peneliti tentang keaktifan siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

89 a) Jurnal Siswa Jurnal siswa yang diberikan terdiri atas enam pertanyaan yang diisi secara individu meliputi (1) minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat; (2) pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat; (3) ketertarikan siswa terhadap teknik skimming; (4) pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pemebelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (5) pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Berdasarkan hasil jurnal siswa diketahui bahwa sebanyak 16 siswa yang merasa tertarik dan minat dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena mereka merasa mendapatkan suasana baru, mendapatkan informasi dalam waktu yang singkat, menambah banyak pengalaman, dan menambah pengetahuan untuk meningkatkan keterapilan membaca cepat. Ada 2 siswa yang tidak merasa tertarik dengan pembelajaran membaca cepat karena teks yang dibaca kurang menarik dan susah untuk memahami teks bacaan. Tanggapan siswa terhadap penjelasan peneliti mengenai pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming yaitu sebanyak 15 siswa yang merasa penjelasan peneliti mudah dimengeri dan siswa merasa tidak jenuh, karena peneleti penjelaskan singkat pada dan jelas dan langsung dipraktikkan. Ada 3

90 siswa yang merasa penjelasan peneliti masih sulit dipahami karena kurangnya konsentrasi saat guru menjelaskannya. Ketertarikan siswa terhadap teknik skimming yaitu sebanyak 17 siswa karena merupakan teknik pembelajaran membaca cepat. Ada 1 siswa yang merasa tidak tertarik dengan teknik skimming karena terlalu rumit dan sulit untuk digunakan pada saat membaca, dan merasa dikejar waktu. Dengan penggunaan teknik skimming siswa yang merasa kesulitan pada saat membaca kata bahasa asing, tidak konsentrasi, ketakutan waktu habis. Pesan, kesan dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming sangat baik, mereka merasa senang dengan pembelajaran yang telah berlangsung. Sebanyak 18 siswa memberikan saran yang mendukung terhadap pembelajaran selanjutnya. Siswa berharap pembelajaran lebih menarik dan lebih menyenangkan. Siswa menyarankan agar kita semua lebih semangat lagi dalam membaca, dan lebih memahami isi bacaannya. b) Jurnal Guru Jurnal guru merupakan hasil pengamatan peneliti tentang perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Aspek-aspek yang ada dalam jurnal guru yaitu (1) catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran; (2) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (3) catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming; (4) catatan mengenai tanggapan

91 siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (5) catatan mengenai kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Aspek pertama tentang kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, bisa dilihat pada saat peneliti masuk kelas, siswa telah duduk rapi di tempatnya msing-masing. Suasana kelas yang gaduh menjadi tenang ketika peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Siswa dengan antusias menerima materi yang disampaiakan. Aspek kedua keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, ditunjukan melalui respon siswa dalam menjawab pertanyaan yang lontarkan peneliti selama pembelajaran berlangsung. Mereka sangat antusias mengkuti pembelajaran ini, sehingga mereka aktif bertanya tentang teknik skimming. Aspek ketiga, tanggapan siswa terhadap teknik skimming. Siswa mulai tertarik dengan pembelajaran ini sehingga mereka betul-betul membaca dan memahami isi teks, namun ada beberapa siswa yang masih kurang tertarik karena, mungkin bacaannya kurang menarik. Aspek keempat, tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca dengan teknik skimming. Tugas yang diberikan pada siswa berkaitan dengan membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan hasil yang bervariasi. Aspek kelima, kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks Bahasa Indonesia dengan teknik

92 skimming. Kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat, setelah melihat dari siswa secara langsung, hasilnya memuaskan dari hasil tes pilihan ganda untuk siswa. 3) Wawancara Kegiatan wawancara dilakukan setelah selesai pembelajaran siklus II dan setelah memperoleh nilai hasil tes siklus II. Peneliti mewawancarai tiga siswa, dengan kriteria memperoleh kecepatan membacanya cepat, sedang, dan lambat. Kegiatan wawancara yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui tanggapan yang diberikan siswa dalam pembelajaran membaca cepat. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan pada siswa saat wawancara siklus II sama dengan siklus I diantaranya (1) pendapat siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (2) pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming; (3) kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat; (4) perasaan siswa ketika dapat meningkatkan kecepatan membaca; (5) saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pendapat siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, untuk siswa yang mendapatkan kecepatan membacanya cepat merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena merupakan pembelajaran yang menarik dan bisa lebih meningkatkan keterampilan membaca cepat. Siswa yang kecepatan membacanya sedang, merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, karena dengan pembelajaran membaca cepat tersebut bisa lebih mudah mencari isi topic bacaan. Siswa yang kecepatan membacanya lambat, merasa

93 kesulitan dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, karena masih kurang mengerti pemakain tekniknya. Pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming, siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat merasa penjelasan guru lebih jelas dibanding dari buku. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang juga berpendapat bahwa penjelasan guru jelas, mudah dipaham. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat berpendapat bahwa penjelasan guru jelas, bisa dimengerti walaupun tidak semuanya. Kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat, bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya, mereka merasa kesulitan di saat konsentrasinya pudar. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang merasa kesulitan karena waktu yang relatif singkat. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat merasa kesulitan karena bacaannya kurang menarik. Perasaan siswa ketika kecepatan membacanya meningkat, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat, merasa senang dan kagum. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang, merasakan bahagia dan senang. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat, merasakan senang. Saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat memberikan saran agar teknik skimming ini harus lebih sering digunakan dalam pembelajaran membaca. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang memberikan saran kepada peneliti agar tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran, karena mereka

94 masih kurangnya konsentrasi. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat, memberikan saran agar lebih ditingkatkan pembelajaran keterampilan membaca cepat agar bisa membaca dalam waktu yang singkat. 4) Dokumentasi Foto Dokumentasi pada penelitian ini berwujud foto kegiatan siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pengambilan dokumentasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus I berlangsung. Foto yang diambil terdiri atas (1) Aktivitas siswa saat kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (2) Aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca; (3) Aktivitas siswa saat menjawab soal tes. Berikut ini adalah gambar dan penjelasan pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus II. Gambar 5. Aktivitas Siswa Membaca Cepat Gambar di atas menunjukkkan siswa sedang melakukan kegiatan membaca cepat. Pada proses ini, siswa membaca teks bacaan dengan judul

95 Benahi Transportasi ke Bandara Soekarno-Hatta. Pada proses membaca, masih ada siswa yang melakukan kesalahan seperti yang terlihat pada gambar di atas, ada siswa yang mengangkat teks bacaan ketika membaca. Keterampilan membaca cepat merupakan keterampilan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemahaman yang cepat terhadap isi bacaan, maka kesalahankesalahn tersebut harus diperbaiki pada siklus selanjutnya. Gambar selanjutnya adalah, aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca. Gambar 6. Aktivitas Siswa Menghitung Kecepatan Membaca Gambar di atas adalah aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca. Siswa dengan bersungguh-sungguh menghitung kecepatan membacanya. Gambar selanjutnya, Aktivitas siswa saat menjawab soal.

96 Gambar 7. Aktivitas Siswa Menjawab Soal Tes Gambar di atas menunjukkan kegiatan siswa mengerjakan soal tes untuk melatih pemahaman siswa dari bacaan yang telah mereka baca. Siswa mengerjakan soal dengan serius, tetapi masih ada siswa yang mengganggu teman mereka. Peneliti melakukan pendekatan terhadap siswa yang masih mengganggu siswa lain, ketika proses pengerjaan soal. Setelah siswa mengerjakan soal tersebut nantinya akan diketahui nilai siswa dan akan terlihat kemampuan siswa dalam membaca cepat. 5) Refleksi Sikllus II Pada pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming siklus II, siswa lebih antusias daripada siklus I. siswa mulai tertarik dengan pembelajaran ini terutama pada saat menggunakan teknik skimming. Dengan teknik skimming, mereka dilatih untuk membaca secara cepat dan tepat. Dalam kegiatan membaca, kebiasaan buruk membaca mulai berkurang. Kesalahan tersebut seperti mengangkat teks. Target yang ditetapkan siklus II yaitu nilai rata-rata keseluruhan sebesar 70 berhasil dicapai. Rata-rata kecepatan membaca siswa sebesar 65,45% dan pemahaman kemampuan membaca cepat sebesar 72,24 %. Dari hasil observasi,

97 jurnal, wawancara, dan dokumentasi, tingkah laku siswa pada pembelajaran di siklus II lebih positif daripada siklus I walaupun masih ada siswa yang melakukan tingkah laku yang negatif, seperti mengganggu teman. Namun, pada siklus II ini pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming masih belum sesuai target namun sudah meningkat dari siklus sebelumnya. C. Pembahasan Pembahasan dalam skripsi ini terdiri atas dua hal, yaitu peningkatan keterampilan membaca cepat dan perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. 1. Peningkatan keterampilan membaca cepat Pembahasan hasil penelitian berdasarkan hasil tes prasiklus, siklus I, dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian setiap siklus diperoleh dari data tes dan data nontes. Hasil tes dan nontes siklus I dan siklus II digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca cepat dan perubahan perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Sebelum dilakukan tes keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, dilakukan tes prasiklus untuk mengetahui seberapa besar keterampilan awal siswa dalam membaca cepat. Hasil tes pada tes prasiklus menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa 46,64 pada kecepatan membaca sedangkan hasil pemahaman membaca cepat sebesar 38,64. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa tingkat keterampilan awal siswa dalam membaca cepat masih di bawah target yang telah ditentukan yaitu sebesar 70.

98 Untuk mengetahui peningkatan keterampilan siswa dalam membaca cepat dengan teknik skimming digunakan data tes yang diperoleh dari tes pada siklus I dan siklus II. Hasil tes siklus I dan siklus II dibandingkan dengan hasil tes prasiklus untuk mengetahui perubahan keterampilan membaca cepat siswa dari kondisi awal hingga setelah dilakukan keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Pada siklus I dan siklus II ditargetkan nilai rata-rata sebesar 70. Berikut ini penjabaran peningkatan keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming prasiklus, siklus I dan siklus II. Tabel 14 Peningkatan Kecepatan Membaca No Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II Skor persentase Skor Presentase Skor Presentase 1 Sangat ,7 Cepat 2 Cepat 200 5, , ,3 3 Sedang , , Lambat ,5 5 Sangat 60 5, ,7 97 5,5 Lambat Jumlah % % % Persentase 46,64% 59,56% 65,45% rata-rata

99 Tabel di atas menunjukkan tingkat kecepatan membaca siswa prasiklus, siklus I, dan siklus II. Rata-rata kecepatan membaca siswa pada prasiklus sebesar 46,64% atau termasuk kategori lambat, sedangkan pada siklus I kecepatan membaca siswa sebesar 59,56% atau termasuk kategori sedang. Berdasarkan hasil tes tersebut, terjadi peningkatan kecepatan membaca siswa sebesar 12,92%. Pada siklus II, hasil tes kecepatan membaca sebesar 65,45%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kecepatan membaca siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 5,89%. Hasil tes siklus II belum memenuhi target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70. Tabel berikutnya yaitu penjabaran peningkatan pemahaman membaca cepat. Tabel 15 Peningkatan Pemahaman Membaca teks No Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II Skor persentase Skor Persentase Skor Persentase 1 Sangat ,7 Baik 2 Baik 80 5, , ,5 3 Cukup , , ,8 4 Kurang , Sangat 60 22, ,2 0 0 Kurang Jumlah % % % Persentase 38,34% 51,12% 72,23% rata-rata

100 Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pemahaman membaca teks dari prasiklus ke siklus I. Hasil tes prasiklus pemahaman membaca teks sebesar 38,34% atau masuk kategori kurang. Pada siklus I hasil tes pemahaman membaca teks sebesar 51,12% masuk kategori cukup. Berdasarkan hasil tersebut, adanya peningkatan pemahaman membaca teks sebesar 12,78%. Pada hasil tes siklus II juga mengalami peningkatan dari tes siklus I, hasil tes siklus II sebesar 72,23%. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 21,11%. Hasil tes siklus II sudah memenuhi target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70. Berdasarkan hasil tes, terjadi peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming. 2. Perubahan tingkah laku siswa Selama proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, peneliti melakukan pengamatan tingkah laku siswa. Pengamatan dilakukan pada siklus I dan siklus II melalui instrumen nontes berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Pedoman observasi yang digunakan pada siklus I sama dengan siklus II. Aspek-aspek dalam observasi meliputi sikap positif dan sikap negatif. Aspek positif siswa meliputi (1) siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh; (2) siswa membaca cepat dengan penuh perhatian; (3) siswa mengerjakan soal dengan baik; (4) siswa aktif bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa tidak mengganggu teman. Aspek negatif siswa meliputi (1) siswa meremehkan penjelasan guru; (2) siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat; (3) siswa

101 meremehkan tugas untuk mengerjakan soal; (4) siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa mengganggu teman. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I dan siklus II dapat diketahui perubahan perilaku siswa. Ada penambahan jumlah siswa yang melakukan sikap positif dan terjadi penurunan jumlah siswa yang melakukan sikap negatif. Pada aspek observasi positif siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh pada siklus II lebih besar dari pada siklus I. Pada aspek negatif siswa meremehkan penjelasan guru, jumlah siswa yang meremehkan penjelasan guru pada siklus II lebih sedikit dari pada jumlah siswa pada siklus I. Pada aspek positif siswa membaca cepat dengan sungguh-sungguh, jumlah siswa yang membaca dengan sungguh-sungguh pada siklus II lebih banyak daripada siklus I. Pada aspek negatif siswa enggan membaca cepat, jumlah siswa yang enggan membaca cepat pada siklus II berkurang dari siklus I. Pada aspek positif siswa mengerjakan soal pemahaman membaca teks dengan sungguh-sungguh, jumlah siswa yang mengerjakan soal dari guru siklus II lebih banyak dari pada siklus I. Untuk aspek negatif siswa enggan mengerjakan soal pemahaman membaca teks siklus II, jumlahnya lebih sedikit dari pada siklus I. Aspek berikutnya yaitu keaktifan siswa untuk bertanya ketika mengalami kesulitan. Jumlah yang aktif bertanya pada siklus II lebih banyak daripada siklus I. Pada aspek negatif, siswa segan bertanya ketika kesulitan bertanya jumlahnya lebih sedikit dari siklus I.

102 Aspek terakhir, yaitu siswa tidak mengganggu teman. Pada siklus II jumlah siswa yang tidak mengganggu teman bertambah daripada siklus I. Pada aspek negatif siswa yang mengganggu teman lebih sedikit daripada siklus I. Berdasarkan hasil observasi selama siklus I dan siklus II, jumlah siswa pada keseluruhan aspek observasi positif meningkat pada siklus II. Pada aspek negatif, jumlah keseluruhan aspek observasi negatif berkurang pada siklus II. Dengan demikian, observasi aspek positif siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sedangkan pada observasi aspek negatif mengalami penurunan. Perubahan tingkah laku siswa juga dapat dilihat dari jurnal, baik jurnal siswa jurnal guru. Pada jurnal siswa dapat diketahui pendapat siswa mengenai pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming. pertanyaan yang diajukan siswa berjumlah lima pertanyaan, antara lain (1) minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat; (2) pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat; (3) ketertarikan siswa terhadap teknik skimming; (4) pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (5) pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pada aspek pertama, minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat. Jumlah siswa yang berminat atau senang terhadap pembelajaran ini pada siklus II lebih banyak dari pada siklus I, da untuk jumlah siswa yang tidak senang pada siklus II lebih sedikit dari siklus I.

103 Aspek kedua yaitu, pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat. Jumlah siswa yang merasa penjelasan guru lebih mudah dipahami pada siklus II lebih banyak dari pada siklus I, dan untuk jumlah siswa yang merasa penejlasan guru sulit dipahami pada siklus II lebih sedikit dari siklus I. Aspek ketiga yaitu, ketertarikan siswa terhadap teknik skimming. jumlah siswa yang tertarik pada siklus II lebih banyak daripada siklus I, dan lebih sedikit siswa yang tidak tertarik pada siklus II daripada siklus I. Aspek pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pemebelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Jumlah siswa yang merasa mudah lebih banyak pada siklus II daripada siklus I, dan jumlah siswa yang merasa kesulitan lebih sedikit daripada siklus I. Aspek terakhir pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Semua siswa memberikan pesan, kesan, dan saran baik pada siklus I maupun siklus II. Berdasarkan hasil jurnal di atas, terjadi perubahan respon kearah yang lebih baik dari siklus I ke siklus II. Selain jurnal siswa, guru juga menggunakan jurnal guru untuk melakukan pengamatan terhadap tingkah laku siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Aspekaspek pengamatn guru meliputi (1) catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran; (2) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran

104 membaca cepat dengan teknik skimming; (3) catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming; (4) catatan mengenai tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (5) catatan mengenai kejadiankejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Aspek pertama yaitu, catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Kesiapan siswa lebih pada siklus II daripada siklus I. Pada siklus II, siswa lebih tenang dan siap mengikuti pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming. Aspek kedua keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pada siklus II siswa lebih aktif daripada siklus I. Siswa lebih aktif bertanya, baik secara langsung maupun pada saat guru mendekati siswa. Aspek catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming pada siklus I, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan. Namun, pada siklus II yang mengalami kesulitan semakin berkurang. Siswa mulai senang membaca dengan teknik skimming. Aspek selanjutnya yaitu, catatan mengenai tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming, pada siklus I sebagian siswa merasa kurang antusias untuk membaca dan mengerjakan soal. Namun pada siklus II siswa lebih antusias untuk membaca dan membaca soal. Aspek terakhir yaitu, catatan mengenai kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Catatan antara siklus I dan siklus II hampir sama, tentang kejadian yang muncul pada saat pembelajaran

105 membaca cepat, setelah melihat dari siswa secara langsung, hasilnya memuaskan dari hasil tes pilihan ganda untuk siswa. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, terhadap siswa yang memperoleh kecepatan yang cepat, sedang, dan lambat. Kegiatan wawancara ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan yang diberikan siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Hal yang ditanyakan adalah (1) pendapat siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (2) pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming; (3) kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat; (4) perasaan siswa ketika dapat meningkatkan kecepatan membaca; (5) saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pertanyaan pertama yaitu pendapat siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, siswa yang mendapatkan kecepatan membaca cepat dalam siklus I dan siklus II merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena merupakan pembelajaran yang menarik dan menambah banyak pengetahuan dan bisa lebih meningkatkan keterampilan membaca cepat. Siswa yang kecepatan membacanya sedang, pada siklus I dan siklus II, merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, karena dengan pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan pada saat membaca merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, dan dengan pembelajaran membaca cepat tersebut bisa lebih mudah mencari isi topik bacaan. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, merasa

106 tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, akan tetapi merasa dikejar waktu akhirnya tidak konsentrasi dan masih kurang mengerti pemakaian tekniknya. Pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming, siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat pada siklus I dan siklus II merasa penjelasan guru mudah dipahami karena runtut dan disertai contoh dam penjelasan guru lebih jelas dibanding membaca materi dari buku secara utuh. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I maupun siklus II juga berpendapat bahwa penjelasan guru mudah dipahami karena materi membaca cepat tidak begitu sulit dan mudah dimengerti. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I dan siklus II berpendapat bahwa penjelasan guru jelas dan bikin semangat dan bisa dimengerti walaupun tidak semuanya. Kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat, bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya pada siklus I dan siklus II, mereka merasa kesulitan di saat konsentrasinya pudar dan waktu yang relatif singkat. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I maupun siklus II merasa agak kesulitan karena susah untuk mengetahui ide utamanya dari teks tersebut dan bacaannya kurang menarik. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II merasa kesulitan untuk menemukan ide utama karena merasa kurang memiliki pengetahuan dan wawasan yang berhubungan dengan teks bacaan. Pertanyaan selanjutnya yaitu, perasaan siswa ketika kecepatan membacanya meningkat pada siklus I dan siklus II, menurut siswa yang memperoleh kecepatan

107 membacanya cepat, merasa senang karena keterampilan membacanya lebih meningkat dan merasa senang dan kagum. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I dan siklua II, merasakan karena bisa menambah prestasi juga bahagia dan senang. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, merasakan senang karena sudah mulai bisa memperbaiki keterampilan membacanya dan merasa senang. Pertanyaan terakhir yaitu, saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat pada siklus I dan siklus II memberikan saran agar keterampilan membaca ini tidak hanya mengetahui ide utamanya saja, tetapi harus paham dengan bacaannya dan teknik skimming ini harus lebih sering digunakan dalam pembelajaran membaca. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I dan siklus II memberikan saran kepada peneliti agar lebih ditingkatkan lagi dan tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran, karena mereka masih kurangnya konsentrasi. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, memberikan saran agar dijelaskan kembali teknik skimming dan bisa membaca dalam waktu yang singkat. Perubahan perilaku kearah positif juga bisa terlihat pada hasil dokumentasi. Pengambilan dokumentasi pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming yang dilakukan pada siklus I dan siklus II. Foto yang diambil terdiri atas, (1) Aktivitas siswa saat kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (2) Aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca;

108 (3) Aktivitas siswa saat menjawab soal tes. Berikut ini perbandingan dokumentasi siklus I dan siklus II. Siklus I Siklus II Gambar 8. Perbandingan Aktivitas Siswa Membaca Cepat Gambar di atas adalah perbandingan aktivitas siswa membaca cepat pada siklus I dan siklus II. Terlihat masih ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan dalam membaca. Kesalahan tersebut di antaranya, mengangkat teks bacaan, menyangga kepala. Banyak pula yang membaca dengan sungguh-sungguh. Siklus I Siklus II Gambar 9. Perbandingan Aktivitas Siswa Menghitung Kecepatan Membaca

109 Gambar di atas terlihat siswa menghitung kecepatan membaca. Pada siklus I dan Siklus II siswa dengan sungguh-sungguh untuk menghitung kecepatanya secara individu. Siklus I Siklus II Gambar 10. Perbandingan Aktivitas Siswa Menjawab soal Pada gambar di atas terlihat perbandingan aktivitas siswa ketika menjawab soal. Pada siklus I dan siklus II siswa terlihat sunguh-sungguh mengerjakan soal, namun masih ada juga siswa yang masih terlihat kurang. Siswa menggunakan waktu seefektif mungkin, siswa mulai percaya pada diri sendiri dengan menjawab soal tanpa harus melihat atau menanyakan pada teman yang lain. Sesuai dengan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan perilaku siswa kelas VIII D SMP-Terpadu Darul Amal Sukabumi kearah yang lebih positif setelah dilakukan pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

110 BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan data-data, analisis, dan pembahasan dalam penelitian ini yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil simpulan sebagai berikut. 1. Terjadi peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul Amal Sukabumi tahun ajaran setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. 2. Telah terjadi perubahan perilaku siswa kelas VIIID SMP-Terpadu Darul Amal Sukabumi tahun ajaran , setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Perubahan perilaku siswa ini dapat dibuktikan dari hasil data nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. B. Saran Berdasarkan hasil simpulan di atas, maka saran dapat peneliti sampaikan sebagai berikut. 1. Pertahankan atau lebih ditingkatkan lagi keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia, dapat menggunakan atau memanfaatkan teknik skimming dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan teknik tersebut. Penerapan teknik skimming ini

111 diharapkan mampu membuat proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek keterampilan menjadi lebih bervariatif 2. Para peneliti dalam bidang bahasa dapat melakukan penelitian yang serupa dengan menggunakan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga mendapatkan alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

112 DAFTAR PUSTAKA Alfin, Jauharoti dkk. Bahasa Indonesia 1, Surabaya: Learning Assistance Program For Islamic Schools, 2008 Anindyarini, Atikah dan Sri Ningsih. Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas VII, Jakarta: Depdiknas, 2008 Angga, Prambudi Tristono. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia Siswa kelas V SD Negeri Siliwangi 01 Kecamatan Semarang Barat, Program D2 PGKSD, UNNES Cahyani, Isah dan Hodijah. Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Bandung: UPI Press, 2007 Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 Fatmawati, Elly Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 kpm dengan Pembelajaran Berjenjang dan Penilaian Authentic Assessment pada Siswa Kelas VIIIA MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2004/2005. Skripsi: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fred, N. kerlinger. Asas-asas Penelitian Behavioral,Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006 Harras, Kholid, Endah Tri Priyanti, dan Titik Harsiati. Membaca 1, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007 Harras, Kholid dan Lilis Siti Sulistyaningsih. Membaca 1, Jakarta: Universitas Terbuka, 1999 Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008 Kasuriyanta, Budinuryatna dan Koermen, Imam. Pengajaran Berbahasa Indonesia, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007 Khasanah, Uswatun. Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat untuk Menemukan Ide Pokok dengan Teknik Ayunan Visual Siswa X-II SMA Negeri 2 Semarang Tahun ajaran 2008/2009. (Skripsi: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNNES 2009) Kurnianto, Rido et. al. Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya: Aprinta, 2009

113 Laksono, Kisyani dkk. Membaca 2, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007 Nur, Muhammad. Speed Reading For Beginners, (Panduan Membaca lebih cepar, lebih cerdas, dan pemahaman yang lebih baik), ed. Bahasa Indonesia Resmini Novi, Yayah Churiyah, dan Nenden Sundori. Membaca dan Menulis di SD: Teori dan pengajarannya. Bandung: UPI Press, 2008 Saadie, Ma mur dkk. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007 Sandjaja dan Albertus Heriyanto. Panduan Penelitian, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006 Sundawa, Dadang, Yon Rizal, dan Rifai Asfari. Kurikulum dan Buku Teks Pendidikan Ekonomi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007 Susilo. Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007 Suyadi. Penelitian Tindakan Kelas, Jogjakarta: DIVA Press, 2010 Tarigan, Henry Guntur dan Djojo Tarigan Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, Bandung: Angkasa, kamis Yanti, Dewi. Penerapan Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) dalam Pembelajaran Menulis Resensi Novel Tahun Ajaran ,Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010 Yunus, Mohamad at. al. Bahasa Indonesia (Tim Penulis Bahas Indonesia UT-ASMI), Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

114 LAMPIRAN-LAMPIRAN

115 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Aspek Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : SMP TERPADU DARUL AMAL JAMPANGKULON SUKABUMI : Bahasa Indonesia : VIII / I : Membaca : Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat. : Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kara per menit. Indikator : Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman; Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%; Mampu menyimpulkan isi teks bacaan. Alokasi Waktu : 2 X 40 menit (1 pertemuan) A. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa dapat mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman; 2. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%; 3. Siswa dapat menimpulkan isi teks bacaan. B. Materi Pembelajaran Menyimpulkan isi teks bacaan

116 C. Metode Pembelajaran 1. Ceramah 2. Diskusi 3. Penugasan D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan I 1. Kegiatan Awal a. Guru mengucapkan salam; b. Guru mengabsen siswa; c. Guru menjelaskan materi membaca cepat d. Guru menyuruh siswa membaca teks yang telah dibagikan. 2. Kegiatan Inti a. Siswa membaca teks yang telah diberikan oleh guru; b. Siswa menghutung jumlah kata yang telah dibaca dalam waktu satu menit; c. Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru d. Siswa mengumpulkan soal dan jawaban yang telah dikerjakanya 3. Kegiatan Akhir a. Siswa bersama guru mengadakan simpulan; b. Guru mengadakan refleksi. E. Alat dan Sumber Belajar 1. Teks berita yang dibaca 2. Pengukur waktu (Stopwatch) 3. Buku pelajaran

117 F. Penilaian 1. Tes a. Observasi b. Tes terulis 2. Bentuk instrument a. Lembar observasi b. Tes pilihan ganda Soal POPULASI ORANG UTAN YANG SEMAKIN TERANCAM Ekor Diperdagangkan Tiap Tahun, Aparat tidak Tegas Pemburuan liar satwa liar, seperti orang utan hingga saat ini belum bisa diatasi. Kampanye akan pentingnya pelestarian satwa yang dilindungi belum menyadarkan masyarakat untuk menghentikan perilaku yang tidak bertanggung jawab. Salah satu satwa yang menjadi incaran pemburu adalah orang utan. World wildlife Fund (WWF) Indonesia dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Traffic menengarai ratusan binatang yang kanon masih saudara dekat dengan manusia itu diperdagangkan tiap tahun. Dari catatan yang mereka kumpulkan di Kalimantan, Jawa, dan Bali, sekitar ekor orang utang diperdagangkan tiap tahun. WWF Indonesia dan Traffic menyebutkan, data yang mengindikasikan ancaman terhadap keletarian satwa yang habitat aslinya berada di Sumatra dan Kalimantan itu, diperoleh dari penelusuran di pasar burung, penggemar satwa langka, kebun binatang, Departemen kehutanan, pusat penyelamatan satwa, dan program rehabilitasi satwa. Dari jumlah orang utan yang diperdagangkan itu, mayoritasnya adal orang utan muda pada umumnya diperdagangkan sebagai satwa peliharaan. Kedua LSM itu juga melaporkan, dari sebagian besar orang utan yang diperjualbelikan, sebagian di antaranya mati. Jika diperkirakan secara kasar, total jumlah orang utan yang tertangkap dan mati setiap tahunnya kemungkinan jauh lebih besar.

118 Dengan total populasi orang utan di Kalimantan yang hanya sekitar saja di alim, penurunan jumlah sebanyak itu bisa diartikan sebagai vonis mati bagi populasi satwa langka, jelas WWF dan Traffic, dalam siaran persnya. Dalam masih tingginya pedagang orang utan, WWF dan Traffic menyimpulan bahwa perdagangan orang utan di Kalimantan tidak mengalami penurunan, dalam 15 tahun terakhir. Di Jawa, orang utan dijual dengan ratarata USṨ 400 (lebih dari Rp4 juta), sekita r tiga kali lipat dari harga yang diterima pemburunya di Kalimantan. Kedua LSM lantas menilai, parahnya perburuan dan perdagangan orang utan itu terkait dengan ketidaktegasan aparat dalam menegakan hokum. Meskipun banyak orang utan yang disita aparat selama satu dekade terakhir di Kalimantan hingga saat ini tidak satu pun pelaku yang dihukum. Oleh karena itu, Traffic dan WWF menyerukan pemerintah Indonesia untuk lebih tegas dalam menerapkan peraturan mengenai perlindungan spesies yang dilindungi. Pilihlah! A. Apabila (1), (2), dan (3) benar B. Apabila (1) dan (3) benar C. Apabila (2) dan (4) benar D. Apabila (4) yang bener 1. Berikut yang dianggap belum berhasil dalam perburuan liar satwa liar adalah kampanye.. (1) Pentingnya satwa liar (2) Pentingnya orang utan sebagai binatang yang dilindungi (3) Tanggung jawab masyarakat dalam pelestarian satwa (4) Pentingnya pelestarian satwa 2. Data yang mengindikasikan ancaman terhadap kelestarian satwa diperoleh diperoleh dari.. (1) Pasar burung (2) Penggemar satwa langka (3) Kebun binatang (4) Dokter hewan 3. Daerah di Indonesia yang disebut memperdagangkan orang utan tiap tahunnya adalah. (1) Kalimantan (2) Jawa (3) Bali (4) Sumatera 4. Parahnya perburuan dan perdagangan orang utan itu terkait dengan.

119 (1) Kurang siapnya hokum yang berlaku (2) Ketidaktegasan aparat member hukuman (3) Tidak adanya hokum yang tegas mengatur (4) Ketidaktegasan aparat dalam menegakan hukum 5. Habitat asli orang utan di Indonesia terdapat di (1) Jawa (2) Sumatera (3) Bali (4) Kalimantan Pilihlah satu jawaban yang paling bener! 6. Berikut yang sampai saat ini dianggap belum bisa diatasi adalah. A. Perburuan liar B. Perburuan satwa liar C. Perburuan liar satwa liar D. Perburuan orang utan 7. Populasi orang utan di Kalimantan sekitar.. A. 500 B C D Kata-kata..penurunan jumlah sebanyak itu bias diartikan sebagai vonis mati bagi populasi orang utan dinyatakan oleh WWF dan Traffic dalam. A. Tulisan B. Berita C. Siaran pers D. pengumuman 9. Traffic dan WWF menyerukan pemerintah Indonesia untuk lebih tegas dalam. A. Menindak para pelaku perburuan liar B. Menerapkan hukuman bagi para pelaku C. Memberdayakan aparat untuk melindungi satwa D. Menerapkan peraturan mengenai perlindungan spesies yang dilindungi 10. Dari para pemburu liar tersebut orang utan dijual dengan harga sekitar. A. Rp ,00 B. Rp ,00 C. Rp ,00 D. Rp ,00

120 Jawaban 1. D 6. C 2. A 7. C 3. A 8. C 4. C 9. D 5. C 10. D Jampangkulon 15 Juli 2011 Guru Mata Pelajaran Mahasiswa Praktikan Yukron, S. Pd. Nuryati Mengetahui Kepala Sekolah H. Nanang Saprudin, S.Pd

121 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS II Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Aspek Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : SMP TERPADU DARUL AMAL JAMPANGKULON SUKABUMI : Bahasa Indonesia : VIII / I : Membaca : Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat. : Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kara per menit. Indikator : Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman; Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%; Mampu menyimpulkan isi teks bacaan. Alokasi Waktu : 2 X 40 menit (1 pertemuan) A. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa dapat mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman; 2. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%; 3. Siswa dapat menimpulkan isi teks bacaan. G. Materi Pembelajaran Menyimpulkan isi teks bacaan

122 H. Metode Pembelajaran 1. Ceramah 2. Penugasan I. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-2 1. Kegiatan Awal a. Guru mengucapkan salam; b. Guru mengabsen siswa; c. Guru menjelaskan materi membaca cepat; d. Guru menyuruh siswa membaca teks yang telah dibagikan. 2. Kegiatan Inti a. Siswa membentuk kelompok-kelompok belajar; b. Siswa membaca teks yang telah diberikan oleh guru; c. Siswa menghutung jumlah kata yang telah dibaca dalam waktu satu menit; d. Siswa mendiskusikan isi teks yang telah dibaca; e. Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru; f. Siswa mengumpulkan lembar soal dan jawaban yang telah dikerjakanya 3. Kegiatan Akhir a. Siswa bersama guru mengadakan simpulan; b. Guru mengadakan refleksi. B. Alat dan Sumber Belajar 1. Teks bacaan 2. pengukur waktu 3. Buku pelajaran C. Penilaian 1. Tes c. Observasi d. Tes terulis

123 2. Bentuk instrument c. Lembar observasi d. Tes pilihan ganda Soal Benahi Transportasi ke Bandara Soekarno-Hatta Maskapai penerbangan hari minggu (3/2) mendesak pemerintah membenahi transportasi ke Bandara Soekarno-Hatta sebab terputusnya tol bandara akibat banjir sering berulang walau bandara kondisinya kering. Dalam sehari Bandara Soekarno-Hatta melayani lebih kurang 800 penerbangan, dengan potensi pendapatan per penerbangan mencapai Rp50 juta atau Rp40 miliar per hari untuk keseluruhan penerbangan. Kalau 40 persen tidak bisa terbang seperti terjadi pada hari Jumat, kerugian mencapai Rp16 miliar. Kalau terjadi beberapa hari, kerugiannya jelas amat besar. Ini masih dari aspek kerugian maskapai. Kerugian dalam jumlah amat besar kalau dihitung kerugian yang diderita penumpang yang tidak bisa berangkat atau tidak bisa pulang. Mereka tidak bisa melakukan aktivitas bisnis, harus tidur di hotel atau di tempat tidak layak dan sebagainya. Kerugian juga diderita oleh pemilik restoran yang tidak bisa menerima pasokan akibat banjir di sekitar bandara. Ini belum termasuk kerugian yang diderita para sopir taksi dan reputasi bangsa karena gerbang masuk Indonesia itu demikian buruk kondisnya. Idealnya, akses transportasi ke bandara tanpa hambatan. Bangkok juga macet seperti Jakarta, tetapi transportasi ke bandara tidak terganggu, kata Kepala Komunikasi Adam Air Danke Drajat, Minggu. Danke mengatakan, Di awal visit Indonesia 2008, nama Indonesia sudah negatif.

124 Sementara itu, ketegangan antara para penumpang dan petugas maskapai, kata Danke, tidak terelakan. Jumlah penumpang ribuan, sementara petugas maskapai terbatas. Komunikasi pun tak nyambung. Di lain pihak, beberapa manager maskapai penerbangan mengatakan belum menghitung kerugian akibat terputusnya akses transportasi utama menuju bandara karena masih terkonsentrasi untuk memulihkan kondisi bandara. Mengenai terputusnya jalan tol bandara, Wakil Presiden Jusuf Kalla menargetkan pengeringan di kilometer (km) selama 6 jam. Jasa Marga dengan cara apapun harus memperbesar kapasitas pompa. Sebesar apapun air, dalam enam jam tol bandara harus kering, katanya. PT Jasa Marga Tbk. Akan menambah dan meninggikan lajur tol Bandara Soekarno-Hatta atau Tol Sedyatmo. Hingga Minggu pukul 22.30, Kepala Cabang Jasa Marga Tol Bandara David Wiyanto menginformasikan, tol bandara masing digenangi air sedalam 50 sentimeter di km 26. Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Mengapa pemerintah mendesak membenahi transportasi?... a. Terputusnya tol bandara akibat banjir b. Terputusnya tol bandara akibat gempa c. Terputusnya tol bandara akibat ledakan bom d. Terputusnya tol bandara akibat dirusak masa 2. Siapakah yang mendapatkan kerugian akibat tidak bisa menerima pasokan karena banjir?... a. Sopir b. Penumpang c. Restoran d. Pemerintah

125 3. Berapa potensi pendapatan keseluruhan penerbangan per hari?... a. Rp50 miliar b. Rp40 miliar c. Rp45 miliar d. Rp60 miliar 4. Apabila 40 persen tidak bisa terbang, maka berapa kerugian yang dicapai pemerintah?... a. Rp16 miliar b. Rp20 miliar c. Rp30 miliar d. Rp 25 miliar 5. Siapa Kepala Komunikasi Adam Air?... a. Drajat b. Sudrajat c. Danke Drajat d. Danke 6. Pada tahun berapakah nama Indonesia sudah negatif akibat buruknya kondisi?... a b c d Siapa yang mendapatkan kerugian akibat maskapai tidak bisa berangkat atau pulang?... a. Sopir b. Penumpang c. Restoran d. pemerintah 8. Berapa potensi pendapatan per penerbangan per hari?... a. Rp30 juta

126 b. Rp40 juta c. Rp50 juta d. Rp60 juta 9. Berapa penerbangan dalam sehari yang dilayani Bandara Soekarno- Hatta?... a. 800 penerbangan b. 300 penerbangan c. 400 penerbangan d. 900 penerbangan 10. Siapa yang menargetkan peringatan di kilometer selama 6 jam?... a. Susilo Bambang Yudoyono b. Jusuf Kalla c. Megawati Soekarno Putri d. Prabowo Jawaban. 1. A 6. D 2. C 7. B 3. B 8. C 4. A 9. A 5. C 10. B Guru Mata Pelajaran Jampangkulon 17 Juli 2011 Mahasiswa Praktikan Yukron, S. Pd. Nuryati Mengetahui Kepala Sekolah H. Nanang Saprudin, S. Pd.

127 LEMBAR OBSERVASI Observasi Aspek Positif Siklus I dan Siklus II No Aspek Observasi Frekuensi Persentase Kategori 1 Siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguhsungguh 2 Siswa membaca cepat dengan penuh perhatian 3 Siswa mengerjakan soal dengan baik 4 Siswa aktif bertanya ketika kesulitan selama pembelajaran 5 Siswa tidak mengganggu teman

128 LEMBAR OBSERVASI Observasi Aspek Negatif Siklus I dan Siklus II No Aspek Observasi Frekuensi Persentase Kategori 1 Siswa meremehkan penjelasan guru 2 Siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat 3 Siswa meremehkan tugas untuk mengerjakan soal 4 Siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran 5 Siswa mengganggu teman

129 Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II 1. Apakah selama ini Anda berminat terhadap pembelajaran membaca cepat? 2. Bagaimanakah pendapat Anda tentang pembelajaran membaca cepat yang telah diberikan guru selama ini? 3. Bagaimana ketertarikan Anda terhadap teknik skimming? 4. Apa yang menyebabkan Anda kesulitan dalam membaca cepat dengan teknik skimming? 5. Pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan 6. teknik skimming?

130 Jurnal Guru Siklus I dan Siklus II 1. Bagaimana kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran? 2. Bagaimana keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming? 3. Bagaimana tanggapan siswa terhadap teknik skimming? 4. Bagaimana tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming? 5. Seperti apa kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming?

131 Teks Wawancara Siklus I dan Siklus II 1. Bagaimana pendapat Anda tentang membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia teknik skimming? 2. Bagaimana pendapat Anda tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming? 3. Bagaimana kesulitan yang dihadapi Anda terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat? 4. Bagaimana perasaan Anda ketika dapat meningkatkan kecepatan membaca 5. Bagaimana saran Anda terhadap pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming?

132 NILAI KECEPATAN DAN PEMAHAMAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS VIIID No Nama Siswa Hasil Kecepatan Membaca Cepat Prasiklus 1 Rimba Dasela Tuga Lala Melina Melia Anggraeni Sumarni Eza Zilda Andriyanti Rika Puspa Indah 60 8 Sutini Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 150

133 No Nama Siswa Hasil Pemahaman Membaca Cepat Prasiklus 1 Rimba Dasela Tuga 20 2 Lala Melina 50 3 Melia Anggraeni 50 4 Sumarni 20 5 Eza Zilda Andriyanti 80 6 Rika 10 7 Puspa Indah 40 8 Sutini 50 9 Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 20

134 NILAI KECEPATAN DAN PEMAHAMAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS VIIID No Nama Siswa Hasil Kecepatan Membaca Cepat Siklus I 1 Rimba Dasela Tuga Lala Melina Melia Anggraeni Sumarni Eza Zilda Andriyanti Rika 87 7 Puspa Indah Sutini Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 87

135 No Nama Siswa Hasil Pemahaman Membaca Cepat Siklus I 1 Rimba Dasela Tuga 50 2 Lala Melina 60 3 Melia Anggraeni 80 4 Sumarni 40 5 Esa Zilda Andriyanti 70 6 Rika 50 7 Puspa Indah 50 8 Sutini 60 9 Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 60

136 NILAI KECEPATAN DAN PEMAHAMAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS VIIID No Nama Siswa Hasil Kecepatan Membaca Cepat Siklus II 1 Rimba Dasela Tuga Lala Melina Melia Anggraeni Sumarni Eza Zilda Andriyanti Rika Puspa Indah Sutini Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 157

137 No Nama Siswa Hasil Pemahaman Membaca Cepat Siklus II 1 Rimba Dasela Tuga 80 2 Lala Melina 80 3 Melia Anggraeni 90 4 Sumarni 60 5 Esa Zilda Andriyanti 90 6 Rika 70 7 Puspa Indah 70 8 Sutini 80 9 Sarah Alfiah Siti Jamilah Novi Nurjanah Siti Aulia Ekawati Ade Oktaviani Sutisna Indah Nurul Arifah Putri Mutia Fatma Hanifah Nazla Tsani Anisa Nur Syifa 60

138 Nama Sekolah : SMP TERPADU DARUL'AMAL Alamat : JL CIKASO, SELAJATI RT 02/RW 01 BOJONGGENTENG, JAMPANGKULON SUKABUMI Bulan : SEPTEMBER 2011 DAFTAR URUT KEPANGKATAN (DUK) GURU TETAP/TIDAK TETAP TAHUN PENDIDIKAN 2011/2012 NO. Nama Tempat Tanggal Lahir Mata Pelajaran Pangkat Jabatan Masa Kerja NIP/ Golongan Seluruhnya KARPEG Gol./Ruang TMT Nama TMT Tahun Bulan Tahun H. Nanang Saprudin, S.Pd. Sukabumi, 24 April III/d 13 Juli 1995 KEP.SEK 13 Juli Wawan, S.Pd., M.M.Pd. Sumedang, 17 Apr 1965 PKN Pembina, IV/a 01 Okt 2008 Guru Pembina 01 Juli Kristiana Dewi, S.Pd. Jakarta, 25 Des Bahasa Inggris Penata Muda TK I, III/b 01 April 2006 Guru Madya TK I 01 April Lili Suhaeri, S.Ag. Sukabumi, 14 Juni 1950 Bahasa Sunda III/d 25 Juli 1995 Guru 25 Juli A. Fuad Fauzi, S.Pd.I. Bogor, 11 Peb Seni Budaya III/a 25 Juli 1995 Guru 26 Juli Marsidik Soewadji Surabaya, 01 Mar 1943 Matematika III/b 25 Juli 1996 Guru 25 Juli Syaechu Taqrib Cirebon, 10 Mei 1975 Tarikh Islam II/d 25 Juli 1998 Guru 25 Juli Windayani, S.Pd.I. Ponorogo, 16 Juli 1972 Shorof III/b 25 Juli 1998 Guru 25 Juli Durotun Nafisah, S.Ag. Bogor, 01 Juni 1970 PAI III/c 01 Nop Guru 01 Nop Lukman, S.Ag. Sukabumi, 10 Okt Bahasa Inggris III/c 02 Jan Guru 02 Jan Dede Muharamsyah, S.Psi. Sukabumi, 13 Des BP III/c 01 Agus 2002 Guru 01 Agus Dedi Junaedi, S.Pd Sukabumi, 12 Juli 1963 IPA Terpadu III/a 01 Agus Guru 01 Agus Yukron, S.Pd. Klaten, 23 Nove Bahasa Indonesia III/a 01 Agus Guru 01 Agus Juhdi Rifai, S.Th.I., M.A Sukabumi, 20 Agus Ilmu Nahwu III/b 01 Agus Guru 01 Agus Sayidah, S.Th.I. Cianjur, 17 Juni 1982 PAI III/a 01 Agus Guru 2 Agus Kankan Sopyan, S.Sos.I. Sukabumi, 19 Maret 1983 Seni Budaya III/b 01 Jan Guru 01 Jan Nasrulloh, S.HI. Sukabumi, 14 Jan Tafhimul Qur'an III/b 01 Mei 2007 Guru 01 Mei Dzawil Fitriyah, S.Pd.I. Serang, 13 Agustus 1979 Tilawah III/b 01 Mei 2007 Guru 01 Mei Badrudin, S.Pd.I. Sukabumi, 03 Juli 1978 Tahfidz III/b 01 Juni 2007 Guru 01 Juni Neng Yunita Romadoni, S.Pd Sukabumi, 05 Juni 1984 IPS Terpadu III/b 01 Agus Guru 01 Agus Isna Faznia Rahma, A.Md. Sukabumi, 12 Maret 1986 Bahasa Inggris II/b 01 Agus Guru 01 Agus Rani Sri Nurbayanti, S.S. Sukabumi, 05 Oktober 1980 Bahasa Indonesia III/a 01 Agus 2008 Guru 01 Agus

139 23 Sari Yanti, S.S. Sukabumi, 28 Jan Bahasa Arab III/a 01 Agus Guru 01 Agus Hikmatulloh, S.HI. Sukabumi, 10 Jan Bahasa Arab III/a 01 Agus Guru 2 Agus Ersya Hidayati, S.S. Bekasi, 08 Nop Bahasa Arab III/a 01 Peb Guru 01 Peb Andri Rofiq, ST. Sukabumi, 05 Jan TIK III/a 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Rizky Utama Djuhaeri, S.Si. Bandung, 16 Jan Matematika III/a 01 Juli 2009 Guru 02 Juli Usep Risman Sukabumi, 16 Peb Penjaskes II/b 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Watnawati, SE. Sukabumi, 26 Maret 1986 IPS Terpadu III/a 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Eha Susilawati, S.Pd. Sukabumi, 17 Mei 1985 IPA Terpadu III/a 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Febri Maswandi, S.Pd. Sukabumi, 27 Pebruari 1986 IPA Terpadu III/a 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Wati Resmiati Sukabumi, 08 Maret 1991 Tajwid II/a 01 Juli 2009 Guru 01 Juli Hudaya, S.Pd.I. Sukabumi, 01 Agust Shorof III/a 01 Peb Guru 01 Peb Ai Fatmawati, S.Sos. Sukabumi, 18 Pebruari IPS Terpadu III/a 01 Peb Guru 01 Peb Ahmad Mubarok Sukabumi, 12 September Khat II/a 17 Juli Guru 17 Juli Catatan : Rekap pergolongan Rekap per-ijazah : Gol. I :...Orang SMP :.. Orang Gol. II : 4 Orang SMA/sederajat : 4 Orang Gol. III : 30 Orang D I/D II : 1 Orang Gol. IV : 1 Orang D III : 1 Orang S-1 : 27 Orang Rekap per-jenis kelamin : S-2 : 2 Orang Laki-laki : 21 Orang S-3 :. Orang Perempuan : 14 Orang

140 GKATAN (DUK) GURU TETAP/TIDAK TETAP N PENDIDIKAN 2011/2012 R-7 Masa Kerja Seluruhnya Tahun Bulan Lulus Lulusan S1/STKIP S2/IMNI S1/UIN Jkt S1/Syam S1/STAI Kharis PGSLP MA DM S1/Syam S1/IAIN Yog S1/STIE Yog S1/UIN Jkt S1/IPA Fisika S1/Uninus S2/UIN Jkt S1/UIN Jkt S1/UIN Jkt S1/PTIQ S1/IIQ S1/PTIQ S1/UNPAS D3/BSI S1/ IKIP Jogya

141 S1/UIN Jkt S1/IAIN Yogya S1/UIN Jkt S1/STIMIK JABAR S1/UNISBA SMA S1/STIE Jkt S1/UIN Bdg S1/UIN Jkt SMA-T DA S1/UIN S1/UMMI SMA-T DA Selajati, 20 September 2011 Kepala Sekolah, H. Nanang Saprudin, S.Pd NIPY

142 Bulan Kelas Total Jumlah Kelas Total Jumlah Kelas Jumlah Jumlah 1A 1B 1C 1D Kelas 1 2A 2B 2C 2D Kelas 2 3A 3B 3C 3D DATA KEADAAN SISWA SMP TERPADU DARUL' AMAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012 L L P P L P L/P L L P P L P L/P L L P P L P L/P L P L P L P L P L/P L P L Jumlah Total Jumlah Kelas 3 Jml Siswa Awal Bulan ini Jumlah Mutasi Jml Siswa TOTAL Penerima Bea Sisw Keluar Masuk Akhir Bulan JUMLAH Kelas 1 Kelas 2 ini Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret April Mei Juni

143 SMP TERPADU DARUL' AMAL JARAN 2011/2012 Penerima Bea Siswa Kelas 2 Kelas 3 Hari Efektif Jumlah P L P Jml Hari Efektif Jml Hari Tidak Efektif Prosentase Absen Siswa Selajati, Juni 2012 Kepala Sekolah H. Nanang Saprudin, S.Pd NIPY

144

145

Pezi Awram

Pezi Awram 315 PROBLEMATIKA MEMBACA CEPAT SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Pezi Awram Pezi.awram@yahoo.com ABSTRAK Makalah ini disusun untuk menjelaskan problema apa saja dalam membaca cepat khususnya siswa

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan temuan-temuan selama penelitian, peneliti membuat beberapa

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan temuan-temuan selama penelitian, peneliti membuat beberapa 201 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan temuan-temuan selama penelitian, peneliti membuat beberapa simpulan sebagai berikut. 1. Teknik membaca skimming dan scanning dapat meningkatkan kecepatan

Lebih terperinci

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA Modul ke: 05 Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id MATA KULIAH BAHASA INDONESIA MEMBACA UNTUK MENULIS SUPRIYADI, S.Pd., M.Pd. HP. 0815 1300 7353/ 0812 9479 4583 E-Mail:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelaksanaan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di SMA kini

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelaksanaan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di SMA kini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Pelaksanaan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di SMA kini dititikberatkan pada keterampilan siswa. Berdasarkan kurikulum 2006 siswa dituntut

Lebih terperinci

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA TINGKATAN SMP KELAS VIII, ERLANGGA: KETERBACAAN DAN TINGKAT KETERBACAAN

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA TINGKATAN SMP KELAS VIII, ERLANGGA: KETERBACAAN DAN TINGKAT KETERBACAAN ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA TINGKATAN SMP KELAS VIII, ERLANGGA: KETERBACAAN DAN TINGKAT KETERBACAAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

Modul ke: BAHASA INDONESIA MEMBACA UNTUK MENULIS. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Drs. SUMARDI, M. Pd. Program Studi MANAJEMEN

Modul ke: BAHASA INDONESIA MEMBACA UNTUK MENULIS. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Drs. SUMARDI, M. Pd. Program Studi MANAJEMEN Modul ke: BAHASA INDONESIA Fakultas EKONOMI DAN BISNIS MEMBACA UNTUK MENULIS Drs. SUMARDI, M. Pd. Program Studi MANAJEMEN www.mercubuana.ac.id Definisi Membaca 1.Menurut Kamus Bahasa Indonesia, definisi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ada empat segi keterampilan berbahasa yakni keterampilan menyimak/

I. PENDAHULUAN. Ada empat segi keterampilan berbahasa yakni keterampilan menyimak/ 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ada empat segi keterampilan berbahasa yakni keterampilan menyimak/ mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan tersebut memunyai hubungan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis

II. LANDASAN TEORI. untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Membaca Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh seseorang untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis melalui media

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Bahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai karena bahasa adalah sarana interaksi dan alat komunikasi antar manusia. Negara Indonesia merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu aspek membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Keempat kemampuan

I. PENDAHULUAN. yaitu aspek membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Keempat kemampuan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ada empat aspek pembelajaran bagi siswa, yaitu aspek membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Keempat kemampuan dalam berbahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peran penting dalam kehidupan. Pendidikan bahasa sastra Indonesia yang menitikberatkan

BAB I PENDAHULUAN. peran penting dalam kehidupan. Pendidikan bahasa sastra Indonesia yang menitikberatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan salah satu kebutuhan manusia sehingga memegang peran penting dalam kehidupan. Pendidikan bahasa sastra Indonesia yang menitikberatkan pada keterampilan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT MELALUI PENDEKATAN LATIHAN PERSEPSI. Hesty Nurhayati

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT MELALUI PENDEKATAN LATIHAN PERSEPSI. Hesty Nurhayati Dinamika Vol. 5, No. 4, April 2015 ISSN 0854-2172 PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT MELALUI PENDEKATAN LATIHAN PERSEPSI SMPN 1 Kajen Kabupaten Pekalongan Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bahasa merupakan salah satu pemersatu bangsa. Melalui bahasa manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya karena manusia merupakan makhluk sosial yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhenti. Usaha tersebut dilakukan untuk penyesuaian dan mengimbangi tuntutan

BAB I PENDAHULUAN. berhenti. Usaha tersebut dilakukan untuk penyesuaian dan mengimbangi tuntutan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia sampai saat ini tidak pernah berhenti. Usaha tersebut dilakukan untuk penyesuaian dan mengimbangi tuntutan dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa Indonesia secara umum mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi sosial. Pada dasarnya bahasa erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai anggota

Lebih terperinci

MEMAHAMI HAKEKAT DAN ASPEK-ASPEK DALAM READING (MEMBACA)

MEMAHAMI HAKEKAT DAN ASPEK-ASPEK DALAM READING (MEMBACA) MEMAHAMI HAKEKAT DAN ASPEK-ASPEK DALAM READING (MEMBACA) Riska Aulia Sartika. Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar. riskaauliasartika66@gmail.com.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia diharapkan dapat saling mengenal dan berhubungan satu sama lain, saling berbagi pengalaman dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan membaca erat kaitannya dengan proses belajar, seperti kita

BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan membaca erat kaitannya dengan proses belajar, seperti kita 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Kegiatan membaca erat kaitannya dengan proses belajar, seperti kita berada di ruang sekolah atau kampus. Dengan melakukan kegiatan membaca, kita

Lebih terperinci

Nurdia Artu. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako ABSTRAK

Nurdia Artu. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako ABSTRAK Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas IV SDN Pembina Liang Melalui Penerapan Strategi Survey Questions Reading Recite Review (SQ3R) Nurdia Artu Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu bahan ajar yang digunakan oleh guru adalah buku teks. Buku mengandung informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu,

Lebih terperinci

2015 PENERAPAN METODE PQ4R (PREVIEW QUESTION READ REFLECT RECITE REVIEW) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA MEMINDAI SISWA SEKOLAH DASAR

2015 PENERAPAN METODE PQ4R (PREVIEW QUESTION READ REFLECT RECITE REVIEW) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA MEMINDAI SISWA SEKOLAH DASAR BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan berisi pengantar atau bab untuk mengawali pembahasan penelitian yang akan dilaksanakan. Adapun hal-hal yang akan dibahas pada bab pendahuluan ini, yaitu: A. Latar Belakang

Lebih terperinci

PENERAPAN FLATING (MEDIA FLASH DAN TEKNIK LATIHAN TERBIMBING) UNTUK MENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT PADA SISWA KELAS VII MTs YMI WONOPRINGGO

PENERAPAN FLATING (MEDIA FLASH DAN TEKNIK LATIHAN TERBIMBING) UNTUK MENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT PADA SISWA KELAS VII MTs YMI WONOPRINGGO PENERAPAN FLATING (MEDIA FLASH DAN TEKNIK LATIHAN TERBIMBING) UNTUK MENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT PADA SISWA KELAS VII MTs YMI WONOPRINGGO Hanindya Restu Aulia PBSI Unikal Abstrak Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca,

BAB I PENDAHULUAN. harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai empat aspek kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Membaca 2.1.1 Pengertian Membaca Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik, dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN METODE SQ3R PADA SISWA KELAS VII D SMP NEGERI 2 GATAK, SUKOHARJO

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN METODE SQ3R PADA SISWA KELAS VII D SMP NEGERI 2 GATAK, SUKOHARJO PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN METODE SQ3R PADA SISWA KELAS VII D SMP NEGERI 2 GATAK, SUKOHARJO Isminatun 7 SMP Negeri 2 Gatak Kabupaten Sukoharjo A. PENDAHULUAN Salah satu tujuan membaca

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENERAPAN METODE MEMBACA CEPAT DENGAN METODE MEMBACA INTENSIF DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN BACAAN

PERBEDAAN PENERAPAN METODE MEMBACA CEPAT DENGAN METODE MEMBACA INTENSIF DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN BACAAN PERBEDAAN PENERAPAN METODE MEMBACA CEPAT DENGAN METODE MEMBACA INTENSIF DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN BACAAN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PERSUASI MENGGUNAKAN MEDIA POSTER PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 6 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PERSUASI MENGGUNAKAN MEDIA POSTER PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 6 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PERSUASI MENGGUNAKAN MEDIA POSTER PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 6 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh: Fitria Damayanti Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia phiethriedamaya@yahoo.co.id

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. perbandingan. Adapun kajian-kajian yang relevan diantaranya adalah sebagai berikut.

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. perbandingan. Adapun kajian-kajian yang relevan diantaranya adalah sebagai berikut. BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Penelitian yang Relevan Kajian yang relevan dengan penelitian ini digunakan peneliti sebagai bahan perbandingan. Adapun kajian-kajian yang relevan

Lebih terperinci

PENGARUH KEEFEKTIFAN MEMBACA CEPAT TERHADAP KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF

PENGARUH KEEFEKTIFAN MEMBACA CEPAT TERHADAP KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF Oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Galuh ABSTRAK Pengaruh keefektifan membaca cepat terhadap kemampuan menemukan ide pokok paragraf yang diteliti di SMA Informatika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat.

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Perkembangan ini memiliki dampak semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan

Lebih terperinci

BAHASA INDONESIA. Membaca untuk Menulis. Sri Rahayu Handayani, S.Pd. MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi

BAHASA INDONESIA. Membaca untuk Menulis. Sri Rahayu Handayani, S.Pd. MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi Modul ke: BAHASA INDONESIA Membaca untuk Menulis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sri Rahayu Handayani, S.Pd. MM Program Studi Akuntansi http://www.mercubuana.ac.id Membaca adalah suatu proses yang dilakukan

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD BAB III KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA Dra.Hj.Rosdiah Salam, M.Pd. Dra.Andi Nurfaizah, M.Pd. Drs. Latri S, S.Pd., M.Pd.

Lebih terperinci

MEMBELAJARKAN PESERTA DIDIK UNTUK MEMBACA CEPAT. Syamsul Alam. Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan. Kata Kunci: membaca cepat, memahami makna bacaan,

MEMBELAJARKAN PESERTA DIDIK UNTUK MEMBACA CEPAT. Syamsul Alam. Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan. Kata Kunci: membaca cepat, memahami makna bacaan, MEMBELAJARKAN PESERTA DIDIK UNTUK MEMBACA CEPAT Syamsul Alam Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan Abstrak: Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) pada Siswa Kelas

BAB II LANDASAN TEORI. Metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) pada Siswa Kelas 7 BAB II LANDASAN TEORI H. Penelitian Relevan Penelitian tindakan kelas tentang kemampuan membaca dengan menggunakan metode PQ4R sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Lina Indriyani tahun 2012 dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kurikulum sekolah keterampilan berbahasa biasanya mencakup empat segi,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kurikulum sekolah keterampilan berbahasa biasanya mencakup empat segi, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kurikulum sekolah keterampilan berbahasa biasanya mencakup empat segi, yaitu: keterampilan menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring berkembangnya zaman, sekolah merupakan alternatif terbaik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring berkembangnya zaman, sekolah merupakan alternatif terbaik 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya zaman, sekolah merupakan alternatif terbaik untuk bisa bersaing di era yang sangat maju ini. Hal ini sangat penting karena dengan sekolah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam. memelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa

I. PENDAHULUAN. emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam. memelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam memelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat karena bahasa merupakan alat komunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan bersifat sangat penting demi terwujudnya kehidupan pribadi yang mandiri dengan taraf hidup yang lebih baik. Sebagaimana pengertiannya menurut Undang-undang

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH SEBAGAI UPAYA MENGATASI KESULITAN SISWA SD DALAM MEMECAHKAN SOAL CERITA MATEMATIKA

PENERAPAN PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH SEBAGAI UPAYA MENGATASI KESULITAN SISWA SD DALAM MEMECAHKAN SOAL CERITA MATEMATIKA PENERAPAN PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH SEBAGAI UPAYA MENGATASI KESULITAN SISWA SD DALAM MEMECAHKAN SOAL CERITA MATEMATIKA Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Perkuliahan D II PGKSD Oleh : Nama : Rifatul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. studi yang wajib dipelajari dan diajarkan di sekolah-sekolah. Mata pelajaran Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. studi yang wajib dipelajari dan diajarkan di sekolah-sekolah. Mata pelajaran Bahasa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Indonesia mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu bidang studi yang wajib dipelajari dan diajarkan di sekolah-sekolah. Mata pelajaran Bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hakikat pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia UMB MEMBACA UNTUK MENULIS. Kundari, S.Pd, M.Pd. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Sistem Informasi

Bahasa Indonesia UMB MEMBACA UNTUK MENULIS. Kundari, S.Pd, M.Pd. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Sistem Informasi Bahasa Indonesia UMB Modul ke: MEMBACA UNTUK MENULIS Fakultas Ilmu Komunikasi Kundari, S.Pd, M.Pd. Program Studi Sistem Informasi www.mercubuana.ac.id Standar Kompetensi : Mahasiswa dapat memahami berbagai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Membaca Memindai Kecepatan membaca dapat ditingkatkan dengan cara mengetahui dan terlatih dengan teknik membaca yang tepat yaitu membaca sekilas (skimming) dan membaca

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa tidak akan lepas dari dunia pembelajaran. Kita semua sebagai elemen di dalamnya memerlukan bahasa yang baik dan benar dalam proses pembelajaran. Pembelajaran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keterampilan berbahasa terdiri atas empat komponen penting yaitu keterampilan

I. PENDAHULUAN. Keterampilan berbahasa terdiri atas empat komponen penting yaitu keterampilan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keterampilan berbahasa terdiri atas empat komponen penting yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling melengkapi

Lebih terperinci

Membaca Cepat. Oleh. Usep Kuswari

Membaca Cepat. Oleh. Usep Kuswari Membaca Cepat Oleh Usep Kuswari Pengertian Membaca Cepat Tampubolon, 1990 : Membaca cepat adalah membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Biasanya kecepatan itu dikaitkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Inggris adalah alat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Departemen Pendidikan Nasional, dalam standar kompetensi dalam Kurikulum 2004,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyampaikan pesan dari sesorang kepada orang lain, atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah penelitian yang berisikan pentingnya keterampilan menulis bagi siswa

BAB I PENDAHULUAN. masalah penelitian yang berisikan pentingnya keterampilan menulis bagi siswa BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas delapan hal. Pertama, dibahas latar belakang masalah penelitian yang berisikan pentingnya keterampilan menulis bagi siswa sekolah dasar. Kemudian, dibahas identifikasi

Lebih terperinci

2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan dasar bagi pengetahuan manusia. Bahasa juga dikatakan sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh setiap manusia dengan yang lain. Sebagai alat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi, aktivitas membaca tidak hanya kegiatan yang dilakukan para siswa di kelas tetapi juga dilakukan oleh hampir setiap orang. Membaca telah menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan

BAB I PENDAHULUAN. peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya bahasa adalah alat yang berfungsi untuk berkomunikasi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan

I. PENDAHULUAN. analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik serta merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segi kepribadian, pengetahuan, kemampuan maupun tanggung jawabnya. dalam yaitu dari diri manusia itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. segi kepribadian, pengetahuan, kemampuan maupun tanggung jawabnya. dalam yaitu dari diri manusia itu sendiri. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan dan menggali potensi yang dimiliki oleh manusia untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkompeten.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung tetapi juga dapat memahami informasi yang disampaikan secara

BAB I PENDAHULUAN. langsung tetapi juga dapat memahami informasi yang disampaikan secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi oleh karena itu, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Kemampuan juga disebut kompetensi.

BAB II KAJIAN TEORI. Kemampuan juga disebut kompetensi. BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan 1. Pengertian Kemampuan Siswa sekolah dasar merupakan individu-individu yang sedang tumbuh dan berkembang dalam rangka pencapaian kepribadian yang dewasa. Pertumbuhan individu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. 10. kreatifitasnya dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. 11

BAB II KAJIAN TEORI. menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. 10. kreatifitasnya dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. 11 BAB II KAJIAN TEORI A. Keterampilan Berbicara 1. Pengertian Keterampilan Berbicara Keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. 10 Menurut pendapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa berperan penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan bahasa lah, manusia dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting terhadap kemajuan suatu bangsa di dunia. Pendidikan diproses

Lebih terperinci

Aas Asiah Instansi : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung

Aas Asiah   Instansi : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung PEMBELAJARAN MENULIS KARANGAN ARGUMENTASI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS V SD ISLAM AL-IKHLAS CIANJUR TAHUN AJARAN 2011/2012 Aas Asiah Email : aasasiah84@yahoo.com

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE QUANTUM READING DAN MEDIA GARIS WARNA-WARNI DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA

PENERAPAN METODE QUANTUM READING DAN MEDIA GARIS WARNA-WARNI DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No, 1 (2016) PENERAPAN METODE QUANTUM READING DAN MEDIA GARIS WARNA-WARNI DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA Amelia Pratiwi 1, Dede Tatang Sunarya 2, Nurdinah Hanifah 3 1,2,3 Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 27.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 27. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa memegang peran penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa seseorang dapat menyampaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang sangat penting untuk dikuasai. Untuk itu kemampuan menulis perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh

Lebih terperinci

Abstrak Kata Kunci 1. Pendahuluan

Abstrak Kata Kunci 1. Pendahuluan Abstrak Ada nilai tambah yang didapat seseorang dalam melakukan kegiatan membaca. Satu diantaranya, orang menjadi luas cakrawala kehidupannya, terbebas dari penjara dunia yang sempit dan terbatas, baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia atau peserta didik dengan cara mendorong kegiatan belajar.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dari sudut pandang: (i) hakikat menulis, (ii) fungsi, tujuan, dan manfaat menulis, (iii) jenis-jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar belajar. membaca merupakan Salah satu cara pembelajaran, Masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. pemberian makna terhadap tulisan, sesuai dengan maksud penulis. Membaca

BAB II KAJIAN TEORI. pemberian makna terhadap tulisan, sesuai dengan maksud penulis. Membaca BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Membaca Menurut Dechant (melalui Zuchdi, 2008:21), membaca adalah proses pemberian makna terhadap tulisan, sesuai dengan maksud penulis. Membaca pada hakikatnya

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG Dwi Sulistyorini Abstrak: Dalam kegiatan pembelajaran menulis, siswa masih banyak mengalami kesulitan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. informasi melalui lambang-lambang tertulis kemudian menalarkannya. Menurut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. informasi melalui lambang-lambang tertulis kemudian menalarkannya. Menurut BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Membaca 1.1 Definisi Membaca Menurut Artanto (2009) Membaca merupakan aktivitas pencarian informasi melalui lambang-lambang tertulis kemudian menalarkannya. Menurut Soedarso (2004)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Risca Olistiani, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Risca Olistiani, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki empat keterampilan berbahasa. Dua keterampilan berbahasa reseptif yaitu membaca dan menyimak, dan dua keterampilan

Lebih terperinci

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN KARTU BERGAMBAR SISWA KELAS SATU

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN KARTU BERGAMBAR SISWA KELAS SATU PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN KARTU BERGAMBAR SISWA KELAS SATU Suhrianati Sekolah Dasar Negeri Mabu un Murung Pudak Tabalong Kalimantan Selatan ABSTRAK

Lebih terperinci

KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS XI IPS SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BINTAN KECAMATAN BINTAN TIMUR KABUPATEN BINTAN TAHUN PEMBELAJARAN 2012/2013

KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS XI IPS SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BINTAN KECAMATAN BINTAN TIMUR KABUPATEN BINTAN TAHUN PEMBELAJARAN 2012/2013 KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS XI IPS SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BINTAN KECAMATAN BINTAN TIMUR KABUPATEN BINTAN TAHUN PEMBELAJARAN 2012/2013 ARTIKEL E JOURNAL Oleh Murdi NIM 080320717149 JURUSAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

BAB II KAJIAN TEORI. Hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah 11 BAB II KAJIAN TEORI A. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu bentuk penerapan kurikulum yang berlaku di

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN KEM DENGAN TEKNIK TRIFOKUS STEVE SNYDER DAN MEDIA VIDEO TUTORIAL MEMBACA CEPAT

UPAYA PENINGKATAN KEM DENGAN TEKNIK TRIFOKUS STEVE SNYDER DAN MEDIA VIDEO TUTORIAL MEMBACA CEPAT UPAYA PENINGKATAN KEM DENGAN TEKNIK TRIFOKUS STEVE SNYDER DAN MEDIA VIDEO TUTORIAL MEMBACA CEPAT Oleh: Khoirum, pendidikan bahasa dan sastra indonesia, Khoirum 80@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa seseorang dapat mencerminkan pikirannya. Semakin terampil

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa seseorang dapat mencerminkan pikirannya. Semakin terampil BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa seseorang dapat mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin jelas dan terstruktur pula pikirannya. Keterampilan hanya dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pikiran, pendapat, imajinasi, dan berhubungan dengan manusia laninnya.

BAB I PENDAHULUAN. pikiran, pendapat, imajinasi, dan berhubungan dengan manusia laninnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat terpenting yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Dengan bahasa, manusia akan dapat mengungkapkan segala pemikirannya. Selain itu, dengan

Lebih terperinci

dan menentukan jalannya pengajaran. Pembelajaran tidak lagi satu arah, tetapi

dan menentukan jalannya pengajaran. Pembelajaran tidak lagi satu arah, tetapi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Proses Pembelajaran Proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks dan akan terjalin komunikasi timbal balik antara guru sebagai pengajar dan siswa sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keterampilan berbahasa (language skills) meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut antara lainnya saling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu lainnya. Menurut Wibowo (Hidayatullah, 2009), bahasa adalah sistem

BAB I PENDAHULUAN. individu lainnya. Menurut Wibowo (Hidayatullah, 2009), bahasa adalah sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan suatu alat komunikasi antara satu individu dengan individu lainnya. Menurut Wibowo (Hidayatullah, 2009), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dengan demikian akan

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dengan demikian akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dengan demikian akan menimbulkan

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH POKOK MATERI MAKANAN DAN MINUMAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA KELAS VIIIA MTs ASY-SYARIFIYAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perilaku seseorang. Perilaku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap,

BAB I PENDAHULUAN. perilaku seseorang. Perilaku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas perilaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Membaca merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang diajarkan sejak peserta didik mengikuti pendidikan formal di bangku sekolah. Membaca

Lebih terperinci

MEMBACA DAN PEMBELAJARANNYA 5. MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF DNGAN

MEMBACA DAN PEMBELAJARANNYA 5. MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF DNGAN MEMBACA DAN PEMBELAJARANNYA 1. HAKIKAT MEMBACA 2. JENIS MEMBACA 3. KEM 4. STRATEGI MEMBACA CEPAT 5. MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF DNGAN FOKUS MEMBACA 1. HAKIKAT MEMBACA SBB: A. Proses pengubahan lambang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Menurut Tarigan (2008:1) ada

BAB I PENDAHULUAN. bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Menurut Tarigan (2008:1) ada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia di sekolah memegang peranan penting dalam mengupayakan dan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia di sekolah memegang peranan penting dalam mengupayakan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari karena bahasa merupakan alat komunikasi antar manusia. Secara luas dapat diartikan bahwa komunikasi

Lebih terperinci

Peningkatan Kemampuan Membaca Aksara Jawa Menggunakan Metode Iqro pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Ambal Tahun Pelajaran 2016/2017

Peningkatan Kemampuan Membaca Aksara Jawa Menggunakan Metode Iqro pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Ambal Tahun Pelajaran 2016/2017 Peningkatan Kemampuan Membaca Aksara Jawa Menggunakan Metode Iqro pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Ambal Tahun Pelajaran 2016/2017 Oleh: Dewi Mulyani Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: membaca cepat, media audio visual

ABSTRAK. Kata kunci: membaca cepat, media audio visual PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 21 PURWOREJO KECAMATAN BRUNO KABUPATEN PURWOREJO TAHUN AJARAN 2012/2013 Oleh: Dhian Eka Henry Siadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan bahasa yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Berdasarkan empat aspek keterampilan tersebut,

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Oleh : HILDA AYU NANDA

Skripsi. Diajukan Oleh : HILDA AYU NANDA PENERAPAN MEDIA LEMBAR KERJA SISWA DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Kasus di SMA Negeri 3 Langsa Tahun Pelajaran 2012/2013) Skripsi Diajukan Oleh : HILDA

Lebih terperinci

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar.

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. PERHATIKAN data berikut. 200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. Benar. Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar, tepatnya mereka yang belum lama dan berlum berpengalaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar dengan tujuan untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembelajaran bahasa Indonesia menuntut siswa untuk mampu menuangkan pikiran serta perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sehubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah sudah menjadi sempit. Interaksi antar manusia dalam wujud tertentu sudah tidak dapat dibatasi

Lebih terperinci

KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA

KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT DALAM MENEMUKAN GAGASAN UTAMA Ade Husnul Khotimah 1, Dadan Djuanda 2, Dadang Kurnia 3 1,2,3 Program Studi PGSD Kelas UPI Kampus Sumedang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE PETA PIKIRAN PADA SISWA KELAS IX SMPN 1 PURWOSARI TAHUN PELAJARAN

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE PETA PIKIRAN PADA SISWA KELAS IX SMPN 1 PURWOSARI TAHUN PELAJARAN PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE PETA PIKIRAN PADA SISWA KELAS IX SMPN 1 PURWOSARI TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Helmi Susanti Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak:Prestasi

Lebih terperinci