Bab II Landasan Teori

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah segala macam kegaitan yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eva Agustina,2013

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan. dapat menunjang hasil belajar (Sadirman, 1994: 99).

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Laharja Ridwan Mustofa, 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan paparan mengenai pendidikan tersebut maka guru. mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya.

BAB II Kajian Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah. Salah satu bidang

BAB I PENDAHULUAN. terlihat pada rendahnya kualitas pendidikan, dengan adanya kenyataan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip dasar pembelajaran IPA antara lain adalah prinsip keterlibatan, prinsip

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI METODE DISCOVERY

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

cara kerja suatu alat kepada kelompok siswa.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. 2.1 Hakekat Hasil Belajar Siswa Pada Materi Perubahan Penampakan Benda Langit

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL INQUIRY PADA MATA PELAJARAN IPA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan

2 BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah menjadi landasan moral dan etik dalam

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar mata pelajaran fisika di. kelas VIII salah satu SMP negeri di Bandung Utara pada semester

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. sekolah. Proses pembelajaran yang terjadi selama ini kurang mampu. mengembangkan kemampuan berfikir anak, karena keberhasilan proses

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar. Siswa akan dapat mempelajari diri

BAB I PENDAHULUAN. emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar merupakan pondasi awal dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Pembelajaran IPA IPA merupakan ilmu yang mempelajari tentang alam yang sesuai dengan kenyataan dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pihak dapat memperoleh informasi dengan cepat dan mudah dari berbagai

BAB I PENDAHULUAN. SD merupakan titik berat dari pembangunan masa kini dan masa mendatang.

Rinendah Sihwinedar 16

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh siswa namun guru juga

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berpikir tentang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional bab I pasal (1), disebutkan bahwa :

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses yang dialami oleh setiap individu dan

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SD Negeri 20 Ampana pada Pembelajaran IPA melalui Metode Inquiry

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. proses. Secara definisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan-temuan para

BAB I PENDAHULUAN. hanya penguasaan kumpulan pengetahu yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Oleh Adelita Purba Dra. Rosmaini, M.Pd

JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015

PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. berlandaskan pada kurikulum satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan. masyarakat secara mandiri kelak di kemudian hari.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa hipotesis, melakukan observasi, penyusunan teori, pengujian hipotesis, dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.Kajian Teori Hasil Belajar. Sudjana, (2004:22) berpendapat hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE INKUIRI MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SD NEGERI KOTA TEBING TINGGI

sekolah dasar (SD/MI). IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga

BAB I PENDAHULUAN. menjadi bisa bersikap tertentu. Dalam hal ini, belajar merupakan sebuah upaya

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara negosiasi, diskusi dan musyawarah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 956) dijelaskan bahwa negosiasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyelenggaraan pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Salah satunya pelaksanaan

Transkripsi:

Bab II Landasan Teori 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam Dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsepkonsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. 6

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) Sains adalah Ilmu Pengetahuan yang secara umum merupakan pengetahuan mengenai alam dan dunia fisik. Pengetahuan Alam di peroleh dari observasi penelitian dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang di selidiki, di pelajari dan sebagainya. Sutisno, Leo (2008:42) berpendapat bahwa pengertian belajar IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan (correct) pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar (true), dan dijelaskan dengan penalaran yang sahih (valid). Jadi, belajar IPA mengandung tiga hal: proses (usaha manusia memahami alam semesta), prosedur (pengamatan yang tepat dan prosedurnya benar) dan produk (kesimpulan betul). Menurut Semiawan (Sahono, 2010:7) mendefinisikan IPA sebagai pengkajian dan penterjemahan pengalaman manusia tentang dunia fisik, yang mencakup semua aspek pengetahuan yang dihasilkan oleh metode saintifik yang tidak terbatas pada fakta dan proses saintifik tetapi juga berbagai aplikasi pengetahuan dan prosesnya seperti pengamatan, perkiraan dan penilaian serta interpretasi. Dengan demikian IPA adalah produk atau hasil dari proses penyelidikan ilmiah yang dilandasi oleh sikap dan nilai-nilai tertentu. Dari beberapa penjelasan diatas mengenai hakikat IPA maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan suatu ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang mempelajari mengenai gejala- gejala alam serta menuntut adanya sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, kritis, terbuka, objektif, menghargai suatu karya orang lain, mempertanggungjawabkan kebenaran dan menjangkau kedepan. Diharapkan pula, melalui pembelajaran IPA dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri, alam sekitar dan pengembangan lebih lanjut dalam penerapan kehidupan sehari hari. 7

2.1.2 Pengertian Belajar Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (R. Gagne, 1989) dikutip dalam Susanto 2012. Menurut Djamarah dan Zain (2006:11) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, ketrampilan maupun sikap bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Adapun menurut Burton dalam Susanto (2012:3), belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu lain dan individu dengan lingkungannya sehinga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara menurut E.R Hilgard dikutip dari Susanto (2012:3) belajar adalah suatu perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan. Perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan, kecakapan, tingkah laku, dan ini diperoleh melalui latihan (pengalaman). Hilgard menegaskan bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseoang melalui latihan, pembiasaan, pengalaman dan sebagainya. Adapun pengertian belajar menurut W.S. Winkel (2002) dikutip dari Susanto (2012:4), belajar adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan, dan menghasilkan perubahan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relative konstan dan berbekas. Menurut Sadirman (2009: 20), belajar mempunyai dua arti, yaitu arti luas dan arti terbatas/khusus, dalam pengertian luas belajar dapat di artikan sebagai kegiatan psikofisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya dan dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju kepribadian seutuhnya. Sementara menurut Hamalik (2004:37) 8

berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat. Dari beberapa pengertian tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli diatas pada intinya bahwa belajar merupakan suatu aktivitas, dimana seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap, baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak. Tetapi proses, usaha itu harus dilakukan secara sengaja dan sadar karena terdapat perubahan tingkah laku seseorang yang bukan dari hasil peristiwa yang disengaja. Contoh perubahan tingkah laku yang tidak disengaja yaitu seorang wanita dapat menstruasi, orang yang sedang mabuk dia adalah tidak sadar jadi dalam keadaan mabuk dia bisa berjalan yang sempoyongan. Hal itu menunjukkan bahwa jalan sempoyongan bukan dari hasil belajar karena dia sedang dalam keadaan tidak sadar. Untuk contoh peristiwa yang disengaja adalah seseorang yang belum dapat menulis kemudian orang itu belajar menulis sehingga setelah belajar (mengalami proses belajar) orang tersebut dapat menulis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari kondisi semula orang tersebut belum dapat menulis (input) setelah belajar (proses) akan memperoleh kondisi yang berbeda dari keadaan semula tentunya lebih baik yaitu dapat menulis (output). Jadi dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah proses usaha seseorang yang dilakukan secara sengaja dan sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang lebih baik dari keadaan semula dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Secara sederhana peneliti menggambarkan bahwa belajar berawal dari adanya input (kondisi awal seseorang) dan melalui suatu proses (belajar, dilakukan secara sengaja dan sadar) dan akan menghasilkan output atau hasil, hasil yang diperoleh itulah yang biasa disebut hasil belajar. Apabila proses yang biasa saja akan menghasilkan hasil yang 9

berkualitas biasa maka peneliti mencoba memanipulasi proses yaitu agar kualitas hasil dari proses itu menjadi lebih baik. 2.1.3 Pengertian Hasil Belajar Menurut K. Brahim (2007: 39) di kutip dari Susanto (2012:5) menyatakan bahwa hasil belajar dapat di artikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pembelajaran tertentu. Sementara menurut Anni (2004:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Djamarah (2000:45) hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok. Hasil tidak akan pernah dihasilkan selama orang tidak melakukan sesuatu. Untuk menghasilkan sebuah prestasi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar. Secara sederhana, yang di maksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar, karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap, menurut Susanto (2012:5). Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi (Sunal 1993: 94) dikutip dari Susanto (2012:5). Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Disamping itu, guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar disekolah. Maka dari itu yang dimaksud dengan hasil belajar IPA merupakan hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti serangkaian proses belajar IPA yang diajarkan oleh guru. Pada mata pelajaran IPA peneliti menggunakan metode Discovery untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa dalam melakukan suatu pembelajaran. 10

2.1.4 Pengertian Metode Discovery Pembelajaran penemuan merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan kontruktivis moderen. Pada pembelajaran penemuan,siswa didorong terutama untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep konsep dan prinsip prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip prinsip atau konsep konsep bagi diri mereka sendiri. Dikutip dalam buku Hosnan (2014:282) pembelajaran Discovery adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Pada saat belajar penemuan, anak juga bisa berfikir analisa dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi. Menurut Soedjadi (Purwaningsari 2001:10) metode pembelajaran Discovery adalah metode pembelajaran yang sengaja dirancang dengan menggunakan pendekatan penemuan. Para siswa diajak atau didorong untuk melakukan kegiatan eksperimental, sedemikian sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan sesuatu yang diharapkan. Menurut Bell (1978) dikutip dalam buku Hosnan (2014:281) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagai hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru. Dapat disimpulkan bahwa dalam Discovery, siswa didorong untuk belajar sendiri secara mandiri dan siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan pembelajaran konsep konsep dan prinsip prinsip untuk memecahkan suatu masalah pada saat melakukan proses pembelajaran dan guru yang bertugas sebagai fasilitator juga mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan peserta didik untuk menemukan prinsip prinsip mereka sendiri, bukan memberi tahu tetapi memberikan kesempatan 11

menyelesaikan secara langsung agar siswa dapat menemukan sendiri. Jadi Metode Discovery ini dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk bekerja sampai menemukan jawabannya dan siswa belajar untuk memecahkan suatu permasalahannya sendiri atau pun dengan kelompoknya. 2.1.5 Langkah langkah Pembelajaran dengan menggunakan Metode Discovery Langkah -langkah pelaksanaan metode Discovery dalam Abimanyu Soli (2008: 7.12) adalah: 1. kegiatan persiapan a. Mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa b. Merumuskan tujuan pembelajaran c. Menyiapkan problem (materi pelajaran) yang akan dipecahkan. Problem itu dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Problem tentang konsep atau prinsip yang akan ditemukan itu perlu ditulis dengan jelas. d. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Kegiatan pelaksanaan penemuan 1. Kegiatan pembukaan a. Melakukan apersepsi, yaitu mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang telah diajarkan b. Memotivasi siswa dengan cerita pendek yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan. c. Mengemukakan tujuan pembelajaran dan kegiatan/tugas yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran itu. 2. Kegiatan Inti a. Mengemukakan problema yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penemuan b. Diskusi pengarahan tentang cara pelaksanaan penemuan/pemecahan problema yang telah ditetapkan 12

c. Pelaksanaan penemuan berupa kegiatan penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan d. Membantu siswa dengan informasi atau data, jika diperlukan siswa e. Membantu siswa melakukan analisis data hasil temuan, jika diperlukan f. Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa g. Memuji siswa yang giat dalam melaksanakan penemuan h. Memberi kesempatan kepada siswa melaporkan hasil penemuan 3. Kegiatan Penutup a. Meminta siswa membuat rangkuman hasil penemuannya b. Melakukan evaluasi hasil dan proses penemuan c. Melakukan tindak lanjut, yaitu meminta siswa melakukan penemuan ulang jika ia belum menguasai materi dan meminta siswa mengerjakan tugas pengayaan bagi siswa yang telah melakukan penemuan dengan baik. 2.1.6 Kelebihan dan Kekurangan dalam Model Pembelajaran Discovery Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran Discovery, berikut ini merupakan kelebihan dan kelemaham pembelajaran Discovery Menurut Abimanyu Soli (2008:7.10) : Kelebihan model pembelajaran Discovery : 1. Siswa belajar bagaimana belajar melalui proses penemuan. 2. Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sangat kokoh. 3. Metode penemuan membangkitkan gairah siswa dalam belajar. 4. Metode penemuan memungkinkan siswa bergerak untuk maju sesuai dengan kemampuannya sendiri. 5. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia merasa lebih terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar. 13

6. Metode ini berpusat pada anak, dan guru sebagai teman belajar atau fasilitator Adapun kekurangan model pembelajaran Discovery : 1. Metode ini mempersyaratkan kesiapan mental, dalam arti siswa yang pandai akan memonopoli penemuan dan siswa yang bodoh akan frustrasi. 2. Metode ini kurang berhasil untuk kelas besar karena habis waktu guru untuk membantu siswa dalam kegiatan penemuannya. 3. Dalam pelajaran tertentu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide -ide mungkin terbatas. 4. Metode ini terlalu mementingkan untuk memperoleh pengertian, sebaliknya kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan. 5. Metode ini kurang memberi kesempatan untuk berpikir kreatif kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi oleh guru, begitu pula proses-prosesnya dibawah pembinaannya. Untuk mengatasi kekuarangan pada metode Discovery maka dapat disimpulkan bahwa guru harus membentuk kelompok kecil, yang beranggotakan terdiri dari siswa pandai dan siswa kurang pandai, supaya siswa yang pandai dapat membimbing anggota kelompoknya. Metode penemuan untuk IPA dapat pula dilakukan di luar kelas sehingga tidak memerlukan fasilitas atau bahan yang umumnya mahal dan siswa pun dapat secara langsung melakukan kegiatan di luar kelas. Seharusnya dimulai dengan penemuan terbimbing, kemudian jika siswa sudah terbiasa dengan metode ini maka gunakanlah metode penemuan bebas, agar siswa benar-benar dapat berkembang berpikir kreatifnya. 14

2.2 Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian mengenai upaya peningkatan hasil belajar IPA dengan metode pembelajaran Discovery, berdasarkan hasil studi literatur, peneliti menemukan beberapa tulisan atau penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini sebagai berikut. a. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo tahun 2010 bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan metode Discovery di SDN Sidorejo lor 05 Kecamatan Sidorejo Salatiga Semester I Tahun 2009/2010. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 44 anak. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan ketuntasan hasil evaluasi siswa terhadap pemahaman dengan kompetensi dasar sifat bahan dengan bahan penyusunnya. Peningkatan ketuntasan belajar siswa tersebut terjadi secara bertahap, dimana pada kondisi awal hanya terdapat 18 siswa yang telah tuntas dalam belajarnya, pada siklus I pre test ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 35 siswa yang telah tuntas, pada siklus I pertemuan keempat ketuntasan siswa mencapai 100% dan pada siklus II ketuntasan belajar siswa 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode Discovery dapat meningkatkan kompetensi dasar IPA siswa kelas V semester I SDN Sidorejo Lor 05, Kecamatan Sidorejo kota Salatiga semester I tahun ajaran 2009/2010. b. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Triyono tahun 2010 bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan metode Discovery di SD Negeri Seloprojo Kabupaten Magelang Tahun Ajaran 2009/2010. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Seloprojo yang berjumlah 8. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa yang signifikan. Pada siklus I kondisi awal, prestasi belajar peserta didik termasuk dalam kategori rendah yang ditunjukkan dengan rata-rata nilai 5,5, sedangkan pada pembelajaran siklus I, prestasi belajar siswa meningkat ke kategori tinggi yang ditunjukkan 15

dengan rata-rata nilai 78,95. Selanjutnya pada siklus II, terjadi peningkatan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan rata-rata nilai 83,75 dengan pencapaian ketuntasan belajar 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPA SD Negeri Seloprojo. Berdasarkan beberapa penelitian relevan diatas, peneliti akan melakukan penelitian serupa dengan upaya peningkatan hasil belajar IPA menggunakan metode pembelajaran Discovery pada sumber daya alam dan teknologi untuk kelas IV SD Samban 02. Dibandingkan dengan penelitian diatas, siswa sendiri yang langsung melakukan penemuan dengan anggota kelompoknya, supaya siswa lebih memahami pembelajaran, dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Pada pembelajaran ini siswa diharapkan dapat lebih semangat dan termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran sehingga terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa. 2.3 Kerangka Berfikir Metode Discovery digunakan dalam pembelajaran IPA, yang menuntut pola pembelajaran aktif, kreatif dan inovatif. Melalui pembelajaran menggunakan metode Discovery akan menambah pengetahuan siswa melalui lingkungan sekitar. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA karena siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Metode Discovery merupakan metode pengajaran yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif menggunakan mentalnya untuk menentukan alternatif metode yang dapat dipilih dalam pengajaran IPA di SD mengingat diperlukan suatu bentuk kegiatan yang dapat mengarahkan siswa untuk menemukan suatu konsep melalui pengujian atau penemuan secara langsung. Berdasarkan pada teori tersebut, penulis memilih metode Discovery untuk meningkatkan kompetensi belajar siswa kelas IV SD Samban 02 Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 pada mata pelajaran IPA. 16

KONDISI AWAL Strategi pembelajaran yang konvensional (cara lama) Keaktifan siswa kurang (KKM rendah) TINDAKAN Penggunaan Metode Discovery Siklus I Menerapkan Metode Discovery KONDISI AKHIR Berhasil Gagal Siklus II Menerapkan metode Discovery Refleksi Hasil akhir Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berpikir 17

2.4 Pengajuan Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Hipotesis hanya bersifat dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin salah. Berdasarkan ilustrasi yang dipaparkan, hipotesis tindakan dari penelitian tindakan kelas dengan metode Discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPA dengan materi sumber daya alam pada siswa kelas IV SD Samban 02 tahun ajaran 2015/2016. 18