LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) PADA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN KELAPA SAWIT SECARA KIMIA DI AFDELING III KEBUN LARAS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV MICHAEL ERICKSON SILABAN 12011351 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV pada Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) PADA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN KELAPA SAWIT SECARA KIMIA DI AFDELING III KEBUN LARAS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV MICHAEL ERICKSON SILABAN 12011351 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
Pembimbing Tugas Akhir Tim Penguji : 1. Dr. Ir. Ahmad Saleh, M.Sc 2. Sulthon Parinduri SP., M.Si : 1. Ir. P. Sembiring 2. Ir. W.A Tambunan, MP Telah diuji pada tanggal 22 September 2016
RINGKASAN MICHAEL ERICKSON SILABAN. Kajian Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) pada Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit Secara Kimia di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV. Tugas Akhir Mahasiswa STIPAP Program Studi Budidaya Perkebunan dibimbing oleh Dr. Ir. A. Saleh, M.Sc dan Sulthon Parinduri SP, M.Si. Penelitian ini dilaksanakan di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV yang berlangsung pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mengendalikan hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) pada tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Karbosulfan dan Sipermetrin. Penelitian ini menggunakan rancangan Metode Deskriptif dengan mengambil data sekunder yaitu untuk mengetahui berapa besar biaya yang dieluarkan untuk mengendalikan hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Total biaya yang dikeluarkan untuk mengendalikan Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) pada tahun 2015 adalah Rp Rp 108.729.591 dan pada tahun 2016 adalah Rp 131.769.005. Kata kunci : Kelapa Sawit (Elaeis guinenses Jaqc), Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros), Kajian Biaya. i
DAFTAR ISI Hal RINGKASAN... i DAFTAR ISI... ii KATA PENGANTAR... v RIWAYAT HIDUP... vii DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... x BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Urgensi Penelitian... 3 1.3 Tujuan Khusus... 3 1.4 Kontribusi... 3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hama Kumbang Tanduk pada Tanaman Kelapa Sawit... 4 2.2 Klasifikasi dan Siklus Hidup O. rhinoceros... 5 2.2.1 Klasifikasi O. rhinoceros... 5 2.2.2 Siklus Hidup O. rhinoceros... 5 2.3 Gejala Serangan O. rhinoceros... 11 2.4 Teknik Pengendalian O. rhinoceros... 13 2.4.1 Pengendalian Secara Mekanis... 14 2.4.2 Pengendalian Secara Kimiawi... 14 2.4.3 Pengendalian Secara Biologi... 15 2.4.4 Perangkap Feromon... 15 ii
BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 16 3.2 Desain/ Rancangan Penelitian atau Model... 16 3.3 Pengamatan dan Indikator... 16 3.4 Bagan Alur Penelitian... 17 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Informasi Umum... 18 4.1.1 Sejarah Perusahaan... 18 4.1.2 Letak Geografis... 19 4.1.3 Topografi... 19 4.1.4 Luas Areal... 20 4.1.5 Curah Hujan... 21 4.1.6 Peta Afdeling... 24 4.2 Kebijakan Perusahaan dalam Pengendalian O. rhinoceros... 25 4.2.1 Pengendalian Kumbang Tanduk Secara Manual... 25 4.2.2 Pengendalian Kumbang Tanduk Secara Kimiawi... 25 4.3 Analisa Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk... 26 4.3.1 Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 26 4.3.2 Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016... 31 4.3.3 Rekapitulasi Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015-2016... 37 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 39 5.2 Saran... 39 iii
DAFTAR PUSTAKA... 40 DAFTAR LAMPIRAN... 42 1. Berchat Rencana/Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Secara Kimia TBM I Tahun 2015... 42 2. Berchat Rencana/Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Secara Kimia TBM II Tahun 2016... 42 iv
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Kajian Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) pada Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit Secara Kimia di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV adalah merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan. Dalam penulisan Tugas Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat-nya penulis diberi kemudahan dan kebijaksanaan dalam proses pengerjaan Tugas Akhir. 2. Orang tua ku tercinta Bapak dan Mama yang sudah jerih payah menguliahkan penulis. 3. Adik-adik kesayangan ku Yohana Margareta Silaban, Rachel Veronisa Silaban terkhusus buat Priscilla Ermita Silaban, yang selalu memberikan penulis semangat dan motivasi. 4. Bapak Wagino, MP selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan. 5. Bapak Guntoro, SP,MP selaku Ketua Program Studi Budidaya Perkebunan atas bimbingan nya selama ini. 6. Bapak DR. Ir. A. Saleh, M.Sc dan Bapak Sulthon Parinduri SP,M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan tugas akhir ini. v
7. Bapak Manager, Askep, Asisten dan seluruh jajaran PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Laras yang telah banyak membantu dan memfasilitasi dalam pengumpulan data untuk tugas akhir ini. 8. Staf-staf pengajar serta karyawan dan karyawati STIPAP Medan yang telah membantu dalam kelancaran proses studi ini. 9. Buat teman-teman seperjuangan BDP IV-B yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu atas kerja sama, dorongan semangat, keceriaan nya selama ini. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas akhir ini. Semoga tugas akhir ini berguna bagi kita semua, dan kiranya Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-nya kepada kita semua. Medan, Oktober 2016 Penulis vi
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 5 Desember 1993 di Kota Magelang Provinsi Jawa Tengah. Anak pertama dari empat bersaudara dari Bapak Ondo Silaban dan Ibu Duma Romauli Sihotang. Penulis menyelesaikan pendidikan formal : 1. Tahun 2006 lulus Sekolah Dasar (SD) RK Serdang Murni Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang 2. Tahun 2009 lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang 3. Tahun 2012 lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang 4. Tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan pada Program Studi Budidaya Perkebunan Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti dua kali PKL (Praktek Kerja Lapangan). Pada tahun 2014 penulis mengikuti kegiatan PKL 1 di PTPN IV Kebun Laras Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dan pada tahun 2015 PKL II di PT MINANGA OGAN Provinsi Sumatera Selatan. Dan juga mengikuti kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PPM) di Desa Sukarejo, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu bara. vii
DAFTAR TABEL Tabel Judul Hal 2.1 Siklus Hidup Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros)... 10 2.2 Kriteria Serangan Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros)... 13 4.1 Luas Areal Kebun Laras PTPN IV per Afdeling... 20 4.2 Luas Afdeling III Berdasarkan Tahun Tanam... 20 4.3 Areal Tanaman Tahun Tanam 2014... 21 4.4 Data Curah Hujan Afdeling III Kebun Laras... 21 4.5 Realisasi Pemakaian Bahan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 27 4.6 Realisasi Pemakaian Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 28 4.7 Realisasi Pemakaian Bahan dan Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 29 4.8 Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 30 4.9 Realisasi Pemakaian Bahan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016... 32 4.10 Realisasi Pemakaian Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016... 33 4.11 Realisasi Pemakaian Bahan dan Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016... 34 viii
4.12 Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016... 35 4.13 Realisasi Pelaksanaan Pengendalian Hama Kumbang Kumbang Tanduk Secara Kimiawi di Afdeling III Kebun Laras Tahun 2015- Juli 2016... 37 ix
DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Hal 2.1 Siklus hidup O. rhinoceros... 6 2.2 Telur O. rhinoceros... 7 2.3 Larva O. rhinoceros... 8 2.4 Pupa O.rhinoceros... 9 2.5 Imago O. rhinoceros... 10 2.6 Gejala Serangan O. rhinoceros... 12 4.1 Grafik rata-rata hari hujan di Afdeling III Kebun Laras... 22 4.2 Grafik rata-rata curah hujan di Afdeling III Kebun Laras... 23 4.3 Peta Afdeling III Kebun Laras... 24 4.4 Grafik Perbandingan Penggunaan Biaya Insektisida Marshal Dan Scud Tahun 2015... 30 4.5 Grafik Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015... 31 4.6 Grafik Perbandingan Penggunaan Biaya Insektisida Marshal Dan Scud Tahun 2016... 35 4.7 Grafik Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tanduk Tahun 2016... 36 4.8 Grafik Perbandingan Realisasi Biaya Tahun 2015- Juli 2016... 38 x
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit, sejarah budidaya kelapa sawit di Indonesia telah berlangsung lebih dari 150 tahun. Kelapa sawit sangat penting artinya bagi Indonesia dalam kurun waktu 35 tahun terakhir ini sebagai komoditi andalan untuk ekspor maupun komoditi yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan harkat petani pekebun serta transmigran Indonesia (Lubis, 2008). Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat dalam kurun waktu 25 tahun terakhir dari lahan seluas 973 ribu ha pada tahun 1989, menjadi 10.95 juta ha pada tahun 2014. Sedangkan produksi tanaman yang pada tahun 1989 awalnya hanya 1,96 ton, pada tahun 2014 mencapai 29,34 juta ton atau masih berkisar antara 3-4 ton TBS/ha per tahun (Direktorat Jendral Perkebunan, 2015). Budidaya kelapa sawit saat ini menghadapi masalah yang cukup sulit yaitu adanya gangguan hama dan penyakit. Hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan khususnya di areal replanting yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia adalah hama kumbang tanduk (O. rhinoceros). Hal ini disebabkan di areal replanting kelapa sawit banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai tempat berkembang biak hama ini (PPKS, 2010). Kumbang O. rhinoceros merupakan hama utama pertanaman kelapa sawit muda, terutama pertanaman ulang di areal yang sebelumnya terserang berat, tanaman dapat mati. Jika dapat bertahan, maka daya hasil tanaman menurun bahkan saat awal produksinya tertunda. Masalah kumbang tanduk saat ini 1
semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong di gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar (Susanto dkk, 2005). Kumbang O. rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali di jumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai di areal TM (Utomo dkk, 2007). Areal TBM menjadi sasaran utama hama O. rhinoceros dengan pelepahpelepah muda yang mengering diantara daun-daun tua yang masih hijau. Imago menggerek terutama bagian sisi batang pada pangkal pelepah yang lebih rendah, mencapai langsung titik tumbuh. Imago ini juga menyerang pelepah pertama pada mahkota dengan memakan jaringan tanaman yang masih muda sehingga pertumbuhan pelepah baru akan terganggu bentuknya dan mengganggu proses fotosintesis (PPKS, 1996). Pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) tidak terlepas dari tujuan perusahaan, yaitu untuk meningkatkan kualitas/produktivitas kelapa sawit serta untuk mendapatkan keuntungan. Biaya pemeliharaan baik TBM maupun TM dikelola dengan seefektif dan seefisien mungkin. Khususnya biaya untuk pengendalian hama, pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) tersebut bisa dilakukan secara kimiawi. Untuk itu, penggunaan biaya pengendalian hama secara kimia harus diperhitungkan dengan baik. 2
1.2 Urgensi Penelitian Budidaya tanaman kelapa sawit sering sekali mengalami gangguan serangan hama, khususnya hama kumbang tanduk. Pengaruh dari serangan tersebut mengakibatkan produktivitas tanaman mengalami penurunan. Dalam hal ini perusahaan mempunyai alternatif pengendalian hama kumbang tanduk berupa pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin. Dalam penelitian ini, penulis mengamati kajian biaya menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin pada tanaman belum menghasilkan kelapa sawit. 1.3 Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya dalam pengendalian hama kumbang tanduk (O.rhinoceros) menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin pada tanaman belum menghasilkan kelapa sawit di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV. 1.4 Kontribusi Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pelaku usaha perkebunan dalam hal analisa biaya pengendalian hama kumbang tanduk (O.rhinoceros) dengan cara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin pada tanaman belum menghasilkan kelapa sawit. 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hama Kumbang Tanduk pada Tanaman Kelapa Sawit Hama O. rhinoceros yang lebih dikenal sebagai kumbang tanduk atau kumbang badak atau kumbang penggerek pucuk kelapa sawit, pada saat ini menjadi hama utama di perkebunan kelapa sawit. Sebelumnya, hama ini lebih dikenal sebagai hama pada tanaman kelapa dan palma lain (Jackson dan Klein,2006). Menurut Susanto dkk (2012) kerugian akibat serangan O. rhinoceros pada perkebunan kelapa sawit dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara tidak langsung adalah dengan rusaknya pelepah daun yang akan mengurangi kegiatan fotosintesis tanaman yang pada akhirnya akan menurunkan produksi. Kerugian secara langsung adalah matinya tanaman kelapa sawit akibat serangan hama ini yang sudah mematian pucuk tanaman. Permasalahan hama ini semakin menjadi lebih penting diakibatkan pemberlakuan sistem zero burning pada replanting atau peremajaan tanaman tua. Batang tanaman kelapa sawit yang telah terserang ganoderma tetapi masih tegak berdiri, merupakan tempat yang sangat sesuai untuk perkembangan hama O. rhinoceros (Susanto dkk, 2005). Kumbang ini berukuran 40-50 mm, berwarna coklat kehitaman, pada bagian kepala terdapat tanduk kecil. Pada ujung perut yang betina terdapat bulu-bulu halus, sedang pada yang jantan tidak berbulu. Kumbang menggerek pupus yang belum terbuka mulai dari pangkal pelepah, terutama pada tanaman muda diareal peremajaan. Kumbang dewasa terbang ke tajuk kelapa pada malam hari dan mulai pelepah daun yang belum terbuka dan dapat menyebabkan 4
pelepah patah. Kerusakan pada tanaman baru terlihat jelas setelah daun membuka 1-2 bulan kemudian berupa guntingan segitiga seperti huruf V. Gejala ini merupakan ciri khas kumbang O. rhinoceros. Serangan hama O. rhinoceros dapat menurunkan produksi tandan buah segar pada panen tahun pertama hingga 60 % dan menimbulkan kematian tanaman muda hingga 25 % (PPKS, 2009). 2.2 Klasifikasi dan Siklus Hidup O. rhinoceros 2.2.1 Klasifikasi O. rhinoceros Menurut Zaini (1991) Klasifikasi hama O. rhinoceros ini adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Coleoptera Family : Scarabaeidae Genus : Oryctes Species : Oryctes rhinoceros 2.2.2 Siklus Hidup O. rhinoceros Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Iklim kering dan kondisi sedikit makanan akan merusak perkembangan larva, yang dapat bertahan selama 14 bulan dan menyebabkan ukuran dewasa lebih kecil. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27 C dengan kelembapan relative 85-95%. Satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan (Susanto dkk, 2012). Menurut Lubis (2008) kumbang ini menimbulkan kerusakan pada tanaman muda dan tanaman tua, kumbang membuat lubang pada pangkal pelepah daun 5
muda terutama pada daun pupus, makin muda bibit yang dipakai semakin mudah kumbang masuk ke dalam. Adanya tanaman kacangan penutup tanah akan menghalangi pergerakan kumbang dalam menemukan tempat berkembang biak (Lubis dkk, 2011). Di lapangan siklus hidup dari kumbang tanduk dan khususnya masa larva di dalam batang busuk sangat bervariasi tergantung pada kondisi iklim. Siklus hidup hama kumbang tanduk dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2.1 : Siklus hidup O. rhinoceros Kumbang tanduk menjalani proses metamorfosis sempurna dengan 4 tahap: telur, larva, kempompong dan imago. Lama proses metamorfosis pada kumbang tanduk bervariasi tergantung spesies dan lingkungan. Di Indonesia yang beriklim tropis, proses metamorfosis kumbang tanduk berlangsung cenderung cepat dibanding spesies kumbang tanduk dari negara dengan 4 musim. 6
a) Telur Kumbang tanduk betina bertelur pada bahan-bahan organik seperti di tempat sampah, daun-daunan yang telah membusuk, pupuk kandang, batang, kompos, dan lain-lain. Siklus hidup kumbang ini antara 4-9 bulan, namun pada umumnya 4-7 bulan. Jumlah telurnya 30-70 butir atau lebih, dan menetas setelah lebih kurang 12 hari. Telur berwarna putih, mula-mula bentuknya jorong, kemudian berubah agak membulat. Telur yang baru diletakkan panjangnya 3 mm dan lebar 2 mm ( Pracaya, 2009). Telur-telur ini diletakkan oleh serangga betina pada tempat yang baik dan aman (misalnya dalam pohon kelapa sawit yang melapuk), setelah 2 minggu telur-telur ini menetas. Rata-rata fekunditas seekor serangga betina berkisar antara 49-61 butir telur, sedangkan di Australia berkisar 51 butir telur, bahkan dapat mencapai 70 butir. Pada tandan kosong yang belum terdekomposisi sempurna (baru diletakkan di lapangan) biasanya dijumpai telur dan larva saja (Rahayuwati dkk, 2002). Gambar 2.2 : Telur O. rhinoceros b) Larva Larva yang baru menetas berwarna putih dan setelah dewasa berwarna putih kekuningan, warna bagian ekornya agak gelap dengan panjang 7-10 cm. Larva dewasa berukuran panjang 12 mm dengan kepala berwarna 7
merah kecoklatan. Tubuh bagian belakang lebih besar dari bagian depan. Pada permukaan tubuh larva terdapat bulu-bulu pendek dan pada bagian ekor bulu-bulu tersebut tumbuh lebih rapat. Stadium larva 4-5 bulan (Setyamidjadja, 2006). Larva O. rhinoceros berkaki 3 pasang, Tahap larva terdiri dari tiga instar, masa larva instar satu 12-21 hari, instar dua 12-21 hari dan instar tiga 60-165 hari. Larva terakhir mempunyai ukuran 10-12 cm, larva dewasa berbentuk huruf C, kepala dan kakinya berwarna coklat. Lundi-lundi yang telah dewasa masuk lebih dalam kedalam tanah yang sedikit lembab (lebih kurang 30 cm) untuk berkepompong (Mohan, 2006). Gambar 2.3 : Larva O. rhinoceros c) Prepupa Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari (Susanto dkk, 2012). d) Pupa Pupa berada di dalam tanah, berwarna coklat kekuningan berada dalam kokon yang dibuat dari bahan-bahan organik di sekitar tempat hidupnya. 8
Pupa jantan berukuran sekitar 3-5 cm, yang betina agak pendek. Masa prapupa 8-13 hari. Masa kepompong berlangsung antara 18-23 hari. Kumbang yang baru muncul dari pupa akan tetap tinggal di tempatnya antara 5-20 hari, kemudian terbang keluar (Prawirosukarto dkk, 2003). Ukuran pupa lebih kecil dari larvanya, kerdil, bertanduk dan berwarna merah kecoklatan dengan panjang 5-8 cm yang terbungkus kokon dari tanah yang berwarna kuning. Stadia ini terdiri atas 2 fase: Fase I : selama 1 bulan, merupakan perubahan bentuk dari larva ke pupa. Fase II : Lamanya 3 minggu, merupakan perubahan bentuk dari pupa menjadi imago, dan masih berdiam dalam kokon (Setyamidjadja, 2006). Gambar 2.4 : Pupa O. rhinoceros e) Imago Pada waktu ganti kulit dari pupa ke imago dibutuhkan waktu 24 jam. Ganti kulit dimulai dengan terbentuknya pupa dari bagian kepala kemudian imago bergerak sehingga bungkus pupa terlepas. Mula-mula elytra bewarna keputihan, kemerahan, merah kehitaman dan hitam. Waktu yang dibutuhkan dari elytra berubah dari warna keputihan sampai bewarna hitam antara lima sampai enam hari. Walaupun elytra ini sudah bewarna hitam tetapi masih lunak jika ditekan Jika dilakukan gangguan pada kokon 9
dengan dilakukan perobekan maka imago akan keluar kokon walaupun sklerotasi belum selesai (Rahayuwati dkk, 2002). Kumbang yang baru keluar terbang menuju pohon kelapa dan memakan pucuk kelapa sambil mencari pasangan, kemudian terjadi perkawinan. Dan setelah itu kumbang betina terbang menuju tumpukan sampah-sampah atau menuju tumpukan tandan kosong kelapa sawit untuk bertelur. Umur kumbang antara 2-4,5 bulan (Siswanto, 2003). Jika lingkungan cocok dan pakan cukup, kumbang badak akan terbang dalam jarak yang dekat saja. Namun, jika pakan kurang baik, kumbang bisa terbang sampai sejauh 10 km (Pracaya, 2009). Gambar 2.5 : Imago O. rhinoceros Tabel 2.1 Siklus Hidup Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) No Fase Jangka Waktu (Hari) 1 Telur 8-10 2 Instar Pertama 10-21 3 Instar Kedua 12-21 4 Instar Ketiga 60-165 5 Prepupa 8-13 6 Pupa 17-28 7 Dewasa Betina 274 8 Dewasa Jantan 192 Total 115-260 10
Menurut Susanto dkk (2012) tempat berkembang biak kumbang tanduk (O. rhinoceros) yaitu : 1. Rumpukan batang kelapa sawit di areal replanting 2. Rumpukan batang yang telah dicacah 3. Tanaman yang masih berdiri pada sistem underplanting, sasaran untuk peletakan telur 4. Larva berkembang sangat baik pada tandan kosong kelapa sawit yang diaplikasikan pada gawangan maupun pada lubang tanam besar. 2.3 Gejala Serangan O. rhinoceros Menurut Lubis (2011) bagian yang diserang hama kumbang tanduk biasanya pupus daun (daun tombak). Stadium hama yang merugikan saat menjadi kumbang. Kumbang hanya meninggalkan tempat bertelurnya pada malam hari, lalu menyerang tanaman kelapa sawit. Kumbang membuat lubang di dalam pupus yang belum membuka, mulai dari pangkal pelepah, jika pupus pangkal mulai membuka, biasanya terlihat tanda serangan berupa potongan simetris berbentuk huruf V di kedua sisi pelepah daun. Menurut Loring (2007) tanda serangan terlihat pada bekas lubang gerekan pada pangkal batang, selanjutnya mengakibatkan pelepah daun muda putus dan membusuk kering. Dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kelapa sawit menyebabkan masalah. Hama ini sekarang juga dijumpai pada areal tanaman yang menghasilkan. Hama ini dapat merusak pertumbuhan tanaman dan dapat mengakibatkan tanaman mati (Prawirosukarto dkk, 2003). 11
Gambar 2.6: Gejala Serangan O. rhinoceros Hama ini biasanya berkembang biak pada tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan, yang banyak dijumpai pada kedua areal tersebut. Kumbang dewasa akan menggerek pucuk kelapa sawit. Gerekan tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan jika sampai merusak titik tumbuh akan dapat mematikan tanaman. Pada areal peremajaan kelapa sawit, serangan kumbang tanduk dapat mengakibatkan tertundanya masa produksi kelapa sawit sampai satu tahun dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Akhir-akhir ini, serangan kumbang tanduk juga dilaporkan terjadi pada tanaman kelapa sawit tua sebagai akibat aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang tidak tepat (lebih dari satu lapis). Serangan hama tersebut menyebabkan tanaman kelapa sawit tua, menurun produksinya dan dapat mengalami kematian (Winarto, 2005). Pada tanaman muda kumbang tanduk ini mulai menggerek dari bagian samping bonggol pada ketiak pelepah terbawah, langsung ke arah titik tumbuh kelapa sawit. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4,2 cm dalam sehari. Apabila gerekan sampai ke titik tumbuh, kemungkinan tanaman akan mati. Pucuk kelapa sawit yang terserang, apabila nantinya membuka pelepah daunnya akan kelihatan seperti kipas atau bentuk lain yang tidak normal (Prawirosukarto dkk, 2003). 12
Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), gejala serangan kumbang tanduk pada tanaman kelapa sawit antara lain : 1. Tunas di pembibitan menjadi kering karena gerekan 2. Areal TBM menjadi sasaran utama hama kumbang tanduk dengan pelepah-pelepah mongering diantara daun-daun tua yang masih hijau dan berbentuk seperti kipas 3. Adanya lubang bekas gerekan kumbang tanduk pada bagian pangkal pelepah 4. Pelepah terpuntir, dan posisi terlihat tidak beraturan serta timbulnya tunas baru Tabel 2.2. Kriteria Serangan Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Tingkat Serangan Ringan Sedang Berat Keterangan Tanaman digerek, pucuk belum rusak Tanaman digerek, pucuk rusak tapi tumbuh lagi Tanaman digerek, pucuk tidak tumbuh dan perlu disisip 2.4 Teknik Pengendalian O.rhinoceros Teknik pengendalian O. rhinoceros yang umum dilaksanakan adalah dengan pengelolaan tanaman penutup tanah (leguminose cover crop), sistem pembakaran, sistem pencacahan batang, pengutipan kumbang dan larva, secara kimiawi dan hayati. Semua metode pengendalian diaplikasikan secara tunggal maupun terpadu menunjukkan kerterbatasan dalam skala yang besar. Paket yang dilaksanakan dalam pengendalian kumbang O. rhinoceros, biasanya terdiri dari mekanis, biologi dan kimiawi. Metode mekanis terdiri dari pengutipan larva dan kumbang dari sisa tanaman, secara kimiawi meliputi penggunaan pestisida, dan secara biologi dengan menggunakan Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana dan Baculovirus oryctes. 13
2.4.1 Pengendalian Secara Mekanis Pengendalian secara mekanis yaitu dengan pengutipan kumbang ada tanaman dengan menggunakan kawat yang dilakukan dengan manual. Populasi larva hama O.rhinoceros yang terlalu banyak pada tanaman TBM yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengutipan larva maka dapat dilakukan tindakan pengendalian secara fisik dan mekanik dengan menggunakan alat berat. Pada tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat berkembang biak hama O.rhinoceros yang biasanya tandan kosong kelapa sawit, rumpukan batang kelapa sawit, tunggul tanaman lain, serta tanah gambut dilakukan pelindasan dengan menggunakan alat berat sekaligus membongkar gundukangundukan yang besar dan selanjutnya dilakukan pengutipan larva secara manual. 2.4.2 Pengendalian Secara Kimiawi Pengendalian kimiawi masih diperlukan dalam pengendalian hama O.rhinoceros karena tidak semua yang ditarik feromon masuk dalam ferotrap. Oleh karena itu penggunaan insektisida untuk 6 tanaman disekeliling feromon menjadi wajib dilaksanakan. Dengan demikian, penggunaan insektisida tidak harus digunakan untuk semua tanaman kelapa sawit. Insektisida yang banyak digunakan adalah berbahan aktif karbosulfan atau sipermetrin. Insektisida berbahan aktif karbosulfan biasanya diaplikasikan dengan cara ditabur dengan dosis 5-10 gram per tanaman dengan frekuensi tergantung pada musim. Pada musin kemarau frekuensi aplikasi berkisar 2-3 minggu sekali, sedangkan pada musim penghujan biasanya dengan frekuensi aplikasi adalah 7-10 hari sekali. Aplikasi pada tanaman yang agak tinggi dengan menggunakan alat tambahan berupa galah yang ujungnya ada wadah insektisida. Aplikasi insektisida sipermetrin berupa penyemprotan. 14
2.4.3 Pengendalian Secara Biologi Pengendalian kumbang tanduk O.rhinoceros secara biologi menggunakan beberapa agensia hayati diantaranya jamur Metarhizium anisopliae dan Baculovirus Oryctes. Untuk aplikasi virus saat ini belum digunakan secara luas di perkebunan kelapa sawit. Jamur Metarhizium merupakan jamur parasit yang telah lama digunakan untuk mengendalikan hama O.rhinoceros. Jamur ini efektif menyebabkan kematian pada stadia larva dengan gejala mumifikasi yang tampak 2-4 minggu setelah aplikasi. Jamur diaplikasikan dengan menaburkan 20 g/m2 (dalam medium jagung) pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit dan 1 kg/batang kelapa sawit yang telah ditumbang. Baculovirus Oryctes juga efektif mengendalikan larva maupun kumbang O.rhinoceros. 2.4.4 Perangkap Feromon Upaya terkini dalam mengendalikan kumbang tanduk adalah penggunaan perangkap feromon. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) saat ini telah berhasil mensintesa feromon agregat untuk menarik kumbang jantan maupun betina. Feromon agregat ini berguna sebagai alat kendali populasi hama dan sebagai perangkap massal. Rekomendasi untuk perangkap massal adalah meletakkan satu perangkap untuk 2 hektar (Mangunsoekarjo, 2003). Pada populasi kumbang yang tinggi, aplikasi feromon diterapkan satu perangkap untuk satu hektar. Pemerangkapan kumbang O.rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh. 15
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini mulai bulan Juli sampai dengan Agustus 2016. 3.2 Desain/Rancangan Penelitian atau Model Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Analisa Deskriptif (pengambilan data), yaitu dengan mengumpulkan data tentang biaya pengendalian hama kumbang tanduk dengan menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin. 3.3 Pengamatan dan Indikator Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Informasi umum a. Sejarah Perusahaan b. Letak Geografis c. Topografi d. Luas areal e. Curah Hujan 2. Kebijakan perusahaan pengendalian hama kumbang tanduk a. Blok b. Dosis c. Cara Aplikasi 3. Analisa Biaya a. Jumlah bahan b. Jumlah tenaga c. Harga persatuan d. Realisasi harga 16
3.4 Bagan Alur Penelitian Survey Lokasi Persiapan Penelitian Pengumpulan Data / Informasi Analisa Data Penyusunan Laporan 17
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Informasi Umum 4.1.1 Sejarah Perusahaan Pada mulanya Perkebunan ini milik Perkebunan Belanda dengan nama H.V.A (Handels Vergiing Amsterdam). Dengan budidaya yang ditanam pertama adalah Serat Nanas (Agave). Setelah Belanda meninggalkan Indonesiapada tahun 1958, perkebunan ini diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia (Nasionalisasi) dan diberi nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Baru.Pada tahun 1961/1962 terbentuk PPN Sumut dan Kebun Laras tergabung dalam PN Sumut III. Kemudian pada tahun 1968 PPN Sumut III beralih menjadi PN. Perkebunan VII, sekaligus Tanaman Nanas dikonversi menjadi Tanaman Kelapa Sawit. Pada tahun 1972 Perkebunan Laras dengan Perkebunan Dolok Ilir digabung menjadi satu dipimpin oleh seorang Administratur dengan pembagian afdeling sebagai berikut : - Perkebunan Laras terbagi 5 (lima) Afdeling dengan seorang Asisten Kepala - Perkebunan Dolok Ilir terbagi 9 (Sembilan) Afdeling dengan 2 orang Asisten Kepala Pada tahun 1980 Perkebunan Laras dan Dolok Ilir dipisah dan berdiri sendiri, masing-masing dipimpin oleh seorang Administratur. Kebun Laras terdiri dari 5 Afdeling, dimana produksinya masih tetap diolah di Kebun Dolok Ilir. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri No. 54/KNK/011/85, tanggal 13 Januari 1985 PNP VII dirubah menjadi PTP VII (Persero), dengan Visi dan Misi Tri Dharma Perkebunan yaitu : - Menambah devisa negara 18
- Memelihara kesuburan tanah dan potensi sumber daya alam - Memperluas lapangan pekerjaan Pada tanggal 14 Februari 1996 melaui Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1996, PTP VI, PTP VII dan PTP VIII digabung menjadi PTP. Nusantara IV (Persero) dengan Kantor Pusat di Bah Jambi. Sejak tanggal 1 Januari 2003 Kantor Pusat PTP. Nusantara IV (Persero) pindah dari Bah Jambi ke Medan. 4.1.2 Letak Geografis Pada Bulan April 2010 terjadi Rasionalisasi Afdeling di Unit Kebun Laras dari 5 Afdeling menjadi 4 Afdeling, yang terletak di 3 Kecamatan, yaitu : - Kecamatan Gunung Maligas - Kecamatan Bandar Huluan - Kecamatan Gunung Malela Afdeling II eks III dan Afdeling III terletak di Kecamatan Gunung Maligas. Afdeling I, II dan Emplasmen terletak di Kecamatan Bandar Huluan. Afdeling IV terletak di Kecamatan Gunung Malela. Batas-batas Kebun Laras : - Sebelah Utara berbatasan dengan : Kebun Bandar Bedsy PTPN III - Sebelah Barat berbatasan dengan : Kebun Dolok Ilir PTPN IV - Sebelah Timur berbatasan dengan : Kebun Bukit Maraja - Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kebun Bangun PTPN III 4.1.3 Topografi Topografi areal Kebun Laras yang terletak di Kabupaten Simalungun ini sangat bervariasi yaitu dari areal rata, bergelombang sampai dengan areal berbukit. Perkebunan Laras berada pada ketinggian 130 m dpl, dengan jenis tanah S1. 19
4.1.4 Luas Areal Luas areal Kebun Laras adalah sebesar 3700 Ha yang ditanami komoditas utama adalah Kelapa Sawit yakni TM 2727 Ha, TBM 398 Ha, TU 575 Ha. Tabel 4.1 Luas Areal Kebun Laras PTPN IV per Afdeling Afdeling Luas (Ha) I 935 II 906 III 954 IV 905 Total 3700 Sumber data pengamatan ini dilakukan di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV tepatnya pada tanaman tahun 2014. Tabel 4.2 Luas Afdeling III Berdasarkan Tahun Tanam Tahun Tanam Luas (Ha) 1989 85 1991 92 1992 29 1993 133 1997 100 1998 108 1999 7 2010 5 2011 96 2012 205 2014 94 Total 954 20
Tabel 4.3 Areal Tanaman Tahun Tanam 2014 Tahun Tanam 2014 Blok Luas(Ha) Jumlah Pohon A 9 1261 B 21 3019 C 13 1800 D 16 2281 E 20 2749 F 15 2273 Jumlah 94 13383 4.1.5 Curah Hujan Data curah hujan di Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV mulai tahun 2011 sampai dengan Juni 2016 Tabel 4.4 Data Curah Hujan Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Bulan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH Rata-rata 2016 Hari Curah HH CH Hujan Hujan Januari 11 311 7 142 10 273 4 53 5 210 7.4 197.8 5 112 Februari 3 72 4 124 7 148 3 50 7 170 4.8 112.8 14 191 Maret 9 216 7 152 6 190 7 110 7 88 7.2 151.2 2 39 April 4 234 12 302 10 259 8 153 8 153 8.4 220.2 3 16 Mei 11 195 7 126 9 179 8 218 15 469 10 237.4 10 246 Juni 4 100 6 108 3 68 6 171 6 73 5 104 8 199 Juli 9 132 9 166 9 165 2 25 9 207 7.6 139 Agustus 14 325 10 209 10 209 8 249 14 346 11.2 267.6 September 8 167 15 357 11 195 12 196 9 195 11 222 Oktober 11 339 8 192 14 400 13 299 6 76 10.4 261.2 November 7 109 9 224 12 382 7 243 13 311 9.6 253.8 Desember 8 171 5 123 10 305 8 221 5 77 7.2 179.4 Jumlah 99 2371 99 2225 111 2773 86 1988 104 2375 99.8 2346.4 Rata-rata 8 198 8 185 9 231 7 166 9 198 8 196 Keterangan : HH : Hari Hujan (Hari) CH : Curah Hujan (Mili Meter) 21
Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa total rata-rata curah hujan per bulan mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 adalah 196 mm per bulan dengan rata- rata hari hujan 8 hari per bulan. Hari Hujan (Hari) 16 14 12 10 8 6 2011-2015 2016 4 2 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des Bulan Gambar 4.1 Grafik rata-rata hari hujan tahun 2011-2015 dan 2016 di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Rata-rata hari hujan tertinggi selama lima tahun terakhir terjadi pada bulan Agustus yaitu 11,2 hari, dan rata-rata hari hujan terendah terjadi pada bulan Februari yaitu 4,8 hari. Sedangkan hari hujan tertinggi pada tahun 2016 terjadi pada bulan Februari yaitu 14 hari dan hari hujan terendah terjadi pada bulan Maret yaitu 2 hari. Curah hujan di Afdeling III dari tahun 2011-2015 dan tahun 2016 dapat dilihat pada grafik 4.2. 22
Curah Hujan (mm) 300 250 200 150 100 2011-2015 2016 50 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des Bulan Gambar 4.2 Grafik rata-rata curah hujan tahun 2011-2015 dan 2016 di Afdeling III Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Rata-rata curah hujan tertinggi selama lima tahun terakhir terjadi pada bulan Agustus yaitu 267.6 mm, dan rata-rata hari hujan terendah terjadi pada bulan Juni yaitu 104 mm. Sedangkan curah hujan tertinggi pada tahun 2016 terjadi pada bulan Mei yaitu 246 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan April yaitu 16 mm. Dari gambar 4.2 dapat disimpulkan bahwa Afdeling III Kebun Laras pada tahun 2011-2015 tidak terjadi musim kering, tetapi pada tahun 2016 terjadi bulan kering yaitu pada bulan April dengan curah hujan sebesar 16 mm karena bulan kering yaitu curah hujan < 60mm. 23
4.1.6 Peta Afdeling Berikut ini adalah peta afdeling III Kebun Laras dapat dilihat pada gambar 4.3 Gambar 4.3 : Peta Afdeling III Kebun Laras 24
4.2 Kebijakan Perusahaan dalam Pengendalian O. rhinoceros 4.2.1 Pengendalian Kumbang Tanduk Secara Manual Pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) secara manual dilakukan dengan cara pengutipan larva dan kumbang tanduk dengan alat seperti parang, ember, karung dan kampak. Para pekerja mendatangi pohonpohon tanaman kelapa sawit dan rumpukan bekas tanaman kelapa sawit yang telah membusuk. Karena tempat ini merupakan tempat perkembang biakan kumbang tanduk. Pengendalian kumbang tanduk di Afdeling III Kebun Laras adalah pengendalian preventif, maksudnya adalah pencegahan sebelum serangan hama kumbang tanduk terjadi. Ada atau tidak ada serangan hama kumbang tanduk tetap dilakukan pengendalian dengan bahan aktif karbosulfan ataupun sipermetrin. 4.2.2 Pengendalian Kumbang Tanduk Secara Kimiawi Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara penaburan insektisida berbahan aktif karbosulfan ataupun penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin. a) Cara Aplikasi Marshal Penaburan Marshal dilakukan pada pupus pohon dengan menggunakan sendok makan yang diikat dengan bambu dengan panjang 1 meter sampai 1,5 meter. Penaburan dilakukan pada seluruh tanaman kelapa sawit tanpa terkecuali Rotasi rata-rata dua sampai empat kali dalam satu bulan dan dosis yang digunakan adalah 5 gr/pohon. 25
b) Cara Aplikasi Scud Campurkan insektisida ke dalam knapsack Penyemprotan insektisida Scud di semprot di sekitar daun tombak menggunakan knapsack isi 15 liter. Penyemprotan dilakukan pada semua tanaman tanpa terkecuali Rotasi tergantung tingkat serangan dengan dosis 0,5 cc/pohon yang dilarutkan ke dalam air. Dalam satu knapsack berisi 15 liter air dan dicampur 75 cc Scud per kap yang digunakan untuk menyemprot satu hektar areal tanaman. 4.3 Analisa Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Data pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) diperoleh dari Afdeling III Kebun Laras dengan mengambil data sample enam (6) blok pada areal tahun tanam 2014 atau TBM II dengan luas 94 Ha. Peneliti akan membahas tahun pekerjaan 2015-2016 pengaplikasian insektisida Marshal 5G dan Scud 100 EW. 4.3.1 Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015 Untuk pemakaian bahan dan biaya pembelian insektisida yang digunakan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.5. Harga insektisida Marshal pada tahun 2015 adalah Rp. 24.722,-/Kg dan harga Scud adalah Rp. 94.338,- /Liter. Perhitungan jumlah bahan insektisida yang digunakan adalah dosis setiap insektisida dikali jumlah tanaman tahun tanam 2014 yaitu 13.383 pohon dikali rotasi pemakaian insektisida. 26
Bulan Tabel 4.5 Realisasi Pemakaian Bahan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015 Jumlah Blok Luas (Ha) Januari 6 94 Februari 6 94 Maret 6 94 Rotasi Dosis/pokok Jumlah Bahan Jumlah (Rp) Scud Marshal Scud Marshal (cc) (gr) (L) (Kg) Scud Marshal Cost/Ha April 6 94 2 0.5 13.4 1.262525 6.716 Mei 6 94 2 0.5 13.4 1.262.525 6.716 Juni 6 94 2 0.5 13.4 1.262.525 6.716 Juli 6 94 2 0.5 13.4 1.262.525 6.716 Agustus 6 94 2 0.5 13.4 1.262.525 6.716 September 6 94 5 0.5 33.5 3.156.314 6.716 Oktober 6 94 4 0.5 26.8 2.525.051 6.716 November 6 94 4 0.5 26.8 2.525.051 6.716 Desember 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 Jumlah * * * * * 153.90 268 14.519.043 6.617.091 71.323 Rata-rata * * * * * 19.24 268 1.814.880 6.617.091 7.925 Pengendalian hama kumbang tanduk pada bulan Januari sampai bulan November tahun 2015 dilakukan menggunakan Scud EW 100, sedangkan pada bulan Desember tahun 2015 menggunakan insektisida Marshal. Dengan rotasi dua sampai lima kali dalam satu bulan. Dosis tiap aplikasi untuk Scud 0,5 cc/pohon sedangkan Marshal 5 gr/pohon. Pada bulan Januari sampai Maret tidak ada aplikasi Marshal maupun Scud tetapi dilakukan pengendalian dengan cara hand picking atau secara manual. Jumlah penggunaan insektisida Marshal 5G yaitu pada bulan Desember adalah 268 Kg. Maka jumlah biaya yang dikeluarkan pada bulan Desember untuk mengendalikan hama kumbang tanduk adalah Rp, 6.617.091,-. Jumlah bahan yang digunakan dalam mengendalikan hama kumbang tanduk menggunakan Scud 27
pada tahun 2015 adalah 153.90 Liter. Maka jumlah biaya yang digunakan dalam pembelian Scud adalah Rp 14.519.043 dengan rata-rata penggunaan bahan per bulan sebanyak 19.24 Liter. Maka rata-rata biaya per bulan dalam pembelian Scud adalah Rp 1.814.880,- Dari tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa rata-rata biaya per hektar dalam mengendalikan hama kumbang tanduk dengan menggunakan insektisida Marshal dan Scud adalah Rp 7.925,- Tabel 4.6 Realisasi Pemakaian Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Secara Kimiawi Pada Tahun 2015 Bulan Jumlah Blok Luas (Ha) Januari 6 94 Februari 6 94 Maret 6 94 Rotasi Jumlah Upah/hari Jumlah Biaya/Ha Tenaga Kerja Per HK Biaya April 6 94 2 56 105.146 5.930.234 31.544 Mei 6 94 2 56 119.944 6.764.842 35.983 Juni 6 94 2 56 111.731 6.301.628 33.519 Juli 6 94 2 56 200.549 11.310.964 60.165 Agustus 6 94 2 56 98.445 5.552.298 29.534 September 6 94 5 141 102.749 14.487.609 30.825 Oktober 6 94 4 113 106.606 12.025.157 31.982 November 6 94 4 113 112.900 12.735120 33.870 Desember 6 94 4 113 110.688 12.485.606 33.206 Jumlah * * * 761 * 87.593.458 320.627 Rata-rata * * * 85 * 9.732.606 35.625 (Rp) (Rp) Di Afdeling III Kebun Laras pengerjaan pengendalian hama kumbang tanduk dilakukan oleh karyawan, dengan upah/hk berbeda-beda tiap bulan nya. Total biaya penggunaan tenaga tahun 2015 adalah sebesar Rp 87.593.458,-. Dengan rata- rata biaya tenaga per bulan adalah Rp 9.732.606,-. Sedangkan total biaya/ha pengendalian hama kumbang tanduk pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 320.627, Dan rata-rata biaya/ha sebesar Rp 35.625,-. 28
Berikut ini adalah tabel total penggunaan biaya pada tahun 2015 di Afdeling III Kebun Laras. Tabel 4.7 Realisasi Bahan Dan Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015 Bulan Jumlah Luas Biaya Biaya Bahan (Rp) Blok (Ha) Tenaga Total Biaya/Ha (Rp) (Rp) (Rp) Marshal Scud Januari 6 94 Februari 6 94 Maret 6 94 April 6 94 1.262.525 5.930.234 7.192.760 38.259 Mei 6 94 1.262.525 6.764.842 8.027.367 42.699 Juni 6 94 1.262.525 6.301.628 7.564.154 40.235 Juli 6 94 1.262.525 11.310.964 12.573489 66.880 Agustus 6 94 1.262.525 5.552.298 6.814.823 36.249 September 6 94 3.156.314 14.487.609 17.643.923 37.540 Oktober 6 94 2.525.051 12.025.157 14.550.208 38.697 November 6 94 2.525.051 12.735.120 15.260.171 40.586 Desember 6 94 6.617.091 12.485.606 19.102.697 50.805 Jumlah * * 6.617.091 14.519.043 87.593.458 108.729.591 391.951 Rata-rata * * 6.617.091 1.814.880 9.732.606 12.081.066 43.550 Jumlah biaya bahan dan tenaga yang digunakan di tahun 2015 untuk mengendalikan hama kumbang tanduk adalah Rp 108.729.591,- Dari total biaya diatas dapat dilihat bahwa rata-rata biaya pengendalian hama kumbang tanduk per bulan adalah Rp 12.081.066,- sementara biaya rata-rata per hektar adalah sebesar Rp 43.550,- Untuk melihat perbedaan bahan dan tenaga jumlah biaya yang dikeluaran pada tahun 2015 dapat dilihat pada gambar 4.4. 29
Jumlah (Rp) 20,000,000 18,000,000 16,000,000 14,000,000 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000,000 0 Total Biaya Marshal Total Biaya Scud Bulan Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Penggunaan Biaya Insektisida Marshal Dan Scud Tahun 2015 Adapun kegiatan kegiatan yang dilakukan di Afdeling III Kebun Laras pada tahun 2015 dalam melakukan pengendalian hama kumbang tanduk dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.11 Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015 No Pengendalian Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Total 1 Marshal 1 2 Scud 8 3 Hand picking 11 30
Dari tabel 4.11 dan gambar 4.5 dapat dilihat kegiatan pengendalian hama kumbang tanduk dilakukan secara kimiawi dan manual atau hand picking dengan cara kutip Oryctes. Pada tahun 2015 total kegiatan secara kimiawi adalah sebanyak 9 bulan dengan rincian menggunakan Marshal satu kali yaitu pada bulan Desember dan menggunakan Scud mulai bulan April hingga November, sedangkan hand picking dilakukan setiap bulan kecuali pada bulan September. Jumlah Bulan 12 10 8 6 4 2 0 Marshal Scud Hand picking Pengendalian Kumbang Tanduk Gambar 4.5 Grafik Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015 4.3.2 Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 Untuk pemakaian bahan dan biaya pembelian bahan tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini, sebagai data pendukung harga insektisida Marshal 5G adalah Rp. 24.722,-/Kg dan untuk harga insektisida Scud adalah Rp. 94.338,-/Liter. Berikut ini adalah tabel realisasi pemakaian bahan : 31
Bulan Tabel 4.9 Realisasi Pemakaian Bahan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 Jumlah Blok Luas (Ha) Rotasi Dosis/pokok Jumlah Bahan Jumlah (Rp) Scud Marshal Scud Marshal (cc) (gr) (L) (Kg) Scud Marshal Cost/Ha Januari 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 Februari 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 Maret 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 April 6 94 3 5 201 4.962.818 17.599 Mei 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 Juni 6 94 4 5 268 6.617.091 17.599 Juli 6 94 2 5 134 3.308.545 17.599 Agustus September Oktober November Desember Jumlah * * * * * * 1.673 * 41.356.816 123.191 Rata-rata * * * * * * 239 * 5.908.117 17.599 Pada tahun 2016 pengaplikasian insektisida dilakukan tiap bulan. Dengan rotasi tiap bulan tidak sama. Pada tahun ini jumlah Marshal yang digunakan sebanyak 1.673 kg dengan biaya sebesar Rp 41.356.816,- dengan rata-rata penggunaan bahan per bulan sebanyak 239 Kg. Maka rata-rata biaya per bulan dalam pembelian Marshal adalah Rp 5.908.117,- Dari tabel 4.9 dapat disimpulkan bahwa rata-rata biaya per hektar dalam mengendalikan hama kumbang tanduk dengan menggunakan insektisida Marshal dan Scud adalah Rp 17.599,- 32
Tabel 4.10 Realisasi Pemakaian Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 Bulan Jumlah Blok Luas (Ha) Rotasi Jumlah Upah/hari Jumlah Biaya/Ha Tenaga Kerja Per HK Biaya Januari 6 94 4 113 108.090 12.192.552 32.427 Februari 6 94 4 113 114.120 12.872.736 34.236 Maret 6 94 4 113 103.903 11.720.258 31.171 April 6 94 3 85 108.862 9.209.725 32.659 Mei 6 94 4 113 109.865 12.392.772 32.960 Juni 6 94 4 113 225.445 25.430.196 67.634 (Rp) (Rp) Juli 6 94 2 56 116.914 6.593.950 35.074 Agustus 6 94 September 6 94 Oktober 6 94 November 6 94 Desember 6 94 Jumlah * * * 705 * 90.412.189 266.160 Rata-rata * * * 101 * 12.916.027 38.023 Biaya tenaga pengaplikasian Marshal pada bulan Januari sampai bulan Juli tahun 2016 adalah sebesar Rp. 90.412.189,- dengan biaya rata-rata biaya yang digunakan per bulan tahun 2016 adalah Rp 12.916.027,- Dengan total tenaga kerja yang digunakan adalah sebanyak 705 orang. Rata-rata tenaga yang digunakan adalah 101 orang. Dan rata-rata biaya/ha sebesar Rp 38.023,-. 33
Tabel 4.11 Realisasi Pemakaian Bahan Dan Tenaga Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 Bulan Jumlah Blok Luas (Ha) Biaya Bahan (Rp) Marshal Scud Biaya Tenaga Total Biaya/Ha (Rp) (Rp) (Rp) Januari 6 94 6.617.091 12.192.552 18.809.643 50.026 Februari 6 94 6.617.091 12.872.736 19.489.827 51.835 Maret 6 94 6.617.091 11.720.258 18.337.349 48.770 April 6 94 4.962.818 9.209.725 14.172.543 50.257 Mei 6 94 6.617.091 12.392.772 19.009.863 50.558 Juni 6 94 6.617.091 25.430.196 32.047.287 85.232 Juli 6 94 3.308.545 6.593.950 9.902.495 52.673 Agustus 6 94 September 6 94 Oktober 6 94 November 6 94 Desember 6 94 Jumlah * * 41.356.816 90.412.189 131.769.005 389.350 Rata-rata * * 5.908.117 12.916.027 18.824.144 55.621 Dari tabel 4.11 dapat dilihat biaya bahan dan tenaga dari bulan Januari sampai Bulan Juli tahun 2016. Jumlah biaya keseluruhan yang digunakan di tahun 2016 untuk mengendalikan hama kumbang tanduk adalah Rp 131.769.005,- Dari total biaya diatas dapat dilihat bahwa rata-rata biaya pengendalian hama kumbang tanduk per bulan adalah Rp 18.824.144,- sementara biaya rata-rata per hektar adalah sebesar Rp 55.621,- Untuk melihat perbedaan keseluruhan jumlah biaya yang dikeluaran pada tahun 2016 dapat dilihat pada gambar 4.6. 34
Jumlah (Rp) 35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 Total Biaya Marshal Bulan Gambar 4.6 Grafik Perbandingan Penggunaan Biaya insektisida Marshal Tahun 2016 Tabel 4.12 Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 No Pengendalian Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Total 1 Marshal 7 2 Scud 0 3 Hand picking 7 Dari tabel 4.12 dan gambar 4.7 dapat dilihat kegiatan pengendalian hama kumbang tanduk masih tetap dilakukan secara kimiawi dan manual atau hand picking dengan cara kutip Oryctes. Dari tabel 4.12 data yang diambil dari bulan Januari sampai bulan Juli 2016. Aplikasi Marshal dan handpicking dilakukan tiap bulan. Aplikasi dilakukan tergantung bahan yang tersedia, apabila Scud tidak ada maka pengendalian hama kumbang tanduk dilakukan dengan Marshal dan sebaliknya. 35
Jumlah Bulan 8 6 4 2 0 Marshal Scud Hand picking Pengendalian Kumbang Tanduk Gambar 4.7 Grafik Kegiatan Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2016 36
4.3.3 Rekapitulasi Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Tahun 2015-2016 Berikut ini adalah rekapitulasi biaya yang digunakan dari tahun 2015-2016 dengan luas areal tahun tanam 2014 seluas 94 ha sebagai berikut : Tabel 4.13 Realisasi Pelaksanaan pengendalian hama kumbang tanduk secara kimiawi di Afdeling III Kebun Laras tahun 2015- Juli2016 Bulan Jumlah biaya digunakan per tahun (Bahan+Tenaga) 2015 2016 Jumlah Rata-rata Marshal (Rp) Scud (Rp) Marshal (Rp) Scud (Rp) (Rp) (Rp) Januari 18.809.643 18.723.171 18.723.171 Februari 19.489.827 19.398.531 19.398.531 Maret 18.337.349 18.337.349 9.168.674 April 7.192.760 14.172.543 21.365.303 10.682.651 Mei 8.027.367 19.009.863 27.037.230 13.518.615 Juni 7.564.154 32.047.287 39.611.440 19.805.720 Juli 12.573.489 9.902.495 22.475.984 11.237.992 Agustus 6.814.823 6.814.823 6.775.445 September 17.643.923 17.643.923 17.541.174 Oktober 14.550.208 14.550.208 14.464.923 November 15.260.171 15.260.171 15.169.851 Desember 19.102.697 19.102.697 19.014.147 Sub jumlah 19.102.697 89.626.895 131.769.005 * 175.500.893 Rata-rata 12.081.066 18.824.144 20.026.736 14.625.074 Total 108.729.591 131.769.005 240.498.596 * Dari tabel 4.13 menunjukkan penggunaan biaya pengendalian hama kumbang tanduk pada tanaman belum menghasilkan kelapa sawit dari tahun 2015 sampai bulan Juli 2016 adalah sebesar Rp 240.498.596,-. Rata- rata biaya per bulan yang dikeluarkan dari tahun 2015 sampai bulan Juli 2016 untuk biaya bahan dan tenaga adalah Rp 20.026.736. Dibawah ini dapat dilihat gambar 4.8 penggunaan biaya pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) dari tahun 2015 sampai bulan Juli 2016. 37
Jumlah (Rp) 35,000,000.00 30,000,000.00 25,000,000.00 20,000,000.00 15,000,000.00 10,000,000.00 5,000,000.00 0.00 2015 Marshal 2015 Scud 2016 Marshal Bulan Gambar 4.8 Grafik Perbandingan Realisasi Biaya Dalam Kurun Dua Tahun Dari gambar 4.8 dapat dilihat bahwa penggunaan biaya paling besar terjadi pada bulan Juni di tahun 2016 yaitu sebesar Rp 32.047.287,-. Itu terjadi karena pada bulan tersebut pelaksanaan aplikasi dilakukan sebanyak empat kali dalam satu bulan dan upah tenaga pada bulan tersebut paling tinggi yaitu sebesar Rp 225. 445,-. Di PT. Perkebunan Nusantara IV rotasi dalam pengendalian hama kumbang tanduk tidak sama tiap tahunnya. Pada tahun 2015 rotasi perbulannya adalah dua sampai lima kali dalam satu bulan sedangkan pada tahun 2016 rotasi perbulannya adalah dua sampai empat kali dalam satu bulan. Rotasi tergantung dari serangan hama kumbang tanduk di lapangan. 38
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang dilakukan, biaya aplikasi insektisida kimia pada pengendalian hama O. rhinoceros di Kebun Laras tahun tanam 2014 (94ha) dapat disimpulkan : 1. Biaya pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 108.729.591 atau Rp 12.081.066,- per bulan. 2. Biaya pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) pada tahun 2016 dari bulan Januari sampai bulan Juli adalah sebesar Rp 131.769.005 atau Rp 18.824.144,- per bulan. 3. Total biaya yang digunakan dalam pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) dari tahun 2015 sampai dengan Juli 2016 adalah sebesar Rp 240.498.596,- 5.2 Saran Dengan mengetahui besarnya jumlah biaya yang dikeluarkan dalam pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) ini maka sebaiknya aplikasi insektisida berbahan aktif karbosulfan dan sipermetrin dilakukan dengan baik. 39
DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jendral Perkebunan. 2015. Statistik Perkebunan Indonesia. http://ditjenbun.deptan.go.id. diakses tanggal 7 April 2016. Jackson. T. A dan M. G Klein. 2006. Scrabs as pests:a conditinuing problem. Coleopt. Bull, 60; 102-119. Loring, D.A. 2007. Competitive Testing of SLPLAT-RB ( Oryctes rhinoceros ) Male Aggregation Peromone- Mass Trapping In Oil Palm And Coconut Estates. The Planter.(979): 657-663. Lubis, A. U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis jacg) di Indonesia. PPKS. Medan. Lubis, R.E dan A. Widanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit (Elaeis guineensis). Agromedia. Jakarta. Mohan, C.2006. Oryctes rhinoceros.http://www.isg.org/database/species/ecology. asp?si=173&fr=1&sts. diakses pada tanggal 29 Maret 2016. PPKS, 1996. Pengendalian Baru Kumbang Tanduk dengan Feromon, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan., 2009. Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.,2010. Pengendalian Oryctes rhinoceros yang Ramah Lingkungan Menggunakan Feromonas dan Metari. http://www.iopri.org/paket_teknologi diakses tanggal 29 Maret 2016. Pracaya, 2009. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta. Prawirosukarto, S., Y.P. Roerrha, U. Condro dan Susanto. 2003. Pengenalan dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Kelapa Sawit. PPKS, Medan. Rahayuwati, S., R. D de Chenon dan Sudharto ps. 2002. Sistem Reproduksi Betina Oryctes rhinoceros (Coleoptera:Scarabaeidae) dari Berbagai Populasi Berbeda di Perkebunan Kelapa sawit. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. 10(1):11-22. Setyamidjadja, D. 2006. Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. Siswanto, 2003. Baku Operasional Pengendalian Hama Terpadu (BO-PHT). Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. 40
Susanto, A.A.E.Prasetyo, Sudharto, H.Priwiratama, T.A.P.Roziansha. 2012. Pengendalian Terpadu Orycter rhinoceros di Perkebunan Kelapa Sawit Seri Kelapa Sawit Populer 10. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Susanto, A., A.P. Dongoran., Fahridayanti., A.F. Lubis., dan A. Prasertyo. 2005. Pengurangan Populasi Larva Oryctes rhinoceros pada Sistem Lubang Tanam besar. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. 13(1):1-9. Utomo, C., T. Herawan dan A. Susanto. 2007. Feromon: Era Baru Pengendalian Hama Ramah Lingkungan di Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, Medan. 15(2):69-82. Winarto,L. 2005. Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Kelapa Sawit Secara Terpadu. Medan. http://www.agroindonesia.com. diakses pada 19 Maret 2016. 41
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Berchat Rencana/ Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Seacara Kimia TBM 1 2014 Tahun 2015 Tahun No Ha Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Tanam Blok Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real 2014 A 9 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 45 18 36 18 36 18 36 B 21 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 105 42 84 42 84 42 84 C 13 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 65 26 52 26 52 26 52 D 16 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 80 32 64 32 64 32 64 E 20 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 100 40 80 40 80 40 80 F 15 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 75 30 60 30 60 30 60 Jumlah 94 188 188 188 188 188 188 188 188 188 188 188 470 188 376 188 376 188 376 Lampiran 2. Berchat Rencana/ Realisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Secara Kimia TBM 1I 2014 Tahun 2016 Tahun No Ha Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Tanam Blok Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real Renc Real 2014 A 9 18 36 18 36 18 36 18 27 18 36 18 36 18 18 B 21 42 84 42 84 42 84 42 63 42 84 42 84 42 42 C 13 26 52 26 52 26 52 26 39 26 52 26 52 26 26 D 16 32 64 32 64 32 64 32 48 32 64 32 64 32 32 E 20 40 80 40 80 40 80 40 60 40 80 40 80 40 40 F 15 30 60 30 60 30 60 30 45 30 60 30 60 30 30 Jumlah 94 188 376 188 376 188 376 188 282 188 376 188 376 188 188 42