BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS TINGKAT EFEKTIVITAS METODE EDUKASI KEPADA MASYARAKAT KABUPATEN SUKOHARJO TENTANG SWAMEDIKASI DEMAM PADA ANAK NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini mengambil lokasi Desa Pojok Kidul Kecamatan Nguter

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Demografi Responden. Distribusi responden berdasarkan umur seperti pada tabel 3.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mempunyai kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Kesehatan Anak - Aneka penyakit anak yg perlu diketahui semua ortu

LAMPIRAN 1 : Tabel. Usia Anak

BAB I PENDAHULUAN. Self Medication menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. Kesehatan merupakan hal yang penting di dalam kehidupan. Seseorang. yang merasa sakit akan melakukan upaya demi memperoleh kesehatannya

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Sakit berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. berkisar antara 36-37ºC. Jadi seseorang yang mengalami demam, suhu

sangat berlebihan dan juga tidak realistik, seperti selalu memanggil petugas kesehatan walaupun demamnya tidak tinggi (Youssef et al, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. suksesnya sistem kesehatan adalah pelaksanaan pelayanan kefarmasian (Hermawati, kepada pasien yang membutuhkan (Menkes RI, 2014).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADIA PASIEN GANGGUAN KEBUTUHAN SUHU TUBUH (HIPERTERMI)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Karateristik Masyarakat Yang Melakukan Swamedikasi Di Beberapa Toko Obat Di Kota Makassar. Program Studi Diploma III Farmasi Yamasi.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 6

TATALAKSANA MALARIA. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :

BAB I PENDAHULUAN. tubuh) terhadap penyakit (Biddulph, 1999). Salah satu penyakit. yang umumnya diderita oleh bayi dan balita adalah jenis

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di apotek Mega Farma Kota Gorontalo pada tanggal

LAMPIRAN. Cumulative Percent Valid di bawah lidah di ketiak Total

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

Pengertian. Bayi berat lahir rendah adalah bayi lahir yang berat badannya pada saat kelahiran <2.500 gram [ sampai dengan 2.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri. Infeksi ini diawali dengan

BAB I PENDAHULUAN. jamur, atau parasit (Djuwariyah, Sodikin, Yulistiani M; 2013).

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 5 TINDAK LANJUT

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan sebagian individu yang unik dan mempunyai. kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kebutuhan tersebut

DEFENISI. Merupakan suatu gejala yang menunjukkan adanya gangguangangguan. peradangan, infeksi dan kejang otot.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penduduk lansia pada umumnya banyak mengalami penurunan akibat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 386/MEN.KES/SK/IV/1994, untuk

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN

ANALISIS IKLAN OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS PADA ENAM MEDIA CETAK YANG BEREDAR DI KOTA SURAKARTA PERIODE BULAN FEBRUARI-APRIL 2009

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang manifestasi utamanya melibatkan seluruh organ tubuh yang dapat terjadi

APA ITU TB(TUBERCULOSIS)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

By: Kelompok 2 Amelia Leona Ayu Afriza Cindy Cesara Dety Wahyuni Fitri Wahyuni Ida Khairani Johan Ricky Marpaung Silvia Syafrina Ibrahim

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 3 MENENTUKAN TINDAKAN DAN MEMBERI PENGOBATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, masalah

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya

BAB 1 PENDAHULUAN. menahun yang disebabkan oleh penyakit degeneratif, diantaranya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pukul WIB Ny Y datang ke

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. peningkatan kesehatan masyarakat. Definisi swamedikasi menurut

OTC (OVER THE COUNTER DRUGS)

Materi 13 KEDARURATAN MEDIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. promosi / iklan obat melalui media massa dan tingginya biaya pelayanan kesehatan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat yang setinggi tingginya (Depkes, 2009). Adanya kemajuan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. Lanjut usia (Lansia) adalah seseorang yang berusia di atas 60 tahun (UU 13

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented)

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) PENYULUHAN KESEHATAN DEMAM BERDARAH DENGUE

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengobatan sendiri (swamedikasi) merupakan bagian dari upaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. deformitas sendi progresif yang menyebabkan disabilitas dan kematian dini

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANALGETIK ANTIPIRETIK SEBAGAI UPAYA PENGOBATAN SENDIRI DI KELURAHAN PONDOK KARANGANOM KLATEN NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Saat ini, ISPA merupakan masalah. rongga telinga tengah dan pleura. Anak-anak merupakan kelompok

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 persentase jumlah penduduk berdasarkan usia di pulau Jawa paling banyak adalah penduduk dengan usia 0-14 tahun atau bisa disebut sebagai golongan penduduk anak-anak. Pulau jawa memiliki jumlah penduduk usia 0-14 tahun kurang lebih 36 juta jiwa (BPS Indonesia, 2012). Propinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ketiga sebagai propinsi yang memiliki jumlah penduduk tertinggi di Indonesia. Kabupaten Sukoharjo memiliki wilayah yang luas serta penduduk yang tersebar. Jumlah penduduk dengan usia 0-14 tahun di Kabupaten Sukoharjo kurang lebih adalah 200.077 jiwa (BPS Indonesia, 2011). Perkembangan organ tubuh manusia secara optimal terjadi saat usia anak sehingga kesehatan saat usia anak menjadi salah satu penentu kondisi organ tubuh anak saat dewasa. Berbagai macam penyakit yang menjadikan kondisi anak tidak sehat dapat menjadi penghambat perkembangan anak apabila tidak diatasi secara benar. Angka kejadian paling tinggi tentang kondisi tubuh yang tidak sehat pada anak adalah demam. Demam merupakan kondisi naiknya suhu tubuh yang melebihi rentang normal (diatas 37 o C) yang menjadikan tubuh terasa panas. Salah satu penyebab demam adalah terjadinya ketidakseimbangan produksi panas dan pengeluaran panas didalam tubuh. Kondisi ini biasanya terjadi akibat infeksi bakteri dan virus serta masuknya zat penyebab panas di dalam tubuh (Ismoedijanto, 2000). Demam yang tidak terkontrol dapat menjadi penyebab keadaan yang lebih berbahaya pada anak contohnya kejang. Kejang di usia anak dapat menyebabkan kerusakan sel-sel di tubuh terutama sel otak. Kerusakan sel otak akan menjadi penyebab gangguan pertumbuhan anak (Purwanti & Maliya, 2008). Peran orang tua sangat berpengaruh dalam penatalaksanaan demam pada anak. Secara umum penatalaksaan demam adalah menggunakan obat golongan antipiretik. Akan tetapi pada pelaksanaannya masih terjadi kesalahan terhadap 1

2 penggunaan obat antipiretik. Kesalahan tersebut antara lain tentang cara pemberian, pemilihan dosis dan ketepatan indikasi obat (Soedibyo & Souvriyanti, 2006). Usaha yang telah ditempuh untuk mengurangi kesalahan dalam penatalaksanaan suatu penyakit salah satunya adalah dengan pemberian informasi kesehatan melalui penyuluhan. Metode penyuluhan yang sering di pakai adalah melalui ceramah dan video karena memiliki kelebihan mudah dilakukan dan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu pentingnya dilakukan penelitian tentang analisis tingkat efektivitas metode edukasi dengan melalui ceramah dan video kepada masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak dan mengetahui metode edukasi swamedikasi demam pada anak yang lebih efektif untuk masyarakat Kabupaten Sukoharjo. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. Bagaimanakah tingkat pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak? 2. Bagaimanakah tingkat efektivitas metode edukasi ceramah dan video kepada masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak? 3. Metode edukasi swamedikasi demam pada anak manakah yang lebih efektif untuk masyarakat Kabupaten Sukoharjo? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak. 2. Mengetahui tingkat efektivitas metode edukasi ceramah dan video kepada masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak.

3 3. Mengetahui metode tentang swamedikasi demam pada anak yang lebih efektif untuk masyarakat Kabupaten Sukoharjo. D. Tinjauan Pustaka 1. Demam a. Epidemiologi Demam Beberapa kondisi yang menyebabkan demam adalah terjadinya infeksi dan peradangan dengan kata lain demam dapat dikatakan sebagai gejala dari sebuah penyakit ataupun sebagai respon terjadinya peradangan. Demam dapat menyerang semua usia dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda (Purwanti & Maliya, 2008). Dibandingkan dengan dewasa, demam anak usia dibawah 5 tahun memiliki resiko terjadinya kejadian yang lebih berbahaya seperti kejang. Kejang muncul sebagai akibat dari demam yang tidak terkontrol dengan baik. Dalam praktek sehari-hari orangtua sering cemas bila anaknya mengalami kejang, karena setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada otak sehingga diperlukan tindakan yang cepat dan tepat untuk mengatasi kondisi demam agar tidak menimbulkan kondisi yang lebih parah (Deliana, 2002). b. Patofisiologi demam Demam merupakan tanda adanya kenaikan pengaturan suhu normal di hipotalamus akibat infeksi atau adanya ketidakseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas. Kenaikan suhu pada infeksi tidak selalu merugikan, karena aliran darah makin cepat sehingga makanan dan oksigenasi makin lancar.tetapi kalau suhu terlalu tinggi (di atas 38,5ºC) tubuh mulai merasa tidak nyaman, aliran darah cepat, jumlah darah untuk mengaliri organ vital (otak, jantung, paru) bertambah, sehingga volume darah ke organ gerak berkurang, akibatnya ujung tangan dan kaki terasa dingin (Ismoedijanto, 2000). 2. Swamedikasi Swamedikasi adalah prilaku pengobatan penyakit ringan yang dilakukan sendiri. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yang sering dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain (Depkes, 2006).

4 Swamedikasi merupakan penggunan obat dalam mengatasi masalah tanpa bantuan tenaga medis dan tidak ada intervensi atau nasehat dari dokter. Terdapat hubungan antar tingkat pengetahuan, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan dengan perilaku dalam melakukan swamedikasi. Yang paling berpengaruh dalam melakukan swamedikasi adalah tingkat pendidikan (Kristina et al., 2008). Keuntungan swamedikasi adalah efektif menghilangkan keluhan (karena 80% keluhan sakit bersifat self limiting) mengurangi biaya, menghemat waktu. Dalam melakukan swamedikasi penggunaan obat harus sesuai dengan aturan dan kondisi penderita. Aspek yang harus diperhatikan dalam memilih obat adalah ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada tidaknya kontraindikasi, efek samping dan interaksi obat dan makanan. Sering kali swamedikasi menjadi sangat boros karenamengkonsumsi obat-obatan yang tidak diperlukan untuk mengatasi keluhan atau penyakit. Hal ini dapat menimbulkan masalah baru atau menjadi berbahaya (Kristina et al., 2008). 3. Swamedikasi demam Secara umum tahapan swamedikasi dibagi menjadi tiga bagian (Kemenkes & IAI, 2011). a. Pengkajian masalah Pengkajian masalahkesehatan pasien berdasarkan keluhan pasien dan gejala yang timbul pada pasien. Gejala yang timbul saat demam adalah: 1) Bernapas bertambah cepat 2) Leher bagian belakang terasa kaku 3) Ruam kulit / bintik-bintik merah pada kulit 4) Bengkak memerah pada kulit kadang timbul nanah (selulitis) 5) Cairan keluar dari telinga atau hidung (mimisan) 6) Pucat pada telapak tangan, bibir, dan mata 7) Nyeri sendi atau anggota gerak 8) Nyeri saat bagian tubuh ditekan

5 b. Pemilihan obat yang tepat (Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas dan Obat Wajib Apotek) Setelah kita mengetahui bahwa anak menderita demam, sebaiknya segera melakukan swamedikasi dengan memberi obat yang tepat untuk demam dan sesuai dengan cara pakai dan dosis. Pilihan obat yang dapat diberikan untuk mengatasi demam pada anak adalah parasetamol, ibuprofen dan asetosal. 1) Parasetamol Parasetamol merupakan pilihan pertama untuk mengatasi demam pada anak karena parasetamol memiliki khasiat penurun demam yang baik dan efek samping yang paling kecil. Contoh nama merknya adalah : Sanmol dan Pamol. Aturan pakai parasetamol sebagai berikut (ISO, 2014) : a) Bayi : 0 3 bulan : 40 mg (0,4 ml drop) sehari 3 4 kali 4 11 bulan : 60 mg (0,6 ml drop) sehari 3 4 kali 12 23 bulan : 80 mg (0,8 ml drop) sehari 3 4 kali b) Anak : 2 5 tahun : 120 mg (1 sendok takar) sehari 3 4 kali 6 12 tahun : 240 mg (2 sendok takar) sehari 3 4 kali c) Diatas 12 tahun : 500mg (1 tablet) sehari 3 4 kali 2) Ibuprofen Pilihan obat kedua pada demam anak adalah menggunakan ibuprofen. Ibuprofen hanya boleh digunakan untuk anak usia diatas 6 bulan. Aturan pakai Ibuprofen sebagai berikut: a) Bayi : 6 12 bulan : 25 mg (¼ sendok takar) sehari 3 4 kali sesudah makan. 12 24 bulan : 50 mg ( ½ sendok takar) sehari 3 4 kali sesudah makan. b) Anak-anak : 2 7 tahun : 100 mg (1 sendok takar) sehari 3 4 kali sesudah makan. c) Diatas 8 tahun : 200 mg (2 sendok takar atau 1 tablet) sehari 3 4 kali sesudah makan.

6 3) Asetosal Obat pilihan yang ketiga adalah asetosal. Aspirin merupakan obat penurun demam yang dianjurkan untuk anak usia diatas 6 tahun. Karena penggunaan aspirin untuk anak usia kurang dari 6 tahun bisa menyebabkan Sindrom Reye. Contoh nama merknya adalah Inzana dan Bodrexin. Aturan pakai aspirin adalah : Anak 6 12 tahun : 3 tablet 3 4 kali sehari (ISO, 2014). c. Penentuan waktu merujuk pada lembaga kesehatan lain Apabila demam pada anak sudah dilakukan swamedikasi menggunakan obat tetapi belum terjadi penurunan suhu tubuh selama 3 hari, maka perlu segera dibawa atau dirujuk ke lembaga layanan kesehatan. Seperti puskesmas atau rumah sakit terdekat. 4. Edukasi Edukasi adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada masyarakat, suatu kelompok atau individu. Edukasi bertujuan supaya masyarakat, kelompok atau individu mendapatkan pengetahuan atau informasiyang baru dan benar. Sehingga diharapkan dengan edukasi bisa merubah atau menambah tingkat pengetahuan dan pemahaman dari objek edukasi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses edukasi diperlukan persiapan dan kelengkapan yang memadai. Kelengkapan dalam sebuah proses edukasi meliputi materi, alat bantu edukasi atau alat peraga dan penyampai materi edukasi itu sendiri (Notoatmodjo, 2003). Dalam proses edukasi bisa melalui berbagai macam metode dan media, salah satunya dengan metode ceramah atau oral. Metode ceramah adalah suatu cara menyajikan materi edukasi dengan lisan langsung kepada objek edukasi, baik kelompok ataupun individu. Metode ini paling sering digunakan karena mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dari metode yang lain. Kelebihan metode ini adalah mudah dilakukan, materi yang diberikan lebih luas, bisa menonjolkan satu satu pokok atau intinya dan tidak memerlukan persiapan yang sulit. Tetapi disisi lain mempunyai kekurangan seperti penyaji cenderung ingin menyampaikan bahan yang sebanyak-banyaknya, dan jika penyaji tidak memperhatikan

7 psikologis pendengarnya ceramah bisa bersifat melantur dan membosankan (Sanjaya, 2010). Metode yang kedua adalah melalui video, kelebihan metode ini adalah bisa menarik perhatian dan membuat audien menjadi terbawa dalam suasana, dapat diberikan kepada kelompok besar, kelompok kecil maupun perorangan. Namun memiliki kekurangan membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatan dan biaya yang lebih mahal di banding metode lain, audien terkadang kurang memahami animasi atau gambar-gambar bergerak dalam video (Rukhiyanto, 2013). Tujuan pendidikan kesehatan sendiri adalah untuk mengubah perilaku individu, kelompok, dan masyarakat menuju hal-hal yang lebih baik melalui proses belajar. Ada hal-halyang bisa menunjukkan perubahan perilaku melalui proses pendidikan, diantaranya mencakup tiga aspek perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sebuah perilaku yang sehat dapat berupa emosi yang stabil dan positif, pengetahuan yang baik, pikiran yang jernih, selanjutnya perilaku tersebut diaplikasikan secara nyata oleh tiap-tiap individu dalam lingkungan keluarga, kelompok, dan masyarakat (Mubarak dan Chayatin 2009). 5. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia yang dapat diperoleh dari proses pendidikan. Pengetahuan dapat diterima melalui pancaindra, namun yang paling dominan adalah indra penglihatan dan pendengaran (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pendidikan yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku pola hidup seseorang terutama dalam upaya untuk berperan dalam pembangunan kesehatan. Semakin tinggi tinggi pendidikan seseorang maka akan mendukung semakin luasnya pengetahuan tentang kesehatan, sehingga meningkatkan kesadaran hidup sehat (Notoatmodjo, 2002). E. Landasan Teori Metode ceramah adalah suatu cara menyajikan materi edukasi dengan lisan langsung kepada responden. Metode ini paling sering digunakan karena mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dari metode yang lain. Kelebihan metode

8 ini adalah mudah dilakukan, materi yang diberikan lebih luas, bisa menonjolkan satu satu pokok atau intinya dan tidak memerlukan persiapan yang sulit. Disisi lain mempunyai kekurangan seperti penyaji cenderung ingin menyampaikan bahan yang sebanyak-banyaknya, dan jika penyaji tidak memperhatikan psikologis pendengarnya ceramah bisa bersifat melantur dan membosankan (Sanjaya, 2010). Penelitian pengetahuan responden tentang anemia menunjukkan perbedaan pengetahuan responden yang signifikan sebelum dan sesudah memperoleh edukasi ceramah (Widyaningsih, 2009). Pengetahuan responden tentang swamedikasi jerawat juga meningkat setelah responden memperoleh edukasi (Supada, 2013). Hal ini membuktikan metode edukasi melalui ceramah efektif meningkatkan pengetahuan responden. Metode edukasi video, kelebihan metode ini adalah bisa menarik perhatian dan membuat audien menjadi terbawa dalam suasana, dapat diberikan kepada kelompok besar, kelompok kecil maupun perorangan. Namun memiliki kekurangan membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatan dan biaya yang lebih mahal dibanding metode lain, audien terkadang kurang memahami animasi atau gambar-gambar bergerak dalam video (Rukhiyanto, 2013). Penelitian terhadap responden tentang pengetahuan HIV/AIDS sebelum dan sesudah memperoleh edukasi menunjukan perbedaan pengetahuan yang signifikan. Pengetahuan responden tentang HIV/AIDS meningkat setelah memperoleh edukasi video (Saputra, 2011). Peningkatan pengetahuan responden tentang sikap terhadap inisiasi menyusui dini juga terjadi setelah responden memperoleh edukasi melalui video (Zulkarnain et al, 2009). Hal ini membuktikan metode edukasi melalui video juga efektif meningkatkan pengetahuan responden. F. Hipotesis Metode edukasi melalui ceramah dan video efektif mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo tentang swamedikasi demam pada anak. Metode edukasi melalui ceramah merupakan metode yang lebih efektif sehingga diharapkan mampu menghasilkan peningkatan pengetahuan masyarakat

9 Kabupaten Sukoharjo yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode edukasi video dinilai dari kelebihan dan kekurangan masing-masing metode edukasi.