41 V. ANALISIS DAN SINTESIS V.1. Analisis V.1.1. Kondisi Fisik V.1.1.1. Lokasi, Luas dan Batas Tapak Tapak berada di pusat kota dan merupakan bagian dari kawasan tepian Sungai Martapura dengan penggunaan lahan sekitar tapak yang merupakan kawasan perdagangan, perkantoran, sekolah dan sarana peribadatan. Kawasan tepian sungai berpotensi sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk beristirahat, berolahraga dan berekreasi. Kondisi tapak yang berada pada pusat kota ini juga akan memungkinkan pengguna untuk lebih mudah dalam mengunjungi taman, sehingga dapat berguna secara efektif untuk memenuhi kebutuhan ruang rekreatif bagi masyarakat kota. Selain itu juga taman ini dapat menambah nilai estetika Kota Banjarmasin. Pada tapak masih terdapat sisa-sisa puing dan bongkahan kayu yang mengganggu dan dapat menjadi bad view pada tapak. Untuk bagian utara tapak masih terdapat permukiman yang mengokupasi badan sungai dan juga menjadi kendala pada tapak. Gambar 16 merpakan gambar analisis fisik tapak. V.1.1.2. Aksesibilitas dan Sirkulasi Potensi letak tapak yang beradi di pusat kota dan tepian sungai sehingga tapak dapat diakses melalui jalur darat maupun sungai. Oleh karena itu potensi ini perlu dimanfaatkan dalam pengembangan tapak nantinya. Untuk jalur darat, tapak dapat diakses melalui jalan-jalan primer karena letaknya di pusat kota. Kondisi jalan sekitar tapak cukup baik dan memadai sehingga memudahkan pengunjung untuk mengunjungi tapak. Sedangkan untuk jalur sungai, tapak dapat diakses dengan mudah karena letaknya yang berada di tepian Sungai Martapura. Tidak adanya entrance pada tapak yang jelas khususnya untuk jalur sungai menjadi kendala tersendiri bagi tapak. Pada jalur darat diperlukan main entrance sebagai pintu masuk utama dan berfungsi sebagai welcome area tapak nantinya selain itu secondary entrance juga diperlukan. Untuk mengakomodasi pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor pada tapak perlu dikembangkan area
42 parkir. Sedangkan untuk jalur sungai pada tapak perlu dikembangkan dermaga yang berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam tapak. Dermaga ini juga berfungsi sebagai tempat naik-turun pengunjung dan tempat parkir perahu. Gambar 17 merupakan gambar analisis sirkulasi tapak. V.1.1.3. Visibilitas dan Akustik Pada tapak, sungai merupakan good view yang menjadi objek pandang utama bagi tapak dan dapat dimanfaatkan sebagai borrowing scenery. Selain itu Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terdapat di sebelah barat tapak juga menjadi potensi view sebagai penambah nilai estetika tapak. Potensi-potensi ini dapat dimaksimalkan dengan cara antara lain tidak membatasi atau menutup pandangan/view, membingkai view dengan elemen lanskap, memberikan aksen untuk menonjolkan view Kendala atau bad view yang ada pada tapak antara lain masih terdapat sisa-sisa puing dan bongkahan kayu yang mengganggu serta masih adanya permukiman pada tapak dan sekitar tapak. selain itu karena letak tapak yang barada bersebelahan dengan jalan berpotensi menyebabkan bising dan polusi pada tapak sehingga diperlukan penanaman vegetasi pembatas dan pereduksi. Gambar 18 merupakan gambar analisis visibilitas dan akustik tapak.
43 16 43
44 17 44
45 18 45
46 V.1.2 Kondisi Biofisik V.1.2.1 Topografi dan Kemiringan Dengan kondisi permukaan tapak adalah datar dengan ketinggian yang relatif sama hampir seluruh area tapak potensial untuk dikembangkan. Menurut Nurisjah (2004), umumnya lahan yang mempunyai topografi dan kemiringan lahan yang relatif datar akan memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk berbagai aktivitas kehidupan dan rekreatif manusia dan juga untuk peletakan sarana penunjangnya. Secara umum, tapak memiliki kemiringan yang relatif datar untuk itu diperlukan modifikasi untuk memecah kemonotonan pada tapak. Namun di bagian selatan tapak lokasi didapatkan adanya pemasangan beton siring tanggul membuat perbedaan level ketinggian permukaan tanah dan beton yang cukup tinggi sebesar ± 100 cm-150 cm, seperti pada gambar 19. Sehingga dalam pengembangan tapak nantinya diperlukan grading yaitu dengan mengurug beberapa bagian area tapak sehingga didapat kondisi yang maksimal untuk dibangun taman tepian sungai. ± 1.5 m ± 0 m SUNGAI SIRING SEMPADAN SUNGAI JALAN P.TENDEAN BANGUNAN Tanpa Skala Gambar 19. Ilustrasi Kendala Perbedaan Level Ketinggian Permukaan Pada waktu pasang air sungai sebagian besar tapak berada dibawah permukaan air/terendam. Oleh karena itu pengembangan retaining wall sangat diperlukan pada tapak, selain sebagai penahan erosi tanah juga penahan air pasang agar tidak masuk merendam permukaan tapak. Dengan kondisi tersebut diperlukan juga sistem drainase yang baik. Pengembangan sistem drainase ini dapat dilakukan baik secara alami maupun buatan. Perbaikan secara alami ialah dengan penggemburan atau pencampuran bahan organik pada tanah agar tanah
47 bersifat lebih porus, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke tanah dan tidak langsung terbuang ke sungai. Untuk sistem drainase buatan dibuat dengan menggunakan pipa-pipa yang diletakan dalam tanah yang akan mengalirkan air dari dalam tapak ke sungai dan sistem drainase kota yang ada di tepi jalan. Pengembangan sistem drainase ini sebaiknya dirancang dengan baik sehingga air yang dibuang telah melewati penjernihan (penyaringan) sehingga tidak mencemari tanah dan sungai. Gambar 20 merupakan gambar analisis topografi, kemiringan dan hidrologi tapak. V.1.2.2 Tanah Tanah yang tedapat pada tapak memiliki tingkat kandungan hara yang tinggi dan banyak tergantung pada bahan induknya. Namun untuk dikembangkan sebagai media tanam, tanah harus diperlakukan secara khusus terlebih dahulu dengan menambahkan bahan organik sehingga tanah menjadi lebih gembur dan porus sehingga tidak saja baik untuk tanaman tetapi juga untuk sistem drainase dan udara di dalam tanah. Tabel 6. Analisis Sifat Fisik Tanah Peruntukan Keterangan Deskripsi Konstruksi / Bangunan Tanah berstruktur Tanah jenis ini baik untuk kokoh/keras pengembangan bangunan / Media tanam dan tanaman Tanah berbahan organik tinggi konstruksi Kondisi tanah yang keras haruslah diberi penambahan bahan organik agar tanah lebih gembur dan porus sehingga baik untuk ditanami tanaman. Tanah yang porus memiliki sirkulasi udara dan air yang baik, tanah juga mampu menyerap air secara maksimal sehingga dapat membantu dalam pemenuhan hara dan mineral tanaman. Akar tanaman juga dapat berfungsi sebagi pencegah erosi.
48 20 48
49 V.1.2.3. Vegetasi dan Satwa Kondisi vegetasi yang ada pada tapak yang tidak terawat sehingga menimbulkan kesan semak belukar, khususnya pada area bekas Banjarmasin Park. Oleh karena itu perlu dilakukan rencana penanaman ulang dan pembersihan tanaman pengganggu. Kemudian kondisi tapak yang panas membutuhkan penanaman vegetasi memperbaiki iklim mikro khususnya mereduksi radiasi sinar matahari yang masuk ke tapak (Gambar 21). Selain untuk memperbaiki iklim mikro, vegetasi yang ditanam juga harus mempertimbangkan fungsi yang ingin dicapai oleh tapak. Pemilihan vegetasi pada tapak harus didasarkan pada fungsi-fungsi arsitektural, seperti peneduh, penaung, pembatas dan estetik. Letak tapak yang berada di pinggir jalan memiliki kendala bising dan polusi debu, oleh karena itu perlu dilakukan penanaman vegetasi sebagai penjerap bising dan polusi, seperti pada gambar 22. (c) Pohon berdaun jarum (b) Pohon berdaun lebat (a) Pohon berdaun jarang Gambar 21. Keefektifan Vegetasi dalam Menjerap Radiasi Sinar Matahari (Sumber: Brooks, 1988) Penanaman vegetasi untuk membuat ruang pada tapak juga perlu diperhatikan. Seperti yang ditulis dalam Time Saver Standards for Landscape Architecture, perlu diperhatikan bahwa jenis vegetasi yang digunakan sebaiknya mendukung karakter visual tapak dan fungsi ekologis dalam konteks regional, hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vegetasi lokal dan tanaman yang digunakan sebaiknya bersifat minim perawatan atau low maintenance untuk mempermudah perawatan. Adanya satwa burung seperti elang laut dan walet yang terbang melintas di sekitar tapak merupakan elemen akustik yang dapat menambah nilai estetik dari
50 tapak. Hal ini nantinya juga dapat dijadikan objek pemandangan tersendiri bagi pengunjung. Sumber Bising & Polusi Tanaman Screening/Border Pedestrian Gambar 22. Pohon dan Semak sebagai Peredam Bising dan Penjerap Polusi Debu (Sumber : Harris dan Dines, 1998) V.1.2.4. Iklim Mikro Angin yang berasal dari koridor sungai dan jalan merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai elemen modifikasi iklim mikro pada tapak. Namun angin yang berasal dari koridor jalan juga berpotensi membawa debu dan udara polusi. Tingginya intensitas penyinaran sinar matahari di dalam tapak mempengaruhi kenyamanan terutama karena pada kondisi tapak yang terkena pancaran sinar sepanjang hari di semua wilayah tapak sehingga menjadi lebih panas (kurang nyaman). Oleh karena itu diperlukan perancangan yang matang khususnya dalam pemilihan dan pemakaian elemen lanskap yang dapat meminimalkan pancaran sinar matahari guna memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi pengguna tapak. Modifikasi iklim mikro tapak salah satunya dapat dilakukan dengan pemilihan dan pemakaian vegetasi yang tepat. Menurut Grey dan Deneke (1978), salah satu fungsi vegetasi ialah sebagai kontrol radiasi sinar matahari. Pohon berdaun lebat sangat efektif untuk perlindungan terhadap radiasi sinar matahari. Gambar 23 merupakan gambar analisis iklim mikro pada tapak.
51 V.1.3. Kondisi Sosial V.1.3.1. Potensi Pengunjung Pengunjung berasal dari sekitar tapak, masyarakat Kota Banjarmasin dan masyarakat luar kota dan biasanya melakukan aktivitas rekreasi dan olahraga. Penggunaan tapak cukup tinggi pada waktu tertentu seperti pada malam minggu dan hari libur. Oleh karena itu diperlukan penambahan ruang, waktu dan juga penambahan fasilitas untuk mengakomodasi aktivitas pengunjung. Fasilitas yang akan dikembangkan pada tapak nantinya harus dapat mendukung aktivitas pengunjung sehingga diharapkan pemanfaatan tapak dapat lebih optimal.
52 23 52
53 V.2 Sintesis Hasil analisis potensi dan kendala dari tiap aspek secara lebih rinci dapat dilihat pada gambar 24 dan tabel 7. Potensi yang ada akan dikembangkan sedangkan kendala yang ada dicari solusi atau pemecahannya. Berdasarkan hasil analisis ini, dihasilkan sintesis yang digunakan sebagai dasar untuk merancang taman tepian sungai sebagai ruang terbuka yang rekreatif. Tabel 7. Hasil Analisis / Sintesis No Kondisi 1 Lokasi dan Batas Tapak 2 Aksesibilitas & Sirkulasi Eksisting Potensi Kendala Berada di pusat kota Masih ada Tepian sungai permukiman di Sekitar tapak tapak merupakan area Banyak terdapat perkantoran, sisa-sisa puing perdagangan, Pasang surut permukiman dan sekolah Dapat diakses dari Tidak ada pintu darat & sungai masuk utama Jalur jalan Tidak ada darmaga kendaraan darat baik perahu Tidak ada tempat parkir Hasil Analisis Perlu ruang terbuka Pemanfaatan area rekreasi kota Perancangan taman tepian sungai Dibuat pintu utama ke tapak Pembuatan dermaga Tata sirkulasi pada tapak 3 Visibilitas View utama yang menghadap langsung Sungai Martapura Letak tapak yang bersebelahan dengan jalan berpotensi menyebabkan bising dan bad view. Pengembangan aktivitas rekreasi viewing/menikma ti pemandangan dan suasana sungai (Riverfront park) Penanaman pohon pembatas/screeni ng 4 Topografi, kemiringan & drainase Topografi tapak datar Kemiringan 0-2% Masalah drainase pada saat hujan Pada saat pasang daratan berada 0,16 m dibawah permukaan laut Secara visual tapak yang datar akan menimbulkan kemotonan Perlu dibuat sistem drainase yang sesuai Tapak mudah dikembangkan Rekayasa tapak dengan grading untuk memecah kemonotonan tapak
54 5 Tanah Aluvial ; struktur pejal, keras bila kering dan teguh pada basah Unsur hara tinggi Sering terendam air jika pasang 6 Vegetasi Pada tapak hanya terdapat beberapa vegetasi Pada beberapa bagian tapak masih terasa panas Terdapat vegetasi liar yang menggangu Menambahkan bahan organik tinggi pada media tanam Penanaman vegetasi perlu dilakukan sesuai dengan fungsinya Pembersihan vegetasi pengganggu 7 Iklim Curah hujan 278,71 mm per bulan Sumber hembusan angin berasal dari koridor sungai dan koridor jalan 8 Pengguna tapak Penggunaan tapak yang cukup tinggi pada ruang & waktu tertentu Suhu udara ratarata 25ºC - 38ºC Kelembaban 74% - 91% Penyinaran sinar matahari hampir sepanjang hari Tidak ada fasilitas memadai Penambahan vegetasi/tanama n penaung Pemanfaatan hembusan angin untuk mengurangi kelembaban Membuat bangunan seperti gazebo dan shelter Pengembangan ruang & waktu aktivitas Pemanfaatan aktivitas rekreasi aktif dan pasif Penambahan fasilitas gazebo, tempat duduk, pedestrian line, food corner, area bermain anak, dll Penanaman pohon penaung
VI. KONSEP PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI MARTAPURA KOTA BANJARMASIN VI.1. Konsep Desain Lanskap Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin menitikberatkan kepada sungai sebagai pusat perhatian dan pemandangan yang dapat dinikmati dari tapak. Sebagai wilayah tepian sungai, Sungai Martapura tidak harus menjadi bagian dalam perancangan tapak tetapi dapat menjadi elemen yang dipinjam (borrowing screenery) yang berfungsi sebagai objek atraksi utama pada tapak. Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura ini didasarkan dalam sebuah konsep dasar yaitu memunculkan kembali karakteristik lokal Kota Banjarmasin yang alami yaitu dengan penggunaan pola alami/organik dan pemilihan material tanaman sebagai identitas taman dan kehidupan masyarakat dengan semboyan kayuh baimbai (mengayuh bersama-sama) sebagai aktivitas pengguna yang ingin dimunculkan pada taman yaitu interaksi. Konsep desain dalam penelitian ini mengambil bentukan dari ripple water/riak air. Konsep ini diambil karena dalam perancangan taman tepian sungai ini air menjadi elemen utama dari taman. Selain itu, kondisi wilayah Banjarmasin yang sebagian besar dilalui sungai-sungai sehingga secara sosial, budaya dan juga ekonomi masyarakat Kota Banjarmasin memiliki hubungan yang sangat erat dengan air (sungai) dalam kehidupan mereka. Sejak dulu sungai bagi masyarakat Kota Banjarmasin sudah menjadi sarana sosial, budaya dan ekonomi, namun saat ini sudah mulai pudar. Oleh karena itu pada perancangan ini diharapkan nilai-nilai itu dapat dimunculkan kembali.adapun bentukan yang diambil untuk digunakan pada perancangan ini ialah bentukan lingkaran hasil dari riak air. Inspirasi dari riak air ini ditranformasikan kedalam konsep tata ruang, dimana akan dihasilkan ruang-ruang lingkaran pada tapak. Sehingga dihasilkan bentukan-bentukan baru yang digunakan sebagai pola sirkulasi pada tapak. Meskipun konsep alami ingin dimunculkan kembali, sebagai Ibukota Propinsi nilai urban yang modern tetap dimasukkan ke dalam desain taman ini. Penggunaan desain modern seperti desain yang tidak biasa/konvensional atau kontemporer dapat diterapkan pada beberapa elemen taman, sehingga dapat
56 memeberi kesan menarik. Selain itu dapat juga dikembangkan elemen-elemen dengan skala non-human sebagai aksen, seperti sculpture, artwork dan sebagainya. Secara umum pengembangan desain pada elemen-elemen yang ada di dalam tapak nantinya merupakan penjabaran filosofi desain yang didapat dari penurunan konsep dasar perancangan taman ini yakni memunculkan karakteristik lokal. Gambar Konsep (Sumber : google.com) Transformasi bentuk riak air pada tapak Abstraksi Konsep Desain pada Tapak Gambar 24. Ilustrasi Konsep Desain VI.2. Pengembangan Konsep Konsep dasar taman tepian sungai dikembangkan dalam bentuk penataan yang meliputi ruang, sirkulasi, vegetasi serta aktivitas dan fasilitas rekreasi.
57 VI.2.1. Konsep Ruang Konsep ruang dimaksudkan untuk menata dan mengalokasikan penggunaan ruang sesuai fungsi-fungsi yang akan dikembangkan pada tapak sebagai sarana rekreatif bagi masyarakat. Adapun pembagian ruang yang ada yakni, (1) ruang penerimaan (2) ruang rekreasi aktif (3) ruang rekreasi pasif dan (4) ruang penyangga. 1. Ruang Penerimaan Ruang penerimaan diperuntukan sebagai area penyambutan bagi pengunjung sebelum masuk ke dalam tapak. Pada area ini untuk pengguna yang melewati jalur darat akan direncanakan plaza sedangkan untuk jalur sungai akan direncanakan dermaga. Fungsi plaza dan dermaga ini ialah sebagai node pertemuan sebelum pengguna memasuki taman lebih jauh dan sebagai tempat interpretasi awal taman. 2. Ruang Rekreasi Aktif Ruang rekreasi aktif adalah ruang yang akan dikembangkan untuk mengakomodasi segala aktivitas rekreasi aktif pengguna dengan segala fasilitas pendukungnya, seperti sepeda, jelajah sungai, memancing, jogging, dll. 3. Ruang Rekreasi Pasif Ruang rekreasi pasif adalah ruang yang diperuntukan secara maksimal untuk aktivitas rekreasi pasif dan dikembangkan segala fasilitas pendukungnya. Ruang rekreasi pasif ini lebih bertujuan mendekatkan pengguna pada alam. Pada ruang ini direncanakan area pelayanan yang terdapat fasilitas untuk melayani kebutuhan pengguna seperti plaza pusat kuliner, shelter atau gazebo dll. 4. Ruang Penyangga Ruang Penyangga diperuntukan sebagai penyangga kedua zona diatas dan konservasi taman agar taman dapat tetap lestari dan berkelanjutan. Pada zona ini akan dikembangkan sebagai area vegetasi yang memliki fungsi arsitektural dan ekologis. Fungsi arsitektural diantaranya sebagai peneduh, pengarah, pembentuk ruang dan estetika, sedangkan fungsi ekologis antara lain sebagai pelindung tanah dan air,
58 pencegah erosi, penghasil O2 serta mereduksi polusi dan radiasi matahari. Gambar 25. Konsep Tata Ruang Tabel 8. Konsep Ruang, Aktivitas dan Fasilitas Ruang Aktivitas Fasilitas 1. Ruang Penerimaan Interpretasi, Parkir, Istirahat Sculpture, Plaza, Dermaga, Tempat parkir 2. Ruang Rekreasi Aktif Bersepeda, Selusur sungai, jogging, Boardwalk, jalur multimode, pathway memancing 3. Ruang Rekreasi Pasif Duduk-duduk, Foto Hunting, Menikmati Pemandangan Sungai Amphiteater, Tempat duduk, Lawn, Shelter, Food corner 4. Ruang Penyangga Pengamatan, Interpretasi, Bermain Lawn, Mounded,Vegetasi VI.2.2. Konsep Aktivitas dan Fasilitas Aktivitas rekreasi yang dikembangkan ialah rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Rekreasi aktif dimana kegiatan rekreasi lebih didominasi pada manfaat fisik daripada mental. Sebagai contoh kegiatan rekreasi aktif adalah memancing,
59 bersepeda, bermain di area Children Playground, berolahraga dll (Gambar 26). Sedangkan untuk rekreasi pasif adalah rekreasi yang lebih berorientasi manfaat mental daripada fisik. Sebagai contoh kegiatan rekreasi pasif adalah duduk-duduk, mengobrol, melihat pemandangan, bird watching, beristirahat dan sebagainya (Gambar 27). Gambar 26. Image Kegiatan Olahraga di Tepian Sungai (Sumber: google.com, Adventurestocks.com dan blogamericanfeast.com) Gambar 27. Image Aktivitas Duduk-Duduk Menikmati Pemandangan, photo Hunting dan Makan-makan (Sumber gambar: google.com, blogshahsrambblings.com, greenplanphiladelphia)
60 Fasilitas yang dikembangkan pada taman tepian sungai ini adalah fasilitas yang mendukung aktivitas yang dikembangkan. Pada setiap ruang tentunya memiliki aktivitas dan fasilitas yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masing-masing ruang. Fungsi fasilitas di sini juga sebagai pembatas dari kuantitas pengunjung sehingga sesuai dengan daya dukung taman (Gambar 28). Gambar 28. Beberapa Contoh Fasilitas Penunjang Rekreasi di Riverfront Park, (Sumber gambar: republic.com, ohioswallow.com, ehsmith.co.uk, rampost.co.uk dan travelpod.com) VI.2.3 Konsep Sirkulasi dan Aksesibilitas Sirkulasi yang dikembangkan pada tapak ialah sirkulasi yang memberikan kenyamanan pada pengguna. Oleh karena itu sirkulasi yang direncanakan harus dapat mengakomodasi kebutuhan pengguna. Bentuk atau pola sirkulasi didapat dari penurunan konsep desain riak air sehingga diharapkan taman memiliki kesatuan dan harmoni. Gambar 29. Konsep Pembagian Jalur Sirkulasi Pejalan Kaki dan Sepeda (Sumber: Harris dan Dines, 1998)
61 Sirkulasi pada tapak akan dibagi menjadi dua, yakni sirkulasi primer/utama dan sekunder. Jalur sirkulasi utama ialah diperuntukan untuk mengakomodasi pejalan kaki sedangkan jalur sekunder diperuntukkan untuk mengakomodasipejalan kaki dan pengguna sepeda. Untuk mengakomodasi keduanya dapat dikembangkan jalur sirkulasi/path way campuran maupun terpisah. Standar jalur sirkulasi menurut Harris & Dines (1998) yakni, jalur multi mode berdimensi lebih kurang 3 meter. Selain jalur sepeda tentu perlu diperhatikan tempat parkir sepeda yang harus disediakan pada tapak (Gambar 29). Gambar 30. Konsep Tata Sirkulasi VI.2.4 Konsep Vegetasi Vegetasi yang akan dikembangkan dalam taman ini adalah vegetasi yang memiliki fungsi ekologis dan arsitektural. Secara ekologis vegetasi yang digunakan ialah vegetasi yang berfungsi sebagai pelindung tanah dan air, pencegah erosi, penghasil O 2 serta megurangi polusi udara. Sedangkan secara arsitektural vegetasi yang digunakan berfungsi sebagai peneduh, pengarah, pembentuk ruang dan meningkatkan kualitas tapak.
62 Vegetasi yang akan digunakan dalam perancangan taman tepian sungai ini ialah vegetasi lokal dan introduksi (non-lokal). Tentunya untuk vegetasi non-lokal merupakan vegetasi yang telah beradaptasi dengan iklim dan tanah Kota Banjarmasin serta vegetasi lokal. Penggunaan vegetasi non-lokal ini digunakan untuk memberikan fungsi arsitektural pada taman sedangkan untuk vegetasi lokal sendiri digunakan tidak hanya sebagai fungsi ekologis tetapi juga sebagai pendukung identitas kota. Letak tapak yang berada di tepian sungai pemilihan vegetasi nantinya diharapkan tidak menutupi pandangan ke sungai. Fungsi Manfaat Jenis Ekologi Arsitektural Perlindungan tanah dan air, mencegah erosi, mengurangi polusi udara, menghasilkan O2, dan lain-lain Peneduh, Pengarah, Pembentuk ruang, Pelindung, estetika Vegetasi Non Lokal Vegetasi Lokal Gambar 31. Konsep Vegetasi V.2.5. Konsep Visibilitas Konsep visibilitas (visual) yang akan dikembangkan dalam tapak ialah mengintegrasikan Sungai Martapura sebagai elemen yang tak terpisahkan dengan tapak. Namun tidak menjadikan sungai sebagai elemen yang diberdayakan secara fisik tetapi peminjaman elemen Sungai Martapura sebagai borrowing screenery untuk menambah kualitas visual dari tapak dan aktivitas yang terjadi di atas sungai tersebut dapat menjadi nilai tambah untuk dinikmati pengunjung tapak khususnya dalam kegiatan rekreasi yang bersifat pasif.
63 Sungai Martapura Borrowing screenery Keterangan: Batas Tapak dan Desain Tapak yang dirancang Arah Pandang Titik Pandang Gambar 32. Ilustrasi Konsep Borrowing Screenery V.3. Block Plan Konsep tata ruang, sirkulasi, vegetasi, aktivitas dan fasilitas yang telah dijabarkan akan digambarkan dalam bentuk block plan. Block plan tersebut dapat dilihat pada gambar 34. Ruang penerimaan yang akan dikembangkan pada taman terdiri dari empat entrance pada jalur sungai dan lima entrance pada jalur darat dengan entrance utama berada di bagian tengah tapak. Pada ruang penerimaan ini akan direncanakan plasa untuk pengguna yang melalui darat dan dermaga untuk pengguna yang melalui sungai. Kedua elemen tersebut berfungsi juga sebagai area transisi menuju ruang selanjutnya yaitu ruang rekreasi aktif dan pasif. Proporsi ruang rekreasi aktif dan rekreasi pasif memiliki besar yang berbeda, ruang rekreasi pasif lebih banyak dibanding rekreasi aktif. Hal ini dikarenakan rekreasi pasif memiliki kebutuhan aktivitas yang lebih banyak dan dominan pada tapak. Kemudian terdapat pula ruang penyangga dimana ruang ini direncanakan sebagai area hijau dan penyangga tapak agar dapat berkelanjutan dan memberikan kenyamanan dan keindahan pada taman.
64 33 64