Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
|
|
|
- Sukarno Gunawan
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017
2 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia Penyunting Jose RL Batubara Hardjoedi Adji Tjahjono Aditiawati IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017
3 Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia Disusun oleh: Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak, mencetak, dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apa pun juga tanpa seizin penulis dan penerbit Copy Editor: Iffa Mutmainah Cetakan Pertama 2017 Diterbitkan oleh: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
4 Tim Penyusun Hardjoedi Adji Tjahjono Aditiawati Aman B. Pulungan A.Nanis Sacharina Marzuki Eka Agustia Rini Indra Widjaja Himawan Jose RL Batubara Ukk Endokrinologi IDAI iii
5 iv Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
6 Kata Sambutan Ketua UKK Endokrinologi IDAI Panduan Praktik Klinis (PPK) Ikatan Dokter Anak Indonesia mengenai Perawakan pendek pada anak dan remaja di Indonesia merupakan pedoman nasional yang akan digunakan oleh dokter spesialis anak dan petugas kesehatan lainnya dalam menangani pasien anak dan remaja yang menderita perawakan pendek. Pedoman nasoinal ini perlu dibuat supaya ada keseragaman dalam mendiagnosis dan melakukan tatalaksana pasien dengan perawakan pendek. Perawakan pendek pada anak dan remaja merupakan gangguan pertumbuhan yang perlu diperbaiki. Dikatakan Perawakan pendek bila tinggi badannya dibawah persentil 3 kurva pertumbuhan berdasarkan umur, jenis kelamin dan ras. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh kondisi patologis maupun non patologis. Diagnosis dan tatalaksana perawakan pendek perlu diseragamkan, sehingga bisa ditentukan mana perawakan pendek yang memerlukan pengobatan dan mana yang tidak memerlukan pengobatan. Sehubungan dengan hal ini perlu dibuatkan PPK mengenai diagnosis dan tatalaksana perawakan pendek pada anak dan remaja di indonesia. Kami berharap PPK ini dapat digunakan oleh semua pihak baik dokter spesialis anak, petugas kesehatan lainnya dan pemegang kebijakan dalam menangani pasien anak dan remaja yang mengalami perawakan pendek. Dengan selesainya PPK perawakan pendek pada anak dan remaja di Indonesia, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim penyususun PPK ini yaitu Dr. Hardjoedi Adji Tjahjono, Sp.A(K), sebagai ketua, dr Aditiawati, Sp.A(K) sebagai sekretaris, dan anggota yang terdiri dari Prof. Dr. Jose RL Batubara, PhD, Sp.A(K), DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), Dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A(K), Dr. Eka Agustia Rini, Sp.A(K), dan Dr. Indra Widjaja Himawan, Sp.A(K). Terima kasih kepada pengurus pusat IDAI, ketua bidang ilmiah IDAI, Dr. Antonius H.Pudjiadi, Sp.A(K), beserta sekretariat PP IDAI, Dr. Iffa Mutmainah dan Dr. Fenny D Silva atas dukungan dan bantuanya dalam Ukk Endokrinologi IDAI v
7 penyusunan PPK ini. Mohon maaf apabila masih ada kekurangan, semoga PPK ini bermanfaat untuk semua. Terima kasih. DR. Dr. I Wayan Bikin Suryawan, Sp.A(K) Ketua UKK Endokrinologi IDAI vi Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
8 Kata Sambutan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Salam hormat dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT atas berkah dan karunianya sehingga kita diberi kesehatan dan kekuatan untuk dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Kesehatan Anak. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan salah satu aspek penting bagi kesehatan anak. Gangguan pertumbuhan akan berakibat perawakan pendek (Short stature). Pertumbuhan linier tersebut dapat dipengaruhi oleh etnis, genetik, hormonal, psikososial, nutrisi, penyakit kronis, dan faktor lingkungan lainnya. Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek dan stunting. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh kondisi patologis dan non patologis sehingga perlu penilaian bijaksana untuk membedakan perawakan pendek dengan stunting. Penting bagi seorang klinisi untuk mengetahui bagaimana melakukan pendekatan klinis pada kasus-kasus perawakan pendek. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI dan tim penyusun yang telah berkontribusi dalam penerbitan buku Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam disiplin ilmu endokrinologi anak oleh seluruh spesialis anak di Indonesia. Aman B. Pulungan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Ukk Endokrinologi IDAI vii
9 viii Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
10 Daftar Isi Tim Penyusun... iii Kata Sambutan Ketua UKK Endokrinologi...iv Kata Sambutan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia...vi Daftar Tabel...ix Daftar Gambar...ix Daftar Singkatan...x Pendahuluan...1 Etiologi perawakan pendek...1 Pendekatan diagnosis...2 Alur pendekatan diagnosis perawakan pendek...5 Terapi dan monitoring...6 Daftar Bacaan...7 Ukk Endokrinologi IDAI ix
11 Daftar Tabel Tabel 1. Etiologi perawakan pendek...1 Tabel 2. Petunjuk pemeriksaan klinis pada perawakan pendek...3 Tabel 3. Rekomendasi jadwal pemantauan tinggi badan...2 Tabel 4. Kecepatan pertumbuhan anak...2 Tabel 5. Perhitungan mid-parental height dan potensi tinggi genetik...4 Daftar Gambar Gambar 1. Alur pendekatan diagnosis perawakan pendek...5 x Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
12 Daftar Singkatan BB Berat badan CDGP Constitutional delay of growth and puberty cm centimeter DNA Deoxyribonucleic acid GGK Gagal ginjal kronik IDAI Ikatan Dokter Anak Indonesia IGF1 Insulin like growth factor 1 IUGR Intrauterine growth restriction MPS Mucopolysaccharidosis RTA Renal tubular acidosis SD Standard deviation SSP Sistem saraf pusat TB Tinggi badan Ukk Endokrinologi IDAI xi
13 xii Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
14 Pendahuluan Pertumbuhan linier dapat dipengaruhi oleh etnis, genetik, hormonal, psikososial, nutrisi, penyakit kronis, dan faktor lingkungan lainnya. Gangguan pertumbuhan linier akan berakibat perawakan pendek. Perawakan pendek (short stature) didefinisikan sebagai tinggi badan <P 3 atau -2 SD kurva yang berlaku sesuai usia dan jenis kelamin. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh kondisi patologis atau non patologis sehingga penting sekali seorang klinisi mengetahui bagaimana melakukan pendekatan klinis pada kasus-kasus perawakan pendek. Perawakan pendek terbanyak adalah stunting. Stunting dihubungkan dengan malnutrisi dan infeksi kronis (non endokrin). Oleh karena itu, perlu ditekankan bahwa stunting merupakan bagian dari perawakan pendek namun, tidak semua perawakan pendek adalah stunting. Pengukuran tinggi badan sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar secara berkala dan kontinyu dibutuhkan untuk menilai apakah seorang anak tumbuh normal atau terganggu. Dengan demikian, gangguan pertumbuhan dapat diketahui apakah patologis atau tidak sehingga dapat ditentukan langkah lanjutan yang diperlukan. Tidak semua perawakan pendek memerlukan terapi dan rujukan. Etiologi perawakan pendek Perawakan pendek dapat disebabkan oleh kelainan endokrin ataupun non endokrin (Tabel 1). Tabel 1. Etiologi perawakan pendek Varian Normal Patologis Perawakan pendek familial Proporsional (Familial short stature) Hormonal (BB/TB meningkat): Constitutional Delay of Growth Defisiensi hormon pertumbuhan, hipotiroid, sindrom Cushing, hipoparatiroid, dan lain-lain and Puberty (CDGP) Non hormonal (BB/TB menurun): Malnutrisi, penyakit infeksi kronis, psikososial dwarfism, dan lain-lain Disproporsional Kelainan skeletal seperti akondroplasia, hipokondroplasia, rickets, osteogenesis imperfecta, dan lain-lain Dismorfik Sindrom Turner, sindrom Prader Willi, sindrom Noonan, sindrom Russel-Silver, sindrom Down, dan lain-lain Kelainan metabolik bawaan: Mucopolysaccharidosis (MPS), dan lain-lain Ukk Endokrinologi IDAI 1
15 Pendekatan diagnosis dalam menghadapi anak dengan perawakan pendek diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (Tabel 2). Pemeriksaan yang baik dan terarah diperlukan agar dapat diketahui etiologi dan menghindari pemeriksaan yang tidak perlu. Kriteria awal untuk mendiagnosis anak dengan perawakan pendek adalah: Tinggi badan <P3 Kecepatan tumbuh <P25 Perkiraan tinggi akhir dibawah tinggi potensi genetik a. Tinggi Badan: Pemantauan tinggi badan dilakukan secara berkala dan kontinyu, sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang pemantauan tumbuh-kembang anak (Tabel 3). Tabel 3. Rekomendasi jadwal pemantauan tinggi badan. Usia Jadwal pemantauan 0-12 bulan Setiap 1 bulan 1-3 tahun Setiap 3 bulan 3-6 tahun Setiap 6 bulan 6-18 tahun Setiap 1 tahun b. Kecepatan Pertumbuhan: Fase pertumbuhan anak dibagi atas empat fase yaitu intrauterin, bayi, anak, dan pubertas. Fase tersebut penting untuk diketahui dengan tujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan spesifik pada masing-masing fase dan ada atau tidak adanya gangguan pertumbuhan seorang anak (Tabel 4). Tabel 4. Kecepatan pertumbuhan anak Usia Kecepatan pertumbuhan (cm/tahun) Intrauterin bulan tahun tahun 6-7 Prapubertas 5-5,5 Pubertas Perempuan : 8-12 Laki-laki : Sumber: Nwosu, BU, dkk. Am Fam Physician Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
16 Tabel 2. Petunjuk pemeriksaan klinis pada perawakan pendek Pemeriksaan klinis Anamnesis Sakit kepala, muntah, diplopia Poliuria, polidipsia Obesitas, obat-obatan (steroid) Infeksi berulang Konstipasi, delayed development Riwayat Kelahiran Berat lahir rendah Letak sungsang, hipoglikemia berulang, mikropenis, prolonged jaundice Riwayat Nutrisi Asupan (kualitas dan kuantitas) Riwayat keluarga Perawakan pendek pada saudara kandung, orang tua, saudara lainnya Pubertas terlambat Psikososial/ emosional Pemeriksaan Fisis Peningkatan laju napas Hipertensi Rickets Disproporsional (tinggi duduk, rasio segmen atas: bawah tubuh, rentang lengan abnormal) Rasio BB/TB rendah Frontal bossing, midfacial crowding, mikropenis, truncal obesity Kulit kering dan kasar, wajah kasar, refleks menurun, goiter, bradikardia, makroglosia Papiledema, defek lapangan pandang Obesitas sentral, striae, hipertensi, hirsutism Sindrom Perempuan dengan webbed neck, cubitus valgus, shield chest Small triangular facies, hemihypertrophy, clinodactyly Bird headed dwarfism, mikrosefal, dan mikrognathia Brakisefali, simian crease, makroglosia Sumber: Tridjaja B Kemungkinan penyebab Tumor SSP (kraniofaringioma) Diabetes insipidus, Renal Tubular Acidosis (RTA) Sindrom Cushing Imunologis, infeksi kronik Hipotiroid kongenital IUGR, sindrom, dismorfism Defisiensi hormon pertumbuhan dengan hipopituitarism Malnutrisi, rickets Familial Short Stature CDGP Psychosocial dwarfism Asiodis (RTA); sesak (PJB) Sindrom Cushing, tumor SSP, GGK Anemia, GGK, hipotiroid, thalasemia Displasia skeletal, rickets Malnutrisi Defisiensi hormon pertumbuhan Hipotiroidsm Tumor-kraniofaringioma Sindrom Cushing Sindrom Turner Sindrom Russel Silver Sindrom Seckel Sindrom Down Ukk Endokrinologi IDAI 3
17 c. Perkiraan tinggi akhir: Perkiraan tinggi akhir berdasarkan mid-parental height dan potensi tinggi genetik ditampilkan pada tabel dibawah ini (Tabel 5). Tabel 5. Perhitungan mid-parental height dan potensi tinggi genetik 1. Mid-parental height: Laki-laki = [tinggi badan Ayah (cm)] + [tinggi badan Ibu (cm) + 13] 2 Perempuan = [tinggi badan Ayah (cm) 13] + [tinggi badan Ibu (cm)] 2 2. Potensi tinggi genetik: Mid-parental height ± 8,5 cm Pemeriksaan penunjang yang sederhana dan menentukan adalah menginterpretasikan data-data tinggi badan dengan menggunakan kurva pertumbuhan yang sesuai. Oleh karena malnutrisi dan penyakit kronik masih merupakan penyebab utama perawakan pendek di Indonesia, maka pemeriksaan darah tepi lengkap, urin dan feces rutin, laju endap darah, elektrolit serum, dan pemeriksaan usia tulang, merupakan langkah pertama dan strategis untuk mencari etiologi perawakan pendek. Bila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan skrining tersebut, maka dilakukan pemeriksaan khusus yaitu kadar hormon pertumbuhan, IGF-1, analisis kromosom, analisis DNA, dan lain-lain sesuai indikasi. Terapi dan monitoring Perawakan pendek variasi normal tidak memerlukan pengobatan Terapi perawakan pendek patologis sesuai dengan etiologi Terapi hormon pertumbuhan dilakukan atas konsultasi dan pengawasan ahli endokrinologi anak Terapi pembedahan diperlukan pada kasus tertentu misalnya tumor intrakranial Terapi suportif diperlukan untuk perkembangan psikososial Rujukan spesialis sesuai dengan etiologi 4 Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
18 Alur pendekatan diagnosis perawakan pendek Perawakan Pendek Kecepatan Tumbuh Normal Tidak Normal Varian Normal Proporsional Disproporsional Familial Short Stature Constitutional delay of growth and puberty (CDGP) BB/TB meningkat BB/TB turun Usia tulang = usia kronologis Tinggi dewasa <P3 Sesuai potensi genetik Usia tulang <usia kronologis Tinggi dewasa >P3 Sesuai potensi genetik Riwayat keluarga (+) ENDOKRIN Defisiensi GH Hipotiroid Kortisol Pseudohipoparatiroi d NUTRISI Malnutrisi Penyakit kronis Psikososial IUGR Kelainan skeletal Kelainan dismorfik Displasia skeletal: A/hipokondroplasia Kelainan metabolik: Rickets Kelainan spinal: Spondilodisplasia Gambar 1. Pendekatan Diagnosis Perawakan Pendek Sumber: Batubara JRL. Buku Ajar Endokrinologi Anak, Kelainan kromosom: Trisomi 21 Sindrom Turner Sindrom-sindrom: Prader-Willi, Fetalalcohol, Russel-Silver, Noonan dll Ukk Endokrinologi IDAI 5
19 Rekomendasi: 1. Pengukuran antropometri sesuai kaidah-kaidah yang benar dilakukan secara berkala dan kontinyu: -- Usia lahir sampai 12 bulan setiap 1 bulan -- Usia 12 bulan sampai 3 tahun setiap 3 bulan -- Usia 3 tahun sampai 6 tahun setiap 6 bulan -- Usia 6 tahun sampai 18 tahun setiap 1 tahun 2. Ploting pada kurva pertumbuhan dan interpretasi pola pertumbuhan perlu dilakukan setelah melakukan pengukuran. 3. Perawakan pendek variasi normal tidak memerlukan terapi Daftar Bacaan 1. Batubara JRL, Susanto R, Cahyono HA. Pertumbuhan dan Gangguan Pertumbuhan. Dalam: Batubara JRL, Tridjaja B, Pulungan A, penyunting. Buku Ajar Endokrinologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010.h Hokken-Koelega ACS. Diagnostic workup of the short child. Horm Res. 2011; 76 (Suppl 3): Nwosu BU, Lee MM. Evaluation of Short and Tall Stature in Children. Am Fam Physician. 2008;78: Tridjaja B. Short stature (perawakan pendek) diagnosis dan tata laksana. Dalam: Trihono PP, Djer MM, Sjakti HA, Hendrarto TW, Prawitasari T. Best Practices in Pediatrics. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan X. Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta, 2013.h UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Pemantauan tumbuh-kembang anak Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
148 Perawakan Pendek Varian Normal dan Patologis
148 Perawakan Pendek Varian Normal dan Patologis Waktu : Pencapaian kompetensi: Sesi di dalam kelas : 2 X 50 menit (classroom session) Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 50 menit (coaching session)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA. Sindrom Turner IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Sindrom Turner IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Sindrom Turner Penyunting Aman B. Pulungan Aditiawati
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
1.5 Manfaat Penelitian 1. Di bidang akademik / ilmiah : meningkatkan pengetahuan dengan memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kadar serum ferritin terhadap gangguan pertumbuhan pada talasemia
Fisiologi poros GnRH-LH/FSH- Estrogen
Pubertas Prekoks, Diagnosis & Tatalaksana OLEH Dr. H. Hakimi SpAK Dr. Melda Deliana SpAK Dr. Siska Mayasari Lubis SpA Divisi Endokrinologi Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan Fisiologi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Usia tulang merupakan indikator utama untuk menilai maturitas tulang
21 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Usia tulang merupakan indikator utama untuk menilai maturitas tulang yang digunakan dari kelahiran sampai dewasa. Dengan menentukan usia tulang, berarti menghitung
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU/RS H.Adam Malik Medan
GAGAL TUMBUH Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU/RS H.Adam Malik Medan DEFINISI Gagal Tumbuh : Anak dengan BB kurang dari 2 SD dari nilai pertumbuhan standar rata-rata
Definisi: keadaan yang terjadi apabila perbandingan kuantitas jaringan lemak
Definisi: keadaan yang terjadi apabila perbandingan kuantitas jaringan lemak tubuh dengan berat badan total lebih besar daripada normal, atau terjadi peningkatan energi akibat ambilan makanan yang berlebihan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Anak a. Definisi Banyak perbedaan definisi dan batasan usia anak, menurut Depkes RI tahun 2009, kategori umur anak ialah usia 5-11 tahun. Undang- undang nomor
Small for Gestational Age: What We Have Worried about?
Small for Gestational Age: What We Have Worried about? DR. dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA (K) Terminologi small for gestational age (SGA) mengacu pada ukuran bayi pada saat lahir, yaitu bayi yang lahir
Salah satu fungsi utama sistem endokrin adalah
Sari Pediatri, Vol. 7, No. 4, Maret 006 Sari Pediatri, Vol. 7, No. 4, Maret 006: 83-87 Gambaran Kunjungan Pasien Rawat Jalan Endokrinologi Anak dan Remaja FK USU / RS. H. Adam Malik Medan, Tahun 000-004
Gagal Tumbuh (Failure to Thrive = Weight Faltering) pada Anak
6 Gagal Tumbuh (Failure to Thrive = Weight Faltering) pada Anak Waktu Pencapaian kompetensi : Sesi di dalam kelas : 2 X 50 menit (classroom session) Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 50 menit (coaching
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Prevalensi perawakan pendek di seluruh dunia sudah mencapai angka yang patut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perawakan Pendek (Short Stature) Prevalensi perawakan pendek di seluruh dunia sudah mencapai angka yang patut dipertimbangkan, berkisar 5% sampai 65% terutama pada negara-negara
1 DETEKSI DINI PERTUMBUHAN ANAK. Debora S.Liana, dr., Sp.A FK UNDANA 2016
1 DETEKSI DINI PERTUMBUHAN ANAK Debora S.Liana, dr., Sp.A FK UNDANA 2016 2 UU n0.23/2002 ANAK Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan
DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM
DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM DIAGNOSIS DM DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
EATING DISORDERS. Silvia Erfan
EATING DISORDERS Silvia Erfan Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan
Diagnosis dan Tata Laksana Hipotiroid Kongenital
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Diagnosis dan Tata Laksana Hipotiroid Kongenital IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Diagnosis dan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, terutama di beberapa daerah tertentu. Pertumbuhan ini juga diikuti dengan perubahan dalam
Diagnosis dan Tata Laksana Tiroiditis Hashimoto
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Diagnosis dan Tata Laksana Tiroiditis Hashimoto IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Diagnosis dan Tata
How to Prevent Short Stature in Infant Born with Small Gestational Age
How to Prevent Short Stature in Infant Born with Small Gestational Age Prof. Dr. Madarina Julia, PhD, SpA (K), MPH Kita perlu mendiskusikan pertumbuhan bayi yang lahir dengan small for gestational age
MENGENAL PARAMETER PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK Oleh: dr. Kartika Ratna Pertiwi, M. Biomed. Sc
MENGENAL PARAMETER PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK Oleh: dr. Kartika Ratna Pertiwi, M. Biomed. Sc Pendahuluan Pernahkah anda mengamati hal-hal penting apa sajakah yang ditulis oleh dokter pada saat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Pada periode ini terjadi masa pubertas yang merupakan keterkaitan antara proses-proses neurologis dan
Pertumbuhan Janin Terhambat. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Pertumbuhan Janin Terhambat Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Definisi Janin dengan berat badan kurang atau sama dengan 10 persentil, atau lingkaran perut kurang atau sama dengan
Osteogensis Imperfecta
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2016 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Penyunting Nanis Sacharina Marzuki I Made Arimbawa Indra Widjaja
BAB I PENDAHULUAN. absolute atau relatif. Pelaksanaan diet hendaknya disertai dengan latihan jasmani
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula darah akibat kekurangan hormon insulin secara absolute atau
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom Waardenburg (SW) adalah kumpulan kondisi genetik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan perubahan warna (pigmentasi) dari rambut, kulit dan mata.
BAB 1 PENDAHULUAN. serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obesitas merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian yang serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta orang
ASUHAN GIZI; NUTRITIONAL CARE PROCESS
ASUHAN GIZI; NUTRITIONAL CARE PROCESS Oleh : Adisty Cynthia Anggraeni, S. Gz. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2012 Hak Cipta 2012 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk
Pelayanan Kesehatan bagi Anak Bab 7 Gizi Buruk Catatan untuk fasilitator Ringkasan kasus Joshua adalah seorang anak laki-laki berusia 12 bulan yang dibawa ke rumah sakit kabupaten dari rumah yang berlokasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tinggi badan yang berada dibawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stunting 2.1.1 Definisi stunting Perawakan pendek atau stunting merupakan suatu terminologi untuk tinggi badan yang berada dibawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan
BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Ketiga hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi
BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Akne vulgaris adalah suatu peradangan yang bersifat menahun pada unit pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan predileksi di
BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular adalah sistem organ pertama yang berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. menuju dewasa dimana terjadi proses pematangan seksual dengan. hasil tercapainya kemampuan reproduksi. Tanda pertama pubertas
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Pubertas merupakan suatu periode perkembangan transisi dari anak menuju dewasa dimana terjadi proses pematangan seksual dengan hasil tercapainya kemampuan reproduksi.
THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010
THALASEMIA A. DEFINISI Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan cukup lanjut. Gangguan
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.... iv ABSTRAK v ABSTRACT. vi RINGKASAN.. vii SUMMARY. ix
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak usia dini adalah anak yang sedang berada dalam rentang usia 0-8 tahun yang merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Dr. HAKIMI, SpAK. Dr. MELDA DELIANA, SpAK. Dr. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA
Dr. HAKIMI, SpAK Dr. MELDA DELIANA, SpAK Dr. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA 1 Dilepas ke sirkulasi seluruh tubuh Mengatur fungsi jaringan tertentu Menjaga homeostasis Berada dalam plasma, jaringan interstitial
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk asalnya atau dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi. Ekskresi di sini merupakan hasil
BAB I PENDAHULUAN. prevalensinya semakin meningkat setiap tahun di negara-negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal merupakan organ penting dari manusia. Berbagai penyakit yang menyerang fungsi ginjal dapat menyebabkan beberapa masalah pada tubuh manusia, seperti penumpukan
Pertumbuhan Janin Normal Pertumbuhan, diferensiasi dan maturasi jaringan dan organ. Pembelahan sel terdiri dari 3 fase : - Hiperplasia selama 16 mingg
PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FK-USU/RSHAM Pertumbuhan Janin Normal Pertumbuhan, diferensiasi dan maturasi jaringan dan organ. Pembelahan sel terdiri dari 3 fase : - Hiperplasia
GANGGUAN SALURAN CERNA PADA AWAL MASA KEHIDUPAN ANAK DWI PRASETYO
GANGGUAN SALURAN CERNA PADA AWAL MASA KEHIDUPAN ANAK DWI PRASETYO Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung 2016 GANGGUAN SALURAN CERNA
BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilakukan di Pusat Riset Biomedik ( Center for Biomedical
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian ini mencakup bidang ilmu Genetika Dasar, Obstetri Ginekologi, dan Endokrinologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di Pusat
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Berat Badan Lahir Cukup (BBLC) a. Definisi Berat badan lahir adalah berat badan yang didapat dalam rentang waktu 1 jam setelah lahir (Kosim et al., 2014). BBLC
PENYAKIT DEGENERATIF V I L D A A N A V E R I A S, M. G I Z I
PENYAKIT DEGENERATIF V I L D A A N A V E R I A S, M. G I Z I EPIDEMIOLOGI WHO DEGENERATIF Puluhan juta ORANG DEATH DEFINISI Penyakit degeneratif penyakit yg timbul akibat kemunduran fungsi sel Penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) Pembicara/ Fasilitator: DR. Dr. Dedi Rachmadi, SpA(K), M.Kes Tanggal 15-16 JUNI 2013 Continuing Professional
BAB V KESIMPULAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1
BAB V KESIMPULAN Osteogenesis imperfekta (OI) atau brittle bone disease adalah kelainan pembentukan jaringan ikat yang umumnya ditandai dengan fragilitas tulang, osteopenia, kelainan pada kulit, sklera
Pengetahuan Mengenai Insulin dan Keterampilan Pasien dalam Terapi
Pengetahuan Mengenai Insulin dan Keterampilan Pasien dalam Terapi Komala Appalanaidu Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ([email protected]) Diterima: 15 Maret
Diabetes Mellitus Type II
Diabetes Mellitus Type II Etiologi Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau ketika pankreas berhenti memproduksi insulin yang cukup. Persis mengapa hal ini terjadi tidak
Feeding Practice in Small for Gestational Age Born Infant
Feeding Practice in Small for Gestational Age Born Infant DR. dr. Aryono Hendarto, SpA (K) Small for gestational age (SGA) adalah bayi baru lahir yang mempunyai berat badan dan/atau panjang badan kurang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.
Brain Development in Infant Born with Small for Gestational Age
Brain Development in Infant Born with Small for Gestational Age DR. Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K) Bayi yang lahir dengan small for gestational age (SGA) mempunyai beberapa implikasi pada pertumbuhan
PREVALENSI DIABETES MELLITUS DAN HIPERTENSI PADA GAGAL GINJAL KRONIK STAGE 5 YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI KLINIK RASYIDA MEDAN TAHUN 2011.
PREVALENSI DIABETES MELLITUS DAN HIPERTENSI PADA GAGAL GINJAL KRONIK STAGE 5 YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI KLINIK RASYIDA MEDAN TAHUN 2011 Oleh: SHEILA 080100391 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
Status Gizi. Keadaan Gizi TINDAK LANJUT HASIL PENDIDIKAN KESEHATAN. Malnutrisi. Kurang Energi Protein (KEP) 1/18/2010 OBSERVASI/PEMANTAUAN STATUS GIZI
OBSERVASI/PEMANTAUAN STATUS GIZI TINDAK LANJUT HASIL PENDIDIKAN KESEHATAN MUSLIM, MPH Akademi Kebidanan Anugerah Bintan Tanjungpinang Kepulauan Riau Pemantauan Status Gizi Dalam membahas observasi/pemantauan
BAB I PENDAHULUAN. Pengukuran antropometri terdiri dari body mass index
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengukuran antropometri terdiri dari body mass index (BMI), pengukuran lingkar pinggang, rasio lingkar panggul pinggang, skinfold measurement, waist stature rasio,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dengan etiologi yang beragam. Setiap penyakit yang terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN. sangat pendek hingga melampaui -2 SD di bawah median panjang berdasarkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stunting (tubuh pendek) didefinisikan sebagai keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek hingga melampaui -2 SD di bawah median panjang berdasarkan tinggi badan menurut
PROPORSI ANGKA KEJADIAN NEFROPATI DIABETIK PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TAHUN 2009 DI RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI
PROPORSI ANGKA KEJADIAN NEFROPATI DIABETIK PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TAHUN 2009 DI RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI Oleh: PIGUR AGUS MARWANTO J 500 060 047 FAKULTAS KEDOKTERAN
DIVISI ENDOKRINOLOGI ANAK FKUSU/RSHAM Dr. HAKIMI, SpAK. Dr. MELDA DELIANA, SpAK. DR. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA
DIVISI ENDOKRINOLOGI ANAK FKUSU/RSHAM Dr. HAKIMI, SpAK Dr. MELDA DELIANA, SpAK DR. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA 1 Sekumpulan gejala dan tanda klinis akibat peningkatan kadar glukokortikoid (kortisol) dalam
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta
LAPORAN PENELITIAN Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Hendra Dwi Kurniawan 1, Em Yunir 2, Pringgodigdo Nugroho 3 1 Departemen
Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan
Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 4, Vol. No. 4, 1, No. Juni 1, 2002: Juni 20022-6 Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Partini P Trihono, Eva Miranda Marwali,
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) Saptawati Bardosono
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) Saptawati Bardosono PENDAHULUAN Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah nasional Kelompok usia yang rentan masalah gizi antara lain usia balita: Bayi
BAB I PENDAHULUAN. insulin, atau kedua-duanya. Diagnosis DM umumnya dikaitkan dengan adanya gejala
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Status Gizi Status gizi adalah tingkat kesehatan seseorang atau masyarakat yang di pengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi di nilaidengan ukuran atau parameer gizi.balita yang
BEST PRACTICES IN PEDIATRICS
BEST PRACTICES IN PEDIATRICS PENDIDIKAN KEDOKTERAN BERKELANJUTAN X IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA CABANG DKI JAKARTA Best Practices in Pediatrics Penyunting: Partini Pudjiastuti Trihono Mulyadi M. Djer H.
Penggunaan Hormon Pertumbuhan pada Anak dan Remaja di Indonesia
PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA Penggunaan Hormon Pertumbuhan pada Anak dan Remaja di Indonesia IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017 PANDUAN PRAKTIK KLINIS IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes type 2: apa artinya? Diabetes tipe 2 menyerang orang dari segala usia, dan dengan gejala-gejala awal tidak diketahui. Bahkan, sekitar satu dari tiga orang dengan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. lemak, dan protein. World health organization (WHO) memperkirakan prevalensi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Diabetes mellitus (DM) secara etiologi berasal dari serangkaian kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran / polusi
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengaruh globalisasi disegala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN. Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi gen pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi gen pada organisme. Hubungan genetika dengan ilmu ortodonsia sangat erat dan telah diketahui sejak
HIPERTENSI ARTERI PULMONAL IDIOPATIK
1 HIPERTENSI ARTERI PULMONAL IDIOPATIK Augustine Purnomowati Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung 2 Hipertensi Arteri Pulmonal Idiopatik Penerbit Departemen Kardiologi
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI Dr R Soerjo Hadijono SpOG(K), DTRM&B(Ch) Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi BATASAN Frekuensi napas bayi lebih 60 kali/menit, mungkin menunjukkan satu atau
BAB I PENDAHULUAN. berperan, sampai saat ini masih menjadi perhatian dalam dunia kedokteran. Hal ini
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan sistem reproduksi manusia dan berbagai faktor yang berperan, sampai saat ini masih menjadi perhatian dalam dunia kedokteran. Hal ini terkait
BAB I PENDAHULUAN. Berat bayi lahir rendah (BBLR) didefinisikan oleh World Health
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berat bayi lahir rendah (BBLR) didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 gram. 1 Berdasarkan data dari WHO dan United
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat sekresi insulin yang tidak adekuat, kerja
BAB I PENDAHULUAN. faltering yaitu membandingkan kurva pertumbuhan berat badan (kurva weight for
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Growth faltering adalah sebuah keadaan gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan laju pertumbuhan yang melambat dibandingkan dengan kurva pertumbuhan sebelumnya. 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dismenore 2.1.1 Definisi dismenore Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. 2.1.2 Klasifikasi dismenore Nyeri haid dapat digolongkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah dilakukan di RS
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Hasil Penelitian Pelaksanaan penelitian tentang korelasi antara kadar asam urat dan kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah
MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT
TEAM BASED LEARNING MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof. Dr. dr. Syarifuddin Rauf, SpA(K) Prof. dr. Husein Albar, SpA(K) dr.jusli
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit tidak menular (non-communicable disease) yang perlu mendapatkan perhatian karena telah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah penyimpangan progresif, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan
BAB I PENDAHULUAN. sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di Indonesia sering terdengar kata Transisi Epidemiologi atau beban ganda penyakit. Transisi epidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Selama usia sekolah, pertumbuhan tetap terjadi walau tidak secepat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak usia sekolah dasar adalah anak yang berusia 6-12 tahun. Selama usia sekolah, pertumbuhan tetap terjadi walau tidak secepat pertumbuhan yang terjadi sebelumnya pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal merupakan organ ekskresi utama pada manusia. Ginjal mempunyai peran penting dalam mempertahankan kestabilan tubuh. Ginjal memiliki fungsi yaitu mempertahankan keseimbangan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi 2.1.1 Pengertian Status Gizi Status gizi adalah keadaan kesehatan individu-individu atau kelompok-kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi
INFEKSI LEHER DALAM. Penulis: Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Rahardjo, Sp. THT-KL (K) Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013
INFEKSI LEHER DALAM Penulis: Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Rahardjo, Sp. THT-KL (K) Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya
Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya Apakah diabetes tipe 1 itu? Pada orang dengan diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat membuat insulin. Hormon ini penting membantu sel-sel tubuh mengubah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, didapatkan peningkatan insiden dan prevalensi dari gagal ginjal, dengan prognosis
PREVALENSI XEROSTOMIA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
PREVALENSI XEROSTOMIA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh:
BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung
DETEKSI DINI, DIAGNOSIS KELAINAN KONGENITAL. dr.jalila Zamzam, Sp.A
DETEKSI DINI, DIAGNOSIS KELAINAN KONGENITAL dr.jalila Zamzam, Sp.A Deteksi Dini Tujuan : mencari kelainan koreksi penyimpangan tumbuh kembang dapat diatasi Dilakukan dengan : pendekatan epidemiologi (faktor
BAB VI PEMBAHASAN. pemeriksaan dan cara lahir. Berat lahir pada kelompok kasus (3080,6+ 509,94
BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan Hasil Karakteristik neonatus pada penelitian ini: berat lahir, usia saat pemeriksaan dan cara lahir. Berat lahir pada kelompok kasus (3080,6+ 509,94 gram) lebih berat daripada
BAB I PENDAHULUAN. kerusakan ginjal (renal damage) yang terjadi lebih dari tiga bulan, dikarakteristikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan National Kidney Foundation penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal (renal damage) yang terjadi lebih dari tiga bulan, dikarakteristikan dengan kelainan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik di dunia maupun di Indonesia (Anonim, 2008b). Di dunia, 12%
