BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK
|
|
|
- Handoko Yandi Hermanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK 4.1 Perhitungan Beban Operasi System Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat movable bridge kapasitas 100 ton yang akan diangkat oleh dua buah silinder hidraulik kanan dan kiri masing-masing 50 ton, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.1) : Diketahui : m = massa ( kg) g = percepatan grafitasi (9,81 m/sec 2 ) F = gaya (N) Maka : F = m. g F = kg.9,81 m/sec F = N Jadi gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat jembatan F = N beban masingmasing silinder hidraulik kanan dan kiri adalah N 34
2 4.2 Skema Sistem Hydraulik a. Penggerak sistem Hydraulik power unit ini menggunakan dua sistem penggerak yaitu elektik motor sebagai penggerak utama dan engine sebagai penggerak saat emergency (mati lampu). Dengan demikian dibutuhkan shuttle valve sebagai valve yang berfungsi membuka dan menutup aliran berdasarkan tekanan yang dialirkan dari penggerak utama atau penggerak emergency dan check valve sebagai pengaman masing-masing pompa agar tidak terjadi tekanan balik. b. Posisi angkat Hydraulik power unit akan memberikan tekanan pada jalur pipa angkat yang dikontrol oleh directional valve 4/2, maka valve akan mengalirkan fluida untuk memberikan pressure untuk mengangkat kontruksi jembatan, aliran fluida diatur oleh flow control untuk membatasi aliran fluida pada silinder hydraulik sisi kanan dan sisi kiri agar posisi naik dan turun bisa bersamaan. c. Posisi Turun Pada posisi normal silinder hydraulik menahan beban kontruksi jembatan sehingga pada posisi normal ini secara terus menerus jembatan akan menarik batang piston untuk pergerakan ke arah turun, dengan demikian dibutuhkan suatu komponen / alat untuk menahan beban yang mampu menahan beban secara terus menerus dan aman ketika terjadi kebocoran pada instalsi atau kejadian yang tidak dinginkan seperti pecah hose atau kebocoran pada jalur instalasi. Dengan demikian dibutuhkan pilot operated check valve untuk menahan fluida agar tidak bisa keluar dari bore silinder bagian batang piston sehingga silinder hydraulik mampu menahan beban yang diterimanya, pilot operated check valve dipasang menyatu pada bodi silinder hydraulik agar ketika terjadi 35
3 kebocoran pada jalur instalasi pipa tidak berpengaruh pada sistem (dilihat pada gambar 4.1). Untuk menurunkan silinder hydraulik, jalur pilot pada pilot operated check valve diberikan pressure untuk menekan piston sehingga jalur fluida terbuka, karena beban jembatan fluida yang terjebak terdorong piston turun mengalir keluar menuju tangki hydraulik, karena piston bergerak kearah bawah maka ruang diatas piston akan vakum dan akan berubah fungsi seperti pompa menghisap fluida dari tangki untuk memenuhi ruang bore silinder piston. Dari hal tersebut kita bisa menentukan komponen yang dibutuhkan untuk menyusun suatu sistem rangkaian hidraulik yang kita perlukan. Gambar 4.1. Pilot Operated Check Valve (Sumber : Data Pribadi ) 36
4 Gambar 4.2. Skema Sistem hydraulik 37
5 Komponen Komponen yang terdapat pada skema sistem hydraulik : 1. Tangki (reservoir) 2. Filler breather 3. Level gauge 4. Ball valve 5. Filter isab (Suction filter) 6. Pompa Vane 1 7. Motor engine diesel 8. Pompa Vane 2 9. Motor listrik 10. Katup searah (check valve) 11. Katup pembagi aliran (Shuttel Valve) 12. Katup pembatas tekanan (relief valve) 13. Ball valve 14. Pembaca tekanan (Pressure Gauge) 15. Katup pengarah arah aliran 16. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 17. Manifold Blok 18. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 19. Katup searah (check valve) 20. Ball valve 21. Ball valve 22. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 23. Filter kembalian (Return filter) 38
6 24. Stop Valve 25. Pilot Check Valve 4.3 Perhitungan Sistem Hydraulik Perhitungan Dimensi Silinder Hidraulik Perhitungan dimensi silinder hidraulik menyangkut luas silinder (A), diameter dalam silinder (D 1 ) diameter batang piston (d bp ) dan tebal dinding silinder (t d ). Pada gambar 4.1. diperlihatkan dimensi silinder hidraulik, yang menunjukkan luas efektif (A 1 dan A 2 ), diameter dalam silinder (D 1 ), diameter batang piston (d bp ) dan diameter luar (D o ). Gambar 4.3. Dimesi Silinder. Keterangan : A = Luas daerah silinder piston (m 2 ) A = Luas daerah batang piston (m 2 ) D D d L = Diameter dalam silinder (mm) = Diameter luar silinder (mm) = Diameter batang piston (mm) = Panjang langkah kerja (mm) 39
7 D 1 dan d bp didapatkan perhitungan, kemudian disesuaikan dengan S (lampiran 2). Luas penampang silinder dicari dengan menggunakan persamaan (2.3): Diketahui : P = tekanan ( N/m 2 ) F = gaya luar ( N) A = luas permukaan (m 2 ) P = F A N/m 2 = A = N N/m 2 A = 0, m 2 A = 612, 5 cm N A Karena beban berada diujung batang piston dan F kearah piston maka A disini disebut A, menurut SI ( Lampiran 2) A 2 yang sesuai adalah A 2 = 638 cm 2 Dengan ratio (φ) = 1,6 pada lampiran 2 didapat : φ = A 1 A 2 = 1, 6 A 1 = A 2. 1, 6 A 1 = 638 cm 2. 1, 6 A 1 = 1020, 80 cm 2 menurut SI ( Lampiran 2) A 1 yang sesuai adalah A 1 = 1018 cm 2 40
8 Berdasarkan lampiran 2, didapat D 1 : A 1 = π 4. (D 1) cm 2 = π 4. (D 1) 2 D 1 = 36, 1 cm = 361 mm Berdasarkan lampiran 2, didapat d bp : A 2 = π 4. (D 1 2 d 2 bp ) 638 cm 2 = π 4. ((36, 1 cm)2 d 2 bp ) Tebal Dinding Silinder (t d ) d bp = 22 cm = 220 mm Keterangan : t = tebal dinding silinder (mm) C = faktor korosi = 0,5 mm = 0,0005 m t d = PD 1 2t izin + C Material yang digunakan adalah baja khrom Nikel Molibdenum (JIS G 4103 SNCM2) pada lampiran 1, dengan : T tarik = 95 kg/mm 2 = 932 N/mm 2 t tarik = t tarik k = 932 N/mm2 8 = 116,5 N/mm 2 = 116, N/m 2 Keterangan : k = faktor keamanan = 8, Lampiran (3) t d = N/m 2. 0, 361 m , N/m 2 + 0, 0005 T d = 0,012 m = 12 mm 41
9 4.3.3 Diameter Luar Silinder (D o ) Diameter luar silinder (D o ) dapat dihitung dengan persamaan : D o = D t d D o = 0,361 m ,012 m D o = 0,385 m = 385 mm 4.4 Pemeriksaan Tegangan Tarik Batang Piston Silinder Uji tegangan tarik yang terjadi pada piston rod dihitung dengan persamaan 2.12 σ kerja = F A bp = F π. (d 4 bp) 2 Diketahui : d = diameter batang piston rod (220 mm) F = gaya luar ( N) σ = tegangan tarik yang terjadi pada batang piston luas permukaan(n/mm 2 ) σ = tegangan izin bahan (N/mm 2 ) = 116,5 N/mm 2 Sehingga didapat σ kerja = π N. (0, 22 m)2 σ kerja = 12, N/m 2 Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa : σ < σ, 12, N/m 2 < 116, N/m 2, berarti batang piston rod aman dari tegangan tarik. 42
10 4.5 Menentukan Volume dan Laju Aliran Fluida Ruang silinder hydraulik terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan yang memiliki volume silinder penuh (V ) dan ruangan yang memiliki volume silinder penuh dikurangi volume silinder batang piston ( V ), sehingga dalam perhitungan volume silinder digunakan persamaan 2.6 yaitu : volume silinder penuh (V ) V 1 = A 1. S V 1 = m 2. 2,5 m V 1 = 0, 27m 3 volume silinder batang piston (V ) V 2 = A 2. S V 2 = m 2. 2,5 m V 2 = 0, 1595 m 3 Diketahui : V = volume silinder (m 3 ) A = luas penampang daerah silinder piston penuh ( m ) A = luas penamapang daerah silinder batang piston( m ) S = panjang langkah maksimum (2,5 m) Kapasitas laju aliran fluida pada silinder bagian bore (V ) dan bagian rod (V ) dihitung dengan persamaan 2.5, yaitu : Kapasitas laju aliran fluida pada silinder penuh (Q ) Q 1 = V t 43
11 Q 1 = 0, 27 m3 300 sec Q 1 = 0, m 3 /sec Kapasitas laju aliran fluida pada silinder batang piston (Q ) Q 2 = V t Q 2 = 4.6 Menentukan Fluida Kerja 0, 1595m3 300 sec Q 2 = 0, m 3 /sec Fluida kerja yang dipilih adalah Esstic 45 ( Lampiran 3 ) yang memiliki viscositas antara 1,22 0,25 cm 2 /sec pada suhu 20 0 C 50 0 C, Nilai viscositas kinematik (v) yang diambil berdasarkan kondisi suhu rata-rata 50 0 C, v = 25 centitikes = 0,25 cm 2 /sec = 25 mm 2 /sec = m 2 /sec yang berarti berdasarkan lampiran 3, kelas SAE (Society of Automotive Engineering) adalah SAE 10W, Nilai rapat Fluida (ρ) = 0,890 kg/dm 3 = 890 kg/m Menentukan ukuran pipa pada jalur fluida Jalur pipa Utama Gambar 4.4. Jalur Pipa Utama 44
12 Jalur pipa utama adalah jalur pipa antara pompa menuju manifold block katup pengarah aliran (directional valve) dan flow control utama. Bilangan Reynold di tentukan Re = 2200, agar aliran tetap laminar maka diameter pipa (d p ) didapatkan dengan persamaan 2.11, yaitu : R e = V. d v (Q/A). d = v Q = ( 1. π. 4 d2 ). d v d p = 4. Q kerja R e. π. v = 4. Q. d π. d 2. v Dimana : V = kecepatan aliran (m/sec) d = diameter dalam pipa (m) v = koefisien kekentalan kinematik (m 2 /sec) R = bilangan Reynolds Untuk mengangkat movable bridge hydraulik silinder bergerak secara serentak pada sisi kanan dan sisi kiri dalam satu periode, maka kapasitas laju aliran fluida pada silinder hydraulik sebelah kiri (Q ) sama dengan kapasitas laju aliran fluida silinder hydraulik sebelah kanan (Q ) sehingga didapat : Total kapasitas laju aliran fluida : Q total = Q kerja = Q 1L + Q 1R Q total = 0, m 3 / sec + 0, m 3 /sec Q total = 1, m 3 /sec 45
13 Didapatkan diameter pipa utama : d pu = 4. Q kerja R e. π. v d p = 4. 1, m 3 /sec , m 2 /sec d pu = 0, 024 m d pu = 24 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa utama (d ) = 24,4 mm, tebal saluran pipa = 2,8 mm dan diameter luar saluran pipa = 30 mm Jalur Pipa Aktuator Pressure Gambar 4.5 Jalur Pipa Akuator Pressure. Jalur pipa aktuator adalah jalur pipa utama menuju aktuator silinder hydraulik kanan dan kiri, karena beban jembatan diangkat silinder hydraulik kanan dan silinder hydraulik kiri maka silinder hydraulik kanan sama dengan silinder hydraulik kiri. Bilangan Reynold ditentukan Re = 2200, agar aliran tetap laminar maka diameter pipa (d pan ) adalah : 46
14 Kapasitas laju aliran fluida aktuator naik : Q kerja = Q 2L = Q 2R Didapatkan diameter pipa aktuator naik : Q kerja = 0, m 3 / d pan = 4. Q kerja R e. π. v d pan = 4. 0, m 3 /sec , m 2 /sec d pan = 0, 012 m d pan = 12 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa aktuator naik (d ) = 12 mm, tebal saluran pipa = 2 mm dan diameter luar saluran pipa = 16 mm Jalur Pipa Aktuator Isab Gambar 4.6 Jalur Pipa Aktuator Isab 47
15 Kapasitas laju aliran fluida aktuator isab : Q kerja = Q 1L = Q 1R Didapatkan diameter pipa aktuator isab : Q kerja = 0, m 3 /sec d pis = 4. Q kerja R e. π. v d pis = 4. 0, m 3 /sec , m 2 /sec d pis = 0, 020 m d pis = 20 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa aktuator jalur isab silinder (d ) = 19,4 mm, tebal saluran pipa = 2,8 mm dan diameter luar saluran pipa = 25 mm. Kapasitas aliran fluida dalam pipa aktuator (Q ) sama dengan Kapasitas aliran fluida dalam silinder hydraulik (Q ) maka : Q p = Q s V p. A p = V s. A s Didapatkan kecepatan aliran fluida dalam pipa aktuator naik adalah: V pa = A s A p. V s π 2 ) 4 V pa =. (D 1 2 D bp π. D 2. s s 4 pan t s 48
16 V pa = π 4. (0,36 0, 22)m π. 0,012 m. 4 2, 5 m 300 s V pa = 4, 699 m/s Didapatkan kecepatan aliran fluida dalam pipa isab silinder turun adalah : Diketahui : V pis = A s A p. V s π 4 V pis =. D 1 2 π. D 2. s s 4 pis t s V pis = π. 0, m 2 π. 0, m. 2 V pis = 2, 7 m/s 2, 5 m 300 s V = Kecepatan aliran dalam silinder (m/sec) V = Kecepatan aliran dalam pipa (m/sec) V = S t 4.8 Kerugian Tekanan Akibat Gesekan, Sambungan, Katup dan Belokan Penurunan tinggi tekan (head Losses) akibat gesekan pada pipa dapat dihitung dengan diasumsikan panjang pipa lurus (Lp) dari pipa telanjang dapat dicari dengan menggunakan persamaan (2.13) Kerugian head Akibat Gesekan : h L = 32. L p. v. V d 2. g 49
17 Diketahui : h = penurunan head (m) L = panjang pipa utama (10 m) L = panjang pipa Aktuator (71 m) v = koefisien kekentalan kinematik ( m 2 /sec) V = kecepatan aliran pipa (0,093 m/sec ) d = diameter dalam pipa utama (0,024 m) d = diameter dalam pipa aktuator (0,012 m) g = percepatan grafitasi (9,81 m/sec 2 ) Maka Penurunan head pada pipa utama adalah : h L1 = 32. L p. v. V d 2. g h L1 = m 2 /sec. 0, 093 m/sec (0, 024 m) 2. 9, 81 m/sec 2 h L1 = 0, 132 m Penurunan head pada pipa aktuator adalah : h L1 = 32. L p. v. V d 2. g h L2 = m 2 /sec. 0, 093 m/sec (0, 012 m) 2. 9, 81 m/sec 2 50
18 h L2 = 3, 75 m Kerugian head Akibat Sambungan, Katup dan belokan Kerugian akibat katup, belokan dan sambungan dapat dihitung dengan mengetahui jumlah katup, sambungan dan belokan yang ada pada jalur system dan koefisen yang didapat. Penurunan kerja ini dinyatakan dengan rumus : Komponen Nilai factor hambatan Jumlah Check Valve 2 12 Directional valve 3 1 Flow Control Valve 5 3 Belokan ,5 34 Sambungan T 1,5 7 K total = (k. n) K total = (2. 12) + (3. 1) + (5. 3) + (0, 5. 34) + (1, 5. 7) K total = 69,5 h L3 = K total. V 2 2g h L3 = 69, 5. (0, 093 m/sec )2 2. 9, 81 m/sec 2 h L3 = 0,030 m 51
19 4.8.3 Kerugian head Total h L = h L1 + h L2 + h L3 h L = 0, 132 m + 3, 75 m + 0, 030 m h L = 3,919 m Kerugian tekanan dalam system Kerugian tekanan dalam sistem didapat dengan menggunakan persamaan P = ρ. g. h Diketahui : P = penurunan tekanan dalam sistem (N/m 2 ) ρ = rapat masa fluida (890 kg/m 3 ) h = kerugian tekanan secara keseluruhan (m) Maka : P = ρ. g. h L P = 890 kg/m 3. 9, 81 m/sec 2. 3, 919 m P = 34188, 30 N/m Tekanan Pembatas Tekanan pembatas dipakai untuk mengamankan komponen yang digunakan pada sistem yaitu dengan membatasi tekanan yang dihasilkan pompa agar tidak melebihi tekanan yang diijinkan pada instalasi dan komponen. Besarnya tekanan pembatas didapat dengan menjumlahkan besar tekanan yang akan dioperasikan ditambah dengan total kerugian tekanan. Karena pada system ini kita 52
20 mempunyai dua tekanan yaitu tekanan untuk naik dan tekanan untuk turun maka kita ambil tekanan paling besar sebagai tekanan pembatas. Tekanan untuk naik sudah kita tentukan, untuk tekanan turun kita dapatkan berdasarkan fungsi dari pilot operated check valve, diperlihatkan pada gambar : Gambar 4.7 Pilot Operating Check Valve Dimana : P = Tekanan naik ditentukan ( N/m 2 ) P = Tekanan turun (N/m 2 ) P = Tekanan dari dalam silinder hydraulik ( N/m 2 ) d = Diameter piston pilot check valve (0,040 m) d = Diameter jalur menuju silinder hydraulik (0,030 m) Gaya (F ) dari dalam piston check valve yang adalah : P 3 = F 3 A 3 F 3 = N m 2. (π 4. (0, 03)2 )m 2 F 3 = N 53
21 Untuk membuka jalur menuju silinder hydraulik maka gaya pada piston pilot (F ) harus lebih besar dari gaya pada piston check valve (F ) F 2 > F 3 P 2 = F 2 A 2 P 2 = N ( π 4. (0, 04)2 ) m2 P 2 = N/m 2 P 2 = 45 bar Jadi tekanan yang dibutuhkan untuk menurunkan jembatan ( P ) harus lebih besar dari 45 bar P 2 > 45 bar Dengan demikian tekanan paling besar adalah tekanan untuk menaikan movable bridge, Sehingga diperoleh : P p = P + P P p = N/m 2 + 3, N/m 2 P p = 80, N/m 2 P p = 80, 342 bar 4.10 Penentuan Power Supply Pompa ditentukan berdasarkan kapasitas laju aliran fluida dan head yang diperlukan untuk mengalirkan zat cair yang akan dipompa, sehingga didapat data-data teknis sebagai berikut : Umumnya besar tekanan pompa maksimum ditentukan 110% dari tekanan pembatas, sehingga diperoleh : 54
22 P max = P p x 110 % P max = 80, 342 bar x 110 % P max = 88, 36 bar Kapasitas pompa yang diperlukan untuk sistem hydraulik ini ditentukan dengan menggunakan persamaan : Q Pompa = Q kerja Efisiensi Q Pompa = 0, m 3 /sec 0, 9 Q Pompa = 1, m 3 /sec Q Pompa = 70, 2 ltr/menit Jadi pompa yang dibutuhkan adalah pompa yang memiliki kapasitas 70 ltr/s Daya Pompa (W ) : W P = P max. Q Pompa η W P = 88, N/m 2. 1, m 3 /sec 0, 85 W P = 11130, 74 N m/sec W P = 11130, 74 Watt W P = 11, 130 KW Diambil daya pompa yang diperlukan adalah 11 KW Diketahui : η = Efisiensi Volumetris (0,90) η = Efisiensi Mekanis (0,85) 55
23 4.11 Tangki Oli Besarnya kapasitas tangki yang dibutuhkan dalam sistem hydraulik adalah 2 3 kali dari kapasitas aliran fluida dalam sistem, karena penggunaan system movable bridge ini tidak terlalu sering dalam satu hari maka ditentukan 2 kali volume fluida dalam sistem, dengan menggunakan persamaan : V = 2 (V + V + V ) Diketahui : V = Volume silinder kanan (0,27m ) V =Volume silinder kiri (0,27m ) V =Volume dalam instalasi pipa (N/m 2 ) Volume pada jalur pipa utama : V pu = A pu. S V pu = ( π 4. (Dpu)2 ). S V pu = ( π 4. (0, 024)2 )m m V pu = 0, 0045m 3 Volume pada jalur pipa actuator naik : V pan = ( π 4. (Dpan)2 )m 2. S m V pan = ( π 4. (0, 012)2 )m m V pan = 0, 0080m 3 56
24 Maka total volume pada jalur pipa : V p = V pu + V pan V p = 0, 0045m 3 + 0, 0080m 3 V p = 0, 0125m 3 Maka didapatkan volume tanki adalah : V tangki = 2 (0, 1595 m 3 + 0, 1595 m 3 + 0, 0125 m 3 ) V tangki = 0, 663 m 3 V tangki = cm 3 V tangki = 663 liter Kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk sistem hydraulik movable bridge ini adalah 663 liter 4.12 Filter Berdasarkan data berarti dibutuhkan filter dengan karakteristik sebagai berikut : Kapasitas aliran fluida bebas Q = 70,2 ltr/menit Tingkat penyaringan = 10 micron (kotoran berukuran lebih dari 10 micron tidak mampu melalui filter ini) sehingga kotoran tertahan oleh filter 57
25 58
TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON
TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON Diajukan Guna Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir Pada Program Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Movable Bridge Movable Bridge (Jembatan bergerak) adalah jembatan yang difungsikan sebagai tempat sandar kapal laut serta sebagai jembatan penghubung antara pintu masuk dan keluar
TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM HIDRAULIK PADA BACKHOE LOADER TYPE 428E
TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM HIDRAULIK PADA BACKHOE LOADER TYPE 428E Disusun oleh Nama : Wiwi Widodo Nim : 41305010007 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA
BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK
BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK Dalam ilmu hidraulik berlaku hukum-hukum dalam hidrostatik dan hidrodinamik, termasuk untuk sistem hidraulik. Dimana untuk kendaraan forklift ini hidraulik berperan
Perencanaan Sistem Hidrolik Pada Backhoe Loader Type 428E BAB II TEORI BACKHOE LOADER DAN HIDRAULIK
BAB II TEORI BACKHOE LOADER DAN HIDRAULIK 2.1. Backhoe Loader Backhoe loader merupakan salah satu alat berat yang berfungsi meratakan material (kayu, tanah, pasir dll ), memindahkan material dari satu
BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK
BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK.1. Perhitungan Silinder-silinder Hidraulik.1.1. Kecepatan Rata-rata Menurut Audel Pumps dan Compressor Hand Book by Frank D. Graha dan Tara Poreula, kecepatan piston dipilih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN SISTEM HIDROLIK Sistem hidrolik adalah sistem penerusan daya dengan menggunakan fluida cair. minyak mineral adalah jenis fluida yang sering dipakai. prinsip dasar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)
BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT PENGUJIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini berupa alat sederhana. Alat yang di desain untuk mensirkulasikan fluida dari tanki penampungan
PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS
PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS 1. Dongkrak Hidrolik Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum Pascal. Berikut ini prinsip kerja dongkrak hidrolik. Saat pengisap
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Peralatan 3.1.1 Instalasi Alat Uji Alat uji head statis pompa terdiri 1 buah pompa, tangki bertekanan, katup katup beserta alat ukur seperti skema pada gambar 3.1 : Gambar
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN 4.1 Perhitungan Pengurangan Tekanan pada Katup. Pada bab ini akan dilakukan analisa kebocoran pada power steering system meliputi perhitungan kerugian tekanan yang dialami
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek dari saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel
Oleh : Endiarto Satriyo Laksono Maryanto Sasmito
Oleh : Endiarto Satriyo Laksono 2108039006 Maryanto Sasmito 2108039014 Dosen Pembimbing : Ir. Syamsul Hadi, MT Instruktur Pembimbing Menot Suharsono, S.Pd ABSTRAK Dalam industri rumah untuk membuat peralatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hidrodinamika 2.1.1 Definisi Hidrodinamika Hidrodinamika merupakan salah satu cabang ilmu yang berhubungan dengan gerak liquid atau lebih dikhususkan pada gerak air. Skala
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK 4.1 Membuat Desain Sirkuit Sistem Hidrolik Penyangga Tengah dan Cara Kerjanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pompa Sentrifugal Pompa sentrifugal adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu media perpipaan
Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan
Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan dalam pengontrolan dan kemudahan dalam pengoperasian
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antarmolekul
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pompa Pompa adalah peralatan mekanis yang digunakan untuk menaikkan cairan dari dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk mengalirkan cairan dari daerah bertekanan
ANALISA HIDROLIK SISTEM LIFTER PADA FARM TRACTOR FOTON FT 824
NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR ANALISA HIDROLIK SISTEM LIFTER PADA FARM TRACTOR FOTON FT 824 Disusun Sebagai Syarat Untuk Mengikuti Ujian Tugas Akhir Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas
KAJIAN ULANG PERENCANAAN PIPA PESAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) WONOGIRI
LAPORAN TUGAS AKHIR KAJIAN ULANG PERENCANAAN PIPA PESAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) WONOGIRI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil Disusun oleh : RUSWANTO
Analisa Pengaruh Variasi Volume Tabung Udara Dan Variasi Beban Katup Limbah Terhadap Performa Pompa Hidram
Analisa Pengaruh Variasi Volume Tabung Udara Dan Variasi Beban Katup Limbah Terhadap Performa Pompa Hidram Andrea Sebastian Ginting 1, M. Syahril Gultom 2 1,2 Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
Mesin Pemeras Minyak Ikan. Kamin Ginting & Eka Nanda Pratama
Mesin Pemeras Minyak Ikan Kamin Ginting & Eka Nanda Pratama Mesin Pemeras Minyak Ikan Minyak Ikan sangat berkhasiat bagi kesehatan tubuh kita bahkan bila Dibandingkan dengan minyak nabati ataupun minyak
BAB III CARA KERJA MESIN PERAKIT RADIATOR
BAB III CARA KERJA MESIN PERAKIT RADIATOR 3.1 Mesin Perakit Radiator Mesin perakit radiator adalah mesin yang di gunakan untuk merakit radiator, yang terdiri dari tube, fin, end plate, dan side plate.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Kerja Pompa Hidram Prinsip kerja hidram adalah pemanfaatan gravitasi dimana akan menciptakan energi dari hantaman air yang menabrak faksi air lainnya untuk mendorong ke
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Perpipaan Dalam pembuatan suatu sistem sirkulasi harus memiliki sistem perpipaan yang baik. Sistem perpipaan yang dipakai mulai dari sistem pipa tunggal yang sederhana
BAB III SET-UP ALAT UJI
BAB III SET-UP ALAT UJI Rangkaian alat penelitian MBG dibuat sebagai waterloop (siklus tertutup) dan menggunakan pompa sebagai penggerak fluida. Pengamatan pembentukan micro bubble yang terjadi di daerah
BAB II DASAR TEORI QQ =... (2.1) Dimana: VV = kebutuhan air (mm 3 /hari) tt oooo = lama operasi pompa (jam/hari) nn pp = jumlah pompa
4 BAB II DASAR TEORI 1.1 Definisi Pompa Pompa merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan suatu cairan dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara menaikkan tekanan cairan tersebut. Kenaikan tekanan
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa ALIRAN STEDY MELALUI SISTEM PIPA Persamaan kontinuitas Persamaan Bernoulli
PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN
PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik HATOP
Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2
Sistem Hidrolik No HP : 082183802878 Tujuan Training Peserta dapat : Mengerti komponen utama dari sistem hidrolik Menguji system hidrolik Melakukan perawatan pada sistem hidrolik Hidrolik hydro = air &
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Prinsip Kerja Sistem Hidroulik Pada Forklift Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115 PS, dengan putaran mesin 1500 rpm dan putaran dari mesin
PENGERTIAN HIDROLIKA
HYDRAULICS PENGERTIAN HIDROLIKA Hidrolika : ilmu yang menyangkut berbagai gerak dan keadaan kesetimbangan zat cair dan pemanfaatannya untuk melakukan suatu kerja. Hidrostatika memiliki prinsip bahwa dalam
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek pada saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel
BAB III ANALISA IMPELER POMPA SCALE WELL
BAB III ANALISA IMPELER POMPA SCALE WELL 3.1 Metode Perancangan Pada Analisa Impeller Didalam melakukan dibutuhkan metode perancangan yang digunakan untuk menentukan proses penelitian guna mendapatkan
BAB 3 POMPA SENTRIFUGAL
3 BAB 3 POMPA SENTRIFUGAL 3.1.Kerja Pompa Sentrifugal Pompa digerakkan oleh motor, daya dari motor diberikan kepada poros pompa untuk memutar impeler yang dipasangkan pada poros tersebut. Zat cair yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Dasar Hidrolik Hidrolika adalah ilmu yang menyangkut berbagai gerak dan keadaan keseimbangan zat cair. Pada penggunaan secara tekni szat cair dalam industri, hidrolika
MEMBUAT STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PADA UNIT WATER TRUCK
BAB III MEMBUAT STANDAR OPERA SIONA L PR OSEDUR PADA UNIT WA TER TRUC K MEMBUAT STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PADA UNIT WATER TRUCK 1.1 Bagian-Bagian Utama water truck. Pada bagian ini dijelaskan nama-nama
BAB IV PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES)
BAB IV PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES) 4.1 Pendahuluan Kerugian tekan (headloss) adalah salah satu kerugian yang tidak dapat dihindari pada suatu aliran fluida yang
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM Franciscus Manuel Sitompul 1,Mulfi Hazwi 2 Email:[email protected] 1,2, Departemen
Panduan Praktikum 2012
Percobaan 4 HEAD LOSS (KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA LURUS) A. Tujuan Percobaan: 1. Mengukur kerugian tekanan (Pv). Mengukur Head Loss (hv) B. Alat-alat yang digunakan 1. Fluid Friction Demonstrator. Stopwatch
Gambar 4.21 Grafik nomor pengujian vs volume penguapan prototipe alternatif rancangan 1
efisiensi sistem menurun seiring dengan kenaikan debit penguapan. Maka, dari grafik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem akan bekerja lebih baik pada debit operasi yang rendah. Gambar 4.20 Grafik
BAB II DASAR TEORI. m (2.1) V. Keterangan : ρ = massa jenis, kg/m 3 m = massa, kg V = volume, m 3
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antar molekul
UNIVERSITAS MERCU BUANA
TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM KOPLING HIDROLIK SEBAGAI PENGGANTI SISTEM KOPLING SENTRIFUGAL UNTUK HONDA ASTREA STAR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Meraih Gelar Sarjana Strata Satu (S-1)
Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan)
Panduan Praktikum Fenomena Dasar 010 A. Tujuan Percobaan: Percobaan 5 Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan) 1. Mengamati kerugian tekanan aliran melalui elbow dan sambungan.
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT 3.1.1. DESIGN REAKTOR Karena tekanan yang bekerja tekanan vakum pada tabung yang cendrung menggencet, maka arah tegangan yang
Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel
Konsep Aliran Fluida Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel Hal-hal yang diperhatikan : Sifat Fisis Fluida : Tekanan, Temperatur, Masa
BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER
BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER 4.1 Perhitungan Blower Untuk mengetahui jenis blower yang digunakan dapat dihitung pada penjelasan dibawah ini : Parameter yang diketahui : Q = Kapasitas
BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.
BAB II TEORI DASAR 2.1 Hydraulic Excavator Secara Umum. 2.1.1 Definisi Hydraulic Excavator. Excavator adalah alat berat yang digunakan untuk operasi loading dan unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya,
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi fluida
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antar molekul
Uji Fungsi Dan Karakterisasi Pompa Roda Gigi
Uji Fungsi Dan Karakterisasi Pompa Roda Gigi Wismanto Setyadi, Asmawi, Masyhudi, Basori Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Nasional Jakarta Korespondensi: [email protected]
(Indra Wibawa D.S. Teknik Kimia. Universitas Lampung) POMPA
POMPA Kriteria pemilihan pompa (Pelatihan Pegawai PUSRI) Pompa reciprocating o Proses yang memerlukan head tinggi o Kapasitas fluida yang rendah o Liquid yang kental (viscous liquid) dan slurrie (lumpur)
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM 4.1 Pengujian Pompa Reciprocating Pengujian kinerja pompa ini dimaksudkan untuk mengetahui kinerja pompa setelah proses modifikasi, yang meliputi ketangguhan sistem
BAB III DESKRIPSI ALAT UJI DAN PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III DESKRIPSI ALAT UJI DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1. Rancangan Alat Uji Pada penelitian ini alat uji dirancang sendiri berdasarkan dasar teori dan pengalaman dari penulis. Alat uji ini dirancang sebagai
PRAKTIKUM DAC HIDROLIK
LAPORAN LAB PNEUMATIK PRAKTIKUM DAC HIDROLIK Dikerjakan oleh: Lukman Khakim (1141150019) D4 1A PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MALANG 2012 BAB I PENDAHULUAN 1.1
MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA
MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA LABORATORIUM TEKNIK SUMBERDAYA ALAM dan LINGKUNGAN JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 MATERI I KALIBRASI SEKAT UKUR
BAB II LANDASAN TEORI
II-1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengairan Tanah Pertambakan Pada daerah perbukitan di Atmasnawi Kecamatan Gunung Sindur., terdapat banyak sekali tambak ikan air tawar yang tidak dapat memelihara ikan pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. PS, dengan putaran mesin 1500 rpm dan putaran dari mesin inilah yang
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Prinsip Kerja Sistem Hidroulik Pada Forklift Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115 PS, dengan putaran mesin 1500 rpm dan putaran dari mesin
HUKUM STOKES. sekon (Pa.s). Fluida memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
HUKUM STOKES I. Pendahuluan Viskositas dan Hukum Stokes - Viskositas (kekentalan) fluida menyatakan besarnya gesekan yang dialami oleh suatu fluida saat mengalir. Makin besar viskositas suatu fluida, makin
BAB IV PERHITUNGAN INSTALASI POMPA HYDRANT. Massa jenis cairan : 1 kg/liter. Kapasitas : liter/menit = (1250 gpm) Kondisi kerja : Tidak kontinyu
Tugas Akir BAB IV PERHITUNGAN INSTALASI POMPA HYDRANT 4.1 Data data Perencanaan Jenis cairan : Air Massa jenis cairan : 1 kg/liter Temperatur cairan : 5ºC Kapasitas : 4.731 liter/menit (150 gpm) Kondisi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Dasar Sistem Hidrolik Kata hydrolic berasal dari kata yunani hydor yang berarti air, didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Tetapi sekarang
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Semakin berkembangnya industri terutama dibidang jasa dan produksi akan mempengaruhi perusahaan untuk meningkatkan kualitas kerja yang dihasilkan untuk memenuhi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. MESIN-MESIN FLUIDA Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis poros menjadi energi potensial atau sebaliknya mengubah energi fluida (energi potensial
BAB III RANCANG BANGUNG MBG
BAB III RANCANG BANGUNG MBG Peralatan uji MBG dibuat sebagai waterloop (siklus tertutup) dan menggunakan pompa sebagai penggerak fluida, dengan harapan meminimalisasi faktor udara luar yang masuk ke dalam
PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER
TUGAS SARJANA MESIN FLUIDA PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER OLEH NAMA : ERWIN JUNAISIR NIM : 020401047 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010
PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI ALIRAN AIR BERSIH PADA PERUMAHAN TELANAI INDAH KOTA JAMBI SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik HITLER MARULI SIDABUTAR NIM.
Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :
SISTEM PNEUMATIK SISTEM PNEUMATIK Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Power Steering Dalam mengemudikan kendaraan roda empat, terkadang kita menemukan kendaraan yang mudah untuk dikendarai dan ada juga yang sulit. Salah satu faktornya adalah
Analisa Tekanan Air Dengan Methode Pipe Flow Expert Untuk Pipa Berdiameter 1, ¾ dan ½ Di Instalasi Pemipaan Perumahan
Analisa Tekanan Air Dengan Methode Pipe Flow Expert Untuk Pipa Berdiameter 1, ¾ dan ½ Di Instalasi Pemipaan Perumahan Oleh : 1), Arif Setyo Nugroho, 2). Martinus Heru Palmiyanto.3) AEB Nusantoro 3). 1,2,3)
BAB V ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH 5.1. Perhitungan Dengan Menggunakan Scoring REBA Berdasarkan data REBA hasil pengumpulan data, kemudian di olah dengan menggunakan scoring yang di tuangkan pada gambar
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA 4. 1. Perhitungan Pompa yang akan di pilih digunakan untuk memindahkan air bersih dari tangki utama ke reservoar. Dari data survei diketahui : 1. Kapasitas aliran (Q)
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA 4.1 DATA Selama penelitian berlangsung, penulis mengumpulkan data-data yang mendukung penelitian serta pengolahan data selanjutnya. Beberapa data yang telah terkumpul
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Kata hidrolik sendiri berasal dari bahasa Greek yakni dari kata hydro yang berarti air dan aulos yang berarti pipa. Sistim hidrolik pada pesawat terbang adalah merupakan salah satu
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PENDAHULUAN Heavy Dump Truck (HD) merupakan produk Komatsu yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda dan salah satunya adalah Heavy Dump Truck Komatsu 465-7R, yang mempunyai arti:
SOAL TRY OUT FISIKA 2
SOAL TRY OUT FISIKA 2 1. Dua benda bermassa m 1 dan m 2 berjarak r satu sama lain. Bila jarak r diubah-ubah maka grafik yang menyatakan hubungan gaya interaksi kedua benda adalah A. B. C. D. E. 2. Sebuah
BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN ANALISIS
19 BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN ANALISIS 3.1 Kawasan Perumahan Batununggal Indah Kawasan perumahan Batununggal Indah merupakan salah satu kawasan hunian yang banyak digunakan sebagai rumah tinggal dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. Kecepatan dan Kapasitas Aliran Fluida Penentuan kecepatan disejumlah titik pada suatu penampang memungkinkan untuk membantu dalam menentukan besarnya kapasitas aliran sehingga
III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data
26 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Instalasi Pengujian Pengujian dengan memanfaatkan penurunan temperatur sisa gas buang pada knalpot di motor bakar dengan pendinginan luar menggunakan beberapa alat dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. Tekanan Atmosfer Tekanan atmosfer adalah tekanan yang ditimbulkan oleh bobot udara di atas suatu titik di permukaan bumi. Pada permukaan laut, atmosfer akan menyangga kolom air
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. ENERGI PADA SISTEM HIDRAULIK. Perbedaan tekanan pada sistem akam menyebabkan fluida mengalir, perbedaan ini ditimbulkan oleh pemberian energi pada fluida. Energi tersebut berupa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian pompa Pompa adalah alat untuk memindahkan fluida dari tempat satu ketempat lainnya yang bekerja atas dasar mengkonversikan energi mekanik menjadi energi kinetik.
FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II
BAB II FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS 2.1 Tujuan Pengujian 1. Mengetahui pengaruh factor gesekan aliran dalam berbagai bagian pipa pada bilangan reynold tertentu. 2. Mengetahui pengaruh
PERANCANGAN HIDRAN DAN GROUNDING TANGKI DI STASIUN PENGUMPUL 3 DISTRIK 2 PT.PERTAMINA EP REGION JAWA FIELD CEPU. Aditya Ayuningtyas
PERANCANGAN HIDRAN DAN GROUNDING TANGKI DI STASIUN PENGUMPUL 3 DISTRIK 2 PT.PERTAMINA EP REGION JAWA FIELD CEPU Aditya Ayuningtyas Latar Belakang SP 3 Distrik 2 Nglobo Ledok PT.Pertamina EP Field Cepu
ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN B. RANCANGAN FUNGSIONAL
IV. ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN Alat pemerah susu sapi ini dibuat sesederhana mungkin dengan memperhitungkan kemudahan penggunaan dan perawatan. Prinsip pemerahan yang dilakukan adalah dengan
PERHITUNGAN HEAD DAN SPESIFIKASI POMPA UNTUK UNIT PRODUKSI JARINGAN AIR BERSIH
PERHITUNGAN HEAD DAN SPESIFIKASI POMPA UNTUK UNIT PRODUKSI JARINGAN AIR BERSIH Direncanakan akan dibuat Instalasi Plumbing dan Penentuan Spesifikasi Pompa, dari sumber air k Jenis Pipa Galvanized Iron
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT 3.1.1 Design Tabung (Menentukan tebal tabung) Tekanan yang dialami dinding, ΔP = 1 atm (luar) + 0 atm (dalam) = 10135 Pa F PxA
Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk
DAFTAR ISI Halaman Judul... i Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing... ii Lembar Pengesahan Dosen Penguji... iii Halaman Persembahan... iv Halaman Motto... v Kata Pengantar... vi Abstrak... ix Abstract...
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR BAGAN... vii DAFTAR NOTASI... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix BAB I PENDAHULUAN... 1
BAB III ANALISA ALIRAN TURBULENT TERHADAP ALIRAN FLUIDA CAIR PADA CONTROL VALVE ANSI 150 DAN ANSI. 300 PADA PT.POLICHEM INDONESIA Tbk
BAB III ANALISA ALIRAN TURBULENT TERHADAP ALIRAN FLUIDA CAIR PADA CONTROL VALVE ANSI 150 DAN ANSI 300 PADA PT.POLICHEM INDONESIA Tbk Dalam bab ini penulis akan mengolah data yang telah didapatkan dari
SKRIPSI RANCANG BANGUN SISTEM HIDROLIK PADA MESIN PRESS HIDROLIK PUNCH FORCE 100 KN ANIS AGUNG SETIAWAN NIM DOSEN PEMBIMBING
SKRIPSI RANCANG BANGUN SISTEM HIDROLIK PADA MESIN PRESS HIDROLIK PUNCH FORCE 100 KN ANIS AGUNG SETIAWAN NIM. 201254026 DOSEN PEMBIMBING Ir. Masruki Kabib, M.T Qomaruddin, S.T., M.T PROGRAM STUDI TEKNIK
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fluida yang dimaksud berupa cair, gas dan uap. yaitu mesin fluida yang berfungsi mengubah energi fluida (energi potensial
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mesin-Mesin Fluida Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis poros menjadi energi potensial atau sebaliknya mengubah energi fluida (energi potensial
JUDUL TUGAS AKHIR ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI
JUDUL TUGAS AKHIR http://www.gunadarma.ac.id/ ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI ABSTRAKSI Alat uji kehilangan tekanan didalam sistem perpipaan dibuat dengan menggunakan
FLUIDA. Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah.
Nama :... Kelas :... FLUIDA Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah. Kompetensi dasar : 8.. Menganalisis
BAB III PROSES PERANCANGAN, PERAKITAN, PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN POMPA SENTRIFUGAL UNTUK AIR MANCUR
Jansen A.Sirait / 4130610019 BAB III PROSES PERANCANGAN, PERAKITAN, PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN POMPA SENTRIFUGAL UNTUK AIR MANCUR 3.1. Bagian Yang Dirancang, Dirakit, Diuji dan Perhitungan Pompa Pada proses
FIsika FLUIDA DINAMIK
KTSP & K-3 FIsika K e l a s XI FLUIDA DINAMIK Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut.. Memahami definisi fluida dinamik.. Memahami sifat-sifat fluida
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
T u g a s A k h i r BAB III METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Diagram Alir Penelitian Mulai Observasi Study pustaka Pemilihan bahan dan alat Prosedur pambongkaran alat 1.Pengenalan Excavator Halla HE 280. 2.Pengenalan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Tabel 5.1 Hasil perhitungan data NO Penjelasan Nilai 1 Head kerugian mayor sisi isap 0,14 m 2 Head kerugian mayor sisi tekan 3,423 m 3 Head kerugian minor pada
MESIN PRES HIDROLIK UNTUK LIMBAH KERTAS
MESIN PRES HIDROLIK UNTUK LIMBAH KERTAS TUGAS AKHIR Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat sarjana S-1 Program Studi Teknik Mesin JurusanTeknik Mesin Diajukan oleh : A.DADANG KURNIAWAN NIM
BAB III PERENCANAAN SISTEM HYDRANT
BAB III PERENCANAAN SISTEM HYDRANT 3.1. Metode Pengambilan Data Penganbilan data ini dilakukan di gedung VLC (Vehicle Logistic Center) PT. X berdasarlan data dan kegiatan yang ada di gedung tersebut. Dengan
