DAFTAR PUSTAKA. BPS Monografi Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Semarang : Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar belakang

BAB IV KARAKTERISTIK PENDUDUK

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB VI PENUTUP VI.1. Temuan Studi

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. perlunya perumahan dan pemukiman telah diarahkan pula oleh Undang-undang Republik

BAB IV HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Loyalitas Pelanggan Logistik Pada

BAB I PENDAHULUAN. Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Medan saling berkaitan

RUMAH SUSUN SEDERHANA DI SEMARANG

Rumah Susun Sewa Di Kawasan Tanah Mas Semarang Penekanan Desain Green Architecture

BAB I PENDAHULUAN. persoalan kecenderungan meningkatnya permintaan dan kurangnya penyediaan di

TUGAS AKHIR 118 PEREMAJAAN RUMAH SUSUN PEKUNDEN SEMARANG BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. baik yang datang dari sesama manusia, makhluk hidup lainnya, maupun alam

BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan suatu proses perencanaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERUMAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rusunawa Buruh di Kawasan Industri Mangkang Semarang

EVALUASI KETERSEDIAAN RUMAH SUSUN SEWA TERHADAP PERTUMBUHAN PERMUKIMAN KUMUH KELURAHAN WAMEO KECAMATAN BATUPUARO

PENGARUH PEMBANGUNAN KAMPUNG PERKOTAAN TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

`BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor permukiman adalah

RUMAH SUSUN BURUH PABRIK DI KAWASAN INDUSTRI TERBOYO SEMARANG

STUDI KARAKTERISTIK HOUSING CAREER GOLONGAN MASYARAKAT BERPENDAPATAN MENENGAH-RENDAH DI KOTA SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN TA Latar Belakang PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN SUNGAI GAJAH WONG DI YOGYAKARTA

IDENTIFIKASI PENGADAAN RUMAH SWADAYA OLEH MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4. Komposisi penduduk menurut Mata pencaharian penduduk. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.3 di bawah ini.

BAB III METODE PERANCANGAN. dilakukan berbagai metode perancangan yang bersifat analisa yang

BAB VII MOTIVASI RELAWAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Permukiman Kumuh Kelurahan Ploso

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ruang Kota dan Perkembangannya

PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun

PENDAHULUAN. Salah satunya adalah lingkungan yang bersih. Sikap dan perilaku hidup sehat

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

PEREMAJAAN PEMUKIMAN KAMPUNG PULO DENGAN PENDEKATAN PERILAKU URBAN KAMPUNG

BAB 4 ANALISIS HASIL Gambaran umum responden. bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai identitas responden.

EVALUASI PENYEDIAAN FASILITAS RUMAH SUSUN (Studi Kasus Rumah Susun Warugunung dan Rumah Susun Penjaringansari I di Kota Surabaya)

PENYEDIAAN HUNIAN BURUH INDUSTRI COMMUTER DI KAWASAN INDUSTRI TERBOYO SEMARANG TUGAS AKHIR. Oleh: ENDYANA PUSPARINI L2D

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Pemahaman Judul dan Tema

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang diperoleh

ANALISA KEBUTUHAN RUMAH SUSUN UNTUK DOSEN DAN PEGAWAI DI ITS SURABAYA

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Desa Bumi Restu memiliki

Rusunawa Khusus Buruh di Kawasan Industri Air Raja Tanjungpinang 1

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Permukiman adalah kawasan lingkungan hidup baik di perkotaan maupun di

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VII HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK RESPONDEN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KESUKAAN PADA IKLAN MARJAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENENTUAN HARGA SEWA RUMAH SUSUN BERDASARKAN ANALISA WTP (WILLINGNESS TO PAY) DI KECAMATAN SIDOARJO

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Ekonomi Orang Tua dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Kraton, Yogyakarta

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. itu telah disebarkan kuesioner kepada 50 orang responden. Oleh karena itu

STUDI POTENSI LINGKUNGAN PEMUKIMAN KUMUH DI KAMPUNG KOTA OIeh: Ir. Wiwik Widyo W Jurusan Teknik Arsitektur FTSP-ITATS

Hasil Pengujian Chi-Squere. 1. Hubungan Jenis Kelamin dan Kondisi Kerja

KUALITAS PERMUKIMAN BANTARAN BENGAWAN SOLO DI KELURAHAN PUCANG SAWIT KOTA SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta sebagai kota pelajar,kota pariwisata dan kota budaya yang

BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang.

BAB IV ANALISIS DATA

BAB VI HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN, TINGKAT KEPEDULIAN DAN EKUITAS MEREK

RESPON MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR DI KAWASAN RAWAN BANJIR DESA GADINGAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO

Komposisi Penduduk DKI Jakarta 2012

MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

KAJIAN FENOMENA URBANISME PADA MASYARAKAT KOTA UNGARAN KABUPATEN SEMARANG TUGAS AKHIR

SEMARANG. Ngaliyan) Oleh : L2D FAKULTAS

BAB 4 ANALISA HASIL Gambaran Umum Responden Penelitian. Deskripsi data responden berdasarkan usia akan dijeleskan pada tabel dibawah ini:

BERITA ACARA SIDANG KELAYAKAN LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A)

BAB 1 PENDAHULUAN. berpenghasilan rendah (MBR) dapat juga dikatakan sebagai masyarakat miskin atau

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 komposisi penduduk

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Permukiman Kumuh Kelurahan Ploso

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. bagian, jenis kelamin, usia, pendidikan dan lama bekerja. responden atas kuesioner yang dibagikan.

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA

BAB IV ANALISIS DATA. Setelah menyelesaikan tabel tunggal dan tabel silang, maka peneliti akan melakukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Partisipan Penelitian. Tenggah. Berikut batas wilayah Desa Kaligentong :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kota dengan segala macam aktivitasnya menawarkan berbagai ragam

Keterkaitan Karakteristik Pergerakan di Kawasan Pinggiran Terhadap Kesediaan Menggunakan BRT di Kota Palembang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN. Populasi dan Teknik Pengambilan Contoh

BAB III PENDEKATAN LAPANGAN

BAB 4 Analisis Hasil

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman kumuh di kota yang padat penduduk atau dikenal dengan istilah urban

HUBUNGAN ANTARA JUMLAH KEHADIRAN MAHASISWA DENGAN NILAI AKHIR SEMESTER GANJIL 2009/2010 MATA KULIAH STATISTIKA MENGGUNAKAN KORELASI RANK SPEARMAN

BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

METODE PENELITIAN. Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. Desain, Tempat dan Waktu Penelitian

Kajian Tingkat Kepuasan Penghuni terhadap Kualitas Lingkungan Rusunawa

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Penduduk. Baciro ,62. Demangan ,16. Klitren ,75. Kota Baru ,74. Terban 80 9.

Transkripsi:

DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Kecamatan Semarang Tengah Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kecamatan Semarang Utara Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kota Semarang Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2012. Monografi Kelurahan Pekunden Kecamatan Semarang Tengah. Semarang : Kelurahan Pekunden Kecamatan Semarang Tengah. BPS. 2012. Monografi Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Semarang : Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. BPS. 2012. Jawa Tengah Dalam Angka 2012. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2013. Data Statistik Indonesia. BPS Budihardjo, Eko. 1984. Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung : Penerbit Alumni. Daldjoeni, N. 1997. Geografi Baru Organisasi Keruangan dalam Teori dan Praktek. Bandung : Alumni. Darmiwati, Ratna. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 28, No. 2, Desember 2000: 114 122. Studi Ruang Bersama Dalam Rumah Susun Bagi Penghuni Berpenghasilan Rendah.Jurnal Online. Surabaya : Universitas Merdeka Surabaya (diakses tanggal 16 September 2012). Fakultas Geografi. 2005. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian & Skripsi Program Sarjana. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. Friedmann, John dan Wulff, Robert. 1979. The Urban Transition. Comparative Studies of Newly Industrializing Societies. London : Edward Arnold Ltd. Hamzah, Andi, dkk. 2000. Dasar dasar Hukum Perumahan. Jakarta : PT. Rineka Cipta Kuswartojo, Tjuk, dkk. 2005. Perumahan dan Permukiman Indonesia. Bandung : ITB. Mujiman, Aris Mustofa. 2010. Kajian Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) warga di Kecamatan Jetis Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. Panudju, Bambang. 1999. Pengadaan Perumahan Kota Peran serta Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Bandung : Alumni. Pratiwi, Dheni. 2011. Peran Rusunawa Cokrodirjan terhadap peningkatan kesejahteraan penghuninya.thesis. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. 74

5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka saran yang direkomendasikan terkait penelitian ini adalah : 1. Pentingnya observasi lapangan sehingga data yang diperoleh dapat lebih representatif guna memperkuat hasil analisa 2. Sebaiknya dalam melakukan penelitian mengenai karakteristik penghuni rumah susun, diperlukan metode analisa yang tidak hanya secara kuantitatif tapi juga kombinasi kualitatif agar hasil yang didapatkan lebih akurat dan memuaskan. 3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya mengenai preferensi penghuni dalam menempati rumah susun, dan bagaimana dampaknya terhadap kondisi sosial ekonomi untuk jangka panjang sebagai tindak lanjut dari penelitian mengenai alasan penghuni memilih tinggal di rumah susun yang bertujuan agar dapat mengetahui faktor paling berhubungan selain dari faktor ekonomi. 73

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan olahan data penelitian maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain : 1. Terdapat perbedaan karakteristik kondisi sosial ekonomi penghuni Rusunawa Pekunden dan Rusunawa Bandarharjo. Hal ini dibuktikan melalui analisa statistik deskriptif yang menggambarkan bahwa rata rata penghuni di Rusunawa Pekunden dan Rusunawa Bandarharjo memiliki karakteristik kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Kondisi ini dapat dilihat dari tiap variabel sosial ekonomi yang menunjukkan bahwa penghuni Rusunawa Pekunden memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik. 2. Adanya hubungan antara kondisi sosial ekonomi beberapa alasan penghuni memilih rumah susun sebagai tempat tinggal. Variabel pendapatan dianggap aspek yang paling dipertimbangkan penghuni dalam memilih rumah susun sebagai tempat hunian. Dominasi penghuni rumah susun yang merupakan golongan menengah kebawah mencerminkan bahwa sebagian besar alasan dalam menempati rumah susun adalah untuk menekan biaya hidup yang semakin meningkat, terlebih keberadaan lokasi dekat pusat kegiatan yang menandakan bahwa harga lahan akan semakin tinggi sedangkan kebutuhan akan rumah semakin meningkat. Ada kecenderungan seiring meningkatnya pendapatan maka alasan untuk memilih rumah susun sebagai tempat tinggal semakin kecil. Meningkatnya pendapatan, prioritas kebutuhan perumahannya pun akan berubah pula. Status kepemilikan rumah menjadi skala prioritas utama sehingga dapat memperluas, memelihara, atau meningkatkan kualitas rumahnya baik cenderung memilih kenyamanan dalam tempat tinggal yang lebih privasi karena tidak sedikit penghuni masih belum terbiasa pola hunian bersusun vertikal yang mengharuskan tinggal berdampingan dan menggunakan fasilitas secara bersamaan. 72

Hal ini dikarenakan masyarakat dari golongan menengah kebawah berharap tinggal di rumah susun menjadi solusi agar dapat menekan biaya hidup yang tinggi di kawasan perkotaan. Kondisi ini dicerminkan penghuni di kedua rumah susun yang memilih menempati rumah susun tersebut karena sangat dekat pusat pemerintahan dan pusat kegiatan sehingga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian rumah tangga, terlebih pada keuntungan lokasi hunian yang ditempati menandakan bahwa semakin dekat pusat aktivitas maka harga lahan akan semakin tinggi sedangkan kebutuhan akan rumah terus meningkat. Temuan penelitian menunjukan bahwa ada kecenderungan seiring meningkatnya pendapatan maka alasan untuk memilih rumah susun sebagai tempat tinggal cenderung semakin kecil. Menurut Panudju (1999) meningkatnya pendapatan, prioritas kebutuhan perumahannya pun akan berubah pula. Status kepemilikan rumah menjadi skala prioritas utama, karena penghuni cenderung ingin memiliki kejelasan tentang status rumahnya sehingga dapat memperluas, memelihara, atau meningkatkan kualitas rumahnya baik juga sebagai jaminan atas lahan yang dimiliki. 71

Tabel 4.26 Crosstab Variabel Pendapatan Rusun Bandarharjo pendapatan * Alasan memilih menempati rusun Crosstabulation Count pendapatan Dulunya tempat tinggal responden fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak <500.000 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 >500.000-1.000.000 11 4 15 12 3 15 8 7 15 14 1 15 15 0 15 >1.000.000-2.000.000 12 6 18 9 9 18 3 15 18 14 4 18 13 5 18 >2.000.000-3.000. 000 3 11 14 3 11 14 1 13 14 9 5 14 3 11 14 lokasi kerja >3.000.000 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 1 1 2 27 23 50 25 25 50 13 37 50 38 12 50 33 17 50 Nampak di kedua rumah susun didominasi kategori pendapatan rentang < Rp.500.000 2.000.000, namun terdapat pula penghuni kategori pendapatan tinggi yakni > Rp.2.000.000 yang justru memilih menetap di rumah susun. Penghuni tingkat pendapatan yang paling tinggi justru memilih rusun sebagai tempat tinggal, hal ini dapat dikarenakan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, seperti lokasi Rusun Pekunden yang berada pada pusat aktifitas dan Rusuna Bandaraharjo itu sendiri sebagai kawasan pelabuhan, industri, dan pelabuhan sehingga dekat lokasi pekerjaan, juga biaya hidup lebih dibuktikan biaya sewa yang relatif, sehingga hal tersebut menjadi faktor penarik bagi penghuni untuk tetap memilih rumah susun sebagai tempat tingggal meskipun tingkat pendapatannya termasuk kedalam kategori tinggi. Dalam hal ini pendapatan merupakan alasan yang paling kuat sebagai pertimbangan penghuni untuk memilih rumah susun sebagai tempat tinggal. Sesuai Teori Burgess yang mengemukakan bahwa umumnya masyarakat memilih hunian lebih menitikberatkan pada segi ekonomi, sehingga berusaha agar dapat mendekati pusat kegiatan aktivitasnya. Turner pun mengemukakan bahwa kondisi ekonomi seseorang berkaitan skala prioritas hidup dan prioritas kebutuhan perumahan (Panudju, 1999). Pemilihan rumah susun tersebut didasarkan pada alasan yang tentunya akan menguntungkan penghuni dari segi ekonomi. 70

Nilai signifikan pada tabel korelasi menunjukan angka 0.002, 0.009, dan 0.000. Hal ini berarti nilai signifikan < 0,05 kata lain hubungan pendapatan alasan penghuni memilih rumah susun sebagai tempat tinggal secara nyata berkorelasi. Angka korelasi yang berada di atas 0,5 menunjukan bahwa pendapatan semua alasan memilih rumah susun sebagai tempat tinggal berkorelasi kuat. Gambaran terkait hubungan tingkat pendapatan sebagai alasan penghuni dalam memilih tempat hunian juga direpresentatifkan melalui Tabel 4.24. Tabel 4.24 Crosstab Variabel Pendapatan Rusun Pekunden pendapatan * Alasan memilih menempati rusun Crosstabulation Count pendapatan Dulunya tempat tinggal responden fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak <500.000 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 >500.000-1.000.000 3 0 3 2 1 3 3 0 3 3 0 3 2 1 3 >1.000.000-2.000.000 11 2 13 3 10 13 7 6 13 8 5 13 7 6 13 >2.000.000-3.000. 000 4 3 7 0 7 7 1 6 7 0 7 7 0 7 7 lokasi kerja >3.000.000 1 4 5 1 4 5 0 5 5 1 4 5 0 5 5 21 9 30 8 22 30 13 17 30 14 16 30 11 19 30 Sumber : Hasil Analisa Hal yang sama juga nampak pada korelasi pendapatan alasan menghuni di Rusun Bandarharjo yang digambarkan melalui Tabel 4.25 dan Tabel 4.46. pendapatan Tabel 4.25 Uji Korelasi Pearson Pendapatan Alasan Menghuni Rusun Bandarharjo Correlations Pearson Correlation pendapatan Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain 1-467 -508-466 -401-590 Sig. (2-.001.000.001.004.000 tailed) N 50 50 50 50 50 50 69

dianggap memiliki keuntungan tersendiri karena dapat menekan biaya transportasi menuju tempat kerja. Pekerjaan yang dimiliki berpengaruh terhadap besar kecilnya penghasilan sehingga berkaitan pula alasan penduduk memutuskan menempati hunian. Penghuni akan cenderung memilih hunian yang dapat menekan biaya hidup, sehingga alasan menghuni karena biaya hidup yang menjadi pertimbangan bagi penghuni jenis pekerjaan yang dinilai memiliki penghasilan rendah. Kecenderungan penghuni adalah mencari hunian yang dapat mendatangkan pekerjaan yang lebih layak dari sebelumnya. Kondisi ini kemudian dibuktikan tanda (-) pada koefisien korelasi yang menandakan bahwa semakin mendapatkan pekerjaan yang dinilai lebih layak maka alasan penghuni untuk tinggal di rumah susun akan semakin kecil. 4.2.3 Korelasi Pendapatan Pendapatan merupakan salah satu faktor yang mampu menggambarkan kondisi sosial ekonomi penduduk. Dalam hal ini pendapatan turut menjadi dasar pertimbangan seseorang dalam menentukan tempat tinggal untuk dihuni. Rumah susun merupakan alternatif yang diperuntukkan bagi penduduk golongan menengah kebawah pendapatan yang rendah. Tabel 4.23 menunjukkan hubungan pendapatan alasan memilih hunian di Rusun Pekunden. Tabel 4.23 Uji Korelasi Pearson Pendapatan Alasan Menghuni Rusun Pekunden Correlations pendapatan Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain pendapatan Pearson Correlation Sig. (2- tailed) 1 -.541 -.467 -.647 -.621 -.601.002.009.000.000.000 N 30 30 30 30 30 30 Sumber : Hasil analisis 68

Spearman's rho Penghuni di Rumah susun Bandarharjo juga didominasi alasan memilih karena dekat lokasi kerja dan biaya hidup yang, seperti pada Tabel 4.21 dan Tabel 4.22. Pekerjaan Utama Tabel 4.21 Uji Korelasi Spearman s Pekerjaan Alasan Menghuni Rusun Bandarharjo Correlations Correlation Coefficient Pekerjaan Utama Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain 1.000.100 -.846 -.085 -.973.052 Sig. (2-..488.028.557.005.720 tailed) N 50 50 50 50 50 50 Tabel 4.22 Crosstab Variabel Pekerjaan Rusun Bandarharjo Count lokasi kerja Biaya hidup Pekerjaan Utama Ya Tidak Ya Tidak PNS/TNI/POLRI 0 2 2 2 0 2 Pengusaha 1 0 1 1 0 1 Buruh Industri 4 6 10 7 3 10 Buruh bangunan 4 2 6 4 2 6 Pedagang 5 4 9 7 2 9 Pengangkutan 7 2 9 7 2 9 Pensiunan 1 1 2 2 0 2 Lainnya (jasa) 3 8 11 8 3 11 25 25 50 38 12 50 Nilai signifikansi <0.05 ditunjukkan pada hubungan jenis pekerjaan alasan karena dekat lokasi kerja dan biaya hidup yang, hal ini menunjukkan bahwa variabel tersebut berkorelasi secara nyata. Alasan memilih menghuni Rusun Bandarharjo karena dekat lokasi kerja menjadi pertimbangan penghuni berdasarkan jenis pekerjaan yang dimilikinya. Sebagai kawasan industri, pelabuhan, dan perdagangan, mata pencaharian penghuni didominasi sebagai buruh dan pengangkutan, sehingga dekat lokasi kerja 67

Spearman's rho Tabel 4.19 Uji Korelasi Spearman s Pekerjaan Alasan Menghuni Rusun Pekunden Correlations Pekerjaan Utama Pekerjaan Utama Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain Correlation 1.000 -.176.847.801 -.071 -.183 Coefficient Sig. (2-..353.037.048.710.332 tailed) N 30 30 30 30 30 30 Tabel 4.20. Crosstab Variabel Pekerjaan Rusun Pekunden Pekerjaan Utama * Alasan memilih menempati rusun Crosstabulation Count Pekerjaan Utama lokasi kerja fasilitas umum Ya Tidak Ya Tidak PNS/TNI/POLRI 0 2 2 1 1 2 Pengusaha 3 5 8 5 3 8 Buruh Industri 1 4 5 3 2 5 Buruh bangunan 0 2 2 2 0 2 Pedagang 2 5 7 2 5 7 Karyawan 0 1 1 1 0 1 pensiunan 0 1 1 1 0 1 lainnya (jasa) 2 2 4 2 2 4 8 22 30 17 13 30 Hasil uji korelasi pada menunjukkan bahwa hubungan antara jenis pekerjaan alasan penghuni memilih tinggal di rumah susun berkorelasi secara nyata. Tinggal di rumah susun diharapkan dekat lokasi pekerjaan sehingga dapat memudahkan dalam aksesbilitas menuju lokasi pekerjaan dan menekan biaya yang dikeluarkan. Selain itu, rumah susun Pekunden dekat berbagai fasilitas umum sehingga jenis pekerjaan seperti pengusaha dan pedagang memilih alasan tersebut sebagai keuntungan tersendiri untuk pekerjaannya. 66

Variabel yang memiliki hubungan paling kuat adalah korelasi atara pendidikan yang ditamatkan alasan menghuni Rusun Bandarharjo karena alasan lain, yang juga di gambarkan melalui crosstab pada Tabel 4.18. Tabel 4.18 Crosstab Variabel Pendidikan Bandarharjo Count Pendidikan Ditamatkan Belum pernah sekolah Belum tamat SD/Sederajat Tamat SD/Sederajat Tamat SMP/sederajat Alasan lain Ya Tidak 1 0 1 1 0 1 12 7 19 12 6 18 Tamat SMA/sederajat 4 3 7 Diploma 1 1 2 Sarjana 2 0 2 33 17 50 Sumber : Hasil Analisa Tabel 4.18 ini menggambarkan bahwa pendidikan kepala keluarga yang hanya SD dan SMP mendominasi pilihan alasan lain. Berdasarkan temuan penelitian, alasan lain ini diantaranya karena banjir sehingga memilih hunian secara vertikal, tidak memiliki tempat tinggal, dan rumah susun warisan dari orangtua. Ada kecenderungan bahwa kepala keluarga tingkat pendidikan yang tergolong rendah akan memilih menghuni rusun dikarenakan tidak ada pilihan lain, tidak memiliki keinginan untuk mencari hunian yang lebih layak karena mengandalkan bekas hunian orangtua, sehingga menerima kondisi yang didapat. 4.2.3 Korelasi Pekerjaan Hubungan jenis pekerjaan alasan penghuni memilih rumah susun sebagai tempat hunian digambarkan melalui Uji Korelasi Sperman s pada Tabel 4.19 dan Tabel 4.20. 65

Tabel 4.16 Crosstab Variabel Pendidikan Pendidikan Ditamatkan * Alasan memilih menempati rusun Crosstabulation Count lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Spearman's rho Pendidikan Ditamatkan Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Belum tamat SD/Sederajat 1 0 1 1 0 1 1 0 1 Tamat SD/Sederajat Tamat SMP/sederajat Tamat SMA/sederajat 0 2 2 1 1 2 1 1 2 6 4 10 7 3 10 7 3 10 1 15 16 4 12 16 5 11 16 Sarjana 0 1 1 0 1 1 0 1 1 8 22 30 13 17 30 14 16 30 Sumber : Hasil Analisa Tabel 4.16 menunjukkan bahwa alasan memilih menghuni rumah susun di Rusun Pekunden berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan dominasi jawaban oleh jenjang pendidikan SMP/sederajat. Menurut teori human capital, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang mempengaruhi keberhasilan dalam memperoleh pekerjaan dan penghasilan. Semakin tinggi pendidikan, pilihan pilihan hidup akan semakin banyak dan baik. Maka kecenderungan untuk berkeinginan hidup layak dan sejahtera juga akan semakin tinggi. Hal ini berarti semakin tinggi pendidikan maka keinginan untuk memilih rumah susun sebagai tempat tinggal justru tidak ada, yang ditandai nilai koefisien korelasi yang negatif. Berbeda penghuni di Rusun Bandarharjo seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.17. Tabel 4.17 Uji Korelasi Pendidikan Alasan Menghuni Rusun Bandarharjo Correlations Pendidikan Ditamatkan Correlation Coefficient Sig. (2- tailed) Pendidikan Ditamatkan Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain 1.000 -.118 -.057.053.103 -.831..416.694.713.477.031 N 50 50 50 50 50 50 Sumber : Hasil Analisa 64

tempat tinggal yang menjadi prioritas meskipun rumah yang ditempati tidak sesuai kondisi jumlah anggota rumah tangga yang tergolong banyak. Spearman's rho 4.2.2 Korelasi Pendidikan Pendidikan merupakan faktor yang mencerminkan tingkat kesejahteraan penduduk, diasumsikan keberhasilan menamatkan jenjang pendidikan yang tinggi akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang didapat dan besar kecilnya penghasilan. Oleh karena itu kondisi sosial ekonomi penghuni ini akan dikaitkan alasan penghuni dalam memilih tinggal di rumah susun seperti pada Tabel 4.15 Uji Korelasi Spearman s pendidikan alasan menghuni di Rusun Pekunden. Tabel 4.15 Uji Korelasi Spearman s Pendidikan Alasan Menghuni Rusun Pekunden Pendidikan Ditamatkan Correlation Coefficient Sig. (2- tailed) Pendidikan Ditamatkan Correlations Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja degan fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain 1.000 -.219 -.488 -.453 -.398 -.173..245.006.012.029.361 N 30 30 30 30 30 30 Sumber : Hasil analisis Hasil uji korelasi yang menunjukkan nilai signifikansi < 0.05 yaitu hubungan antara tingkat pendidikan ditamatkan alasan memilih menghuni Rusun Pekunden karena dekat lokasi kerja, dekat fasilitas umum, dan biaya hidup yang, meskipun tidak berkorelasi secara kuat. Hal ini digambarkan pula melalui Tabel 4.16. 63

Tabel 4.13 Uji Korelasi Jumlah Alasan Menghuni di Rusun Bandarharjo Correlations Jumlah Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain Jumlah Pearson Correlation 1 -.142 -.128 -.098.962 -.036 Sig. (2-.325.374.499.007.802 tailed) N 50 50 50 50 50 50 Sumber : Hasil Analisa Nampak bahwa biaya hidup yang juga menjadi pertimbangan penghuni menurut jumlah anggota rumah tangganya dalam memutuskan memilih tinggal di rumah susun. Tabel 4.14 Crosstab Variabel Jumlah Bandarharjo Jumlah * Alasan memilih menempati rusun Crosstabulation Count Jumlah Biaya hidup Ya Tidak 2 2 1 3 3 7 1 8 4 18 6 24 5 5 3 8 6 5 1 6 7 1 0 1 38 12 50 Biasanya penghuni anggota rumah tangga sedikit cenderung akan menempati hunian tipe yang kecil yakni 27 m 2. Namun pada praktiknya, unit rumah susun tipe paling kecil ditempati oleh penghuni anggota rumah tangga lebih dari 4 orang, bahkan mencapai 7 anggota rumah tangga dalam satu unit rumah susun bertipe kecil. Kecenderungan ingin memiliki 62

menunjukkan bahwa nilai signifikansi < 0.05, hal ini berarti terdapat hubungan antara banyak alasan menghuni rumah susun karena biaya hidup atau secara nyata berkorelasi. Nilai koefisien korelasi 0.802 menunjukkan bahwa banyaknya anggota rumah tangga berkorelasi secara kuat, dalam hal ini meskipun banyak terdapat alasan untuk tinggal di rumah susun namun yang paling memiliki hubungan variabel jumlah adalah alasan karena biaya hidup yang. Biaya hidup yang menjadi pertimbangan penghuni dalam memilih menempati rumah susun meskipun jumlah dirasa tidak sesuai untuk menetap dirumah susun. Digambarkan pula melalui Tabel 4.12. Tabel 4.12 Crosstab Variabel Jumlah Pekunden Crosstabulation Count Alasan memilih rusun karena biaya hidup Ya Tidak Banyak 2 1 3 4 3 4 3 7 4 8 8 16 5 1 2 3 14 16 30 Berdasarkan temuan penelitian, dari total 30 responden penghuni Rusunawa Pekunden, sebanyak 14 responden yang memilih menempati rumah susun dikarenakan jumlah anggota rumah tangganya. Tinggal di rumah susun dianggap menjadi solusi agar dapat menekan biaya hidup. Begitu pula penghuni Rusunawa Bandarharjo yang hanya 18 penghuni yang menjadikan banyaknya anggota rumah tangga sebagai alasan untuk memilih tinggal di rumah susun dibanding permukiman lainnya. Korelasi jumlah alasan memilih tinggal di rumah susun Bandarharjo dibuktikan melalui Tabel 4.13. 61

Korelasi Spearman s (Santoso,2012). Dalam hal ini variabel kondisi sosial ekonomi terdiri dari jenis skala data bertipe nominal, ordinal, dan rasio, sedangkan variabel alasan penghuni memilih menempati rumah susun merupakan jenis skala data bertipe rasio setelah dikuantifikasikan skala datanya. Pengujian untuk mengetahui apakah korelasi dikatakan signifikan, dasar hipotesis : Ho = tidak ada hubungan (korelasi) H1 = ada hubungan (korelasi) Berdasarkan signifikansi : Jika nilai signifikansi > 0,05 maka Ho diterima Jika nilai signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak Banyak 4.2.1 Korelasi Jumlah Jumlah anggota rumah tangga dianggap turut menjadi dasar pertimbangan penghuni dalam memilih tinggal dirumah susun. Hal ini dapat dibuktikan melalui korelasi jumlah alasan memilih menempati rusun baik di Rumah susun Pekunden dan Rumah susun Bandarharjo seperti pada Tabel 4.11 dan Tabel 4.13. Tabel 4.11 Uji Korelasi Jumlah Alasan Menghuni di Rusun Pekunden Correlations Pearson Correlation Sig. (2- tailed) Banyak Dulunya tempat tinggal responden lokasi kerja fasilitas umum Biaya hidup Alasan lain 1.398 -.018 -.016.802 -.115.029.925.933.048.544 N 30 30 30 30 30 30 Berdasarkan Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa jumlah memiliki hubungan alasan penghuni memilih tinggal di rumah susun karena biaya hidup yang, ditunjukkan nilai signifikansi 0.048. Dasar pengambilan keputusan sesuai hipotesis yang telah disebutkan sebelumnya 60

fasilitas dan layanan umum sehingga sulit dalam menjangkau aksesbilitas. Oleh karena itu, tidak sedikit penghuni rumah susun yang tidak memilih alasan menetap di rumah susun dikarenakan dekat fasilitas umum. Kondisi penghuni rumah susun lainnya adalah permasalahan yang kerap terjadi dan kegiatan rutin yang dilakukan sebagai bentuk interaksi sosial antar penghuni. Dalam menempati rumah susun, setidaknya ada banyak sedikit permasalahan yang terjadi seperti kondisi sarana prasarana lingkungan yang buruk, konflik sosial antar penghuni, ataupun masalah lainnya, namun di kedua rusunawa daerah kajian tidak sering terjadi permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini dikarenakan penghuni yang menempati rumah susun tersebut merupakan penghuni lama sehingga sifat kekeluargaan dan gotong royong sudah tertanam sehingga dapat meminimalisir konflik yang terjadi. Kondisi ini dibuktikan kegiatan rutin yang dilakukan penghuni. Mayoritas terdapat kegiatan rutin antar penghuni di masing masing rumah susun daerah kajian intensitas waktu minimal 1 bulan sekali, kemudian terdapat kegiatan gotong royong dalam memperbaiki dan menjaga fasilitas rumah susun karena hal tersebut merupakan tanggung jawab dan bentuk interaksi sosial yang dilakukan penghuni. 4.2 Hubungan kondisi sosial ekonomi alasan memilih menempati rumah susun Yeates dan Garner (1980) dalam memutuskan untuk menentukan rumah hunian sebagai tempat tinggal, aspek yang dipertimbangkan salah satunya adalah lingkup sosial ekonomi, jumlah penghasilan, pekerjaan, banyaknya anggota rumah tangga, dan sebagainya. Oleh karena itu, salah satu tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kondisi sosial ekonomi alasan penghuni memilih tinggal di rumah susun melakukan uji korelasi Pearson dan Spearman s. Penggunaan Korelasi Pearson didasarkan apabila kedua variabel memiliki skala data tipe interval atau rasio. Jika salah satu variabel sosial ekonomi yang digunakan bertipe nominal atau ordinal, maka korelasi menggunakan 59

harga lahan semakin tinggi, kondisi ini tentunya menjadi nilai ekonomis tersendiri bagi para penghuni. Memiliki tempat hunian yang lebih layak dari sebelumnya, berada di pusat kota, mudah dalam aksesbilitas, ditambah biaya sewa yang adalah alasan penghuni Rusunawa Pekunden untuk memilih tinggal di rumah susun ditengah sulitnya mencari tempat hunian untuk ditinggali. Gambar 4.8 Diagram Batang Alasan Penghuni Memilih Tinggal di Rusunawa Pekunden dan Rusunawa Bandarharjo (Sumber : Survey Lapangan, 2013) Selain karena lokasi rusun dulunya merupakan tempat tinggal responden, penghuni Rusunawa Bandarharjo mayoritas memilih tinggal di rumah susun tersebut juga dikarenakan faktor biaya hidup yang. Meskipun temuan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa adanya land subsidence yang terjadi pada bangunan rumah susun, namun hal ini tidak menjadi halangan bagi penghuni untuk mengurungkan niat menempati rumah susun. Biaya hidup yang jauh lebih menjadikan alasan pertimbangan penghuni untuk memilih tinggal. Tidak hanya itu, terdapat faktor lainnya yang menjadi alasan penghuni menetap di Rusunawa Bandarharjo, salah satunya dikarenakan banjir. Lokasi ini seringkali terkena banjir rob karena berada pada daerah pesisir. Keputusan penghuni untuk tinggal di rumah susun model vertikal diharapkan mampu menjadi solusi dalam menangani banjir di kawasan Kelurahan Bandarharjo. Sebagian penghuni memilih menetap di Rusunawa Bandarharjo dikarenakan dekat lokasi pekerjaan mereka yang mayoritas didominasi oleh pekerja buruh. Meskipun lokasi Bandarharjo ini merupakan pusat kegiatan industri, bangunan, dan pelabuhan namun rumah susun tersebut tidak dekat 58

Tabel 4.10 Alasan Penghuni Memilih tinggal di Rusunawa Daerah Kajian Pekunden Bandarharjo Alasan Memilih tinggal di rusun Ya Tidak Ya Tidak Lokasi rusun dulunya merupakan lingkungan tempat 20 10 27 23 tinggal responden lokasi pekerjaan 8 22 25 25 fasilitas dan layanan umum 20 10 13 37 Biaya hidup lebih 15 15 38 12 Alasan lain 4 26 33 17 Sumber : Hasil Analisa Dari hasil olah data didapat bahwa dominasi alasan penghuni memilih tinggal di kedua rumah susun kajian nampak berbeda. Alasan penghuni rumah susun memilih untuk tinggal di Rusunawa Pekunden mayoritas dikarenakan lokasi rusun dulunya merupakan lokasi tempat tinggal responden sebagai akibat proyek peremajaan kawasan kumuh dan liar di perkotaan. Selain itu alasan dominan lainnya karena lokasi Rusunawa Pekunden yang dekat fasilitas dan layanan umum, sehingga menjadi keuntungan tersendiri sebagai faktor penarik penghuni untuk memilih tinggal di Rusunawa Pekunden. fasilitas dan layanan umum merupakan aksesbilitas dan memudahkan penghuni dalam memperoleh sarana dan prasaran yang memadai. Rusunawa Pekunden yang berada di pusat padat aktivitas mendukung kemudahan penghuni dalam memperoleh kebutuhan sehari hari. Berbeda alasan memilih tinggal di rumah susun karena dekat lokasi pekerjaan, penghuni Rusunawa Pekunden mayoritas tidak menjadikan lokasi pekerjaan sebagai faktor pendorong untuk memilih tinggal di rumah susun tersebut. Hal ini dikarenakan, latar belakang penghuni rumah susun sebelumnya ingin menetap di pusat kota agar memudahkan dalam mencari peluang pekerjaan dan menjangkau aksesbilitas. Kondisi ini yang membuat penghuni tetap memilih tinggal di Rusunawa Pekunden meskipun lokasi pekerjaan yang tidak dekat. Hal tersebut didukung pula oleh biaya hidup yang ditandai biaya sewa yang relatif cenderung lebih rendah. Terlepas pada anggapan bahwa lokasi yang semakin dekat pusat aktivitas maka 57

Lanjutan Tabel 4.9 Tabel Jumlah Penghuni yang Berasal Dari Luar Kota Semarang Jatim 1 Jepara 1 Kebumen 1 Pati 1 Surabaya 2 50 Sumber : Survey Lapangan, 2013 Penghuni di kedua rumah susun ini mayoritas sebagai penghuni pertama yang menempati lamanya hunian sekitar > 6 tahun. Hal ini dikarenakan sebagian besar penghuni merupakan warga yang berasal dari lingkungan sekitar tempat rumah susun yang terkena proyek peremajaan kawasan kumuh dan liar di perkotaan. Temuan penelitian terdapat beberapa penghuni menempati rumah susun bekas orang tuanya yang sebelumnya sudah lama menempati rumah susun tersebut. Kondisi tersebut menggambarkan adanya alih fungsi kepemilikan namun masih prioritas keluarga dari penghuni sebelumnya yang terkena proyek kampung kumuh. Hal ini digambarkan oleh komposisi umur kepala keluarga yang masih tergolong muda namun data penghuniannya merupakan penghuni pertama yang > 6 tahun. Banyak hal yang menjadi pertimbangan penghuni dalam memilih tinggal di rumah susun yang berkaitan kondisi sosial ekonominya. Selain rata- rata penghuni berasal dari kawasan sekitar rumah susun, adapula penghuni yang memang sengaja berurbanisasi ke Kota Semarang kemudian memilih tinggal di rumah susun karena dekat pusat Kota Semarang. Alasan penghuni untuk memilih tinggal di rumah susun baik Rusunawa Pekunden ataupun Rusunawa Bandarharjo bermacam macam seperti pada Tabel 4.10. 56

4.1.6 Penghunian Kondisi penghunian ini dilihat dari latar belakang penghuni rumah susun, alasan memilih tinggal di rumah susun, permasalahan yang dihadapi serta interaksi sosial penghuni melalui kegiatan yang rutin dilakukan antar penghuni di kedua kajian rumah susun. Penghuni Rusunawa Pekunden sebagian besar berasal dari Semarang, sedangkan dari luar Semarang hanya terdapat satu responden yakni berasal dari Majalengka. Tabel 4.7 Tabel Frekuensi Asal Daerah Penghuni Rusunawa Pekunden Persentase Persentase Frekuensi Persen Valid Komulatif Valid Semarang 29 96.7 96.7 96.7 Luar Semarang 1 3.3 3.3 100.0 30 100.0 100.0 Berbeda penghuni Rusunawa Bandarharjo, yang meskipun didominasi oleh penghuni yang berasal dari Kota Semarang, namun tidak sedikit pula yang berasal dari luar semarang. Hal ini ditunjukan pada Tabel 4.8 dan 4.9. Tabel 4.8 Tabel Frekuensi Asal Daerah Penghuni Bandarharjo Persentase Persentase Frekuensi Persen Valid Komulatif Valid Semarang 37 74.0 74.0 74.0 Luar Semarang 13 26.0 26.0 100.0 50 100.0 100.0 Tabel 4.9 Tabel Jumlah Penghuni yang Berasal Dari Luar Kota Semarang Asal Daerah Jumlah Penghuni Blora 1 Demak 5 Indramayu 1 55