KERANGKA ACUAN MANAJEMEN RISIKO RS ROYAL PROGRESS

dokumen-dokumen yang mirip
PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RSUD PASAR REBO

KERANGKA ACUAN PROGRAM PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS PUJON

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RISK MANAGEMENT PROCESS. Proses Manajemen Risiko

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan pasien (patient safety) menjadi suatu prioritas utama dalam setiap

#10 MANAJEMEN RISIKO K3

REKAP DOKUMEN PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya

STANDAR PPI 1 PPI 1.1 PPI 2 PPI 3 PPI 4 PPI 5 PPI 6 PPI 6.1

UPT PUSKESMAS SAITNIHUTA

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970 pasal 1 ayat (1) yang

PANDUAN PENUNTUN SURVEI AKREDITASI UNTUK BAB PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN ====================================== ==========================

LAPORAN EVALUASI PROGRAM

Lingkup. Tanggungjawab Hukum. Tanggungjawab Hukum di Rumah Sakit. Administratif Perdata Pidana

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

MANAJEMEN RISIKO DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO) Dra. Siti Farida, SpFRS, Apt.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT AR BUNDA PRABUMULIH TAHUN 2017

PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN (PMKP) STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT edisi 1 1

JCI - HEALTHCARE ORGANIZATION MANAGEMENT STANDARDS

BAB I PENDAHULUAN. oleh tenaga kesehatan melalui program-program yang telah ditetapkan oleh

Luwiharsih Komisi Akreditasi RS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Risiko dalam proyek konstruksi merupakan probabilitas kejadian yang muncul

No. Dokumen No. Revisi Halaman 1 dari 2

PEDOMAN PENINGKATAN MUTU DAN KINERJA PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RESIKO DAN TINDAKAN PENGENDALIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemerintah mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi

PT. SAAG Utama PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RISIKO No: PK.HSE.01 Berlaku : Revisi : 00 Hal.

PEDOMAN PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS TAROGONG

DIREKTORAT BINA YANMED SPESIALISTIK DIREKTORAT JENDERAL BINA YANMED

Komunikasi penting dalam mendukung keselamatan pasien. Komunikasi yang baik akan meningkatkan hubungan profesional antarperawat dan tim kesehatan

Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN PERIODE BULAN JANUARI-MARET 2018

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. RISIKO DALAM PROYEK KONSTRUKSI MERUPAKAN PROBABILITAS KEJADIAN YANG MUNCUL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang termasuk bidang kesehatan. Peralatan kedokteran baru banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-

INSTRUMEN AKREDITASI PUSKESMAS

Winarni, S. Kep., Ns. MKM

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat akan kesehatan, semakin besar pula tuntutan layanan

BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna meliputi upaya promotif, pelayanan kesehatan (Permenkes No.147, 2010).

Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)

HP Palembang 22 Juni 1953

BAB I PENDAHULUAN. pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KUESIONER MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT I. MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan jasa yang di dalamnya terdapat

MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PEKERJA PADA BAGIAN PRODUKSI PENGOLAHAN KAYU DENGAN METODE JSA (JOB SAFETY ANALYSIS)

BAB I PENDAHULUAN. layanan kesehatan, maka fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. seperti klinik harus selalu berusaha untuk memenuhinya dalam

PMKP STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI I ( SNARS EDISI I) PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN EDIT LW REV NRL 10717

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Millenium Development Goals (MDG s) yang dipicu oleh adanya tuntutan untuk

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard

PENGERTIAN (DEFINISI) RESIKO DAN PENILAIAN (MATRIKS) RESIKO

PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL (SOP) IDENTIFIKASI, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN BAHAYA RESIKO. No. Dokumen: CTH-HSE.02-SOP-01

TATA KELOLA RUMAH SAKIT (TKRS)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya mutu pelayanan dengan berbagai kosekuensinya. Hal ini juga yang harus dihadapi

PROGRAM KERJA MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN

INPUT DAN PROSES. Pendahuluan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terkait keselamatan di RS yaitu: keselamatan pasien, keselamatan pekerja atau

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan (safety) telah menjadi issue global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima (5)

BAB 9 PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN (PMKP) PARAMETER PENILAIAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : SKEP / 39 / III / 2010 TENTANG

OCCUPATIONAL HEALTH MANAGEMENT PROGRAM. Yusmardiansah

ANALISIS RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA INSTALASI LAUNDRY

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien. Melur Belinda Tim Keselamatan Pasien RSUD Dr Saiful Anwar malang

SKRIPSI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN TINDAKAN PENATALAKSANAAN NEEDLE STICK INJURY DI RSUP SANGLAH DENPASAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu hal yang mendapat perhatian penting adalah masalah konsep keselamatan

PUSKESMAS GUNUNGPATI

KESELAMATAN PASIEN MANAJEMEN RISIKO

Penetapan Konteks Komunikasi dan Konsultasi. Identifikasi Risiko. Analisis Risiko. Evaluasi Risiko. Penanganan Risiko

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT NOMOR : TENTANG PEDOMAN ORGANISASI KOMITE MUTU RUMAH SAKIT DIREKTUR RUMAH SAKIT

Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk. Rumah Sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety)

Manajemen Risiko Kelelahan: Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

EVALUASI TERHADAP PROFIL RESIKO. Tujuan: Untuk memastikan bahwa resiko yang tidak dapat ditolerir dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya

LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR RS (...) NOMOR :002/RSTAB/PER-DIR/VII/2017 TENTANG PANDUAN EVALUASI STAF MEDIS DOKTER BAB I DEFINISI

Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)

TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN DAN PENGARAHAN (TKP) > 80% Terpenuhi 20-79% Terpenuhi sebagian < 20% Tidak terpenuhi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat,

PROGRAM KERJA INSTALASI LABORATORIUM TAHUN 2015 RUMAH SAKIT ROYAL PROGRESS JL. DANAU SUNTER UTARA, SUNTER PARADISE I, JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. secara paripurna, menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, ataupun. terhadap pasiennya (UU No 44 Tahun 2009).

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Definisi

I.Pengertian II. Tujuan III. Ruang Lingkup IV. Prinsip

Perbaikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dengan Metode HIRARC di PT. Sumber Rubberindo Jaya

PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PROVINSI JAWA BARAT KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 900/KEP.964-INSPT/2016

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

KELENGKAPAN PENGISIAN INDIKASI MEDIS PADA FORM/BLANGKO PERMINTAAN PEMERIKSAAN RADIOLOGI

LAPORAN LAPORAN DAFTAR ISI INDIKATOR MUTU PMKP TRIWULAN 1 TAHUN 2017

ANALISIS RISIKO BAHAYA KIMIA PADA AREA STOCK FIT INDUSTRI SEPATU, PT PRATAMA ABADI INDUSTRI, TANGERANG, INDONESIA

MONITORING KEAMANAN DAN KESELAMATAN FASILITAS RUMAH SAKIT (K3RS)

Transkripsi:

KERANGKA ACUAN MANAJEMEN RISIKO RS ROYAL PROGRESS I. Pendahuluan: A. Risiko Setiap upaya medik umumnya mengandung risiko, sebagian di antaranya berisiko ringan atau hampir tidak berarti secara klinis. Namun tidak sedikit pula yang memberikan konsekuensi medik yang cukup berat. Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan sesuatu terjadi atau potensi bahaya yang terjadi yang dapat memberikan pengaruh kepada hasil akhir. Risiko yang dicegah berupa risiko klinis dan risiko non klinis. Risiko klinis adalah risiko yang dikaitkan langsung dengan layanan medis maupun layanan lain yang dialami pasien selama di RS. Sementara risiko non medis ada yang berupa risiko bagi organisasi maupun risiko finansial. Risiko organisasi adalah yang berhubungan langsung dengan komunikasi, produk layanan, proteksi data, sistem informasi dan semua risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian organisasi. Risiko finansial adalah risiko yang dapat mengganggu kontrol finansial yang efektif, salah satunya adalah sistem yang harusnya dapat menyediakan pencatatan akuntansi yang baik (Bury PCT, 2007). Menurut Dwipraharso (2004) risiko medis dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu: 1. Tingkat probabilitas dan keparahannya minimal (umumnya bersifat foreseeable but unavoidable, calculated, controllable). 2. Risiko bermakna tetapi harus diambil karena the only way (unavoidable). Risiko 1 dan 2 memerlukan informed consent sehingga bila terjadi dokter tidak bertanggung jawab secara hukum. 3. Risiko yang unforeseeable = untoward results Faktor-faktor yang berpengaruh dalam terjadinya risiko adalah : Faktor Komponen yang berperan Organisasi dan Manajemen Sumber dan keterbatasan keuangan Struktur organisasi Standar dan tujuan kebijakan Safety culture Lingkungan pekerjaan Kualifikasi staf dan tingkat keahlian Beban kerja dan pola shift Desain, ketersediaan dan pemeliharaan alkes Dukungan administratif dan manajerial Tim Komunikasi verbal Komunikasi tulisan Supervisi dan pemanduan Struktur tim

Individu dan staf Kemampuan dan ketrampilan Motivasi Kesehatan mental dan fisik Penugasan Desain penugasan dan kejelasan struktur penugasan Ketersediaan dan pemanfaatan prosedur yang ada Ketersediaan dan akurasi hasil tes Karakteristik pasien Kondisi ( Keparahan dan kegawatan) Bahasa dan komunikasi Faktor sosial dan personal Langkah-langkah untuk meminimalkan risiko: Meningkatkan peran RS dan manajemen dalam mencegah error dengan cara mengembangkan sistem yang selain bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan juga menjamin bahwa setiap upaya, prosedur dan sistem pelayanan yang dilakukan aman untuk pasien, petugas dan lingkungan. Hal tersebut dipresentasikan dalam bentuk SPO, clinical practice guidelines, clinical pathway dll. Meningkatkan peran staf RS agar terlibat langsung maupun tidak langsung dalam pelayanan kesehatan di RS untuk mampu mengenali, mengidentifikasi dan menganalisis kejadian medical error dan melakukan upaya yang adekuat untuk mengatasi error yang sudah terlanjur terjadi. Setiap staf harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari tim yang bekerja dalam satu sistem. Kerja tim yang baik juga sangat ditentukan oleh kinerja manajemen rumah sakit yang baik, mulai dari dukungan moral, finansial,,teknis dan oprasional hingga terjalinnya komunikasi yang baik antara pihak manajemen dengan pihak praktisi. Dalam setiap pusat pelayanan kesehatan harus dibangun sistem yang dapat menjamin bahwa setiap tindakan medik yang dilakukan haruslah aman bagi pasien maupun petugas dan lingkungan sekitar. Pendekatan yang dapat dilakukan disebut dengan manajemen risiko. B. Manajemen Risiko Manajemen risiko menurut The Joint Commission On Acreditation Of Healthcare Organizations adalah aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh RS untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya cedera atau kerugian pada pasien, pengunjung dan institusi RS. Manajemen risiko dapat digambarkan sebagai proses berkelanjutan dari identifikasi secara sistemik, evaluasi dan penatalaksanaan risiko dengan tujuan mengurangi dampak buruk bagi organisasi maupun individu.

Rumah Sakit perlu menggunakan pendekatan proaktif dalam melaksanakan manajemen risiko. Upaya manajemen risiko adalah : (RR, Balsamo dan MD, Brown., 1998) Manajemen risiko dilakukan berdasarkan Risk Management Logic (Dwipraharso, 2004), yaitu: What are the hazards (identifikasi risiko) Probability, Severity, Exposure Level of risk? Yes Acceptable? No Accept the risk Can it be eliminated? - Eliminated Can it be reduced? - Reduced Cancel the mission? Manajemen risiko merupakan upaya yang proaktif untuk mencegah masalah dikemudian hari, dilakukan terus menerus dan dalam suasana no blame culture. Tahapan manajemen risiko adalah: 1. Risk Awareness. Seluruh staf RS harus menyadari risiko yang mungkin terjadi di unit kerjanya masing-masing, baik medis maupun non medis. Metode yang digunakan untuk mengenali risiko antara lain: Selfassessment, sistem pelaporan kejadian yang berpotensi menimbulkan risiko (laporan insiden) dan audit klinis. 2. Risk control (and or Risk Prevention). Langkah-langkah yang diambil manajemen untuk mengendalikan risiko. Upaya yang dilakukan: Mencari jalan untuk menghilangkan risiko (engineering solution) Mengurangi risiko (control solution) baik terhadap probabilitasnya maupun terhadap derajat keparahannya. Mengurangi dampaknya. 3. Risk containment. Dalam hal telah terjadi suatu insiden, baik akibat suatu tindakan atau kelalaian ataupun akibat dari suatu kecelakaan yang tidak terprediksikan sebelumnya, maka sikap yang terpenting adalah mengurangi besarnya risiko dengan melakukan langkah-langkah yang tepat dalam mengelola pasien dan insidennya. Unsur utamanya biasanya adalah respons yang cepat dan tepat terhadap setiap kepentingan pasien, dengan didasari oleh komunikasi yang efektif. 4. Risk transfer. Akhirnya apabila risiko itu akhirnya terjadi juga dan menimbulkan kerugian, maka diperlukan pengalihan penanganan risiko tersebut kepada pihak yang sesuai, misalnya menyerahkannya kepada sistem asuransi.

Dari sisi sumber daya manusia, manajemen risiko dimulai dari pembuatan standar (set standards), patuhi standar tersebut (comply with them), kenali bahaya (identify hazards), dan cari pemecahannya (resolve them). II. Maksud : Maksud manajemen risiko di RS Royal progress adalah upaya-upaya yang dilakukan RS yang dirancang untuk mencegah cedera pada pasien atau meminimalkan kehilangan finansial. Manajemen risiko dilakukan dengan mengenali kelemahan dalam sistem dan memperbaiki kelemahan tersebut (dilakukan dengan menerapkan no blame culture) III. Tujuan dilakukannya manajemen risiko : a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS Royal Progress. b. Meningkatkan akuntabilitas. c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD). d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian yang tidak diharapkan. e. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi dimasa mendatang. Dengan adanya antisipasi risiko, apabila terjadi insiden sudah terdapat alternatif penyelesaiannya. f. Melindungi pasien, karyawan, pengunjung dan pemangku kepentingan lainnya.

IV. Pelaksana: Panitia Mutu dan Keselamatan Pasien V. Tata Cara Pelaksanaan 1. Identifikasi risiko. Proses sistematis dan terstruktur untuk menemukan dan mengenali risiko, kemudian dibuat daftar risiko. Daftar risiko dilengkapi dengan deskripsi risiko termasuk menjelaskan kejadian dan persitiwa yang mungking terjadi dan dampak yang ditimbulkannya. Identifikasi dilakukan pada: Sumber risiko, area risiko, peristiwa dan penyebabnya dan potensi akibatnya. Metode identifikasi risiko dilakukan dengan proaktif melalui self asessment, incident reporting sistem dan clinical audit dan dilakukan menyeluruh terhadap medis dan non medis. 2. Urutkan prioritas risiko dengan mengukur tingkat risiko. Pengelolaan risiko diawali dengan menilai konsekuensi yang dapat diakibatkan sebuah insiden dan kemungkinan terjadinya risiko setelah teridentifikasi. Kemudian risiko dievaluasi lalu diberikan skor untuk menentukan bobot dan prioritas risiko yang telah terjadi. Sesuai dengan bobotnya ditentukan tindakan yang akan diberlakukan terhadap masing-masing risiko. Bila bobotnya ringan dan tidak prioritas tindakannya dapat hanya mentoleransi saja dan menjadikannya catatan. Namun bila risiko yang terjadi memiliki bobot besar dan mengganggu pencapaian tujuan RS, maka ditentukan sebagai prioritas utama dan harus diatasi atau ditransfer, atau bahkan menghentikan kegiatan yang meningkatkan terjadinya risiko. Tujuan menentukan prioritas risiko adalah membantu proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil analisis risiko. Menentukan prioritas risiko dengan menggunakan rumus: TINGKAT RISIKO = PELUANG X FREKUENSI PAJANAN X AKIBAT Nilai Kriteria Peluang (P) Keterangan 10 Almost certain / Hampir pasti; Sangat mungkin akan terjadi /hampir dipastikan akan terjadi pada semua kesempatan. 6 Quite possible / Mungkin terjadi; Mungkin akan terjadi atau bukan sesuatu hal yang aneh untuk terjadi (50 50 kesempatan) 3 Unusual but possible / Tidak biasa namun dapat terjadi; Biasanya

tidak terjadi namun masih ada kemungkinan untuk dapat terjadi tiap saat. 1 Remotely possible / Kecil kemungkinannya; Kecil kemungkinannya untukterjadi / sesuatu yang kebetulan terjadi 0,5 Conceivable / Sangat kecil kemungkinannya; Belum pernah terjadi sebelumnya setelah bertahun-tahun terpapar bahaya / kecil sekali kemungkinannya untuk terjadi 0,1 Practically impossible / Secara praktek tidak mungkin terjadi; Belum pernah terjadi sebelumnya di manapun / merupakan sesuatu yang tidak mungkin untuk terjadi Nilai Kriteria Frekuensi Pajanan (F) Keterangan 10 Continue / Terus-menerus; terjadi beberapa kali dalam sehari. 6 Frequent / Sering; terjadi harian / minimal sekali dalam sehari 3 Occasional / Kadang-kadang; terjadi seminggu sekali 2 Infrequent / Tidak sering; terjadi sekali antara seminggu sampai sebulan 1 Rare / Jarang; beberapa kali dalam setahun 0,5 Very rare / Sangat jarang; terjadi sekali dalam setahun 0 No exposure / Tidak terpapar;tidak pernah terjadi Nilai Kriteria Akibat (A) Keterangan 100 Catastrophe / Malapetaka/ Keuangan ekstrem Banyak kematian Kerugian sangat besar / berhenti total Kerugian keuangan > 10 Milyar 40 Disaster / Bencana/ Keuangan sangat berat Beberapa kematian Kerugian besar / sebagian proses berhenti Menyebabkan penyakit yang bersifat komunitas/endemik pada karyawan atau pasien Menyebabkan terhambatnya pelayanan hingga lebih dari 1 hari Kerugian keuangan > 5 M 10M 15 Very serious / Sangat serius/ Keuangan berat

Menyebabkan satu kematian, kerugian cukup besar Memperberat atau menambah penyakit pada beberapa pasien atau karyawan Menyebabkan penyakit yang bersifat permanen atau kronis (HIV, Hepatitis, keganasan, Tuli, gangguanfungsi organ menetap). Menyebabkan terhambatnya pelayanan lebih dari 30 menit hingga 1 hari Kerugian keuangan 1 5 Milyar 7 Serious / Serius/ Keuangan sedang Menyebabkan cidera serius seperti cacat atau kehilangan anggota tubuh permanen Menyebabkan penyakit yang memerlukan perawatan medis lebih dari 7 hari dan dapat disembuhkan Menyebabkan terhambatnya pelayanan kurang dari 30 menit. Kerugian keuangan 500 jt 1 Milyar 3 Casualty treatment / Perawatan medis/ Keuangan ringan Menyebabkan cidera/penyakit yang memerlukan perawatan medis atau tidak dapat masuk bekerja hingga 7 hari. Kerugian keuangan 50 juta 500 juta 1 First aid treatment / P3K/ Keuangan sangat ringan Cidera tidak serius / minor seperti lecet, luka kecil dan hanya perlu penanganan P3K Kerugian keuangan s/d 50 juta 3. Tentukan respon RS. Respon RS ditentukan melalui asesmen risiko atau pengelolaan risiko, yang meliputi 3: - Identifikasi potensial risiko dan hazard. - Menelusuri siapa dan apa yang dapat dirugikan serta bagaimana caranya. - Evaluasi temuan risiko, analisa apakah pengelolaannya sudah cukup atau perlu diubah untuk mencegah terjadinya insiden. - Catat temuan lalu buat rencana pengelolaanya. - Evaluasi pengelolaan secara menyeluruh dan perbaiki bila perlu. Proses menganalisa risiko yang perlu dipertimbangkan adalah dampak dari risiko tersebut bila benar terjadi. Risiko yang dampaknya besar harus segera ditindaklanjuti dan mendapat perhatian dari pimpinan. Risiko yang dampaknya medium-rendah akan dikelola oleh Panitia PMKP bersama Kepala Unit Kerja untuk membuat rencana tindak lanjut dan pengawasan.

Kriteria Skor Risiko (R) Skor Kriteria Keterangan Lebihda ri 400 200 400 70 199 Sangat tinggi Tinggi Substantial Hentikan kegiatan dan perlu perhatian manajemen puncak. Perlu mendapat perhatian dari manjemen puncak dan tindakan perbaikan segera di lakukan. Lakukan perbaikan secepatnya dan tidak diperlukan keterlibatan pihak manajemen puncak. 20 69 Menengah; Tindakan perbaikan dapat dijadwalkan kemudian dan penanganan cukup dilakukan dengan prosedur yang ada <20 Rendah Risiko dapat diterima 4. Kelola kasus risiko untuk meminimalkan kerugian (Risk Control). Perlakukan risiko adalah upaya untuk menyeleksi pilihan-pilihan yang dapat mengurangi atau meniadakan dampak serta kemungkinan terjadi risiko. Perlakuan yang dapat dipilih adalah; Pengendalian = upaya-upaya untuk mengubah risiko yang merupakan langkah-langkah antisipatif yang direncanakan dan dilakukan secara rutin untuk mengurangi risiko. Penanganan = langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi risiko jika tindakan pengendalian belum memadai. Dapat juga bermakna langkah-langkah yang telah direncanakan dan akan dilakukan apabila risiko benar-benar terjadi. Sementara menurut NHS (National Health System) pengelolaan risiko adalah: 1. Mengambil kesempatan dengan kondisi yang ada dengan mempertimbangkan keuntungan lebih besar daripada kerugian 2. Mentolerasi risiko 3. Mentransfer risiko pada pihak ke 3 seperti asuransi 4. Menghentikan aktivitas yang menimbulkan risiko Opsi Perlakuan Risiko Klasifikasi Menghindari risiko Jenis Pengendalian Menghentikan kegiatan

Tidak melakukan kegiatan Mengurangi risiko Mentransfer risiko Mengeksploitasi risiko Membuat Kebijakan Membuat SPO Mengganti atau membeli alat Mengembangkan sistem informasi Melaksanakan prosedur pengadaan, perbaikan dan pemeliharaan bangunan dan instrumen yang sesuai dengan persyaratan; pengadaan bahan habis pakai sesuai dengan prosedur dan persyaratan; pembuatan dan pembaruan prosedur, standar dan check-list; pelatihan penyegaran bagi personil, seminar, pembahasan kasus, poster, stiker Asuransi Mengambil kesempatan dengan kondisi yang ada dengan mempertimbangkan keuntungan lebih besar daripada kerugian Menerima risiko 5. Membangun upaya pencegahan. Dalam hal ini adalah monitoring dan reviu. Monitoring adalah pemantauan rutin terhadap kinerja aktual proses manajemen risiko dibandingkan dengan rencana atau harapan yang akan dihasilkan. Reviu adalah peninjauan atau pengkajian berkala atas kondisi saat ini dan dengan fokus tertentu. 6. Kelola pembiayaan risiko (Risk Financing). Biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian atau penanganan yang dilakukan.