Jurnal Ilmu Kesehatan Anak
|
|
|
- Suryadi Jayadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Ilmu Kesehatan Anak VOLUME I Juni 2013 NOMOR 2 Laporan Kasus Osteogenesis Imperfekta pada Bayi Perempuan Berusia 2 Hari Doddy Kurnia Indrawan, Bikin Suryawan, Arimbawa Abstrak Osteogenesis Imperfekta (OI) merupakan kelainan genetic autosomal dominan dengan karakteristik fragilitas tulang dan rendahnya massa tulang. Diagnosis ditentukan secara klinis dan pemeriksaan rontgenologis. Terapi simtomatik bertujuan untuk mengurangi angka patah tulang, mencegah deformitas tulang panjang dan skoliosis, serta memperbaiki fungsi. Prognosis bervariasi tergantung jumlah dan keparahan gejala. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk membuat kita lebih waspada terhadap penyakit ini, mengetahui gejala klinis, terapi, komplikasi, dan prognosis Kasus kami adalah seorang bayi usia 2 hari dengan keluhan utama kemerahan dan bengkak pada kedua kaki dan tangan yang terlihat sejak lahir tanpa riwayat trauma kelahiran maupun kecelakaan. Bayi menangis saat bengkak disentuh dan digerakkan. Pada pemeriksaan rontgen didapatkan berbagai fraktur tulang ekstremitas. Pada tengkorak tidak didapatkan kelainan. Kadar kalsium rendah. Pasien mendapat terapi infus pamidronate 30 mg/m 2 luas permukaan tubuh (12 mg) setiap 4 bulan. Pasca terapi, serum Ca normal. Pada akhir siklus kedua terapi, tidak didapatkan pembengkakan dan deformitas akut dari tulangnya. Terapi pemeliharaan adalah rawat bersama dengan rehabilitasi medis. ( JIKA. 2013;I:73-81) Keyword : Osteogenesis Imperfekta, bayi, Fraktur Pamidronate Abstract Osteogenesis Imperfecta (OI) is a genetic abnormalitiy characterized by bone fragility and low bone mass. Diagnosis is determined by clinical and rontgenoplogic findings. Symptomatic treatment is aimed to reduce fracture, prevent deformity and scoliosis as well as preserve function. Prognosis varies based on symptom number and severity. This report aimed to increase awareness and knowledge for management. Case is in 2 days-old baby with redness and swollen over two legs and arms since birth, with no birth trauma noted. Baby cried when he was touched or moved. X ray showed multiple fracture on extremities, but not on skull. Low calcium level also noted. Treatment consist of pamidronate 30 mg/m 2 body area (12 mg) every 4 month. After second treatment cycle, swollen and fracture was disappeared. Physical therapy also given during maintenance treatment. ( JIKA. 2013;I:73-81) Keyword : Osteogenesis Imperfekta, baby, Fraktur Pamidronate * Dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar,Indonesia. Permintaan Cetak ulang ditujukan kepada: Doddy Kurnia Indrawan Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah, Jl. P. Nias, Denpasar, Bali, Indonesia. Telepon / Fax / JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
2 Angka kejadian dan prevalensi Osteogenesis Imperfekta (OI) merupakan gangguan pembentukan tulang yang bersifat diturunkan, dengan karakteristik fragilitas tulang dan rendahnya massa tulang. OI merupakan gangguan jaringan ikat bersifat genetik yang cukup jarang dijumpai, disebabkan oleh mutasi gen yang bertugas mengkode prokolagen tipe 1 (COL1A1 dan COL1A2) dan menyebabkan gangguan pada pembentukan kolagen tipe 1. 1 Spektrum klinis OI sangat luas, mulai dari bentuk letal pada masa perinatal hingga bentuk ringan yang membuat diagnosis penyakit ini pada dewasa menjadi kurang jelas. 2 OI bersifat autosomal dominan yang dapat terjadi pada semua ras dan suku bangsa. Umumnya anak akan menunjukkan OI meskipun tak seorangpun dari orangtua membawa gen yang salah. Ini disebut mutasi spontan. Anak dengan OI memiliki kesempatan yang sama menurunkan penyakit ini kepada anaknya, sama halnya seperti seseorang yang diturunkan gen autosomal dominan. 3 secara akurat belum tersedia. Telah dilaporkan bahwa angka kejadian OI yang bisa dideteksi pada bayi adalah 1 dalam hingga ,4 Pada OI dapat dijumpai tulang yang lemah, sklera berwarna biru, dan tuli, dibedakan menjadi 4 tipe berdasarkan kriteria klinis dan radiologi. Tipe 1 merupakan tipe yang paling sering dijumpai dan merupakan tipe yang paling ringan. Tipe II (perinatal lethal) merupakan bentuk paling berat. Bayi dapat lahir meninggal atau meninggal pada tahun pertama kehidupan. Tipe III merupakan bentuk paling berat dari bentuk OI nonletal dan menyebabkan kecacatan fisik yang bermakna. Tingkat keparahan OI tipe IV berada diantara tipe I dan tipe III. 2 Tujuan utama terapi anak dengan OI adalah untuk menurunkan angka patah tulang, mencegah deformitas tulang panjang dan skoliosis, dan memperbaiki outcome fungsional. 4 Prognosis individu dengan OI bervariasi tergantung dengan jumlah dan keparahan simptom. Meskipun terdapat patah tulang, keterbatasan JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
3 aktivitas, dan perawakan pendek, kebanyakan anak dengan OI tetap produktif dan memiliki kehidupan yang sukses. 3 Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk membuat kita lebih waspada terhadap penyakit ini, mengetahui simptom klinis, terapi, komplikasi, dan prognosis. Kasus Bayi berumur 2 hari MRS ke RSUP Sanglah pada tgl 3 Juni 2009 dengan keluhan utama kemerahan dan bengkak pada kedua kaki dan tangan. Kondisi ini sudah terlihat sejak lahir dan tanpa ada riwayat trauma kelahiran maupun kecelakaan. Bayi menangis saat bengkak disentuh dan digerakkan. Gambar 1 menunjukkan bayi tersebut: Gambar 1. Traksi pada extremitas bayi Tidak terdapat keluhan sesak napas, kejang dan diare pada pasien. Tidak didapatkan pula penurunan menyusu pada pasien. Riwayat keluarga dengan keluhan serupa dikatakan tidak ada. Tidak ada riwayat sklera berwarna biru pada anggota keluarga, abnormalitas skeletal maupun tuli pada keluarga. Ibu dari pasien tidak pernah mengalami penyakit serrius selama kehamilan. Persalinan dibantu oleh bidan, dengan berat lahir gram. Frekuensi nadi 128x/menit reguler, frekuensi napas 30x/menit dan temperatur aksila 36,8 C. Berat badan gram, panjang badan 48 cm dan lingkar kepala didapatkan normal (32 cm). Sklera berwarna biru tidak didapatkan pada kedua mata. Hidung, tenggorokan dan gigi didapatkan normal. Tidak didapatkan kaku kuduk maupun pembesaran kelenjar getah bening pada daerah leher. Pada pemeriksaan dada, didapatkan gerak napas simetris dan tidak terdapat retraksi. Suara napas vesikuler, tanpa rales dan mengi serta suara jantung didapatkan normal. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan bising usus normal. Hepar dan lien tidak teraba. JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
4 Pada ekstremitas didapatkan hangat, tanpa sianosis dan perfusi kapiler yang baik pada keempat extremitas. Berdasarkan manifestasi klinis, diagnosis kerja pada pasien adalah kecurigaan deformitas pada extremitas. Pemeriksaan yang direncanakan adalah bone survey (tulang tengkorak, thorax, cervical, lengan atas, thoraco-lumbal, femur, ankle) dan pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, elektrolit serum (Na, K, Cl, Ca,), BUN, kreatinin serum. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan hemoglobin 15,1 g/dl, sel darah putih15,2 K/ul, dan trombosit 220 K /ul. Na 136,9 mmol/l, K 4,7 mmol/l, Cl 108 mmol/l, Ca 10,3 mmol/l. Pemeriksaan serum elektrolit, BUN, kreatinin serum dalam batas normal. Pada pemeriksaan bone survey didapatkan : transverse fraktur transversal mid-radius dextra, fraktur transversal mid-radius sinistra dengan angulasi medial, dan fraktur lama pada mid-femoralis dextra dengan kalus dan angulasi medial. Tulang tampak aneh dan terdapat deformitas multipel pada extremitas superior dan inferior. Pada roentgen tulang tengkorak tidak didapatkan kelainan. Gambar 2. Penampang AP bone survey menujukkan deformitas multipel pada extremitas superior and inferior Berdasarkan temuan klinis, laboratorium, dan pemeriksaan roentgen pasien didiagnosis dengan OI. Pasien kemudian direncanakan untuk dikonsulkan ke spesialis Bedah Orthopaedi. Bedah Orthopaedi menyarankan untuk terapi konservatif dan tidak ada terapi khusus untuk kondisi ini. Terapi yang didapatkan pasien adalah infus pamidronate 30 mg/m 2 body area (12 mg) selama 2 hari, dilarutkan dengan 100 ml NaCl 0,9% setiap 4 bulan. Pada tanggal 19 Juni 2009 dan 20 Juni 2009 terapi dimulai. JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
5 Tidak didapatkan efek samping pemberian pamidronate pada pasien, seperti febris, nyeri pada muskuloskeletal dan kadang dijumpai muntah. Pada follow up laboratorium didapatkan bahwakadar serum Ca normal setelah pemberian pamidronate. Setelah 4 bulan (24 Oktober 2009) pasien menjalani siklus kedua dari terapi, tidak didapatkan pembengkakan dan deformitas akut dari tulangnya. Pasien direncanakan untuk dikonsulkan ke rehabilitasi medis setelah menjalani terapi dengan pamidronate. Diskusi Kolagen tipe 1 dijumpai di tulang, kapsula organ, fasia, kornea, sklera, tendon, meningen, dan dermis. Kolagen tipe 1 merupakan protein yang kurang pada OI. Secara struktur, kolagen tipe 1 terdiri dari sebuah left-handed helix yang dibentuk pleh jalinan rantai proalpha 1 dan pro-alpha 2 chains. Mutasi pada lokus yang mengkode rantai tersebut (COL1A1 pada rantai 17q21 and COL1A2 pada rantai 7q22.1) menyebabkan OI. 1 Pada kasus tidak dilakukan pemeriksaan PCR untuk menemukan lokus COL1A1 pada rantai 17q21 dan COL1A2 pada rantai 7q22.1. OI merupakan kelainan yang bersifat autosomal dominan yang dapat terjadi pada semua RAS dan suku. Pasien umumnya memiliki riwayat keluarga dengan OI, namun kebanyakan kasus OI disebabkan oleh mutasi baru. Pasien sebaiknya menjumpai seorang konselor genetika yang akan menggali informasi mendetail pada riwayat keluarga. Pertanyaan utama yang harus ditanyakan pada keluarga adalah mengenai tinggi badan anggota keluarga, warna sklera, riwayat patah tulang dan adanya tuli pada anggota keluarga. Anak yang lain dapat lahir dengan OI meskipun tidak didapatkan kelainan pada anggota keluarga. Kerusakan gen dapat terjadi sebagai mutasi spontan sehingga pasien OI memiliki kemungkinan sebesar 50% untuk menurunkan kelainan tersebut kepada anaknya. 2,5 Pada kasus tidak didapatkan riwayat keluarga dengan sklera berwarna biru, abnormalitas skeletal maupun tuli, dan kemungkinan JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
6 kerusakan gen yang terjadi berasal dari mutasi spontan. Tanda dari OI adalah adanya tulang yang rapuh disertai fraktur baik tanpa, maupun disertai trauma yang bersifat ringan atau sedang. Secara umum, semakin awal fraktur terjadi, semakin berat derajat OI yang diderita. Extremitas bawah merupakan daerah yang paling sering terkena. Fraktur femoral merupakan jenis fraktur pada tulang panjang yang paling sering terjadi, dengan lokasi umumnya pada bagian tulang yang konveks, transversal, dan bergeser secara minimal. 2,4,6 Pada kasus, pasien mengalami deformitas multipel pada extremitas yang terjadi tanpa didahului trauma sebelumnya dan kelainan tersebut sudah ada sejak lahir Terdapat 4 tipe dari Oi. Tabel 1 menunjukkan tipe OI. Tabel 1. Empat tipe OI. 1,2,7 Most common and mildest type of OI. Bones predisposed to fracture. Most fractures occur before puberty. Normal or near-normal stature. Loose joints and muscle weakness. Sclera (whites of the eyes) usually has a blue, purple, or gray tint. Triangular face. Frequently lethal at or shortly after birth, often due to respiratory problems. In Recent years, some people with Type II have lived into young adulthood. Bones fracture easily. Fractures often present at birth, and x rays may reveal popcorn appearance at the metaphyses and healed fractures. Short stature. Sclera hue range from white to blue. Loose joints and poor muscle development in arms and legs. Type I Type II Type III Tendency toward spinal curvature. Bone deformity absent or minimal. Brittle teeth possible. Hearing loss possible, often beginning in early 20s or 30s. Collagen structure is normal, but the amount is less than normal. Numerous fractures and severe bone deformity. Small stature with underdeveloped lungs. Collagen improperly formed. Spinal curvature, scoliosis, vertebre compression. Respiratory problems possible. Bone deformity, often severe. Brittle teeth possible. Hearing loss possible. Collagen improperly formed. Barrel-shaped rib cage. Triangular face. Between Type I and Type III in severity. Bones fracture easily, most before puberty. Type IV Barrel-shaped rib cage. Triangular face. JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
7 Shorter than average stature. Sclera are white or near-white (i.e., normal in color). Mild to moderate bone deformity. Tendency toward spinal curvature. Brittle teeth possible. Hearing loss possible. Collagen improperly formed. Source: Plotkin HB, Pattekar MA. Osteogenesis imperfecta [cited 2006 Dec 22]. Available from: URL: http// Pada kasus, pasien sejak lahir memiliki extremitas yang pendek, beberapa patah tulang, dan deformitas tulang yang bersifat berat. Sklera tidak berwarna abu, sehingga sesuai dengan OI tipe II. Penyembuhan OI sampai saat ini belum ditemukan. Oleh sebab itu, pananganan penyakit ini difokuskan pada simptom, mencegah komplikasi, dan menjaga massa tulang serta kekuatan otot. Bisphosphonate (pamidronate), merupakan bisphosphonate yang mengandung nitrogen, diberikan untuk menambah massa tulang dan menurunkan kejadian patah tulang. Bisphosphonate mengandung nitrogen yang paling sering digunakan adalah pamidronate, olpadronate, ibandronate, alendronate, risedronate, dan zoledronate. Literatur medis saat ini dipenuhi laporan kasus yang memuji kesuksesan terapi OI dengan bisphosphonate. Sebagai dampak, bisphosphonate saat ini secara luas digunakan untuk terapi OI pada anak, remaja dan orang dewasa. Hampir semua laporan melibatkan penggunaan pamidronate intravena Pada kasus digunakan pamidronate intravena melalui infus. Pamidronate biasanya diberikan dalam 2 hari berturut-turut setiap tiga hingga empat bulan dengan dosis 30 mg/m 2 luas permukaan tubuh untuk 2 hari. Pada hari pertama siklus pertama, pasien hanya mendapat sebagian dari dosis. 1,11 Pada kasus, diberikan 12 mg. Pada hari pertama diberikan 6 mg dan pada hari kedua 6 mg. Reaksi pada fase akut ditandai dengan demam, nyeri pada muskuloskeletal dan muntah. Terdapat beberapa laporan terbaru menyebutkan hipokalsemia simptomatis berat terjadi setelah pemberian pamidronate intravena. 8,11,12,13 JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
8 Pada kasus, pasien tidak mengalami demam maupun muntah. Pemeriksaan kalsium serum dalam batas normal. Terapi fisik dan rehabilitasi diperlukan sebagai bentuk terapi yang menyeluruh pada bayi dan anak dengan OI. Terapi sebaiknya ditujukan untuk memperbaiki mobilitas sendi dan mengembangkan kekuatan otot. 1 Pada kasus, pasien direncanakan untuk menjalani terapi fisik dan rehabilitasi setelah terapi pamidronate. Luaran dari OI sangat beragam. Sejumlah parameter digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan terapi bisphosphonate meliputi peningkatan densitas mineral tulang, penurunan angka patah tulang, penurunan keluhan nyeri, perbaikan saat berjalan, dan peningkatan ketebalan korteks yang terlihat pada roentgen polos. Petanda biokemia dari pergantian tulang bernama n-telopeptide (NTX), sangat bermanfaat untuk memantau terapi pamidronate. Ekskresi NTX lewat urin mencerminkan penurunan resorpsi tulang pada pasien yang menerima terapi antiresorptif. Sebagai tambahan, nyeri dan kebutuhan akan pembedahan, digunakan untuk memantau respon terapi. 4,11 Pada kasus, tidak dilakukan pengukuran parameter luaran (NTX), namun setelah pemberian pamidronate kemerahan dan bengkak pada extremitas membaik. OI merupakan suatu kondisi kronis yang membatasi harapan hidup dan fungsi penderitanya. OI tipe II merupakan bentuk yang paling berat dan menyebabkan kematian pada masa perinatal. Pasien yang menderita OI tipe II menunjukkan fraktur multipel pada iga maupun tulang panjang, deformitas tulang yang berat, dan pada akhirnya menyebabkan kegagalan fungsi respirasi. Pada kasus, pasien menderita OI tipe II yang memiliki prognosis buruk. Simpulan Diagnosis OI tipe II ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis, laboratorium, serta temuan roentgen. Literatur medis saat ini dipenuhi laporan kasus yang memuji kesuksesan terapi OI dengan bisphosphonate. Sebagai dampak, bisphosphonate saat ini secara luas digunakan untuk terapi OI pada JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
9 anak, remaja dan orang dewasa. Bisphosphonate diberikan dalam 2 hari berturut-turut setiap tiga hingga empat Daftar Pustaka bulan dengan dosis 30 mg/m 2 luas permukaan tubuh dalam 2 hari, dan tidak didapatkan efek samping. 1. Plotkin HB, Pattekar MA. Osteogenesis imperfecta [Disitasi 22 Desember 2006]. Diunduh dari: URL: http// 2. Marini JC. Osteogenesis imperfecta. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson text book of pediatrics. Philadelphia: Saundres, h The National Institute of Health. Osteogenesis imperfecta overview [cited 2006 Dec 22]. Diunduh dari: URL: http/// 4. Chevrel G. Osteogenesis imperfecta [Disitasi 22 Desember 2006]. Diunduh dari: URL: http/// 5. Pepin M, Atkinson M, Starman BJ, Byers PH. strategies and outcome of prenatal diagnosis for osteogenesis imperfecta: a review of biochemical and melecular studies completed in 129 pregnancies. Pregnt Diagn 1997; 17: Aurbach GD, Marx SJ, Spiegel AM. Metabolic bone disease. Dalam: Wilson JD, Foster DW, editors. Williams text book of endocrinology. 8 th edition. Philadelphia: WB saunders Co, h Goldman AM, Davidson D, Pavlov H, Bullough PG. Popcorn calcifications: a prognostic sign in osteogenesis imperfecta. Pediatric Radiology 1980; 136: Shaw NJ, Bishop NJ. Biphosphonate treatment of bone disease. Arch Dis Child 2005; 90: Falk MJ, Heeger S, Lynch KH. Intravenous biphosphonate therapy in children with osteogenesis imperfecta. Pediatrics 2003; 111: Astrom E, Soderhall S. Beneficial effect of long term intravenous bisphosphonate treatment of osteogenesis imperfecta. Arch Dis Child 2002; 86: Morris CD, Einhorn TA. Current concepts review biphosponate in orthopaedic surgery [cited 2006 Dec 10]. Diunduh dari: URL: Lindsay R. Modeling the benefits of pamidronate in children with osteogenesis imperfecta. J. Clin. Invest 2002; 110: Williams CJC, Smith RA, Ball RJ, Wilkinson H. Hypercalcaemia in osteogenesis imperfecta treated with pamidronate. Arch Dis Child 1997; 76: JIKA, Vol. I, No. 2, Juni
BAB V KESIMPULAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1
BAB V KESIMPULAN Osteogenesis imperfekta (OI) atau brittle bone disease adalah kelainan pembentukan jaringan ikat yang umumnya ditandai dengan fragilitas tulang, osteopenia, kelainan pada kulit, sklera
BAB I PENDAHULUAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Osteogenesis imperfekta (OI) atau brittle bone disease adalah kelainan pembentukan jaringan ikat yang umumnya ditandai dengan fragilitas tulang, osteopenia, kelainan
BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI
BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI Hipoposphatasia merupakan penyakit herediter yang pertama kali ditemukan oleh Rathbun pada tahun 1948. 1,2,3 Penyakit ini dikarakteristikkan oleh gen autosomal resesif pada bentuk
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN S IDENTITAS PASIEN S NAMA: MUH FARRAZ BAHARY S TANGGAL LAHIR: 07-03-2010 S UMUR: 4 TAHUN 2 BULAN ANAMNESIS Keluhan utama :tidak
MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT
TEAM BASED LEARNING MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof. Dr. dr. Syarifuddin Rauf, SpA(K) Prof. dr. Husein Albar, SpA(K) dr.jusli
LAPORAN JAGA 24 Maret 2013
LAPORAN JAGA 24 Maret 2013 Kepaniteraan Klinik Pediatri Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta 2013
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar belakang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan ilmu
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tidak akan pernah lepas
DAFTAR ISI. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv. KATA PENGANTAR... v. ABSTRAK... vi. ABSTRCT... vii RINGKASAN...
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PERSETUJUAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv KATA PENGANTAR... v ABSTRAK... vi ABSTRCT... vii RINGKASAN... viii SUMMARY...
Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio
Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,
Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Kanker Payudara Kanker payudara merupakan kanker yang paling umum diderita oleh para wanita di Hong Kong dan negara-negara lain di dunia. Setiap tahunnya, ada lebih dari 3.500 kasus kanker payudara baru
PORTOFOLIO KASUS MEDIK
PORTOFOLIO KASUS MEDIK Oleh: dr. Sukron Nanda Firmansyah PENDAMPING: dr. Moch Jasin, M.Kes Portofolio Kasus No. ID dan Nama Peserta : dr. SukronNanda Firmansyah No. ID dan Nama Wahana: RSU Dr. H. Koesnadi
Portofolio Kasus 1 SUBJEKTIF OBJEKTIF
Portofolio Kasus 1 SUBJEKTIF Pasien Tn.D, 22 tahun datang dengan keluhan nyeri pinggang kiri sejak 3 hari yang lalu, mual dan muntah sebanyak 3 kali sejak 2 malam yang lalu. Selain itu os juga mengeluhkan
ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB OSTEOPOROSIS. Paulus Budi Santoso ( ) Pembimbing : David Gunawan T., dr
ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB OSTEOPOROSIS Paulus Budi Santoso (0210186) Pembimbing : David Gunawan T., dr Osteoporosis merupakan new communicable disease yang banyak dibicarakan, dan menyerang terutama
CASE REPORT SESSION OSTEOARTHRITIS. Disusun oleh: Gisela Karina Setiawan Abednego Panggabean
CASE REPORT SESSION OSTEOARTHRITIS Disusun oleh: Gisela Karina Setiawan 1301-1210-0072 Abednego Panggabean 1301-1210-0080 Pembimbing: Vitriana, dr., SpKFR BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic
BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular adalah sistem organ pertama yang berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang
REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang
REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang SKDI 2012 : LBP Tingkat kompetensi : 3A Lulusan dokter mampu : Membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut,
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Gangguan Ginjal Akut pada Pasien Kritis Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut, merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan kadar
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) Pembicara/ Fasilitator: DR. Dr. Dedi Rachmadi, SpA(K), M.Kes Tanggal 15-16 JUNI 2013 Continuing Professional
Metode Pemecahan Masalah Farmasi Klinik Pendekatan berorientasi problem
Metode Pemecahan Masalah Farmasi Klinik Pendekatan berorientasi problem Komponen dalam pendekatan berorientasi problem Daftar problem Catatan SOAP Problem? A problem is defined as a patient concern, a
ADHIM SETIADIANSYAH Pembimbing : dr. HJ. SUGINEM MUDJIANTORO, Sp.Rad FAKULTAS KEDOKTERAN UNIV. MUHAMMADIYAH JAKARTA S t a s e R a d i o l o g i, R u
ADHIM SETIADIANSYAH Pembimbing : dr. HJ. SUGINEM MUDJIANTORO, Sp.Rad FAKULTAS KEDOKTERAN UNIV. MUHAMMADIYAH JAKARTA S t a s e R a d i o l o g i, R u m a h S a k i t I s l a m J a k a r t a, P o n d o k
BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang. Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang
BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang terjadi pada anak sebagai akibat dari infeksi rubela pada ibu selama kehamilan. WHO memperkirakan
Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.
Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis
Pembimbing Residen : dr. Praharsa Akmaja Chaetajaka Supervisor : dr. Taufiqqulhidayat, Sp.Rad. Anggota : Monareza Restantia Shirly D.
OSTEOARTHRITIS Pembimbing Residen : dr. Praharsa Akmaja Chaetajaka Supervisor : dr. Taufiqqulhidayat, Sp.Rad Anggota : Monareza Restantia Shirly D. C 111 11 178 Uswah Hasanuddin C 111 11 206 Citra Lady
3. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus) dan Buta Warna. Pemeriksaan HBs Ag Malaria (untuk daerah endemis malaria)
Lampiran : Surat No. 224/DL.004/V/AMG-2012 Tanggal 15 Mei 2012 Hal : Pemeriksaan Kesehatan MACAM DAN JENIS PEMERIKSAAN KESEHATAN 1. Riwayat Penyakit (Anamnesis) 2. Pemeriksaan Fisik (Physical Test) 3.
Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan
Sariawan Neng...! Kata-kata itu sering kita dengar pada aneka iklan suplemen obat panas yang berseliweran di televisi. Sariawan, gangguan penyakit pada rongga mulut, ini kadang ditanggapi sepele oleh penderitanya.
umumnya, termasuk kesehatan gigi dan mulut, mengakibatkan meningkatnya jumlah anak-anak
Penatalaksanaan Dentinogenesis Imperfecta pada Gigi Anak Abstract Winny Yohana Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Dentinogenesis imperfecta adalah suatu kelainan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ibu selama kehamilan. Ketika ibu hamil mendapatkan infeksi virus rubella maka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan suatu kumpulan kelainan kongenital yang terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari infeksi rubella pada ibu selama kehamilan.
BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Berdasarkan laporan WHO, kasus baru tuberkulosis di dunia lebih dari 8 juta pertahun. Diperkirakan 20-33% dari penduduk dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR
LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR Diajukan guna melengkapi tugas Komuda Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI A. PENGERTIAN Chikungunya berasal dari bahasa Shawill artinya berubah bentuk atau bungkuk, postur penderita memang kebanyakan membungkuk
BAB I PENDAHULUAN. jaman. Termasuk ilmu tentang kesehatan yang di dalamnya mencakup. manusia. Selama manusia hidup tidak pernah berhenti menggunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang seiring perkembangan jaman. Termasuk ilmu tentang kesehatan yang di dalamnya mencakup bahasan tentang berbagai macam
BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini disebabkan oleh demam dimana terdapat kenaikan suhu
BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak azasi manusia dan setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya. (Undang Undang Dasar Negara Republik
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL Pendahuluan Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang
THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010
THALASEMIA A. DEFINISI Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita
BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sebagai alat pergerakan yang membantu manusia untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tulang merupakan bagian tubuh manusia yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia sebagai alat pergerakan yang membantu manusia untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK YANG DISEBABKAN KARENA INFEKSI TONSIL DAN FARING
KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK YANG DISEBABKAN KARENA INFEKSI TONSIL DAN FARING Pasaribu AS 1) 1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ABSTRAK Latar Belakang. Kejang adalah peristiwa yang
LAPORAN KASUS BEDAH PLASTIK
LAPORAN KASUS BEDAH PLASTIK SEORANG LAKI-LAKI 17 TAHUN DENGAN FRAKTUR SEGMENTAL MANDIBULA DEXTRA TERTUTUP NON KOMPLIKATA Pembimbing dr. Benny Issakh, Sp.B, SpB.Onk Disusun Oleh Hj Mutiara DPR 22010111200152
BAB III TINJAUAN KASUS
BAB III TINJAUAN KASUS Pada bab ini penulis akan memaparkan Asuhan keperawatan pada klien Tn. P dengan Fraktur Femur di ruang Bedah laki-laki (A 3 ) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Adapun data diperoleh dari
Wabah Polio. Bersama ini kami akan membagi informasi mengenai POLIO yang sangat berbahaya, yang kami harap dapat bermanfaat untuk kita semua.
Environment & Social Responsibility Division ESR Weekly Tips no. 14/V/2005 Sent: 10 Mei 2005 Wabah Polio Seiring dengan gencarnya kasus wabah Polio yang menimpa Indonesia terutama di beberapa daerah, yang
LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor
LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor A. DEFINISI Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang bersifat analitik prospektif dengan time series design. 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1.
BAB III BAHAN DAN METODE
17 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. BAHAN Sampel penelitian diambil dari medical record (catatan medis) rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta pada tanggal 13-16 Desember 2005. Sampel terdiri dari data pasien
BAB I PENDAHULUAN. sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1.1 Latar Belakang Fraktur femur merupakan salah satu trauma mayor di bidang Orthopaedi. Dikatakan sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian di bagian Ilmu Penyakit Dalam, sub
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian di bagian Ilmu Penyakit Dalam, sub bagian Penyakit Tropik Infeksi di RSUP Dokter Kariadi Semarang 4.2 Tempat dan
BAB I PENDAHULUAN. Maha Kuasa. Di dalam Al Qur'an Surat Ali Imran surat ke 3 ayat ke 185
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap makhluk hidup yang bernyawa pasti akan mati, termasuk kita manusia. Kita tidak tahu kapan kita akan mati, yang tahu hanyalah Allah Yang Maha Kuasa. Di
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA MIOMA UTERI DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA MIOMA UTERI DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2013-2014 Deryant Imagodei Noron, 2016. Pembimbing I : Rimonta F. Gunanegara,dr.,Sp.OG Pembimbing II : Dani, dr.,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pukul WIB Ny Y datang ke
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL I. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR Pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pukul 22.07 WIB Ny Y datang ke RSUD Sukoharjo dengan membawa
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh survei ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia, pada penderita
Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9
Kanker Paru-Paru Kanker paru-paru merupakan kanker pembunuh nomor satu di Hong Kong. Ada lebih dari 4.000 kasus baru kanker paru-paru dan sekitar 3.600 kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini setiap
HUBUNGAN SIKAP DUDUK SALAH DENGAN TERJADINYA SKOLIOSIS PADA ANAK USIA TAHUN DI SEKOLAH DASAR NEGERI JETIS 1 JUWIRING
HUBUNGAN SIKAP DUDUK SALAH DENGAN TERJADINYA SKOLIOSIS PADA ANAK USIA 10 12 TAHUN DI SEKOLAH DASAR NEGERI JETIS 1 JUWIRING DISUSUN OLEH : ANDUNG MAHESWARA RAKASIWI J 110070089 PROGRAM STUDI D4 FISIOTERAPI
Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk
Pelayanan Kesehatan bagi Anak Bab 7 Gizi Buruk Catatan untuk fasilitator Ringkasan kasus Joshua adalah seorang anak laki-laki berusia 12 bulan yang dibawa ke rumah sakit kabupaten dari rumah yang berlokasi
PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita
Saat menemukan penderita ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya, baik itu untuk mengatasi situasi maupun untuk mengatasi korbannya. Langkah langkah penilaian pada penderita
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur dan fungsi pada jantung yang muncul pada saat kelahiran. (1) Di berbagai negara maju sebagian besar pasien PJB
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid termasuk dalam 10 besar masalah kesehatan di negara berkembang dengan prevalensi 91% pada pasien anak (Pudjiadi et al., 2009). Demam tifoid merupakan penyakit
KASUS GIZI BURUK. 1. Identitas. a. Identitas Balita. : Yuni Rastiani. Umur : 40 bln ( ) Tempat Tanggal Lahir : Tasikmalaya,
KASUS GIZI BURUK 1. Identitas a. Identitas Balita Nama : Yuni Rastiani Umur : 40 bln (29-06-2009) Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 29-06-2009 Alamat Agama Suku : Bojong Kaum
Osteogensis Imperfecta
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2016 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Penyunting Nanis Sacharina Marzuki I Made Arimbawa Indra Widjaja
1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down
1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down 2. Definisi : Sindrom down atau yang dikenal dengan Trisomy 21 merupakan kelainan kromosom berupa penambahan sebagian atau seluruh kromosom 21. Kelainan kromosom
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA KANKER PARU DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2011
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA KANKER PARU DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2011- DESEMBER 2011 Christone Yehezkiel P, 2013 Pembimbing I : Sri Utami Sugeng, Dra., M.Kes. Pembimbing II :
BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sekitar 5%-10% dari seluruh kunjungan di Instalasi Rawat Darurat bagian pediatri merupakan kasus nyeri akut abdomen, sepertiga kasus yang dicurigai apendisitis didiagnosis
ABSTRAK. Hubungan Penurunan Pendengaran Sensorineural dengan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dan Tidak Terkontrol di RSUP Sanglah
ABSTRAK Hubungan Penurunan Pendengaran Sensorineural dengan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dan Tidak Terkontrol di RSUP Sanglah Dini Nur Muharromah Yuniati Diabetes melitus (DM) merupakan suatu
Pola Lekemia Limfoblastika akut di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RS. Dr. Pirngadi Medan
Pola Lekemia Limfoblastika akut di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUSU/RS. Dr. Pirngadi Medan Zairul Arifin Bagian Fisika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Abstrak Telah dilakukan suatu penelitian
Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko
Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko Apakah kanker rahim itu? Kanker ini dimulai di rahim, organ-organ kembar yang memproduksi telur wanita dan sumber utama dari hormon estrogen dan progesteron
PENGKAJIAN PNC. kelami
PENGKAJIAN PNC Tgl. Pengkajian : 15-02-2016 Puskesmas : Puskesmas Pattingalloang DATA UMUM Inisial klien : Ny. S (36 Tahun) Nama Suami : Tn. A (35 Tahun) Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh Harian Pendidikan
BAYI BARU LAHIR DARI IBU DM OLEH: KELOMPOK 14
BAYI BARU LAHIR DARI IBU DM OLEH: KELOMPOK 14 1. PENGERTIAN Bayi dari ibu diabetes Bayi yang lahir dari ibu penderita diabetes. Ibu penderita diabetes termasuk ibu yang berisiko tinggi pada saat kehamilan
Infantile Idiophatic Scoliosis Skoliosis pada Anak
[Artikel Pediatri] Ensiklopedi Fisioterapi Kementerian Pendidikan dan Profesi Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI) Pusat Infantile Idiophatic Scoliosis Skoliosis pada Anak Skoliosis merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur dapat terjadi pada semua tingkat umur (Perry & Potter, 2005).
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mendapatkan peringkat kelima atas kejadian kecelakaan lalulintas di dunia. Kecelakaan lalulintas dapat menyebabkan berbagai dampak, baik
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
Kata kunci: Prevalensi,Anemia, Anemia defisiensi besi, bayi berat lahir rendah, Hb.
Abstrak PREVALENSI BAYI BERAT LAHIR RENDAH PADA IBU ANEMIA DEFISIENSI BESI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Anemia pada kehamilan merupakan masalah yang sering terjadi dan 50% dari wanita hamil di negara
Mengenal Penyakit Kelainan Darah
Mengenal Penyakit Kelainan Darah Ilustrasi penyakit kelainan darah Anemia sel sabit merupakan penyakit kelainan darah yang serius. Disebut sel sabit karena bentuk sel darah merah menyerupai bulan sabit.
MALNUTRISI. Prepared by Rufina Pardosi UNICEF Meulaboh
MALNUTRISI Prepared by Rufina Pardosi UNICEF Meulaboh Apa itu malnutrisi? Kebutuhan tubuh akan makronutrien (lemak, karbohidrat dan protein) tidak terpenuhi Penyebab : Asupan makanan kurang Penyakit Klasifikasi
KEHAMILAN. Tulislah keadaan ibu saat ibu hamil anak ini, ceklis jawaban yang anda anggap tepat.
KUESIONER Nama :... Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Alamat :...... Kode Pos :... Telepon :... Nama Ayah :... Tgl Lahir :... Pekerjaan :... Telp Kantor :... Nama Ibu :... Tgl Lahir :... Pekerjaan
Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Kanker Prostat Kanker prostat merupakan tumor ganas yang paling umum ditemukan pada populasi pria di Amerika Serikat, dan juga merupakan kanker pembunuh ke-5 populasi pria di Hong Kong. Jumlah pasien telah
BAB 1 PENDAHULUAN. kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak (Junaidi, 2011). Menurut Organisasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gagal ginjal kronik atau CKD (Chronic Kidney Disease) merupakan keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel (Wilson, 2005) yang ditandai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus
BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang
BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam 14.30 1. Identitas klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama : An. R : 10 th : Perempuan : Jl. Menoreh I Sampangan
BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini semakin banyak ditemukan berbagai penyakit berbahaya yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini tidak mengancam jiwa
Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat sakit serupa sebelumnya, batuk lama, dan asma disangkal Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat TB paru dan Asma
Identitas Pasien Nama: An. J Usia: 5 tahun Alamat: Cikulak, Kab Cirebon Jenis Kelamin: Perempuan Nama Ayah: Tn. T Nama Ibu: Ny. F No RM: 768718 Tanggal Masuk: 12-Mei-2015 Tanggal Periksa: 15-Mei-2015 Anamnesis
Fraktur Mandibula. Oleh : Uswatun Hasanah Radinal. Pembimbing : dr. Irzal. Supervisor : dr. John Pieter. Jr, Sp.B(K) Onk
Fraktur Mandibula Oleh : Uswatun Hasanah Radinal Pembimbing : dr. Irzal Supervisor : dr. John Pieter. Jr, Sp.B(K) Onk Identitas Pasien Nama Umur JK : Nn. K : 18 tahun : Perempuan Alamat : Kukku Enrekang
BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang pada tahap awal belum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang pada tahap awal belum memberikan gejala-gejala yang diketahui (asymtomatic disease). Osteoporosis baru diketahui ada apabila
Mata: sklera ikterik -/- konjungtiva anemis -/- cor: BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo: suara napas vesikuler +/+ ronki -/- wheezing -/-
PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum: baik Kesadaran: compos mentis Tanda vital: TD: 120/80 mmhg Nadi: 84 x/menit Pernapasan: 20 x/menit Suhu: 36,5 0 C Tinggi Badan: 175 cm Berat Badan: 72 kg Status Generalis:
BAB 1 PENDAHULUAN. traumatik merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan pada anak-anak dan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala traumatik merupakan masalah utama kesehatan dan sosial ekonomi di seluruh dunia (Ghajar, 2000; Cole, 2004). Secara global cedera kepala traumatik merupakan
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA KELUARGA BERENCANA (KB)
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA KELUARGA BERENCANA (KB) ANTENATAL CARE (ANC) IBU HAMIL DI POLIKLINIK KIA PUSKESMAS KALITIDU
PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI
PENDAHULUAN Hemotoraks adalah kondisi adanya darah di dalam rongga pleura. Asal darah tersebut dapat dari dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar. Normalnya, rongga pleura hanya
BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi dalam bidang neurologi dan menjadi masalah kesehatan oleh karena penderitanya
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia prevalensi OA lutut yang tampak secara radiologis mencapai 15,5%
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif dan salah satu keluhan muskuloskeletal yang sering ditemui, dengan progresifitas yang lambat, bersifat
PREVALENSI FRAKTUR HUMERUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PADA BULAN APRIL 2015 DESEMBER
ABSTRAK PREVALENSI FRAKTUR HUMERUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PADA BULAN APRIL 2015 DESEMBER 2016 Latar belakang : Fraktur merupakan penyebab tingginya angka kecatatan di seluruh dunia. Salah satunya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue. Penyakit DBD tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang, tetapi ditularkan kepada manusia
APPENDICITIS (ICD X : K35.0)
RUMAH SAKIT RISA SENTRA MEDIKA MATARAM PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) SMF ILMU BEDAH TAHUN 2017 APPENDICITIS (ICD X : K35.0) 1. Pengertian (Definisi) 2. Anamnesis 3. Pemeriksaan Fisik 4. Kriteria Diagnosis
Pengertian. Bayi berat lahir rendah adalah bayi lahir yang berat badannya pada saat kelahiran <2.500 gram [ sampai dengan 2.
Pengertian Bayi berat lahir rendah adalah bayi lahir yang berat badannya pada saat kelahiran
KELAINAN METABOLISME KARBOHIDRAT (PENYAKIT ANDERSEN / GLIKOGEN STORAGE DISEASE TYPE IV) Ma rufah
KELAINAN METABOLISME KARBOHIDRAT (PENYAKIT ANDERSEN / GLIKOGEN STORAGE DISEASE TYPE IV) Ma rufah 126070100111044 Latar Belakang: Metabolisme merupakan suatu proses (pembentukan dan penguraian) zat-zat
BAB III TINJAUAN KASUS. Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa, Indonesia
BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 20 Juni 2011 di Ruang Lukman Rumah Sakit Roemani Semarang. Jam 08.00 WIB 1. Biodata a. Identitas pasien Nama : An. S Umur : 9
Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik
Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik Latar Belakang Masalah Gagal ginjal kronik merupakan keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversibel yang berasal dari
