vi
Vii
Viii
ix
X
Xi
xii
xiii
xiv
xv
xvi
xvii
xviii
xix
xx
xxi
xxii
xxiii
xxiv
xxv
xxvi
xxvii
xxviii
xxix
xxx
xxxi
xxxii
PROFIL DAN ANALISIS USAHA PEMBIBITAN AYAM KUB DI KELOMPOK PETERNAK CILIWULUNG BATU, DESA PANGGUNG JATI, KECAMATAN TAKTAKAN, KOTA SERANG, PROVINSI BANTEN Dewi Haryani dan Ivan Mambaul Munir Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten e-mail : ivanmunir@gmail.com Abstrak Analisa usaha pembibitan Kuthuk Umur Sehari (KURI) ayam KUB dilakukan di kelompok peternak Ciliwulung Batu, Desa Panggung Jati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Provinsi Banten. Data dikumpulkan dengan cara pengamatan langsung dan rekording data dengan metoda survey dengan cara wawancara, teknis dan ekonomis. Data yang diperoleh, dianalisa kelayakan usaha pembibitan ternaknya dengan pendekatan R/C rasio. Hasil analisa dengan pendekatan R/C rasio menunjukkan bahwa usaha pembibitan KURI ayam KUB layak diusahakan dan menguntungkan dengan hasil R/C rasio 2,41 dalam satu siklus produksi. Dengan jumlah induk 250 ekor dapat menjual DOC per minggu 557 ekor, masa produksi 52 minggu, diperlukan biaya sebesar Rp. 45.163.000 dengan harga DOC Rp. 6.500 per ekor diperoleh hasil penjualan sebesar Rp. 143.178.490 ditambah hasil penjualan ayam afkir pada siklus produksi sebesar Rp.10.687.500 dan penjualan pupuk Rp. 200.000 maka total keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 108.902.990 per siklus produksi. PENDAHULUAN Ayam kampung memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang baik di Indonesia, sehingga ayam ini banyak dipelihara secara semi intensif dan intensif (Iskandar et al, 1989). Selain itu, ayam kampung memiliki multi fungsi yaitu sebagai hobi karena suaranya yang merdu, bahan upacara adat, ternak aduan dan penghasil daging dan telur (Sartika dan Iskandar, 2007). Pemerintah konsisten dalam memeperbaiki peternakan rakyat khususnya ternak ungags (Ditjenak, 2013). Sehingga pemerintah melalui kementerian pertanian, membuat program pengembangan unggas lokal, adapun jenis unggasnya adalah ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) yang merupakan hasil persilangan ayam lokal diseluruh Indonesia yang telah dimuliabiakan sehingga menjadi ayam kampung unggul (Sartika et al, 2013). Oleh karena itu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten sebagai unit kerja dibawah badan litbang pertanian memiliki tugas diseminasi produk ayam KUB yang diwujudkan dalam program kegiatan pengembangan ayam KUB di provinsi Banten. BPTP Banten konsisten dalam mengembangkan ayam KUB dengan menggandeng kelompok ternak di provinsi Banten, Namun pengembangan ayam KUB ini di lapangan masih sering ditemukan kendala antara lain kesulitan memperoleh bibit ayam yang produktivitasnya tinggi, belum banyak pengusaha peternak ayam kampung 1648
atau kelompok ternak yang melakukan usaha pembibitan ternak. Oleh karena itu, analisis usaha pembibitan ayam kub di kelompok peternak ciliwulung batu, desa panggung jati, kecamatan taktakan, kota serang, provinsi banten dilakukan sebagai upaya mengembangkan ayam KUB di provinsi Banten. MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan di salah satu lokasi diseminasi pengembangan ayam KUB di provinsi Banten yaitu di kelompok peternak Ciliwulung Batu, Desa Panggung Jati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Provinsi Banten. Penelitian adalah studi kasus dengan metode survey melalui wawancara dengan ketua dan anggota kelompok. Data teknis dan ekonomi diperoleh dari pengamatan dan recording terhadap ayam KUB. Selanjutnya dianalisis kelayakan usaha pembibitan untuk menghasilkan DOC ayam KUB. Peubah yang diamati meliputi data peternak dan unit usaha yang dikembangkan, populasi ternak berdasarkan status fisiologi, jenis dan jumlah pakan yang diberikan, produksi telur, pemasaran telur, DOC dan ayam potong. Analisis usaha dilakukan pada unit usaha pembibitan ayam KUB yang menghasilkan DOC atas dasar input dan output produksi. Sedangkan kelayakan usaha dihitung melalui pendekatan R/C rasio. HASIL DAN PEMBAHASAN Profile kelompok peternak Pada awal berdirinya kelompok peternak ayam KUB Ciliwulung Batu, bukanlah kelompok peternak yang memelihara ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), namun a kelompok Peternak penggemar ayam kampung asli lokal Banten. Bermula dari inisiatif Bapak Bandiyono (ketua kelompok Peternak Ciliwulung Batu) yang resah dengan berita keunggulan ayam lokal yang dipertunjukkan di tingkat nasional, masih belum adanya bibit unggul ayam kampung asli Banten yang bisa ditunjukkan di tingkat nasional. Sehingga atas dasar hal itu, maka muncul inisiatif menghimpun para penggemar ayam di Banten untuk membentuk suatu komunitas penggemar ayam kampung lokal. Bermula beberapa orang yang tertarik mengikuti perkumpulan tersebut, maka diperbaikilah perkumpulannya dalam bentuk kelompok ternak yang diberi nama kelompok peternak ciliwulung Bantu. Sejalan dengan proses pembentukan kelompok ternak tersebut, di tahun 2014, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian melaksanakan diseminasi pengembangan ayam KUB di provinsi Banten, dan kelompok peternak ayam KUB ciliwulung Batu terpilih sebagai kelompok peternak kooperator. Sehingga pada tahun 2016 Kelompok peternak Ciliwulung Batu mendapatkan pendampingan teknologi dan pengembangan ayam KUB. Saat ini, Kelompok peternak ayam KUB Ciliwulung Batu memiliki anggota 10 orang. Seluruh anggota memiliki peran masing masing dalam menjalankan unit usaha kelompok. Adapun unit usaha milik kelompok adalah unit usaha penghasil telur, unit usaha penetasan, unit usaha pembesaran dan unit usaha penjualan ayam siap saji. (Tabel.1) Pembagian unit usaha kelompok dibagi berdasarkan kesepakan kelompok dengan mengutamakan 1649
musyawarah yang bertujuan untuk pemerataan dan efisiensi usaha, Sehingga dengan modal yang kecil mampu maksimal menjalankan unit usaha kelompok. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan anggota kelompok, yang semula pada awal berdiri hanya 3 orang sehingga menjadi 11 orang di tahun 2015. Peningkatan jumlah anggota kelompok sebesar 2 kali lipat tersebut adalah usaha anggota Populasi ayam KUB berdasarkan status fisiologi Populasi ayam kampung Kelompok ternak ciliwulung batu, pada awal berdirinya di tahun 2012 memiliki 200 ekor jantan. Sesuai dengan perkembangannya, saat ini populasinya adalah 6320 ekor dengan struktur populasi yang terdapat dalam table 2. Peningkatan populasi terjadi sangat agresif selama kurun waktu tiga tahun, dari populasi 200 ekor di tahun 2013 menjadi 6.320 ekor pada tahun 2016. Peningkatan populasi ini karena adanya kegiatan diseminasi BPTP Banten yaitu Kajian pengembangan ayam KUB di provinsi Banten, dengan bantuan indukan ternak sejumlah 40 ekor ayam KUB betina dan 5 ekor ayam kelompok inti untuk memotivasi peternak sekitar lokasi untuk semangat dalam mengembangkan ayam kampung, bermula dari hobi yang dimiliki beberapa orang menjadi komunitas penangkar ayam kampung selanjutnya berkembang menjadi kelompok peternak Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) Ciliwulung Batu. KUB jantan dan 100 ekor DOC ayam KUB untuk pembesaran. Selain itu, juga karena keseriusan kelompok peternak ini dalam mengembangkan unit usahanya dan fokusnya dalam pembelajaran tentang ayam kampung. Populasi tersebut tersebar di beberapa anggota kelompok yang memiliki unit usaha kelompok. Pemberian pakan pada ayam KUB berbeda jenisnya pada setiap fasenya. Karena ayam KUB adalah ayam kampung murni hasil seleksi yang memiliki keunggulan produksi telur tinggi, 45-50% henday dengan sifat mengeram 10%dari total populasi (Sartika et al, 2013). Pakan ayam KUB harus disesuaikan pada setaiap fasenya (tabel 3.) Tabel 1. Karakteristik Kelompok peternak ayam KUB Inti tani dan unit usaha ternak yang dikembangkan Uraian Keterangan Nama ketua kelompok Tahun Pembentukan Alamat Jumlah anggota awal Jumlah anggota saat ini Unit usaha penghasil telur Unit usaha penetasan (penghasil DOC) Unit usaha pembesaran (penghasil ayam potong) Unit usaha penjualan ayam siap saji Bandiyono 2013 Kp. Ciolang jaya, Panggung jati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang 3 orang 11 orang 1 orang 1 orang 8 orang 1 orang 1650
Table 2. Struktur populasi ayam KUB di kelompok peternak Inti tani waktu Dewasa (>4 bulan) Muda (2-4 bulan) Anak (<2 bulan) jantan betina jantan betina jantan betina Awal berdiri 200 ekor Tahun 2016 25 ekor 150 ekor 45 ekor 100 ekor 1000 ekor 5000 ekor Tabel 3. Kebutuhan gizi ayam KUB minimal No Gizi pakan Starter Grower Layer 1. 2. 3. 4. 5. 6. Protein Kasar (%) ME (kkal/kg) Metionin (%) Lisin (%) Ca (%) P tersedia (%) (Sartika, et al. 2014) (0-12 minggu) 17 2.800 0,37 0,87 0,9 0,45 12-18 minggu) 16 2800 0,21 0,45 1,0 0,4 (>18 minggu) 17 2600 0,22-0,30 0,68 3,4 0,34 Jumlah pemberian pakan dan biaya yang dikeluarkan Tabel 3. Jumlah dan biaya pakan yang diberikan berdasarkan fase pertumbuhan ayam KUB Umur Jenis pakan Jumlah pakan Biaya pakan Harga pakan 0-2 bulan 2-3.5 bulan 3.5-5.5 bulan Starter Grower Layer 1.82 kg/ekor/2 bln 3,71 kg/ekor/1,5 bln 5,04 kg/ekor/2 bln Rp. 13.832 Rp. 20.405 Rp. 27.720 Rp. 7600/kg Rp. 5500/kg Rp. 5500/kg Fase starter ayam KUB diberi pakan konsentrat pabrik secara penuh, hal ini dilakukan karena untuk memenuhi standar kebutuhan ayam, agar mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan target pertumbuhan dan perkembangannya. Berdasarkan table kebutuhan pakan ayam KUB, pada fase starter ayam KUB memerlukan protein kasar yang lebih tinggi dibandingkan fase grower, karena pada fase ini terjadi perbanyakan sel dan perkembangan sel, sehingga fase ini disebut sebagai fase emas pertumbuhan dan perkembangan ayam. Pada fase starter, ayam KUB menghabiskan pakan 1.82 kg/ekor, dengan biaya pakan sebesar Rp. 13.832. Fase Grower ayam KUB diberi pakan konsentrat pabrik yang dicampur dengan jagung dan dedak serta premix. Perbandingan konsentrat pabrik, jagung dan dedak adalah 2 : 1 : 1. Komposisi pakan ini adalah pakan yang biasa digunakan oleh peternak ayam di Banten (Haryani, et al. 2015). Pada fase grower, ayam KUB menghabiskan pakan 3.71 kg/ekor dengan biaya pakan sebesar Rp. 20.405. Fase layer ayam KUB diberi pakan yang sama dengan pakan ayam KUB fase grower, dengan jumlah pakan harian 90 gram/ekor/hari (Sartika et al, 2014). Kumulatif pakan yang dihabiskan oleh ayam KUB pada fase layer sebesar 5,04 kg/ekor, dengan biaya pakan sebesar Rp. 27.720. Jenis pakan dengan komposisi konsentrat pabrik, jagung dan dedak (2 : 1 : 1) ini diberikan pada ayam KUB hingga afkir pada umur 1,5 tahun. 1651
Pemasaran hasil Beberapa unit usaha yang dimiliki oleh kelompok peternak Ciliwulung batu menghasilkan beberapa produk yang siap dijual antara lain : bibit (DOC), telur, daging ayam potong dan daging siap saji. Analisis Usaha Pembibitan DOC Suatu usaha dapat dikatakan layak jika memberikan keuntungan finansial dan salah satu cara untuk mengukurnya dengan metode cash flow analisis (Gittinger, 1986). Analisis finansial ini dilakukan untuk memberikan rekomendasi suatu usaha layak atau tidak, mengingat kondisi di masa mendatang penuh dengan ketidakpastian (Mulyana, 2008). Sistem budidaya ayam secara intensif memerlukan biaya yang besar yang memiliki komponen biaya tetap (fixed Unit usaha pembesaran ayam KUB melakukan penjualan ayam pada 14 minggu dengan bobot badan +0.875 kg, karena pada spesifikasi tersebut memiliki permintaan masyarakat yang banyak. Persentase populasi ayam yang bisa di panen pada unit usaha pembesaran ini sejumlah + 80%, dan sisanya dijadikan scond grade untuk dijual menjadi ayam siap saji (Tabel.4). cost) dan biaya tidak tetap (variable cost), sehingga untuk memperoleh kriteria kinerja secara ekonomi maka parameter teknis dan ekonomi diperlukan dalam perhitungan laba-rugi (Wibowo dan Sartika, 2011). Perhitungan analisa usaha pada kelompok peternak Ciliwulung Batu, diasumsikan bahwa selama kegiatan usaha tidak terjadi serangan wabah penyakit yang dapat menyebabkan kerugian dan harga yang digunakan adalah harga yang berlaku saat pengamatan dilakukan. Tabel 4. Pemasaran DOC, telur, daging ayam potong dan daging siap saji Komoditas yang dipasarkan Lokasi Pemasaran DOC Peternak lokal di wilayah Serang, Pandeglang, Tangerang dan Lebak. Telur Daging ayam potong Daging siap saji Masyarakat Serang, Cilegon, dan Tangerang Dinas pertanian dan peternakan Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Serang Badan ketahanan pangan dan penyuluhan Banten Dinas perindustrian dan perdagangan Banten Masyarakat di wilayah kabupaten/kota Serang, Tangerang, dan Cilegon Dinas pertanian dan peternakan Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Serang Dinas perindustrian dan perdagangan Banten Masyarakat di wilayah kabupaten/kota Serang, Tangerang, dan Cilegon Dinas pertanian dan peternakan Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Serang Dinas perindustrian dan perdagangan Banten 1652
Tabel 5. Analisis usaha pembibitan penghasil DOC ayam KUB per siklus produksi Asumsi teknis dan harga Skala usaha = 250 ekor Tingkat produksi telur = 65% Fertilitas = 70% Daya teteas = 70% Mortalitas DOC = 5% Siklus produksi = Kebutuhan pakan jantan dan betina = Harga pakan = Rp. Harga bibit = Rp. Harga jual DOC jantan dan betina = Rp. Harga jual telur konsumsi = Rp. Harga jual ayam afkir = Rp. Ukuran kandang = Rp. 12 bulan/siklus 100 g/ekor/hari 5,500 /kg 90,000 /ekor 6,500 /ekor 2,000 /butir 45,000 166,000 /m2 Modal awal yang diperlukan Bibit (250 ekor x Rp. 90.000) = Rp. Pakan (9000 kg x Rp. 5.500) = Rp. obat dan vaksin sekam (Rp. 1000/ekor/bulan) = Rp. sapronak (Rp. 400/ekor/bulan) = Rp. Daya tahan kandang (60 bulan) = Rp. Mesin tetas (daya tahan 5 tahun) 2 unit, @ kapasitas 1000 telur = Rp. Total modal awal = Rp. 22,500,000 12,375,000 375,000 300,000 9,960,000 5,000,000 50,510,000 Pengeluaran per siklus (12 bulan) Pembelian induk bibit = Rp. Biaya pakan = Rp. Air dan listrik = Rp. 22,500,000 12,375,000 600,000 1653
Obat = Rp. Vaksin = Rp. Sekam = Rp. Peralatan = Rp. Perawatan kandang = Rp. Tenaga kerja = Rp. Penyusutan mesin dan kandang = Rp. Total pengeluaran per siklus Rp. 1,500,000 1,200,000 800,000 1,200,000 1,992,000 1,500,000 1,496,000 45,163,000 Keuntungan per siklus produksi (12 bulan) Produksi telur per minggu = 65% x 250 = 163 butir per hari x 7 hari = 1138 butir Produksi DOC per minggu= 1138 ekor x 70% x 70% = 557 ekor Kematian DOC = 5% x 557 ekor = 28 ekor DOC yang dijual perminggu = 529 ekor (20%*529 ekor) = 424 ekor Masa produksi = 12 Bulan Produksi DOC per siklus = 22027 ekor/siklus = Rp. 143,178,490 Jual ayam afkir = 238 ekor = Rp. 10,687,500 pupuk = 20 karung = Rp. 200,000 Penerimaan per siklus = 108,902,990 R/C = 2.41 KESIMPULAN Hasil analisis usaha pembibitan penghasil DOC ayam KUB per siklus produksi dapat menguntungkan dengan nilai R/C = 2.41 selama 12 bulan (satu siklus produksi. Hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa usaha pembibitan DOC ayam KUB memiliki peluang pasar yang besar, namun suplai induk dan hasil produksi DOC belum mampu memenuhi permintaan pasar. Diharapkan kelompok peternak ayam KUB mendapat dukungan pendampingan pengembangan usaha pembibitan ayam KUB yaitu manajemen penetasan dan manajemen pemeliharaan induk ayam KUB serta manajemen penanganan biologis (biosecurity) agar usaha tani kelompok ternak mampu berkembang. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Peternakan. 2013. Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Unngas Lokal di Pedesaan. Kementerian Pertanian. Jakarta 1654
Gittinger, J.P. 1986. Analisis Ekonomi Proyek Proyek Pertanian. Edisi Ketiga. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Haryani, D., Munir, I.M., Yusron, M., Alfarizi, A.M. 2015. Laporan Kajian Pengembangan Ayam KUB di Provinsi Banten. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten. Serang. Banten Iskandar S., Wibowo, B., Juarini, E., Sinurat., A.P., Sitorus, P. 1989. Budidaya Ayam Buras di Pedesaan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor. Mulyana, A. 2008. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Satwa Utama Desa Cijulang Kecamatan Bojong Lopang Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Teknik formulasi ransum ayam KUB berbasis bahan pakan lokal. IAARD press. Jakarta Sartika, T., Desmayati., Iskandar, S., Resnawati, H., Setioko, A.R., Sumanto., Sinurat, A.P., Isbandi., Tiesnamurti, B., Romjali, B., 2013. Ayam KUB-1. IAARD press. Jakarta Sartika, T., Iskandar, S. 2007. Mengenal plasma nutfah ayam Indonesia dan pemanfaatannya. Bogor (Indonesia) : Balai Penelitian Ternak. Wibowo B, sartika T. 2001. Analisis kelayakan usaha penggemukan ayam kampung (lokal) di tingkat petani studi kasus kelompok peternak ayam kampung Barokah di Ciamis. Prosising Seminar nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 7-8 Juni 2011. Bogor (Indonesia) : Puslitbangnak. Sartika, T., Resnawati, H., Iskandar, S., Purba, M., Zainudin, D., Unadi, A. 2014. 1655
1735
1736
1737
1738
1739
1740