RANCANG BANGUN PERANGKAT LUNAK RELIABILITY-CENTERED MAINTENANCE

dokumen-dokumen yang mirip
Rancang Bangun Perangkat Lunak Reliability- Centered Maintenance untuk Gardu Induk

RANCANG BANGUN PERANGKAT LUNAK RELIABILITY-CENTERED MAINTENANCE (RCM) UNTUK GARDU INDUK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...

Analisis Keandalan Pada Boiler PLTU dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

Identifikasi Bahaya dan Penentuan Kegiatan Perawatan Pada Tower Crane 50T Menggunakan Metode RCM II (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Kapal)

Perancangan Sistem Pemeliharaan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) Pada Pulverizer (Studi Kasus: PLTU Paiton Unit 3)

RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE DALAM PERAWATAN F.O. SERVICE PUMP SISTEM BAHAN BAKAR KAPAL IKAN

ANALISA PERAWATAN BERBASIS RESIKO PADA SISTEM PELUMAS KM. LAMBELU

Dewi Widya Lestari

KETERANGAN SELESAI PENELITIAN...

Pembimbing : Bpk. Ir Arie Indartono MT Bpk. Projek Priyongo SL ST MT

Penjadwalan Maintenance Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance II (RCM II) pada Mesin Pendingin Sabroe Di PT. SMART Tbk.

Desy Ambar Yunanta ( )

Usulan Kebijakan Preventive Maintenance dan Pengelolaan Spare Part Mesin Weaving dengan Metode RCM dan RCS

Oleh: Gita Eka Rahmadani

MANAJEMEN PERAWATAN DENGAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE II (RCM II) PADA MESIN DEKOMPOSER DI PETROGANIK PT. PETROKIMIA GRESIK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 3.1 Diagram Alir Sistematika Pemecahan Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perancangan Aktivitas Pemeliharaan Dengan Reliability Centered Maintenance II (Studi Kasus : Unit 4 PLTU PT. PJB Gresik)

Studi Implementasi RCM untuk Peningkatan Produktivitas Dok Apung (Studi Kasus: PT.Dok dan Perkapalan Surabaya)

I. AKTUARIA (A.1) MANAJEMEN RESIKO DALAM STRATEGI PERAWATAN ASET. Erni D. Sumaryatie Fakultas Sains, Institut Teknologi Telkom Bandung

DAFTAR ISI. ABSTRAK... iii. ABSTRACT... iv. KATA PENGANTAR... v. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL... xii. DAFTAR GAMBAR... xiii

Perancangan Kebijakan Perawatan Mesin Printer 3D CLab A01

ROI ADENAN H / FTI / TI

PERENCANAAN PERAWATAN DENGAN METODE REABILITY MAINTENANCE(RCM II) PADA MESIN ANDI PTP 3013 DI PT. PANGGUNG ELECTRIC CITRABUANA SKRIPSI

PERENCANAAN KEGIATAN PERAWATAN PADA TOWER CRANE MILIK PT. TATAMULIA NUSANTARA INDAH MENGGUNAKAN RCM II (RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE)

Seminar TUGAS AKHIR. Fariz Mus abil Hakim LOGO.

PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE II (RCM II) DALAM PERENCANAAN KEGIATAN PADA MESIN BOILER DI PT PG CANDI BARU SIDOARJO SKRIPSI.

USULAN PROGRAM PERAWATAN YANG OPTIMAL DENGAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE

Analisis Keandalan Pada Boiler PLTU dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

BAB II LANDASAN TEORI

Oleh : Novita Kurnia Putri

Analisis Keandalan Mechanical Press Shearing Machine di Perusahaan Manufaktur Industri Otomotif

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH

Analisa Kegagalan dan Usulan Kebijakan Perawatan Mesin Carding dengan Metode Reliability Centered Maintenance II

BAB 3 Metode Penelitian Persiapan Penelitian Berikut ini tahapan-tahapan yang dilakukan dalam persiapan penelitian ini: 1. Studi Lapangan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah perancangan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: produksi pada departemen plastik

Seminar Nasional Waluyo Jatmiko II FTI UPN Veteran Jawa Timur

PENENTUAN INTERVAL PERAWATAN PADA UNIT PRODUKSI BUTIRAN DENGAN BASIC RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) DI PT PETROKIMIA KAYAKU GRESIK SKRIPSI

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN (BREAKDOWN) UNTUK PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PADA SEMI GANTRY CRANE 32 TON DI PT.

Studi Keandalan Sistem Distribusi 20kV di Bengkulu dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

Penjadwalan Pemeliharaan Mesin Pengelasan Titik Bergerak Menggunakan Metode Realibility Centered Maintenance (RCM)

PENETAPAN JADWAL PERAWATAN MESIN SPEED MASTER CD DI PT. DHARMA ANUGERAH INDAH (DAI)

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Heizer dan Render (2011:36) Manajemen operasi adalah

PERENCANAAN PEMELIHARAAN MESIN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-312

Analisis Keandalan Sistem Distribusi Menggunakan Program Analisis Kelistrikan Transien dan Metode Section Technique

FMEA SEBAGAI ALAT ANALISA RISIKO MODA KEGAGALAN PADA MAGNETIC FORCE WELDING MACHINE ME-27.1

PERANCANGAN RCM UNTUK MENGURANGI DOWNTIME MESIN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR ALUMINIUM RCM TO REDUCE DOWNTIME MACHINE AT ALUMINIUM MANUFACTURING

PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) DALAM MERENCANAKAN KEGIATAN PEMELIHARAAN MESIN PRODUKSI PADA PABRIK X

BAB I PENDAHULUAN. Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan

PENENTUAN INTERVAL PERAWATAN MESIN PERCETAKAN DENGAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE II DI PT. RIYADI WIROTO SANTOSO SURABAYA S K R I P S I

BAB 1 PENDAHULUAN. bergerak dalam dunia industri khususnya sebagai supplier bahan baku

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

STUDI PENEMPATAN SECTIONALIZER PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PENYULANG KELINGI UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN

ISBN:

Oleh : Achmad Muchdianto NRP :

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Usulan Kebijakan Preventive Maintenance Subsistem Kritis Engine T700 dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SISTEM PEWRAWATAN TERPADU (INTEGRATED MAINTENANCE SYSTEM)

BAB II LANDASAN TEORI Pengertian perawatan Jenis-Jenis Perawatan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM)...

BAB III TINJAUAN PIRANTI LUNAK

Diagram 3.1 Flowchart Metodologi Pemecahan Masalah (Lanjutan)

Ariska Andi Kurniawati 1*, Anda Iviana Juniani 2, dan Ekky Nur Budiyanto 3. Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya Abstrak

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA PENGARUH TEKANAN GAS SF6 TERHADAP LAJU BUSUR API PADA PEMUTUS TENAGA (PMT) DI GARDU INDUK TALANG RATU PT.PLN (PERSERO) PALEMBANG

IDENTIFIKASI RISIKO PADA BOILER COAL FIRING SYSTEM FASILITAS PEMBANGKIT PT PJB UNIT PEMBANGKITAN PAITON

BAB I PENDAHULUAN. meminimisasi terhambatnya proses produksi jika terjadi kerusakan.

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

ada, apakah bisa dikatakan nilai yang didapat sudah baik atau tidak, serta mengetahui indeks keandalan ditinjau dari sisi pelanggan.

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN PENJADWALAN PERAWATAN MESIN DIVISI PIPA (STUDY KASUS DI PT. X)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Oleh : Umi Fitriyani

Objek dalam penelitian ini adalah mesin pendukung sistem boiler yang berbahan bakar batu bara di PT Indo Pusaka Berau.

Studi Analisis Keandalan Sistem Distribusi Tenaga Listrik Surabaya Menggunakan Metode Latin Hypercube Sampling

Sumbu X (horizontal) memiliki range (rentang) dari minus takhingga. ( ) hingga positif takhingga (+ ). Kurva normal memiliki puncak pada X

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERENCANAAN INTERVAL PERAWATAN PADA MESIN FORMING DENGAN PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM II) DI PT.IGLAS GRESIK SKRIPSI.

BAB 1 PENDAHULUAN. PT PLN (Persero) adalah BUMN yang menangani aspek kelistrikan yang

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2018), ( X Print) B 1

BAB I PENDAHULUAN. sistem tenaga listrik terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu pembangkitan,

PADA SISTEM GAS BUANG BOILER DI PT. IPMOMI PAITON - PROBOLINGGO

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

OPTIMASI PERSEDIAAN SUKU CADANG UNTUK PROGRAM PEMELIHARAAN PREVENTIP BERDASARKAN ANALISIS RELIABILITAS

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jl. Raya Telang Po Box 2 Kamal, Bangkalan Indonesia 1

Analisis Gangguan Jaringan Kabel dengan Kombinasi Metode Fault Tree Analysis dan Failure Mode and Effect Analysis (Studi kasus PT.

SKRIPSI PENERAPAN STRATEGI PERAWATAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PADA MESIN CONVERTION (STUDI KASUS PT.

Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (2) Teknik Kelistrikan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

USULAN PERBAIKAN KECELAKAAN KERJA DI TERMINAL PETIKEMAS KOJA BERDASARKAN METODE FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS)

2.2.6 Daerah Proteksi (Protective Zone) Bagian-bagian Sistem Pengaman Rele a. Jenis-jenis Rele b.

SIMULASI TEGANGAN DIP PADA SISTEM DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH 20 KV PT. PLN (Persero) APJ SURABAYA UTARA MENGGUNAKAN ATP-EMTP

Transkripsi:

1 RANCANG BANGUN PERANGKAT LUNAK RELIABILITY-CENTERED MAINTENANCE (RCM) UNTUK MENENTUKAN MAINTENANCE TASK PADA GARDU INDUK MENGGUNAKAN METODE RISK PRIORITY NUMBER (RPN) Deddy Ardiyasa, Nurlita Gamayanti, dan Abdullah Alkaff Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: lita@ee.its.ac.id Abstrak Gardu Induk (substation) memiliki peranan penting dalam proses penyaluran listrik dan proteksi sistem kelistrikan terhadap gangguan penghantar. Kinerja gardu induk akan mengalami penurunan kondisi setelah beroperasi dalam jangka waktu tertentu sehingga berdampak pada kerugian operasional maupun non-operasional. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan kegiatan perawatan yang menjamin sub-sistem pada gardu induk dapat memenuhi fungsinya. Reliability-Centered Maintenance (RCM) merupakan metode yang akhir-akhir ini digunakan untuk menentukan strategi perawatan aset yang baik guna mengurangi frekuensi kegagalan fungsi di dunia industri. Analisa RCM dan RPN mampu menyelesaikan permasalahan perawatan pada gardu induk. Analisa RCM dan RPN diimplementasikan pada sebuah software yang mempunyai keluaran berupa jadwal dan prioritas perawatan untuk menjaga nilai keandalan sesuai yang diinginkan. Kata Kunci Perawatan Aset, Reliability-Centered Maintenance, Pemrograman PHP dan MySQL, Sistem Gardu Induk, Maintenance Task, RPN I. PENDAHULUAN erawatan aset merupakan aspek yang sangat penting guna P menjaga kualitas dan kuantitas produksi. Proses produksi yang terhenti akibat kerusakan asset secara mendadak dapat menyebabkan banyak kerugian dan mengurangi kepercayaan pasar [1],[2]. Salah satu aset yang memiliki peranan penting dalam industri listrik adalah gardu induk. Kegagalan fungsi tiap peralatan dan komponen dapat mempengaruhi kinerja gardu induk. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan strategi perawatan yang baik dengan metode RCM untuk menjamin gardu induk dapat memenuhi fungsi sesuai konteks operasinya. Penelitian ini difokuskan untuk analisis secara kualitatif dan kuantitatif pada peralatan serta komponen gardu induk dengan menggunakan metode RCM. Analisis kualitatif meliputi penentuan kegagalan fungsi, bentuk kegagalan, efek kegagalan, konsekuensi kegagalan dan kegiatan perawatan. Sedangkan analisis kuantitatif meliputi model keandalan, laju kerusakan, dan interval perawatan berdasarkan data time-to failure. Selain itu dibuat perangkat lunak RCM yang dapat diakses pada cakupan area tertentu. Bagian berikutnya pada makalah ini menjelaskan tentang konsep RCM dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang perancangan sistem meliputi deskripsi gardu induk, fault tree analysis, information dan decision worksheet RCM, penentuan model distribusi, serta rancangan perangkat lunak itu sendiri pada bagian berikutnya. Kemudian pada bagian selanjutnya menjelaskan tentang pengujian sistem perangkat lunak RCM untuk Gardu Induk Sukolilo Surabaya. Bagian akhir dari makalah ini berisi kesimpulan dan saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya. II. RELIABILITY-CENTERED MAINTENANCE Reliability-centered maintenance pertama kali digunakan pada tahun 1975 untuk industri pesawat militer di USA. Seiring dengan dampak-dampak yang ditimbulkan maka pada tahun 1990 mulai diluncurkan RCM II yang merupakan hasil proses pengembangan RCM sebelumnya yakni dengan menambahkan safety dan environtment consequence pada decision diagram-nya [1]. RCM telah banyak digunakan pada berbagai sektor industri, mulai dari nuklir hingga listrik [3]. Penentuan strategi perawatan berbasis RCM melalui tujuh tahapan yang tercakup dalam information dan decision worksheet, mulai dari pemahaman terhadap fungsi sistem dan performansi standar yang diharapkan, hingga menentukan default action yang sesuai apabila alternatif proactive task yang tersedia tidak efisien dan efektif untuk diaplikasikan pada sistem [1]-[3]. Berikut tujuh pertanyaan dasar yang dijadikan tahapan untuk merancang strategi perawatan berbasis RCM, 1. Apakah fungsi serta standar performansi yang berkaitan dengan asset dalam konteks operasinya saat ini? (function) 2. Dalam kondisi seperti apakah asset gagal dalam memenuhi fungsinya? (functional failure) 3. Apa yang menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi tersebut? (failure modes) 4. Apa yang terjadi pada saat kegagalan tersebut berlangsung? (failure effect) 5. Bagaimana masalah yang ditimbulkan akibat kegagalan yang terjadi? (failure consequences) 6. Apa yang dapat dilakukan untuk memprediksi atau mencegah terjadinya kegagalan fungsi? (proactive task) 7. Apa yang harus dilakukan jika proactive task yang sesuai tidak dapat diberikan? (default action) Penerapan RCM merupakan gabungan beberapa metode untuk menganalisa keandalan suatu sistem, diantaranya fault tree analysis (FTA), failure mode and effect analysis (FMEA), dan perhitungan secara kuantitatif menggunakan model distribusi peralatan atau komponen. Untuk menghitung

2 keandalan suatu sistem atau peralatan, langkah pertama adalah menentukan model probabilitas yang biasanya dinyatakan dengan distribusi statistik [4]. Dalam analisis keandalan, ada beberapa distribusi statistik, dan yang umum dipergunakan, antara lain distribusi eksponensial dan weibull. a. Distribusi Eksponensial Fungsi keandalan untuk distribusi eksponensial dinyatakan dengan persamaan: R t ( t ) e (1) Laju kerusakan (failure rate): ( t) h t (II) Rata-rata waktu kerusakan (MTTF): 0 1 MTTF R( t) dt (3) dengan λ menyatakan parameter yang menentukan karakteristik life time dan t menyatakan lama operasi. b. Distribusi Weibull Distribusi ini biasa digunakan untuk komponen atau peralatan elektromekanik dengan fungsi keandalan dinyatakan dengan persamaan [4]: R ( t ) t exp ( ) (4) Laju kerusakan (failure rate) [4]: 1 h t ( t) t (5) Rata-rata waktu kerusakan (MTTF) [4]: MTTF 1 1 1 (6) dengan β adalah kemiringan (slope) dari fungsi weibull. Untuk interval perawatan, secara matematis ditentukan dengan menggunakan fungsi keandalan dari sistem atau peralatan. Penentuan interval perawatan dengan nilai keandalan dan lama operasi yang diinginkan, dinyatakan dengan persamaan [4]: () = () ( ) (7) dengan menyatakan nilai keandalan yang diinginkan, t lama waktu operasi yang dinginkan, n adalah intensitas banyaknya kegiatan perawatan yang dilakukan, dan s menyatakan interval waktu perawatan. Keberhasilan implementasi RCM akan menyebabkan peningkatan integritas keselamatan dan lingkungan, efektivitas biaya, uptime mesin, database yang lengkap, serta pemahaman yang lebih baik tentang tingkat resiko yang mungkin muncul [1]. III. PERANCANGAN SISTEM Bagian ini menjelaskan tentang beberapa tahapan dalam merancang sistem perangkat lunak sebagai pendukung penerapan RCM di gardu induk. Tahap pertama adalah mengetahui deskripsi dari gardu induk meliputi fungsi yang ada didalamnya untuk memahami konteks operasinya. Kemudian dilakukam identifikasi penyebab tiap kegagalan fungsi yang ada dengan fault tree analysis. Model fault tree digunakan untuk analisis RCM dan menentukan kegiatan perawatan dari tiap bentuk kegagalan. Setelah didapatkan model keandalan dari data kerusakan, information, dan decision worksheet RCM, dibuatlah suatu sistem pendukung penerapan RCM untuk gardu induk berupa perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL. A. Gardu Induk Pada penelitian ini, data yang digunakan didapat dari Gardu Induk Sukolilo Surabaya. Selain untuk menurunkan daya listrik dan mendistribusikan daya ke beban, gardu induk juga memiliki fungsi lain yaitu proteksi sistem tenaga listrik dari gangguan arus dan tegangan berlebih, komunikasi dengan SCADATEL untuk pemantauan proses dari pusat, serta fungsi yang berkaitan dengan keselamatan agar sesuai dengan standar kerja yang telah ditentukan. Guna menunjang peran gardu induk pada sistem kelistrikan Surabaya, terdapat beberapa peralatan pendukung yang memiliki fungsi masing-masing. Pada Gambar 1 merupakan functional block diagram (FBD) yang merepresentasikan keterkaitan tiap fungsi yang ada serta peralatan-peralatan yang mempengaruhi kinerja dari masing-masing fungsi. Gambar 1. Functional block diagram GI Sukolilo B. Pemodelan Fault Tree Terdapat lima fungsi yang dijadikan top event, untuk kemudian dianalisis dan didapatkan model fault tree-nya. Pemodelan fault tree ini dilakukan dengan menganalisa elemen-elemen kritis yang dapat menyebabkan terganggunya kinerja sistem atau peralatan sehingga tidak terpenuhinya fungsi dari gardu induk. Gambar 2 menunjukkan fault tree dari fungsi utama Gardu Induk Sukolilo, yaitu mentransmisikan tenaga listrik sebesar 20 kv. Didapatkan bahwa terdapat lima fungsi pendukung, yaitu menurunkan tegangan 150 kv menjadi 20 kv, membagi beban, proteksi dari gangguan, komunikasi operasi SCADATEL, dan fungsi untuk keselamatan tentang kesesuaian standar kerja yang berlaku. Simbol segitiga yang berisikan angka menunjukkan bahwa penyebab kegagalan tiap fungsi dianalisis lebih lanjut hingga didapatkan bentuk kegagalannya. Analisis fault tree dilakukan berdasarkan pada

3 konteks operasi dan catatan kerusakan sebelumnya serta observasi secara langsung. Gambar 2. Model fault tree Gardu Induk Sukolilo C. Information Worksheet RCM Worksheet ini digunakan untuk mengidentifikasi bentuk dan efek kegagalan fungsi Gardu Induk Sukolilo yang terjadi akibat kerusakan peralatan dan komponen. Biasanya proses ini disebut juga dengan failure mode and effect analysis (FMEA). Berdasarkan model fault tree analysis dari lima fungsi yang dianalisis bentuk dan efek kegagalannya, terdapat 75 bentuk kegagalan yang memiliki efek masing-masing. Tiap fungsi dimungkinkan memiliki bentuk kegagalan yang sama, seperti bentuk kegagalan yang disebabkan oleh circuit breaker. Gambar 3. Contoh information worksheet RCM GI Sukolilo Pada worksheet ini, efek kegagalan yang ditimbulkan tidak hanya berpengaruh pada operasional dan kerusakan peralatan lainnya. Terdapat efek non-operasional, keselamatan, dan lingkungan yang juga diperhatikan. Hasil information worksheet ini diteruskan untuk dianalisis lebih lanjut guna mendapatkan strategi perawatan yang baik berdasarkan RCM decision diagram yang direkam dalam decision worksheet. D. Decision Worksheet RCM Worksheet ini digunakan untuk menganalisa konsekuensi dari masing-masing penyebab kegagalan (failure modes), untuk mencari jenis kegiatan perawatan (proposed task) yang layak dan juga keterangan siapa yang bertanggung jawab dalam melaksanakannya pada kolom can be done by. Pada tahap ini peneliti akan menentukan konsekuensi meliputi keselamatan (S), lingkungan (E), operasional (O), dan nonoperasional (N). Dalam menentukan konsekuensi dan kegiatan perawatan yang sesuai, digunakan RCM decision diagram. Gambar 4. Contoh decision worksheet RCM GI Sukolilo Hasil dari analisis ini didapatkan 75 proposed task untuk lima fungsi Gardu Induk Sukolilo. Rinciannya adalah 5.33% (4 task) predictive maintenance, 26.67% (20 task) preventive maintenance, dan 68% (51 task) default action. Pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam proses perawatan hasil analisis ini adalah electrician, mechanic, instrumentation, operator, dan supervisor. E. Penentuan Model Distribusi Data kerusakan tiap bentuk kegagalan yang didapat, diolah dengan weibull++7 software versi trial untuk mendapatkan model distribusinya. Data kerusakan dari suatu komponen dimasukkan, kemudian keluaran yang dihasilkan adalah alternatif distribusi berdasarkan urutan ranking, dimana distribusi dengan urutan ranking terbaiklah yang dipilih. Selain itu, software ini juga akan memberikan parameter distribusi yang nantinya dapat digunakan untuk mencari nilai MTTF dan diolah kembali untuk mendapatkan model keandalan, laju kerusakannya, dan interval perawatan. F. Risk Priority Number Risk Priority Number (RPN) merupakan salah satu metode terkenal yang digunakan untuk urutan atau peringkat dari prioritas alternatif. Parameter dari RPN adalah [6]: 1. Severity (S) Parameter yang menunjukkan bobot dari efek kegagalan yang mempengaruhi sistem atau konsumen yang menggunakan komponen. 2. Occurrence (O) Parameter yang menunjukkan probabilitas kegagaln yang terjadi. 3. Detection (D) Parameter yang menunjukkan nilai visibilitas kegagalan yang menunjukan perilaku model kegagalan yang di identifikasi dengan kontrol atau inspeksi. Nilai dari RPN diperoleh dari ketiga parameter tersebut: = Jika nilai RPN semakin besar,maka resiko untuk mengakibatkan kegagalan akan semakin besar pula. G. Perangkat Lunak RCM Gardu Induk Sistem perawatan gardu induk dengan menggunakan metode RCM ini teraplikasikan dalam bentuk perangkat lunak dan terdiri dari bagian RCM, gardu induk, analisis RCM, laporan, administrator dan pelengkap. Masing-masing bagian tentunya memiliki peran dan fungsi serta keterkaitan satu dengan yang lainnya. Khusus untuk bagian analisis RCM

4 hanya bisa diakses oleh admin dan pengguna yang telah terdaftar. Gambar 5. Proses kerja perangkat lunak RCM secara umum Perangkat lunak ini bekerja dengan menggunakan database yang terdapat pada bagian administrator. Bagian ini merupakan perwujudan dari database MySQL yang ada sehingga lebih mudah dalam memodifikasinya Inti dari perangkat lunak ini terletak pada bagian analisis RCM. Pada bagian ini terdapat analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap suatu kegagalan. Analisis kualitatif, seperti yang terlihat pada Gambar 6, meliputi hasil dari information dan decision worksheet RCM yang ada pada database ketika di-input-kan kegagalan fungsi yang terjadi. terjadi dan jadwal perawatannya. IV. PENGUJIAN SISTEM Pengujian dilakukan dengan memberikan masukan tertentu pada perangkat lunak, sehingga akan dihasilkan suatu keluaran tertentu. Keluaran yang dihasilkan dari perangkat lunak akan dibandingkan dengan RCM worksheet dan dianalisis secara matematis sehingga dapat diketahui kesesuaiannya. Pelaksanaan pengujian dilaksanakan dalam kondisi sistem telah terintegrasi secara keseluruhan. Contoh kasus ketika terjadi kegagalan pada fungsi menurunkan tegangan 150 kv menjadi 20 kv dan bentuk kegagalannya adalah high pressure CB yang rusak. Maka pada perangkat lunak akan muncul tampilan seperti pada Gambar 8 berikut. Gambar 8. Hasil analisis kualitatif untuk kegagalan high pressure CB Gambar 6. Proses analisis kualitatif Analisis kuantitatif meliputi nilai keandalan, laju kerusakan, MTTF, dan interval perawatan sesuai dengan model distribusinya. Gambar 7 menunjukkan flow chart analisis kuantitatif yang ada pada perangkat lunak. START Pemanggilan data waktu operasi subsistem (t) Nilai keandalan tiap subsistem yang diinginkan user Rs Mencari nilai keandalan tiap subsistem berdasarkan waktu operasi Rx(t) Setelah memilih kegagalan fungsi yang terjadi, langkah selanjutnya adalah memasukkan nilai keandalan subsistem yang diinginkan (Rs) dan program memunculkan nilai keandalan subsistem Rx(t) dalam rentang waktu operasi (t) Gambar 9. Gambar 9. Penentuan nilai Rs dan perhitungan nilai Rx(t) Penyebab gagalnya penurunan tegangan 150kV menjadi 20kV dipengaruhi beberapa faktor. Untuk penentuan penyebab gagalnya penurunan tegangan 150kV menjadi 20kV dapat dilihat pada Gambar 10. Pemanggilan data waktu operasi komponen Nilai MTTF komponen Mencari nilai keandalan komponen berdasarkan waktu operasi R(t) Mencari laju kerusakan h(t) Nilai keandalan Rm(x) berdasarkan nilai keandalan tiap subsistem yang diinginkan user Rs Ekspektasi waktu operasi yang diinginkan Mencari interval perawatan (u) dan banyaknya perawatan (n) Mendapatkan nilai Rx(t),R(t),h(t),Rm(x),interval perawatan dan banyaknya perawatan dari suatu bentuk kegagalan STOP Gambar 7. Flow chart analisis kuantitatif Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif pada bagian analisis RCM kemudian disimpan pada laporan sebagai history kerusakan dan perawatan Gardu Induk Sukolilo. Dalam bagian ini, pengguna dapat mengetahui kerusakan yang sebelumnya Gambar 10 Penentuan Bentuk Kegagalan Setelah memasukkan kegagalan fungsi, peralatan yang mengalami kegagalan, penyebab kegagalan peralatan, dan bentuk kegagalan yang terjadi, maka perangkat lunak dengan sendirinya akan memunculkan efek kegagalan, wewenang, waktu operasi, nilai MTTF, dan tindakan yang harus dilakukan untuk menangani kegagalan tersebut. Tampilan

5 perangkat lunak untuk tahap ini dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 10 Hasil Analisis Kualitatif Perangkat Lunak RCM Keluaran analisis kualitatif perangkat lunak RCM berupa efek kegagalan dan kegiatan maintenance yang dilakukan untuk kegagalan menurunkan tegangan listrik 150 kv menjadi 20 kv dan bentuk kegagalan trafo daya yang gagal bekerja akan dibandingkan dengan RCM worksheet yang ada. Gambar 11 Hasil Analisis Kuantitatif Perangkat Lunak RCM Tabel 1 Hasil perhitungan kegagalan power untuk fungsi kegagalan gagal menurunkan tegangan 150kV menjadi 20kV Model Hasil perhitungan Rx(t) = e^(-(0,0023t)^2,4-0,874053625 (0,0037t)^2,7 -(0,0026t)^2,2 - (0,0015t)^3,05 -(0,0013t)^3,8 - (0,0013t)^3,1 -(0,0018t)^2,9 - (0,00068t)^2,21 -(0,00077t)^2,23 )x R1(t) () = (0.00068)^2.21 0.997136706 h() = 0.0015(0.00068)^1.21 (6.081873517x10)^-5/hari () = ^(1200/) ()((1200 (1200/))) 0.9854 u=54 hari dan n=22 kali Data kerusakan terbaru, yaitu 104 hari pada contoh kasus kegagalan power untuk fungsi kegagalan gagal menurunkan tegangan 150kV menjadi 20kV. Secara kuantitatif proritas perawatan pada fungsi kegagalan menurunkan tegangan 150kV menjadi 20kV dapat dilihat pada tabel diatas. Secara berurutan Terminal Plate line menjadi prioritas utama dikarenakan memiliki waktu interval perawatan yang pendek. Sedangkan secara kuantitatif bentuk kegagalan yang mempunyai nilai RPN tertinggi adalah Terminal Plate Line dan Low Pressure Tank CB. Pada tabel yang diberi warna kuning dan biru adalah komponen yang hubungannya adalah OR. Sedangkan yang tidak deibri warna hubungannya AND. Tabel 2 Tabel Perbandingan Hasil Program RCM dengan RPN Basic Event Interval Jumlah RPN Perawatan (hari) Perawatan Terminal plate 4 275 240 Lengan kontak 9 127 144 Rotary bearing 10 115 210 Moving contact 13 91 196 Fixed contact 32 37 196 Current 38 31 72 Isolator LA 40 29 180 Power 53 22 96 Isolator 64 18 180 Tripping valve 2.4 (jam) 11603 192 Closing valve 70 17 120 Isolator CB 75 15 144 Ground 85 14 150 connector LA Gas filter CB 26 46 224 High pressure 27 44 210 Kompresor 42 28 144 Low pressure 43 27 240 Rekomisioning 94 12 120 SF6 Line connector LA 144 8 150 Tabel 3 Tabel Perbandingan Hasil Program RCM dengan RPN tanpa pembulatan Basic Event Interval Jumlah RPN Perawatan (jam) Perawatan Terminal plate 104,727272 275 240 Lengan kontak 226,771165 127 144 Rotary bearing 250,434782 115 210 Moving 316,483517 91 196 contact Fixed contact 778,378378 37 196 Current 929,032258 31 72 Isolator LA 993,103448 29 180 Power 1309,09091 22 96 Isolator 1600 18 180 Tripping valve 2.48211694 11603 192 Closing valve 1694,11765 17 120 Isolator CB 1920 15 144 Ground 2057,14286 14 150 connector LA Gas filter CB 626,086957 46 224 High pressure 654,545455 44 210 Kompresor 1028,57142 28 144 Low pressure 1066,66667 27 240 Rekomisioning 2400 12 120 SF6 Line connector LA 3600 8 150

6 V. KESIMPULAN/RINGKASAN Dari hasil pengujian sistem perangkat lunak RCM disertai analisa kualitatif RPN untuk Gardu Induk Sukolilo Surabaya, dapat diambil kesimpulan bahwa sistem ini dapat mempermudah pengguna dalam menentukan jadwal interval peralatan optimal dengan memperhitungkan keandalan sistem secara keseluruhan. Selain itu, prioritas perawatan dapat dilihat dari nilai RPN tiap komponen. Semakin tinggi nilai RPN,maka semakin tinggi prioritas perawatannya. Sistem ini dapat membantu karyawan atau operator baru dalam memahami dan menjalankan kegiatan perawatan dengan adanya catatan tentang tindakan yang dilakukan dan data history-nya. Dengan penerapan metode RCM, penyebab dan waktu kerusakan aset dapat diprediksi dan keandalan dapat dipertahankan. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengembangkan perangkat lunak untuk menghitung rataan sisa umur pakai komponen, biaya apabila terjadi kerusakan, dan memperlengkap data teknis tiap komponen. Selain itu, juga dapat dikembangkan untuk menentukan biaya perawatan yang optimal. Pengembangan juga dapat dilakukan dengan menerapkan program RCM yang mampu digunakan pada sistem dengan konfigurasi dan model distribusi yang berbeda tanpa merubah script program. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua penulis yang selalu memberikan doa serta dukungan tulus tiada henti, Bapak Prof. Ir. Abdullah Alkaff, M. Sc., Ph.D., dan Ibu Nurlita Gamayanti, S.T., M.T., atas segala bimbingan ilmu, moral, dan spiritual dari awal hingga terselesaikannya penelitian ini. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada angkatan e-48, Himatektro ITS, pegawai Gardu Induk Sukolilo dan semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. DAFTAR PUSTAKA [1] Moubray, John, Reliability-Centered Maintenance II, Industrial Press Inc., New York, 1997. [2] Siqueira, Iony P., Software Requirements for Reliability-Centered Maintenance Application, Proceeding of International Conference on Probabilistic Methods Applied to Power Systems, KTH, Stockholm, Sweden, June, 2006. [3] Carretero, J., Study of Existing Reliability-Centered Maintenance Approaches Used in Different Industries, Universidad Politecnica de Madrid, Madrid, 2000. [4] Alkaff, Abdullah, Teknik Keandalan dan Keselamatan Sistem, Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS, Surabaya, 1992. [5] PLN, Konsep Dasar Gardu Induk, PLN Press, Jakarta, 2000. [6] J.M. Cai, X.M, Li, G.H. Yang, The Risk Priority Number Methodology for Distribution Priority of Emergency Logistic after Earthquake Disasters, International Conference on Management Science and Industrial Engineering,China,2011.