BAB 7 Pertumbuhan Ekonomi I. Chapter Seven 1

dokumen-dokumen yang mirip
PENERAPAN TEORI SOLOW-SWAN PADA PERTUMBUHAN EKONOMI. Kiki Amalia, Mariatul Kiftiah, Evy Sulistianingsih INTISARI

BAB 3 Pendapatan Nasional : Dari Mana Berasal dan Ke Mana Perginya

PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis

teori distribusi neoklasik

menguasai tehnologi sehingga dapat meningkatkan produktivitas perekonomian. Unutk

SUPPLY-SIDE ECONOMICS DAN PERTUMBUHAN EKONOMI BABEL Sebuah Tinjauan Teoritis dan Proposal Tahun Investasi di Babel

II. TINJAUAN PUSTAKA. perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

Pertanyaan: Isi semua kolom tersebut (sertakan perhitungannya di bawah tabel)

2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan

PENGGUNAAN FUNGSI LINEAR DALAM EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak

SKEDUL KONSUMSI ATAU DAFTAR. KONSUMSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, TABUNGAN, DAN INVESTASI TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PER KAPITA INDONESIA

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Tugas Ekonomi Pengantar 2 (Drs. Ari Sudarman, M.Ec.) Makroekonomi (N. Gregory Mankiw) Priciples of Economics (Asian Edition) (N.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

PENERAPAN FUNGSI DALAM EKONOMI. Fungsi Linier

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan pendudukyang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI

1.Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar. 2.Pengaruh pajak-spesifik terhadap keseimbangan pasar

STRUKTUR UPAH [OPISSEN YUDISYUS ESDM ILMU EKONOMI]

PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)

MANAJEMEN SAINS 1.1. Pendekatan Manajemen Sains untuk Memecahkan Masalah

KONSEP DASAR FUNGSI DAN GRAFIK. Oleh : Agus Arwani, SE, M.Ag

Aplikasi Fungsi Linear. Telkom University Alamanda

EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM. Oleh : Nur Baladina, SP. MP.

Materi 6 Ekonomi Mikro

Pengeluaran Agregat yang direncanakan (AE) dan Ekuilibrium Output

Aplikasi kuadratik dalam ekonomi

Pasar Faktor Produksi: Tenaga Kerja. Pertemuan 10

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan dari pembangunan

III KERANGKA PEMIKIRAN

digambarkan sebagai berikut: C/S

Perusahaan, Produksi, dan Biaya

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

KONSUMSI DAN INVESTASI. Oleh : AGUS ARWANI, SE, M.Ag.

III. KERANGKA TEORI. dengan modal manusia. Modal manusia (human capital) adalah istilah yang sering

Introduction to Management Science: Sains Manajemen. Taylor, B. W., 2009, Introduction to Management Science

Matematika Bisnis (Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar)

BAB II LANDASAN TEORI. Besarnya konsumsi selalu berubah-ubah sesuai dengan naik turunnya

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Ketimpangan ekonomi antar wilayah

PEREKONOMIAN TERBUKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman era globalisasi saat ini, dunia usaha telah berkembang dengan pesat

TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah

II. PARETO OPTIMALITY (PO) & CRITERION (PC)

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

III HASIL DAN PEMBAHASAN

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

BAB 4 BREAK - EVEN POINT DALAM UNIT DAN DOLAR PENJUALAN

Skedul Konsumsi Atau Daftar. Konsumsi

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. terdahulu oleh Arifatul Chusna (2013) dalam penelitiannya Pengaruh Laju

BAB IV. KERANGKA PEMIKIRAN. Bab ini merupakan rangkuman dari studi literatur dan kerangka teori yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Model IS-LM. Lanjutan... Pasar Barang & Kurva IS 5/1/2017. PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)

II LANDASAN TEORI. ii. Constant returns to scale, yaitu situasi di mana output meningkat sama banyaknya dengan porsi peningkatan input

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, terus melaksanakan

PENGARUH BELANJA MODAL, PENGANGGURAN DAN PENDUDUK TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN AGAM DAN KABUPATEN PASAMAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pasar Persaingan Sempurna(Perfect Competition)

KURVA PHILLIPS (PHILLIPS CURVE) 1

PENERAPAN MODEL SOLOW-SWAN UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DEMAK

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

ekonomi Kelas X PASAR DAN TERBENTUKNYA HARGA PASAR K-13 KTSP & K-13 A. PERMINTAAN Semester 1 KelasX SMA/MA KTSP & K-13

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian pada umumnya mengalami fluktuasi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keahlian-keahlian, kemampuan untuk berfikir yang dimiliki oleh tenaga

Permintaan Agregat & Penawaran Agregat

BAB II Permintaan, Penawaran & Keseimbangan

III. KERANGKA KONSEPTUAL. Keputusan ekonomi nelayan untuk memilih penggunaan alat tangkap legal

I. PENDAHULUAN. membangun infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum. pasar yang tidak sempurna, serta eksternalitas dari kegiatan ekonomi.

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Pengertian Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi. Salah satu indikator yang sangat penting daam menganalisis

MODEL IS DARI PASAR BARANG DAN MODEL LM DARI PASAR UANG. Chapter Ten 1

BAB 2 Data Makroekonomi

BAB 10 Permintaan Agregat 1: Membangun Model IS-LM

Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi

GDP = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor - impor

SEBUAH TEORI MAKROEKONOMI PEREKONOMIAN TERBUKA

Transkripsi:

BAB 7 Pertumbuhan Ekonomi I Chapter Seven 1

Model pertumbuhan Solow (Solow Growth Model) dirancang untuk menunjukkan bagaimana pertumbuhan persediaan modal, pertumbuhan angkatan kerja, dan kemajuan teknologi berinteraksi dalam suatu perekonomian, dan bagaimana pengaruhnya terhadap output total barang dan jasa suatu negara. Mari kita sekarang memeriksa bagaimana model ini menangani akumulasi modal. Chapter Seven 2

Chapter Seven 3

Mari kita analisa penawaran dan permintaan barang, dan melihat berapa banyak output diproduksi pada waktu tertentu dan bagaimana output ini dialokasikan di antara berbagai alternatif penggunaan. Fungsi produksi merepresentasikan transformasi dari input (angkatan kerja (L), modal (K), teknologi produksi) ke dalam output (barang jadi dan jasa pada waktu tertentu). Representasi aljabarnya : z Fungsi Produksi Y = F ( K, L ) z z Pendapatan is Fungsi dari input kita yang ada Chapter Seven 4 Asumsi penting: Fungsi Produksi memiliki skala hasil konstan.

Asumsi ini memungkinkan kita menganalisis semua kuantitas relatif terhadap ukuran angkatan kerja. Set z = 1/L. Ini adalah konstanta Y/ L = F ( K / L, 1 ) yang bisa diabaikan. Output is fungsi dari Jumlah modal tiap pekerja tiap pekerja Skala hasil konstan mengimplikasikan bahwa ukuran perekonomian sebagaimana diukur oleh jumlah pekerja tak mempengaruhi hubungan antara output tiap pekerja dan modal tiap pekerja. Jadi, dari sekarang, kita notasikan semua kuantitas dalam istilah tiap pekerja dalam huruf kecil. Di sini fungsi produksi kita :, di mana f(k) = F(k,1). y = f( k ) Chapter Seven 5

y 1 MPK = f(k + 1) f (k) MPK k f(k) Fungsi produksi menunjukkan bagaimana jumlah modal tiap pekerja k menentukan jumlah output tiap pekerja y = f(k). Kelandaian fungsi produksi adalah produk marjinal modal : jika k meningkat sebesar 1 unit, y meningkat sebesar MPK unit. Chapter Seven 6

1) y = c + i 2) c = (1-s)y Output tiap pekerja konsumsi tiap pekerja investasi tiap pekerja konsumsi tiap pekerja bergantung pada tingkat tabungan (antara 0 dan 1) 3) y = (1-s)y + i 4) i = sy Investasi = tabungan. Tingkat tabungan s adalah bagian dari output yang digunakan untuk investasi. Chapter Seven 7

Berikut adalah dua kekuatan yang mempengaruhi persediaan modal : Investasi: pengeluaran tempat usaha dan peralatan. Depresiasi : menuanya modal lama; menyebabkan persediaan modal menurun. Investasi tiap pekerja i = s y. Mari kita substitusi fungsi produksi untuk y, kita dapat mengungkapkan investasi tiap pekerja sebagai fungsi dari persediaan modal tiap pekerja : i = s f(k) Persamaan ini menghubungkan persediaan modal yang ada k dengan akumulasi modal baru i. Chapter Seven 8

Tingkat tabungan s menentukan alokasi output antara konsumsi dan investasi. Untuk setiap tingkat k, output adalah f(k), investasi adalah s f(k), dan konsumsi adalah f(k) sf(k). y y (tiap pekerja) Output, f (k) c (tiap pekerja) Investasi, s f(k) i (tiap pekerja) Chapter Seven 9 k

Dampak investasi dan depresiasi pada persediaan modal : Dk = i dk Perubahan persediaan modal Ingat investasi sama dengan tabungan jadi, bisa ditulis : Dk = s f(k) dk Investasi dk Depresiasi dk Depresiasi oleh karenanya proporsional terhadap persediaan modal. Chapter Seven 10 k

Investasi dan depresiasi i* = dk* Pada k*, investasi sama dengan depresiasi dan modal tak akan berubah sepanjang waktu. k 1 k* k 2 Investasi, s f(k) Depresiasi, dk Di bawah k*, investasi melebihi depresiasi, jadi persediaan modal tumbuh. Di atas k*, depresiasi melebihi investasi, jadi persediaan modal menurun. Modal Chapter Seven tiap pekerja, k 11

Model Solow menunjukkan bahwa jika tingkat tabungan tinggi, perekonomian akan memiliki persediaan modal besar dan tingkat output tinggi. Jika tingkat tabungan rendah, perekonomian akan memiliki persediaan modal kecil dan tingkat Depresiasi, dk output rendah. Investasi dan depresiasi i* = dk* Investasi, s 2 f(k) Investasi, s 1 f(k) Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan persediaan modal tumbuh ke kondisi mapan baru. k 1 * k 2 * Modal Chapter Seven tiap pekerja, k 12

Nilai kondisi-mapan k yang memaksimalkan konsumsi disebut Tingkat Modal Kaidah Emas (Golden Rule Level of Capital). Untuk menemukan konsumsi tiap pekerja pada kondisi-mapan, kita mulai dengan identitas pos pendapatan nasional : dan disusun ulang : y = c + i c = y - i. Persamaan ini menyatakan konsumsi adalah output dikurangi investasi. Karena kita ingin menemukan konsumsi kondisi-mapan, kita substitusi nilai kondisi-mapan untuk output dan investasi. Output tiap pekerja pada kondisi-mapan adalah f (k*) di mana k* adalah persediaan modal tiap pekerja pada kondisi-mapan. Lalu, karena persediaan modal tidak berubah pada kondisi-mapan, investasi sama dengan depresiasi dk*. Mensubstitusi f (k*) untuk y dan dk* untuk i, konsumsi tiap pekerja pada kondisi mapan: c* = f (k*) - dk*. Chapter Seven 13

berarti lebih banyak output yang harus digunakan untuk mengganti modal c*= f (k*) - dk*. Menurut persamaan ini, konsumsi pada kondisi-mapan adalah sisa dari output kondisi-mapan dikurangi depresiasi kondisi-mapan. Ini lebih jauh menunjukkan bahwa kenaikan modal kondisi-mapan memiliki dua efek berlawanan pada konsumsi kondisi-mapan. Di satu sisi, lebih banyak modal berarti lebih banyak output. Di sisi lain, lebih banyak modal juga yang habis dipakai. Output perekonomian digunakan untuk dk dk konsumsi atau investasi. Di kondisi-mapan, investasi sama dengan depresiasi. Jadi, konsumsi adalah selisih antara output f (k*) dan Output, f(k) depresiasi dk*. Konsumsi kondisi-mapan dimaksimalkan c pada kondisi mapan Kaidah * emas Emas. Persediaan modal Kaidah Emas dinotasikan k* emas, dan konsumsi Kaidah Emas k* k emas adalah c* emas. Chapter Seven 14

Kita buat kondisi sederhana yang mencirikan tingkat modal Kaidah Emas Ingat kemiringan fungsi produksi adalah produk marjinal modal MPK. Kemiringan garis dk* adalah d. Karena dua kemiringan ini sama pada k* emas, Kaidah Emas dapat dijelaskan dengan persamaan : MPK = d. Pada tingkat modal Kaidah Emas, produk marjinal modal sama dengan tingkat depresiasi. Ingat perekonomian tidak otomatis bergravitasi menuju kondisi mapan Kaidah Emas. Jika kita ingin persediaan modal kondisi mapan tertentu, seperti Kaidah Emas, kita butuh tingkat tabungan tertentu untuk mendukungnya. Chapter Seven 15

Model Solow dasar menunjukkan bahwa akumulasi modal, sendiri, tak bisa menjelaskan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan : tingkat tabungan tinggi menyebabkan pertumbuhan tinggi sementara, tapi perekonomian akhirnya mendekati kondisi mapan di mana modal dan output konstan. Untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, kita harus memperluas model Solow untuk mencakup dua sumber lain dari pertumbuhan ekonomi. Jadi, kita tambahkan pertumbuhan populasi pada model. Kita akan mengasumsikan bahwa populasi dan angkatan kerja tumbuh dengan tingkat konstan n. Chapter Seven 16

Seperti depresiasi, pertumbuhan populasi adalah salah satu alasan mengapa persediaan modal per pekerja menurun. Jika n adalah tingkat Investasi, pertumbuhan populasi dan d adalah tingkat depresiasi, maka investasi impas (d + n)k adalah investasi impas (break-even investment) - jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan persediaan modal per (d + n)k Investasi impas, pekerja k konstan. Investasi, s f(k) k* Agar perekonomian ada di kondisi mapan, investasi s f(k) harus mengatasi dampak depresiasi dan pertumbuhan populasi (d + n)k. Ini ditunjukkan oleh perpotongan dua kurva. Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan persediaan modal tumbuh ke kondisi mapan. Modal Chapter Seven per pekerja, k 17

Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi menggeser garis yang mewakili pertumbuhan populasi dan depresiasi ke atas. Kondisi mapan baru memiliki tingkat modal per pekerja lebih rendah daripada kondisi Investasi, investasi impas awal. Jadi, model Solow memprediksi perekonomian dengan tingkat pertumbuhan populasi lebih tinggi akan memiliki tingkat modal per pekerja lebih rendah dan karenanya pendapatan lebih rendah. (d + n 2 )k (d + n 1 )k Investasi, s f(k) Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi dari n 1 ke n 2 mengurangi persediaan modal kondisimapan dari k* 1 ke k* 2. k* 2 Modal Chapter Seven per pekerja, k 18 k* 1

Perubahan persediaan modal per pekerja : Dk = i (d+n)k Sekarang, kita substitusi sf(k) untuk i: Dk = (sfk) (d+n)k Persamaan ini menunjukkan bagaimana investasi, depresiasi dan pertumbuhan populasi baru mempengaruhi persediaan modal perpekerja. Investasi baru meningkatkan k, sementara depresiasi dan pertumbuhan populasi menurunkan k. Ketika kita tidak memasukkan variabel n dalam versi sederhana kita kita sedang mengasumsikan kasus khusus di mana pertumbuhan populasi adalah 0. Chapter Seven 19

Di kondisi mapan, dampak positif investasi pada modal per pekerja hanya menyeimbangkan dampak negatif depresiasi dan pertumbuhan populasi. Begitu perekonomian ada pada kondisi mapan, investasi memiliki dua maksud : 1) Beberapa di antaranya, (dk*), mengganti modal yang terdepresiasi, 2) Sisanya, (nk*), menyediakan pekerja baru dengan jumlah modal kondisi mapan. Investasi impas, (d + n') k sf(k) Investasi impas, (d + n) k Kondisi mapan k*' k* Investasi, s f(k) Modal per pekerja, k Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi akan menurunkan tingkat output per pekerja. Chapter Seven 20

Dalam jangka panjang, tabungan perekonomian menentukan ukuran dari k dan kemudian y. Semakin tinggi tingkat tabungan, semakin tinggi persediaan modal dan semakin tinggi tingkat y. Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan periode pertumbuhan cepat tapi akhirnya pertumbuhan itu melambat seiring kondisi mapan baru tercapai. Kesimpulan : meskipun tingkat tabungan tinggi menghasilkan tingkat output kondisi-mapan yang tinggi, tabungan sendiri saja tidak bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Chapter Seven 21