BAB V PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

dokumen-dokumen yang mirip
PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C

PRESENTASI TUGAS AKHIR FINAL PROJECT TK Dosen Pembimbing : Ir. Sri Murwanti, M.T. NIP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI SABUN HERBAL

SABUN MANDI. Disusun Oleh : Nosafarma Muda (M )

A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

PEMBUATAN SABUN PADAT DAN SABUN CAIR DARI MINYAK JARAK

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PANGAN LEMAK UJI SAFONIFIKASI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Satu

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Tanaman sereh banyak dibudidayakan pada ketinggian dpl.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

BAB III METODA PENELITIAN. yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,

Sejarah Sabun. Seabad kemudian bangsa Spanyol sebagai pembuat sabun terkemuka di Eropa.

Hasil dari penelitian ini berupa hasil dari pembuatan gliserol hasil samping

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Mandi Padat Transparan dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) BAB III METODOLOGI

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH

3 METODOLOGI PENELITIAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi

Perbedaan minyak dan lemak : didasarkan pada perbedaan titik lelehnya. Pada suhu kamar : - lemak berwujud padat - minyak berwujud cair

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMANFAATAN KULIT KAPUK SEBAGAI SUMBER BASA DALAM PEMBUATAN SABUN LUNAK TRANSPARAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP)

ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia

METODE. = hasil pengamatan pada ulangan ke-j dari perlakuan penambahan madu taraf ke-i µ = nilai rataan umum

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN BEBAS ALKOHOL (ETANOL)

BAB II PERENCANAAN PROSES

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN Penentuan Asam Lemak Bebas, Angka Peroksida Suatu Minyak atau Lemak. Oleh : YOZA FITRIADI/A1F007010

APLIKASI DIETANOLAMIDA DARI ASAM LAURAT MINYAK INTI SAWIT PADA PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN ABSTRACT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. produksi modern saat ini didominasi susu sapi. Fermentasi gula susu (laktosa)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

LOMBA KOMPETENSI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN. NASKAH SOAL (Terbuka)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara. 1.Permono. Ajar Membuat detergen bubuk, Penebar swadaya. Jakarta.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Per wadah Per bets

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEMANFAATAN STEARIN DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT. Vonny Indah Sari* Program Studi Teknik Pengolahan Sawit, Politeknik Kampar

LAPORAN PRAKTIKUM STANDARISASI LARUTAN NaOH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Minyak dan Lemak 1.1 TUJUAN PERCOBAAN. Untuk menentukan kadar asam lemak bebas dari suatu minyak / lemak

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SABUN TRANSPARAN

PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II KI1201

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair dari Minyak Goreng Bekas (Jelantah) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA

BAB III METODOLOGI. III. 1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan sabun pencuci piring ialah :

ETAWA BEAUTY SOAP PRODUK SABUN MANDI SUSU KAMBING ETAWA DESA KALIGESING

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sehingga mengakibatkan konsumsi minyak goreng meningkat. Selain itu konsumen

Oleh: Dimas Rahadian AM, S.TP. M.Sc JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERCOBAAN VII PEMBUATAN KALIUM NITRAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae,

TINJAUAN PUSTAKA. Karakteristik Madu

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

LAPORAN TUGAS AKHIR. Sabun Pencuci Piring Cair dengan Inovasi Penambahan Ekstrak Aloe Vera sebagai Anti Bakterial yang Bernilai Ekonomis Tinggi

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA. Pembuatan Produk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. oksigen. Senyawa ini terkandung dalam berbagai senyawa dan campuran, mulai

PENGARUH WAKTU REAKSI DAN PENAMBAHAN KATALIS PADA PEMBUATAN GLISEROL MONOOLEAT DARI GLISEROL DAN ASAM OLEAT

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA Isolasi Trimiristin dan Asam Miristat dari Biji Buah Pala Penyabunan Trimiristin Untuk Mendapatkan Asam Miristat

HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakterisasi Minyak Jarak. B. Pembuatan Faktis Gelap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA MELALUI PROSES TRANS-ESTERIFIKASI. Pardi Satriananda ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN I- 1. Bab I Pendahuluan

Pembuatan Sabun Cair di Tlogomas Malang

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI

Halaman Judul + Biodata Pengusul Pembuatan sabun dengan memanfaatkan ekstrak lidah buaya sebagai bahan penghalus kulit.

Transkripsi:

BAB V PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN 5.1. Tujuan Percobaan Memahami reaksi penyabunan 5.2. Tinjauan Pustaka Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserida, kedua istilah ini berarti triester dari gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan suatu minyak bersifat sembarang pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak bersifat cair. Sebagian besar gliserida pada hewan berupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak karena itu biasa terdengar ungkapan lemak hewani (lemak babi, lemak sapi) dan minyak nabati (minyak jagung, minyak bunga matahari) (Fessenden, 2010). Lemak netral tergolong senyawa-senyawa majemuk dan ikatannya menyerupai ester. Asamnya terdiri atas asam-asam monokarnoksilat yang tidak bercabang, yaitu asam lemak sedangkan komponen alkoholnya gliserin merupakan suatu alkohol. Banyaknya asam karboksilat yang diikatkan pada gliserin menghasilkan mono dan trigiserida. Asam-asam itu dapat sama maupun berlainan. Lemat yang terdapat di alam umumnya tergolong trigliserida yang asamnya campuran, karena itu mengisolasi triglesirida murni merupakan pekerjaan yang sangat pelik. Melalui hidrolisis senyawa ester dapat diuraikan lagi menjadi komponen-komponen semula, yang paling mudah jika dicampur dengan basa (NaH atau KH), maka terjadilah garam-garam alkali yang disebut sabun (Priani, 2010) Bila lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali, ester terkonversi menjadi gliserol dan garam dari asam lemak. Reaksi tersebut digambarkan di sini dengan penyabunan gliseril tripalmitat. H 2 C C (CH 2 ) 16 CH H 3 2 C H kalor HC C (CH 2 ) 16 CH 3 + 3 NaH HC H + 3 CH 3 (CH 2 ) 16 C - 2 Na + H 2 C C (CH 2 ) 16 CH H 3 2 C H tristearin natrium hidroksida gliserol sodium stearat (sabun) 57

58 Garam (biasanya natrium) dari asam lemak berantai panjang dinamakan sabun (soap) (Hart, 2003). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan, antara lain: - Konsentrasi larutan NaH Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stoikiometri reaksinya, dimana penambahan basa harus sedit berlebih dari minyak agar tersabunnya sempurna. Jika basa yang digunakan terlalu pekat akan menyebabkan terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak homogen. - Suhu Pada kisaran suhu tertentu kenaikan suhu akan mempercepat reaksi yang artinya menaikkan hasil dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika kenaikan suhu melebihi suhu optimumnya maka akan menyebabkan pengurangan hasil pereaksi atau dengan kata lain hasilnya akan menurun. - Pengadukan Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan molekul-molekul reaktan yang bereaksi. Jika tumbukan antar molekul reaktan semakin besar maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar pula. Hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius dimana konstanta kecepatan reaksi K akan semakin besar dengan semakin sering terjadinya tumbukan yang disimbilkan dengan konstanta A. - Waktu Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula minyak yang dapat tersabun, berarti hasil yang didapat juga semakin tinggi. Tetapi jika reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan meningkatkan jumlah minyak yang tersabun (Apriana, 2013). Sabun transparan adalah sabun yang dibuat dengan teknik khusus dengan menghilangkan kandungan alkali di dalamnya. Sabun transparan ini lebih unggul daripada sabun mandi biasa, selain dari tampilannya yang transparan yang menawan, sabun ini sangat lembut di kulit dan dapat melembabkan kulit (Priani, 2010). Kegunaan sabun ialah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Sedangkan kekurangan utama dari sabun adalah bahwa mereka mengendap dalam air sadah (air yang mengandung Ca 2+, Mg 2+, Fe 3+, dan sebagainya) dan meninggalkan suatu residu (Fessenden, 2010).

59 Kandungan utama dari sabun transparan adalah: - Minyak pendukung Berbagai jenis minyak yang sering digunakan untuk membuat sabun diantaranya minyak zaitun, kelapa, castor dan minyak kelapa sawit.minyak kelapa sawit dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit yaitu tanaman berkeping satu yang termasuk ke dalam family palmae. Minyak kelapa sawit sering dipakai untuk membuat sabun meskipun beberapa pemakai ada yang alergi dengan minyak kelapa sawit. Sabun yang dihasilkan oleh minyak kelapa sawit lebih keras dibanding dengan minyak kelapa dan minyak zaitun. - Sodium Hidroksida (NaH) NaH atau kaustik soda merupakan senyawa alkali yang bersifat basa berbentuk butiran yang sangat higriskopis. NaH akan bereaksi dengan minyak membentuk sabun lewat reaksi safonikasi. Sodium ini harus terurai sempurna dalam proses safonikasi/penyabunan minyak, agar tidak tertinggal bahan kaustik yang tertinggal dalam sabun. - Asam Stearat Asam stearat membantu untuk mengeraskan sabun. Penggunaan terlalu banyak menyebabkan sabun kurang berbusa, jika terlalu sedikit sabun tidak keras. - Gliserin Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air. Gliserin merupakan humektan sehingga berfungsi sebagai pelembab pada kulit. - Alkohol Alkohol adalah bahan yang digunakan untuk melarutkan sabun sehingga sabun menjadi bening atau transparan. Untuk terjadinya transparansi sabun harus benarbenar larut. - Gula Bersifat humektan dan membantu pembusaan sabun. Semakin putih warna gula akan semakin transparan sabun yang dihasilkan. - Pewarna Penggunaan pewarna untuk memperindah penampilan masih menjadi perdebatan. Penggunaan pewarna ditakutkan akan membahayakan karena kulit merupakan organ tubuh yang menyerap apapun yang diletakkan dipermukaannya.

60 - Pewangi Pewangi atau pengaroma adalah suatu zat tambahan yang ditujukan untuk memberikan aroma wangi pada suatu sediaan agar konsumen lebih tertarik (Pustaka litbag, 2012). Macam-macam sabun dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu berdasarkan jenis dan fungsinya dan berdasarkan wujudnya. A. Sabun berdasarkan jenis dan fungsinya: - Transparant soap Sabun tembus pandang ini tampilannya jernih dan cenderung memiliki kadar yang ringan. Sabun ini mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering. - Castile soap Sabun yang memakai nama suatu daerah di Spanyol ini memakai olive oil untuk formulanya. Sabun ini aman dikonsumsi karena tidak memakai lemak hewani sama sekali. - Deodorant soap Sabun ini bersifat sangat aktif digunakan untuk menghilangkan aroma tidak sedap pada nagian tubuh. Tidak dianjurkan untuk kulit wajah karena memiliki kandungan yang cukup keras yang dapat menyebabkan kulit teriritasi. - Acne soap Sabun ini dikhususkan untuk membunuh bakteri-bakteri pada jerawat. Sering kali sabun jerawat ini mengakibatkan kulit kering bila pemakaiannya dibarengi dengan penggunaan produk anti-acne lain maka kulit akan sangat teriritasi, sehingga akan lebih baik jika anda memberi pelembab atau clarning lotion setelah menggunakan acne soap. - Cosmetic soap atau bar cleanser Sabun ini biasanya dijual di gerai-gerai kecantikan. Harganya jauh lebih mahal dari sabun biasa karena di dalamnya terdapat formula khusus seperti pemutih. Cosmetic soap biasanya memfokuskan formulanya untuk memberi hasil tertentu, seperti pada whitening soap dan firming facial soap.

61 - Superfatted soap Sabun ini memiliki kandungan minyak dan lemak lebih banyak sehingga membuat terasa lembut dan kenyal. Sabun ini sangat cocok digunakan untuk kulit kering karena dalamnya terdapat kandungan gliserin, petroleum dan beeswax yang dapat melindungi mencegah kulit dan iritasi dan jerawat. - atmeal soap Dari hasil penelitian, gandum mempunyai kandungan anti iritasi. Dibanding sabun lain, sabun gandum ini lebih baik dalam menyerap minyak menghaluskan kulit kering dan sensitif. - Natural soap Sabun alami ini memiliki formula yang sangat lengkap seperti vitamin, ekstrak buah, minyak nabati, ekstrak bunga, aloe vera dan essential oil. Cocok untuk semua jenis kulit dan kemungkinan membahayakan kulit sangat kecil. B. Sabun berdasarkan wujudnya: - Sabun cair Sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KH) sabagai alkali. - Sabun padat Sabun padat menggunakan natrium hidroksisoda kaustik (NaH). Selain itu minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun (Priani, 2010) Sebagian besar kegunaan sabun di dalam kehidupan sehari-hari adalah bahan pencuci. Sedangkan di dalam industri kosmetik sabun memiliki kegunaan tergantung pada komposisi yang terkandung pada sabun itu sendiri. Asam lemak seperti asam stearat atau asam aleat sebagian besar dikonversikan menjadi sabun dengan mereaksikannya dengan alkali (NaH atau KH) maupun dengan alkalonida. Asam lemak banyak digunakan di dalam pembuatan cream cukur, cream wajah, hand body lotion, dan pewarna rambut. Sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi antara mineral minyak, lemak ester, dan air di dalam pembuatan hand body lotion (Balitteo, 2010).

62 5.3. Tinjauan Bahan A. Aquadest - rumus kimia : H2 - berat molekul : 18,02 g/mol - warna : tidak berwarna - bentuk fisik : cair - titik didih : 100 o C B. Asam Stearat - rumus kimia : C18H362 - berat molekul : 284,48 g/mol - warna : putih - bentuk fisik : padat - titik didih : 350 o C C. Etanol - rumus kimia : CH3CH2H - berat molekul : 46,07 g/mol - warna : tidak berwarna - bentuk fisik : cair - titik didih : 78,5 o C D. Gliserin - rumus kimia : C3H5(H)3 - berat molekul : 92,09 g/mol - warna : tidak berwarna - bentuk fisik : cair - titik didih : 290 o C E. Natrium Hidroksida - rumus kimia : NaH - berat molekul : 40 g/mol - warna : putih - bentuk fisik : padat - titik didih : 1388 o C

63 5.4. Alat dan Bahan A. Alat-alat yang digunakan B. Bahan-bahan yang digunakan - Batang pengaduk - Aquadest (H2) - Beakerglass - Asam stearat (C18H3602) - Botol aquadest - Etanol (CH3CH2H) - Cetakan sabun - Gliserin (C3H5(H)3) - Gelas arloji - Gula pasir (C6H126) - Labu ukur - Minyak - Magnetic Stirer - Natrium hidroksida (NaH) - Termometer - Pewangi - Timbangan - Gelas ukur 5.5. Prosedur Percobaan A. Preparasi Larutan - Membuat larutan NaH 1 N 50 ml. B. Pembuatan Sabun Transparan - Memanaskan 50 ml minyak sampai suhu 60 o C - Memasukkan NaH 1 N sebanyak 25 ml - Memanaskan dengan suhu 70 o C sambil diaduk - Mengaduk terus sampai proses saponifikasi sempurna (terbentuk larutan yang kental) - Menambahkan 25 gram stearat yang sudah dilelehkan pada suhu 60 o C - Menambahkan 40 ml etanol, 40 ml gliserin, dan 4 gram gula pasir sambil terus diaduk - Memanaskan dan mengaduk terus dilakukan sampai seluruh campuran menjadi homogen - Menambahkan pewarna dan pewangi dilakukan pada suhu 40 o C - Menuangkan campuran ke dalam cetakan dan diamkan selama 24 jam hingga sabun mengeras - Mengeluarkan sabun yang sudah mengeras dari cetakan.

64 5.6. Data Pengamatan Tabel 5.6.1. Data pengamatan praktikum No. Perlakuan Pengamatan Kesimpulan A. B. Preparasi Larutan NaH + H2 lar.1 - Warna : larutan tidak berwarna Asam stearat lar.2 Prosedur Percobaan Minyak lar.1 Lar.1 + NaH Lar.2 Lar.2 + asam stearat Lar.3 Lar.3 + ethanol Lar.4 - Warna : larutan tidak berwarna - Suhu : 60 o C - Warna : larutan kuning jernih - Bentuk : larutan lebih cair - Suhu : 70 o C - Warna : larutan kuning keruh - Bentuk : larutan lebih kental - Warna : larutan lebih Lar.4 +gliserin Lar.5 jernih - Warna : larutan lebih Lar.5 + gula pasir Lar.6 jernih - Bentuk : larutan lebih Lar.6 + pewangi Lar.7 cair - Suhu : 40 o C - Warna : larutan lebih jernih - Bentuk : larutan mulai kental Lar.7 Sabun transparan

65 5.7. Dokumentasi Percobaan Gambar 5.1. Pengukuran minyak Gambar 5.2.Pemanasan asam stearat Gambar 5.3. Pemanasan minyak Gambar 5.4. Penambahan NaH Gambar 5.5. Penambahan ethanol dan gliserin Gambar 5.6. Penambahan gula Gambar 5.7. Larutan sabun dalam cetakan

66 5.8. Persamaan Reaksi H 2 C HC C C (CH 2 ) 16 CH 3 (CH 2 ) 16 CH 3 + 3 NaH kalor H 2 C HC H H + 3 CH 3 (CH 2 ) 16 C 2 - Na + H 2 C C (CH 2 ) 16 CH 3 H 2 C H tristearin natrium hidroksida gliserol sodium stearat (sabun) 5.9. Pembahasan A. Fungsi bahan - Minyak berfungsi sebagai bahan utama pembuat sabun - NaH berfungsi untuk membentuk sabun lewat reaksi safonifikasi antara minyak dengan NaH itu sendiri - Asam stearat berfungsi untuk mengeraskan sabun - Ethanol berfungsi untuk melarutkan sabun sehingga sabun menjadi transparan - Gliserin berfungsi sebagai pelembab pada kulit - Gula pasir berfungsi membantu pembusaan sabun - Pewangi berfungsi untuk memberikan aroma wangi pada sabun. B. Faktor Kesalahan - Konsentrasi basa pada NaH terlalu pekat sehingga menyebabkan terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak homogen - Suhu yang digunakan melebihi suhu optimumnya sehingga menyebabkan pengurangan hasil pereaksi atau dengan kata lain hasilnya menurun - Pengadukan yang kurang sehingga tumbukan antar molekul reaktan semakin kecil sehingga kemungkinan terjadinya reaksi juga kecil pula. 5.10. Kesimpulan Dapat memahami proses pembuatan sabun transparan serta memahami reaksi penyabunan (reaksi safonifikasi).