PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN

dokumen-dokumen yang mirip
KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN DI PROVINSI LAMPUNG 2016

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah Agustus 2017

PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN

BPS PROVINSI JAWA BARAT

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH

Keadaan Ketenagakerjaan Maluku Utara Agustus 2017

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA BARAT FEBRUARI 2015

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2016

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2015

BERITA RESMI STATISTIK

BAB IV GAMBARAN UMUM

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA BARAT FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN RIAU AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN MALUKU UTARA, FEBRUARI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH FEBRUARI 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI MALUKU UTARA, AGUSTUS 2015


KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2012

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Utara Agustus 2017

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2015

BERITA RESMI STATISTIK

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BERITA RESMI STATISTIK

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI LAMPUNG AGUSTUS 2017

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016 AGUSTUS 2016: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) SEBESAR 4,31 PERSEN

KEADAAN KETENAGAKERJAAN RIAU AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN MALUKU UTARA, AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN RIAU FEBRUARI 2013

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA BARAT AGUSTUS 2015

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI JAWA BARAT AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

BERITA RESMI STATISTIK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA BARAT FEBRUARI 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN MALUKU UTARA, FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2017

BERITA RESMI STATISTIK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR FEBRUARI 2015 *)

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN SUMATERA UTARA FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR *) FEBRUARI 2014

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila

KEADAAN KETENAGAKERJAAN SUMATERA UTARA FEBRUARI 2017

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) di tingkat

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2013

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI PAPUA BARAT AGUSTUS 2012

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016

Indikator Ketenagakerjaan KABUPATEN WAROPEN TAHUN Oleh : Muhammad Fajar

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016

BERITA RESMI STATISTIK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2011

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH AGUSTUS 2012

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH AGUSTUS 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN RIAU FEBRUARI 2016

BERITA RESMI STATISTIK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN RIAU FEBRUARI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Februari 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2015 AGUSTUS 2015: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) SEBESAR 4,91 PERSEN

BERITA RESMI STATISTIK. Keadaan Ketenagakerjaan NTB Agustus Agustus 2017: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,32 persen

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2017

BERITA RESMI STATISTIK

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2017 FEBRUARI 2017: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) SEBESAR 3,80 PERSEN

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DKI JAKARTA AGUSTUS 2017

DATA TERPILAH DALAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU SAMPAI DENGAN AGUSTUS 2009

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU, AGUSTUS 2015

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Tengah Agustus 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA, FEBRUARI 2012 TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 4,09 PERSEN

Transkripsi:

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN DI PROVINSI JAWA TENGAH 2016 DEPUTI PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN 2016 i

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat serta taufik dan hidayah-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan buku tentang Profil Perlindungan Tenaga Kerja Perempuan di Provinsi Jawa Tengah 2016 ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh tentang profil perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah khususnya pada Tahun 2015. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendorong, membantu, berpartisipasi dan bekerja sama selama penyusunan publikasi ini. Kami berharap buku ini dapat berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam rangka menambah informasi serta pengetahuan mengenai perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah. Kami juga menyadari dalam penyusunan buku ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkankritik dan saran guna perbaikan buku ini di masa yang akan datang. Semoga buku ini dapat dipahami oleh siapapun yang membacanya. Jakarta, Desember 2016 Penyusun ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 2 C. Sistematika Penyajian... 2 BAB II... 4 KEGIATAN PENDUDUK... 4 A. Angkatan Kerja... 4 B. Bukan Angkatan Kerja... 11 BAB III... 15 PENDUDUK YANG BEKERJA... 15 A. Karakteristik Umum... 15 B. Lapangan Pekerjaan Utama... 19 C. Status Pekerjaan Utama... 21 D. Jenis Pekerjaan Utama... 22 BAB IV... 24 UPAH PEKERJA... 24 A. Diferensiasi Upah menurut Karakteristik Umum... 24 B. Diferensiasi Upah menurut Kabupaten/Kota... 27 C. Diferensiasi Upah menurut Lapangan Pekerjaan... 29 D. Diferensiasi Upah menurut Jenis Pekerjaan... 33 BAB V... 39 JAM KERJA... 39 A. Diferensiasi Jumlah Jam Kerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama... 39 B. Diferensiasi Jumlah Jam Kerja menurut Status Pekerjaan Utama... 43 C. Diferensiasi Jumlah Jam Kerja menurut Jenis Pekerjaan Utama... 466 iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jawa Tengah merupakan salah satu Propinsi di Pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah letaknya 5 o 40' dan 8 o 30' Lintang Selatan dan antara 108 o 30' dan 111 o 30' Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa) dan diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa). Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas Indonesia). Jawa Tengah terdiri dari 3 (tiga) lingkungan budaya, yaitu Lingkungan budaya Pesisir, Lingkungan budaya Bagelan Banyumas, dan Budaya Kraton. Jawa Tengah memiliki peninggalan budaya antara lain: Candi Borobudur, Mendut & Pawon, Dieng, Gedongsongo, Prambanan. Masyarakat Jawa dikenal dengan budaya patriarkis yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang meperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Budaya jawa mengharapkan perempuan menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan (keraton), sehingga menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Selain itu, dalam perkawinan ada istilah kanca wingking, bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasangan suami isteri Jawa. Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut) juga menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang isteri. Budaya tersebut tentunya sangat mempengaruhi kondisi dan status perempuan saat ini. Permasalahan atau isu gender disebabkan karena adanya konstruksi sosial budaya yang telah dianut secara turun temurun. Tidak mudah untuk mengubah mindset yang sudah dianut sejak lama, sehingga untuk mengubah stereotype atau pelabelan yang membedakan peran laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang 1

mudah untuk dilakukan. Meskipun kondisi sosial ekonomi penduduk telah banyak mengalami kemajuan, tetapi pengaruh budaya yang telah dianut sejak lama diduga tetap mempengaruhi peran dan posisi perempuan pada saat ini. Untuk itu, melalui publikasi ini akan diamati peran dan posisi laki-laki dan perempuan di berbagai bidang pembangunan. B. Tujuan Secara umum tujuan penulisan adalah untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh tentang profil perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya untuk: 1. Mengetahui karakteristik umum dan kegiatan penduduk usia kerja (angkatan kerja dan bukan angkatan kerja) di Provinsi Jawa Tengah; 2. Mengetahui karakteristik umum, lapangan, status serta jenis pekerjaan penduduk bekerja di Provinsi Tengah; 3. Mengetahui diferensiasi tingkat upah bagi penduduk bekerja di Provinsi Tengah; 4. Mengetahui diferensiasi jumlah jam kerja bagi penduduk bekerja di Provinsi Jawa Tengah. C. Sistematika Penyajian Data yang digunakan dalam publikasi ini adalah data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Tahun 2015 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), selain data-data pendukung lainnya. Pendahuluan yang menjelaskan latar belakang dan tujuan penulisan, pembahasan dilanjutkan dengan menguraikan bab kegiatan penduduk. Pada bab ini dicakup penjelasan mengenai kondisi penduduk angkatan kerja secara umum yang diantaranya membahas pengangguran dan kondisi penduduk bukan angkatan kerja yang meliputi penduduk yang mengurus rumah tangga, sekolah serta kegiatan lainnya. Bagian berikutnya adalah bab penduduk yang bekerja, yaitu bagian dari angkatan kerja yang memenuhi kriteria sedang bekerja. Pembahasan dimulai dengan melihat karakteristik secara umum, yaitu membahas perbedaan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur dan juga pendidikan. Kemudian dilanjutkan dengan 2

pembahasan secara khusus menurut lapangan pekerjaan utama, status pekerjaan utama dan jenis pekerjaan utama. Sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan, pembahasan berbagai aspek ini menggunakan pisau gender analysis. Menggunakan pisau analisis yang sama, pembahasan dilanjutkan dengan melihat secara khusus mengenai upah. Pembahasan mengenai upah tentu saja hanya dilakukan pada kelompok penduduk bekerja dengan status pekerjaan utama sebagai buruh/karyawan/pegawai. Selain dikupas secara umum, pengupahan juga diperhatikan diferensiasinya menurut wilayah kabupaten yang dikaitkan dengan tingkat upah minimum, lapangan pekerjaan utama dan jenis pekerjaan utama. Pada bab berikutnya dibahas mengenai jam kerja, yang merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kinerja dari ketenagakerjaan. Jumlah jam kerja menggambarkan apakah seseorang telah bekerja sesuai dengan potensinya atau tidak. Pembahasan mengenai jam kerja juga diperhatikan menurut lapangan pekerjaan utama, status pekerjaan utama, dan jenis pekerjaan utama. Tentu saja tidak meninggalkan pembahasan menurut pendidikan dan jenis kelamin. 3

BAB II KEGIATAN PENDUDUK A. Angkatan Kerja Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2015, penduduk di Jawa Tengah berjumlah 33,8 juta jiwa. Jumlah penduduk di Jawa Tengah merupakan jumlah penduduk terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia di Jawa Tengah sangat besar untuk dijadikan sebagai modal dalam pembangunan. Meskipun demikian, jumlah penduduk yang besar tidak secara otomatis menjadi modal dalam pembangunan, jika kualitas hidupnya tidak memadai. Bahkan jumlah penduduk yang besar justru dapat menjadi beban dalam pembangunan jika kualitas hidupnya rendah. Oleh sebab itu, dalam analisis berikutnya akan diamati karakteristik penduduk yang dilihat dari berbagai variabel seperti kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir dan partisipasi dalam ketenagakerjaan. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk di Jawa Tengah berbeda dengan kondisi di Indonesia yang secara umum lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Jumlah penduduk di Jawa Tengah justru lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki, meskipun dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, yaitu 17,0 juta jiwa untuk perempuan dan 16,8 juta jiwa untuk laki-laki. Penduduk berumur 15 tahun ke atas disebut sebagai penduduk usia kerja. Penduduk usia kerja di Jawa Tengah lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki atau berbanding lurus dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Dengan demikian, potensi perempuan di Jawa Tengah dalam ketenagakerjaan lebih besar dibandingkan laki-laki, jika dilihat dari jumlah penduduk usia kerjanya. Meskipun demikian, jika dibandingkan menurut jumlah penduduk yang masuk dalam angkatan kerja, ternyata perempuan masih jauh tertinggal. Jumlah angkatan kerja perempuan hanya sekitar 7,0 juta jiwa, sedangkan laki-laki sekitar 10,3 juta jiwa atau dengan kata lain, rasio angkatan kerja perempuan hanya sekitar 70 persen dibandingkan laki-laki.mengapa perempuan yang mempunyai kuantitas lebih banyak dibandingkan laki-laki dalam kelompok usia kerja tetapi partisipasinya dalam angkatan kerja hanya 4

sekitar 70 persen dari laki-laki? Tentunya butuh banyak data untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Persentase penduduk dalam angkatan kerja, baik untuk yang bekerja maupun pengangguran, antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang signifikan. Persentase untuk laki-laki yang bekerja dari seluruh angkatan kerja adalah 94,4 persen dan 5,6 persen adalah pengangguran. Sedangkan persentase perempuan yang bekerja adalah 95,8 persen dan 4,2 persen adalah pengangguran. Jadi, walaupun persentase angkatan kerja perempuan jauh tertinggal dibandingkan lakilaki, tetapi komposisinya dalam angkatan kerja tidak berbeda jauh dengan laki-laki. Data menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan usia kerja masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja dengan jumlah sekitar 6 juta jiwa. Perempuan usia kerja yang berjumlah sekitar 13 juta jiwa, 6 juta jiwa diantaranya masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja. Lain halnya dengan laki-laki, dari sekitar 12,5 juta penduduk usia kerja hanya 2,2 juta jiwa yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja (Tabel 2.1). Sebagian besar perempuan yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja mempunyai kegiatan mengurus rumah tangga sebanyak 75,5 persen dari seluruh perempuan yang bukan angkatan kerja. Laki-laki yang bukan angkatan kerja, kegiatan terbanyaknya adalah sekolah, yaitu sebanyak 47 persen dan 17 persen diantaranya mengaku mengurus rumah tangga. Perbedaan persentase kegiatan yang dilakukan, dapat diasumsikan bahwa masih ada stereotip yang menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik, sehingga sebagian besar dari mereka hanya mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki adalah pekerja publik, sebagian besar dari mereka masuk dalam kelompok angkatan kerja dan laki-laki yang bukan angkatan kerjapun kegiatan terbanyaknya adalah sekolah. Analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya patriarki dan stereotip yang menempatkan laki-laki pada sektor publik dan perempuan pada sektor domestik telah mempengaruhi peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. 5

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Tengah Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin Tahun 2015 Jenis Kegiatan Laki-laki Perempuan Total Penduduk Berumur 0+Tahun 16.771.172 17.043.836 33.815.008 Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas 12.501.354 12.991.109 25.492.463 Angkatan Kerja 10.298.071 7.000.854 17.298.925 Bekerja 9.725.307 6.709.835 16.435.142 Pengangguran 572.764 291.019 863.783 Bukan Angkatan Kerja 2.203.283 5.990.255 8.193.538 Sekolah 1.034.172 942.204 1.976.376 Mengurus Rumah Tangga 375.425 4.521.057 4.896.482 Lainnya 793.686 526.994 1.320.680 TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) 82,38 53,89 67,86 TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) 5,56 4,16 4,99 Pekerja Tidak Penuh 1.996.082 2.518.261 4.514.343 Setengah Penganggur 607.152 463.976 1.071.128 Paruh Waktu 1.388.930 2.054.285 3.443.215 Grafik 2.1 menggambarkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki selalu lebih tinggi dibandingkan perempuan. Fakta ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan yang aktif secara ekonomi masih jauh tertinggal dibandingkan laki-laki. Kesenjangan TPAK antara laki-laki dan perempuan selama tahun 2011 sampai tahun 2015 mengalami perubahan yang cenderung meningkat, yaitu dengan selisih 26,53 poin pada tahun 2011 menjadi 28.49 poin pada tahun 2015. Kesenjangan TPAK antara laki-laki dan perempuan yang semakin melebar pada tahun 2015 disebabkan karena terjadinya penurunan TPAK pada perempuan yang lebih besar dibandingkan penurunan TPAK yang terjadi pada laki-laki. Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, partisipasi dan peran perempuan dalam ketenagakerjaan harus mengalami peningkatan yang lebih besar dibandingkan lakilaki. Namun pada kenyataannya, kesenjangan cenderung semakin meningkat. Oleh sebab itu, upaya untuk mengurangi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam ketenagakerjaan harus terus dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan dan produktivitas perempuan melalui berbagai kegiatan pemberdayaan. 6

Grafik 2.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 83.68 85.71 83.79 82.93 82.38 70.15 71.26 70.43 69.68 67.86 57.15 57.37 57.58 56.93 53.89 2011 2012 2013 2014 2015 Laki-laki Perempuan Total Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 Grafik 2.2 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) antara laki-laki dan perempuan di Jawa Tengah pada tahun 2011 sampai tahun 2015. mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan karena TPT dipengaruhi oleh beberapa faktor, tidak hanya faktor ekonomi. Data menunjukkan bahwa TPT perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, kecuali pada tahun 2013 dan tahun 2015. Secara keseluruhan, TPT perempuan lebih mudah berubah dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena adanya faktor yang seringkali mempengaruhi atau menghambat perempuan untuk masuk dalam dunia kerja. Akan tetapi akses bagi perempuan untuk memasuki dunia kerja tidak semudah seperti lakilaki.perbedaan ini menggambarkan adanya ketimpangan yang disebabkan oleh adanya diskriminasi atau perbedaan perlakuan terhadap perempuan sejak masa penerimaan/perekrutan, telah mempengaruhi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih tingginya TPT perempuan seolah menunjukkan bahwa peluang kerja lebih terbuka lebar bagi laki-laki dibandingkan peluang kerja bagi perempuan. Hal tersebut menyebabkan perempuan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan laki-laki. Fluktuasi TPT perempuan menunjukkan bahwa kondisi laki-laki dalam ketenagakerjaan yang relatif lebih stabil dibandingkan perempuan. Kondisi tersebut disebabkan karena peraturan atau implementasi dari peraturan terkait ketenagakerjaan yang belum mencukupi kebutuhan dan aspirasi perempuan. Fakta yang terjadi di Provinsi Jawa tengah menunjukkan bahwa sampai saat ini masih 7

banyak diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan, bahkan masih sering terjadi pelanggaran terhadap hak pekerja perempuan. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan, maka segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan harus dihapuskan. Grafik 2.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 8.20 7.07 6.26 5.98 5.61 5.35 6.12 6.01 5.87 5.86 5.68 5.55 5.56 4.99 4.16 2011 2012 2013 2014 2015 Laki-laki Perempuan Total Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 Tabel 2.2 dan Tabel 2.3 serta Grafik 2.3 dan Grafik 2.4 menunjukkan data karakteristik TPT laki-laki dan perempuan menurut kelompok umur dan pendidikan terakhir. Sebagian besar TPT laki-laki dan perempuan adalah penduduk usia kerja muda yaitu usia 15 sampai 29 tahun, yang puncaknya pada usia 20 sampai 24 tahun atau umumnya adalah mereka yang baru menyelesaikan sekolah di jenjang SMA atau perguruan tinggi. TPT pada perempuan usia 15 sampai 19 tahun lebih banyak dibandingkan TPT pada laki-laki (25,51 persen berbanding 33,57 persen). Artinya, perempuan yang lebih banyak mencari kerja adalah perempuan dengan usia 15 sampai 19 tahun. Pada usia yang masih sangat muda tersebut, tentunya bekal pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki belum memadai untuk memasuki dunia kerja. Persentase TPT pada usia 20 sampai 34 tahun lebih tinggi untuk laki-laki dibandingkan TPT untuk perempuan. Artinya, laki-laki mencari pekerjaan pada kelompok usia yang lebih siap. Sementara itu, perempuan pada usia tersebut biasanya sudah memasuki usia pernikahan, melahirkan dan memiliki bayi/balita, 8

sehingga tidak jarang diantara mereka memilih untuk mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya. Kelompok usia yang lebih tua, yaitu usia 35 sampai 54 tahun, TPT untuk perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan TPT untuk laki-laki. Pada usia tersebut, kemungkinan perempuan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan berbagai kegiatan selain mengurus rumah tangga. Pada usia ini anak-anaknya sudah besar dan mandiri, sehingga memberikan peluang bagi perempuan untuk masuk dunia kerja. Meskipun demikian, bukan suatu hal yang mudah bagi perempuan untuk kembali memasuki dunia kerja pada usia tersebut. Kondisi seperti itulah yang diduga menjadi penyebab perbedaan pola pencari kerja antara laki-laki dan perempuan menurut kelompok umurnya. Tabel 2.2 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Termasuk dalam Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 Jenis Kelamin Kelompok Umur Total Laki-laki Perempuan 15-19 146.093 97.702 243.795 20-24 211.693 88.449 300.142 25-29 76.673 38.777 115.450 30-34 46.983 13.502 60.485 35-39 28.500 16.201 44.701 40-44 15.984 11.028 27.012 45-49 15.475 10.661 26.136 50-54 9.400 7.122 16.522 55-59 13.268 5.144 18.412 60 + 8.695 2.433 11.128 Jumlah 572.764 291.019 863.783 Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 9

Grafik 2.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 25.51 33.57 36.96 30.39 13.39 13.32 8.20 4.64 5.57 4.98 3.79 3.66 2.45 2.79 2.70 1.64 2.32 1.77 1.52 0.84 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60 + Laki-laki Perempuan Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 Berdasarkan Tabel 2.3 menunjukkan bahwa pencari kerja perempuan lebih banyak yang berusia muda. Sedangkan dilihat dari pendidikannya, laki-laki pencari kerja di Provinsi Jawa Tengah umumnya memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Untuk pencari kerja dengan pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, dan D I/II/III, persentasenya lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Sementara pencari kerja dengan pendidikan universitas lebih banyak perempuan dibandikan laki-laki. Dengan demikian, untuk memasuki dunia kerja, perempuan harus mempersiapkan diri dalam hal pendidikan sebagai bekal dalam pekerjaannya nanti. Tabel 2.3 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Termasuk Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 Jenis Kelamin Pendidikan Total Laki-laki Perempuan Tidak/Belum Pernah Sekolah 7.413 6.077 13.490 Tidak/Belum Tamat SD 22.923 11.109 34.032 SD 103.923 38.045 141.968 SMP 136.384 51.004 187.388 SMA 100.438 73.778 174.216 SMK 158.945 72.040 230.985 D I/II/III 18.442 11.859 30.301 Universitas 24.296 27.107 51.403 Jumlah 572.764 291.019 863.783 Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 10

Grafik 2.4 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 2015 23.81 27.75 25.35 24.75 18.14 17.53 17.54 13.07 9.31 2.09 4.00 3.82 1.29 4.07 3.22 4.24 Tidak/Belum Pernah Sekolah Tidak/Belum Tamat SD SD SMP SMA SMK D I/II/III Universitas Laki-laki Perempuan Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 2015 B. Bukan Angkatan Kerja Penduduk usia kerja yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah yang tidak melakukan kegiatan ekonomi, yaitu kelompok penduduk sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat perbedaan yang sangat mencolok untuk kelompok penduduk yang mengurus rumah tangga antara laki-laki dan perempuan. Dari seluruh penduduk, yang kegiatan utamanya mengurus rumah tangga sebanyak 92,33 persen adalah perempuan, sedangkan laki-laki hanya 7,67 persen. Adanya laki-laki yang mengaku mengurus rumah tangga meskipun dengan jumlah yang sangat kecil, memberikan tanda tanya besar bagi masyarakat. Kondisi tersebut disebabkan karena adanya stereotip yang menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik. Tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah dianut sejak lama bahwa mengurus rumah tangga adalah urusan perempuan. Padahal sebenarnya mengurus rumah tangga bisa dilakukan oleh lakilaki dan perempuan tanpa harus merasa malu. 11

Grafik 2.5 Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Mengurus Rumah Tangga Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 7.67 Laki-laki Perempuan 92.33 Kegiatan lain yang dilakukan oleh penduduk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah sekolah. Data menunjukkan bahwa lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan yang bersekolah dengan perbandingan 52,33 persen laki-laki dan 47,67 persen perempuan (Grafik 2.6). Bersekolah adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup seseorang. Dengan bersekolah, maka penduduk akan lebih siap untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan, sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja dan mendapatkan pekerjaan serta bersaing untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Rendahnya persentase perempuan usia kerja yang bersekolah menyebabkan minimnya sumber daya perempuan yang berpendidikan tinggi. Hal tersebut karena adanya persepsi orang tua yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi karena pada akhirnya perempuan akan bekerja didapur dan mengurus rumah tangga. Tingginya persentase laki-laki yang bersekolah diduga karena pada umumnya laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama dan penanggungjawab rumah tangga. Oleh sebab itu, laki-laki dituntut untuk memiliki pendidikan yang tinggi agar mendapatkan pekerjaaan yang layak. 12

Grafik 2.6 Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Sekolah Menurut Jenis Kelamin Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 47.67 52.33 Laki-laki Perempuan Grafik 2.7 menggambarkan persentase penduduk kelompok bukan angkatan kerja yang melakukan kegiatan lainnya, selain mengurus rumah tangga dan sekolah. Penduduk yang tidak melakukan kegiatan apapun diduga karena sudah tua, atau tidak mampu melakukan kegiatan karena kondisi fisik maupun psikisnya. Grafik 2.7 Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Melakukan Kegiatan Lainnya Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 39.90 Laki-laki Perempuan 60.10 Kelompok penduduk yang melakukan kegiatan lainnya ternyata lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Artinya lebih banyak laki-laki yang tidak melakukan kegiatan apapun, baik mengurus rumah tangga maupun sekolah, 13

dibandingkan perempuan. Kondisi ini diduga terkait dengan stereotype yang mengharuskan perempuan untuk melakukan semua kegiatan baik urusan domestik maupun publik, sehingga membuat perempuan lebih terbiasa melakukan berbagai kegiatan. Kondisi inilah yang membuat perempuan tetap melakukan berbagai kegiatan, meskipun tidak aktif secara ekonomi (bukan angkatan kerja). Kesimpulan yang dapat ditarik adalah walaupun perempuan tertinggal dalam kegiatan ekonomi, tetapi perempuan memiliki potensi yang besar dalam berbagai kegiatan. Kemungkinan karena adanya stereotype dan diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan menyebabkan banyaknya perempuan yang tidak masuk dalam pasar kerja (sebagai angkatan kerja), tetapi lebih banyak memilih untuk masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja. 14

BAB III PENDUDUK YANG BEKERJA A. Karakteristik Umum Penduduk yang bekerja adalah bagian dari angkatan kerja yang sedang memiliki pekerjaan atau dengan kata lain sedang aktif bekerja. Sementara itu, bekerja diartikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pola kegiatan pekerja tak dibayar, yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, sering dipahami bahwa penduduk yang bekerja adalah penduduk yang secara nyata memberikan nilai tambah atau berkontribusi langsung terhadap perekonomian suatu wilayah. Pada bab ini akan diamati karakteristik penduduk yang bekerja menurut jenis kelamin, usia dan pendidikan yang ditamatkan. Mengetahui karakteristik penduduk yang bekerja merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kendala yang ada pada sumber daya manusia di Provinsi Jawa Tengah. Grafik 3.1 Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin diprovinsi Jawa Tengah Tahun 2015 40.83 Laki-laki Perempuan 59.17 Berdasarkan jenis kelamin, persentase perempuan yang bekerja masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Laki-laki yang bekerja adalah sebanyak 59,17 persen, sedangkan perempuan yang bekerja adalah sebanyak 40,83 persen (Grafik 15

3.1). Hal ini menunjukkan adanya ketertinggalan perempuan dibanding laki-laki dari sisi kuantitas. Kondisi ini menjadi data pembuka untuk mengetahui permasalahan dalam ketenagakerjaan antara laki-laki dan perempuan di Jawa Tengah. Berbicara tentang kesetaraan gender, tentunya tidak hanya berfokus pada sisi kuantitas saja, tetapi juga harus melihat dari sisi kualitas. Perempuan bekerja yang masih tertinggal disebabkan oleh beberapa faktor. Adanya stereotype yang menganggap perempuan sebagai pekerja domestik atau pekerja rumah tangga dan laki-laki sebagai pekerja publik atau pencari nafkah diduga menjadi salah satu faktor yang menghambat partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Selain itu, adanya diskriminasi atau perbedaan perlakuan terhadap perempuan baik pada masa penerimaan kerja, masa kerja maupun saat purna kerja atau selesai masa kerja juga menjadi faktor yang mempengaruhi partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Pada saat penerimaan kerja, banyak yang lebih mempertimbangkan penampilan perempuan dibandingkan kapasitas atau kemampuannya. Pada saat bekerja seringkali dilaporkan adanya tindakan yang melanggar hak pekerja perempuan, misalnya pelanggaran terhadap hak cuti haid, cuti hamil/melahirkan dan pemberian upah/gaji serta akses atau kesempatan untuk pembinaan dan peningkatan karir yang dibedakan antara pekerja laki-laki dan perempuan. Tidak sedikit pula kasus pemutusan hubungan kerja yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan terhadappekerja perempuan Tabel 3.1 Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Total 15 19 297.619 261.350 558.969 20 24 904.839 583.204 1.488.043 25 29 1.037.941 590.231 1.628.172 30 34 1.086.983 711.518 1.798.501 35 39 1.159.298 765.651 1.924.949 40 44 1.140.690 839.146 1.979.836 45 49 1.094.222 810.111 1.904.333 50 54 989.333 750.774 1.740.107 55 59 796.331 576.403 1.372.734 60 + 1.218.051 821.447 2.039.498 Jumlah 9.725.307 6.709.835 16.435.142 16

Banyaknya pelanggaran hak bagi pekerja perempuan menunjukkan bahwa adanya diskriminasi bagi perempuan dalam ketenagakerjaan. Kondisi inilah yang menghambat peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Meskipun telah banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang norma kerja, tetapi pada kenyataannya masih banyak terjadi pelanggaran dalam pelaksanaannya. Perlu adanya perhatian khusus dari seluruh pihak yang terkait dengan masalah tersebut. Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentunya menjadi prioritas untuk mewujudkan hak perempuan dalam ketenagakerjaan. Penduduk yang berusia produktif (15 tahun ke atas) disebut sebagai penduduk usia kerja. Dapat terlihat bahwa pekerja perempuan lebih dominan dibandingkan laki-laki pada kelompok usia 40 sampai 59 tahun, sedangkan pada kelompok usia 40 tahun ke bawah dan pada usia 60+, lebih didominasi laki-laki dibandingkan perempuan (Grafik 3.2). Grafik 3.2 Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 10.67 9.30 8.69 8.80 11.18 10.60 11.92 11.41 12.51 11.73 12.07 11.25 11.19 10.17 8.59 8.19 12.52 12.24 3.90 3.06 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60 + Laki-laki Perempuan Kondisi ini dapat dikaitkan dengan peran reproduksi perempuan. Pada usia muda sampai usia 40 tahun, peran reproduksi bagi perempuan masih sangat kuat. Sebab, pada usia tersebut perempuan telah siap untuk menikah, hamil, melahirkan, menyusui dan mengurus bayi/anak. Oleh sebab itu, banyak perempuan yang memutuskan untuk tidak bekerja. Berbeda dengan laki-laki yang sejak usia muda 17

telah berusaha untuk mencari bekal hidup bagi diri sendiri dan keluarga. Selain itu, meskipun sudah menikah, waktu yang dimiliki laki-laki untuk bekerja di luar rumah jauh lebih banyak dibandingkan perempuan. Stereotype yang menganggap perempuan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik juga menjadi salah satu penyebab perempuan lebih banyak mengurus rumah tangga pada usia 40 tahun ke bawah. Penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah sebagian besar berpendidikan SD dengan presentase pekerja laki-laki lebih tinggi (33,33 %) daripada pekerja perempuan (32,15 %). Persentase terendah pendidikan pekerja laki-laki (1,77 %) dan pekerja perempuan (2,74 %) adalah Diploma I/II/III. Kondisi ini sekaligus menggambarkan tingkat pendidikan penduduk Provinsi Jawa Tengah yang rata-rata masih rendah. Data menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah berpendidikan SMP ke bawah (Grafik 3.3). Pendidikan seseorang memiliki hubungan dengan produktivitas yang akan didapat oleh seseorang. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi kesempatan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pekerja di wilayah ini masih sangat rendah. Grafik 3.3 Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 33.22 32.15 2.81 6.84 16.85 13.96 20.68 17.08 12.10 10.96 10.46 7.06 1.77 2.74 6.31 5.01 Tidak/Belum Pernah Sekolah Tidak/Belum Tamat SD SD SMP SMA SMK D I/II/III Universitas Laki-laki Perempuan 18

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai diberlakukan menjadi tantangan besar bagi pekerja di wilayah ini, sebab tenaga kerja asing bebas memasuki Indonesia (termasuk ke Jawa Tengah). Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan yang matang untuk mengahadapi persaingan yang makin ketat tersebut. Kesiapan dalam hal ini adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan. Hal ini perlu dilakukan mengingat Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah yang strategis dapat dijangkau dari arah manapun, serta memiliki potensi di sektor pertanian yang besar. B. Lapangan Pekerjaan Utama Lapangan pekerjaan utama menggambarkan sektor-sektor kegiatan ekonomi tempat masyarakat bekerja atau bermatapencaharian. Lapangan pekerjaan utama diklasifikasikan menjadi 9 kategori, mulai dari sektor primer hingga sektor jasa. Tabel 3.2 menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah menurut lapangan pekerjaan utama dan jenis kelamin. Tabel 3.2 Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 Lapangan Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan Total 1 2.905.715 1.803.992 4.709.707 2 99.540 25.005 124.545 3 1.645.228 1.622.448 3.267.676 4 31.588 2.337 33.925 5 1.506.207 22.896 1.529.103 6 1.701.252 2.102.511 3.803.763 7 521.031 26.643 547.674 8 242.796 101.074 343.870 9 1.071.950 1.002.929 2.074.879 Jumlah 9.725.307 6.709.835 16.435.142 Catatan: 1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian 3 Industri 4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi 6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 19

8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Lapangan pekerjaan utama pada sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan di Provinsi Jawa Tengah di dominasi oleh laki-laki dengan persentase sebesar 29,88 persen. Pekerja perempuan di wilayah ini mendominasi sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi dengan persentase sebesar 31,33 persen (Grafik 3.4). Sementara itu, lapangan pekerjaan utama pada sektor Listirik, Gas, dan Air Minum memiliki persentase yang paling kecil yang berlaku pada pekerja laki-laki (0,32 %) maupun pekerja perempuan (0,03 %). Pada lapangan pekerjaan utama di sektor Konstruksi terdapat presentasi yang cukup jauh antara laki-laki dan perempuan. Data menunjukkan laki-laki yang bekerja di sektor Konstruksi adalah sebanyak 15,49 persen, sedangkan perempuan hanya sebanyak 0,34 persen. Lapangan pekerjaan pada sektor ini membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik yang besar. Oleh sebab itu, laki-laki lebih dominan di jenis pekerjaan ini daripada perempuan. Grafik 3.4 Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 29.88 26.89 24.18 31.33 16.92 15.49 17.49 14.95 11.02 1.02 0.37 0.32 0.03 0.34 5.36 2.50 0.40 1.51 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Laki-laki Perempuan Catatan: 1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian 3 Industri 4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi 6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 20

7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan C. Status Pekerjaan Utama Status pekerjaan utama diklasifikasikan menjadi tujuh kategori, yaitu Berusaha sendiri, Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar, Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar, Buruh/karyawan/pegawai, Pekerja bebas di pertanian, Pekerja bebas di non pertanian, dan Pekerja keluarga/tak dibayar. Data di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, persentase terbesar yakni sebanyak 34,83 persen laki-laki dan sebanyak 34,57 persen perempuan memiliki status pekerjaan utama sebagai Buruh/karyawan/pegawai (Grafik 3.5). Status pekerjaan utama yang paling kecil presentasinya baik pada laki-laki (4,52 %) maupun perempuan (2,16 %) adalah Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar. Hasil lain menunjukkan bahwa perempuan yang masuk dalam kategori pekerja keluarga/tak dibayar lebih tinggi (24,76 %) daripada laki-laki (5,48 %). Grafik 3.5 Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 34.83 34.57 18.89 21.74 24.76 14.53 12.22 13.97 4.52 2.16 4.94 4.68 2.71 5.48 1 2 3 4 5 6 7 Laki-laki Perempuan Catatan: 1 Berusaha sendiri 2 Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar 3 Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar 4 Buruh/karyawan/pegawai 21

5 Pekerja bebas di pertanian 6 Pekerja bebas di non pertanian 7 Pekerja keluarga/tak dibayar Fakta ini menggambarkan bahwa masih terdapat penduduk yang bekerja tidak mendapatkan haknya berupa upah karena tidak dibayar. Fenomena ini biasanya terjadi pada sektor usaha keluarga. Contohnya, istri yang membantu suami dalam menjalankan usaha keluarga.selain itu, kekerabatan di Indonesia yang sudah sangat kuat, menjadikan budaya tolong menolong cukup sulit untuk dihilangkan. Kondisi ini diduga menjadi faktor yang mempengaruhi adanya penduduk yang terkategori pada status pekerja keluar/tak dibayar. D. Jenis Pekerjaan Utama Jenis pekerjaan utama yang paling banyak digeluti masyarakat Provinsi Jawa Tengah adalah jenis pekerkaan Tenaga Produksi Op Alat Angkutan dan Pekerja Kasar, yakni sebanyak 42,87 persen laki-laki dan 27,66 persen perempuan. Jenis pekerjaan ini membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik lebih besar dibandingkan jenis pekerjaan lainnya. Oleh sebab itu, laki-laki lebih dominan di jenis pekerjaan ini daripada perempuan. Jenis pekerjaan yang juga banyak diminati oleh laki-laki (29,44 %) dan perempuan (26,70 %) adalah jenis pekerjaan Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-Ternak, Ikan, Hutan dan Perburuan. Jenis pekerjaan ini tergolong dalam jenis pekerjaan primer atau sektor pertanian. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi besar di sektor pertanian. Jenis pekerjaan yang didominasi oleh perempuan adalah Tenaga Usaha Penjualan. Pada jenis pekerjaan ini persentase perempuan mencapai 27,60 persen, sedangkan laki-laki hanya 14,57 persen. Jenis pekerjaan ini sesuai dengan karakteristik perempuan yang memiliki peran ganda untuk mengurus rumah tangga, sehingga membutuhkan waktu yang fleksibel untuk bekerja. 22

Grafik 3.6 Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 42.87 27.60 29.44 26.70 27.66 14.57 7.00 4.07 1.05 3.363.77 0.44 6.80 4.03 0.61 0.03 1 2 3 4 5 6 7 8 Laki-laki Perempuan Catatan: 1. Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain Yang Berhubungan Dengan Itu 2. Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 3. Pejabat Pelaksana, Tenaga Tata Usaha dan Tenaga Yang Berhubungan Dengan Itu 4. Tenaga Usaha Penjualan 5. Tenaga Usaha Jasa 6. Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-ternak, Ikan, Hutan dan Perburuan 7. Tenaga Produksi Op Alat Angkutan dan Pekerja Kasar 8. Lainnya 23

BAB IV UPAH PEKERJA A. Diferensiasi Upah menurut Karakteristik Umum Upah/gaji bersih adalah imbalan yang diterima oleh buruh/karyawan baik berupa uang atau barang yang dibayarkan Perusahaan/Kantor/Majikan dalam satu bulan. Upah/gaji bersih yang dimaksud adalah imbalan yang diterima setelah dikurangi potongan-potongan iuran wajib, pajak penghasilan dan sebagainya. Imbalan yang diterima dalam bentuk barang, disesuaikan dengan harga daerah setempat. Hal ini berarti hanya penduduk bekerja dengan status Buruh/karyawan/pegawai atau yang sering disebut dengan pekerja saja yang menerimanya. Oleh karenanya pembahasan mengenai upah, tentu saja hanya relevan pada golongan pekerja saja. Rata-rata upah/gaji bersih bagi para pekerja di Provinsi Jawa Tengah masih rendah. Sebagian besar pekerja memiliki gaji di bawah Rp. 200.000 sebulan, dimana laki-laki sebanyak 33,55 persen dan perempuansebanyak 42,83 persen Hal ini karena masih adanya diskriminasi dalam pengupahan. Perempuan akan cenderung diberikan upah yang lebih rendah dari pada laki-laki (Grafik 4.1). Grafik 4.1 Persentase Buruh/Karyawan Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Sebulan Dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa TengahTahun 2015 33.55 42.83 19.42 8.15 8.46 3.82 5.22 10.13 7.51 7.61 6.19 11.15 10.63 12.23 6.12 6.98 1 2 3 4 5 6 7 8 Laki-laki Perempuan Catatan: 1 = kurangdarirp.200.000 2 = Rp.200.000 sampai Rp.399.999 3 = Rp.400.000sampai Rp.599.999 4 = Rp.600.000sampai Rp.799.999 5 = Rp.800.000sampaiRp.999.999 24

6 = Rp.1.000.000sampai Rp.1.499.999 7 = Rp.1.500.000sampai Rp.1.999.999 8 = Rp.2.000.000danlebih Gambaran diskriminasi tersebut semakin terlihat nyata jika diperhatikan tiga kelompok pekerja dengan upah tertinggi, yaitu Rp. 1.000.000 atau lebih. Pada ketiga kelompok tersebut, persentase pekerja laki-laki selalu lebih besar dengan selisih yang sangat besar dari pada persentase pekerja perempuan. Dengan kata lain, pekerja dengan upah/gaji tinggi, didominasi oleh laki-laki. Kalaupun ada pekerja perempuan dengan upah/gaji yang tinggi, jumlahnya tidak lebih dari setengahnya laki-laki. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata upah/gaji menurut kelompok umur semakin mengindikasikan adanya diskriminasi pengupahan berdasarkan jenis kelamin. Terlihat jelas bahwa pada hampir semua kelompok umur, rata-rata upah/gaji yang diterima oleh pekerja perempuan nilainya jauh di bawah laki-laki. Hal tersebut dapat terlihat pada Tabel 4.1. Pada kelompok umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun, rata-rata upah pekerja perempuan jauh lebih tinggi di banding laki-laki. Hal ini diduga karena pada kelompok usia tersebut pekerja perempuan masih fokus berkarir dan menghasilkan uang. Hal ini berbanding terbalik pada kelompok usia 25 tahun ke atas, dimana ratarata upah pekerja laki-laki lebih tinggi. Hal ini diduga karena pada kelompok usia tersebut pekerja perempuan lebih berfokus pada rumah tangga dan keluarga. Rata-rata upah/gaji mencapai puncak tertinggi pada usia 45-59 tahun. Semakin tinggi usia seseorang, maka semakin tinggi upah/gaji. Hal tersebut dikarenakan semakin tua usia seseorang, semakin berpengalaman, semakin produktif sehingga upah/gaji semakin besar. Upah/gaji yang besar tidak berlaku pada usia 60 tahun ke atas. Hal tersebut dikarenakan kondisi kesehatan fisik pada usia tersebut sudah mulai menurun. 25

Tabel 4.1 Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 JenisKelamin KelompokUmur Total Laki-laki Perempuan 15-19 822.168 932.128 882.628 20-24 1.086.704 1.110.795 1.097.783 25-29 1.332.588 1.268.090 1.307.206 30-34 1.548.109 1.280.287 1.438.200 35-39 1.824.705 1.330.220 1.627.402 40-44 1.947.033 1.364.429 1.722.110 45-49 2.205.768 1.705.893 2.023.883 50-54 2.680.676 2.020.963 2.437.713 55-59 2.643.804 2.248.673 2.508.486 60 + 1.363.878 728.297 1.145.192 Jumlah 1.712.887 1.350.743 1.565.697 Upah/gaji yang diterima oleh seorang pekerja, baik pekerja perempuan maupun laki-laki, umumnya juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ditamatkan. Semakin tinggi pendidikan pekerja, maka semakin tinggi upah/gaji yang diterima. Oleh karenanya, pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu karakteristik yang menggambarkan kualitas pekerja yang berpengaruh pada besaran upah/gaji yang diterima. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya tingkat pendidikan yang semakin tinggi. Tabel 4.2 di bawah menunjukkan gambaran tersebut, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, rata-rata upah yang diterima akan semakin besar, baik pada pekerja laki-laki maupun pekerja perempuan. Hal tersebut dikarenakan tingkat pendidikan pekerja yang semakin tinggi menghasilkan kualitas kinerja yang lebih baik. Rata-rata upah/gaji apabila diperhatikan pada masing-masing kelompok tingkat pendidikan, terlihat bahwa pada semua kelompok, rata-rata upah/gaji perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal tersebut dikarenakan berbagai hal, diantaranya adalah jam kerja laki-laki lebih panjang dibandingkan perempuan karena perempuan tidak hanya berfokus pada pekerjaan akan tetapi juga mengurus keluarga. 26

Tabel 4.2 Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa TengahTahun 2015 PendidikanTerakhir yang Ditamatkan Laki-laki JenisKelamin Perempuan Total Tidak/BelumPernahSekolah 934.834 647.852 753.175 Tidak/BelumTamat SD 1.022.414 661.437 862.735 SD 1.185.822 800.651 1.030.830 SMP 1.260.093 1.003.930 1.161.488 SMA 1.747.879 1.281.411 1.564.532 SMK 1.577.601 1.261.104 1.475.278 D I/II/III 2.579.689 2.172.960 2.358.954 Universitas 3.720.802 2.643.420 3.200.080 Jumlah 1.712.887 1.350.743 1.565.697 B. Diferensiasi Upah menurut Kabupaten/Kota Rata-rata upah/gaji untuk keseluruhan Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp. 1.712.887 untuk pekerja laki-laki, dan untuk perempuan sebesar Rp.1.350.743. Total rata-rata upah tanpa memperhatikan jenis kelamin sebesar Rp. 1.565.697. Berdasarkan data tersebut upah/gaji tersebut terlihat masih terdapat perbedaan antara rata-rata upah/gaji untuk pekerja laki-laki dengan pekerja perempuan. Dengan kata lain secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah masih terdapat ketimpangan upah/gaji pada perempuan dan laki-laki (Tabel 4.3). Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa daerah yang memiliki rata-rata upah/gaji paling tinggi pada laki-laki adalah Kota Salatiga, sedangkan perempuan adalah Kota Magelang. Rata-rata upah/gaji bersih di Kota Magelang untuk pekerja perempuan lebih tinggi dari yang diterima pekerja laki-laki, yaitu sebesar Rp.2.389.925 sebulan. Sementara untuk pekerja laki-laki hanya Rp.1.765.434sebulan. Daerah lain yang rata-rata upah/gaji bersih untuk pekerja perempuan lebih tinggi dari pekerja laki-laki adalah Kabupaten Kendal. Untuk daerah lainnya rata-rata upah/gaji bersih yang diterima pekerja perempuan selalu lebih rendah dibandingkan dengan yang diterima pekerja laki-laki. 27

Tabel 4.3 Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 No. Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Total 1 Cilacap 2.401.623 1.379.201 2.032.734 2 Banyumas 1.706.595 1.351.043 1.576.871 3 Purbalingga 1.862.719 1.104.508 1.423.251 4 Banjarnegara 1.541.521 959.707 1.283.283 5 Kebumen 1.840.365 1.233.043 1.599.375 6 Purworejo 2.107.692 1.504.911 1.847.198 7 Wonosobo 1.197.735 1.543.695 1.319.246 8 Magelang 1.565.058 1.346.726 1.474.589 9 Boyolali 1.652.508 1.442.063 1.562.616 10 Klaten 1.575.013 1.195.205 1.410.970 11 Sukoharjo 1.644.203 1.398.469 1.537.478 12 Wonogiri 1.992.473 1.834.325 1.935.472 13 Karanganyar 1.468.656 1.375.362 1.425.451 14 Sragen 2.250.976 1.502.713 1.921.781 15 Grobogan 1.875.376 1.268.786 1.687.511 16 Blora 1.896.528 1.572.297 1.787.909 17 Rembang 1.582.113 1.150.997 1.433.222 18 Pati 1.731.752 1.186.067 1.513.859 19 Kudus 1.499.783 902.836 1.198.284 20 Jepara 1.286.961 847.737 1.119.504 21 Demak 1.778.905 1.393.831 1.606.540 22 Semarang 1.631.300 1.507.409 1.568.936 23 Temanggung 1.619.109 1.327.077 1.496.092 24 Kendal 1.640.577 1.806.178 1.700.042 25 Batang 1.490.269 1.178.431 1.378.823 26 Pekalongan 1.423.364 1.069.009 1.282.685 27 Pemalang 1.540.357 1.108.485 1.401.251 28 Tegal 1.567.174 1.175.910 1.431.841 29 Brebes 2.084.988 1.569.397 1.924.339 30 Kota Magelang 1.765.434 2.389.925 2.023.833 31 Kota Surakarta 1.345.597 1.254.737 1.306.940 32 Kota Salatiga 2.306.008 1.770.430 2.070.278 33 Kota Semarang 2.127.352 1.852.019 2.017.255 34 Kota Pekalongan 1.296.939 1.107.162 1.226.795 35 Kota Tegal 1.433.374 1.313.857 1.394.165 Provinsi Jawa Tengah 1.712.887 1.350.743 1.565.697 28

C. Diferensiasi Upah menurut Lapangan Pekerjaan Upah/gaji di provinsi Jawa Tengah secara umum masih rendah, terutama di lapangan pekerjaan Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan. Dari seluruh pekerja dilapangan sebanyak 2.905.715 orang, dan sebanyak 1.961.947 orang (67,52 persen) dengan upah/gaji kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Dengan kata lain, hanya sebesar 32,48 persen dari pekerja yang upah/gaji lebih dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut karena pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan kasar seperti halnya buruh kebun, dan tidak setiap hari ada pekerjaan yang mereka jalankan. Selain itu lapangan pekerjaan lain yang juga banyak memberikan upah/gaji rendah adalah Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi. Dari 1.701.252 orang yang bekerja di sektor ini, sebesar 35,49 persen mendapatkan upah/gaji kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut dikarenakan lapangan pekerjaan menyerap hampir seluruh tenaga kerja, namun nilai tambah yang dihasilkan dari sektor tersebut kurang memadai untuk membayar tenaga kerja secara layak. Lapangan pekerjaan yang memberikan upah cukup baik di Provinsi Jawa Tengah adalah Listrik, Gas, dan Air Minum. Lapangan pekerjaan ini menyerap pekerja sebesar 36,31 persen. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan pada sektor ini dibutuhkan kualifikasi pekerja yang tinggi, sehingga upah/gaji yang diperoleh cukup tinggi. Kondisi lebih parah dialami oleh mereka yang bekerja pada sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan. Pada lapangan pekerjaan tersebut, dari sebanyak 2.905.715 orang laki-laki yang bekerja pada sektor ini, sebanyak 67,52 persen hanya mendapatkan upah kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut dikarenakan dibeberapa kelompok masyarakat yang mempersepsikan beberapa pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kapasitas tertentu, salah satunya kapasitas fisik. Sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan merupakan pekerjaan dengan kapasitas fisik yang cenderung tidak membutuhkan keterampilan yang tinggi. Hal ini menjadikan upah/gaji pada sektor tersebut cenderung rendah. 29

Tabel 4.4 Jumlah dan Persentase Pekerja Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 Lapangan Pekerjaan Utama <200000 399999 599999 799999 Upah/Gaji Bersih Sebulan 999999 1499999 200000-400000- 600000-800000- 1000000-1500000- 1999999 2000000+ Total 1 1.961.947 138.507 154.252 177.513 128.075 199.321 88.808 57.292 2.905.715 % 67,52 4,77 5,31 6,11 4,41 6,86 3,06 1,97 100,00 2 13.424 2.067 8.898 10.247 13.959 16.692 13.316 20.937 99.540 % 13,49 2,08 8,94 10,29 14,02 16,77 13,38 21,03 100,00 3 437.824 48.541 77.445 154.197 163.877 506.519 140.169 116.656 1.645.228 % 26,61 2,95 4,71 9,37 9,96 30,79 8,52 7,09 100,00 4 1.463 0 2.533 2.921 2.476 6.027 4.698 11.470 31.588 % 4,63 0,00 8,02 9,25 7,84 19,08 14,87 36,31 100,00 5 51.479 38.664 48.678 98.702 141.572 526.255 399.668 201.189 1.506.207 % 3,42 2,57 3,23 6,55 9,40 34,94 26,53 13,36 100,00 6 603.778 43.603 81.376 134.469 144.447 298.606 165.828 229.145 1.701.252 % 35,49 2,56 4,78 7,90 8,49 17,55 9,75 13,47 100,00 7 53.211 21.769 39.402 62.970 53.379 108.281 82.878 99.141 521.031 % 10,21 4,18 7,56 12,09 10,24 20,78 15,91 19,03 100,00 8 26.112 6.740 7.918 11.097 16.601 60.663 34.710 78.955 242.796 % 10,75 2,78 3,26 4,57 6,84 24,99 14,30 32,52 100,00 9 113.379 71.744 87.626 78.318 75.918 166.529 103.866 374.570 1.071.950 % 10,58 6,69 8,17 7,31 7,08 15,54 9,69 34,94 100,00 Jumlah 3.262.617 371.635 508.128 730.434 740.304 1.888.893 1.033.941 1.189.355 9.725.307 Catatan: 33,55 3,82 5,22 7,51 7,61 19,42 10,63 12,23 100,00 1 Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan 2 Pertambangan dan penggalian 3 Industri 4 Listrik, gas, dan air minum 5 konstruksi 6 Perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi 7 Transportasi, pergudangan, dan komunikasi 8 Lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan, jasa perorangan 9 Jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan Sumber: Sakernas Agustus 2015, BPS Lapangan pekerjaan yang memberikan upah cukup baik pada laki-laki di Provinsi Jawa Tengah adalah Listrik, Gas, dan Air Minum. Lapangan pekerjaan ini menyerap pekerja sebesar 36,31 persen. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan pada sektor ini dibutuhkan kualifikasi pekerja yang tinggi, sehingga upah/gaji yang diperoleh cukup tinggi. 30