TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan Desa dan Masalah Ketenagakerjaan Pedesaan. Titik berat Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pembangunan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan Desa dan Masalah Ketenagakerjaan Pedesaan. Titik berat Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pembangunan"

Transkripsi

1 Pornbangunan Desa di lndonesia TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan Desa dan Masalah Ketenagakerjaan Pedesaan Titik berat Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pembangunan bidang ekonomi, dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri, yaitu industri yang kuat yang ditunjang oleh pertanian yang tangguh (GBHN, 1993). Pengembangan masyarakat desa di lndonesia merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dititik beratkan pada pembangunan ekonomi untuk peningkatan tarap hidup masyarakat. Dengan kata lain, usaha mening- katkan tarap hidup masyarakat di pedesaan tersebut ditekankan pada pening- katan pendapatan ekonomi melalui pengembangan bidang industri yang seimbang dengan bidang pertanian yang tangguh. Pentingnya usaha meningkatkan pendapatan ekonorni rnasyarakat desa didasarkan atas kenyataan bahwa peluang kerja untuk mendapatkan pekerjaan di pedesaan sangat kecil dan sektor industri (perkotaan) sulit diharapkan untuk dapat rnenyerap tenaga kerja dari pedesaan (Mubyarto dan Kartodirdjo,l988). Collier dkk. (1988) juga menyimpulkan bahwa tejadi penurunan penye- rapan tenaga kerja pada usaha tani periode 1981 dan Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja di luar pertanian meningkat. Bahkan

2 kesimpulan Kasryno (1988) bahwa sektor pertanian dalam arti kegiatan berproduksi sudah tidak mampu lagi menyerap tenaga kerja, malah sudah cenderung menurun. Memperhatikan kenyataan itu, maka masalah ketenagakerjaan di pedesaan akan tetap merupakan masalah yang besar dan harus mendapatkan perhatian. Dalam kondisi demikian tadi masyarakat pedesaan berarti dihadapkan pada masalah dan dituntut untuk melakukan tindakan. Tindakan dalam ha1 ini adalah tindakan adaptasi yang dimengerti sebagai penyesuaian diri dan meningkatkan kemampuan yang mempunyai nilai untuk mempertahankan kelangsungan hidup (Soemawoto,l99l). Bahkan, apabila mereka tidak segera belajar menguasai tingkat perubahan (yang ada tersebut), maka manusia yang demikian akan terperosok ke dalam kelumpuhan proses penyesuaian diri secara besar-besaran (Toffler, 1989). Selama ini, arus kepergian penduduk ke kota-kota biasanya merupakan pilihan tindakan sebagai pemecahan alamiah yang banyak dilakukan oleh angkatan kerja di pedesaan dalam menghadapi masalah tersebut. Walaupun ada arus penduduk desa ke kota, namun masih disangsikan sampai seberapa jauh lapangan kerja sektor formal dan informal di kota dapat menampung kelebihan tenaga kerja di pedesaan tersebut (Chambers,l988). Hal ini berhubungan dengan permasalahan ketenaga-kerjaan di Indonesia yaitu hampir sekitar 73 persen ( orang) dari angkatan kerja hanya berpendidikan

3 SD ke bawah ataupun tidak berpendidikan formal (BPS,1994), sehingga sulit ditampung dalam sektor pekerjaan yang memerlukan keahlian. Untuk itu maka salah satu cara penanggulangannya perlu dikembangkan industri di daerah pedesaan ( Dawis Dkk., 1983; GBHN,l993). Di Indonesia, mulai PJPT II diperkirakan penyerapan utama tenaga kerja akan bergeser dari sektor pertanian dan pedesaan ke sektor non-pertanian di desa dan perkotaan. Dalam kondisi tersebut peran usaha kecil non pertanian sebagai penyerap tenaga ke rja menjadi semakin penting (Sadoko Dkk.,I 995). Menurut Mubyarto (1991), pembinaan sumberdaya tenaga kerja (termasuk tenaga kerja petani) yang berkualitas di pedesaan yaitu dengan mengarahkan mereka kepada pencapaian kualitas manusia yang mandiri dan bermanfaat, manusia yang lebih produktif, efisien dan bermoral. Menurut Sutrisno (1996), agar petani dapat meraih kehidupan yang lebih baik, mereka perlu meningkat dari mentalitas "peasant" dan berusaha mengadopsi mentalitas "farmer", suatu proses perubahan sosial-budaya yang bermuara pada peningkatan daya saing yang tinggi. Dengan mendasarkan atas uraian di atas maka kecenderungan pengembangan usaha ekonomi di pedesaan untuk masa mendatang adalah pengembangan industri (termasuk agroindustri), baik industri rumah tangga maupun industri kecil, dan pembinaan angkatan kerja pedesaan diarahkan untuk dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri pada pengembangan industri kecil lagroindustri tersebut.

4 Masalah Ketenagakerjaan di Pedesaan Berbagai kendala dalam pembangunan pedesaan banyak didapati di tanah air kita ini. Mubyarto dan Kartodirjo (1988) menyatakan bahwa masalah hakiki pembangunan pedesaan di Indonesia adalah sangat kecilnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan yang memadai. Dengan terbatasnya kesempatan atau peluang bekerja tersebut, banyak penduduk pedesaan bekerja seadanya. Mereka bekerja untuk menutupi kebutuhankebutuhan hidupnya sehari-hari. Manifestasi dari kurangnya peluang bekerja di pedesaan dapat dilihat dari jumlah penduduk desa, yang kebanyakan dari kelompok miskin, mencari peluang kerja ke kota-kota atau tempat lain (terrnasuk bertransmigrasi). Agar perekonomian penduduk desa dapat ditingkatkan, berbagai peluang beketja di pedesaan perlu diciptakan di samping mengandalkan aliran dana yang diperoleh para pekerja dari luar desa. Usaha menciptakan peluang kerja di pedesaan akan lebih baik jika dibandingkan dengan menggiring mereka mernasuki kota untuk mencari peluang kerja. Berbagai upaya meningkatkan perekonomian dalam pembangunan pedesaan perlu memperhatikan pola pikir, tradisi, norma, dan kebiasaan yang hidup dalam masyarakat sekafigus berusaha membendung sisi-sisi negatif yang terbawa oleh budaya, norma, dan kelembagaan. Diantara norma-norma yang masih kuat berakar di pedesaan, perlu dikembangan nilai positifnya untuk dapat dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan perekonomian pedesaan. Faktor ini hams dianggap sebagai potensi

5 sumber daya immaterial yang tidak kalah pentingnya dari sumber daya material. Dengan pemanfaatan seluruh sumberdaya milik masyarakat, proses pembangunan di pedesaan akan lebih mengena pada sasaran. Perlunya memanfaatkan norma-norma atau nilai-nilai setempat dalam pembangunan pedesaan pada dasarnya adalah untuk memperkuat sifat-sifat positif dari aspek budaya. Penelitian yang dilakukan lbrahim (1992) menemukan bahwa dalam pengembangan pedesaan dijumpai adanya hambatan aspek budaya yaitu tidak adanya titik temu antara budaya kecil (budaya setempat) dengan budaya besar yaitu budaya yang berasal dari luar yang ingin dimasukkan ke dalam masyarakat desa. Penemuan lbrahirn tersebut menunjukkan bahwa upaya pembangunan pedesaan memerlukan adanya keselarasan dengan budaya yang dihargai tinggi oleh masyarakat agar tidak berubah menjadi gejolak yang dapat merugikan proses pembangunan. Apabila setiap upaya perbaikan yang menggunakan pola atau norma luar dianggap sebagai penyebaran pembaharuan (difusiinovasi), menurut Zaltman dan Duncan (1977) hambatan terhadap pembaharuan dapat bersumber dari aspek budaya. Pengagungan budaya sendiri merupakan ha1 yang lumrah dalam setiap masyarakat sehingga pembaharuan yang tidak sesuai dengan budaya yang diagungkan itu pasti akan ditolak oleh masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pembaharuan atau inovasi harus secocok mungkin dengan nilai-nilai budaya masyarakat agar tidak timbul adanya perlawanan.

6 Dengan demikian, maka setiap upaya pembangunan yang membawa nilainilai baru, di samping harus menghindari terjadinya pertentangan dengan nilainilai lama budaya masyarakat, harus dapat memanfaatkan nilai-nilai budaya masyarakat tersebut. Pembangunan pedesaan perlu menekankan pada pembangunan masyarakat, yaitu suatu proses untuk mengubah keadaan yang kurang dikehendaki kearah keadaan yang lebih baik menuju perbaikan kondisi hidup masyarakat (Ndraha.1990). Kondisi hidup masyarakat pedesaan yang sebagian besar masih dapat dikategorikan miskin dan melarat perlu diubah menjadi keadsan yang lebih baik. Secara berangsur-angsur harus dapat diturunkan persentase jumlah penduduk miskin tersebut dengan memanfaatkan segala potensi yang ada dalam masyarakat tersebut. Usaha mengangkat mereka dari hidup yang berada dalam kondisi miskin tersebut dapat dikatakan sebagai prasyarat untuk menuju ke arah pendinamisasian masyarakat. Ndraha (1990) mengutip hasil penelitian pembangunan di Dunia Ketiga dan menyimpufkan bahwa kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan akan rnenurunkan kualitas dan melemahkan semangat serta kemampuan masyarakat. Apabila kemandirian rnasyarakat yang dijadikan sasaran dalam pengembangan masyarakat, maka hat itu harus terus diupayakan adanya peningkatan kesempatan kepada masyarakat dalam memperoleh pengalaman dalam rnengatasi masalah mereka sendiri. Untuk itu, Uphoff (1988) menekankan

7 perlunya pendekatan "proses belajar" agar masyarakat dapat melihat manfaat dari keterlibatannya dalam melihat setiap kegiatan pembangunan. Masyarakat harus dipandang sebagai calon penerima manfaat dari kegiatan yang akan dijalankan. Oleh karenanya setiap kegiatan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat penerima manfaat tersebut. Dengan proses pendekatan belajar datam pembangunan pedesaan, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan keikutsertaannya dalam kegiatankegiatan pembangunan untuk meningkatkan kemampuan atau ketrampilannya dalam mengatasi masalah baik masalah dirinya sendiri maupun masalah bersama. "Belajar dari pengalaman" merupakan kata kunci yang perlu diwujudkan dalam praktek oleh masyarakat dalam pembangunan. Menyimpulkan uraian di atas, maka proses pembangunan di pedesaan dapat diartikan sebagai proses pembelajaran masyarakat dengan penekanan pada pentingnya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat mengatasi masalah. Masalah yang dihadapi rnasyarakat pedesaan di bidang ketenaga kerjaan yaitu terkait dengan banyak ha1 (Effendi, 1991 a). Pertama, dengan semakin banyaknya orang yang sudah dapat menyelesaikan pendidikannya yang lebih tinggi sebagai akibat semakin meluasnya kesadaran untuk bersekolah dan tersedianya sarana pendidikan yang lebih baik. Kedua, semakin terbatasnya luas tanah yang dapat digarap (khususnya di Jawa); dan ketiga karena semakin sedikitnya kemampuan bidang pertanian menyerap tambahan tenaga kerja di dalamnya.

8 Masalah yang lainnya lagi adalah berhubungan dengan strategi pemba- ngunan yang diterapkan dalam merangsang pengembangan pedesaan (terma- suk peluang kerja) yaitu karena mengandalkan pendekatan Growth Center (pusat-pusat pertumbuhan), yakni meletakkan industri sebagai sektor unggul (leading sector) yang dipandang mempunyai daya keterkaitan dengan berbagai sektor. Pendekatan "pusat-pusat pertumbuhan" berharap mampu memecahkan masalah keterbelakangan, petuang kerja dan kemiskinan di pedesaan, yaitu daerah-daerah pinggiran (periphery) akan berkembang melalui efek menyebar (spread e m ) dari pusat-pusat pertumbuhan,namun yang terjadi justru tejadi kesenjangan sosisl ekonomi antara pusat dan pinggiran semakin melebar. Bahkan, dari penelitian Hugo1 978 (Effendi,T99la), justru dengan pendekatan tersebut telah mendorong sebagian tenaga kerja dari daerah pinggiran bermigrasi secara permanen atau serkuler ke pusat untuk mencari kerja. Menurut Effendi ( 1991 a), karena industri yang berkembang di pusat adalah menggunakan teknologi tinggi dan hemat tenaga kerja, maka kebanyakan tenaga kerja pedesaan atau dari pinggiran terpaksa masuk ke sektor informal. Menyadari kelemahan dan masalah tersebut, menurut Oshima (Effendi, 1991a) muncul pemikiran baru yang menekankan bahwa dalam membangun pedesaan perlu adanya keterkaitan antara sektor pertanian dan non pertanian. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan sektor pertanian harus diarahkan kepada orientasi pasar (bersifat komersial) dan terkait dengan sektor

9 lain, yang dalam perkembangannya akan mampu merangsang pertumbuhan kegiatan bukan pertanian (non farm), termasuk munculnya industri kecil (temasuk kerajinan rumah tangga). Hal ini terbukti dari penelitian Effendi (1991b) di Klaten, Jawa Tengah, bahwa adanya diversifikasi pertanian telah marnpu merangsang pertumbuhan peluang kerja non farm, yaitu merangsang tumbuhnya industri yang tidak saja berkaitan dengan konsumsi tapi juga terkait dengan produksi. Kondisi itu temyata juga sesuai dengan temuan Rietveld dan Kameo (1993) di Jawa Tengah bahwa sektor industri usaha kecil dan kerajinan rumah tangga mampu menyerap 90 persen dari seluruh jumlah tenaga kerja di sektor industri di daerah tersebut. Ini artinya, industri menengah dan besar hanya rnarnpu menyerap 10 persen saja dari seluruh tenaga kerja di sektor industri. Hal ini dapat dimengerti karena persyaratan untuk memasuki tenaga kerja industri kecil dan rumah tangga lebih longgar dibandingkan untuk memasuki tenaga kerja industri menegah dan besar. Proses Transformasi Pekerjaan Di Pedesaan Menurut Susanto (1978), manusia dalam suatu proses sosial akan selalu dalam perubahan, penyesuaian dan pembentukan diri dengan dunia sekitarnya sesuai dengan idenya. Dalam ha1 ini, terrnasuk para petani dan penduduk di pedesaan, mereka akan selalu mengalami perubahan sebagai suatu proses sosial.

10 Belajar dari sejarah petani, perkembangan penduduk pedesaan dimulai dari masyarakat primitif sampal dengan masyarakat modern. Menurut sudut pandang dari evolusi sosial (Marzali,1995), masyarakat petani yang dalam fiteratur Barat disebut "peasant" atau "farmer diasumsikan sebagai suatu masyarakat yang berada diantara, atau transisi antara bentuk masyarakat primitif dan bentuk masyarakat modern. Masyarakat primitif adalah suatu bentuk kehidupan yang paling awal dalam perkembangan peradaban manusia yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok keluarga batih yang hidup mengembara sambil berburu dan meramu dalam suatu kawasan yang luas. Mereka hidup sangat sederhana, baik dari segi teknologi dan ilmu pengetahuannya maupun segi sistim sosialnya. Sebaliknya, masyarakat modern perkotaan adalah suatu bentuk kehidupan modem yang di dalamnya merupakan kelompok besar manusia yang menetap di pusat-pusat lokasi yang relatif sempit dengan kepadatan penduduk yang tinggi, sistim sosial-ekonomi-politik yang kompleks, sistim ilmu pengetahuan yang canggih, dan teknofogi produks~ yang mekanik. Pembedaan kedua bentuk struktur sosial di atas sebelumnya dilaku- kan pembedaan oleh Toennies (Johnson, 1986) yang terkenal dengan pembedaan antara masyarakat Gerneinschaff dan Gesellschaff. Untuk dapat lebih membandingkan kedua struktur sosial masyarakat dl atas, dapat dipergunakan analisis dikotomis pembagian masyarakat dalam konteks revolusi industri yang pemah dilakukan oleh Durkheim dengan membandingkan sifat-sifat pokok masyarakat yang didasarkan

11 pada solidaritas sosial, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Perbedaan keduanya bersifat evolusionistis dalam arti bahwa yang kedua adalah perkembangan dari yang pertama (Abdullah dan Van der Leeden, 1986). Masyarakat dengan solidaritas mekanik, yaitu solidaritas yang didukung oleh persamaan dari individu-individu, dan diidentifikasikan dengan sifat-sifat: (1) pembagian kerja rendah, (2) kesadaran kolektif kuat, (3) hukum represif kuat, (4) tingkat individualitas rendah,(5) konsensus terhadap pola-pola norrnatif penting, (6) komunitas terlibat dalam menghukum orang yang menyimpang, (7) secara relatif saling ketergantungan itu tampak rendah, dan (8) bersifat prirnitif atau pedesaan. Masyarakat dengan solidaritas organik, yaitu terwujud justru karena telah berkembangnya diferensiasi, dan diidentifikasikan dengan sifat-sifat: (1) tingkat pembagian kerja sangat tinggi, (2) kesadaran kolektif lemah,(3) hukum restitutif yang dominan, (4) tingkat individualitas tinggi, (5) lebih mementingkan konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum, (6) badan kontrol sosial yang menghukum mereka yang menyimpang, (7) tingkat saling ketergantungan yang tinggi, dan (8) bersifat industrial-perkotaan (Johnson, 1990; Abdullah dan Van der Leeden, 1986). Namun demikian, dalam kenyataan di masyarakat kita, petani yang hidup di pedesaan bukanlah suatu rnasyarakat yang begitu saja dapat dipilahkan secara dikotomis seperti di atas. Menurut Marzali (f995), setidaknya ada tiga kategori petani. Kategori pertarna, sebagian dari petani tersebut masih hidup dengan cara pertanian yang sederhana

12 sambil tetap mernpertahankan mata pencaharian hidup berburu dan meramu sebagai sumber tambahan. Cara mereka menjalankan kegiatan betaninya dapat disebut pertanian bergeser (Nasoetion,l995). Desa tempat mereka bermukim berpindah-pindah dalam jangka waktu tertentu. Umumnya desa-desa tersebut terisolasi dari pusat kegiatan politik, ekonorni, dan sosial yang terpusat di perkotaan. Contoh rnasyarakat seperti ini masih ada, seperti masyarakat Dayak di Kalimantan (Dove, 1988). dan suku Mentawai di Sumatra Barat (Koentjaraningrat, 1993). Kategori petani yang kedua adalah petani yang menjalankan usaha pertaniannya dengan peralatan modem seperti traktor dan huller, dengan tujuan mencari keuntungan dan hasil pertaniannya dijual. Petani kategori ini dalam sering disebut farmer (Scott,1993; Foster, 7967; Wolf, 1966). Kategori petani yang ketiga yaitu para petani yang berada pada tingkat perkembangan antara petani primitif dan petani farmer. Mereka ini sering disebut peasant, yaitu berada pada tahap transisi antara jenis pertarna dan kedua. Dalam bidang teknologi umumnya mereka menggunakan teknologi sederhana seperti pacul, bajak dan garu. Mereka sudah berhubungan dengan budaya kota dan kadang dengan kota metropolitan, baik untuk kepentingan ekonorni, kultural maupun politik. Perbedaan pokok antara kategori kedua dan ketiga terletak pada sifat usaha pertanian mereka. Petani peasant mengolah tanah dengan tenaga keluarga sendiri untuk menghasilkan bahan makanan bagi keperluan hidup sehari-hari keluarga petani tersebut, dan karena itu sering disebut petani subsisten (Wolf, 1966). Petani farmer, sebaliknya, mengusahakan

13 tanah pertanian mereka dengan bantuan tenaga buruh tani dalam rangka untuk mencari keuntungan. Hasil produksi pertanian mereka dijual ke pasar untuk mernperoleh uang kontan. Usahatani petani peasant adalah usaha tani keluarga, sedangkan usahatani petani farmer adalah komersiil. Agar petani dapat bertahan dengan pekerjaannya di bidang pertanian, menurut Sutrisno (1996) harus keluar dari mentalitas peasant dan harus mengadopsi mentatitas farmer. Faktor-Faktor yang Mempengamhi Petani Meninggalkan Pekerjaan Pertanian Salah satu perubahan yang terjadi di pedesaan adalah penrbahan pekerjaan, yaitu pindahnya seseorang dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain. Fenomena yang terjadi dalam bidang perubahan pekerjaan atau dapat disebut transformasi pekerjaan, yaitu adanya kecenderungan berpindahnya orang yang semula bekerja di bidang pertanian kemudian pindah ke bidang industri atau jasa. Dari hasil hasil Sensus Pertanian di Jawa Tengah (BPS,l993a) misalnya, terdapat kecenderungan penurunan jumlah rumah tangga pertanian selama 10 tahun terakhir, yaitu hanya rneningkat 0.47 persen, atau kenaikan rata-rata per tahun mendekati 0 (nol) atau relatif tetap. Rendahnya pertumbuhan jurnlah rumah tangga pertanian tersebut disebabkan karena faklor stoklpersediaan lahan pertanian semakin terba- tas, bahkan berkurang. Lahan yang diusahakan cenderung menyempit karena berubahnya fungsi lahan seperti untuk kawasan industri, kompleks

14 perumahan, perkantoran dan lainnya. Faktor lainnya adalah akibat pesatnya perkembangan sektor non pertanian, terutama sektor industri, sehingga banyak rumah tangga baru bahkan yang lama terserap di sektor ini. Sungguhpun jumlah rumah tangga pertanian di Jawa Tengah yang menguasai lahan ( pengguna lahan) mengalami kenaikan sebesar 9,44 persen selama 10 tahun, yaitu dari (1983) menjadi (1993), namun rata-rata penguasaan lahan per rumah tangga pertanian menunjukkan penurunan, yaitu dari rata-rata 0,58 hektar per rurnah tangga (1983) menjadi 0,47 hektar (1993). atau menurun 18,97 persen. Penurunan jurnlah rumah tangga yang menguasai Iahan 0.50 hektar atau di atasnya rata-rata 2.02 persen per tahun ( BPS, 1993a). Khusus tentang pengurangan luas tahan sawah yang dikuasai rumah tangga pertanian pengguna lahan, berkurang sebesar ha. selama 10 tahun, atau sebesar -14,lO persen, yaitu dari semula ha. (1983) menjadi ha. (1993). Dari uraian di atas, berarti unsur penguasaan lahan dan menyempitnya tanah milik petani untuk pertanian menjadi salah satu penyebab dari perpindahan peketjaan dari petani ke bidang lain, termasuk ke bidang industri. Faktor desakan kekuatan pernilik modal terhadap petani kecil juga mempercepat petani meninggaikan pekerjaan pertanian (Sutrisno,l996). Hal ini terlihat dari adanya monopoli perusahaan multinasional dalam teknologi bibit yang menyebabkan petani tidak lagi dapat melakukan pengadaan sendiri, dan lebih lanjut harga bibit akan menjadi mahal, petani

15 tergantung terhadap bibit tersebut, dan kemungkinan besar akan menyebabkan tergusumya petani pergi ke perkotaan (untuk melakukan urbanisasi) atau pindah pekerjaan lain, karena pekerjaan sebagai petani telah berubah menjadi mahal biaya produksinya. Hal serupa diternukan oleh penelitian fapang Rustiani (7994) bahwa dengan persaingan pasar (termasuk memasok kebutuhan pasar ekpsor hasil pertanian sayur) menyebabkan hanya pemodal atau petani kaya saja yang mampu bersaing. Faktor pertambahan jumlah penduduk juga ikut mempengaruhi perpindahan pekerjaan petani ke bidang lain. Makin berkurangnya khan dan penguasaannya dikaitkan dengan pertambahan penduduk akan rnenyebabkan sistim pewarisan boleh dikatakan sama rata untuk setiap anak, akan menghasilkan penurunan luas tanah pertanian milik setiap keluarga, yang pada gilirannya akan mengakibatkan kerniskinan di kalangan petani. Kondisi yang demikian ini oleh Geertz (1963) disebut agriculture involution dan shared poverty. Agriculture involution, yaitu pola respon petani (Jawa) yang khas terhadap tekanan penduduk secara kultural, sosial, ekonomi dan ekolog~. Konsep involusi (involution) yang dipinjam Geertz dari Goldenweiser, berarti (1) pengukuhan pola dasar, (2) elaborasi dan semakin penuh hiasan ke dalam, dan (3) pen-jimet-an teknis dan ketrampilan yang tidak putus-putusnya. Marzali (1993) juga telah menganalisis ha1 in] lebih rinci. Dalam bidang pertanian padi sawah, involusi berarti suatu intensifkasi dilakukan bukan dengan cara menciptakan atau mengimpor

16 organisasi ekonomi dan teknologi baru, tetapi dengan cara memadati sebidang tanah dengan makin banyak tenaga kerja, sehingga melampaui titik utilitas. Menurut Geertz, pemadatan ini dimungkinkan oleh berbagai faktor. Pertama, adanya ciri ekologi sawah yang mampu menyerap tenaga keja banyak tanpa menurunkan produktifitas sawah itu sendiri. Kedua, ciriciri kultural (Jawa) yang suka kepada hidup gotong royong dan tolong menolong dengan sesama tetangga. Ketiga, ciriciri masyarakat (Jawa) yang tidak terbagi atas kelas tuan tanah dan proletar ( tidak berkelas). Keempat, ciriciri masyarakat (Jawa) yang mampu menekan kebutuhan hidup ke paras yang paling rendah. Ciri kedua sampai keempat bila digabung akan menimbulkan shared poverty (kemiskinan yang dibagi). Hayami dan Kikuchi (1987) telah meyimpulkan bahwa tekanan penduduk terhadap tanah (termasuk penelitiannya di Jawa) adalah merupakan masalah serius, yaitu dampak negatif tekanan penduduk tidak mampu diatasi oleh teknologi pertanian yang baru. Upah buruh pertanian semakin menuntn bila dibandingkan dengan keuntungan dari para pemilik tanah, sehingga buwh tani mencari pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Menurut Palte (Marzali,1993), dari hasil studinya di Jawa, pola reaksi petani terhadap tekanan pertumbuhan penduduk yakni dengan: (1) melakukan perluasan kawasan pertanian (ekstensifikasi), (2) intensifikasi penggarapan tanah, (3) penggunaan bibit unggul, (4) peningkatan caracara bertani, dan (5) membuka usaha lain non pertanian. Studi ILO (1960) menemukan bahwa alasan orang-orang meninggalkan pekerjaan pertanian karena beberapa sebab, yaitu: ingin mencari

17 bayaranl pendapatan yang lebih baik, jam kerja di luar pertanian lebih pendek, kerena tingkat pendidikan yang sudah lebih baik, adanya mekanisasi yang berkembang, karena ketidakmungkinan mensupport kebutuhan keluarga dengan tanah milik yang kecil (small holding ), karena kesulitan meningkatkan kenaikan sosial, dan semakin terbatasnya perumahan desa ( rural housing). Dua masalah pokok sebagai faktor utama yaitu ( f) tingkat pendapatan di sektor pertanian yang rendah dan (2) adanya kesempatan kerja di luar sektor pertanian. Tingkat pendapatan di sektor pertanian yang rendah merupakan faktor daya dorong ( push factor) dan adanya kesempatan keja di luar sektor pertanian merupakan faktor daya tarik (pull factor). Menurut penelitian tersebut, hampir di semua negara pendapatan sektor perfanian selafu lebih rendah daripada sektor ekonomi lainnya, selain tingkat kesenangan-kesenangan sosial yang lebih baik pada sektor non pertanian. Dalam kasus di Jepang dan India, studi ILO tersebut juga menemukan bahwa orang-orang yang cenderung meninggalkan sektor pertanian adalah mereka yang tidak bertanah (landless), buruh, tak bertempat tinggal menetap (insicure), berusia muda dan dari kalangan pria. Sedangkan mereka yang petani dan keluarga petani tidak terlalu banyak rneninggalkan sektor pertanian, karena beberapa alasan, misalnya: tetap menyukai pekerjaan pertanian, tidak mudah mendapatkan pekerjaan selain dari pertanian, dan kesulitan mentransfer aset, tenaga keja dan ketrampilan serta pengalamannya ke sektor lainnya.

18 FaMor yang lain lagi adalah adanya kebijaksanaan pemerintah yang mendorong pertumbuhan industri di pedesaan, karena industrialisasi dipercaya sebagai pemacu pembangunan (Effendi, 1997). Menurut suatu seminar tentang industrialisasi Indonesia di Universitas Vrije, Amsterdam (Klapwijk, 1993) menyimpulkan bahwa kemampuan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan (sustainibilify) kebijakan mendorong tndustrialisasi sangatlah dominan sebagai penentu. Kebijakan pemerintah selama ini menetapkan bahwa titik berat pembangunan nasional jangka panjang adalah pernbangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri, yaitu industri yang kuat ditunjang oleh bidang pertanian yang tangguh (GBHN,1993). Tumbuhnya kegiatan industri rumah tangga dan industri kecil di pedesaan telah ikut rnemacu juga para petani untuk pindah tapangan kerja. Dengan telah membaiknya tingkat pendidikan di pedesaan, misalnya, ada kecenderungan bahwa mereka yang telah mengenyam pendidikan enggan bekerja di sektor pertanian (Kasryno, 1988). Karena itu, di bidang pertanian, dengan dikembangkannya agroindustri akan merupakan jalan keluar dari masalah di atas, termasuk tekanan penduduk dan semakin menyempitnya lahan pertanian. Di Indonesia, dengan djkembangkannya agroindustri dapat disebut sebaga~ jembatan yang kukuh antara sektor industri yang memiliki produktivitas tinggi dengan sektor pertanian yang menjadi ajang kehidup- an sebagian besar penduduk. Oleh karena itu, perlu dikembangkan

19 agroindustri skala kecil agar dapat terjangkau oleh para petani kecil di pedesaan (Soeharto, 1993). Pengertian agroindustri, seperti didefinisikan oleh Brown, Deloitte dan Touche (1994), adalah suatu usaha yang mernproses bahan-bahan yang berasal dari tanaman atau hewan. Proses tersebut termasuk merubah dan pengawetan melalui alam atau kimiawi, penyimpanan. pengepakan, dan pengirimannya. Menurut Saragih (I 993, 1998) yang disebut agroindustri adalah industri yang rnempunyai kaitan dengan pertanian, yang dapat berbentuk sumber input maupun output yang digunakan dibidang pertanian. Termasuk dalam agrondustri adalah antara lain kegiatan industri pengadsan sarana produksi pertanian dan industri pengadaan alat-alat pertanian dan mesin-mesin, seperti mesin perontok padi, dan traktor. Lebih lanjut akibat dari kebijakan pernerintah tersebut, telah memacu berkembangnya sistim informasi den komunikasi dalam pembangunan Menurut Lerner (1991) pemanfaatan komunikasi modern telah mempercepat proses rnobitisasi masa, dan bagi masyarakat pedesaan menyebabkannya lebih mudah dan lebih cepat dirangsang oleh pembangunan, sehingga tingkat kehidupannya dapat ditingkatkan. Teknologi komunikasi telah mampu menjadi alat bagi kebijakan komunikasi, dan harus menjadi alat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selama ini, pemanfaatan media massa seperti jenis teknologi komunikasi yang banyak kita jumpai di pedesaan, antara lain media rnassa radio, tefevisi, dan surat kabar cukup efektif dalam menambah pengetahuan,

20 pembentukan dan perubahan sikap, serta rnendorong pernbaharuan (Depari dan MacAndrews.1991). Jenis media rnasa seperti itu mempunyai pengaruh yang kuat pada rnasyarakat, dan karenanya banyak dimanfaatkan dalam menyebarluaskan informasi iptek dan penemuan-penemuan baru (Asngari, 7996). Menurut Hilbrink (1991), sungguhpun radio tidak dapat memberikan informasi secara terperinci dan rnerupakan komunikasi satu arah, rnelalui radio dapat menumbuhkan kesadaran pembangunan dan merangsang rasa keterlibatan. Menurutnya, kelernahan dari media radio dapat diatasi dengan rnembentuk kelompok pendengar dalarn siaran-siaran pedesaan, sehingga tercipta sistem komunikasi gabungan, yaitu komunikasi rnelalui media radio dengan komunikasi antar pribadi. Media massa seperti radio, televisi dan surat kabar, menurut pengalaman di pedesaan Cina (Schramm dkk., 1991), sifatnya adalah melengkapi komunikasi antar pribadi, baik sebagai sumber inforrnasi maupun penjelas inforrnasi yang terjadi rnelalui kornunikasi antar pribadi. Menurut Feiicino (1991) surnber inforrnasi pembangunan yang efektif di pedesaan adatah juga jenis kornunikasi antar pribadi, baik rnelalut saudara, teman, rnaupun tetangga, baru kernudian dari juru penerang rnaupun penyuluh pembangunan. Sumber informasi pembangunan yang lain adalah dari pemuka pendapat, seperti kepala desa, ularna, rnaupun pemimpin rnasyarakat lainnya. Peran penyuluh yang rnemerlukan kontak dengan sasaran penyuluhannya juga rnemerlukan jenis kumunikasi antar pribadi.

21 Terpaan informasi khususnya yang terjadi melalui komunikasi antar pribadi, juga berlangsung karena perbedaan tingkat kosmopolitansi dari sasaran penyuluhan. Hasil penelitian di daerah pedesaan sekitar waduk Kedungombo, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa orang-orang yang menjadi pemuka pendapat dan pimpinan masyarakat adalah mereka yang kosrnopolit, yang ditandai dengan banyak bepergian ke luar daerah dan banyak menjalin komunikasi dengan pihak luar atau sumber-surnber informasi (Karsidi,1994). Pemuka masyarakat yang sering disebut sebagai "opinion leader" dibandingkan anggotanya, rnemang lebih banyak berhubungan dengan komunikasi luar, lebih kosmopolit, lebih tinggi status sosialnya dan lebih inovatif (Rogers, 1983). Selain itu, keanggotaan seseorang dalam kelompok juga mernpengaruhi kecepatan tanggapan terhadap inforrnasi daripada tidak berkelompok (Lionberger, 1968). Sedikit atau banyaknya terpaan informasi, baik melalui media massa. kontak pribadi dengan para pemuka pendapat danl atau penyuluh dalam komunikasi tentang industrialisasi pedesaan (khususnya tentang industri kecil) akan ikut mempengaruht perubahan perilaku masyarakat di pedesaan tentang industri kecil pedesaan tersebut dan menyumbangkan pengaruh pada terjadinya transformasi pekerjaan mereka dari bidang pertanian ke industri. Khusus tentang peranan penyuluh tersebut, dalam pernbicaraan seminar internasionaf tentang industri Indonesia di Univers~tas Vrije Amterdam pada 9 Juli 1993, menurut Hermine Weijland diakuinya bahwa berkembangnya industri kecil di lndonesia terutama adalah peran dari "middleman" sebagai agen pembangunan ( Klapwijk,

22 1993). Tentu saja peran agen tersebut salah satunya adalah oleh penyuluh, yang memang secara khusus tugasnya adalah dalam bidang tersebut. Masyarakat Industri: Masyarakat Masa Depan Paling sedikit ada tiga alasan negara-negara yang sedang berkembang memilih jalan industrialisasi untuk memperbaiki keadaan yang ada, yaitu karena dengan kebijakan industrialisasi akan dapat (1) menyediakan pekerjaan bagi penduduk yang jumlahnya semakin meningkat (dalarn beberapa kasus penyediaan pekerjaan bagi kaurn buruh tani yang memang sudah tidak lagi mendapat pekerjaan), (2) untuk meningkatkan taraf hidup dengan meningkatkan per kapita pendapatan nasional, dan (3) untuk memperbaiki situasj neraca pembayaran (Mountjoy,l983). Alasan lain dari Mountjoy adalah karena hasil pertanian yang diperoleh semakin sedikit dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan (decreasing return), sedangkan sebagian besar industri masih berada dalam tahap kenaikan hasil (increasing return). Kelemahan sektor pertanian selanjutnya ialah karena produksi pada umumnya tebih lambat dibandingkan produksi industri manufaktur, sehingga mengabur-kan petani memandang ke depan dan memperkirakan rnasa depan sendiri. Dibandingkan dengan bidang pertanian, keuntungan relatif di bidang industri berada dalam posisi yang lebih menguntungkan karena dapat memungkinkan (untuk melakukan) produksi besar-besaran dengan peningkatan efisiensi dan energi, selain karena adanya sistim organisasi

23 dan spesialisasi. Akibat daripadanya, maka industriafisasi cenderung ke arah padat modal, dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah ketenaga-kerjaan, yaitu hanya akan menampung tenaga trampil saja. Jadi, tampaknya industrialisasi sebagai jalan keluar pelarian penduduk untuk mengatasi ketenagakerjaan di bidang pertanian s~fatnya hanya sementara, kecuali jika sumberdaya manusianya dapat menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri itu sendiri. lndustri akan mampu sebagai alternatif bagi perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian jika sumberdaya manusianya benar-benar siap dan mampu beradaptasi dengan tuntutan industrialisasi. Ada perbedaan orientasi budaya masyarakat agraris pada masyarakat industri (Wiradi, 1996; Dharmawan, 1986). Orientasi budaya masyarakat agraris adalah terjaminnya persediaan pangan, karena pangan merupakan sarana paling dasar bagi security of survival. Pangan mereka berasal dari hasil pertanian yang tergantung dengan iklim. Karena itu, irarna kegiatan masyarakat agraris disesuaikan dengan putaran iklim. Ada masa-masa ketika orang harus bekerja giat, dan ada masa-masa yang relatif santai, mengikuti irama iklirn itu sendiri. Umumnya masyarakat agraris bersifat sabar dan tekun, tetapi kurang berani mengambil resiko karena yang biasa dihadapi adalah iklim yang tidak bisa dikuasainya. Dalam rnasa santai terutama saat surplus, terluang waktu untuk merenungkan hal-ha1 lain sehingga berkembang cita rasa seni yang sublimed dan refined. Pada saat giat, menurut Wiradi (1 996). sering te rjadi self exploitation of labour power pada dirinya, yaitu terutama karena

24 dorongan faktor dernografis ( termasuk besamya jumlah keluarga dan saat anak-anak mereka masih kecil). Masyarakat agraris menganggap tanah adalah segala-galanya. Keluarga dalam pendangan masyarakat petani adalah sebagai unit produksi dan tak ada spesialisasi kegiatan di antara mereka. Sebaliknya, orientasi masyarakat industri adalah pada mencari untung, tak tergantung pada iklim, dan karena ingin cepat mendapatkan untung maka biasanya tidak sabar, serba ingin cepat dan efisien. Masa santainya relatif terbatas, dan siklus "giat-santainnyapun cepat, yaitu mingguan, tidak musiman seperti petani. Mereka umurnnya berani mengambil resiko karena berdasarkan perhitungan rasional. Masa santai masyarakat industri sangat sedikit, sehingga memerlukan hiburan yang cepat dan karya seni berubah menjadi komoditi komersial dan jenis hiburan menjadi dominan. Tak terjadi self exploitation of labour power pada diri sendiri karena tenaganya menjadi kornoditi dalam pasar kerja, dan baginya tanah menjadi komoditi yang diperj~al belikan untuk mencari untung sebesar-besarnya. Keluarga dalam pandangan masyarakat industri adalah merupakan unit konsumsi (consumption unit), ikatan sosial semakin renggang dan terjadi spesialisasi kegiatan di antara mereka. Menurut Djatnika (1 990) industriatisasi akan mendorong kepada peru- bahan sosial, yaitu antara lain dengan orientasi masyarakat pada sikap rasional, pragmatisme dan serba kepraktisan. Orientasi inilah yang membedakan ciri masyarakat dengan dominasi kehidupan pertanian dengan masyarakat yang dominasi kehidupan industri.

25 Menurut Suparlan terdapat perbedaan antara masyarakat industri dengan komunitas desa pertanian. Pertama, produksi dengan menggunakan rnesin pada masyarakat industri memunculkan basis produksi berupa bengkel atau pabrik. Kedua, mesin pada masyarakat industri ada posisi pemberi upah dan buruh yang berinteraksi secara kontraktual. Ketiga, berkembang dan dominannya hubungan ekonomi pasar pada rnasyarakat industri. Keempat, pada rnasyarakat industri kesejahteraan hidup buruh lebih tinggi daripada dari pada petani kecil dan buruh tani. Kelirna, mesin pada masyarakat industri adalah pembagian waktu yang relatif ketat batas-batasnya ( Suparlan, 7994). Perkembangan dari masyarakat agraris ke rnasyarakat industri dapat dikatakan sejalan dengan perkembangan ciriciri sosiologis masyarakat yang tradisional ke modern. Masyarakat agraris cenderung mendekati ciri-ciri tradisional, sedangkan masyarakat industri cenderung mendekati ciri-ciri masyarakat modern. Menurut lnkeles (1994), ciriciri masyarakat modern ditandai dengan: (1) adanya kesediaan menerirna pengalamanpengalaman baru dan terbuka terhadap pembaharuan dan perubahan yang tejadi, (2) bersifat demokratis terhadap keragaman sikap dan opini orang lain. (3) berorientasi pada masa kini dan masa depan, bukan ke masa lalu, (4) selalu merencanakan kegiatannya dan terlibat dalarn kegiatan organisasi, (5) percaya terhadap kemampuan belajar untuk menguasai alam dan bukan dikuasai oleh alam. (6) percaya bahwa dunia ini dapat diperhitungkan, (7) sadar akan harga dirinya dan bisa menghargai orang lain, (8) percaya terhadap kemampuan ilmu dan teknologi, dan

26 (9) percaya akan keadilan dalarn pembagian, dan bahwa ganjaran adalah karena prestasi bukan karena sifat-sifat yang dimiliki seseorang yang tidak ada hubungannya dengan tindakannya. Secara lebih khusus orang modem urnumnya mernpunyai faktor sikap mental "knowledge atfitude" dan "utilitarian attitude" yang tinggi (Asngari, 1996). Yang disebut sikap "knowledge attitude" adalah sikap selalu haus akan pengalaman atau pengetahuan baru untuk perbaikan kesejahteraan dirinya, dan sikap "utilitarian affitude" adalah sikap seseorang yang rnenunjukkan sebagai mahluk sosial yang selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Ciri-ciri yang bertentangan dengan di atas adalah ciri masyarakat yang tradisional. Ciri modern sebagai produk yang melekat dalam industrialisasi dapat dipandang sebagai bentuk inovasi. Suatu inovasi agar dapat diterima atau diadopsi diperfukan suatu proses difusi tertentu (Rogers, 1983). Difusi rnerupakan proses penyebaran inovasi ke masyarakat (Hubeis, 1995) dari seseorang yang telah mengadopsi inovasi kepada orang-orang lain ( Slamet, 1978). Sedangkan adopsi adalah suatu proses mental seseorang yang ditandai dengan keadaan menerima, rnenerapkan dan menggunakan atas suatu inovasi ( Stamet, 1978). Sebagai suatu proses mental, adopsi (misalnya dalam bidang industri) terdiri dari beberapa tahapan sarnpai dengan seseorang kemudian menerima sesuatu inovasi, yaitu: (1) tahap munculnya kesadaran akan adanya inovasi, (2) tumbuhnya minat, (3) adanya suatu penilaian, (4) rnencoba,

27 dan (5) tahap mengadopsi (Lionberger, 1968; Slamet, 7978; Rogers,I 983 dan Hubeis, 1995). Ini artinya bahwa adopsi itu berproses dan tidak terjadi dalam waktu yang sekonyong-konyong, dan di sinilah untuk mengantarkan seseorang menjadi merniliki ciri-ciri modern atau menerima industrialisasi harus dipandang sebagai suatu proses perubahan perilaku seseorang. Dalam artian yang lebih khusus, jika seorang petani meninggalkan pekerjaan sebagai petani kemudian pindah ke pekerjaan di bidang industri kecil, berarti yang bersangkutan telah melalui suatu proses perubahan perilaku yaitu menerima inovasi berupa industrialisasi (menjadi pelaku industri kecil di pedesaan). Adopsi sebagai proses perubahan perilaku, para adopternya dapat dibedakan dari tingkat kecepatannya mengadopsi pada sesuatu inovasi yang diperkenalkan kepadanya (Rogers,1983), mereka itu rneliputi dari: (1) golongan perintis, (2) golongan pelopor, (3) golongan penganut dini, (4) golongan penganut lambat, dan (5) golongan kolot. Mereka ini memiliki ciriciri yang berbeda, dan pengetahuan atas perbedaan tersebut sangat penting bagi pembaharu dalam melakukan kegiatan penyuluhan atau menyebarkanl difusi suatu inovasi. Dalam kegiatan penyuluhan (misalnya dalam bidang industri kecil pedesaan) sasaran utamanya adalah golongan golongan pelopor, golongan penganut dini, dan golongan penganut lambat. Untuk perintis, tanpa diberikan penyuluhanpun biasanya sudah dapat mencari sendiri apa yang mereka butuhkan, bahkan tidak jarang, mereka jauh lebih banyak mengetahui dibandingkan penyuluhnya.

28 Dengan berpindahnya pekerjaan dari petani ke pengrajin industri kecil berarti mereka telah mengadopsi suatu inovasi yaitu tawaran tentang pilihan bekeja di industri kecil tersebut. Pilihan tersebut berarti pula mengandung konsekwensi untuk mengadopsi perilaku modern yang terbawa dan melekat pada industri itu sendiri, sekaligus kerelaan untuk meninggalkan perilaku lama yang melekat pada pekerjaan sebagai petani. Ciriciri perilaku modern di atas akan menjadi wajah masa depan para petani yang bertransformasi ke pekerjaan industri karena mereka dipacu oleh industrialisasi baik sebagai proses maupun sebagai produk. Kernandirian Bemsaha dan Keberhasilan Transfonnasi Pekerjaan dari Petani ke Pengrajin lndustri Kecil Perdagangan internasional telah membawa semua negara ke dalam arientasi gfobalisasi ekonomi dan perdagangan. Dengan demikian batasbatas nasional untuk perdagangan, investasi, informasi, dan teknologi akan berangsur-angsur hilang diterjang oteh mesin bisnis liberalisme. Menurut Sa'id dan lntan (1996), pelaku utama di lndonesia untuk dapat meraih pasar dunia itu utamanya harus ditujukan kepada usaha-usaha kecil dan menengah (termasuk bidang industri), namun mereka para pelakunya ( termasuk pengrajin) dihadapkan pada kendala berkaitan dengan permodalan, kemampuan teknologi, kemampuan manajemen dan akses pasar.

29 Untuk menuju dan mengantisipasi ha1 itu, setidaknya terdapat tiga faktor penting yang harus mendapatkan perhatian negara bagi pelaku industri termasuk pengrajin, yaitu: (1) kebijakan penanaman modal asing harus terarah dan selektif, (2) hubungan negara dengan dunia usaha harus sangat erat (tetapi cukup transparan),sehingga tercipta kekuatan nasional yang tangguh, khususnya untuk mengahadapi pihak luar dan di pasar internasional, dan (3) prioritas tertinggi harus diberikan perhatian kepada pengembangan sumberdaya manusia (Soesastro,l988). lni artinya, perhatian kepada kemampuan SDM (termasuk para pengrajin di industri kecil pedesaan) harus ditempatkan sebagai prioritss yang tinggi pula. Pengembangan suberdaya rnanusia, terutama diarahkan agar tenaga kerja terrnasuk pengrajin dapat bekerja lebih produktif, sehingga mereka dapat hidup layak beserta keluarganya. Lebih penting lagi untuk diperhatikan bahwa kini banyak tenaga kerja di bidang industri (termasuk industri kecil) merupakan limpahan tenaga kerja dari sektor pertanian (umumnya petani) karena atasan mencari pekerjaan. Mereka itu dalam penelitian ini kita sebut meiakukan proses transformasi pekerjaan dari petani ke pengrajin industri kecil. Adapun gejala adanya limpahan tenaga kerja dari petani ke industri kecil ini, tidak hanya menyangkut kekurangan pada aspek yang berkaitan dengan keahlian dan ketrampilan, tetapi juga menyangkut aspek-aspek

30 yang berkaitan dengan sikap mental kerja dan nilai-nilai sosial budaya (Swasono dan Sulistyaningsih, 7993). Bahkan menurut Sutrisno (1996) proses industrialisasi suatu rnasyarakat, keberhasilannya akan sangat tergantung pada perubahan sosial-budaya dari semua yang terkait. Adapun perubahan sosial budaya bermuara pada peningkatan daya saing, dengan ditunjukkan oleh kwantitas maupun kwalitas produk mereka serta meningkatkan ethos kejujuran dalam memproduksi produk-produk yang dihasilkan. Menurut Mangkuprawira (1996) karakteristik pengusaha kecil yang berhasil (terrnasuk pengrajin industri kecil), antara lain yaitu memiliki: kemandirian yang tinggi, komitmen yang tinggi dan pekerja keras, kepercayaan diri tinggi, berorientasi pada hasil, siap menerima resiko, bersikap inovatif, dan cenderung rnengetahui kemauan pelanggan dan menjaga hubunhan baik dengannya. Dengan demikian, mengaw pada pendapat diatas bahwa orang yang disebut berhasil sebagai pengrajin industri kecil adalah mereka yang rnemiliki karakteristik keberhasilan sebagai pengusaha kecil tersebut dan mampu melakukan perubahan sosial-budaya pada dirinya, mentransformasikan diri dari mentalitas peasant ke mentalitas farmer yang salah satunya ditandai adanya kernandirian dalam berusaha dan menerima upah Ipendapatannya tertentu dari pekerjaannya itu.

31 Pengertian pekerja menurut BPS (1993) yakni semua orang yang bekerja pada suatu usaha tertentu, baik pekerja pemilik dan atau pekerja buruh. Pengertian pekerja industri kecil dalam penelitian ini adalah semua orang yang bekerja pada suatu usaha industri kecil pedesaan, baik sebagai pengrajin maupun buruh karena menerima upah/gaji tertentu dari pekerjaannya itu. Adapun yang menjadi kajian dari penelitian ini hanya akan dibatasi pada pengrajin saja, untuk selanjutnya disebut pengrajin industri kecil. Adapun pengertian industri kecil sering mengacu pada penggolongan sektor industri pengolahan yang mencakup semua perusahaaniusaha yang melakukan kegistan mengubah barang dasar rnenjadi barang jadilsetengah jadi dan atau dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dengan maksud untuk dijual, termasuk jasa industri dan perakitan. Yang termasuk dalam kategori tersebut juga dilihat dari jumlah tenaga kerjanya, yaitu yang mempekerjakan tenaga kerja antara 5-19 orang dan di dalamnya termasuk industri rumah tangga, yaitu yang rnempekerjakan tsnaga kerja antara 1-4 orang (BPS, 1993b). Pengrajin industri kecit yang mempunyai kemandirian dalam berusaha bisa dimengerti sebagai orang yang mempunyai kepercayaan diri dalam mengambil keputusan secara bebas dan bijaksana (Rasyid dan Adjid.1992) yang didasarkan pada sumberdaya yang dimiliki sebagai semangat

32 keswadayaan yaitu terdiri dari unsur-unsur: (1) keuletan, (2) kerja keras, dan (3) jiwa wira usaha (Rahardjo, 7992). Menurut Hubeis (f 992), kemandirian berusaha merupakan perwujudan kemarnpuan seseorang untuk memanfaatkan potensi dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, yang dicirikan oleh kernampuan kebebasan rnenentukan pilihan yang terbaik. Datam ciri kemandirian berusaha justru diperlukan kerjasama, yang diseriai tumbuh berkembangnya: (1) aspirasi, 2) kreativitas berusaha, (3) keberanian menghadapi resiko, dan (4) prakarsa bertindak atas kekuatan sendiri dalam kebersamaan (Slamet, 1995). Mendasarkan uraian diatas, maka pengertian kemandirian berusaha setidaknya meliputi unsur kemampuan pemecahan masalah, kreativitas berusaha, keberanian mengambil resiko, prakarsa, keuletan beruaha, dan kewirausahaan. Kemampuan pemecahan masalah menurut Soesarsono (1996) mengandung upaya memanfaatkan potensi diri sendifi seoptimal mungkin dan memanfaatkan kemampuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasil dari padanya adalah terpenuhinya atau tidak terpenuhinya kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Kreativitas merupakan kemarnpuan abstraksi yang tinggi atau rnenciptakan sesuatu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

33 Rogers sebagaimana dikutip Shouksmith (1970) menyebutkan karakteristik orang kreatif, yaitu: (1) keterbukaan terhadap pengalaman baru, (2) marnpu mengevaluasi diri, dan (3) adanya kemampuan mengembangkan konsep. Menurut pendapat Soesarsono (1996) orang yang kreatif membuktikan dirinya sebagai orang yang memang menghasilkan karya yang relatif baru, baik dalam gagasan maupun ide. Sesuatu yang baru sama sekali memang tidak ada, sehingga wujud dari padanya meliputi kemampuan mencoba gagasan baru, memodifikasi gagasan, dan atau mencetuskan ide atau gagasan baru. Dalam berusaha, hanya orang yang kreatiflah yang akan "survive", sedangkan orang yang statis akan terlempar dari dunia bisnis. Berani mengambil risiko terkait dengan orientasi budaya masyarakat industri. Menurut Wiradi (1996), masyarakat industri cenderung berani mengambil resiko sementara rnasyarakat agraris kurang berani mengambil resiko karena yang biasa dihadapinya adalah iklim yang sulit diperhi- tungkan. Namun demikian dari kajian Popkin (1986) dan Marzali (1993) ada petani yang disebut petani rasional atau rational peasant yaitu petani yang homo economicus atau cenderung berhitung secara ekonomi dan egois demi peningkatan kemakmuran sendiri tanpa peduli akan moral pedesaan. Pengertian egois tanpa peduli akan moral pedesaan bukan berarti sama sekali tidak peduli, tetapi diartikan sebagai lebih mernentingkan pada kesejahteraan dan keamanan diri sendiri dan keluerganya sebagai yang

34 utama. Petani yang demikian ini mungkin dapat dikategorikan pada mereka yang berani mengambil resiko. Prakarsa bertindak atas kekuatan sendiri berarti adanya inisiatif untuk memulai kegiatan untuk mencapai tujuannya. Daya inisiatif seseorang aken berkurang atau bahkan hilang karena kepercayaan diri rendah, atau tergolong orang yang pasif atau rnalas dan cenderung apatis (tidak mau berusaha). Orang yang apatis atau tidak tanggap terhadap perubahan yang ada akan tertinggal, rnundur dan katah dalam berbisnis. Orang yang prakarsanya tinggi selalu berusaha mencari inforrnasi terakhir yang diperlukan, jika perkernbagan yang terjadi dianggapnya sangat penting dan kritis, maka perlu pemikiran dan pertirnbangan yang cepat agar dapat segera duputuskan tindakan apa yang harus diambil. Keterlarnbatan bertindak dapat berarti sebagai suatu kerugian (Soesarsono, 1996). Keuletan merupakan bagian dari menuju sukses dalam berusaha. Keuletan terjadi karena kepercayaan diri akan sukses dan berhasil, sebaliknya, keuletan berusaha juga dapat meneguhkan kepercayaan diri. Orang yang ulet dalam berusaha akan menjadikan kegagalan sebagai guru yang baik bag1 dirinya dan tak putus asa dalam berusaha (Soesarsono, 1996). Menurut Rahardjo (1992) ulet berarti tabah dan tak mudah putus asa. Keuletan berhubungan dengan usaha kerja keras, yaitu setia rnenggunakan waktu dan tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

35 Kernampuan kewirausahaan lebih sering digunakan dengan istilah wiraswasta. Wira berarti utama, luhur, gagah berani, dan penuh keteladanan, sedangkan swasta berarti sendiri atau mandiri. Pengertian kewiraswastaan menkankan segi kernampuan untuk berdiri sendiri dalam berusaha. Pengertian berdiri sendiri bukan berarti harus hanya sendiri, tetapi justru dengan kondisi sosial ekonomi dan iklirn berusaha rnenuntut adanya kerjaama dan interaksi yang erat dengan pihak lain. lstilah swasta juga lebih memberikan asosiasi pengertian tentang kemampuan untuk mendapatkan kekayaanlkeuntungan sebanyak-banyaknya. Pengertian berdiri sendiri juga harus diartikan dengan pengertian kepercayaan diri yang rnemang sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan hidup berusaha. Penggabungan pengertian kata wira dan swasta akan rnenjadikan seseorang tidak sekedar mencari untung sebanyak-banyaknya dengan rnenghalalkan segalan cara, tetapi dengan penuh kewiraan atau tindakan terpuji dan keteladanan ( Soesarsono, 1996). Sikap dan kernampuan wirausaha atau wiraswasta (entrepreneurship) bukanlah dibawa sejak lahir, tetapi dibentuk dan dipelajari sepanjang perkernbangan orang itu. Sikap wirausaha mengandung perasaan dan rnotivasi untuk meningkatkan prestasi usaha. Seseorang yang merniliki mentalitas wirausaha: menilai tinggi orientasi masa depan, menilai tinggi hasrat inovasi, berorientasi ke arah hasil karya, menghargai kemampuan,

36 berdisplin, bertanggung jawab, dan menghargai diri sebagai pribadi yang tak bisa diabaikan atau mengahargai diri sendiri yang tinggi dan tak mau tergantung orang lain (Cahyono,7983). Adapun transformasi pekerjaan dari petani ke pengrajin industri kecil pedesaan yeng disebut berhasil, jika pelakunya telah memiliki tingkat kernandirian usaha yang tinggi dan rnenerirna upah atau pendapatan tertentu dari pekerjaannya itu, dan kerenanya memiliki aset kekayaan dari usahanya tersebut dan suatu tingkat kepuasan tertentu atas pekerjaannya. Upah /pendapatan atau juga dapat disebut penghasilan adalah wujud dari bagian hidup berkemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk dirinya maupun untuk keluarganya. Menurut Soesarsono (1996) yang disebut hidup berkemampuan adalah hidup berkecukupan, sedangkan hidup berkecukupan secara umum dapat disebut juga "kaya". Sungguhpun istilah kaya adalah relatif pengertiannya, dapat diartikan bahwa dengan memiliki harta atau kekayaan yang banyak seseorang akan mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Unsur yang dapat menunjukkan berkecukupan harta berarti seseorang harus mernpunyai penghasilan. Semakin banyak penghasilannya, akan semakin terwkupinya kebutuhan hidupnya (terutarna hal-hal yang bersifat fisik).

37 Akumulasi dari banyaknya penghasilan seseorang dari hasil usahanya akan menjadi aset kekayaan yang dimilikinya. Aset adalah modal yang berupa kekayaan yang dimiliki seseorang, bisa berupa uang, lahan, bangunan, peralatan, rnesin dan lainnya, baik yang berupa barang bergerak maupun barang tak bergerak. Aset yang dimilikinya akan menjadikan seseorang mempunyai kepuasan tertentu. Jika ha1 tersebut sebagai sesuatu yang disenanginya akan menjadikan kebanggaan untuk memilikinya. Dalam hubungannya dengan transformasi pekerjaan dari petani ke pengrajin industri kecil ini, rnaka pembandingnya adalah keadaan sewaktu masih rnenjadi petani dan sesudahnya menjadi pengrajin, yaitu apakah pekerjaan sebagai pengrajin dan yang dihasilkan daripadanya mendatangkan kepuasan dan kebanggaan berusaha, atau sebaliknya. Peningkatan Kualitas Surnberdaya Manusia Pengrajin lndustri Kecil Pedesaan Memperhatikan fenomena dalam tata perekonornian Indonesia sefarna ini, dunia usaha secara umum dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok usaha milik negara, kelompok swasta, dan koperasi. Khusus kelompok usaha swasta, terdiri dari usaha swasta nasional dan usaha swasta asing. Ditinjau dari segi kemampuan usahanya, usaha swasta nasional ini berbeda-beda tingkatan kekualannya.ada usaha swasta nasional yang relatif kuat, dan ada yang lernah (kecil), tetapi untuk sebagian besar usaha swasta nasional adalah usaha lernah dalam skala kecil.

38 Usaha skala kecil rnerupakan kelompok yang terbesar, sehingga peranan dalarn perekonomian negara ini dapat dikatakan sangat penting, karena kini usaha skala kecil marnpu menyerap tenaga kerja bidang industri secara nasional sebesar 91 persen atau 56.5 juta orang, sedangkan usaha besar dan menengah hanya 9 persen atau 6,7 juta orang. Namun demikian peran usaha skala kecil dalam pertumbuhan ekonorni baru mencapai 20 persen, sedangkan usaha besar dan rnenengah mencapai 80 persen (Sasono,1996). Terrnasuk di dalarn usaha skala kecil yaitu kegiatan industri kecil dipedesaan. Dalam rangka mengantisipasi akan diberlakukannya perdagangan bebas tahun 2003 (AFTA) dan tahun 2020 (APEG), usaha kecil yang meru-pakan mayoritas di bidang industri di Indonesia harus diperkuat peranannya dalam pertumbuhan ekonorni nasional. Oleh karena itu, maka para pelaku usaha kecil tersebut perlu rnernpersiapkan diri agar marnpu bersaing di pasaran global sebagai sumberdaya rnanusia yang berkualitas, sehingga akhirnya mampu meningkatkan kemampuan daya saing produk mereka. Pengertian kualitas surnberdaya rnanusia dalarn penelitian ini dimaksudkan sebagai kualitas manusia di bidang usaha industri skala kecil (selanjutnya disebut pengrajin industri kecil pedesaan), dan bukan kualitas daya saing dari produk-produk usaha industri skala kecil yang rnerupakan hasil dari kinerja sumberdaya rnanusia pengrajin industri itu. Sektor industri kecil di Indonesia perkembangannya belum marnpu mernecahkan masalah perekonomian pelaku usahanya dalam arti bagi peningkatan kesejahteraan secara has. Hasil penelitian Wardoyo di Kabupaten Klaten (1991) bahwa industri kecil (rnisatnya kerajinan besi)

39 keberadaannya hanya dianggap sebagai sambilan dan hanya digarap serius jika terjadi krisis, baik krisis politik (misalnya pada zaman pendudukan Deandels) dan krisis ekonomi (misalnya pada zaman Malaise). Tetapi, begitu krisis itu berakhir, melemah pula perhatian terhadapnya. Bahkan sewaktu muncul nya rencana undang-undang industri kecilpun -yang kini berupa UU No.6/1995- masih dianggap bersifat reaksi politis (Republika.1995). Sementara itu ada anggapan pula (terutama di pedesaan) bahwa latar belakang kultur mereka bukanlah industri tetapi agraris, sehingga usaha industri kecil menjadi pekerjaan sekunder setelah pertanian. Hal lain lagi rnisalnya menurut data statistik industri kecil (BPS,1993b), yakni tingkat pendidikan para pengrajin industri kecil yang terbanyak adalah tamatan SD ( 53,23%), dan sisanya belum pernah sekolah (3,75%), tidak tamat SD (20,63%), tamat SMTP (14,96%), tamat SMTA (6,68%), dan tarnat perguruan tinggi (0,75%). Kondisi semacam ini tentu akan menjadi kendala. Selain itu, dari penelitian Mudjiman dkk.(1988) ditemukan bahwa pola kehidupan pelaku usaha industri kecil yang masih "primitif" menyebabkan mereka merasa cepat puas. Dari segi manajemen dijurnpai bahwa pengrajin industri kecil pedesaan mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya dan belum mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan dan menyerap fasilitas-fasilitas ekonomi yang tersedia. Menurut penelitian Mudjiman dkk. juga, keadaan ini pada urnumnya disebabkan para pengrajin industri kecil merupakan pengusaha yang belum siap dan mereka berusaha karena terdesak kebutuhan hidup jangka pendek. Pengrajin industri kecil juga sering terbentur pada sulitnya memasarkan produk-produk mereka.

40 Hal dernikian rnemang tidak bisa dipertahankan. Kualitas mereka harus ditingkatkan, motivasi berprestasi mereka perlu diturnbuhkan, dan bahwa kemajuan ekonorni terkait dengan kepribadian, dengan kreativitas dan inisiatif dari seseorang/kelompok harus diyakini sebagai kebenaran, sehingga perlu mendapat perhatian agar mengarah kepada kemajuan yang diharapkan rnenuju sumberdaya rnanusia berkualitas. Jika dikaitkan dengan tuntutan era globalisasi, yaitu jika kawasan pedagangan bebas regional seperti ME, NAFTA, APEC, dan kawasan dagang lainnya rnulai beroperasi, rnaka akan rnernunculkan sektor-sektor modern yang rnensyaratkan cara kerja, berpikir, bertindak, dan bersikap tertentu. Surnberdaya rnanusia (SDM) dalarn era tersebut (dalam ha1 ini para pengrajin di bidang industri kecil pedesaan) harus berkualitas, tidak saja menguasai ketrampilan atau keahlian tetapi juga merniliki sikap, orientasi nilai yang kukuh, wawasan luas, serta rnampu berpikir luas yang rnenganggap penting adanya perubahan, inovasi, dan penyempurnaan cara bertindak yang disesuaikan dengan nilai yang dituntut oleh masyarakat industri. Persyaratan demikian akan terpenuhi pada sosok SDM yang mandiri atau berkualitas. Dinamisasi Sumberdaya Manusia di Pedesaan Desa dan rnasyarakat desa rnerniliki berbagai potensi yang seharusnya dimanfaatkan untuk usaha-usaha pernbangunan pedesaan. Potensi-potensi tersebut, baik berupa potensi sumber daya alarn rnaupun potensi sumber daya rnanusia, kadang-kadang kurang disadari keberadaannya oleh rnasyarakat sendiri.

41 Proses penyadaran masyarakat dalam pembangunan pedesaan berarti mencakup penyadaran akan potensi dan kendala yang ada dalarn rnasyarakat itu sendiri. Segala potensi yang menunjang pengembangan rnasyarakat desa harus didinamisasikan agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apabila setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat memerlukan proses perencanaan, maka dalam awal proses perencanaan tersebut perlu diidentifikasikan segala potensi dan kendala yang ada untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan. Usaha pendinamisasian potensi sumber daya manusia di pedesaan, pertama-tama harus didasarkan pada pandangan bahwa surnber daya manusia adalah sebagai modal dalarn pembangunan. Jadi filosofi dasarnya berangkat dari melihat pentingnya pribadi individu, sebab potensi pribadi seseorang individu merupakan hat yang tiada taranya untuk berkembang dan dikem-bangkan (Asngari,l996). Peningkatan kualitas individu surnber daya manusia merupakan bagian dari usaha mendinamisasikan sumber daya tersebut. Berbagai bentuk kornunikasi antara warga harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Hasil penelitian Mudjiman dan Rahayu (1991) menemukan bahwa agar masyarakat pedesaan dapat memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki untuk meningkatkan kegiatankegiatan usaha produktif baru, mereka rnemerlukan dorongan untuk menumbuhkannya. Salah satu potensi sumber daya manusiawi pedesaan yang perlu lebih didinamisasikan adalah para petani. Kelompok petani rnerupakan angkatan kerja paling besar jumlahnya di Indonesia.

42 Walaupun perekonomian pedesaan di negara-negara sedang berkembang masih didominasi oleh sektor pertanian, namun peran dari sektor lain ternyata semakin meningkat. Anderson dan Leiserson (1980), mengungkapkan bahwa pada awal tahun 1970an saja, kegiatan diluar pertanian telah merupakan pekerjaan utama bagi persen dari angkatan kerja di pedesaan. Sektor jasa pemerintah (administrasi, pelayanan pendidikan dan kesehatan, penyuluhan) dan swasta (perbengkelan, dan jasa-jasa) menyerap antara persen dari angkatan kerja non pertanian disusul sektor manufaktur (pengolahan bahan pangan, pakaian, pertukangan kayu, dan besi) dengan persen, perdagangaan dengan persen, bangunan (perumahan, konstruksi jalan, sarana pertanian) dengan 5-15 persen dan pengangkutan lima persen. Hingga saat ini, di Indonesia, lapangan pekerjaan utama di pedesaan masih didominasi oleh pekerjaan pertanian yaitu 62,06 persen, disusul oleh pekerjaan perdagangan 11,89 persen, kemudian industri pengolahan 10,75 persen, dan baru kernudian disusul jenis pekerjaan utama lainnya (BPS, 1994). Sungguhpun demikian bukan berarti akan selalu bertahan demikian dan akan terbuka kemungkinan seperti negara berkembang lainnya. Lebih jauh Anderson dan Leiserson (1980) menggambarkan bahwa pada tahap awal perekonomian pedesaan yang masih sederhana memang didominasi oleh pertanian sebagai sumber hidup masyarakat. Pada masamasa awal tersebut, sarana perhubungan dan komunikasi dengan wilayah luar masih terbatas, teknologi produksi pertanian masih bersifat sederhana dan hampir tidak berkembang sehingga produktivitasnya rendah. Sebagian besar hasil produksi pertanian hanya untuk konsumsi lokal, pendapatan pertanian