BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahasa, hingga kebudayaan yang beragam. Kebudayaan yang dimiliki Indonesia

dokumen-dokumen yang mirip
BAHAN USBN AKORD. = 2 1 ½ m = 1 ½ 2 dim = 1 ½ - 1 ½ M 7 = 2 1 ½ - 2 m 7 = 1 ½ 2-1 ½ 7 = 2 1 ½ - 1 ½ Sus 4 = = 2 ½ - 1 Sus 2 = = 1 2 ½

14 Alat Musik Tradisional Jawa Tengah, Gambar dan Penjelasannya

Amstrong, Karen, 2002, Sejarah Tuhan, Bandung: Mizan. Al-Barry, M. Dahlan Yakub, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola

BAB VI KESIMPULAN. Pada dasarnya Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan. kosmologi Jawa, yang meletakkan keseimbangan dan keselarasan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Namun, disisi lain nilai kesetiakawanan sosial semakin berkurang, sehubungan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara

dari pengalaman tertentu dalam karya seninya melainkan formasi pengalaman emosional yang bukan dari pikiranya semata. 2.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia terdiri dari banyak suku yang tersebar dari Sabang sampai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia dikenal dengan keberagaman tradisinya, dari

UCAPAN TERIMA KASIH...

PENGARUH RESONATOR TERHADAP BUNYI NADA 3 SLENTHEM BERDASARKAN SOUND ENVELOPE. Agung Ardiansyah

BAB I PENDAHULUAN. cerdas, sehat, disiplin, dan betanggung jawab, berketrampilan serta. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi misi dan visi

BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab pertama ini akan diuraikan secara berturut-turut : (1) latar

BAB I PENDAHULUAN. pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang terdapat di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prima Suci Lestari, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses realisasi karya seni bersumber pada perasaan yang

NILAI-NILAI SIKAP TOLERAN YANG TERKANDUNG DALAM BUKU TEMATIK KELAS 1 SD Eka Wahyu Hidayati

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan. Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan.zip

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Jurnal Teologi Gema Duta Wacana edisi Musik Gerejawi No. 48 Tahun 1994, hal. 119.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB IV PENUTUP. Berdasarkan data yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa slentho

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara institusional objek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. suku, ras, agama dan kebudayaan. Kemajemukan yang lahir ini justru. para generasi penerus sebagai asset bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. serta mudah dipahami oleh orang awam lantaran pendekatan-pendekatan

Filsafat Ilmu dalam Perspektif Studi Islam Oleh: Maman Suratman

BAB V KESIMPULAN. Adaptasi dalam Jêmblungan berdampak pada perubahan. garap pertunjukannya sebagai media hiburan. Adalah ngringkês

BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu unsur kebudayaan dan sebagai salah satu perantara sosial

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Musik dipergunakan untuk memuja dewa-dewi yang mereka percaya sebagai. acara-acara besar dan hiburan untuk kerajaan.

2015 KESENIAN MACAPAT GRUP BUD I UTOMO PAD A ACARA SYUKURAN KELAHIRAN BAYI D I KUJANGSARI KOTA BANJAR

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan gambaran hasil rekaan seseorang yang. memiliki unsur-unsur seperti pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian. Kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia Aspek-aspek religiusitas..., Dhanang 1 Pramudito, FIB UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kenyataannya pada saat ini, perkembangan praktik-praktik pengobatan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. a. Kebudayaan sebagai proses pembangunan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN. Sastra sebagai cabang dari seni, yang keduanya unsur integral dari

BAB I PENDAHULUAN. yang mendengarkan alunan musik selalu menggerak-gerakan anggota. Tuhan yang diberikan kepada seluruh manusia tanpa membedakan jenis

BAB I PENDAHULUAN. referensial (Jabrohim 2001:10-11), dalam kaitannya dengan sastra pada

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia yang mempunyai ribuan pulau dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat melimpah. Salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (blackberry massanger), telepon, maupun jejaring sosial lainnya. Semua itu

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan sesuai dengan dinamika peradaban yang terjadi. Misalnya,

BAB I PENDAHULUAN. depan yang lebih baik untuk memperbaiki budaya saat ini. Seperti yang dikatakan

BAB I PENDAHULUAN. umumnya memperlihatkan Metalofon, Gambang, Gendeng dan Gong yang

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS KEISLAMAN DENGAN SIKAP TERHADAP RITUAL PENGRAWIT PADA MAHASISWA ISI SURAKARTA

BAB II LANDASAN TEORI. tradisi slametan, yang merupakan sebuah upacara adat syukuran terhadap rahmat. dan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.

UKDW LATAR BELAKANG. Sebagai tempat wisata dan edukasi tentang alat musik tradisional jawa. Museum Alat Musik Tradisional Jawa di Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman

KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SEKOLAH DASAR KELAS I - VI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari, seperti halnya puisi karya Nita Widiati Efsa yang berisi tentang

ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut terdapat dalam poin-poin berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Melalui perjalanan panjang sejarah, seni sebagai bidang khusus dalam pemahamannya telah mengalami banyak perubahan.

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Dewi Lestari adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini dikemukakan beberapa poin di antaranya latar belakang

ARTIKEL TENTANG SENI TARI

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang sangat kompleks. Didalamnya berisi struktur-struktur yang

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan hasil pekerjaan kreatif manusia. Karya sastra

2015 GARAPAN PENYAJIAN UPACARA SIRAMAN CALON PENGANTIN ADAT SUNDA GRUP SWARI LAKSMI KABUPATEN BANDUNG

Petunjuk Teknis Pelaksanaan AKSARA 2017

BAB I PENDAHULUAN. mereka miliki dengan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Bali secara umum memiliki peran di dalam keberlangsungan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. sastra sangat dipengaruhi oleh bahasa dan aspek-aspek lain. Oleh karena

BAB II LANDASAN TEORI. menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. terhadap api dan segala bentuk benda tajam. Seni dan budaya debus kini menjadi

CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR)

BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan musik di dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara kepulauan yang majemuk. Terdapat banyak suku, bahasa, hingga kebudayaan yang beragam. Kebudayaan yang dimiliki Indonesia mengandung unsur-unsur filosofis yang menggambarkan jati diri bangsa Indonesia. Kemajemukan budaya tersebut bukan sebagai pemisah budaya satu dengan yang lain, tetapi untuk menyatukan setiap perbedaan agar selalu menghargai satu dengan yang lain. Salah satu bentuk kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia yaitu musik. Musik atau khususnya tangga nada secara historis ditemukan oleh Pythagoras berdasarkan hukum alam. Pikiran manusia dapat merasakan adanya vibrasi dan proposisi nada sebagai nada musik dan interval. Hal ini sejalan dengan pikiran Pythagoras bahwa nada dan interval adalah refleksi dari tataran spiritual dan alam semesta (Djohan, 2006:52). Musik dalam pemikiran phytagoras merupakan manifestasi pemusik terhadap alam semesta. Gamelan merupakan salah satu musik tradisional Indonesia, khususnya Jawa. Sumarsam berpendapat bahwa gamelan memiliki arti tetabuhan. Digamel berarti ditabuh atau dipukul, maka dari itu untuk memainkan gamelan adalah dengan cara ditabuh atau dipukul. Di dalam bahasa halus, gamelan biasa disebut gongso. Kata gongso ini berasal dari kata goso yaitu sejenis logam yang dicampur tembaga atau timah dan rejasa, singkatnya nama bahannya. (Siswanto, 2012: 5). 1

2 Gamelan Jawa sering dianggap sebagai musik yang kuno, bahkan beberapa orang menganggap gamelan Jawa banyak terdapat unsur hal gaib. Gamelan Jawa apabila ditelusuri lebih lanjut banyak pelajaran yang diambil, contohnya cara pembelajaran leluhur terhadap cara laku manusia Jawa. Beberapa pemusik dunia mengganggap gamelan Jawa adalah manifestasi keindahan alam atau surga di bumi. Mengutip Surjodiningrat, menurut maestro gitar spanyol Andres Segovia, gamelan Jawa bila diperhatikan para pemainnya berasa tak mempedulikan pemain lainnya, akan tetapi alunan tersebut malah terdengar indah dan keseluruhan harmoni gamelan tersebut sangat menakjubkan. Segovia menanggap gamelan Jawa ibarat surga di bumi (Surjodiningrat, 1970:2). Gamelan mempunyai banyak alat musik, dan setiap alat musiknya memiliki kekhasnya sendiri-sendiri. Menurut Susetya Alat musik gamelan terdiri, 1) Kendhang; 2) Kethuk; 3) Kenong; 4) Gong; 5) Kempul; 6) Rebab; 7) Gender; 8) Gambang; 9) Slethem, Demung, Saron; 10) Bonang; 11) Celempung, Bonang Penerus. Gamelan di Indonesia khususnya Jawa terdapat 2 laras; slendro dan pelog (susetya, 2007: 83-84). Maka tidak salah apabila filosofi gamelan adalah guyub rukun atau gotong-royong. Makna tersebut seperti cita-cita pendiri bangsa Indonesia yang mencari identifikasi yang tepat untuk rakyat Indonesia. Laras gamelan ialah bentuk harmoni untuk kelangsungan gamelan sebagai musik. Harmoni yang terdapat pada Gamelan Jawa bisa menimbulkan suatu ketenangan batin bagi penikmat maupun pelaku gamelan. Menurut Susanti, secara filosofi gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat

3 Jawa berkaitan dengan seni budaya yang berupa gamelan Jawa, serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianut (Susanti,1996:57). Harmoni gamelan Jawa yang tertinggi biasa dikatakan Gending (Dewantara,2013:175). Gamelan yang membentuk suara harmoni bagi masyarakat Jawa menjadi salah satu cara untuk mencari ketenangan batin bahkan menjadi suatu cara untuk mencapai kepada yang kudus atau mistik kejawen. Clifford Geertz mengatakan bahwa bermain gamelan merupakan disiplin spiritual, bukan hanya sekedar hiburan. Pemain gamelan sering memainkan serta mendengarkan harmoni gamelan Jawa sejenak pada malam hari untuk mendisiplinkan dan mengendalikan perasaan pemain gamelan, untuk menjadikan pemain gamelan alus (Geertz, 2014: 403). Mistik Jawa lebih berkaitan dengan etika atau gaya hidup masyarakat Jawa tentang kehidupan. Masyarakat Jawa menanggapi bagaimana manusia berperilaku kepada alam dan manusia itu sendiri. Mistik dalam dunia Barat, dianggap sesuatu yang dekat dengan kerahasiaan. Mistik menyentuh keyakinan dan religiusitas pribadi, tidak untuk dikonsumsi publik (Mulder, 2013: 2). Menurut Geertz, mistisisme di Jawa adalah metafisika terapan, serangkaian aturan untuk memperkaya kehidupan batin manusia yang didasarkan pada analisis intelektual atau pengalaman ( Geertz, 2014: 446). Mistik Jawa dalam masa sekarang, biasa dianggap sebagai klenik atau hal yang berbau gaib. Padahal mistik sendiri ialah tatacara untuk menyatu atau dekat dengan Tuhan. Mistik lebih kepada praktik dan praktik tersebut langsung kepada Tuhan. Mitos dengan mistik kadang disamkan oleh beberapa masyarakat Jawa.

4 Mitos ialah hal yang berkebendaan atau suatu materi yang lebih disakralkan dan dianggap benar kebenarannya. Mitos lebih berkaitan dengan cerita-cerita rakyat yang berkembang di suatu tempat. Bunyi atau alunan musik dalam harmoni gamelan Jawa hampir sama dengan bunyi alam semesta. Menurut Edho, bunyi dalam harmoni gamelan Jawa bisa membuat pendengar memasuki konsep alam yang berbeda di kenyataannya untuk mencapai ke kosmos (konsep ruang dan waktu yang berbeda). Alunan harmoni gamelan Jawa merupakan salah satu bagian untuk para mistikus menciptakan suasana sakral dalam menghadap kepada Yang Kudus. Contohnya, Gending Pakurmatan ialah salah satu gending (bentuk alunan Gamelan Jawa), yang biasa di sajikan untuk menyertai acara-acara tertentu atau pada suatu acara tertentu, baik kelengkapan upacara ritual, agama, kepercayaan, kerajaan, masyarakat maupun keluarga (Edho, 2012: 35) Harmoni gamelan Jawa bisa mengiringi musik bersifat keagaman sampai musik yang santai dan tenang. Mengutip Susanti, S. Reksosusilo mengemukakan bahwa gamelan Jawa mampu membuat hati bergetar bila didengarkan, sehingga baginya lebih mudah menghayati keagaman iman kristen dalam suasana gamelan. Iman Kristen dalam suasana gamelan lebih bisa diyakinkan dengan ungkapan rasa keagamaan yang dalam (Susanti, 1996: 15). Penelitian ini membahas tentang hubungan antara harmoni gamelan Jawa sebagai jalan mistik. Jalan mistik ialah sarana untuk mencapai mistik. Pythagoras dalam konsep musik menghubungkan dengan nilai-nilai spiritual bahkan seseorang akan menuju kedamaian, ketenangan, kenyamanan melalui proses

5 bersatu dengan alam melalui musik. Masyarakat Jawa pada masa sekarang kurang mempedulikan gamelan akibat masuknya unsur musik yang dibawa oleh bangsa barat. Gamelan khususnya di Jawa kadang dianggap oleh para masyarakat Jawa sebagai musik kuno dan sebagainya, padahal apabila dibahas lebih lanjut gamelan Jawa memiliki unsur etika Jawa bahkan bisa menjadi alat penghubung dengan yang kudus. Peneliti mengharapkan penelitian tentang harmoni gamelan Jawa bisa dipelajari lagi mulai segi etika, gending, hubungan dengan yang kudus dan semua yang berhubungan dengan gamelan Jawa. Peneliti menghubungkan bagaimana konsep phytagoras tentang musik menuju jalan spiritual yang di praktekkan di Indonesia, salah satunya dengan gamelan khususnya gamelan Jawa. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Apa hakikat harmoni musik dalam gamelan Jawa? b. Apa saja jalan yang ditempuh untuk mencapai mistik Jawa? c. Apa makna harmoni gamelan Jawa dipandang sebagai jalan mistik Jawa? 2. Keaslian Penelitian Fokus kajian dalam penelitian ini adalah tentang konsep harmoni gamelan Jawa dilihat dari segi musik, yang selanjutnya akan dianalisis menggunakan teori mistik Jawa. Sejauh pengamatan dan penelusuran mengenai karya-karya ilmiah di lingkungan fakultas Filsafat UGM dan di luar fakultas Filsafat. Penelitian yang membahas dan mengkaji mengenai gamelan sudah ada. Penulis tidak menemukan

6 penelitian yang mengkaji gamelan Jawa ditinjau dari mistik Jawa. Berikut penulis menemukan beberapa karya yang berkaitan dengan tema: a. Rizki Andi Prabowo. 2006. Harmonisasi batin manusia melalui Etika Mistik Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. b. Sukatmi Susanti. 1996. Inkulturasi Gamelan Jawa di gereja-gereja Katolik Yogyakarta. Tesis. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta c. Ilga Liona Brenda Christie. 2015. Pembentukan Karakter pada Pelaku Kesenian Tradisional Gamelan Jawa. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. d. Panji Prasetyo. 2012. Seni Gamelan Jawa sebagai Reprentasi Tradisi Kehidupan Manusia Jawa dalam Pandangan Collingwood. Tesis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Terkait dengan keaslian penelitian, peneliti menganalis keterkaitan hamoni musik gamelan Jawa dengan mistik khususnya mistik Jawa. Peneliti memfokuskan pada pembahasan harmoni musik gamelan Jawa dan alat gamelan sebagai jalan menuju mistik khususnya mistik Jawa 3. Manfaat Penelitian a. Bagi Filsafat Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana baru pada cabang ilmu filsafat. Mampu memberikan wawasan baru mengenai kajian filsafat dalam gamelan Jawa dan Mistik Jawa. b. Bagi Kalangan Akademis dan Masyarakat

7 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah pemahaman masyarakat dan kalangan akademis terhadap kajian dalam gamelan Jawa dan mistik Jawa. c. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang semakin matang di bidang filsafat mistik dan tentang gamelan Jawa. sehingga, dapat menyumbangkan pengetahuan baru tentangnya. B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: a. Menjelaskan dan memaparkan harmoni gamelan Jawa b. Memaparkan dan menjelaskan Mistik Jawa c. Menganalisis harmoni gamelan Jawa ditinjau sebagai jalan musik Jawa C. Tinjauan Pustaka Gamelan merupakan alat musik tradisional yang sarat pesan makna masyarakat Jawa. Gamelan dengan segala filosofisnya mengisyaratkan tentang makna Guyub Rukun. Guyub Rukun ialah penuh kegotong-royongan atau kebersamaan yang dipimpin oleh kendhang. Gotong royong termasuk salah satu tujuan yang merupakan ciri khas rakyat Indonesia sebagaimana yang pernah digali Bung Karno ketika mencari identifikasi dari rakyatnya: ternyata gotong royong (Susetya, 2007: 84).

8 Harmoni Pra-ada. Konsep ini dipakai dalam pemecahan Leibniz terhadap masalah pikiran-tubuh; secara umum, pada penjelasan Leibniz tentang seluruh interupsi dan keteraturan dunia. Ia menentukan bahwa realitas terdiri atas montase montase yang tidak berjendela, masing masing berkembang dari daya internalnya sendiri. Dari situ ia merasa amat perlu menjelaskan semua bentuk interaksi berdasarkan analogi dua buah jam yang dihidupkan untuk menunjukkan waktu secara sempurna satu sama lain. Dengan cara yang sama Allah, dengan memilih dunia ini, memancarkan harmoni tiap montase dengan semua lainnya (Bagus, 1996: 282). Pythagoras mengemukakan pendapat bahwa musik masuk ke dalam aspek spiritual: Pythagoras menemukan musik melalui nada musik dan interval melalui hukum alam. Nada musik dan interval ialah refleksi dari tataran spiritual dan alam semesta. Pada tingkatan ini, nada mungkin tidak terdengar tetapi manusia bisa merefleksikan dan merencanakan melalui prinsip-prinsip dasar universal. Nada-nada musikal yang terorganisasi dapat tercipta karena refleksi, imajinasi dan impresi seniman tentang alam semesta, serta karena ia bersinggungan dengan alam, baik makrokosmos atau mikrokosmos. (Djohan, 2006:52) Filosofi musik abad pertengahan memberikan perbedaan yang jelas antara: a). Musica Undana: tingkat spiritual saat musik dipandang sebagai prinsip metafisik dan jalan menuju kedalaman pengalaman dan kebenaran universal. b). Musica human: tingkat jiwa atau pikiran ketika moral dan potensi etika dari musik terbentang. Meski belum terdapat kesepakatan tentang dimensi

9 sensorik dari musik, tetapi potensi musik mempengaruhi pikiran melalui cara yang positif membuka dan mengantar pikiran manusia pada dimensi Etika. c). Musica instrumentalis: musik pada tingkat dan tataran Fisika, yang terjadi ketika musik (instrumentalia dan vokal) dapat didengar manusia. Dari perspektif peringkat dan urutan, pengalaman musik pada tahap ini barulah pra kondisi atau gerbang menuju pengalaman pada tingkat yang lebih tinggi. (Djohan, 2006: 54). Pendapat tersebut menyimpulkan bahwa musik bisa membawa pada tingkatan spiritual dari pengalaman musik itu sendiri. Tinjauan pustaka ini akan memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan yang akan dianalisis peneliti. Pertama, Rizki Andi Prabowo. 2006. Harmonisasi batin manusia melalui Etika Mistik Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Keteraturan adalah kondisi yang harus ditegakkan dalam tujuan hidup manusia Jawa. Keteraturan berarti harmoni dengan tujuan kosmos, dan dalam penghayatan arti terdalam itulah yang terjadi kemanunggalan, kesatuan dari segala-galanya, antara pencipta dengan yang diciptakan, kawula dengan gusti, dan hakikat sangkan Paran. Para mistikus Jawa menunjuk prinsip kesatuan terdalam ini mengarah dengan yang kudus. Harmoni dengan prinsip terakhir dari apa saja yang ada ini merupakan kewajiban moral dari apa saja yang ada dan merupakan tujuan pokok dari praktek kebatinan. Skripsi Rizki Andi prabowo hanya membahas tentang bagaimana harmonisasi batin melalui Etika mistik Jawa. Penelitian ini meneliti akan hubungan antara harmoni musik gamelan Jawa dengan mistik.

10 Kedua, Sukatmi Susanti. 1996. Inkulturasi Gamelan Jawa di gerejagereja Katolik Yogyakarta. Tesis. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Menjabarkan tentang hubungan inkulturasi gamelan Jawa dengan gereja katolik di Yogyakarta. Filosofis gamelan Jawa sebagai filsafat hidup masyarakat Jawa yang berkaitan dengan seni budaya dan perkembangan religi yang dianut masyarakat Jawa. Tesis Sukamti Susanti membahas akan adanya inkulturasi gamelan Jawa dalam gereja Katolik Yogyakarta atau perpaduan liturugi dengan gamelan Jawa. Susanti tidak membahas akan ada kaitannya musik gamelan Jawa pada ajaran mistik. Ketiga, Ilga Liona Brenda Christie. 2015. Pembentukan Karakter pada Pelaku Kesenian Tradisional Gamelan Jawa. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Memaparkan tentang karakter pelaku kesenian tradisional gamelan Jawa. Melihat pada psikologi pelaku kesenian gamelan secara individu. Menganalisis karakter pelaku gamelan yang akan terjadi melalui media kesenian tradisional gamelan Jawa. Skripsi Ilga meneliti bagaimana kontribusi Gamelan Jawa dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia, dalam skripsi Ilga hanya dijelaskan bagaimana kesenian budaya khususnya Gamelan Jawa dapat mengubah karakter bangsa dengan pengaruh ajaran pembentukan karakter di gamelan sendiri. Gamelan Jawa bila dipelajari lebih lanjut akan menghasilkan manusia untuk bertata cara laku dalam kehidupannya, laku inilah yang diteliti oleh Ilga bukan kepada hubungan harmoni Gamelan Jawa sebagai jalan Mistik.

11 Keempat, Panji Prasetyo. 2012. Seni Gamelan Jawa sebagai Reprentasi Tradisi Kehidupan Manusia Jawa dalam Pandangan Collingwood. Tesis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Menjabarkan nilai estetis manusia Jawa dalam pandangan Collingwood. gamelan dilihat dari rasa manusia Jawa serta komparasi akan keduanya. Skripsi Prasetyo membahas akan nilai estetis manusia Jawa dilihat dalam pemain gamelan Jawa melalui konsep pandangan Collingwood bukan bagaimana Harmoni gamelan Jawa dalam interpretasi kepada mistik. D. Landasan Teori Seorang mistikus memiliki tujuan untuk menyatu dengan Yang Kudus, dalam prosesnya seorang mistikus dengan mistikus lainnya memiliki cara yang berbeda. Cara yang digunakan adalah dengan kontemplasi, meditasi, dan sebagainya. Seorang Mistik memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran spiritual yang tidak terjangkau oleh intelek (Krishna,2015: 7-8). Seorang mistikus apabila sudah mencapai tujuannya kadang tidak bisa di nalar secara intelektualitas. Mistik Jawa sangat berkaitan dengan KeJawaan atau nilai estetika orang Jawa. Mistik Jawa biasanya dikaitkan dengan kebatinan Jawa, sebuah sistem gagasan tentang watak manusia dan masyarakat yang pada gilirannya mewarnai etika, adat-istiadat, dan gaya hidup orang Jawa (Mulder,2013:11). Dalam upaya mistik, mistikus berharap kembali kepada asal-usul mereka, juga untuk mengalami keutuhan eksistensi, kesemestaan hidup.

12 Praktik kebatinan adalah upaya untuk berkomunikasi dengan realitas tertinggi atau Yang Kudus. Sebagai sebuah cabang pengetahuan ia mempelajari tempat manusia di dunia ini dan di semesta. Kedudukan kebatinan lebih tinggi daripada agama yang ada di dunia, yang membedakan ranah Tuhan dengan ranah manusia. Kebatinan menerapkan kesatuan eksistensi, secara kosmologis yang menjadikan kehidupan menjadi pengalaman religius (Mulder,2013:65). Dalam pengertian kebatinan, manusia memiliki sifat lahir/ lair dan batin yang menghubungkan dua aspek tersebut untuk saling berhubungan. Saat batin manusia sanggup untuk menguasai dan membimbing lair, maka kehidupan di dunia ini akan selaras dan sejalan dengan prinsip-prinsip ketunggalan pamungkas. Harmoni musik mengajarkan manusia dalam kehidupan keselarasan seperti manusia yang akan menyelaraskan kepada ketunggalan, mengutip Khan yang mengatakan dengan menyelaraskan harmoni musik secara sempurna adalah tingkat spiritual yang sejati (Khan, 2002:136). Pada dasarnya, praktik mistisisme adalah praktik secara individual. Pencarian tunggal yang menghendaki penyatuan kembali dengan asalnya, yang mencita-citakan pengalaman penyingkapan rahasia keberadaan atau pelepasan dari segala urusan duniawi. Penerapan mistik Jawa salah satunya dengan tapa atau meditasi yang bertujuan untuk melepaskan konsentrasi terhadap dunia, orang akan menjadi

13 terbuka untuk menerima tuntutan ilahiah dan pada akhirnya, penyingkapan misteri kehidupan, pengungkapan asal dari tujuan. Harmoni musik bisa membuat manusia menuju ketenangan, kebahagian, hingga menuju pada batin manusia. Menurut Hazrat Inayat Khan, harmoni musik ialah bunyi yang memuat rahasia ketenangan dan kebahagian dalam diri manusia (Khan, 2002:33). Harmoni musik bila diperhatikan dengan kebatinan bisa dianggap sama dalam hal membuat manusia menuju ketenangan dan kebahagian. Harmoni musik bila didengar secara terus menerus dan dihayati manusia akan mencapai ektase, sama halnya kebatinan bila diasah akan mencapai ektase. Pengasahan batin diri termasuk dalam kajian mistisisme Jawa. Pengasahan batin diri lebih dikenal dengan olah rasa. Batin yang kuat akan membentuk seseorang sanggup menghadapi berbagai kejadian atau biasanya disebut sabar. Rasa dalam mistik dan praktis dideskripsikan sebagai perasaan kedalaman intuitif yang dipunyai semua orang (Mulder,2013:128). Kebatinan dalam pengajarannya membuat manusia berlaku baik dan mempelajari cara untuk hidup di dunia, harmoni kehidupan bisa dipelajari dengan harmoni musik (Khan, 2002:172). Telinga dilatih untuk mendengarkan mana kata atau nada yang baik dan buruk, dan akhirnya manusia terlatih untuk mengenal mana yang baik dan buruk serta bisa di praktekkan pada dirinya sendiri. E. Metode Penelitian

14 1. Model atau Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengambilan data yang dilakukan studi pustaka. Penelitian menggunakan pendekatan filsafat mistik untuk meneliti harmoni gamelan Jawa sebagai jalan mistik. Penelitian ini menurut Anton Bakker masuk ke dalam penelitian sistematis reflektif (Bakker,2011). 2. Bahan dan Materi Penelitian Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat dikategorikan dalam dua kategori yang bersumber dari data primer dan data sekunder. Adapun sumber pustaka primer adalah: a. Sumarsam. 2003. Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. b. Endraswara, Suwardi. 2008. Laras Manis: Tuntutan Praktis Karawitan Jawa. Yogyakarta: Kuntul Press. c. Surjodiningrat, Wasisto, dkk. 1977. Gamelan dan Komputer: Analisa Patet dan Komposisi Gending Jawa Laras Slendro. Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press. d. Mulder, Niels.2013. Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia. Yogyakarta: LKIS. e. Suyono, Capt. R.P. 2009. Dunia Mistik Orang Jawa. Yogyakarta: Lkis. Sumber data sekunder penelitian ini adalah berbagai buku, jurnal, dan tulisan maupun artikel di internet terkait dengan objek material dan objek formal penelitian.

15 3. Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan penelitian, sebagai berikut: a. Tahap persiapan Tahap ini diawali dengan pengumpulan data dan wawancara yang berkaitan dengan objek material dan objek formal penelitian ini. Data yang telah terkumpul disesuaikan dengan objek material dan objek formal. Setelah itu data diklasifikasikan menjadi data primer dan data sekunder. b. Tahap penulisan Tahap ini dilakukan penguraian masalah, analisis data yang relevan dengan rumusan masalah dan evaluasi kritis. c. Tahap Penyelesaian akhir Tahap ini, dilakukan penulisan yang sistematis dan koreksi penelitan. d. Alur penelitian 1. Interpretasi, menafsirkan harmoni musik Gamelan Jawa dan konsep berbagai jalan mistik sehingga dapat mengerti maksud yang dituju. 2. Holistika, memahami secara menyeluruh aspek-aspek dan latar belakang harmoni musik Gamelan Jawa serta jalan untuk mencapai mistik.

16 3. Deskripsi, membahasakan antara bahasa dan pikiran seperti antara badan dan jiwa dalam pembahasan harmoni musik Gamelan Jawa sebagai jalan mistik. F. Hasil Yang telah Dicapai Adapun beberapa hasil yang telah dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Penjelasan dan pemahaman konsep harmoni gamelan Jawa b. Pemahaman berbagai jalan mistik c. Analisa atas Harmoni musik gamelan Jawa untuk jalan mistik Jawa G. Sistematika Penulisan Penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab yang disusun dengan sistematika berikut ini: Bab pertama, berisi pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, keaslian penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang dicapai, dan sistematika penulisan. Bab kedua, menguraikan tentang objek material dalam penelitian ini, yang berisi harmoni gamelan Jawa berupa historis gamelan Jawa, pengertian, alat-alat gamelan Jawa, harmoni musik, harmoni musik di gamelan Jawa

17 Bab ketiga, membahas tentang objek formal yaitu mistik khususnya mistik Jawa yang terdiri dari pemaparan tentang mistik Jawa, sarana yang mencapai jalan mistik, hubungan antara mistik dengan musik Bab keempat, analisis harmoni gamelan Jawa sebagai jalan mistik Bab kelima, berisi penutup yang memuat kesimpulan dengan meringkas secara garis besar pembahasan penelitian dan saran dari peneliti untuk penelitian berikutnya.