Osteogensis Imperfecta

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KESIMPULAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1

BAB I PENDAHULUAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1

PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA. Sindrom Turner IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013

BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif yang. menjadi permasalah global di bidang kesehatan termasuk di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakatakan hidup sehat. menyebabkan jumlah usia lanjut menjadi semakin banyak, tak terkecuali di

CLINICAL PATHWAY EKLAMPSIA GRAVIDARUM Rumah Sakit Kelas B & C

OSTEOPOROSIS DEFINISI

BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang pada tahap awal belum

CLINICAL PATHWAY APENDISITIS AKUT

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di SMF Ilmu Kesehatan Anak Sub Bagian Perinatologi dan. Nefrologi RSUP dr.kariadi/fk Undip Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

umumnya, termasuk kesehatan gigi dan mulut, mengakibatkan meningkatnya jumlah anak-anak

KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RSIA KEMANG NOMOR : 056/SK/DIR/5/2017 TENTANG PEMBERLAKUAN PANDUAN ASESMEN PASIEN RSIA KEMANG

Gambaran Kepadatan Tulang Wanita Menopause Pada Kelompok X di Bandung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TERAPI CAIRAN MAINTENANCE. RSUD ABDUL AZIS 21 April Partner in Health and Hope

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

PANDUAN EVALUASI PRAKTEK DOKTER BERKESINAMBUNGAN (ON GOING PROFESSIONAL PRACTICE EVALUATION/OPPE) BAB I PENDAHULUAN

PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL.

Panduan Identifikasi Pasien

LEMBARAN KUESIONER. Analisis faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit osteoporosis

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

Diagnosis dan Tata Laksana Hipotiroid Kongenital

DIABETES MELITUS GESTASIONAL

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

BAB 2 OSTEOPETROSIS. Osteopetrosis adalah suatu penyakit herediter yang terjadi karena

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

DETEKSI DAN MANAJEMEN PENYAKIT SISTEMIK PADA PASIEN GIGI-MULUT DENGAN KOMPROMIS MEDIS. Harum Sasanti FKG-UI, Departemen Ilmu Penyakit Mulut

BAB I PENDAHULUAN. Kelainan kongenital adalah penyebab utama kematian bayi di negara maju

PEDOMAN PELAYANAN KEDOKTERAN DAN KEPERAWATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi gen pada

BAB III BAHAN DAN METODE

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB OSTEOPOROSIS. Paulus Budi Santoso ( ) Pembimbing : David Gunawan T., dr

BAB II DEFENISI, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA, DIFERENSIAL DIAGNOSA. Pycnodysostosis berasal dari bahasa Yunani, Pycno (padat), dys (cacat) dan

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

Diagnosis dan Tata Laksana Tiroiditis Hashimoto

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

Instabilitas Spinal dan Spondilolisthesis

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN 2014 SILABUS

1. Dokter Umum 2. Perawat KETERKAITAN : PERALATAN PERLENGKAPAN : 1. SOP anamnesa pasien. Petugas Medis/ paramedis di BP

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Langkah I : Pengumpulan/penyajian data dasar secara lengkap

Nama Pasien :.. BB:.. Kg No.RM :. Penyakit Utama : Kejang Demam Kompleks Kode ICD: LOS : hari Ruang rawat/kelas :../...

MANFAAT KEBIASAAN SENAM TERA PADA WANITA TERHADAP KEPADATAN MINERAL TULANG DI DUSUN SOROBAYAN, GADINGSARI, SANDEN, BANTUL SKRIPSI

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG

BAB IV METODE PENELITIAN. Bedah Kepala dan Leher subbagian Neuro-otologi. Perawatan Bayi Resiko Tinggi (PBRT) dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU)

BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down

INFEKSI LEHER DALAM. Penulis: Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Rahardjo, Sp. THT-KL (K) Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013

Augustine Purnomowati Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung

dan komplikasinya (Kuratif), upaya pengembalian fungsi tubuh

ABSTRAK. Jimmy Wahyu Pembimbing: Aming Tohardi, dr. MS. Wawan Kustiawan, dr., SpRad., M. Kes., DFM.

Journal of Diabetes & Metabolic Disorders Review Article

BAB I PENDAHULUAN. mineral tulang disertai dengan perubahan mikroarsitektural tulang,

PANDUAN PENANGANAN, PENGGUNAAN DAN PEMBERIAN DARAH DAN PRODUK DARAH RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN LAMPUNG

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

PREEKLAMPSIA - EKLAMPSIA

BAB I PENDAHULUAN. tulang, ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manifestasi

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas hidup manusia, baik kemajuan dalam bidang sosioekonomi

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III ELABORASI TEMA

Lampiran 1 Form PIO 209

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Ilmu Kesehatan Anak

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN OSTEOPOROSIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sakit kritis nondiabetes yang dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit)

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut,

BAB 1 PENDAHULUAN. vermiformis. Apendiks vermiformis memiliki panjang yang bervariasi dari

Persalinan Induksi persalinan diindikasikan pada pre-eklampsia dengan kondisi buruk seperti gangguan

PANDUAN PELAYANAN MEMINTA PENDAPAT LAIN (SECOND OPINION)

BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis atau keropos tulang adalah penyakit silent epidemic, yang

PEDOMAN PELAYANAN GIZI KLINIK

KETOASIDOSIS DIABETIK

KETOASIDOSIS DIABETIK

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Does Dimenhydrinate Suppress Skin Prick Test (SPT) Response? A. Preliminary Study of Histamine Skin Test

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, mobilitas manusia menjadi. semakin tinggi. Dengan dampak yang diakibatkan, baik positif maupun

Insidens Dislokasi sendi panggul umumnya ditemukan pada umur di bawah usia 5 tahun. Lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembimbing Residen : dr. Praharsa Akmaja Chaetajaka Supervisor : dr. Taufiqqulhidayat, Sp.Rad. Anggota : Monareza Restantia Shirly D.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2016

PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Penyunting Nanis Sacharina Marzuki I Made Arimbawa Indra Widjaja Himawan IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2016

Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia Disusun oleh: Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak, mencetak, dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apa pun juga tanpa seizin penulis dan penerbit Copy Editor: Iffa Mutmainah Cetakan Pertama 2017 Diterbitkan oleh: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia

Tim Penyusun I Made Arimbawa Indra Widjaja Himawan Aman B. Pulungan Eka Agustia Rini Nanis Sacharina Marzuki Jose RL Batubara Ukk Endokrinologi IDAI iii

Kata Sambutan Ketua UKK Endokrinologi Panduan Praktik Klinis (PPK) Ikatan Dokter Anak Indonesia mengenai Osteogenesis Imperfecta merupakan panduan yang akan digunakan oleh dokter spesialis anak dan petugas kesehatan lainnya dalam menangani pasien anak dan remaja yang menderita Osteogenesis Imperfecta. Panduan ini perlu dibuat supaya ada keseragaman dalam mendiagnosis dan melakukan tatalaksana pasien dengan Osteogenesis Imperfekta. Osteogenesis Imperfecta merupakan kelainan tulang bawaan yang disebabkan kelainan genetik. Osteogenesis Imperfecta adalah kelainan pada tulang berupa tulang yang mudah patah yang disebabkan adanya kelainan pada pembentukan kolangan tulang, kelainan ini berupa kelainan genetik yang disebabkan oleh adanya mutasi pada gen. Pada anak yang menderita osteogenesis imperfekta, bone mineral density (BMD) sangat rendah sehingga mudah terjadinya fraktur meskipun benturan yang terjadi tidak keras. Pada osteogenesis imperfekta selain adanya fraktur juga ditemukan adanya sklera mata yang berwarna biru, dan kelainan pada gigi. Untuk meningkatkan BMD atau mengurangi risiko fraktur pada anak yang menderita penyakit osteogenesis imperfekta bisa diberikan sodium pamidronat secara rutin, saat ini obat yang sudah masuk fornas adalah solendronik acid atau someta yang bisa diberikan secara rutin. Sehubungan dengan hal ini perlu dibuatkan panduan mengenai Osteogenesis Imperfecta. Kami berharap PPK ini dapat digunakan oleh semua pihak baik dokter spesialis anak, petugas kesehatan lainnya dan pemegang kebijakan dalam menangani pasien anak dan remaja yang menderita Osteogenesis imperfecta. Dengan selesainya PPK diagnosis dan tatalaksana Osteogenesis imperfekta kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim penyususun PPK ini yaitu dr I Made Arimbawa, Sp.A(K) sebagai ketua tim, dr Indra Widjaja himawan, Sp.A(K) sebagai sekretaris tim dan anggota tim yang terdiri dari Prof. dr. Jose RL. Batubara, PhD, Sp.A(K), Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), dr. A. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A(K), dr Eka Agustia Rini, Sp.A(k), dr. Antonius H. Pudjiadi, Sp.A(K), dr Iffa Mutmainah dan dr. Fenny D Silva. Kepada ketua umum PPIDAI beserta sekretariat PP IDAI atas iv

dukungannya dalam pembuatan PPK ini. Kami juga mohon maaf apabila masih ada kekurangan dalam PPK ini, dan semoga PPK ini bermanfaat untuk semua, terima kasih I Wayan Bikin Suryawan Ketua UKK Endokrinologi IDAI Ukk Endokrinologi IDAI v

Kata Sambutan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Salam hormat dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak indonesia Puji dan syukur kepada Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-nya, Buku Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia Osteogenesis Imprefecta yang merupakan hasil karya Unit kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi, dapat diterbitkan. Osteogenesis imperfecta (OI) merupakan kelainan yang diturunkan secara genetik. Anak dengan OI akan mengalami gangguan aktivitas dan tumbuh kembang yang tidak optimal. Gejala OI dapat bervariasi pada setiap individu, dari sangat ringan hingga berat yang dapat mengancam nyawa. Penting bagi dokter spesialis anak untuk dapat menangani dan mengontrol gejala-gejala yang dialami oleh penderita OI. Semakin dini langkah pengobatan dilakukan, maka akan semakin besar pula peluang untuk hidup sehat dan produktif. Ikatan Dokter Anak Indonesia senantiasa melakukan peningkatan pelayanan kesehatan anak yang optimal. Hal ini menjadi suatu keharusan demi tercapainya salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals; SDGs) terkait kesehatan. Penyusunan buku panduan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pelayanan kesehatan anak di Indonesia. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) mengucapkan selamat dan terima kasih kepada seluruh kontributor yang telah memberikan sumbangan pemikiran atas terbitnya buku PPK osteogensis imperfecta ini. Semoga buku panduan ini dapat memenuhi kebutuhan ilmiah dibidang kedokteran khususnya ilmu kesehatan anak di Indonesia. Aman B. Pulungan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia vi

Daftar Isi Tim Penyusun... iii Kata Sambutan Ketua UKK Endokrinologi...iv Kata Sambutan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia...v Daftar Isi...vii Daftar Tabel...ix Daftar Gambar...ix Daftar Singkatan...x A. Pendahuluan...1 B. Kriteria Diagnosis...1 B.1. Anamnesis...2 B.2. Pemeriksaan Fisis...2 B.3. Alur diagnosis:...2 B.4. Pemeriksaan penunjang...4 C. Tata laksana...4 C.1. Medikamentosa...4 C.2. Bedah ortopedi...6 C.3. Rehabilitasi medik...6 C.4. Konseling genetik...6 C.5. Konsultasi ahli terkait...7 D. Pemantauan...7 Ukk Endokrinologi IDAI vii

viii

Daftar Tabel Tabel 1. Klasifikasi Osteogenesis Imperfecta...2 Tabel 2. Protokol Pemberian Bifosfonat...5 Tabel 3. Persiapan Pemberian Infus Asam Zoledronat...6 Daftar Gambar Gambar 1. Alur Diagnosis...3 Ukk Endokrinologi IDAI ix

Daftar Singkatan AP AZ BMD DNA DPL DXA INCDS kg mg OI THT USG Anteroposterior Asam zoledronat Bone mineral density Deoxyribonucleic acid Darah perifer lengkap Dual-energy x-ray absorptiometry International Nomenclature group for Constitutional Disorders ICHG of the Skeleton kilogram milligram Osteogenesis Imperfecta Telinga Hidung Tenggorok Ultrasonografi x

A. Pendahuluan Osteogenesis Imperfecta (OI) merupakan kelainan pembentukan jaringan kolagen yang berfungsi sebagai jaringan ikat dan disebabkan oleh mutasi gen yang menyebabkan gangguan pada pembentukan kolagen tipe 1. Osteogenesis Imperfecta diturunkan secara genetik, dengan karakteristik fragilitas tulang dan rendahnya massa tulang, mempunyai kecenderungan mengalami fraktur multipel akibat trauma ringan sampai sedang. Kelainan ini disebut juga brittle bone disease. Mutasi genetik yang terjadi tidak hanya bermanifestasi sebagai kerapuhan tulang, tetapi juga berupa penipisan kulit, deviasi struktur tulang, hipermobilitas sendi, gangguan pendengaran, kerapuhan gigi, dan sklera biru. Insidens OI terdeteksi sekitar 1:20.000 sampai 50.000 kelahiran hidup serta tidak berhubungan dengan jenis kelamin maupun ras tertentu. Osteogenesis Imperfecta diklasifikasikan menjadi beberapa tipe berdasarkan manifestasi klinis dan histologis yang ditemukan serta mekanisme pewarisan mutasi genetik, secara autosomal dominan atau autosomal resesif. Diagnosis OI ditegakkan berdasarkan anamnesis termasuk riwayat keluarga, manifestasi klinis, dan pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan radiologi, laboratorium, serta bila memungkinkan kultur fibroblast dan analisis mutasi. Terapi simptomatik bertujuan untuk mengurangi angka kejadian fraktur tulang, mencegah deformitas tulang panjang dan skoliosis, serta memperbaiki fungsi. Pengobatan dengan bifosfonat (pamidronat intravena atau asam zoledronat) memiliki beberapa keuntungan yaitu bifosfonat membantu menurunkan resorpsi oleh osteoklas Prognosis bervariasi tergantung jumlah dan keparahan gejala. B. Kriteria Diagnosis Pendekatan diagnosis melibatkan semua aspek termasuk riwayat penyakit yang sama pada keluarga, riwayat kehamilan, dan pemeriksaan fisis. Pada umumnya diagnosis dapat ditegakkan secara klinis. Hanya pada beberapa situasi diperlukan pemeriksaan khusus seperti pemeriksaan kolagen dan DNA, yaitu bila setelah pemeriksaan klinis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologi diagnosis OI belum dapat ditegakkan atau masih meragukan. Ukk Endokrinologi IDAI 1

B.1. Anamnesis Riwayat prenatal Riwayat perinatal Riwayat keluarga : ditemukan patah tulang panjang pada janin saat USG : adanya fraktur : adanya kematian perinatal, adanya keluarga dengan patah tulang berulang, gigi rapuh (dentinogenesis imperfecta), sklera biru, gangguan pendengaran dini. Riwayat penyakit : mulai timbulnya, progresifitas, riwayat pertumbuhan dan adanya patah tulang berulang B.2. Pemeriksaan Fisis Pemeriksaan fisik berdasarkan jenis dan tipe OI. Fraktur dan osteopenia merupakan gambaran khas klinis OI. Klasifikasi OI adalah sebagai berikut (tabel 1): Tabel 1. Klasifikasi Osteogenesis Imperfecta Klasifikasi OI Keterangan Berdasarkan berat ringannya OI ringan sedang (tipe A) OI dengan deformitas progresif dan letal dimasa perinatal (tipe B). Menurut the International Nomenclature group for Constitutional Disorders ICHG of the Skeleton (INCDS) pada tahun 2010 Tipe 1: OI tanpa deformitas dengan sklera biru Tipe 4: Bentuk umum OI tanpa sklera biru Tipe 5 Tipe 3 OI dengan kalsifikasi pada membran intraosseous OI dengan deformitas progresif Tipe 2: OI letal dimasa perinatal Tipe 1,4,5 berdasarkan berat ringannya digolongkan sebagai OI tipe A. Tipe 2,3 digolongkan sebagai OI tipe B. 2

B.3. Alur diagnosis: Dugaan klinis OI (non familial)* Evaluasi umum sistem skeletal** Keterangan: *Fraktur berulang, ekstremitas memendek, deformitas tulang, perawakan pendek, osteoporosis dini, sklera biru, ketulian, masalah gigi, hipermobilitas sendi. **Pada perawakan pendek dan/ atau disproporsi tubuh dan/atau deformitas tulang panjang. ***Pada bayi <1 tahun sklera biru bisa merupakan tanda normal. Modelling tulang panjang abnormal Fraktur iga kongenital dan/ atau thorax pendek sempit dengan gangguan pernapasan Ya Tidak Sklera biru*** Ya Tidak Ya Tidak Femur pendek, melengkung, fraktur kecilkecil pada iga, hampir tidak ada mineralisasi tulang kepala Deformitas progresif OI tipe 1 Tulang Wormian dan/ atau osteopenia Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Femur terbentuk lebih baik, fraktur iga berkurang, dan mineralisasi berkurang Tidak Pikirkan DD OI yang lain OI tipe 2A OI tipe 3 Kalsifikasi uni/bilateral membran osseus di antara lengan bawah Tidak OI tipe 4 Sangat mungkin bukan OI OI tipe 2B Ya OI tipe 5 Ya Gambar 1. Alur Diagnosis Klinis Osteogenesis Imperfecta Sumber: Van Dijk FS, Cobben JM, Kariminejad A, Maugeri A, Nikkels PGJ, van Rijn RR, Pals G. Osteogenesis Imperfecta: a review with Clinical Samples. Mol Syndromol 2011;2:1-20. Ukk Endokrinologi IDAI 3

B.4. Pemeriksaan penunjang Radiologi: Ditemukan tanda fraktur atau penurunan densitas mineral tulang (osteopenia atau osteoporosis) dari pemeriksaan: -- USG pranatal -- Bone survey -- BMD (bila tersedia standar normal untuk anak sesuai usia) Laboratorium -- Biokimia tulang (kalsium, vitamin D, fosfat, alkali fosfatase, magnesium) Bila klinis meragukan dan pemeriksaan memungkinkan, kultur fibroblast dan analisis mutasi C. Tatalaksana Penderita OI memerlukan penanganan multidisiplin. Pemberian terapi medikamentosa diberikan setelah konsultasi dengan ahli endokrinologi anak. Pada beberapa kasus, penanganan perlu dimulai sejak lahir. Penyakit ini didasari oleh kelainan genetik maka tidak ada pengobatan definitif untuk OI, dan terutama difokuskan untuk mengurangi gejala, yang meliputi: C.1. Medikamentosa Terapi medikamentosa dapat diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan. Bisfosfonat: -- Pamidronat. Usia minimal pemberian pamidronat intravena adalah 2 minggu. Dosis yang umum digunakan adalah 9-12 mg/kg/ tahun yang diberikan secara siklik setiap 1-4 bulan, dengan protokol sebagai berikut (tabel 2). -- Asam zoledronat Usia minimal pemberian asam zoledronat intravena adalah 3 bulan (untuk usia dibawah 3 bulan pemberian terapi berdasarkan pertimbangan tim ahli, minimal 2 orang). Persiapan pemberian infus asam zoledronat ditampilkan pada tabel 3. 4

Tabel 2. Protokol Pemberian Sodium Pamidronat Pemeriksaan awal Serum Urin Radiologis BMD Kalsium, fosfat, alkali fosfatase, kreatinin, DPL Kalsium, kreatinin Kepala (AP/Lateral), vertebra (AP tegak, thoraks lateral, segmen lumbar), ekstremitas atas dan bawah (AP/ lateral), usia tulang DXA Dosis (maksimal 60 mg/ hari) Usia Dosis Frekuensi < 2 tahun 0,5 mg/kg/hari untuk 3 hari 2 bulan 2-3 tahun 0,75 mg/kg/ hari untuk 3 hari 3 bulan >3 tahun 1,0 mg/kg/hari untuk 3 hari 4 bulan Pengenceran Obat (mg) Volume NaCl 0,9% (ml) Kecepatan infus (ml/ jam) 0-5.0 50 15 5,1-10 100 30 10,1-15,0 150 45 15,1-25,0 250 75 25,1-50,0 500 150 50,1-60,0 600 180 Konsentrasi maksimal 0,1 mg/ml Pemantauan BMD setiap 2 siklus terapi atau minimal 2 kali dalam setahun Setiap siklus terapi: Evaluasi klinis Antropometri: tinggi badan, berat badan, lingkar kepala Asupan kalsium dan vitamin D Aktivitas Nyeri Jumlah fraktur, operasi Obat-obatan lainnya yang diminum Efek samping obat: demam tinggi (reaksi fase akut); pada bayi bisa disertai bronkospasme (jarang)* Evaluasi laboratorium Kreatinin serum sebelum terapi Kalsium ion sebelum infus pertama dan sebelum pulang Darah perifer lengkap Fisioterapi dan terapi okupasi dievaluasi setiap siklus terapi Ukk Endokrinologi IDAI 5

Infus intravena dosis tunggal 0,05 mg/kgbb/hari selama 30-45 menit (dosis maksimum 2 mg/infus). Untuk neonatus atau bayi kurang dari 1 tahun, dosis lebih rendah 0,025 mg/kgbb/hari. Tabel 3. Protokol pemberian infus asam zoledronat Dosis AZ dalam infus berdasarkan BB Volume NaCl 0,9% yang diperlukan Neonatus 0,0125 mg/kg/dosis 50 ml NaCl 0,9% Bayi 0,025 mg /kg/dosis 50 ml NaCl 0,9% >12 bulan 0,05 mg/kg/dosis 100 ml NaCl 0,9% Lama pemberian Interval siklus infus 45 menit - 45 menit 3 bulan 30 menit 6 bulan AZ: Asam Zoledronat Pada pemberian AZ silus pertama pasien harus menjalani rawat inap selama 2 hari untuk pemantauan ketat komplikasi akut yang mungkin terjadi. Pemberian AZ berikutnya cukup 1 hari perawatan. Semua pasien disarankan untuk menjaga asupan kalsium oral yang cukup dengan dosis harian 1200 mg bersama dengan dosis harian vitamin D (400-800 IU). C.2. Bedah ortopedi Tatalaksana ditujukan untuk perawatan fraktur dan koreksi deformitas. C.3. Rehabilitasi medik Rehabilitasi fisis dimulai sedini mungkin sehingga pasien dapat mencapai tingkat fungsional yang optimal berupa penguatan otot sendi dan mengoptimalkan mobilitas. C.4. Konseling genetik Penderita dan keluarga dijelaskan mengenai kemungkinan diturunkannya penyakit ini. 6

C.5. Konsultasi ahli terkait Konsultasi bidang ahli lain seperti dokter gigi dan spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) dilakukan sesuai indikasi. Skrining gangguan pendengaran pada pasien OI dilakukan pada usia > 10 tahun. D. Pemantauan Pemantauan klinis dan laboratorium sesuai protokol pengobatan, meliputi: Antropometri Tingkat nyeri dan riwayat/ jumlah fraktur Aktivitas, tingkat mobiltas Komplikasi pengobatan Laboratorium: darah tepi lengkap, kreatinin serum dan kalsium ion Bone survey dan BMD sesuai protokol pengobatan atau minimal setiap tahun Daftar Bacaan 1. Al-Agha AE dan Hayatalhazmi RS. Osteoporosis treatment with zoledronic acid in pediatric population at a university hospital in Western Saudi Arabia. Saudi Med J. 2015;36:1312 1318. 2. Alharbi, S.A. 2016. A systematic overview of osteogenesis imperfecta. Mol biol. 2016;5:1-9. 3. Byers PH, Deborah Krakow D, Nunes ME, Melanie Pepin M. Genentics In Medicine. 2006;8:383-388. 4. Dijk VFS, Sillence DO. Osteogenesis imperfecta: clinical diagnosis, nomenclature and severity assessment. Am J Med Genet Part A. 2014;164A:1470 1481. 5. Letocha AD, Cintas HL, Troendle JF, Reynolds JC, Cann CE, Chernoff EJ, dkk. Controlled trial of pamidronate in children with types III and IV osteogenesis imperfecta confirms vertebral gain but not short-term functional improvement. J bone and mineral. 2005;20:977-986. 6. Lindahl K, Kindmark A, Rubin CJ, Malmgren B, Grigelioniene G, Söderhäll S. Decreased fracture rate, pharmacogenetics and BMD response in 79 Swedish children with osteogenesis imperfecta types I,III and IV treated with pamidronate. 2016;87:11-18. Ukk Endokrinologi IDAI 7

7. Marzuki NS, Batubara JRL. Osteogenesis Imperfecta. Dalam: Batubara JRL, Tridjaja B, Pulungan A, penyunting. Buku Ajar Endokrinologi Anak. Edisi ke- 2. In Press. 8. Rijks EBG, Bongers BC, Vlemmix MJG, Boot AM, van Dijk ATH, Sakkers RJB, dkk. Efficacy and safety of bisphosphonate therapy in children with osteogenesis imperfecta : systematic review, hormone research in pediatrics. Horm Res Paediatr. 2015;84:26-42. 9. Sánchez-Sánchez LM, Cabrera-Pedroza AU, Palacios-Saucedo G, de la Fuente- Cortez B Zoledronic acid (zoledronate) in children with osteogenesis imperfecta (OI). Gac Med Mex.2015;151:152-156. 10. Starr RS, Roberts TT, Fischer PR. Osteogenesis Imperfecta: Primary Care. Ped in Review. 2010;31:e54-e64. 11. van Dijk FS, Byers PH, Dalgleish R, Malfait F, Maugeri A, Rohrbach M, dkk. Best practice guidelines for the laboratory diagnosis of osteogenesis imperfecta. European Journal of Human Genetics. 2012;20:11 19. 12. Zeitlin L, Rauch F, Plotkin H, Glorieux FH. Height and weight development during four years of therapy with cyclical intravenous pamidronate in children and adolescents with osteogenesis imperfecta types I, III, and IV. Pediatrics. 2003;111:1030-6. 8