Pustaka yang diteliti yang berhubungan dengan pelitian

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pustaka yang diteliti yang berhubungan dengan pelitian"

Transkripsi

1 11. TINJAUAN PUSTAKA Pustaka yang diteliti yang berhubungan dengan pelitian ini menyangkut tiga bidang, yaitu : A, Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. 5. Pengelolaan Hutan sebagai Subsistem dari Pengelolaan * Surnberdaya Alam. C. Segi-segi Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya Pedesaan, A. Partisipasi Rakyat dalam Pemban~unan - - Uraian tentang latar belakang dm sejarah konsepsi partisipasi didasarkan pada karangan Cohen dan Uphoff (1980). Pertanyaan-pertanyaan mengenai hubungan antara parti- sipasi dengan perkembangan sosial dan manusia sudah mulai dikemukakan sejak zaman Yunani Kuno. Aristoteles meneliti negara-negara kota di Yunani untuk rnengetahui peraturan peraturan apa ymg perlu dibuat, yang dapat memberikan ke- bahagiaan dan kesejahteraan hidup kepada manusia. Menurut pendapatnya partisipasi dalam masaleh-masalah kenegaraan adalah penting untuk perkembangan dan pengempumaan kepri- badian manusia. Bila seaeorang dikucilkan dari politik, s3- bag aimana dengan budak-budak belian, maka kemampuannya un- tuk memberikan pertimbangan-pertimbangan, untuk memupuk rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan orrag lain, un- tuk menentukan pendapat yang bijaksena dan berimbang, *' tidak dapat dikembangkan sepenuhnya.

2 Akan tetapi dalam tingkat pemerintahan Aristoteles tidak dapat menemukan hubungan yang jelas antaca luaanya partisipasi?an tercapainya kehidupan yang bahagia ("the good life"). Olehnya ditemukan, bahwa pemerintahan oleh golongan mayoritas t;idak lebih baik dari pemerintahan oleh golongan minoritas, bila golongan mayoritas tersebut berperilaku me- 4 F nindas dan tidak menghormati hak-hak individu. Seorang 'I k raja atau suatu lapisan aristokrasi, yang memerintah seca- ra adil dan bijaksana, lebih baik dari pada pemerintahan suatu gerombolan orang banyak (mob); akan tetapi pemerin- tahan oleh seorang atau beberapa orang saja memungkinkan tirnbulnya bahaya tirani dan oligarki, yang tid+ memberi peluang untuk perbaikan ekonomi dan kesejahteraan individu. Sebagai kesimpulan akhir oleh Aristoteles dinyatakan, bahwa yang terbaik adalah suatu keadaan, di mana terdapat partisipasi yang luas dengan tidak ada suatu kelas yang mendominasi kelas lain. Kondisi untuk mencapai keadaan seperti tersebut di atas ternyata adalah suatu keadaan, di mana terdapat pemerataan kesejahteraan yang wajar dan pendidikan yang luas, yaitu keadaan yang biasanya berhu- bungan dengan pembangunan. Akan tetapi pada zaman Aristoteles tidak ada pertim- bangan-pertimbangan yang dihubungkan dengan "pembangunan". c: Partisipasi hanya berarti memberikan suara (voting), mem- punyai kedudukan dalam pemerintahan, menghadiri rapat-

3 rapat umum, membayar pajak dan turut mempertahankan nega- ra. Mereka yang berkehendak mendapatkan manfaat dari ke- warga negaraannya, diharapkan turut memikul juga biay a- biaya untuk memelihara kepentingan umum, dan sebaliknya. Pada waktu itu memang tidak ada pengertian "pembangunan". Orang mencita-citakan dan bekerja untuk mencapai kemak- * F muran dan kese j ahteraan melalui pertanian, perdagangan dan produksi barang melalui kerajinan. Gagasan-gagasan mengenai pembangunan banyak berubah, *1 terutama dalam beberapa dekade terakhir ini, karena melu- asnya kemungkinan-kemungkinan di bidang teknologi dan infra struktur serta organisasi sosial dan perkembangan aspirasi manusia. Teori mengenai pembangunan juga telah banyak berubah, begitu pula pandangan-pandangan tentang peranan partisipasi dalam pembangunan.. Sebagai contoh ialah evolusi pemikiran tentang pembangunan sesudah Perang Dunia ke dua berakhir, ialah munculnya pendapat tentang kesenjangan teknologi ("technology gapf1) antara negara-negara industri dan negara-negara sedang berkembang. Karena itu bantuan kepada negara-negara sedang berkembang dipandang harus dapat mengisi kesenjangan ini dengan alih teknologi. Partisipasi yang diperlukan untuk ini ialah penyerapan teknologi baru itu. Dari pada meneliti apa- C r kah teknologi baru itu tepatguna atau produktif, para akhli sosiologi dan juga pelaksana malah mencoba menerangkan apa sebabny a penduduk negara-negara berkembang terse but tidak mau menerimanya. Hal-ha1 yang berhubungan dengan parti-

4 - sipasi rakyat biasanya dihubung-hubungkan dengan "tradisio- nalisme" yang dipertentangkan dengan "modernitas". Non- partisipasi dicari penyebanya "tradisionalisme" itu dan "perlawanan terhadap modernitastl. * Dalam tahun 1960-an usaha-usaha pembangunan mulai di- tujukan kepada "sumberdaya" dan teori-teori mulai mengete- ngahkan tentang berbagai "kesen j angan sumberday a", yaitu 6.i k antara pendapatan dan pengeluaran pemerintah, antara eks- por dan impor, antara simpanan dan penanaman modal. Investasi berupa pemben tukan modal modern dipandang seba- gai bagian sangat penting untuk keperluan pembangunan, dan sejalan dengan itu partisipasi yang dimintakan dari rakyat merupakan sumbangan, yang dinyatakan dalam bentuk sumber- daya. Karena itu rakyat harus membayar pajak, mengkonsum- si produksi dalam negri, meningkatkan produksi untuk eks- por, menjimpan dan melakukan investasi serta menekan kon- sumsi. Partisipasi semacam ini biasanya tidak populer dan mengucilkan rakyat dari proses pengambilan keputusan. Kedua teori pembangunan tersebut di atas, yang dida- sarkan kepada teknologi dan sumberdaya bersumberkan pada modal; peranan rnasyarakat bersifat pasif dan semua segi partisipasi yang penting diandalkan pada beberapa orang saja yang berpendidikan tinggi dalam ilmu teknologi dan C r akhli dalam pengelolaan alokasi sumberdaya. Pendekatan baru terhadap pembangunan meletakkan par- tisipasi dalam suatu peranan yang lebih aktif clan lebih

5 lengkap. Pendekatan ini lebih memperhatikan penggunaan tenaga kerja sebagai sumberdaya yang melimpah di negaranegara yang sedang berkernbang, dengan memperhatikan peningkatan kesempatan kerj a serta pembagian manf aat yang merata. Hal ini sangat berbeda dengan teori pembanguna?, yang + lebih mementingkan teknologi dan pembentukan modal secara f isik, yang hanya menurunkan martabat partisipasi rakyat 6 '7 pada peranan tambahan saja. Menurut pendapat Cohen dan. Uphoff ( 1980) partisipasi adalah suatu istilah deskriptif, yang mencakup berbagai kegiatan dm situasi yang beraneka ragam. Karena itu besar sekali kemungkinan terjadi kesalah-fahaman tentang sebab dan akibatnya, ruang lingkup dan penyebarannya. Cohen dan Uphoff memandang partisipasi sebagai konsep cakupan, yang sebaiknya didekati dengan melihat pada komponen-komponen yang spesifik dan konkrit. Dalam hubungan ini menurut Cohen dan Uphoff perlu dibedakan antara dimensi dan konteks partisipasi. Dimensi partisipasi mencakup jenis partisipasi yang sedang diselenggarakan, kelompok-kelompok perorangan yang terlibat dalam partisipasi itu dan berbagai cara bagaimana terj adinya proses partisipasi. Konteks partisipasi berfokus pada hubungan antara ciri- C r ciri proyek pembangunan pedesaan dan pola-pola partisipasi yang ada dalam lingkungan daerah lokasi proyek, termasuk juga lingkungan tugas proyek. Hal ini mendorong untuk memper- hatikan ciri-ciri se jarah, keadaan lingkungan dan masyarakat

6 yang sering mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pola-pola, partisipasi yang muncul dalam suatu usaha pembangunan di pedesaan. Dimensi dan konteks partisipasi dalam usaha pembangun- an pedesaan dijelaskan lebih lanjut pada ikhtisar berikut (Bambar 1). Beberapa penulis lainnya mengemukakan pendapatnya ten- tang partisipasi sebagai berikut : Malhotra (1980) menyatakan bahwa dengan partisipasi rakyat dimaksudkan partisipasi menurut kehendak sendiri de- ngan sukarela; partisipasi dapat spontan atau digerakkan (induced), akan tetapi tidak dipaksa sebab ini bukan parti- sipasi ( "And by people's participation, we mean willing and voluntary participation, it may be spontaneous or induced, but certainly not "coercedvv, for that is not par- ticipation" ). Selanjutnya oleh Malhotra (1980) dijelaskan bahwa par- tisipasi rakyat dan kesempatan kerja, ke dua-duanya adalah alat dan se kaligus tu juan, akan tetapi ia cenderung untuk memandangnya sebagai tujuan, dalam arti sosial dan politik, karena merupakan sine qua non dalam pembangunan, khu- susnya pada tingkat lokal. Sebagaimana pelaksanaan adalah batu ujian untuk peren- Canaan, maka partisipasi rakyat dapat dipandang sebagai wndekatan "terpaduvv dari pernbangunan.

7 Dimens i Konteks / t Pengambilan Keput usan Keput usankeput usan pert ama Ke put usankeputusan sambil jalan \~e~utusankeput usan operasional I. Konstribusi I sumber Administrasi parti- dan koordinasi - sipasi Jadi petugas C Ke unt ungan 'laterial akibat atau Sosial merugi- Per orangan - Komplekb sitas Dampak teknologi asuk Persyarat- an sumber ' 1 Tangibilitas litas Kontinuitas Hubungan program Fleksibi- Pro-..(i Eva1 uas i Penduduk Iri-ciri Aksesibi- Siapa Pemimpin Penge lompokan Tingkat penda- pemerintah Larnanya jadi Personil penduduk Status penguasaan tanah < Dasar par- Dor ongan tisipasi Insentif ( Bentuk par- Organisasi Bagai- tisipas Langsung/tidak mana langsung < Wak t u y ang Luas parti- digunakan sipasi Cakupan kegiatan. < c : Dampak par- Kewenangan tisipasi Interaksi I Penanganan i administrasi Pengdam->;Q::--, an Persepsi Biologi :::z $;QE:-/' se jarah Faktor, Poli tik kemasyal~konomi / rakatan Tugas Gambar 1. Kerangka Pokok untuk Melukiskan dan Menganalisa Partisipasi dalam Pembangunan Pedesaan Sumber : Participation's Place in Rural Development-Clarity Through Specificity ( J. M. Cohen dan Norman T. Uphoff 1980).

8 Menurut Anonim (1980) rakyat akan suka berpartisi- pasi dalam eesuatu yang merupakan miliknya. Tentu saja ada organisasi-organisasi lokal, akan tetapi badan-badan tersebut biasanya didominasi oleh elite lokal. Ini merupakan sebab utama mengapa si miskin dan yang tidak beruntung be- F lum dapat berperanserta dalam proses partisipasi. Karena itu perlu dibuat suatu sistim yang dapat membangun berbagai organisasi-organisasi di luar kerangka formal dan tradisional, termasuk pemerintah setempat. Organisasi-organisasi bandingan ini dapat saja berupa kelompok-kelompok produksi, himpunan-himpunan sukarela, kelompok-kelompok tani, persatuan muda-mudi, persatuan wanita, dan sebagainya. Partisipasi oleh Dorfer (1980) digolongkan dalam : 1, partisipasi pada tingkat nasional 2. partisipasi pada tingkat lokal. Masalah partisipasi pada tingkat nasional secara intrin- sik berkaitan dengan perwakilan rakyat pedesaan yang ti- dak seimbang pada tingkat tersebut. Karena itu partisipasi rakyat pedesaan pada umumnya tidak efektif dan peluang-pe- luang yang ada malah makin berkurang karena perasaan ku- rangnya perwakilan itu rnenurunkan sernangat berpartisipasi. Salah satu sebab yang disebut-sebut untuk tidak men- -. tyrut sertakan rakyat dalam pengambilan keputusan politik dan ekonomi menurut her (1980) adalah karena rnereka

9 dipandang tidak mempunyai pengetahuan dan keakhllan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan-keputusan kompleks dalam abad ke dua puluh ini. Akan tetapi kenyataannya menunjukkan secara gamblang bahwa elite yang terdidiklah, sering bergelimang dalam 9 kecendekiawanan abad ke dua puluh, yang tidak mampu un- -~ tuk menyelenggarakan sistim politik yang dapat mencermin- kan aspirasi-aspirasi rakyat dan membimbing mereka ke arah kehidupan yang lebih baik. Menurut Omer (1980) kekurangan pendidikan dan bahkan keadaan buta huruf tidaklah merupakan penghalang bagi keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan keputusan, asal saja proses pengambilan keputusan tersebut diletakkan ke dalam jangkauan ruang lingkup mereka dan melibatkan persoalan-persoalan serta masalah-masalah yang menyangkut diri mereka sendiri. Kekurangan pendidikan tidak berarti bahwa rakyat tidak mempunyai kecerdasan dan kearifan yang memberi kemampuan pada mereka untuk mengenal program-program dan kegiatan-kegiatan yang akan membantunya mencapai taraf hidup yang lebih baik. Malahan proses partisipasi, keterlibat- an dan pengawasan oleh rakyat akan mengarah kepada penen- tuan taraf hidup yang lebih baik,oleh rawat sendiri, dan bukan oleh seseorang akhli, baik pribumi maupun asing, C I yang mengambil keputusan-keputusan sebagai anggota suatu badan perencanaan.

10 Dalam hubungan ini adalah sangat menarik untuk mengikuti jalan fikiran King (1983) tentang proses komunlkasi. Dalam Gambar 2 dilukiskan versi Model Proses Komunikasi yang telah dirobah dari Model Komunikasi yang biasa. * Lingkungan Sumber Lingkungan Penerima Gambar 2. Model Proses Xomunikasi Sumber : Foreign Environmental Experts and Indi enous Environmental Perception ( Peter K-Kng ) Tambahannya berupa lingkungan-lingkmgan sumber dan penerima. Sesuatu gagasan timbul dari lingkungan sumber,,paik dari pengetahuan sendiri dan citra sendiri (anthros- phere), dari anggota komunitas lainnya (sociosphere), da- ri lingkungan alam (biosphere) atau dari pandangan dunia yang dominan (cosmosphere). Bila pesan sudah di- encode

11 dan dipancarkan melalui saluran (umpamanya rencana pembangunan) penerima harus mendecode pesan itu menurut pengertiannya sendiri, orang lain, lingkungan atau kosmos. Untuk komunikasi yang berhasil penghalang-penghalang potensial pada proses encoding dan decoding dapat diatasi, antara lain dengan proses umpan balik dan penjelasan terus menerus. Akan tetapi mungkin sekali pandangan-pandangan duniawi berbeda sedemikian rupa, sehingga komunikasi tidak mungkin benar-benar dapat berhasil. Perbedaan ini tidak saja disebabkan perbedaan persepsi tentang lingkungan fisik saja, akan tetapi juga karena perbedaan antar budaya dalam interaksi sosial seperti sistim-sistim ekonomi, politik, kekerabatan, ritual sosial dan kebiasaan lainnya.(goodenough, 1963 dalam King, 1983). Meskipun pengelola atau peneliti lingkungan (akhli luar negeri atau Prib~i yang berasal dari kota) dapat men- capai empati budaya yang tinggi, namun jurang budaya dengan penduduk pedesaan hanya sedikit saja yang dapat ditutup. Karena itu King mengusulkan suatu pendekatan alternatif dalam penelitian, perencanaan dan pengelolaan lingkunga slam dan sosial, yaitu dengan menukar peranan : peneliti atau perencana menjadi mpeneriman dan penduduk setempat - menjadi nsumbern. Asumsi dasar dari pendekatan ini ialah,

12 bahwa cukup terdapat pengetahuan pada kommitas setempat untuk memberikan data dasar. Pengetahuan ini setelah diolah yang seksama dapat digunakan dalam proses perencanaan dan pemecahan masalah. Cara Itparticipatory planning" ini bersifat "bottom-up". Mes- kipun perencanaan dengan partisipasi biasanya memakan wak- tu lebih banyak dari pada "top-downll planning, tetapi me-.- nurut King tingkat pelaksanaannya biasanya lebih mudah dan lebih mantap. &lam hubungan penelitian dan partisipasi rakyat Pong- sapich dan Bajracharya (1983) dalam penelitiannya me- ngenai energi pedesaan menganjurkan apa yang disebut "Par- ticipatory Action Research" (PAR). Pendekatan ini meng- gabungkan unsur-unsur positif darit1parti~ipat0l'y researchq1 dan "action research". Penelitian dengan partisipasi (participatory research) melibatkan penduduk setempat, maupun perencana dan nara sumber (resource person) dari luar, dalam mengidentifikasi masalah dan dalam menggunakan informasi secara bersama-sama. &lam ha1 ini penggunaan pengetahuan tradisional diutamakan disamping pengetahuan baru. Bnelitian aksi (action research) mementingkan dimulainya sesuatu kegiatan didasarkan pada informasi yang ada dengan "built inw fleksibilitas untuk merobah kegiatan bila C r

13 perlu melalui pengujian, monitoring dan penambahan infor- masi baru secara terus menerus. Tujuan khas dari suatu proyek PAR adalah menumbuhkan metoda untuk meningkatkan kemampuan rakyat pedesaan, ilmu- wan dan perencana dan memperkuat interaksi antara golongan- * golongan yang bersangkutan dalam mengidentifikasi, mengn inventarisasi dan mengorganisasi sumberdaya dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dasar maupun pembangunan. Beberapa penthis Indonesia juga telah mengemukakan pendapatnya tentang makna dan ruang lingkup partisipasi rakyat dalam pembangunan. Mastud (1984) membahas bagaimana Pemerintah Orde Baru menangani pozensi partisipasi rakyat di Indonesia. Ia me- ngemukakan bahwa Pemerintah berpegang pada teori,bahwa un- tuk memaksimalkan produktivitas ekonomi diperlukan upaya untuk meminimalkan konflik sosial agar dapat menerapkan ke- bijaksanaan secara cepat, efektif dan efisien. Kemampuan seperti itu hanya bisa dijamin oleh aturanmain politik yang mampu meniadakan konflik ideologi, mengutamakan kon- sensus dan ketertiban, dan membatasi peranserta politik yang majemuk. Sehubungan dengan itu menurut Mastud Pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai pembenahan struktural, anta- ra lain terhadap saluran-saluran peranserta masyarakat. C I Pembenahan itu terutama bertujuan : 91

14 1 Menyederhanakan struktur dan proses perwakilan ke- pent ingan dengan meminimalkan peranan politik kepartaian. * 2. Mengarahkan peranserta masyarakat pada kegiatan menerapkan kebi jaksanaan. Pembenahan 'saluran peranserta masyarakat berkaitan dengan pengertian Pemerintahmengenai arti partisipasi. Dalam ilmu politik.peranserta diartikan sebagai keterlibatan dalam penentuan kebijaksanaan pemerintahan dalam proses pelaksanaan sesuatu kebijaksanaan. Bentuk peranserta yang tersebut pertama bersifat membuat dan merumuskan alternatif-alternatif kebijaksanaan yang mungkin untuk dilaksanakan, serta memilih alternatif yang memiliki kemungkinan optimum untuk berhasil. Sedangkan dalam bentuk ke dua, peranserta masyarakat diarahkan pada kegiatan melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan saja. Para pemimpin Orde Ik2-u menurut Mastud pada umumnya lebih menekankan pada pengertian ke dua, yaitu bahwa tugas rakyat adalah melaksanakan program pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah. Kelemahan dari peranserta yang hanya diarahkan pada ' penerapan kebijaksanaan menurut Mastud adalah bahwa ia *:tidak bisa menumbuhkan Yasa ikut memiliki* di kalangan masyarakat terhadap program pembangunan itu.

15 Kalau secara formal mereka mendukung program pembangunan itu, karena ada himbauan pemerintah, maka yang terjadi bukanlah penggalakkan peranserta atau partisipasi, tetapi rh mobilisasi. Kalau dalam peranserta terkandung sifat keaktifan pribadi, dalam mobilisasi terkandung sifat keterpaksaan atau dorongan dari luar pribadi. Diusulkan oleh Masfud beberapa penyesuaian dalam kebijaksanaan Pemerintah demi memperluae peran serta masya- rakat : 1. Pada tingkatan nasional memperbaiki saluran peranserta masyarakat dengan memberi kesempatan kepada organisasi-organisasi korporatis yang dieponsiri Pemerintah seljerti KADIN dan PBSI untuk mengembangkan dan menyalurkan kepentingan mereka sendiri. 2. Pada tingkatan yang lebih rendah, terutama tingkat desa menciptakan rasa ikut memiliki di kalangan masyarakat bawah dengan memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat pedesaan untuk merencanakan program pembangunan yang mereka kehendaki bagi lingkungannya. Kelemahan dari lembaga-lembaga peranserta masyarakat desa yang telah diciptakan Pemerintah seperti Unit Daerah Kerja Yembangunan (UDKP) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat *Ibesa (LKMD) menurut Masfud selama ini terletak pada ketidak mampuannya untuk menyalurkan kepentingan masyarakatnya.

16 Ketidakmampuan ini terutarna akibat dari komposisi anggota- anggotanya yang didominasi oleh birokrat. Tokoh non-peme- rintah yang duduk di dalamnya biasanya adalah tokoh masya- rakat yang dekat dengan pemerintah. Singkatnya menurut F b ASIUD keanggotaan lembaga-lembaga desa ini umumnya kurang mencerminkan adanya variasi kepentingan dalam masyarakat 6 91 S itu. Slamet (1980) mengemukakan bahwa syarat-syarat yang di- perlukan agar nasyarakat dapat berpartisipasi dapat dikelom- pokkan dalam tiga golongan, yaitu : 1. Adanya kesempatan untuk membangun atau untuk ikut dalam pembangunan. 2. Kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan itu 3. Adanya kernauan untuk berpartisipasi. Slamet juga berpendapat bahwa partisipasi masyarakat sangat mutlak demi berhasilnya pembangunan. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa tanpa partisipasi masyarakat setiap proyek pembangunan harus dinilai tidak berhasil. Menurut Sa jogyo (1979) pengertian partisipasi dalam pembangunan meliputi tiga hal, yaitu : 1. Peluang ikut menentukan kebijaksanaan pembangunan (di tingkat desa/kecamatan khususnya), lebih-lebih di bidang-bidang di mana mereka diharap bekerja/berusaha k: 2. Peluang ikut rnerencanakan pelaksanaan pembangunan pada tingkat-tingkat seperti tersebut di atas.

17 3. Peluang ikut menilai hasil pembangunan, sampai di mana sudah pula diperbaiki keadaan mereka menurut ukuran dan pengalaman mereka sendiri. Selanjutnya oleh Sajog~o (1984) fungsi partisipasi, ditempatkan dalam sistematika sebagai berikut : Re jalur pemerataan dalam Trilogi Pembangunan sejak Repelita I11 disusun berupa pola mata-rantai kelompok jalur dengan berbentuk matriks ("matrix of propositions, Zetterberg 1965) sebagai berikut : dua a. Jalur ke-1 : peluang b. Jalur ke-2 : peluang c. Jalur ke-3 : tingkat Jalur ke-6 Jalur ke-7 Jalur (peran - (pemerataan ke-8 serta ) antar dee- (kesa- rah/kota/ desa) maan dalam hukum) berusaha... bekerja... pendapatan.... d. Jalur ke-4 : tingkat pangan, sandang, perumahan... e. Jalur ke-5 : Tingkat pendidikan/kesehatan... Plats rantai jalur-jalur itu dapat dibaca rnenjadi I1pe- ranserta dalam memanfaatkan peluang berusaha dan bekerja, membawa kepada peranserta lebih baik pula dalarn peningkatan

18 pendapatan dan mencukupi kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pelayanan pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian ukuran "tingkat peranserta" tampak dapat membawa arti ukuran "tingkat hidup" atau "tingkat kemakmuranil yang berdimensi banyak. Dalam menganalisis partisipasi rakyat dalam pembangu- 91 E nan kehutanan Wiersum ( 1984 ) mengemukakan, bahwa ada empat jenis masukan dasar untuk berpartisipasi, yaitu dalam bentuk lahan, tenaga kerja, modal dan teknologi. Dalam ha1 yang belakang ini dibedakan antara teknologi profesional, yaitu yang berdasarkan ilmu kehutanan, dan teknologi asli, yaitu yang berdasarkan pengalaman penduduk setempat. Ke empat jenis masukan tersebut dapat berupa berbagai bentuk dan dapat diberikan oleh berbagai pihak. Dalam kebanyakan program kehutanan, khususnya kehutanan sosial, beberapa jenis masukan partisipasi dapat diberikan oleh penduduk desa, baik secara berkelompok atau dalam hubungan komunal, maupun secara perorangan. Masukan lainnya dari dinas kehutanan dan kadang-kadang dari pihak ke tiga, yang merupakan organisasi sukarela untuk pembangunan atau organisasi non-pemerintah lainnya. Wiersum (1984) mengetengahkan delapan model kehutanan sosial, yang melukiskan bagaimana masyarakat seternpat mau- F ' pun dinas kehutanan atau pihak lainnya dapat berpartisipa-,: si dalam program-program kehutanan sosial. Pada Gambar 3 dilukiskan beberapa model.

19 1. Kehutanan sosial di kawasan hutan negara (urnpamanya tumpangsari/taungya, "Forest village" di Thailand) Tenaga I kerja Dinas Kehutanan f Desa Lahan hutan Modal dan pelayanan sosial Teknologi profesional Organisasi Proyek kehutanan sosial 2. Proyek kehutanan sosial diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan pada lahan komunal ( super management mode 1 ) Lahan, tenaga ker j a Dinas Kehutanan + Desa Proyek Modal Teknologi profesional Organisasi C I 3* Proyek pembangunan masyarakat desa dibina oleh Dinas Kehutanan (Institutional development model) Dinas Kehutanan Teknologi I,. (Lahan) profesional I I.r( ada an pembangunan (-- Kontrak Modal Teknologi profesional \ I Organi sasi '\ I.\ 1 / u v Proyek Desa / / Tenaga kerja (Lahan) (Teknologi Gambar 3, Beberapa Model Organisasi Fartisipasi Dalam Pembangunan Hutan (Kehutanan Sosial) Sdmbe? : Wiersum (1984)

20 Mengenai partisipasi rakyat dalam penghijauan di luar kawasan hutan, khususnya pembangunan daerah aliran sungai, oleh Departemen Pertanian (1982) dalam Daru (1985) dikemu- kakan sebagai berikut: 1. Perlu diusahakan partisipasi rakyat dalam kegiatan konservasi tanah dan air dalam usaha tani tanah kering maupun pekarangan. 2. Diharapkan kontribusi curahan tenaga kerja dan sumber 9~ + daya lainnya dalam pengendalian erosi di tingkat desa F oleh kelompok-kelompok masyarakat secara gotong-royong. 3. Perlu curahan waktu dan tenaga masyarakat dalam ke'giatan pembangunan desa, seperti berpartisipasi dalam latihan-latihan dan pertemuan-pertemuan diantara kelompok-kelompok petani. Dalam penelitian tentang partisipasi rakyat dalam pem- bangunan DAS sol,-, oleh Daru (1985) disusun beberapa indeks. Pertama-tama dibuat indeks pola tanaman musiman dengan meng- hitungjumlah kali panen di aetiap petak percobaan dan jum- lah musim tanamnya. Bila ada tanaman pohon-pohonan, dengan keadaan baku 400 pohon/ha, maka terhadap indeks tersebut diadakan penyesuaian, karena pohon-pohonan tersebut berpe- ngaruh terhadap hasil produksi dan ruang tumbuh bagi tana- man pertaniannya. Demikian pula diausun suatu indeks untuk partisipasi dan sikap petani, yang didasarkan pada data yang dikumpul- kan pada waktu wawancara dengan responden. Nilai-nilai indeks tersebut kemudian diklasifikasikan dalam satu tabel tentang pendapatan bersih per kapita un- tuk tahun : Ternyata ada korelasi yang cukup kuat antara pendapa- tan dengan partislpasi dan sikap (r = 0.844). Implikasinya

21 menurut Daru (1985) adalah oleh proyek perlu diusahakan peningkatan pendapatan petani; peningkatan pendapatan petani dapat mendorong peningkatan partisipasi petani dalam proyek. Antara indeks partisipasi dan sikap dengan tingkat pendidikan - kepala rumah tangga terdapat juga korelasi yang kuat (r 0.821). Implikasinya ialah bahwa latihan-latihan $ '1 + lanjutsn akan besar bantuannya terhadap keberhasilan proyek. r Korelasi antara luas pemilikan lahan dengan indeks par- tisipasi dan sikap juga kuat (r = 0.904). Hal ini oleh Daru (1985) diterangkan karena petani yang lahannya luas keuntu- 4 ngannya berlipat-lipat, karena peningkatan produksi per satuan luas. Karena yang mendapat keuntungan dari proyek perhatiannya terhadap proyek cukup besar, perlu diusahakan agar pemilik lahan sempit juga mendapat keuntungan yang da- pat dirasakan. B. Pennelolaan Hutan seba~ai Subsistem Pennelolaan Sumberdaya Alam 1. Pennertian dan Funasi Hutan Dalam Undang-undang No. 5 tahun 1967 tentang Keten- tuan-ketentuan Pokok Kehutanan diaebutkan bahwa "Hutanil adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohonan yang se- cara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan oleh Peme- rintah sebagai hutan. c t Dalam Pasal 3 Undang-undang tersebut dibedakan be- berapa golongan hutan, yaitu: a. "Hutan Lindunqt ialah hutan yang mernpunyai keadaan alam sedemikian ruoa. sehinnna pennaruhnya yang baik terhadap tanah, al&- sekeli~~ngnya-dan tata air per-

22 * lu dipertahankan dan dilindungi. Apabila Hutan Lindung diganggu, maka hutan ini akan kehilangan fungsinya sebagai pelindung, bahkan akan menimbulkan bencana alam seperti banjir, erosi dan lain-lain. Di antara Hutan Lindung ada yang karena keadaan alamnya dalam batasbatas tertentu sedikit banyak masih dapat dipungut hasilnya dengad tidak mengurangi fungsinya sebagai Hutan Lindung. b. "Hutan ProduksiI1, ialah hutan yang baik keadaannya, maupun kemampuannya sedemikian rupa, sehingga dapat membe-,f rikan manfaat produksi kayu dan hasil hutan lainnya. Pemungutan hasil hutan tersebut diatur sedemikian rupa, r sehingga dapat berlangsung dengan lestari. c. "Hutan Suaka Alamtg, ialah Kawasan Hutan yang keadaan alamnya sedemikian rupa, sehingga sangat penting bagi kepentingan illnu pengetahuan dan kebudayaan. Karena Kawasan Hutan semacam ini perlu mendapat perlakuan yang khusus, Hutan Suaka Alam dibagi menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. d. "Hutan Wisata", ialah hutan yang karena keindahannya sedemikian rupa, sehingga mempunyai kemampuan untuk dibina secara khusus untuk keperluan pariwisata dan/ atau wisata buru. Selanjutnya dalam Pasal 1 disebutkan bahwa I' Kawasan Hutanw ialah wilayah-wilayah tertentu yang oleh Menteri ditetapkan untuk dipertahankan sebagai hutan tetap, sedangkan pada Pasal 2 disebutkan, bahwa: a. "Hutan Nenara" ialah kawasan hutan dan hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik. b. tlhutan Milikw ialah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik; "hutan milik" sering disebut juga "hutan rakyat".

23 Dalam Undang-undang Pokok Kehutanan tidak terdapat is- tilah "Pengelolaan Hutan", tetapi dapat dipandang mencakup kegiatan-kegiatan yang disebut dalam Undang-undang terse- but, yaitu: a. gfperencanaant8 ( ~ab I1 1, mengenai peruntukkan, penyedia- Q an, pengadaan dan penggunaan hutan secara aerbaguna dan lestari. b. IlPen~urusan ~utan"(bab 111), yaitu usaha yang bertuju- F 91 I: an untuk mencapai manfaat yang sebesar-besarnya secara serbaguna dan' lestari, baik langsung maupun tidak lang- sung dalam usaha membangun masyarakat Indonesia adil dan makmur berdasarkan Pancasila. C. "Penausahaan Hutan" (~ab IV), yang bertujuan untuk mem- peroleh dan meninggikan produksi hasil hutan guna pem- bangunan ekonomi nasional dan kemakmuran rakyat. d. "Perlindungan Hutan" (~ab V), dengas tujuan supaya hu-. tan dapat memenuhi fungsinya secara lestari. Pada waktu belakangan ini timbul pengertian "Hutan Serbagunan (belum dibakukan dalam undang-un- dang), yaitu hutan yang dapat memberi manfaat untuk berbagai segi kehidupan masyarakat sekitar hutan se- cara lestari, tanpa mengurangi fungsi-fungsi pokok dari hutan (Satjapradja et al., 1981). %lam Undang-Undang Pokok Agraria (Undang-Undang No. 5 Tahun 1960) tidak ada penjelasan mengenai "Hu- -: tan", kecuali ada beberapa pasal yang menyinggung perlakuan terhadap hutan, antara lain dalam Pasal 16

24 ayat 1 g disebutkan bahwa hak-hak atas tanah meliputi juga "hak memungut hasil hutanu dan dalam Pasal 46 ayat (1) disebut bahwa hak membuka tanah dan memungut hasil hutan hanya dapat dipunyai oleh warganegara Indonesia dan diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengelolaan Hutan Konvensional Menurut Meyer e t al. ( 1961 ) pengelolaan hutan ada- lah penerapan teknologi kehutanan secara teratur dalam kegiatan pengusahaan suatu daerah hutan. Dalam kegiatan pengelolaan hutan tercakup konsep- si kelestarian (sustained yield). Oleh Society of American Foresters (1958, dalam Meyer, 1961) l*sustained Yield " disebutkan pengelolaan suatu daerah hutan untuk mendapatkan produksi secara terus-menerus dengan t uj uan unt uk mencapai, daiam wakt u sesingkat -singkatnya, suatu keadaan seimbang antara pertumbuhan bersih dengan hasil panen, setiap tahun atau dalam kurun waktu yang lebih pan jang. Davis (1966 ) menyatakan bahwa tujuan utama pengelolaan hutan adalah untuk mempertahankan produktivitas lahan hutan. Konsepsi ini adalah ciri khas profesi kehutanan, yang tidak bertujuan melikwidasi hutan. Karena itu "sustained yield" (kelestarian produktivitas ) merupakan tuj u- c: an utama pengelolaan hutan. kelestarian produktivitas menurut Davis (1966) dapat dipandang mempunyai dua arti: Kesinambungan pertumbuhan

25 @ dan kesinambungan hasil panen. Yang pallng banyak dianut dan dipandang paling akurat adalah arti kesinambungan panen, baik dengan perhitungan tiap tahun, maupun dengan jangka waktu yang lebih panjang, namun tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran produk yang terus menerus. Produksi in1 sewaktu-waktu dapat dltingkatkan atau dikurangi, yang berhubungan dengan t uj uan pengelolaan dan keadaan hutan, akan tetapi dapat berlangsung tanpa batas, meskipun sering pada tingkat yang berbeda-beda. F.(I Menurut Duerr al (1979) pengelolaan adalah mem- buat keputusan dan rencana-rencana serta melaksanakannya. Bila melihat sejarah pengelolaan hutan di Amerika Seri- kat maka menurut DuerrG &.terlihat adanya peralihan yang mantap dari eksploatasi untuk pembangunan ekonomi kepada konservasi; dari tekanan utama pada penggunaan kayu kepada perhatian yang lebih berimbang terhadap semua aspek sumberdaya hutan; dari pengutamaan biologi dan tek- nologi kepada suatu pengakuan, bahwa manusia dan ilmu sosial juga adalah suatu bagian yang penting dari kehu- tanan. Menurut Verkuyl (1955) sistem pengelolaan hutan di Jawa dipengaruhi oleh IoAjaran Jerman" (~erman School, Dietse School), yang dibawa oleh Dirk Van Hogendorp' ke.-: Kawasan Timur Jauh. Dengan demikian pada abad ke 19 di Jawa telah dapat diberlakukan peraturan-peraturan per- undangan kehutanan; ini berarti untuk pertama kali ada

26 aturan-aturan kenutanan untuk daerah-daerah tropika. Pengelolaan hutan menurut "Ajaran Jermann tersebut berkembang sejak zaman Keltik dan Roma di Bavaria-Austria, terutama di bawah pengaruh biara-biara di zaman pertengahan. Pada waktu itu hak-hak istimewa rakyat setempat untuk mengambil hasil hutan yang diperlukan berang- '1 sur-angsur dibeli dan lahan yang dapat dipertanikan di- F pisahkan dari lahan yang mutlak untuk hutan, yang dikelola berlandaskan peraturan-peraturan perundangan kehutanan. Gagasan-gagasan Van HoqendoFp tersebut di atas, menurut Steup et al.(1955) mempunyai pengaruh besar dalam penyusunan laporan komisi Negara tahun 1803 yang merupakan landasan bagi Gubernur Jendral Daendels untuk menyusun organisasi khusus untuk pengurusan hutan di Jawa yang dibina oleh suatu korps akhli kehutanan. 3. Pendekatan Baru : Forestry for Local Community Development, Social Forestry/Community Forestry, Prosperity Approach Landasan-landasan "Dietse School" dalam waktu akhir- akhir ini mendapat tantangan-tantangan. Menurut Hadisapoetro (1982) para petugas kehutangn secara tradisional pertama- tama memandang dirinya sebagai pelindung, pengawet dan pen- jaga hutan. Padahal penduduk dunia terus bertamhah dengan C r pesat. Karena itu kadang-kadang tidak dapat dihindarkan ter- j adinya bentrokan, yang sering menggambarkan pe tugas ke-

27 hutanan seakan-akan musuh masyarakat sekitar hutan. Akan tetapi untungnya masyarakat berangsur-angsur su- dah menyadari pentingnya hutan, tidak saja dalam arti 1 ekonomi tetapi juga dalam arti sosial., *? Dari korps akhli kehutanan sendiri timbul gagas- an-gagasan untuk lebih menyelaraskan hubungan antara kehutanan dan masyarakat, yang tercemin dalam pende- katan-pendekatan baru (nforestry for local community developmentn, "Forestry for foodn, dan sebagainya) seperti telah disebut dalam Bab I. Kehutanan untuk pembangunan masyarakat setempat ("Forestry for local community developmentn) menurut King (1978) adalah suatu kebijaksanaan baru dari FA0 yang berorientasi kepada rakyat dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat hidup penduduk pedesaan, untuk mengikut-sertakannya dalam proses pengambilan kepu- tusan yang langsung mempengaruhi penghidupannya, dan untuk mengubah mereka menjadi warga negara yang dina- mik dan mampu untuk mernberikan sumbangan yang lebih luas terhadap kegiatan-kegiatan yang langsung ber - 6 manfaat untuk mereka sendiri. Dengan demikian maka I-: " Kehutanan untuk pembangunan masyarakat setempat n menyangkut rakyat pedesaan unt uk rakyat pedesaan. Tujuan akhirnya bukannya di bidang fisik melainkan di bidang kemanusiaan.

28 Dengan diperkenalkannya konsepsi "Kehutanan untuk Pembangunan Masyarakat Setempat" muncullah berbagai konsepsi pengembangannya, terutama di negara-negara sedang berkembang, yang sedikit banyak disesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat, antara lain Agroforestry, Social Forestry, Community Forestry dan di Indonesia konsepsi '1 + "Hutan untuk Kesejahteraan Lingkungantr, terkenal juga de- F ngan nama 'IProsperity Approachw. Agroforestry sebetulnya mempunyai ruang lingkup yang berlainan, yaitu merupakan sistem penggunaan lahan, sedangkan Social Forestry/Community Forestry dan Prosp.erity Approach merupakan dimensi tertentu dari sistem pengelolaan hutan. Iatilah ttsocial Forestryr1 untuk pertama kali digunakan oleh Westoby dalam Ninth Commonwealth Forestry Congress tahun 1968 di Delhi India (Westoby, 1968). Dikemukakannya bahwa : "Social Forestry is a-forestry which aims at producing flows of protection and recreation benefits for tha communityn. Definisi ini untuk keadaan pada masa kini dirasa tidak cocok lagi. Untuk kondisi di India Tiwari (1983) mendefinisikan Social Forestry sebagai: c: "The science and art of growing trees and/or other vegetation on all land available for the purpose, in and outside traditional forest areas, and managing the existing forest with intimate involvement of the people and more or less integrated with other operations, resulting in balanced and complementary land use withaview to provide a wide range of goods and services to the individuals as well as to the society"

29 Selan jutnya disebutkan oleh Tiwari ( 1985). bahwa Social Forestry pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi butuhan dasar (basic needs) manusia di pedesaan dari hutan, yaitu : "fuel, fodder. food, timber, income, environment". Wiersum (1984) memandang Social Forestry dapat menca- kup kegiatan-kegiatan sebagai berikut: "Participators forestrgfl, relating to forest management activities planned by professional forestry services in which popular participation with the management of centrally controlled forest lands is encouraged, "Villane forestrxw, relating td the small-scale management of forest and tree resources practiced by nonprofessionally trained people, either on private or public forest lands. "Communal or community forestry:' being a form of village forestry in which forest management prctices are carried out as a communal effort. "Farmer's forestry:' relating to a form of village forestry in which the mananement of tree resources is the rksponsibility of?rivate farmers. Menurut Noronha (1982) kehutanan sosial berbeda da- lam beberapa aspek dari kehutanan tradisional komersial: a. Kehutanan sosial untuk sebagian besar mencakup pemanfa- atan hasi 1 hutan dalam ekonomi non-keuangan. b, Kehutanan sosial melibatkan partisipasi- langsung f ihak penerima. manf aat yang bersangkutan. c. Dalam pelaksanaan Kehutanan sosial sering diperlukan perobahan pendekatan dari petugas kehutanan. Mereka bukannya lagi bertugas melindungi hutan terhadap sero- botan rakyat, melainkan harus bekerja sama dengan rak- c: yat dalam budidaya pohon-pohonan, baik secara perorangan maupun berkelornpok. ke- F

30 Noronha tidak membedakan antara pengertian ke- hutanan sosial (social forestry) dan kehutanan ko- munitas (community forestry). Kirchhofer dan Mercer (1984) dan juga banyak penulis lainnya memandang kehutanan komunitas (corn- 97 munity forestry) adalah suatu bentuk dari kehutanan sosial. Ciri-ciri pokok dari kegiatan kehutanan komunitas adalah adanya pengambilan keputusan dan pe- $ laksanaan bersama, serta pembagian keuntungan dan pembiayaan bersama oleh komunitas. Menurut para sosiolog perkenalan inovasi pembangunan sumberdaya yang harus diterima bersama oleh anggota-anggota komunitas lebih sukar penyelenggaraannya daripada inovasi yang dapat diterima oleh perorangan karena harus ada konsensus dulu dan harus ada aksi bersama (West, 1978 dalam Kirchhofer dan Mercer, 1984). lvlemang ternyata dalam kebanyakan ha1 programprogram kehutanan sosial pada tingkat perorangan lebih berhasil daripada program-program kehutanan komunitas. Sebagai contoh dikemukakan oleh Tiwari (1982, 1983) program usaha tani hutan (farm forestry), yang merupakan salah satu bentuk kehutanan sosial di Gujarat berupa pemberian bibit pohon-pohonan pada para petani, dapat dinyatakan sangat

31 berhasil, sedangkan proyek-proyek reboasasi pada lahan hutan komunal sangatlah mengecewakan. Beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa adalah terlal u pagi untuk mengadakan penilaian secara baik. Pengalaman penulis sewaktu berkunjung ke Guja- 6 rat India pada bulan Pebruari 1984 adalah senada dengan pernyataan Tiwari tersebut di atas. Kadidas patel, pemilik (sebagian) dan pengelola "Valva Ades Farmtt yang luasnya 208 acre, mengatakan bahwa hasil bersih tanaman kayu Eucalyptus (bibitnya semula didapat dari Dinas Rehutanan akan tetapi kemudian me- 9, % nyemaikan sendiri) kurang lebih dua kali lipat dari tanaman lainnya. Beberapa data mengenai pendapatan. bersih per acre per tahun dikemukakannya sebagai berikut : a. Eucalyptus dalam 5 tahun pertama sebelum di "coppicett mulai menghasilkan Rps 2.735,- kemudi- an meningkat sampai Rps ,- b. Eucalyptus seaudah lima tahun pertama (dam 50 tahun, tiap 5 tahun di ncoppiceto) Rps ,- c. Kapas : Rps ,- d. lebu : Rps ,- e. Jarak : Rps ,-.

32 Dapat dimengerti bahwa Tuan Patel akhirnya hanya mengutamakan usaha tani hutan Eucalyptus; tanaman lainnya h&ya satu acre untuk keperluan pangannya sendiri berupa tanaman gandum, jagung dan hanjeli (millet).! '1 ga Keuntungan bersih dari Eucalyptus selain har- kayunya relatif tinggi di pasaran, menuru3 PATEL ialah karena juga tidak perlu banyak menge- luarkan biaya upah buruh untuk pemeliharaan. Dengan demikian usaha tani hutan Eucalyptus tersebut, meskipun telah memberi keuntungan banyak pada pemiliknya, ternyata mengakibatkan beberapa kerugian sosial. Menurut Shiva et al (1982) penggantian tanam- an pangan dengan tanaman Eucalyptus mengakibatkan hilangnya sejumlah 250 orang kerja per hektar per tahun, dan meskipun ada anjuran pemerintah untuk "pemanfaatan lahan-lahan komunal yang sampai seka- rang tidak digarapw melalui proyek kehutanan sosial, namun ternyata petani di Gujarat telah merom- bak tanaman pangannya men jadi tanaman monokultur Eucalyptus, yang kayunya biasanya di jual ke indus- tri-industri pulp dan rayon. Sebagai akibat berku- rangnya kesempatan bekerja dan berkurangnya keter- sediaan pangan maka tekanan penduduk terhadap hutan- F

33 hutan negara menurut Shtva (1982) meningkat; mereka mengambil kayu bakar bukannya untuk keperluan sen- diri, tetapi untuk dijual di kota-kota dan daerah pinggiran kota. Contoh lain dari usaha tani pohon-pohonan yang berhasil, akan tetapi belum mengenai sasarannya se- bagai "kehutanan ~ osial~~ adalah proyek Paper Indus- tries Corporation of the Philippines (PICOP) bersa- ma-sama dengan The Philippine Development Bank. Dalam program ini diberikan pinjaman, bantuan teknik dan jaminam pasaran untuk menanam ksyu pulp untuk pabrik pulp setempat (Hyman, 1983; dale Kirchhof er aan Mercer, 7984). Meskipun semula program ini dimaksudkan untuk menggalakkan agroforestry, namun 93 persen dari pe- tani-petani peserta lebih menyukai menanam pohon- pohonan saja, karena produksi kayu pulp dalam Jangka panjang lebih menguntungkan, dan kebanyakan peserta secara relatif mampu untuk menunggu hasil keuangannya Bila kelak petani-petani miakin akan diturut-serta- kan, maka menurut Hyman (1983) pendekatan agrofores- try aka memberikan penghasilan yang diperlukan lama delapan tafiun menunggu panen kayu. C: Dari kedua contoh tersebut ternyata bahwa dalam penyelenggaraan kehutanan sosial yang dilandaskan se-

34 pada kegiatan perorangan, maka permintaan pasar, terutama dari daerah-daerah perkotaan dan industri, menentukan pola penggunaan lahan, teknik produksi, dan pemilihan jenis kayu. Orang-orang yang hanya berusaha untukmengoptimasikan keadaan keuangannya, +I cenderung untuk mengurangi input tenaga buruh dan 6 menggunakan lahan dan jenis-jenis tanaman yang da- pat merebut harga tertinggi dari paaar nasiohal tanpa menghindarkan keperluan dan keinginan masya- rakat dan kemampuannya untuk membeli. Sehubungan dengan pengalaman-pengalaman terse- but di atas maka Shiva (1982). menyimpulkan bahwa usaha tani hutan dalam tingkat pertama dapat diarahkan untuk mendapatkan keuntungan komersial yang. tinggi bagi perorangan, akan tetapi bila usaha ini akan ditujukan kepada perbaikan pelayanan terhadap masyarakat pada umwnnya, yaitu mencukupi keperluan dasar dan melestarikan sumberdaya alamnya, maka. ke- terlibatan masyarakat dalam perencanaan, penanaman dan pemanfaatan hutan merupakan suatu keharusan. Dengan demikian rnaka dari sekian banyak bentuk 'kehutanan sosial, kehutanan komunitas (community forestry) menurut Shiva (1982) merupakan harapan terbaik untuk pernbangunan pedesaan pada umumnya.

35 Kirchhofer dan Mercer menyatakan bahwa sampai seka- rang satu-satunya program kehutanan komunitas (hutan desa) yang dapat berhasil dan terutama ditu jukan kepada produksi kayu bakar adalah di Korea Selatan. Program ini bukan saja berskala besar, akan tetapi pendekatannya juga fleksibel. Tanaman-tanaman kayu bakar dibuat pada lahan dengan berba- + gai hak pemilikan. Kunci keberhasilan program adalah pen- 0 dirian Himpunan-himpunan Kehutanan Desa (Village Forestry * Associations, VFA) yang diintegrasikan ke dalam susunan pemerintah nasional dan juga dilibatkan erat dengan peren- Canaan tingkat lokal. Dalam beberapa kasus himpuuan-him- punan tersebut berhak mengumpulkan kayu bakar dan hasil hutan lainnyadari hutan negara sebagai imbalan aktivitas- aktivitas bantuan perlindungan hutan. Dalam beberapa ha1 lain VPA mengadakan kontrak-kontrak bagi hasil sukarela dengan pemilik tanah perorangan (70-75 persen lahan hutan di Korea dimiliki perorangan); dalam ha1 ini VFA mengelo- la hutan untuk pemilik tanah dan hasilnya dibagi dua. Yang paling menonjol dari proyek di Korea Selatan ialah bahwa struktur dan fungsi program hutan desa meleng - kapkan program pembangunan pedesaan yang ada, bernama "Samaeul Udongn atau "Komunitas Barun. Pengalaman mengenai program hutan desa ini secara lugas membuktikan pen -, tingnya memadukan program kehutanan sosial dengan program-.(i P C I program pembangunan lainnya.

36 Di Indonesia program pembangunan masyarakat de- sa sekitar hutan yang secara populer disebut juga flyrosperity approach" mencakup kegiatan-kegiatan se- -'? bagai berikut (~tmosoedarjo, 1977) :,* a. Intensifikasi tumpangsari (Inmas tumpangsari) da-. lam pembuatan tanaman hutan. b. Pembuatan magersaren gaya baru ("base camps") un- tuk buruh kehutanan. c. Penanaman rumput Pennisetum purpureum (rumput ga- jah) untuk memperbaiki usaha peternakan dan sekali- gus menghindarkan penggembalaan ternak di hutan. d. Usaha mencukupi keperluan bahan bakar dengan pe- nanaman jenia-jenis kayu bakar. e.memperkenalkan ternak lebah madu eecara modern..f. Pembinaan serikultur untuk menghasilkan sutera alam dan bahan pakaian sutera. F c: Dalam perkembangannya selanjutnya maka usahausaha pembangunan masyarakat desa sekitar hutan rneliputi : menumbuhkan dan perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan penduduk dan pemerataannya, mendorong pertumbuhan ekonomi desa, memelihara serta menumbuhkan keseimbangan tingkat hidup antara wilayah pedesaan dan perkotaan, meningkatkan pengelolaan

37 dan pemanfaatan sumberdaya alam serta menjaga ke- lestariannya dan meningkatkan kemampuan masyarakat pedesaan (Anonim , r 91 approach Dari kegiatan-kegiatan program Prosperity 6 di sini akan disinggung dua aspek, yaitu Inmas tumpangsari dan Magersaren gaya baru ". Dalam literatur kehutanan umum sistim tumpangsari disebut bosveldbouw " (~elanda); Landwritschaftliche Zwisschennut~ung~~ ( Jerman ); l1 Agrisylviculture 11, " laungya system 11, "Shifting cultivation It, Rab-system ( Inggris, India, Burma ); " Culture intercalaire ", Culture sylviagricole If, Culture sylvlcole et agricole corn - binee ( Perancis ) ( Kromosudapmo, 1954 ). Menurut sistemat ika penggunaan lahan King (197 8), tumpangsari dapat digolongkan dalam penger- tian 11 Agrisilviculture yaitu The conscious and deliberate use of land for the concurrent pro- duction of agricultural crops ( including tree crops ) and forest crops ", yang merupakan suatu kategori dari " Agrof orestry ", yaitu

38 " A sustainable land management system which increases the yield of land, combines the production of crops (including tree crops), and forest plants and animal either simultaneously or sequentially, and applies ma- nagement practices that are compatible with the cultur- +1 a1 practices of the local populati~n~~. F Menurut Becking (1928) peremajaan hutan jati de- ngan sist im tumpangsari dilaksanakan oleh W. Buurman sejak tahun 1873 d i Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tegal - Pekalongan dengan hasil yang memuaskan. Dalam tahun 1881 sistim tumpangsari dilaksanakan di Kesatuan Pemangkuan Hutan Semarang dan dalam tahun 1883 sistim ini oleh Buurmandiuraikan dalam sebuah brosur. Sejak saat itu sistim tumpangsari dilaksana- kan secara mum dalam peremajaan hutan jati di Jawa dan kini juga dalam peremajaan hutan rimba. Kartasubrat a (1979) memberikan uraian singkat mengenai pelaksanaan tumpangsari dan inmas tumpang - sari di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pelaksanaan tum- pangsari meliputi 4 golongan kegiatan yaitu persiapan lahan tanaman, persiapan benih, penanaman dan pemeli- haraan tanaman muda yang dilaksanakan dalam waktu 2 tahun dan 5 bulan, dimulai pada bulan Januari dan di- c: akhiri dalam bulan Mei 2 tahun kemudian.

39 Dalam program inmas tumpangsari dilaksanakan perbaikan-perbaikan sebagai berikut : a. penggunaan bibit unggul (padi dan jagung) b. penggunaan pupuk kandang maupun buatan (Urea, TSP) c. penggunaan insektisida d. perbaikan pmgolahan tanah. Mengenai has il pangan dari tanaman turn pangsari Hellinga (1951) menyebutkan jumlah q padi gogo per tahun dari tanaman reboasasi seluas hektar yang merupakan 10 % dari seluruh produksi per tahun padi gogo di Jawa. Hila dibanding dengan seluruh produksi padi di Jawa per tahun sebanyak 9 juta ton beras atan 18 juta ton padi selama tahun , maka Persentasenya sangat kecil (0.4%; Kartasubrata, 1979). Menurut Atmosoedarjo (1977) hasil satu panenan padi tumpangsari tanpa inmas adalah 0,7 ton padi gabah kering per ha, sedangkan tanaman-tanaman inmae turnpangsari tahun 1975/1976 di beberapa daerah hutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur menghasilkan 1,5-1,8 ton padi 6 '1 P gabah kering per hektar. Hasil tambahan dari inmas tumpangsari adalah Rp ,- per keluarga dalam 2 tahun. Menurut perhitungan Soendaroe dan Toemadi (1978) c: suatu usaha inmas tumpangsari dengan memperhitungkan

40 upah per hari orang kerja (h.0.k) harga padi, in- sektisida, pupuk, dan sebagainya akan memberikan keuntungan bila hasil padinya adalah lebih tinggi dari kg padi kering per hektar. ~ulthoni (1977) berkesimpulan bahwa keuntungan seorang petmi inmas tumpangsari dari satu panen, sesudah memperhitungkan pengeluaran unt uk biliit, pupuk dan insek- tisida rata-rata adalah sebesar Rp 9.000,- tidak termasuk uang kontrak. Rachadi ( 1978 melaporkan bahwa dalam pelaksa- naan inmas tunpangsari di Bojonegoro selama jangka waktu 2 tahun 4 bulan, dari satu hektar dapat di - hasilkan jagung, kedelai, tembakau, padi unggul dan lokal dan singkung seharga minimum Rp 1.l67.000,- dan maksimum Rp &0, --, ha1 mana adalah lebih.tinggi dari pendapatan rata-rata di daerah tersebut. Mengenai pengaruh pemupukan tanaman t umpang - sari kepada pertumbuhan tanaman jati sebagai tanam- an pokok oleh Suroso (1978) dilaporkan bahwa : 1) Pertumbuhan meninggi pohon jati relatif lebih cepat dari penambahan diameter sehingga dapat mengurangi ketahanan terhadap angin; 2) Rarena penutupan tajuk lebih cepat maka jangka waktu kontrak tumpangsari C: mungkin perlu diperpendek atau jarak tanam perlu di- perlebar (biasanya 3 x 1 m).