BAB V PENYUSUNAN KONSEP 5.1. MATRIKS ANALISA SWOT ( Tabel 5.1) Opportunity - PLPBK yang menjadikan permukiman pinggiran sungai menjadi lebih tertata berbasis komunitas - Akses dari jalan Kleringan depan stasiun Tugu dan jalan abu bakar ali dekat kawasan wisata malioboro Strength - Ikatan kekeluargaan erat antar warga - Kesadaran warga akan penghijauan cukup tinggi dengan adanya tanaman hias dalam pot - Banyaknya warga yang menjadi wirausahawan - terbuka hijau dekat dengan rumah warga sebagai upaya penghijauan - Adanya ruang interaksi berupa plaza atau ruang ruang pocket - Mengembangkan tempat usaha masyarakat dengan akses jalan dan visual yang lebih baik - Visual permukiman yang menarik perhatian pelancong dan wisatawan Weakness - Perbedaan kontur yang jauh dengan akses yang menyulitkan - Banyaknya jumlah pengangguran tak kentara yang kebanyakan adalah janda - Bangunan padat sehingga kekurangan ruang terbuka dan rawan kebakaran - Bangunan tak tertata sehingga sering ada ruang sisa - Jalan di permukiman yang sempit dan membingungkan - Warga belum swasembada pangan - Bangunan low rise 3-4 lantai yang tertata - Lahan perkebunan dengan sistem terasering sebagai wujud lanskap produktif - Lahan perkebunan dengan konsep Urban Farming yang terintegrasi dengan bangunan - Sirkulasi yang jelas dan memudahkan evakuasi - Tiap lantai didirikan selaras dengan kontur untuk menambah pengalaman ruang dan memudahkan sirkulasi Threat - Daya tarik daerah tengah perkotaan membuat banyak warga yang memilih untuk pindah - Dampak sosial dari rusunawa jogoyudan di utara site - terbuka hijau yang unik dan estetis menarik minat untuk tinggal serta memungkinkan untuk dijadikan daerah wisata - Hubungan antara penghuni rusun dan RT 50-51 yang tidak terisolir - Bangunan dengan tampilan menarik dilengkapi fasilitas umum yang memadai - 1
5.2. PERUMUSAN KONSEP UMUM Terbuka Hijau Sebagai yang Tertata Meningkatkan Produktivitas, memenuhi kebutuhan pangan Lahan Untuk Bercocok tanam Sebagai Wujud Lanskap produktif Sosial Ekonomi Lanskap Permukiman Vertikal dengan Lanskap Produktif Interaksi Antar Penghuni Sebagai Wujud Masyarakat Kampung Fasilitas Umum dan Bersama Mudah Dijangkau Bangunan Menerapkan Urban Farming Low Rise Building 3-4 Lantai Untuk Mengurangi Kepadatan dan Terintegrasi dengan Kontur Diagram 5.1 : Konsep Makro 5.3. RINCIAN KONSEP 5.3.1. Kebutuhan Dari luas total eksisting 7800m2, 66% terpakai untuk pembangunan rumah. Ditargetkan luas site yang terpakai untuk bangunan berkurang menjadi 30%-40% dan sisanya sebagai ruang bersama dan fasilitas publik dengan rincian sebagai berikut 2
5.3.1.1. Tipe hunian dibagi berdasarkan jumlah anggota keluarga per KK. Berdasarkan data dari grafik 4.1, jumlah anggota per KK bervariasi yaitu 1 hingga lebih dari 4 orang. Menanggapi hal tersebut, tipe hunian permukiman yang baru dibagi menjadi 4 jenis yaitu seperti terlihat pada tabel 5.2 Melihat pertumbuhan penduduk D.I Yogyakarta yang terus meningkat, tidak menutup kemungkinan bahwa Jetis, termasuk Jogoyudan di dalamnya akan mengalami kenaikan jumlah penduduk. Karenanya, akan dibuat tambahan unit hunian per tipenya. Kenaikan jumlah penduduk yang menjadi acuan adalah anga kenaikan penduduk di Kota Yogyakarta sesuai pada Tabel 3.2. Pada tabel ini terlihat penduduk Yogyakarta mengalami kenaikan menjadi 1,01 kali lipat setiap tahunnya. Rumus untuk menentukan jumlah penduduk x tahun ke depan adalah Jumlah penduduk x tahun ke depan = a ( k ) x-1 a = Jumlah penduduk awal k = Kelipatan kenaikan jumlah penduduk x = Jumlah tahun Ditargetkan permukiman vertikal ini mampu menampung penghuni yang terus bertambah hingga 20 tahun kedepan sehingga dapat diperoleh angka a (1,01) 20-1 = a(1,01) 19 = 1,2a. Sehingga diasumsikan bahwa permukiman mampu menampung kebutuhan ruang 1,2 kali lipat dari jumlah awal. 3
Jenis KK beranggotakan 1 orang KK beranggotakan 2-3 orang KK beranggotakan 4 orang Tabel 5.2 : Kebutuhan Jumlah Existing Jumlah Unit Baru 7 7x1,2 =8,4 Dibulat kan=8 15 15x1,2 =18 32 32x1,2 =38,4 Dibulat kan=38 Kebutuhan Unit Baru Tengah 1 Kamar tidur 3m x 3m 1 Kamar Mandi + Toilet 2m x 2m Dapur Koridor Jemur dengan lebar 1,5m Tengah 1 Kamar Tidur Utama 3m x 4m 1 Kamar tidur 3m x 3m 1 Kamar Mandi + Toilet 2m x 2m Dapur + Makan Koridor Jemur dengan lebar 1,5m Tengah 1 Kamar Tidur Utama 3m x 4m 2 Kamar tidur 3m x 3m 1 Kamar Mandi + Toilet 2m x 2m Dapur + Makan Koridor Jemur dengan lebar 1,5m Luasan Unit Baru 4m x 6m 6m 6m 6m 8m x x KK beranggotakan > 4 orang 4 4x1,2 =4,8 Dibulat kan=5 Tengah 1 Kamar Tidur Utama 3m x 4m 3 Kamar tidur 3m x 3m 1 Kamar Mandi + Toilet 2m x 2m 1 Toilet 1m x 2m Dapur + Makan 6m 12m x 4
5.3.1.2. Fasilitas Penunjang Ekonomi Masyarakat Unit usaha warung dan kedai ditambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang tinggal. Fasilitas penunjang ekonomi baru adalah berupa pasar yang difungsikan untuk menjual hasil panen perkebunan milik warga. ( Tabel 5.3 ) Tabel 5.3 : Kebutuhan Fasilitas Penunjang Perekonomian Sektor Dagang Jenis Usaha Jumlah Eksisting Jumlah Baru Warung 3 3 x 1,2 = 3,6 dibulatkan=4 Kedai / Angkringan 3 3 x 1,2 = 3,6 dibulatkan=4 Selain sektor dagang, fasilitas penunjang ekonomi yang disediakan juga ada yang dari sektor pertanian. Lahan disediakan di dekat permukiman sebagai sarana untuk berkebun. Tiap KK mendapat sebidang tanah baik pada tanah di site maupun pada pada lahan yang terintegrasi di atas bangunan. Dari luas site total yang sebesar 7800 m2, ditargetkan maksimal 40 % lahan yang dibangun. 60 % sisanya atau sekitar 4680 m2 digunakan sebagai fasilitas penunjang ekonomi dan sosial. Kebutuhan ruang untuk fasilitas penunjang pertanian dapat dilihat pada tabel 5.4. Tabel 5.4 : Kebutuhan Fasilitas Penunjang Perekonomian Sektor Pertanian Fasilitas Pertanian Lahan Penanaman Lumbung Penyimpanan Gudang Alat Pertanian Kebutuhan 1400 m 2 pada lahan site Per unit rata - rata : 20 m 2 280 m 2 pada ground floor Per unit rata rata 4m 2 280 m 2 pada ground floor Per unit rata rata 4m 2 5.3.1.3. Sarana Prasarana dan Fasilitas Umum Fasilitas MCK pada jalan dekat pinggiran sungai ditata dan ditambah sebagai salah satu fasilitas untuk daerah wisata Kali Code. Taman bermain anak juga ditata dan diperluas dengan sarana yang memadai agar dapat mengakomodasi kegiatan bermain anak dengan lebih baik. Fasilitas umum lain yang dibutuhkan adalah fasilitas ruang doa. Warga RT 50 sampai 51 sering mengadakan misa bersama se lingkungan di rumah mereka secara bergantian. Kapel berfungsi mengakomodasi kegiatan tersebut dengan kapasitas umat 5
yang lebih besar serta fasilitas doa yang lebih memadai. Rincian kebutuhan ruang fasilitas umum dapat dilihat pada tabel 5.5 Tabel 5.5 : Kebutuhan Fasilitas Umum Sarana, Prasarana, Keadaan Eksisting Keadaan Keterangan Fasilitas Umum Permukiman Baru MCK 4 unit ( 2 unit di 4 unit dekat 4m 2 bantaran sungai, 2 bantaran sungai unit di dekat rusun ) Taman Bermain dan 1 petak di 1 petak di tengah RTH perbatasan site permukiman Kapel - 1 Unit Kapasitas 200 orang ( Seluruh Warga ditambah beberapa pengunjung ) Balai - 1 Unit Kapasitas 200 orang ( Seluruh Warga ditambah beberpa pengunjung ) Pos Ronda 1 di dalam site, 1 di luar site 2 di dalam site, 1 di luar site 8m 2 Parkir Tidak teratur Komunal 2m 2 x 70 unit hunian 8 x 2 unit motor = 140 x 2m 2 12,5m 2 x 14 slot parkir ( minimal 1 slot per 10 unit hunian ) 6
5.3.2. Zonasi Site Akses dari Kleringan Sebagai Gerbang Kampung Komersial Parkir Permukiman Lanskap Produkrtif Fasilitas Bantaran Sungai Sebagai Komersial Parkir Akses dari Jalan Abu Bakar Ali Kontur + 7,5 Kontur + 2,0 - +5,0 Kontur + 0,0 Diagram 5.2 : Zonasi site Daerah dekat akses masuk pada bagian Selatan site di leveling tanah atas dan bawah merupakan daerah yang pertama kali dilihat dari Jalan Kleringan dan Abu Bakar Ali. Karena letaknya itulah, daerah tersebut berperan sebagai gerbang atau wajah dari permukiman. Untuk meningkatkan usaha kecil warga serta mempermudah sirkulasi, maka pada daerah ini dibuatkan publik space dengan sarana penunjang komersial serta tempat parkir di dalamnya. Daerah komersial berupa warung dan penjaja makanan ditempatkan untuk menarik perhatian pengunjung. Permukiman berada pada bagian tengah site yang berkontur dari ketinggian 2 meter hingga 5 meter. Untuk menunjang perekonomian serta kehidupan sosial penghuninya, di dekat permukiman ditempatkan ruang terbuka hijau, ruang untuk kegiatan bersama, serta perkebunan dalam bentuk terasering. 7
5.3.3. Tata Letak Massa Gambar 5.1 : Perletakan dan Orientasi massa Massa bangunan melintang dari Barat ke Timur dan Membujur dari Utara ke Selatan pada bagian bantaran sungai. Hal ini berkaitan dengan prinsip Madep yaitu bangunan memiliki wajah menuju sungai. Massa unit disusun vertikal 3 4 lantai dan disusun mengikuti kontur yang telah ada. Gambar 5.2 : Perletakan massa dengan Penambahan Akses Visual dan jembatan Susunan massa yang memanjang berjejer 2 akan menghasilkan koridor yang memanjang lurus dan tertutup. Hal ini akan menghalangi interaksi antar penghuni bangunan serta membatasi view. Karena itu, massa bangunan digeser ke Utara dan Selatan untuk memberi akses visual menuju sungai. Massa bangunan disusun jejer 2 dan antar massa bangunan dihubungkan dengan jembatan. Gambar 5.3 : Pengurangan massa Massa bangunan tidak dibuat masif. Ada pengurangan massa menurun dari atas ke bawah untuk memberikan view bagi lebih banyak unit hunian. Hal ini juga berkaitan dengan lanskap produktif yang terintegrasi pada bangunan di mana ruang terbuka yang terbentuk 8
dapat dijadikan lahan untuk bercocok tanam. terbuka tersebut juga dapat dijadikan sarana sosial atau sebagai tempat berkumpul. Fasilitas umum dibuat di tengah permukiman agar mudah diakses oleh semua orang. Fasilitas umum yang disediakan terdiri dari tempat ibadah kapel, balai desa, taman bermain outdoor, taman bermain indoor pada groundfloor, lumbung, gudang, dan kantor administrasi. Sedangkan pada daerah dekat enterance merupakan publik space beserta daerah komersil. Public space pada bagian Timur dibuat lebih luas dengan sempadan sungai minimal 10m. Jalur khusus kendaraan dan pejalan kaki dipisahkan untuk keamanan pejalan kaki. Gambar 5.4 : Perletakan massa dan Fasilitas penunjang. 5.3.4. Konsep Sirkulasi Site Sirkulasi site yang utama adalah akses dengan bentuk radial masuk dari Jalan Kleringan, masuk melalui Jalan Kampung Jogoyudan kemudian turun menuju bantaran sungai Code melalui jalan di tengah komplek rusun, lalu ke arah Selatan dan keluar menuju Jalan Abu Bakar Ali. Sirkulasi melingkar ini dipertahankan untuk menjangkau seluruh sisi site. 9
U Gambar 5.5 : Sirkulasi. Bagian site sebelah Selatan memiliki perbedaan ketinggian kontur yang tinggi yaitu 7,5 m dan tidak memiliki akses langsung ke atas. Untuk itu dibuatkan jalan utama berupa ramps dengan perbandingan tinggi dan panjang 1 : 12 atau sepanjang 90 m dan bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor Gambar 5.6 : Tempat Parkir Kantong parkir tersebar di 3 titik. Kantong parkir pertama terletak pada daerah Selatan dekat jalan masuk dari Jalan Kleringan pada leveling tanah paling atas. Parkir disediakan untuk semua kendaraan bermotor baik sepeda motor maupun mobil. Untuk keamanan, disediakan pos jaga di kantong parkir. Kantong parkir lainnya terletak di tengah site dan digunakan untuk parkir roda dua. Tempat parkir ini disediakan agar jarak tempuh dari hunian ke kantong parkir tidak jauh. Akses masuk parkir pada tengah site yaitu melalui jalan di bantaran sungai menggunakan ramps. Terakhir adalah kantong parkir yang terletak pada bantaran sungai dekat dengan akses masuk dari jalan Abu Bakar Ali. 10
Gambar 5.7 : Sirkulasi Vertikal Sirkulasi vertikal antar lantai bangunan menggunakan tangga yang tersebar di sisi massa bangunan. Tangga ada yang dibuat mengikuti bentuk massa bangunan yang telah dipotong untuk meningkatkan mobilitas dari lahan produktif ke lahan produktif lainnya di lantai yang berbeda. Untuk sirkulasi horizontal antar bangunan menggunakan jembatan penghubung pada bagian tengah. Sedangkan untuk sirkulasi horizontal pada bagian dalam massa bangunan menggunakan koridor sistem sentral dan eksterior. 5.3.5. Zonasi Bangunan 5.3.6. K O R I D O R Diagram 5.3 :Denah Skematik 11
, Komersil, Balai, Lumbung, Gudang Alat Tani Tampak Samping Diagram 5.4 :Zonasi Vertikal Pub, Komersil, Balai, Lumbung, Gudang Tanpak Depan Unit hunian disusun dengan orientasi yang jelas, memanjang mengikuti koridor. Beberapa massa unit hunian di dihilangkan untuk dijadikan pocket sebagai ruang berkumpul dan berinteraksi antar tetangga. Sedangkan untuk groundfloor tidak dijadikan hunian. Bagian groundfloor dibuat semi outdoor dan digunakan sebagai sarana penunjang ekonomi serta fasilitas umum seperti tempat parkir dan ruang bersama serta fasilitas penunjang pertanian 5.3.7. Konsep Tampilan Bangunan Gambar 5.8 : Tampilan Penutup Atap Untuk struktur atap, Bangunan menggunakan 2 sistem yang berbeda yaitu sistem kuda kuda dengan atap perisai atau pelana dan atap dak dengan konstruksi beton bertulang. Atap perisai digunakan pada bangunan yang memiliki ketinggian paling tinggi sedangkan atap dak digunakan untuk massa bangunan pada level lantai lebih rendah. Atap dak ini 12
digunakan sebagai sarana urban farming berupa green roof. Adanya penggunaan atap perisai dan atap pelana untuk menampilkan citra rumah kampung di bantaran sungai Code. Atap perisai dan atap pelana yang miring juga berfungsi untuk mengalirkan air hujan ke green roof di sekitarnya. Pada sub bab konsep zonasi bangunan telah dipaparkan bahwa pada tiap lantai terdapat pocket berupa ruang publik untuk interaksi. publik ini berupa taman indoor yang dilengkapi dengan tanaman pada bagian luar. Tanaman ditanam menggunakan sistem pot gantung dengan botol bekas ( Gambar 5.9 ) atau tempel dengan pot bata ( Gambar 5.10 ) yang juga dapat berfungsi sebagai shadding. Gambar 5.9 : Wadah Tanam Vertical (Vertical Palnters) Sumber Gambar 5.9 dan Gambar 5.10 : Siti Nurul Rofiqo Irwan1, Ahmad Sarwadi (2015) dalam Lanskap Pekarangan Produktif Di Permukiman Perkotaan Dalam Mewujudkan Lingkungan Binaan Berkelanjutan Dengan diterapkannya konsep madep dari prinsip M3K, maka bangunan dibuat menghadap Timur atau menghadap kali. Hal ini menyebabkan intensitas cahaya matahari langsung yang masuk meningkat sehingga dalam perancanagan fasad bagian bangunan ini digunakan shadding pada bukaan. Gambar 5.10 : Shadding Sumber : Rendering 3D Modeling Pribadi 13
5.3.8. Konsep Struktur dan Sistem Bangunan Gambar 5.11: Struktur Utama Struktur yang dipakai pada tiap massa bangunan adalah struktur rangka kaku dengan beton bertulang sebagai komponen struktur utamanya. Struktur rangka kaku tertutup pada tiap massa unit hunian. Antar unit hunian terhubung oleh koridor baik single maupun double loaded. Koridor ini terbentuk dari kantilever 1m pada masing masing massa unit bangunan. Khusus untuk koridor double loaded, kantilever pada 2 massa bangunan dibuat saling berdekatan dengan delatasi 5cm sehingga membentuk koridor di tengah selebar 2m Konsep sistem utilitas berfokus pada sistem air bersih dan penanggulangan air hujan. Sistem air bersih menggunakan sistem down feed dengan tandon air primer berada pada kontur yang lebih tinggi agar air mudah mengalir ke bawah ( Gambar 5.12 ). Pada sub bab 5.3.6 telah disebutkan bahwa salah satu perwujudan konsep lanskap produktif adalah melalui urban farming yang terintegrasi dengan bangunan, salah satunya dengan sistem green roof. Green roof dipakai sebagai penangkap air hujan. Air hujan tidak lagi langsung dibuang ke saluran drainase, namun dimanfaatkan untuk pengairan green roof ( Gambar 5.14 ) Gambar 5.12 Sumber : Bahan Ajar Mata Kuliah Utilitas Teknik Arsitektur UGM 2015 dengan Suntingan Penulis 14
Gambar 5.13 Sumber : Bauder Green Roof Gambar 5.14 Sumber : https://id.pinterest.com/pin/5396579678317370 46/ 15