1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sub sektor pertanian tanaman pangan memiliki peranan sebagai penyedia bahan pangan bagi penduduk Indonesia yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk sehingga dari sisi ketahanan pangan nasional fungsinya menjadi amat penting dan strategis. Komoditi yang masih menjadi pangan pokok utama penduduk Indonesia sampai saat ini adalah beras. Hal ini ditunjukkan oleh total pengeluaran konsumsi makanan per kapita per tahun untuk beras (padi-padian) mencapai 15.81 persen dari total pengeluaran untuk konsumsi makanan (Susenas 2013). Produksi padi/beras masih mengalami fluktuasi antara tahun 2008 dan 2013 dengan kecenderungan mengalami peningkatan rata-rata 3.43 persen per tahun yang dihasilkan dari peningkatan luas panen rata-rata 2.35 persen per tahun dan pertumbuhan produktivitas rata-rata 1.04 persen per tahun. Produksi padi mengalami penurunan sebesar 1.07 persen pada tahun 2011 yaitu menjadi 65 756 904 ton gabah kering giling (GKG) yang disebabkan oleh turunnya luas panen dan produktivitas kemudian produksi padi produksi meningkat lagi sebesar 5.02 persen pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 3.22 persen. Pada tahun 2013, produksi padi mencapai 71 279 709 ton yang bersumber dari luas panen 13 835 252 ha dan produktivitas 51.52 kwintal GKG per ha (BPS 2014). Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi padi yang bertujuan mengimbangi laju pertambahan penduduk yang cukup tinggi dan menjamin ketahanan pangan nasional dan hal ini menjadi salah satu agenda utama dalam pembangunan nasional. Akan tetapi, Indonesia masih memiliki sejumlah kendala dalam peningkatan kapasitas produksi antara lain: (a) terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian, (b) menurunnya kualitas dan kesuburan tanah akibat degradasi lingkungan dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), (c) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air irigasi untuk mendukung kegiatan usahatani padi akibat perubahan iklim mikro dan persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sector pemukiman dan industri, (d) kurangnya pemeliharaan jaringan irigasi sehingga kurang lebih 30 persen di antaranya mengalami kerusakan, (e) semakin tidak pastinya pola hujan akibat perubahan iklim global 1. Maka dari itu, upaya peningkatan produksi yang lebih memungkinkan dilakukan adalah dengan intensifikasi atau perbaikan teknologi (Kusnadi et al. 2011). Upaya peningkatan produksi padi yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah guna menjamin ketahanan pangan nasional adalah intensifikasi usahatani padi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang merupakan bagian dari program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian dan telah dilaksanakan sejak tahun 2008. PTT berbeda dengan program Intensifikasi Khusus (INSUS) maupun SUPRA-INSUS yang pernah dilakukan secara massal di lingkungan petani. Hal yang membedakan PTT dengan pendekatan intensifikasi sebelumnya adalah PTT merupakan suatu pendekatan penerapan 1 Publikasi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Kedudukan Padi dalam Perekonomian Indonesia. [diunduh 15 Nopember 2014]. Tersedia pada: http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itkp_02.pdf
2 teknologi yang disesuaikan dengan kondisi setempat (lokal spesifik), melibatkan petani secara partisipatif sehingga penerapan teknologi pada suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya. 2 Penerapan PTT diharapkan dapat mengoptimalkan peningkatan produksi dan produktivitas gabah dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan (ramah lingkungan). Percepatan proses adopsi inovasi teknologi PTT oleh petani padi ditempuh melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL- PTT) padi. Metode pembelajaran petani melalui Sekolah Lapang (SL) sendiri di Indonesia sudah lama diterapkan yaitu sejak tahun 1989 yang ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pestisida pada tanaman padi dengan meningkatkan pemahaman petani mengenai ekologi tanaman (Kenmore dalam Mancini et al. 2007). Menurut Khatam et al. (2013), Sekolah Lapang Petani (Farmer Field School) merupakan suatu pendekatan pembangunan kapasitas yang menyediakan sejumlah kesempatan bagi petani untuk meningkatkan beragam keterampilan melalui latihan sejumlah teknis yang dilakukan mereka sendiri. Adapun faktor yang menentukan tingkat adopsi suatu inovasi ditentukan oleh karakteristik inovasi yang dipersepsikan individu itu sendiri yaitu (1) sejauhmana inovasi dianggap lebih menguntungkan (relative advantage), (2) kesesuaian dengan norma dan kebutuhan yang ada (compatibility), (3) tingkat kerumitan dalam penerapannya oleh pengguna (complexity), (4) dapat dicoba oleh pengguna dengan sumberdaya yang ada (trialability), dan (5) sejauhmana manfaat penerapan inovasi dapat diketahui oleh penggunanya (Rogers 1983). Pelaksanaan SL-PTT padi dilakukan dalam bentuk pendidikan non formal yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan paket teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahatani yang dijalankan oleh petani padi menjadi menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan. Keberhasilan pelaksanaan program SL-PTT padi dalam mencapai tujuan tidak hanya dapat diukur dari indikator peningkatan produksi, produktivitas dan pendapatan petani yang bersifat fisik (tangible) namun hal-hal yang bersifat bukan fisik (intangible) juga perlu diukur dikarenakan SL-PTT juga bertujuan menjadikan petani /kelompok tani nantinya mampu mengambil keputusan atas dasar pertimbangan teknis dan ekonomis dalam setiap tahapan budidaya usahataninya serta mampu mengaplikasikan teknologi secara benar sehingga tujuan yang bersifat fisik berupa peningkatan produksi dan pendapatan juga tercapai (Kementan 2014). Selain itu, keberlanjutan (sustainable) menjadi salah satu poin dalam tujuan SL-PTT padi mengindikasikan bahwa dampak positif bagi petani diharapkan tetap berlangsung setelah program SL-PTT padi berakhir. Maka dari itu diperlukan metode evaluasi yang dapat menginformasikan mengenai perkembangan positif pada petani berdasarkan pencapaian terhadap tujuan SL-PTT padi baik yang bersifat fisik maupun bukan fisik. Menurut Coelli et al. (2005) terdapat tiga sumber pertumbuhan produktivitas yaitu perubahan teknologi (Technical Change), peningkatan efisiensi teknis (Technical Efficiency) dan peningkatan skala efisiensi (Scale Efficiency 2 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Intensifikasi Tanaman Padi Dengan Pendekatan PTT. [diunduh 13 Nopember 2014]. Tersedia pada: http://old.litbang.deptan.go.id/berita/one/516/
3 Change). Penerapan teknologi PTT padi merujuk pada sumber pertumbuhan produktivitas termasuk ke dalam upaya peningkatan produktivitas melalui perubahan teknologi yang kemudian penerapan teknologi tersebut diharapkan terjadi perbaikan efisiensi teknis usahatani padi sehingga tujuan dari penerapan teknologi PTT berupa peningkatan produksi dan produktivitas padi tercapai. Maka dari itu, pengukuran tingkat efisiensi teknis usahatani padi dari petani peserta program SL-PTT diperlukan untuk mengetahui pencapaian sasaran program SL- PTT padi serta memberikan masukan untuk upaya penyempurnaan program dan kelompok sasaran. Perumusan Masalah Program SL-PTT padi dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia termasuk Jawa Barat yang merupakan salah satu sentra produksi padi nasional dengan produksi tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Timur dengan angka 12 083 162 ton pada tahun 2013 yang meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 7.20 persen dari 11 271 861 ton. Salah satu wilayah dari 26 kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat yang memberikan kontribusi produksi padi cukup besar adalah Kabupaten Sukabumi dengan kontribusi produksi padi sebesar 6.35 persen pada tahun 2013. Maka dari itu, dengan potensi produksi padi yang dimiliki Kabupaten Sukabumi menjadikannya sebagai salah satu wilayah dengan luas areal SL-PTT terbesar di Jawa Barat dengan total luas areal SL-PTT sebesar 33 650 hektar pada tahun 2014. Pelaksanaan program SL-PTT padi di Kabupaten Sukabumi difokuskan melalui pola pengembangan (3 975 ha atau 11.81 persen dari total luas areal SL- PTT) dan didominasi oleh pola pemantapan (29 675 ha atau 88.19 persen dari total luas areal SL-PTT) yaitu daerah yang tingkat produktivitasnya sudah di atas ratarata produktivitas wilayahnya namun masih berpeluang untuk ditingkatkan melalui penggunaan varietas hibrida, penerapan teknologi usaha tani sudah sesuai anjuran namun masih berpotensi menurun karena faktor ketidakstabilan modal usahatani mutu hasil belum optimal, efisiensi usaha belum berkembang dan optimalisasi pendapatan melalui produksi subsektor tanaman sudah maksimal (kecuali ada introduksi teknologi baru). Areal SL-PTT padi yang luas menyebabkan pelaksanaan program SL-PTT padi di Kabupaten Sukabumi dibagi ke dalam tujuh wilayah yang setiap wilayahnya terdiri atas satu Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD). Wilayah I Kabupaten Sukabumi merupakan bagian wilayah utara Kabupaten Sukabumi yang memiliki peran sebagai penunjang kesediaan pangan bagi wilayah Kota Sukabumi. Wilayah I Kabupaten Sukabumi terdiri atas 9 kecamatan dan salah satunya adalah kecamatan Cisaat yang merupakan wilayah dengan produktivitas tertinggi di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2013 (BPS 2014) yaitu dengan produktivitas mencapai 71.99 kuintal per hektar. Penelitian mengenai evaluasi sekolah lapang telah banyak dilakukan dengan menggunakan beragam pendekatan antara lain mengevaluasi program dengan mengukur tingkat pengetahuan dan membandingkan produktivitas kebun peserta program dan non program (Ortiz et al. 2004), mengevaluasi hasil keluaran dari sekolah lapang dengan menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood (SL) (Mancini et al. 2007), menilai persepsi peserta terhadap pelaksanaan program (Wijayanti 2013), memberikan gambaran keragaan program dan megukur efektivitas program dengan melihat pengaruh program terhadap pengetahuan,
4 keterampilan dan penerapan materi SL (Tenlima 2009). Penelitian mengenai evaluasi SL-PTT padi yang dilakukan oleh Tiominar (2015) mengukur tingkat penerapan teknologi PTT padi dan menganalisis pengaruh tingkat penerapan teknologi terhadap peningkatan produksi usahatani padi. Pada penelitian ini, evaluasi program SL-PTT diukur melalui pengukuran efektivitas program. Menurut Campbell dalam Tamyis (2014) pengukuran efektivitas program dapat dilakukan dengan mengukur kepuasan terhadap program, keberhasilan program, keberhasilan sasaran, tingkat input dan output serta pencapaian tujuan menyeluruh, sedangkan menurut Tenlima (2009) menyatakan efektivitas program sekolah lapang dapat dillihat dari peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta pelatihan. Maka dari itu, pengukuran efektivitas program SL-PTT di Kabupaten Sukabumi dapat dilakukan dengan mengukur indikator dari keberhasilan pencapaian tujuan SL-PTT yaitu peningkatan produksi, pendapatan petani yang dihasilkan oleh penerapan teknologi PTT yang menjadikan usahataninya efisien. Peningkatan produksi yang diharapkan mengantarkan kepada peningkatan pendapatan tidak hanya dapat dimaknai sebagai peningkatan ekonomi petani namun juga peningkatan kemampuan petani dalam budidaya usahataninya dengan penerapan teknologi PTT yang diperoleh selama proses pembelajaran yang mengantarkan kepada perubahan pola pikir dan perilaku petani sehingga peningkatan produksi dan pendapatan petani dapat berkelanjutan. Maka dari itu, implementasi program SL-PTT dapat dikatakan efektif apabila program mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus perubahan perilaku positif pada petani dalam hal ini adopsi teknologi. Selain dari itu, perbaikan pada efisiensi teknis usahatani yang diperoleh dari penerapan teknologi PTT yang menjadi sumber pertumbuhan produktivitas menjadikan pengukuran efisiensi usahatani diperlukan pada penelitian ini sebagai ukuran dari keberhasilan pencapaian tujuan program serta saran bagi penyempurnaan program. Berdasarkan pemaparan yang disampaikan maka rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pelaksanaan SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana efektivitas dari program SL-PTT yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi ditinjau dari perubahan pendapatan petani dan adopsi teknologi PTT padi? 3. Bagaimana perbandingan tingkat efisiensi teknis usahatani padi dari SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana implikasi kebijakan terhadap skor efektivitas dan tingkat efisiensi teknis yang dicapai oleh SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi? Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan permasalahan maka tujuan dari penelitian antara lain sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi keragaan pelaksanaan program SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi.
5 2. Menganalisis tingkat efektivitas dari program SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi ditinjau dari perubahan pendapatan petani dan adopsi teknologi PTT oleh petani. 3. Menganalisis tingkat efisiensi teknis usahatani dari petani peserta SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi. 4. Merumuskan implikasi kebijakan terhadap skor efektivitas dan efisiensi teknis usahatani yang dicapai oleh SL-PTT padi yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi. Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program SL-PTT padi di Kabupaten Sukabumi dengan mengukur efektivitas program atas pencapaian tujuan program serta membandingkan pencapaian tingkat efisiensi teknis dari usahatani yang dijalankan petani peserta dan petani non peserta sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai : (1) efektivitas dari program SL-PTT padi di Kabupaten Sukabumi, (2) efisiensi teknis usahatani dari petani peserta SL-PTT di Kabupaten Sukabumi. Selanjutnya manfaat praktis dari penelitian ini adalah (1) sebagai masukan dan pertimbangan untuk perbaikan program SL-PTT di Kabupaten Sukabumi, (2) Bahan studi dan kajian untuk pembuatan model program SL-PTT. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan untuk menganalisis efektivitas program dan tingkat efisiensi teknis usahatani petani peserta SL-PTT padi di Kabupaten Sukabumi. Penelitian hanya dilakukan di Kecamatan Cisaat yang merupakan wilayah dengan tingkat produktivitas padi tertinggi di Kabupaten Sukabumi. Analisis efektivitas program SL-PTT padi dan analisis tingkat efisiensi teknis usahatani dibatasi pada dua musim tanam padi, yakni musim tanam (MT) sebelum pelaksanaan program (MT II tahun 2014) dan MT saat pelaksanaan program (MT III tahun 2014). Keterbatasan penelitian ini adalah penggunaan dua musim tanam yang memiliki karakteristik yang berbeda yaitu MT II tahun 2014 merupakan musim tanam dengan kondisi curah hujan yang cukup atau mendukung untuk pertumbuhan padi sedangkan MT III tahun 2014 merupakan musim kemarau. Pelaksanaan program SL-PTT padi sejak tahun 2008 pada petani padi memungkinkan terjadinya transformasi informasi kepada petani non peserta yang merupakan bentuk eksternalitas positif technology spillover (imbasan teknologi) sehingga memungkinkan adopsi teknologi juga dilakukan oleh petani non peserta program. 2 TINJAUAN PUSTAKA Difusi Inovasi Difusi menurut Rogers (1983) merupakan suatu proses sebuah inovasi yang dikomunikasikan melalui sejumlah saluran dalam jangka waktu tertentu di antara anggota sistem sosial. Tujuan utama dari difusi inovasi adalah diadopsinya suatu