5. SOP = STANDING OPERATING PROCEDURE

dokumen-dokumen yang mirip
MATERI PRAKTEK DISTRIBUSI

PEDOMAN OPERASI GARDU INDUK

PENGOPERASIAN KUBIKEL 20 KV

BAB I PENDAHULUAN. Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak

DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG OPERASI

DAFTAR STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG OPERASI

PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Pemeliharaan Kubikel

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PERAWATAN CUBICLE DI PT. PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PLN) AREA CIKOKOL - TANGERANG

BAB IV PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (CIRCUIT BREAKER) DI APP DURI KOSAMBI

STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PEMELIHARAAN

BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV

MENGENAL ALAT UKUR. Amper meter adalah alat untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir dalam penghantar ( kawat )

BAB I PENDAHULUAN. seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang

MANAGEMENT PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN PHBTR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SOP PEMELIHARAN GARDU DISTRIBUSI PELANGGAN 197KVA

BAB III GANGGUAN SIMPATETIK TRIP PADA GARDU INDUK PUNCAK ARDI MULIA. Simpatetik Trip adalah sebuah kejadian yang sering terjadi pada sebuah gardu

SUB BIDANG INSPEKSI/KOMISIONING

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV GROUND FAULT DETECTOR (GFD)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

1. TUJUAN/MANFAAT: Membentuk peserta diklat menjadi terampil melaksanakan Pemeliharaan GI & transmisi yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan unit

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 P E N D A H U L U A N

BAB II LANDASAN TEORI

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VII PEMERIKSAAN & PENGUJIAN INSTALASI PEMANFAATAN TEGANGAN RENDAH

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik

BAB IV PEMBAHASAN. Dari hasil analisa gangguan, dapat ditentukan sistem proteksi yang akan

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam perekonomian

STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Tenaga Listrik. Distribusi Aturan.

PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN PEMISAH ( PMS ) PADA GARDU INDUK 150 kv SRONDOL PT. PLN ( PERSERO ) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG

BAB II LANDASAN TEORI GROUND FAULT DETECTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.

SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA BAB I PENDAHULUAN

Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia Abstrak

BAB III LANDASAN TEORI

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN

Jurnal Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN :

BAB III PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik (3)

JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

Bab V JARINGAN DISTRIBUSI

STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INDUSTRI PERALATAN TENAGA LISTRIK SUB-BIDANG PENGENDALIAN DAN JAMINAN MUTU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RELE 220 V AC SEBAGAI OTOMATISASI CATU TEGANGAN PADA PEMUTUS BALIK ( RECLOCER) UNTUK KEANDALAN SISTEM PENYALURAN ENERGI LISTRIK

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul

2014 ANALISIS KOORDINASI SETTING OVER CURRENT RELAY

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk

SOP Memelihara Transformator Distribusi Gardu Tiang

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam menyalurkan daya listrik dari pusat pembangkit kepada konsumen

BAB IV ANALISIA DAN PEMBAHASAN. 4.1 Koordinasi Proteksi Pada Gardu Induk Wonosobo. Gardu induk Wonosobo mempunyai pengaman berupa OCR (Over Current

LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk

DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG PEMELIHARAAN

- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI

EVALUASI KERJA AUTO RECLOSE RELAY TERHADAP PMT APLIKASI AUTO RECLOSE RELAY PADA TRANSMISI 150 KV MANINJAU PADANG LUAR

Pelatihan Sistem PLTS Maret PELATIHAN SISTEM PLTS PROTEKSI DAN KESELAMATAN KERJA Serpong, Maret Oleh: Fariz M.

BAB III LANDASAN TEORI

Sistem Listrik Idustri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 04 TAHUN 2009 TANGGAL : 20 FEBRUARI 2009 ATURAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar sampai ke konsumen.

KOORDINASI SISTEM PROTEKSI OCR DAN GFR TRAFO 60 MVA GI 150 KV JAJAR TUGAS AKHIR

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (Persero) BAB III TINJAUAN PUSTAKA. 3.1 Pengertian PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker)

BAB III TINJAUAN UMUM SISTEM SCADA DALAM KOMUNIKASI RADIO

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH DAN SISTEM PROTEKSINYA

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi salah satu penentu kehandalan sebuah sistem. Relay merupakan

Pengelompokan Sistem Tenaga Listrik

BAB IV PEMELIHARAAN KUBIKEL 20 KV

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG 20 KV DENGAN OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR)

: 138 HARI KERJA (6 BULAN)

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB III DASAR TEORI.

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. P 1 P 2. Gambar 4.1 Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Arus S 2 S 1. Alat Uji Arus 220 V

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2. PERSYARATAN PESERTA

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. masih bercokol di tataran Sunda. Di tahun 1905, di Jawa Barat khususnya kota

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

STANDART OPERATION PROCEDURE (SOP) APLIKASI PENGADUAN KELUHAN TERPADU (APKT) MODUL SAIDI SAIFI

Standing Operation Procedure Operasi Sistem Khatulistiwa

BAB III LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK BIDANG TRANSMISI SUB BIDANG INSPEKSI. : Komisioning Bay Reaktor... I.19-58

Transkripsi:

5. = STANDING OPERATING PROCEDURE 5. PENGERTIAN Adalah suatu bentuk ketentuan tertulis berisi prosedur / langkah-langkah kerja yang dipergunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan Prosedur Tetap dan disingkat Protap. Pengoperasian kubikel 20 KV berarti ketentuan tentang prosedur / langkah langkah kerja untuk mengoperasikan kubikel 20 kv pada pengoperasian instalasi atau jaringan distribusi 20 KV. dalam pengoperasian Sistem Jaringan Distribusi dan peralatan berikut petugasnya, terdiri dari : Sistem Jaringan Distribusi, Komunikasi dan Lokal Jaringan Distribusi. 5. TUJUAN Pengoperasian Jaringan Tegangan Menengah berarti membuat peralatan yang ada di jaringan bekerja atau tidak bekerja, dialiri arus listrik atau dipadamkan dari aliran arus listrik. Dampak dari pengoperasian tersebut diharapkan manfaat penggunaan energi listrik yang dialirkan dapat digunakan sesuai keperluannya. Tetapi bila pengoperasian dilakukan tidak benar, maka listrik dapat menimbulkan bahaya baik pada peralatan, lingkungan sampai pada personil yang mengoperasikan maupun orang lain. Penerapan bertujuan untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal, tetapi menghindari adanya resiko yang negatif. 5. KOMPONEN DALAM Beberapa komponen penting yang tertulis pada Pengoperasian Kubikel 20 KV antara lain : 5. Pihak Yang Terkait Yaitu pihak-pihak yang berkepentingan dan terkena dampak akibat pengoperasian kubikel 20 KV. Keterkaitan ini dilakukan dalam bentuk Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 75

komunikasi yang dilakukan dapat berupa tertulis / surat ataupun komunikasi langsung / lisan bertujuan agar semua pihak berkoordinasi dapat mengantisipasi terjadinya kondisi kurang aman atau mencegah kerusakan material akibat dioperasikannya kubikel. Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tertulis dibuat berupa format yang standar untuk mencegah kesalahan presepsi dari pihak-pihak yang terkait. Waktu berkomiunikasi / berkoordinasi yang digunakan selalu pada batas standar agar dalam mengambil keputusan tidak berlarut-larut. Di Operasional Distribusi pengaturan tentang berkomunikasi ini dibuat menjadi Komunikasi. Pihak yang terkait pada pengoperasian Kubikel 20 KV antara lain : Untuk instalasi kubikel baru beberapa pihak yang terkait antara lain, team Komisioning, Pengatur Distribusi / Piket Pengatur, Konsumen. Berkoordinasi dengan team komisioning adalah untuk mengetahui dan memastikan bahwa instalasi kubikel yang akan dioperasikan dalam keadaan aman. Berkoordinasi dengan Pengatur Distribusi / Piket Pengatur adalah agar keadaan jaringan dipastikan siap dibebani atau dipadamkan maupun aman dari adanya kecelakaan kerja bagi personil di lokasi pengoperasian kubikel dimaksud maupun di luar lokasi yang berhubungan dengan jaringan yang akan dioperasikan. Sedangkan berkoordinasi dengan Konsumen bertujuan agar konsumen tahu akan adanya listrik di tempat konsuman dan segera memanfaatkannya. Selain itu agar konsumen mengantisipasi hal-hal yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan akibat listrik. Untuk instalasi lama beberapa pihak yang terkait antara lain, Pengatur Distribusi / Piket Pengatur, Pihak Pemeliharaan, Pelayanan Pelanggan dan Konsumen. Berkoordinasi dengan Pengatur Distribusi dan Konsumen tujuannya adalah sama dengan pengoperasian Instalasi Kubikel baru. Berkoordinasi dengan pihak pemeliharaan adalah untuk mengetahui maksud / tujuan pengoperasian termasuk pemadaman kubikel, lama waktu dipeliharanya dan kondisi kubikel paska pemeliharaan. Sedangkan berkoordinasi dengan Pihak Pelayanan Pelanggan adalah berkaitan dengan pemberitahuan formal kepada Pelanggan akan adanya pemadaman / pengoperasian jaringan. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 76

5. Perlengkapan Kerja Perlengkapan kerja untuk meleksanakan pengoperasian kubikel dengan baik dan aman harus dipenuhi spesifikasi dan jumlahnya. Memaksakan bekerja dengan peralatan seadanya berarti mengabaikan adanya resiko bahaya kecelakaan dan kerusakan yang bakal terjadi. Pemeriksaan terhadap jumlah dan kondisi perlengkapan kerja harus dilakukan secara rutin. Yang dimaksud dengan perlengkapan kerja adalah sebagai berikut : Perkakas kerja Alat bantu kerja Alat Ukur Alat Pelindung Diri ( APD ) atau Alat K3 Berkas Dokumen Instalasi Kubikel 20 KV yang akan dioperasikan Lembaran Format berupa Check-List Pelaksanaan dan Pelaporan. 5. Prosedur Komunikasi Berisi tentang urutan berkomunikasi dengan pihak yang terkait dengan dari mulai persiapan pengoperasian, saat pengoperasian sampai pelaporan pekerjaan. Peralatan yang digunakan untuk berkomunikasi dapat berupa telepon atau handy-talky ( HT ) dengan menggunakan bahasa yang sudah distandarkan. Penyimpangan terhadap ketentuan berkomunikasi dapat menyebabkan terjadinya gangguan operasi bahkan kecelakaan kerja. 5.4. Prosedur Langkah-langkah Kerja Berisi tentang urutan dalam melaksanakan pekerjaan di lokasi pengoperasian kubikel, mulai dari persiapan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, pemeriksaan pekerjaan sampai pelaporan pekerjaan. Setiap langkah dilaksanakan secara berurutan sesuai tertulis di. Penyimpangan terhadap langkah-langkah tersebut dapat menyebabkan kegagalan operasi bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja. Setiap langkah yang menyebabkan perubahan posisi kubikel harus dimintakan persetujuan Pengatur Distribusi / Piket Pengatur dan melaporkan setelah pelaksanaannya. Hal tersebut disampaikan langsung dengan menggunakan peralatan komunikasi langsung dan melaporkannya dalam bentuk tulisan dilengkapi dengan kronologis berdasarkan waktu. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 77

5.4. PEMBUATAN Untuk membuat perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu : Keterlibatan pihak-pihak yang terkait dengan pengoperasian JTM untuk membuat ketentuan berkoordinasi. Kondisi jaringan berupa data kemampuan Trafo GI, Kemampuan Hantar Arus ( KHA ) hantaran penyulang, pemanfaatan energi listrik pada konsumen. Struktur jaringan 5.5. SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI Jaringan Distribusi adalah aturan atau pedoman bagi Operator/teknisi untuk melaksanakan tugasnya dalam melakukan pengawasan dan pengoperasian Instalasi Jaringan Distribusi pada kondisi normal, kondisi gangguan, kondisi pemulihan dan kondisi darurat. Sistem Jaringan Distribusi dibuat dengan memperhatikan kemampuan peralatan yang terpasang dan konfigurasi serta fungsi Jaringan Distribusi. Adapun didalam Sistem Jaringan Distribusi terdapat panduan pada beberapa kondisi, yaitu : 5.5. Kondisi Normal : Operator/teknisi melakukan pengawasan / mensupervisi Jaringan Distribusi dan melaksanakan perintah Dispatcher/APD untuk manuver perbaikan sistem maupun pemeliharaan Jaringan Distribusi serta kebutuhan lainnya. 5.5. Kondisi Gangguan : Operator/teknisi melakukan tindakan seperti : Periksa dan pastikan bahwa penunjukan kv meter sudah menunjuk 0 ( nol ) kv untuk JTM Periksa dan yakinkan serta catat jika ada pmt yang trip di GI maupun Gardu Hubung (GH) dan kelainan-kelainan yang terjadi. Periksa dan catat semua indikator yang muncul pada panel kontrol, di GI atau GH kemudian direset. Periksa dan catat semua indikator rele yang muncul pada panel proteksi, kemudian direset. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 78

Laporkan kepada Dispatcher APD. Laporkan kepada Piket APJ/Cabang. 5.5. Kondisi Pemulihan : Operator/teknisi melakukan tindakan manuver atas perintah Dispatcher kemudian melaporkannya.. 5.5.4. Kondisi Darurat : Tindakan Operator/teknisi Jaringan Distribusi membebaskan peralatan dari tegangan, sehubungan dengan kondisi setempat seperti ; banjir, kebakaran, huru-hara, instalasi membara yang cukup besar dll atau kondisi yang dianggap bahaya oleh Operator/teknisi Jaringan Distribusi (dapat dipertanggung jawabkan), selanjutnya Operator/teknisi/ Jaringan Distribusi harus melaporkan kejadian tersebut kepada Dispatcher APD dan Piket APJ/Cabang. 5.5.5. pengoperasian Instalasi baru: Didalam mengoperasikan Jaringan Distribusi atau Instalasi baru ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain : Peralatan Jaringan Distribusi / instalasi baru yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh PLN. Buku Sistem Jaringan Distribusi yang berlaku dan telah disepakati. Penerapan setting sesuai dengan hasil perhitungan dari petugas yang diberi wewenang oleh pejabat terkait. Telah terbit pernyataan laik bertegangan / Operasi dari pejabat yang berwenang. Telah dinyatakan siap Operasi oleh Manager APJ/Cabang. Skenario / Panduan manuver yang telah dibuat. 5.6. KESELAMATAN KERJA DALAM PEKERJAAN PENGOPERASIAN JARING DISTRIBUSI 5.6. Memasuki Ruang Kerja Listrik. Mempunyai kompetensi yang dibutuhkan. Mendapat ijin dari yang berwenang. Ditemani paling sedikit satu orang. Sehat jasmani dan rohani. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 79

Memakai pakaian kering. Waspada terhadap bahaya yang mungkin timbul. Memahami dengan pasti apa yang akan dilakukannya. Membawa atau memakai perlengkapan pengaman. Memperhatikan rambu rambu. Menjaga jarak aman badan / anggota badan terhadap peralatan listrik yang bertegangan. Sedapat mungkin kedua tangan dimasukkan kedalam saku jika tidak melakukan pekerjaan. Ruang kerja harus mendapat penerangan yang cukup. 5.6. Bekerja pada keadaan tidak bertegangan. Pelaksanaan pekerjaan harus mempunyai kompetensi yang dibutuhkan. Perlengkapan listrik yang dipekerjakan harus bebas dari tegangan. Sarana pemutusan sirkit dipasang rambu peringatan. Melaksanakan pemeriksaan tegangan untuk memastikan keadaan bebas tegangan. Perlengkapan yang dikerjakan harus dibumikan secara baik. Petugas untuk pembebasan tegangan harus mempunyai surat tugas dari atasan yang berwenang. Mengunci peralatan yang mungkin dapat dimasukkan / dikeluarkan. Bagian perlengkapan yang telah dibebaskan dari tegangan dan akan dibuang sisa muatan listriknya, harus diperiksa secara teliti. (lihat contoh, prosedur keselamatan kerja dan prosedur manuver peralatan instalasi listrik TM). 5.6. Bekerja pada keadaan bertegangan. Petugas / pelaksana pekerjaan mempunyai kompetensi yang dibutuhkan. Memiliki surat ijin kerja dari yang berwenang. Palam keadaan sehat, sadar, tidak mengantuk atau tidak dalam keadaan mabuk. Saat bekerja harus berdiri pada tempat atau mempergunakan perkakas yang berisolasi dan andal. Menggunakan perlengkapan badan yang sesuai dan diperiksa setiap dipakai sesuai petunjuk yang berlaku. Keadaan cuaca tidak mendung / hujan. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 80

Dilarang bekerja di ruang dengan bahaya kebakaran / ledakan, lembab dan sangat panas. Dilarang menyentuh perlengkapan listrik yang bertegangan dengan tangan telanjang. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 81

STANDING OPERATION PROCEDURE MENGOPERASIKAN PENYULANG BARU DI GARDU INDUK No. : 001a / PYLNG-GI//XI/2002 NO URAIAN UPJ DISPATCHER PELAKSANA OPERATOR GI 4. Laporan Pekerjaan Penyulang saiap dioperasikan Perintah Penyiapan Cell a a TARGET WAKTU b Penyulang di GI 480 3 b Laporan Kesiapan Cell untuk diberi Tegangan Memasukan Tegangan 120 1 4. a 5. a 5.b b 4.b a 4. a 5.a b 4. b 5. b 5. Test partial Discharage 60 6. a 6. b 6. c 6. a 6. b 6. c 6. Laporan selesai DISKRIPSI PENGOPERASIAN PENYULANG BARU Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 81

No. : 001B/ PYLNG-GI//XI/2002 NO URAIAN 4 5. 6. a. Usulan pengoperasian penyulangan baru dilengkapi dengan hasil test dan panjang kabel b. DCC memerintahklan ke har GI untuk menyiapkan cell penyulang baru Regu har GI menyiapkan cell yang dimaksud dengan melakukan pengujian Kecepatan buka tutup PMT Tahanan kontak PMT Tahanan isolasi PMT dan CT Individual test reley Seting relay sesuai panjang kabel Test trip Test primair cell berikut rangkaiannya Petugas har melaporkan hasil pengetesan dan kesiapan cell ke DCC a. DCC memberi perintah ke UPJ untuk mengirim tegangan balik b. DCC menginformasikan ke operator GI bahwa akan dikirim tegangan balik Petugas har melakukan uji partial discahrge Laporan petugas ke DCC dan operator bahwa hasil partial Discharge baik DCC melaporkan ke UPJ bahwa pekerjaan sudah selesai Usulan jadwal minimal 2 hari sebelum pengoperasian dilengkapi dengan 1 garis penyulang baru Peralatan yang digunakan : Breaker analiser Micro Ohm meter Megger Test relay sekunder Test relay sekunder Test primair STANDING OPERATION PROCEDURE Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 82

MENGOPERASIKAN SKTM BARU No. : 001a / SKTM.BR-JTM//XI/2002 NO URAIAN PENGAWAS PELAKSANA POSKO TURJASI UPD 1a 1b 1c 3 Laporan pekerjaansiap untuk dioperasikan 1a chek fisik dan kesiapan koleksi Kesiapan terpenuhi ijin tegangan dimasukan 4 Tegangan dimasukan 5 Pekerjaan selesai 4.a a 1b 3a 4.b a 1b b 4c 5.a a 5.b a 5c. a c 2 3a 4a 5a TARGET WAKTU 1b / 30 3b 4b 5b 1c 3c 4.c 5c DISKRIPSI MENGOPERASIKAN SKTM BARU Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 83

No. : 001b / SKTM BR-JTM//XI/2002 NO URAIAN 4 5 a. Pengawas melaporkan ke turjasi untuk pengoperasian SKTM baru b. Turjasi memerintahkan pengatur posko dan pengatur posko memerintahkan pelaksana untuk mengecek fisik di lokasi c. Turjasi melaporkan ke UPD Pelaksana melakukan pengecekan fisik dan kesiapan a. Melaporkan hasil pengecekan ke posko b. Posko melaporkan ke turjasi hasil pengecekan dan minta izin masuk tegangan c. Turjasi melanjutkan permintaan ijin masuk tegangan ke UPD a. Izin memasukan tegangan disampaikan pleh UPD ke turjasi selanjutnya memerintahkan ke Posko untuk pelaksanaannya b. Posko memerintahkan epada pelaksana untuk pelaksanaan pemasukan tegangan c. Pelaksana melakukan pemasukan tegangan a. Laporan pelaksana ke posko pemasukan tegangan sudah selesai b. Posko melanjutkan ke turjasi pelaksanaan pemasukan tegangan sudah dilaksanakan c. Turjasi melapor ke UPD pemasukan tegangan dan pengoperasian SKTM baru telah selesai Cek phasa Cek tahanan isolasi dan megger Yakinkan phasa urutannya benar dan hasil megger baik Short / grounding bebas Kondisi aman/siap diberi tegangan STANDING OPERATION PROCEDURE Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 84

MENGOPERASIKAN SUTM BARU No. : 003a / SUTM.BR-JTM//XI/2002 NO URAIAN PENGAWAS PELAKSANA POSKO TURJASI UPD 1a 1b 1c 3 Laporan pekerjaan siap untuk dioperasikan 1a chek fisik dan kesiapan koleksi Laporan hasil pengecekan dan ijin pengoperasian 4 memasukan Tegangan 5 Laporan pengoperasian 4.a a selesai 1b 3a 4.b a 1b b 4c 5.a a 5.b a 5c. a c 2 3a 4a 5a TARGET WAKTU 1b / 30 3b 4b 5b 1c 3c 4.c 5c DISKRIPSI MENGOPERASIKAN SUTM BARU Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 85

No. : 001b / SUTM BR-JTM//XI/2002 NO 4 5 URAIAN a. Pengawas melaporkan ke turjasi untuk pengoperasian SUTM baru b. Turjasi memerintahkan pengatur posko dan pengatur posko memerintahkan pelaksana untuk mengecek fisik di lokasi c. Turjasi melaporkan ke UPD Pelaksana melakukan pengecekan fisik dan kesiapan - cheak phase dan megger - a. Melaporkan hasil pengecekan ke posko b. Posko melaporkan ke turjasi hasil pengecekan dan minta izin masuk tegangan c. Turjasi melanjutkan permintaan ijin masuk tegangan ke UPD a. Izin memasukan tegangan disampaikan pleh UPD ke turjasi selanjutnya memerintahkan ke Posko untuk pelaksanaannya b.posko memerintahkan kepada pelaksana untuk pelaksanaan pemasukan tegangan c. Pelaksana melakukan pemasukan tegangan a. Laporan pelaksana ke posko pemasukan tegangan sudah selesai b. Posko melanjutkan ke turjasi pelaksanaan pemasukan tegangan sudah dilaksanakan c. Turjasi melapor ke UPD pemasukan tegangan dan pengoperasian SUTM baru telah selesai Yakinkan semua peralatan yang dibutuhkan telah disiapkan di mobil pelaksana Short / grounding bebas Kondisi aman siap diberikan tegangan Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 86

STANDING OPERATION PROCEDURE MENGENDALIKAN OPERASI SUTM TANPA SISTEM SCADA No. : 006c / SKTM -SCADA//XI/2002 TARGET NO URAIAN DISPATCHER OPERATOR GI UPJ WAKTU 1 1 Informasi penyulang trip dan cek relay, Amper dan reset 3 Menginformasikan ke UPJ PMT penyulang Trip, dan siap di coba masuk Pemasukan PMT 20 kv penyulang 3 dari GI 1 2 a 1 4 Pemasukan PMT 20 kv penyulang 4 4. dari GI a 5 Pemasukan PMT 20 kv penyulang 5.ba a dari GI 1 5.b a 5.a a 5.b a Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 87

DISKRIPSI MENGENDALIKAN SUTM TANPA SCADA No. : 006d/ SUTM-SCADA//XI/2002 NO URAIAN 4. 5. Penyulang Trip dari Gardu Induk - Nama Penyulang trip - Amper, penyulang trip Informasi ke UPJ Penyulang trip amper, relay dan telah direset PMT 20 kvpenyulang siap dimasukan Menginformasikan ke UPJ terkait Pemasukan PMT 20 kv penyulan PMT 20 kvpenyulang akan dimasukan secara manual Laporan Dispetcher PMT 20 kv penyulang telah masuk Petugas UPJ melakukan pengecekan ulang ke konsumen barangkali masih ada laporan padam Menggunakan radio chanell 5 / JWOTS Secara manual Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 88

STANDING OPERATION PROCEDURE MENGENDALIKAN OPERASI PEMULIHAN GANGGUAN SISTEM TANPA SCADA No. : 003a/ GGN.SIST-SCADA//XI/2002 TARGET NO URAIAN OPERATOR GI DISPATCHER UPJ WAKTU 1 Diperoleh informasi gangguan sistem dari Region I atau operator GI 1 a. b. b 2 a. Menginformasikan ke UPJ dan 3 4. Operator GI Perintah menormalkan PMT penyulang bila telah diijinkan region I 1 4.a Melaporkan bahwa PMT penyulang telah masuk kembali 5 1 4. b 4.a 4.b 5. Melaporkan bahwa beban-beban ex gangguan sistem telah normal kembali 4. 4.a DISKRIPSI PEMULIHAN GANGGUAN SYSTEM TANPA SCADA Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 89

No. : 003b/ GGN.SIST-SCADA//XI/2002 NO URAIAN 4. 5. a. Region jakarta & Banten menginformasikan bahwa beban beban dinormalkan b. Pengecekan tegangan diyakinni telah masuk Gardu Induk PMT 20 kv trafo telah masuk sampai dengan trafo PS PMT 20 kv trafo telah memasok sampai penyulang penting Menginformasikan ke UPJ beban-bean yang di remote masuk Kondisi UPJ aman dan belum ada kegiatan Pemasukan PMT 20 kv penyulang PMT 20 kv penyulang akan dimasukkan dengan manual oleh operator GI Laporan operator Gardu Induk PMT 20 kv penyulang telah masuk semua PMT 20 kv penyulang telah masuk semua tanpa tertinggal Laporan jam keluar masuk PMT trafo 150 / 20 PMT penyulang beban (A) Laporan dispatcher PMT 20 kv penyulang telah masuk semua Selanjutnya memerintahkan ke UPJ untuk pengecekan ulang bila masih ada laporan konsumen masih padam dengan pengecekan ke konsumen Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 90