36 HASIL DAN PEMBAHASAN Isolat Campylobacter jejuni yang diuji dalam penelitian ini berasal dari wilayah Demak dan Kudus. Berdasarkan hasil pengujian secara in vitro terdapat perbedaan karakter pola resistensi dari kedua wilayah tersebut. Setelah uji in vitro dilanjutkan dengan uji in vivo menggunakan hewan hidup ayam yang telah di infeksi Campylobacter jejuni yang kemudian setelah tiga hari pasca infeksi diobati menggunakan lima jenis antimikroba sesuai dosis MIC yang didapat saat pengujian in vitro, dari kedua cara pengujian tersebut diperoleh hasil sebagai berikut : Hasil Uji In vitro Isolat Demak Berdasarkan hasil pengujian isolat Demak terhadap ke 5 jenis antimikroba menggunakan metode pengenceran diketahui bahwa Minimum Inhibitory Concentration isolat Campylobacter jejuni isolat Demak untuk siprofloksasin, tetrasiklin dan eritromisin berada pada zona resisten sedangkan. Pengujian dengan menggunakan metode agar difusi (cakram) melalui penghitungan diameter zona hambatan diketahui bahwa siprofloksasin dan tetrasiklin berada dalam zona hambatan resisten sedangkan kloramfenikol, eritromisin dan amoksisilin berada dalam zona sensitif. Tabel 6 hasil uji resistensi in vitro terhadap isolat Campylobacter jejuni asal Demak Antimikroba Standar diameter hambatan Standar MIC Hasil Hasil (Holasova dan Karpiskova 2007) (NARMS 2006) uji MIC Sensitif Resisten Sensitif Resisten (mm) (μg/ml) (mm) (mm) (μg/ml) (μg/ml) Siprofloksasin 25 22 9.0* 1 4 5* Tetrasiklin 19 17 12.2* 4 16 20* Kloramfenikol 21 20 40.3 8 32 5 Eritromisin 22 17 37.5 8 32 40* Amoksilin 15 11 16.9 8 α 32 α 20 Keterangan * : dalam batas resisten : acuan BSAC 2009 untuk Enterobacteriaceae α : Standar Salmonella, Shigella, dan E.coli
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 zona resisten siprofloksasin tetrasiklin kloramfenikol eritromisin amoksilin zona intermediate zona sensitif MIC Demak diameter resisten diameter sensitif diameter hambatan
Antimikroba Standar diameter hambatan Standar MIC Hasil Hasil (Holasova dan Karpiskova 2007) (NARMS 2006) uji MIC Sensitif Resisten Sensitif Resisten (mm) (μg/ml) (mm) (mm) (μg/ml) (μg/ml) Siprofloksasin 25 22 27.34 1 4 1.25 Tetrasiklin 19 17 27.46 4 16 1.25 Kloramfenikol 21 20 27.00 8 32 0.625 Eritromisin 22 17 18.86 8 32 0.625 Amoksilin 15 11 21.56 8 α 32 α 10.00 Keterangan * : dalam batas resisten : acuan BSAC 2009 untuk Enterobacteriaceae α : Standar Salmonella, Shigella, dan E.coli 35 30 Zona resisten 25 20 15 10 5 0 siprofloksasin tetrasiklin kloramfenikol eritromisin amoksilin zona intermediate zona sensitif MIC Kudus diameter resisten diameter sensitif diameter hambatan
39 antimikroba isolat Kudus dibandingkan dengan isolat Demak. Isolat Kudus cenderung masih sensitif pada dosis antimikroba yang rendah. Dari kelima antimikroba yang digunakan pada isolat Kudus hasil uji metode pengenceran tidak ada yang melebihi dosis 10 μg/ml. Hasil uji terhadap eritromisin dan kloramfenikol menunjukkan masih sensitif pada dosis kurang dari 0.625 μg/ml, batas dosis yang sesungguhnya untuk eritromisin dan kloramfenikol tidak terdeteksi pada penelitian ini karena rentang dosis yang digunakan adalah 0.625 320 μg/ml. Hasil Uji In vivo Isolat Demak Pengujian pola resistensi secara in vivo isolat asal Demak dilakukan untuk mengetahui efektifitas dosis MIC yang didapat pada uji in vitro untuk digunakan kepada hewan hidup yang telah di infeksi dengan Campylobacter jejuni sebanyak 10 4 CFU/ml. Pengobatan dilakukan menggunakan antimikroba selama lima hari. Setelah masa pengobatan kemudian dilakukan swab usus untuk mengisolasi keberadaan Campylobacter jejuni. Pengambilan sampel identifikasi keberadaan Campylobacter jejuni pada masing-masing kelompok perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali atau tiga ekor ayam dari lima ekor per kelompok, dengan hasil sebagai berikut : Tabel 8 Hasil uji in vivo isolat Demak terhadap keberadaan Campylobacter jejuni Jenis antimikroba Dosis pengobatan Hasil Siprofloksasin 5 μg/ml - Tetrasiklin 20 μg/ml - Kloramfenikol 5 μg/ml - Eritromisin 40 μg/ml + (1/3) Amoksilin 20 μg/ml - Kontrol + - - Kontrol - - - Hasil isolasi Campylobacter jejuni menggunakan metode swab usus ayam yang telah diobati menggunakan dosis MIC hasil uji in vitro menunjukkan hasil negatif pada sebagian besar kelompok uji. Hasil positif Campylobacter jejuni setelah
40 dilakukan pengobatan terdapat di kelompok eritromisin yaitu 1 dari 3 pengambilan sampel swab usus ayam. Secara umum pengobatan menggunakan dosis hasil uji in vitro terhadap ayam yang di infeksi Campylobacter jejuni secara oral sebanyak 10 4 CFU/ml menunjukkan hasil yang efektif. Kemungkinan terjadi re infeksi terhadap kelompok ayam yang diobati dengan eritromisin karena Campylobacter jejuni bisa saja dibawa oleh serangga seperti semut dan kutu di sekitar kandang pemeliharaan. Selain melihat keberadaan Campylobacter jejuni pengujian secara in vivo juga melihat sejauh mana efek pengobatan terhadap pertambahan bobot badan. Penghitungan dilakukan selama masa infeksi dan pengobatan yaitu hari ke sepuluh sampai dengan hari ke sembilan belas, dengan hasil sebagai berikut : Tabel 9 Hasil pengamatan pertambahan bobot badan isolat asal Demak Bobot badan (gram) Hari ke- Siprofloksasin Tetra- Siklin Kloramfenikol Eritromisin Amoksilin Kontrol + Kontrol - 10 226.7 248.8 261.3 266.8 194.9 225.3 235.0 11 301.6 300.1 285.3 286.7 270.4 282.3 326.9 12 337.3 327.8 343.6 343.6 296.1 340.4 400.6 13 368.6 356.9 413.9 418.9 313.4 363.6 469.2 14 491.5 376.9 434.2 486.3 430.7 429.0 547.1 15 497.2 497.2 479.2 502.6 430.8 515.1 642.6 16 558.8 556.9 530.6 562.5 455.6 562.5 712.5 17 572.3 610.8 610.8 622.4 558.8 616.6 761.1 18 794.0 600.0 794.0 734.0 660.0 726.0 820.0 19 792.7 724.4 724.4 827.9 759.6 759.6 883.8 FCR 1.14 1.25 1.25 1.09 1.19 1.19 1.03 Feed Conversion Ratio (FCR) = jumlah pakan (gram) : jumlah bobot badan ayam (gram)
1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 kontrol (+) kontrol (-) siprofloksasin tetrasiklin kloramfenikol eritromisin amoksisilin 700 600 500 566 475.6 463.2 561.1 564.7 534.3 648.8 400 300 200 100 0
42 Menurut Pisestyani (2010) kasus infeksi Campylobacter jejuni dapat menyebabkan kerusakan organ usus bagian distal yaitu duodenum, jejunum dan ileum sehingga akan mengakibatkan terganggunya penyerapan pakan. Infeksi Campylobacter jejuni juga menyebabkan degenerasi hati sehingga mempengaruhi proses metabolisme lemak. Perubahan patologi anatomi hati telah dimulai sejak 2 hari pasca infeksi berupa pembengkakan, pembendungan/hiperemi pembuluh darah, edema serta degenerasi sel-sel hati (Pisestyani 2010). Infeksi Campylobacter jejuni tidak mempengaruhi nafsu makan hal ini terlihat dari tidak adanya sisa pakan dalam masa pemeliharaan namun kerusakan organ usus dan hati akan menyebabkan terganggunya penyerapan dan metabolisme pakan sehingga akan mengakibatkan pada peningkatan bobot badan ayam yang tidak optimal. Gejala klinis yang dominan akibat infeksi Campylobacter jejuni adalah diare cair sampai dengan diare berdarah yang ditandai dengan munculnya kotoran berwarna coklat kehitaman. Pemberian antimikroba untuk terapi infeksi Campylobacter jejuni bertujuan untuk menghentikan proses infeksi sehingga peradangan pada epitel usus tidak berlangsung lama serta menurunkan potensi terjadinya sepsis. Ayam yang telah di infeksi memberikan respon yang berbeda terhadap pemberian lima jenis antimikroba. Untuk mengetahui bagaimana antimikroba dapat mengurangi kerugian akibat kampilobakteriosis yang menyebabkan tidak optimumnya penyerapan pakan, maka dilakukan penghitungan rasio antara jumlah pakan yang dikonsumsi dibandingkan dengan bobot badan akhir : Feed Conversion Ratio (FCR) = Jumlah pakan yang di konsumsi (gram) Bobot badan akhir (gram) Hasil yang diperoleh dari penghitungan FCR rmenunjukkan bahwa kontrol yang tidak di infeksi dan tidak diberikan pengobatan menunjukkan hasil yang paling rendah yaitu 1.03 yang artinya untuk menghasilkan 1 kg bobot badan ayam diperlukan pakan sebesar 1.03 kg. FCR kontrol + atau yang di infeksi namun tidak
43 diberi pengobatan adalah 1.19. Hasil pengamatan pada kelompok yang di infeksi dan diberikan terapi antimikroba yang memiliki FCR terendah adalah eritromisin yaitu 1.09 sedangkan yang paling tinggi dalam kelompok ini adalah tetrasiklin dan kloramfenikol dengan nilai sama yaitu 1.25. Isolat Kudus Sama dengan pengujian isolat asal Demak, pengujian isolat Kudus secara in vivo dilakukan untuk mengetahui efektifitas dosis MIC hasil uji in vitro untuk digunakan kepada hewan hidup yang telah di infeksi dengan Campylobacter jejuni sebanyak 10 4 CFU/ml. Pengobatan menggunakan antimikroba dilakukan selama lima hari secara peroral. Pengujian efektifitas pengobatan dilakukan melalui identifikasi Campylobacter jejuni menggunakan metode swab usus setelah pengobatan. Penggunan antimikroba kepada kelompok ayam yang di infeksi Campylobacter jejuni diharapkan dapat mengeliminasi keberadaannya di saluran cerna. Identifikasi Campylobacter jejuni memberikan hasil sebagai berikut : Hasil pengamatan terhadap sampel yang di identifikasi keberadaan Campylobacter jejuni terdapat dua kelompok yang diobati dengan tetrasiklin dan kloramfenikol menunjukkan hasil positif. Perlu dicermati pada kelompok isolat asal Kudus adalah rendahnya dosis antimikroba yang dibutuhkan untuk menahan perkembangan Campylobacter jejuni secara in vitro. Dosis yang didapat dari uji in vitro setelah digunakan secara in vivo justru mempengaruhi kompetisi antara Campylobacter jejuni sebagai patogen dengan mikroflora normal hal ini terlihat dari tidak ditemukannya Campylobacter jejuni pada kelompok kontrol +. Selain respon individu ayam yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan juga dipengaruhi oleh adanya reinfeksi Campylobacter jejuni akibat terbawa oleh serangga di sekitar kandang pemeliharaan atau faktor penular lainnya. Pengamatan pertambahan bobot badan isolat asal Kudus setelah di infeksi kemudian diobati selama lima hari untuk melihat respon kelompok ayam terhadap pemberian antimikroba sebagai terapi dengan dosis sesuai dengan hasil uji broth dilution / pengenceran seperti pada Tabel 11.
44 Berdasarkan hasil pengujian terhadap isolat asal Kudus dapat diketahui terdapat perbedaan FCR antara isolat asal Demak. Perbedaan FCR terlihat pada kontrol + isolat asal Kudus yang lebih tinggi yaitu 1.46 dibandingkan isolat asal Demak yaitu 1.19. Perbedaan ini dapat menjelaskan seberapa besar kerusakan epitel yang diakibatkan oleh Campylobacter jejuni sehingga mempengaruhi penyerapan nutrisi pakan. Jika melihat dari tingginya FCR kontrol + pada kelompok ayam yang di infeksi Campylobacter jejuni isolat Kudus maka dapat diartikan patogenitas Campylobacter jejuni isolat asal Kudus lebih tinggi dibandingkan isolat asal Demak. Oleh karena terdapat perbedaan patogenitas maka kemungkinan besar antara Campylobacter jejuni asal Demak berbeda strain dengan Campylobacter jejuni asal Kudus. Tabel 10 Hasil uji in vivo isolat asal Kudus terhadap keberadaan Campylobacter jejuni Jenis antimikroba Dosis pengobatan Hasil Siprofloksasin 1.25 μg/ml - Tetrasiklin 1.25 μg/ml + (2/3) Kloramfenikol 0.625 μg/ml + (1/3) Eritromisin 0.625 μg/ml - Amoksilin 10 μg/ml - Kontrol + - - Kontrol - - -
Bobot badan (gram) Hari ke- Siprofloksasin Tetra- Siklin Kloramfenikol Eritromisin Amoksilin Kontrol + Kontrol - 10 228.09 304.12 228.09 276.47 262.65 241.91 235.00 11 297.14 337.26 297.14 337.26 344.69 270.40 326.86 12 300.83 332.50 335.67 364.17 351.50 364.17 400.58 13 368.65 385.41 372.00 351.89 385.41 435.68 469.19 14 347.37 451.58 434.21 486.32 451.58 451.58 547.11 15 407.44 502.56 484.62 556.41 516.92 439.74 642.56 16 468.75 562.50 562.50 633.75 590.63 468.75 712.50 17 520.24 616.59 626.22 693.66 674.39 539.51 761.10 18 670.00 680.00 716.00 750.00 760.00 540.00 820.00 19 724.42 755.47 765.81 803.07 848.60 620.93 883.79 FCR 1.25 1.20 1.18 1.13 1.07 1.46 1.03 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 kontrol (+) kontrol (-) siprofloksasin tetrasiklin kloramfenikol eritrimosin amoksisilin
700 600 500 400 496.33 451.35 537.73 526.6 585.96 379.02 648.79 300 200 100 0
47 akibat infeksi Campylobacter jejuni. Perbandingan FCR antara kontrol + dan kontrol memberikan gambaran selisih manfaat yang akan didapat jika tidak terjadi infeksi pada suatu kelompok ayam. Pada kelompok ayam yang di infeksi Campylobacter jejuni asal Demak terdapat selisih FCR antara kontrol + dengan kontrol sebesar 0.17 artinya dengan pola pemeliharaan dan pemberian pakan yang sama terdapat kerugian pemberian pakan untuk mencapai bobot hidup 1 kg sebesar 0.17 kg pakan. Hal ini terjadi karena inefisiensi penyerapan usus akibat kampilobakteriosis. Model penghitungan kerugian adalah sebagai berikut : Kerugian = selisih FCR x harga pakan ayam (Rp/kg) Penghitungan model kerugian ekonomi memperhitungkan rasio dan penambahan bobot ayam. Penghitungan kerugian konversi pakan yang menjadi karkas dikalikan dengan harga dan jumlah kelompok ayam (asumsi). Jika infeksi Campylobacter jejuni dilakukan tindakan kuratif dengan pemberian antimikroba maka akan menghasilkan selisih FCR yang dapat mengurangi kerugian. Perbandingan rasio antara tanpa diobati dan dengan diobati dijelaskan pada Tabel 12. Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa infeksi Campylobacter jejuni isolat Kudus lebih patogen dibandingkan isolat asal Demak karena kontrol positif dengan perlakuan tanpa pengobatan memiliki FCR yang lebih rendah. Berdasarkan penelitian Pisestyani 2010 bahwa infeksi Campylobacter jejuni tidak menurunkan nafsu makan namun akan mengurangi efisiensi serapan nutrisi akibat rusaknya usus bagian distal yang berfungsi sebagai organ penyerapan pakan. Pengobatan yang relatif paling dapat meminimalkan gangguan penyerapan pakan adalah eritromisin dan amoksilin untuk infeksi Campylobacter jejuni isolat lokal. Sedangkan pengobatan yang kurang cocok untuk pengobatan Campylobacter jejuni adalah tetrasiklin. Penghitungan kerugian ekonomi akibat infeksi Campylobacter jejuni dan pengurangannya melalui pengobatan dengan antimikroba dijelaskan pada Tabel 13 dan 14.
48 Hasil penghitungan menunjukkan bahwa infeksi Campylobacter jejuni isolat asal Kudus menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih besar daripada isolat asal Demak. Pengobatan menggunakan antimikroba amoksisilin dapat menekan kerugian ekonomi yang paling besar pada infeksi Campylobacter jejuni isolat asal Kudus sedangkan untuk infeksi Campylobacter jejuni isolat asal Demak antimikroba yang dapat menekan kerugian ekonomi paling besar adalah eritromisin. Tabel 12 Perbandingan FCR antar isolat dengan pemberian antimikroba Rasio Isolat Kontrol + Kontrol - Siprofloksasin Tetrasiklin Kloramfenikol Eritromisin Amoksilin Demak 1.19 1.03 1.14 1.25 1.25 1.09 1.19 Kudus 1.46 1.03 1.25 1.20 1.18 1.13 1.07 Tabel 13 Penghitungan kerugian ekonomi per produksi bobot hidup 1 kg akibat infeksi Campylobacter jejuni isolat asal Demak Obat FCR Selisih FCR Harga Pakan (Rp/kg) Kerugian Sipro 1.14 0.12 5900 Rp 694.84 Tetra 1.25 0.23 5900 Rp 1.330.62 Klor 1.25 0.23 5900 Rp 1.330.62 Erit 1.09 0.07 5900 Rp 408.26 Amok 1.19 0.17 5900 Rp 988.82 + 1.19 0.17 5900 Rp 988.82-1.03 0.00 5900 Rp - Tabel 14 Penghitungan kerugian ekonomi per produksi bobot hidup 1 kg akibat infeksi Campylobacter jejuni isolat asal Kudus Obat FCR Selisih FCR Harga Pakan (Rp/kg) Kerugian Sipro 1.25 0.23 5900 Rp 1.330.62 Tetra 1.20 0.17 5900 Rp 1.027.38 Klor 1.18 0.16 5900 Rp 931.76 Erit 1.13 0.10 5900 Rp 607.94 Amok 1.07 0.04 5900 Rp 250.78 + 1.46 0.43 5900 Rp 2.560.43-1.03 0.00 5900 Rp -