BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PROSEDUR DIAGNOSIS KUSTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf

dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani.

Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kronis pada manusia yang disebabkan Mycobacterium leprae (M. leprae) yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Klasifikasi penyakit kusta

BAB II. Tinjauan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium


BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. komplek dan heterogen yang disebabkan oleh berbagai etiologi dan dapat. berlangsung tidak lebih dari 14 hari (Depkes, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,

I. PENDAHULUAN. Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

BAB II KAJIAN PUSTAKA. paru,tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman Mycobacterium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Nuangan terletak di Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tutuyan

BAB III METODE PENELITIAN. Variable bebas

BAB I PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Depkes RI, 2011). Mycobacrterium tuberculosis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun yang menyerang saraf perifer, kulit dan jaringan tubuh lainnya.

1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium leprae (M.leprae). Kuman golongan myco ini berbentuk batang yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WHO (World Health Organisation) pada tahun 2014,

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Laporan Pendahuluan Morbus Hansen. BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

BAB I KONSEP MEDIK A. DEFINISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. World Health Organization (WHO) pada berbagai negara terjadi

BAB I PENDAHULUAN. hanya dari segi medis namun juga psikososial, sedangkan bagi masyarakat

APA ITU TB(TUBERCULOSIS)

-Faktor penyebab penyakit kusta. -Tanda dan gejala penyakit kusta. -Cara penularan penyakit kusta. -Cara mengobati penyakit kusta

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SUMMARY GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA TBC PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAGIMANA KECAMATAN PAGIMANA KABUPATEN BANGGAI TAHUN 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium

Tuberkulosis Dapat Disembuhkan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI

MAKALAH SISTEM INTEGUMEN

melebihi 40-70%, pencahayaan rumah secara alami atau buatan tidak dapat menerangi seluruh ruangan dan menyebabkan bakteri muncul dengan intensitas

LAPORAN KASUS MORBUS HANSEN

BAB I PENDAHULUAN. Kusta merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Departemen Kesehatan RI (2008) tuberkulosis merupakan

Obat Luka Diabetes Pada Penanganan Komplikasi Diabetes

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Profil Program P2 Kusta Dinkes Kayong Utara

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KUSTA SALAH SATU PENYAKIT MENULAR YANG MASIH DI JUMPAI DI INDONESIA. Drh. Hiswani Mkes Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan infeksi kronis granulomatous yang mengenai kulit, syaraf tepi

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang promotif, pencegahan, dan pengobatan seharusnya

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

BAB I PENDAHULUAN. kusta maupun cacat yang ditimbulkannya. kusta disebabkan oleh Mycobacterium

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN

A. IDENTITAS RESPONDENT 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : 3. Pendidikan Terakhir : 4. Pekerjaan : 5. Lama Tinggal Serumah :

Tentang Penyakit SIPILIS dan IMPOTEN...!!! Posted by AaZ - 12 Aug :26

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2003)

BAB 1 PENDAHULUAN. kadang-kadang juga berhenti minum obat sebelum masa pengobatan selesai,

BAB 1 PENDAHULUAN. Dermatitis berasal dari kata derm atau o- (kulit) dan itis (radang atau

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari

BAB III METODE PENELITIAN. Pengambilan sampel dalam penelitian dilakukan dengan cluster. random sampling, observasi lingkungan serta melihat penderita

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Bintauna Kecamatan Bintauna terletak kurang lebih 100 M 2 dari

BAB I PENDAHULUAN. Vitiligo merupakan penyakit yang tidak hanya dapat menyebabkan gangguan

BAB I PENDAHULUAN. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Masa tunas dari

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi kusta Penyakit kusta adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang di sebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada syaraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas, dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, syarafsyaraf, anggota gerak, dan mata. 1 B. Penyebab kusta Penyebab dari penyakit ini adalah kuman kusta yang berbentuk batang di kelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, dan biasa berkelompok dan ada yang tersebar satu satu dengan ukuran panjang 1-8 mic, lebar 0,2-0,5 mic yang bersifat tahan asam, Mycobacterium leprae juga merupakan bakteri aerobik, tidak membentuk spora. Sifat tahan asam Mycobacterium leprae disebabkan adanya asam mikolat dan komponen seperti lilin yang mengikat karbol fuksin. 21 Gambar 2.1 Mycobacterium Leprae 8

Kuman Mycobacterium leprae dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 9 hari tergantung pada suhu dan cuaca dan di ketahui kuman kusta yang utuh yang dapat menimbulkan penularan. Kuman Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14 21 hari dengan masa inkubasi ratarata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 22 C. Klasifikasi kusta Klasifikasi Ridley-Jopling, penyakit kusta dapat di klasifikasikan dalam tiga tipe, yaitu : Kusta tipe indetermnate (I), Tuberculoid (TT), Borderline Lepramatause (BL), dan Lepramatouse (LL). 4 Sedangkan menurut WHO penyakit kusta di klasifikasikan dalam dua tipe yaitu : tipe Pausi Basiler (PB), dan tipe Multi Basiler (MB). 1. Klasifikasi Ridley- Jopling a) Penyakit Kusta Indeterminate Lesi kulit terdiri dari suatu makula yang pipih dan tunggal, biasanya sedikit hipopigmentasi ataupun sedikit erythematose, sedikit oval ataupun bulat dalam hal bentuk. Permukaannya rata dan licin, tidak di temukan tanda-tanda ataupun perubahan tekstur kulit. Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada umumnya negatif atau sedikit positif. b) Penyakit Kusta Tipe Tubercoloid Jenis Lesi ini pada umumnya bersifat stabil, lesi pada umumnya berwarna kemerah-merahan dan kecoklat-coklatan ataupun mengalami hipopigmentasi berbentuk oval atau bulat, berbatas tegas dari kulit yang normal di sekitarnya. 9

c) Penyakit Kusta Tipe Bordeline Tipe ini sangat labil (tidak stabil), lesi-lesi kulit pada umumnya sukkulent atau eras, pleimorfik menebal secara seragam (uniform) atau pun dengan suatu daerah penyambuhan sentral. d) Penyakit Kusta Tipe Bordeline Tuberculoid (BT) Lesi kulit dapat ditentukan dari beberapa sampai banyak berwarna kemerah merahan sampai kecoklat-coklatan atau hypochronik, dan ada lesi-lesi yang tersendiri yang dapat meninggi batasnya tampak dengan nyata apabila dibandingkan dengan kulit yang sehat di sekelilingnya. Syaraf syaraf tepi kadang dapat terus menebal, dengan hasil pemeriksaan BTA positif yang ringan. e) Penyakit Kusta Tipe Bordeline Lepramatouse (BL) Lesi kulit bentuknya berbagai ragam, bervariasi dalam hal ukuran, menebal atau mengalami infitrasi, berwarna kemerahmerahan ataupun kecoklatan, sering banyak dan meluas. Hasil pemeriksaan BTA adalah positif. f) Penyakit Kusta Tipe Lepramatouse (LL) Pada tipe penyakit kusta Lepramatouse yang sub polar, lesilesi kulit sangat menyerupai lesi-lesi penyakit kusta Lepramatouse yang polar, namun masih dijumpai sejumlah kecil sisa lesi-lesi dari kusta yang asimetrik, juga kerusakan syaraf (tepi yang asimetrik dengan pembesaran syaraf dapat pula diperlihatkan pada tipe kusta ini. 2. Klasifikasi menurut WHO Klasifikasi kusta menurut WHO dapat di golongkan dalam dua tipe yaitu a) Tipe Pause Basiler (PB) b) tipe Multi Basiler (MB). 10

D. Cara Penularan Cara penularan penyakit kusta belum di ketahui dengan jelas. Penularan dapat terjadi di dalam rumah tangga maupun kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama. Basil di keluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta tipe lepramatouse yang tidak di obati dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada penderita kusta lepramatouse dapat menjadi sumber penyebar basil. Organisme kemungkinan masuk melalui saluran pernapasan atas dan juga melalu kulit yang terluka. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun, penularannya diduga melalui plasenta. 23 mycobacterium leprae keluar dari tumbuh manusia melalui kulit dan mukosa hidung. Pada kasus lepramatouse menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit dan di buktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat laporan bahwa di temukannya bakteri tahan asam di epitel. 17 Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat. Jumlah dari bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepramatouse antara 10.000 hingga 10.000.000 bakteri. 18 Sebagian besar pasien lepramatouse memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka dan mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepramatouse dapat memproduksi 10.000.000 organisme perhari. 22 Penyakit kusta dapat di tularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain adalah penderita kusta tipe MB. Penderita Multi Basiler (MB) tidak akan menularkan kusta apabila berobat teratur. 4 11

E. Diagnosa Penyakit Kulit Penyakit kusta dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan banyak penyakit lain. Sebaliknya banyak penyakit lain dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan penyakit kusta. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan untuk mendiagnosis penyakit kusta secara tepat dan membedakannya dengan berbagai penyakit yang lain agar tidak membuat kesalahan yang merugikan pasien. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda kardinal (tanda utama), yaitu : 4 1. Lesi (Kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih putihan (hipopigmentasi) atau kemerah merahan (eritematous). Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (nipestesi) atau tidak merasa sama sekali (anestesi) 2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi saraf bisa berupa gangguan fungsi sensorik seperti mati rasa, gangguan fungsi motoris seperti kelemahan otot (Parese) atau kelumpuhan (Paralise), gangguan fungsi otonom seperti kulit kering, retak, pembengkakan (edema). 3. Basil tahan asam (BTA) positif Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear), cuping telinga dan bagian aktif suatu lesi kulit. Untuk tujuan tertentu kadang diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat sekurangkurangnya dua dari tanda-tanda kardinal diatas atau bila terdapat tanda (BTA positif) diambil dari bagian kulit yang dicurigai. Bilamana terdapat hanya salah satu dari empat tanda pertama 1-4, maka pemeriksaan laboratium diulangi lagi, terutama bila hanya terdapat tanda infiltrat. Dan apabila tidak adanya cardinal sign bisa dinyatakan tersangka (suspek) kusta. 12

4. Tanda-tanda tersangka (suspek) pada kulit. a) Tanda-tanda pada kulit 1) Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih, atau benjolan 2) Kulit mengkilap 3) Bercak yang tidak gatal 4) Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut b) Tanda-tanda pada saraf 1) Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk, dan nyeri pada anggota badan atau bagian muka 2) Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. c) Diagnosa kusta di lapangan dengan menggunakan jenis pemeriksaan yaitu 1) Anamnesis Dengan mencatat identitas penderita, riwayat tanda-tanda kulit/saraf yang dicurigai, riwayat kontak dengan penderita. 2) Pemeriksaan klinis Dengan melakukan periksa raba pada kelainan kulit untuk mengetahui hilangnya rasa (dengan menggunakan kapas yang di runcingkan ujungnya, maupun dengan lidi, Periksa saraf tepi dengan perabaan, apakah ada penebalan atau nyeri raba. Untuk dapat membedakan dengan mudah apakah ada penebalan/pembesaran perbandingan dengan yang normal pada orang sehat F. Gejala gejala Klinis Kusta Gejala-gejala klinis kusta meliputi : 23,24 1. Kehilangan perasaan Kehilangan perasaan baik total maupun partial terhadap rasa sakit atau suhu, tanpa menifestasi pada kulit. selain pada penyakit lepra dapat terjadi pada penyakit-penyakit dari sistem saraf pusat atau tepi. Jika ini 13

menunjukan gejala-gejala neurologis, sebaiknya dievakuasi oleh seseorang neurolog yang berkompeten. 2. Hipopigmentasi Hipopigmentasi terdapat pada anak-anak dengan riwayat keluarga positif menderita lepra suatu waktu dapat dikacaukan dengan lesi-lesi karena fungsi, bakteri, alergi, dan kelainan-kelainan kongenital. 3. Impetigo furfurace Terutama terdapat pada wajah atau pada sebagian dari tumbuh, dan terutama pada anak-anak disebabkan oleh sterpyococus, dan mempunyai gambaran yang khas, berupa makula. 4. Nevus anemicus Dapat terlihat pada waktu lahir atau tampak pada usia yang lebih tua. Lesi-lesi terlihat bulat, atau geometris dan ukuran bertambah besar sejalan dengan bertambahnya usia penderita. Lesi tersebut tidak bersisik, tidak gatal, dan tidak anestetik, dan kerokan pada kulit memberi hasil yang negative. 5. Depigmentasi (leukoderma atau vitiligo) Leukoderma dapat merupakan keadaan sekunder dari penyakit kulit yang lebih dulu, sedangkan vitiligo merupakan suatu penyakit primer yang disebabkan karena ketidakmampuan untuk membentuk melanin. Kedua penyakit tersebut tidak anestetik, dan pemeriksaan laborat menunjukkan penemuan-penemuan yang negative. 6. Tinea sirsinata Merupakan lesi bulat dan eritermatosa dengan atau tanpa cekungan atau tepi yang infiltratif sering diduga lesi leprae khususnya jenis tuberkuloid. Tinea sirsinata disebabkan karena suatu jamur dermatofit yang biasanya ditandai dengan sisik sisik atau dibatasi vesikel vesikel. 14

7. Erythema multiforme Tipe ini merupakan suatu keadaan kulit yang akut yang menunjukkan pruritus atau lebih sakit dari anestetik bercak bercak infiltrate terutama terdapat bilateral. 8. Dermatorniositis Mulai muncul di wajah seperti udema, tetapi kelainan ini segera diikuti dengan nyeri otot khususnya pada daerah dada dan pelvic, kemudian berkembang menjadi atrofi. 9. Periarteritis nodosa Ditandai adanya nodul-nodul sepanjang rute arteri yang mirip dengan Eritema Nodosum Leprosum sebab keduanya ada rasa sakit dan timbul secara berkelompok. Eritema Nodosum Leprosum terdapat pada beberapa penderita dengan penyakit leprae lepromatosa yang sebelumnya sudah ada infiltrasi yang menyeluruh atau oleh adanya nodul-nodul. G. Faktor-faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Kusta 1. Umur Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun demikian jarang dijumpai pada umur yang sangat muda. Frekuensi terbanyak adalah pada umur 15-29 tahun. Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa prevalensi kusta meningkat sampai usia 20 tahun, kemudian mendatar antara 20-50 tahun dan setelah itu menurun. 25 Kejadian kusta lebih sering terjadi pada penderita orang tua dibandingkan pada anak-anak dan dewasa muda. terjadinya kecacatan kusta pada usia yang lebih tua tergantung pada kondisi fisik seseorang (daya tahan tubuh), terjadinya penurunan berbagai fungsi organ tubuh yang akan mempermudah kelompok usia tua jatuh dalam kondisi yang lebih parah dengan penyakit yang cenderung bersifat progresif dan irreversible. 26 15

2. Jenis Kelamin Penyakit kusta dapat menyerang semua orang. Laki-laki lebih banyak terkena dibandingkan wanita. Perbandingan 2 : 1, walaupun ada beberapa daerah yang menunjukkan insiden ini hampir sama, bahkan ada daerah yang menunjukkan penderita wanita lebih banyak. 27 3. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan dianggap sebagai salah satu unsur yang ikut menentukan pengalaman dan pengetahuan seseorang, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kehidupan sosial. 19 4. Jenis lantai Lantai merupakan dinding penutup ruangan bagian bawah, kontruksi lantai rumah harus kedap air dan selalu kering agar mudah dibersihkan dari kotoran dan debu. Keadaan lantai rumah perlu dibuat dari bahan yang kedap terhadap air seperti tegel, semen, keramik. Lantai yang tidak memenuhi syarat dapat dijadikan tempat hidup dan perkembangbiakan kuman dan vektor penyakit. Selain itu dapat menyebabkan meningkatnya kelembaban dalam ruangan. 28 5. Faktor Imunitas Pada individu dengan respon imunitas selular baik akan menjadi kusta tuberkuloid, sedang bila respon imunitas jelek menjadi kusta lepromatosa. Respon imunitas selular meningkat sesuai dengan bertambahnya umur, tetapi pada usia tertentu akan mengalami penurunan. Respon imun tersebut tidak berbeda antara laki-laki dan wanita. 21 6. Faktor Kuman Kusta Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman-kuman kusta yang masih utuh kemungkinan dapat menimbulkan penularan, sedangkan bentuk yang tidak utuh tidak menular. Suatu kenyataan kuman bentuk utuh yang keluar dari tubuh yang sakit tidak banyak. Juga faktor lamanya kuman kusta di luar badan manusia memegang peranan pula 16

dalam hal penularan ini, yaitu bila kuman keluar dari badan penderita maka kuman dapat bertahan 1-2 hari dan ada pula yang berpendapat 7 hari, hal ini tergantung dari suhu/cuaca di luar, maka panas cuaca di luar makin cepat kuman kusta akan mati. 27 7. Kelembaban Kelembaban sangat penting untuk pertumbuhan kuman penyebab penyakit. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai oleh kuman untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. 29 Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer. Menurut indikator pengawasan perumahan, kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-70% dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah <40% atau >70%. Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis agar aman bagi penguhinya, salah satunya adalah lantai harus kedap air. Jenis lantai tanah menyebabkan kondisi rumah menjadi lembab yang memungkinkan segala bakteri berkembangbiak. Hal ini menyebabkan kondisi ketahanan tubuh menjadi lebih buruk, sehingga dapat menyebabkan gangguan atau penyakit terhadap penghuninya dan memudahkan seseorang terinfeksi penyakit. 30 Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikro organism.kelembaban unutk Mycobactrium leprae dapat hidup dalam secret hidung yang dikeringkan pada temperature kamar 36,7 0 C dengan kelembaban 77,6%. 30 Mycobacterium leprae hidup diluar hospes dengan temperature dan kelembaban yang bervariasi. Mycobacterium leprae dapat bertahan hidup 7-9 hari pada kelembaban 70,9%. Sedangkan pada temperatur kamar dibuktikan dapat bertahan hidup sampai 46 hari. 30 17

8. Ventilasi Ventelasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia. Berdasarkan kejadiannya, maka ventelasi dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu: 31,32 a. Ventilasi alam. Ventilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan, yaitu: daya difusi dari gas-gas, gerakan angin dan gerakan massa di udara karena perubahan temperatur. Ventilasi alam ini mengandalkan pergerakan udara bebas (angin). temperatur udara dan kelembabannya. Selain melalui jendela, pintu dan lubang angin, maka ventilasi pun dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai hasil sifat porous dinding ruangan, atap dan lantai. b. Ventilasi buatan. Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut diantaranya adalah kipas angin, exhauster dan AC (Air Conditioner). Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi yaitu: 1) Menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetep segar / bersih, ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah yang berarti kadar CO 2 yang bersifat racun bagi penghuni rumah akan meningkat. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit. 2) Membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri pathogen karena terjadinya aliran udara 18

yang terus-menerus sehingga bakteri yang terbawa udara akan selalu mengalir. 3) Menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di dalam kelembaban yang optimum. Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia. Suatu ruangan yang tidak mempunyai ventilasi yang baik akan menyebabkan kadar oksigen yang kurang, kadar karbondioksida meningkat, ruangan akan berbau dan kelembaban udara akan meningkat. Menurut indicator penghawaan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10%luas lantai rumah (Depkes RI, 2005). Menurut Lubis (1989), luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman kusta yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan. 9. Suhu Rumah atau bangunan yang sehat haruslah mempunyai suhu yang diatur sedemikian rupa sehingga suhu badan dapat dipertahankan. Jadi suhu dalam ruangan harus dapat diciptakan rupa sehingga tubuh tidak terlalu banyak kehilangan panas atau sebaliknya tubuh tidak sampai kepanasan. 33 10. Kepadatan hunian Kuman M.lepra sebagai penyebab penyakit kusta merupakan kuman yang hidup dengan baik di suhu 27-30 0 C. Maka jika suhu di suatu rumah tidak memenuhi suhu normal (18-20 0 C), rumah atau ruangan tersebut berpotensi untuk menularkan penyakit menular, seperti kusta. 33 Ketidakseimbangan antara luas rumah dengan jumlah penghuni akan 19

menyebabkan suhu didalam rumah menjadi tinggi dan hal ini dapat mempercepat penularan kusta. Tidak padat hunian (memenuhi syarat ) adalah jika luas >9 m 2 per orang dan padat penghuni jika luas < 9 m 2 per orang. 34 11. Riwayat Kontak dengan penderita Riwayat kontak adalah riwayat seseorang yang berhubungan dengan penderita kusta baik serumah maupun tidak. Sumber penularan kusta adalah kusta utuh yang berasal dari penderita kusta, jadi penularan kusta lebih mudah terjadi jika kontak dengan penderita kusta langsung. 35 Jumlah kontak serumah pada penderita lepramatouse sebesar 4 kali lebih banyak yang kemudian menderita kusta disbanding dengan tiap tuberkuloid dengan adanya hal tersebut dapat dipastikan bahwa kontak serumah merupakan kelompok yang paling terancam (high risk) untuk menderita penyakit kusta. 36 12. Lama kontak Lama kontak adalah jumlah waktu kontak dengan penderita kusta. Penyakit kusta menular melalui kontak yang lama (2-5 tahun). penyakit kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun. 36 13. Personal hygiene Personal hygiene (kebersihan perorangan) merupakan tindakan pencegahan yang menyangkut tanggung jawab individu untuk meningkatkan kesehatan serta membatasi penyebaran penyakit menular. Pencegahan penyakit kusta dapat dilakukan dengan meningkatkan personal hygiene, diantaranya pemeliharaan kulit, pemeliharaan rambut dan pemeliharaan kuku. 19 20

21

I.Kerangka Konsep Variabel bebas Variabel terikat Jenis lantai Kelembaban rumah Kepadatan hunian Kejadian kusta Riwayat Kontak Lama kontak Personal hygiene Variabel pengganggu - Pendidikan - Jenis kelamin Variabel pengganggu : Pendidikan dan jenis kelamin disamakan Gambar 2.2 Kerangka Konsep 22

J. Hipotesa 1. Ada hubungan antara jenis lantai dengan kejadian kusta di Kabupaten Kendal 2. Ada hubungan antara kelembaban udara rumah dengan kejadian kusta di Kabupaten Kendal 3. Ada hubungan antara kepadatan hunian kamar dengan kejadian kusta di Kabupaten Kendal 4. Ada hubungan antara riwayat kontak dengan kejadian kusta di Kabupaten Kendal 5. Ada hubungan antara lama kontak dengan kejadian Kusta di Kabupaten Kendal 6. Ada hubungan antara personal higyene dengan kejadian kusta di Kabupaten Kendal 23