BAB I PENDAHULUAN. pelayanan terus mengalami dinamika perubahan. Permintaan pelayanan jasa

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan

PENDAHULUAN. umum.amanat tersebut, antara lain, telah dijabarkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 9 TAHUN 2005 PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 9 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PERIZINAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Prins (1976) Izin( vegunning) adalah keputusan administrasi Negara berupa peraturan

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi Daerah merupakan salah satu upaya renovasi yang dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. memberikan tanggapan dan respon secara aktif terhadap kebutuhan,

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah untuk menjadikan Indonesia semakin maju. Maksud dari otonomi

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI KANTOR PELAYANAN PERIJINAN TERPADU BUPATI MADIUN,

PROGRAM DAN KEGIATAN PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

GUBERNUR SULAWESI BARAT

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Faktor-faktor yang..., Muhammad Ichwan, FE UI, 2009

I. PENDAHULUAN. Paradigma lama tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat

2 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Repub

BOKS RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENELITIAN ANALISIS DAMPAK PENERAPAN ONE STOP SERVICE (OSS) TERHADAP PENINGKATAN INVESTASI DI JAWA TENGAH

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG

I. PENDAHULUAN. mengembangkan sistem pemerintahan yang baik (Good Governance), yaitu

BABl PENDAHULUAN. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang telah digulirkan sejak tahun 2001

DEPUTI BIDANG PELAYANAN PUBLIK KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan diberlakukannya undang-undang otonomi daerah, maka berbagai aturan di

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PERDESAAN MELALUI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP)

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG

Inti Muatan Undang Undang No. 25/2009 ttg. Pelayanan Publik

I. PENDAHULUAN. Paradigma lama tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat

A. PENDAHULUAN. Prinsip prinsip dari visi diatas adalah :

BUPATI ROKAN HILIR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ROKAN HILIR NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

REVISI RENCANA STRATEGIS

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG.

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I. PENDAHULUAN. menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penyelenggara administrasi

15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu;

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah Negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Strategi Implementasi..., Baragina Widyaningrum, Program Pascasarjana, 2008

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN PURBALINGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

BAB I PENDAHULUAN. Era otonomi daerah sekarang ini, daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 10 hambatan terbesar kegiatan investasi perusahaan adalah tidak memadainya

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah

BAB 1 PENDAHULUAN. penyelenggaraan pemerintah yang baik ( good governance ) yang merupakan. salah satu isu yang sangat mengemuka.

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Seiring dengan dimulainya era reformasi pada tahun 1998, telah memberikan harapan bagi perubahan menuju perbaikan di

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2012, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 50 TAHUN 2018 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

BUPATI LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH RANCANGAN PERATURAN BUPATI LAMANDAU NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

INOVASI ONESTOP SERVICE KETERANGAN DOMISILI PERUSAHAAN KELURAHAN WARUNGBOTO KECAMATAN UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah merupakan langkah awal kegiatan produksi sehingga

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi yang ditandai dengan tidak adanya batas-batas negara (

BAB I PENDAHULUAN. bidang pemerintahan sekarang ini telah terjadi perubahan yang sangat besar. Salah

GUBERNUR JAWA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2007

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150 Tambahan Lembaran Negara

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

BAB I PENDAHULUAN. rakyat dan pemerintah di daerah adalah dalam bidang public service

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 36 TAHUN 2017 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO,

KINERJA PELAYANAN TERPADU SATU PINTU PADA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU DI KABUPATEN MERAUKE

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PELAYANAN PUBLIK. menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain untuk perbuatan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. 4.1 Visi dan Misi Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Prov.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 6 SERI E

Sosialisasi dan Workshop Pelaksanaan Reformasi Birokrsi Daerah

I. PENDAHULUAN. tujuan untuk lebih mendekatkan fungsi pelayanan kepada masyarakat (pelayanan. demokratis sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGIS DAN KEBIJAKAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. sudah melaksanakan pelayanan secara efektif, yaitu kualitas pelayanan yang

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

PERATURAN BUPATI KUANTAN SINGINGI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

BUPATI WONOGIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN WONOGIRI

BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN JEPARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA,

Dalam kajian ini sampel pemerintahan daerah dipilih dengan menggunakan data hasil

BAB III RERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Dewasa ini penyelenggaraan pelayanan publik masih dihadapkan pada

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. Penyusunan Laporan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Tentang Perizinan

I. PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia adalah negara kesatuan, dalam penyelenggaraan

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL

Reformasi Birokrasi dalam Pencapaian Good Governance

BAB 1 PENDAHULUAN. prestasi organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Disamping itu,

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan publik yang berkualitas dan terus meningkat dari waktu ke waktu.

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG

I. PENDAHULUAN. sebagai dampak globalisasi memaksa organisasi pemerintah untuk

BAB V PENUTUP. 1. Adapun hal-hal yang telah dilaksanakan oleh Badan Pelayanan Perijinan. dan cepat serta biaya ringan, meliputi:

BAB I PENDAHULUAN. administrasi pembangunan yang telah ada, sehingga merupakan kebutuhan

BUPATI BANYUMAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan umum sebagai wujud dari tugas umum pemerintahan untuk. mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Birokrasi merupakan instrumen

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berbagai tuntutan pelayanan, baik kuantitas, kualitas maupun kecepatan pelayanan terus mengalami dinamika perubahan. Permintaan pelayanan jasa publik akan semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan terjadinya perbaikan kesejahteraan masyarakat, serta kondisi perekonomian Indonesia yang selalu dipengaruhi oleh lingkungan yang terus berubah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh pegawai birokrasi pemerintah sebagai personifikasi pemerintahan yang kita kenal selama ini adalah menampilkan profesionalisme dan mandiri dalam pelayanan publik. Kenyataannya dalam dinamika sosial dan pembangunan belum diikuti oleh dinamika kehidupan pegawai birokrasi pemerintahan. Berbagai kasus dalam praktek sering kali menunjukkan pegawai pemerintahan ketinggalan dalam mengikuti gerak pembangunan. Misalnya dalam pelaksanaan tugas utama pegawai pemerintahan secara umum menjadi sorotan tajam dan sering kali dikeluhkan oleh masyarakat. Untuk memenuhi berbagai tuntutan tersebut, maka kesiapan dan kemampuan aparatur, perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan kesenjangan antara tuntutan masyarakat dengan kesiapan dan kemampuan aparatur dalam fungsi pelayanan. Selanjutnya tuntutan ini hanya dapat dipenuhi, apabila aparatur negara dapat mengikuti perkembangan masyarakat sekaligus memiliki

2 kemampuan profesional yang tinggi. Untuk itu harus dilaksanakan upaya pemberdayaan terhadap aparatur negara. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta daya tanggap masyarakat yang semakin peka dan selektif terhadap hal-hal yang baru menuntut aparatur pemerintah mempunyai kinerja yang bisa diandalkan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Pelayanan publik di Indonesia mempunyai peran penting bahkan vital pada kehidupan ekonomi dan politik Indonesia dalam meningkatkan kualitas hidup sosial di dalam masyarakat manapun (Bambang Sancoko 2010: 43). Masyarakat semakin sadar akan hak-hak asasi manusia yang diindikasikan adanya tuntutan masyarakat sebagai pemilik kedaulatan akan pelayanan prima dari pemerintah. Walaupun sesungguhnya langkah-langkah perbaikan mutu dan hasil pelayanan terus diupayakan pemerintah agar dapat memberikan keamanan, kenyamanan, kelancaran dan kepastian hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah satu dasawarsa lebih kebijakan otonomi daerah digulirkan kata-kata atau istilah pelayanan publlik menjadi sesuatu yang lumrah. Semua orang sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pelayanan publik, sehingga menjadi lupa bahwa paradigma berubah kearah pelayanan publik, bukanlah hanya sebatas merubah pola pikir dan orientasi kepada pelayanan publik semata. Setelah berhasil merubah orientasi dan paradigma tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik atau dengan kata lain mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas. Meningkatnya kualitas pelayanan publik dan publik merasakan kepuasan atas pelayanan tersebut

3 merupakan tujuan akhir dari reformasi birokrasi yang dijalankan pemerintah. Pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat selama ini masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan sehingga perlu diperbaiki. Upaya perbaikan pelayanan publik yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan pelayanan publik kepada masyarakat melalui one stop service atau biasa disebut sebagai pelayanan terpadu satu atap. Namun, implementasinya masih banyak ditemukan penyimpangan dan terkesan setengah hati. Dalam hal perizinan misalnya, banyak masyarakat yang mengeluh sulitnya mendapatkan surat izin. Padahal dalam peraturan perundang-undangan disebutkan, semua kewenangan instansi berada dalam satu pintu pelayanan terpadu. Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) adalah kegiatan penyelenggaraan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya mulai dari tahap permohonan sarnpai ke tahap terbitnya dokumen dilakukan dalam satu tempat. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu pasal 2 tujuan penyelenggaraan PTSP adalah untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi merupakan Lembaga Tenaga Teknis Pelayanan di daerah yang pembentukannya setelah diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah dan juga mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 100 Tahun 2016 tentang Pedoman Nomenklatur Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi dan Kabupaten Kota.

4 Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dairi Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan Perangkat Daerah Kabupaten Dairi, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu. Sesuai dengan Permendagri No. 100 Tahun 2016 pasal 10 menyebutkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dapat membentuk Tim Teknis PTSP sesuai dengan kebutuuhan. Tim Teknis PTSP beranggotakan tenaga teknis internal Dinas lingkup PTSP dan/atau teknik eksternal Dinas yang ditetapkan dengan keputusan Kepala Daerah. Anggota Tim Teknis PTSP mempunyai kompetensi dan kemampuan sesuai dengan bidangnya. Tim Teknis memiliki kewenangan untuk memberikan pertimbangan teknis dalam rangka memberikan rekomendasi Perizinan dan Non Perizinan. Demikian halnya pelaksanaan pelayanan penerbitan izin di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi merujuk kepada Permendagri No. 100 Tahun 2016 bekerja sama dengan Tim Teknis yang masih melekat pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Teknis yang memahami secara teknis izin yang akan diterbitkan. Sebelum surat izin diterbitkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi terlebih dahulu meminta rekomendasi dari Tim Teknis. Dukungan Tim Teknis selama ini masih rendah untuk memberikan rekomendasi penerbitan izin. Hal ini dilihat dari lamanya waktu menerbitkan rekomendasi, sementara dalam Peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2013 tentang

5 Standar Operasional Prosedur pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Dairi menyatakan bahwa Surat Rekomendasi terbit paling lama 8 (delapan) hari sejak diterimanya surat permohonan rekomendasi dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi yang turut melampirkan berkas permohonan izin dari pemohon. Dengan tidak adanya kepastian waktu penerbitan surat rekomendasi dari Tim Teknis maka Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi tidak dapat memberikan kepastian waktu kepada masyarakat kapan bisa menerima Surat Izin, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh bahwa surat izin sulit untuk diperoleh. Dengan memperhatikan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pelaksanaan pelayanan perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi dengan judul: Analisis Pelayanan Perizinan pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi. 1.2 Pembatasan Masalah Pembatasan masalah perlu dilakukan untuk menghindari meluasnya penafsiran permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan perizinan. Keterbatasan peneliti dalam hal waktu, biaya dan tenaga maka penelitiaan ini lebih difokuskan pada pelayanan perizinan IMB dari 71 jenis pelayanan perizinan yang dilakukan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi berdasarkan Peraturan Bupati Dairi Nomor 4 Tahun

6 2017 tentang Pelimpahan Wewenang Perizinan kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi. 1.3 Perumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka penulis menetapkan rumusan masalah yaitu: Bagaimana pelaksanaan pelayanan perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi? 1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisis pelaksanaan pelayanan perizinan pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi. 1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini meliputi manfaat secara akademis dan secara praktis. 1) Secara Akademis a. Untuk mencari pemahaman dan makna suatu teori dalam hubungannya dengan keadaan yang diperoleh dilapangan melalui penelitian. b. Untuk menambah khasanah pemikiran tentang konsep pelayanan kepada masyarakat/pengusaha khususnya pelayanan perizinan di Kabupaten Dairi. 2) Secara Praktis a. Diharapkan dapat bermanfaat bagi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi dalam memberikan pelayanan perizinan sebagai bahan pertimbangan dalam

7 membuat kebijakan teknik operasional dalam memberikan pelayanan perizinan kepada masyarakat/pengusaha di Kabupaten Dairi. b. Diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Dairi dalam penyusunan dan penyempurnaan pedoman dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan pelayanan umum. 1.6 Kerangka Berpikir Dalam penelitian ini penulis mengacu kepada Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Peraturan Bupati Dairi No. 15 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Dairi sebagai dasar penyelenggaraan pelayanan perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) penyelenggara pelayanan publik di bidang perizinan. Penyelenggaraan pelayanan perizinan sesuai dengan Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2014 adalah pelayanan perizinan terpadu satu pintu dimana seluruh pelayanan perizinan dilaksanakan disatu tempat sehingga mempermudah masyarakat dalam pengurusan izin atas usaha yang dilakukan. Pelaksanaan pelayanan perizinan harus mempunyai Standar Pelayanan Publik yang menjadi dasar penyelenggara melaksanakan proses pelayanan perizinan. Diharapkan penyelenggara pelayanan perizinan dapat memberikan pelayanan yang prima sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditentukan.

8 Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Analisis Pelayanan Perizinan Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Peraturan Bupati Dairi No. 15 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Dairi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi (SKPD penyelenggara Pelayanan Perizinan) Pelayanan Publik Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) Standar Pelayanan Publik Pelayanan Prima Sumber diolah dari Peraturan: - UU No. 25 Tahun 2009; - Peraturan Pemerintah 96 Tahun 2012; - Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2014; - Perarutan Bupati Dairi No. 15 Tahun 2013. Pelayanan Perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Dairi