SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR NO. / SK / RSPB / / 2017

dokumen-dokumen yang mirip
DINAS KESEHATAN PUSKESMAS CADASARI

Elemen Regulasi Ket Regulasi D O S W

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

Elemen Penilaian PKPO 1 Elemen Penilaian PKPO 2 Elemen Penilaian PKPO 2.1 Elemen Penilaian PKPO Elemen Penilaian PKPO 3

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009, rumah sakit adalah

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. upaya kesehatan dengan memfungsikan berbagai kesatuan personel terlatih dan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat

BAB 6 PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO)

BAB IV PEMBAHASAN. sakit yang berbeda. Hasil karakteristik dapat dilihat pada tabel. Tabel 2. Nama Rumah Sakit dan Tingkatan Rumah Sakit

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. upaya kesehatan dengan memfungsikan berbagai kesatuan personel terlatih dan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT. Rumah sakit merupakan suatu unit yang mempunyai organisasi teratur,

2017, No Indonesia Nomor 5062); 3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkot

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit

Elemen Penilaian BAB VIII

KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS MUARA DELANG NOMOR : / / / SK / I / TENTANG PELAYANAN OBAT KEPALA PUSKESMAS MUARA DELANG,

Peran Kefarmasian dari Aspek Farmasi Klinik dalam Penerapan Akreditasi KARS. Dra. Rina Mutiara,Apt.,M.Pharm Yogyakarta, 28 Maret 2015

STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI I PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO) Komisi Akreditasi Rumah Sakit1

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat

Mengingat : 1. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika 2. Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

KOMITE FARMASI DAN TERAPI. DRA. NURMINDA S MSi, APT

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 002/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

MANAJEMEN PENGGUNAAN OBAT

PELAYANAN PENCAMPURAN ASEPTIK DI RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA. Oleh: Dra. Nastiti Setyo Rahayu. Apt

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian berjudul Profil Penerapan Pelayanan Farmasi Klinik di Rumah

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

KEBIJAKAN OBAT DAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

PEDOMAN PENGORGANISASIAN INSTALASI FARMASI STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI FARMASI... JAKARTA. Apoteker/D3Farmasi/Asisten Apoteker

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 pasal 1 rumah sakit

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian RSUD Bangka Selatan

Medication Management System Tracer

Otomotif Hemat di Weekend

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pelanggan terbagi menjadi dua jenis, yaitu: fungsi atau pemakaian suatu produk. atribut yang bersifat tidak berwujud.

SOP Pelayanan Farmasi Tentang Perencanaan dan Pemesanan Obat-obat High Alert

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

1. SOP pemeriksaan lab 1. Brosur pelayanan lab 2. Panduan pemeriksaan lab (ext) tersedia

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

TUGAS DAN FUNGSI APOTEKER DI RUMAH SAKIT. DIANA HOLIDAH Bagian Farmasi Klinik dan Komunitas Fakultas Farmasi Universitas Jember

PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT

SURAT KEPUTUSAN TENTANG KEBIJAKAN PENULISAN RESEP DIREKTUR RS BAPTIS BATU MENIMBANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam

PERATURAN DIREKTUR UTAMA RS. xxx NOMOR : 17/PER/2013 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN MEDIS. DIREKTUR UTAMA RS. xxx

UNTUK LATIHAN TELUSUR HPK. SKP DAN MPO

BAB I PENDAHULUAN. dua jenis pelayanan kepada masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan

PERATURAN DIREKTUR RS ROYAL PROGRESS NOMOR /2012 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT ROYAL PROGRESS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

REGULASI DI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN UNTUK MENDUKUNG JKN

JUMLA H EP SOP pendaftaran 2. Bagan alur pendaftaran. 3. Kerangka acuan (kepuasan pelanggan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SOAL PILIHAN GANDA PENGANTAR ILMU FARMASI

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 pasal 1 tentang Rumah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

LAPORAN BIMBINGAN AKREDITASI MANAJEMEN DAN PENGGUNAAN OBAT (MPO)

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan

Aspek legal. untuk pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Yustina Sri Hartini - PP IAI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Praktek Kerja Profesi di Rumah Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia nomor 36 tahun 2014, tentang Kesehatan, adalah. setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan 1

Lampiran 1 Hasil lembar ceklist Puskesmas Helvetia, Medan-Deli dan Belawan Bagian II Nama puskesmas Kegiatan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-Undang RI Nomor44 tahun 2009 pasal 1 Rumah Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan perkembangan teknologi kedokteran. Apapun teknologi kedokterannya

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA JALAN KESEHATAN NO. 1 YOGYAKARTA 03 AGUSTUS 30 SEPTEMBER 2015 PERIODE XLV

KEPUTUSAN DIREKTUR RS. PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA Nomor : 2347a/PW/Sekr/VIII/2014 TENTANG

1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pelaksanaan Farmasi Klinik di Rumah Sakit. Penelitian ini dilakukan di beberapa rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur

SURAT KEPUTUSAN TENTANG KEBIJAKAN PENULISAN RESEP DIREKTUR RS HARAPAN BUNDA MENIMBANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental bersifat deskriptif.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER

2017, No Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (

BAB II PROSEDUR PEMBELIAN OBAT/ALAT KESEHATAN, PROSEDUR PENYIMPANAN OBAT/ALAT KESEHATAN, PROSEDUR PEMAKAIAN OBAT/ALAT KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. rumah sakit. Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pharmaceutical barrier in preventing counterfeit medicines in hospitals. Hadi Sumarsono, S. Farm., Apt.

BAB I PENDAHULUAN. satunya adalah rumah sakit. Persaingan yang ada membuat rumah sakit harus

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2012 di Apotek RSUD Toto

IMPLEMENTASI PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT. Rizka Andalusia

PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO)

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kepmenkes RI No. 983/ MENKES/ SK XI/ 1992 tentang

BAB IV ANALISIS DATA DAN RANCANGAN PROSEDUR PENGELOLAAN OBAT/ALAT KESEHATAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MYRIA PALEMBANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PANDUAN CARA IDENTIFIKASI DAN PENYIMPANAN OBAT YANG DIBAWA OLEH PASIEN

Lampiran 1. Struktur organisasi RSUD dr. Pirngadi Kota Medan

Transkripsi:

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR NO. / SK / RSPB / / 2017 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI MENIMBANG : 1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Permata Bunda, maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan Farmasi yang bermutu tinggi; 2. Bahwa agar pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Permata Bunda dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Bunda sebagai landasan bagi penyelenggaraan pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Permata Bunda ; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam poin 1 dan 2 diatas, maka perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Permata Bunda. MENGINGAT : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika; 3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika; 4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ; 6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tentang Pekerjaan Kefarmasian ; 7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit; 8. Surat Keputusan Penggangkatan Direktur No.001/ PT.MMC/III/2013 tentang penggangkatan Direktur Rumah Sakit Permata Bunda; 9. Pedoman Perorganisasian Instalasi Farmasi MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : PERTAMA : Keputusan direktur rumah sakit permata bunda tentang kebijakan pelayanan Rumah Sakit Permata Bunda Malang. KEDUA : Kebijakan Pelayanan Farmasi Rumah Sakit Permata Bunda sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. KETIGA : Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi dan Pelayanan Medis KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tinggal ditetapkannya, dan apabila di kemudian hari teranyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di : M A L A N G Pada Tanggal : 12 januari 2017 DIREKTUR RS. PERMATA BUNDA dr. Tuty Satrijawati. M.Kes NRP : 0313110 Lampiran : SK Direktur RS. Permata Bunda Nomor : / SK / RSPB / / 2017

Perihal : Kebijakan Pelayanan Farmasi KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI RUMAH SAKIT PERMATA BUNDA A. Pengaturan dan manajemen : 1. pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi pemilihan, pengadaan, penyimpanan, permintaan/peresepan, penyalinan, distribusi, persiapan, pengeluaran, pemberian, dokumentasi dan pemantauan terapi obat-obatan. 2. Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap semua sediaan farmasi/perbekalan farmasi yang beredar di rumah sakit. 3. Sediaan farmasi/ perbekalan terdiri dari obat, bahan obat, alat kesehatan, reagensia, radiofarmasi, dan gas medis. 4. Pelayanan farmasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. 5. Pelaayanan farmasi dilaksanakan dengan sistem satu pintu. 6. Instalasi farmasi dipimpin oleh Apoteker, berijasah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker dan Surat Izin Praktek Apoteker. 7. Kepala Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap segala aspek hukum dan peraturan-peraturan farmasi baik terhadap administrasi sediaan farmasi dan pengawasaan distribusi. B. Pemilihan dan pengadaan : 1. Pengadaan obat di rumah sakit dilaksanakan mengacu pada Formularium rumah sakit dan Formularium Nasional untuk JKN BPJS. Proses pengadaan dilaksanakan sesuai undang - undang yang berlaku, yang melibatkan jalur distribusi obat yang resmi, dengan pengelolaan yang dikendalikan secara penuh rumah sakit. 2. Pemilihan obat masuk formularium dan penghapusan obat dari formularium harus mengikuti kriteria yang berlaku. 3. Bila sesuatu obat dalam resep tidak tersedia di instalasi farmasi, ada proses yang ditetapkan rumah sakit untuk pemberitahuan kepada dokter penulis resep, saran substitusi, atau pengadaannya. 4. Pengawasan penggunaan obat di rumah sakit dilaksanakan oleh Panitia Farmasi dan Terapi. 5. Anggota Panitia Farmasi dan Terapi telah diputuskan sesuai SK Direktur. 6. Panitia Farmasi dan Terapi terlibat dalam proses pemesanan, penyaluran, pemberian dan monitoring pengobatan pasien, evaluasi dan penggunaan obat dalam formularium rumah sakit. 7. Kriteria dan prosedur untuk penambahan dan pengurangan obat dari formularium ditetapkan oleh rumah sakit. 8. Panitia Farmasi dan Terapi melakukan monitoring penggunaan obat baru serta timbulnya KTD akibat obat baru yang ditambahkan dalam formularium. 9. Formularium ditelaah minimal satu kali dalam setahun, berdasarkan informasi tentang keamanan dan efektifitasnya. Proses telaah Formularium dilakukan oleh Panitia Farmasi dan Terapi

10. Prosedur persetujuan dan pengadaan obat obat yang diperlukan dalam pelayanan tetapi tidak tersedia dalam stok telah ditetapkan oleh rumah sakit. C. Penyimpanan : 1. Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi khusus (obat yang dibawa oleh pasien, obat emergency, obat program kesehatan) dilaksanakan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan rumah sakit. 2. Rumah sakit tidak melakukan penyimpanan dan pengelolaan obat sitostatika, Total Parental Nutrition (TPN) dan produk steril karena belum ada fasilitas BSC (Biological Safety Cabinet) 3. Rumah sakit menetapkan proses dan peralatan untuk pengamanan obat dan perbekalan farmasi lainnya. 4. Perbekalan farmasi khusus meliputi obat-obat narkotik dan psikotropi, obat-obat High Alert, elektrolit pekat, bahan berbahaya dan beracun, produk nutrisi, dan bahan radioaktif, dikelola dengan prosedur yang telah ditetapkan rumah sakit. 5. Obat yang dibawa pasien dari luar, setelah melalui proses rekonsiliasi obat dan terapi boleh dilanjutkan, disimpan di Instalasi Farmasi rumah sakit untuk dilalukan proses ODD. 6. Sebagai proses monitoring dan evaluasi kondisi penyimpanan obat dan alat kesehatan, ditunjuk satu orang petugas farmasi untuk melakukan infeksi secara berkala setiap dua minggu sekali. 7. Obat emergency tersedia di unit-unit pelayanan pasien dan pengelolaannya dimonitor sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan rumah sakit. 8. Sistem penarikan obat telah diatur sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan rumah sakit. 9. Obat-obat yang kadaluarsa dan ketinggalan jaman dipisahkan, disimpan dan dimusnahkan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit. D. Penyiapan dan pengeluaran : 1. Rumah sakit menyediakan fasilitas bangunan, ruangan dan peralatan yang memenuhi ketentuan dan perundang-undangan kefarmasian yang berlaku. 2. Pelayanan obat dilaksanakan dalam area yang bersih dan aman, sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan rumah sakit. 3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Permata Bunda memberikan pelayanan 24 jam. 4. Petugas farmasi yang kompeten melaksanakan proses skrining resep sebelum melayani resep. 5. Ada prosedur yang ditetapkan rumah sakit bila resep dokter tidak terbaca. 6. Pelayanan resep di rawat jalan dilaksanakan dengan sistem pelayanan resep individual. 7. Pelayanan resep di rawat inap dilaksanakan dengan sistem One Day Dose Dispensing (ODDD). 8. Rumah sakit menyediakan sistem komputerisasi untuk proses pengelolaan mutasi stok dan pencatatan pelayanan obat yang terintegrasi. E. Pemberian : 1. Petugas farmasi yang berwenang memberikan obat adalah Apoteker yang telah memiliki SIPA dan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki SIKTTK.

2. Dalam pemberian obat pada pasien rawat inap, wewenang pemberian obat di delegasikan kepada perawat. Perawat yang berwenang adalah perawat yang telah ditentukan kewenangannya sesuai Penugasan Klinis Perawat. 3. Dokter yang berwenang memberikan obat adalah semua dokter yang telah mendapatkan Surat Penugasan (Clinical Appointmet) dari Direktur Rumah Sakit yang memuat kewenangan klinis (Clinical Previleges) yang boleh dilakukan di rumah sakit. 4. Petugas farmasi melakukan proses telaah obat sebelum memberikan obat. 5. Perawat melakukan proses telaah obat dan serah terima dengan menggunakan form 7 benar. a. Benar Pasien b. Benar Obat c. Benar Dosis d. Benar Waktu e. Benar Cara Pemberian f. Benar Dokumentasi g. Benar Informasi 6. Rumah sakit menyediakan sarana edukasi dan konseling bagi pasien yang menggunakan obat sendiri. 7. Proses dokumentasi dan pengelolaan obat yang dibawa pasien masuk ke rumah sakit, dilakukan dalam proses Rekonsiliasi Obat oleh Apoteker dan pengelolaan obat berikutnya dilakukan oleh instalasi farmasi. 8. Rumah sakit tidak melakukan penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian obat sampel yang ditujukan untuk uji klinis kepada pasien. F. Pemantauan 1..Ada proses monitoring efek samping obat (MESO) dan pemantauan reaksi obat tidak dikehendaki (ROTD) yang dilaksanakan secara kolaboratif, dengan prosedur yang sudah ditetapkan rumah sakit. 2. Monitoring efek samping obat (MESO) dan pemantauan reaksi obat tidak dikehendaki (ROTD) yang terpantau, ditulis di dalam dokumen rekam medik pasien dan dilaporkan selambat-lambatnya 2 X 24 jam dalam bentuk laporan MESO. 3. Instalasi Farmasi ikut serta dalam proses peningkatan mutu dan keselamatan pasien bersama Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Ditetapkan di : M A L A N G Pada Tanggal : DIREKTUR RS. PERMATA BUNDA dr. Tuty Satrijawati. M.Kes

NRP : 0313110