BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II KONSEP PERSEDIAAN DAN EOQ. menghasilkan barang akhir, termasuk barang akhirnya sendiri yang akan di jual

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen Keuangan. Pengelolaan Persediaan. Basharat Ahmad, SE, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Persediaan

BAB II LANDASAN TEORI

Berupa persediaan barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Diperoleh dari sumber alam atau dibeli dari supplier

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Arti dan Peranan Pengendalian Persediaan Produksi

MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II ECONOMIC ORDER QUANTITY

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Manajemen Persediaan (Inventory Management)

Bab 2 LANDASAN TEORI

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Heizer & Rander

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bagian bab ini memuat teori-teori dari para ahli yang dijadikan sebagai

MANAJEMEN PERSEDIAAN (INVENTORY)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB X MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengelolaan Persediaan

PENGENDALIAN PERSEDIAN : INDEPENDEN & DEPENDEN

BAB II LANDASAN TEORI

MANAJEMEN PRODUKSI- OPERASI

MANAJEMEN KEUANGAN. Kemampuan Dalam Mengelola Persediaan Perusahaan. Dosen Pengampu : Mochammad Rosul, Ph.D., M.Ec.Dev., SE. Ekonomi dan Bisnis

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini ditandai dengan menjamurnya

MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari beberapa item atau bahan baku yang digunakan oleh perusahaan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PADA PT. KALIMANTAN MANDIRI SAMARINDA. Oleh :

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis. Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

Prosiding Manajemen ISSN:

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Persediaan adalah barang yang sudah dimiliki oleh perusahaan tetapi belum digunakan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan setiap waktu.

BAB III METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN PERIOD ORDER QUANTITY

III. METODE PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI. jadi yang disimpan untuk dijual maupun diproses. Persediaan diterjemahkan dari kata inventory yang merupakan jenis

kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan suatu sistem. Menurut Jogiyanto (1991:1), Sistem adalah

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya

1. Profil Sistem Grenda Bakery Lianli merupakan salah satu jenis UMKM yang bergerak di bidang agribisnis, yang kegiatan utamanya adalah memproduksi

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kegiatan operasi merupakan kegiatan menciptakan barang dan jasa yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada perusahaan dagang dan industri, persediaan merupakan aktiva lancar

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. tujuan yang diinginkan perusahaan tidak akan dapat tercapai.

BAB II LANDASAN TEORI. Berdasarkan jenis operasi perusahaan, persediaan dapat diklasifikasikan

Proudly present. Manajemen Persediaan. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan pesat di indonesia, pengusaha dituntut untuk bekerja dengan lebih efisien

Persediaan. Ruang Lingkup. Definisi. Menetapkan Persediaan. Keuntungan & Kerugian Persediaan

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE EOQ. Hanna Lestari, M.Eng

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI. dan bekerja sama untuk memproses masukan atau input yang ditunjukkan kepada

MANAJEMEN PERSEDIAAN. a. Pengertian Persediaan. 2) Persediaan Barang Dalam Proses. 2) Persediaan Barang Jadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pertemuan 7 MANAJEMEN PERSEDIAAN (INVENTORY MANAGEMENT)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada Perusahaan Roti Roterdam Malang. Berdasarkan hasil analisis

Pengendalian Persediaan Bahan Baku untuk Waste Water Treatment Plant (WWTP) dengan

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 7: MENGELOLA PERSEDIAAN PADA SUPPLY CHAIN. By: Rini Halila Nasution, ST, MT

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Arti dan Peranan Pengendalian Persediaan

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR. : Manajemen Operasional Agribisnis

BAB III METODE PENELITIAN

Manajemen Keuangan. Idik Sodikin,SE,MBA,MM MENGELOLA PERSEDIAAN PERUSAHAAN. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Akuntansi

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAIN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) PADA WAROENG JEANS CABANG P. ANTASARI SAMARINDA

(2004) dengan penelitian yang diiakukan oleh penulis adalah metode pemecahan

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DALAM MENGEFISIENKAN BIAYA PERSEDIAAN PADA UMKM KUE NIKMAT RASA ABSTRAK

#14 MANAJEMEN PERSEDIAAN

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Setiap perusahaan, apakah perusahaan itu perusahaan jasa ataupun perusahaan manufaktur, selalu memerlukan persediaan. Tanpa adanya persediaaan, para pengusaha akan dihadapkan pada risiko bahwa perusahannya suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para langganannya. Persediaan adalah suatu aktivita yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu, atau persediaaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, bagian-bagian yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau langganan setiap waktu (Rangkuti, 1996). Untuk memahami arti persediaan, maka akan dijelaskan beberapa definisi persediaan sebagai berikut: 1. Pengertian persediaan menurut Ristono (2009) adalah teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan. 2. Pengertian persediaan menurut Lalu Sumayang (2003) adalah simpanan material berupa bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi. 3. Pengertian persediaan menurut Hadi Handoko (2000) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.

7 4. Sofjan Assauri (1993), menjelaskan bahwa persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal. 2.1.2 Jenis-Jenis Persediaan Secara fisik, item persediaan dapat dikelompokkan dalam lima kategori yaitu: 1. Bahan mentah (raw materials), yaitu barang-barang berwujud seperti baja, kayu, tanah liat, tatu bahan-bahan mentah lainnya yang diperoleh dari sumbersumber alam, atau dibeli dari pemasok, atau di olah sendiri oleh perusahaan untuk digunakan perusahaan dalam proses produksinya sendiri. 2. Persediaan bagian produk atau komponen, yaitu barang-barang yang terdiri atas bagian-bagian (parts) yang diperoleh dari perusahaan lain atau hasil produksi sendiri untuk digunakan dalam pembuatan barang jadi atau barang setengah jadi. 3. Barang setengah jadi (work in process), yaitu baang-barang keluaran dari tiap operasi produksi atau perakitan yang telah memiliki bentuk lebih kompleks dari pada komponen, namun masih perlu di proses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi. 4. Barang jadi (finished good), yaitu barang-barang yang telah selesai di proses dan siap untuk didistribusikan ke konsumen. 5. Bahan pembantu (supplies material), yaitu barang-barang yang diperlukan dalam proses pembuatan atau perakitan barang, namun bukan merupakan komponen barang jadi. Termasuk bahan penolong adalah bahan bakar, pelumas, listrik, dan lain-lain. Menurut (Rangkuti, 1996) persediaan dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu: 1. Bath Stock atau Lot Size Inventory Persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan saat itu.

8 2. Fluctuation Stock Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasai permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. 3. Anticipation Stock Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat. 2.1.3 Pengendalian Persediaan Pengendalian persediaan merupakan suatu usaha memonitor dan menentukan tingkat komposisi bahan yang optimal dalam menunjang kelancaran dan efektivitas serta efisiensi dalam kegiatan perusahaan. Pengendalian perusahaan perlu diperhatikan karena berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan sebagai akibat adanya persediaan. Sehingga persediaan yang ada harus seimbang dengan kebutuhan, karena persediaan yang berlebih beresiko menimbulkan kerusakan pada produk dan biaya penyimpanan yang tinggi. Begitu pula sebaliknya apabila terlalu sedikit akan mengganggu kelancaran produksi, oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan didalam pengadaan persediaan sehingga dapat menekan biaya-biaya seminimal mungkin serta proses produksi dapat berjalan lancar. Pengendalian pengadaan persediaan peru diperhatikan karena berkaitan langsung dengan biaya yang harus ditanggung perusahaan sebagai akibat adanya persediaan (Ristono, 2009). Pengendalian persediaan merupakan tindakan yang sangat penting dalam menghitung berapa jumlah optimal tingkat persediaan yang diharuskan, serta kapan saatnya mulai mengadakan pemesanan kembali. Pengendalian persediaan adalah salah satu fungsi manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Konsep ini diterapkan baik untuk industri skala kecil maupun industri skala besar (Rangkuti, 1996).

9 2.1.4 Analisis Persediaan Analisis persediaan merupakan salah satu topik yang paling popular dalam ilmu manajemen, salah satu alasannya adalah karena hampir semua jenis organisasi bisnis memiliki persediaan, walaupun mereka cenderung untuk berpikir mengenai persediaan hanya dalam hal jumlah persediaan yang terdapat dalam perusahaan. 2.2. Uji Normalitas Uji nomalitas data dilakukan untuk menetahui apakah data dari masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dengan uji Lilliefors dilakukan apabila data merupakan data tunggal atau data frekwensi tunggal, bukan data distribusi frekwensi kelompok. Menurut Sudjana, uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Lilliefors dilakukan dengan langkah-langkah berikut. Diawali dengan penentuan taraf signifikan 5% (0,05) dengan hipotesis yang diajukan sebagai berikut: Hipotesis H 0 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal Hipotesisi H 1 : Sampel berasal dari populasi tidak berdistribusi normal Untuk pengujian hipotesis maka prosedur yang harus dilakukan antara lain: a. Nilai data x 1, x 2,, x n, dijadikan angka baku z 1, z 2,, z n dengan menggunakan rumus (dengan X dan S masing-masing merupakan rata-rata dan simpangan baku). Menghitung rata-rata sampel pengamatan digunakan rumus: X = n i=1 x i n 2.1 Menghitung simpangan baku dari sampel digunakan rumus: S = n x i x 2 i=1 n 1 2.2

10 Z i = x i x S (2.3) Dimana: x = Rata-rata hitung S = Simpangan baku Z i = Bilangan baku i = 1,2,3,, n b. Untuk setiap bilangan baku ini dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian hitung peluang: F Z i = P Z Z i. c. Menghitung proporsi Z 1, Z 2,, Z n Z i. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S Z i, maka S Z i = banyaknya Z 1,Z 2,,Z n Z i n d. Hitung selisih F Z i S Z i tetukan harga mutlaknya. (2.4) e. Cari nilai yang terbesar diantara nilai-nilai mutlak selisih F Z i S Z i jadikan L itung atau L 0. f. Pengujian hipotesis: Hipotesis: Hipotesis H 0 L itung = max F Z i S Z i (2.5) : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal Hipotesisi H 1 : Sampel berasal dari populasi tidak berdistribusi normal Jika L 0 = L α n ; maka H 0 diterima, jadi normal > L α n ; maka H 0 ditolak, jadi tidak normal Dengan L α n adalah nilai kritis uji kenormalan lilliefors dengan taraf nyata dan banyaknya sampel n.

11 2.3 Total Biaya Persediaan Perusahaan Perhitungan total biaya persediaan pada Perusahaan dengan rumus sebagai berikut: TIC per = Biaya Penyimpanan + Biaya Pemesanan TIC per = D H + n S (2.6) dimana: TIC per = Biaya persediaan perusahaan D S H n = Rata-rata penggunaan bahan baku per tahun = Biaya pemesanan = Biaya penyimpanan = Banyak bulan per tahun (12 bulan) 2.4 Biaya-Biaya Persediaan tujuan yang ingin disapai dalam penyelesaian masalah persediaan adalah meminimumkan biaya total persediaan. Biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan. Biaya persediaan didasarkan pada parameter ekonomis yang relevan dengan jenis biaya sebagai berikut (Zulian,1999): 1. Biaya pembelian (purchase cost) Biaya pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan. Biaya per unit akan selalu menjadi bagian dari biaya item dalam persediaan. Untuk pembelian item dari luar, biaya per unit adalah harga beli ditambah biaya pengangkutan sedangkan untuk item yang di produksi di dalam perusahaan, biaya per unit adalah termasuk biaya tenaga kerja, bahan baku dan biaya overhead pabrik. 2. Biaya pemesanan (Ordering Cost) Biaya pemesanan adalah biaya yang berasal dari pembelian pesanan dari suplier atau biaya persiapan (setup cost) apabila item diprouksi di dalam perusahaan. Biaya ini diasumsikan tidak akan berubah secara langsung

12 dengan jumlah pemesanan. Biaya pemesanan dapat berupa: biaya membuat daftar pemintaan, menganalisis suplier, membuat pesan pembelian, penerimaan bahan, inspeksi bahan, dan pelaksanaan proses transaksi. Sedangkan biaya persiapan dapat berupa biaya yang dikeluarkan akibat perubahan proses produksi, pembuatan skedul kerja, persiapan sebelum produksi, dan pengecekan kualitas. 3. Biaya Penyimpanan ( Carriying Cost/Holding Cost) Biaya Penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan. Biaya simpan dapat berupa: biaya modal, pajak, asuransi, pemindahan persediaan, keusangan dan semua biaya yang dikeluarkan untuk memelihara persediaan. 4. Biaya Kekurangan Persediaan (Shortage Cost) Biaya kekurangan persediaan adalah konsekuensi ekonomis atas kekurangan dari luar maupun dari dalam perusahaan. Kekurangan dari luar terjadi apabila pesanan konsumen tidak dapat dipenuhi. Sedangkan kekurangan dari dalam terjadi apabila departemen tidak dapat memenuhi kebutuhan departemen yang lain. 2.5 Economic Order Quantity (EOQ) 2.5.1 Pengertian Economic Order Quantity (EOQ) Model kuantitas pesanan yang ekonomis (Economic Order Quantity- EOQ model) adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan paling dikenal secara luas. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford Harris dari Westinghouse pada tahun 1915. Metode ini merupakan insipirai bagi para pakar persediaan untuk mengembangkan metode-metode pengendalian persediaan lainnya. Economic Order Quantity menurut Riyanto (2001:78) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal.

13 Sedangkan menurut Heizer dan Render (2005:68) adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab 2 (dua) pertanyaan penting, kapan harus memesan dan berapa banyak harus memesan. Adapun keunggulan EOQ yaitu: Metode EOQ memperhitungkan safety stock sehingga persediaan bahan baku untuk proses produksi tetap terjamin, Penggunaan metode EOQ akan memperkecil jumlah pemesanan yang diamati, sehingga biaya pemesanan (atau biaya penyiapan) menjadi lebih kecil, mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki standar tertentu dan lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Sedangkan kelemahan yang terdapat pada metode EOQ yaitu: Pada metode EOQ biaya penyimpanan bahan baku akan lebih besar, karena ada sejumlah bahan baku yang harus disimpan selama beberapa periode, sebelum bahan baku tersebut digunakan untuk proses produksi, Penjualan dapat ditentukan, Pemakaian bahan baku terjadi sepanjang tahun dan Persediaan dapat segera diperoleh Model persediaan EOQ dapat diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Permintaan diketahui dengan pasti dan konstan selama periode persediaan. 2. Semua item yang dipesan diterima seketika, tidak bertahap. 3. Jarak waktu sejak pesan sampai pemesanan datang (lead time) pasti. 4. Semua biaya diketahui dan bersifat pasti. 5. Kekurangan persediaan (stock out) tidak di izinkan. 6. Tidak ada diskon dalam tingkat kuantitas pesanan. 2.5.2 Economic Order Quantity (EOQ) multy item Economic Order Quantity (EOQ) multy item adalah teknik pengendalian permintaan/pemesanan beberapa jenis item yang optimal dengan biaya inventory serendah mungkin. Tujuan dari model EOQ adalah menentukan jumlah (Q) setiap kali pemesanan sehingga meminimalisasi total biaya persediaan. Jumlah biaya yang ditekan serendah mungkin adalah carrying cost (biaya penyimpanan) dan ordering cost (biaya pemesanan).

14 Model EOQ multi item merupakan model EOQ untuk pembelian bersama (joint purchase) beberapa jenis item. Asumsi-asumsi yang dipakai antara lain: a. Tingkat permintaan untuk setiap item konstan dan diketahui dengan pasti, waktu tunggu (lead time) juga diketahui dengan pasti. Oleh karena itu tidak ada stockout maupun biaya stockout. b. waktu tunggu (lead time)-nya sama untuk semua item, dimana semua item yang dipesan akan datang pada satu titik waktu yang sama untuk setiap siklus. c. Biaya simpan (holding cost), harga per unit (unit cost) dan biaya pesan (ordering cost) untuk setiap item diketahui. Tidak ada perubahan dalam biaya per unit (quantity discount), biaya pesan, dan biaya simpan. 2.5.3 Biaya penyimpanan (Carrying Cost) Biaya penyimpanan (H) biasanya dinyatakan dengan dasar per unit untuk beberapa periode waktu (walaupun kadang dinyatakan dalam benruk persentase rata-rata persediaan). Secara tradisional, biaya penyimpanan di hubungkan dengan dasar tahunan (per tahun), dapat dilihat Gambar 2.1 yang berhubungan dengan besarnya penyimpanan. Gambar 2.1 Penggunaan Persediaan

15 Walaupun demikian, biaya penyimpanan (H) hanya menyajikan biaya per unit dan tidak total biaya penyimpanan tahunan. Total biaya penyimpanan ditentukan oleh jumlah persediaan yang dimiliki selama tahun itu. Pada saat persediaan habis maka akan dilakukan pemesanan ulang. Jumlah persediaan yang tersedia diilustrasikan dalam Gambar 2.1. Dalam Gambar 2.1, Q melambangkan besarnya pemesanan yang diperlukan untuk mengisi persediaan yang ditentukan. Garis yang menghubungkan Q dengan waktu (t) dalam grafik, melambangkan tingkat dimana persediaan dihabiskan selama periode waktu tertentu. Permintaan diasumsikan diketahui secara konstan atau pasti, hal ini menjelaskan mengapa garis yang melambangkan permintaan berupa garis lurus atau linear. Kemudian persediaan mencapai titik nol, diasumsikan bahwa pesanan segera datang setelah bebebrapa waktu yang tidak lama. Pada Gambar 2.1, dapat diketahui jumlah persediaan (Q), besarnya pemesanan untuk sedikit periode waktu yang terbatas, karena persediaan selalu dihabiskan oleh permintaan. Demikian pula halnya jumlah persediaan adalah nol untuk sedikit periode waktu, karena satu-satunya saat di mana tidak ada persediaan adalah pada waktu tertentu (t). Maka jumlah persediaan yang tersedia adalah diantara dua titik ekstrim. Dedukasi yang logis adalah bahwa jumlah persediaan yang tersedia adalah sebesar rata-rata tingkat persediaan, yang didefinisikan sebagai berikut: Persediaan Rata rata = Q 2 (2.7) Dari persamaan (2.7), akan dihasilkan persediaan rata-rata = Q. Untuk 2 membuktikannya akan dicari dengan deret aritmatika, bahwa persediaan awal adalah Q, kemudian berkurang secara konstan persatuan waktu misalkan sebanyak b, sehinggga data penurunan persediaan adalah: Q, Q b, Q 2b,, Q kb,, Q n 1 b, 0 (2.8) Untuk mencari rata-rata persediaan tersebut adalah dengan menjumlahkan persamaan (2.8) kemudian dibagi dengan banyaknya data. Karena data tersebut menurun secara konstan persatuan waktu maka untuk mencari jumlah datanya menggunakan pendekatan deret hitung.

16 Misal: Banyak data Suku awal (a) Beda (b) = n = Q = b Suku terakhir U n = 0 Jumlah suku ke- n = S n Rata-rata persediaan U t = S n n Untuk memperoleh persediaan rata-rata akan dihitung: U n = a + n 1 b 0 = Q + n 1 b 0 = Q + bn b bn = b Q n = b Q b Kemudian untuk memperoleh jumlah suku ke- n S n = n 2 (a + U n) S n = b Q b 2 (Q + 0) S n akan dihitung: (2.9) S n = b Q (Q) (2.10) 2b Maka diperoleh persediaan rata-rata ( U t ) dari data tersebut substitusi persamaan (2.9) dan (2.10) kerumus sebagai berikut: U t = S n n b Q U t = 2b (Q) b Q b U t = b Q 2b (Q) b (b Q) U t = Q 2 (2.11)

17 Hubungan untuk persediaan rata-rata ini dipertahankan tanpa melihat besarnya pemesanan, Q, atau frekuensi pemesanan (periode waktu, t). Oleh karena itu, persediaan rata-rata dalam dasar tahunan juga sebesar ditunjukkan Gambar 2.2 Q 2, seperti Gambar 2.2 Rata-Rata Persediaan Jika jumlah persediaan yang tersedia dalam dasar tahunan adalah sebesar rata-rata persediaan ( Q ), maka dapat ditentukan total biaya penyimpanan tahunan dengan 2 mengalikan rata-rata jumlah dalam persediaan dengan biaya penyimpanan per tahunnya (H), maka total biaya penyimpanan per tahunnya (TH): Dimana: TH Q H TH = Persediaan rata rata biaya penyimpanan TH = Q H (2.12) 2 = total biaya penyimpanan = jumlah pemesanan = biaya penyimpanan

18 2.5.4 Biaya Pemesanan (Ordering Cost/Setup Cost) Biaya pemesanan (S) dinyatakan dalam dasar per pemesanan, nilai ini hanya menggambarkan biaya per pemesanan dan bukan total biaya pemesanan. Sebelumnya telah dirumuskan total biaya penyimpanan (TH) dengan dasar per tahunan, maka sekarang akan ditentukan total biaya pemesanan (TS) diambil dari jumlah pemesanan yang akan dilakukan selama tahun tersebut. Pemesanan suatu barang tidak melebihi permintaan yang ada karena permintaan diketahui secara pasti, frekuensi pemesanan per tahun (F) di definisikan sebagai berikut: F = D Q (2.13) Dimana: F = frekuensi pemesanan per tahun D = jumlah kebutuhan per tahun Q = kuantitas pemesanan yang ekonomis (EOQ) Total biaya pemesanan per tahun (TS) dapat dihitung sebagai jumlah pemesanan per tahun dikalikan dengan biaya per pemesanan, yaitu: TS = frekuensi pemesanan x biaya pemesanan = F x S TS = D x S (2.14) Q 2.5.5 Total Biaya Persediaan (Total Inventory Cost) Total biaya persediaan tahunan (TIC) dihitung dengan menjumlahkan total biaya pemesanan (TS) dan total biaya penyimpanan (TH), adalah: TIC = biaya pemesanan + biaya penyimpanan TIC = D S + Q H (2.15) Q 2

19 Total biaya persediaan, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan digambarkan oleh Gambar 2.3 Model Biaya Persediaan berikut: Gambar 2.3 Model Biaya Persedia Gambar 2.3 akan dianalisis masing-masing dari ketiga kurva biaya yang ditunjukkan. Pertama, dapat diamati kecenderungan menaik dari kurva total biaya penyimpanan (TH). Sejalan dengan meningkatnya jumlah pemesanan (Q), (ditunjukkan oleh sumbu horizontal), total biaya penyimpanan (ditunjukkan oleh sumbu vertikal) juga meningkat, disebabkan karena pemesanan yang semakin banyak akan mengakibatkan semakin banyaknya unit yang disimpan dalam persediaan. Kemudian dengan meningkat nya jumlah pemesanan (Q), total biaya pemesanan (TS) menurun, disebabkan karena kenaikan dalam jumlah pemesanan akan mengakibatkan semakin sedikit pemesanan yang dilakukan setiap tahunnya. Total biaya pada Gambar 2.3 Model Biaya Persediaan, kurva total biaya tahunan pertama-tama menurun ketika Q meningkat kemudian kurva total biaya tahunan mulai meningkat, ketika permintaan Q mulai menurun. Nilai Q yang paling baik atau optimal, adalah nilai yang merupakan nilai minimum total biaya persediaan tahunan.

20 2.5.6 Menghitung Q (Persediaan) Optimal Secara matematis nilai Q optimal (EOQ) atau jumlah pemesanan yang optimal dapat dihitung sebagai berikut. Dari persamaan (2.15) akan diperoleh biaya total persediaan (TIC) minimum. Untuk membuktikannya akan dicari turunan pertama dari persamaan (2.15). Persamaan (2.15), TIC = D S + Q H, merupakan persamaan dari total Q 2 biaya persediaan tahunan (biaya pemesanan ditambah biaya penyimpanan). TIC = D Q S + Q 2 H D Q x S = Q x H 2 DS Q = QH 2 Q 2 H = 2DS Q 2 = 2DS H Q 2 = 2DS H = EOQ Atau, TIC = D Q x S + Q x H 2 TIC = DS Q + QH 2 d TC d Q = d d Q d TC d Q = DS Q 2 + H 2 DS Q + d d Q Syarat minimum turunan pertama sama dengan nol dapat ditulis: Maka d TC d Q = 0 DS Q 2 + H 2 = 0 QH 2

21 H 2 = DS Q 2 Q 2. H = 2. D Q 2 = 2DS H Q = 2DS H = EOQ (2.16) Dari uraian secara sistematik diatas, jelas bahwa kondisi minimum biaya total perediaan dapat tercapai dengan memesan unit dengan metode EOQ. 2.5.7 Persediaan Pengaman (Safety Stock) Secara sederhana, persediaan pengaman (safety stock) adalah suatu pencegahan terhadap stock out (persediaan habis di gudang). Kemungkinan terjadinya stock out dapat disebabkan karena pemakaian bahan baku yang lebih besar dari perkiraan semula atauu keterlambatan kedatangan bahan baku yang dipesan (Sofjan Assausi, 2004). Oleh karena itu persediaan pengaman berfungsi sebagai cadangan untuk menjaga kelancaran produksi. Rumus safety stock secara umum sebagai berikut: SS = σ x Z (2.17) Dimana: SS = Persediaan pengaman (safety stock) σ = Standar deviasi kebutuhan Z = Faktor keamanan yang digunakan perusahaan Dalam hal ini, faktor pengaman yang dimaksud adalah besar probabilitas yang digunakan perusahaan terhadap terjadinya stockout (Render dan Heizer, 2006).

22 2.5.8 Menetukan Saat Pemesanan Kembali (Reorder Point) Pemesanan kembali (reorder point) adalah tititk atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu dimana pesanan harus diadakan kembali. Titik ini menunjukkan kepada bagian pembelian untuk mengadakan kambali pesanan bahan-bahan persediaan untuk menggantikan yang telah digunakan (Assauri, 1998). Selain menentukan EOQ, pengendalian persediaan juga menentukan kapan diakukan pesanan atau pemesanan kembali. Seiring jumlah persediaan di dalam gudang berkurang, perusahaan perlu menentukan berapa banyak batas minimal tingkat persediaan yang harus di pertimbangkan agar tidak terjadi stock out. Untuk itu, pemesanan kembali sebaiknya dilakukan ketika persediaan mulai habis. Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan pemesanan kembali bahan baku adalah: ROP = d x L + SS (2.18) Dimana: ROP = Reorder point d = pemakaian bahan baku per hari L = Lead time SS = Safety stock