dokumen-dokumen yang mirip
V E R T I G O. Yayan A. Israr, S. Ked. Author : Faculty of Medicine University of Riau Arifin Achmad General Hospital of Pekanbaru

Definisi Vertigo. Penyebab vertigo

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang mendambakan untuk dapat memiliki hidup yang sehat, sehingga

Nyeri. dr. Samuel Sembiring 1

BAB I PENDAHULUAN. Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan igo

Keluhan & gejala gangguan keseimbangan

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

I. PENDAHULUAN. selain kelainan vaskular ( Junaidi, 2011). Terdapat dua macam stroke,

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)

LAPORAN TUGAS PEMERIKSAAN KESEIMBANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Arti tuberkulosis. Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. umum dan spesialis yang memeriksa seringkali memiliki pengetahuan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh kuman TBC ( Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman. lainnya seprti ginjal, tulang dan usus.

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan MAKALAH INFARK MIOKARD AKUT

SISTEM PEREDARAN DARAH

BAB I PENDAHULUAN. termasuk pula kebanyakan orang indonesia. Remaja pun juga begitu. mereka tidak segan- segan melakukan banyak kegiatan ekstra selain

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

BAB 5 PEMBAHASAN. penelitian terdiri atas pria sebanyak 21 (51,2%) dan wanita sebanyak 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Vertigo adalah suatu gejala atau perasaan dimana seseorang atau benda

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM PEMBULUH DARAH MANUSIA. OLEH: REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

- - SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA - - dlp5darah

BAB I PENDAHULUAN. igo yang berarti kondisi. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Sel, Jaringan, Organ dan Sistem Organ

Telinga. Telinga tersusun atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Sel trombosit berbentuk discus dan beredar dalam sirkulasi darah tepi dalam

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

Anatomi & Fisiologi Sistem Respirasi II Pertemuan 7 Trisia Lusiana Amir, S. Pd., M. Biomed PRODI MIK FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tangan atau alat terhadap jaringan tubuh yang lunak. Massage bertujuan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan

BAB IV METODE PENELITIAN. dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. Penelitian telah dilaksanakan di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr.

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang

Ilmu Pengetahuan Alam

BAHAN AJAR VERTIGO. Nama Mata Kuliah/Bobot SKS : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory

BAB I PENDAHULUAN. terbanyak di dunia ( Depkes, 2015). Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010

BAB I PENDAHULUAN. oksigen dalam darah. Salah satu indikator yang sangat penting dalam supply

BAB 5 HASIL PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA

Sistem Saraf Tepi (perifer)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

ORGANISASI KEHIDUPAN. Sel

REVIEW PENGEMASAN MATA KULIAH

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA

Gejala Awal Stroke. Link Terkait: Penyumbatan Pembuluh Darah

Clinical Science Session Pain

Sistem Transportasi Manusia L/O/G/O

BAB II. Tinjauan Pustaka. 1. Tinjauan Pustaka. Definisi stroke menurut WHO adalah suatu gangguan. fungsional otak dengan tanda dan gejala fokal maupun

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kedinamisan postur tubuh untuk mencegah seseorang terjatuh. 9 Secara garis besar

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pertemuan XI: Struktur dan Fungsi Hayati Hewan. Program Tingkat Persiapan Bersama IPB 2011

1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI

Jaringan Hewan. Compiled by Hari Prasetyo

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam suatu penelitian Hammon, dkk (1956) berhasil menemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan pembedahan ekstremitas bawah,dapat menimbulkan respons,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5 Sistem. Peredaran Darah. Bab. Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat suatu sistem yang berfungsi untuk mengedarkan makanan dan O 2

IV.Kajian Pustaka : 1. Sel darah merah (eritrosit)

PANDUAN PRAKTIKUM HISTOLOGI II MODUL 2.3 KARDIOVASKULER DAN HEMATOLOGI DARAH

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.

Sistem Peredaran Darah Manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Trombosit adalah kepingan darah terkecil dari sel darah. Sel ini berbentuk

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Vertigo 1. Definisi Vertigo merupakan sensasi berputar dan bergeraknya penglihatan baik secara subjektif maupun objektif, Vertigo dengan perasaan subjektif terjadi bila seseorang mengalami bahwa dirinya merasa bergerak, sedangkan vertigo dengan perasaan objektif bila orang tersebut merasa bahwa di sekitar orang tersebut bergerak. 10 Vertigo sering terjadi pada orang tua. Penyebab vertigo yaitu Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), Acute Vestibular Neuronitis (AVN), dan penyakit Meniere. 11 2. Etiologi Menurut Mohammad Maqbool, terdapat beberapa penyabab vertigo. Penyebab vertigo terdiri dari: 6 a. Vascular Penyebab vertigo dari gangguan vaskular terdiri atas insufisiensi vertebrobasiler, stroke, migrain, hipotensi, anemia, hipoglikemia, dan penyakit meniere b. Epilepsy c. Receiving any treatment Beberapa obat-obatan seperti antibiotik, obat jantung, antihipertensi, obat sedatif, dan aspirin dapat menyebabkan gangguan vertigo d. Tumour or Trauma or Tyroid 1) Tumor Adanya tumor seperti neuroma, glioma, dan tumor intraventrikular dapat menyebabkan gangguan vertigo 2) Trauma Adanya trauma pada daerah tulang temporal dan trauma servikal dapat menyebabkan gejala vertigo 1

3) Tiroid Adanya penurunan fungsi tiroid dapat menyebabkan gejala vertigo e. Infection Apabila terjadi infeksi pada daerah keseimbangan seperti labirinitis maupun vestibular neuronitis dapat menyebabkan gangguan vertigo f. Glial disease (multiple sclerosis) g. Ocular diseases or imbalance 3. Patofisiologi Reseptor yang berfungsi sebagai penerima informasi untuk sistem vestibular terdiri dari vestibulum, proprioseptik dan mata,serta integrasi dari ketiga reseptor terkait dengan batang otak serta serebelum. 11 Informasi yang berasal dari sistem vestibular 50 persen terdiri dari vestibulum, sisanya dari mata dan proprioseptik. Adanya gangguan dari sistem vestibular menimbulkan berbagai gejala antara lain vertigo, nystagmus, ataksia, mual muntah, berkeringat, dan psikik. Gejalagejala tersebut dapat timbul secara bersamaan, sendiri, atau terjadi secara bergantian. Gejala tersebut dipengaruhi oleh derajat, sumber, maupun jenis dari rangsangan. 11 Fungsi sistem vestibular terletak pada kanalis semisirkularis yang berada pada dalam apparatus vestibular, terisi cairan yang apabila bergetar berfungsi mengirim informasi tentang gerakan sirkuler atau memutar. Ketiga kanalis semisirkularis bertemu di vestibulum yang terletak berdekatan dengan koklea. Adanya kerjasama dari mata dan sistem vestibular mengakibatkan terjaganya pandangan agar benda terlihat dengan jelas ketika bergerak. Hal ini disebut dengan reflek vestibular-okular. 11 Gerakan cairan dalam kanalis semisirkularis memberi pesan kepada otak bagaimana kecepatan kepala berotasi, ketika kepala mengangguk, atau saat kepala menoleh. Setiap kanalis semisirkularis memiliki ujung yang menggembung dan berisi sel rambut. Adanya rotasi kepala 2

mengakibatkan gerakan/aliran cairan yang akan mengubah posisi pada bagian ujung sel rambut terbungkus jelly-like cupula. Selain kanalis semisirkularis, terdapat organ yang termasuk dalam bagian sistem vestibuler, yaitu sakulus dan utrikulus. Kedua organ tersebut termasuk dalam organ otolit. Organ otolit memiliki otokonia yaitu sel rambut terbungkus jelly-like layer bertabur batuan kecil kalsium. 11 Saat kepala menengadah maupun posisi tubuh berubah, terjadilah pergeseran batuan kalsium karena pengaruh gravitasi. Akibatnya, sel rambut menjadi bengkok sehingga terjadinya influx ion kalsium yang selanjutnya neurotransmitter keluar memasuki celah sinap dan ditangkap oleh reseptor. Selanjutnya, terjadi penjalaran impuls melalui nervus vestibularis menuju tingkat yang lebih tinggi. Adanya sistem vestibular bekerja sama dengan sistem visual dan proprioseptik membuat tubuh dapat mempertahankan orientasi atau keseimbangan. 11 Sistem keseimbangan pada manusia adalah suatu mekanisme yang kompleks terdiri dari input sensorik bagian dari alat vestibular, visual, maupun proprioseptif. Ketiganya menuju otak dan medulla spinalis, dimodulasi dan diintegrasikan aktivitas serebrum, sistem limbik, sistem ekstrapiramidal, dan korteks serebri dan mempersepsikan posisi tubuh dan kepala saat berada dalam ruangan, mengontrol gerak mata dan fungsi sikap statik dan dinamik. Adanya perubahan pada input sensorik, organ efektor maupun mekanisme integrasi mengakibatkan persepsi vertigo, adanya gangguan gerakan pada bola mata, dan gangguan keseimbangan. Kehilangan pada input dari 2 atau lebih dari sistem vestibular mengakibatkan hilangnya keseimbangan sehingga terjatuh. Karenanya, apabila seorang pasien dengan gangguan proprioseptif berat disertai sensory disequilibrium, atau disfungsi vestibular unilateral uncompensated dan vertigo, akan jatuh bila penglihatan ditutup. 11 3

Vertigo sentral disebabkan salah satunya oleh karena iskemia batang otak. Pada penyakit vertebrobasiler dan Transient Ischemic Attack batang otak, vertigo dan disekulibrium adalah gejala yang sering muncul disertai gejala iskemia seperti diplopia, disartria, rasa tebal pada muka dan ekstremitas, ataksia, hemiparesis maupun hemianopsia. 12 Nistagmus posisional dapat dibangkitkan pada iskemia batang otak. Adanya Manuver Nylen Barany dapat membedakan gangguan vestibuler dan batang otak. 12 Pada kasus infark dan perdarahan serebral dapat menyebabkan vertigo dan gangguan keseimbangan berat disertai disartria, sindrom horner, rasa tebal pada wajah dan paresis facialis. Adanya Infark pada kawasan arteri serebelaris posterior dapat menyebabkan disekulibrium jalan dan ataksia pada ekstremitas tanpa disertai vertigo. 12 Berikut merupakan Klasifikasi Vertigo berdasarkan letak lesinya 13 a. Sentral 1) Infark batang otak 2) Tumor otak 3) Radang Otak 4) Insufisiensi a.v. basiler 5) Epilepsi b. Perifer 1) Labirin (a) Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) (b) Meniere (c) Ototoksik (d) Labirinitis 2) Saraf vestibuler (a) Neuritis (b) Neuroma Akustikus BPPV ditandai oleh adanya rasa berputar yang hebat dengan atau tanpa rasa mual akibat perpindahan secara cepat seperti bangun ke 4

berbaring atau berbaring ke bangun. Hal ini disebabkan karena adanya kelainan pada otoconial berupa deposit pada kupula kanalis semisirkularis posterior. Adanya deposit menyebabkan kanalis menjadi sensitif saat tubuh mengalami perubahan gravitasi disertai perubahan posisi kepala. 13 B. Hemoglobin Hemoglobin adalah molekul berbentuk sfera yang terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida globin, dimana setiap polipeptida globin membentuk dengan heme yang merupakan kompleks antara molekul besi dan protoporfirin. 14 Hemoglobin merupakan pigmen pada sel darah merah yang membuat warna kemerahan pada sel darah merah. Adanya kemerahan pada sel darah merah terjadi karena kandungan besi yang berikatan dengan oksigen. Apabila terjadi deoksigenasi, maka sel darah merah tampak kebiruan. Karena itu, darah arteri berwarna merah karena teroksigenasi sempurna dan darah vena berwarna kebiruan karena sel darah merah telah kehilangan sebagian oksigennya. 14 Hemoglobin selai berikatan dengan oksigen, hemoglobin juga dapat berikatan dengan zat-zat lainnya seperti: 14 a. Karbondioksida sebagai zat yang diangkut dari jaringan ke paru-paru b. Bagian ion asam hidrogen dari asam karbonat yang terionisasi sehingga ph tubuh tetap terjaga c. Karbon monoksida. Apabila gas karbon monoksida terhirup, maka karbon monoksida akan diikat oleh hemoglobin sehingga oksigen tidak dapat berikatan dengan hemoglobin yang menimbulkan tubuh mengalami keracunan karbon monoksida Nilai normal hemoglobin seseorang sulit ditentukan karena kadar hemoglobin berbeda di setiap ras dan suku bangsa. Nilai hemoglobin telah diklasifikasikan berdasarkan usia dan jenis kelamin oleh WHO. 14 5

Tabel 1. Nilai hemoglobin menurut WHO Kelompok umur Batas nilai hemoglobin (gr/dl) Anak 6 bulan - 6 tahun 11,0 Anak 6 tahun 14 tahun 12,0 Pria dewasa 13,0 Ibu hamil 11,0 Wanita dewasa 12,0 C. Leukosit Leukosit merupakan sel darah berinti terdiri dari agranular dan granular. Sel agranular terdiri dari limfosit dan monosit, sedangkan sel granular terdiri dari eosinofil, basofil, dan neutrofil. 15 Neutrofil merupakan sel granular dengan diameter 12-15 µm dengan inti khas padat terdiri dari sitoplasma pucat antara 2-5 lobus dengan rangka tidak teratur dan azuropilik (granula merah jambu). Eosinofil merupakan sel granular dengan granula sitoplasma lebih kasar dan memiliki warna lebih merah gelap dikarenakan mengandung protein basa dan jarang terdapat lebih dari 3 lobus inti. Basofil merupakan sel granular dengan diameter sekitar 9-10 µm. Basofil mempunyai banyak granula sitoplasma yang berisikan heparin dan histamin. 15 Monosit merupakan sel agranular dengan ukuran 16-20 µm dengan inti besar di tengah berbentuk oval atau berlekuk dengan kromatin mengelompok. Sitoplasma pada monosit berwarna biru pucat dan berisi vakuola halus sehingga menyerupai kaca. Limfosit merupakan sel agranular dengan diameter 10µm. Intinya berwarna gelap dengan bentuk bundar atau berlekuk disertai kromatin kasar dan tidak berbatas tegas. Sitoplasma berwarna biru-langit dan kebanyakan dari limfosit terlihat seperti bingkai halus di sekitar inti limfosit. 15 Leukosit berperan dalam pertahanan secara seluler dan humoral terhadap zat-zat asing. Jumlah leukosit per mikroliter darah pada orang dewasa berkisar antara 4.000/mm 3 sampai 10.000/mm 3, waktu lahir sekitar 15.000-25.000/mm 3 dan menurun pada hari ke empat sampai 12.000/mm 3. 15 6

Leukosit juga berperan dalam proses terjadinya inflamasi. Inflamasi adalah reaksi tubuh dalam menghadapi benda asing yang masuk ke dalam tubuh, adanya invasi mikroorganisme maupun adanya kerusakan jaringan. Pada proses inflamasi, leukosit akan meningkat saat terjadinya fagositosis. Adanya fagositosis memberikan destruksi leukosit sehingga jumlah leukosit meningkat. 15 D. Trombosit Trombosit merupakan sel darah tanpa inti yang berasal dari sitoplasma megakariosit. Trombosit berfungsi sebagai pembentuk sumbat mekanik pada proses hemostasis apabila terjadi luka pada pembuluh darah. Apabila trombosit tidak ada, maka dapat terjadi kebocoran darah secara spontan dari pembuluh darah kecil. Reaksi trombosit terdiri dari adhesi, sekresi, agregasi dan fusi serta aktivitas prokoagulan. 16 Apabila trombosit tidak aktif, bentuk trombosit berupa cakram bikonveks dengan diameter 2-4 µm dan volumenya sekitar 7-8 fl. Secara ultrastruktur, trombosit dibagi menjadi zona perifer, zona sol gel, dan zona organela. Zona perifer terdiri dari glikokalik, merupakan membran ekstra terluar, membran plasma, dan adanya sistem kanal terbuka pada bagian dalam. Zona sol gel teriri dari mikrotubulus, mikrofilamen, dan sistem tubulus padat serta trombostenin. Zona organella terdiri dari mitokondria, granula padat, granula α, dan organella. 17 Agar trombosit menjalani fungsinya, maka trombosit dalam sirkulasi harus memiliki jumlah yang cukup dan berfungsi normal agar dapat terjadi hemostasis primer. Proses ini melibatkan adhesi trombosit, agregasi trombosit, dan reaksi pembebasan trombosit. 17 Apabila pembuluh darah terluka, trombosit menempel pada jaringan subendoel yang terbuka. Aktifnya trombosit terjadi saat trombosit terpajan pada bagian kolagen subendotel dan jaringan yang mengalami perlukaan. Proses menempelnya trombosit dengan endotel atau jaringan disebut dengan adhesi trombosit. Aktifnya permukaan trombosit dan penarikan trombosit lainnya menghasilkan suatu kumpulan trombosit lengket dan 7

membentuk suatu sumbat yang disebut dengan agregasi trombosit. Setelah dilakukannya agregasi trombosit, maka dilakukan reaksi pembebasan yang berfungsi untukmemperkuat agregrasi trombosit dan vasokonstriksi pembuluh darah dan diperkuat aktivitas prokoagulan trombosit dan pembuluh darah yang terluka dapat terhenti. 17 Nilai normal pada hitung jumlah trombosit berkisar antara 150.000/mm 3 sampai 400.000/mm 3. Usia sel trombosit kurang lebih 7 sampai 10 hari. 16 E. Hubungan Kadar Hemoglobin terhadap Vertigo Salah satu penyebab dari vertigo yaitu adanya kelainan vaskular. Kelainan vaskular dapat ditandai seperti anemia. Anemia merupakan kondisi karena kurangnya eritrosit atau kurangnya hemoglobin itu sendiri. Salah satu pemeriksaan darah rutin untuk membuktikan bahwa seseorang mengalami anemia adalah dengan mengetahui kadar hemoglobin. 6,14 Muhammad Maqbool berpendapat bahwa anemia merupakan kelainan vaskular yang dapat menyebabkan vertigo. Pernyataan ini didukung oleh Penninx et al yang menemukan bahwa orang dengan anemia berisiko mengalami serangan vertigo. 6,18 Apabila seseorang mengalami anemia, maka jumlah hemoglobin akan berkurang sehingga jumlah oksigen yang dibawa oleh sel darah merah sedikit. Akibatnya, jaringan yang dibawa kepada jaringan organ sekitar akan berkurang sehingga mengalami hipoksia. Adanya hipoksia pada organ keseimbangan menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan sehingga terjadi serangan vertigo. 19 F. Hubungan Jumlah Leukosit terhadap Vertigo Ada hubungan yang berpengaruh terhadap vertigo, dimana vertigo dapat menyebabkan stress atau stress dapat menyebabkan vertigo. Hal ini diperkuat dimana tanda dan gejala vertigo pada umumnya adalah mual, muntah, berkeringat, dan bradikardi. 7 Serangan vertigo terkadang menakutkan sehingga meningkatkan kecemasan, yang berdampak pada emosional pasien. Adanya perasaan 8

cemas memicu beberapa gejala karena gangguan saraf otonom yang berdampak meningkatnya hormon stress. Penelitian yang dilakukan Goto et al mengatakan gejala somatik seperti sakit kepala, insomsia, diare, konstipasi, nyeri dada, sakit perut, dada berdebar-debar, susah bernafas, kelelahan, dan stress merupakan salah satu penyebab vertigo dirawat di rumah sakit. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa pasien dengan vertigo melaporkan gejala somatik berat yang berkaitan dengan cemas dan depresi, yang semakin berpengaruh terhadap vertigo. 7,20 Dal-Lago et al meneliti penyebab mengapa seseorang tidak merasa sembuh total setelah dilakukan pengobatan pasca keluar dari rumah sakit. Mereka berpendapat bahwa cemas merupakan kondisi yang sering mengikuti pada kejadian vertigo perifer. Efek cemas mempengaruhi penyakit dan peluang untuk sembuh total. Stress yag tidak ditangani dapat memicu inflamasi. Inflamasi ditandai dengan adanya peningkatan sel darah putih sehingga dapat memberikan dugaan bahwa adanya sel darah putih yang meningkat mempengaruhi pada vertigo perifer. 21 G. Hubungan Jumlah Trombosit terhadap Vertigo Adanya peningkatan secara tidak normal dalam hitung jumlah trombosit awal mula penyebab dari aterosklerosis. Trombosit berperan penting pada patofisiologi dari penyakit aterosklerosis. Jumlah besar trombosit memiliki granula lebih, dimana akan mempengaruhi proses hemostatis, vasomotor, dan fungsi proinflamasi lebih baik, sehingga aktivasi trombosit berkaitan dengan kenaikan volume trombosit. 22,23 Rata-rata volume trombosit menunjukkan indikator dari aktivasi trombosit. Rata-rata volume trombosit mencerminkan produksi dan stimulasi trombosit. Penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara rata-rata volume trombosit terhadap penyakit jantung dan serebrovaskuler. Adanya kenaikan rata-rata volume trombosit diketahui berhubungan dengan buruknya outcome terhadap kondisi penyakit jantung dan serebrovaskuler. 24,25 9

Trombosit diketahui memicu dan membantu proses inflamasi dengan cara melakukan sekresi sejumlah zat aktif seperti faktor aktivasi trombosit, PLT-derived growth factor, faktor 4 trombosit, interleukin-1. Karena itu, trombosit secara hemostatis lebih aktif dan lebih mudah melakukan adhesi dan agregasi dan berperan dalam sejumlah aktivitas spesifik pada perkembangan trombosis melalui penurunan efek inhibisi dari prostaglandin pada agregasi trombosit. Celikbilek et al berpendapat bahwa meningkatnya hitung jumlah trombosit dan rata-rata volume trombosit menjadi indikatif dari status inflamasi subklinis yang berkontribusi terhadap kondisi prethrombotik pada pasien dengan BPPV idiopatik. 8,23 Saat ini, sedikit yang diketahui tentng metabolisme sebenarnya dari otokonia dan penyebab lepasnya dari matriks gelatinosa dari utrikulus, yang menjadi penyebab BPPV. BPPV seringnya didahului oleh trauma kepala, vestibular neuritis, atau penyakit lainnya yang menyebabkan pelepasan otokonia dari utrikulus. Hal ini dianggap bahwa BPPV idiopatik berhubungan dengan kondisi tersebut, dikarenakan adanya defisit dari matriks filamen interotokonia yang menempel otokonia pada matriks gelationsa. 26,27,28 Pada studi hewan, ditunjukkan bahwa otokonia pada babi guinea, utrikulus menyambung dan terlindungi terhadap matriks gelatinosa oleh adhesi permukaan dan oleh kurungan dengan bahan lentur matriks filamen interotokonia. Adanya peningkatan dari jumlah trombosit dan rata-rata volume trombosit memicu respon proinflamasi pada matriks tesebut oleh sekresi granula, yang mirip dengan kalsifikasi mitral annular yang dilaporkan oleh Varol et al. Respon inflamasi ini berkontribusi terhadap kondisi prethrombosis, yang membuat keruasakan vaskuler sebagaimana iskemik labirin pada telinga dalam yang menghasilkan pelepasan otokonia dari membran otolit pada pasien dengan BPPV. 29,30,31 10

H. Kerangka Teori Vertigo perifer Etiologi Vaskular Infeksi Anemia Serangan vertigo Leukosit meningkat Hb menurun Kadar hemoglobin Memicu faktor infamasi Jumlah trombosit meningkat Jumlah leukosit Pemeriksaan darah rutin 11

I. Kerangka Konsep Kadar hemoglobin Jumlah leukosit Jumlah trombosit BPPV Vertigo perifer lainnya Tumor otak Infark batang otak Radang otak Vertigo sentral Keterangan: = Hubungan secara langsung = Hubungan terhadap variabel perancu J. Hipotesis H0 = Tidak ada perbedaan antara kadar hemoglobin, leukosit, dan trombosit terhadap kejadian BPPV dan vertigo perifer lainnya H1 = Ada perbedaan antara kadar hemoglobin, leukosit, dan trombosit terhadap kejadian BPPV dan vertigo perifer lainnya 12