PADA LIMA MEDIA CETAK YANG BEREDAR DI KOTA SURAKARTA PERIODE BULAN FEBRUARI-APRIL

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS IKLAN OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS PADA ENAM MEDIA CETAK YANG BEREDAR DI KOTA SURAKARTA PERIODE BULAN FEBRUARI-APRIL 2009

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. Produk kosmetik sangat diperlukan manusia, baik laki-laki maupun

PERSYARATAN IKLAN ALAT KESEHATAN DAN

I. PENDAHULUAN. untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah salah satu kegiatan manusia yang

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. yang lain mempunyai tingkatan dan nilai yang berbeda-beda. Kecantikan dapat

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TENTANG KOSMETIK

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Etika Periklanan. Kaitan Peraturan Pemerintah dengan Periklanan MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK TENTANG BAHAN KOSMETIK

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAWASAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

BAB I PENDAHULUAN. yang wujudnya berupa aneka simbol, isyarat, kode, dan bunyi (Finoza, 2008:2). Hal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seiring dengan kemajuan yang pesat didunia kecantikan saat ini hanya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Fungsi bahasa pada umumnya adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa

Modul ke: ETIKA PERIKLANAN. Overview. Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Kartika, SIP, M.Ikom. Program Studi Advertising & Marketing Communication

BAB 1 PENDAHULUAN. dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PEMUSNAHAN KOSMETIKA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor HK

MASUKAN KAMI TERIMA PALING LAMBAT TANGGAL 18 OKTOBER 2017

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Mata Kuliah - Etika Periklanan-

BAB I PENDAHULUAN. pesan-pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran kertas dengan sejumlah kata,

BAB I PENDAHULUAN. berbagai media yang ada. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dalam keindahan dan keserasian berbusana, cara komunikasi, kecantikan

BAB I PENDAHULUAN. Wanita merupakan simbol dari keindahan. Salah satu upaya wanita untuk menjaga

PP 72/1998, PENGAMANAN SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN. Tentang: PENGAMANAN SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN

Direktorat Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik BADAN POM 2014

,Jurnal Karya Tulis Ilmiah

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Kridalaksana dan Djoko Kentjono (dalam Chaer, 2012: 32),

BAB I PENDAHULUAN. produk-produk dalam negeri harus bersaing dengan produk-produk dari luar

BAB I PENDAHULUAN. Kecantikan identik dengan penampilan diri dan merupakan aset berharga

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Acara Serta Kendala Implementasinya. Cet.1(Jakarta: Kencana 2008). Hal.1.

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEREDARAN OBAT TRADISIONAL IMPOR BAB I KETENTUAN UMUM.

merupakan campuran dari beragam senyawa kimia, beberapa terbuat dari sumbersumber alami dan kebanyakan dari bahan sintetis (BPOM RI, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Dalam iklan, tuturan atau kata-kata adalah paling efektif untuk

PENINGKATAN PENGAWASAN IKLAN DAN PENANDAAN OBAT

BAB I PENDAHULUAN. keadilan, untuk mencapai tujuan tersebut Indonesia dihadapkan pada

I. PENDAHULUAN. Kosmetik adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Yunani kuno. kosmetikus,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor HK

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS KOSMETIKA

BAB I PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dilepas dari kaum wanita. Secara psikologis wanita memang

2016, No Negara Republik Indonesia Nomor 3564); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabaenan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tah

BAB I PENDAHULUAN. ketentuan perundang-undangan. Izin menurut definisi yaitu perkenan atau

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK TAHUN 2002 TENTANG PROMOSI OBAT KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2016 TENTANG PENARIKAN DAN PEMUSNAHAN KOSMETIKA

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. bahan-bahan produk kosmetik lebih banyak yang berasal dari alam. Tetapi dengan

Jurnal Kefarmasian Indonesia. Vol : 20-27

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2013 TENTANG IKLAN ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Perkembangan dunia televisi di Indonesia menunjukkan. tersebut, tidak bisa dilepaskan dari dunia iklan.

ANALISIS IKLAN DISPLAY PRODUK JAMU PADA LIMA MEDIA CETAK PERIODE BULAN FEBRUARI APRIL 2009

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan. Di era ini perusahaan dapat memperluas pasar produk dan dapat

BAB I PENDAHULUAN. atau majalah, dan juga mendengarkan radio. Perkembangan media yang terjadi saat

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK TENTANG

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DAN DAYA PRAGMATIK PADA IKLAN PRODUK KOSMETIK DI TELEVISI SKRIPSI

I. PENDAHULUAN Dengan semakin meningkatnya perkembangan zaman maka kebutuhan

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2016 TENTANG PENGAWASAN SUPLEMEN KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN. dihadapkan pada masalah krisis keuangan global. Krisis ini berlanjut terus

BAB I PENDAHULUAN. dapat dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau

2016, No Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Neg

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan nasional. Oleh karena itu, kualitas sumber daya manusia

2015 MANFAAT HASIL PELATIHAN TATA RIAS PENGANTIN SOLO PUTRI SEBAGAI KESIAPAN MEMBUKA USAHA SALON RIAS PENGANTIN

BAB I PENDAHULUAN. suatu produk khususnya melalui media cetak. Menurut Rhenald Khasali (1995:99)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA. BADAN POM. Notifikasi Kosmetika. Prosedur. Pengajuan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Lampiran 1. Decision tree kelompok pelanggaran umum. A. Larangan Iklan Pangan Berkaitan dengan Penggunaan Kata-Kata atau Ilustrasi yang Berlebihan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2014 TENTANG

2011, No Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemer

2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, kosmetika perlu disesuaikan dengan kondisi terkini;

RANCANGAN, 28 SEPTEMBER 2017 NOMOR... TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

BAB I PENDAHULUAN. dasarnya saja. Persaingan sekarang bukanlah apa yang diproduksi perusahaan dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kecantikan merupakan bagian terpenting dari gaya hidup wanita. Setiap

BAB I PENDAHULUAN. dan tempat pelayanan kesehatan (DepKes RI, 2002). paling tepat dan murah (Triyanto & Sanusi, 2003).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi

BPOM. Uji Klinik. Persetujuan. Tata Laksana. Pencabutan.

Laboratorium Farmasetika

BAB I PENDAHULUAN. elektronik. Media cetak berupa koran, spanduk, dan pamflet. Sedangkan media

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2015, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh setiap perusahaan adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap manusia pasti membutuhkan sarana untuk mengungkapkan

BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai jenis kulit, warna kulit, iklim, cuaca, waktu penggunaan, umur dan jumlah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. untuk menunjang penampilan seseorang, bahkan bagi masyarakat dengan gaya

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Bahkan iklan memegang peran untuk menyampaikan pesan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG

Transkripsi:

ANALISIS KESESUAIAN IKLAN PRODUK KOSMETIK DENGAN Kep.Men.Kes RI No: 386/Men.Kes/SK/IV/1994 PADA LIMA MEDIA CETAK YANG BEREDAR DI KOTA SURAKARTA PERIODE BULAN FEBRUARI-APRIL 2009 SKRIPSI Oleh : ANDI PURWANTO K 100 040 243 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kosmetik sudah merupakan suatu kebutuhan masyarakat yang umumnya tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan kosmetik yang salah, berlebihan, tidak tepat atau tidak rasional dapat merugikan kesehatan pemakainya. Untuk melindungi masyarakat terhadap kemungkinan peredaran kosmetik yang tidak memenuhi syarat akibat label dan periklanan yang tidak benar atau menyesatkan, pemerintah melaksanakan pengendalian dan pengawasan kosmetik antara lain melalui pengendalian dan pengawasan terhadap penyebaran informasi atau promosi melalui periklanan (Anonim, 1994). Meluasnya pemakaian kosmetik oleh masyarakat pada akhir-akhir ini telah menyebabkan meningkatnya insidensi penyakit atau kelainan kulit akibat pemakaian kosmetik. Dalam definisi, dicantumkan bahwa kosmetik tidak termasuk golongan obat dan tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi bagian tubuh manusia. Karena kosmetik dipengaruhi oleh lingkungan maka dapat terjadi pengaruh pada kulit. Pengaruh tersebut berupa reaksi yang dikehendaki atau efek samping yang tidak dikehendaki. Kelainan kulit yang terjadi antara lain disebabkan cara pemakaian kosmetik yang salah atau berlebihan, pengolahan kosmetik yang kurang baik, penggunaan bahan-bahan aktif dalam kosmetik yang tidak tepat (Anonim,1986). 1

Perkembangan teknologi komunikasi khususnya media komunikasi dewasa ini, sangat maju pesat. Media cetak menyediakan ruang dan waktu bagi pelaku bisnis untuk melakukan sosialisasi produknya. Dalam bahasa komunikasi bisnis, komunikasi ini disebut dengan nama iklan. Para pelaku bisnis akan mensosialisasikan dan memasarkan produknya melalui iklan yang menggambarkan produk mereka guna mencapai kepentingan mereka yaitu meraih keuntungan yang maksimal (Budiyanti, 2008). Media cetak merupakan suatu media yang bersifat statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran kertas dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dengan tata warna dan halaman putih. Media cetak merupakan dokumen dan rekaman peristiwa yang ditangkap oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya. Media cetak yang dipakai untuk iklan adalah surat kabar dan majalah. Dalam media ini dikenal jenis iklan baris, iklan display, dan iklan advetorial (Peni, 2008). Menurut Anonim (2009), iklan sariayu yang dimuat di Tabloid Nova edisi Desember 2006-Mei 2007 dengan total kategori berjumlah 40, kategori yang memenuhi kode etik periklanan sebanyak 29 dan 11 kategori tidak terpenuhi. Banyaknya berbagai produk kosmetik di pasaran yang tidak diimbangi dengan pengetahuan masyarakat untuk dapat memilih kosmetik secara selektif akan membahayakan bagi konsumen dan dapat mempengaruhi organ tubuh lainnya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang kesesuian iklan produk kosmetik dengan peraturan yang ada yaitu Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Tentang Pedoman Periklanan Kosmetik Nomor: 386/Men.Kes/SK/IV/1994. B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah yaitu : Apakah periklanan produk kosmetik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Pedoman Periklanan Kosmetik Nomor. 386/Men.Kes/SK/IV/1994? C. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian iklan produk kosmetik pada media cetak dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Pedoman Periklanan Kosmetik Nomor 386/Men.Kes/SK/IV/1994.

D. TINJAUAN PUSTAKA 1. Kosmetik Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidemis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Anonim, 2004). Kosmetik telah dikenal sejak dahulu kala di Mesir, 3500 sebelum Masehi telah dipergunakan bahan-bahan kecantikan berupa minyak-minyak hewan maupun tumbuhan, rempah, tanah liat, madu, arang, susu dan lain-lainnya. Hipocrates (460-377 SM), seorang bapak ilmu kedokteran telah membuat resepresep kosmetik dan menghubungkannya dengan ilmu kedokteran. Melalui berbagai tempat dan waktu ilmu untuk mempersolek diri meluas dan menyebar ke dalam berbagai kalangan masyarakat di dunia ini (Anonim, 1986). Perawatan kecantikan bersumber pada pengetahuan nenek moyang yang merupakan tradisi turun-temurun menurut adat istiadat masing-masing daerah. Pada tulisan Jawa kuno dapat juga di temukan uraian tentang pembuatan jamujamu tradisional baik untuk kesehatan maupun untuk kecantikan, suatu hal yang bila dikembangkan tidak akan kalah artinya dengan kosmetik manapun. Meskipun demikian, pada dewasa ini dalam lapisan masyarakat Indonesia kecenderungan untuk memakai kosmetik tradisional masih sedikit. Sebagian besar lainnya

baik pemakai atau salon-salon kecantikan yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia masih menggunakan kosmetik modern dengan cara aplikasi dan sistem yang diambil dari negara-negara maju seperti Eropa, Amerika atau Jepang (Anonim, 1986). a. Penggolongan Kosmetik Berdasarkan bahan dan penggunaannya serta untuk penilaian, kosmetik dibagi menjadi 2 (dua) golongan: 1). Kosmetik golongan I adalah : a). Kosmetik yang digunakan untuk bayi. b). Kosmetik yang digunakan di sekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya. c). Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan dan kadar dan penandaanya. d). Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum diketahui keamanan dan kemanfaatannya (Anonim, 2004). 2). Kosmetik golongan II adalah : Kosmetik yang tidak termasuk golongan I b. Kategori Kosmetik Berdasarkan fungsi kosmetik terdiri dari 13 kategori : 1). Sediaan bayi. 2). Sediaan mandi. 3). Sediaan kebersihan badan.

4). Sediaan cukur. 5). Sediaan wangi-wangian. 6). Sediaan rambut. 7). Sediaan pewarna rambut. 8). Sediaan rias mata. 9). Sediaan rias wajah. 10). Sediaan perawatan kulit. 11). Sediaan mandi surya dan tabir surya. 12). Sediaan kuku. 13) Sediaan hygiene mulut (Anonim, 2004). 2. Iklan Periklanan dalam pemasaran adalah untuk mempengaruhi pembeli dengan tujuan untuk meningkatkan atau mempertahankan hasil penjualan. Keuntungan periklanan dalam pemasaran anatara lain: dapat secara serentak mencapai sasaran (konsumen), menghemat biaya, menghindari hubungan langsung personal, membentuk motif produk. Selain tersebut periklanan dapat membantu tercapainya tujuan seperti: mengenalkan produk baru, memasuki daerah pasar baru, menaikkan penjualan. mendidik konsumen, mencapai konsumen yang tidak terjangkau oleh penjual. Sasaran periklanan tidak hanya ditujukan kepada satu golongan tetapi juga memperhatikan golongan lain seperti: pembeli dan pemakai sekarang, pembeli

dan pemakai potensial, pembeli dan pemakai baru, pedagang perantara, pesaing (Anief, 2000). Jenis media periklanan yang dapat digunakan: koran, tabloid, majalah, poster, televise, radio, internet (Anief, 2000). Iklan merupakan bentuk komunikasi non personal guna menyampaikan pesan yang menawarkan suatu produk barang atau jasa yang ditujukan kepada masyarakat melalui suatu media. Dengan kata lain iklan merupakan salah satu wahana penghubung antara produsen dan konsumen (Hartono, 2000). Periklanan merupakan salah satu tahap dalam pemasaran produk atau jasa, baik penamaannya, pengemasannya, dan distribusinya tercermin dalam kegiatan periklanan. Tanpa periklanan berbagai macam produk tidak akan mengalir secara lancar ke distributor atau penjual maupun konsumen (Suyanto, 2004). Periklanan obat bebas, obat tradisional, dan suplemen makanan diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No 386/Men.Kes./SK/IV/1994 yang juga mengatur alat kesehatan, kosmetik dan perbekalan kesehatan rumah tangga, serta makanan dan minuman dalam 4 (empat) pedoman terpisah. Iklan dan pesan iklan mengandung dua unsur penting dalam promosi: pertama, memberi informasi produk, dan kedua, meningkatkan penjualan. Umumnya, semua pesan yang disampaikan harus benar dan dalam zaman global manusia tidak lepas dari tuntutan untuk tetap berpedoman kebenaran dalam hidupnya. Iklan merupakan salah satu bentuk promosi. Semua iklan tertulis maupun iklan melalui media cetak harus juga memenuhi kriteria objektif dan etis dalam penulisan, dan ilustrasinya.

Pada umumnya ini berarti bahwa isi iklan itu harus konsisten dengan apa yang disetujui dalam approved scientific product information (Darmansjah, 1998). Kebenaran informasi merupakan dasar dari persyaratan semua jenis iklan. Pada umumnya iklan harus memenuhi persyaratan umum : 1). Menyampaikan informasi dengan benar Tanggung jawab utama bagi iklan yang benar dan tidak menyesatkan terletak pada pembuat iklan, harus siap untuk membuktikan setiap klaim atau penawaran yang dilakukan sebelum dipublikasi atau disiarkan, dan jika diminta, memberi bukti termaksud dengan segera kepada perusahaan iklan atau pihak yang berwenang. 2). Informasi iklan tidak boleh menyesatkan Iklan yang tidak benar, menyesatkan, melakukan pernyataan palsu, membohongi, menjelekkan kompetitor secara tidak benar, mengajukan penawaran yang tidak sungguh-sungguh, tidak boleh dipakai. Suatu iklan secara keseluruhan mungkin menyesatkan walaupun setiap bagian kalimat bila dipisahkan secara harafiah benar (Darmansjah, 1998). Beberapa rincian yang termasuk dalam Peraturan Periklanan Produk Kosmetik yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Pedoman Periklanan Kosmetik Nomor: 386/Men.Kes/SK/IV/1994 meliputi: nomor register, objektif (menyatakan hal benar sesuai kenyataan), tidak menyesatkan, kelengkapan (peringatan dan hal- hal lain yang harus diperhatikan oleh pemakai), Tidak ada pernyataan rekomendasi dari laboratorium, instansi pemerintah, tidak menggunakan peragaan tenaga kesehatan, tidak diiklankan

sebagai obat, kesesuaian dengan norma asusila, tidak diiklankan seolah mempengaruhi metabolisme dan fisiologis, kejelasan kegunaan dan fungsi, kejelasan bahan aktif, peraga bayi, spot bagi iklan yang mengandung bahan tertentu atau bahan kimia (Anonim, 1994). 3. Pedoman Periklanan Kosmetik a. Umum 1). Alat Kesehatan, Kosmetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dapat diiklankan apabila sudah mendapat nomor pendaftaran dari Departemen Kesehatan RI. 2). Informasi iklan harus sesuai dengan data pendaftaran dan keterangan lain yang disetujui pada pendaftaran, yaitu : a). Obyektif, yaitu menyatakan hal yang benar sesuai dengan kenyataan. b). Tidak menyesatkan. c). Lengkap, yaitu tidak hanya mencantumkan informasi tentang kegunaan, tetapi juga memberikan informasi tentang peringatan dan hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh pemakai. Misalnya: cara penanggulangan bila terjadi kecelakaan. d). Kosmetik tidak boleh diiklankan dengan menggunakan rekomendasi dari suatu laboratorium, instansi pemerintah, organisasi profesi kesehatan atau kecantikan dan atau tenaga kesehatan. e). Kosmetik tidak boleh diiklankan dengan menggunakan peragaan tenaga kesehatan atau yang mirip dengan itu.

f). Kosmetik tidak boleh diiklankan seolah-olah sebagai obat. g). Iklan kosmetik harus mendidik dan sesuai dengan norma kesusilaan yang ada. b. Khusus 1). Alat Kesehatan a). Produk atau barang yang tidak disetujui pendaftarannya sebagai alat kesehatan tidak boleh diiklankan seolah-oleh produk atau barang dimaksud adalah alat kesehatan. b). Pembalut Wanita atau Sanitary Napkin Iklan pembalut wanita supaya disesuaikan dengan estetika dan tata krama ketimuran. c). Kondom (1). Iklan kondom tidak boleh mendorong penggunaan untuk tujuan asusila. (2). Iklan kondom supaya disesuaikan dengan estetika dan tata krama ketimuran. (3). Iklan kondom harus disertai spot "Ikuti Petunjuk Pemakaian". d). Ketentuan yang harus dipenuhi spot: (1). Untuk media televisi : Spot iklan harus dicantumkan dengan tulisan yang jelas terbaca pada satu screen atau gambar terakhir. (2). Untuk media radio : Spot iklan harus dibacakan pada akhir iklan dengan jelas dan dengan nada suara tegas. (3). Untuk media cetak : Spot iklan harus dengan tulisan yang jelas terbaca.

2). Kosmetik a). Kosmetik tidak boleh diiklankan dengan menggunakan kata-kata mengobati, menyembuhkan atau kata lain yang semakna seolah-olah untuk mengobati suatu penyakit. b). Kosmetik tidak boleh diiklankan seolah-olah dapat mempengaruhi fungsi fisiologis dan atau metabolisme tubuh, contoh : 1). Melancarkan peredaran darah 2). Melangsingkan tubuh. c). Kosmetik yang mengandung bahan yang tidak jelas kegunaannya tidak boleh diiklankan yang menyatakan kegunaan dari bahan tersebut, contoh: minyak rambut urang-aring dapat menyuburkan rambut. d). Kosmetik yang tidak mengandung bahan aktif tidak dapat diiklankan dengan menyatakan kegunaan dari bahan aktif yang dimaksud, contoh: sampo yang tidak mengandung bahan anti ketombe diiklankan dapat menghilangkan ketombe, sabun mandi yang tidak mengandung bahan antiseptik diiklankan dapat membunuh kuman. e). Kosmetik yang dibuat dengan bahan alami tertentu hanya dapat diiklankan mengandung bahan alami dimaksud. f). Kosmetik yang mengandung bahan kimia tidak boleh diiklankan sebagai kosmetik tradisional. g). Kosmetik mengandung vitamin yang berfungsi bukan sebagai vitamin tidak boleh diiklankan dengan menyatakan fungsi vitamin tersebut dalam sediaan kosmetik.

h). Kosmetik yang mengandung bahan tabir surya tidak boleh diiklankan dengan menyebutkan nilai SPF (Sun Protector Factor) bila tujuan penggunaan kosmetik tersebut bukan untuk berjemur. i). Iklan kosmetik tidak boleh diperagakan dan atau ditujukan untuk bayi, kecuali kosmetika golongan sediaan bayi. j). Untuk kosmetik jenis tertentu yaitu : (1) Pewarna rambut (2) Pelurus atau pengeriting rambut (3) Depilatory (4) Pemutih kulit (5) Anti jerawat (6) Sampo anti ketombe (7) Deodorant (8) Sediaan lainnya yang mengandung bahan kimia yang mempunyai persyaratan keamanan sesuai dengan peraturan yang berlaku, harus disertai spot : "Ikuti Petunjuk dan Pemakaian". k). Ketentuan yang harus dipenuhi spot: a). Untuk media televisi : Spot iklan harus dicantumkan dengan tulisan yang jelas terbaca pada satu screen atau gambar terakhir. b). Untuk media radio : Spot iklan harus dibacakan pada akhir iklan dengan jelas dan dengan nada suara tegas.

c). Untuk media cetak : Spot iklan harus dengan tulisan yang jelas terbaca (Anonim,1994).