Jumlah kapal (unit) pada ukuran (GT) >100

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN. yang lokasinya di pantai Timur Sumatera Utara yaitu Selat Malaka. Kegiatan

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

7 TINGKAT PEMANFAATAN KAPASITAS FASILITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

Jaring Angkat

34 laki dan 49,51% perempuan. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 0,98% dibanding tahun 2008, yang berjumlah jiwa. Peningkatan penduduk ini

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

4 KONDISI UMUM KABUPATEN HALMAHERA UTARA

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KAPAL IKAN PURSE SEINE

4. BAB IV KONDISI DAERAH STUDI

TINGKAT PEMANFAATAN FASILITAS DASAR DAN FUNGSIONAL DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN DALAM MENUNJANG KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

PRODUKSI PERIKANAN 1. Produksi Perikanan Tangkap No. Kecamatan Produksi (Ton) Ket. Jumlah 12,154.14

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2013, hlm ISSN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.11/MEN/2009 TENTANG

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor

Bentuk baku konstruksi pukat tarik lampara dasar

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP)

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

KEADAAN UMUM 5.1 Keadaan Umum Kota Sabang Visi dan misi

Ukuran Mata Jaring. Judul desain. Ukuran Utama Kapa; Gross Tonase; Nama Alat tangkap; Kode klasifikasi;

Gambar 6 Peta lokasi penelitian.

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

THE FEASIBILITY ANALYSIS OF SEINE NET THE MOORING AT PORT OF BELAWAN NORTH SUMATRA PROVINCE

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.06/MEN/2010 TENTANG

rovinsi alam ngka 2011

Bentuk baku konstruksi pukat hela ikan

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM. 4.1 Letak Geografis

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian

STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi Pelabuhan Perikanan

BAB III BAHAN DAN METODE

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Pengertian, klasifikasi dan fungsi pelabuhan perikanan

BAB I. PENDAHULUAN. Pelabuhan perikanan merupakan pelabuhan yang secara khusus menampung

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Selatan

BAB III BAHAN DAN METODE

6 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. adalah Pulau Nias. Luasnya secara keseluruhan adalah km 2. Posisinya

PURSE SEINE (PUKAT CINCIN)

SISTEM BAGI HASIL USAHA PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) BUNGUS KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT. Oleh

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Umum PPN Pekalongan Letak, klasifikasi dan pengelolaan

PERIKANAN PANCING TONDA DI PERAIRAN PELABUHAN RATU *)

4 KEADAAN UMUM PPS BUNGUS

KAJIAN UNIT PENANGKAPAN PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN (Catching Unit Studies of Purse Seine in Ocean Fishing Port of Belawan)

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Bentuk baku konstruksi pukat hela arad

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE

PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2016 T E N T A N G PEMASANGAN DAN PEMANFAATAN RUMPON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Data dan grafik produksi ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke tahun

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM PENELITIAN. Kecamatan Labuhan Haji merupakan Kecamatan induk dari pemekaran

PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4 KEADAAN UMUM. 4.1Keadaan umum Kabupaten Sukabumi

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Bentuk baku konstruksi pukat tarik cantrang

BERITA NEGARA. No.955, 2011 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Juknis. DAK. Tahun 2012 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

Geliat MINAPOLITAN KABUPATEN PACITAN. Pemerintah Kabupaten Pacitan

BUPATI JEMBRANA KEPUTUSAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 656 TAHUN 2003

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Perikanan: Armada & Alat Tangkap

STUDI PERBANDINGAN UKURAN ALAT TANGKAP DENGAN KEKUATAN MESIN KAPAL PUKAT UDANG

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB VI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN OLEH NELAYAN KARIMUNJAWADAN NELAYAN JEPARA

melakukan kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi kebutuhan perbekalan untuk menangkap ikan di

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

Profil PPS Belawan. Posisi Strategis. 2011/08/19 14:54 WIB - Kategori : Attend

STRUKTUR ONGKOS USAHA PERIKANAN TAHUN 2014

Transkripsi:

34 2001, kecamatan ini mempunyai penduduk sebesar 91.881 jiwa. Luas wilayahnya adalah 26,25 km 2 dengan kepadatan penduduknya adalah 3.500,23 jiwa per km 2. PPS Belawan memiliki fasilitas pokok dermaga, jalan pelabuhan, alur pelayaran, lahan pelabuhan, jetty dan turap/revetment. Fasilitas fungsionalnya adalah kantor pelabuhan, tempat pelelangan ikan, transit sheed, cold storage, rambu suar, APMS, SPDN, kantor bersama samsat, bus pegawai dan pabrik es. Fasilitas penunjangnya adalah kios waserda, masjid PPS Belawan, guest house dan balai pertemuan nelayan. 4.2 Keadaan Umum Perikanan 4.2.1 Unit penangkapan ikan Jumlah armada kapal perikanan yang berbasis di PPS Belawan selalu berubah setiap tahun. Perkembangan jumlah kapal perikanan di PPS Belawan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Jumlah kapal perikanan laut menurut ukuran kapal di PPS Belawan periode 2005-2009 No. Tahun Jumlah kapal (unit) pada ukuran (GT) 0-5 5-10 10-30 30-60 60-100 >100 Total (unit) 1 2005 87 229 50 50 38 79 533 2 2006-86 139 58 88 101 472 3 2007-117 213 48 49 79 506 4 2008-106 237 43 43 72 501 5 2009-106 237 43 43 72 501 Jumlah (unit) 87 644 876 242 261 403 2513 Perkembangan (%) - -30,03 21,78-3,73-7,35-3,16-22,49 Sumber : PPS Belawan, 2010 (diolah) Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa kapal yang berukuran 0-5 Gross Ton (GT) sudah tidak beroperasi lagi sejak tahun 2006. Kapal yang berukuran 5-10 GT mengalami penurunan rata-rata sebesar 30,03 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Kapal yang berukuran 10-30 GT mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,78 % dan peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Kapal yang berukuran 30-60 GT mengalami penurunan rata-rata sebesar 3,73 %

35 dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2007. Kapal yang berukuran 60-100 GT mengalami penurunan rata-rata sebesar 7,35 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2007. Kapal yang berukuran lebih besar dari 100 GT mengalami penurunan rata-rata sebesar 3,16 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2007. Secara umum jumlah kapal yang beroperasi di PPS Belawan dari tahun 2005-2009 menurut ukuran kapalnya mengalami penurunan. Kapal yang mengalami peningkatan paling besar per tahunnya hanya kapal yang berukuran 10-30 GT, sedangkan kapal yang mengalami penurunan paling besar per tahunnya adalah kapal yang berukuran 5-10 GT. Ada lima jenis alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan di PPS Belawan yaitu pukat cincin, pukat ikan, jaring insang, pancing dan lampara dasar/pukat udang. Jumlah alat tangkap ini juga berubah-ubah setiap tahun. Perkembangan alat tangkap di PPS Belawan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Jumlah unit penangkapan perikanan laut menurut jenis alat tangkap di PPS Belawan periode 2005-2009 Jenis alat tangkap Pukat ikan Pukat udang Pukat cincin Jaring insang Pancing Jumlah alat tangkap/tahun (unit) 2005 2006 2007 2008 2009 99 178 188 55 13 147 57 231 33 4 117 97 237 48 7 114 103 239 41 4 114 103 239 41 4 Jumlah (unit) 533 472 499 501 501 Sumber : PPS Belawan, 2010 (diolah) Perkembangan (%) 0,88-33,04 4,40-10,50-51,43 Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa jumlah alat tangkap pukat ikan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,88 % dan peningkatan paling pesat terjadi pada tahun 2006. Pukat udang mengalami penurunan rata-rata sebesar 33,04 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Pukat cincin mengalami peningkatan rata-rata sebesar 4,40 % dan peningkatan paling pesat terjadi pada tahun 2006. Jaring insang mengalami penurunan rata-rata sebesar 10,50 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Pancing mengalami penurunan rata-rata sebesar 51,43 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Secara umum jumlah alat tangkap yang beroperasi di

Keterangan : a : sewakan (otter board) b : sayap (wing) c : badan (body) d : kantong (cod end)

Keterangan : a : sayap (wing) b : badan (body) c : perut (belly) d : kantong (cod end)

38 penjarangnya diperpanjang sehingga menjadi 2/3 dari seluruh panjang jaring. Bahan untuk pengapit dari benang katun, tetapi sekarang umumnya menggunakan benang sintetik (nilon). Penjarang adalah bagian jaring yang bermata paling besar dan fungsinya untuk menggalang ikan-ikan yang telah terkurung. Tali pelampung atau disebut tali kajar lampung terdiri dari dua utas tali yang diikat menjadi satu. Tali pemberat biasanya disebut tali kajar batu. Tali kajar batu sebelah luar diikatkan dengan bagian jaring. Tali cincin berujung pada sudut atas luar sentung yang selanjutnya dilakukan dalam cincin-cincin sampai pada akhir bagian bawah pengapit atau kadang lebih sedikit. Fungsinya sebagai pengembang dan mengkerutkan sentung sehingga membentuk kantong. Pelampungnya terbuat dari kayu pulai atau bahan lain yang mudah terapung atau dari bahan sintetik bergaris tengah 7 cm dan panjang 10 cm. Pemberat dibuat dari timah hitam yang diberi lubang di bagian tengahnya, panjangnya 7,5 cm, berat 2 ons dan dipasang pada bagian luar kajar bawah. Cincinnya dibuat dari besi atau kuningan. Cincin ini diikatkan pada tali kajar bawah dengan sepotong tali yang panjangnya sekitar 20 cm, jarak antara cincin yang satu dengan lainnya 20 kok (20 cm x 18 cm). Nong adalah lampu yang diletakkan pada pelampung yang fungsinya untuk mengetahui letak ujung jaring pada waktu penangkapan diadakan atau sebagai pedoman pada waktu operasi penangkapan. Alat tangkap ini dioperasikan dengan cara mengelilingi kawanan ikan. Ketika kawanan ikan dan arah gerakannya telah diketemukan dan demikian juga arah arus, maka jaring segera diturunkan dimulai dari lampu nong yang diikatkan pada perpanjangan kajar pelampung, kemudian bagian sentung, selanjutnya penjapit dan terakhir penjarang. Bila kedua ujung luar jaring diketemukan, maka dimulailah penarikan jaring ke atas perahu dimulai dari bagian penjarang. Setelah penarikan penjarang telah sampai dibatas tali cincin, mulailah penarikan tali cincin sampai habis dan terbentuk kantong yang menyerupai mangkok terbalik (Gambar 21).

Keterangan : A : sentung (kantong) B : pengapit C : penjarang a : tali pembatu b : pelampung c : tali pelampung d e f g h i : kajar benang : pemberat (batu) : kajar batu : tali cincin : cincin : nong (lampu)

Keterangan : a : pelampung tanda b : tali selambar c : pelampung d : timah pemberat e : pemberat (jangkar)

41 cincin mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,11 % dan peningkatan paling pesat terjadi pada tahun 2006. Nelayan yang mengoperasikan pukat ikan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,42 % dan peningkatan paling pesat terjadi pada tahun 2006. Nelayan yang mengoperasikan jaring insang mengalami penurunan rata-rata sebesar 4,28 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Nelayan yang mengoperasikan pancing mengalami penurunan ratarata sebesar 26,82 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Nelayan yang mengoperasikan pukat udang mengalami penurunan rata-rata sebesar 21,07 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Secara umum jumlah nelayan di PPS Belawan pada tahun 2005-2009 mengalami penurunan. Jumlah nelayan yang paling pesat peningkatannya adalah nelayan yang mengoperasikan pukat cincin dan merupakan nelayan yang paling banyak jumlahnya di PPS Belawan, sedangkan nelayan yang mengoperasikan pancing mengalami penurunan yang paling drastis yang jumlahnya menurun setiap tahun dan merupakan nelayan yang paling sedikit jumlahnya di PPS Belawan. Tabel 6 Jumlah nelayan di PPS Belawan periode 2005-2009 Kategori nelayan Pukat ikan Pukat udang Pukat cincin Jaring insang Pancing Jumlah nelayan (orang) pada tahun 2005 2006 2007 2008 2009 1.428 1.769 1.996 1.684 1.684 1.424 604 1.080 950 950 3.928 5.530 4.975 5.393 5.393 330 198 288 335 335 65 32 28 24 24 Jumlah (orang) 7.175 8.133 8.367 8.386 8.386 Sumber : PPS Belawan, 2010 (diolah) Perkembangan (%) 2,42-21,07 5,11-4,28-26,82 Kapal pukat cincin dioperasikan oleh sekitar 20-23 orang nelayan dengan pembagian kerja 1 orang nahkoda, 1 orang wakil nahkoda, 1 orang kepala kamar mesin, 1 orang juru masak dan sisanya adalah anak buah kapal. Kapal pukat ikan dioperasikan oleh sekitar 12-17 orang nelayan dengan pembagian kerja 1 orang nahkoda, 1 orang wakil nahkoda, 1 orang kepala kamar mesin, 1 orang juru masak dan sisanya adalah anak buah kapal. Kapal pukat udang dioperasikan oleh sekitar 8-11 orang nelayan dengan pembagian kerja 1 orang nahkoda, 1 orang wakil nahkoda, 1 orang kepala kamar mesin, 1 orang juru masak dan sisanya adalah

42 anak buah kapal. Kapal jaring insang dioperasikan oleh sekitar 6-8 orang nelayan dengan pembagian kerja 1 orang nahkoda, 1 orang navigator dan sisanya adalah anak buah kapal. Kapal pancing dioperasikan oleh sekitar 4-8 orang nelayan dengan pembagian kerja 1 orang nahkoda, 1 orang navigator dan sisanya adalah anak buah kapal. 4.2.2 Volume produksi perikanan Produksi perikanan berdasarkan alat tangkap yang didaratkan di PPS Belawan setiap tahunnya (2005-2009) berubah-ubah seperti yang terdapat di Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa hasil tangkapan pukat cincin mengalami penurunan rata-rata sebesar 11,14 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Hasil tangkapan pukat ikan mengalami penurunan ratarata sebesar 10,25 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Hasil tangkapan jaring insang mengalami penurunan rata-rata sebesar 5,24 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2008. Hasil tangkapan pancing mengalami penurunan rata-rata sebesar 18,61 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2009. Hasil tangkapan pukat udang mengalami penurunan ratarata sebesar 22,08 % dan penurunan paling drastis terjadi pada tahun 2006. Secara umum produksi perikanan laut menurut jenis alat tangkap di PPS Belawan pada tahun 2005-2009 mengalami penurunan. Penurunan paling besar terjadi pada alat tangkap pukat udang, sedangkan penurunan yang tidak terlalu signifikan terjadi pada alat tangkap jaring insang. Tabel 7 Produksi perikanan laut menurut jenis alat tangkap di PPS Belawan periode 2005-2009 Jenis alat tangkap Pukat ikan Pukat udang Pukat cincin Jaring insang Pancing Produksi (ton) pada tahun 2005 2006 2007 2008 2009 27.776 18.312 14.654 13.253 7.228 2.134 3.522 5.468 35.363 20.864 19.696 20.699 901 855 922 796 187 427 340 315 20.702 11.710 24.318 709 146 Jumlah (ton) 71.455 42.592 39.134 40.531 57.585 Sumber : PPS Belawan, 2010 (diolah) Perkembangan (%) -10,25-22,08-11,14-5,24-18,61

43 Tabel 7 juga menunjukkan bahwa alat tangkap pukat cincin, pukat ikan dan pukat udang merupakan alat tangkap yang menyumbangkan hasil tangkapan yang tinggi setiap tahunnya. Pukat cincin merupakan penyumbang hasil tangkapan tertinggi yang didaratkan di PPS Belawan setiap tahunnya yang kemudian disusul oleh pukat ikan dan pukat udang, sedangkan hasil tangkapan yang paling sedikit dihasilkan oleh alat tangkap pancing. 4.2.3 Daerah penangkapan ikan Daerah penangkapan ikan bagi nelayan-nelayan yang melaut dari PPS Belawan adalah perairan Selat Malaka mulai dari koordinat 2 o 27 51 LU - 5 o 55 42 LU dan 97 o 10 46 BT - 100 o 53 50 BT berjarak sekitar 15 mil sampai 120 mil laut dari PPS Belawan. Alat tangkap yang beroperasi di daerah penangkapan ini adalah pukat cincin, pukat ikan, pukat udang, jaring insang dan pancing. Alat tangkap yang hasil tangkapannya mendominasi di daerah penangkapan ini adalah pukat cincin, pukat ikan dan pukat udang, sedangkan hasil tangkapan jaring insang dan pancing cenderung lebih sedikit. Nelayan yang mengoperasikan pukat cincin, pukat ikan dan pukat udang menggunakan kapal yang berukuran di atas 30 GT dan melakukan penangkapan di sekitar perairan yang jauh dari pantai. Kapal-kapal ini menggunakan rumpon untuk mengumpulkan ikan dan dilengkapi dengan GPS (Global Positioning System) untuk menandai koordinat rumpon-rumpon tersebut dan melakukan penangkapan secara berulang di koordinat yang sudah ditandai. Nelayan yang mengoperasikan jaring insang dan pancing menggunakan kapal yang berukuran di bawah 10 GT dan melakukan operasi penangkapan di sekitar perairan pantai. Kapal-kapal ini tidak dilengkapi dengan GPS sehingga nelayannya menggunakan insting dalam menentukan daerah penangkapannya.