BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. berbentuk maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. empat tipe, yaitu atrisi, abrasi, erosi, dan abfraksi. Keempat tipe tersebut memiliki

Perawatan ortodonti Optimal * Hasil terbaik * Waktu singkat * Biaya murah * Biologis, psikologis Penting waktu perawatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang

CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. oklusi sentrik, relasi sentrik dan selama berfungsi (Rahardjo, 2009).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Lengkung gigi terdiri dari superior dan inferior dimana masing-masing

BAB 1 PENDAHULUAN. studi. 7 Analisis model studi digunakan untuk mengukur derajat maloklusi,

BAB 1 PENDAHULUAN. anak itu sendiri. Fungsi gigi sangat diperlukan dalam masa kanak-kanak yaitu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien

BAB III METODE PENELITIAN. cekat dan cetakan saat pemakaian retainer. 2. Sampel dalam penelitian ini dihitung dengan Rumus Federer sesuai dengan.

BAB I PENDAHULUAN. kejadian yang penting dalam perkembangan anak (Poureslami, et al., 2015).

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERAWATAN MALOKLUSI KELAS I ANGLE TIPE 2

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Makanan yang pertama kali dikonsumsi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai perawatan selesai (Rahardjo, 2009). Hasil perawatan ortodontik

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

BAB I PENDAHULUAN. Oklusi secara sederhana didefinisikan sebagai hubungan gigi-geligi maksila

BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keadaan normal (Graber dan Swain, 1985). Edward Angle (sit. Bhalajhi 2004)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maloklusi adalah ketidakteraturan letak gigi geligi sehingga menyimpang dari

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kehilangan gigi geligi disebabkan oleh faktor penyakit seperti karies dan

BAB 1 PENDAHULUAN. menunjukkan prevalensi nasional untuk masalah gigi dan mulut di Indonesia

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mandibula baik kanan maupun kiri, pada anak umur 6-16 bulan adalah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. wajah dan jaringan lunak yang menutupi. Keseimbangan dan keserasian wajah

KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

LEMBAR PENJELASAN KEPADA ORANG TUA/ WALI OBJEK PENELITIAN. Kepada Yth, Ibu/ Sdri :... Orang tua/ Wali Ananda :... Alamat :...

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hal yang harus dipertimbangkan dalam perawatan ortodonsi salah satunya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mengevaluasi keberhasilan perawatan yang telah dilakukan. 1,2,3 Kemudian dapat

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. (Alexander,2001). Ortodonsia merupakan bagian dari ilmu Kedokteran Gigi yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti

BAB I PENDAHULUAN. mulut pada masyarakat. Berdasarkan laporan United States Surgeon General pada

BAB I PENDAHULUAN. beberapa komponen penting, yaitu sendi temporomandibula, otot

Analisa Ruang Metode Moyers

BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas

BAB I PENDAHULUAN. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan. perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja, dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan ortodontik bertujuan memperbaiki fungsi oklusi dan estetika

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ortodonsia menurut American Association of Orthodontists adalah bagian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Maturitas adalah proses pematangan yang dihasilkan oleh pertumbuhan dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK SPACE MAINTAINER. Disusun oleh: Hasna Hadaina 10/KG/8770. Low Xin Yi 10/KG/ Pembimbing:

III. RENCANA PERAWATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupannya, karena di dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dan TK Aisyiyah Bustanul Atfal Godegan.

BAB I PENDAHULUAN. wajah yang menarik dan telah menjadi salah satu hal penting di dalam kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rongga mulut memiliki peran yang penting bagi fungsi

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Populasi dalam penelitian ini adalah cetakan gigi pasien yang telah. Rumus Federer = (t-1)(n-1) 15 keterangan = n 16

III. KELAINAN DENTOFASIAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II CELAH PALATUM KOMPLET BILATERAL. Kelainan kongenital berupa celah palatum telah diketahui sejak lama. Pada

BAB I PENDAHULUAN. setiap proses kehidupan manusia agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut usia (Depkes, 2003).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran lebar mesiodistal gigi setiap individu adalah berbeda, setiap

BAB I PENDAHULUAN. sudah dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi yaitu dengan perawatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sampel yang di peroleh sebanyak 24 sampel dari cetakan pada saat lepas bracket. 0 Ideal 2 8,33 2 8,33

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ortodontik (Shaw, 1981). Tujuan perawatan ortodontik menurut Graber (2012)

GAMBARAN MALOKLUSI DENGAN MENGGUNAKAN HMAR PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai masalah karies dan gingivitis dengan skor DMF-T sebesar

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

DENTIN JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. April 2018

BAB 1 PENDAHULUAN. Crossbite posterior adalah relasi transversal yang abnormal dalam arah

BAB 2 TI JAUA PUSTAKA

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang hubungan Indeks Massa Tubuh dengan maloklusi menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index (HMAI) pada anak usia diatas 13 tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta dilakukan pada bulan Februari 2017. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan mencetak rahang serta mengukur tinggi dan berat badan subjek yang berjumlah 37 orang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Mu alimaat Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilaksanakan dengan instrumen cetakan negatif rahang atas dan bawah subjek, dan lembar pertanyaan bagi subjek. Tabel 1. Distribusi Subjek berdasarkan usia Usia (Tahun) Frekuensi Persentase (%) 13-13,9 20 54 14-14,9 16 43,3 15 1 2,7 Berdasarkan tabel diatas usia subjek terbagi menjadi tiga kelompok yaitu usia 13 tahun sebanyak 20 orang, usia 14 tahun sebanyak 16 orang dan usia 15 tahun sebanyak 1 orang. 23

24 Tabel 2. Distribusi subjek berdasarkan Indeks Massa Tubuh Kategori Frekuensi Persentase Kurang (<18,5) 12 32,4 Normal (18,5-24,9) 21 56,7 Gemuk (25 29,9) 2 5,4 Obesitas (>30) 2 5,4 Berdasarkan tabel 2., terdapat 12 subjek yang memiliki IMT kurang, terdapat 21 subjek dengan IMT normal, terdapat 2 subjek dengan IMT gemuk dan terdapat 2 subjek dengan IMT obesitas. Tabel 3. Distribusi subjek berdasarkan keparahan maloklusi dihitung menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index (HMAI) Kategori Frekuensi Persentase (%) Ringan (0-5) 8 21,6 Sedang (6-15) 18 48,6 Parah (16-30) 9 24,3 Sangat Parah (>30) 2 5,4 Berdasarkan tabel 3., terdapat 8 subjek yang memiliki maloklusi ringan, 18 subjek dengan maloklusi sedang, 9 subjek dengan maloklusi parah, dan 2 subjek memiliki maloklusi sangat parah. Perhitungan indeks massa tubuh dan penilaian maloklusi dengan Handicapping Malocclusion Assessment Index selanjutnya diolah menggunakan aplikasi SPSS 15.0 for Windows Evaluation Version. Data yang diperoleh merupakan data ordinal ordinal karena perhitungan IMT dan penilaian maloklusi telah

25 dikelompokkan masing masing menjadi 4 kategori. Pengolahan data menggunakan uji korelasi Kendall s tau_b untuk mengetahui hubungan antara IMT dan maloklusi. Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Menggunakan Kendall s tau-b No. Variabel Nilai Signifikansi Jumlah populasi 1. IMT 0.405 37 2. HMAI 0.405 37 Dari tabel output SPSS uji korelasi menggunakan Kendall s tau-b, didapat hasil Sig. 0,405, angka tersebut >0.05 maka hipotesis 0 diterima dan hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index pada siswi usia 13-15 tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Tabel 5. Distribusi jawaban subjek dari pertanyaan anamnesa tentang etiologi maloklusi No. 1. Etiologi Maloklusi Penyakit TBC, anemia, hipotiroid, dan gangguan hormone Ya Tidak N % n % 3 8,1 34 91,9 2. Rampan karies saat usia 0-6 tahun 22 59,4 15 40,5 3. Delayed eruption gigi permanen 9 24,3 28 75,7 4. Persistensi pada usia gigi bercampur 17 45,9 20 54,1 5. Selalu mencabutkan gigi ke dokter gigi 8 21,6 29 78,4

26 6. Riwayat gigi desidui rapat dan berjejal 25 67,5 12 32,5 7. Orangtua dengan kondisi yang sama 17 45,9 20 54,1 8. Kebiasaan buruk 24 64,8 13 35,2 9. Riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya 3 8,1 34 91,9 10. Karies hingga menyebabkan kehilangan 12 32,5 25 67,5 Dari tabel 5. Diketahui bahwa dari 10 pertanyaan yang diajukan kepada 37 subjek, prosentase terbanyak jawaban ya adalah riwayat gigi desidui yang rapat dan berjejal sebanyak 67,5%, diikuti terbanyak kedua yaitu kebiasaan buruk sebesar 64,8%, dan terbanyak ketiga yaitu rampan karies pada usia 0-6 tahun sebesar 59,4%. Jawaban subjek dengan prosentase ya paling rendah yaitu penyakit TBC, anemia, hipotiroid, dan gangguan hormone serta riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya dengan prosentase sama yaitu 8,1% B. Pembahasan Hasil dari penelitian yang berjudul Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Maloklusi Menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index pada siswa usia 13-15 tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Seluruh subjek dari penelitian ini berjenis kelamin perempuan dengan usia 13-13,9

27 tahun sebanyak 54%, usia 14-14,9 tahun sebanyak 43,3%, dan usia 15 tahun sebanyak 2,75%. Kebutuhan nutrisi tubuh berhubungan dengan pertumbuhan, perkembangan serta pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, dapat dibedakan berdasarkan usia. Pertumbuhan linear maksimum remaja laki-laki dicapai pada usia 15 tahun sedangkan perempuan di usia 13 tahun. Remaja perempuan usia 11-18 membutuhkan 2.200 kalori dalam sehari, namun pada saat menstruasi setiap bulannya kebutuhan asupan zat gizi akan meningkat (Sroda, 2010). Indeks HMA menilai maloklusi pada satu rahang maupun maloklusi yang terjadi antarrahang. Gigi yang hilang, rotasi gigi, dan gigi berjejal menjadi komponen yang dinilai pada indeks ini. Pada individu yang kehilangan satu atau lebih gigi posterior, tekanan dari gaya pengunyahan tidak seimbang antara kiri dan kanan maupun anterior dan posterior, hal ini dapat menyebabkan terjadinya rotasi gigi, mesial drifting pada gigi disekitar daerah gigi yang hilang, ekstrusi gigi antagonis, dan pergeseran midline, diet makan sehari-hari, kebiasaan buruk dan genetik juga merupakan faktor dari maloklusi tersebut (Sarig dkk., 2013). Penilaian maloklusi antar rahang juga dilakukan pada indeks HMA. Malrelasi yang terjadi antar rahang seperti gigitan silang atau crossbite, gigitan terbuka atau openbite, jarak gigit atau overjet dan tumpang gigit atau overbite adalah komponen komponen yang dinilai. Gigitan silang atau crossbite banyak terjadi pada salah satu sisi di regio posterior, salah satu penyebabnya yaitu aktivitas otot pegunyahan pada individu yang mengunyah hanya dengan satu sisi sehingga otot masseter pada sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah menjadi pasif sehingga menyebabkan kondisi skeletal yang asimetris (Cutroneo dkk., 2016). Gigitan terbuka atau openbite yang

28 banyak terjadi adalah anterior openbite, kebiasaan buruk seperti menghisap jari atau kebiasaan meminum susu dengan botol menjadi faktor yang paling berotensi menyebabkan anterior crossbite. Koreksi gigitan terbuka pada regio anterior paling efektif dilakukan pada saat sebelum insisivus lateralis atas erupsi (Machado dkk., 2013). Berdasarkan hasil pengolahan data uji korelasi Kendall s tau-b menggunakan program SPSS, didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan indeks Handicapping Malocclusion Assessment pada siswa usia diatas tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Hal tersebut sesuai dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, bahwa subjek dengan malnutrisi yang ditentukan dari indeks massa tubuh kurang memang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulutnya, namun peneliti tidak mendapat hasil yang signifikan bahwa malnutrisi (IMT kurang) mempengaruhi maloklusi (Khan, dkk., 2014). Penelitian lain adalah penelitian yang melihat hubungan antara obesitas dan erupsi dini gigi permanen yang berpotensi menyebabkan maloklusi. Kesimpulan dari penelitian tersebut pun tidak memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara obesitas dan erupsi dini gigi permanen, dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa tidak semua anak dengan obesitas memiliki permasalahan karena erupsi dini gigi permanen, sebagian dari mereka tetap memiliki susunan gigi yang baik karena kesadaran tentang preventive-orthodonti (Must, dkk., 2013). Hubungan antara anak yang memiliki berat badan kurang dengan gigi desidui berjejal menunjukkan hasil yang signifikan hanya pada mereka yang tidak menggunakan dot atau botol susu. Menurut penelitian tersebut, penggunaan botol susu pada anak menyebabkan gigi anterior protrusif, sedangkan gigi anterior

29 yang protrusif menyebabkan adanya space (ruang antar gigi) yang berlebih sehingga gigi tidak akan berjejal, melainkan dapat menyebabkan gigi anterior mengalami openbite (Thomaz, dkk., 2010). Dari beberapa penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa individu underweight ataupun overweight tidak selalu mengalami maloklusi, karena etiologi dari maloklusi tidak hanya kurangnya nutrisi yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan rahang maupun kelebihan nutrisi yang menyebabkan pertumbuhan terlalu cepat. Berdasarkan hasil dari jawaban dari pertanyaan anamnesa kepada subjek yang digunakan untuk menggali etiologi-etiologi maloklusi, yang memiliki prosentase jawaban dari anamnesa terbanyak yaitu riwayat gigi desidui yang rapat dan berjejal. Adanya ruang pada gigi desidui sangat penting karena dapat memberi ruang lebih bagi gigi permanen yang akan tumbuh, oleh karena itu gigi desidui yang rapat dan tidak memiliki ruang antar gigi atau bahkan gigi desidui yang berjejal menyebabkan kelainan oklusi pada masa gigi permanen (Vinay, dkk., 2011). Prosentase jawaban terbanyak kedua adalah tentang kebiasaan buruk seperti bruxism. Bruxism atau kebiasaan mengerot gigi baik saat tidur maupun saat terjaga dapat menyebabkan kerusakan sendi temporomandibula, ngilu pada gigi geligi dan atrisi. Bruxism yang terjadi karena aktivitas otot berlebih akan menyebabkan gangguan pada sendi temporomandibula yang secara tidak langsung menyebabkan maloklusi. Gigi yang goyah juga bisa disebabkan karena bruxism, hal ini bisa menyebabkan maloklusi. Gigi atrisi dapat menyebabkan hilangnya kunci oklusi yang tercipta dari kontak tonjol-tonjol gigi dan terjadi maloklusi (Kataoka, dkk., 2015). Kebiasaan buruk lainnya adalah kebiasaan menghisap dan menggigit jari. Menghisap

30 ibu jari dengan intensitas, frekuensi, dan durasi yang tinggi menyebabkan anterior openbite (Lopez-Freire, dkk., 2015). Prosentase jawaban terbanyak ketiga yaitu rampan karies pada masa desidui. Rampan karies yang terjadi pada masa gigi desidui sangat mempengaruhi gigi permanen yang akan tumbuh, hilangnya gigi anterior karena karies dapat menyebabkan bergesernya midline. Gigi desidui yang hilang atau dicabut karena karies dapat juga menyebabkan gigi molar pertama permanen sebagai kunci oklusi mengalami erupsi tidak pada tempat yang seharusnya, hal ini menyebabkan gigi-gigi yang erupsi setelahnya bergeser dari tempat yang seharusnya dan terjadi maloklusi. Gigi permanen yang berjejal juga dapat dikarenakan gigi desidui yang rampan karies, karena pada saat proses gigi permanen erupsi, gigi tersebut tidak lagi memiliki guidance untuk erupsi karena gigi desidui yang berperan sebagai guidance sudah hilang (Luzzi, dkk., 2011). Riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya serta penyakit seperti TBC, anemia, gangguan hormon, dan Hipotiroidisme menjadi pertanyaan anamnesa yang mendapatkan prosentase paling sedikit yaitu 8,1%. Trauma pada rahang dan gigi yang terjadi pada anak-anak sangat berpengaruh pada perkembangan dentoskeletal pada masing-masing individu. Selain menyebabkan gangguan estetika dan kurangnya kepercayadirian anak, trauma pada rahang dan gigi dapat menyebabkan perubahan pada rahang maupun gigi, seperti berubahnya wajah menjadi asimetris, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan pada sendi temporomandibula. Trauma gigi yang sering terjadi adalah trauma gigi anterior atas, karena gigi anterior atas letaknya paling memungkinkan untuk terkena benturan. Gigi yang mengalami trauma dapat menjadi

31 ekstrusi, intrusi, rotasi, bahkan fraktur. Dari beberapa hal diatas, dental injury dapat menyebabkan maloklusi (Aldrigui, dkk., 2011). Penyakit anemia dialami oleh 3 dari 37 subjek atau sama seperti riwayat trauma yaitu 8,1%. Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan meneliti hubungan thalassemia dengan maloklusi. Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetik dan menyababkan protein yang ada dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi dengan baik. Zat besi yang diperoleh dari asupan makanan selanjutnya digunakan oleh sum sum tulang belakang untuk menghasilkan hemoglobin. Sedangkan anemia adalah kurangnya kandungan hemoglobin dalam darah. Thalassemia mayor seperti anemia kronis, hiperparatiroidisme, dan defisiensi somatomedin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan pematangan skeletal. Anterior openbite, gigi berjejal, protrusif gigi anterior, gigi renggang, dan kelainan pada ukuran gigi dan rahang adalah kasus- kasus maloklusi yang sering terjadi karna faktor tersebut (Gupta, dkk., 2016) Penyebab lain maloklusi adalah genetik atau keturunan, pada hasil penghitungan pertanyaan, diperoleh jawaban dari anamnesa sebesar 32,5% dari keseluruhan subjek 37 orang. Pada lembar pertanyaan dituliskan Apakah orang tua dan atau keluarga anda memiliki kondisi gigi geligi yang sama dengan anda?. Moreno Uribe dan Miller, (2015) menjelaskan bahwa kondisi maloklusi gigi geligi yang terjadi pada individu sama seperti anggota keluarga yang lain seperti orang tua, bukan hanya karena keturunan saja namun juga karena pola kebiasaan dan lingkungan yang sama. Maloklusi terjadi karena keturunan dapat berupa ukuran gigi dan rahang karena faktor fenotip dan genotip yang diturunkan dari perkawinan parental suatu filial. Pola kebiasaan, lingkungan, dan keadaan ekonomi sebuah keluarga juga dapat

32 menyebabkan maloklusi yang sama dalam keluarga tersebut. Cara menggosok gigi yang salah, konsumsi makanan yang kurang bergizi, kebiasaan menghisap ibu jari yang dibiarkan, lingkungan dengan kadar fluor tinggi, dan kurangnya edukasi tentang gi dan mulut juga dapat menyebabkan kondisi maloklusi yang seragam pada sebuah keluarga. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam menggali penyebab maloklusi selain malnutrisi yang dibahas dalam penelitian ini. Peneliti telah memberikan sepuluh pertanyaan yang bertujuan untuk menggali riwayat gigi geligi subjek, kondisi gigi geligi keluarga subjek, penyakit yang mempengaruhi pertumbuhan, dan ada atau tidaknya trauma yang pernah dialami subjek. Dengan memberikan pertanyaan tersebut kepada subjek peneliti akan dapat menggali etiologi lain dari maloklusi, namun kenyataan saat dilapangan beberapa subjek lupa akan kondisi gigi geliginya ketika balita.