LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di Laboratorium

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif

LAMPIRAN A PERHITUNGAN NERACA MASSA

LAMPIRAN A. : ton/thn atau kg/jam. d. Trigliserida : 100% - ( % + 2%) = 97.83% Tabel A.1. Komposisi minyak jelantah

RANCANGAN UNIT PEMBUATAN BIOETANOL DENGAN BAHAN BAKU KULIT DURIAN SKRIPSI

MATERI DAN METODE. Daging Domba Daging domba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging domba bagian otot Longissimus thoracis et lumborum.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Analisis Kuantitatif

Prarancangan Pabrik Asam Nitrat Dari Asam Sulfat Dan Natrium Nitrat Kapasitas Ton/Tahun LAMPIRAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3. Bahan baku dengan mutu pro analisis yang berasal dari Merck (kloroform,

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC

LAMPIRAN A REAKTOR. = Untuk mereaksikan Butanol dengan Asam Asetat menjadi Butil. = Reaktor Alir Tangki Berpengaduk Dengan Jaket Pendingin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Merck, kemudian larutan DHA (oil) yang termetilasi dengan kadar akhir

BAB III METODE PENELITIAN

TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK KIMIA

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography)

BAB III METODE PENELITIAN. formula menggunakan HPLC Hitachi D-7000 dilaksanakan di Laboratorium

BAB III PERANCANGAN PROSES

III. METODOLOGI PENELITIAN

5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan

Cara uji penetrasi aspal

Gambar 1. Alat kromatografi gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lapisan n-heksan bebas

4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. a. Motor diesel 4 langkah satu silinder. digunakan adalah sebagai berikut: : Motor Diesel, 1 silinder

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemilihan Kondisi Optimum Kromatografi Gas untuk Analisis

5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat

LAMPIRAN A PERHITUNGAN NERACA MASSA

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS MATA KULIAH PRA PERANCANGAN PABRIK KIMIA

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

LAMPIRAN 1 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PERANCANGAN PROSES. bahan baku Metanol dan Asam Laktat dapat dilakukan melalui tahap-tahap sebagai

ANALISIS KADAR METANOL DAN ETANOL DALAM MINUMAN BERALKOHOL MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS. Abstrak

Prarancangan Pabrik Polistirena dengan Proses Polimerisasi Suspensi Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT

LAMPIRAN A PERHITUNGAN NERACA MASSA

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

DECANTER (D) Sifat Fisis Komponen Beberapa sifat fisis dari komponen-komponen dalam decanter ditampilkan dalam tabel berikut.

Prarancangan Pabrik Aluminium Oksida dari Bauksit dengan Proses Bayer Kapasitas Ton / Tahun BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

PRODUKSI BIO-ETANOL DARI DAGING BUAH SALAK ( Salacca zalacca ) PRODUCTION OF BIO-ETHANOL FROM FLESH OF SALAK FRUIT ( Salacca zalacca )

Bab III Metodologi III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat yang digunakan

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. uji yang digunakan adalah sebagai berikut.

LAMPIRAN 1 DATA PENGAMATAN. mol NaCl

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 12: Penentuan total partikel secara isokinetik

TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI DISTILAT ASAM LEMAK MINYAK SAWIT (DALMS) DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 100.

BAB II LANDASAN TEORI

Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi

FORMULASI PENGETAHUAN PROSES MELALUI SIMULASI ALIRAN FLUIDA TIGA DIMENSI

METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan Penelitian. Prosedur Penelitian

MODUL 1.04 FILTRASI LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA CILEGON BANTEN

METODOLOGI PENELITIAN. langkah 110 cc, dengan merk Yamaha Jupiter Z. Adapun spesifikasi mesin uji

Prarancangan Pabrik Metil Salisilat dari Metanol dan Asam Salisilat Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT. Kode T-01 T-02 T-03

3 Metodologi Penelitian

DISTILASI BERTAHAP BATCH (DBB)

BAB IV METODE PENELITIAN. 4.1 Sampel. Sampel yang digunakan adalah tanaman nilam yang berasal dari Dusun

4013 Sintesis benzalasetofenon dari benzaldehida dan asetofenon

4024 Sintesis enantioselektif pada etil (1R,2S)-cishidroksisiklopentana

LAMPIRAN A PERHITUNGAN NERACA MASSA

Kata Kunci : kromatografi gas, nilai oktan, p-xilena, pertamax, pertamax plus.

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan. menentukan dimensi. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Analisis Fenobarbital..., Tyas Setyaningsih, FMIPA UI, 2008

(Indra Wibawa D.S. Teknik Kimia. Universitas Lampung) POMPA

TEMPERATUR. dihubungkan oleh

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Lingkup Penelitian Penyiapan Gliserol dari Minyak Jarak Pagar (Modifikasi Gerpen 2005 dan Syam et al.

BAB III SPESIFIKASI ALAT

METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi motor bensin 4-langkah 135 cc. mesin uji yang digunakan adalah sebagai berikut. : 4 langkah, SOHC, 4 klep

BAB III METODE PENGUJIAN. Industri PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan yang beralamat di Jl.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PRAPERANCANGAN PABRIK KIMIA PRAPERANCANGAN PABRIK ETILEN GLIKOL DENGAN KAPASITAS TON/TAHUN. Oleh :

Panas berpindah dari objek yang bersuhu lebih tinggi ke objek lain yang bersuhu lebih rendah Driving force perbedaan suhu Laju perpindahan = Driving

III. METODOLOGI PENELITIAN. : Motor Diesel, 1 silinder

Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton

LABORATORIUM PERLAKUAN MEKANIK

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA SOLID-LIQUID MIXING

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Alat kromatografi kinerja tinggi (Shimadzu, LC-10AD VP) yang

METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT 1. Bahan a. Bahan Baku b. Bahan kimia 2. Alat B. METODE PENELITIAN 1. Pembuatan Biodiesel

BAB V SPESIFIKASI ALAT PROSES

III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Lampung. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada rentang

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK KIMIA

PEMISAHAN MEKANIS (mechanical separations)

PERANCANGAN MIXER MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB

Bab III Rancangan Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2014 bertempat di

4002 Sintesis benzil dari benzoin

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Juli-Desember 2012 bertempat di

PRARANCANGAN PABRIK UREA FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS TON / TAHUN

METODE PENGUJIAN TENTANG ANALISIS SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR SNI

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

Transkripsi:

LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN L1.1 DATA KALIBRASI SUHU TANGKI DISTILASI Tabel L1.1 Data Kalibrasi Suhu Tangki Distilasi Waktu (Menit) T Termometer ( o C) T Panel ( o C) 0 33 29 5 33 36 10 33 44 15 35 50 20 38 55 25 41 60 30 44 64 35 47 70 40 50 75 45 53 78 50 56 81 55 59 83 60 61 86 65 64 88 70 66 91 75 71 91 80 73,5 92 85 76 93 90 79,5 94 L1.2 DATA PERCOBAAN HASIL FERMENTASI DAN DISTILASI Tabel L1.2 Data Percobaan Hasil Fermentasi dan Distilasi Proses Volume (ml) Kadar Etanol (%) Fermentasi 50.000 8,98% Distilasi 1.050 74,96%

LAMPIRAN 2 PERHITUNGAN L2.1 DASAR PEMILIHAN UKURAN PLANT Ketersediaan Bahan Baku Bahan baku dari pembuatan bioetanol ini adalah kulit durian. Kulit durian diambil dari penjual durian yang berada di daerah Medan, Sumatera Utara, salah satunya adalah Ucok Durian. Dalam satu hari, durian yang terjual di Ucok Durian mencapai 1000 buah. Dari literatur diperoleh bahwa kandungan daging buah durian terdiri dari 20-35% daging buah, 5-15% biji dan 60-75% kulit durian dalam satu buah durian [20]. Sedangkan berat durian per buahnya rata-rata 1,5-3 kg [50]. Perhitungan jumlah kulit durian yang dihasilkan per hari: Kulit durian = 1000 buah 0,60 /buah 2 kg/buah = 1200 kg / hari Jumlah kulit durian yang tersedia setiap harinya adalah 1200 kg / hari. Sehingga sangat potensial untuk dijadikan bahan baku bioetanol. Dalam penelitian ini akan dirancang peralatan unit pembuatan bioetanol dengan satu siklus pembuatan bioetanol diperlukan 100 kg kulit durian. Perhitungan Kapasitas Proses Dari percobaan laboratorium yang telah dilakukan diperoleh: - Densitas larutan kulit durian = 1013,6 kg/m 3 - Perhitungan volume kebutuhan tangki: = 100 kg 1013,6 kg/m 3 = 0,09865 m3 = 98,685 dm 3 = 98,685 liter 100 liter Dari hasil perhitungan untuk kapasitas proses 100 kg per siklus pembuatan bioetanol diperlukan volume tangki lebih kurang sekitar 100 liter. Jadi akan dirancang unit pembuatan bioetanol yang terdiri dari peralatan pre-treatment, fermentor, distilator dengan kapasitas proses 100 liter.

L2.2 PERHITUNGAN SPESIFIKASI PERALATAN L2.2.1 Peralatan Pre-Treatment L2.2.1.1 Tangki Pemasak Awal Fungsi Bentuk Bahan Jumlah : Untuk pemasakan awal kulit durian sehingga menjadi lebih lunak dan mudah untuk dihaluskan : Tangki silinder vertikal dengan alas dan tutup elipsoidal : Carbon steel SA-285 Grade C : 1 unit Kondisi operasi : Temperatur (T) = 100 o C a. Volume Tangki Tekanan (P) = 1 atm Diinginkan membuat tangki pemasak awal dengan kapasitas proses 100 liter = 100 dm 3 Faktor kelonggaran = 20% [50] Volume tangki, V T = (1+0,2) 100 dm 3 = 1,2 100 dm 3 = 120 dm 3 Perbandingan tinggi tangki dengan diameter tangki (H s : D t ) = 3 : 2 Volume silinder (V s ) = π/4.d 2 t.h s V s = 3 πd 8 t 3 Tinggi head (H h ) = ¼ D, dimana D = D t [45] Volume tutup (V h ) = 0,1309 D 3 V T = V s + V h = (3π/8. D t 3 ) + (0,1309.D 3 ) = (1,1775. D 3 t ) (0,1309. D 3 t ) 3 V T = 1,3084 D t Diameter tangki, D t in 3 = V t 1,3084 3 = 120 = 4,510 dm = 45,10 cm = 17,756 1,3084 Diameter tutup, D = D t = 4,510 dm = 45,10 cm = 17,756 in Tinggi silinder, H s = 26,634 in = 3/2 D = 3/2 4,510 dm = 6,765 dm = 67,65 cm

Tinggi tutup, H h Tinggi tangki, H T = 1/4 D = 1/4 4,510 dm = 1,128 dm = 11,28 cm = 4,438 in = H s + 2.H h = 9,021 dm = 90,21 cm = 35,516 in b. Tekanan Desain Tinggi cairan dalam tangki = = volume bahan dalam tangki x tinggi tangki volume tangki 100 9,021 120 = 7,518 dm = 0,7518 m Tekanan hidrostatis = Densitas bahan g tinggi cairan dalam tangki = 995,68 9,8 x 0,7518 = 7335,812 Pa = 1,064 psia Tekanan operasi = 1 atm = 14,696 psia Faktor keamanan tekanan = 20% Maka, P desain = (1+0,2) (1,064 + 14,696) = 18,912 psia c. Tebal Dinding Tangki (Bagian Silinder) S = allowable stress = 13700 psia [51] E = joint efficiency = 0,85 [51] C = faktor korosi = 0,01 in/tahun [51] n = umur tangki Tebal shell tangki: t = t = PD SE-0,6P + nc = 10 tahun 18,912 psia x 17,756 in + 10 tahun 0,01 in/tahun 13700.0,85-0,6.18,912 t = 0,128 in Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,128 in Maka tebal shell standar yang digunakan = 1/4 in [46]

d. Tebal Dinding Head (Tutup Tangki) S = allowable stress = 13700 psia [51] E = joint efficiency = 0,85 [51] C = faktor korosi = 0,01 in/tahun [51] n = umur tangki Tebal shell tangki: t = t = PD 2SE-0,2P + nc = 10 tahun 18,912 psia 17,756 in + 10 tahun 0,01 in/tahun 2.13700.0,85-0,2.18,912 psia) t = 0,114 in Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,114 in Maka tebal shell standar yang digunakan = 1/8 in [46] L2.2.1.2 Perhitungan Daya Crusher Fungsi Jenis Bahan konstruksi Jumlah : Mengecilkan ukuran dan menghaluskan kulit durian : Rotary knife : Baja karbon : 1 unit Asumsi diameter awal bahan baku (kulit durian yang dipotong) = 30000 µm Diameter akhir = 2000 πm Dari tabel 12.2 Walas [43] diperoleh Wi untuk semua material = 13,81 Dari persamaan W =10.Wi.( 1 d 1 di ) Dimana: d = diameter akhir umpan d i = diameter awal umpan W i = tegangan material Maka, W=10.Wi.( 1 1 ) = 2,283 kw / (ton/hari) = 3,061 hp 2000 30000

L2.2.1.3 Tangki Bertekanan (Tangki Hidrolisis) Fungsi Jumlah Bahan Bentuk Kondisi operasi a. Volume Tangki : sebagai wadah untuk berlangsungnya proses liquid hot water atau proses hidrolisis berlangsung : 1 unit : Carbon steel SA 283 Grade C : Silinder tegak dengan alas dan tutup elipsoidal : P = 304,05 kpa T = 107 o C Diinginkan membuat tangki bertekanan (tangki hidrolisis) dengan kapasitas proses 100 liter = 100 dm 3 Faktor kelonggaran = 20% [50] Volume tangki, V T = (1+0,2) 100 dm 3 = 1,2 100 dm 3 = 120 dm 3 Perbandingan tinggi tangki dengan diameter tangki (H s : D t ) = 3 : 2 Volume silinder (V s ) = π/4.d t 2.H s V s = 3 8 πd t 3 Tinggi head (H h ) = 1/4 D, dimana D = D t [45] Volume tutup (V h ) = 0,1309 D 3 V T = V s + V h = (3π/8. D t 3 )+ (0,1309.D 3 ) = (1,1775. D 3 t ) (0,1309. D 3 t ) 3 V T = 1,3084 D t Diameter tangki, D t 17,756 in 3 = V t 1,3084 3 = 120 = 4,510 dm = 45,10 cm = 1,3084 Diameter tutup, D = D t = 4,510 dm = 45,10 cm = 17,756 in Tinggi silinder, H s Tinggi tutup, H h = 3/2 D = 3/2 4,510 dm = 6,765 dm = 67,65 cm = 26,634 in = 1/4 D = 1/4 4,510 dm = 1,128 dm = 11,28 cm = 4,438 in

Tinggi tangki, H T = H s + 2.H h = 9,021 dm = 90,21 cm = 35,516 in b. Tekanan Desain Tinggi cairan dalam tangki = = volume bahan dalam tangki x tinggi tangki volume tangki 100 9,021 120 = 7,518 dm = 0,7518 m Tekanan hidrostatis = Densitas bahan x g x tinggi cairan dalam tangki = 995,68 9,8 0,7518 = 7335,812 Pa = 1,064 psia Tekanan operasi = 304,05 kpa = 44,099 psia Faktor keamanan tekanan = 20% Maka, P desain = (1+0,2) (1,064 + 44,099) = 54,196 psia c. Tebal Dinding Tangki (Bagian Silinder) S = allowable stress = 12650 psia [51] E = joint efficiency = 0,85 [51] C = faktor korosi = 0,01 in/tahun [51] n = umur tangki Tebal shell tangki: t = t = PD (SE-0,6P) + nc = 10 tahun 54,196 psia x 17,756 in + 10 tahun x 0,01 in/tahun (12650 psia x 0,85-0,6 x 54,196 psia) t = 0,186 in Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,186 in Maka tebal shell standar yang digunakan = 1/4 in [46] d. Tebal Dinding Head (Tutup Tangki) S = allowable stress = 12650 psia [51] E = joint efficiency = 0,85 [51]

C = faktor korosi = 0,01 in/tahun [51] n = umur tangki Tebal shell tangki: t = t = PD 2SE-0,2P) + nc = 10 tahun 54,196 psia 17,756 in + 10 tahun 0,01 in/tahun 2.12650.0,85-0,2.54,196 t = 0,144 in Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,144 in Maka tebal shell standar yang digunakan = 1/4 in [46] L2.2.2 Fermentor Fungsi : sebagai wadah berlangsungnya fermentasi proses perubahan glukosa menjadi etanol Jumlah : 1 unit Bentuk : Tangki silinder Kondisi proses : T = 27-30 o C Tangki Fermentor Spesifikasi fermentor disesuaikan dengan standar spesifikasi dari fermentor [45]: H/ D t = 2 Volume kerja maksimum = 75-80%, minimum = 20% V = π/4.d 2 t.h Keterangan: V = Volume fermentor H = Tinggi fermentor D t = Diameter fermentor Diinginkan kapasitas proses 100 liter. Apabila dianggap volume kerja maksimum tangki fermentor 100 liter. Maka volume tangki yang akan dibangun: V T = 100 liter/0,8 = 125 liter Maka, dengan standar H/D t = 2 V = π/4.d 2 t.h

3 D t = V T = 43 cm π H = 2.D t = 86 cm Pengaduk Pengaduk didesain dengan standar sebagai berikut [39]: D a : D t = 0,6-0,8 W : D a = 1/6 1/10 C : D a = 1: 3 Pengaduk yang telah dirancang mempunyai spesifikasi: D a = Diameter impeller = 30 cm W = Lebar impeller = 3 cm C = Jarak pengaduk dari dasar tangki = 10 cm D t = Diameter tangki = 43 cm Maka, D a : D t = 30/43 = 0,71 (Telah sesuai standar) W : D a = 3 : 30 = 1/10 (Telah sesuai standar) C : D a = 1: 3 C = D a /3 = 30/3 = 10 cm Perhitungan Daya Motor pada Tangki Fermentor Jenis : Agitator paddle (2 bilah) Jumlah : 2 Kecepatan putaran : 155 rpm Efisiensi motor : 80% Dengan spesifikasi pengaduk yang sudah di rancang, sehingga dapat dihitung daya motor yang dibutuhkan: Viskositas = 3,468 cp = 3,468.10-3 kg/m.s Densitas = 1013,6 kg/m 3

Bilangan Reynold (N Re ) N Re = N D a 2 ρ = 2,58 (0,30m)2 1013,6 = 67865,61 µ 3,468.10 3 Jadi, N Re = 67865,61, maka aliran termasuk aliran transisi, karena berada di rentang N Re aliran transisi yaitu 10 dan 10 4. Dari gambar 3.4.4 Geankoplis Hal 145 [39] diperoleh bahwa pada N Re = 67865,61, nilai N p = 4. Maka, N p = P ρ.n3.d a 5 = P 1013,6.2,53.0,145 P = 3,407 J/s = 3,407 W = 0,0034 kw = 0,0046 hp Daya motor (P m ) = P/0,8 = 0,0046/0,8 = 0,0057 hp Maka dipakai motor dengan daya 1/8 hp L2.2.3 Tangki Distilasi Telah dirancang tangki distilasi dengan spesifikasi yang diperlihatkan pada tabel L2.1 Tabel L2.1 Spesifikasi Tangki Distilasi Dimensi Besaran Tinggi tangki 54 cm Diameter tangki 48 cm Tinggi kerucut 9 cm Perhitungan tangki distilasi dan tutup mengikuti standar [45]: H h = D d tanθ 2 V s = π/4.d 2 t.h s D t = D h H T = H s + H h Perhitungan volume tangki distilasi: Volume tangki = π/4.d 2 t.h s = π/4 (48) 2 54 = 97666,56 cm 3 = 97,66656 dm 3 = 97,66656 liter

Jadi, volume tangki distilasi adalah lebih kurang 100 liter. Hasil rancangan yang telah dibuat telah sesuai dengan kapasitas proses yang diinginkan. Sehingga rancangan ini dapat diterima. Tutup tangki distilasi di desain dengan bentuk conical, dengan θ = 45 o dengan persamaan [46]: H h = D d tanθ = 0,5 (48 0) tan 45o 2 = 24 cm Jadi, tinggi tutup (H h ) = 24 cm H T = H s + H h = 54 + 24 = 78 cm Maka, tinggi tangki keseluruhan adalah 78 cm L2.2.4 Tangki Air Pendingin Telah dirancang tangki air pendingin dengan spesifikasi yang ditampilkan pada tabel L2.2 Tabel L2.2 Spesifikasi Tangki Air Pendingin Dimensi Besaran Tangki Tinggi tangki 66 cm Diameter tangki 37 cm Perhitungan volume tangki air pendingin: Volume tangki = πr 2 t = 3,14 (18,5) 2 66 = 70927,89 cm 3 = 70,92789 dm 3 = 70,92789 liter Jadi, volume tangki air pendingin adalah ± 70 liter.

LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI L3.1 BAHAN DASAR PEMBUATAN UNIT PEMBUATAN BIOETANOL Gambar L3.1 Kerangka Unit Pembuatan Bioetanol Gambar L3.2 Dasar Tangki Fermentasi (Fermentor)

Gambar L3.3 Dasar Tangki Distilasi Gambar L3.4 Dasar Tangki Pendingin

L3.2 Rangkaian Unit Pembuatan Bioetanol Gambar L3.5 Rangkaian Unit Pembuatan Bioetanol

LAMPIRAN 4 HASIL LABORATORIUM L4.1 HASIL ANALISIS KADAR BIOETANOL HASIL FERMENTASI Gambar L4.1 Hasil Pembacaan Kadar Bioetanol Hasil Fermentasi menggunakan GC

L4.2 HASIL ANALISIS KADAR BIOETANOL HASIL DISTILASI Gambar L4.2 Hasil Pembacaan Kadar Bioetanol Hasil Distilasi menggunakan GC

LAMPIRAN 5 PROSEDUR ANALISIS KADAR ETANOL L5.1 PROSEDUR ANALISIS KADAR ETANOL MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS (GC) Kandungan etanol yang terdapat di dalam larutan bioetanol dapat dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas. Berikut akan dijelaskan prosedur analisis kandungan etanol dengan menggunakan kromatografi gas berdasarkan metode ASTM D5501 yang terdapat di dalam SNI 7390.2012 [15]. L5.1.1 Peralatan Sebuah kromatografi gas berdetektor nyala pengion (flame ionization detector, FID) yang dilengkapi dengan kolom gelas kapiler berlapis-dalam metil silikon (yang berikatan silang dan terikat secara kimia pada permukaan gelas kolom) dengan dimensi 150 m x 0,25 mm dan tebal film metil silikon 1,0 µm. Kolom lain dapat juga digunakan bila efisiensi dan selektifitas kromatografinya setara atau lebih baik dari kolom yang dipertelakan di bawah. Kromatograf harus mampu beroperasi pada kondisi tipikal berikut ini [15]: 1. Program temperatur kolom Panjang kolom : 150 m Temperatur awal : 60 C Waktu penahanan awal : 15 menit Laju program : 30 C/menit Temperatur akhir : 250 C Waktu penahanan akhir : 23 menit 2. Injektor Temperatur : 300 C Nisbah pembagian (split ratio) : 200 : 1 Ukuran contoh yang diinjeksikan : 0,1 sampai 0,5 µl (mikroliter)

3. Detektor Tipe : FID (nyala pengion) Temperatur : 300 C Gas bahan bakar : hidrogen (sekitar 30 ml/menit) Gas pembakar : udara (sekitar 300 ml/menit) Gas penambah (make-up) : nitrogen (sekitar 30 ml/menit) 4. Gas Pembawa Tipe Kecepatan linier rata-rata : helium : 21 24 cm/s Gas pembawa helium harus berkemurnian minimum 99,95% dan sebelum memasuki kromatografi, dilewatkan sistem/alat penyingkir oksigen dan pemurni gas. Gas hidrogen dan nitrogen untuk detektor juga harus berkemurnian 99,95% sedang udara pembakar harus bebas hidrokarbon; sebelum memasuki detektor, masing-masing dari ketiga gas ini pun disarankan dilewatkan sistem pemurni gas [15]. L5.1.2 Penyiapan, Kalibrasi dan Standarisasi Adapun prosedur penyiapan, kalibrasi dan standarisasi adalah sebagai berikut [15]: 1. Periksa bahwa kromatograf gas (yang sebelumnya sudah dipasang selayaknya) bebas dari kebocoran. Jika terdapat kebocoran, eratkan sambungan-sambungan dan jika perlu, ganti sambungan-sambungan dengan yang baru. 2. Atur laju alir gas pembawa dan periksa bahwa kecepatan linier rataratanya, pada temperatur awal program, berada di antara 21 dan 24 cm/s. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur waktu retensi metana (CH 4 ) pada kolom dan menghitung kecepatan linier rata-rata dengan persamaan: v = L t m

Keterangan: v = kecepatan linier rata-rata gas pembawa, cm/s L = panjang kolom, cm t m = waktu retensi metana pada kolom, s Pengaturan laju alir dilakukan dengan membesar-kecilkan tekanan gas pembawa ke injektor. 3. Atur kondisi-kondisi operasi seperti kondisi peralatan pada L5.1.1 dan biarkan beberapa lama agar sistem mencapai kesetimbangan. 4. Zat-zat standar yang diperlukan untuk kalibrasi, yaitu heptana, metanol, etanol dan, jika dikehendaki, alkohol-alkohol monohidroksi C3 C5, harus murni atau diketahui tingkat kemurniannya serta bebas dari komponen-komponen lain yang akan dianalisis. Khusus untuk etanol, kemurniannya harus minimum 99,5%. 5. Untuk kalibrasi, siapkan/sediakan campuran-campuran yang diketahui komposisinya dan berkadar etanol 94 98%-berat, metanol 0,1 0,5%- berat, sisanya heptana (pengganti denaturan); jika dikehendaki, campuran bisa juga mengandung alkohol-alkohol C3 C5 dalam jumlah kecil tetapi diketahui secara teliti. 6. Tentukan waktu retensi etanol, metanol (dan alkohol-alkohol lain) dengan menginjeksikan contoh zat-zat ini, secara sendiri-sendiri atau dalam bentuk campuran kalibrasi di atas, ke kromatograf. Pastikan bahwa tiap alkohol dapat dideteksi dan diintegrasi dengan benar. Adanya puncak yang tidak simetrik di bagian depan (front-skewed) menunjukkan bahwa kolom terbanjiri (overload) oleh komponen ini dan bahwa nisbah pembagian (split ratio) injektor terlalu kecil. 7. Plot luas puncak pada kromatogram versus konsentrasi etanol untuk campuran-campuran kalibrasi yang disebutkan di atas harus linier. Jika tidak, perbesar nisbah pembagian injektor atau buat rentang detektornya menjadi agak kurang peka. 8. Persen massa tiap komponen yang diperoleh dari luas-luas puncak pada kromatogram harus di sekitar ± 3% (relatif) dari konsentrasinya pada campuran kalibrasi.

9. Tentukan pula faktor-faktor respons relatif berbasis massa untuk metanol, etanol, dan alkohol-alkohol lain berdasar kromatogram campuran kalibrasi. Faktor respons relatif berbasis massa dari komponen i (Ri) adalah: R i = {(luas puncak persen massa)} i {(luas puncak persen massa)} heptana Nilai-nilai tipikal faktor respons relatif berbasis massa ditampilkan pada tabel L5.1. Tabel L5.1 Nilai Tipikal Respon Relatif Berbasis Massa Zat i Ri Berat jenis 15,56/15,56 o C Metanol 3,20 0,796 Etanol 2,06 0,794 L5.1.3 Prosedur Analisis berikut [15]: Adapun prosedur analisis menggunakan kromatografi gas adalah sebagai 1. Pastikan bahwa sistem kromatograf telah berada pada kondisi operasi yang layak (misalnya seperti tertera pada sub-bagian B di atas). 2. Atur kepekaan sistem kromatograf agar tiap komponen yang kadarnya 0,002 %-massa dapat dideteksi dan diintegrasi dengan benar. 3. Injeksikan 0,1 sampai 0,5 µl contoh yang dianalisis ke dalam gerbang injeksi (injektor) dan mulai analisis. Peroleh kromatogram beserta laporan integrasi (luas) puncak-puncaknya. L5.1.4 Perhitungan dan Pelaporan Adapun perhitungan dan pelaporan hasil analisis adalah sebagai berikut [15]: 1. Kalikan tiap luas puncak yang terdeteksi (Ai) dengan faktor respons relatif berbasis massanya (Ri). Gunakan faktor-faktor yang diperoleh untuk tiap komponen sewaktu kalibrasi dan gunakan faktor 1,000 untuk puncak yang tidak diketahui.

2. Tentukan persen massa relatif tiap alkohol (RMi)dengan persamaan berikut: RM i = A i R i x 100 Σ n i Ai R i Dengan n = banyak puncak yang terdeteksi 3. Dapatkan angka persen massa air di dalam contoh yang dianalisis. 4. Tentukan %-massa alkohol-alkohol (Mi) dengan menggunakan persamaan berikut: M i = RM i x 100 n persen massa air di dalam contoh 100 5. %-volume alkohol-alkohol (Vi) dapat dihitung dengan persamaan berikut: Keterangan: V i = M i x D c D i D c = berat jenis 15,56/15,56 C contoh yang dianalisis (dapat diukur dengan cara hidrometri atau piknometri) D i = berat jenis 15,56/15,56 C komponen i (untuk metanol dan etanol, diberikan pada tabel L5.1) 6. Laporkan nilai persen massa maupun persen volume alkohol-alkohol hanya sampai 2 (dua) angka di belakang koma. 7. Perbedaan relatif dari hasil-hasil berturutan yang diperoleh seorang analis pada contoh yang sama mestinya tidak lebih dari 0,22 %.