BAB III tt * Pi, >\SM 7 #

dokumen-dokumen yang mirip
lingkungan, dari suatu unit seperti individu, kelompok,

perhatian dan perhitungan dan rancangan penelitian yang ditetapkan. Pada hal

interaksi dengan lingkungan, dari suatu unit seperti individu,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif. Hal ini didasarkan atas tujuan penelitian yang ingin mengetahui dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Bab ini merupakan kunci bagi pelaksanaan penelitian yang penulis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. akhlakul karimah peserta didik di SMP IT Ar Raihan. Untuk mencapai tujuan,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sebelum melakukan penelitian ke lapangan, seorang peneliti harus melakukan

BAB III METODE PENELITIAN. pemahaman masing-masing manajemen pembiayaan bank syariah terhadap

BAB III METODE PENELITIAN

keselumham karakteristik MI Asih Putera Cimahi yang berkaitan dengan upaya

peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bermaksud memperoleh gambaran tentang Implementasi

BAB III METODE PENELITIAN

informasi yang diperlukan. Jadi laporan kualitatif kaya dengan deskripsi

BAB III METODE PENELITIAN. Pemuda Hijau Indonesia) regional Yogyakarta ini menggunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006), metode penelitian

dimana mereka melaksanakan kegiatannya dan dalam waktu yang relatif cukup

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penerapan prinsip-prinsip andragogi dalam Diklat Satuan Polisi Pamong Praja

masalah yang kontekstual, menpunyai sifat khas tertentu dalam situasi

beberapa karakteristik seperti yang dikemukakan oleh Bogdan & Biklen dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sacara umum penelitian ini bertujuan untuk mengamati, mengkaji,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

hubungan sekolah (perguruan tinggi) dengan masyarakat dalam rangka pengelolaan sumber daya pendidikan yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian tentang Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di PAUD Al-Anfall di Desa Ambara dengan fokus

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang tepat untuk melakukan sesuatu ; dan Logos yang artinya ilmu atau

III. METODE PENELITIAN. sosial dan dinamis. Oleh karena itu, peneliti memilih menggunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN. dan Taylor (Moleong, 2000:3) penelitian kualitatif adalah prosedur

BAB III METODE PENELITIAN. No 95 Pesawahan Teluk Betung Selatan Bandar Lampung.

Pertama, penulis bermaksud mengembangkan konsep pemikiran,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab III yaitu metodologi penelitian berisi uraian mengenai pendekatan,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang hadir dalam suatu konteks yang terbatas (bounded context), meski batasbatas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian tentang Mitos di Gunung Selamet Di Dusun Bambangan, Desa

BAB III METODE PENELITIAN

pengumpulan data, prosedur pengolahan dan analisis data, dan tahap-tahap

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif naturalistik. Pertimbangannya sebab hasil penelitian yang diperoleh

BAB III METODE PENELITIAN. mengadakan pengamatan dan mencari data deskriktif berupa kata-kata tertulis

Penelitian ini tidak tergolong kepada penelitian kuantitatif karena tujuan pokok

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (Mulyana, 2002: 145) merupakan proses, prinsip, dan prosedur yang kita

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode

perumusan dan pelaksanaan kebijakan program kerja PGRI, (c) peluang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Baru Kota Medan, dengan demikian penelitian akan mengarah pada penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian diperlukan untuk memecahkan suatu masalah dalam penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. tepat agar tujuan penelitian dapat tercapai. Metode yang digunakan dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. merupakan suatu cara untuk mencari kebenaran secara ilmiah berdasarkan pada data

BAB III METODE PENELITIAN

perubahan dan intervensi. Dalam hal ini peneliti langsung pergi ke SLTPN 1

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif analitis

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan permasalahan, penelitian ini bertujuan untuk

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian deskriptif dengan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kepemimpinan

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam suatu penelitian, metode merupakan satu hal penting sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. program pelatihan dengan mendeskripsikan hasil temuan penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. kredibilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif kualitatif, suatu penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif deskriptif. Istilah penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor

BAB III METODE PENELITIAN. tersebut didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek dalam penelitian ini adalah pelaporan Corporate Social

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini berkaitan dengan proses, prinsip dan prosedur penelitian.

BAB in METODOLOGI PENELITIAN. dipergunakan, dengan ditentukannya metode penelitian, maka akan memandu seorang

berbentuk deskripsi perilaku, maka metode yang sesuai dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. diteliti dapat dianalisis secara tepat dan terjamin kesahihannya. 42

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan serangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis dan mendeskripsikan data

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif, dengan tipe penelitian studi kasus (case studies). Menurut Moleong

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dengan mempertimbangkan: pemahaman peneliti terhadap

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

tidak bermaksud untuk mengungkapkan hubung untuk menguji hipotesis tertentu. Rumusan masalah dalam penelitian ini menuntut peneliti untuk melakukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. sebuah metoda yang efektif untuk tujuan mendeskripsikan atau

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai manajemen di

BAB III RUMUSAN PENELITIAN. mengungkapkan sesuatu yang belum diketahui dengan metode sistematis dan terarah.

Transkripsi:

BAB III tt * Pi, >\SM 7 # PROSEDUR PENELITIAN V " i** \\ «*. * A. Metode Penelitian Metode merupakan hal yang sangat penting diperlukan dalam suatu penelitian dengan tujuan untuk memandu seorang peneliti. Suatu penelitian akan efektif dalam mencapai tujuannya sesuai dengan yang diharapkan apabila memperhatikan metode yang akan digunakan. Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, yaitu : memperoleh data empiris tentang pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif didasarkan atas fenomenologis yang opada dasarnya bertujuan utuk memperoleh pemahaman dan pengertian tentang perilaku manusia ditinjau dari aktor pelaku itu sendiri. Fenomenologis mempelajari pengalaman manusia dalam kehidupan, yang mempercayai bahwa kebenaran akan terungkap melalui upaya menyelami interaksi perilaku manusia, dan akhirnya memperoleh kesimpulan tentang apa yang penting, dinamis dan berkembang. Dengan demikian pendekatan kualitatif mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan pendekatan lain. Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik(s. Nasution 1986 :18), disebut kualitatif karena data yang 80

81 dikumpulkan bercorak kualitatif bukan kuantitatif. Disebut naturalistik karena situasi lapangan penelitian bersifat natural atau wajar sebagaimana adanya tanpa dimanipulasi, diatur dengan eksperimen atau tes. Selanjutnya Bogman Taylor yang dikutp oleh Lekxy J Moleong dalam buku metodologi penelitian kualitatif (1983 : 3j menyatakan bahwa "metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, pendekatan ini diarahkan padaa latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh). Dan selanjutnya Lexsy J. Moleong (1983; 9) mengatakan bahwa "pendekatan fenomenologis berusaha mengerti subyek dari segi pandangan mereka sendiri". Oleh karen itu dalam penelitian ini tidak menggunakan pengolahan data secara statistik atau tanpa perhitungan angka-angka. Pada bagian lain S. Nasution (1988 ; 1) menyatakan bahwa "tujuan penelitian naturalistik bukanlah untuk menguji hipotesis yang didasarkan atas teori-eori tertentu, melainkan untuk menemukan pola yang mungkin dapat dikembangkan menjadi teori. Dengan demikian penggunaan pendekatan penelitian kualitatif lebih mengutamakan kemampuan peneliti untuk mengungkap fokus permasalahan yang diteliti. Peneliti mengembangkan konsep pemikiran, pemahaman dari pola yang ada di dalam data, melihat secara keseluruhan

82 setting atau proses, individu, kelompok tanpa mengurangi variabel. Sehingga peneliti harus memahami betul orang dari sisi orang pandangan obyeknya, menaruh keyakinan, pandangan dan sikap, dan semua setting atau proses dan orang-orang disekitar obyek berguna untuk diteliti dan merupan suatu seni tersendiri. Dilihat dari penjabaran di atas maka pendekatan kualitatif merupakan metode yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Hal ini sejalan dengan tujuan dari penelitian naturalistik kualitatif, yaitu mengungkap kenyataan-kenyataan yang terjadi pada subyek penelitian dan dideskripsikan melalui kata-kata, dan bukan berupa angka-angka seperti dalam penelitian kuantitatif. B. Teknik Pengumpulan Data Dalam sebuah penelitian deskripsif dengan pendekatan kualitatif yang menjadi instrumen penting dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Hal ini berarti bahwa peneliti tersebut merupakan perencana, pelaksana, pengumpul dan pencatat data, analis, penafsir data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitiannya. Keberadaan peneliti sebagai instrumen merupakan alat pengumpul data utama, hal ini dilakukan karena dalam penelitian deskriptif kualitatif peneliti merupakan instrumen pokok yang dapat menelaah dan menafsirkan berbagai

83 fenomena dan sekaligus mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan yang terjadi dilapangan. Selain itu peneliti sebagai instrumen bisa mengadakan hubungan langsung dengan responden dan obyek yang lainnya, memahami kaitan-kaitan dengan kenyataan di lapangan serta mampu menilai apakah kehadirannya menjadi faktor pengganggu sehingga apabila terjadi hal yang demikian peneliti dapat menyadari sekaligus berusaha untuk mengatasinya. Sumber data utama dalam penelitian deskriptif kualitatif ialah berupa kata-kata dan tindakan dn selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lainnya. Berkaitan dengan pemasalahan yang diajukan, dan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang kasus yang dikaji, maka diperlukan berbagai teknik pengumpulan data yang relevan. Teknik pengumpulan data tersebut meliputi wawancara pada subyek penelitian, observasi dan studi dokumentasi. 1. Wawancara Wawancara dalam penelitian ini sifatnya terbuka dan tidak terbatas serta dalam bentuk dialog semi teratur pada setiap aggota peelitian, utamanya terhadap pengurus HMI, disamping alumni pelatihan pelatih kader HMI kasusnya sendiri, disamping simpatisan yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam proses pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program

84 pelatihan. Dengan demikian diperoleh informasi yang lengkap, akurat, obyektif, komprehensif, dan relevan dengan fokus penelitian yang diajukan. Agar wawancara dapat berlangsung terarah, baik dan tidak terkesan kaku, peneliti disamping menggunakan alat bantu pedoman singkat wawancara, juga berusaha untuk menghindarkan diri dari situasi formal. Sedangkan agar dalam wawancara sedapat mungkin penejiti memfokuskan materi tertentu yang sudah dipersiapkan sebelumnya secara bertahap, sampai data yang diperoleh dianggap cukup memadai dan valid, baru kemudian dilanjutkan persoalan yang lain, sesuai dengan fokus penelitian yang diajukan. Agar data wawancara tidak terdistorsi oleh keterbatasan kemampuan ingatan peneliti, maka setiap kali wawancara peneliti berusaha untuk melakukan perekaman secara tersembunyi, sehingga tidak mengganggu situasi wawancara yang dilakukan. Wawancara dengan alumni pelatihan HMI pada umumnya dilakukan di rumah atau dikantor dengan terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Namun tidak jarang juga dilakukan di sekretariat HMI pada saat mereka sedang berkunjung kesekretariat HMI, khususnya alumni yang masih muda.

85 Sesuai dengan fokus penelitian yang diajukan, materi wawancara kepada pengurusa dan alumni kasus, mencakup pandangan mereka terhadap proses pelatihan, motivasi, pelaksanaan, hasil dan dampak, hambatan dan dukungan serta follow up yang harus dilakukan setelah pelatihan. Wawancara kepada pengurus dan alumni pelatihan, disamping ditujukan untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari mereka, sekaligus dimaksudkan untuk mengklarifikasi kebenaran data dari sebelumnya. Wawancara pada pengurus pelatihan terutama dilakukan pada pengurus dan alumni pelatihan secara khusus. Dipilihnya pengurusan dan alumni pelatihan dikarenakan mereka lebih mengetahui tentang proses pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan serta berbagai upaya yang dilakukan mereka untuk mensukseskannya. Secara umum materi wawancara diarahkan kepada pemahaman pengurus dan alumni pelatihan tentang pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan berdasarkan motivasi, sistem dan materi, proses pelaksanaan, hasil dan dampak, hambatan dan dukungannya serta follow up setelah pelatihan. Misalnya melalui identifikasi, keterlibatan pengurus secara langsung maupun tidak langsung terhadap keseluruhan proses pembelajaran kasus baik di

86 lingkungan HMI atau di tempat pelatihan, seperti pemberian tugas, presentasi makalah dan resume. Sedangkan wawancara dengan alumni pelatihan tidak hanya dibatasi pada mereka saja melainkan kepada istri dan keluarganya, yang secara fisik maupun psikologis terlibat langsung dalam proses pelatihan tersebut. Tahap kasus, sekalipun peneliti mengalami kesulitan dalam menjalin komunikasi dengan mereka terutama menggali masalahmasalah tertentu yang memerlukan analisis yang lebih jauh, misalnya tentang latar belakang keluarganya, baik dari segi status sosial atau dari segi status agama. Namun jawaban-jawaban yang mudah dari kasus tersebut cukup memberikan sumbangan yang berarti fokus penelitian yang diajukan. Wawancara terhadap kasusu cenderung dilakukan di rumah, atau di kantornya pada saat mereka lagi beristirahat. Materi wawancara lebih diorientasikan kepada motivasi, sistem dan materi, proses pelaksanaannya, hasil dan dampaknya, hambatan dan dukungan serta follow up selanjutnya. Untuk memudahkan peneliti dalam melakukan deskripsi dan analisis data hasil wawancara, dalam penelitian ini wawancara penelitian diupayakan dilakukan kasus perkasus maksudnya, setelah diperoleh data yang komprehensif sesuai dengan fokus penelitian yang diajukan, yaitu: peran para pemuda dalam pengembangan kualitas

87 sumber daya melalui program pelatihan dari kasus tertentu, baru dilanjutkan dengan wawancara penelitian untuk mengumpulkan data pada kasus yang berikutnya. Namun demikian, peneliti tetap menggunakan asas fleksibilitas, terganrung situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan saat penelitian dilakukan. 2. Observasi Dalam penelitian ini observasi dilakukan melalui observasi partisipasi pasif. Artinya disamping peneliti memfokuskan diri pada upaya penggalian dan pengumpulan data sesuai dengan fokus penelitian yang diajukan melalui pengamatan langsung terhadap kegiatan yang dilakukan, situasi yang terjadi, dan gejala-gejala yang ditampakkan, peneliti juga kadang-kadang ikut serta atau melibatkan diri seadanya sebagai orang dalam terhadap kegiatan yang sedang dilakukan, sehingga situasi yang diamati dapat berlangsung secara alamiah, karena subyek penelitian tidak sedang diamati. Karena itu dalam penelitian ini, peneliti lebih banyak menghabiskan waktunya terutama bersama para pengurus dan alumni pelatihan untuk mengamati berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para pengurus dan peserta pelatihan tersebut dalam kaitannya dengan upaya pengembangan kualitas sumber dayapemuda.

88 Selama observasi berlangsung, peneliti berusaha untuk melakukan pengamatan secermat mungkin tentang berbagai gejala yang ditampakkan, baik perilaku, sikap, maupun reaksi dan tanggapan para pengurus, alumni pelatihan, maupun kasus selama observasi berlangsung. Sedapat mungkin selama proses pengamatan ini berlangsung, peneliti sekaligus mencatata segala peristiwa yang terjadi yang dianggap relevan dengan fokus penelitian dalam buku pedoman dan catatan hasil observasi, namun bila tidak sempat maka pencatatan dilakukan segera setelah pengamatan selesai dilakukan. Sesuai dengan fokus penelitian yang diajukan yaitu tentang pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan kepada calon pelatih, kader HMI, maka proses pengamatan terhadap para pengurus: (1) tidak dibatasi pada saat para pengurus dalam lingkungan organisasi, tetapi juga terjadi di luar lingkungan organisasi, seperti dilingkungan kampus, (2) lebih diorientasikan pada bagaimana perlakuan dan motivasi para pemuda, termasuk peserta latihannya selama berinteraksi dengan para pelatih. Dengan demikian dapat diketahui tentang pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan, serta motivasi sistem dan materi, proses pelaksanaan, hasil dan dampak, hambatan dan dukungan, serta tindak lanjut seteah pelatihan dilaksanakan. Selanjutnya agar diperoleh data

89 yang akurat dan obyektif, peneliti berusaha untuk melakukan pengamatan dalam situasi yang bervariasi. Misalnya, di sekretariat HMI sambil ngobrol-ngobrol atau dilingkungan luar ditempat pelatihan atau di kampus. Observasi terhadap guru pelatihan dilakukan terutama pada saat proses pelatihan itu dilaksanakan. Pada saat tersebut, peneliti memposisikan diri sebagai peserta latihan. Tujuan observasi terhadap para pelatih, dimaksudkan untuk mengatasi proses pengembangan kualitas sumber daya pemuda pada saat pelatihan berjalan, ada tidaknya kesejalanan antara materi yang disampaikan dengan sistem pelatihan yang sudah dilentukan terhadap kasus, serta untuk mengamati bagaimana sebenarnya peran para pelatih dan pengurus dalam pengembangan kualitas sumber daya para pemuda. Sekalipun observasi dalam penelitian ini lebih menekankan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi antara para pelatih dan pengurus terhadap peserta pelatihan, namuan agar diperoleh data yang lebih komprehensif observasi juga dilakukan pada saat proses pelatihan itu dilaksanakan. 3. Studi Dokumentasi Dalam penelitian ini studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai data tertulis yang dianggap mendukung, melengkapi, atau memperkaya data utama penelitian yang diperoleh

90 melalui observasi dan wawancara. Beberapa data yang dikumpulkan antara lain tentang catatan-catatan dari para pelatih, pengalaman para pelatih dan para pengurus serta dokumen lain yang menjadi pedoman pelatihan. Dengan untuk keperluan ini beberapa catatan tertulis tersebut dipinjam untuk melakukan penelaahan lebih lanjut. C. Subyek Penelitian dan Kriteria Penarikan Kasus. 1. Subjek Penelitian Responden sebagai subjek penelitian merupakan unsur yang penting untuk mendapat informasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif subjek penelitian adlah semua orang yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi. Sejalan dengan permasalahan dalam penelitian ini, subjek penelitian tidak terbatas pada Pengurus (akttifis) dan alumni pelatihan pelatih kader HMI yang dijadikan kasus, tetapi juga orang lain yang mampu menjadi sumber informasi langsung dari masalah yang diteliti. Dengan demikian diperoleh data yang objektif, akurat, terpercaya, rinci, dan komprehensif. Untuk itu dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah para alumni pelatihan HMI yang telah ditetapkan sebagai kasus, Pengurus dan alumni Pelatihan HMI Cabang Tasikmalaya.

91 Dengan kata lain sebagai responden dalam penelitian ini adalah pra pemuda (pengurus dan alumni) yang ditetapkan sebagai kasus, sedangkan sebagai informan adalah para sismpatisan. 2. Kriteria Penarikan Kasus Penelitian ini dilakukan melalui studi yang mendalam terhadap kasus. Dalam hasil telaah kasus tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran tentang subjek penelitian. Dengan kata lain kasus dapat diharapkan mampu menjadi wakil (sampel) yang refresentatif dari keseluruhan subyek penelitian (populasi). Dalam kontek penelitian kualitatif, teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sejalan dengan itu maka masalah utama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknik penarikan kasus dilakukan, sehingga kasus benar-benar refresentatif sesuai dengan tujuan penelitian. Seperti dikemukakan oleh Nana Sudjana (1989 : 96), teknik ini digunakan apabila peneliti punya pertimbangan tertentu dalam menetapak sampel sesuai dengan tujuan penelitiannya. Untuk itu penarikan kasus tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi mengacu kepada beberapa kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Kriteria tersebut adalah: a. Telah diidentifikasi sebagai Pengurus, dan alumni pelatihan pelatih kader HMI CabangTasikmalaya.

92 b. Pengurus dan alumni yang pernah mengikuti program pelatihan pelatih kader HMI Cabang Tasikmalaya. c. Memiliki data yang cukup komprehensif untuk digunakan sebagai sumber informasi, terutama data empiris dan data dekumentasi. d. Dilakukan berdasarkan atas kesepakatan antara peneliti, pengurus HMI, dan para alumninya. Berdasarkan kriteria di atas, maka pengurus HMI dan alumni yang telah diangkat dan ditetapkan sebagai kasus, selanjutnya dilakukan studi analisa yang cermat dan mendalam sesuai dengan fokus penelitian. Sejalan dengan kriteria diatas, dalam penelitian ini penarikan kasus tidak dilakukan secara kaku dan sekaligus, tetapi flekeibel dan bertahap sesuai dengan informasi yang berkembang. Artinya, orang tua yang semula telah ditetapkan sebagai kasus biasa saja kemudian dikeluarkan atau dibatalkan sebagai kasus karena sesuatu dan lain hal. D. Analisis dan Penafsiran Data 1. Analisis Data Menurut Patton (1980 : 268), analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan uraian pembahasan. Pendapat lain yang senada dengan apa yang dikemukakan Patton, yakni Bogdan & Biklen (1982 : 145) mengemukakan

93 bahwa analisis data adalah proses mencari dan manata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Selanjutnya, Bogdan & Biklen (1982 :146-162) membedakan analisis data itu melalui dua langkah, yaitu analisis selama di lapangan dan analisis sesudah meninggalkan lapangan. Langkah-langkah analisis selama di lapangan dan analisis sesudah meninggalkan lapangan. Langkah-langkah selama di lapangan adalah: (1) mempersempit fokus studi, (2) menetapkan tipe studi, (3) mengembangkan secara terus-menerus pertanyaan analitik, (4) menuliskan komentar peneliti sendiri, (5) upaya penjajagan tentang ide dan tema penelitian pada subyek responden sebagai analisis penjajagan, (6) membaca kembali pustaka yang relevan selama di lapangan, (7) menggunakan metaphora, analogi dan konsep. Langkah-langkah analisis sesudah meninggalkan lapangan adalah : (1) membuat kategori masalah dan menyusun kodenya, (2) menata sekuensi atau urutan penelaahannya. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: - Berdasarkan data yang terkumpul, yakni berupa abstrak dari seluruh deskripsi hasil observasi, transkrip hasil dari wawancara baik rekaman "tape recorder" maupun catatan lapangan, dan abstrak dari hasil studi

94 dokumentasi. Peneliti memilah-milah data tersebut sesuai dengan kategori masalahnya. - Menguraikan kategori-kategori tersebut untuk memahami aspek yang terdapat di dalamnya sambil menelaah hubungan antara satu dengan lainnya. - Menata urutan masalah guna memberikan tafsiran yang menggambarkan perspektif peneliti untuk memberikan makna terhadap hasil analisis data dari ketegorimasalah tersebut. Rangkaian dari kegiatan analisis data yaitu penafsiran data. Dengan demikian antara analisis data dan penafsiran data merupakan satu kesatuan tahap kegiaian. Data yang diperoleh pada setiap pertemuan langsung dianalisis dan ditafsirkan. Analisis dan penafsiran data berjalan terus selama proses penelitian dan semua datayang diperlukan terkumpul. Selama proses penelitian, analisis dilakukan dan muncul pertanyaan-pentanyaan yang dijadikan patokan untuk melacak terus kasus yang diteliti sampai diperoleh data sebanyak mungkin tentang pola pengembangan kualitas sumber daya pemuda melalui program pelatihan oleh HMI Cabang Tasikmalaya.

95 Oleh karena kasus yang diteliti menyangkut pola pengembangan atau pembinaan melalui program pelatihan oleh HMI Cabang Tasikmalaya dan motivasi apa yang mendorong para pemuda sehingga tertarik untuk mengikuti program pelatihan, sistem program pelatihan apa yang digunakan, proses pelaksanaan pelatihan yang bagai mana yang diberikan pada peserta, apa yang dihasilkan peserta pelatihan setelah mengikuti program pelatihan, hambatan dan dukungan apa yang terdapat pada proses pelatihan, serta bagaimana follow up dari pelatihan berkaitan dengan kualitas sumber daya pemuda, maka hasil penelitian akan dianalisis dengan menghubungkannya melalui pendekatan pendidikan luar sekolah. E. Langkah-Langkah Penelitian Langkah-langkah penelitian yang dimaksud di sini adalah tahaptahap kegiatan yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian berlangsung. Langkah-langkah penelitian tersebut menurut S. Nasution (1988 : 33-34) adalah 1) tahap orientasi, 2) tahap eksplorasi, dan 3) tahap "member check". 1. Tahap Orientasi Tahap awal sebagai pendahuluan peneliti lakukan sejak bulan Maret 1999. Pada tahap ini penulis mengamati prilaku dan tingkah para

96 pengurus HMI dan Alumni Pelatihan pelatih kader HMI Cabang Tasikmalaya baik saat proses pelatihan itu diselenggarakan, dan juga saat diluar proses pelatihan. Berdasarkan penjajagan diperoleh berbagai informasi tentang motivasi, sistem dan materi, proses pelaksanaan, hasil dan dan dampak, hambatan-hambatan dan dukungan yang diperoleh peserta latihan serta follow up yang dilakukan setelah mengikuti program pelatihan. Informasi data diperoleh dari pengamatan terhadap para pemuda yang bersangkutan, wawancara dengan para alumni, simpatisan yang tahu tentang program pelatihan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi di atas, ditemukan sejumlah aktifis HMI dan para alumninya yang dianggap tahu dan memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai subjek penelitian, sesuai dengan permasalahan yang diajukan. Berdasarkan temuan ini langkah selanjutnya adalah:

97 a. Menetapkan 14 Orang dari sejumlah pengurus dan alumni pelatihan yang berhasil diidentifikasi memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian untuk dijadikan sebagai kasus penelitian. b. Menelusuri keberadaan Pengurus dan alumni pelatihan HMI yang telah ditetapkan sebagai kasus kerumah atau kekantor masingmasing. c. Mengurus surat-surat perizinan ke Pengurus HMI Cabang Tasikmalaya guna keperluan wawancara dengan para alumninya dan pengurus observasi di rumah atau di kantor. d. Menyusun alat bantu penelitian, berupa pedoman wawancara dan kisi-kisi observasi dan menyiapkan alat perekam yaitu ti 2. Tahap Eksplorasi Tahap ini, dilaksanakan dari tanggal 18 Maret 1999 sampai dengan 15 Agustus 1999. Pada tahap ini dilakukan penggalian informasi dan pengumpulan data sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Jadi merupakan tahap pemantapan dari tahap sebelumnya,

98 yang mencakup penyempurnaan alat bantu penelitian, pelaksanaan observasi, studi dekumenter, dan kegiatan wawancara. Dalam pelaksanaannya tahap ini tidak hanya dilakukan dilingkungan di tempat pelatihan, tapi juga dilakukan di rumah dan kantornya. 3. Tahap member Check dan Pengolahan Data Tahap ini merupakan tahap seleksi dan penafsiran data. Setiap perolehan data selalu dikonfirmasikan dan diteliti kembali kepada sumbernya, selanjutnya diolah dan ditafsirkan. Kegiatan ini dilakukan selama kegiatan penelitian berlangsung, pelaksanaannya terus dimantapkansampai penelitian dianggap selesai.