BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali tidak dapat diimplemetasikan secara optimal, karena

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Umum 1.2 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Banjir merupakan aliran air di permukaan tanah ( surface run-off) yang

BAB I PENDAHULUAN. dialami masyarakat yang terkena banjir namun juga dialami oleh. pemerintah. Mengatasi serta mengurangi kerugian-kerugian banjir

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur

BAB I PENDAHULUAN. Danau Toba merupakan hulu dari Sungai Asahan dimana sungai tersebut

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah tentang air merupakan masalah yang dihadapi manusia apabila

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. juga tidak luput dari terjadinya bencana alam, mulai dari gempa bumi, banjir,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan air memungkinkan terjadinya bencana kekeringan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2016 EVALUASI LAJU INFILTRASI DI KAWASAN DAS CIBEUREUM BANDUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses pengangkutan dan pengendapan sedimen tidak hanya tergantung pada

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga

KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE

commit to user BAB I PENDAHULUAN

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

BAB I PENDAHULUAN. pesat pada dua dekade belakangan ini. Pesatnya pembangunan di Indonesia berkaitan

PENGARUH PENURUNAN KAPASITAS ALUR SUNGAI PEKALONGAN TERHADAP AREAL HUNIAN DI TEPI SUNGAI TUGAS AKHIR

I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mempunyai

Gambar 1.1 DAS Ciliwung

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sebagai akibat akumulasi beberapa faktor yaitu: hujan, kondisi sungai, kondisi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. karena curah hujan yang tinggi, intensitas, atau kerusakan akibat penggunaan lahan yang salah.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ,

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. sebagai sebuah pulau yang mungil, cantik dan penuh pesona. Namun demikian, perlu

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemampuan manusia dalam menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan

OPINI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PENGELOLAAN SUNGAI DI DAERAH HILIR SUNGAI BERINGIN KOTA SEMARANG

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BONAI KABUPATEN ROKAN HULU MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROGRAF SATUAN NAKAYASU. S.H Hasibuan. Abstrak

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun

DAS SUNGAI SIAK PROVINSI RIAU

BAB I PENDAHULUAN. yaitu Sub DAS Kayangan. Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Kayangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. air. Kota Medan dilintasi oleh beberapa sungai termasuk diantaranya Sungai Sei

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai merupakan salah

BAB III GAMBARAN UMUM KECAMATAN GUNUNGPATI

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung yang berada dibagian selatan Pulau Sumatera mempunyai alam

BAB I PENDAHULUAN. dengan yang lain, yaitu masing-masing wilayah masih dipengaruhi oleh aktivitas

NORMALISASI SUNGAI RANTAUAN SEBAGAI ALTERNATIF PENANGGULANGAN BANJIR DI KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK

BAB I PENDAHULUAN. penggunaan lahan untuk pembangunan berbagai sektor berbasis lahan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Seminar Lokakarya Nasional Geografi di IKIP Semarang Tahun

BAB I PENDAHULUAN. bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.

BAB I PENDAHULUAN. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Di SUB DAS CIRASEA

I. PENDAHULUAN. dan moril. Salah satu fungsi pemerintah dalam hal ini adalah dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN Uraian Umum

BAB I PENDAHULUAN. topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung air hujan

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi dan pusat pembangunan di Provinsi Sumatera Utara yang

PEMODELAN SPASIAL BANJIR LUAPAN SUNGAI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH DI DAS BODRI PROVINSI JAWA TENGAH

PENGEMBANGAN MODEL SIG UNTUK MENENTUKAN RUTE EVAKUASI BENCANA BANJIR (Studi Kasus: Kec. Semarang Barat, Kota Semarang) TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Banjir merupakan fenomena lingkungan yang sering dibicarakan. Hal ini

PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN DAN PELESTARIAN AIR DI LINGKUNGANNYA (Studi kasus di Daerah Aliran Sungai Garang, Semarang) Purwadi Suhandini

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

DINAS PENGAIRAN Kabupaten Malang Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN ARHAM BAHTIAR A L2A PRIYO HADI WIBOWO L2A

AIR Banjir dan Permasalahannya Di kota medan

PEMBUATAN PETA TINGKAT KERAWANAN BANJIR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI TINGKAT KERUGIAN AKIBAT BENCANA BANJIR 1 Oleh : Rahardyan Nugroho Adi 2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan erosi geologi atau geological erosion. Erosi jenis ini tidak berbahaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pemintakatan Risiko Bencana Banjir Bandang di Kawasan Sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) merupakan kesatuan hidrologi yang kompleks dan terdiri dari berbagai komponen. Komponen-komponen tersebut terdiri atas manusia, iklim, tanah, dan penggunaan lahan (Arsyad, 1989; Wang et al., 2016). Tiap-tiap komponen saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain membentuk suatu sistem (Asdak, 2014). Interaksi antar komponen-komponen alami tersebut berpengaruh pada keseimbangan ekosistem suatu DAS (Suripin, 2004a; Kodoatie, 2008; Asdak, 2014). Keseimbangan ekosistem DAS sangat dipengaruhi oleh perencanaan pengelolaan khususnya perencanaan tata ruang yang dilakukan oleh manusia (Maryono, 2005; Asdak, 2014; Taufik et al., 2015). Oleh karena itu, perencanaan pengelolaan DAS harus dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan dan mempertimbangkan sinergi antar sektor karena batas DAS selalu tidak selaras dengan batas administrasi (Kodoatie, 2008; Asdak, 2014; Wang et al., 2016). Dilihat dari jumlah DAS yang termasuk dalam kategori kritis, perencanaan pengelolaan DAS yang telah dilakukan di Indonesia hingga saat ini belum menunjukan hasil yang optimal (Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No:328/Kpts-II/2009). DAS yang termasuk dalam kategori kritis memiliki beragam permasalahan lingkungan dengan frekuensi dan kecenderungan yang semakin meningkat. Banjir luapan sungai merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sering terjadi di beberapa DAS di Indonesia (Marfai et al., 2008). Banjir luapan sungai sebagian besar melanda DAS Comal hilir. Banjir akan disebut sebagai bahaya apabila sudah mengganggu aktivitas manusia dan bahaya banjir bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga merupakan fenomena sosial-ekonomi (Yusuf, 2005; Leimona et al., 2015). Banjir pada dasarnya disebabkan oleh faktor hujan, faktor hancurnya retensi DAS, faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan 1

2 faktor kesalahan tata wilayah serta pembangunan sarana prasarana (Maryono, 2005; Tingsanchali, 2011; Kusumastuti et al., 2015). Tata ruang yang kurang tidak sesuai dengan fungsi kawasan akan menganggu fungsi DAS dan berpengaruh pada kuantitas serta kualitas tata air DAS (Suripin, 2004a; Asdak, 2014; Butt et al., 2015; Leimona et al., 2015). Persepsi umum yang berkembang pada saat ini adalah konversi hutan menjadi lahan pertanian dan penggunaan lahan terbangun mengakibatkan penurunan keseimbangan DAS dan menyebabkan bencana terjadi (Marfai et al., 2008; Tarigan, 2016). DAS Comal merupakan salah satu DAS di Provinsi Jawa Tengah yang secara administratif meliputi sebagian wilayah Kabupaten Pemalang dan sebagian wilayah Kabupaten Pekalongan. DAS Comal termasuk dalam kategori DAS kritis yang menjadi prioritas penanganan (Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No:059/Kpts-II/1970; No:124/Kpts-II/1984; No:284/Kpts-II/1999; No:328/Kpts- II/2009). Hasil evaluasi tersebut dapat diidentifikasi dari kejadian kekeringan, banjir, tanah longsor, tingginya erosi, limpasan permukaan dan peningkatan debit Sungai Comal setiap tahun. Kejadian banjir, tanah longsor dan kekeringan disajikan pada Gambar 1.1.

3 Gambar 1. 1. Kumpulan berita kejadian bencana alam di DAS Comal (Sumber: http://www.indosiar.com/fokus; http://www.jatengtime.com/2013; http://news.liputan6.com; http://www.pemalangkab.go.id/humas/) Hasil penelitian yang dilakukan oleh BP DAS Pemali Jratun menunjukan limpasan permukaan di DAS Comal hulu tergolong dalam kelas sangat tinggi dan ekstrim. Tingginya limpasan permukaan pada suatu DAS memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap peningkatan debit sungai (Suripin, 2004a; Kodoatie, 2008; Triatmodjo, 2010; Asdak, 2014). Sebaran kelas limpasan di DAS Comal disajikan pada Gambar 1.2. dan Gambar 1.3.

Gambar 1. 2. Peta Pemodelan Banjir Limpasan DAS Comal (http://www.bpdas-pemalijratun.net) 4

5 Gambar 1. 3. Grafik Kelas Limpasan DAS Comal pada Setiap Sub DAS Tahun 2013 (Sumber:http://www.bpdaspemalijratun.net/) Tingginya kelas limpasan di DAS Comal hulu juga mengindikasikan menurunnya retensi DAS dan tingginya erosi (Maryono, 2005). Kelas erosi tinggi menghasilkan material sedimentasi yang besar dan jika material tersebut terdeposisi di Sungai Comal akan menyebabkan pendangkalan dan berkurangnya kapasitas tampung sungai (Suripin, 2004a; Kodoatie, 2013; Asdak, 2014; Boudaghpour et al., 2014). Berkurangnya kapasitas tampung sungai dihadapkan dengan meningkatnya debit setiap tahun akan mengakibatkan banjir luapan sungai (Boudaghpour et al., 2014). Dalam jangka waktu 21 tahun terakhir debit rata-rata bulanan Sungai Comal memiliki tren yang terus meningkat (Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Pemalang, 2014). Debit Sungai Comal yang meningkat setiap tahun meningkatkan risiko banjir luapan Sungai Comal hilir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BP DAS Pemali Jratun menunjukan wilayah dengan tingkat kerawanan genangan sangat rawan dan rawan sebagian besar merupakan wilayah DAS Comal hilir yang meliputi 59 kelurahan/desa dari lima kecamatan di Kabupaten Pemalang. Data luas dan distribusi tingkat kerawanan banjir di DAS Comal disajikan pada Tabel 1.4. dan Gambar 1.5.

Gambar 1. 4. Peta hasil Pemodelan Banjir Genangan di DAS Comal Tahun 2013 (Sumber : (http://www.bpdas-pemalijratun.net/) 6

7 Gambar 1. 5. Grafik hasil Pemodelan Banjir Genangan di DAS Comal Tahun 2013 (Sumber:http://www.bpdaspemalijratun.net) Bencana banjir luapan Sungai Comal hilir merupakan fenomena alam yang terjadi hampir setiap tahun pada saat musim hujan tiba dan dapat dikategorikan sebagai bencana yang cukup serius karena telah menyebabkan banyak korban serta kerugian setiap tahunnya. Salah satu bencana banjir yang terparah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir terjadi pada Bulan Januari hingga Februari Tahun 2014. Berdasarkan data yang dicatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (DINSOSNAKERTRANS) Kabupaten Pemalang, banjir pada Tahun 2014 mengakibatkan ribuan penduduk mengungsi, puluhan hektar lahan pertanian terendam, ribuan rumah terendam 53 di antaranya rusak berat dengan rata-rata estimasi kerugian tiap rumah Rp 35.000.000,00 serta tiga jembatan di Desa Longkeyang putus. Data jumlah rumah dan penduduk terdampak banjir luapan Sungai Comal hilir Tahun 2014 disajikan pada Tabel 1.1.

8 Tabel 1. 1. Jumlah Rumah dan Penduduk Terdampak Banjir Luapan Sungai Comal Hilir Tahun 2014 No. Kelurahan/Desa Kecamatan Jumlah Rumah Jumlah Kepala Keluarga Jumlah Penduduk (jiwa) (Jiwa) 1 Samong Ulujami 197 139 589 2 Tasikrejo 926 1015 4060 3 Pesantren 1945 3982 9961 4 Mojo 2690 3636 12054 5 Limbangan 2898 2992 10748 6 Temuireng Petarukan 2 3 15 7 Longkeyang Bodeh 6 9 38 8 Muncang 4 6 28 9 Cibiyuk Ampelgading 91 137 548 10 Losari 439 584 1850 11 Ujunggede 402 490 1703 12 Jatirejo 250 300 550 13 Kebagusan 570 580 1740 14 Sidokare 550 689 2067 15 Blimbing 311 315 945 16 Purwoharjo Comal 442 446 1728 17 Tumbal 215 215 754 18 Purwosari 552 552 2156 19 Sikayu 132 132 610 20 Kauman 615 615 2460 21 Susukan 569 569 2276 22 Kebojongan 796 796 3491 23 Klegen 758 758 2817 24 Wonokromo 221 221 910 25 Gintung 304 304 1216 26 Sarwodadi 374 374 1496 Total 16259 19859 66810 Sumber : - BPBD Kabupaten Pemalang Tahun 2015 - DINSOSNAKERTRANS Kabupaten Pemalang Tahun 2015 Data-data tersebut menunjukan bahwa DAS Comal hilir secara sosial dan fisik sangat rentan terhadap bencana banjir luapan Sungai Comal hilir, sehingga wilayah tersebut juga berisiko terhadap banjir. Analisa risiko banjir luapan Sungai Comal hilir belum pernah dilakukan sehingga data tentang kejadian banjir luapan Sungai Comal hilir belum tersedia secara lengkap. Peta tingkat kerawanan banjir di DAS Comal hasil penelitian BPDAS Pemali-Jratun dalam skala kecil, sedangkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang disajikan sesuai wilayah administratif yaitu per kelurahan/desa, belum disajikan secara spasial dan spesifik pada area terdampak banjir. Wilayah terdampak banjir di DAS Comal berdasarkan data BPBD Kabupaten Pemalang disajikan pada Gambar 1.6.

9 Gambar 1. 6. Wilayah Terdampak Banjir Genangan di DAS Comal Tahun 2014 dan Tahun 2015 (Sumber: diolah dari data kejadian bencana di Kabupaten Pemalang, BPBD Kabupaten Pemalang) Hasil penelitian BPDAS Pemali-Jratun dan data bencana banjir dari BPBD Kabupaten Pemalang belum mencakup tahap analisis risiko yang rinci. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan data tingkat bahaya banjir, tingkat kerentanan banjir, tingkat risiko banjir yang rinci, serta menentukan arahan penataan ruang berbasis risiko banjir luapan Sungai Comal hilir. Peta yang dihasilkan merupakan peta distribusi tingkat bahaya banjir, tingkat kerentanan, tingkat risiko banjir serta peta arahan penataan ruang berbasis risiko banjir luapan Sungai Comal hilir dengan skala yang lebih besar dengan informasi yang lebih rinci. Informasi-informasi tersebut membutuhkan data-data yang cukup banyak dan memerlukan pengukuran dalam waktu yang relatif lama. Kesulitan yang dihadapi selain masalah waktu adalah ketersediaan data, belum tentu semua data yang dibutuhkan tersedia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka digunakan model Hydrologic Engineering Center-River Analysis Sistem (HEC-

10 RAS) dengan didukung ArcGIS 10.1 berekstensi HEC-GeoRAS untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Perumusan Masalah Aktivitas manusia khususnya dalam perencanaan tata ruang dan implementasinya yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan menyebabkan keseimbangan ekosistem DAS terganggu. Dampak dari terganggunya keseimbangan DAS Comal adalah terjadinya bencana alam. DAS Comal hilir termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang memiliki nilai strategis namun hampir setiap tahun mengalami kejadian banjir. DAS Comal hilir merupakan dataran aluvial yang subur dengan topografi yang relatif datar sehingga berkembang menjadi pusat pertumbuhan, pusat perdagangan, pertanian, budidaya perikanan tambak, permukiman serta merupakan jalur utama pantai utara. Banjir luapan Sungai Comal hilir selain menyebabkan kerugian fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan juga menyebabkan arus transportasi serta distribusi barang antar provinsi terganggu. Oleh karena itu, pengendalian banjir secara terintegrasi antar sektoral dan antar wilayah sangat diperlukan. Dalam penanganan banjir secara terintegrasi diperlukan berbagai macam data dan informasi pendukung. Informasi tersebut di antaranya karakteristik banjir yang selanjutnya digunakan sebagai dasar analisis tingkat bahaya banjir (flood hazards), tingkat kerentanan (flood vulnerability), tingkat risiko banjir (flood risk) dan arahan penataan ruang berbasis risiko banjir. Semua pertimbangan yang terdapat dalam latar belakang dan rumusan masalah mendasari rencana penelitian ini dengan judul Penataan Ruang Berbasis Risiko Bencana Banjir Luapan Sungai Comal Hilir di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Pertanyaan ilmiah yang diajukan yaitu : 1) bagaimana distribusi bahaya banjir luapan Sungai Comal Hilir? 2) bagaimana tingkat kerentanan terhadap banjir luapan Sungai Comal hilir? 3) bagaimana tingkat risiko banjir luapan Sungai Comal hilir? 4) bagaimana arahan penataan ruang berbasis tingkat risiko banjir luapan Sungai Comal hilir?

11 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang berjudul Penataan Ruang Berbasis Risiko Bencana Banjir Luapan Sungai Comal Hilir di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah antara lain: 1) Memetakan tingkat bahaya banjir luapan Sungai Comal Hilir 2) Mengkaji tingkat kerentanan terhadap banjir luapan Sungai Comal Hilir 3) Mengkaji tingkat risiko banjir banjir luapan Sungai Comal Hilir 4) Menentukan arahan penataan ruang berbasis tingkat risiko banjir luapan Sungai Comal Hilir Manfaat Penelitian Manfaat penelitian terkait pengembangan keilmuan antara lain : 1) Menyajikan informasi terkait dengan tingkat bahaya banjir, tingkat kerentanan, tingkat risiko banjir dan arahan penataan ruang berbasis risiko banjir banjir luapan Sungai Comal hilir, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. 2) Memberikan referensi pada bidang ilmu geografi terutama dalam aspek kebencanaan. 3) Memberikan rekomendasi kepada instansi terkait dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan terkait dengan kawasan rawan bencana banjir luapan sungai.