FISIKA PENGOLAHAN ASPAL BUTON

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMETAAN KONSEPSI MAHASISWA TENTANG HUKUM ARCHIMEDES

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melebihi daya dukung tanah yang diijinkan (Sukirman, 1992).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I Made Agus Ariawan 1 ABSTRAK 1. PENDAHULUAN. 2. METODE Asphalt Concrete - Binder Course (AC BC)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PERBANDINGAN KADAR BITUMEN DAN KADAR AIR DI TAMBANG A DAN F PADA PT. WIKA BITUMEN BUTON SULAWESI TENGGARA

KAJIAN KADAR ASPAL HASIL EKSTRAKSI PENGHAMPARAN CAMPURAN AC-WC GRADASI KASAR DENGAN JOB MIX FORMULA

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE BINDER COURSE

EKSTRAKSI ASBUTON MENGGUNAKAN METODE ASBUTON EMULSI (269M)

ABSTRAKSI PENGGUNAAN PERTAMAX SEBAGAI MODIFIER PADA LASBUTAG CAMPURAN DINGIN UNTUK PERKERASAN JALAN.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikenal dengan istilah lateks. Di dalam lateks terkandung 25-40% bahan karet

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA PENAMBANGAN BATUBARA DI FORMASI TANJUNG, CEKUNGAN BARITO, KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masalah

FISIKA PENAMBANGAN ASPAL BUTON

BAB III LANDASAN TEORI. bergradasi baik yang dicampur dengan penetration grade aspal. Kekuatan yang

B 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PENAMBAHAN SEMEN PADA KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kerusakan yang berarti. Agar perkerasan jalan yang sesuai dengan mutu yang

KAJIAN PERBANDINGAN KADAR ASPAL HASIL EKSTRAKSI CAMPURAN AC-WC GRADASI KASAR DENGAN CAIRAN EKSTRAKSI MENGGUNAKAN BENSIN

PEMANFAATAN BATUGAMPING KEPRUS SEBAGAI CAMPURAN AGREGAT PADA LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS B

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 35/PRT/M/2006

Jurnal Sipil Statik Vol.3 No.4 April 2015 ( ) ISSN:

PENGGUNAAN ASBUTON EKSTRAKSI SEBAGAI BAHAN CAMPURAN LATASTON HOT ROLLED SHEET WEARING COARSE

PERBANDINGAN FILLER PASIR LAUT DENGAN ABU BATU PADA CAMPURAN PANAS ASPHALT TRADE BINDER UNTUK PERKERASAN LENTUR DENGAN LALU LINTAS TINGGI

Spesifikasi lapis tipis aspal pasir (Latasir)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang JULIE-CVL 11

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Prasarana jalan berkaitan erat dengan pertumbuhan pembangunan di berbagai

BAB III LANDASAN TEORI

3.1 Lataston atau Hot Rolled Sheet

Akhmad Bestari, Studi Penggunaan Pasir Pantai Bakau Sebagai Campuran Aspal Beton Jenis HOT

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XIX Program Studi MMT-ITS, Surabaya 2 November 2013

PENGARUH SIFAT FISIK AGREGAT TERHADAP RONGGA DALAM CAMPURAN BERASPAL PANAS

KAJIAN KADAR ASPAL HASIL EKSTRAKSI PENGHAMPARAN DAN MIX DESIGN PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE (ACWC) GRADASI HALUS

REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA SPESIFIKASI KHUSUS INTERIM SEKSI 6.6

SPESIFIKASI KHUSUS-2 INTERIM SEKSI 6.6 LAPIS PENETRASI MACADAM ASBUTON LAWELE (LPMAL)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. mendapatkan data. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, penelitian ini

BAB 1. PENDAHULUAN. Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara

EKSTRAKSI ASBUTON BUTIR DENGAN METODE ASBUTON EMULSI MENGGUNAKAN PENGEMULSI TEXAPON DITINJAU DARI KONSENTRASI AIR DAN WAKTU EKSTRAKSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI TEKNIS DAN EKONOMIS PENGGUNAAN LASBUTAG (LAPIS ASBUTON AGREGAT) CAMPURAN HANGAT

KAJIAN PERBAIKAN SIFAT REOLOGI VISCO-ELASTIC ASPAL DENGAN PENAMBAHAN ASBUTON MURNI MENGGUNAKAN PARAMETER COMPLEX SHEAR MODULUS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Sipil Statik Vol.3 No.12 Desember 2015 ( ) ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan hal tersebut mengakibatkan peningkatan mobilitas penduduk

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Jalan sebagai prasarana transportasi adalah salah satu faktor yang sangat

EVALUASI BAHAN PRODUKSI ASPAL JALAN PROVINSI LUMPANGI BATULICIN. Asrul Arifin ABSTRAK

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Inti Jalan

BAB IV METODE PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN SABUT KELAPA TERHADAP STABILITAS CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN

PENGARUH VARIASI RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT PADA CAMPURAN BERASPAL PANAS JENIS LAPIS TIPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI GRADASI SENJANG

I. PENDAHULUAN. diperkirakan km. Pembangunan tersebut dilakukan dengan kerja paksa

BAB I PENDAHULUAN. tahun ke tahun makin meningkat. Laston (Asphalt Concrete, AC) yang dibuat sebagai

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 2. Klasifikasi BendaLatihan Soal 2.1

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan masyarakat sehari-hari. Kegiatan

PENGARUH SUHU DAN DURASI TERENDAMNYA PERKERASAN BERASPAL PANAS TERHADAP STABILITAS DAN KELELEHAN (FLOW)

BAB III LANDASAN TEORI

Alik Ansyori Alamsyah Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

BAB III LANDASAN TEORI. keras lentur bergradasi timpang yang pertama kali dikembangkan di Inggris. Hot

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Agregat dari AMP Sinar Karya Cahaya (Laboratorium Transportasi FT-UNG, 2013)

FISIKA SUNGAI CURAM DI PULAU AMBON

SET 04 MEKANIKA FLUIDA. Fluida adalah zat yang dapat mengalir dan memberikan sedikit hambatan terhadap perubahan bentuk ketika ditekan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Prarancangan Pabrik Hidrorengkah Aspal Buton dengan Katalisator Ni/Mo dengan Kapasitas 90,000 Ton/Tahun BAB I PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI. dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi menerus (well graded)

PENGARUH PEMAKAIAN AGREGAT KASAR DARI LIMBAH AMP TERHADAP KUAT TEKAN BETON fc 18,5 MPa

BAB III LANDASAN TEORI

PENGARUH PENGGUNAAN MINYAK PELUMAS BEKAS PADA BETON ASPAL YANG TERENDAM AIR LAUT DAN AIR HUJAN

STUDI PENGGUNAAN PASIR SERUYAN KABUPATEN SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH SEBAGAI CAMPURAN ASPAL BETON AC WC

PENGGUNAAN RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT

BAB IV Metode Penelitian METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian

HANDOUT. Hukum Pokok Hidrostatis & Hukum Pascal. Mata Pelajaran : Fisika Kelas / Semester : X / 2. Jumlah Pertemuan : 1 Pertemuan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (1-10) ISSN:

BAB IV HASIL ANALISA DAN DATA

KAJIAN PENINGKATAN NILAI CBR MATERIAL LAPISAN PONDASI BAWAH AKIBAT PENAMBAHAN PASIR

Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.7 Juli 2016 ( ) ISSN:

KISI KISI SOAL. Kesesuaian dengan aspek kognitif. Kunci Jawaban A. Aspek Kognitif. Indikator Soal. Soal. keterangan

Company Profile 2016

PERBANDINGAN ASPHALT MIXING PLANT (AMP) BATU BARA DAN PERBANDINGAN ASPHALT MIXING PLANT (AMP) BBM

BAB I PENDAHULUAN. terjadi berlebihan (overload) atau disebabkan oleh Physical Damage Factor (P.D.F.)

PEMANFAATAN BONGKARAN LAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN ASPAL SEBAGAI CAMPURAN HRS

BAB III METODOLOGI 3.1 Umum 3.2 Tahapan Penelitian

Studi Penggunaan Aspal Modifikasi Dengan Getah Pinus Pada Campuran Beton Aspal

BAB I PENDAHULUAN. dalam penunjang aktivitas di segala bidang. Berbagai aktivitas seperti

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.2, Januari 2013 ( )

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

PENGARUH ASBUTON TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PERKERASAN DAUR ULANG DENGAN PEREMAJA OLI BEKAS DAN SOLAR

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan meningkatnya tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan

PENGARUH JUMLAH TUMBUKAN PEMADATAN BENDA UJI TERHADAP BESARAN MARSHALL CAMPURAN BERASPAL PANAS BERGRADASI MENERUS JENIS ASPHALT CONCRETE (AC)

Transkripsi:

FISIK PENGOLHN SPL BUTON risat, Lilik Hendrajaya Program Magister Pengajaran Fisika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganeca 0, Bandung Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganeca 0, Bandung E-mail : a_risat86@yaho.com bstrak: Kata Kunci: spal merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Buron, dan Buton sendiri adalah satu-satunya daerah penghasil aspal alam di Indonesia. spal Buton yang sering dikenal dengan dengan spal batu Buton (sbuton) merupakan aspal alam yang kandungannya terdiri atas bitumen dan bahan mineral lainnya dalam bentuk batuan. Selama ini pemanfataan aspal Buton masih kalah dengan aspal minyak. Hal ini terjadi karena aspal Buton hanya digunakan sebagai Modifier untuk campuran aspal minyak dalam campuran perkerasan jalan raya. Selain itu juga untuk memperoleh aspal Buton murni memerlukan proses pengolahan yang besar, dan selama ini belum ada yang bisa diterapkan dalam skala industri. Dalam penelitian ini lebih ditekankan pada bagaimana belajar fisika kontekstual dari sumber daya alam daerah, khususnya aspal Buton. Proses pengamatan konsep fisika dalam pengolahan aspal Buton dimulai dari proses penghancuran sbuton dalam pabrik crusher, prinsip fisika dalam pengolahan Buton Rock sphalt (BR) dalam pabrik pengolahan BR, kegiatan pengujian kadar bitumen dan kadar air sbuton, Pembuatan Briket sbuton untuk Formula Campuran Rencana (FCR), dan sampai proses pengapalan sbuton. Hal ini bertujuan selain memahami bagaimana proses pengolahan spal Buton, juga bisa mempelajari proses-proses fisika apa saja yang terdapat dalam pengolahan aspal Buton. Proses pembelajaran seperti ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya para siswa/mahasiswa tentang pentingnya belajar dan memahami fisika dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam daerah. spal Buton, Pengolahan spal Buton, fisika kontekstual PENDHULUN spal adalah senyawa hidrokarbon berwarna coklat gelap atau hitam pekat yang dibentuk dari unsur-unsur asphalthenes, resins, dan oils. Dalam lapis perkerasan jalan aspal berfungsi sebagai bahan ikat antara agregat untuk membentuk suatu campuran yang kompak, sehingga akan memberikan kekuatan masing-masing agregat. spal batu Buton (sbuton) merupakan aspal alam yang terdapat di pulau Buton, jenisnya adalah rock asphalt, yaitu batuan yang terimpegnasi oleh aspal dengan batuan induknya adalah batu gamping. Partikel asbuton terdiri dari mineral, bitumen, dan air. sbuton yang terekstraksi dapat dipisahkan antara mineral dengan bitumennya (Tobing, 003)..spal Buton adalah satu-satunya cebakan aspal alam di Indonesia. spal Buton terdiri atas campuran antara bitumen dengan bahan mineral lainnya dalam bentuk batuan. Deposit aspal Buton sangat besar dengan total cadangan 650 juta ton dengan kadar bitumen yang bervariasi dari kadar rendah sampai kadar tinggi, yaitu 0-35% (Dinas Pertambangan Kabupaten Buton, 03). Deposit aspal Buton membentang dari kecamatan Lawele samapai Sampolawa yang meliputi daerah Lawele, Wariti, Winto, Kabungka,dan Waesiu (Hadiwisastra, 009). Besarnya deposit aspal Buton ini ternyata bertolak belakang dengan pemanfaatannya. Selama ini aspal Buton hanya digunakan sebagai modifier untuk campuran aspal minyak dalam campuran perkerasan jalan raya. Hal ini disebabkan belum adanya pabrik pengolahan yang bisa menghasilkan aspal Buton dalam jumlah yang besar. Selama ini, keberadaan aspal Buton sebagai produk unggulan ternyata hanya dikelola dan dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi daerah dan negara, dan belum diarahkan dalam sektor pendidikan. Pada tingkat Universitas/perguruan tinggi aspal Buton hanya dijadikan sebagai bahan tinjauan dalam pelaksanaan penelitian sebagai prasyarat untuk kelulusan dalam menyelesaikan studi. Padahal jika dikembangkan lebih lanjut, potensi sumber daya alam tersebut bisa berguna dalam usaha pengembangan bidang pendidikan khususnya pembelajaran fisika. Hal ini terjadi karena di dalam proses terbentuknya sumberdaya alam tersebut, dalam hal ini aspal Buton erat kaitannya dengan hukum dan proses fisika. kan tetapi, karena selama ini fisika merupakan momok bagi Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 06 (ISSN: 557-533X) ssssssss 67

mahasiswa/siswa maka pengembangan ke arah tersebut sangat kurang. Mahasiswa/siswa merasa kesulitan dalam memahami fisika dengan baik karena sering kali dosen/guru mengajarkan konsep-konsep fisika dalam bentuk kumpulan defenisi maupun rumus sehingga bersifat abstrak. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu metode pembelajaran yang berangkat dari alam dan lingkungan sekitar, yaitu pembelajaran Fisika kontekstual berbasis Energi dan Sumber daya Mineral (Fisika-ESDM). Salah satunya adalah bagaimana memahami fenomena fisika dalam proses pengolahan aspal Buton. Penelitian ini membahas bagaimana penerapan konsep fisika dalam proses pengolahan aspal Buton. Metode yang digunakan adalah kontruksi alur pikir, dimana proses pembelajaran fisika mengenai pengolahan aspal Buton dimulai dari pemahaman tentang fenomena dan proses pengolahan aspal Buton, dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi fisika dan proses fisika yang terjadi dalam proses pengolahan aspal Buton. Tujuan utama dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana proses pengolahan dan pemanfaatan aspal Buton, serta secara tidak langsung masyarakat akan mengetahui dan mengerti tentang fisika dalam proses pengolahan aspal Buton. METODE PENELITIN Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal Januari 06 s/d Februari 06, bertempat di PT. Wijaya Karya Bitumen, Pasarwajo Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara mengamati langsung seluruh rangkaian/alur proses pengolahan aspal Buton mulai dari pengujian kadar bitumen dan kadar air, proses penghancuran batuan aspal Buton di pabrik crusher, proses pembuatan Buton Rock sphalt (BR), proses pembuatan Formula Campuran Rencana (FCR), sampai dengan proses pengapalan spal Buton. Setelah proses pengamatan selesai, maka dilanjutkan dengan mengidentifikasi proses dan fenomena fisika yang terjadi untuk masing-masing kegiatan. Selanjutnya bisa dikembangkan menjadi bahan ajar fisika kontekstual berbasis Energi dan Sumber Daya Mineral (Fisika-ESDM). HSIL DN PEMBHSN f. Pengujian Kadar Bitumen dan Kadar ir Pengujian kadar bitumen dan kadar air aspal merupakan langkah awal untuk mengetahui mutu aspal. spal yang baik memiliki kadar bitumen yang tinggi dan disaat yang sama harus mengandung kadar air yang rendah. Metode yang digunakan dalam pengujian kadar bitumen dan kadar air aspal Buton adalah ekstraksi dengan metode Sokhlet. Dengan pelarut Trichlor Ethylen ( SNI 03-3640-994). Gambar. Pengamatan Proses Pengujian Kadar Bitumen dan Kadar ir. Sumber : Dokumentasi Penelitian. Beberapa fenomena fisika yang bisa dalam proses pengujian kadar bitumen dan kadar air aspal Buton adalah konsep pengukuran, dan konsep termodinamika mineral. 68 Isu-Isu Kontemporer Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya

g. Pengolahan Raw Material di Stock Pile Raw material merupakan salah satu produk olahan yang paling banyak diminati oleh investor. Dalam pengolahannya sangat sederhana tergantung dari ukuran butir yang diinginkan oleh investor. Dengan menggunakan escavator, material aspal dari stock pile selanjutnya disaring menggunakan ayakan. Gambar. Proses Pengamatan Kinerja Escavator dalam Pengolahan Raw Material. Sumber : Dokumentasi Penelitian. Salah satu fenomena fisika yang bisa diamati adalah proses gerakan dari escavator. Secara umum gerakan escavator terdiri atas gerakan menggali, mengangkat, membuang dan gerakan berputar. Dalam proses gerakan escavator biasanya sudah menggunakan prinsip kombinasi hidrolik antara silinder yang satu dengan silinder lainnya. Hukum fisika yang mendasari sistem hidrolik pada escavator adalah hukum Pascal, yaitu : Tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dngan sama besar. Berdasarkan hukum Pascal diperoleh prinsip dengan memberikan gaya yang kecil akan dihasilkan gaya yang lebih besar. F F () Karena pada escavator pistonnya berbentuk silinder, maka () dapat dituliskan kembali dalam bentuk : F F () d d (Young dan Freedman, 00). d dan d, sehingga persamaan 4 4 h. Pabrik Crusher Dalam proses untuk menghasilkan Buton Rock sphalt (BR) material aspal yang digunakan harus melalui proses penghancuran dalam pabrik Crusher. Proses penghancuran aspal Buton diawali dengan memasukan material aspal Buton dari stock pile ke dalam hoper dengan menggunakan Buldozer. Selanjutnya, dari hoper diteruskan ke crusher primer melalui belt conveyer. Setelah melewati crusher primer, material aspal selanjutnya melalui belt conveyer diantar ke crusher sekunder. Dalam cruseher sekunder material dihancurkan kembali. Material yang lolos ayakan selanjutnya akan diteruskan ke penampungan sementara. Sementara bagi material yang belum lolos ayakan dan memenuhi spesifikasi dikembalikan ke crusher primer untuk dihancurkan kembali. Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 06 (ISSN: 557-533X) ssssssss 69

Gambar 3. Proses Pengamatan pada Pabrik Crusher. Sumber : Dokumentasi Penelitian. Beberapa fenomena fisika yang bisa diamati dalam pabrik crusher adalah penerapan tekanan hidrostatis pada piston buldozer, proses tumbukan yang terjadi dalam crusher primer dan crusher sekunder, menghitung kecepatan material ketika melewati belt conveyer dari crusher primer ke crusher sekunder ataupun dari crusher sekunder ke tempat penampungan sementara, dan gerak jatuh material dari belt conveyer sampai mencapai tanah. i. Pabrik Buton Rock sphalt (BR) Dalam proses pengolahan aspal Buton dipabrik BR diawali dengan memasukan material aspal Buton hasil olahan pabrik crusher ke hoper dengan menggunakan buldozer. Selanjutnya, material aspal Buton akan melewati proses sebagai berikut : Hoper belt conveyer dryer - belt conveyer cooler bucket elevator scru conveyer hoper yang dilengkapi dengan ayakan dan timbangan Jumbo bag tempat penyimpanan sementara BR. Gambar 4. Proses Pengamatan pada Pabrik BR Sumber : Dokumentasi Penelitian. Beberapa fenomena fisika yang bisa diamati dalam pabrik BR adalah penerapan tekanan hidrostatis pada piston buldozer, menghitung kecepatan material ketika melewati : belt conveyer dari hoper ke dryer, dan belt conveyer dari dryer ke cooler, konsep panas, dan konsep pengukuran. j. Pembuatan Briket spal sebagai Formula Campuran Rencana (FCR) Formula Campuran Rencana (FCR) merupakan perencanaan campuran beraspal panas dengan aspal Buton olahan. Tujuan FCR adalah mendapatkan resep campuran dari bahan atau material di suatu tempat sehingga dihasilkan campuran yang memenuhi spesifikasi seperti yang dipersyaratkan oleh Bina Marga. FCR biasa juga dikenal dngan Design Mix Formula (DMF) sebelum dijadikan Job Mix Formula atau Formula Campuran Kinerja (FCK) (Bina Marga, 006). 70 Isu-Isu Kontemporer Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya

Gambar 5. Briket spal Buton Gradasi Terbuka Sumber : Dokumentasi Penelitian. Beberapa fenomena fisika yang bisa diamati dalam proses Pembuatan briket aspal adalah terkait dengan konsep pengukuran, konsep panas, konsep tumbukan, dan konsep pompa hidrolik. k. Pengapalan Pelabuhan merupan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses pengapalan. Setiap perusahaan aspal harus memiliki pelabuhan yang memenuhi standar, yaitu pelabuhan yang terhindar dari ombak besar dan kapal dengan bobot 7.000 ton bisa merapat. Dalam proses pengapalan, aspal buton dalam bentuk curah diangkut /dimuat ke kapal/tongkang dengan menggunakan ship loader atau conveyor. Jika muatannya ledih besar dari 70.000 ton, maka kapal dari para investor tidak bisa merapat ke pelabuhan dan menunggu sekitar ± km dari pelabuhan. Untuk mempermudah proses pengakapalan maka dibutuhkan bantuan tongkang. Gambar 6. Kapal Tongkang yang Digunakan untuk Memuat spal yang kan Dipasarkan. Sumber : Dokumentasi Penelitian. Salah satu fenomena fisika yang paling menonjol dan bisa diamati dalam proses pengapalan aspal Buton adalah hukum rchimedes. Hukum archiemedes mempelajari tentang gaya ke atas yang dialami oleh benda apabila berada dalam fluida. Benda- benda yang dimasukan pada fluida, seolah-olah memiliki berat yang lebih kecil dari pada saat berada di luar fluida. w air w udara F..(3) Besarnya gaya tekan ke atas ( F ) dapat ditentukan dengan konsep tekanan hidrostatik. Gaya total yang disebabkan oleh tekanan fluida merupakan gaya apung atau gaya ke atas. F. g. V (4) (Young dan Freedman, 00) Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 06 (ISSN: 557-533X) ssssssss 7

Karena gaya total. g. V m. g adalah berat fluida yang dipindahkan, maka gaya tekan ke atas benda sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Selain penerapan hukum rchimedes, proses fisika yang bisa diamati juga adalah konsep titik berat. Kapal laut didesain bukan hanya asal terapung, melainkan juga harus tegak dengan kesetimbangan yang stabil tanpa membuat kapal tersebut terbalik. Kestabilan kapal saat terapung ditentukan oleh posisi titik berat benda, dan letak dimana gaya ke atas ( F ) bekerja. SIMPULN, SRN, DN REKOMENDSI Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran fisika dapat dikembangkan melalui pembelajaran Fisika kontekstual berbasis Energi dan Sumber Daya Mineral (Fisika-ESDM) khususnya dalam pegolahan aspal Buton. Karena pentingnya pengetahuan tentang pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dalam hal ini aspal Buton, maka diharapkan kerjasama dari pemerintah, dinas pendidikan, pihak sekolah (SM/SMK dan M), dan Perguruan Tinggi dalam pengembangan pembelajaran fisika kontekstual berbasis Energi dan Sumber Daya Mineral. Selain itu juga, ke depan semua lokasi penambangan dan pengolahan aspal Buton dapat dijadikan sebagai laboratorium alam dalam pengembangan proses pembelajaran Fisika. DFTR PUSTK Hadiwisastra (009). Tinjauan Kondisi spal dalam Cekungan Buton. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan. Volume 9 (), 49-57. Dinas Pertambangan Kabupaten Buton (03). Profil Potensi Pertambangan Kabupaten Buton. Buton : Dinas Pertambangan Kabupaten Buton. Direktorat Bina Marga (006). Pemanfaatan spal Buton. Buku 3, Campuran Beraspal Panas dengan sbuton Olahan. Jakarta : Departemen Pekerjaan Umum. SNI 03-3640-994. Metode Pengujian Kadar Beraspal dengan Cara Ekstraksi Menggunakan lat Sokhlet. Bandung : Pustran Balitbang PU. Tobing, S.M. (003). Prospek Bitumen Padat di Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Bandung : SubDit Batubara,DIM Bandung. Young dan Freedman. (00). Fisika Universitas Edisi Kesepuluh Jilid. Jakarta : Penerbit Erlangga. 7 Isu-Isu Kontemporer Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya