HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Indek Eritrosit (MCV, MCH, & MCHC)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memenuhi fungsinya untuk membawa O 2 dalam jumlah yang cukup ke

BAB I PENDAHULUAN. Tuak merupakan hasil sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren

I. PENDAHULUAN. progresif. Proses ini dikenal dengan nama menua atau penuaan (aging). Ada

BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu 3.2. Bahan dan Alat Persiapan dan pemeliharaan mencit

BAB I PENDAHULUAN. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

BAB 1 PENDAHULUAN. negara berkembang, termasuk. Riskesdas, prevalensi anemia di Indonesia pada tahun 2007 adalah

Hasil Perlakuan Dosis Akut Asap Divine Pada Mencit (Blood count dan Lineage Erytrocyte)

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Salah satu kondisi berbahaya yang dapat terjadi. pada ibu hamil adalah anemia.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat pada Tabel 5.

BAB I PENDAHULUAN. spermatozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam ras tipe pedaging yang umumnya dipanen

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Rata-rata peningkatan jumlah eritrosit. Jumlah eritrosit darah (juta/ mm 3 ) ulangan ke

BAB I PENDAHULUAN. kurang dari angka normal sesuai dengan kelompok jenis kelamin dan umur.

BAB I PENDAHULUAN. asap dan ditelan, terserap dalam darah, dan dibawa mencapai otak, penangkap pada otak akan mengeluarkan dopamine, yang menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan gagalnya pertumbuhan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibu hamil merupakan penentu generasi mendatang, selama periode kehamilan ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Jumlah Sel Darah Merah. dapat digunakan untuk menilai kondisi kesehatan ternak.

BAB I PENDAHULUAN. kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler. mengenai organ lain kecuali susunan saraf pusat.

BAB 1 PENDAHULUAN. masa kehamilan. Anemia fisiologis merupakan istilah yang sering. walaupun massa eritrosit sendiri meningkat sekitar 25%, ini tetap

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Indonesia. Pertama, kurang energi dan protein yang. kondisinya biasa disebut gizi kurang atau gizi buruk.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Viskositas darah didefinisikan sebagai kontribusi faktor reologik darah terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak. perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja dalam masyarakat.

PENDAHULUAN. adalah Timbal (Pb). Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan

BAB I PENDAHULUAN. Teh sarang semut merupakan salah satu jenis teh herbal alami yang terbuat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rataan volume urin (ml) kumulatif tikus percobaan pada setiap jam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (cairan darah) dan 45% sel-sel darah.jumlah darah yang ada dalam tubuh sekitar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. berbagai negara, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di. dibandingkan dengan laki-laki muda karena wanita sering mengalami

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiasi Ionisasi Efek Radiasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan rekayasa genetik dari bangsa-bangsa ayam dengan produktivitas tinggi,

I PENDAHULUAN. peternakan. Penggunaan limbah sisa pengolahan ini dilakukan untuk menghindari

BAB I PENDAHULUAN. sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuabaet al., 2012).

BAB I PENDAHULUAN. Kasus anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih sering

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Ketersediaan kantong darah di Indonesia masih. sangat kurang, idealnya 2,5% dari jumlah penduduk untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010

BAB I PENDAHULUAN. generasi sebelumnya di negara ini. Masa remaja adalah masa peralihan usia

GAMBARAN INDEKS ERITROSIT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU

B A B I PENDAHULUAN. pembangunan dalam segala bidang. Pertumbuhan ekonomi yang baik,

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Karakteristik Kucing

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Sukoharjo yang beralamatkan di jalan Jenderal Sudirman

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

HASIL. Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Pertumbuhan Koloni S. rolfsii secara In Vitro A B C

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

PENGARUH AIR KELAPA MUDA (Cocos nucifera L.) VARIETAS MACROCORPU TERHADAP KONDISI HEMATOLOGI MENCIT (Mus musculus) GALUR BALB C

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Variabel pertumbuhan yang diamati pada eksplan anggrek Vanda tricolor

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Central RSUP Dr. Kariadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi dan klasifikasi Gagal Ginjal Kronik. 1. Gangguan fungsi ginjal ditandai dengan adanya penurunan laju filtrasi

SISTEM PEMBULUH DARAH MANUSIA. OLEH: REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

BAB I PENDAHULUAN. yaitu radiasi UV-A ( nm), radiasi UV-B ( nm), dan radiasi UV-C

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

HASIL DAN PEMBAHASAN. Jumlah dan Bobot Folikel Puyuh Rataan jumlah dan bobot folikel kuning telur puyuh umur 15 minggu disajikan pada Tabel 5.

I. PENDAHULUAN. Infertilitas adalah ketidak mampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya

Ilmu Pengetahuan Alam

BAB I PENDAHULUAN. Monosodium glutamate (MSG) adalah garam natrium dari asam. glutamat (glutamic acid). MSG telah dikonsumsi secara luas di seluruh

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kemampuan otot dan sistem kardiorespiratori dalam

I PENDAHULUAN. banyak peternakan yang mengembangkan budidaya puyuh dalam pemenuhan produksi

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia lanjut (Depkes RI, 2001). mineral. Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI 1998

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

BAB I PENDAHULUAN. persenyawaan heme yang terkemas rapi didalam selubung suatu protein

Transkripsi:

26 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 MCV (Mean Corpuscular Volume) Nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) menunjukkan volume rata-rata dan ukuran eritrosit. Nilai normal termasuk ke dalam normositik, nilai di bawah normal termasuk ke dalam mikrositik dan nilai di atas normal disebut makrositik (Thrall 2004). Nilai MCV darah mencit berdasarkan kelompok perlakuan dan total radiasi sebagaimana pada Tabel 5. Tabel 5 Nilai MCV darah perifer mencit pada setiap kelompok total radiasi radiodiagnostik berulang dan setelah pemulihan selama 30 hari. Waktu (minggu) Total Radiasi (msv) n Jumlah (%) Kelompok Perlakuan K- K+ R- R+ MCV (fl) p=0 0 0 3 Ra 56.11± abc 56.11± abc 56.11± abc 56.11± abc 0-2 1.7 3 Ra 68.41±8.11 ef 61.37±5.31 bcdef 53.13±2.72 ab 57.58±9.91 abcd 2-4 2.9 3 Ra 60.98±6.92 bcdef 53.94±2.18 abc 61.10±5.37 bcdef 57.62±9.42 abcd Ra 4.17-1.97 4.26 1.33 4-8 Rec 2.9 3 Ro 59.76±1.92 bcde 53.54±2.37 abc 56.45±6.68 abc 51.68±3.62 ab Ro -1.86-1.28-6.45 2.06 4-6 4.1 3 Ra 58.75±5.51 abcd 52.56±4.17 ab 53.69±4.13 abc 60.04±6.37 bcde 6-8 5.3 3 Ra 63.04±6.56 cdef 57.76±3.22 abcd 70.08±3.65 f 66.10±2.49 def Ra 5.28 1.45 11.08 8.17 8-12 Rec 5.3 3 Ro 52.38±5.20 ab 59.52±4.00 bcde 49.05±3,59 a 54.82±7.29 abc Ro -9.22 1.50-17.66-9.33 Keterangan: huruf yang sama pada baris dan kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05). K- = pemberian NaCl fisiologis 0.9% tanpa paparan radiasi; K+= pemberian NaCl fisiologis 0.9% dengan paparan radiasi; R-= pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; R+ = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; Ra = nilai parameter setelah perlakuan; Ro = nilai parameter setelah pemulihan; Ro = perubahan setelah pemulihan; Ra = perubahan setelah radiasi; n= jumlah mencit; Rec 2.9= masa pemulihan 2.9 msv; Rec 5.3= masa pemulihan 5.3 msv. Nilai MCV pada semua kelompok perlakuan minggu ke-0 adalah normal, namun pada kelompok R+ setelah menerima total radiasi 5.3 msv pada minggu ke-6 melebihi 61.5 fl sebagai ambang normal MCV (Thrall 2004; Raskin & Wadrop 2010). Radiasi total 2.9 msv pada minggu ke-4 menyebabkan peningkatan nilai MCV sebesar 53.94 fl pada kelompok K+ dan 57.62 fl pada kelompok R+. Radiasi yang lebih besar pada minggu ke-8 dengan total radiasi 5.3 msv menyebabkan peningkatan 57.76 fl pada kelompok K+ dan 66.10 fl pada kelompok R+ sebagaimana pada Tabel 5 dan Gambar 11 A.

27 A 8 0 1.7 2.9 4.1 0 5.3 0 Nilai MCV (fl) 7 6 5 4 0 0 2 2 4 4 6 4 8 6 8 8 12 Waktu (minggu) B 1 Persentase MCV (%) 5.00 5.00 1 2 4 Waktu (minggu) 6 8 C 1 Persentase MCV (%) 1 2 3 2 4 Waktu (minggu) 6 8 Gambar 11 A. Persentase MCV darah perifer mencit terhadap radiodiagnostik berulang; B. Persentase MCV setelah perlakuan; C. Persentase MCV setelah pemulihan 30 hari. (K-) = pemberian NaCl fisiologis tanpa paparan radiasi; (K+) = pemberian NaCl fisiologis dengan paparan radiasi; (R-) = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; (R+) = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; = nilai normal MCV 42.3-55.15 fl (Thrall 2004). Nilai MCV kelompok R- dengan pemberian ekstrak rosela mengalami peningkatan sebesar 61.10 fl, sedangkan pada kelompok K- mengalami peningkatan sebesar 60.98 fl pada minggu ke-4 dibandingkan dengan nilai MCV sebelum perlakuan. Nilai MCV pada minggu ke-8 mengalami peningkatan pada

28 kelompok R- hingga 66.10 fl, sedangkan pada kelompok K- hanya mengalami peningkatan sebesar 63.04 fl. Nilai MCV setelah masa pemulihan dari total radiasi 2.9 msv menyebabkan penurunan sebanyak 1.28 % pada kelompok K+ dan peningkatan 2.06 % pada kelompok R+. Setelah pemulihan total radiasi 5.3 msv menyebabkan penurunan nilai MCV sebanyak 1.50 % pada kelompok K+ dan penurunan 9.33 % pada kelompok R+. Hasil analisa secara statistik menunjukkan nilai MCV terhadap kelompok perlakuan dan waktu berbeda nyata (p<0.05). Paparan radiasi dosis total 2.9 msv menyebabkan nilai MCV K+ menurun dari sebelum perlakuan, akan tetapi nilai ini masih berada dalam kisaran normal sedangkan nilai kelompok R+ meningkat dari sebelum perlakuan dan hal ini melebihi kisaran nilai normal MCV (Gambar 11A). Total radiasi 5.3 msv nilai MCV pada kelompok K+ dan R+ mengalami peningkatan, namun nilai MCV kelompok R+ melebihi kelompok K+, nilai ini melebihi kisaran normal (42.3-55.15 fl). Setelah pumulihan 30 hari dari radiasi total 5.3 msv nilai MCV kelompok R+ dapat kembali normal akan tetapi nilai MCV kelompok K+ masih berada di atas nilai normal. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol rosela dapat mengurangi kerusakan akibat radiasi ionisasi sinar-x. Nilai MCV di atas normal pada kelompok K+ dan R+ disebut juga dengan anemia makrositik. Hal ini terjadi karena hasil dari penghambatan sintesis DNA dalam produksi sel darah merah. Ketika sintesis DNA terganggu, maka siklus sel tidak dapat berkembang dari tahap pertumbuhan (G2) ke tahap mitosis (M) (Rumsey et al. 2007). Hal ini menyebabkan pertumbuhan sel terus tanpa pembagian dan terlihat sebagai anemia makrositik. Dalam penelitian ini diduga yang menyebabkan gangguan pada sintesis DNA adalah radiasi ionisasi. Cacat dalam sintesis DNA sel darah merah paling sering disebabkan oleh hypovitaminosis, khususnya kekurangan vitamin B 12 dan atau asam folat (Aslinia et al. 2006; Burgess 2012). Pada anemia makrositik biasanya sel darah merah yang belum matang di lepaskan oleh sumsum tulang ke sirkulasi untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat (Rizwi 2010).

29 4.2 Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) Nilai Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) menggambarkan rata-rata jumlah hemoglobin di dalam eritrosit. Nilai MCH pada semua kelompok pada waktu pemulihan dan perlakuan radiasi yang berbeda menunjukkan hasil yang fluktuatif dan masih berada pada rentang nilai normal yaitu 13.7-18.1 pg (Thrall 2004). Setelah radiasi 2.9 msv menyebabkan peningkatan sebesar 6.82 % pada kelompok R+, sedangkan pada kelompok K+ mengalami peningkatan sebesar 7.36 %. Setelah radiasi yang lebih tinggi 5.3 msv pada minggu ke-8 menyebabkan peningkatan nilai MCH sebanyak 7.75 % pada kelompok K+ dan 15.50 % pada kelompok R+. Nilai MCH kelompok K+ menurun 1.60 % dan nilai MCH kelompok R+ mengalami peningkatan sebesar 3.30 % setelah masa pemulihan total radiasi 2.9 msv. Namun setelah masa pemulihan 30 hari total radiasi 5.3 msv nilai MCH kelompok K+ meningkat 1.22 msv sedangkan nilai MCH kelompok R+ terjadi penurunan 8.21 % sebagaimana Tabel 6 dan Gambar 12. Tabel 6 Nilai MCH darah perifer mencit pada setiap kelompok total radiasi radiodiagnostik berulang dan setelah pemulihan selama 30 hari. Waktu (minggu) Total Radiasi (msv) n Jumlah (%) Kelompok Perlakuan K- K+ R- R+ MCH (pg) p=0 0 0 3 Ra 15.30± a 15.30± a 15.30± a 15.30± a 0-2 1.7 3 Ra 24.08±5.85 e 18.16±1.84 abcd 15.87±1.25 a 16.88±3.93 ab 2-4 2.9 3 Ra 21.38±4.38 cde 17.74±1.31 abcd 18.68±2.05 abcd 17.55±2.26 abcd Ra 16.55 7.36 9.92 6.82 4-8 Rec 2.9 3 Ro 19.30±0.95 abcd 16.56±0.94 a 18.14±2.59 abcd 16.29±0.62 a Ro -6.77-1.60-9.91 3.30 4-6 4.1 3 Ra 18.66±1.22 abcd 17.18±1.54 abc 15.31±3.83 a 18.74±2.04 abcd 6-8 5.3 3 Ra 19.63±1.80 abcd 17.88±0.59 abcd 21.75±1.46 de 20.92±0.28 bcde Ra 12.37 7.75 17.39 15.50 8-12 Rec 5.3 3 Ro 16.80±1.80 ab 18.32±0.73 abcd 15.60±1.94 a 17.75±1.96 abcd Ro -7.77 1.22-16.45-8.21 Keterangan: huruf yang sama pada baris dan kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05). K- = pemberian NaCl fisiologis 0.9% tanpa paparan radiasi; K+ = pemberian NaCl fisiologis 0.9% dengan paparan radiasi; R- = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; R+ = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; Ra = nilai parameter setelah perlakuan; Ro = nilai parameter setelah pemulihan; Ro = perubahan setelah pemulihan; Ra = perubahan setelah radiasi; n= jumlah mencit; Rec 2.9= masa pemulihan 2.9 msv; Rec 5.3= masa pemulihan 5.3 msv.

30 A 24.00 0 1.7 2.9 4.1 0 5.3 0 Nilai MCH (pg) 21.00 18.00 15.00 12.00 0 0 2 2 4 4 6 2 8 4 8 8 12 Waktu (minggu) B 2 Persentase MCH (%) 15.00 1 5.00 2 4 Waktu (minggu) 6 8 C 15.00 Persentase MCH (%) 5.00 5.00 15.00 25.00 2 4 Waktu (minggu) 6 8 Gambar 12 A. Persentase MCH darah perifer mencit terhadap radiodiagnostik berulang; B. Persentase MCH setelah perlakuan; C. Persentase MCH setelah pemulihan 30 hari. (K-) = pemberian NaCl fisiologis tanpa paparan radiasi; (K+) = pemberian NaCl fisiologis dengan paparan radiasi; (R-) = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; (R+) = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; = nilai normal MCH 13.7-18.1 pg (Thrall 2004). Setelah minggu ke-4 menyebabkan penurunan nilai MCH sebesar 6.67 % pada kelompok K- dan 9.91 % pada kelompok R-. Pada minggu ke-8 nilai MCH kelompok K- mengalami penurunan 7.77 % dan R- mengalami penurunan 16.45 % sebagaimana dalam Tabel 6 dan Gambar 12C.

31 Nilai MCH berhubungan dengan kosentrasi hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Konsentasi hemoglobin di dalam darah dipengaruhi oleh volume darah, jika volume berkurang akan menyebabkan berkurangnya hemoglobin. Selain itu, gangguan penyerapan besi pada sistem pencernaan juga dapat menyebabkan berkurangnya hemoglobin. Nilai MCH kelompok K+ dan R+ setelah radiasi total 2.9 msv terlihat hampir sama, namun setelah radiasi total 5.3 msv nilai MCH kelompok R+ lebih tinggi dari K+. Hal ini disebabkan oleh kandungan antioksidan ekstrak etanol rosela yang dapat menetralkan kerusakan akibat radiasi ionisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Noviana et al. (2010) menunjukkan radiasi yang lebih rendah yaitu 0.2 msv dari radiodiagnostik berulang pada mencit tidak memberikan efek pada parameter sel darah merah. Dosis mengindikasikan komponen darah mungkin mengalami kerusakan setelah paparan sinar-x. 4.3 Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) Nilai Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) merupakan nilai yang diperoleh dari nilai hemoglobin dan konsentrasi eritrosit. Nilai MCHC menunjukkan konsentrasi hemoglobin di dalam 100 ml eritrosit. Hemoglobin berperan dalam memelihara fungsi transpor oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Zat besi merupakan zat yang dibutuhkan dalam pembentukan heme untuk menyusun hemoglobin. Gangguan dalam penyerapan zat besi mengakibatkan kurangnya unsur besi dalam peredaran darah sehingga menurunkan jumlah hemoglobin (Kemuning 2010). Nilai MCHC mencit berdasarkan kelompok perlakuan terhadap kelompok total radiasi dan fase pemulihan dapat dilihat pada Tabel 7. Nilai MCHC terhadap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 13A. Nilai MCHC setelah perlakuan pada minggu ke 4 yaitu K- 32.29%, K+ 30.91%, R- 32.09% dan R+ 31.59%. Nilai ini berada dalam kisaran normal (Thrall 2004). Begitu juga pada minggu ke-8, nilai MCHC pada kelompok K- 32.40 %, kelompok K+ 30.82 %, kelompok R- 31.73 %, dan R+ 32.48 %. Radiasi 2.9 msv pada minggu ke-4 menyebabkan peningkatan nilai MCHC sebesar 9.28% pada kelompok K+ dan peningkatan 6.28% pada kelompok R+ dari

32 nilai sebelum perlakuan. Radiasi yang lebih besar pada minggu ke-8 yaitu total radiasi 5.3 msv menyebabkan peningkatan nilai MCHC sebesar 6.35% pada kelompok K+ dan peningkatan 7.45% pada kelompok R+ sebagaimana pada Tabel 7 dan Gambar 13B. Tabel 7 Nilai MCHC darah perifer mencit pada setiap kelompok total radiasi radiodiagnostik berulang dan setelah pemulihan selama 30 hari. Waktu (minggu) Total Radiasi (msv) n Jumlah (%) Kelompok Perlakuan K- K+ R- R+ MCHC (%) p=1 0 0 3 Ra 27.28± a 27.28± a 27.28± a 27.28± a 0-2 1.7 3 Ra 29.52±0.84 abc 29.68±2.70 abc 29.86±1.68 abc 29.13±2.28 abc 2-4 2.9 3 Ra 34.84±3.35 d 32.86±1.40 cd 30.53±0.99 abc 30.94±5.08 abcd 3 Ra 12.16 9.28 5.62 6.28 4-8 Rec 2.9 3 Ro 32.29±1.32 bcd 30.91±0.39 abcd 32.09±1.67 bcd 31.59±1.71 bcd Ro -4.50-0.28-3.39 0.44 4-6 4.1 3 Ra 31.83±1.15 bcd 32.68±1.02 bcd 28.53±6.63 ab 31.21±0.24 abcd 6-8 5.3 3 Ra 31.16±0.39 abcd 30.98±0.71 abcd 31.01±0.55 abcd 31.67±0.96 bcd Ra 6.64 6.35 6.41 7.45 8-12 Rec 5.3 3 Ro 32.40±5.69 bcd 30.82±0.83 abcd 31.73±1.69 bcd 32.48±1.30 bcd Ro 1.94-0.26 1.13 1.23 Keterangan: huruf yang sama pada baris dan kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05). K- = pemberian NaCl fisiologis 0.9% tanpa paparan radiasi; K+ = pemberian NaCl fisiologis 0.9% dengan paparan radiasi; R- = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; R+ = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; Ra = nilai parameter setelah perlakuan; Ro = nilai parameter setelah pemulihan; Ro = perubahan setelah pemulihan; Ra = perubahan setelah radiasi; n= jumlah mencit; Rec 2.9= masa pemulihan 2.9 msv; Rec 5.3= masa pemulihan 5.3 msv. Nilai MCHC kelompok R- dengan pemberian ekstrak rosela mengalami peningkatan 5.62% dan pada kelompok K- mengalami peningkatan sebesar 12.16% pada minggu ke-4 dari nilai sebelum perlakuan. Nilai MCHC minggu ke- 8 mengalami peningkatan 6.64% pada kelompok K- dan pada kelompok R- mengalami peningkatan 6.41%. Nilai MCHC setelah masa pemulihan dari radiasi total 2.9 msv menyebabkan penurunan sebesar 0.28% pada kelompok K+ dan peningkatan 0.44% pada kelompok R+. Pemulihan setelah radiasi yang lebih tinggi radiasi total 5.3 msv menyebabkan penurunan nilai MCHC sebesar 0.26% pada kelompok K+ dan kenaikan 1.23% pada kelompok R+. Nilai MCHC setelah minggu ke-4 mengalami penurunan 3.39% pada kelompok R-, sedangkan pada kelompok K- mengalami penurunan sebesar 4.50% dari nilai sebelum perlakuan. Setelah pemulihan pada minggu 8 nilai MCHC meningkat sebesar 1.95% pada kelompok K- dan nilai MCHC kelompok R-

33 mengalami peningkatan sebesar 1.14% sebagaimana dalam Tabel 7 dan Gambar 13C. Nilai MCHC terhadap kelompok perlakuan dan waktu berbeda nyata (p<0.05). A 0 1.7 2.9 4.1 0 5.3 0 36.00 Nilai MCHC (%) 32.00 28.00 5.3 24.00 0 0 2 2 4 4 6 4 8 6 8 8 12 Waktu (minggu) B 16.00 Persentase MCHC (%) 12.00 8.00 4.00 2 4 Waktu (minggu) 6 8 C 8.00 Persentase MCHC (%) 4.00 4.00 8.00 2 4 Waktu (minggu) 6 8 Gambar 13 A. Persentase MCHC darah perifer mencit terhadap radiodiagnostik berulang; B. Persentase MCHC setelah radiasi; C. Persentase MCHC setelah pemulihan 30 hari. (K-) = pemberian NaCl fisiologis tanpa paparan radiasi; (K+) = pemberian NaCl fisiologis dengan paparan radiasi; (R-) = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; (R+) = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; = nilai normal MCHC 29.5-35.6% (Thrall 2004). Nilai MCHC selama perlakuan berada dalam kisaran yang normal. Penurunan nilai MCHC tampak jelas terlihat pada kelompok R- yang diterapi dengan ekstrak rosela pada minggu ke 8 (Gambar 13A). Penyebab penurunan

34 jumlah MCHC setelah masa pemulihan belum diketahui secara pasti, kemungkinan terjadi gangguan penyerapan zat besi pada mencit atau ada zat pada rosela yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan penyerapan sehingga jumlah MCHC menurun. Penurunan nilai MCHC menunjukkan penurunan konsentrasi hemoglobin dan di dalam sintesis hemoglobin diperlukan zat besi (Weiss dan Wardrop 2010). Zat besi nonheme dalam tumbuhan tidak mudah diserap oleh usus karena tumbuhan mengandung oksalat, fitat, tanin, dan senyawa fenolik lainnya. Senyawa tersebut akan membentuk kelat atau presipitat dengan besi yang tidak dapat larut sehingga mencegah proses penyerapan nutrisi. Kandungan tannin pada rosela dapat mengikat zat besi sehingga penyerapan zat besi terganggu (Besral et al. 2007), namun kandungan vitamin C (asam askorbat) pada rosela dapat meningkatkan jumlah penyerapan zat besi nonheme dari saluran cerna (Kasiyati 2007). Menurut Macfarlane et al. (2000) efek anemia karena kekurangan hemoglobin akan berakibat pada hipoxia jaringan dan beberapa perubahan pada sirkulasi, biokimia, dan sumsum tulang. Pada sirkulasi terjadi peningkatan laju jantung dan dilatasi arteriol. Perubahan secara biokimia terjadi peningkatan 2.3 diphosphoglycerate (DPG) pada sel darah merah, hemoglobin pada sirkulasi perifer berkurang. Pada sumsum tulang terjadi hyperplasia karena terjadi produksi eritrosit yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan sel darah merah. 4.4 Howell Jolly Bodies Nilai rata rata persentase Howell Jolly bodies sel darah merah perifer mencit kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8. Total radiasi 2.9 msv pada minggu ke-4 menyebabkan munculnya Howell Jolly bodies sebesar 0.10% pada kelompok K+ sedangkan pada kelompok R+ tidak terlihat Howell Jolly bodies yang muncul. Hal ini juga terlihat pada total radiasi 5.3 msv minggu ke-8 pada kelompok K+ sebesar 0.13% namun pada kelompok R+ juga tidak terlihat adanya Howell Jolly bodies (Tabel 8 dan Gambar 14A). Howell Jolly bodies tidak terdapat pada kelompok K-dan R-.

35 Tabel 8 Nilai Howell Jolly bodies perifer mencit pada setiap kelompok total radiasi radiodiagnostik berulang dan setelah pemulihan selama 30 hari. Waktu (minggu) Total Radiasi (msv) n Jumlah (%) Kelompok Perlakuan K- K+ R- R+ Howell Jolly bodies (%) p=2 0 0 3 Ra ± a ± a ± a ± a 0-2 1.7 3 Ra ± a 0.04±0.08 ab ± a 0.09±0.09 abc 2-4 2.9 3 Ra ± a 0.10±0.05 abc ± a ± a Ra 10 4-8 Rec 2.9 3 Ro ± a 0.04±0.04 ab ± a 0.02±0.03 a Ro -39.60 10 4-6 4.1 3 Ra ± a 0.15±0.22 c ± a 0.06±0.06 abc 6-8 5.3 3 Ra ± a 0.13±0.14 bc ± a ± a Ra 10 8-12 Rec 5.3 3 Ro ± a 0.10±0.03 abc ± a 0.03±0.02 a Ro -15.82 10 Keterangan: huruf yang sama pada baris dan kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05). K- = pemberian NaCl fisiologis 0.9% tanpa paparan radiasi; K+ = pemberian NaCl fisiologis 0.9% dengan paparan radiasi; R- = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; R+ = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi; Ra = nilai parameter setelah perlakuan; Ro = nilai parameter setelah pemulihan; Ro = perubahan setelah pemulihan; Ra = perubahan setelah radiasi; n= jumlah mencit; Rec 2.9= masa pemulihan 2.9 msv; Rec 5.3= masa pemulihan 5.3 msv. Setelah masa pemulihan dari radiasi 2.9 msv menyebabkan penurunan persentase Howell Jolly bodies sebesar 39.60% pada kelompok K+, sedangkan pada kelompok R+ mengalami peningkatan sebesar 100%. Pemulihan setelah radiasi yang lebih tinggi 5.3 msv menyebabkan penurunan persentase Howell Jolly bodies sebanyak 15.82% pada kelompok K+ dan peningkatan 100% pada kelompok R+. Persentase Howell Jolly bodies setelah masa pemulihan minggu ke- 4 dan minggu ke-8 tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan baik pada kelompok K- dan R- sebagaimana dalam Tabel 8 dan Gambar 14C. Nilai Howell Jolly bodies terhadap kelompok perlakuan dan waktu berbeda nyata (p<0.05). A Persentasi Howell Jolly Bodies(%) 0.21 0.14 0.07 0.07 0 1.7 2.9 4.1 0 5.3 0 0 0 2 2 4 4 6 4 8 6 8 8 12 Waktu (minggu)

36 B Persentase Howell Jolly Bodies (%) 18 12 6 6 2 4 Waktu (minggu) 6 8 C Persentase Howell Jolly Bodies (%) 18 12 6 6 2 4 Waktu (minggu) 6 8 Gambar 14 A. Persentase Howell Jolly bodies darah perifer mencit terhadap radiodiagnostik berulang; B. Persentase Howell Jolly bodies setelah perlakuan; C. Persentase setelah pemulihan 30 hari. (K-) = pemberian NaCl fisiologis tanpa paparan radiasi; (K+) = pemberian NaCl fisiologis dengan paparan radiasi; (R-) = pemberian ekstrak rosela tanpa paparan radiasi; (R+) = pemberian ekstrak rosela dengan paparan radiasi. Ekstrak etanol rosela dapat mengurangi kemunculan Howell Jolly bodies pada sel darah merah pada total dosis radiasi 2.9 msv, demikian juga pada total dosis radiasi 5.3 msv. Jumlah radikal bebas yang terbentuk olah radiasi ionisasi dapat mempengaruhi kemampuan antioksidan untuk menetralkannya. Jika jumlah radikal bebas yang terbentuk terlalu banyak, maka dibutuhkan antioksidan yang lebih banyak pula (Evans et al. 2004) Kehadiran Howell Jolly bodies pada sel darah merah perifer (Gambar 15) menandakan sel darah merah meninggalkan sumsum tulang dalam keadaan belum dewasa (mature) karena tingginya kebutuhan jaringan dan proses eritropoiesis meningkat (Wang dan Glasser 2002; Meyer dan Harvey 2004). Pelepasan eritrosit yang belum dewasa ke jaringan merupakan respon yang normal dari sumsum tulang untuk meningkatkan produksi sel darah merah (Thrall 2004). Kehadiran

37 Howell Jolly bodies menandakan tidak berfungsinya limpa atau atropy limpa karena seharusnya Howell Jolly bodies dieliminasi di limpa (Kovtunovych et al. 2010). Pada banyak kasus splenectomi terlihat peningkatan kehadiran Howell Jolly bodies (Smith et al.1990). Howell Jolly bodies berhubungan dengan anemia regeneratif. Anemia regeneratif disebabkan oleh kehilangan darah atau kerusakan eritrosit (hemolisis) dan dapat terlihat pada fase pemulihan disfungsi sumsum tulang. Hemolisis dapat terjadi di dalam pembuluh darah (intravaskular) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskular). Hemolisis ekstravaskular terjadi ketika eritrosit abnormal difagosit oleh makrofag di dalam limpa atau hati (Thrall 2004). A B Gambar 15 Howell Jolly bodies pada sel darah merah perifer mencit. A = kelompok K+; B = kelompok R+. Sel hematopoietik adalah sel yang sensitif terhadap radiasi ionisasi sinar-x. Sel yang mengalami kerusakan akibat radiasi secara alami mempunyai kemampuan adaptasi dan respon perbaikan untuk kembali normal, akan tetapi dosis radiasi sangat berpengaruh terhadap kerusakan biologi yang ditimbulkannya. Semakin besar dosis radiasi, akan semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan (Mitchell et al. 2009). Howell Jolly bodies yang terbentuk akibat radiasi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok yang diberikan ekstrak rosela. Respon adaptasi terlihat pada radiasi 2.9 dan radiasi 5.3 msv. Rosela dapat mempertahankan nilai MCV, MCH dan MCHC sel darah merah karena mengandung antioksidan yaitu vitamin C (asam askorbat) dan senyawa fenol (Maryani dan Kristiana 2009). Secara umum MCV, MCH, dan MCHC berada dalam kisaran nilai yang normal, namun sebagian nilai MCV lebih tinggi dari nilai normal dan lebih rendah dari kisaran normal. Kerusakan oksidatif akibat radiasi ionisasi sangat jelas

38 terlihat pada penurunan MCV, MCH, dan MCHC pada radiasi dosis 5.3 msv. Nilai MCV yang meningkat dan MCHC normal disebut juga dengan anemia makrositik normokromik yang ditandai dengan ukuran eritrosit yang besar namun konsentrasi hemoglobin berada dalam kisaran normal. Biasanya jenis anemia ini disebabkan oleh gangguan metabolisme eritrosit, defisiensi vitamin B 12, asam folat dan radiasi (Rizwi 2010). Nilai MCV normal dan MCHC normal menunjukkan adanya anemia normositik normokromik. Jenis anemia ini biasanya disebabkan oleh kehilangan darah, gangguan ginjal serta gangguan pada sumsum tulang (Thrall 2004; Meyer dan Harvey 2004). Menurut Nair et al. (2001), Mathew (2005), dan Jagetia (2007) rosela dalam penelitian ini termasuk dalam agen radioprotektor. Radioprotektor diberikan sebelum radiasi dan memiliki kemampuan mencegah dan mengurangi kerusakan yang terjadi pada jaringan normal. Rosela memiliki senyawa polifenol terutama flavanoid yang mampu melindungi sel dari kerusakan dengan menetralkan produksi radikal bebas yang terjadi selama terpapar radiasi ionisasi (Jagetia 2007; Josiah et al. 2010). Flavanoid merupakan senyawa yang mampu melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif (Phipps et al. 2007). Hasil penelitian menunjukkan rosela mampu melindungi sel darah merah dari kerusakan. Antioksidan pada rosela dapat menekan pembentukan radikal bebas (Ologundudu et al. 2009). Dosis radiasi yang kronis adalah dosis radiasi dalam dosis yang kecil dengan waktu paparan yang panjang. Menurut DeMasters et al. (2006) tubuh memiliki kemampuan untuk mengganti sel yang rusak atau mati. Pemulihan jangka pendek terjadi setiap 24 jam setelah radiasi. Pemulihan jangka panjang terjadi setelah paparan radiasi 30 hari. Pemulihan jangka panjang dan jangka pendek memberikan waktu yang cukup untuk memperbaiki kerusakan akibat radiasi (Wambi et al.2008).