BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan. Kebutuhan pakan ikan

BAB IV HASIL. Pertumbuhan. Perlakuan A (0%) B (5%) C (10%) D (15%) E (20%) gurame. Pertambahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. luas. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ayam broiler adalah pakan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Dalam menjalankan usaha peternakan pakan selalu menjadi permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Balakang

I. PENDAHULUAN. membuat kita perlu mencari bahan ransum alternatif yang tersedia secara

I. PENDAHULUAN. Limbah industri gula tebu terdiri dari bagas (ampas tebu), molases, dan blotong.

I. PENDAHULUAN. bisnis ikan air tawar di dunia (Kordi, 2010). Ikan nila memiliki keunggulan yaitu

I. PENDAHULUAN. Maggot merupakan larva lalat black soldier atau serangga bunga, memiliki

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

1. PENDAHULUAN. perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Untuk mendukung pengadaan ikan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tahu merupakan salah satu makanan yang digemari dan mudah dijumpai

TINJAUAN PUSTAKA. dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku penyusun ransum. Limbah

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat pesat. Populasi ayam pedaging meningkat dari 1,24 milyar ekor pada

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG YANG DIFERMENTASI DENGAN Rhizopus sp. SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dan diusahakan sebagai usaha sampingan maupun usaha peternakan. Puyuh

I. PENDAHULUAN. dalam budidaya perikanan karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ikan merupakan salah satu hewan yang banyak dibudidayakan oleh

I. PENDAHULUAN. sekitar 60% biaya produksi berasal dari pakan. Salah satu upaya untuk menekan

I. PENDAHULUAN. peternakan, karena lebih dari separuh biaya produksi digunakan untuk memenuhi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Statistik pada tahun 2011 produksi tanaman singkong di Indonesia

1. PENDAHULUAN. kelapa sawit terbesar di dunia. Luas perkebunan sawit di Indonesia dari tahun ke

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. peningkatan ketersediaan bahan pakan. Bahan-bahan pakan konvensional yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan

I. PENDAHULUAN. seluas seluas hektar dan perairan kolam seluas hektar (Cahyono,

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi makanan. Sehingga faktor pakan yang diberikan pada ternak perlu

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesa Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh

tepat untuk mengganti pakan alami dengan pakan buatan setelah larva berumur 15 hari. Penggunaan pakan alami yang terlalu lama dalam usaha pembenihan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dapat mencapai 60%-80% dari biaya produksi (Rasyaf, 2003). Tinggi rendahnya

I. PENDAHULUAN. untuk pemenuhan gizi masyarakat (Rukmana, 2005). Ikan gurami disukai masyarakat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

BAB I PENDAHULUAN. Pakan sangat penting bagi kesuksesan peternakan unggas karena dalam

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. peternak dengan sistem pemeliharaan yang masih tradisional (Hoddi et al.,

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan

I. PENDAHULUAN. pemecahan masalah biaya tinggi pada industri peternakan. Kelayakan limbah pertanian

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan baik kualitas, kuantitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi potong merupakan sumber utama sapi bakalan bagi usaha

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari

I. PENDAHULUAN. atau sampai kesulitan mendapatkan hijauan makanan ternak (HMT) segar sebagai

I. PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merang merupakan salah satu jenis jamur pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan permintaan pasar

I. PENDAHULUAN. Peningkatan keberhasilan suatu usaha peternakan akan di pengaruhi oleh

BAB I. PENDAHULUAN. pertanian atau sisa hasil pertanian yang bernilai gizi rendah sebagai bahan pakan

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan,

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan

PENGANTAR. Latar Belakang. Sebagian komponen dalam industri pakan unggas terutama sumber energi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi,

PENGETAHUAN BAHAN PAKAN. Oleh : Muhammad Fakhri, S.Pi, MP, M.Sc

1. PENDAHULUAN. digemari masyarakat Indonesia dan luar negeri. Rasa daging yang enak dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang

Lampiran 1. Proses Fermentasi Substrat Padat Tepung Kulit Ubi Kayu

I. PENDAHULUAN. Pakan ikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam suatu usaha budidaya

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. baik oleh industri atau rumah tangga, sedangkan kapasitas produksi tepung terigu

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Ayam broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang gemar

I. PENDAHULUAN. Ikan lele Masamo (Clarias sp.) merupakan salah satu ikan yang saat ini

Gambar 1. Ikan lele dumbo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

TINJAUAN PUSTAKA. Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Ternak Domba. Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang

I. PENDAHULUAN. dijumpai didaerah Indonesia terutama di daerah Sumatera Barat. Produksi kakao

PENDAHULUAN. bagi usaha peternakan. Konsumsi susu meningkat dari tahun ke tahun, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi hewani membuat

TINJAUAN PUSTAKA. nabati seperti bungkil kedelai, tepung jagung, tepung biji kapuk, tepung eceng

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan salah satu faktor penentu utama yang mempengaruhi produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan taksonomi kapang Rhizopus oligosporus menurut Lendecker

BAB I PENDAHULUAN. Pada abad ke 21 perkembangan masyarakat di dunia menunjukkan adanya perubahan

BAB I PENDAHULUAN. Clarias sp (ikan lele) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang

I. PENDAHULUAN. nutrien pakan dan juga produk mikroba rumen. Untuk memaksimalkan

I PEDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang

I. PENDAHULUAN. Ikan Patin jenis Pangasius hypopthalmus merupakan ikan air tawar yang mempunyai

I. PENDAHULUAN. dilakukan sejak tahun 1995, meliputi pengolahan dan tingkat penggunaan dalam

BAB I PENDAHULUAN. tropis terutama di Indonesia, tanaman nangka menghasilkan buah yang

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya adalah padi dan singkong. Indonesia dengan luas area panen ha

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk

KADAR BIOETANOL LIMBAH TAPIOKA PADAT KERING DENGAN PENAMBAHAN RAGI DAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA

I. PENDAHULUAN. Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan gurame (Osphronemus goramy Lac.) merupakan ikan air tawar yang memiliki gizi tinggi dan nilai ekonomis penting. Ikan gurame juga banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena memiliki rasa yang sangat gurih dan lezat (Purpowardoyo dan Djarijah 1992). Berdasarkan data Statistik Perikanan Budidaya Indonesia, perkembangan produksi ikan gurame selama 4 tahun terakhir menunjukkan angka pertumbuhan sebesar 17,28% per tahun. Sejak tahun 2008 peningkatan produksi ikan gurame secara nasional berada dikisaran 10.000 ton setiap tahunnya. Pada tahun 2010 produksi ikan gurame telah mencapai 56.889 ton atau meningkat 22,99 persen dibanding tahun sebelumnya (Direktorat Jendral Perikanan Budidaya 2011). Ikan gurame sudah lama dibudidayakan oleh pembudidaya ikan di Indonesia, namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, diantaranya adalah laju pertumbuhan yang sangat lambat bila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Rendahnya laju pertumbuhan tersebut salah satunya disebabkan oleh rendahnya efisiensi pemanfaatan materi dan energi yang terdapat dalam pakan yang diberikan sehingga energi yang tersedia tidak cukup bagi pertumbuhan (Kurnia 1997). Disamping itu pakan sebagai sumber nutrisi maupun energi merupakan bahan yang sangat menentukan dalam pencapaian kemampuan hidup suatu organisme (Soedibya 2008). Komponen pakan yang berkontribusi terhadap penyedian materi dan energi untuk pertumbuhan adalah protein, karbohidrat, dan lemak. Protein merupakan sumber nutrisi yang harganya cukup mahal, sehingga pemanfaatan protein untuk pertumbuhan harus efisien. Efisiensi pemanfaatan protein pakan dapat dilakukan dengan penyedian sumber energi non protein dari karbohidrat dan lemak. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi yang murah, tetapi kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat pakan terbatas (Kurnia 1997). 1

2 Kemampuan ikan menggunakan nutrien pakan bergantung pada berbagai faktor seperti sintesis enzim yang tepat, produksi enzim dalam jumlah yang cukup, dan distribusi enzim dalam saluran pencernaan (Tengjaroenkul et al. 2000). Nutrien (protein, karbohidrat, dan lemak) akan dicerna jika sesuai dengan ketersedian enzim pencernaan sehingga jumlah energi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan berkaitan dengan kemampuan ikan dalam mencerna pakan. Rendahnya kemampuan ikan dalam memanfaatkan karbohidrat pakan pada tingkat pencernaan disebabkan oleh rendahnya aktivitas enzim α-amilase dalam saluran pencernaan (Wilson 1994 dalam Handayani 2006). Salah satu upaya untuk mengefektifkan pemanfaatan enzim pencernaan adalah dengan pengaplikasian teknologi fermentasi pakan. Melalui fermentasi, karbohidrat (polisakarida) akan dipecah menjadi sakarida sederhana yang mudah untuk langsung dicerna oleh sistem pencernaan ikan. Salah satu bahan pakan sumber karbohidrat yang perlu diteliti sebagai pakan alternatif adalah kulit ubi kayu. Kulit ubi kayu masih mengandung bahanbahan organik seperti karbohidrat, protein, lemak, dan mineral (Rukmana 1997 dalam Busairi dan Hersoelistyorini 2009) sehingga masih bisa digunakan sebagai alternatif pakan. Kulit ubi kayu yang diperoleh dari tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crant) merupakan limbah agroindustri seperti industri tepung tapioka dan produk olahan makanan. Industri pengolahan ubi kayu tersebut menghasilkan kulit ubi kayu yang pada umumnya dibuang sebagai limbah. Produksi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2010 adalah 23.918.118 ton dan mencapai 24.177.372 ton pada tahun 2012 (BPS 2012), dengan perkiraan kulit ubi kayu yang akan dihasilkan kurang lebih 16% dari produksi ubi kayu (Darmawan 2006 dalam Busairi dan Hersoelistyorini 2009). Potensi limbah kulit ubi kayu yang cukup besar ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk pakan alternatif bagi beberapa kegiatan budidaya ikan. Kulit ubi kayu yang segar biasa digunakan sebagai makanan binatang ternak tetapi memiliki kekurangan berupa kandungan asam sianida (HCN) yang merupakan zat anti nutrisi yang dapat menyebabkan kematian (Busairi dan Hersoelistyorini 2009). Kulit ubi kayu segar memiliki kandungan nutrisi yang

3 rendah. Hasil analisa proksimat tepung kulit ubi kayu diperoleh hasil diantaranya yaitu kadar air 8,31%, abu 6,75%, protein 4,63%, serat kasar 13,04%, lemak kasar 1,99%, dan BETN 73,59% (Andriani 2010). Dari data tersebut maka perlu dilakukan teknik pengolahan untuk meningkatkaan kandungan nutrisinya agar sesuai untuk makanan ternak sehingga penggunaannya dapat optimal (Rukmana 1997 dalam Puspitasari dan Sidik 2009). Salah satu teknologi yang dapat menjadi solusi pada permasalahan di atas yaitu penerapan teknologi fermentasi. Fermentasi merupakan suatu proses yang terjadi melalui kerja mikroorganisme atau enzim untuk mengubah bahan-bahan organik kompleks seperti protein, karbohidrat dan lemak menjadi molekulmolekul yang lebih sederhana. Proses fermentasi mampu menghasilkan produk turunan yang berbeda dengan bahan bakunya (Winarno dan Fardiaz 1980 dalam Amri 2007). Hasil fermentasi suatu bahan dasar pakan akan menghasilkan produk pakan yang mempunyai nilai gizi tinggi, tingkat kecernaan yang tinggi, dan menghasilkan aroma dan flavor yang khas (Poesponegoro 1975 dalam Amri 2007). Menurut Andriani (2010), teknologi fermentasi sederhana yang bisa digunakan untuk proses biokonversi tepung kulit ubi kayu adalah dengan menggunakan inokulum bakteri dan kapang lignoselulolitik hasil isolasi dari cairan rumen sapi. Tepung kulit ubi kayu yang telah mengalami fermentasi menggunakan bakteri dan kapang lignoselulotik mempunyai kandungan dan kualitas gizi yang lebih baik dari bahan asalnya, berupa meningkatnya kandungan protein kasar dari 4,63% menjadi 10,91% dan menurunnya kandungan serat kasar dari 13,04% menjadi 6,36%, serta dapat juga menurunkan kadar HCN dari 264,142 mg kg -1 menjadi 5,49 mg kg -1 (Lampiran 4). Penelitian Romadona (2012) menyatakan bahwa penggunaan tepung kulit ubi kayu hasil fermentasi yang sebanyak 5% yang diformulasikan dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan gurame ukuran 4 cm, menghasilkan laju pertumbuhan terbaik yaitu sebesar sebesar 2,25%. Pada penelitian Andriani (2011) menyatakan bahwa pemberian tepung kulit ubi kayu hasil fermentasi sebesar 10% dengan masa pemeliharaan selama 60 hari memberikan nilai terbaik. Berbagai penelitian

4 yang sudah dilakukan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh pemberian tepung ubi kayu hasil fermentasi pada pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan gurame dengan ukuran lebih besar. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat diidentifikasi adalah seberapa besar pengaruh pemberian tepung kulit ubi kayu hasil fermentasi dalam pakan terhadap pertumbuhan benih ikan gurame, pada fase pendederan keempat. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kulit ubi kayu hasil fermentasi dalam pakan buatan yang dapat memberikan pertumbuhan tertinggi terhadap benih ikan gurame, pada fase pendederan keempat. 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk meningkatkan pemanfaatan kulit ubi kayu sebagai bahan baku alternatif pakan benih ikan gurame yang ekonomis. 1.5 Kerangka Pemikiran Pada kegiatan budidaya ikan, pakan merupakan salah salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan komoditas budidaya. Kebutuhan nutrisi dalam pakan ikan perlu mendapatkan perhatian khusus sehingga diperoleh formulasi komposisi nutrisi pakan yang sesuai untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan optimal dari ikan komoditas budidaya. Ikan gurame merupakan ikan herbivora yaitu ikan yang jenis makanannya berupa bahan-bahan nabati seperti daun pepaya, daun sente dan kulit ubi kayu. Bahan pakan yang berasal dari bahan-bahan nabati umumnya mengandung karbohidrat dan serat kasar yang tinggi, namun kandungan tersebut dapat dicerna dengan baik oleh ikan herbivor karena mikrofola yang terdapat pada ikan herbivor relatif lebih banyak

5 dibandingkan ikan karnivor, tetapi pada fase benih organ pencernaan belum berkembang dengan baik termasuk mikroflora yang terdapat pada organ pencernaan benih ikan. Kebutuhan protein untuk benih ikan gurame ukuran 4-6 cm yaitu 32% (SNI 01-6485.2-2000). Keberadaan protein sebagai nutrisi pada ikan memiliki peran ganda sebagai zat tumbuh dan sumber energi yang dimanfaatkan secara bersamaan. Pemanfaatan protein yang berlangsung secara bersamaan untuk dua proses metabolisme ini memberikan kerugian pada upaya optimalisasi pertumbuhan ikan, sebagai konsekuensi dari tidak termanfaatkannya protein secara optimal sebagai zat tumbuh karena sebagian protein masih digunakan sebagai sumber energi. Upaya rekayasa untuk optimalisasi pemanfaatan protein secara optimal sebagai zat pendukung pertumbuhan dapat dilakukan dengan mensuplai sumber energi lain pada komposisi pakan ikan, salah satunya adalah karbohidrat, yang diketahui berperan sebagai Protein Sparing Effect, yaitu sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh ikan. Pemanfaatan karbohidrat sebagai komponen nutrisi lain pada pakan ikan, selain diharapkan mampu untuk mendukung optimalisasi protein dalam fungsinya sebagai zat tumbuh, juga menguntungkan secara ekonomi karena mampu mengurangi porsi pemberian protein hewani pada pakan ikan yang harganya relatif mahal. Namun demikian terdapat beberapa hambatan terkait pemanfaatan karbohidrat pada komposisi pakan ikan, salah satunya adalah karena sediaan karbohidrat di alam sebagai besar terdapat dalam bentuk makromolekul yang sulit dicerna oleh ikan seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Oleh karena itu diperlukan upaya rekayasa sediaan karbohidrat alami menjadi bentuk yang mudah dicerna oleh ikan, salah satunya dengan teknik fermentasi. Salah satu sumber karbohidrat yang bisa dimanfaatkan dari sediaan alam adalah kulit ubi kayu, yang saat ini juga masih merupakan limbah agroindustri. Busairi dan Hersoelistyorini (2009) menyebutkan hasil analisis kulit ubi kayu menujukkan kadar karbohidrat dan kadar abu sebesar 78,203% dan 5,200%. Nilai tersebut berarti kadar karbohidrat dalam kulit ubi kayu dominan. Karbohidrat dalam kulit ubi kayu masih berupa senyawa kompleks yaitu dalam bentuk

6 selulosa yang sulit dicerna oleh ikan (Yandes dkk. 2003). Upaya untuk meningkatkan nilai gizi dan sekaligus mengubah komposisi karbohidrat kompleks yang terdapat pada kulit ubi kayu dapat dilakukan dengan menggunakan terknologi fermentasi. Penelitian pemanfaatan bahan limbah agroindustri yang difermentasi sebagai bahan pakan ikan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pada penelitian Triana (2008) dalam pemberian pakan pada ikan mas (Cyprinus carpio L.) dengan perlakuan penambahan bungkil inti sawit yang difermentasi dengan perlakuan konsentrasi sebesar 15% menunjukkan performa terbaik pada pertumbuhan ikan mas. Penggunaan bungkil inti sawit terfermentasi juga diteliti oleh Amri (2007) dengan penggunaan konsetrasi 18% dalam pakan ikan mas (Cyprinus carpio L.) hasil penelitian memperlihatkan jumlah konsumsi pakan, pertambahan berat badan tertinggi dan menurunkan konversi pakan serta income over feed cost tertinggi. Pada penelitian Sirait (2010) dalam pemberian pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan perlakuan penggunaan bungkil kelapa yang difermentasi dengan konsentrasi 10% menunjukkan performa pertumbuhan yang terbaik. Pada penelitian Rostika (2010) menyebutkan bahwa pakan mengandung tepung tongkol jagung fermentasi 5% dengan Trichoderma viride dan Trichoderma reesei untuk benih ikan tawes memberikan pertumbuhan mutlak 25,88 gram, laju pertumbuhan harian 2,01% dan konversi pakan 2,83. Hasil penelitian Sari (2007) yang menggunakan bungkil inti sawit yang difermentasi dalam pakan buatan ikan nila yang memberikan nilai laju pertumbuhan dan konversi pakan tertinggi pada perlakuan 5% yaitu 2,05% dan 2,34. Sedangkan pada penelitian Haetami (2003) dalam Sari (2007) menunjukkan bahwa penggunaan biji jarak terfermentasi dapat ditambahkan ke dalam pakan benih ikan gurame sampai dengan 10%.

7 1.6 Hipotesis Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik hipotesis bahwa penambahan tepung kulit ubi kayu hasil fermentasi sebanyak 15% dalam formulasi pakan buatan dapat memberikan pertumbuhan terbaik bagi benih ikan gurame pada fase pendederan keempat benih 4-6 cm..