METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini di desain sebagai suatu penelitian survai yang bersifat deskriptif korelasional. Menurut Singarimbun dan Effendi (2006) penelitian survai adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Penelitian ini juga selain mendeskripsikan peubah yang ada juga berupaya menjelaskan hubungan di antara peubah karakteristik petani, pemanfaatan media komunikasi Prima Tani dan aksesibilitas kelembagaan tani. Peubah terikat terdiri dari karakteristik petani, pemanfaatan media komunikasi Prima Tani dan aksesibilitas kelembagaan tani. Peubah bebasnya adalah persepsi petani tentang teknologi introduksi AIP. Indikator dan parameter pada setiap peubah ditetapkan berdasarkan teori yang telah diuji dan diakui kebenarannya. Kemudian berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang tertulis dalam jurnal atau majalah ilmiah maupun tesis dan disertasi. Di samping hasil penelitian dan teori yang ada, penetapan indikator dan parameter penelitian ditetapkan berdasarkan kaidah-kaidah statistik yang menghasilkan data kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya setiap indikator dan parameter yang telah ditetapkan lalu dituangkan dalam definisi operasional. Dari definisi operasional dikembangkan dalam bentuk daftar pertanyaan (kuesioner) sebagai acuan atau wawancara dengan responden. Kuesioner yang digunakan terlebih dahulu diuji terhadap petani lain di luar responden yang memiliki karakteristik sama atau hampir sama. Ini diperlukan untuk menetapkan nilai reliabilitas sebuah instrumen penelitian. Metode deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta serta menjelaskan hubungan antar fenomena yang diteliti (Nazir, 2003). Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di dua provinsi yaitu Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Lokasi ini dipilih secara metode purposive. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah: 1) untuk melihat perbedaan produk unggulan yang dihasilkan
42 yaitu hortikultura, padi, kebun dan ternak, 2) survai dan rekomendasi dari BPTP Jawa Barat dan BPTP Sulawesi Selatan, 3) produk unggulan di lokasi Prima Tani yang mempunyai karakteristik yang berbeda, 4) penelitian dikhususkan untuk mengkaji secara teknis dan aplikasi teknologi untuk nilai tambah bagi penerapan teknologi yang dihasilkan oleh Balai Penelitian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian yang mengintegrasikan komponen teknologi introduksi ke dalam program Prima Tani. Untuk pengumpulan data primer dan data sekunder di lapangan serta pengolahan data dibutuhkan waktu selama tiga bulan yaitu bulan September sampai Nopember 2007. Populasi Populasi adalah kumpulan objek penelitian (Rakhmat, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah anggota kelompok tani yang terlibat langsung dengan kegiatan Prima Tani di dua provinsi yaitu Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Jumlah petani dalam populasi sebanyak 1.298 orang yang berasal dari enam kelompok tani di Desa Jatiwangi, Kabupaten Garut dan 4 kelompok tani di Desa Citarik, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di samping itu ada 5 kelompok tani di Desa Kamanre, Kabupaten Luwu dan 25 kelompok tani di Desa Sapanang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (lihat Tabel 1). Tabel 1 Populasi dan Sampel Penelitian No Lokasi Penelitian Jumlah populasi (orang) 1. Jawa Barat 1.1. Desa Jatiwangi, Kab. Garut 1.2. Desa Citarik, Kab. Karawang 2. Sulawesi Selatan 2.1. Desa Kamanre, Kab. Luwu 7 423 Jumlah Sampel (orang) Kooperator Nonkooperator 2.2. Desa Sapanang, Kab. Pangkep 7 621 Jumlah 1.298 48 48 Sumber: BPTP Jawa Barat (2007) dan BPTP Sulawesi Selatan (2007)
43 Sampel Penelitian Cara untuk menghitung ukuran pada pendugaan proporsi populasi dapat menggunakan rumus Taro Yamane (Rakhmat, 2005). Rumus ini untuk mencari jumlah ukuran sampel dengan tingkat presisi yang kita inginkan. Rumus Taro Yamane adalah sebagai berikut : N keterangan: n = N = jumlah populasi N.d 2 + 1 d 2 = presisi yang ditetapkan n = jumlah sampel Dari jumlah sampel yang didapatkan maka dipilih secara acak dengan pertimbangan semua sampel dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih (hukum probabilitas). Karena dalam praktek seringkali menemui kesulitan dimana kerangka sampel yang dipakai untuk dasar pemilihan tidak tersedia atau tidak lengkap dan biaya membuat kerangka sampel terlalu tinggi, maka unit analisa dalam populasi digolongkan dalam kluster atau gugus (Singarimbun dan Effendi, 2006). Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik nonproportionate cluster random sampling yang masing-masing kluster diambil sampel secara acak. Adapun kluster yang ditetapkan adalah petani kooperator dan petani nonkooperator. Jumlah responden yang dijadikan sampel berjumlah 96 orang. Data dan Instrumentasi Data Untuk data penelitian ini diperoleh dari data dan informasi berbagai instansi terkait. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pengurus kelompok tani dan anggota kelompok tani, dengan panduan wawancara yang digunakan adalah kuesioner yang telah diujicoba 20 orang petani di Desa Sukamulya, Kabupaten Garut yang memiliki karakteristik yang sama dengan lokasi penelitian, observasi lapangan dilakukan untuk mengamati langsung kondisi petani dalam melakukan kegiatan usahataninya, interaksi dengan kelompok tani dan pemanfaatan media komunikasi yang digunakan di Desa Jatiwangi, Kabupaten Garut dan Desa Citarik, Kabupaten Karawang, Jawa Barat;
44 di Desa Sapanang, Kabupaten Pangkep dan Desa Kamanre Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Data sekunder yang dikumpulkan pada penelitian ini didapatkan dari: (1) kantor desa, (2) kelompok tani dan data dari klinik agribisnis, (3) Dinas Pertanian Kabupaten Garut dan Kabupaten Karawang, Jawa Barat dan Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, (4) BPP Pertanian Kecamatan Pakenjeng, Garut dan Kecamatan Tirtamulya, Karawang; BPP Kecamatan Bungoro, Pangkep dan Kecamatan Belopa, Luwu, Sulawesi Selatan, (5) BPTP Jawa Barat dan BPTP Sulawesi Selatan yang menangani khusus pelaksanaan program Prima Tani. Instrumentasi Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini dibangun dalam bentuk instrumentasi berupa kuesioner. Kuesioner dikelompokkan menjadi empat bagian. Bagian pertama berkaitan dengan pencarian data karakteristik responden. Bagian kedua berisikan tentang pernyataan mengenai pemanfaatan media komunikasi Prima Tani. Bagian ketiga berisikan pernyataan mengenai aksesibilitas kelembagaan tani yang digunakan sebagai tempat saling tukar informasi tambahan dan bagian keempat mengenai pernyataan yang berisikan persepsi petani tentang teknologi introduksi Agribisnis Industrial Pedesaan berkaitan dengan komoditas padi, hortikultura, kebun dan ternak. Definisi Operasional Untuk mengukur peubah yang telah ditetapkan dalam penelitian maka masing-masing peubah tersebut lebih dahulu diberi batasan atau diberi definisi operasional. Definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan penelitian dalam mengukur suatu peubah atau memanipulasinya (Kerlinger, 1998). Dengan adanya definisi operasional dapat ditentukan indikator pengukurannya dan batasan-batasan yang digunakan dalam mendapatkan data serta menganalisanya sehubungan dengan penarikan kesimpulan. Karakteristik Personal (a) Umur adalah usia responden yang dihitung sejak tahun kelahiran sampai waktu penelitian dilaksanakan dalam satuan tahun, diukur dengan skala rasio.
45 (b) Jenis kelamin adalah perbedaan seks responden yang melekat pada dirinya. Jenis kelamin ini dikategorikan: (1) laki-laki dan (2) perempuan, diukur dengan skala nominal. (c) Pendidikan formal adalah jenjang waktu sekolah formal yang pernah diikuti responden dalam satuan tahun, di ukur dengan skala rasio. (d) Pendidikan nonformal adalah kegiatan pembelajaran di luar sekolah formal yang pernah diperoleh seperti: kursus, pelatihan, magang, studi banding, penataran, dan sosialisasi dalam menunjang aktivitasnya dalam satu tahun terakhir saat penelitian dilakukan, diukur dengan skala rasio. (e) Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh responden dalam mengelola lahannya baik pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan selama satu tahun usahatani dibagi bulan, diukur dengan skala rasio. (f) Pengalaman bertani adalah lamanya responden sejak berusahatani dalam satuan tahun, diukur dengan skala rasio. (g) Luas lahan garapan adalah luas area lahan yang digarap responden untuk usahatani dinyatakan dalam satuan hektar, diukur dengan skala rasio. (h) Status lahan garapan adalah posisi responden terhadap lahan usahatani yang diusahakannya. Dikategorikan dengan (1) hak milik, (2) penyewa penggarap, (3) penggarap, (4) buruh tani, diukur dengan skala nominal. (i) Status dalam kelompok tani adalah posisi responden dalam keanggotaan kelompok tani yang diikutinya, dikategorikan (1) ketua, (2) sekretaris/ bendahara, (3) anggota, diukur dengan skala nominal. Pemanfaatan Media Komunikasi Pemanfaatan media komunikasi Prima Tani adalah penggunaan media yang dilakukan petani untuk mencari tambahan informasi yaitu gelar teknologi, diukur dengan skala ordinal dikategorikan: (3) selalu lebih baik, (2) kadangkadang/ sebagian baik, (1) tidak tahu/ tidak ada. Untuk media komunikasi seperti brosur, leaflet, majalah Prima Tani, SK Sinar Tani, poster, temu wicara, percontohan/ demplot, diukur dengan skala ordinal dikategorikan: (3) jelas, (2) kurang jelas, (1) tidak tahu/ tidak ada. Pendekatan komunikasi lain diukur dengan skala ordinal dikategorikan: (3) sering, (2) jarang, (1) tidak pernah/tidak tahu.
46 Untuk aspek klinik agribisnis, diukur dengan skala ordinal yang dikategorikan: (3) sangat memadai/ tersedia/dipahami, (2) kurang/ sulit, (1) tidak tahu/ tidak ada. Aksesibilitas pada Kelembagaan Tani Aksesibilitas adalah aktivitas komunikasi petani dalam meningkatkan komunikasinya dengan lembaga tani lainnya yang ada dalam program Prima Tani yaitu manfaat keberadaan kelompok tani yang diukur skala ordinal yaitu: (3) sering, (2) jarang, (1) tidak pernah; sedangkan indikator keuntungan adanya kelompok tani yang diukur skala ordinal yaitu: (3) saling untung, (2) kurang untung, (1) tidak tahu/ tidak ada. Persepsi Teknologi Introduksi AIP Persepsi adalah pandangan petani tentang teknologi introduksi AIP dalam program Prima Tani yang diubah dalam skala ordinal, diukur berdasarkan indikator aspek biofisik, ekonomi dan sosial. Aspek biofisik yaitu keuntungan relatif untuk melihat kesesuaian komoditas utama dan sampingan, hasil panen dan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan dalam menerapkan teknologi introduksi. Aspek ekonomis yaitu keuntungan relatif dalam penerapan teknologi introduksi kepada petani secara ekonomis. Sedangkan aspek sosial yaitu keuntungan relatif yang dapat diterapkan sesuai dengan faktor sosial dan budaya setempat yang dilihat dalam tingkat adopsi, psikologi, kemandirian, keinovatifan dan manajemen usaha. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas Instrumen Menurut Singarimbun dan Effendi (2006); Black dan Champion (1992) bahwa alat ukur dikatakan sah (valid) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur data yang sebenarnya ingin diukur. Ada beberapa cara untuk menetapkan validitas alat ukur yang dapat dipakai yaitu: (a) validitas konstruktif artinya menyusun tolok ukur operasional berdasarkan kerangka dari konsep yang diukur, (b) validitas isi artinya isi alat ukur tersebut dapat mewakili semua aspek yang dianggap sebagai kerangka konsep, (c) validitas eksternal artinya alat ukur baru yang digunakan tidak berbeda hasilnya jika dibandingkan dengan alat ukur yang
47 sama. Karena itu validitas instrumen penelitian diusahakan agar semua pertanyaan disusun dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial budaya petani setempat. Upaya untuk memperkuat validitas dari instrumentasi penelitian dilakukan dengan menyusun daftar pertanyaan dengan cara: 1) Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli yang tertulis didalam literatur. 2) Menyesuaikan dengan instrumen yang telah dipakai para peneliti lain untuk mendapatkan data yang sama. 3) Mendiskusikan konsep tersebut dengan para ahli dan dosen pembimbing. 4) Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang yang mewakili karakteristik sama dengan responden (Singarimbun dan Effendi, 2006). Agar kuesioner mempunyai uji validitas tinggi maka daftar pertanyaan disusun dengan cara: a) mendefinisikan secara operasional konsep yang diukur, b) melakukan ujicoba skala pengukuran tersebut pada sejumlah responden, c) mempersiapkan tabulasi jawaban, e) menghitung korelasi antara masingmasing pernyataan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment Spearman Brown. Uji kuesioner dilakukan terhadap 20 orang petani di Desa Sukamulya Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Desa Sukamulya merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan lokasi program Prima Tani dengan karakteristiknya yang hampir sama dengan desa-desa di lokasi Prima Tani lainnya. Dari perhitungan diperoleh nilai untuk 8 subpeubah sebesar 0,819 dibandingkan r-tabel (db=18, α=5%) sebesar 0,443 maka berdasarkan ketentuan uji statistik kuesioner sudah valid. Reliabilitas Instrumen Suatu alat ukur dikatakan mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut mempunyai sifat konsisten, stabil atau ketepatan jika alat tersebut digunakan berulang kali terhadap suatu gejala yang sama walaupun dalam waktu yang berbeda.
48 Menurut Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (2006) reliabilitas instrumen adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi untuk yang kedua kalinya atau lebih. Reliabilitas instrumen diuji dengan menggunakan metode teknik belah dua dimana pengukuran dilakukan hanya satu kali. Untuk melihat instrumen yang digunakan reliabel atau tidak maka nilai r tot yang diperoleh dikonfirmasikan dengan nilai tabel pada taraf signifikan (α=5%). Jika nilai r tot lebih besar dari nilai r tabel maka instrumen yang digunakan dinyatakan reliabel dan sebaliknya maka instrumen dinyatakan tidak reliabel. Menurut Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (2006) bahwa teknik belah dua dapat digunakan manakala alat pengukur yang disusun harus mempunyai cukup banyak butir (pertanyaan/ pernyataan) yang mengukur aspek yang sama. Jumlah butir minimal sekitar 50-60 cukup memadai. Semakin besar jumlah item maka reliabilitas yang diperoleh akan semakin bertambah baik. Adapun rumus teknik uji reliabilitas belah dua (split half reliability test) yaitu : r tot = 2 (r. tt ) 1 + r.tt Keterangan: r. tt = angka korelasi belahan pertama dan kedua r. tot = angka reliabilitas seluruh item Uji reliabilitas kuesioner dilakukan pengujian terhadap 20 responden dengan menggunakan rumus split-half reliability test di Desa Sukamulya, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Hasil uji reliabilitas diperoleh nilai split-half reliability test untuk instrumen gelar teknologi yaitu 0,679, untuk media komunikasi sebesar 0,879; klinik agribisnis=0,771, untuk indikator manfaat adanya kelompok tani sebesar 0,864, untuk indikator keuntungan adanya kelompok tani sebesar 0,858 dan untuk persepsi petani pada aspek sosial sebesar 0,685 dibandingkan dengan nilai r-tabel (db=18; α=5%) adalah 0,443 maka kuesioner dinyatakan reliabel kecuali pada aspek biofisik dan aspek ekonomi.
49 Pengumpulan Data Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data dengan prosedur sebagai berikut: 1. Survai dan observasi berstruktur yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung di lapangan dengan melihat secara langsung fakta yang ada di lokasi penelitian. 2. Wawancara tertutup dengan menggunakan kuesioner kepada responden. 3. Wawancara dengan petugas dan penyuluh pertanian yang terlibat dalam program Prima Tani dan tokoh masyarakat setempat. Tujuannya untuk mengumpulkan informasi yang akurat berhubungan dengan pelaksanaan program Prima Tani. 4. Studi dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi terhadap laporan-laporan yang berkaitan dengan sumber data sekunder. Analisis Data Didasarkan pada tujuan penelitian, model teoritis yang dikembangkan dan hipotesis yang diajukan, maka untuk keperluan deskripsi dipergunakan data kategorisasi dari masing-masing peubah. Dengan demikian pada penelitian ini dilakukan beberapa analisis statistik deskriptif, di antaranya perhitungan frekuensi, prosentase, rataan skor dan total rataan skor. Untuk melihat hubungan antar peubah, maka dilakukan uji analisis chi-square bagi korelasi data nominal. Adapun rumus chi-square adalah sebagai berikut: χ 2 r k (O ij E ij ) = i=1 j=i E ij Keterangan: χ 2 = Nilai korelasi antara peubah O ij = Jumlah observasi untuk kasus yang dikategorikan dalam baris ke-i pada kolom ke-j E ij = Banyak kasus yang diharapkan dibawah H 0 untuk kategori dalam beri ke-i pada kolom ke-j Untuk menentukan apakah H 0 ditolak atau diterima, maka harus membandingkan antara nilai chi-square hitung dengan nilai chi-square tabel pada
50 selang kepercayaan 95% (taraf nyata α=0,05). Bila nilai chi-square hitung lebih besar dari nilai chi-square tabel maka tolak H 0 dan sebaliknya. Penentuan ini bisa juga dilihat dari probabilitas bila P value < α=0,05 maka tolak H 0. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengolahan dan analisis data ini digunakan untuk melihat hubungan antara peubah-peubah yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Nazir (2003) korelasi rank Spearman digunakan jika mengamati dua peubah dalam bentuk skala ordinal. Data kuantitatif diolah dengan uji statistik korelasi rank Spearman dengan rumus sebagai berikut: r s = 1-6 Σ d i 2 n(n 2 1) keterangan: r s = nilai korelasi rank Spearman n = banyaknya pasangan data peubah d 1 = jumlah selisih setiap pasangan peubah Pengolahan data ujicoba kuesioner dilakukan dengan menggunakan program SPSS Versi 13 dari program Windows dan Microsoft Excel 2003. Alasan penggunaan korelasi rank Spearman adalah: 1. Tidak ada anggapan bahwa skor yang dianalisis ditarik dari populasi dengan distribusi tertentu. 2. Skor tidak eksak dalam pengertian kelangkaan melainkan semata-mata merupakan jenjang. 3. Efisiensi cukup tinggi yaitu 1% (Siegel, 1994). Setelah itu digunakan skala penilaian untuk menentukan posisi tanggapan sampel penelitian dengan menggunakan nilai skor setiap peubah dari kisaran satu sampai tiga yang menggambarkan posisi negatif ke posisi yang positif. Selanjutnya dihitung rentang skala dengan rumus sebagai berikut: R (bobot) Rs = M Keterangan: Rs = Rentang skala R (Bobot) = Bobot terbesar dikurangi bobot terkecil M = Banyaknya bobot